Transcript
OY2pSFZ_8uQ • Leadership Update Forum #3 - From Local Potential to National Progress
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0264_OY2pSFZ_8uQ.txt
Kind: captions
Language: id
Ya Rasul
salam
alaika
ya habib
salam
alaika
[Musik]
menyerahkan
[Musik]
minhul
budur
m husn
[Musik]
Anta syamsun,
anta
badrun
anta nurun
fauq
nuri
antairu
[Musik]
anta
[Musik]
Ya habibi
ya Muhammad
ya arusan
khofiqaini
ya muayyad
ya mumajjad
ya imamalqiblat
[Musik]
Ya Allah
hadi Muhammad. Ya Allah
rabi fagfirli
dunubi ya Allah biarkatil
hadi Muhammad. Ya Allah.
[Musik]
Hadirin dimohon berdiri
menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia
Raya.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Hadirin disilakan duduk kembali.
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita
semua. Shalom. Om swastiastu. Namo
buddhaya. Salam kebajikan rahayu. Yang
terhormat Wakil Gubernur Jawa Timur,
Bapak Emil Elicant Dard, PhD. Yang kami
hormati Direktur Jenderal Bina Keuangan
Daerah Kementerian Dalam Negeri Republik
Indonesia, Bapak Dr. Dres Agus Fatoni,
M.Si., Professor and Director Engagement
at School Business Mon University, Prof.
Edward Buckingham,
Faculty of Basin Economic, Prof. John
Beaqua,
Pelaksana tugas Asisten Administrasi
umum, Bapak Dr. Ahmad Jazuli, M.Si., SI
Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur beserta
para kepala OPD yang hadir pada pagi
hari ini. Para pejabat administrator,
Kepala UPT BPENDA Provinsi Jawa Timur,
Kepala Bappeda Kabupaten Kota seJawa
Timur, Kepala BPPEDA dan Kabupaten Kota
seJawa Timur. Hadirin yang berbahagia,
puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu
wa taala pagi hari ini kita bisa
bersama-sama berkumpul dalam forum yang
sangat istimewa, leadership Update Forum
Ketiga tahun 2025 International Lecture
dengan tema From Local Potential to
National Progress Strategies for
Economic Empowerment. Bapak, Ibu hadirin
undangan yang kami hormati. Tentunya ini
menjadi ikhtiar bagi kita sekalian pagi
hari ini kita bisa menjalani dan membawa
manfaat untuk kita sekalian. Untuk itu
marilah kita bersama-sama berdoa dan doa
akan dipimpin oleh Bapak Muhammad
Kuntono. Disilakan.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahiabbil alamin. Hamd yfamahu
wauki mazida. Ya rabbana lakal hamdu
kama yambag karim.
Allahumma sholli wasallim ala sayyidina
Muhammad waa alihi wasohbihi ajmain.
Allahuma ya Allah ya mujibbasilin
puji syukur kami persembahkan
kehadirat-Mu.
Berkat izin dan ridam-Mu pada saat ini
kami melaksanakan pembukaan leadership
update forum seri ketiga tahun 2025.
Kami tadahkan kedua belah tangan kami
untuk mendapatkan curahan rahmat dan
kasih sayang-Mu. Untuk itu ya Allah
kiranya berkenan memberkahi dan meridai
acara yang kami laksanakan ini.
Ya Allah yang maha mengetahui
ilmu betapa luas dan tak terbatas. Oleh
karena itu, ya Allah, melalui kegiatan
ini anugerahkan kepada kami ilmu dan
pengetahuan yang bermanfaat, pemahaman
yang dalam, inspirasi yang kuat agar
kami mampu menggali potensi lokal untuk
kemajuan nasional.
Jadikanlah forum ini sebagai sarana
untuk memperkuat strategi pemberdayaan
ekonomi yang membawa kesejahteraan bagi
masyarakat sebagai bekal kami dalam
meningkatkan kualitas kehidupan menuju
kebahagiaan dunia dan akhirat.
Limpahkanlah kepada kami semua kemudahan
dan keikhlasan serta kecerdasan dan
kearifan.
Ya Allah, ya Rabbana, ya Karim, jadikan
memum acara ini sebagai pintu dan jalan
bagi turunnya rahmat dan karunia-Mu.
Sehingga tugas yang merupakan amanah
dariMu akan dapat dilaksanakan dengan
sebaik-baiknya,
penuh tanggung jawab serta semangat yang
tinggi demi terwujudnya kemajuan dalam
pembangunan bangsa kami. Ya Allah, Tuhan
yang maha pengampun, ampunilah dosa-dosa
kami, dosa kedua orang tua kami, dan
dosa para pemimpin-pemimpin kami serta
kabulkanlah doa permohonan kami. Rabbana
atina fid dunya hasanah wafil akhirati
hasanah waqinaabanar. Subhana rabbika
rabbil izzati amma yasibun wasalamun
alal mursalin walhamdulillahiabbil
alamin.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Bapak, Ibu hadirin undangan yang kami
hormati. Selanjutnya akan kita dengarkan
keynote speech yang akan disampaikan
oleh Direktur Jenderal Bina Keuangan
Daerah Kementerian Dalam Negeri Republik
Indonesia. Yang kami hormati Bapak Dr.
Drus Agus Fatoni, M.Si. Disilakan.
Asalam Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam.
Selamat pagi. Salam sejahtera untuk kita
semua. Om swastiastu.
Namo buddhaya. Salam kebajikan.
Yang kita hormati bersama, yang kita
banggakan Bapak Wakil Gubernur Jawa
Timur.
Terima kasih, Pak. Saya satu kampung
sama beliau.
Yang kami hormati Bapak Ibu Kepala OPD
Provinsi Jawa Timur, Pak Kepala BPSDM,
Pak Asisten, Pak Kepala Dinas, dan
seluruh jajaran dan seluruh peserta yang
kami banggakan.
Yang juga kita muliakan, kita hormati
Prof. Idu dan Prof.
John dari Monas University.
Dan hadirin yang berbahagia.
bersyukur sekali saya bisa berdiri
kembali di tempat ini. Saya sering
sekali berada di sini berdiskusi bersama
dengan seluruh
pegawai dan jajaran pemerintah provinsi
dan kabupaten kota seJawa Timur. Bahkan
beberapa provinsi yang menjadi bagian
wilayah dari BPSDM Jawa Timur.
Hari ini
seharusnya kita bisa berdiskusi lebih
lama. Namun karena ada acara di Jakarta
dan dilaksanakan lebih awal, maka saya
mohon izin Pak Wagub bisa menyampaikan
lebih awal dan tidak terlalu panjang.
Namun demikian, nanti kita bisa
berdiskusi lebih lanjut. Bapak, Ibu bisa
komunikasi dengan saya baik melalui
handphone, WA maupun yang ada di
Instagram yang ada di situ ataupun
medsos yang ada di situ silakan. itu ada
nomor handphone ada
ini juga ada
medsos silakan juga bisa diikuti di
situ. Banyak sarana komunikasi yang bisa
kita lakukan.
Bapak Ibu kondisi saat ini di semua
daerah
harus mengambil kebijakan yang efektif
agar program-program pemerintah bisa
tepat sasaran.
Apalagi kemudian ada
program pengalihan anggaran
sebagian dari daerah kemudian dialihkan
ke pusat.
Ada yang menyebut sebagai efisiensi
tapi sesungguhnya pengalihan tetapi
lokusnya tetap ada di daerah. Bisa saja
anggaran di suatu daerah lebih besar
dibandingkan sebelumnya. Namun letaknya
anggaran itu di APBN. Nah, ini istilah
yang sering digunakan. Nah, problem yang
utama di penganggaran kita yang pertama
adalah masalah serapan anggaran yang
rendah dan kemudian menumpuk di akhir
tahun.
Kemudian yang kedua, tidak optimalnya
pendapatan.
Kemudian yang ketiga,
sasaran,
kemudian
fokus.
itu tidak langsung menyentuh kepada
masyarakat. Nah, oleh karena itu
pelajaran COVID yang lalu ini menjadi
pelajaran bagi kita bahwa dengan
anggaran seberapun kita harus bisa
mengoptimalkan anggaran itu agar bisa
dirasakan oleh masyarakat.
Nah, Bapak Ibu yang saya hormati, ada
beberapa permasalahan serapan anggaran
ini
di mana
dalam serapan anggaran seringki anggaran
itu muncul
atau dilaksanakan atau besar di akhir
tahun. Harusnya anggaran itu kita genjot
di awal tahun. Kenapa harus kita genjot
di awal tahun?
Yang pertama
agar uang itu beredar di masyarakat.
Dengan adanya uang beredar di
masyarakat, maka itu juga akan memancing
peredaran anggaran yang lain yang
berasal dari swasta.
Kemudian yang ketiga, dengan uang
beredar masyarakat maka daya beli
masyarakat juga meningkat.
Kemudian pertumbuhan ekonomi meningkat,
pembangunan lebih awal bisa dilaksanakan
sehingga masyarakat bisa merasakan
pembangunan, negara dirasakan hadir,
pelayanan publik bisa diperbaiki,
dan kemudian maka timbullah kepercayaan
masyarakat kepada pemerintah.
Dengan tingkat kepercayaan masyarakat
kepada pemerintah semakin tinggi, maka
partisipasi masyarakat juga akan semakin
tinggi. Inilah pentingnya anggaran itu
direalisasikan sejak awal tahun. Oleh
karena itu, dalam mengatasi berbagai
persoalan yang ada terkait dengan
penganggaran ini, maka ada empat langkah
strategis yang harus kita lakukan,
khususnya dalam mendorong pertumbuhan
ekonomi
di halaman 45.
Nah, di situlah yang pertama kita perlu
mengoptimalkan belanja daerah melalui
percepatan realisasi APBD. Ini penting.
Sampai dengan saat ini realisasi
rata-rata masih di bawah 50%. Bahkan ada
yang baru 20% ada yang kurang dari situ
di setiap daerah. Berarti uang belum
beredar di masyarakat.
Kemudian yang kedua melakukan inovasi
sumber pendapatan asli daerah namun
tidak memberatkan masyarakat. Ini banyak
yang bisa dilakukan.
Dan yang ketiga, pemanfaatan program
strategis nasional sebagai peluang
pertumbuhan daerah. Oleh karena itu,
daerah juga perlu mempercepat
PSN ini. Contoh MBG. Kalau MBG-nya di
satu daerah lambat, maka juga lambat
dirasakan karena penerima manfaat belum
merasakan itu. Tetapi kalau MBG-nya
sudah jalan, maka anak-anak sekolah,
orang miskin, kemudian ibu hamil dan
seterusnya bisa merasakan itu. Oleh
karena itu, dukungan agar PSN ini bisa
segera dilaksanakan itu juga akan
mendorong pertumbuhan ekonomi. Yang
berikutnya adalah mendorong
peran swasta melalui kemudahan
perizinan. Maka perizinan harus
dipermudah, jangan dipersulit,
jangan berbelit-belit, bahkan juga
jangan kemudian diberikan beban yang
tinggi kepada investor. Oleh karena itu,
perlu kita lakukan kemudahan dalam
memberikan perizinan. Kalau investornya
banyak datang, pertumbuhan ekonomi di
situ akan meningkat. Ini empat strategi
utama bagaimana kita meningkatkan
perekonomian di masyarakat. Namun kita
juga menyadari ada beberapa kendala yang
dihadapi yang dilakukan dan ini harus
kita atasi bersama. Kendala yang pertama
yaitu penetapan APBD seringki terlambat.
Masih saja ada APBD yang terlambat.
Kemudian yang kedua ini terus terjadi
berulang. kelihatannya sederhana tetapi
ini menjadi penyebab keterlambatan dalam
penetapan pejabat pengelola keuangan
seringki masih baru bulan April
ditetapkan, ada bulan Mei, ada yang
lebih cepat bulan Maret sehingga program
belum bisa jalan kalau pejabat pengelola
keuangannya belum ditetapkan. ini
berulang terus
karena keterlambatan menyampaikan nama,
keterlambatan kita memprosesnya sehingga
pejabat pengelola keuangan juga
terlambat ditetapkan. Kendala yang
berikutnya adalah kurangnya sumber daya
manusia, pengadaan barang dan jasa, dan
pengelola keuangan yang punya sertifikat
masih sedikit.
Padahal ini gampang sekali untuk
sertifikasi bisa online sekarang dengan
mudah dilakukan itu. Kemudian yang
berikutnya juga yang menjadi kendala ini
juga bagi pemerintah pusat kita perlu
juga perlu perbaiki.
Dana transfer ke daerah terlambat.
Baik itu disebabkan karena keterlambatan
kebijakan maupun keterlambatan di
daerah. Keterlambatan realisasi,
keterlambatan
persyaratan salur, dan keterlambatan
realisasi anggaran. ini juga menjadi
penghambat. Kemudian yang berikutnya
juga terbatasnya akses jaringan,
gangguan keamanan dan bencana alam. Ini
faktor alam juga ikut menentukan
lambatnya serapan anggaran. Kemudian
proses lelang sering terlambat. Hari ini
saya juga mengalami hari ini masih ada
yang baru akan dilelang. Baru akan
dilelang. Bayangkan
ini selalu berulang setiap tahun.
harusnya ini tidak terjadi. Nanti ada
solusi-solusi yang bisa kita lakukan.
Kemudian proses lelang DEED dan juga
fisik untuk infrastruktur ter cenderung
terlambat. Kalau DEED-nya terlambat,
maka berikutnya juga terlambat. Kemudian
proses SPJ-nya terlambat, kegiatannya
sudah dijalankan, tetapi
pertanggungjawabannya terlambat. Ini
juga menghambat realisasi anggaran.
Kemudian keterbatasan sarana prasarana
untuk penatausahaan melalui SIPD ini
juga menjadi kendala. Oleh karena itu,
kami terus akan melakukan pendampingan,
fasilitasi. Kemudian kurangnya monev
dari kepala daerah, dari kepala OPD
tidak peduli, tidak pernah dikontrol,
tidak pernah ditanya
sehingga semua berjalan seperti biasa.
Kemudian Kepala SKPD ada beberapa daerah
yang harus izin kapan mau dilaksanakan.
Nah, ini untuk daerah daerah tertentu
masih ada juga kapan ini dilaksanakan.
Kemudian ada kekhawatiran ASN berurusan
dengan APH. Ada yang beranggapan lebih
baik tidak dilaksanakan daripada
dilaksanakan tapi punya masalah. Nah,
ini banyak juga yang tidak mau mempunyai
proyek, tidak mau pegang proyek.
Banyak yang memilih jadi asisten seperti
beliau ini atau staf ahli lagiah yang
paling enak. Ah, ini ini banyak sekali
yang mau cari selamat tapi enggak mau
kerja keras tapi gajinya tinggi. Ya, ini
repot ini. Tapi kalau Pak Asisten bukan
karena minta tapi karena ditunjuk beliau
ya.
Ini menjadi problem. Oleh karena itu,
strategi yang dilakukan yang pertama
perlu penetapan APBD tepat waktu. Perlu
ada komunikasi dari awal. Ini kerjaan
rutin kita tiap tahun, tetapi seringki
masih saja terkendala, masih saja
terlambat, masih saja sulit
berkomunikasi dengan DPRD.
Harusnya kita sudah hafal
apa yang dimau, bagaimana solusinya.
Nah, ini nanti saya kasih tahu bagaimana
strateginya. Kemudian melaksanakan
pengadaan dini. Ini sudah ada aturannya,
sudah jelas regulasinya, sudah ada surat
edarannya.
Lelang dini itu bisa dilaksanakan sejak
KUA PPAS disepakati bersama. Hari ini
hampir semua daerah yang sudah KUA
PPS-nya disepakati sudah bisa dilelang.
Jadi di tahun anggaran sebelumnya lelang
itu sudah bisa dilaksanakan sejak KUA
PPAS disepakati bersama. Ini
berkali-kali kita sampaikan tetapi tidak
jalan juga.
Sehingga nanti pada saat awal tahun
Januari sudah ada DPA-nya, tinggal tanda
tangan kontrak. Ini akan bisa realisasi
sejak awal tahun.
Ini sudah jelas aturannya. Kalau ada
kesulitan nanti bisa konsultasi dengan
kami, konsultasi juga dengan
LKPP. LKPP juga terus mendorong ini.
Kemudian yang berikutnya melakukan
percepatan belanja melalui e-katalog.
katalog tidak perlu nunggu lagi, tinggal
eksekusi. Tapi yang sering masih
didiskusikan siapa, bagaimana, kapan,
dan seterusnya ini berulang-ulang.
Kemudian penetapan pejabat pengelola
keuangan dipercepat. Bapak, Ibu kalau
bisa tidak usah menggunakan tahun
anggaran pejabat pengelola keuangan itu
enggak udah. Kalau ada tahun anggaran
2025, maka 2026 enggak bisa jalan. Kalau
tidak ada anggaran berarti di 2026 masih
bisa berlaku.
Oleh karena itu, pejabat pengelola
keuangan tidak usah disebutkan tahun
anggarannya
dan toh kalau diganti pada saat terjadi
pelantikan segera diganti dan itu harus
segera dipersiapkan sehingga tidak lama
tertunda-tunda. Kemudian melakukan
pendataan dan juga mendorong percepatan
proses pengadaan badan jasa sekaligus
pencairannya juga dilakukan.
Kemudian melakukan penyelesaian
administrasi dengan percepatan
pertanggungjawaban.
Kemudian menyerahkan dokumen
berkoordinasi dengan lembaga terkait.
Kemudian Inspektorat harus memberikan
asistensi,
harus memberikan review kalau itu
diperlukan. Kemudian peningkatan
kompetensi aparatur dengan sertifikasi.
Banyak sekarang pengadaan barang jasa
itu bisa online kapan saja bisa tes,
bisa seleksi, bisa juga bintek tanpa
bayar. Kapan saja bisa. Kalau ada
komitmen dari pejabat pimpinan tertinggi
bahwa semua harus tersertifikasi. Kalau
enggak punya sertifikat diberhentikan.
Nah, itu mari berbondong-bondong. Itu
andai kepala OPD kalau tidak punya
sertifikat akan diganti gitu. Oh, pasti
semuanya pengin punya sertifikat. Nah,
gitu. ini perlu kita segera lakukan.
Kemudian membentuk tim monitoring ini
yang harus dilakukan. Harus ada
monitoring yang terus bekerja. Kemudian
kalau perlu meminta asistensi
pendampingan.
Nah, di dalam kondisi saat ini seperti
keuangan terbatas perlu alternatif
pembiayaan, maka daerah harus kreatif
baik dalam rangka meningkatkan
pendapatan asli daerah maupun
meningkatkan dana transfer.
Ada beberapa alternatif pembiayaan dari
APBN, APBD. Kalau dari APBN, slide
berikutnya APBN harus penguatan data
untuk dana transfer terus ke bawah.
Iya.
Dana transfer itu basisnya data, maka
datanya harus kita perkuat. Kalau
datanya hanya itu saja, maka yang
digunakan pusat ya data yang ada. Oleh
karena itu, updating data itu perlu
dilakukan. Maka kami dari Kementerian
Dalam Negeri selalu memfasilitasi daerah
yang ingin di-update datanya, jumlah
penduduknya, panjang jalannya,
persyaratan-persyaratan itu bisa kita
perkuat sehingga dana transfer bisa
meningkat. Yang bersumber dari APBD,
dari PAD juga kita bisa optimalkan.
Kemudian pemanfaatan barang milik
daerah, aset daerah banyak yang mangkra
ini bisa mendatangkan sumber pendapatan.
Kemudian melakukan pinjaman ini salah
satu alternatif yang tidak membebani.
Ini juga penting agar ekonomi bisa
bergerak, percepatan pembangunan berisa
berkesinambungan.
Kemudian mengoptimalkan BUMD. Nah, ini
BUMD seringki kita tidak bisa optimal
karena berbagai macam sebab. Bisa
kompetensi pejabatnya, bisa masalah tata
kelolanya itu bisa kita maksimalkan.
Kemudian kerja sama pemerintah daerah
dengan pihak ketiga dengan badan usaha
ini juga bisa kita lakukan dan juga
menyatukan CSR. CSR ini banyak tetapi
tidak terkoordinir
di Sumsel itu salah satu ada suatu
sistem yang menyatukan CSR sehingga
seluruh
perusahaan baik itu BUMN BUMD swasta
melaporkan CSR-nya digunakan untuk apa
sehingga kita bisa sinkronkan, kita bisa
koordinasikan nanti pengunyaannya untuk
apa. Bapak Ibu ingin rasanya
berlama-lama di sini namun waktu
memisahkan kita. Namun demikian, kapanp
kita bisa ketemu lagi. Semoga kita semua
panjang umur, sehat, dan dimudahkan
dalam menjalankan tugas. Semoga Tuhan
yang maha kuasa Allah Subhanahu wa taala
selalu melindungi kita semua dalam
pengabdian. Terima kasih.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Om santi santi shanti om
namo buddhaya. Salam kebajikan.
Mohon izin Pak Deras panggung karena
akan dilanjutkan dengan penyerahan
cindram. Kami undang dengan hormat Wakil
Gubernur Jawa Timur didampingi Kepala
BPSDM Provinsi Jawa Timur and also we
would like to invite Prof Edward
Buckingham and Prof
to come up to stage for momento given by
Vice Governor of East Java
[Musik]
Mohon izin, Pak Wagup akan memberikan
terlebih dahulu kepada Pak Dirjen.
[Musik]
Izin, Pak Wag.
Bapak, Ibu boleh kita berikan tepuk
tangan.
[Musik]
Selanjutnya momento juga akan diberikan
kepada Prof. Edward Buckingham.
Boleh kita berikan semangat.
Last but not least Prof.
Sekali lagi Bapak Ibu boleh kita berikan
tepuk tangan berkenan untuk foto
bersama.
[Musik]
Baik, terima kasih. Selanjutnya kami
silakan untuk kembali ke tempat. And now
we would like to invite you to return to
your seat.
[Musik]
Sekali lagi memberikan semangat. Boleh
kita berikan apresiasi Pak Dirjen. Matur
nuwun untuk rawuhnya di BPSDM Provinsi
Jawa Timur.
Bapak, Ibu hadirin undangan yang kami
hormati. Kami akan melanjutkan acara
pada pagi hari ini. Selanjutnya akan
kita dengarkan bersama laporan Kepala
BPSM Provinsi Jawa Timur. Yang kami
hormati Bapak Dr. Ramlianto, SPMP.
Disilakan.
[Musik]
Bismillahirrahmanirrahim.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Salam sehat dan salam sejahtera untuk
kita sekalian. Selamat pagi. Om
swastiastu. Namo buddhaya. Salam
kebajikan.
Yang terhormat dan kita muliakan bersama
Bapak Wakil Gubernur Jawa Timur Bapak
Dr. Emil Elistianto Dardak.
Terima kasih kami yang tulus atas
perkenan hadirnya Pak Wakil Gubernur di
tengah kesibukan yang luar biasa.
Kehadiran Bapak menjadi kebanggaan dan
semangat bagi kami semua.
Kami tahu sampai menjelang subuh tadi,
Pak Wakil Gubernur masih berada di
lokasi kejadian runtuhnya bangunan
pesantren Alhosini di Sidoarjo untuk
mendampingi Ibu Gubernur. Bahkan di awal
kejadian Pak Wakil Gubernur memimpin
secara langsung tim gabungan yang sedang
melakukan evakuasi dan penyelamatan para
korban di lokasi kejadian. Kita semua
turut berduka atas kejadian tersebut.
Semoga semua korban dapat diselamatkan
dan kejadian serupa tidak terulang
kembali. Terima kasih, Pak Wakil
Gubernur. Semoga selalu dikaruniai sehat
walafiat.
Yang kami hormati dan kami banggakan
tadi Pak Dirjen Keuangan Daerah
sekaligus PJ Gubernur Papua yang tadi
sudah menyampaikan ke speech.
Our highest respect and warm welcome to
the distinguished speakers.
who have traveled from afar professor
Edward Buckingham and Profua
from University Australia
we sensor thank you for your present
today and we look forward to the
involuable insight you will graciously
share with all participant in this forum
thank you so much yang kami hormati
Bapak Ibu para pejabat pimpinan tinggi
di lingkungan pemerintah Provinsi Jawa
Timur dan para pejabat pimpinan tinggi
di lingkungan pemerintah kabupaten kota
yang kami undang dari BPPEDA dan
BAPENDA. Bapak, Ibu para pejabat
fungsional, para pejabat administrator,
dan seluruh hadirin yang kami banggakan.
Kami menyampaikan terima kasih yang
tulus atas perkenan hadirnya Bapak Ibu
semua yang tentu dengan kesibukannya
masing-masing masih menyempatkan diri
untuk belajar bersama kita di BPSDM
Provinsi Jawa Timur. Dengan senantiasa
mengharap rida Allah subhanahu wa taala,
izinkan kami melaporkan kepada Bapak
Wakil Gubernur perihal kegiatan yang
akan Bapak buka dan hari ini bahwa
Leadership Update Forum merupakan
program pengembangan kompetensi berupa
microlearning untuk para pejabat pada
level kepemimpinan strategis di Pempr
Jatim dan kabupaten kota di Jawa Timur.
Program ini merupakan salah satu ikhtiar
kami menerjemahkan arahan Ibu Gubernur
Jawa Timur bahwa para pemimpin birokrasi
di Jawa Timur harus terus melakukan
update dan upgrade secara berkelanjutan
agar tetap relevan dengan lingkungan
strategisnya. Kami laporkan Bapak Wakil
Gubernur bahwa LOU dimulai pada tahun
2004 yang lalu dan dilaksanakan tiga
kali dalam 1 tahun. untuk tahun 20
2025 ini hari ini adalah yang ketiga.
Kebetulan yang pertama juga Pak Wagub
yang membuka.
Bapak Wakil Gubernur yang kami hormati,
kami laporkan dengan hormat bahwa LOU
ketiga tahun 2025 ini sengaja mengambil
tema strategis from local Potential to
National Progress Strategies for
Economic Empowerment. sebuah tema yang
kami angkat setelah melalui diskusi
dengan beberapa tim kami bahwa persoalan
potensi lokal yang belum tergali secara
baik di tengah tadi kebijakan-kebijakan
efisiensi dari pemerintah pusat perlu
kembali dikembangkan sehingga kami
mengundang dua narasumber hebat dari
Monas University.
Dan untuk kegiatan kali ini kami
laporkan Bapak Wakil Gubernur diikuti
oleh sekitar 200 orang peserta baik
pejabat pimpinan tinggi pratama di
lingkungan PEPR Jatim, para kepala
Bappeda atau sebutan lainnya, para
kepala BPEDA atau sebutan lainnya dari
kabupaten kota Jawa Timur. Dan kami
mengundang khusus Pak Wakil Gubernur,
para kepala UPT Bapenda seJawa Timur,
serta pejabat administrator dan
fungsional di lingkungan pemerintah
Provinsi Jawa Timur. Demikian beberapa
hal yang dapat kami laporkan, Pak Wagup.
Selanjutnya mohon dengan hormat Bapak
Wakil Gubernur Jawa Timur untuk berkenan
membuka kegiatan ini sekaligus berkenan
menyampaikan sambutan pengarahan. Terima
kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
[Musik]
Bapak, Ibu hadirin undangan yang kami
hormati. Selanjutnya sambutan sekaligus
membuka acara leadership update forum
ketiga tahun 2025 oleh Wakil Gubernur
Jawa Timur. Yang terhormat Bapak Emil
Elicantak, PhD. Disilakan.
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam.
Selamat pagi. Salam sejahtera untuk kita
semuanya. Shalom.
Om swastiastu.
Namo buddhaya. Salam kebajikan. Rahayu.
Yang kami hormati tadi bersama kita
Bapak Dr. Agus Fatoni
selaku Dirjen Bina Keuangan Daerah
Kemendagri dan PJ Gubernur Papua.
Izinkan saya menyapa
distinguish akademik yang hadir pada
kesempatan ini, professor and director
of engagement at the School of Business
Monas University Australia, Professor
Edward Buckingham as well as Professor
John Bakaqua, also faculty of business
and economics. Welcome, Pak to Jawa
Timur Surabaya.
Plt. Asisten Administrasi Umum Bapak Dr.
K. H. Sekarang ini ya, K. Ha. Ahmad
Jazuli.
Soohibul bait sekaligus sohibul hajat
Bapak Dr. Ramlianto, Kepala BPSDM
Provinsi Jawa Timur. Ibu, Bapak
sekalian, jika perkenankan
saya ingin kita mengajak kita untuk
ee
membaca Al-Fatihah, berdoa. Ada dua
kitab Al-Fatihah. Jadi, mungkin dua kali
al-Fatihahnya.
Yang pertama untuk almarhumah ibunda Pak
Ramli yang belum terlalu lama ini
berpulang ke rahmatullah. Insyaallah
husnul khatimah. Bapak dan semoga salah
satunya amal jariah yang tidak terputus
adalah anak saleh yang mendoakan. Nah,
kita ini sebagai sahabat-sahabat Pak
Ramli juga ikut mendoakan almarhumah.
Yang kedua adalah kepada korban
dari peristiwa kemarin sore ee yang saat
ini ee yang paling memang membuat kami
betul-betul
ee
dalam kondisi yang sulit dan kondisi
yang penuh dengan ee saya tidak bisa
menggambarkan
deskripsinya ya ee terminologi atau
diksi yang tepat untuk menggambarkan
rasanya. Tapi ada sebuah keterpanggilan
yang mengusik pikiran luar biasa saat
mendengar
tanda-tanda kehidupan yang jelas masih
ada di dalam. Namun
masih belum bisa kita pastikan bagaimana
cara menyelamatkan anak yang
bersangkutan.
Namun dalam suasana dan tantangan
lapangan sesulit apapun satu demi satu
personil
dari Basarnas dan Damkar dan semua tim
pendukung
dengan tambahan alat yang perlahan-lahan
mulai berdatang. Enggak perlahan-lahan
sih, satu persatu mulai berdatangan
karena mobilisasinya memang tidak bisa
instan tapi dipercepat semua. Itu bisa
diselamatkan.
Jadi kita tetap optimis. Maka kami mohon
doanya. Kami mohon doanya karena ada
salah satu orang tua yang semalam
dengan ketegaran dan penuh harapan
terinfo dan menyaksikan video yang
beredar suara anaknya sedang
berkomunikasi dengan petugas.
beberapa anak mungkin dari semalam sudah
tambah empat anak lagi dikeluarkan sejak
tengah malam ya sampai pagian ada tim
tambahan dari Semarang yang memperkuat
tapi anak yang justru orang tuanya ini
dengar ini belum terevakuasi ya jadi
mohon kita menunduk Palestina kita
al-fatihah kepada almarhumah ibunda Pak
Ramli dan juga kepada semua yang ada di
lokasi baik yang bertugas dan yang akan
diselamatkan supaya diberikan
keselamatan. Alfatihah.
Terima kasih
rekan-rekan
kepala OPD yang hadir pada kesempatan
ini. juga saya terinfo
ada pejabat administrator dan
kepala-kepala UPT Bapenda
serta Kepala Bapeda kabupaten kota
seJawa Timur dan Kepala Bappeda
kabupaten kota se Jawa Timur hadir semua
di sini. Bagi yang dari Pemkap dan
Pemkot kami haturkan selamat datang di
BPSDM Provinsi Jawa Timur.
Em saya mendapat amanah khusus dari Bu
Gubernur untuk memastikan bisa mewakili
beliau pagi ini. Kenapa ini menjadi
penting?
Memang ee roda pemerintahan harus terus
berjalan. Inilah fungsinya ada Gubernur,
ada Wakil Gubernur, ada Sekretaris
Daerah yang dalam kapasitas saat ini
juga menjadi kepala BPBD. Jadi kalau Pak
Gatot itu kalak kepala pelaksana BPBD.
Namun sejatinya Kepala BPBD secara
struktur formalnya adalah SekDA. Betul
Pak Jazuli ya. Ini Sekda ngelotok betul
ini soalnya dulu beliau ini ya. Jadi
inilah yang kemudian kenapa hari ini
jadi penting ngumpulkan semua Ibu Bapak
sekalian di sini ini bukan hal yang
mudah
karena semua punya tugas-tugas urgen
masing-masing yang dijalankan.
Dan efektivitas dari sesi pagi ini
menentukan kemaslahatan 42 juta warga
Jawa Timur yang kita layani bersama.
Nah, salah satunya adalah bagaimana
memiliki perspektif yang lebih luas
mengenai
leadership
dan hari ini ada Profesor Buckingham dan
Profesor Bebakua dari one of the best
universities in the world, Monash
University. Menurut saya ini terobosan,
Pak. Mungkin leadership update forum
yang pernah ngundang faculty member dari
luar negeri baru ketiga ini. Kita
berikan apresiasi kepada BPSM.
Very impressive. Nanti pakai bahasa apa,
Pak?
Bahasa Jawa, Pak. Prof. Bakiham
akan menggunakan bahasa Jawa,
bahasa Indonesia or English. Pak, will
you deliver your presentation in English
or bahasa?
campur-campur.
How about Profesor Bebaku,
beliau?
Saya ketemu pada saat saya diundang eh
di visiting eh fellowship dari DFAT ya,
Waktu, Department of Foreign Affairs and
Trade Australia. Jadi ee pemerintah
Federal Australia mengundang saya
mensponsori juga semuanya untuk eh ke
Melbourne.
Di antaranya kami mengunjungi
eh Indonesia Australia Center Study yang
ada di Mesh yang diinisiasi pertemuan
antara Presiden Yudoyono dengan waktu
itu Amerika eh ulangi maaf Australia
perdana menterinya at the time who was
the then prime minister
was it Kevin R or no it was after him or
Tony Abbot or was it Tony Abot?
Scott Morrison. Oke. So, eh Perdana
Menteri Morrison dan Presiden SBY waktu
itu kemudian bertemu dan terinisiasilah
center ini. Dan kemudian eh sampai 2022
kita tahu Pak SBY purna 2014. Artinya
selama 8 tahun berdiri sampai and today
it's still in operation. It has a
specific office. Ada kantornya sendiri
di sana. Jadi beliau bisa bahasa
Indonesia ya. Tapi saya tidak tahu kalau
untuk paparan beliau prefer. Nanti ada
terjemahannya, Pak. Oh, ada. There is a
translation service ya. Dan eh Profesor
Befak juga hadir di sini.
Temanya from local potential to national
progress. From local potential to
national progress. Kalau ngomong soal
Jawa Timur, kalau ngomong soal Jawa
Timur dari 38 provinsi di Indonesia
seper hampir hampir seperenam dari
perekonomiannya disumbang dari Jawa
Timur.
Ada 38 provinsi tapi hampir 1/enam
perekonomiannya dari Jawa Timur.
Lalu kalau kita bicara spesifik mengenai
sektoral,
kontribusi sektor manufaktur Indonesia,
saya ulangi Jawa Timur itu lebih dari
22%
dari Jawa Timur kepada Indonesia. Kalau
kita round up, kita bulatkan hampir
seperempat.
Ada 38 provinsi tapi hampir seperempat
manufakturnya disumbang dari Jawa Timur.
Untuk perdagangan ada 38 provinsi, saya
ulangi lagi tapi seperlima
dari
perdagangan
Indonesia itu dari Jawa Timur. Termasuk
kita ketahui 80% dari logistik ke
wilayah timur Indonesia ini di salurkan
via dari Jawa Timur. Nah, ini adalah
realitas signifikansi.
Tapi apakah kemudian artinya kita
tinggal bisnis as usual,
melanjutkan apa yang sudah ada
itu sudah cukup untuk mengubah potensi
lokal menjadi kemajuan bangsa atau
kemajuan nasional.
secara jumlah penduduk mungkin karena
begitu Jawa Timur bergerak seperenam
penduduk Jawa Timur Indonesia juga ikut
bergerak otomatis secara proporsi jumlah
penduduk proporsi PDRB
keunggulan sektoral termasuk di
pertanian sekalipun
kita adalah provinsi yang 30% lebih
sumbangan ekonominya dari manufaktur.
Tapi kalau bicara mengenai komoditas
pertanian,
kita ini nomor satu,
baik itu kita bicara padi, kita bicara
tebu, kita bicara susu, kita juga bicara
telur. Ini masih Jawa Timur juga yang
menjadi tumpuan lumbung pangan nasional.
migas
lebih dari seperempat lifting migas kita
itu ada di Cepu Bojonegoro.
Nah, makanya memang bagaimana kemudian
seluruh
potensial ini bisa kita optimalkan
meskipun di saat yang sama kita
dihadapkan pada tekanan jumlah penduduk
yang luar biasa.
Kalau kita mau ekstensifikasi lahan
pertanian, mungkin sudah sangat sulit
mencari lahan yang belum ditanduri atau
belum ditanami karena sudah tercover
semua. Inilah sebabnya memang kita harus
betul-betul bisa meningkatkan
produktivitas
dari seluruh elemen faktor produksi yang
ada di Jawa Timur. Apakah itu tanah atau
resources, apakah itu sumber daya
manusianya, apakah itu antepenernya,
semua
harus bisa kita maksimalkan.
Jadi ini bayangkan dalam 1 triwulan 3
bulan aja uang yang berputar di Jawa
Timur ini 850T
kurang lebih
kalikan 4 artinya kita bicara berapa?
3.400 triliun.
3.400 triliun
anggaran kita 20
kalau belum dikurangi. Kalau sudah
dikurangi bisa 26
ya. Jadi tidak ada 1%-nya
dari total perputaran ekonomi.
Kemarin ditanya di dewan,
kalau perekonomian tumbuhnya di sini kan
tumbuhnya kita 5,23%.
Kok PAD-nya tumbuhnya hanya 2% katanya
begitu. Nah, kami sampaikan bahwa
pertama harus kita lihat dulu yang
linier dengan pertumbuhan ekonomi
biasanya adalah objek pajak yang
bersifat terhadap penghasilan dan nilai
tambah yaitu PPN dan PPH. Itu satu.
Yang kedua,
artinya secara sektoral kita ini kan
kewenangannya ada di dua sektor yang
memang saat ini tentunya laju
pertumbuhannya tidak otomatis sama
dengan laju pertumbuhan agregat.
Laju pertumbuhan agregat sektor
manufaktur mungkin beda dengan sektor
otomotif. di mana sektor otomotif
menjadi satu-satunya tumpuan pajak kita
melalui pajak darah bermotor dan pajak
bahan bakar kendaraan bermotor.
Begitu pula dengan
satu lagi sumber yang besar adalah pajak
rokok yang mana kita ketahui bahwa ini
sektor yang memang ee penuh
kehati-hatian dalam mengelola
kesinambungannya.
Ada potensi lain seperti Badan Layanan
Umum Daerah Blood yang sekarang
direkognisi sebagai retribusi ya. Bukan
lagi sebagai itu, tapi sebagai retribusi
dulu dicollek kemudian akhirnya itu
menjadi PAD. Kalau sebelumnya mungkin
dia masuknya di lain-lain. Sekarang
masuknya sebagai PAD eh apa maaf sebagai
retribusi
blut. Ada BUMD.
Nah, namin ada catatan juga terhadap
BUMD seperti apa. Kami sudah dikasih
data pertumbuhan dari ee PAD kita dan
pertumbuhan dari ee
laba BUMD kita. Di mana memang dalam
iklim bisnis seperti saat ini bisa
bertahan laba juga sebenarnya sesuatu
yang ee impresif ya. Tidak selalu laba
itu tumbuh linier dengan pertumbuhan
ekonomi karena ada tantangan-tantangan
khusus. di bidang-bidang tertentu dan
ada keputusan strategis katakanlah untuk
menahan atau melakukan retain earning di
dalam buku. Tapi kurang lebih seperti
itu. Jadi sekali lagi itu belanja
pemerintah tadi kalau di tootal dengan
Pemkap, Pemkod pusat ini kurang lebih
itu kira-kira 5%-an lah kontribusi dari
government expenditure.
Consumption menyumbang kurang lebih 60%.
Government expenditure sekitar 5%. semua
jenjang itu. Lalu investment kurang
lebih 26 sampai 27%.
Jadi yang besar itu sebenarnya
consumption dan investment. Namun
demikian, government spending ini bisa
menjadi ibaratnya untuk nyalain mobil
sebenarnya tenaga yang dibutuhkan itu
kan lewat starter tuh mendongkret tuh
kecil cetek. Baru kemudian dia bisa
mengungkit power yang sedemikian besar.
Nah, government expenditure ini seperti
starter kalau diibaratkan oleh Pak
Dirjen Keuangan Daerah tadi. Jadi, kalau
sampai kemudian
belanja ini tidak efektif,
maka ini akan sangat berdampak
kepada roda perekonomian kita. Jadi, ada
sebenarnya jangan hanya lihat, "Oh, Pak,
cuma 5%."
Tapi 5% ini dari sisi timeliness dan
quality of spending. Kalau itu dipakai
lebih banyak untuk mendatangkan barang
impor dari luar, dia tidak berkontribusi
terhadap pengungkitan ekonomi kita.
Kalau dibelanjakannya numpuk di ujung,
maka peluang untuk menjadi pengungkit
ekonomi sepanjang tahun menjadi
mengecil.
ini kenapa selalu ada semacam
bahkan boleh dibilang seperti obsesi
bahwa harus ada belanja yang betul-betul
ee efektif dan tidak ditunda-tunda. Tadi
saya juga mengalami, Pak. Pertama kali
saya tahu bahwa ternyata udah ada
duitnya aja belum bisa ngapa-ngapain.
Itu waktu saya kerja di World Bank di
Bank Dunia. Saya ee dalam tim yang kami
eh berjuang dan mendapatkan dana hibah
dari Global Environment Facility untuk
pengembangan panas bumi di Kementerian
SDM senilai 4 juta dolar. Kalau di kurs
hari ini itu sudah hampir 65-an.
65-an miliar artinya ya itu mau
dilaksanakan SK PPK-nya belum ada.
itu sudah bulan Februari dia bilang,
"Kita harus jalan karena time-nya
mepet." Biasanya, Pak, untuk SKSK baru
beres Maret. Terus dari Januari ngapain
aja?
Kalau SK pejabat-pejabatnya itu baru
beres Maret,
kita berjuang gimana caranya bisa
Januari. Karena kalau sudah procurement
dari lembaga multilateral itu kan ada
tahapnya. Ada yang namanya no objection
letter. Kalau masih tahap prakualifikasi
ada no objection letter terhadap request
for prequalification atau EOI expression
of interest. Setelah diortlist minta nol
lagi no objection letter. Kadang ada
yang bisa dikip ya langsung. Kemudian
terhadap dokumen lelang no objection
letter lagi untuk diberikan kepada yang
lolos shortlist. Lalu setelah evaluasi
di no objection letter lagi baru
terakhir no objection terhadap kontrak.
Bayangkan kalau kemudian itu mundur
tambah panjang.
Jadi kita berjuang waktu itu bagaimana
supaya bisa beres di bulan awal enggak
nunggu Maret itu sebenarnya. Nah, itu
jadi betul banget tadi. Makanya
melakukan lelang setelah kua PPAS ini
sesuatu yang luar biasa. Tapi gimana Pak
Arif? Bisa sudah
ini KUA PPAS kita kan sudah ya Pak Yasin
ya.
Nah, tapi tidak ada jaminan bahwa yang
sudah dikaps pasti akan termaterialisasi
kan. Bisa saja tidak ikut dalam apa yang
diketok di final APBD
atau bisa jadi mempertimbangkan
realisasi dan perubahan-perubahan dari
pusat ataupun dari kondisi sekitar bisa
tidak dilaksanakan. Nah, ini nanti kan
tentu ada mitigasinya sejauh mana kita
bisa berkontrak. apakah bisa berkontrak
atau sekedar menunjuk pemenang dan
kontrak dilakukan di tahun anggaran yang
efektif. Ini yang perlu di ya
jadi itu sekelumit dari apa yang tadi
dibahas oleh Bapak ee Dirjen tadi ee Ibu
Bapak sekalian. Saya mungkin enggak
terlalu mengikuti slide karena ini
sesuatu yang pasti sudah sering di
dilihat oleh Ibu Bapak sekalian ee
keseharian karena ini leadership update
forum kita ingin widening perspektif.
Kita ingin lihat perspektif yang
berbeda.
Kemarin juga dari DPRD memberikan kritik
mengenai kenapa belanja
modal kita turun,
belanja pegawai tinggi, tapi mereka
enggak lihat bahwa belanja pegawai juga
turun sebenarnya dibanding realisasi
2025 di APBD perubahan dan APBD 2026.
Sebenarnya belanja pegawainya ada turun
malah.
dan dikatakan bahwa bagaimana kita bisa
berinvestasi, tapi kita harus menyadari
bahwa investasi kita untuk masa depan
Jawa Timur ini tidak selalu dalam bentuk
yang dikategorisasikan sebagai belanja
modal. Contoh
dikatakan tolong efisienkan anggaran dan
tingkatkan belanja infrastruktur.
Padahal ada yang dari Disub enggak di
sini ya? belanja untuk transjatim
kategorisasinya belanja modal atau
belanja barang dan jasa?
Belanja barang dan jasa
karena kita menggunakan konsep buy the
service.
Udah enggak zaman lagi kita beli
bus, kita yang ngerawat bus, ngerawatnya
juga mungkin bingung ngerawatnya gimana
dan akhirnya kita beli sesuai kemampuan.
kita berkembang sesuai kemampuan kita
beli. Tapi kalau kita pakai buy the
service,
kita bisa rute koridor sudah berapa
sekarang? Lebih dari lima koridor sudah
dilayani. Mungkin kalau kita harus
nyediain bus sendiri, satu koridor aja
ngos-ngosan kita menenuhinya. Itulah
yang disebut by the service. By the
service.
Nah, ini ini salah satu contoh bahwa
memang kita harus ee bisa menyampaikan
kepada publik gitu dialektika ini. Dan
kita enggak boleh menyalahkan
rekan-rekan dewan yang mengkritik karena
memang itu tugas rekan-rekan dewan untuk
menjadi check and balance. Kalau kita
tidak punya check and balance ya bablas
nanti kita. Ada beberapa hal yang tentu
perlu jadi perhatian. Saya tahu yang
kita konsern adalah aset. Kalau kita
hitung berapa nilai aset yang dimiliki
oleh pemerintah provinsi
dan return yield yang dihasilkan, ya
memang PR kita besar. Mungkin kebayang
gitu kalau ada aset management company,
serahkan saja aset itu kepada seorang
profesional. dia dapat remunerasi
proporsional terhadap revenue yang dia
bisa generate dari aset itu. Mungkin
lebih optimal lagi tuh aset-aset itu
untuk di hasilkan yield-nya untuk
pembangunan Jawa Timur. Kira-kira
begitu. Semacam dana abadi tapi
bentuknya aset kan gitu ya. BUMD kita
pun ada dua klasifikasi.
Ada
memang BUMD yang performing well, ada
BUMD yang ada tiga lah. Satu performing
well, satu
performing
istilahnya lehernya di atas air, satu
tenggelam.
Iya. Enggak, karyawan enggak digaji. Dan
kalau dilihat dari sektor bisnisnya, ada
yang bergerak di bisnis yang swasta juga
sudah banyak main di situ. Dan beda
kalau orang naruh duitnya sendiri
dipertaruhkan
itu beda drive-nya.
Jadi pengusaha itu swasta dia punya
pertarukan saya ya noosor-ndelosor nih
kalau bisnis ini jebol. Wah dia akan
berjuang habis-habisan supaya bisnis itu
jalan.
Tapi ya mohon maaf kalau misalnya dia
government own tapi melakukan bisnis
yang sebenarnya swasta bisa melakukan ya
daya saingnya memang enggak enggak mudah
mengelolanya gitu. Nah, pertanyaannya
apakah masih perlu
negara via pemerintah provinsi bergerak
di sektor yang sebenarnya swasta sudah
mumpuni bahkan jangan-jangan lebih
mumpuni dari kita kan gitu. Nah, ini
nanti pertanyaannya bagaimana? Jangan
sampai ada PHK, jangan sampai. Nah, itu
kan yang harus dipikirkan step by step.
Menteri keuangan dengan jelas ngomong,
"Ini kata-kata Menteri Keuangan
contohnya, kenapa kok cukai dibuat
tinggi?" katanya.
Ya, Pak. Emm, setelah dipelajari kalau
cukainya diturunkan pendapatan meningkat
enggak? Meningkat loh. Artinya kan
negara sebenarnya akan dapat lebih
banyak kalau cukai diturunkan. Ini saya
persis ngutip kata-kata Pak MenQ Purbaya
Yudi Sadewa
dulu 2000
10-an ya. Dulu saya pernah menjadi tim
beliau saat beliau menjadi staf khusus
paahatara jasa Menko Perekonomian.
Nah, beliau ngomong baru-baru ini kalau
cukai diturunkan, pendapatan meningkat
loh. Terus kenapa enggak diturunkan aja
gitu kan ya? Karena tujuannya bukan
hanya soal pendapatan, tapi memang
pengin ngerangin orang ngerokok.
Nah, terus yang kerja di sana gimana?
Udah disiapin belum lapangan kerja
alternatifnya? belum. Nah, maka beliau
enggak setuju di situ. Ya, kalau Anda
akan nyekek satu sektor,
bangun sektor yang lain untuk menampung
mereka semua. Belum siap ya jangan
dicekek. Akhirnya keputusan beliau cukai
tidak di naikkan dulu. Walaupun beliau
sempat bilang sebenarnya dia juga mikir
mau menurunkan tapi pengusahanya doanya
mintanya cukainya yang penting enggak
naik gitu. Jadi mungkin intelnya kurang
dalam juga mempelajari kemauan Pak MenQ
gitu ya. Atau mungkin. Tapi
mudah-mudahan masih ada ruang satu lagi
nih. Ini yang itu pelaku UMKM, UMKM ini
ya.
Waktu saya ditanya soal bagaimana nanti
rokok ilegal ini, Pak? Gitu kan. Padahal
kita tahu bahwa rokok yang membayar
cukai, cukai itulah yang kemudian
membiayai rumah sakit yang kita bangun.
Ya tentunya rokok ilegal kalau
pemerintah pandangannya ya tentu harus
bayar cukai. Kira-kira gitulah. Iya kan?
Nah, tapi ternyata respon di Akarub
bervariasi termasuk dianggap merugikan
petani tembakau. Statement seperti itu.
Nah, ternyata karena banyak sekali
pelaku usaha skala-skala kecil. Usaha
skala-skala kecil. Jadi bukan pabrikan
merek besar. Nah, mungkin yang itu ada
konsep yang namanya cukai kelas 3 yang
diharapkan bisa diwujudkan. Jadi
dibedakan. Nah, ini apakah akan
meningkatkan kepatuhan, mengurangi
peredaran rokok yang tidak membayar
cukai? Itu sesuatu yang perlu dialami,
gitu. Nah, itulah dinamika dinamika yang
yang dihadapi. Ee manakala kita bicara
mengenai ee sektoral tadi, bagaimana
soal pendapatan pendapatan kita sekali
lagi tadi yang BUMD tadi kan. Makanya
bagaimana kemudian ee kita bisa
me
merespon dengan tepat. Nah, Ibu Bapak
sekalian satu lagi yang saya pernah
ngomong di sini saya akan sampaikan lagi
bahwa ini rekan-rekan kepala Bapeda dan
Bapenda juga di kabupaten kota maupun
strukala OPD bahwa kita
adalah birokrat ya, panjenengan adalah
birokrat tapi yang menjadi leadernya
adalah political
eh elected, politically elected
official.
Nah, elected official ini tidak bisa
steril dari dinamika di luar.
Harapan kita teknokratik murni bisa
diwujudkan harapan kita. Tapi mari kita
bersifat realistis. Tentu tidak
sesederhana itu.
Nah, tapi tentu ada bedanya antara
pragmatis kompromistis yang kebablasan
dengan sesuatu yang masih dalam koridor
teknokrasi masih bisa diterima. Nah,
tantangan Ibu Bapak sekalian sebagai
leader
adalah memahami koridor tersebut.
Jangan pokoknya yang bisa hanya ini.
Kalau sudah begitu siap-siaplah hidup
bagaikan berada di
tepi juranglah,
berurusan dengan bupati jenengan, dengan
walikota jenengan. Kalau bahasanya ya
hanya ada satu cara, ada buffer, ada
koridor mengenai sesuatu yang
technically implementable
ya dan kemudian memilih bagaimana itu
menjadi politically acceptable.
Idealnya begitu. Maka kita beroperasi
dalam sebuah spektrum.
Yang paling ideal adalah yang
formulasinya itu paling tepat.
Tapi dari tapi ini bukan. Jadi jangan
anggap bahwa kebijakan ini sifatnya itu
hanya singular
tapi bayangkan ini sebagai sebuah
spektrum yang secara teknokratis masih
bisa dilakukan tapi politically ya ini
juga acceptable. Itu tantangan birokrasi
hari ini. Mulai dari ini kan bapeda
semua kan, mulai dari perencanaan.
Orang ngomong mandatory spending gitu
termasuk mandatory spending on
infrastructure itu kan disangkanya
belanja modal infrastruktur.
Infrastruktur mandatory spending 40%
mandatory spending kesehatan 20%
mandatory spending pendidikan 30%
udah 90% aja.
Terus untuk pembinaan ekonomi berapa?
10% kan cukup.
Jadi earing yang seperti ini realistis
atau enggak gitu.
Belanja pegawai Jawa Timur 9T
70%-nya untuk pendidikan dan kesehatan.
Kira-kira begitu. Jadi ya memang tentu
salah satunya kita ikutkan ke dalam
mandatory spending kan proporsi belanja
pegawainya itu sendiri. Nah, yang
infrastruktur tadi itulah yang kita
definisikan sebagai pengeluaran yang
produktif tadi ya. Ada infrastruktur.
Tapi infrastruktur itu sebenarnya kalau
menurut peraturan presiden terbaru
mengenai tahun 2015 kalau enggak salah
ya ee mengenai kerja sama pemerintah dan
badan usaha, pendefinisian infrastruktur
itu ada economic infrastructure, ada
social infrastructure, ada environmental
infrastructure. Nah, social
infrastruktur itu sekolah, rumah sakit,
itu juga infrastruktur,
social overhead capital. Jadi kalau
ditanya belanja infrastruktur, dia bisa
masuk di dalam situ, bisa masuk di dalam
kategori pendidikan maupun kesehatan ya
kategorisasinya.
Nah, jadi itu kira-kira yang bisa kami
sampaikan dan Bapak-bapak sekalian eh
lessons learn dari apa yang terjadi
kemarin.
Dalam situasi seperti ini memang
ada yang mengatakan bahwa ya keahlian
saya,
tupoksi saya adalah melaksanakan tugas
sesuai dengan ya tadi mohon maaf saya
ulangi tupoki kira-kira gitu. Tapi hari
ini di era media sosial kita semua
adalah communicator.
Kita semua dituntut untuk melakukan
komunikasi publik. Dan ini bukan sesuatu
yang mudah.
kita juga beroperasi tidak terisolir
dari entitas lain.
Ada juga
kerentanan dan kepekaan sosial yang
harus kita miliki.
Contoh hari ini tentu menyikapi kejadian
runtuh bangunan kemarin. Tidak sedikit
dari masyarakat kita yang kemudian fokus
mengenai
penyebabnya dan siapa yang harus
dipersalahkan.
Betul enggak?
sebuah menjadi sebuah menjadi sebuah
norma seakan-akan yang berlaku bahwa
dalam sebuah kejadian fokusnya langsung
kepada sebab dan pihak yang harus
dipersalahkan.
Ini harus terjawab memang sebagai upaya
korektif untuk ke depannya. Tapi kita
berurusan dengan hati
dan jiwa.
Sehingga pada saat kami ditanya kemarin,
"Bapak, bagaimana kira-kira apa
penyebabnya?" Kami sampaikan
fokus kita adalah pada penyelamatan
nyawa.
Nah, ini contoh bagaimana kita harus
Nah, yang kedua juga ternyata setelah
kami keliling dengan berbagai pihak
termasuk terakhir pada saat Ibu Gubernur
kemudian ke lapangan setelah mempercepat
kepulangan beliau dari acara misi dagang
yang relatif menurut kami sukses dengan
meraih transaksi R triliun, beliau
kemudian langsung kembali mempercepat
dan lari-lari di bandara untuk mengejar
kepulangan bisa ke Surabaya. Dan tengah
malam beliau di lapangan. Betul.
Ternyata banyak orang tua yang bayangkan
enggak tahu anaknya selamat atau tidak,
tidak diperkenankan ke lokasi karena
berbahaya, hanya bisa memantau dari
kejauhan.
Dan mereka
bertanya-tanya apakah tim itu masih
melakukan pencarian atau sudah give up.
Jadi ternyata constant
message of hope itu menjadi penting.
Nah, kehadiran leader itu bisa
memberikan message of hope tadi bahwa
semua masih action. per detik ini Pak
Sekda di lapangan
untuk menunjukkan bahwa official yang
tertinggi di Jawa Timur apakah itu
gubernur wagup atau saya itu ada di
lapangan untuk memastikan bahwa
the effort itu masih ongoing gitu. Nah,
ini penting gitu tadi. Karena apa?
Karena itu memberikan instilling
confidence. Kita tidak bisa bekerja
tanpa public trust. Nah, idealnya tadi
public trust itu butuh public
communication.
Pencitraan dong, Pak. Ya, gimana ya?
Enggak ada enggak ada item tanpa citra
kan? Semua perlu citra, semua perlu
merek. Contohnya aja orang sekarang itu
mau beli ke minimarket
itu kalau enggak ada embel-embel dua
nama itu ya tu apa ya kadang-kadang
enggak mampir loh. Saya ngalami. Betul
nih, Pak, Kepala Dinas Koperasi di
Trgalek waktu saya bupati. kita
mewajibkan ada Bu Ratna ya, kita
mewajibkan ee Pak Artoyo ya, kepala anu
ini dulu saya Bupati Trenggalik. Maaf
Kir kenapa saya hafal ya. Ee ini waktu
itu kita mewajibkan semua minimarket
harus koperasi
dan waktu itu kemudian dari Pempr ngasih
feedback oh kalau kewenangan mengenai
koperasi bukan di kabupaten. Jadi Anda
enggak bisa bikin perda koperasi.
Kewenangan kabupaten apa? Perdagangan.
Terus saya bilang gini ya. Saya sebagai
yang berwenang atas perdagangan maunya
koperasi. Boleh dong. Saya enggak ngatur
koperasi. Saya ngatur perdagangan. Dan
sebagai pemegang kewenangan perdagangan,
saya maunya minimarket harus koperasi.
Itu kita lakukan di tahun 2016 ya, Perda
itu. Nah, dalam perjalanan banyak yang
enggak mau karena mereka ngerasa saya
mau investan, saya enggak mau koperasi.
Padahal kita minta Anda harus gandeng
warung-warung tradisional situ sebagai
anggota koperasi juga untuk ikut
merasakan rezekinya dari minimarket
berwarba.
Terus gimana, Pak? Ya kalau mau enggak
berwarna laba. Oke, dia bikin tanpa
merek, enggak ada wara,
no franchise. Sepi. Akhirnya give up.
Pak, saya mending bikin koperasi aja,
Pak. Enggak bisa. Kalau enggak waralaba,
enggak ada yang mampir. Nah, that's the
power of brand.
Saya bukan tipe orang yang terobsesi
dengan brand juga gitu. Karena banyak
kerja-kerja yang seyoganya terjadi di
belakang layar. Nah, terlalu terobsesi
pada pencitraan juga berbahaya.
Fokus kepada ketok kerja ke yang
ketimbang beneran kerja itu juga bahaya.
Tapi tidak paham sama sekali bagaimana
mengkomunikasikan, maka trust itu tidak
mudah untuk terwujud. Nah, ini sekali
lagi sama seperti spektrum antara
politis dan juga teknokratis tadi dalam
sebuah policy, dalam sebuah decision.
Begitu bala dengan communication harus
pintar-pintar gitu apa mencari balance
fokus berlebihan pada komunikasi juga
bubra
tidak mau ngurusi komunikasi sama sekali
juga jadi bom waktu karena sulit karena
apa? Karena people live by perspective
hari ini. By perception gitu. Nah,
mudah-mudahan ini peristiwa semalam
berikan juga gambaran tadi Basarnas
kerja mempertaruhkan nyawa ada di
kolong-kolong sana. Orang tuanya
nangis-nangis bilang, "Kenapa semua
enggak ada yang kerja?" Ah, bayangin
jenengan kalau ada di tempat ngeri, Pak.
Balok segede begini posisinya tuh
gantung. Begitu dinyalain ekskavator
goyang geter. Hampir kita ketimpa
kita langsung bayangannya Pak Nyoman
bawa ekskavator kita bongkar. Tapi kalau
ternyata enggak kepakai yang penting
enggak ada penyesalan. Nah ini no
regret. Nah di dalam public service itu
yang ini no regret. Artinya kita sudah
tahu di situ ada yang terjebak. Kita
tahu per detik ini masih hidup. Mohon
maaf, kita enggak tahu pada saat nyampai
apakah masih. Tapi kita akan menyesal
manakala kita nunggu semuanya pasti baru
kita bergerak.
Akhirnya kemudian begitu nyampai, oh
ternyata masih butuh waktu mobilisasi
alat. Jadi kalau dalam situasi emergency
SP itu jalan dulu,
bawa dulu alatnya. Kepakai atau enggak
urusan lain karena ujungnya no regret.
Kita lakukan yang terbaik yang bisa kita
lakukan. Nah, itu namanya emergency
operation.
Emergency operation. Semua rumah sakit
kemarin ini teman-teman direktur rumah
sakit semua rumah sakit kemarin tangani
dulu baru ngomong administrasi. Nah, itu
Prof. Erwin ada delan untuk memastikan
itu. Ada tiga kondisi harus cito
operation. Kenapa? Fingerti, Prof.
Fingerti bahayanya apa? Bahaya kalau
didemin infeksinya nyebar life
threatening. Terus tangani aja
family-nya kontak keluarga enggak bisa
dihubungi. Khawatir juga kalau tidak ada
konsen keluarga. Bagaimana melakukan
operasi itu. Ini bukan yang lengan,
Prof. yang kita bahas. Lain lagi. Ada
lagi di rumah sakit tiga. Ada tiga.
Akhirnya oke tentukan golden time-nya.
Terus pastikan pada saat golden time
langkah bisa diambil secara unilateral
sepihak. Ternyata dua bisa dikontak
keluarganya. Saya yang belum tahu yang
satu gimana. Nah, itu emergency decision
itu tidak bisa SOP-nya sama dengan
bisnis as usual, gitu. Nah,
kadang-kadang kita di birokrat memang
dan saya enggak bisa menyalahkan ya ee
kadang-kadang memang selalu pada saat
emergency semua harus dilakukan. Setelah
emergency semua dipertanyakan.
Kenapa dulu begitu? Waktu COVID ada APD
apa aja ambil gitu kan. Terus setelah
selesai mahal ya dulu APD-nya berarti ya
dapat duit ya. Ah kan gitu kan. Nah, ini
tolong semua ya
kadang kita mesti bismillah ya, tapi
dokumentasikan saja semua proses. Kalau
mau cara satu-satunya adalah
transparansi dan dokumentasi aja. Pada
saat emergency, make sure semua
terdokumentasi sehingga orang yang mau
suuzon juga jadi susah karena ini semua
sudah jelas. Jadi dalam situasi seperti
itu
show bahwa this is the best that we can
do. Kira-kira gitu. Kalau itu
terdokumentasi dengan jelas tap jadi ada
sebuah jadi begitu emergency selesai
mumpung masih ingat di kepala karena
kalau enggak cepat-cepat didokumentasi
kan lupa apa sih gitu.
Sejauh ini sih alhamdulillah meskipun
dipertanyakan
sepemahaman saya kecuali yang
benar-benar memang melakukan hal yang
terlalu nemen ya sebenarnya tidak kena
kok akhirnya gitu secara hukum. Coba
dicek silakan. Dari COVID kemarin ada
enggak yang dipanggil-panggil ya? Betul
ya dipanggil ya, ditanya-tanya ya tapi
akhirnya kena enggak? Coba dicek nanti
gitu dipelajari kasusnya. Sepaman kami
sih tidak. Sepaman kami tidak. kecuali
mungkin cases tertentu yang memang bisa
dibuktikan bahwa ada betul-betul memang
strong ee indikasinya itu. Tapi saya
mendoakan betul Ibu Bapak sekalian,
kita harus saling menguatkan. Kita tahu
ini bukan waktu yang mudah untuk menjadi
abdi negara. Ada kepercayaan publik yang
harus kita perjuangkan kembali untuk
mendapatkannya. Dalam bahasa Inggris,
there is public trust that we have to
fight to earn.
Saya paling suka sebenarnya English
kata-kata bahasa Inggris tuh earn.
Karena saya enggak tahu terjemahan
bahasa Indonesia dari earn itu yang
paling tepat tu apa. I don't know. Prof.
Buckingham. Eh, Professor Buckingham.
What is the the best bahasa Indonesia
for earn? Like earning respect, earning
trust. I mean the word earn
ya. You have to be you have to be
deserving, right? Harus deserve, harus
melayakkan
melayakkan adanya kepercayaan.
Kepercayaan bukan dituntut, tapi
diperoleh karena kita layak mendapatkan
kepercayaan itu. Kira-kira itu earn.
Kenapa revenue sebaiknya earn gitu kan?
Kalau di dalam akuntansi kalau kita
dapat orderan barang dibayar di depan
itu belum dianggap sebagai earning dalam
akuntansi akrual.
kita sudah terima uangnya, tapi tidak
boleh dianggap sebagai revenue earn
karena kita belum bekerja untuk
mendapatkan uang itu. Masih ada
kewajiban yang harus kita berikan. Dan
falsafah itulah yang sering dilanggar
oleh banyak pelaku usaha kan. Terima
uang, mismanage, begitu dia harus
deliver, uangnya sudah muter ke tempat
yang salah. Karena yang harusnya revenue
earn itu dia belum earn dianggap sebagai
revenue. Maka ada terminologi unearn
revenue.
Cash sudah diterima tapi dia belum earn
the revenue. Kita belum lah. Nah, kita
harus berjuang untuk kita earn public
trust lagi. Dan ini bukan momen yang
mudah. Makanya saya kita saling
mendoakan, saling menguatkan. Tapi
percayalah bahwa the best evaluator
terhadap pengabdian kita adalah yang
maha kuasa. Kita percaya yang maha kuasa
akan memberikan tentunya ee ganjarannya
di yaumil kiamah nanti, di hari akhir
nanti. Karena pada akhirnya kelebihan
kita sebagai public servant adalah kita
bekerja dengan benar aja itu katanya
skornya sudah plus di sana ya. Karena
otomatis kita menjaga kemaslahatan
masyarakat. Sukses sekali lagi untuk
leadership update forum yang ketiga.
Terima kasih. Semangat semua para
pemimpin-pemimpin yang ada di PEMPR
maupun di Pemerintah kabupaten kota dan
selamat mengikuti lecture dari kedua
profesor kita. Terima kasih.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Mohon izin untuk melanjutkan dengan foto
bersama kami persilakan teman-teman
fotografer dan juga teman-teman media
untuk mengambil tempat di atas panggung.
Kami undang seluruh undangan untuk
berdiri.
Untuk pengambilan foto akan ada dua
pose. Yang pertama adalah formal
terlebih dahulu. Mohon izin akan kami
pandu dengan hitungan 3 2 1.
Sekali lagi 1 2 3. Karena di Jawa Timur
saya yakin semua paham. Tangan sebelah
kanan tolong dikepalkan, tolong dijawab.
Jawa Timur,
Gerbang Baru Nusantara.
Sekali lagi, Gerbang Baru Nusantara yang
lebih bersemangat termasuk yang di
belakang. Jawa Timur.
Boleh kita berikan tepuk tangan untuk
kita semua. Matur nuhun. Terima kasih.
[Musik]
Baik Bapak dan Ibu, sesaat lagi kita
akan melanjutkan untuk forum yang sangat
istimewa pada kesempatan siang hari ini.
Leadership Update forum ketiga tahun
dengan tema International Lecture From
Local Potential to National Progress
Strategies and Economic Empowerment.
[Musik]
Baik, mohon izin untuk memperkenalkan
kedua narasumber siang hari ini
yang akan mengisi diskusi kita dan juga
memberikan paparan.
Yang pertama saya perkenalkan Bapak Ibu
sekalian pembicara kita adalah Prof.
Edward Buckingham. Beliau adalah Ketua
Australia Indonesia Business Council di
Victoria sekaligus direktur program
Master of Business Innovation di Monas.
Beliau juga merupakan profesor manajemen
di Monas Business School dengan
pengalaman yang sangat luas di bidang
bisnis internasional, strategi dan
kepemimpinan. Dan beliau juga aktif
menjembatani kerja sama antara Australia
dan Indonesia dan sebagai penasihat bagi
pemerintah industri hingga perguruan
tinggi di berbagai negara. Please
welcome to the stage Professor Edward
Buckingham, our chair of Australia
Indonesia Business Council in Victoria
and program director of Master of
Business Innovation at Monash
University.
[Musik]
Dan selanjutnya kami perkenalkan juga
Prof.
Welcome to the stage. Beliau juga sangat
banyak sekali mengisi kelas-kelas
internasional
and recogniz scholar tax and commercial
law career spanning for legal practice
academia and currently serv as the
professor and head of department of
business law in Monas University. Baik
Bapak dan Ibu, kami pun nanti akan
membuka sesi tanya jawab. Tapi izinkan
sebelumnya pada leadership forum kali
ini kita akan mendengarkan
paparan-paparan dari kedua profesor
kita. First will be Bapak Buckingham.
Kami persilakan.
Selamat pagi.
Sugeng enjeng.
Saya senang sekali kembali ke Surabaya.
Pertama kali saya ke sini umur saya 19
tahun.
lagi menuju ke Jogja naik kereta api,
mau kuliah di UGM.
Pertama kali saya ke Jawa, saya merasa
senang hati melihat bagaimana masyarakat
di sini berfungsi.
Tapi kita sekarang sudah beda zaman.
Eh, Indonesia perjalanannya sudah
keluar dari zamannya Pak Harto di mana
banyak sentralisasi
masuk ke zamannya reformasi di mana ada
di devolusi ya bisa dikatakan divolusi
dan sekarang mulailah satu zaman baru
dengan pemerintah pusat. Nah, kalau saya
paham dengan baik, ada R triliun
yang dipotong daripada anggarannya
Jawa Timur. Betul enggak?
Waduh,
itu banyak kosongnya ya, 2 triliun.
Enggak tahu itu dalam dolar Australia
itu berapa, tapi kayaknya banyak sekali.
Jadi apabila kita bicara
development,
saya mau kita hari ini memfokus kepada
strategi. Bukan rencana
karena
strategi itulah yang Anda semua sebagai
pemimpin itulah tanggung jawabnya Anda.
Dan memang ada rencana dari pemerintah,
dari pemerintah daerah, tapi
ibu-ibu, bapak-bapak semua yang harus
menerapkan itu di lapangan.
Ah, itu mengingat saya kepada dosen
fisika saya di Gajah Mada. Kalau kita
habis ujian, dia selalu nanya, "Gimana
ujiannya?" Terus teman-teman kelas saya
bilang, "Waduh, Pak. Soalnya gampang.
jawabannya susah.
Nah, kalau kita ada masalah untuk
menjawab
ya dalam arti tanggung jawab itu ya
kita perlu
dua
dua apa faktor yang sangat penting. Yang
satu itu akal,
yang kedua itu alat.
Nah, yang saya maksudkan dengan alat
hari ini adalah teori atau framework
yang bisa diterapkan untuk membantu
analisis kita,
tapi mungkin juga membentuk keputusan
kita.
Nah, kita mulai dengan satu misteri. Ya,
suka misteri suka
apa artinya itu
ada enggak yang bisa baca?
Ya, ada satu orang di belakang, satu
bapak, dia langsung anggil HP mau
artificial intelligence.
Dapat, Pak,
atau hanya ambil foto?
Ibu dan Bapak ini ditulis oleh seorang
pengarang
dari Inggris namanya Tolkin.
Kalau di Indonesia ada yang agak mirip
dengan beliau tahu namanya SH Mintarja
ada.
Hanya yang tua yang tahu. Kalau
anak-anak muda enggak tahu. Sayang
sekali mereka harus membaca Esa Mitarja.
Nanti kita kembali lagi kepada karyanya
dia. Saya mulai dengan ini karena yang
dikatakan di sini ada satu cincin
yang memerintah cincin yang lain. Jadi
ini adalah satu konsep
konsep cincin bulat.
Kalau kita lihat pemerintah
negara di bawahnya ada pemerintah
daerah.
Di bawahnya lagi ada pemerintah
kabupaten. Di bawahnyaalah lagi ada
kecamatan. Di bawah kecamatan ada desa.
Di bawah desa ada rumah tangga
dan selanjutnya kan ada bulat-bulatnya.
Jadi kita akan bicarakan itu karena
setiap cincin itu merupakan satu
ee daerah ekonomi dan dalam segi itu
ongkos perilaku kita berbeda-beda.
Nah, saya mau bicarakan ini kenapa?
Karena anggarannya pemerintah daerahnya
Jawa Timur itu menurun.
Jadi, kita harus irit. Seperti yang
dikatakan Pak Fatoni tadi, lebih irit,
lebih cerdas, lebih hebat. Tapi untuk
melaksanakan itu kita perlu alat dan
akal. Beginilah
berjalan atau tidak. Oh, ini.
Jadi, saya mulai dengan satu contoh yang
amat sederhana. Kita bicara oncost
transaksi, kita bicara transportasi.
Jadi di Y axis di sini ada cost to serve
on cost melayani
satu eh satu klien terus ada jaraknya.
Oke, kita mulai ini lewat jalan pakai
truk
ini garisnya
agak linear ya, linier. Kalau yang suka
mati-matian ee matematika
kan linear itu.
Terus kalau pakai perkapalan seperti
yang keluar masuk dari pelabuhan di
Surabaya kan mulainya agak naiknya cepat
sekali kada ongkos
untuk membawa barang masuk ke kapal dan
keluarkan enggak begitu sederhana. Tapi
kalau kapal itu sudah mulai berlayar,
ah malah
malah enggak mahal, enggak mahal sama
sekali. Terus tambah lagi satu ada
kereta api. Ah nah tiga faktor
transportasi itu semuanya ada di
Surabaya. Malah Surabaya jadi nomor sat
nomor satu di Indonesia. Dalam arti ini
gerbang
ya bagus itu. Wah saya suka sekali.
Jadi kita harus nanya sebagai wirausaha,
sebagai wira
pemerintah. Kan ada wiraatani, ada
pokoknya wiranya banyak tapi Anda semua
adalah wira
pemerintahan,
wira pegai katanya belum barangkali
belum diciptakan. Tapi kita harus
berpikir tentang ongkos dan kita harus
milih di mana kita akan menanam modal
kita. Jadi saya nanya
kalau di sini kita milih apa? Truk,
kereta, api atau kapal?
Siapa berani?
Oh, jangan bungkam-bungkam.
Saya paling suka yang ah di sini daerah
sini kita pakai apa
kan? Pakai truk itu yang paling
ongkosnya paling rendah. Kalau di sini
kereta api kan. Kalau di sini kapal. J
kelihatan sekali ini jaraknya. Jadi truk
kereta api kapal.
Nah, dengan ini saja kita mulai paham
apa di mana kita harus menanam modal.
Di sini
ini saya bikin
satu gambar.
Ini bentuknya masyarakat pada umumnya.
Ini satu kota di utaranya Jerman. Tapi
kota-kota biasanya begini. Di pusatnya
ada pusat ada pusat kota di sini.
Pusak kotanya di sini. Di keluarnya kan
ada sayur, ada susu dan sebagainya yang
harus segar. Di luarnya ada kayu, terus
ada ada sawah, di luarnya lagi ada sapi
dan sebagainya. Tetapi kalau ada kalau
ada sungai,
bentuk masyarakat itu juga berubah.
Kenapa? Karena sungai itu adalah satu
cara untuk
merendahkan ongkos transportasi.
Tadi malam saya tiba di sini, saya
begitu heran sama bandara.
Waduh, bagus sekali bandaranya
bagus. Tapi jalan tol untuk masuk ke ke
Surabaya lebih hebat lagi. Nah, apabila
kita membangun infrastruktur seperti
itu, itu mengubah ongkos transaksi.
untuk semua masyarakat.
Muncullah kesempatan-kesempatan baru
untuk wirah
untuk pegawai, untuk semua rakyat. Jadi
kita harus berpikir apabila kita bangun
infrastruktur baru, bagaimana itu akan
mempengaruhi masyarakat, bagaimana itu
akan mempengaruhi ee pasar kita yang
kita lihat.
Jadi, kita sudah bicara ongkos. Ongkos
itu penting. Sekarang saya mau bicara
sedikit dari mana kita dapat growth ya,
dari mana kita dapat perkembangan
ekonomi? Inilah satu
satu grafik yang sudah terkenal di
economics.
Kalau kita lihat ini perkembangannya,
ekonominya Amerika sejak 18
70 hingga 2006. Nah, harus saya enggak
punya datanya tapi terus terang garis
ini menuju sama arahnya juga sama.
Setiap tahun ekonomi di Amerika itu
perkembangannya
1,85%
rata-rata
per kapita
setiap tahun sama. Kok kenapa bisa kok
kenapa ini bisa satu garis ya sebegitu
lama kok. Kenapa Amerika hanya bisa
1,85%
sedangkan Jawa Timur bisa berapa persen?
Perkemb perkembangan ekonominya berapa?
5,5.
Berarti orang Jawa lebih pintar
dibandingkan orang Amerika. Betul
enggak?
Betul.
Betul kan?
Betul.
Betul ya? Setuju. Nah, begini
mereka cenderungnya begini. Kalau kita
lihat Cina, dia naiknya begini 10%.
Kenapa?
Karena ada dua tipe inovasi.
Yang pertama adalah inovasi.
Pokoknya alon-alon waton klakon.
Aku bikin uji coba sehingga saya dapat
sesuatu yang bisa terbang atau bisa
bikin kalkulasi dan sebagainya.
Tapi apabila Anda sudah, kalau saya
sudah sukses
tinggal aja kamu copy.
Jadi itu namanya high cost innovation,
low cost innovation. Nah, Amerika
sebagai negara
kita bilang sulung yang pertama
dia kan di sini high cost innovation
karena seringkiali mereka ada di horizon
inovasi. Sedangkan negara-negara lain
mereka tinggal empoh teknologi dari luar
dan menerapkannya. Kan kita paham ini
enggak susah.
Nah, bagaimana kita menjelaskan ini
lebih dalam? Nah, pertanyaan lagi coba.
Siapa yang duluan?
Siapa ini
coba? Siapa orang ini?
Ya, betul sudah mati. Betul betul.
Asli mana? Asli mana?
Mana
sebetulnya? Bukan AS. Eropa. Eropa. Di
mana? Di Eropa.
Pokoknya laki-laki suka pakai rock.
Scotland. Ya, betul. Nenek saya dulu
dari Scotland. Dia suka saya pakai rock
waktu kecil. sekarang sudah malu, enggak
mau lagi.
Jadi ini namanya Adam Smith. Peneringan
namanya.
J kita
kita mau membongkar, mau meneliti
masalah ini pakai teorinya Adam Smith.
Jadi perkembangan itu
ada tiga.
Kalau kita cari root cause analysis-nya
ada tiga. Yang pertama populasi.
Apakah saya harus menjelaskan ini
populasi?
Kenapa itu memberi perkembangan?
Perlu mau saya jelaskan sedikit ya.
Pokoknya begini, Ibu, Bapak.
Kalau belum ada yang ceritakan ini
sampai sekarang, saya agak khawatir.
Pokoknya kalau punya anak ekonominya
mau besar, ya.
Nah, bagaimana kita membesarkan ekonomi?
Karena ada dua cara.
Ada dua cara.
Yang satu natural growth.
Kalau orang sudah 20 tahun, wanita
laki-laki bersama
setahun eh 9 bulan kan dapatlah anak.
Ini yang paling gampang.
Terus yang kedua
adalah imigrasi.
Nah, kalau Indonesia sangat jago di
sini.
Kalau Austral, negara Barat, Jepang
enggak jago di sini. Jadi kita
tergantung terhadap imigrasi.
Nah, imigrasi itu sebetulnya
kelihatannya gampang,
tapi sebetulnya susah.
Kalau ada kalau kita berimigrasi semua
yang kita pegang di rumah sendiri kita
harus lepaskan. Kita harus belajar yang
baru. Jadi ini memang ada batasnya.
Jadi yang kedua
spesialisasi.
Jadi saya kasih contoh
yang satu saya kemarin ke salah tiga
melihat banyak orang kerja di pabrik.
Ini orang wong deso kabeh
ya. Masuk ke pabrik itu mereka belajar
bagaimana bikin sepatu. Ada proses, ada
sistem, ada alat dan sebagainya.
Dan mereka produktiv produktivitasnya
tinggi sekali.
Satu sepatu mungkin hanya 10 dolar ya
dan dijual nanti untuk 200-an.
Jadi kita spesialisasi itu pokoknya kita
belajar satu proses, kita menjadi jago
melakukan proses tersebut. Itu ada dua
dua unsurnya. Yang satu automation.
Jadi kita pakai alat. Yang kedua itu
socialization atau training ya.
Training. Jadi ini kalau kita bicara
Indonesia, natural growth sudah ada
imigrasi. tidak perlu. Tapi ini training
ini masih menurut saya masih banyak
potensi,
banyak sekali potensinya. Dan automation
itu kan berdasarkan investment.
Investmentnya juga potensinya luar
biasa. Kalau investment itu kan ada dua
teknologi baru seperti apabila apakah
BYD mau bangun pabrik di sini?
BYD mau buka pabrik di Indonesia kan
bikin mobil elektrik ya.
Terus ada juga
penelitian jadi human capital.
Jadi apabila kita melihat ini, kita
melihat bahwa ini semuanya
bisa dipakai untuk perusahaan untuk
memajukan ee PNL-nya supaya mereka lebih
cepat berkembang.
Kalau kita keluar dari
perspektif perusahaan sebentar, kita mau
bicara satu wilayah, satu daerah.
Kita lihat di Eropa ini sebelum Brexit
ya, sebelum Brexit mungkin sekarang
sudah berubah sedikit tapi cincin ini
80% daripada GDP
di Eropa itu berada di situ. Nah, kenapa
ada enggak yang tahu? Mungkin ada yang
sudah melihat slide ini.
Kenapa 80% GDP-nya Eropa ada di situ?
Saya rasa pasti ada yang agak mirip
untuk Surabaya juga.
Surabaya itu merupakan satu kawasan di
mana ekonominya kuat. Tidak hanya di
wilayah Surabaya, tapi juga di
pulau-pulau lain. Kenapa? Karena
Surabaya adalah pusat transportasi.
Jadi saya kasih tahu kita pakai kita
harus selalu pikir kepada efisien. Jadi
bagaimana kita mengontrol
ongkos-ongkos
tidak hanya ongkos pemerintah, tapi
ongkos swasta.
Nah, inilah satu grafik lagi. Di sini
ada total cost. Jadi ongkos ongkos
secara keseluruhan dan di sini ada
volume
ya. Kalau kita
bikin manufacturing atau berproduksi
sesuatu kan ada marginal cost. Jadi
setiap setiap satunya
kalau kita manufak bikin banyak itu
turun melewat
eh overhead costs. Oke. Jadi marginal
cost-nya lama-lama turun. Semakin banyak
kita bikin semaka semakin rendah ongkos
tersebut. Tetapi produk itu harus
dijual.
Malah tadi saya bicara ongkos
transportasi dan kita tahu bahwa ongkos
transportasi itu kira-kira itu linear.
Kalau ditambah
kita mendapat satu
garis yang kayak gini di mana minimalnya
di sini. Nah, kebetulan minimal itu
berkaitan dengan luas-luas daerah
tersebut.
Sehingga kita tahu bahwa optimal
delivery area itu
ada satu lingkaran, ada satu bulat, ada
satu cincin seperti saya mulai. Nah,
pertanyaan saya untuk Jawa Timur adalah
begini, Bu. Begini, Pak.
Kalau Jawa Timur, terutama kalau
Surabaya mau maju, bagaimana kita
mengoptimisasikan
optimal delivery area tersebut?
bagaimana kita meningkatkan
em
apa istilahnya
potensi kita untuk melayani
pasar-pasar yang ada di keliling kita
ya. Yang satu kita berbikin investment
dalam infrastruktur tapi tidak hanya
infrastruktur untuk barang tapi
infrastruktur juga untuk jasa. Karena
masa depannya ekonomi kita berorientasi
kepada jasa.
Oh, saya mau ah terlambat. Saya mau
tanya sebentar. Kalau saya mau jual
semen,
apakah ongkos transportasinya tinggi?
Kan berat ya. Jadi ongkos
transportasinya sangat tinggi. Tapi
seandainya saya bikin musik, ongkos
transportasinya tinggi atau rendah?
Rendah. Jadi garis itu justru menurun.
Jadi kita bisa lihat bahwa untuk kawasan
kita ada kegiatan yang sangat cocok
dengan infrastruktur yang kita punyai.
Tapi apabila infrastruktur itu beda,
malah ongkos kegiatan kita juga beda.
Sehingga kita dapat kesempatan yang
baru. Ini maaf ya ini digambarkan untuk
Jakarta.
Tapi kita melihat jarak antara Jakarta
dengan kota-kota lain di Indonesia
secara geografik
ini. Peta ini sudah 15 tahun yang lalu
ada seorang pegawai negeri yang datang
ke Inggris yang memberikan saya tahta
ini. Jadi kita kita lihat untuk
ilustrasi saja.
Kalau ini jaraknya kalau kita naik
pesawat
bisa dilihatkan bahwa jarak-jarak ini
sudah berubah sedikit. Karena naik
pesawat itu kita harus masuk ke bandara,
kita harus naik pesawat dan ee tapi
petanya agak mirip.
Tapi kalau kita lihat ini untuk kapal,
kita malah melihat bahwa ee Padang itu
jauh lebih jauh dibandingkan Singapura
dan Makassar itu juga menjadi jauh lebih
jauh dibandingkan
sebelumnya. di sini kan Makassar di sini
seharusnya di situ tapi itu malah
menjadi lebih ke timur.
Nah, kenapa begitu? Kenapa Makassar dan
Padang bisa bergerak?
Kok bisa-bisa lebih jauh kalau kita naik
kapal dibandingkan kita naik pesawat?
Kenapa?
Karena ini tidak hanya soal ongkos
transportasi.
ini juga soal ongkos administrasi
birokrasi
dan di situlah ibu-ibu dan bapak-bapak
punya peranan besar bagaimana kita
memperbaar pemerintahan administrasi di
segala tingkap di segala apa layers
sehingga
transportasi ini menjadi lebih irit Yang
yang juga menarik di sini kita melihat
bahwa Singapura malah lebih dekat
dibandingkan sebelumnya. Kenapa? Karena
pelabuan di Singapore sangat irit.
Jadi yang kita kalau kita bicarakan
birokrasi dan administrasi
sebetulnya apabila kita irit secara
nasional atau secara provinsi itu justru
menyatu
masyarakat, penduduk,
perusahaan dan segalanya.
Apabila kita tidak irit,
malah orang yang tinggal di kabupaten,
di selatan mereka menjadi lebih jauh
lagi dibandingkan seharusnya.
Jadi itulah demi produktivitas kita,
demi efisiensi kita, kita malah menyatu
provinsi dan negara.
Nah, ini untuk selesai ada tiga slide.
yang tertinggal. Saya mau bicara sedikit
tentang budaya
dan saya mau kasih dua definisi yang
mungkin bermanfaat. Yang pertama kita
bicara seseorang yang average ya, yang
rata-rata
ada di tengah di sini
di kelilingnya
ada kebiasaan atau pranata atau
kelembagaan yang menentukan apa yang
kita lakukan dan di atasnya ada perilaku
kita.
Ini yang menentukan budaya. Jadi ada
aturan dan ada perilaku selalu ada
selisihnya.
Dan ini menentukan apa yang kita di mana
kita merasa tenang hati. Kalau kita
berada di situ di mana kelembagaannya
jelas, perilakunya juga ikut jelas dan
kita merasa bahwa kita mengontrol
situasi. Tetapi apabila kita sudah
keluar dari zona itu, malah kita berada
di zaman atau di di tempat yang agak ada
istilah Jawa agak kisru,
agak kisru. Kalau di Amerika sekarang
ya agak sedikit kisru rasanya di Amerika
karena banyak kebiasan, banyak
kelembagaan itu mulai berubah dan
perilaku juga berubah.
ini selalu terjadi apabila kita
menghadapi teknologi baru. Jadi
infrastruktur baru tidak hanya membawa
rezeki, tapi juga membawa risiko dan
kita harus pintar mengendalinya.
Jadi di sini ada risiko yang ada di sini
di atas itu ketidakpastian.
Nah, pada zaman dulu,
pada zaman dulu saya lihat ke sejarahnya
Jawa sekarang,
pemimpin-pemimpin kita dulu, mereka
menciptakan sastra, mereka menciptakan
aturan, mereka menciptakan agama.
Ini semua dibentuk supaya masyarakat itu
stabil, makmur, dan dalam posisi di mana
masyarakat bisa maju, ada kesepakatan,
ada kesefahaman, gitu. Jadi saya kasih
satu image ya yang saya rasa ini
melambangkan budaya Jawa zaman dulu.
Walah, inilah dia Borobuda. Kenapa saya
pikir Borobedo itu cocok? Karena Borobo
tidak hanya bangunan.
Probodo itu adalah sastra.
Probodo itu setiap setiap bulat, setiap
cincin di Borobudo ada cerita-ceritanya
dan ceritanya di dalam ceritanya ada
budi pergkatinya.
ada ada arah kita itu mengarahkan kita
bagaimana kita harus hidup zamannya dulu
ya mungkin enggak 100% cocok untuk zaman
ini tapi zaman dulu itu dipakai untuk
memberi satu wawasan yang menyatukan
negara pada waktu itu.
Saya mau selesai
dengan bicara sedikit tentang bedanya
nasib dan takdir. Nah, mungkin ada yang
sudah mendengar saya ceritakan ini.
Tapi seringki apabila kita harus
berwirausaha,
kita harus memikir kepada risiko dan
ketidakpastian.
Nah, bedanya begini.
Kalau
takdir,
wah saya tanya dulu takdir itu apa?
Bedanya apa dengan nasib?
Takdir itu kita harus terima. Kita tidak
bisa melawan.
Tetapi nasib nasib itu kita bisa
mempengaruhi. Nah, seringki sebagai
pegawai kita merasa bahwa kita harus
selalu manut patut injil.
Kan harus manut patut injil. Tapi
sebetulnya Anda semua
orang yang sudah berpendidikan tinggi
dan Anda semua bertanggung jawab untuk
menjawab soal-soal yang muncul.
Nah, di situlah Anda punya kesempatan
untuk mempengaruhi
bukan hanya nasibnya sendiri, tapi orang
dikelilinginya.
Dan oleh karena itu saya justru memikir
kepada satu buku.
Oh, wah ini juga ini sangat penting.
Pernah lihat, pernah baca ini? Carilah
ilmu sampai ke negeri Cina.
Kenapa saya nunjukkan ini? Karena dulu
orang Chinese dulu datang ke Indonesia
untuk melihat Borobua zaman-zaman dulu.
Tapi saya juga mau em bicara buku ini.
Kembali lagi ke buku ini, Esam Taja.
Karena sebetulnya eh
kita melihat
Maha Sejenar itu apabila dia keluar dari
Kraton, dari istana.
dia merantau.
Apabila dia merantau, dia justru dia
masuk ke kawasan di mana
ketidakpastiannya tinggi. Untuk
mengatasi tantangan yang dia hadapi, dia
harus
masuk ke zona ini. Jadi, di sini ada
tantangan, di sini ada kemampuannya.
Jadi istilahnya begini, di sini ada
tantangan negara, di sini ada SDM,
sumber daya manusia.
Nah, supaya dia menjadi bagus dalam
peranannya sebagai wira, dia justru
harus meningkatkan
kemampuannya sehingga itu sama dengan
tantangan yang dia hadapi. Dan dalam
perjalanan tersebut dia ada rasa risau
dan ada juga rasa di mana dia mau
mengunduhkan diri karena dia begitu
khawatir.
Saya berharap Anda semua tidak terlalu
risau dengan masa depan Anda apabila
Anda harus ee menyelesaikan soal-soal
yang muncul di dalam peranan Anda. Dan
kamu juga tidak mengelak tantangan yang
datang, tetapi justru mengambil
kesempatan untuk mempengaruhi
nasib di mana Anda bisa manfaatkannya
untuk negara dan provinsi. Terima kasih
banyak.
Terima kasih banyak
Prof. Buckingham. Sedikit menyimpulkan
apa yang sudah dibicarakan tadi adalah
bagaimana strategi pembangunan menjadi
dua hal utama yang perlu kita
perhatikan. Pertama adalah framework
analisis karena melalui analisis kita
mempunyai menilai kondisi secara
menyeluruh sehingga bisa menghasilkan
dasar yang kuat untuk mengambil sebuah
keputusan. Kemudian yang kedua adalah
cost to serve, yaitu biaya yang
diperlukan untuk melayani. Di mana ini
juga termasuk perkembangan serta biaya
yang kita keluarkan untuk mendorong
sebuah inovasi. Selanjutnya adalah
faktor-faktor penting pertumbuhan. Yang
pertama adalah populasi baik pertumbuhan
alami maupun adanya arus imigrasi juga.
Kemudian faktor kedua adalah
spesialisasi yang bisa meningkatkan
produktivitas dan faktor ketiga adalah
investasi di mana ini mencakup berbagai
aspek mulai dari otomasi kemudian juga
sosialisasi pemanfaatan teknologi sampai
dengan penguatan modal manusia serta
human capital. Dengan memahami kerangka
ini, harapannya melihat biaya faktor
pendorong dan pertumbuhan ini bisa
merancang strategi pembangunan lebih
efektif, berkelanjutan, dan juga ada
tambahan tentang aturan dan perilaku.
Nanti akan kita buka juga Bapak, Ibu
sesi tanya jawab dengan Prof.
Buckingham. Tetapi selanjutnya kita akan
bersama-sama mendengarkan paparan juga
dari Prof. John Vevakuva. Disilakan.
[Musik]
tax
baik kalau begitu Bapak Ibu waktunya
untuk sesi tanya jawab bersama dua
narasumber karena Mr. John juga akan
menanggapi terkait pertanyaan Bapak Ibu
sekalian. Silakan boleh angkat tangan.
tentunya untuk Profesor John akan lebih
tentang pajak. Jika Bapak, Ibu punya
pertanyaan terkait akan ini, beliau juga
akan memberikan jawaban. Silakan ada
pertanyaan dari sisi kiri, kanan,
tengah, boleh dari sebelah tengah
terlebih dahulu. Bapak Yudi Kemal
silakan boleh dibantu.
Tidak perlu dianslate ya, Pak Yudi.
Thank you for the opportunity, Professor
Buckingham.
We met again after uh I met you on Mones
University Melbourne. My question goes
like this. Based on your um research and
international experience you know
Indonesia has already got the challenge
for the eh adopting the bridge the gap
between local community development and
national economic strategies. So what is
the most
powerful
strategic for Indonesia nowadays and
then as we know that right now in East
Java or especially for Indonesians eh we
face through the shares for the tax we
call it at obsent pajak. So I'm from the
revenue department of East Java
Province. I'm working on the revenue
department on the Trenggalek.
Then eh once again I want to ask you
about the what is actually we can do for
this synergity eh between the Regency
and the East Java Province. as you know
for the for for this strategic issue is
not really that what is it is not really
that easy because on Trengalek is one of
the regency that having really low
fiscal um energy so that's why once
again we want to know how our
governmental can just support about this
kind of um eh rules So that's it. Thank
you very much.
Terima kasih Bapak Yudi Kemal. So you
are questioning about the strategy in
between Regency and is Java for friends
also the taxis as well.
Mr. John Professor John
uh can I
salam PY?
That's that's all of my Indonesian right
there. I can't speak any other so but I
felt I had to share that. I'm very
honored to be here. So, thank you for
the invitation.
Um, I think the challenge
it is a challenge that we share in
Australia about how we divide the
revenue between the national government
and to get it to the regions to the
provinces. and to the people
that you serve.
Uh and
I think one of the ways that can be
achieved
is to focus away from taxing of income
and more towards collecting revenue from
the sorts of transactions and the
industries that your particular
provinces and your regions are strong
in.
Uh the other so the challenge of that of
course is that often you need the
systems in place. I think it's as much
about the tax policies as it is about
the systems being in place to uh be able
to enact those policies.
So for example uh I work with a number
of PhD students from Indonesia who work
at um the national level but a lot of
those projects are concerned about the
systems and using technology
in a way that ensures that the people
that that perennials problems such asal
economy in industries such as
agriculture uh can uh be brought into
the system and can and revenue can be
raised by the states and by the
provinces.
The challenge there is that you can only
succeed with a balance of technology and
people.
So the people on the ground, people like
yourselves and public officials that
work for you uh are the critical ones to
win the trust and confidence of the
people.
Because I think in the past, and this
has been a challenge in Australia and in
many other jurisdictions,
the attempt to raise revenue at a state
level and at a regional level has been
based on one of exercises of power
forcing people to pay their Jews to
ensure that they do the right thing.
Increasingly, it's about it's been
recognized that it's about trust and
confidence and having the confidence
that the money that is collected is
spent efficiently. It's spent on
services the people appreciate and
value.
And one of the things that I'm working
on and that I'm researching is ensuring
that we resist that we find a balance
between using technology
to create the efficiency we need to
raise the revenue to ensure that the
people are served their needs are served
um and the need for human to human
interaction because I think
that no amount of efficiency no amount
of good policy will ultimately put
the best policy outcome and the optimal
revenue raising
Pak Yudi kalau tidak salah kabupatennya
Pak Yudi ada di pergunungan.
Betul, Pak.
Enak ya jadi pejabat di pegunungan.
Pasti banyak pohon duren.
Terus terang, Pak. Saya asli saya di
Inggris di pedesaan.
Di desa saya enggak ada banyak sapi dan
domba. Gitu aja. Enggak ada industri di
pelosok-plosok
atau orang Melayu bilang di ulu-ulu ya
di atas.
Saya mau bilang bahwa apabila kita ada
di daerah agak lu agak agak jauh
memang rasanya seperti kita sendiri.
Infrastrukturnya susah ya, Pak.
Kadang-kadang susah, mungkin tanah
longsor,
pokoknya segala yang seperti itu.
Ini juga mempengaruhi budaya orang, Pak.
Jadi yang saya melihat petani-petani
yang tinggal di daerah seperti itu, saya
belum pernah ke tempatnya Bapak, tapi
saya menilai bahwa orang di sana
seringki lebih mandiri.
Dan ini sebetulnya satu kelebihan.
Dulu waktu saya tinggal di Prancis,
orang Perancis bilang, "Petani dari
Portugal
datang ke Prancis, tiba di Prancis
menjadi pembangun rumah langsung.
Tidak ada formasi, tidak ada apapun."
Mereka langsung pokoknya petani itu
orang yang mandiri. Mereka mungkin
keahliannya
tidak sespecialized yang saya bilang
tadi, tapi lebih luas. Tukang listrik
bisa, tukang batu bisa, tukang kayu
bisa, semuanya bisa. Dan ini memberi
satu kelebihan di masyarakat tersebut.
Dan ini juga membiarkan Anda
karena Anda sedikit lebih tersembunyi
dibandingkan orang-orang yang ada di
dekatnya Surabaya. Mungkin ada
industri-industri di sana yang bisa
dibangun kerana Anda berada di tempat
yang agak sedikit jauh dari tengah. Nah,
ini tidak berarti bahwa daerah-daerah
tersebut harus mengasingkan diri. Ini
tujuannya enggak begitu, Pak. Tujuannya
kita melihat SDM kita di sini apa,
lowongan apa di daerahnya Jawa Timur
yang kita bisa melayani.
Dan saya rasa dengan sedikit analisis
pasti ada di daerah Bapak.
Jadi koperasi tetap penting. Tapi kita
juga harus sadar
walaupun mungkin rakyat kelihatan
melarat,
mereka pasti punya kelebihan. Itulah
tanggung jawab kita untuk mencarinya.
Terima kasih.
[Musik]
Baik, terima kasih. sedikit menggaris
bawahi dari Profesor Bakwa adalah
bagaimana teknologi bisa membantu semua
ya Pak Yudi. Mungkin ini ada sesuatu hal
yang menjadi masukan ke depannya inovasi
di Trenggalek mungkin untuk Jawa Timur
bisa bersinergi. Silakan mungkin ada
pertanyaan lagi dari Bapak Ibu sekalian.
Baik dari sebelah sini sini. Oke. Saya
suka sudah mulai banyak pertanyaan di
dari belakang. Satu,
dua, ibu juga dan tiga. Silakan dari
sebelah sini dulu. Terima kasih Bapak
izin. Dengan Bapak siapa?
Saya drter Tauhid dari RS Sudiaji.
Boleh bahasa Indonesia aja, Mbak, ya?
Monggo, Bapak.
Ya. Saya ingin bertanya ee pengaruh atau
peran pajak terhadap
ee layanan kesehatan, terutama rumah
sakit.
Ada dua atau tiga model ee pengaruh
pajak terhadap layanan rumah sakit.
Permodelan yang pertama adalah yang kita
tahu bersama di Pineng. Peneng ya itu
governmentnya memutuskan bahwa pajak
untuk medical equipment itu sangat
rendah bahkan zero
menyebabkan pelayanannya sangat murah
dan kemudian disukai oleh masyarakat
Indonesia.
sehingga kita banyak berobat ke sana.
Itu satu permodelan pajak di Pineng.
Singapura kebalikannya
Texas government-nya itu sangat mahal.
Tapi juga ternyata banyak masyarakat
Indonesia dan ASEAN terutama juga banyak
mengakses pelayanan di Singapura.
Padahal mahal, sangat mahal. Tapi
mungkin kualitasnya kualitas dunia.
Permodelan yang ketiga ini Indonesia.
medical equipment taxes-nya sangat
tinggi sehingga menimbulkan high cost
medical services
tapi pelayanannya bermasalah.
Menurut profesor berdua untuk Indonesia
yang culture seperti ini mana yang lebih
cocok
eh Peneng model atau Singapore model
especially in tax government tax for
medical equipment. Thank you.
Terima kasih Bapak. Ini jangan menjadi
permasalahan bagi kita semua. Silakan
Prof.
[Musik]
Texas
Indonesia
Thank you for your question.
There we go.
Yes, I think as I understand your
question um the approach that I think is
preferable in industries like emergent
technology such as medical equipment uh
is one that I think starts from a point
of a low taxing approach and one which
that therefore encourages that early
investment that is required to get the
services to the people for an affordable
cost.
I think that over time that policy can
then be reviewed. Once the industry
becomes more mature and depending on uh
the demand uh for the services then
naturally that can change. But I think
the starting point has to be or the
favorable starting point has to be an
approach that is preferential in a sense
of uh giving a start to these industries
and to provide the services to the
people at a price point that is
affordable. Um because ultimately if
that's the end aim to provide the
services to the people and I think a
high taxing regime makes that harder to
do although it does raise challenges in
terms of how do you fund the service in
the longer run and that's why I think in
the longer run there needs to be an
adjustment to that high that uh low
taxing approach.
[Musik]
Ee menarik sekali pertanyaannya, Pak.
Emm
kadang-kadang kita merasa kalau kita
tidak kalau kita tidak memajak itu
memberi malah memberi kesempatan.
Saya rasa pikiran ini salah.
ee pajak itu adalah tanggung jawab kita
masing-masing.
Tapi kadang-kadang
memang ada akalnya untuk ee
mengeliminasikan pajak-pajak yang tidak
progresif.
Apabila Bapak bilang bahwa alat medikal
itu mahal di sini dan orang sini tidak
mampu memakai alat-alat tersebut,
saya langsung pikir kepada masalah
kemampuan ini.
Ee saya kasih contoh.
Kalau saya tidak punya mobil, apakah
saya bisa jadi pintar menjadi
sopir? Kan enggak mungkin.
Jadi kalau alat itu ada, orang bisa
specialize,
kemampuannya bisa meningkat.
Jadi saya rasa analisisnya Bapak itu
tepat sekali. Kalau Indonesia, kalau
Jawa Timur dan negara ee pusat juga
memilih bahwa ini akan ee industri
medikal akan menjadi kelebihannya Jawa
Timur. kita harus membentuk sistem pajak
yang sesuai
dengan perencanaan kita untuk industri
tersebut.
Dan contohnya Malaysia dan Singapura itu
tepat sekali karena itulah keputusan
mereka yang mereka ambil justru karena
di Indonesia pajak terhadap industri
medikal tinggi. Tapi itu tidak hanya
terbatas terhadap alat.
Ee doktor-doktor dari luar negeri tidak
boleh bekerja di Indonesia. Nah,
seandainya
di Jawa Timur Anda membuka satu special
economic zone
di mana modal dari luar negeri bisa
datang, alat bisa datang, dan STM,
sumber daya manusia yang pintar-pintar
itu dari luar negeri bisa datang bekerja
di sini. Dengan sangat cepat, Anda akan
membentuk satu industri yang kelas
dunia. Itulah yang dilakukan Singapura.
Ini juga bikin saya pikir kepada waktu
saya tinggal di Cina tahun 90-an
baru lulus saya dari ee sarjana saya di
di Australia.
Tiba di Cina, saya dikasih visa
tanpa banyak bicara di mana saya bisa
menetap setahun sebagai foreign expert.
Foreign expert. Jadi imigrasinya sangat
gampang dan pajaknya enggak seberapa.
Jadi itu justru sistem ee kelembagaan
itu justru menghisab tidak bukan hanya
alat-alat dari luar, investment dari
luar, tapi juga STM dari luar. Em
apabila kita mengimpor alat dan STM dari
luar,
dampaknya terhadap orang setempat
sangat positif.
Tidak gampang itu, tapi hasilnya sangat
positif dan buktinya adalah Singapura
dan apa yang terjadi di Cina. Saya
berharap Indonesia mungkin ini sudah
saatnya untuk melaksanakan ee
projek-projek seperti itu.
Dan kalau banyak yang dari luar negeri
datang ke sini justru pengaruhnya
Indonesia juga menjadi lebih luas. Anda
punya beberapa competitive cost
advantages yang sampai sekarang Anda
belum betul-betul
menggunakan. Misalnya perawat di sini
jauh lebih murah dibandingkan Malaysia
atau Singapura. Jadi potensinya tepat
dan saya rasa contohnya bagus sekali.
Tinggal aja ada koordinasi antara
pemerintah nasional, pemerintah daerah
dan mungkin juga pemerintah kabupaten.
Terima kasih, Pak.
[Musik]
Baik, terima kasih. Mudah-mudahan bisa
menjawab, Dokter,
ya. Kemudian, Ibu, kita akan beralih
silakan, Ibu.
[Musik]
Good eh afternoon, Professor Edward
Pckingham and eh Profesor John. Eh let
me introduce myself. Myself is Diah
Wahyu Ermawati. You can call me Diah or
Erma. I'm the director of investment and
integrated license office department of
East Java Province. Eh, I'm happy to
have your lecture today because the
philosophy of the public government and
serving the community and as well as the
eh the point of view for efficiency and
effective to deliver the public service
is really eh trigger me to ask the
question.
Eh the the two
eh participant already ask the question
is it almost the same with my question
actually but I'm prefer to eh focusing
in the eh how to
develop the tax for the investment.
You know already that the invest the tax
given by the government especially for
the central government eh it is like a
tax allowance, tax holiday, eh tax
deductive tax tax and many kind of
taxes. But this is merely close to the
fiscal ya. And as my task eh dealing
with the investment, we also been ask
many foreigner investor and during my
promotion they ask always what kind of
incentive do you give for us if I invest
to in is Java. Can you explain it? Of
course we will explain about the tax
that the central government already been
given to us. Eh but eh in one of the eh
degree that the central government
already develop that the regional
development
government eh regional government also
should develop the tax incentive for the
investor.
So we are getting confused actually
because the fiscal area already been
given by the central government but for
the regional government we should
discuss we already have the tax
regulation ya already been produced by
is Java provincian government but of
course it's difficult for us to give the
tax in case of fiscal do you have any
suggestion eh for our tax incentive for
the investor
Eh beside the fiscal incentive. This is
my first question and the second
question is the what is the
not what how the characteristic
characteristic of our regional ya
especially for the east Java province
can be developed for the eh
development of investment especially to
attract the investor from eh abroad
My two question. I'm very happy to meet
you and lovely to have your eh
discussion. Thank you very much.
Terima kasih Bu Erma, Kepala Dinas DPM
PTSP.
[Musik]
Thank you so much for those questions.
I'll deal with the first I'll focus on
the first question. I think um I do
think that
provincial and regional governments
can influence significantly
um in investor confidence and attract
investors but it depends on so and and
the way to do that I think is through
giving concessions
um on the taxes that you do levy. So for
example if there are transaction taxes
associated with land if it's an industry
that is land dependent uh or property
dependent then giving exemptions or
particular treatment or relief from tax
even in the initial stages of setup can
be a significant attraction to your
region over another one And I'm not sure
if you have So in Australia for example
we have payroll taxes. Now we exempt
certain industries from those and part
of the reason for that is to attract
investment so and not to discourage
employment. Um it could also be um
transactions uh associated with
transport and um fuel exercises
um and other duties that might otherwise
be payable. I think some of those can be
very powerful attractions for investment
um and particularly if they are targeted
to particular industries that you wish
to in that to attract.
I think that is probably the key to come
up with bespoke uh um concessions or uh
tax treatment for particular industries
that you wish to target. Um uh yeah so I
think they they're probably the main
ways and even though like you mentioned
licensing I mean licensing is huge for a
new industry and for a new investor. So
I think if there can be um uh fast
tracking or streamlining of those sorts
of processes in a way that is also cost
saving that can be that shouldn't be
underestimated as an attraction for an
investor particularly in those early
stages.
Bu, saya suka sekali pertanyaannya.
Saya lagi
berpikir, "Wah, ibu seperti petani
dalam arti ibu mau mendatangkan
wirausaha,
mau memelihara
wirausaha ya. Dan wirausaha itu selalu
mau merendahkan ongkosnya.
Kita harus jangan lupa bahwa pajak itu
hanya salah satu ongkos.
ada ongkos lain transportasi,
hukum, sosial kan banyak sekali.
Jadi apabila kita memberi
kesempatan dengan kita merendahkan
pajak, kita harus melihat apakah itu
punya dampak besar
terhadap
their competitive position.
Dan apakah dengan merendahkan pajak
tersebut itu justru membantu perusahaan
tersebut mendapat a sustainable
competitive advantage. Mungkin pajak itu
hanya harus diturunkan selama 5 tahun.
Perusahaannya sudah dibangun, bisa
berdiri sendiri. Ya, dari situlah kita
mulai pajak.
But there's more to this than just that.
Karena apabila kita merendahkan pajak
tersebut,
we are actually kita sedang menanam
modal.
Nah, bagaimana kita menanam modal? Kita
menanam modal dalam arti SDM,
kemampuan.
Jadi kita mengajak wirausaha domestik
maupun asing masuk ke kawasannya kita
kabupaten, kecamatan,
provinsi daerah masuk ke daerah kita.
Dan apabila mereka membangun perusahaan
tersebut,
mereka justru mendidik rakyat setempat
sebagai pegawai
dan rakyat-rakyat
setempat
lama-lama bikin kluster. Jadi seandainya
mereka mulai bekerja di perusahaan
wirausaha tersebut mungkin besoknya
mereka pindah ke perusahaan lain. kan
orang selalu harus punya kebebasan
masing-masing untuk memilih. Tetapi
perusahaan itu itu merupakan salah satu
pusat untuk STM
dan
kita bisa juga melihat perusahaan itu
seperti
em
satu institute pelatihan atau mendidik
rakyat setempat. So saya kira-kira
begini, Bu. Kita kadang-kadang di PNL,
the profit and loss, the income
statement, kita mengorbankan
revenue
dan ini bagus kalau balance sheet-nya
lebih kuat.
Dan yang kita inginkan dengan politik
tersebut, kita ingin menguatkan balance
sheet provinsi atau balance sheet negara
dalam arti kemampuan.
Jadi saya rasa pertanyaannya tepat
sekali.
Untuk industri-industri itu kita harus
bikin analisis
tentang cost structure dan kita juga
harus melihat bagaimana mereka akan
mendidik orang di tempat itu. Alat apa
yang disediakan, infrastruktur apa di
dalam perusahaan tersebut akan
disediakan dan bagaimana SDM itu akan
meningkat ee setiap tahun. Terima kasih.
Baik, terima kasih Bu Herma.
Mudah-mudahan menjawab. Lanjut lagi ke
pertanyaan di bagian belakang. Masih ada
susulan di depan juga. Mohon izin.
Silakan Bapak.
Izin, Profesor. Ee saya Bambangeru UWT
PPBD Bondowoso. Ee selamat kembali
ketemu Pak Profesor setahun yang lalu,
walaupun 3 hari di sana. ee yang saya
tanyakan terkait dengan
apa? Negara maju. Negara maju itu apakah
lebih cenderung pajaknya lebih rendah?
Di tempat kami negara berkembang
ee mohon maaf pajak lebih agak tinggi.
Kemarin
dengar-dengar gudang garam juga mau
bangkrut karena pajak lebih besar
ketimbang untuk operasionalnya.
Kedua, mungkin profesor dengar di
Kabupaten Pati sampai bupatinya di
Unjurasa.
Yang kedua, pertanyaan simpel aja, Dok,
Prof. untuk
menumbuhkan apa
wabj pajak untuk
taat dan patuh bayar pajak itu
bagaimana? kami di Jabat Timur sudah
berusaha untuk mengasih rewet yang ta
dan batu itu dikasih umrah atau di ee
kalau di internal kita tabungan sepeda
itu, Prof. pertanyaan kami.
Selamat siang.
Terima kasih Bapak Bambang Heru.
So
[Musik]
payes.
You can go with that. How encourage
people to pay?
Thank you for your questions. Um, on the
first question which was uh about
whether Indonesia is a relatively high
taxing jurisdiction compared to some of
the you know other countries. Um I would
say from what I know um I would say no
you're not. Um
what
the I I think that it
one of the issues with assessing
whether a jurisdictions is high taxing
or low taxing is to look at the
progressivity of the system and who is
paying the taxes.
So I think that perhaps
uh more so in uh some of the bigger
countries or so even in Australia uh we
have a progressive tax system. So in so
far as income is concerned you pay a
higher tax rate of income tax uh
according to your income.
Uh and we also er give significant
concessions to lower income uh
individuals where they pay no tax. Uh so
the lowest income earners don't pay any
tax. Now, from what I understand,
Indonesia system is a little bit flatter
in that respect. Um but we also have
many many other additional taxes that
you don't necessarily have in Indonesia
and I think they're sometimes hidden uh
in the in the in the statistics. Uh so
for example um if you were to purchase a
house in Melbourne the the city that I
live in um the average house costs
will will to buy the average house you'd
have to pay approximately $50,000
Australian
in stamp duty to the Victorian
government. Now that's on top of your
income tax that you pay to the federal
government and on top of your
consumption taxes that you pay when you
purchase goods. Um the exercises you pay
when you purchase a pack of cigarettes
which are very high. um a whole range of
the the fees you pay when you transfer a
motor vehicle all of these things. So
that's why I think my answer is when you
take into account that entire picture I
would say that Indonesia is not a
particularly high taxing jurisdiction
as a whole.
Um, now your second question is one that
I wish I knew the answer to but I have
done a lot of study into which is how
you get people to pay taxes.
And I think that the challenge is
striking a balance between
uh enforcing the tax laws to force
people to pay taxes to ensure they pay
those taxes. And that's done through a
combination of fines or audits. So these
sorts of traditional approaches and I
think there's always a place for that
historically. And I think in Indonesia
as well there's been a heavy reliance on
audits and those sorts of enforcement
approaches.
Increasingly, however, it's recognized
that you really need to balance that
with
policies that encourage people to
voluntarily pay without being audited,
without being under a threat of a fine.
And that's the harder bit. It's
effective but it's hard to do. So some
of the things that you do and and the
the overarching way that you achieve
that is by having the trust and
confidence of the people. If people
trust that the taxes they pay they will
benefit from they will see the benefit
from it then they're more willing to
pay.
If they see that their neighbor is
paying taxes and the person who is very
wealthy is paying taxes as well as the
and paying more than the person who
perhaps isn't so well off, then people
have trust and confidence and are more
willing to pay.
Um, now that's easy to say but it's very
hard to implement.
I think technology is changing that a
little bit.
So for example, and I know this is the
case in Indonesia, it's in the case in
Australia. We're increasingly using
prefilling of information into tax
returns
particularly from um people who are
employees.
So it's almost impossible to avoid
paying taxes if you're an employee
because it's already registered with the
tax office and it's already prefilled
perhaps in your tax return. So it's much
harder.
there is taking out of the equation the
issue of do I have to order someone do I
have to find them do I have to have
their trust and confidence
but there are that only goes so far and
so where it's harder is in industries
such as agriculture
where small and small businesses where
it's much easier for that income to
unrecorded unreorted
and that's where I say that the trust
and confidence of the people is the only
way to get them to pay the taxes because
you can't necessarily order to everyone.
You can't order. You don't have a system
that very easily can record
the revenue and the tax attributable to
that revenue. So you are dependent to
some extent or to a large extent even on
the people being willing to pay. And
that's where I think you do need that uh
genuine relationship of trust between
tax officials, between public officials,
between the policymers
and the people. Without that, no system,
no strategy, no policy can get full
reporting of the tax revenue.
Thank you, Professor Bqua.
[Musik]
Hello. Iya. Nak pertama saya mau bilang
karena pasti orang pajak di sini
pembayar pajak adalah kewajiban.
Ya. Ya. Ini ditulis ya bayar pajak
adalah kewajiban. Aku yang bilang
begitu. Saya enggak mau enggak mau
enggak mau enggak enak sama pegawai
negeri ya. Bayar pajak itu kewajiban
karena itu kan gaji,
itu kan penanaman modal dalam
infrastruktur dan sebagainya.
Dan kebanyakan orang sadar bahwa itu
adalah kontrak sosial.
Em,
tetapi kita juga harus lihat lebih dalam
karena dalam satu ekonomi ada formal
sector
dan informal sektor. Pada umumnya orang
di formal sektor membayar pajak.
Pada umumnya orang di informal sector
hanya membayar pajak apabila mereka beli
rokok
atau mobil dan sebagainya.
Dan kebetulan di Indonesia informal
sectornya masih besar sekali. Betul kan?
Ada terakhir kali saya melihat ada
kira-kira 70%
di informal sector.
Apakah itu tepat?
ada angka beda mungkin 60% sekarang saya
kurang tahu ya tapi kita kita bilang itu
70%
em
untuk
membantu informal sector membayar pajak
yang pertama itu harus gampang.
Jadi di Australia kita pakai sistem
namanya goods and services tax. Jadi
setiap kali kita beli makanan di
restoran dan sebagainya, kita membayar
pajak.
Emm
tapi
akhirnya kalau di informal sector
mungkin mereka juga apabila di restoran
restoran itu pun enggak enggak pakai
goods and services tax. Jadi ini bikin
satu masalah. Tadi Pak John bilang bahwa
pajak di Indonesia kalau dibandingkan
dengan ekonomi masih cukup rendah.
Nah, itu rendah karena informal
sectornya besar.
Apakah ada negara lain yang pernah
menghadapi masalah seperti ini?
Sebetulnya ada.
yang salah satunya Cina
dulu
20 25 tahun atau 30 tahun yang lalu di
Cina yang bayar pajak itu hanya
perusahaan-perusahaan dari luar negeri.
Kalau perusahaan-perusahaan dalam negeri
pajaknya enggak seber enggak sebegitu
tidak begitu banyak. Nah, sekarang
politiknya agak berbeda. Berbeda kenapa?
Karena ekonominya lebih formal. Jadi
apabila ekonominya lebih formal,
pajaknya lebih besar dan kita bisa
justru mengambil pajak dan menanam modal
itu bikin siklus yang positif.
Em, pemerintah India melihat
bagaimana itu berjalan di Cina. Dan pada
tahun sebelum ee Perdana Menteri Modi,
mereka sudah mengambil keputusan untuk
mendigital
mendigitalisasi.
Betul enggak? itu pokoknya semua orang
dibikin digital. Dikasih emm dikasih
rekening di bank, dibilang kalau kamu
mau dapat sesuatu dari pemerintah, kamu
punya harus punya rekening de bank,
harus punya digital identity dan
sebagainya.
Sehingga informal sector itu
didigitalasikan.
Ada kata itu aku bikin aku bikin kata
Indonesia sambil bicara tapi pokoknya
digitalization
of the informal sector.
Dan itu ternyata sangat efektif.
Mereka juga ambil satu langkah lain yang
agak kontroversial.
mereka justru em mengeliminasikan
uang tunai yang besar-besaran.
J di Indonesia sekarang ada 100.000 kan.
Saya tidak tahu bagaimana negara ini
akan berfungsi kalau tidak ada 100.000.
Tapi di India dibatalkan. Yang 100.000
itu dibatalkan.
Nah, terpaksa orang yang punya banyak
uang tunai
di bawah tempat tidurnya, mereka terpaks
dan masukkan uang itu ke dalam
rekeningnya.
Nah, begitulah mereka bikin transfer
dari informal ekonomi diformalisasikan
tidak sempurna dan pasti banyak orang
yang tidak suka. Tapi itu sangat
membantu sehingga negara dapat
perspektif yang jauh lebih jelas tentang
kegiatan ekonomi, bagaimana memajaknya
dan dampaknya nanti muncul di mana.
Jadi itulah beberapa contoh yang mungkin
bisa membantu negara Indonesia.
Emm
banyak hal ini akan berjalan tanpa
campur tangannya pemerintah.
Jadi digitalization di Indonesia saya
ini pertama kali saya ke Indonesia sejak
2 tahun dan kemarin di Jakarta saya
heran bagaimana orang memakai HP untuk
segala urusan.
Ee jadi ini cenderung ini akan lebih
cepat dan oleh karena perubahan itu di
swasta
dan saking
gampangnya bertransaksi lewat digital,
kita akan lihat migrasinya orang di
formal sector masuk ke yang ekonomi
digital itu. Karena di situlah
pemerintah punya kesempatan yang amat
sangat besar untuk mengatur sistem pajak
yang lebih irit dan lebih baik. Saya
optimis, Pak. Makasih.
Terima kasih, Profesor Pakham.
Mudah-mudahan bisa menjawab ya, Papang
Heru. Sedikit intermezo. Jadi kalau
punya rumah di Melbourne tadi Profesor
Bakaufa bilang bayarnya 15.000 RIB
Australian Dollar atau setara dengan 165
juta. Lumayan ya, Pak. Baik, selanjutnya
di bagian depan.
Tadi ada yang bertanya ada dua lagi.
Silakan Bapak-bapak. Oke, yang pertama
satu lagi. Satu saja.
Oke, silakan Bapak.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Ee perkenalkan saya Yazid dari BPKAD
Kabupaten Gersik.
Ee begini Bapak, kemarin waktu ulang
tahun RI ke
80,
kami melakukan diskon pajak sebesar 80%
untuk PBB
dan ternyata respon masyarakat sangat
bagus.
Banyak
wajib pajak yang punya hutang mungkin
lebih dari 10 tahun, mereka langsung
bayar karena ada diskon 80% dari
pemerintah.
Apakah itu artinya masyarakat cenderung
senang dengan pajak murah
atau mungkin juga bebas pajak? Itu
pertanyaan pertama.
Pertanyaan kedua,
Undang-Undang Dasar 45 pasal 33
intinya menyebutkan bahwa
semua kekayaan alam di Indonesia ini
dilaksana digunakan sepenuhnya untuk
kesejahteraan rakyat.
Saya melihat bahwa satu-satunya sumber
pendapatan pendapatan negara dan daerah
yang diatur oleh Undang-Undang Dasar 45
adalah pemanfaatan sumber daya alam.
Dan itu kita sudah lihat bersama
bagaimanakah sumber daya alam kita bisa
memberikan pendapatan negara dan
pemberatan daerah yang sangat besar.
Jadi mungkin di sini saya ingin ingin
mungkin kita di pemerintahan daerah
butuh merubah mensit kita yang semula
menjadikan pajak sebagai tumpuhan
kita bergeser menjadi sumber daya alam
kita sebagai tumpuhan pendapatan daerah
atau barang milik daerah kita sebagai
tumpuhan pendapatan daerah.
Sementara itu, terima kasih. Mungkin ada
tanggapan dari Profesor. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih
Bapak
[Musik]
Thank you for your questions. Um I'll
deal with the first one and I'll leave
to deal with the royalty question. Um
the question about tax amnesties and um
people's uh responses to those and
whether they're good or not is a very
interesting one because paying taxes is
very much a psychological thing.
It really is. So, a lot of the a lot of
the studies, a lot of the research that
I'm familiar with is actually conducted
not by lawyers or tax, it's actually by
psychologists,
right? And people who understand the
psychology of human beings.
So for example
if you have uh
it's been shown that people respond uh
best in systems where they can um uh
report people who don't pay their taxes
uh as long as um uh so which is quite
interesting
in terms of human nature in terms of
amnesties uh I think they are a good
idea uh but to a point because otherwise
people become too reliant on amnesties
uh and they it's about striking that
balance of um ensuring that individuals
understand that they must pay their
taxes and that they won't just get an
opportunity to have a discount or a an
ability to not pay taxes for a
particular reason.
Um
uh so there's a balance between that and
also ensuring that there's some
benevolence, some kindness in the system
for those who do want to comply but
perhaps for some reason haven't been
able to or um are facing financial
difficulties. And ultimately
an amnesty can generate good will that
outways the tax for gone from the
individuals to whom the tax amnesty is
granted through the good will that's
created amongst the broader taxpaying
community which gets back to what I was
saying before about people wanting and
being willing to pay their taxes. A
system that has some concessions, some
relief, some uh amnesty type situations
is much likely much more likely to
create that sort of environment where
those who aren't directly benefiting
from the amnesty or concession are more
willing to pay their taxes. So I think
when you look at um uh systems and
approaches and strategies like these you
have to look beyond just the pure
revenue that you might be forgoing
through uh the people who take advantage
of those systems and look at the broader
benefit. I mean the op to give you an
example so it's wellknown that if you
audit a certain segment of the community
and you detect that they underpay
the revenue that the gain for the
revenue is not actually the amount of
underpayment you detect on the audit
it's the flowon effect of people
understanding that if they underpay
audited and they're more willing to
automatically report their income many
times research into it. So say 10fold so
if you recover000 in an audit you might
recover 10,000 uh through additional
money that people are paying. The
opposite is tru that the same is true
when you have these sorts of concessions
available to people through the
confidence and the trust and the
willingness to pay the good will to pay
that it creates in the broader taxay
community.
Pak, jadi saya berusaha menjawab
pertanyaan ini. Ee tadi Bapak bicara
soal tax amnesty. Jadi misalnya
ee hari kemerdekaan kan kita bisa dapat
diskon atas tas atas ee pajak tersebut.
Ya, masalahnya
orang pelit
seperti saya,
aku akan menunggu
sampai hari kemerdekaan.
Jadi istilahnya kalau tax amnesty itu
kalau tepat tanggalnya setiap kali
kelas menengah itu membayar pajak
menjadi kelas menunggu
ya.
Jadi ee lebih baik jangan lebih baik
jangan tax amnesty itu itu bisa seperti
yang dikatakan John itu bikin a
psychological response yang dan hasilnya
belum tentu positif.
Tetapi kadang-kadang
ada sektor tertentu
yang mungkin sedikit liar,
tidak teratur.
dan pemerintah mau menguasai
ekonomi tersebut. Nah, mungkin
ada intervensi tertentu di mana kita
masuk, kita bilang, "Waduh, orang-orang
di kampung ini enggak ada yang pernah
bayar pajaknya selama 50 tahun.
Mulailah tahun ini Anda bayar semua."
yang kemarin
dikesupen aken ya betul enggak
dilupakan dilupakan
atau dilali dilali akeh bisa ya
ya jadi memang ini semacam alat tapi
kita harus strategis di mana itu dipakai
nah kembali kepada kekayaan negara yang
ada di bawah tanah
dan ada di atas minyak, sawit,
sebagainya,
air kan itu ada di atas tanah itu. Betul
itu kekayaan negara.
Dan saya dulu pernah bekerja di minyak
dan gas untuk ee ee perusahaan nama
namanya Slamberj. Banyak banyak yang
datang dari dari Jawa Timur yang bekerja
di Slambberj dulu.
Lucu ya. Satu hari saya di kantornya
Slamberj di Moskow
di Rusi.
Saya masuk
terus ada orang bicara bahasa asing.
Tapi aku ngerti semuanya. Ternyata orang
Indonesia kabeh
mereka. Saya kok kok kok kok ada orang
Indonesia di Moskow. Ah, dia jawabnya,
"Oh, dulu kami kan kerja di kantor di
Jakarta,
ternyata gaji kita rendah, diajak pergi
ke Rus. Senanglah mereka. Mereka dapat
dua kali lipat gajinya di Jakarta, tapi
masih masih tidak mahal dibandingkan
orang Rusi." Waduh, kedinginan semua
mereka. Tapi kembali lagi kepada
kekayaan negara itu. Kadang-kadang
perusahaan pertambangan mereka salah
paham. Mereka pikir yang yang ada di
bawah tanah itu punya mereka,
hak mereka. Tapi sebetulnya tidak.
Mereka hanya punya hak untuk mengambil
dan memproses
kekayaan tersebut.
Jadi apabila kita mau mengatur
sumur alam seperti ini, kita perlu
pegawai negeri yang betul-betul paham
secara komersial apa yang terjadi di
industri tersebut.
Nah, tidak hanya di Indonesia, di
Australia juga
kami punya oh kita punya pegawai negeri
agak sedikit kurang dalam kemampuan
tersebut sehingga perusahaan-perusahaan
seperti itu mereka bisa bikin seenaknya.
Jadi kita harus mendidik
ee pegawai negeri dalam
em kemampuan komersial sehingga mereka
justru bisa berdiskusi dan bernegosiasi
dengan perusahaan-perusahaan tersebut.
Kalau perusahaan-perusahaan tersebut itu
tidak diawasi, mereka cenderungnya bikin
seenaknya. Jadi ini adalah satu
kebutuhan negara bahwa pegawai negeri
itu mendapat sektor knowledge atau
industri knowledge yang tepat sehingga
perusahaan itu dan industri itu dipajak
dengan baik dan benar. Terima kasih.
Terima kasih.
Baik, silakan mungkin ada pertanyaan
terakhir sebelum kita tutup. Bapak Ibu
sekalian.
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Mohon izin, Prof. saya dari BPPEDA
Kabupaten Malang
ee izin mencoba mensinergikan
statement terakhir Pak Wagub tadi itu
bahwa saat ini kami ini sebagai APD
negara itu posisinya sulit.
Nah, saya coba kaitkan dengan tema kita
dari lokal ini untuk ke nasional.
Bagaimana ikon muda? Saya tadi
mengkaitkan dengan yang disampaikan Prof
tentang ongkos tadi kos.
Di mana ada ongkos yang itu saya tidak
tahu kalau di Australia bagaimana.
Ongkos itu yang mungkin itu tidak bisa
dipertanggungjawabkan.
Dan itu jujur itulah posisi yang
disampaikan Pak Wagub tadi. itu posisi
kita bagaimana untuk membuat satu
strategik tadi itu ada ongkos yang itu
tidak bisa bahkan sulit untuk
dipertanggungjawabkan sehingga akan
menuju strategi tadi itu antara sulit
dan tidak tadi itu
dikaitkan juga ya beda kalau mungkin di
Australia di kita ada batasan
kewenangan-kewenangan antara nasional
provinsi dan kita di kabupaten kota ini.
Jadi saya tidak tahu Prof. itu bagaimana
mengemas sehingga betul-betul tema kita
ini kita ini dihadirkan di sini
sebetulnya menurut Prof. berdua itu
strategi apa yang harus kita ambil
sebagai leader di daerah. Terima kasih,
mohon maaf. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
[Musik]
Terima kasih. Terima kasih atas
kesabaran. Em,
Ongkos melayani.
Sebetulnya di Australia juga
kadang-kadang kita juga menghadapi
masalah. Saya kasih contoh satu.
Jadi kita semua tahu bahwa rokok itu
bahaya.
Jadi pemerintah Australia
bikin undang supaya
rokok itu dipajak.
Pajaknya sangat tinggi,
jauh lebih tinggi dibandingkan
Indonesia.
Sehingga rokok di Australia merupakan
satu pasar luar biasa
untuk ya istilahnya preman-preman, Pak
ya.
Preman Australia ada. Tidak hanya di
Indonesia, Pak. Di mana-mana pun ada
preman.
Preman itu adalah wirausaha di informal
sector.
Belum tentu jahat, tapi banyak juga yang
jahat, Pak.
Jadi mereka begini, Pak.
Mereka menyeludup
rokok dari luar negeri masuk ke
Australia.
[Musik]
Karena pajaknya begitu tinggi atas
produk yang resmi,
muncullah satu pasar hitam.
Nah,
pemerintah federal, pemerintah nasional
mereka enak mengambil pajak,
tetapi
ongkos kepolisian
untuk mengawasi pasar tersebut
itu jatuh
ke pemerintah daerah.
Nah, sampai sekarang di Victoria, negeri
bagiannya kita dari Melbourne
sedang krisus, Pak. Karena pemerintah
federal memajak
pasar
rokok resmi secara gila-gilaan,
sedangkan muncullah geng-geng
organisasi tanpa bentuk. bisa dikatakan
ya preman itu yang merampuk, yang
menjual dan itu betul-betul menjadi satu
krisis koordinasi antara
ee pemerintah.
[Musik]
Rakyat sekarang mulai frustrasi, Pak.
Tidak aman di jalan
karena kita telah membentukkan satu
bisnis, satu industri yang seharusnya
tidak ada.
Jadi kita harus mau enggak mau kita
harus bekerja sama dengan kuasa di
sentral pajak perencanaan
ee Kementerian ee Pertanian dan
sebagainya sehingga dampak politiknya
ee terasa di lapungan dan kita juga bisa
ee memberi feedback kepada pihak-pihak
tertentu sehingga kita tidak dapat
dampak sosial yang negatif.
Jadi, inilah menjadi
topik yang sangat panas saat ini di
Australia. Saya rasa kita tinggal
mungkin 1 du tahun nanti ada reaksi
mungkin pajaknya di diturunkan atau
polis di ee negeri bagiannya Victoria
akan ditanai dengan
ee sumber daya manusia yang lebih cocok
untuk melawani ya masalah-masalah
tersebut. Jadi ini tidak hanya masalah
di Indonesia, ini berada di mana-manapun
dan ini hanya bisa diselesaikan kalau
kita punya jalur komunikasi antara
pemerintah daerah dengan pemerintah
nasional.
ini berkaitan sekali dengan key
performance indicators
dan juga dengan mau enggak mau pers
media yang cukup bebas untuk menilai
politik yang gagal.
Jadi ini tidak hanya tanggung jawabnya
pegawai negeri tapi juga media
koran televisi dan sebagainya.
[Musik]
Terima kasih. Saya harap itu cukup, Pak.
Baik, terima kasih. Mudah-mudahan bisa
menjawab, Bapak.
Dan sebelum mengakhiri perbincangan atau
forum pada siang hari ini, izinkan eh we
would like to asking you for a closing
statement, Professor,
about text.
you for those wonderful questions. Um,
one of the things that is clear to me,
so I my closing statement needs to give
a little bit of background here. Okay,
so uh I I have a number I have about I
have 10 PhD students from Indonesia.
uh all of them are public officials uh
and all of them are federal officials.
Many of them from the DGT from the tax
office
and one of the things so I become
familiar over time with a number of the
challenges that have been raised in this
room today.
And I I have students working on
projects like this around themes like
digitalisation
around different aspects of tax
compliance and how you get people to pay
their taxes. How do you improve systems?
How do you um deal with taxing in new or
new industries or to deal with new
challenges? So for example,
environmental challenges. I have a
project of someone who's examining the
Indonesian approach to taxation of
cryptocurrency transactions, for
example, and Indonesia do that very well
in my view. um
all these sorts of cutting edge transac
uh uh areas. I also interestingly
a number of those projects deal with
some of the challenges of um how to how
to distribute revenue between the
different levels of government. This is
a challenge. It's a challenge that we
deal with Australia as well. It's not
it it may be more structured, but it's
not necessarily
more resolved. It still causes
challenges at provincial state levels.
And I so I think my closing statement
would be that I think what is missing
from my own background and from my own
experience is having some officials,
people like yourselves
looking into some of these issues from
the specific east Jarven perspective
because it's all well and good for
someone with a national lens.
to looking at these issues. But just as
in Australia
here as well there are very bespoke
challenges. So getting compliance for
example uh at a provincial level might
be different to the national challenges
because the the ways you raise revenue,
the options for raising revenue are very
different.
So I if I have to leave my final message
I guess is this that if you have uh that
that there are lots of unresolved
questions such as those that you've
raised today they're very important
questions and we need to conduct more
close and specific examination in your
specific context in order to answer some
of those questions in in a real concrete
andly open to hearing from anyone who
would like to explore some of these
issues either through myself
we we arevising
some students who are examining some of
these very similar issues.
Um so I thank you again from the bottom
of my heart for the invitation here
today and the opportunity to hear. For
me, it's as much about hearing the
challenges that you face. um as well as
contributing in a very small way my own
thoughts to how they might be addressed.
But ultimately these are questions that
require detailed examination and
expertise.
Um and yeah, I'd welcome further
conversation, further discussion. That's
the only way we're going to solve these
really tricky, difficult tax challenges
that we all face and that have specific
application for your province and your
region. So, thank you again uh for the
opportunity.
[Musik]
Terima kasih banyak. Ee matur nuwun
sangat.
Saya
seperti saya katakan tadi, saya senang
sekali karyanya Esa Mintarja ya, Nokosro
Sabuk Inten itu. Ki
saya mau kasih PR,
PR pekerjaan rumah ya PR itu
tolong membaca kembali atau kalau belum
membaca buku Nogosro Sabo Inten
dan membaca buku itu kepada cucu atau
anak kalau punya anak atau punya cucu.
tidak punya cucu cari keponakan atau tet
anak tetangga.
Karena dalam karyanya Esa Minarja
[Musik]
dia walaupun itu
cerita ya dongeng zaman dulu semuanya di
kayalannya Pak Siki Hati dulu
dalamnya sebetulnya banyak yang nyata
ada politiknya
ada soal-soal
kemampuan,
ada soal-soal
kesetiaan.
Ada juga KKN
ya, ada yang namanya golongan sesat.
Oh, ada cinta juga. Ada Roro Willis.
Jangan lupa Roro Willis kan juga pandai
bersilat. Tapi sebetulnya
perantauan
Maha Sejenar
sebetulnya beliau sedang cari apa?
Ini saya tanyakan kepada Pak SH Mintarja
tahun 90
kalau tidak salah sebelum beliau
meninggal
dia bilang begini
begini do
Nogos inten itu
hanya satu lambang
kris itu tidak ada yang dicarikan
maha sejenar adalah wenang
Dan inilah yang kita harus cari sebagai
profesional,
dosen, pegawai negeri, wirausaha kita
semuanya kita cari wenang
sehingga kita, saya pakai kata yang
dipakaikan dalam doa tadi supaya kita
ikhlas dalam peranan kita melayani
masyarakat. Terima kasih banyak.
ngantos kepanggih malih
maturun Prof. Baik, sedikit merekap dan
sebagai penutup kita tarik benang merah
bahwa pembahasan dari pagi sampai dengan
siang hari ini kita sama-sama mempunyai
framework yang sama yaitu tentang
strategi pembangunan yang harus matang
dan membuat keputusan dalam setiap
langkah harus dengan arah yang jelas dan
juga tujuan yang terukur. Tetapi tidak
hanya strategi yang cukup. Tadi juga
sempat dibahas tentang cost of search di
mana melayani adalah kebutuhan
masyarakat termasuk juga kunci dalam
pembangunan yang tidak boleh stagnan
tetapi juga bergerak mengikuti zaman
serta cermat menghadapi tantangan.
Terima kasih untuk kehadirannya Bapak
Ibu sekalian. Sekaligus kami menutup
leadership forum ketiga. Akhir kata
wabillahi taufik wal hidayah.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.