Transcript
OY2pSFZ_8uQ • Leadership Update Forum #3 - From Local Potential to National Progress
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0264_OY2pSFZ_8uQ.txt
Kind: captions Language: id Ya Rasul salam alaika ya habib salam alaika [Musik] menyerahkan [Musik] minhul budur m husn [Musik] Anta syamsun, anta badrun anta nurun fauq nuri antairu [Musik] anta [Musik] Ya habibi ya Muhammad ya arusan khofiqaini ya muayyad ya mumajjad ya imamalqiblat [Musik] Ya Allah hadi Muhammad. Ya Allah rabi fagfirli dunubi ya Allah biarkatil hadi Muhammad. Ya Allah. [Musik] Hadirin dimohon berdiri menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Hadirin disilakan duduk kembali. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua. Shalom. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan rahayu. Yang terhormat Wakil Gubernur Jawa Timur, Bapak Emil Elicant Dard, PhD. Yang kami hormati Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, Bapak Dr. Dres Agus Fatoni, M.Si., Professor and Director Engagement at School Business Mon University, Prof. Edward Buckingham, Faculty of Basin Economic, Prof. John Beaqua, Pelaksana tugas Asisten Administrasi umum, Bapak Dr. Ahmad Jazuli, M.Si., SI Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur beserta para kepala OPD yang hadir pada pagi hari ini. Para pejabat administrator, Kepala UPT BPENDA Provinsi Jawa Timur, Kepala Bappeda Kabupaten Kota seJawa Timur, Kepala BPPEDA dan Kabupaten Kota seJawa Timur. Hadirin yang berbahagia, puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa taala pagi hari ini kita bisa bersama-sama berkumpul dalam forum yang sangat istimewa, leadership Update Forum Ketiga tahun 2025 International Lecture dengan tema From Local Potential to National Progress Strategies for Economic Empowerment. Bapak, Ibu hadirin undangan yang kami hormati. Tentunya ini menjadi ikhtiar bagi kita sekalian pagi hari ini kita bisa menjalani dan membawa manfaat untuk kita sekalian. Untuk itu marilah kita bersama-sama berdoa dan doa akan dipimpin oleh Bapak Muhammad Kuntono. Disilakan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahiabbil alamin. Hamd yfamahu wauki mazida. Ya rabbana lakal hamdu kama yambag karim. Allahumma sholli wasallim ala sayyidina Muhammad waa alihi wasohbihi ajmain. Allahuma ya Allah ya mujibbasilin puji syukur kami persembahkan kehadirat-Mu. Berkat izin dan ridam-Mu pada saat ini kami melaksanakan pembukaan leadership update forum seri ketiga tahun 2025. Kami tadahkan kedua belah tangan kami untuk mendapatkan curahan rahmat dan kasih sayang-Mu. Untuk itu ya Allah kiranya berkenan memberkahi dan meridai acara yang kami laksanakan ini. Ya Allah yang maha mengetahui ilmu betapa luas dan tak terbatas. Oleh karena itu, ya Allah, melalui kegiatan ini anugerahkan kepada kami ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat, pemahaman yang dalam, inspirasi yang kuat agar kami mampu menggali potensi lokal untuk kemajuan nasional. Jadikanlah forum ini sebagai sarana untuk memperkuat strategi pemberdayaan ekonomi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat sebagai bekal kami dalam meningkatkan kualitas kehidupan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Limpahkanlah kepada kami semua kemudahan dan keikhlasan serta kecerdasan dan kearifan. Ya Allah, ya Rabbana, ya Karim, jadikan memum acara ini sebagai pintu dan jalan bagi turunnya rahmat dan karunia-Mu. Sehingga tugas yang merupakan amanah dariMu akan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, penuh tanggung jawab serta semangat yang tinggi demi terwujudnya kemajuan dalam pembangunan bangsa kami. Ya Allah, Tuhan yang maha pengampun, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa para pemimpin-pemimpin kami serta kabulkanlah doa permohonan kami. Rabbana atina fid dunya hasanah wafil akhirati hasanah waqinaabanar. Subhana rabbika rabbil izzati amma yasibun wasalamun alal mursalin walhamdulillahiabbil alamin. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bapak, Ibu hadirin undangan yang kami hormati. Selanjutnya akan kita dengarkan keynote speech yang akan disampaikan oleh Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Yang kami hormati Bapak Dr. Drus Agus Fatoni, M.Si. Disilakan. Asalam Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Selamat pagi. Salam sejahtera untuk kita semua. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan. Yang kita hormati bersama, yang kita banggakan Bapak Wakil Gubernur Jawa Timur. Terima kasih, Pak. Saya satu kampung sama beliau. Yang kami hormati Bapak Ibu Kepala OPD Provinsi Jawa Timur, Pak Kepala BPSDM, Pak Asisten, Pak Kepala Dinas, dan seluruh jajaran dan seluruh peserta yang kami banggakan. Yang juga kita muliakan, kita hormati Prof. Idu dan Prof. John dari Monas University. Dan hadirin yang berbahagia. bersyukur sekali saya bisa berdiri kembali di tempat ini. Saya sering sekali berada di sini berdiskusi bersama dengan seluruh pegawai dan jajaran pemerintah provinsi dan kabupaten kota seJawa Timur. Bahkan beberapa provinsi yang menjadi bagian wilayah dari BPSDM Jawa Timur. Hari ini seharusnya kita bisa berdiskusi lebih lama. Namun karena ada acara di Jakarta dan dilaksanakan lebih awal, maka saya mohon izin Pak Wagub bisa menyampaikan lebih awal dan tidak terlalu panjang. Namun demikian, nanti kita bisa berdiskusi lebih lanjut. Bapak, Ibu bisa komunikasi dengan saya baik melalui handphone, WA maupun yang ada di Instagram yang ada di situ ataupun medsos yang ada di situ silakan. itu ada nomor handphone ada ini juga ada medsos silakan juga bisa diikuti di situ. Banyak sarana komunikasi yang bisa kita lakukan. Bapak Ibu kondisi saat ini di semua daerah harus mengambil kebijakan yang efektif agar program-program pemerintah bisa tepat sasaran. Apalagi kemudian ada program pengalihan anggaran sebagian dari daerah kemudian dialihkan ke pusat. Ada yang menyebut sebagai efisiensi tapi sesungguhnya pengalihan tetapi lokusnya tetap ada di daerah. Bisa saja anggaran di suatu daerah lebih besar dibandingkan sebelumnya. Namun letaknya anggaran itu di APBN. Nah, ini istilah yang sering digunakan. Nah, problem yang utama di penganggaran kita yang pertama adalah masalah serapan anggaran yang rendah dan kemudian menumpuk di akhir tahun. Kemudian yang kedua, tidak optimalnya pendapatan. Kemudian yang ketiga, sasaran, kemudian fokus. itu tidak langsung menyentuh kepada masyarakat. Nah, oleh karena itu pelajaran COVID yang lalu ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa dengan anggaran seberapun kita harus bisa mengoptimalkan anggaran itu agar bisa dirasakan oleh masyarakat. Nah, Bapak Ibu yang saya hormati, ada beberapa permasalahan serapan anggaran ini di mana dalam serapan anggaran seringki anggaran itu muncul atau dilaksanakan atau besar di akhir tahun. Harusnya anggaran itu kita genjot di awal tahun. Kenapa harus kita genjot di awal tahun? Yang pertama agar uang itu beredar di masyarakat. Dengan adanya uang beredar di masyarakat, maka itu juga akan memancing peredaran anggaran yang lain yang berasal dari swasta. Kemudian yang ketiga, dengan uang beredar masyarakat maka daya beli masyarakat juga meningkat. Kemudian pertumbuhan ekonomi meningkat, pembangunan lebih awal bisa dilaksanakan sehingga masyarakat bisa merasakan pembangunan, negara dirasakan hadir, pelayanan publik bisa diperbaiki, dan kemudian maka timbullah kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Dengan tingkat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah semakin tinggi, maka partisipasi masyarakat juga akan semakin tinggi. Inilah pentingnya anggaran itu direalisasikan sejak awal tahun. Oleh karena itu, dalam mengatasi berbagai persoalan yang ada terkait dengan penganggaran ini, maka ada empat langkah strategis yang harus kita lakukan, khususnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di halaman 45. Nah, di situlah yang pertama kita perlu mengoptimalkan belanja daerah melalui percepatan realisasi APBD. Ini penting. Sampai dengan saat ini realisasi rata-rata masih di bawah 50%. Bahkan ada yang baru 20% ada yang kurang dari situ di setiap daerah. Berarti uang belum beredar di masyarakat. Kemudian yang kedua melakukan inovasi sumber pendapatan asli daerah namun tidak memberatkan masyarakat. Ini banyak yang bisa dilakukan. Dan yang ketiga, pemanfaatan program strategis nasional sebagai peluang pertumbuhan daerah. Oleh karena itu, daerah juga perlu mempercepat PSN ini. Contoh MBG. Kalau MBG-nya di satu daerah lambat, maka juga lambat dirasakan karena penerima manfaat belum merasakan itu. Tetapi kalau MBG-nya sudah jalan, maka anak-anak sekolah, orang miskin, kemudian ibu hamil dan seterusnya bisa merasakan itu. Oleh karena itu, dukungan agar PSN ini bisa segera dilaksanakan itu juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Yang berikutnya adalah mendorong peran swasta melalui kemudahan perizinan. Maka perizinan harus dipermudah, jangan dipersulit, jangan berbelit-belit, bahkan juga jangan kemudian diberikan beban yang tinggi kepada investor. Oleh karena itu, perlu kita lakukan kemudahan dalam memberikan perizinan. Kalau investornya banyak datang, pertumbuhan ekonomi di situ akan meningkat. Ini empat strategi utama bagaimana kita meningkatkan perekonomian di masyarakat. Namun kita juga menyadari ada beberapa kendala yang dihadapi yang dilakukan dan ini harus kita atasi bersama. Kendala yang pertama yaitu penetapan APBD seringki terlambat. Masih saja ada APBD yang terlambat. Kemudian yang kedua ini terus terjadi berulang. kelihatannya sederhana tetapi ini menjadi penyebab keterlambatan dalam penetapan pejabat pengelola keuangan seringki masih baru bulan April ditetapkan, ada bulan Mei, ada yang lebih cepat bulan Maret sehingga program belum bisa jalan kalau pejabat pengelola keuangannya belum ditetapkan. ini berulang terus karena keterlambatan menyampaikan nama, keterlambatan kita memprosesnya sehingga pejabat pengelola keuangan juga terlambat ditetapkan. Kendala yang berikutnya adalah kurangnya sumber daya manusia, pengadaan barang dan jasa, dan pengelola keuangan yang punya sertifikat masih sedikit. Padahal ini gampang sekali untuk sertifikasi bisa online sekarang dengan mudah dilakukan itu. Kemudian yang berikutnya juga yang menjadi kendala ini juga bagi pemerintah pusat kita perlu juga perlu perbaiki. Dana transfer ke daerah terlambat. Baik itu disebabkan karena keterlambatan kebijakan maupun keterlambatan di daerah. Keterlambatan realisasi, keterlambatan persyaratan salur, dan keterlambatan realisasi anggaran. ini juga menjadi penghambat. Kemudian yang berikutnya juga terbatasnya akses jaringan, gangguan keamanan dan bencana alam. Ini faktor alam juga ikut menentukan lambatnya serapan anggaran. Kemudian proses lelang sering terlambat. Hari ini saya juga mengalami hari ini masih ada yang baru akan dilelang. Baru akan dilelang. Bayangkan ini selalu berulang setiap tahun. harusnya ini tidak terjadi. Nanti ada solusi-solusi yang bisa kita lakukan. Kemudian proses lelang DEED dan juga fisik untuk infrastruktur ter cenderung terlambat. Kalau DEED-nya terlambat, maka berikutnya juga terlambat. Kemudian proses SPJ-nya terlambat, kegiatannya sudah dijalankan, tetapi pertanggungjawabannya terlambat. Ini juga menghambat realisasi anggaran. Kemudian keterbatasan sarana prasarana untuk penatausahaan melalui SIPD ini juga menjadi kendala. Oleh karena itu, kami terus akan melakukan pendampingan, fasilitasi. Kemudian kurangnya monev dari kepala daerah, dari kepala OPD tidak peduli, tidak pernah dikontrol, tidak pernah ditanya sehingga semua berjalan seperti biasa. Kemudian Kepala SKPD ada beberapa daerah yang harus izin kapan mau dilaksanakan. Nah, ini untuk daerah daerah tertentu masih ada juga kapan ini dilaksanakan. Kemudian ada kekhawatiran ASN berurusan dengan APH. Ada yang beranggapan lebih baik tidak dilaksanakan daripada dilaksanakan tapi punya masalah. Nah, ini banyak juga yang tidak mau mempunyai proyek, tidak mau pegang proyek. Banyak yang memilih jadi asisten seperti beliau ini atau staf ahli lagiah yang paling enak. Ah, ini ini banyak sekali yang mau cari selamat tapi enggak mau kerja keras tapi gajinya tinggi. Ya, ini repot ini. Tapi kalau Pak Asisten bukan karena minta tapi karena ditunjuk beliau ya. Ini menjadi problem. Oleh karena itu, strategi yang dilakukan yang pertama perlu penetapan APBD tepat waktu. Perlu ada komunikasi dari awal. Ini kerjaan rutin kita tiap tahun, tetapi seringki masih saja terkendala, masih saja terlambat, masih saja sulit berkomunikasi dengan DPRD. Harusnya kita sudah hafal apa yang dimau, bagaimana solusinya. Nah, ini nanti saya kasih tahu bagaimana strateginya. Kemudian melaksanakan pengadaan dini. Ini sudah ada aturannya, sudah jelas regulasinya, sudah ada surat edarannya. Lelang dini itu bisa dilaksanakan sejak KUA PPAS disepakati bersama. Hari ini hampir semua daerah yang sudah KUA PPS-nya disepakati sudah bisa dilelang. Jadi di tahun anggaran sebelumnya lelang itu sudah bisa dilaksanakan sejak KUA PPAS disepakati bersama. Ini berkali-kali kita sampaikan tetapi tidak jalan juga. Sehingga nanti pada saat awal tahun Januari sudah ada DPA-nya, tinggal tanda tangan kontrak. Ini akan bisa realisasi sejak awal tahun. Ini sudah jelas aturannya. Kalau ada kesulitan nanti bisa konsultasi dengan kami, konsultasi juga dengan LKPP. LKPP juga terus mendorong ini. Kemudian yang berikutnya melakukan percepatan belanja melalui e-katalog. katalog tidak perlu nunggu lagi, tinggal eksekusi. Tapi yang sering masih didiskusikan siapa, bagaimana, kapan, dan seterusnya ini berulang-ulang. Kemudian penetapan pejabat pengelola keuangan dipercepat. Bapak, Ibu kalau bisa tidak usah menggunakan tahun anggaran pejabat pengelola keuangan itu enggak udah. Kalau ada tahun anggaran 2025, maka 2026 enggak bisa jalan. Kalau tidak ada anggaran berarti di 2026 masih bisa berlaku. Oleh karena itu, pejabat pengelola keuangan tidak usah disebutkan tahun anggarannya dan toh kalau diganti pada saat terjadi pelantikan segera diganti dan itu harus segera dipersiapkan sehingga tidak lama tertunda-tunda. Kemudian melakukan pendataan dan juga mendorong percepatan proses pengadaan badan jasa sekaligus pencairannya juga dilakukan. Kemudian melakukan penyelesaian administrasi dengan percepatan pertanggungjawaban. Kemudian menyerahkan dokumen berkoordinasi dengan lembaga terkait. Kemudian Inspektorat harus memberikan asistensi, harus memberikan review kalau itu diperlukan. Kemudian peningkatan kompetensi aparatur dengan sertifikasi. Banyak sekarang pengadaan barang jasa itu bisa online kapan saja bisa tes, bisa seleksi, bisa juga bintek tanpa bayar. Kapan saja bisa. Kalau ada komitmen dari pejabat pimpinan tertinggi bahwa semua harus tersertifikasi. Kalau enggak punya sertifikat diberhentikan. Nah, itu mari berbondong-bondong. Itu andai kepala OPD kalau tidak punya sertifikat akan diganti gitu. Oh, pasti semuanya pengin punya sertifikat. Nah, gitu. ini perlu kita segera lakukan. Kemudian membentuk tim monitoring ini yang harus dilakukan. Harus ada monitoring yang terus bekerja. Kemudian kalau perlu meminta asistensi pendampingan. Nah, di dalam kondisi saat ini seperti keuangan terbatas perlu alternatif pembiayaan, maka daerah harus kreatif baik dalam rangka meningkatkan pendapatan asli daerah maupun meningkatkan dana transfer. Ada beberapa alternatif pembiayaan dari APBN, APBD. Kalau dari APBN, slide berikutnya APBN harus penguatan data untuk dana transfer terus ke bawah. Iya. Dana transfer itu basisnya data, maka datanya harus kita perkuat. Kalau datanya hanya itu saja, maka yang digunakan pusat ya data yang ada. Oleh karena itu, updating data itu perlu dilakukan. Maka kami dari Kementerian Dalam Negeri selalu memfasilitasi daerah yang ingin di-update datanya, jumlah penduduknya, panjang jalannya, persyaratan-persyaratan itu bisa kita perkuat sehingga dana transfer bisa meningkat. Yang bersumber dari APBD, dari PAD juga kita bisa optimalkan. Kemudian pemanfaatan barang milik daerah, aset daerah banyak yang mangkra ini bisa mendatangkan sumber pendapatan. Kemudian melakukan pinjaman ini salah satu alternatif yang tidak membebani. Ini juga penting agar ekonomi bisa bergerak, percepatan pembangunan berisa berkesinambungan. Kemudian mengoptimalkan BUMD. Nah, ini BUMD seringki kita tidak bisa optimal karena berbagai macam sebab. Bisa kompetensi pejabatnya, bisa masalah tata kelolanya itu bisa kita maksimalkan. Kemudian kerja sama pemerintah daerah dengan pihak ketiga dengan badan usaha ini juga bisa kita lakukan dan juga menyatukan CSR. CSR ini banyak tetapi tidak terkoordinir di Sumsel itu salah satu ada suatu sistem yang menyatukan CSR sehingga seluruh perusahaan baik itu BUMN BUMD swasta melaporkan CSR-nya digunakan untuk apa sehingga kita bisa sinkronkan, kita bisa koordinasikan nanti pengunyaannya untuk apa. Bapak Ibu ingin rasanya berlama-lama di sini namun waktu memisahkan kita. Namun demikian, kapanp kita bisa ketemu lagi. Semoga kita semua panjang umur, sehat, dan dimudahkan dalam menjalankan tugas. Semoga Tuhan yang maha kuasa Allah Subhanahu wa taala selalu melindungi kita semua dalam pengabdian. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Om santi santi shanti om namo buddhaya. Salam kebajikan. Mohon izin Pak Deras panggung karena akan dilanjutkan dengan penyerahan cindram. Kami undang dengan hormat Wakil Gubernur Jawa Timur didampingi Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur and also we would like to invite Prof Edward Buckingham and Prof to come up to stage for momento given by Vice Governor of East Java [Musik] Mohon izin, Pak Wagup akan memberikan terlebih dahulu kepada Pak Dirjen. [Musik] Izin, Pak Wag. Bapak, Ibu boleh kita berikan tepuk tangan. [Musik] Selanjutnya momento juga akan diberikan kepada Prof. Edward Buckingham. Boleh kita berikan semangat. Last but not least Prof. Sekali lagi Bapak Ibu boleh kita berikan tepuk tangan berkenan untuk foto bersama. [Musik] Baik, terima kasih. Selanjutnya kami silakan untuk kembali ke tempat. And now we would like to invite you to return to your seat. [Musik] Sekali lagi memberikan semangat. Boleh kita berikan apresiasi Pak Dirjen. Matur nuwun untuk rawuhnya di BPSDM Provinsi Jawa Timur. Bapak, Ibu hadirin undangan yang kami hormati. Kami akan melanjutkan acara pada pagi hari ini. Selanjutnya akan kita dengarkan bersama laporan Kepala BPSM Provinsi Jawa Timur. Yang kami hormati Bapak Dr. Ramlianto, SPMP. Disilakan. [Musik] Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Salam sehat dan salam sejahtera untuk kita sekalian. Selamat pagi. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan. Yang terhormat dan kita muliakan bersama Bapak Wakil Gubernur Jawa Timur Bapak Dr. Emil Elistianto Dardak. Terima kasih kami yang tulus atas perkenan hadirnya Pak Wakil Gubernur di tengah kesibukan yang luar biasa. Kehadiran Bapak menjadi kebanggaan dan semangat bagi kami semua. Kami tahu sampai menjelang subuh tadi, Pak Wakil Gubernur masih berada di lokasi kejadian runtuhnya bangunan pesantren Alhosini di Sidoarjo untuk mendampingi Ibu Gubernur. Bahkan di awal kejadian Pak Wakil Gubernur memimpin secara langsung tim gabungan yang sedang melakukan evakuasi dan penyelamatan para korban di lokasi kejadian. Kita semua turut berduka atas kejadian tersebut. Semoga semua korban dapat diselamatkan dan kejadian serupa tidak terulang kembali. Terima kasih, Pak Wakil Gubernur. Semoga selalu dikaruniai sehat walafiat. Yang kami hormati dan kami banggakan tadi Pak Dirjen Keuangan Daerah sekaligus PJ Gubernur Papua yang tadi sudah menyampaikan ke speech. Our highest respect and warm welcome to the distinguished speakers. who have traveled from afar professor Edward Buckingham and Profua from University Australia we sensor thank you for your present today and we look forward to the involuable insight you will graciously share with all participant in this forum thank you so much yang kami hormati Bapak Ibu para pejabat pimpinan tinggi di lingkungan pemerintah Provinsi Jawa Timur dan para pejabat pimpinan tinggi di lingkungan pemerintah kabupaten kota yang kami undang dari BPPEDA dan BAPENDA. Bapak, Ibu para pejabat fungsional, para pejabat administrator, dan seluruh hadirin yang kami banggakan. Kami menyampaikan terima kasih yang tulus atas perkenan hadirnya Bapak Ibu semua yang tentu dengan kesibukannya masing-masing masih menyempatkan diri untuk belajar bersama kita di BPSDM Provinsi Jawa Timur. Dengan senantiasa mengharap rida Allah subhanahu wa taala, izinkan kami melaporkan kepada Bapak Wakil Gubernur perihal kegiatan yang akan Bapak buka dan hari ini bahwa Leadership Update Forum merupakan program pengembangan kompetensi berupa microlearning untuk para pejabat pada level kepemimpinan strategis di Pempr Jatim dan kabupaten kota di Jawa Timur. Program ini merupakan salah satu ikhtiar kami menerjemahkan arahan Ibu Gubernur Jawa Timur bahwa para pemimpin birokrasi di Jawa Timur harus terus melakukan update dan upgrade secara berkelanjutan agar tetap relevan dengan lingkungan strategisnya. Kami laporkan Bapak Wakil Gubernur bahwa LOU dimulai pada tahun 2004 yang lalu dan dilaksanakan tiga kali dalam 1 tahun. untuk tahun 20 2025 ini hari ini adalah yang ketiga. Kebetulan yang pertama juga Pak Wagub yang membuka. Bapak Wakil Gubernur yang kami hormati, kami laporkan dengan hormat bahwa LOU ketiga tahun 2025 ini sengaja mengambil tema strategis from local Potential to National Progress Strategies for Economic Empowerment. sebuah tema yang kami angkat setelah melalui diskusi dengan beberapa tim kami bahwa persoalan potensi lokal yang belum tergali secara baik di tengah tadi kebijakan-kebijakan efisiensi dari pemerintah pusat perlu kembali dikembangkan sehingga kami mengundang dua narasumber hebat dari Monas University. Dan untuk kegiatan kali ini kami laporkan Bapak Wakil Gubernur diikuti oleh sekitar 200 orang peserta baik pejabat pimpinan tinggi pratama di lingkungan PEPR Jatim, para kepala Bappeda atau sebutan lainnya, para kepala BPEDA atau sebutan lainnya dari kabupaten kota Jawa Timur. Dan kami mengundang khusus Pak Wakil Gubernur, para kepala UPT Bapenda seJawa Timur, serta pejabat administrator dan fungsional di lingkungan pemerintah Provinsi Jawa Timur. Demikian beberapa hal yang dapat kami laporkan, Pak Wagup. Selanjutnya mohon dengan hormat Bapak Wakil Gubernur Jawa Timur untuk berkenan membuka kegiatan ini sekaligus berkenan menyampaikan sambutan pengarahan. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] Bapak, Ibu hadirin undangan yang kami hormati. Selanjutnya sambutan sekaligus membuka acara leadership update forum ketiga tahun 2025 oleh Wakil Gubernur Jawa Timur. Yang terhormat Bapak Emil Elicantak, PhD. Disilakan. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Selamat pagi. Salam sejahtera untuk kita semuanya. Shalom. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan. Rahayu. Yang kami hormati tadi bersama kita Bapak Dr. Agus Fatoni selaku Dirjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri dan PJ Gubernur Papua. Izinkan saya menyapa distinguish akademik yang hadir pada kesempatan ini, professor and director of engagement at the School of Business Monas University Australia, Professor Edward Buckingham as well as Professor John Bakaqua, also faculty of business and economics. Welcome, Pak to Jawa Timur Surabaya. Plt. Asisten Administrasi Umum Bapak Dr. K. H. Sekarang ini ya, K. Ha. Ahmad Jazuli. Soohibul bait sekaligus sohibul hajat Bapak Dr. Ramlianto, Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur. Ibu, Bapak sekalian, jika perkenankan saya ingin kita mengajak kita untuk ee membaca Al-Fatihah, berdoa. Ada dua kitab Al-Fatihah. Jadi, mungkin dua kali al-Fatihahnya. Yang pertama untuk almarhumah ibunda Pak Ramli yang belum terlalu lama ini berpulang ke rahmatullah. Insyaallah husnul khatimah. Bapak dan semoga salah satunya amal jariah yang tidak terputus adalah anak saleh yang mendoakan. Nah, kita ini sebagai sahabat-sahabat Pak Ramli juga ikut mendoakan almarhumah. Yang kedua adalah kepada korban dari peristiwa kemarin sore ee yang saat ini ee yang paling memang membuat kami betul-betul ee dalam kondisi yang sulit dan kondisi yang penuh dengan ee saya tidak bisa menggambarkan deskripsinya ya ee terminologi atau diksi yang tepat untuk menggambarkan rasanya. Tapi ada sebuah keterpanggilan yang mengusik pikiran luar biasa saat mendengar tanda-tanda kehidupan yang jelas masih ada di dalam. Namun masih belum bisa kita pastikan bagaimana cara menyelamatkan anak yang bersangkutan. Namun dalam suasana dan tantangan lapangan sesulit apapun satu demi satu personil dari Basarnas dan Damkar dan semua tim pendukung dengan tambahan alat yang perlahan-lahan mulai berdatang. Enggak perlahan-lahan sih, satu persatu mulai berdatangan karena mobilisasinya memang tidak bisa instan tapi dipercepat semua. Itu bisa diselamatkan. Jadi kita tetap optimis. Maka kami mohon doanya. Kami mohon doanya karena ada salah satu orang tua yang semalam dengan ketegaran dan penuh harapan terinfo dan menyaksikan video yang beredar suara anaknya sedang berkomunikasi dengan petugas. beberapa anak mungkin dari semalam sudah tambah empat anak lagi dikeluarkan sejak tengah malam ya sampai pagian ada tim tambahan dari Semarang yang memperkuat tapi anak yang justru orang tuanya ini dengar ini belum terevakuasi ya jadi mohon kita menunduk Palestina kita al-fatihah kepada almarhumah ibunda Pak Ramli dan juga kepada semua yang ada di lokasi baik yang bertugas dan yang akan diselamatkan supaya diberikan keselamatan. Alfatihah. Terima kasih rekan-rekan kepala OPD yang hadir pada kesempatan ini. juga saya terinfo ada pejabat administrator dan kepala-kepala UPT Bapenda serta Kepala Bapeda kabupaten kota seJawa Timur dan Kepala Bappeda kabupaten kota se Jawa Timur hadir semua di sini. Bagi yang dari Pemkap dan Pemkot kami haturkan selamat datang di BPSDM Provinsi Jawa Timur. Em saya mendapat amanah khusus dari Bu Gubernur untuk memastikan bisa mewakili beliau pagi ini. Kenapa ini menjadi penting? Memang ee roda pemerintahan harus terus berjalan. Inilah fungsinya ada Gubernur, ada Wakil Gubernur, ada Sekretaris Daerah yang dalam kapasitas saat ini juga menjadi kepala BPBD. Jadi kalau Pak Gatot itu kalak kepala pelaksana BPBD. Namun sejatinya Kepala BPBD secara struktur formalnya adalah SekDA. Betul Pak Jazuli ya. Ini Sekda ngelotok betul ini soalnya dulu beliau ini ya. Jadi inilah yang kemudian kenapa hari ini jadi penting ngumpulkan semua Ibu Bapak sekalian di sini ini bukan hal yang mudah karena semua punya tugas-tugas urgen masing-masing yang dijalankan. Dan efektivitas dari sesi pagi ini menentukan kemaslahatan 42 juta warga Jawa Timur yang kita layani bersama. Nah, salah satunya adalah bagaimana memiliki perspektif yang lebih luas mengenai leadership dan hari ini ada Profesor Buckingham dan Profesor Bebakua dari one of the best universities in the world, Monash University. Menurut saya ini terobosan, Pak. Mungkin leadership update forum yang pernah ngundang faculty member dari luar negeri baru ketiga ini. Kita berikan apresiasi kepada BPSM. Very impressive. Nanti pakai bahasa apa, Pak? Bahasa Jawa, Pak. Prof. Bakiham akan menggunakan bahasa Jawa, bahasa Indonesia or English. Pak, will you deliver your presentation in English or bahasa? campur-campur. How about Profesor Bebaku, beliau? Saya ketemu pada saat saya diundang eh di visiting eh fellowship dari DFAT ya, Waktu, Department of Foreign Affairs and Trade Australia. Jadi ee pemerintah Federal Australia mengundang saya mensponsori juga semuanya untuk eh ke Melbourne. Di antaranya kami mengunjungi eh Indonesia Australia Center Study yang ada di Mesh yang diinisiasi pertemuan antara Presiden Yudoyono dengan waktu itu Amerika eh ulangi maaf Australia perdana menterinya at the time who was the then prime minister was it Kevin R or no it was after him or Tony Abbot or was it Tony Abot? Scott Morrison. Oke. So, eh Perdana Menteri Morrison dan Presiden SBY waktu itu kemudian bertemu dan terinisiasilah center ini. Dan kemudian eh sampai 2022 kita tahu Pak SBY purna 2014. Artinya selama 8 tahun berdiri sampai and today it's still in operation. It has a specific office. Ada kantornya sendiri di sana. Jadi beliau bisa bahasa Indonesia ya. Tapi saya tidak tahu kalau untuk paparan beliau prefer. Nanti ada terjemahannya, Pak. Oh, ada. There is a translation service ya. Dan eh Profesor Befak juga hadir di sini. Temanya from local potential to national progress. From local potential to national progress. Kalau ngomong soal Jawa Timur, kalau ngomong soal Jawa Timur dari 38 provinsi di Indonesia seper hampir hampir seperenam dari perekonomiannya disumbang dari Jawa Timur. Ada 38 provinsi tapi hampir 1/enam perekonomiannya dari Jawa Timur. Lalu kalau kita bicara spesifik mengenai sektoral, kontribusi sektor manufaktur Indonesia, saya ulangi Jawa Timur itu lebih dari 22% dari Jawa Timur kepada Indonesia. Kalau kita round up, kita bulatkan hampir seperempat. Ada 38 provinsi tapi hampir seperempat manufakturnya disumbang dari Jawa Timur. Untuk perdagangan ada 38 provinsi, saya ulangi lagi tapi seperlima dari perdagangan Indonesia itu dari Jawa Timur. Termasuk kita ketahui 80% dari logistik ke wilayah timur Indonesia ini di salurkan via dari Jawa Timur. Nah, ini adalah realitas signifikansi. Tapi apakah kemudian artinya kita tinggal bisnis as usual, melanjutkan apa yang sudah ada itu sudah cukup untuk mengubah potensi lokal menjadi kemajuan bangsa atau kemajuan nasional. secara jumlah penduduk mungkin karena begitu Jawa Timur bergerak seperenam penduduk Jawa Timur Indonesia juga ikut bergerak otomatis secara proporsi jumlah penduduk proporsi PDRB keunggulan sektoral termasuk di pertanian sekalipun kita adalah provinsi yang 30% lebih sumbangan ekonominya dari manufaktur. Tapi kalau bicara mengenai komoditas pertanian, kita ini nomor satu, baik itu kita bicara padi, kita bicara tebu, kita bicara susu, kita juga bicara telur. Ini masih Jawa Timur juga yang menjadi tumpuan lumbung pangan nasional. migas lebih dari seperempat lifting migas kita itu ada di Cepu Bojonegoro. Nah, makanya memang bagaimana kemudian seluruh potensial ini bisa kita optimalkan meskipun di saat yang sama kita dihadapkan pada tekanan jumlah penduduk yang luar biasa. Kalau kita mau ekstensifikasi lahan pertanian, mungkin sudah sangat sulit mencari lahan yang belum ditanduri atau belum ditanami karena sudah tercover semua. Inilah sebabnya memang kita harus betul-betul bisa meningkatkan produktivitas dari seluruh elemen faktor produksi yang ada di Jawa Timur. Apakah itu tanah atau resources, apakah itu sumber daya manusianya, apakah itu antepenernya, semua harus bisa kita maksimalkan. Jadi ini bayangkan dalam 1 triwulan 3 bulan aja uang yang berputar di Jawa Timur ini 850T kurang lebih kalikan 4 artinya kita bicara berapa? 3.400 triliun. 3.400 triliun anggaran kita 20 kalau belum dikurangi. Kalau sudah dikurangi bisa 26 ya. Jadi tidak ada 1%-nya dari total perputaran ekonomi. Kemarin ditanya di dewan, kalau perekonomian tumbuhnya di sini kan tumbuhnya kita 5,23%. Kok PAD-nya tumbuhnya hanya 2% katanya begitu. Nah, kami sampaikan bahwa pertama harus kita lihat dulu yang linier dengan pertumbuhan ekonomi biasanya adalah objek pajak yang bersifat terhadap penghasilan dan nilai tambah yaitu PPN dan PPH. Itu satu. Yang kedua, artinya secara sektoral kita ini kan kewenangannya ada di dua sektor yang memang saat ini tentunya laju pertumbuhannya tidak otomatis sama dengan laju pertumbuhan agregat. Laju pertumbuhan agregat sektor manufaktur mungkin beda dengan sektor otomotif. di mana sektor otomotif menjadi satu-satunya tumpuan pajak kita melalui pajak darah bermotor dan pajak bahan bakar kendaraan bermotor. Begitu pula dengan satu lagi sumber yang besar adalah pajak rokok yang mana kita ketahui bahwa ini sektor yang memang ee penuh kehati-hatian dalam mengelola kesinambungannya. Ada potensi lain seperti Badan Layanan Umum Daerah Blood yang sekarang direkognisi sebagai retribusi ya. Bukan lagi sebagai itu, tapi sebagai retribusi dulu dicollek kemudian akhirnya itu menjadi PAD. Kalau sebelumnya mungkin dia masuknya di lain-lain. Sekarang masuknya sebagai PAD eh apa maaf sebagai retribusi blut. Ada BUMD. Nah, namin ada catatan juga terhadap BUMD seperti apa. Kami sudah dikasih data pertumbuhan dari ee PAD kita dan pertumbuhan dari ee laba BUMD kita. Di mana memang dalam iklim bisnis seperti saat ini bisa bertahan laba juga sebenarnya sesuatu yang ee impresif ya. Tidak selalu laba itu tumbuh linier dengan pertumbuhan ekonomi karena ada tantangan-tantangan khusus. di bidang-bidang tertentu dan ada keputusan strategis katakanlah untuk menahan atau melakukan retain earning di dalam buku. Tapi kurang lebih seperti itu. Jadi sekali lagi itu belanja pemerintah tadi kalau di tootal dengan Pemkap, Pemkod pusat ini kurang lebih itu kira-kira 5%-an lah kontribusi dari government expenditure. Consumption menyumbang kurang lebih 60%. Government expenditure sekitar 5%. semua jenjang itu. Lalu investment kurang lebih 26 sampai 27%. Jadi yang besar itu sebenarnya consumption dan investment. Namun demikian, government spending ini bisa menjadi ibaratnya untuk nyalain mobil sebenarnya tenaga yang dibutuhkan itu kan lewat starter tuh mendongkret tuh kecil cetek. Baru kemudian dia bisa mengungkit power yang sedemikian besar. Nah, government expenditure ini seperti starter kalau diibaratkan oleh Pak Dirjen Keuangan Daerah tadi. Jadi, kalau sampai kemudian belanja ini tidak efektif, maka ini akan sangat berdampak kepada roda perekonomian kita. Jadi, ada sebenarnya jangan hanya lihat, "Oh, Pak, cuma 5%." Tapi 5% ini dari sisi timeliness dan quality of spending. Kalau itu dipakai lebih banyak untuk mendatangkan barang impor dari luar, dia tidak berkontribusi terhadap pengungkitan ekonomi kita. Kalau dibelanjakannya numpuk di ujung, maka peluang untuk menjadi pengungkit ekonomi sepanjang tahun menjadi mengecil. ini kenapa selalu ada semacam bahkan boleh dibilang seperti obsesi bahwa harus ada belanja yang betul-betul ee efektif dan tidak ditunda-tunda. Tadi saya juga mengalami, Pak. Pertama kali saya tahu bahwa ternyata udah ada duitnya aja belum bisa ngapa-ngapain. Itu waktu saya kerja di World Bank di Bank Dunia. Saya ee dalam tim yang kami eh berjuang dan mendapatkan dana hibah dari Global Environment Facility untuk pengembangan panas bumi di Kementerian SDM senilai 4 juta dolar. Kalau di kurs hari ini itu sudah hampir 65-an. 65-an miliar artinya ya itu mau dilaksanakan SK PPK-nya belum ada. itu sudah bulan Februari dia bilang, "Kita harus jalan karena time-nya mepet." Biasanya, Pak, untuk SKSK baru beres Maret. Terus dari Januari ngapain aja? Kalau SK pejabat-pejabatnya itu baru beres Maret, kita berjuang gimana caranya bisa Januari. Karena kalau sudah procurement dari lembaga multilateral itu kan ada tahapnya. Ada yang namanya no objection letter. Kalau masih tahap prakualifikasi ada no objection letter terhadap request for prequalification atau EOI expression of interest. Setelah diortlist minta nol lagi no objection letter. Kadang ada yang bisa dikip ya langsung. Kemudian terhadap dokumen lelang no objection letter lagi untuk diberikan kepada yang lolos shortlist. Lalu setelah evaluasi di no objection letter lagi baru terakhir no objection terhadap kontrak. Bayangkan kalau kemudian itu mundur tambah panjang. Jadi kita berjuang waktu itu bagaimana supaya bisa beres di bulan awal enggak nunggu Maret itu sebenarnya. Nah, itu jadi betul banget tadi. Makanya melakukan lelang setelah kua PPAS ini sesuatu yang luar biasa. Tapi gimana Pak Arif? Bisa sudah ini KUA PPAS kita kan sudah ya Pak Yasin ya. Nah, tapi tidak ada jaminan bahwa yang sudah dikaps pasti akan termaterialisasi kan. Bisa saja tidak ikut dalam apa yang diketok di final APBD atau bisa jadi mempertimbangkan realisasi dan perubahan-perubahan dari pusat ataupun dari kondisi sekitar bisa tidak dilaksanakan. Nah, ini nanti kan tentu ada mitigasinya sejauh mana kita bisa berkontrak. apakah bisa berkontrak atau sekedar menunjuk pemenang dan kontrak dilakukan di tahun anggaran yang efektif. Ini yang perlu di ya jadi itu sekelumit dari apa yang tadi dibahas oleh Bapak ee Dirjen tadi ee Ibu Bapak sekalian. Saya mungkin enggak terlalu mengikuti slide karena ini sesuatu yang pasti sudah sering di dilihat oleh Ibu Bapak sekalian ee keseharian karena ini leadership update forum kita ingin widening perspektif. Kita ingin lihat perspektif yang berbeda. Kemarin juga dari DPRD memberikan kritik mengenai kenapa belanja modal kita turun, belanja pegawai tinggi, tapi mereka enggak lihat bahwa belanja pegawai juga turun sebenarnya dibanding realisasi 2025 di APBD perubahan dan APBD 2026. Sebenarnya belanja pegawainya ada turun malah. dan dikatakan bahwa bagaimana kita bisa berinvestasi, tapi kita harus menyadari bahwa investasi kita untuk masa depan Jawa Timur ini tidak selalu dalam bentuk yang dikategorisasikan sebagai belanja modal. Contoh dikatakan tolong efisienkan anggaran dan tingkatkan belanja infrastruktur. Padahal ada yang dari Disub enggak di sini ya? belanja untuk transjatim kategorisasinya belanja modal atau belanja barang dan jasa? Belanja barang dan jasa karena kita menggunakan konsep buy the service. Udah enggak zaman lagi kita beli bus, kita yang ngerawat bus, ngerawatnya juga mungkin bingung ngerawatnya gimana dan akhirnya kita beli sesuai kemampuan. kita berkembang sesuai kemampuan kita beli. Tapi kalau kita pakai buy the service, kita bisa rute koridor sudah berapa sekarang? Lebih dari lima koridor sudah dilayani. Mungkin kalau kita harus nyediain bus sendiri, satu koridor aja ngos-ngosan kita menenuhinya. Itulah yang disebut by the service. By the service. Nah, ini ini salah satu contoh bahwa memang kita harus ee bisa menyampaikan kepada publik gitu dialektika ini. Dan kita enggak boleh menyalahkan rekan-rekan dewan yang mengkritik karena memang itu tugas rekan-rekan dewan untuk menjadi check and balance. Kalau kita tidak punya check and balance ya bablas nanti kita. Ada beberapa hal yang tentu perlu jadi perhatian. Saya tahu yang kita konsern adalah aset. Kalau kita hitung berapa nilai aset yang dimiliki oleh pemerintah provinsi dan return yield yang dihasilkan, ya memang PR kita besar. Mungkin kebayang gitu kalau ada aset management company, serahkan saja aset itu kepada seorang profesional. dia dapat remunerasi proporsional terhadap revenue yang dia bisa generate dari aset itu. Mungkin lebih optimal lagi tuh aset-aset itu untuk di hasilkan yield-nya untuk pembangunan Jawa Timur. Kira-kira begitu. Semacam dana abadi tapi bentuknya aset kan gitu ya. BUMD kita pun ada dua klasifikasi. Ada memang BUMD yang performing well, ada BUMD yang ada tiga lah. Satu performing well, satu performing istilahnya lehernya di atas air, satu tenggelam. Iya. Enggak, karyawan enggak digaji. Dan kalau dilihat dari sektor bisnisnya, ada yang bergerak di bisnis yang swasta juga sudah banyak main di situ. Dan beda kalau orang naruh duitnya sendiri dipertaruhkan itu beda drive-nya. Jadi pengusaha itu swasta dia punya pertarukan saya ya noosor-ndelosor nih kalau bisnis ini jebol. Wah dia akan berjuang habis-habisan supaya bisnis itu jalan. Tapi ya mohon maaf kalau misalnya dia government own tapi melakukan bisnis yang sebenarnya swasta bisa melakukan ya daya saingnya memang enggak enggak mudah mengelolanya gitu. Nah, pertanyaannya apakah masih perlu negara via pemerintah provinsi bergerak di sektor yang sebenarnya swasta sudah mumpuni bahkan jangan-jangan lebih mumpuni dari kita kan gitu. Nah, ini nanti pertanyaannya bagaimana? Jangan sampai ada PHK, jangan sampai. Nah, itu kan yang harus dipikirkan step by step. Menteri keuangan dengan jelas ngomong, "Ini kata-kata Menteri Keuangan contohnya, kenapa kok cukai dibuat tinggi?" katanya. Ya, Pak. Emm, setelah dipelajari kalau cukainya diturunkan pendapatan meningkat enggak? Meningkat loh. Artinya kan negara sebenarnya akan dapat lebih banyak kalau cukai diturunkan. Ini saya persis ngutip kata-kata Pak MenQ Purbaya Yudi Sadewa dulu 2000 10-an ya. Dulu saya pernah menjadi tim beliau saat beliau menjadi staf khusus paahatara jasa Menko Perekonomian. Nah, beliau ngomong baru-baru ini kalau cukai diturunkan, pendapatan meningkat loh. Terus kenapa enggak diturunkan aja gitu kan ya? Karena tujuannya bukan hanya soal pendapatan, tapi memang pengin ngerangin orang ngerokok. Nah, terus yang kerja di sana gimana? Udah disiapin belum lapangan kerja alternatifnya? belum. Nah, maka beliau enggak setuju di situ. Ya, kalau Anda akan nyekek satu sektor, bangun sektor yang lain untuk menampung mereka semua. Belum siap ya jangan dicekek. Akhirnya keputusan beliau cukai tidak di naikkan dulu. Walaupun beliau sempat bilang sebenarnya dia juga mikir mau menurunkan tapi pengusahanya doanya mintanya cukainya yang penting enggak naik gitu. Jadi mungkin intelnya kurang dalam juga mempelajari kemauan Pak MenQ gitu ya. Atau mungkin. Tapi mudah-mudahan masih ada ruang satu lagi nih. Ini yang itu pelaku UMKM, UMKM ini ya. Waktu saya ditanya soal bagaimana nanti rokok ilegal ini, Pak? Gitu kan. Padahal kita tahu bahwa rokok yang membayar cukai, cukai itulah yang kemudian membiayai rumah sakit yang kita bangun. Ya tentunya rokok ilegal kalau pemerintah pandangannya ya tentu harus bayar cukai. Kira-kira gitulah. Iya kan? Nah, tapi ternyata respon di Akarub bervariasi termasuk dianggap merugikan petani tembakau. Statement seperti itu. Nah, ternyata karena banyak sekali pelaku usaha skala-skala kecil. Usaha skala-skala kecil. Jadi bukan pabrikan merek besar. Nah, mungkin yang itu ada konsep yang namanya cukai kelas 3 yang diharapkan bisa diwujudkan. Jadi dibedakan. Nah, ini apakah akan meningkatkan kepatuhan, mengurangi peredaran rokok yang tidak membayar cukai? Itu sesuatu yang perlu dialami, gitu. Nah, itulah dinamika dinamika yang yang dihadapi. Ee manakala kita bicara mengenai ee sektoral tadi, bagaimana soal pendapatan pendapatan kita sekali lagi tadi yang BUMD tadi kan. Makanya bagaimana kemudian ee kita bisa me merespon dengan tepat. Nah, Ibu Bapak sekalian satu lagi yang saya pernah ngomong di sini saya akan sampaikan lagi bahwa ini rekan-rekan kepala Bapeda dan Bapenda juga di kabupaten kota maupun strukala OPD bahwa kita adalah birokrat ya, panjenengan adalah birokrat tapi yang menjadi leadernya adalah political eh elected, politically elected official. Nah, elected official ini tidak bisa steril dari dinamika di luar. Harapan kita teknokratik murni bisa diwujudkan harapan kita. Tapi mari kita bersifat realistis. Tentu tidak sesederhana itu. Nah, tapi tentu ada bedanya antara pragmatis kompromistis yang kebablasan dengan sesuatu yang masih dalam koridor teknokrasi masih bisa diterima. Nah, tantangan Ibu Bapak sekalian sebagai leader adalah memahami koridor tersebut. Jangan pokoknya yang bisa hanya ini. Kalau sudah begitu siap-siaplah hidup bagaikan berada di tepi juranglah, berurusan dengan bupati jenengan, dengan walikota jenengan. Kalau bahasanya ya hanya ada satu cara, ada buffer, ada koridor mengenai sesuatu yang technically implementable ya dan kemudian memilih bagaimana itu menjadi politically acceptable. Idealnya begitu. Maka kita beroperasi dalam sebuah spektrum. Yang paling ideal adalah yang formulasinya itu paling tepat. Tapi dari tapi ini bukan. Jadi jangan anggap bahwa kebijakan ini sifatnya itu hanya singular tapi bayangkan ini sebagai sebuah spektrum yang secara teknokratis masih bisa dilakukan tapi politically ya ini juga acceptable. Itu tantangan birokrasi hari ini. Mulai dari ini kan bapeda semua kan, mulai dari perencanaan. Orang ngomong mandatory spending gitu termasuk mandatory spending on infrastructure itu kan disangkanya belanja modal infrastruktur. Infrastruktur mandatory spending 40% mandatory spending kesehatan 20% mandatory spending pendidikan 30% udah 90% aja. Terus untuk pembinaan ekonomi berapa? 10% kan cukup. Jadi earing yang seperti ini realistis atau enggak gitu. Belanja pegawai Jawa Timur 9T 70%-nya untuk pendidikan dan kesehatan. Kira-kira begitu. Jadi ya memang tentu salah satunya kita ikutkan ke dalam mandatory spending kan proporsi belanja pegawainya itu sendiri. Nah, yang infrastruktur tadi itulah yang kita definisikan sebagai pengeluaran yang produktif tadi ya. Ada infrastruktur. Tapi infrastruktur itu sebenarnya kalau menurut peraturan presiden terbaru mengenai tahun 2015 kalau enggak salah ya ee mengenai kerja sama pemerintah dan badan usaha, pendefinisian infrastruktur itu ada economic infrastructure, ada social infrastructure, ada environmental infrastructure. Nah, social infrastruktur itu sekolah, rumah sakit, itu juga infrastruktur, social overhead capital. Jadi kalau ditanya belanja infrastruktur, dia bisa masuk di dalam situ, bisa masuk di dalam kategori pendidikan maupun kesehatan ya kategorisasinya. Nah, jadi itu kira-kira yang bisa kami sampaikan dan Bapak-bapak sekalian eh lessons learn dari apa yang terjadi kemarin. Dalam situasi seperti ini memang ada yang mengatakan bahwa ya keahlian saya, tupoksi saya adalah melaksanakan tugas sesuai dengan ya tadi mohon maaf saya ulangi tupoki kira-kira gitu. Tapi hari ini di era media sosial kita semua adalah communicator. Kita semua dituntut untuk melakukan komunikasi publik. Dan ini bukan sesuatu yang mudah. kita juga beroperasi tidak terisolir dari entitas lain. Ada juga kerentanan dan kepekaan sosial yang harus kita miliki. Contoh hari ini tentu menyikapi kejadian runtuh bangunan kemarin. Tidak sedikit dari masyarakat kita yang kemudian fokus mengenai penyebabnya dan siapa yang harus dipersalahkan. Betul enggak? sebuah menjadi sebuah menjadi sebuah norma seakan-akan yang berlaku bahwa dalam sebuah kejadian fokusnya langsung kepada sebab dan pihak yang harus dipersalahkan. Ini harus terjawab memang sebagai upaya korektif untuk ke depannya. Tapi kita berurusan dengan hati dan jiwa. Sehingga pada saat kami ditanya kemarin, "Bapak, bagaimana kira-kira apa penyebabnya?" Kami sampaikan fokus kita adalah pada penyelamatan nyawa. Nah, ini contoh bagaimana kita harus Nah, yang kedua juga ternyata setelah kami keliling dengan berbagai pihak termasuk terakhir pada saat Ibu Gubernur kemudian ke lapangan setelah mempercepat kepulangan beliau dari acara misi dagang yang relatif menurut kami sukses dengan meraih transaksi R triliun, beliau kemudian langsung kembali mempercepat dan lari-lari di bandara untuk mengejar kepulangan bisa ke Surabaya. Dan tengah malam beliau di lapangan. Betul. Ternyata banyak orang tua yang bayangkan enggak tahu anaknya selamat atau tidak, tidak diperkenankan ke lokasi karena berbahaya, hanya bisa memantau dari kejauhan. Dan mereka bertanya-tanya apakah tim itu masih melakukan pencarian atau sudah give up. Jadi ternyata constant message of hope itu menjadi penting. Nah, kehadiran leader itu bisa memberikan message of hope tadi bahwa semua masih action. per detik ini Pak Sekda di lapangan untuk menunjukkan bahwa official yang tertinggi di Jawa Timur apakah itu gubernur wagup atau saya itu ada di lapangan untuk memastikan bahwa the effort itu masih ongoing gitu. Nah, ini penting gitu tadi. Karena apa? Karena itu memberikan instilling confidence. Kita tidak bisa bekerja tanpa public trust. Nah, idealnya tadi public trust itu butuh public communication. Pencitraan dong, Pak. Ya, gimana ya? Enggak ada enggak ada item tanpa citra kan? Semua perlu citra, semua perlu merek. Contohnya aja orang sekarang itu mau beli ke minimarket itu kalau enggak ada embel-embel dua nama itu ya tu apa ya kadang-kadang enggak mampir loh. Saya ngalami. Betul nih, Pak, Kepala Dinas Koperasi di Trgalek waktu saya bupati. kita mewajibkan ada Bu Ratna ya, kita mewajibkan ee Pak Artoyo ya, kepala anu ini dulu saya Bupati Trenggalik. Maaf Kir kenapa saya hafal ya. Ee ini waktu itu kita mewajibkan semua minimarket harus koperasi dan waktu itu kemudian dari Pempr ngasih feedback oh kalau kewenangan mengenai koperasi bukan di kabupaten. Jadi Anda enggak bisa bikin perda koperasi. Kewenangan kabupaten apa? Perdagangan. Terus saya bilang gini ya. Saya sebagai yang berwenang atas perdagangan maunya koperasi. Boleh dong. Saya enggak ngatur koperasi. Saya ngatur perdagangan. Dan sebagai pemegang kewenangan perdagangan, saya maunya minimarket harus koperasi. Itu kita lakukan di tahun 2016 ya, Perda itu. Nah, dalam perjalanan banyak yang enggak mau karena mereka ngerasa saya mau investan, saya enggak mau koperasi. Padahal kita minta Anda harus gandeng warung-warung tradisional situ sebagai anggota koperasi juga untuk ikut merasakan rezekinya dari minimarket berwarba. Terus gimana, Pak? Ya kalau mau enggak berwarna laba. Oke, dia bikin tanpa merek, enggak ada wara, no franchise. Sepi. Akhirnya give up. Pak, saya mending bikin koperasi aja, Pak. Enggak bisa. Kalau enggak waralaba, enggak ada yang mampir. Nah, that's the power of brand. Saya bukan tipe orang yang terobsesi dengan brand juga gitu. Karena banyak kerja-kerja yang seyoganya terjadi di belakang layar. Nah, terlalu terobsesi pada pencitraan juga berbahaya. Fokus kepada ketok kerja ke yang ketimbang beneran kerja itu juga bahaya. Tapi tidak paham sama sekali bagaimana mengkomunikasikan, maka trust itu tidak mudah untuk terwujud. Nah, ini sekali lagi sama seperti spektrum antara politis dan juga teknokratis tadi dalam sebuah policy, dalam sebuah decision. Begitu bala dengan communication harus pintar-pintar gitu apa mencari balance fokus berlebihan pada komunikasi juga bubra tidak mau ngurusi komunikasi sama sekali juga jadi bom waktu karena sulit karena apa? Karena people live by perspective hari ini. By perception gitu. Nah, mudah-mudahan ini peristiwa semalam berikan juga gambaran tadi Basarnas kerja mempertaruhkan nyawa ada di kolong-kolong sana. Orang tuanya nangis-nangis bilang, "Kenapa semua enggak ada yang kerja?" Ah, bayangin jenengan kalau ada di tempat ngeri, Pak. Balok segede begini posisinya tuh gantung. Begitu dinyalain ekskavator goyang geter. Hampir kita ketimpa kita langsung bayangannya Pak Nyoman bawa ekskavator kita bongkar. Tapi kalau ternyata enggak kepakai yang penting enggak ada penyesalan. Nah ini no regret. Nah di dalam public service itu yang ini no regret. Artinya kita sudah tahu di situ ada yang terjebak. Kita tahu per detik ini masih hidup. Mohon maaf, kita enggak tahu pada saat nyampai apakah masih. Tapi kita akan menyesal manakala kita nunggu semuanya pasti baru kita bergerak. Akhirnya kemudian begitu nyampai, oh ternyata masih butuh waktu mobilisasi alat. Jadi kalau dalam situasi emergency SP itu jalan dulu, bawa dulu alatnya. Kepakai atau enggak urusan lain karena ujungnya no regret. Kita lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Nah, itu namanya emergency operation. Emergency operation. Semua rumah sakit kemarin ini teman-teman direktur rumah sakit semua rumah sakit kemarin tangani dulu baru ngomong administrasi. Nah, itu Prof. Erwin ada delan untuk memastikan itu. Ada tiga kondisi harus cito operation. Kenapa? Fingerti, Prof. Fingerti bahayanya apa? Bahaya kalau didemin infeksinya nyebar life threatening. Terus tangani aja family-nya kontak keluarga enggak bisa dihubungi. Khawatir juga kalau tidak ada konsen keluarga. Bagaimana melakukan operasi itu. Ini bukan yang lengan, Prof. yang kita bahas. Lain lagi. Ada lagi di rumah sakit tiga. Ada tiga. Akhirnya oke tentukan golden time-nya. Terus pastikan pada saat golden time langkah bisa diambil secara unilateral sepihak. Ternyata dua bisa dikontak keluarganya. Saya yang belum tahu yang satu gimana. Nah, itu emergency decision itu tidak bisa SOP-nya sama dengan bisnis as usual, gitu. Nah, kadang-kadang kita di birokrat memang dan saya enggak bisa menyalahkan ya ee kadang-kadang memang selalu pada saat emergency semua harus dilakukan. Setelah emergency semua dipertanyakan. Kenapa dulu begitu? Waktu COVID ada APD apa aja ambil gitu kan. Terus setelah selesai mahal ya dulu APD-nya berarti ya dapat duit ya. Ah kan gitu kan. Nah, ini tolong semua ya kadang kita mesti bismillah ya, tapi dokumentasikan saja semua proses. Kalau mau cara satu-satunya adalah transparansi dan dokumentasi aja. Pada saat emergency, make sure semua terdokumentasi sehingga orang yang mau suuzon juga jadi susah karena ini semua sudah jelas. Jadi dalam situasi seperti itu show bahwa this is the best that we can do. Kira-kira gitu. Kalau itu terdokumentasi dengan jelas tap jadi ada sebuah jadi begitu emergency selesai mumpung masih ingat di kepala karena kalau enggak cepat-cepat didokumentasi kan lupa apa sih gitu. Sejauh ini sih alhamdulillah meskipun dipertanyakan sepemahaman saya kecuali yang benar-benar memang melakukan hal yang terlalu nemen ya sebenarnya tidak kena kok akhirnya gitu secara hukum. Coba dicek silakan. Dari COVID kemarin ada enggak yang dipanggil-panggil ya? Betul ya dipanggil ya, ditanya-tanya ya tapi akhirnya kena enggak? Coba dicek nanti gitu dipelajari kasusnya. Sepaman kami sih tidak. Sepaman kami tidak. kecuali mungkin cases tertentu yang memang bisa dibuktikan bahwa ada betul-betul memang strong ee indikasinya itu. Tapi saya mendoakan betul Ibu Bapak sekalian, kita harus saling menguatkan. Kita tahu ini bukan waktu yang mudah untuk menjadi abdi negara. Ada kepercayaan publik yang harus kita perjuangkan kembali untuk mendapatkannya. Dalam bahasa Inggris, there is public trust that we have to fight to earn. Saya paling suka sebenarnya English kata-kata bahasa Inggris tuh earn. Karena saya enggak tahu terjemahan bahasa Indonesia dari earn itu yang paling tepat tu apa. I don't know. Prof. Buckingham. Eh, Professor Buckingham. What is the the best bahasa Indonesia for earn? Like earning respect, earning trust. I mean the word earn ya. You have to be you have to be deserving, right? Harus deserve, harus melayakkan melayakkan adanya kepercayaan. Kepercayaan bukan dituntut, tapi diperoleh karena kita layak mendapatkan kepercayaan itu. Kira-kira itu earn. Kenapa revenue sebaiknya earn gitu kan? Kalau di dalam akuntansi kalau kita dapat orderan barang dibayar di depan itu belum dianggap sebagai earning dalam akuntansi akrual. kita sudah terima uangnya, tapi tidak boleh dianggap sebagai revenue earn karena kita belum bekerja untuk mendapatkan uang itu. Masih ada kewajiban yang harus kita berikan. Dan falsafah itulah yang sering dilanggar oleh banyak pelaku usaha kan. Terima uang, mismanage, begitu dia harus deliver, uangnya sudah muter ke tempat yang salah. Karena yang harusnya revenue earn itu dia belum earn dianggap sebagai revenue. Maka ada terminologi unearn revenue. Cash sudah diterima tapi dia belum earn the revenue. Kita belum lah. Nah, kita harus berjuang untuk kita earn public trust lagi. Dan ini bukan momen yang mudah. Makanya saya kita saling mendoakan, saling menguatkan. Tapi percayalah bahwa the best evaluator terhadap pengabdian kita adalah yang maha kuasa. Kita percaya yang maha kuasa akan memberikan tentunya ee ganjarannya di yaumil kiamah nanti, di hari akhir nanti. Karena pada akhirnya kelebihan kita sebagai public servant adalah kita bekerja dengan benar aja itu katanya skornya sudah plus di sana ya. Karena otomatis kita menjaga kemaslahatan masyarakat. Sukses sekali lagi untuk leadership update forum yang ketiga. Terima kasih. Semangat semua para pemimpin-pemimpin yang ada di PEMPR maupun di Pemerintah kabupaten kota dan selamat mengikuti lecture dari kedua profesor kita. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Mohon izin untuk melanjutkan dengan foto bersama kami persilakan teman-teman fotografer dan juga teman-teman media untuk mengambil tempat di atas panggung. Kami undang seluruh undangan untuk berdiri. Untuk pengambilan foto akan ada dua pose. Yang pertama adalah formal terlebih dahulu. Mohon izin akan kami pandu dengan hitungan 3 2 1. Sekali lagi 1 2 3. Karena di Jawa Timur saya yakin semua paham. Tangan sebelah kanan tolong dikepalkan, tolong dijawab. Jawa Timur, Gerbang Baru Nusantara. Sekali lagi, Gerbang Baru Nusantara yang lebih bersemangat termasuk yang di belakang. Jawa Timur. Boleh kita berikan tepuk tangan untuk kita semua. Matur nuhun. Terima kasih. [Musik] Baik Bapak dan Ibu, sesaat lagi kita akan melanjutkan untuk forum yang sangat istimewa pada kesempatan siang hari ini. Leadership Update forum ketiga tahun dengan tema International Lecture From Local Potential to National Progress Strategies and Economic Empowerment. [Musik] Baik, mohon izin untuk memperkenalkan kedua narasumber siang hari ini yang akan mengisi diskusi kita dan juga memberikan paparan. Yang pertama saya perkenalkan Bapak Ibu sekalian pembicara kita adalah Prof. Edward Buckingham. Beliau adalah Ketua Australia Indonesia Business Council di Victoria sekaligus direktur program Master of Business Innovation di Monas. Beliau juga merupakan profesor manajemen di Monas Business School dengan pengalaman yang sangat luas di bidang bisnis internasional, strategi dan kepemimpinan. Dan beliau juga aktif menjembatani kerja sama antara Australia dan Indonesia dan sebagai penasihat bagi pemerintah industri hingga perguruan tinggi di berbagai negara. Please welcome to the stage Professor Edward Buckingham, our chair of Australia Indonesia Business Council in Victoria and program director of Master of Business Innovation at Monash University. [Musik] Dan selanjutnya kami perkenalkan juga Prof. Welcome to the stage. Beliau juga sangat banyak sekali mengisi kelas-kelas internasional and recogniz scholar tax and commercial law career spanning for legal practice academia and currently serv as the professor and head of department of business law in Monas University. Baik Bapak dan Ibu, kami pun nanti akan membuka sesi tanya jawab. Tapi izinkan sebelumnya pada leadership forum kali ini kita akan mendengarkan paparan-paparan dari kedua profesor kita. First will be Bapak Buckingham. Kami persilakan. Selamat pagi. Sugeng enjeng. Saya senang sekali kembali ke Surabaya. Pertama kali saya ke sini umur saya 19 tahun. lagi menuju ke Jogja naik kereta api, mau kuliah di UGM. Pertama kali saya ke Jawa, saya merasa senang hati melihat bagaimana masyarakat di sini berfungsi. Tapi kita sekarang sudah beda zaman. Eh, Indonesia perjalanannya sudah keluar dari zamannya Pak Harto di mana banyak sentralisasi masuk ke zamannya reformasi di mana ada di devolusi ya bisa dikatakan divolusi dan sekarang mulailah satu zaman baru dengan pemerintah pusat. Nah, kalau saya paham dengan baik, ada R triliun yang dipotong daripada anggarannya Jawa Timur. Betul enggak? Waduh, itu banyak kosongnya ya, 2 triliun. Enggak tahu itu dalam dolar Australia itu berapa, tapi kayaknya banyak sekali. Jadi apabila kita bicara development, saya mau kita hari ini memfokus kepada strategi. Bukan rencana karena strategi itulah yang Anda semua sebagai pemimpin itulah tanggung jawabnya Anda. Dan memang ada rencana dari pemerintah, dari pemerintah daerah, tapi ibu-ibu, bapak-bapak semua yang harus menerapkan itu di lapangan. Ah, itu mengingat saya kepada dosen fisika saya di Gajah Mada. Kalau kita habis ujian, dia selalu nanya, "Gimana ujiannya?" Terus teman-teman kelas saya bilang, "Waduh, Pak. Soalnya gampang. jawabannya susah. Nah, kalau kita ada masalah untuk menjawab ya dalam arti tanggung jawab itu ya kita perlu dua dua apa faktor yang sangat penting. Yang satu itu akal, yang kedua itu alat. Nah, yang saya maksudkan dengan alat hari ini adalah teori atau framework yang bisa diterapkan untuk membantu analisis kita, tapi mungkin juga membentuk keputusan kita. Nah, kita mulai dengan satu misteri. Ya, suka misteri suka apa artinya itu ada enggak yang bisa baca? Ya, ada satu orang di belakang, satu bapak, dia langsung anggil HP mau artificial intelligence. Dapat, Pak, atau hanya ambil foto? Ibu dan Bapak ini ditulis oleh seorang pengarang dari Inggris namanya Tolkin. Kalau di Indonesia ada yang agak mirip dengan beliau tahu namanya SH Mintarja ada. Hanya yang tua yang tahu. Kalau anak-anak muda enggak tahu. Sayang sekali mereka harus membaca Esa Mitarja. Nanti kita kembali lagi kepada karyanya dia. Saya mulai dengan ini karena yang dikatakan di sini ada satu cincin yang memerintah cincin yang lain. Jadi ini adalah satu konsep konsep cincin bulat. Kalau kita lihat pemerintah negara di bawahnya ada pemerintah daerah. Di bawahnya lagi ada pemerintah kabupaten. Di bawahnyaalah lagi ada kecamatan. Di bawah kecamatan ada desa. Di bawah desa ada rumah tangga dan selanjutnya kan ada bulat-bulatnya. Jadi kita akan bicarakan itu karena setiap cincin itu merupakan satu ee daerah ekonomi dan dalam segi itu ongkos perilaku kita berbeda-beda. Nah, saya mau bicarakan ini kenapa? Karena anggarannya pemerintah daerahnya Jawa Timur itu menurun. Jadi, kita harus irit. Seperti yang dikatakan Pak Fatoni tadi, lebih irit, lebih cerdas, lebih hebat. Tapi untuk melaksanakan itu kita perlu alat dan akal. Beginilah berjalan atau tidak. Oh, ini. Jadi, saya mulai dengan satu contoh yang amat sederhana. Kita bicara oncost transaksi, kita bicara transportasi. Jadi di Y axis di sini ada cost to serve on cost melayani satu eh satu klien terus ada jaraknya. Oke, kita mulai ini lewat jalan pakai truk ini garisnya agak linear ya, linier. Kalau yang suka mati-matian ee matematika kan linear itu. Terus kalau pakai perkapalan seperti yang keluar masuk dari pelabuhan di Surabaya kan mulainya agak naiknya cepat sekali kada ongkos untuk membawa barang masuk ke kapal dan keluarkan enggak begitu sederhana. Tapi kalau kapal itu sudah mulai berlayar, ah malah malah enggak mahal, enggak mahal sama sekali. Terus tambah lagi satu ada kereta api. Ah nah tiga faktor transportasi itu semuanya ada di Surabaya. Malah Surabaya jadi nomor sat nomor satu di Indonesia. Dalam arti ini gerbang ya bagus itu. Wah saya suka sekali. Jadi kita harus nanya sebagai wirausaha, sebagai wira pemerintah. Kan ada wiraatani, ada pokoknya wiranya banyak tapi Anda semua adalah wira pemerintahan, wira pegai katanya belum barangkali belum diciptakan. Tapi kita harus berpikir tentang ongkos dan kita harus milih di mana kita akan menanam modal kita. Jadi saya nanya kalau di sini kita milih apa? Truk, kereta, api atau kapal? Siapa berani? Oh, jangan bungkam-bungkam. Saya paling suka yang ah di sini daerah sini kita pakai apa kan? Pakai truk itu yang paling ongkosnya paling rendah. Kalau di sini kereta api kan. Kalau di sini kapal. J kelihatan sekali ini jaraknya. Jadi truk kereta api kapal. Nah, dengan ini saja kita mulai paham apa di mana kita harus menanam modal. Di sini ini saya bikin satu gambar. Ini bentuknya masyarakat pada umumnya. Ini satu kota di utaranya Jerman. Tapi kota-kota biasanya begini. Di pusatnya ada pusat ada pusat kota di sini. Pusak kotanya di sini. Di keluarnya kan ada sayur, ada susu dan sebagainya yang harus segar. Di luarnya ada kayu, terus ada ada sawah, di luarnya lagi ada sapi dan sebagainya. Tetapi kalau ada kalau ada sungai, bentuk masyarakat itu juga berubah. Kenapa? Karena sungai itu adalah satu cara untuk merendahkan ongkos transportasi. Tadi malam saya tiba di sini, saya begitu heran sama bandara. Waduh, bagus sekali bandaranya bagus. Tapi jalan tol untuk masuk ke ke Surabaya lebih hebat lagi. Nah, apabila kita membangun infrastruktur seperti itu, itu mengubah ongkos transaksi. untuk semua masyarakat. Muncullah kesempatan-kesempatan baru untuk wirah untuk pegawai, untuk semua rakyat. Jadi kita harus berpikir apabila kita bangun infrastruktur baru, bagaimana itu akan mempengaruhi masyarakat, bagaimana itu akan mempengaruhi ee pasar kita yang kita lihat. Jadi, kita sudah bicara ongkos. Ongkos itu penting. Sekarang saya mau bicara sedikit dari mana kita dapat growth ya, dari mana kita dapat perkembangan ekonomi? Inilah satu satu grafik yang sudah terkenal di economics. Kalau kita lihat ini perkembangannya, ekonominya Amerika sejak 18 70 hingga 2006. Nah, harus saya enggak punya datanya tapi terus terang garis ini menuju sama arahnya juga sama. Setiap tahun ekonomi di Amerika itu perkembangannya 1,85% rata-rata per kapita setiap tahun sama. Kok kenapa bisa kok kenapa ini bisa satu garis ya sebegitu lama kok. Kenapa Amerika hanya bisa 1,85% sedangkan Jawa Timur bisa berapa persen? Perkemb perkembangan ekonominya berapa? 5,5. Berarti orang Jawa lebih pintar dibandingkan orang Amerika. Betul enggak? Betul. Betul kan? Betul. Betul ya? Setuju. Nah, begini mereka cenderungnya begini. Kalau kita lihat Cina, dia naiknya begini 10%. Kenapa? Karena ada dua tipe inovasi. Yang pertama adalah inovasi. Pokoknya alon-alon waton klakon. Aku bikin uji coba sehingga saya dapat sesuatu yang bisa terbang atau bisa bikin kalkulasi dan sebagainya. Tapi apabila Anda sudah, kalau saya sudah sukses tinggal aja kamu copy. Jadi itu namanya high cost innovation, low cost innovation. Nah, Amerika sebagai negara kita bilang sulung yang pertama dia kan di sini high cost innovation karena seringkiali mereka ada di horizon inovasi. Sedangkan negara-negara lain mereka tinggal empoh teknologi dari luar dan menerapkannya. Kan kita paham ini enggak susah. Nah, bagaimana kita menjelaskan ini lebih dalam? Nah, pertanyaan lagi coba. Siapa yang duluan? Siapa ini coba? Siapa orang ini? Ya, betul sudah mati. Betul betul. Asli mana? Asli mana? Mana sebetulnya? Bukan AS. Eropa. Eropa. Di mana? Di Eropa. Pokoknya laki-laki suka pakai rock. Scotland. Ya, betul. Nenek saya dulu dari Scotland. Dia suka saya pakai rock waktu kecil. sekarang sudah malu, enggak mau lagi. Jadi ini namanya Adam Smith. Peneringan namanya. J kita kita mau membongkar, mau meneliti masalah ini pakai teorinya Adam Smith. Jadi perkembangan itu ada tiga. Kalau kita cari root cause analysis-nya ada tiga. Yang pertama populasi. Apakah saya harus menjelaskan ini populasi? Kenapa itu memberi perkembangan? Perlu mau saya jelaskan sedikit ya. Pokoknya begini, Ibu, Bapak. Kalau belum ada yang ceritakan ini sampai sekarang, saya agak khawatir. Pokoknya kalau punya anak ekonominya mau besar, ya. Nah, bagaimana kita membesarkan ekonomi? Karena ada dua cara. Ada dua cara. Yang satu natural growth. Kalau orang sudah 20 tahun, wanita laki-laki bersama setahun eh 9 bulan kan dapatlah anak. Ini yang paling gampang. Terus yang kedua adalah imigrasi. Nah, kalau Indonesia sangat jago di sini. Kalau Austral, negara Barat, Jepang enggak jago di sini. Jadi kita tergantung terhadap imigrasi. Nah, imigrasi itu sebetulnya kelihatannya gampang, tapi sebetulnya susah. Kalau ada kalau kita berimigrasi semua yang kita pegang di rumah sendiri kita harus lepaskan. Kita harus belajar yang baru. Jadi ini memang ada batasnya. Jadi yang kedua spesialisasi. Jadi saya kasih contoh yang satu saya kemarin ke salah tiga melihat banyak orang kerja di pabrik. Ini orang wong deso kabeh ya. Masuk ke pabrik itu mereka belajar bagaimana bikin sepatu. Ada proses, ada sistem, ada alat dan sebagainya. Dan mereka produktiv produktivitasnya tinggi sekali. Satu sepatu mungkin hanya 10 dolar ya dan dijual nanti untuk 200-an. Jadi kita spesialisasi itu pokoknya kita belajar satu proses, kita menjadi jago melakukan proses tersebut. Itu ada dua dua unsurnya. Yang satu automation. Jadi kita pakai alat. Yang kedua itu socialization atau training ya. Training. Jadi ini kalau kita bicara Indonesia, natural growth sudah ada imigrasi. tidak perlu. Tapi ini training ini masih menurut saya masih banyak potensi, banyak sekali potensinya. Dan automation itu kan berdasarkan investment. Investmentnya juga potensinya luar biasa. Kalau investment itu kan ada dua teknologi baru seperti apabila apakah BYD mau bangun pabrik di sini? BYD mau buka pabrik di Indonesia kan bikin mobil elektrik ya. Terus ada juga penelitian jadi human capital. Jadi apabila kita melihat ini, kita melihat bahwa ini semuanya bisa dipakai untuk perusahaan untuk memajukan ee PNL-nya supaya mereka lebih cepat berkembang. Kalau kita keluar dari perspektif perusahaan sebentar, kita mau bicara satu wilayah, satu daerah. Kita lihat di Eropa ini sebelum Brexit ya, sebelum Brexit mungkin sekarang sudah berubah sedikit tapi cincin ini 80% daripada GDP di Eropa itu berada di situ. Nah, kenapa ada enggak yang tahu? Mungkin ada yang sudah melihat slide ini. Kenapa 80% GDP-nya Eropa ada di situ? Saya rasa pasti ada yang agak mirip untuk Surabaya juga. Surabaya itu merupakan satu kawasan di mana ekonominya kuat. Tidak hanya di wilayah Surabaya, tapi juga di pulau-pulau lain. Kenapa? Karena Surabaya adalah pusat transportasi. Jadi saya kasih tahu kita pakai kita harus selalu pikir kepada efisien. Jadi bagaimana kita mengontrol ongkos-ongkos tidak hanya ongkos pemerintah, tapi ongkos swasta. Nah, inilah satu grafik lagi. Di sini ada total cost. Jadi ongkos ongkos secara keseluruhan dan di sini ada volume ya. Kalau kita bikin manufacturing atau berproduksi sesuatu kan ada marginal cost. Jadi setiap setiap satunya kalau kita manufak bikin banyak itu turun melewat eh overhead costs. Oke. Jadi marginal cost-nya lama-lama turun. Semakin banyak kita bikin semaka semakin rendah ongkos tersebut. Tetapi produk itu harus dijual. Malah tadi saya bicara ongkos transportasi dan kita tahu bahwa ongkos transportasi itu kira-kira itu linear. Kalau ditambah kita mendapat satu garis yang kayak gini di mana minimalnya di sini. Nah, kebetulan minimal itu berkaitan dengan luas-luas daerah tersebut. Sehingga kita tahu bahwa optimal delivery area itu ada satu lingkaran, ada satu bulat, ada satu cincin seperti saya mulai. Nah, pertanyaan saya untuk Jawa Timur adalah begini, Bu. Begini, Pak. Kalau Jawa Timur, terutama kalau Surabaya mau maju, bagaimana kita mengoptimisasikan optimal delivery area tersebut? bagaimana kita meningkatkan em apa istilahnya potensi kita untuk melayani pasar-pasar yang ada di keliling kita ya. Yang satu kita berbikin investment dalam infrastruktur tapi tidak hanya infrastruktur untuk barang tapi infrastruktur juga untuk jasa. Karena masa depannya ekonomi kita berorientasi kepada jasa. Oh, saya mau ah terlambat. Saya mau tanya sebentar. Kalau saya mau jual semen, apakah ongkos transportasinya tinggi? Kan berat ya. Jadi ongkos transportasinya sangat tinggi. Tapi seandainya saya bikin musik, ongkos transportasinya tinggi atau rendah? Rendah. Jadi garis itu justru menurun. Jadi kita bisa lihat bahwa untuk kawasan kita ada kegiatan yang sangat cocok dengan infrastruktur yang kita punyai. Tapi apabila infrastruktur itu beda, malah ongkos kegiatan kita juga beda. Sehingga kita dapat kesempatan yang baru. Ini maaf ya ini digambarkan untuk Jakarta. Tapi kita melihat jarak antara Jakarta dengan kota-kota lain di Indonesia secara geografik ini. Peta ini sudah 15 tahun yang lalu ada seorang pegawai negeri yang datang ke Inggris yang memberikan saya tahta ini. Jadi kita kita lihat untuk ilustrasi saja. Kalau ini jaraknya kalau kita naik pesawat bisa dilihatkan bahwa jarak-jarak ini sudah berubah sedikit. Karena naik pesawat itu kita harus masuk ke bandara, kita harus naik pesawat dan ee tapi petanya agak mirip. Tapi kalau kita lihat ini untuk kapal, kita malah melihat bahwa ee Padang itu jauh lebih jauh dibandingkan Singapura dan Makassar itu juga menjadi jauh lebih jauh dibandingkan sebelumnya. di sini kan Makassar di sini seharusnya di situ tapi itu malah menjadi lebih ke timur. Nah, kenapa begitu? Kenapa Makassar dan Padang bisa bergerak? Kok bisa-bisa lebih jauh kalau kita naik kapal dibandingkan kita naik pesawat? Kenapa? Karena ini tidak hanya soal ongkos transportasi. ini juga soal ongkos administrasi birokrasi dan di situlah ibu-ibu dan bapak-bapak punya peranan besar bagaimana kita memperbaar pemerintahan administrasi di segala tingkap di segala apa layers sehingga transportasi ini menjadi lebih irit Yang yang juga menarik di sini kita melihat bahwa Singapura malah lebih dekat dibandingkan sebelumnya. Kenapa? Karena pelabuan di Singapore sangat irit. Jadi yang kita kalau kita bicarakan birokrasi dan administrasi sebetulnya apabila kita irit secara nasional atau secara provinsi itu justru menyatu masyarakat, penduduk, perusahaan dan segalanya. Apabila kita tidak irit, malah orang yang tinggal di kabupaten, di selatan mereka menjadi lebih jauh lagi dibandingkan seharusnya. Jadi itulah demi produktivitas kita, demi efisiensi kita, kita malah menyatu provinsi dan negara. Nah, ini untuk selesai ada tiga slide. yang tertinggal. Saya mau bicara sedikit tentang budaya dan saya mau kasih dua definisi yang mungkin bermanfaat. Yang pertama kita bicara seseorang yang average ya, yang rata-rata ada di tengah di sini di kelilingnya ada kebiasaan atau pranata atau kelembagaan yang menentukan apa yang kita lakukan dan di atasnya ada perilaku kita. Ini yang menentukan budaya. Jadi ada aturan dan ada perilaku selalu ada selisihnya. Dan ini menentukan apa yang kita di mana kita merasa tenang hati. Kalau kita berada di situ di mana kelembagaannya jelas, perilakunya juga ikut jelas dan kita merasa bahwa kita mengontrol situasi. Tetapi apabila kita sudah keluar dari zona itu, malah kita berada di zaman atau di di tempat yang agak ada istilah Jawa agak kisru, agak kisru. Kalau di Amerika sekarang ya agak sedikit kisru rasanya di Amerika karena banyak kebiasan, banyak kelembagaan itu mulai berubah dan perilaku juga berubah. ini selalu terjadi apabila kita menghadapi teknologi baru. Jadi infrastruktur baru tidak hanya membawa rezeki, tapi juga membawa risiko dan kita harus pintar mengendalinya. Jadi di sini ada risiko yang ada di sini di atas itu ketidakpastian. Nah, pada zaman dulu, pada zaman dulu saya lihat ke sejarahnya Jawa sekarang, pemimpin-pemimpin kita dulu, mereka menciptakan sastra, mereka menciptakan aturan, mereka menciptakan agama. Ini semua dibentuk supaya masyarakat itu stabil, makmur, dan dalam posisi di mana masyarakat bisa maju, ada kesepakatan, ada kesefahaman, gitu. Jadi saya kasih satu image ya yang saya rasa ini melambangkan budaya Jawa zaman dulu. Walah, inilah dia Borobuda. Kenapa saya pikir Borobedo itu cocok? Karena Borobo tidak hanya bangunan. Probodo itu adalah sastra. Probodo itu setiap setiap bulat, setiap cincin di Borobudo ada cerita-ceritanya dan ceritanya di dalam ceritanya ada budi pergkatinya. ada ada arah kita itu mengarahkan kita bagaimana kita harus hidup zamannya dulu ya mungkin enggak 100% cocok untuk zaman ini tapi zaman dulu itu dipakai untuk memberi satu wawasan yang menyatukan negara pada waktu itu. Saya mau selesai dengan bicara sedikit tentang bedanya nasib dan takdir. Nah, mungkin ada yang sudah mendengar saya ceritakan ini. Tapi seringki apabila kita harus berwirausaha, kita harus memikir kepada risiko dan ketidakpastian. Nah, bedanya begini. Kalau takdir, wah saya tanya dulu takdir itu apa? Bedanya apa dengan nasib? Takdir itu kita harus terima. Kita tidak bisa melawan. Tetapi nasib nasib itu kita bisa mempengaruhi. Nah, seringki sebagai pegawai kita merasa bahwa kita harus selalu manut patut injil. Kan harus manut patut injil. Tapi sebetulnya Anda semua orang yang sudah berpendidikan tinggi dan Anda semua bertanggung jawab untuk menjawab soal-soal yang muncul. Nah, di situlah Anda punya kesempatan untuk mempengaruhi bukan hanya nasibnya sendiri, tapi orang dikelilinginya. Dan oleh karena itu saya justru memikir kepada satu buku. Oh, wah ini juga ini sangat penting. Pernah lihat, pernah baca ini? Carilah ilmu sampai ke negeri Cina. Kenapa saya nunjukkan ini? Karena dulu orang Chinese dulu datang ke Indonesia untuk melihat Borobua zaman-zaman dulu. Tapi saya juga mau em bicara buku ini. Kembali lagi ke buku ini, Esam Taja. Karena sebetulnya eh kita melihat Maha Sejenar itu apabila dia keluar dari Kraton, dari istana. dia merantau. Apabila dia merantau, dia justru dia masuk ke kawasan di mana ketidakpastiannya tinggi. Untuk mengatasi tantangan yang dia hadapi, dia harus masuk ke zona ini. Jadi, di sini ada tantangan, di sini ada kemampuannya. Jadi istilahnya begini, di sini ada tantangan negara, di sini ada SDM, sumber daya manusia. Nah, supaya dia menjadi bagus dalam peranannya sebagai wira, dia justru harus meningkatkan kemampuannya sehingga itu sama dengan tantangan yang dia hadapi. Dan dalam perjalanan tersebut dia ada rasa risau dan ada juga rasa di mana dia mau mengunduhkan diri karena dia begitu khawatir. Saya berharap Anda semua tidak terlalu risau dengan masa depan Anda apabila Anda harus ee menyelesaikan soal-soal yang muncul di dalam peranan Anda. Dan kamu juga tidak mengelak tantangan yang datang, tetapi justru mengambil kesempatan untuk mempengaruhi nasib di mana Anda bisa manfaatkannya untuk negara dan provinsi. Terima kasih banyak. Terima kasih banyak Prof. Buckingham. Sedikit menyimpulkan apa yang sudah dibicarakan tadi adalah bagaimana strategi pembangunan menjadi dua hal utama yang perlu kita perhatikan. Pertama adalah framework analisis karena melalui analisis kita mempunyai menilai kondisi secara menyeluruh sehingga bisa menghasilkan dasar yang kuat untuk mengambil sebuah keputusan. Kemudian yang kedua adalah cost to serve, yaitu biaya yang diperlukan untuk melayani. Di mana ini juga termasuk perkembangan serta biaya yang kita keluarkan untuk mendorong sebuah inovasi. Selanjutnya adalah faktor-faktor penting pertumbuhan. Yang pertama adalah populasi baik pertumbuhan alami maupun adanya arus imigrasi juga. Kemudian faktor kedua adalah spesialisasi yang bisa meningkatkan produktivitas dan faktor ketiga adalah investasi di mana ini mencakup berbagai aspek mulai dari otomasi kemudian juga sosialisasi pemanfaatan teknologi sampai dengan penguatan modal manusia serta human capital. Dengan memahami kerangka ini, harapannya melihat biaya faktor pendorong dan pertumbuhan ini bisa merancang strategi pembangunan lebih efektif, berkelanjutan, dan juga ada tambahan tentang aturan dan perilaku. Nanti akan kita buka juga Bapak, Ibu sesi tanya jawab dengan Prof. Buckingham. Tetapi selanjutnya kita akan bersama-sama mendengarkan paparan juga dari Prof. John Vevakuva. Disilakan. [Musik] tax baik kalau begitu Bapak Ibu waktunya untuk sesi tanya jawab bersama dua narasumber karena Mr. John juga akan menanggapi terkait pertanyaan Bapak Ibu sekalian. Silakan boleh angkat tangan. tentunya untuk Profesor John akan lebih tentang pajak. Jika Bapak, Ibu punya pertanyaan terkait akan ini, beliau juga akan memberikan jawaban. Silakan ada pertanyaan dari sisi kiri, kanan, tengah, boleh dari sebelah tengah terlebih dahulu. Bapak Yudi Kemal silakan boleh dibantu. Tidak perlu dianslate ya, Pak Yudi. Thank you for the opportunity, Professor Buckingham. We met again after uh I met you on Mones University Melbourne. My question goes like this. Based on your um research and international experience you know Indonesia has already got the challenge for the eh adopting the bridge the gap between local community development and national economic strategies. So what is the most powerful strategic for Indonesia nowadays and then as we know that right now in East Java or especially for Indonesians eh we face through the shares for the tax we call it at obsent pajak. So I'm from the revenue department of East Java Province. I'm working on the revenue department on the Trenggalek. Then eh once again I want to ask you about the what is actually we can do for this synergity eh between the Regency and the East Java Province. as you know for the for for this strategic issue is not really that what is it is not really that easy because on Trengalek is one of the regency that having really low fiscal um energy so that's why once again we want to know how our governmental can just support about this kind of um eh rules So that's it. Thank you very much. Terima kasih Bapak Yudi Kemal. So you are questioning about the strategy in between Regency and is Java for friends also the taxis as well. Mr. John Professor John uh can I salam PY? That's that's all of my Indonesian right there. I can't speak any other so but I felt I had to share that. I'm very honored to be here. So, thank you for the invitation. Um, I think the challenge it is a challenge that we share in Australia about how we divide the revenue between the national government and to get it to the regions to the provinces. and to the people that you serve. Uh and I think one of the ways that can be achieved is to focus away from taxing of income and more towards collecting revenue from the sorts of transactions and the industries that your particular provinces and your regions are strong in. Uh the other so the challenge of that of course is that often you need the systems in place. I think it's as much about the tax policies as it is about the systems being in place to uh be able to enact those policies. So for example uh I work with a number of PhD students from Indonesia who work at um the national level but a lot of those projects are concerned about the systems and using technology in a way that ensures that the people that that perennials problems such asal economy in industries such as agriculture uh can uh be brought into the system and can and revenue can be raised by the states and by the provinces. The challenge there is that you can only succeed with a balance of technology and people. So the people on the ground, people like yourselves and public officials that work for you uh are the critical ones to win the trust and confidence of the people. Because I think in the past, and this has been a challenge in Australia and in many other jurisdictions, the attempt to raise revenue at a state level and at a regional level has been based on one of exercises of power forcing people to pay their Jews to ensure that they do the right thing. Increasingly, it's about it's been recognized that it's about trust and confidence and having the confidence that the money that is collected is spent efficiently. It's spent on services the people appreciate and value. And one of the things that I'm working on and that I'm researching is ensuring that we resist that we find a balance between using technology to create the efficiency we need to raise the revenue to ensure that the people are served their needs are served um and the need for human to human interaction because I think that no amount of efficiency no amount of good policy will ultimately put the best policy outcome and the optimal revenue raising Pak Yudi kalau tidak salah kabupatennya Pak Yudi ada di pergunungan. Betul, Pak. Enak ya jadi pejabat di pegunungan. Pasti banyak pohon duren. Terus terang, Pak. Saya asli saya di Inggris di pedesaan. Di desa saya enggak ada banyak sapi dan domba. Gitu aja. Enggak ada industri di pelosok-plosok atau orang Melayu bilang di ulu-ulu ya di atas. Saya mau bilang bahwa apabila kita ada di daerah agak lu agak agak jauh memang rasanya seperti kita sendiri. Infrastrukturnya susah ya, Pak. Kadang-kadang susah, mungkin tanah longsor, pokoknya segala yang seperti itu. Ini juga mempengaruhi budaya orang, Pak. Jadi yang saya melihat petani-petani yang tinggal di daerah seperti itu, saya belum pernah ke tempatnya Bapak, tapi saya menilai bahwa orang di sana seringki lebih mandiri. Dan ini sebetulnya satu kelebihan. Dulu waktu saya tinggal di Prancis, orang Perancis bilang, "Petani dari Portugal datang ke Prancis, tiba di Prancis menjadi pembangun rumah langsung. Tidak ada formasi, tidak ada apapun." Mereka langsung pokoknya petani itu orang yang mandiri. Mereka mungkin keahliannya tidak sespecialized yang saya bilang tadi, tapi lebih luas. Tukang listrik bisa, tukang batu bisa, tukang kayu bisa, semuanya bisa. Dan ini memberi satu kelebihan di masyarakat tersebut. Dan ini juga membiarkan Anda karena Anda sedikit lebih tersembunyi dibandingkan orang-orang yang ada di dekatnya Surabaya. Mungkin ada industri-industri di sana yang bisa dibangun kerana Anda berada di tempat yang agak sedikit jauh dari tengah. Nah, ini tidak berarti bahwa daerah-daerah tersebut harus mengasingkan diri. Ini tujuannya enggak begitu, Pak. Tujuannya kita melihat SDM kita di sini apa, lowongan apa di daerahnya Jawa Timur yang kita bisa melayani. Dan saya rasa dengan sedikit analisis pasti ada di daerah Bapak. Jadi koperasi tetap penting. Tapi kita juga harus sadar walaupun mungkin rakyat kelihatan melarat, mereka pasti punya kelebihan. Itulah tanggung jawab kita untuk mencarinya. Terima kasih. [Musik] Baik, terima kasih. sedikit menggaris bawahi dari Profesor Bakwa adalah bagaimana teknologi bisa membantu semua ya Pak Yudi. Mungkin ini ada sesuatu hal yang menjadi masukan ke depannya inovasi di Trenggalek mungkin untuk Jawa Timur bisa bersinergi. Silakan mungkin ada pertanyaan lagi dari Bapak Ibu sekalian. Baik dari sebelah sini sini. Oke. Saya suka sudah mulai banyak pertanyaan di dari belakang. Satu, dua, ibu juga dan tiga. Silakan dari sebelah sini dulu. Terima kasih Bapak izin. Dengan Bapak siapa? Saya drter Tauhid dari RS Sudiaji. Boleh bahasa Indonesia aja, Mbak, ya? Monggo, Bapak. Ya. Saya ingin bertanya ee pengaruh atau peran pajak terhadap ee layanan kesehatan, terutama rumah sakit. Ada dua atau tiga model ee pengaruh pajak terhadap layanan rumah sakit. Permodelan yang pertama adalah yang kita tahu bersama di Pineng. Peneng ya itu governmentnya memutuskan bahwa pajak untuk medical equipment itu sangat rendah bahkan zero menyebabkan pelayanannya sangat murah dan kemudian disukai oleh masyarakat Indonesia. sehingga kita banyak berobat ke sana. Itu satu permodelan pajak di Pineng. Singapura kebalikannya Texas government-nya itu sangat mahal. Tapi juga ternyata banyak masyarakat Indonesia dan ASEAN terutama juga banyak mengakses pelayanan di Singapura. Padahal mahal, sangat mahal. Tapi mungkin kualitasnya kualitas dunia. Permodelan yang ketiga ini Indonesia. medical equipment taxes-nya sangat tinggi sehingga menimbulkan high cost medical services tapi pelayanannya bermasalah. Menurut profesor berdua untuk Indonesia yang culture seperti ini mana yang lebih cocok eh Peneng model atau Singapore model especially in tax government tax for medical equipment. Thank you. Terima kasih Bapak. Ini jangan menjadi permasalahan bagi kita semua. Silakan Prof. [Musik] Texas Indonesia Thank you for your question. There we go. Yes, I think as I understand your question um the approach that I think is preferable in industries like emergent technology such as medical equipment uh is one that I think starts from a point of a low taxing approach and one which that therefore encourages that early investment that is required to get the services to the people for an affordable cost. I think that over time that policy can then be reviewed. Once the industry becomes more mature and depending on uh the demand uh for the services then naturally that can change. But I think the starting point has to be or the favorable starting point has to be an approach that is preferential in a sense of uh giving a start to these industries and to provide the services to the people at a price point that is affordable. Um because ultimately if that's the end aim to provide the services to the people and I think a high taxing regime makes that harder to do although it does raise challenges in terms of how do you fund the service in the longer run and that's why I think in the longer run there needs to be an adjustment to that high that uh low taxing approach. [Musik] Ee menarik sekali pertanyaannya, Pak. Emm kadang-kadang kita merasa kalau kita tidak kalau kita tidak memajak itu memberi malah memberi kesempatan. Saya rasa pikiran ini salah. ee pajak itu adalah tanggung jawab kita masing-masing. Tapi kadang-kadang memang ada akalnya untuk ee mengeliminasikan pajak-pajak yang tidak progresif. Apabila Bapak bilang bahwa alat medikal itu mahal di sini dan orang sini tidak mampu memakai alat-alat tersebut, saya langsung pikir kepada masalah kemampuan ini. Ee saya kasih contoh. Kalau saya tidak punya mobil, apakah saya bisa jadi pintar menjadi sopir? Kan enggak mungkin. Jadi kalau alat itu ada, orang bisa specialize, kemampuannya bisa meningkat. Jadi saya rasa analisisnya Bapak itu tepat sekali. Kalau Indonesia, kalau Jawa Timur dan negara ee pusat juga memilih bahwa ini akan ee industri medikal akan menjadi kelebihannya Jawa Timur. kita harus membentuk sistem pajak yang sesuai dengan perencanaan kita untuk industri tersebut. Dan contohnya Malaysia dan Singapura itu tepat sekali karena itulah keputusan mereka yang mereka ambil justru karena di Indonesia pajak terhadap industri medikal tinggi. Tapi itu tidak hanya terbatas terhadap alat. Ee doktor-doktor dari luar negeri tidak boleh bekerja di Indonesia. Nah, seandainya di Jawa Timur Anda membuka satu special economic zone di mana modal dari luar negeri bisa datang, alat bisa datang, dan STM, sumber daya manusia yang pintar-pintar itu dari luar negeri bisa datang bekerja di sini. Dengan sangat cepat, Anda akan membentuk satu industri yang kelas dunia. Itulah yang dilakukan Singapura. Ini juga bikin saya pikir kepada waktu saya tinggal di Cina tahun 90-an baru lulus saya dari ee sarjana saya di di Australia. Tiba di Cina, saya dikasih visa tanpa banyak bicara di mana saya bisa menetap setahun sebagai foreign expert. Foreign expert. Jadi imigrasinya sangat gampang dan pajaknya enggak seberapa. Jadi itu justru sistem ee kelembagaan itu justru menghisab tidak bukan hanya alat-alat dari luar, investment dari luar, tapi juga STM dari luar. Em apabila kita mengimpor alat dan STM dari luar, dampaknya terhadap orang setempat sangat positif. Tidak gampang itu, tapi hasilnya sangat positif dan buktinya adalah Singapura dan apa yang terjadi di Cina. Saya berharap Indonesia mungkin ini sudah saatnya untuk melaksanakan ee projek-projek seperti itu. Dan kalau banyak yang dari luar negeri datang ke sini justru pengaruhnya Indonesia juga menjadi lebih luas. Anda punya beberapa competitive cost advantages yang sampai sekarang Anda belum betul-betul menggunakan. Misalnya perawat di sini jauh lebih murah dibandingkan Malaysia atau Singapura. Jadi potensinya tepat dan saya rasa contohnya bagus sekali. Tinggal aja ada koordinasi antara pemerintah nasional, pemerintah daerah dan mungkin juga pemerintah kabupaten. Terima kasih, Pak. [Musik] Baik, terima kasih. Mudah-mudahan bisa menjawab, Dokter, ya. Kemudian, Ibu, kita akan beralih silakan, Ibu. [Musik] Good eh afternoon, Professor Edward Pckingham and eh Profesor John. Eh let me introduce myself. Myself is Diah Wahyu Ermawati. You can call me Diah or Erma. I'm the director of investment and integrated license office department of East Java Province. Eh, I'm happy to have your lecture today because the philosophy of the public government and serving the community and as well as the eh the point of view for efficiency and effective to deliver the public service is really eh trigger me to ask the question. Eh the the two eh participant already ask the question is it almost the same with my question actually but I'm prefer to eh focusing in the eh how to develop the tax for the investment. You know already that the invest the tax given by the government especially for the central government eh it is like a tax allowance, tax holiday, eh tax deductive tax tax and many kind of taxes. But this is merely close to the fiscal ya. And as my task eh dealing with the investment, we also been ask many foreigner investor and during my promotion they ask always what kind of incentive do you give for us if I invest to in is Java. Can you explain it? Of course we will explain about the tax that the central government already been given to us. Eh but eh in one of the eh degree that the central government already develop that the regional development government eh regional government also should develop the tax incentive for the investor. So we are getting confused actually because the fiscal area already been given by the central government but for the regional government we should discuss we already have the tax regulation ya already been produced by is Java provincian government but of course it's difficult for us to give the tax in case of fiscal do you have any suggestion eh for our tax incentive for the investor Eh beside the fiscal incentive. This is my first question and the second question is the what is the not what how the characteristic characteristic of our regional ya especially for the east Java province can be developed for the eh development of investment especially to attract the investor from eh abroad My two question. I'm very happy to meet you and lovely to have your eh discussion. Thank you very much. Terima kasih Bu Erma, Kepala Dinas DPM PTSP. [Musik] Thank you so much for those questions. I'll deal with the first I'll focus on the first question. I think um I do think that provincial and regional governments can influence significantly um in investor confidence and attract investors but it depends on so and and the way to do that I think is through giving concessions um on the taxes that you do levy. So for example if there are transaction taxes associated with land if it's an industry that is land dependent uh or property dependent then giving exemptions or particular treatment or relief from tax even in the initial stages of setup can be a significant attraction to your region over another one And I'm not sure if you have So in Australia for example we have payroll taxes. Now we exempt certain industries from those and part of the reason for that is to attract investment so and not to discourage employment. Um it could also be um transactions uh associated with transport and um fuel exercises um and other duties that might otherwise be payable. I think some of those can be very powerful attractions for investment um and particularly if they are targeted to particular industries that you wish to in that to attract. I think that is probably the key to come up with bespoke uh um concessions or uh tax treatment for particular industries that you wish to target. Um uh yeah so I think they they're probably the main ways and even though like you mentioned licensing I mean licensing is huge for a new industry and for a new investor. So I think if there can be um uh fast tracking or streamlining of those sorts of processes in a way that is also cost saving that can be that shouldn't be underestimated as an attraction for an investor particularly in those early stages. Bu, saya suka sekali pertanyaannya. Saya lagi berpikir, "Wah, ibu seperti petani dalam arti ibu mau mendatangkan wirausaha, mau memelihara wirausaha ya. Dan wirausaha itu selalu mau merendahkan ongkosnya. Kita harus jangan lupa bahwa pajak itu hanya salah satu ongkos. ada ongkos lain transportasi, hukum, sosial kan banyak sekali. Jadi apabila kita memberi kesempatan dengan kita merendahkan pajak, kita harus melihat apakah itu punya dampak besar terhadap their competitive position. Dan apakah dengan merendahkan pajak tersebut itu justru membantu perusahaan tersebut mendapat a sustainable competitive advantage. Mungkin pajak itu hanya harus diturunkan selama 5 tahun. Perusahaannya sudah dibangun, bisa berdiri sendiri. Ya, dari situlah kita mulai pajak. But there's more to this than just that. Karena apabila kita merendahkan pajak tersebut, we are actually kita sedang menanam modal. Nah, bagaimana kita menanam modal? Kita menanam modal dalam arti SDM, kemampuan. Jadi kita mengajak wirausaha domestik maupun asing masuk ke kawasannya kita kabupaten, kecamatan, provinsi daerah masuk ke daerah kita. Dan apabila mereka membangun perusahaan tersebut, mereka justru mendidik rakyat setempat sebagai pegawai dan rakyat-rakyat setempat lama-lama bikin kluster. Jadi seandainya mereka mulai bekerja di perusahaan wirausaha tersebut mungkin besoknya mereka pindah ke perusahaan lain. kan orang selalu harus punya kebebasan masing-masing untuk memilih. Tetapi perusahaan itu itu merupakan salah satu pusat untuk STM dan kita bisa juga melihat perusahaan itu seperti em satu institute pelatihan atau mendidik rakyat setempat. So saya kira-kira begini, Bu. Kita kadang-kadang di PNL, the profit and loss, the income statement, kita mengorbankan revenue dan ini bagus kalau balance sheet-nya lebih kuat. Dan yang kita inginkan dengan politik tersebut, kita ingin menguatkan balance sheet provinsi atau balance sheet negara dalam arti kemampuan. Jadi saya rasa pertanyaannya tepat sekali. Untuk industri-industri itu kita harus bikin analisis tentang cost structure dan kita juga harus melihat bagaimana mereka akan mendidik orang di tempat itu. Alat apa yang disediakan, infrastruktur apa di dalam perusahaan tersebut akan disediakan dan bagaimana SDM itu akan meningkat ee setiap tahun. Terima kasih. Baik, terima kasih Bu Herma. Mudah-mudahan menjawab. Lanjut lagi ke pertanyaan di bagian belakang. Masih ada susulan di depan juga. Mohon izin. Silakan Bapak. Izin, Profesor. Ee saya Bambangeru UWT PPBD Bondowoso. Ee selamat kembali ketemu Pak Profesor setahun yang lalu, walaupun 3 hari di sana. ee yang saya tanyakan terkait dengan apa? Negara maju. Negara maju itu apakah lebih cenderung pajaknya lebih rendah? Di tempat kami negara berkembang ee mohon maaf pajak lebih agak tinggi. Kemarin dengar-dengar gudang garam juga mau bangkrut karena pajak lebih besar ketimbang untuk operasionalnya. Kedua, mungkin profesor dengar di Kabupaten Pati sampai bupatinya di Unjurasa. Yang kedua, pertanyaan simpel aja, Dok, Prof. untuk menumbuhkan apa wabj pajak untuk taat dan patuh bayar pajak itu bagaimana? kami di Jabat Timur sudah berusaha untuk mengasih rewet yang ta dan batu itu dikasih umrah atau di ee kalau di internal kita tabungan sepeda itu, Prof. pertanyaan kami. Selamat siang. Terima kasih Bapak Bambang Heru. So [Musik] payes. You can go with that. How encourage people to pay? Thank you for your questions. Um, on the first question which was uh about whether Indonesia is a relatively high taxing jurisdiction compared to some of the you know other countries. Um I would say from what I know um I would say no you're not. Um what the I I think that it one of the issues with assessing whether a jurisdictions is high taxing or low taxing is to look at the progressivity of the system and who is paying the taxes. So I think that perhaps uh more so in uh some of the bigger countries or so even in Australia uh we have a progressive tax system. So in so far as income is concerned you pay a higher tax rate of income tax uh according to your income. Uh and we also er give significant concessions to lower income uh individuals where they pay no tax. Uh so the lowest income earners don't pay any tax. Now, from what I understand, Indonesia system is a little bit flatter in that respect. Um but we also have many many other additional taxes that you don't necessarily have in Indonesia and I think they're sometimes hidden uh in the in the in the statistics. Uh so for example um if you were to purchase a house in Melbourne the the city that I live in um the average house costs will will to buy the average house you'd have to pay approximately $50,000 Australian in stamp duty to the Victorian government. Now that's on top of your income tax that you pay to the federal government and on top of your consumption taxes that you pay when you purchase goods. Um the exercises you pay when you purchase a pack of cigarettes which are very high. um a whole range of the the fees you pay when you transfer a motor vehicle all of these things. So that's why I think my answer is when you take into account that entire picture I would say that Indonesia is not a particularly high taxing jurisdiction as a whole. Um, now your second question is one that I wish I knew the answer to but I have done a lot of study into which is how you get people to pay taxes. And I think that the challenge is striking a balance between uh enforcing the tax laws to force people to pay taxes to ensure they pay those taxes. And that's done through a combination of fines or audits. So these sorts of traditional approaches and I think there's always a place for that historically. And I think in Indonesia as well there's been a heavy reliance on audits and those sorts of enforcement approaches. Increasingly, however, it's recognized that you really need to balance that with policies that encourage people to voluntarily pay without being audited, without being under a threat of a fine. And that's the harder bit. It's effective but it's hard to do. So some of the things that you do and and the the overarching way that you achieve that is by having the trust and confidence of the people. If people trust that the taxes they pay they will benefit from they will see the benefit from it then they're more willing to pay. If they see that their neighbor is paying taxes and the person who is very wealthy is paying taxes as well as the and paying more than the person who perhaps isn't so well off, then people have trust and confidence and are more willing to pay. Um, now that's easy to say but it's very hard to implement. I think technology is changing that a little bit. So for example, and I know this is the case in Indonesia, it's in the case in Australia. We're increasingly using prefilling of information into tax returns particularly from um people who are employees. So it's almost impossible to avoid paying taxes if you're an employee because it's already registered with the tax office and it's already prefilled perhaps in your tax return. So it's much harder. there is taking out of the equation the issue of do I have to order someone do I have to find them do I have to have their trust and confidence but there are that only goes so far and so where it's harder is in industries such as agriculture where small and small businesses where it's much easier for that income to unrecorded unreorted and that's where I say that the trust and confidence of the people is the only way to get them to pay the taxes because you can't necessarily order to everyone. You can't order. You don't have a system that very easily can record the revenue and the tax attributable to that revenue. So you are dependent to some extent or to a large extent even on the people being willing to pay. And that's where I think you do need that uh genuine relationship of trust between tax officials, between public officials, between the policymers and the people. Without that, no system, no strategy, no policy can get full reporting of the tax revenue. Thank you, Professor Bqua. [Musik] Hello. Iya. Nak pertama saya mau bilang karena pasti orang pajak di sini pembayar pajak adalah kewajiban. Ya. Ya. Ini ditulis ya bayar pajak adalah kewajiban. Aku yang bilang begitu. Saya enggak mau enggak mau enggak mau enggak enak sama pegawai negeri ya. Bayar pajak itu kewajiban karena itu kan gaji, itu kan penanaman modal dalam infrastruktur dan sebagainya. Dan kebanyakan orang sadar bahwa itu adalah kontrak sosial. Em, tetapi kita juga harus lihat lebih dalam karena dalam satu ekonomi ada formal sector dan informal sektor. Pada umumnya orang di formal sektor membayar pajak. Pada umumnya orang di informal sector hanya membayar pajak apabila mereka beli rokok atau mobil dan sebagainya. Dan kebetulan di Indonesia informal sectornya masih besar sekali. Betul kan? Ada terakhir kali saya melihat ada kira-kira 70% di informal sector. Apakah itu tepat? ada angka beda mungkin 60% sekarang saya kurang tahu ya tapi kita kita bilang itu 70% em untuk membantu informal sector membayar pajak yang pertama itu harus gampang. Jadi di Australia kita pakai sistem namanya goods and services tax. Jadi setiap kali kita beli makanan di restoran dan sebagainya, kita membayar pajak. Emm tapi akhirnya kalau di informal sector mungkin mereka juga apabila di restoran restoran itu pun enggak enggak pakai goods and services tax. Jadi ini bikin satu masalah. Tadi Pak John bilang bahwa pajak di Indonesia kalau dibandingkan dengan ekonomi masih cukup rendah. Nah, itu rendah karena informal sectornya besar. Apakah ada negara lain yang pernah menghadapi masalah seperti ini? Sebetulnya ada. yang salah satunya Cina dulu 20 25 tahun atau 30 tahun yang lalu di Cina yang bayar pajak itu hanya perusahaan-perusahaan dari luar negeri. Kalau perusahaan-perusahaan dalam negeri pajaknya enggak seber enggak sebegitu tidak begitu banyak. Nah, sekarang politiknya agak berbeda. Berbeda kenapa? Karena ekonominya lebih formal. Jadi apabila ekonominya lebih formal, pajaknya lebih besar dan kita bisa justru mengambil pajak dan menanam modal itu bikin siklus yang positif. Em, pemerintah India melihat bagaimana itu berjalan di Cina. Dan pada tahun sebelum ee Perdana Menteri Modi, mereka sudah mengambil keputusan untuk mendigital mendigitalisasi. Betul enggak? itu pokoknya semua orang dibikin digital. Dikasih emm dikasih rekening di bank, dibilang kalau kamu mau dapat sesuatu dari pemerintah, kamu punya harus punya rekening de bank, harus punya digital identity dan sebagainya. Sehingga informal sector itu didigitalasikan. Ada kata itu aku bikin aku bikin kata Indonesia sambil bicara tapi pokoknya digitalization of the informal sector. Dan itu ternyata sangat efektif. Mereka juga ambil satu langkah lain yang agak kontroversial. mereka justru em mengeliminasikan uang tunai yang besar-besaran. J di Indonesia sekarang ada 100.000 kan. Saya tidak tahu bagaimana negara ini akan berfungsi kalau tidak ada 100.000. Tapi di India dibatalkan. Yang 100.000 itu dibatalkan. Nah, terpaksa orang yang punya banyak uang tunai di bawah tempat tidurnya, mereka terpaks dan masukkan uang itu ke dalam rekeningnya. Nah, begitulah mereka bikin transfer dari informal ekonomi diformalisasikan tidak sempurna dan pasti banyak orang yang tidak suka. Tapi itu sangat membantu sehingga negara dapat perspektif yang jauh lebih jelas tentang kegiatan ekonomi, bagaimana memajaknya dan dampaknya nanti muncul di mana. Jadi itulah beberapa contoh yang mungkin bisa membantu negara Indonesia. Emm banyak hal ini akan berjalan tanpa campur tangannya pemerintah. Jadi digitalization di Indonesia saya ini pertama kali saya ke Indonesia sejak 2 tahun dan kemarin di Jakarta saya heran bagaimana orang memakai HP untuk segala urusan. Ee jadi ini cenderung ini akan lebih cepat dan oleh karena perubahan itu di swasta dan saking gampangnya bertransaksi lewat digital, kita akan lihat migrasinya orang di formal sector masuk ke yang ekonomi digital itu. Karena di situlah pemerintah punya kesempatan yang amat sangat besar untuk mengatur sistem pajak yang lebih irit dan lebih baik. Saya optimis, Pak. Makasih. Terima kasih, Profesor Pakham. Mudah-mudahan bisa menjawab ya, Papang Heru. Sedikit intermezo. Jadi kalau punya rumah di Melbourne tadi Profesor Bakaufa bilang bayarnya 15.000 RIB Australian Dollar atau setara dengan 165 juta. Lumayan ya, Pak. Baik, selanjutnya di bagian depan. Tadi ada yang bertanya ada dua lagi. Silakan Bapak-bapak. Oke, yang pertama satu lagi. Satu saja. Oke, silakan Bapak. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ee perkenalkan saya Yazid dari BPKAD Kabupaten Gersik. Ee begini Bapak, kemarin waktu ulang tahun RI ke 80, kami melakukan diskon pajak sebesar 80% untuk PBB dan ternyata respon masyarakat sangat bagus. Banyak wajib pajak yang punya hutang mungkin lebih dari 10 tahun, mereka langsung bayar karena ada diskon 80% dari pemerintah. Apakah itu artinya masyarakat cenderung senang dengan pajak murah atau mungkin juga bebas pajak? Itu pertanyaan pertama. Pertanyaan kedua, Undang-Undang Dasar 45 pasal 33 intinya menyebutkan bahwa semua kekayaan alam di Indonesia ini dilaksana digunakan sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat. Saya melihat bahwa satu-satunya sumber pendapatan pendapatan negara dan daerah yang diatur oleh Undang-Undang Dasar 45 adalah pemanfaatan sumber daya alam. Dan itu kita sudah lihat bersama bagaimanakah sumber daya alam kita bisa memberikan pendapatan negara dan pemberatan daerah yang sangat besar. Jadi mungkin di sini saya ingin ingin mungkin kita di pemerintahan daerah butuh merubah mensit kita yang semula menjadikan pajak sebagai tumpuhan kita bergeser menjadi sumber daya alam kita sebagai tumpuhan pendapatan daerah atau barang milik daerah kita sebagai tumpuhan pendapatan daerah. Sementara itu, terima kasih. Mungkin ada tanggapan dari Profesor. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Bapak [Musik] Thank you for your questions. Um I'll deal with the first one and I'll leave to deal with the royalty question. Um the question about tax amnesties and um people's uh responses to those and whether they're good or not is a very interesting one because paying taxes is very much a psychological thing. It really is. So, a lot of the a lot of the studies, a lot of the research that I'm familiar with is actually conducted not by lawyers or tax, it's actually by psychologists, right? And people who understand the psychology of human beings. So for example if you have uh it's been shown that people respond uh best in systems where they can um uh report people who don't pay their taxes uh as long as um uh so which is quite interesting in terms of human nature in terms of amnesties uh I think they are a good idea uh but to a point because otherwise people become too reliant on amnesties uh and they it's about striking that balance of um ensuring that individuals understand that they must pay their taxes and that they won't just get an opportunity to have a discount or a an ability to not pay taxes for a particular reason. Um uh so there's a balance between that and also ensuring that there's some benevolence, some kindness in the system for those who do want to comply but perhaps for some reason haven't been able to or um are facing financial difficulties. And ultimately an amnesty can generate good will that outways the tax for gone from the individuals to whom the tax amnesty is granted through the good will that's created amongst the broader taxpaying community which gets back to what I was saying before about people wanting and being willing to pay their taxes. A system that has some concessions, some relief, some uh amnesty type situations is much likely much more likely to create that sort of environment where those who aren't directly benefiting from the amnesty or concession are more willing to pay their taxes. So I think when you look at um uh systems and approaches and strategies like these you have to look beyond just the pure revenue that you might be forgoing through uh the people who take advantage of those systems and look at the broader benefit. I mean the op to give you an example so it's wellknown that if you audit a certain segment of the community and you detect that they underpay the revenue that the gain for the revenue is not actually the amount of underpayment you detect on the audit it's the flowon effect of people understanding that if they underpay audited and they're more willing to automatically report their income many times research into it. So say 10fold so if you recover000 in an audit you might recover 10,000 uh through additional money that people are paying. The opposite is tru that the same is true when you have these sorts of concessions available to people through the confidence and the trust and the willingness to pay the good will to pay that it creates in the broader taxay community. Pak, jadi saya berusaha menjawab pertanyaan ini. Ee tadi Bapak bicara soal tax amnesty. Jadi misalnya ee hari kemerdekaan kan kita bisa dapat diskon atas tas atas ee pajak tersebut. Ya, masalahnya orang pelit seperti saya, aku akan menunggu sampai hari kemerdekaan. Jadi istilahnya kalau tax amnesty itu kalau tepat tanggalnya setiap kali kelas menengah itu membayar pajak menjadi kelas menunggu ya. Jadi ee lebih baik jangan lebih baik jangan tax amnesty itu itu bisa seperti yang dikatakan John itu bikin a psychological response yang dan hasilnya belum tentu positif. Tetapi kadang-kadang ada sektor tertentu yang mungkin sedikit liar, tidak teratur. dan pemerintah mau menguasai ekonomi tersebut. Nah, mungkin ada intervensi tertentu di mana kita masuk, kita bilang, "Waduh, orang-orang di kampung ini enggak ada yang pernah bayar pajaknya selama 50 tahun. Mulailah tahun ini Anda bayar semua." yang kemarin dikesupen aken ya betul enggak dilupakan dilupakan atau dilali dilali akeh bisa ya ya jadi memang ini semacam alat tapi kita harus strategis di mana itu dipakai nah kembali kepada kekayaan negara yang ada di bawah tanah dan ada di atas minyak, sawit, sebagainya, air kan itu ada di atas tanah itu. Betul itu kekayaan negara. Dan saya dulu pernah bekerja di minyak dan gas untuk ee ee perusahaan nama namanya Slamberj. Banyak banyak yang datang dari dari Jawa Timur yang bekerja di Slambberj dulu. Lucu ya. Satu hari saya di kantornya Slamberj di Moskow di Rusi. Saya masuk terus ada orang bicara bahasa asing. Tapi aku ngerti semuanya. Ternyata orang Indonesia kabeh mereka. Saya kok kok kok kok ada orang Indonesia di Moskow. Ah, dia jawabnya, "Oh, dulu kami kan kerja di kantor di Jakarta, ternyata gaji kita rendah, diajak pergi ke Rus. Senanglah mereka. Mereka dapat dua kali lipat gajinya di Jakarta, tapi masih masih tidak mahal dibandingkan orang Rusi." Waduh, kedinginan semua mereka. Tapi kembali lagi kepada kekayaan negara itu. Kadang-kadang perusahaan pertambangan mereka salah paham. Mereka pikir yang yang ada di bawah tanah itu punya mereka, hak mereka. Tapi sebetulnya tidak. Mereka hanya punya hak untuk mengambil dan memproses kekayaan tersebut. Jadi apabila kita mau mengatur sumur alam seperti ini, kita perlu pegawai negeri yang betul-betul paham secara komersial apa yang terjadi di industri tersebut. Nah, tidak hanya di Indonesia, di Australia juga kami punya oh kita punya pegawai negeri agak sedikit kurang dalam kemampuan tersebut sehingga perusahaan-perusahaan seperti itu mereka bisa bikin seenaknya. Jadi kita harus mendidik ee pegawai negeri dalam em kemampuan komersial sehingga mereka justru bisa berdiskusi dan bernegosiasi dengan perusahaan-perusahaan tersebut. Kalau perusahaan-perusahaan tersebut itu tidak diawasi, mereka cenderungnya bikin seenaknya. Jadi ini adalah satu kebutuhan negara bahwa pegawai negeri itu mendapat sektor knowledge atau industri knowledge yang tepat sehingga perusahaan itu dan industri itu dipajak dengan baik dan benar. Terima kasih. Terima kasih. Baik, silakan mungkin ada pertanyaan terakhir sebelum kita tutup. Bapak Ibu sekalian. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Mohon izin, Prof. saya dari BPPEDA Kabupaten Malang ee izin mencoba mensinergikan statement terakhir Pak Wagub tadi itu bahwa saat ini kami ini sebagai APD negara itu posisinya sulit. Nah, saya coba kaitkan dengan tema kita dari lokal ini untuk ke nasional. Bagaimana ikon muda? Saya tadi mengkaitkan dengan yang disampaikan Prof tentang ongkos tadi kos. Di mana ada ongkos yang itu saya tidak tahu kalau di Australia bagaimana. Ongkos itu yang mungkin itu tidak bisa dipertanggungjawabkan. Dan itu jujur itulah posisi yang disampaikan Pak Wagub tadi. itu posisi kita bagaimana untuk membuat satu strategik tadi itu ada ongkos yang itu tidak bisa bahkan sulit untuk dipertanggungjawabkan sehingga akan menuju strategi tadi itu antara sulit dan tidak tadi itu dikaitkan juga ya beda kalau mungkin di Australia di kita ada batasan kewenangan-kewenangan antara nasional provinsi dan kita di kabupaten kota ini. Jadi saya tidak tahu Prof. itu bagaimana mengemas sehingga betul-betul tema kita ini kita ini dihadirkan di sini sebetulnya menurut Prof. berdua itu strategi apa yang harus kita ambil sebagai leader di daerah. Terima kasih, mohon maaf. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] Terima kasih. Terima kasih atas kesabaran. Em, Ongkos melayani. Sebetulnya di Australia juga kadang-kadang kita juga menghadapi masalah. Saya kasih contoh satu. Jadi kita semua tahu bahwa rokok itu bahaya. Jadi pemerintah Australia bikin undang supaya rokok itu dipajak. Pajaknya sangat tinggi, jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Sehingga rokok di Australia merupakan satu pasar luar biasa untuk ya istilahnya preman-preman, Pak ya. Preman Australia ada. Tidak hanya di Indonesia, Pak. Di mana-mana pun ada preman. Preman itu adalah wirausaha di informal sector. Belum tentu jahat, tapi banyak juga yang jahat, Pak. Jadi mereka begini, Pak. Mereka menyeludup rokok dari luar negeri masuk ke Australia. [Musik] Karena pajaknya begitu tinggi atas produk yang resmi, muncullah satu pasar hitam. Nah, pemerintah federal, pemerintah nasional mereka enak mengambil pajak, tetapi ongkos kepolisian untuk mengawasi pasar tersebut itu jatuh ke pemerintah daerah. Nah, sampai sekarang di Victoria, negeri bagiannya kita dari Melbourne sedang krisus, Pak. Karena pemerintah federal memajak pasar rokok resmi secara gila-gilaan, sedangkan muncullah geng-geng organisasi tanpa bentuk. bisa dikatakan ya preman itu yang merampuk, yang menjual dan itu betul-betul menjadi satu krisis koordinasi antara ee pemerintah. [Musik] Rakyat sekarang mulai frustrasi, Pak. Tidak aman di jalan karena kita telah membentukkan satu bisnis, satu industri yang seharusnya tidak ada. Jadi kita harus mau enggak mau kita harus bekerja sama dengan kuasa di sentral pajak perencanaan ee Kementerian ee Pertanian dan sebagainya sehingga dampak politiknya ee terasa di lapungan dan kita juga bisa ee memberi feedback kepada pihak-pihak tertentu sehingga kita tidak dapat dampak sosial yang negatif. Jadi, inilah menjadi topik yang sangat panas saat ini di Australia. Saya rasa kita tinggal mungkin 1 du tahun nanti ada reaksi mungkin pajaknya di diturunkan atau polis di ee negeri bagiannya Victoria akan ditanai dengan ee sumber daya manusia yang lebih cocok untuk melawani ya masalah-masalah tersebut. Jadi ini tidak hanya masalah di Indonesia, ini berada di mana-manapun dan ini hanya bisa diselesaikan kalau kita punya jalur komunikasi antara pemerintah daerah dengan pemerintah nasional. ini berkaitan sekali dengan key performance indicators dan juga dengan mau enggak mau pers media yang cukup bebas untuk menilai politik yang gagal. Jadi ini tidak hanya tanggung jawabnya pegawai negeri tapi juga media koran televisi dan sebagainya. [Musik] Terima kasih. Saya harap itu cukup, Pak. Baik, terima kasih. Mudah-mudahan bisa menjawab, Bapak. Dan sebelum mengakhiri perbincangan atau forum pada siang hari ini, izinkan eh we would like to asking you for a closing statement, Professor, about text. you for those wonderful questions. Um, one of the things that is clear to me, so I my closing statement needs to give a little bit of background here. Okay, so uh I I have a number I have about I have 10 PhD students from Indonesia. uh all of them are public officials uh and all of them are federal officials. Many of them from the DGT from the tax office and one of the things so I become familiar over time with a number of the challenges that have been raised in this room today. And I I have students working on projects like this around themes like digitalisation around different aspects of tax compliance and how you get people to pay their taxes. How do you improve systems? How do you um deal with taxing in new or new industries or to deal with new challenges? So for example, environmental challenges. I have a project of someone who's examining the Indonesian approach to taxation of cryptocurrency transactions, for example, and Indonesia do that very well in my view. um all these sorts of cutting edge transac uh uh areas. I also interestingly a number of those projects deal with some of the challenges of um how to how to distribute revenue between the different levels of government. This is a challenge. It's a challenge that we deal with Australia as well. It's not it it may be more structured, but it's not necessarily more resolved. It still causes challenges at provincial state levels. And I so I think my closing statement would be that I think what is missing from my own background and from my own experience is having some officials, people like yourselves looking into some of these issues from the specific east Jarven perspective because it's all well and good for someone with a national lens. to looking at these issues. But just as in Australia here as well there are very bespoke challenges. So getting compliance for example uh at a provincial level might be different to the national challenges because the the ways you raise revenue, the options for raising revenue are very different. So I if I have to leave my final message I guess is this that if you have uh that that there are lots of unresolved questions such as those that you've raised today they're very important questions and we need to conduct more close and specific examination in your specific context in order to answer some of those questions in in a real concrete andly open to hearing from anyone who would like to explore some of these issues either through myself we we arevising some students who are examining some of these very similar issues. Um so I thank you again from the bottom of my heart for the invitation here today and the opportunity to hear. For me, it's as much about hearing the challenges that you face. um as well as contributing in a very small way my own thoughts to how they might be addressed. But ultimately these are questions that require detailed examination and expertise. Um and yeah, I'd welcome further conversation, further discussion. That's the only way we're going to solve these really tricky, difficult tax challenges that we all face and that have specific application for your province and your region. So, thank you again uh for the opportunity. [Musik] Terima kasih banyak. Ee matur nuwun sangat. Saya seperti saya katakan tadi, saya senang sekali karyanya Esa Mintarja ya, Nokosro Sabuk Inten itu. Ki saya mau kasih PR, PR pekerjaan rumah ya PR itu tolong membaca kembali atau kalau belum membaca buku Nogosro Sabo Inten dan membaca buku itu kepada cucu atau anak kalau punya anak atau punya cucu. tidak punya cucu cari keponakan atau tet anak tetangga. Karena dalam karyanya Esa Minarja [Musik] dia walaupun itu cerita ya dongeng zaman dulu semuanya di kayalannya Pak Siki Hati dulu dalamnya sebetulnya banyak yang nyata ada politiknya ada soal-soal kemampuan, ada soal-soal kesetiaan. Ada juga KKN ya, ada yang namanya golongan sesat. Oh, ada cinta juga. Ada Roro Willis. Jangan lupa Roro Willis kan juga pandai bersilat. Tapi sebetulnya perantauan Maha Sejenar sebetulnya beliau sedang cari apa? Ini saya tanyakan kepada Pak SH Mintarja tahun 90 kalau tidak salah sebelum beliau meninggal dia bilang begini begini do Nogos inten itu hanya satu lambang kris itu tidak ada yang dicarikan maha sejenar adalah wenang Dan inilah yang kita harus cari sebagai profesional, dosen, pegawai negeri, wirausaha kita semuanya kita cari wenang sehingga kita, saya pakai kata yang dipakaikan dalam doa tadi supaya kita ikhlas dalam peranan kita melayani masyarakat. Terima kasih banyak. ngantos kepanggih malih maturun Prof. Baik, sedikit merekap dan sebagai penutup kita tarik benang merah bahwa pembahasan dari pagi sampai dengan siang hari ini kita sama-sama mempunyai framework yang sama yaitu tentang strategi pembangunan yang harus matang dan membuat keputusan dalam setiap langkah harus dengan arah yang jelas dan juga tujuan yang terukur. Tetapi tidak hanya strategi yang cukup. Tadi juga sempat dibahas tentang cost of search di mana melayani adalah kebutuhan masyarakat termasuk juga kunci dalam pembangunan yang tidak boleh stagnan tetapi juga bergerak mengikuti zaman serta cermat menghadapi tantangan. Terima kasih untuk kehadirannya Bapak Ibu sekalian. Sekaligus kami menutup leadership forum ketiga. Akhir kata wabillahi taufik wal hidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.