File TXT tidak ditemukan.
Leadership Update Forum #3 - From Local Potential to National Progress
OY2pSFZ_8uQ • 2025-09-30
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Ya Rasul salam alaika ya habib salam alaika [Musik] menyerahkan [Musik] minhul budur m husn [Musik] Anta syamsun, anta badrun anta nurun fauq nuri antairu [Musik] anta [Musik] Ya habibi ya Muhammad ya arusan khofiqaini ya muayyad ya mumajjad ya imamalqiblat [Musik] Ya Allah hadi Muhammad. Ya Allah rabi fagfirli dunubi ya Allah biarkatil hadi Muhammad. Ya Allah. [Musik] Hadirin dimohon berdiri menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Hadirin disilakan duduk kembali. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua. Shalom. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan rahayu. Yang terhormat Wakil Gubernur Jawa Timur, Bapak Emil Elicant Dard, PhD. Yang kami hormati Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, Bapak Dr. Dres Agus Fatoni, M.Si., Professor and Director Engagement at School Business Mon University, Prof. Edward Buckingham, Faculty of Basin Economic, Prof. John Beaqua, Pelaksana tugas Asisten Administrasi umum, Bapak Dr. Ahmad Jazuli, M.Si., SI Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur beserta para kepala OPD yang hadir pada pagi hari ini. Para pejabat administrator, Kepala UPT BPENDA Provinsi Jawa Timur, Kepala Bappeda Kabupaten Kota seJawa Timur, Kepala BPPEDA dan Kabupaten Kota seJawa Timur. Hadirin yang berbahagia, puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa taala pagi hari ini kita bisa bersama-sama berkumpul dalam forum yang sangat istimewa, leadership Update Forum Ketiga tahun 2025 International Lecture dengan tema From Local Potential to National Progress Strategies for Economic Empowerment. Bapak, Ibu hadirin undangan yang kami hormati. Tentunya ini menjadi ikhtiar bagi kita sekalian pagi hari ini kita bisa menjalani dan membawa manfaat untuk kita sekalian. Untuk itu marilah kita bersama-sama berdoa dan doa akan dipimpin oleh Bapak Muhammad Kuntono. Disilakan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahiabbil alamin. Hamd yfamahu wauki mazida. Ya rabbana lakal hamdu kama yambag karim. Allahumma sholli wasallim ala sayyidina Muhammad waa alihi wasohbihi ajmain. Allahuma ya Allah ya mujibbasilin puji syukur kami persembahkan kehadirat-Mu. Berkat izin dan ridam-Mu pada saat ini kami melaksanakan pembukaan leadership update forum seri ketiga tahun 2025. Kami tadahkan kedua belah tangan kami untuk mendapatkan curahan rahmat dan kasih sayang-Mu. Untuk itu ya Allah kiranya berkenan memberkahi dan meridai acara yang kami laksanakan ini. Ya Allah yang maha mengetahui ilmu betapa luas dan tak terbatas. Oleh karena itu, ya Allah, melalui kegiatan ini anugerahkan kepada kami ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat, pemahaman yang dalam, inspirasi yang kuat agar kami mampu menggali potensi lokal untuk kemajuan nasional. Jadikanlah forum ini sebagai sarana untuk memperkuat strategi pemberdayaan ekonomi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat sebagai bekal kami dalam meningkatkan kualitas kehidupan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Limpahkanlah kepada kami semua kemudahan dan keikhlasan serta kecerdasan dan kearifan. Ya Allah, ya Rabbana, ya Karim, jadikan memum acara ini sebagai pintu dan jalan bagi turunnya rahmat dan karunia-Mu. Sehingga tugas yang merupakan amanah dariMu akan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, penuh tanggung jawab serta semangat yang tinggi demi terwujudnya kemajuan dalam pembangunan bangsa kami. Ya Allah, Tuhan yang maha pengampun, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa para pemimpin-pemimpin kami serta kabulkanlah doa permohonan kami. Rabbana atina fid dunya hasanah wafil akhirati hasanah waqinaabanar. Subhana rabbika rabbil izzati amma yasibun wasalamun alal mursalin walhamdulillahiabbil alamin. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bapak, Ibu hadirin undangan yang kami hormati. Selanjutnya akan kita dengarkan keynote speech yang akan disampaikan oleh Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Yang kami hormati Bapak Dr. Drus Agus Fatoni, M.Si. Disilakan. Asalam Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Selamat pagi. Salam sejahtera untuk kita semua. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan. Yang kita hormati bersama, yang kita banggakan Bapak Wakil Gubernur Jawa Timur. Terima kasih, Pak. Saya satu kampung sama beliau. Yang kami hormati Bapak Ibu Kepala OPD Provinsi Jawa Timur, Pak Kepala BPSDM, Pak Asisten, Pak Kepala Dinas, dan seluruh jajaran dan seluruh peserta yang kami banggakan. Yang juga kita muliakan, kita hormati Prof. Idu dan Prof. John dari Monas University. Dan hadirin yang berbahagia. bersyukur sekali saya bisa berdiri kembali di tempat ini. Saya sering sekali berada di sini berdiskusi bersama dengan seluruh pegawai dan jajaran pemerintah provinsi dan kabupaten kota seJawa Timur. Bahkan beberapa provinsi yang menjadi bagian wilayah dari BPSDM Jawa Timur. Hari ini seharusnya kita bisa berdiskusi lebih lama. Namun karena ada acara di Jakarta dan dilaksanakan lebih awal, maka saya mohon izin Pak Wagub bisa menyampaikan lebih awal dan tidak terlalu panjang. Namun demikian, nanti kita bisa berdiskusi lebih lanjut. Bapak, Ibu bisa komunikasi dengan saya baik melalui handphone, WA maupun yang ada di Instagram yang ada di situ ataupun medsos yang ada di situ silakan. itu ada nomor handphone ada ini juga ada medsos silakan juga bisa diikuti di situ. Banyak sarana komunikasi yang bisa kita lakukan. Bapak Ibu kondisi saat ini di semua daerah harus mengambil kebijakan yang efektif agar program-program pemerintah bisa tepat sasaran. Apalagi kemudian ada program pengalihan anggaran sebagian dari daerah kemudian dialihkan ke pusat. Ada yang menyebut sebagai efisiensi tapi sesungguhnya pengalihan tetapi lokusnya tetap ada di daerah. Bisa saja anggaran di suatu daerah lebih besar dibandingkan sebelumnya. Namun letaknya anggaran itu di APBN. Nah, ini istilah yang sering digunakan. Nah, problem yang utama di penganggaran kita yang pertama adalah masalah serapan anggaran yang rendah dan kemudian menumpuk di akhir tahun. Kemudian yang kedua, tidak optimalnya pendapatan. Kemudian yang ketiga, sasaran, kemudian fokus. itu tidak langsung menyentuh kepada masyarakat. Nah, oleh karena itu pelajaran COVID yang lalu ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa dengan anggaran seberapun kita harus bisa mengoptimalkan anggaran itu agar bisa dirasakan oleh masyarakat. Nah, Bapak Ibu yang saya hormati, ada beberapa permasalahan serapan anggaran ini di mana dalam serapan anggaran seringki anggaran itu muncul atau dilaksanakan atau besar di akhir tahun. Harusnya anggaran itu kita genjot di awal tahun. Kenapa harus kita genjot di awal tahun? Yang pertama agar uang itu beredar di masyarakat. Dengan adanya uang beredar di masyarakat, maka itu juga akan memancing peredaran anggaran yang lain yang berasal dari swasta. Kemudian yang ketiga, dengan uang beredar masyarakat maka daya beli masyarakat juga meningkat. Kemudian pertumbuhan ekonomi meningkat, pembangunan lebih awal bisa dilaksanakan sehingga masyarakat bisa merasakan pembangunan, negara dirasakan hadir, pelayanan publik bisa diperbaiki, dan kemudian maka timbullah kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Dengan tingkat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah semakin tinggi, maka partisipasi masyarakat juga akan semakin tinggi. Inilah pentingnya anggaran itu direalisasikan sejak awal tahun. Oleh karena itu, dalam mengatasi berbagai persoalan yang ada terkait dengan penganggaran ini, maka ada empat langkah strategis yang harus kita lakukan, khususnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di halaman 45. Nah, di situlah yang pertama kita perlu mengoptimalkan belanja daerah melalui percepatan realisasi APBD. Ini penting. Sampai dengan saat ini realisasi rata-rata masih di bawah 50%. Bahkan ada yang baru 20% ada yang kurang dari situ di setiap daerah. Berarti uang belum beredar di masyarakat. Kemudian yang kedua melakukan inovasi sumber pendapatan asli daerah namun tidak memberatkan masyarakat. Ini banyak yang bisa dilakukan. Dan yang ketiga, pemanfaatan program strategis nasional sebagai peluang pertumbuhan daerah. Oleh karena itu, daerah juga perlu mempercepat PSN ini. Contoh MBG. Kalau MBG-nya di satu daerah lambat, maka juga lambat dirasakan karena penerima manfaat belum merasakan itu. Tetapi kalau MBG-nya sudah jalan, maka anak-anak sekolah, orang miskin, kemudian ibu hamil dan seterusnya bisa merasakan itu. Oleh karena itu, dukungan agar PSN ini bisa segera dilaksanakan itu juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Yang berikutnya adalah mendorong peran swasta melalui kemudahan perizinan. Maka perizinan harus dipermudah, jangan dipersulit, jangan berbelit-belit, bahkan juga jangan kemudian diberikan beban yang tinggi kepada investor. Oleh karena itu, perlu kita lakukan kemudahan dalam memberikan perizinan. Kalau investornya banyak datang, pertumbuhan ekonomi di situ akan meningkat. Ini empat strategi utama bagaimana kita meningkatkan perekonomian di masyarakat. Namun kita juga menyadari ada beberapa kendala yang dihadapi yang dilakukan dan ini harus kita atasi bersama. Kendala yang pertama yaitu penetapan APBD seringki terlambat. Masih saja ada APBD yang terlambat. Kemudian yang kedua ini terus terjadi berulang. kelihatannya sederhana tetapi ini menjadi penyebab keterlambatan dalam penetapan pejabat pengelola keuangan seringki masih baru bulan April ditetapkan, ada bulan Mei, ada yang lebih cepat bulan Maret sehingga program belum bisa jalan kalau pejabat pengelola keuangannya belum ditetapkan. ini berulang terus karena keterlambatan menyampaikan nama, keterlambatan kita memprosesnya sehingga pejabat pengelola keuangan juga terlambat ditetapkan. Kendala yang berikutnya adalah kurangnya sumber daya manusia, pengadaan barang dan jasa, dan pengelola keuangan yang punya sertifikat masih sedikit. Padahal ini gampang sekali untuk sertifikasi bisa online sekarang dengan mudah dilakukan itu. Kemudian yang berikutnya juga yang menjadi kendala ini juga bagi pemerintah pusat kita perlu juga perlu perbaiki. Dana transfer ke daerah terlambat. Baik itu disebabkan karena keterlambatan kebijakan maupun keterlambatan di daerah. Keterlambatan realisasi, keterlambatan persyaratan salur, dan keterlambatan realisasi anggaran. ini juga menjadi penghambat. Kemudian yang berikutnya juga terbatasnya akses jaringan, gangguan keamanan dan bencana alam. Ini faktor alam juga ikut menentukan lambatnya serapan anggaran. Kemudian proses lelang sering terlambat. Hari ini saya juga mengalami hari ini masih ada yang baru akan dilelang. Baru akan dilelang. Bayangkan ini selalu berulang setiap tahun. harusnya ini tidak terjadi. Nanti ada solusi-solusi yang bisa kita lakukan. Kemudian proses lelang DEED dan juga fisik untuk infrastruktur ter cenderung terlambat. Kalau DEED-nya terlambat, maka berikutnya juga terlambat. Kemudian proses SPJ-nya terlambat, kegiatannya sudah dijalankan, tetapi pertanggungjawabannya terlambat. Ini juga menghambat realisasi anggaran. Kemudian keterbatasan sarana prasarana untuk penatausahaan melalui SIPD ini juga menjadi kendala. Oleh karena itu, kami terus akan melakukan pendampingan, fasilitasi. Kemudian kurangnya monev dari kepala daerah, dari kepala OPD tidak peduli, tidak pernah dikontrol, tidak pernah ditanya sehingga semua berjalan seperti biasa. Kemudian Kepala SKPD ada beberapa daerah yang harus izin kapan mau dilaksanakan. Nah, ini untuk daerah daerah tertentu masih ada juga kapan ini dilaksanakan. Kemudian ada kekhawatiran ASN berurusan dengan APH. Ada yang beranggapan lebih baik tidak dilaksanakan daripada dilaksanakan tapi punya masalah. Nah, ini banyak juga yang tidak mau mempunyai proyek, tidak mau pegang proyek. Banyak yang memilih jadi asisten seperti beliau ini atau staf ahli lagiah yang paling enak. Ah, ini ini banyak sekali yang mau cari selamat tapi enggak mau kerja keras tapi gajinya tinggi. Ya, ini repot ini. Tapi kalau Pak Asisten bukan karena minta tapi karena ditunjuk beliau ya. Ini menjadi problem. Oleh karena itu, strategi yang dilakukan yang pertama perlu penetapan APBD tepat waktu. Perlu ada komunikasi dari awal. Ini kerjaan rutin kita tiap tahun, tetapi seringki masih saja terkendala, masih saja terlambat, masih saja sulit berkomunikasi dengan DPRD. Harusnya kita sudah hafal apa yang dimau, bagaimana solusinya. Nah, ini nanti saya kasih tahu bagaimana strateginya. Kemudian melaksanakan pengadaan dini. Ini sudah ada aturannya, sudah jelas regulasinya, sudah ada surat edarannya. Lelang dini itu bisa dilaksanakan sejak KUA PPAS disepakati bersama. Hari ini hampir semua daerah yang sudah KUA PPS-nya disepakati sudah bisa dilelang. Jadi di tahun anggaran sebelumnya lelang itu sudah bisa dilaksanakan sejak KUA PPAS disepakati bersama. Ini berkali-kali kita sampaikan tetapi tidak jalan juga. Sehingga nanti pada saat awal tahun Januari sudah ada DPA-nya, tinggal tanda tangan kontrak. Ini akan bisa realisasi sejak awal tahun. Ini sudah jelas aturannya. Kalau ada kesulitan nanti bisa konsultasi dengan kami, konsultasi juga dengan LKPP. LKPP juga terus mendorong ini. Kemudian yang berikutnya melakukan percepatan belanja melalui e-katalog. katalog tidak perlu nunggu lagi, tinggal eksekusi. Tapi yang sering masih didiskusikan siapa, bagaimana, kapan, dan seterusnya ini berulang-ulang. Kemudian penetapan pejabat pengelola keuangan dipercepat. Bapak, Ibu kalau bisa tidak usah menggunakan tahun anggaran pejabat pengelola keuangan itu enggak udah. Kalau ada tahun anggaran 2025, maka 2026 enggak bisa jalan. Kalau tidak ada anggaran berarti di 2026 masih bisa berlaku. Oleh karena itu, pejabat pengelola keuangan tidak usah disebutkan tahun anggarannya dan toh kalau diganti pada saat terjadi pelantikan segera diganti dan itu harus segera dipersiapkan sehingga tidak lama tertunda-tunda. Kemudian melakukan pendataan dan juga mendorong percepatan proses pengadaan badan jasa sekaligus pencairannya juga dilakukan. Kemudian melakukan penyelesaian administrasi dengan percepatan pertanggungjawaban. Kemudian menyerahkan dokumen berkoordinasi dengan lembaga terkait. Kemudian Inspektorat harus memberikan asistensi, harus memberikan review kalau itu diperlukan. Kemudian peningkatan kompetensi aparatur dengan sertifikasi. Banyak sekarang pengadaan barang jasa itu bisa online kapan saja bisa tes, bisa seleksi, bisa juga bintek tanpa bayar. Kapan saja bisa. Kalau ada komitmen dari pejabat pimpinan tertinggi bahwa semua harus tersertifikasi. Kalau enggak punya sertifikat diberhentikan. Nah, itu mari berbondong-bondong. Itu andai kepala OPD kalau tidak punya sertifikat akan diganti gitu. Oh, pasti semuanya pengin punya sertifikat. Nah, gitu. ini perlu kita segera lakukan. Kemudian membentuk tim monitoring ini yang harus dilakukan. Harus ada monitoring yang terus bekerja. Kemudian kalau perlu meminta asistensi pendampingan. Nah, di dalam kondisi saat ini seperti keuangan terbatas perlu alternatif pembiayaan, maka daerah harus kreatif baik dalam rangka meningkatkan pendapatan asli daerah maupun meningkatkan dana transfer. Ada beberapa alternatif pembiayaan dari APBN, APBD. Kalau dari APBN, slide berikutnya APBN harus penguatan data untuk dana transfer terus ke bawah. Iya. Dana transfer itu basisnya data, maka datanya harus kita perkuat. Kalau datanya hanya itu saja, maka yang digunakan pusat ya data yang ada. Oleh karena itu, updating data itu perlu dilakukan. Maka kami dari Kementerian Dalam Negeri selalu memfasilitasi daerah yang ingin di-update datanya, jumlah penduduknya, panjang jalannya, persyaratan-persyaratan itu bisa kita perkuat sehingga dana transfer bisa meningkat. Yang bersumber dari APBD, dari PAD juga kita bisa optimalkan. Kemudian pemanfaatan barang milik daerah, aset daerah banyak yang mangkra ini bisa mendatangkan sumber pendapatan. Kemudian melakukan pinjaman ini salah satu alternatif yang tidak membebani. Ini juga penting agar ekonomi bisa bergerak, percepatan pembangunan berisa berkesinambungan. Kemudian mengoptimalkan BUMD. Nah, ini BUMD seringki kita tidak bisa optimal karena berbagai macam sebab. Bisa kompetensi pejabatnya, bisa masalah tata kelolanya itu bisa kita maksimalkan. Kemudian kerja sama pemerintah daerah dengan pihak ketiga dengan badan usaha ini juga bisa kita lakukan dan juga menyatukan CSR. CSR ini banyak tetapi tidak terkoordinir di Sumsel itu salah satu ada suatu sistem yang menyatukan CSR sehingga seluruh perusahaan baik itu BUMN BUMD swasta melaporkan CSR-nya digunakan untuk apa sehingga kita bisa sinkronkan, kita bisa koordinasikan nanti pengunyaannya untuk apa. Bapak Ibu ingin rasanya berlama-lama di sini namun waktu memisahkan kita. Namun demikian, kapanp kita bisa ketemu lagi. Semoga kita semua panjang umur, sehat, dan dimudahkan dalam menjalankan tugas. Semoga Tuhan yang maha kuasa Allah Subhanahu wa taala selalu melindungi kita semua dalam pengabdian. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Om santi santi shanti om namo buddhaya. Salam kebajikan. Mohon izin Pak Deras panggung karena akan dilanjutkan dengan penyerahan cindram. Kami undang dengan hormat Wakil Gubernur Jawa Timur didampingi Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur and also we would like to invite Prof Edward Buckingham and Prof to come up to stage for momento given by Vice Governor of East Java [Musik] Mohon izin, Pak Wagup akan memberikan terlebih dahulu kepada Pak Dirjen. [Musik] Izin, Pak Wag. Bapak, Ibu boleh kita berikan tepuk tangan. [Musik] Selanjutnya momento juga akan diberikan kepada Prof. Edward Buckingham. Boleh kita berikan semangat. Last but not least Prof. Sekali lagi Bapak Ibu boleh kita berikan tepuk tangan berkenan untuk foto bersama. [Musik] Baik, terima kasih. Selanjutnya kami silakan untuk kembali ke tempat. And now we would like to invite you to return to your seat. [Musik] Sekali lagi memberikan semangat. Boleh kita berikan apresiasi Pak Dirjen. Matur nuwun untuk rawuhnya di BPSDM Provinsi Jawa Timur. Bapak, Ibu hadirin undangan yang kami hormati. Kami akan melanjutkan acara pada pagi hari ini. Selanjutnya akan kita dengarkan bersama laporan Kepala BPSM Provinsi Jawa Timur. Yang kami hormati Bapak Dr. Ramlianto, SPMP. Disilakan. [Musik] Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Salam sehat dan salam sejahtera untuk kita sekalian. Selamat pagi. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan. Yang terhormat dan kita muliakan bersama Bapak Wakil Gubernur Jawa Timur Bapak Dr. Emil Elistianto Dardak. Terima kasih kami yang tulus atas perkenan hadirnya Pak Wakil Gubernur di tengah kesibukan yang luar biasa. Kehadiran Bapak menjadi kebanggaan dan semangat bagi kami semua. Kami tahu sampai menjelang subuh tadi, Pak Wakil Gubernur masih berada di lokasi kejadian runtuhnya bangunan pesantren Alhosini di Sidoarjo untuk mendampingi Ibu Gubernur. Bahkan di awal kejadian Pak Wakil Gubernur memimpin secara langsung tim gabungan yang sedang melakukan evakuasi dan penyelamatan para korban di lokasi kejadian. Kita semua turut berduka atas kejadian tersebut. Semoga semua korban dapat diselamatkan dan kejadian serupa tidak terulang kembali. Terima kasih, Pak Wakil Gubernur. Semoga selalu dikaruniai sehat walafiat. Yang kami hormati dan kami banggakan tadi Pak Dirjen Keuangan Daerah sekaligus PJ Gubernur Papua yang tadi sudah menyampaikan ke speech. Our highest respect and warm welcome to the distinguished speakers. who have traveled from afar professor Edward Buckingham and Profua from University Australia we sensor thank you for your present today and we look forward to the involuable insight you will graciously share with all participant in this forum thank you so much yang kami hormati Bapak Ibu para pejabat pimpinan tinggi di lingkungan pemerintah Provinsi Jawa Timur dan para pejabat pimpinan tinggi di lingkungan pemerintah kabupaten kota yang kami undang dari BPPEDA dan BAPENDA. Bapak, Ibu para pejabat fungsional, para pejabat administrator, dan seluruh hadirin yang kami banggakan. Kami menyampaikan terima kasih yang tulus atas perkenan hadirnya Bapak Ibu semua yang tentu dengan kesibukannya masing-masing masih menyempatkan diri untuk belajar bersama kita di BPSDM Provinsi Jawa Timur. Dengan senantiasa mengharap rida Allah subhanahu wa taala, izinkan kami melaporkan kepada Bapak Wakil Gubernur perihal kegiatan yang akan Bapak buka dan hari ini bahwa Leadership Update Forum merupakan program pengembangan kompetensi berupa microlearning untuk para pejabat pada level kepemimpinan strategis di Pempr Jatim dan kabupaten kota di Jawa Timur. Program ini merupakan salah satu ikhtiar kami menerjemahkan arahan Ibu Gubernur Jawa Timur bahwa para pemimpin birokrasi di Jawa Timur harus terus melakukan update dan upgrade secara berkelanjutan agar tetap relevan dengan lingkungan strategisnya. Kami laporkan Bapak Wakil Gubernur bahwa LOU dimulai pada tahun 2004 yang lalu dan dilaksanakan tiga kali dalam 1 tahun. untuk tahun 20 2025 ini hari ini adalah yang ketiga. Kebetulan yang pertama juga Pak Wagub yang membuka. Bapak Wakil Gubernur yang kami hormati, kami laporkan dengan hormat bahwa LOU ketiga tahun 2025 ini sengaja mengambil tema strategis from local Potential to National Progress Strategies for Economic Empowerment. sebuah tema yang kami angkat setelah melalui diskusi dengan beberapa tim kami bahwa persoalan potensi lokal yang belum tergali secara baik di tengah tadi kebijakan-kebijakan efisiensi dari pemerintah pusat perlu kembali dikembangkan sehingga kami mengundang dua narasumber hebat dari Monas University. Dan untuk kegiatan kali ini kami laporkan Bapak Wakil Gubernur diikuti oleh sekitar 200 orang peserta baik pejabat pimpinan tinggi pratama di lingkungan PEPR Jatim, para kepala Bappeda atau sebutan lainnya, para kepala BPEDA atau sebutan lainnya dari kabupaten kota Jawa Timur. Dan kami mengundang khusus Pak Wakil Gubernur, para kepala UPT Bapenda seJawa Timur, serta pejabat administrator dan fungsional di lingkungan pemerintah Provinsi Jawa Timur. Demikian beberapa hal yang dapat kami laporkan, Pak Wagup. Selanjutnya mohon dengan hormat Bapak Wakil Gubernur Jawa Timur untuk berkenan membuka kegiatan ini sekaligus berkenan menyampaikan sambutan pengarahan. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] Bapak, Ibu hadirin undangan yang kami hormati. Selanjutnya sambutan sekaligus membuka acara leadership update forum ketiga tahun 2025 oleh Wakil Gubernur Jawa Timur. Yang terhormat Bapak Emil Elicantak, PhD. Disilakan. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Selamat pagi. Salam sejahtera untuk kita semuanya. Shalom. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan. Rahayu. Yang kami hormati tadi bersama kita Bapak Dr. Agus Fatoni selaku Dirjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri dan PJ Gubernur Papua. Izinkan saya menyapa distinguish akademik yang hadir pada kesempatan ini, professor and director of engagement at the School of Business Monas University Australia, Professor Edward Buckingham as well as Professor John Bakaqua, also faculty of business and economics. Welcome, Pak to Jawa Timur Surabaya. Plt. Asisten Administrasi Umum Bapak Dr. K. H. Sekarang ini ya, K. Ha. Ahmad Jazuli. Soohibul bait sekaligus sohibul hajat Bapak Dr. Ramlianto, Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur. Ibu, Bapak sekalian, jika perkenankan saya ingin kita mengajak kita untuk ee membaca Al-Fatihah, berdoa. Ada dua kitab Al-Fatihah. Jadi, mungkin dua kali al-Fatihahnya. Yang pertama untuk almarhumah ibunda Pak Ramli yang belum terlalu lama ini berpulang ke rahmatullah. Insyaallah husnul khatimah. Bapak dan semoga salah satunya amal jariah yang tidak terputus adalah anak saleh yang mendoakan. Nah, kita ini sebagai sahabat-sahabat Pak Ramli juga ikut mendoakan almarhumah. Yang kedua adalah kepada korban dari peristiwa kemarin sore ee yang saat ini ee yang paling memang membuat kami betul-betul ee dalam kondisi yang sulit dan kondisi yang penuh dengan ee saya tidak bisa menggambarkan deskripsinya ya ee terminologi atau diksi yang tepat untuk menggambarkan rasanya. Tapi ada sebuah keterpanggilan yang mengusik pikiran luar biasa saat mendengar tanda-tanda kehidupan yang jelas masih ada di dalam. Namun masih belum bisa kita pastikan bagaimana cara menyelamatkan anak yang bersangkutan. Namun dalam suasana dan tantangan lapangan sesulit apapun satu demi satu personil dari Basarnas dan Damkar dan semua tim pendukung dengan tambahan alat yang perlahan-lahan mulai berdatang. Enggak perlahan-lahan sih, satu persatu mulai berdatangan karena mobilisasinya memang tidak bisa instan tapi dipercepat semua. Itu bisa diselamatkan. Jadi kita tetap optimis. Maka kami mohon doanya. Kami mohon doanya karena ada salah satu orang tua yang semalam dengan ketegaran dan penuh harapan terinfo dan menyaksikan video yang beredar suara anaknya sedang berkomunikasi dengan petugas. beberapa anak mungkin dari semalam sudah tambah empat anak lagi dikeluarkan sejak tengah malam ya sampai pagian ada tim tambahan dari Semarang yang memperkuat tapi anak yang justru orang tuanya ini dengar ini belum terevakuasi ya jadi mohon kita menunduk Palestina kita al-fatihah kepada almarhumah ibunda Pak Ramli dan juga kepada semua yang ada di lokasi baik yang bertugas dan yang akan diselamatkan supaya diberikan keselamatan. Alfatihah. Terima kasih rekan-rekan kepala OPD yang hadir pada kesempatan ini. juga saya terinfo ada pejabat administrator dan kepala-kepala UPT Bapenda serta Kepala Bapeda kabupaten kota seJawa Timur dan Kepala Bappeda kabupaten kota se Jawa Timur hadir semua di sini. Bagi yang dari Pemkap dan Pemkot kami haturkan selamat datang di BPSDM Provinsi Jawa Timur. Em saya mendapat amanah khusus dari Bu Gubernur untuk memastikan bisa mewakili beliau pagi ini. Kenapa ini menjadi penting? Memang ee roda pemerintahan harus terus berjalan. Inilah fungsinya ada Gubernur, ada Wakil Gubernur, ada Sekretaris Daerah yang dalam kapasitas saat ini juga menjadi kepala BPBD. Jadi kalau Pak Gatot itu kalak kepala pelaksana BPBD. Namun sejatinya Kepala BPBD secara struktur formalnya adalah SekDA. Betul Pak Jazuli ya. Ini Sekda ngelotok betul ini soalnya dulu beliau ini ya. Jadi inilah yang kemudian kenapa hari ini jadi penting ngumpulkan semua Ibu Bapak sekalian di sini ini bukan hal yang mudah karena semua punya tugas-tugas urgen masing-masing yang dijalankan. Dan efektivitas dari sesi pagi ini menentukan kemaslahatan 42 juta warga Jawa Timur yang kita layani bersama. Nah, salah satunya adalah bagaimana memiliki perspektif yang lebih luas mengenai leadership dan hari ini ada Profesor Buckingham dan Profesor Bebakua dari one of the best universities in the world, Monash University. Menurut saya ini terobosan, Pak. Mungkin leadership update forum yang pernah ngundang faculty member dari luar negeri baru ketiga ini. Kita berikan apresiasi kepada BPSM. Very impressive. Nanti pakai bahasa apa, Pak? Bahasa Jawa, Pak. Prof. Bakiham akan menggunakan bahasa Jawa, bahasa Indonesia or English. Pak, will you deliver your presentation in English or bahasa? campur-campur. How about Profesor Bebaku, beliau? Saya ketemu pada saat saya diundang eh di visiting eh fellowship dari DFAT ya, Waktu, Department of Foreign Affairs and Trade Australia. Jadi ee pemerintah Federal Australia mengundang saya mensponsori juga semuanya untuk eh ke Melbourne. Di antaranya kami mengunjungi eh Indonesia Australia Center Study yang ada di Mesh yang diinisiasi pertemuan antara Presiden Yudoyono dengan waktu itu Amerika eh ulangi maaf Australia perdana menterinya at the time who was the then prime minister was it Kevin R or no it was after him or Tony Abbot or was it Tony Abot? Scott Morrison. Oke. So, eh Perdana Menteri Morrison dan Presiden SBY waktu itu kemudian bertemu dan terinisiasilah center ini. Dan kemudian eh sampai 2022 kita tahu Pak SBY purna 2014. Artinya selama 8 tahun berdiri sampai and today it's still in operation. It has a specific office. Ada kantornya sendiri di sana. Jadi beliau bisa bahasa Indonesia ya. Tapi saya tidak tahu kalau untuk paparan beliau prefer. Nanti ada terjemahannya, Pak. Oh, ada. There is a translation service ya. Dan eh Profesor Befak juga hadir di sini. Temanya from local potential to national progress. From local potential to national progress. Kalau ngomong soal Jawa Timur, kalau ngomong soal Jawa Timur dari 38 provinsi di Indonesia seper hampir hampir seperenam dari perekonomiannya disumbang dari Jawa Timur. Ada 38 provinsi tapi hampir 1/enam perekonomiannya dari Jawa Timur. Lalu kalau kita bicara spesifik mengenai sektoral, kontribusi sektor manufaktur Indonesia, saya ulangi Jawa Timur itu lebih dari 22% dari Jawa Timur kepada Indonesia. Kalau kita round up, kita bulatkan hampir seperempat. Ada 38 provinsi tapi hampir seperempat manufakturnya disumbang dari Jawa Timur. Untuk perdagangan ada 38 provinsi, saya ulangi lagi tapi seperlima dari perdagangan Indonesia itu dari Jawa Timur. Termasuk kita ketahui 80% dari logistik ke wilayah timur Indonesia ini di salurkan via dari Jawa Timur. Nah, ini adalah realitas signifikansi. Tapi apakah kemudian artinya kita tinggal bisnis as usual, melanjutkan apa yang sudah ada itu sudah cukup untuk mengubah potensi lokal menjadi kemajuan bangsa atau kemajuan nasional. secara jumlah penduduk mungkin karena begitu Jawa Timur bergerak seperenam penduduk Jawa Timur Indonesia juga ikut bergerak otomatis secara proporsi jumlah penduduk proporsi PDRB keunggulan sektoral termasuk di pertanian sekalipun kita adalah provinsi yang 30% lebih sumbangan ekonominya dari manufaktur. Tapi kalau bicara mengenai komoditas pertanian, kita ini nomor satu, baik itu kita bicara padi, kita bicara tebu, kita bicara susu, kita juga bicara telur. Ini masih Jawa Timur juga yang menjadi tumpuan lumbung pangan nasional. migas lebih dari seperempat lifting migas kita itu ada di Cepu Bojonegoro. Nah, makanya memang bagaimana kemudian seluruh potensial ini bisa kita optimalkan meskipun di saat yang sama kita dihadapkan pada tekanan jumlah penduduk yang luar biasa. Kalau kita mau ekstensifikasi lahan pertanian, mungkin sudah sangat sulit mencari lahan yang belum ditanduri atau belum ditanami karena sudah tercover semua. Inilah sebabnya memang kita harus betul-betul bisa meningkatkan produktivitas dari seluruh elemen faktor produksi yang ada di Jawa Timur. Apakah itu tanah atau resources, apakah itu sumber daya manusianya, apakah itu antepenernya, semua harus bisa kita maksimalkan. Jadi ini bayangkan dalam 1 triwulan 3 bulan aja uang yang berputar di Jawa Timur ini 850T kurang lebih kalikan 4 artinya kita bicara berapa? 3.400 triliun. 3.400 triliun anggaran kita 20 kalau belum dikurangi. Kalau sudah dikurangi bisa 26 ya. Jadi tidak ada 1%-nya dari total perputaran ekonomi. Kemarin ditanya di dewan, kalau perekonomian tumbuhnya di sini kan tumbuhnya kita 5,23%. Kok PAD-nya tumbuhnya hanya 2% katanya begitu. Nah, kami sampaikan bahwa pertama harus kita lihat dulu yang linier dengan pertumbuhan ekonomi biasanya adalah objek pajak yang bersifat terhadap penghasilan dan nilai tambah yaitu PPN dan PPH. Itu satu. Yang kedua, artinya secara sektoral kita ini kan kewenangannya ada di dua sektor yang memang saat ini tentunya laju pertumbuhannya tidak otomatis sama dengan laju pertumbuhan agregat. Laju pertumbuhan agregat sektor manufaktur mungkin beda dengan sektor otomotif. di mana sektor otomotif menjadi satu-satunya tumpuan pajak kita melalui pajak darah bermotor dan pajak bahan bakar kendaraan bermotor. Begitu pula dengan satu lagi sumber yang besar adalah pajak rokok yang mana kita ketahui bahwa ini sektor yang memang ee penuh kehati-hatian dalam mengelola kesinambungannya. Ada potensi lain seperti Badan Layanan Umum Daerah Blood yang sekarang direkognisi sebagai retribusi ya. Bukan lagi sebagai itu, tapi sebagai retribusi dulu dicollek kemudian akhirnya itu menjadi PAD. Kalau sebelumnya mungkin dia masuknya di lain-lain. Sekarang masuknya sebagai PAD eh apa maaf sebagai retribusi blut. Ada BUMD. Nah, namin ada catatan juga terhadap BUMD seperti apa. Kami sudah dikasih data pertumbuhan dari ee PAD kita dan pertumbuhan dari ee laba BUMD kita. Di mana memang dalam iklim bisnis seperti saat ini bisa bertahan laba juga sebenarnya sesuatu yang ee impresif ya. Tidak selalu laba itu tumbuh linier dengan pertumbuhan ekonomi karena ada tantangan-tantangan khusus. di bidang-bidang tertentu dan ada keputusan strategis katakanlah untuk menahan atau melakukan retain earning di dalam buku. Tapi kurang lebih seperti itu. Jadi sekali lagi itu belanja pemerintah tadi kalau di tootal dengan Pemkap, Pemkod pusat ini kurang lebih itu kira-kira 5%-an lah kontribusi dari government expenditure. Consumption menyumbang kurang lebih 60%. Government expenditure sekitar 5%. semua jenjang itu. Lalu investment kurang lebih 26 sampai 27%. Jadi yang besar itu sebenarnya consumption dan investment. Namun demikian, government spending ini bisa menjadi ibaratnya untuk nyalain mobil sebenarnya tenaga yang dibutuhkan itu kan lewat starter tuh mendongkret tuh kecil cetek. Baru kemudian dia bisa mengungkit power yang sedemikian besar. Nah, government expenditure ini seperti starter kalau diibaratkan oleh Pak Dirjen Keuangan Daerah tadi. Jadi, kalau sampai kemudian belanja ini tidak efektif, maka ini akan sangat berdampak kepada roda perekonomian kita. Jadi, ada sebenarnya jangan hanya lihat, "Oh, Pak, cuma 5%." Tapi 5% ini dari sisi timeliness dan quality of spending. Kalau itu dipakai lebih banyak untuk mendatangkan barang impor dari luar, dia tidak berkontribusi terhadap pengungkitan ekonomi kita. Kalau dibelanjakannya numpuk di ujung, maka peluang untuk menjadi pengungkit ekonomi sepanjang tahun menjadi mengecil. ini kenapa selalu ada semacam bahkan boleh dibilang seperti obsesi bahwa harus ada belanja yang betul-betul ee efektif dan tidak ditunda-tunda. Tadi saya juga mengalami, Pak. Pertama kali saya tahu bahwa ternyata udah ada duitnya aja belum bisa ngapa-ngapain. Itu waktu saya kerja di World Bank di Bank Dunia. Saya ee dalam tim yang kami eh berjuang dan mendapatkan dana hibah dari Global Environment Facility untuk pengembangan panas bumi di Kementerian SDM senilai 4 juta dolar. Kalau di kurs hari ini itu sudah hampir 65-an. 65-an miliar artinya ya itu mau dilaksanakan SK PPK-nya belum ada. itu sudah bulan Februari dia bilang, "Kita harus jalan karena time-nya mepet." Biasanya, Pak, untuk SKSK baru beres Maret. Terus dari Januari ngapain aja? Kalau SK pejabat-pejabatnya itu baru beres Maret, kita berjuang gimana caranya bisa Januari. Karena kalau sudah procurement dari lembaga multilateral itu kan ada tahapnya. Ada yang namanya no objection letter. Kalau masih tahap prakualifikasi ada no objection letter terhadap request for prequalification atau EOI expression of interest. Setelah diortlist minta nol lagi no objection letter. Kadang ada yang bisa dikip ya langsung. Kemudian terhadap dokumen lelang no objection letter lagi untuk diberikan kepada yang lolos shortlist. Lalu setelah evaluasi di no objection letter lagi baru terakhir no objection terhadap kontrak. Bayangkan kalau kemudian itu mundur tambah panjang. Jadi kita berjuang waktu itu bagaimana supaya bisa beres di bulan awal enggak nunggu Maret itu sebenarnya. Nah, itu jadi betul banget tadi. Makanya melakukan lelang setelah kua PPAS ini sesuatu yang luar biasa. Tapi gimana Pak Arif? Bisa sudah ini KUA PPAS kita kan sudah ya Pak Yasin ya. Nah, tapi tidak ada jaminan bahwa yang sudah dikaps pasti akan termaterialisasi kan. Bisa saja tidak ikut dalam apa yang diketok di final APBD atau bisa jadi mempertimbangkan realisasi dan perubahan-perubahan dari pusat ataupun dari kondisi sekitar bisa tidak dilaksanakan. Nah, ini nanti kan tentu ada mitigasinya sejauh mana kita bisa berkontrak. apakah bisa berkontrak atau sekedar menunjuk pemenang dan kontrak dilakukan di tahun anggaran yang efektif. Ini yang perlu di ya jadi itu sekelumit dari apa yang tadi dibahas oleh Bapak ee Dirjen tadi ee Ibu Bapak sekalian. Saya mungkin enggak terlalu mengikuti slide karena ini sesuatu yang pasti sudah sering di dilihat oleh Ibu Bapak sekalian ee keseharian karena ini leadership update forum kita ingin widening perspektif. Kita ingin lihat perspektif yang berbeda. Kemarin juga dari DPRD memberikan kritik mengenai kenapa belanja modal kita turun, belanja pegawai tinggi, tapi mereka enggak lihat bahwa belanja pegawai juga turun sebenarnya dibanding realisasi 2025 di APBD perubahan dan APBD 2026. Sebenarnya belanja pegawainya ada turun malah. dan dikatakan bahwa bagaimana kita bisa berinvestasi, tapi kita harus menyadari bahwa investasi kita untuk masa depan Jawa Timur ini tidak selalu dalam bentuk yang dikategorisasikan sebagai belanja modal. Contoh dikatakan tolong efisienkan anggaran dan tingkatkan belanja infrastruktur. Padahal ada yang dari Disub enggak di sini ya? belanja untuk transjatim kategorisasinya belanja modal atau belanja barang dan jasa? Belanja barang dan jasa karena kita menggunakan konsep buy the service. Udah enggak zaman lagi kita beli bus, kita yang ngerawat bus, ngerawatnya juga mungkin bingung ngerawatnya gimana dan akhirnya kita beli sesuai kemampuan. kita berkembang sesuai kemampuan kita beli. Tapi kalau kita pakai buy the service, kita bisa rute koridor sudah berapa sekarang? Lebih dari lima koridor sudah dilayani. Mungkin kalau kita harus nyediain bus sendiri, satu koridor aja ngos-ngosan kita menenuhinya. Itulah yang disebut by the service. By the service. Nah, ini ini salah satu contoh bahwa memang kita harus ee bisa menyampaikan kepada publik gitu dialektika ini. Dan kita enggak boleh menyalahkan rekan-rekan dewan yang mengkritik karena memang itu tugas rekan-rekan dewan untuk menjadi check and balance. Kalau kita tidak punya check and balance ya bablas nanti kita. Ada beberapa hal yang tentu perlu jadi perhatian. Saya tahu yang kita konsern adalah aset. Kalau kita hitung berapa nilai aset yang dimiliki oleh pemerintah provinsi dan return yield yang dihasilkan, ya memang PR kita besar. Mungkin kebayang gitu kalau ada aset management company, serahkan saja aset itu kepada seorang profesional. dia dapat remunerasi proporsional terhadap revenue yang dia bisa generate dari aset itu. Mungkin lebih optimal lagi tuh aset-aset itu untuk di hasilkan yield-nya untuk pembangunan Jawa Timur. Kira-kira begitu. Semacam dana abadi tapi bentuknya aset kan gitu ya. BUMD kita pun ada dua klasifikasi. Ada memang BUMD yang performing well, ada BUMD yang ada tiga lah. Satu performing well, satu performing istilahnya lehernya di atas air, satu tenggelam. Iya. Enggak, karyawan enggak digaji. Dan kalau dilihat dari sektor bisnisnya, ada yang bergerak di bisnis yang swasta juga sudah banyak main di situ. Dan beda kalau orang naruh duitnya sendiri dipertaruhkan itu beda drive-nya. Jadi pengusaha itu swasta dia punya pertarukan saya ya noosor-ndelosor nih kalau bisnis ini jebol. Wah dia akan berjuang habis-habisan supaya bisnis itu jalan. Tapi ya mohon maaf kalau misalnya dia government own tapi melakukan bisnis yang sebenarnya swasta bisa melakukan ya daya saingnya memang enggak enggak mudah mengelolanya gitu. Nah, pertanyaannya apakah masih perlu negara via pemerintah provinsi bergerak di sektor yang sebenarnya swasta sudah mumpuni bahkan jangan-jangan lebih mumpuni dari kita kan gitu. Nah, ini nanti pertanyaannya bagaimana? Jangan sampai ada PHK, jangan sampai. Nah, itu kan yang harus dipikirkan step by step. Menteri keuangan dengan jelas ngomong, "Ini kata-kata Menteri Keuangan contohnya, kenapa kok cukai dibuat tinggi?" katanya. Ya, Pak. Emm, setelah dipelajari kalau cukainya diturunkan pendapatan meningkat enggak? Meningkat loh. Artinya kan negara sebenarnya akan dapat lebih banyak kalau cukai diturunkan. Ini saya persis ngutip kata-kata Pak MenQ Purbaya Yudi Sadewa dulu 2000 10-an ya. Dulu saya pernah menjadi tim beliau saat beliau menjadi staf khusus paahatara jasa Menko Perekonomian. Nah, beliau ngomong baru-baru ini kalau cukai diturunkan, pendapatan meningkat loh. Terus kenapa enggak diturunkan aja gitu kan ya? Karena tujuannya bukan hanya soal pendapatan, tapi memang pengin ngerangin orang ngerokok. Nah, terus yang kerja di sana gimana? Udah disiapin belum lapangan kerja alternatifnya? belum. Nah, maka beliau enggak setuju di situ. Ya, kalau Anda akan nyekek satu sektor, bangun sektor yang lain untuk menampung mereka semua. Belum siap ya jangan dicekek. Akhirnya keputusan beliau cukai tidak di naikkan dulu. Walaupun beliau sempat bilang sebenarnya dia juga mikir mau menurunkan tapi pengusahanya doanya mintanya cukainya yang penting enggak naik gitu. Jadi mungkin intelnya kurang dalam juga mempelajari kemauan Pak MenQ gitu ya. Atau mungkin. Tapi mudah-mudahan masih ada ruang satu lagi nih. Ini yang itu pelaku UMKM, UMKM ini ya. Waktu saya ditanya soal bagaimana nanti rokok ilegal ini, Pak? Gitu kan. Padahal kita tahu bahwa rokok yang membayar cukai, cukai itulah yang kemudian membiayai rumah sakit yang kita bangun. Ya tentunya rokok ilegal kalau pemerintah pandangannya ya tentu harus bayar cukai. Kira-kira gitulah. Iya kan? Nah, tapi ternyata respon di Akarub bervariasi termasuk dianggap merugikan petani tembakau. Statement seperti itu. Nah, ternyata karena banyak sekali pelaku usaha skala-skala kecil. Usaha skala-skala kecil. Jadi bukan pabrikan merek besar. Nah, mungkin yang itu ada konsep yang namanya cukai kelas 3 yang diharapkan bisa diwujudkan. Jadi dibedakan. Nah, ini apakah akan meningkatkan kepatuhan, mengurangi peredaran rokok yang tidak membayar cukai? Itu sesuatu yang perlu dialami, gitu. Nah, itulah dinamika dinamika yang yang dihadapi. Ee manakala kita bicara mengenai ee sektoral tadi, bagaimana soal pendapatan pendapatan kita sekali lagi tadi yang BUMD tadi kan. Makanya bagaimana kemudian ee kita bisa me merespon dengan tepat. Nah, Ibu Bapak sekalian satu lagi yang saya pernah ngomong di sini saya akan sampaikan lagi bahwa ini rekan-rekan kepala Bapeda dan Bapenda juga di kabupaten kota maupun strukala OPD bahwa kita adalah birokrat ya, panjenengan adalah birokrat tapi yang menjadi leadernya adalah political eh elected, politically elected official. Nah, elected official ini tidak bisa steril dari dinamika di luar. Harapan kita teknokratik murni bisa diwujudkan harapan kita. Tapi mari kita bersifat realistis. Tentu tidak sesederhana itu. Nah, tapi tentu ada bedanya antara pragmatis kompromistis yang kebablasan dengan sesuatu yang masih dalam koridor teknokrasi masih bisa diterima. Nah, tantangan Ibu Bapak sekalian sebagai leader adalah memahami koridor tersebut. Jangan pokoknya yang bisa hanya ini. Kalau sudah begitu siap-siaplah hidup bagaikan berada di tepi juranglah, berurusan dengan bupati jenengan, dengan walikota jenengan. Kalau bahasanya ya hanya ada satu cara, ada buffer, ada koridor mengenai sesuatu yang technically implementable ya dan kemudian memilih bagaimana itu menjadi politically acceptable. Idealnya begitu. Maka kita beroperasi dalam sebuah spektrum. Yang paling ideal adalah yang formulasinya itu paling tepat. Tapi dari tapi ini bukan. Jadi jangan anggap bahwa kebijakan ini sifatnya itu hanya singular tapi bayangkan ini sebagai sebuah spektrum yang secara teknokratis masih bisa dilakukan tapi politically ya ini juga acceptable. Itu tantangan birokrasi hari ini. Mulai dari ini kan bapeda semua kan, mulai dari perencanaan. Orang ngomong mandatory spending gitu termasuk mandatory spending on infrastructure itu kan disangkanya belanja modal infrastruktur. Infrastruktur mandatory spending 40% mandatory spending kesehatan 20% mandatory spending pendidikan 30% udah 90% aja. Terus untuk pembinaan ekonomi berapa? 10% kan cukup. Jadi earing yang seperti ini realistis atau enggak gitu. Belanja pegawai Jawa Timur 9T 70%-nya untuk pendidikan dan kesehatan. Kira-kira begitu. Jadi ya memang tentu salah satunya kita ikutkan ke dalam mandatory spending kan proporsi belanja pegawainya itu sendiri. Nah, yang infrastruktur tadi itulah yang kita definisikan sebagai pengeluaran yang produktif tadi ya. Ada infrastruktur. Tapi infrastruktur itu sebenarnya kalau menurut peraturan presiden terbaru mengenai tahun 2015 kalau enggak salah ya ee mengenai kerja sama pemerintah dan badan usaha, pendefinisian infrastruktur itu ada economic infrastructure, ada social infrastructure, ada environmental infrastructure. Nah, social infrastruktur itu sekolah, rumah sakit, itu juga infrastruktur, social overhead capital. Jadi kalau ditanya belanja infrastruktur, dia bisa masuk di dalam situ, bisa masuk di dalam kategori pendidikan maupun kesehatan ya kategorisasinya. Nah, jadi itu kira-kira yang bisa kami sampaikan dan Bapak-bapak sekalian eh lessons learn dari apa yang terjadi kemarin. Dalam situasi seperti ini memang ada yang mengatakan bahwa ya keahlian saya, tupoksi saya adalah melaksanakan tugas sesuai dengan ya tadi mohon maaf saya ulangi tupoki kira-kira gitu. Tapi hari ini di era media sosial kita semua adalah communicator. Kita semua dituntut untuk melakukan komunikasi publik. Dan ini bukan sesuatu yang mudah. kita juga beroperasi tidak terisolir dari entitas lain. Ada juga kerentanan dan kepekaan sosial yang harus kita miliki. Contoh hari ini tentu menyikapi kejadian runtuh bangunan kemarin. Tidak sedikit dari masyarakat kita yang kemudian fokus mengenai penyebabnya dan siapa yang harus dipersalahkan. Betul enggak? sebuah menjadi sebuah menjadi sebuah norma seakan-akan yang berlaku bahwa dalam sebuah kejadian fokusnya langsung kepada sebab dan pihak yang harus dipersalahkan. Ini harus terjawab memang sebagai upaya korektif untuk ke depannya. Tapi kita berurusan dengan hati dan jiwa. Sehingga pada saat kami ditanya kemarin, "Bapak, bagaimana kira-kira apa penyebabnya?" Kami sampaikan fokus kita adalah pada penyelamatan nyawa. Nah, ini contoh bagaimana kita harus Nah, yang kedua juga ternyata setelah kami keliling dengan berbagai pihak termasuk terakhir pada saat Ibu Gubernur kemudian ke lapangan setelah mempercepat kepulangan beliau dari acara misi dagang yang relatif menurut kami sukses dengan meraih transaksi R triliun, beliau kemudian langsung kembali mempercepat dan lari-lari di bandara untuk mengejar kepulangan bisa ke Surabaya. Dan tengah malam beliau di lapangan. Betul. Ternyata banyak orang tua yang bayangkan enggak tahu anaknya selamat atau tidak, tidak diperkenankan ke lokasi karena berbahaya, hanya bisa memantau dari kejauhan. Dan mereka bertanya-tanya apakah tim itu masih melakukan pencarian atau sudah give up. Jadi ternyata constant message of hope itu menjadi penting. Nah, kehadiran leader itu bisa memberikan message of hope tadi bahwa semua masih action. per detik ini Pak Sekda di lapangan untuk menunjukkan bahwa official yang tertinggi di Jawa Timur apakah itu gubernur wagup atau saya itu ada di lapangan untuk memastikan bahwa the effort itu masih ongoing gitu. Nah, ini penting gitu tadi. Karena apa? Karena itu memberikan instilling confidence. Kita tidak bisa bekerja tanpa public trust. Nah, idealnya tadi public trust itu butuh public communication. Pencitraan dong, Pak. Ya, gimana ya? Enggak ada enggak ada item tanpa citra kan? Semua perlu citra, semua perlu merek. Contohnya aja orang sekarang itu mau beli ke minimarket itu kalau enggak ada embel-embel dua nama itu ya tu apa ya kadang-kadang enggak mampir loh. Saya ngalami. Betul nih, Pak, Kepala Dinas Koperasi di Trgalek waktu saya bupati. kita mewajibkan ada Bu Ratna ya, kita mewajibkan ee Pak Artoyo ya, kepala anu ini dulu saya Bupati Trenggalik. Maaf Kir kenapa saya hafal ya. Ee ini waktu itu kita mewajibkan semua minimarket harus koperasi dan waktu itu kemudian dari Pempr ngasih feedback oh kalau kewenangan mengenai koperasi bukan di kabupaten. Jadi Anda enggak bisa bikin perda koperasi. Kewenangan kabupaten apa? Perdagangan. Terus saya bilang gini ya. Saya sebagai yang berwenang atas perdagangan maunya koperasi. Boleh dong. Saya enggak ngatur koperasi. Saya ngatur perdagangan. Dan sebagai pemegang kewenangan perdagangan, saya maunya minimarket harus koperasi. Itu kita lakukan di tahun 2016 ya, Perda itu. Nah, dalam perjalanan banyak yang enggak mau karena mereka ngerasa saya mau investan, saya enggak mau koperasi. Padahal kita minta Anda harus gandeng warung-warung tradisional situ sebagai anggota koperasi juga untuk ikut merasakan rezekinya dari minimarket berwarba. Terus gimana, Pak? Ya kalau mau enggak berwarna laba. Oke, dia bikin tanpa merek, enggak ada wara, no franchise. Sepi. Akhirnya give up. Pak, saya mending bikin koperasi aja, Pak. Enggak bisa. Kalau enggak waralaba, enggak ada yang mampir. Nah, that's the power of brand. Saya bukan tipe orang yang terobsesi dengan brand juga gitu. Karena banyak kerja-kerja yang seyoganya terjadi di belakang layar. Nah, terlalu terobsesi pada pencitraan juga berbahaya. Fokus kepada ketok kerja ke yang ketimbang beneran kerja itu juga bahaya. Tapi tidak paham sama sekali bagaimana mengkomunikasikan, maka trust itu tidak mudah untuk terwujud. Nah, ini sekali lagi sama seperti spektrum antara politis dan juga teknokratis tadi dalam sebuah policy, dalam sebuah decision. Begitu bala dengan communication harus pintar-pintar gitu apa mencari balance fokus berlebihan pada komunikasi juga bubra tidak mau ngurusi komunikasi sama sekali juga jadi bom waktu karena sulit karena apa? Karena people live by perspective hari ini. By perception gitu. Nah, mudah-mudahan ini peristiwa semalam berikan juga gambaran tadi Basarnas kerja mempertaruhkan nyawa ada di kolong-kolong sana. Orang tuanya nangis-nangis bilang, "Kenapa semua enggak ada yang kerja?" Ah, bayangin jenengan kalau ada di tempat ngeri, Pak. Balok segede begini posisinya tuh gantung. Begitu dinyalain ekskavator goyang geter. Hampir kita ketimpa kita langsung bayangannya Pak Nyoman bawa ekskavator kita bongkar. Tapi kalau ternyata enggak kepakai y
Resume
Categories