File TXT tidak ditemukan.
Leadership Update Forum #3 - From Local Potential to National Progress
OY2pSFZ_8uQ • 2025-09-30
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Ya Rasul
salam
alaika
ya habib
salam
alaika
[Musik]
menyerahkan
[Musik]
minhul
budur
m husn
[Musik]
Anta syamsun,
anta
badrun
anta nurun
fauq
nuri
antairu
[Musik]
anta
[Musik]
Ya habibi
ya Muhammad
ya arusan
khofiqaini
ya muayyad
ya mumajjad
ya imamalqiblat
[Musik]
Ya Allah
hadi Muhammad. Ya Allah
rabi fagfirli
dunubi ya Allah biarkatil
hadi Muhammad. Ya Allah.
[Musik]
Hadirin dimohon berdiri
menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia
Raya.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]
Hadirin disilakan duduk kembali.
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita
semua. Shalom. Om swastiastu. Namo
buddhaya. Salam kebajikan rahayu. Yang
terhormat Wakil Gubernur Jawa Timur,
Bapak Emil Elicant Dard, PhD. Yang kami
hormati Direktur Jenderal Bina Keuangan
Daerah Kementerian Dalam Negeri Republik
Indonesia, Bapak Dr. Dres Agus Fatoni,
M.Si., Professor and Director Engagement
at School Business Mon University, Prof.
Edward Buckingham,
Faculty of Basin Economic, Prof. John
Beaqua,
Pelaksana tugas Asisten Administrasi
umum, Bapak Dr. Ahmad Jazuli, M.Si., SI
Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur beserta
para kepala OPD yang hadir pada pagi
hari ini. Para pejabat administrator,
Kepala UPT BPENDA Provinsi Jawa Timur,
Kepala Bappeda Kabupaten Kota seJawa
Timur, Kepala BPPEDA dan Kabupaten Kota
seJawa Timur. Hadirin yang berbahagia,
puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu
wa taala pagi hari ini kita bisa
bersama-sama berkumpul dalam forum yang
sangat istimewa, leadership Update Forum
Ketiga tahun 2025 International Lecture
dengan tema From Local Potential to
National Progress Strategies for
Economic Empowerment. Bapak, Ibu hadirin
undangan yang kami hormati. Tentunya ini
menjadi ikhtiar bagi kita sekalian pagi
hari ini kita bisa menjalani dan membawa
manfaat untuk kita sekalian. Untuk itu
marilah kita bersama-sama berdoa dan doa
akan dipimpin oleh Bapak Muhammad
Kuntono. Disilakan.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahiabbil alamin. Hamd yfamahu
wauki mazida. Ya rabbana lakal hamdu
kama yambag karim.
Allahumma sholli wasallim ala sayyidina
Muhammad waa alihi wasohbihi ajmain.
Allahuma ya Allah ya mujibbasilin
puji syukur kami persembahkan
kehadirat-Mu.
Berkat izin dan ridam-Mu pada saat ini
kami melaksanakan pembukaan leadership
update forum seri ketiga tahun 2025.
Kami tadahkan kedua belah tangan kami
untuk mendapatkan curahan rahmat dan
kasih sayang-Mu. Untuk itu ya Allah
kiranya berkenan memberkahi dan meridai
acara yang kami laksanakan ini.
Ya Allah yang maha mengetahui
ilmu betapa luas dan tak terbatas. Oleh
karena itu, ya Allah, melalui kegiatan
ini anugerahkan kepada kami ilmu dan
pengetahuan yang bermanfaat, pemahaman
yang dalam, inspirasi yang kuat agar
kami mampu menggali potensi lokal untuk
kemajuan nasional.
Jadikanlah forum ini sebagai sarana
untuk memperkuat strategi pemberdayaan
ekonomi yang membawa kesejahteraan bagi
masyarakat sebagai bekal kami dalam
meningkatkan kualitas kehidupan menuju
kebahagiaan dunia dan akhirat.
Limpahkanlah kepada kami semua kemudahan
dan keikhlasan serta kecerdasan dan
kearifan.
Ya Allah, ya Rabbana, ya Karim, jadikan
memum acara ini sebagai pintu dan jalan
bagi turunnya rahmat dan karunia-Mu.
Sehingga tugas yang merupakan amanah
dariMu akan dapat dilaksanakan dengan
sebaik-baiknya,
penuh tanggung jawab serta semangat yang
tinggi demi terwujudnya kemajuan dalam
pembangunan bangsa kami. Ya Allah, Tuhan
yang maha pengampun, ampunilah dosa-dosa
kami, dosa kedua orang tua kami, dan
dosa para pemimpin-pemimpin kami serta
kabulkanlah doa permohonan kami. Rabbana
atina fid dunya hasanah wafil akhirati
hasanah waqinaabanar. Subhana rabbika
rabbil izzati amma yasibun wasalamun
alal mursalin walhamdulillahiabbil
alamin.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Bapak, Ibu hadirin undangan yang kami
hormati. Selanjutnya akan kita dengarkan
keynote speech yang akan disampaikan
oleh Direktur Jenderal Bina Keuangan
Daerah Kementerian Dalam Negeri Republik
Indonesia. Yang kami hormati Bapak Dr.
Drus Agus Fatoni, M.Si. Disilakan.
Asalam Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam.
Selamat pagi. Salam sejahtera untuk kita
semua. Om swastiastu.
Namo buddhaya. Salam kebajikan.
Yang kita hormati bersama, yang kita
banggakan Bapak Wakil Gubernur Jawa
Timur.
Terima kasih, Pak. Saya satu kampung
sama beliau.
Yang kami hormati Bapak Ibu Kepala OPD
Provinsi Jawa Timur, Pak Kepala BPSDM,
Pak Asisten, Pak Kepala Dinas, dan
seluruh jajaran dan seluruh peserta yang
kami banggakan.
Yang juga kita muliakan, kita hormati
Prof. Idu dan Prof.
John dari Monas University.
Dan hadirin yang berbahagia.
bersyukur sekali saya bisa berdiri
kembali di tempat ini. Saya sering
sekali berada di sini berdiskusi bersama
dengan seluruh
pegawai dan jajaran pemerintah provinsi
dan kabupaten kota seJawa Timur. Bahkan
beberapa provinsi yang menjadi bagian
wilayah dari BPSDM Jawa Timur.
Hari ini
seharusnya kita bisa berdiskusi lebih
lama. Namun karena ada acara di Jakarta
dan dilaksanakan lebih awal, maka saya
mohon izin Pak Wagub bisa menyampaikan
lebih awal dan tidak terlalu panjang.
Namun demikian, nanti kita bisa
berdiskusi lebih lanjut. Bapak, Ibu bisa
komunikasi dengan saya baik melalui
handphone, WA maupun yang ada di
Instagram yang ada di situ ataupun
medsos yang ada di situ silakan. itu ada
nomor handphone ada
ini juga ada
medsos silakan juga bisa diikuti di
situ. Banyak sarana komunikasi yang bisa
kita lakukan.
Bapak Ibu kondisi saat ini di semua
daerah
harus mengambil kebijakan yang efektif
agar program-program pemerintah bisa
tepat sasaran.
Apalagi kemudian ada
program pengalihan anggaran
sebagian dari daerah kemudian dialihkan
ke pusat.
Ada yang menyebut sebagai efisiensi
tapi sesungguhnya pengalihan tetapi
lokusnya tetap ada di daerah. Bisa saja
anggaran di suatu daerah lebih besar
dibandingkan sebelumnya. Namun letaknya
anggaran itu di APBN. Nah, ini istilah
yang sering digunakan. Nah, problem yang
utama di penganggaran kita yang pertama
adalah masalah serapan anggaran yang
rendah dan kemudian menumpuk di akhir
tahun.
Kemudian yang kedua, tidak optimalnya
pendapatan.
Kemudian yang ketiga,
sasaran,
kemudian
fokus.
itu tidak langsung menyentuh kepada
masyarakat. Nah, oleh karena itu
pelajaran COVID yang lalu ini menjadi
pelajaran bagi kita bahwa dengan
anggaran seberapun kita harus bisa
mengoptimalkan anggaran itu agar bisa
dirasakan oleh masyarakat.
Nah, Bapak Ibu yang saya hormati, ada
beberapa permasalahan serapan anggaran
ini
di mana
dalam serapan anggaran seringki anggaran
itu muncul
atau dilaksanakan atau besar di akhir
tahun. Harusnya anggaran itu kita genjot
di awal tahun. Kenapa harus kita genjot
di awal tahun?
Yang pertama
agar uang itu beredar di masyarakat.
Dengan adanya uang beredar di
masyarakat, maka itu juga akan memancing
peredaran anggaran yang lain yang
berasal dari swasta.
Kemudian yang ketiga, dengan uang
beredar masyarakat maka daya beli
masyarakat juga meningkat.
Kemudian pertumbuhan ekonomi meningkat,
pembangunan lebih awal bisa dilaksanakan
sehingga masyarakat bisa merasakan
pembangunan, negara dirasakan hadir,
pelayanan publik bisa diperbaiki,
dan kemudian maka timbullah kepercayaan
masyarakat kepada pemerintah.
Dengan tingkat kepercayaan masyarakat
kepada pemerintah semakin tinggi, maka
partisipasi masyarakat juga akan semakin
tinggi. Inilah pentingnya anggaran itu
direalisasikan sejak awal tahun. Oleh
karena itu, dalam mengatasi berbagai
persoalan yang ada terkait dengan
penganggaran ini, maka ada empat langkah
strategis yang harus kita lakukan,
khususnya dalam mendorong pertumbuhan
ekonomi
di halaman 45.
Nah, di situlah yang pertama kita perlu
mengoptimalkan belanja daerah melalui
percepatan realisasi APBD. Ini penting.
Sampai dengan saat ini realisasi
rata-rata masih di bawah 50%. Bahkan ada
yang baru 20% ada yang kurang dari situ
di setiap daerah. Berarti uang belum
beredar di masyarakat.
Kemudian yang kedua melakukan inovasi
sumber pendapatan asli daerah namun
tidak memberatkan masyarakat. Ini banyak
yang bisa dilakukan.
Dan yang ketiga, pemanfaatan program
strategis nasional sebagai peluang
pertumbuhan daerah. Oleh karena itu,
daerah juga perlu mempercepat
PSN ini. Contoh MBG. Kalau MBG-nya di
satu daerah lambat, maka juga lambat
dirasakan karena penerima manfaat belum
merasakan itu. Tetapi kalau MBG-nya
sudah jalan, maka anak-anak sekolah,
orang miskin, kemudian ibu hamil dan
seterusnya bisa merasakan itu. Oleh
karena itu, dukungan agar PSN ini bisa
segera dilaksanakan itu juga akan
mendorong pertumbuhan ekonomi. Yang
berikutnya adalah mendorong
peran swasta melalui kemudahan
perizinan. Maka perizinan harus
dipermudah, jangan dipersulit,
jangan berbelit-belit, bahkan juga
jangan kemudian diberikan beban yang
tinggi kepada investor. Oleh karena itu,
perlu kita lakukan kemudahan dalam
memberikan perizinan. Kalau investornya
banyak datang, pertumbuhan ekonomi di
situ akan meningkat. Ini empat strategi
utama bagaimana kita meningkatkan
perekonomian di masyarakat. Namun kita
juga menyadari ada beberapa kendala yang
dihadapi yang dilakukan dan ini harus
kita atasi bersama. Kendala yang pertama
yaitu penetapan APBD seringki terlambat.
Masih saja ada APBD yang terlambat.
Kemudian yang kedua ini terus terjadi
berulang. kelihatannya sederhana tetapi
ini menjadi penyebab keterlambatan dalam
penetapan pejabat pengelola keuangan
seringki masih baru bulan April
ditetapkan, ada bulan Mei, ada yang
lebih cepat bulan Maret sehingga program
belum bisa jalan kalau pejabat pengelola
keuangannya belum ditetapkan. ini
berulang terus
karena keterlambatan menyampaikan nama,
keterlambatan kita memprosesnya sehingga
pejabat pengelola keuangan juga
terlambat ditetapkan. Kendala yang
berikutnya adalah kurangnya sumber daya
manusia, pengadaan barang dan jasa, dan
pengelola keuangan yang punya sertifikat
masih sedikit.
Padahal ini gampang sekali untuk
sertifikasi bisa online sekarang dengan
mudah dilakukan itu. Kemudian yang
berikutnya juga yang menjadi kendala ini
juga bagi pemerintah pusat kita perlu
juga perlu perbaiki.
Dana transfer ke daerah terlambat.
Baik itu disebabkan karena keterlambatan
kebijakan maupun keterlambatan di
daerah. Keterlambatan realisasi,
keterlambatan
persyaratan salur, dan keterlambatan
realisasi anggaran. ini juga menjadi
penghambat. Kemudian yang berikutnya
juga terbatasnya akses jaringan,
gangguan keamanan dan bencana alam. Ini
faktor alam juga ikut menentukan
lambatnya serapan anggaran. Kemudian
proses lelang sering terlambat. Hari ini
saya juga mengalami hari ini masih ada
yang baru akan dilelang. Baru akan
dilelang. Bayangkan
ini selalu berulang setiap tahun.
harusnya ini tidak terjadi. Nanti ada
solusi-solusi yang bisa kita lakukan.
Kemudian proses lelang DEED dan juga
fisik untuk infrastruktur ter cenderung
terlambat. Kalau DEED-nya terlambat,
maka berikutnya juga terlambat. Kemudian
proses SPJ-nya terlambat, kegiatannya
sudah dijalankan, tetapi
pertanggungjawabannya terlambat. Ini
juga menghambat realisasi anggaran.
Kemudian keterbatasan sarana prasarana
untuk penatausahaan melalui SIPD ini
juga menjadi kendala. Oleh karena itu,
kami terus akan melakukan pendampingan,
fasilitasi. Kemudian kurangnya monev
dari kepala daerah, dari kepala OPD
tidak peduli, tidak pernah dikontrol,
tidak pernah ditanya
sehingga semua berjalan seperti biasa.
Kemudian Kepala SKPD ada beberapa daerah
yang harus izin kapan mau dilaksanakan.
Nah, ini untuk daerah daerah tertentu
masih ada juga kapan ini dilaksanakan.
Kemudian ada kekhawatiran ASN berurusan
dengan APH. Ada yang beranggapan lebih
baik tidak dilaksanakan daripada
dilaksanakan tapi punya masalah. Nah,
ini banyak juga yang tidak mau mempunyai
proyek, tidak mau pegang proyek.
Banyak yang memilih jadi asisten seperti
beliau ini atau staf ahli lagiah yang
paling enak. Ah, ini ini banyak sekali
yang mau cari selamat tapi enggak mau
kerja keras tapi gajinya tinggi. Ya, ini
repot ini. Tapi kalau Pak Asisten bukan
karena minta tapi karena ditunjuk beliau
ya.
Ini menjadi problem. Oleh karena itu,
strategi yang dilakukan yang pertama
perlu penetapan APBD tepat waktu. Perlu
ada komunikasi dari awal. Ini kerjaan
rutin kita tiap tahun, tetapi seringki
masih saja terkendala, masih saja
terlambat, masih saja sulit
berkomunikasi dengan DPRD.
Harusnya kita sudah hafal
apa yang dimau, bagaimana solusinya.
Nah, ini nanti saya kasih tahu bagaimana
strateginya. Kemudian melaksanakan
pengadaan dini. Ini sudah ada aturannya,
sudah jelas regulasinya, sudah ada surat
edarannya.
Lelang dini itu bisa dilaksanakan sejak
KUA PPAS disepakati bersama. Hari ini
hampir semua daerah yang sudah KUA
PPS-nya disepakati sudah bisa dilelang.
Jadi di tahun anggaran sebelumnya lelang
itu sudah bisa dilaksanakan sejak KUA
PPAS disepakati bersama. Ini
berkali-kali kita sampaikan tetapi tidak
jalan juga.
Sehingga nanti pada saat awal tahun
Januari sudah ada DPA-nya, tinggal tanda
tangan kontrak. Ini akan bisa realisasi
sejak awal tahun.
Ini sudah jelas aturannya. Kalau ada
kesulitan nanti bisa konsultasi dengan
kami, konsultasi juga dengan
LKPP. LKPP juga terus mendorong ini.
Kemudian yang berikutnya melakukan
percepatan belanja melalui e-katalog.
katalog tidak perlu nunggu lagi, tinggal
eksekusi. Tapi yang sering masih
didiskusikan siapa, bagaimana, kapan,
dan seterusnya ini berulang-ulang.
Kemudian penetapan pejabat pengelola
keuangan dipercepat. Bapak, Ibu kalau
bisa tidak usah menggunakan tahun
anggaran pejabat pengelola keuangan itu
enggak udah. Kalau ada tahun anggaran
2025, maka 2026 enggak bisa jalan. Kalau
tidak ada anggaran berarti di 2026 masih
bisa berlaku.
Oleh karena itu, pejabat pengelola
keuangan tidak usah disebutkan tahun
anggarannya
dan toh kalau diganti pada saat terjadi
pelantikan segera diganti dan itu harus
segera dipersiapkan sehingga tidak lama
tertunda-tunda. Kemudian melakukan
pendataan dan juga mendorong percepatan
proses pengadaan badan jasa sekaligus
pencairannya juga dilakukan.
Kemudian melakukan penyelesaian
administrasi dengan percepatan
pertanggungjawaban.
Kemudian menyerahkan dokumen
berkoordinasi dengan lembaga terkait.
Kemudian Inspektorat harus memberikan
asistensi,
harus memberikan review kalau itu
diperlukan. Kemudian peningkatan
kompetensi aparatur dengan sertifikasi.
Banyak sekarang pengadaan barang jasa
itu bisa online kapan saja bisa tes,
bisa seleksi, bisa juga bintek tanpa
bayar. Kapan saja bisa. Kalau ada
komitmen dari pejabat pimpinan tertinggi
bahwa semua harus tersertifikasi. Kalau
enggak punya sertifikat diberhentikan.
Nah, itu mari berbondong-bondong. Itu
andai kepala OPD kalau tidak punya
sertifikat akan diganti gitu. Oh, pasti
semuanya pengin punya sertifikat. Nah,
gitu. ini perlu kita segera lakukan.
Kemudian membentuk tim monitoring ini
yang harus dilakukan. Harus ada
monitoring yang terus bekerja. Kemudian
kalau perlu meminta asistensi
pendampingan.
Nah, di dalam kondisi saat ini seperti
keuangan terbatas perlu alternatif
pembiayaan, maka daerah harus kreatif
baik dalam rangka meningkatkan
pendapatan asli daerah maupun
meningkatkan dana transfer.
Ada beberapa alternatif pembiayaan dari
APBN, APBD. Kalau dari APBN, slide
berikutnya APBN harus penguatan data
untuk dana transfer terus ke bawah.
Iya.
Dana transfer itu basisnya data, maka
datanya harus kita perkuat. Kalau
datanya hanya itu saja, maka yang
digunakan pusat ya data yang ada. Oleh
karena itu, updating data itu perlu
dilakukan. Maka kami dari Kementerian
Dalam Negeri selalu memfasilitasi daerah
yang ingin di-update datanya, jumlah
penduduknya, panjang jalannya,
persyaratan-persyaratan itu bisa kita
perkuat sehingga dana transfer bisa
meningkat. Yang bersumber dari APBD,
dari PAD juga kita bisa optimalkan.
Kemudian pemanfaatan barang milik
daerah, aset daerah banyak yang mangkra
ini bisa mendatangkan sumber pendapatan.
Kemudian melakukan pinjaman ini salah
satu alternatif yang tidak membebani.
Ini juga penting agar ekonomi bisa
bergerak, percepatan pembangunan berisa
berkesinambungan.
Kemudian mengoptimalkan BUMD. Nah, ini
BUMD seringki kita tidak bisa optimal
karena berbagai macam sebab. Bisa
kompetensi pejabatnya, bisa masalah tata
kelolanya itu bisa kita maksimalkan.
Kemudian kerja sama pemerintah daerah
dengan pihak ketiga dengan badan usaha
ini juga bisa kita lakukan dan juga
menyatukan CSR. CSR ini banyak tetapi
tidak terkoordinir
di Sumsel itu salah satu ada suatu
sistem yang menyatukan CSR sehingga
seluruh
perusahaan baik itu BUMN BUMD swasta
melaporkan CSR-nya digunakan untuk apa
sehingga kita bisa sinkronkan, kita bisa
koordinasikan nanti pengunyaannya untuk
apa. Bapak Ibu ingin rasanya
berlama-lama di sini namun waktu
memisahkan kita. Namun demikian, kapanp
kita bisa ketemu lagi. Semoga kita semua
panjang umur, sehat, dan dimudahkan
dalam menjalankan tugas. Semoga Tuhan
yang maha kuasa Allah Subhanahu wa taala
selalu melindungi kita semua dalam
pengabdian. Terima kasih.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Om santi santi shanti om
namo buddhaya. Salam kebajikan.
Mohon izin Pak Deras panggung karena
akan dilanjutkan dengan penyerahan
cindram. Kami undang dengan hormat Wakil
Gubernur Jawa Timur didampingi Kepala
BPSDM Provinsi Jawa Timur and also we
would like to invite Prof Edward
Buckingham and Prof
to come up to stage for momento given by
Vice Governor of East Java
[Musik]
Mohon izin, Pak Wagup akan memberikan
terlebih dahulu kepada Pak Dirjen.
[Musik]
Izin, Pak Wag.
Bapak, Ibu boleh kita berikan tepuk
tangan.
[Musik]
Selanjutnya momento juga akan diberikan
kepada Prof. Edward Buckingham.
Boleh kita berikan semangat.
Last but not least Prof.
Sekali lagi Bapak Ibu boleh kita berikan
tepuk tangan berkenan untuk foto
bersama.
[Musik]
Baik, terima kasih. Selanjutnya kami
silakan untuk kembali ke tempat. And now
we would like to invite you to return to
your seat.
[Musik]
Sekali lagi memberikan semangat. Boleh
kita berikan apresiasi Pak Dirjen. Matur
nuwun untuk rawuhnya di BPSDM Provinsi
Jawa Timur.
Bapak, Ibu hadirin undangan yang kami
hormati. Kami akan melanjutkan acara
pada pagi hari ini. Selanjutnya akan
kita dengarkan bersama laporan Kepala
BPSM Provinsi Jawa Timur. Yang kami
hormati Bapak Dr. Ramlianto, SPMP.
Disilakan.
[Musik]
Bismillahirrahmanirrahim.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Salam sehat dan salam sejahtera untuk
kita sekalian. Selamat pagi. Om
swastiastu. Namo buddhaya. Salam
kebajikan.
Yang terhormat dan kita muliakan bersama
Bapak Wakil Gubernur Jawa Timur Bapak
Dr. Emil Elistianto Dardak.
Terima kasih kami yang tulus atas
perkenan hadirnya Pak Wakil Gubernur di
tengah kesibukan yang luar biasa.
Kehadiran Bapak menjadi kebanggaan dan
semangat bagi kami semua.
Kami tahu sampai menjelang subuh tadi,
Pak Wakil Gubernur masih berada di
lokasi kejadian runtuhnya bangunan
pesantren Alhosini di Sidoarjo untuk
mendampingi Ibu Gubernur. Bahkan di awal
kejadian Pak Wakil Gubernur memimpin
secara langsung tim gabungan yang sedang
melakukan evakuasi dan penyelamatan para
korban di lokasi kejadian. Kita semua
turut berduka atas kejadian tersebut.
Semoga semua korban dapat diselamatkan
dan kejadian serupa tidak terulang
kembali. Terima kasih, Pak Wakil
Gubernur. Semoga selalu dikaruniai sehat
walafiat.
Yang kami hormati dan kami banggakan
tadi Pak Dirjen Keuangan Daerah
sekaligus PJ Gubernur Papua yang tadi
sudah menyampaikan ke speech.
Our highest respect and warm welcome to
the distinguished speakers.
who have traveled from afar professor
Edward Buckingham and Profua
from University Australia
we sensor thank you for your present
today and we look forward to the
involuable insight you will graciously
share with all participant in this forum
thank you so much yang kami hormati
Bapak Ibu para pejabat pimpinan tinggi
di lingkungan pemerintah Provinsi Jawa
Timur dan para pejabat pimpinan tinggi
di lingkungan pemerintah kabupaten kota
yang kami undang dari BPPEDA dan
BAPENDA. Bapak, Ibu para pejabat
fungsional, para pejabat administrator,
dan seluruh hadirin yang kami banggakan.
Kami menyampaikan terima kasih yang
tulus atas perkenan hadirnya Bapak Ibu
semua yang tentu dengan kesibukannya
masing-masing masih menyempatkan diri
untuk belajar bersama kita di BPSDM
Provinsi Jawa Timur. Dengan senantiasa
mengharap rida Allah subhanahu wa taala,
izinkan kami melaporkan kepada Bapak
Wakil Gubernur perihal kegiatan yang
akan Bapak buka dan hari ini bahwa
Leadership Update Forum merupakan
program pengembangan kompetensi berupa
microlearning untuk para pejabat pada
level kepemimpinan strategis di Pempr
Jatim dan kabupaten kota di Jawa Timur.
Program ini merupakan salah satu ikhtiar
kami menerjemahkan arahan Ibu Gubernur
Jawa Timur bahwa para pemimpin birokrasi
di Jawa Timur harus terus melakukan
update dan upgrade secara berkelanjutan
agar tetap relevan dengan lingkungan
strategisnya. Kami laporkan Bapak Wakil
Gubernur bahwa LOU dimulai pada tahun
2004 yang lalu dan dilaksanakan tiga
kali dalam 1 tahun. untuk tahun 20
2025 ini hari ini adalah yang ketiga.
Kebetulan yang pertama juga Pak Wagub
yang membuka.
Bapak Wakil Gubernur yang kami hormati,
kami laporkan dengan hormat bahwa LOU
ketiga tahun 2025 ini sengaja mengambil
tema strategis from local Potential to
National Progress Strategies for
Economic Empowerment. sebuah tema yang
kami angkat setelah melalui diskusi
dengan beberapa tim kami bahwa persoalan
potensi lokal yang belum tergali secara
baik di tengah tadi kebijakan-kebijakan
efisiensi dari pemerintah pusat perlu
kembali dikembangkan sehingga kami
mengundang dua narasumber hebat dari
Monas University.
Dan untuk kegiatan kali ini kami
laporkan Bapak Wakil Gubernur diikuti
oleh sekitar 200 orang peserta baik
pejabat pimpinan tinggi pratama di
lingkungan PEPR Jatim, para kepala
Bappeda atau sebutan lainnya, para
kepala BPEDA atau sebutan lainnya dari
kabupaten kota Jawa Timur. Dan kami
mengundang khusus Pak Wakil Gubernur,
para kepala UPT Bapenda seJawa Timur,
serta pejabat administrator dan
fungsional di lingkungan pemerintah
Provinsi Jawa Timur. Demikian beberapa
hal yang dapat kami laporkan, Pak Wagup.
Selanjutnya mohon dengan hormat Bapak
Wakil Gubernur Jawa Timur untuk berkenan
membuka kegiatan ini sekaligus berkenan
menyampaikan sambutan pengarahan. Terima
kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
[Musik]
Bapak, Ibu hadirin undangan yang kami
hormati. Selanjutnya sambutan sekaligus
membuka acara leadership update forum
ketiga tahun 2025 oleh Wakil Gubernur
Jawa Timur. Yang terhormat Bapak Emil
Elicantak, PhD. Disilakan.
[Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam.
Selamat pagi. Salam sejahtera untuk kita
semuanya. Shalom.
Om swastiastu.
Namo buddhaya. Salam kebajikan. Rahayu.
Yang kami hormati tadi bersama kita
Bapak Dr. Agus Fatoni
selaku Dirjen Bina Keuangan Daerah
Kemendagri dan PJ Gubernur Papua.
Izinkan saya menyapa
distinguish akademik yang hadir pada
kesempatan ini, professor and director
of engagement at the School of Business
Monas University Australia, Professor
Edward Buckingham as well as Professor
John Bakaqua, also faculty of business
and economics. Welcome, Pak to Jawa
Timur Surabaya.
Plt. Asisten Administrasi Umum Bapak Dr.
K. H. Sekarang ini ya, K. Ha. Ahmad
Jazuli.
Soohibul bait sekaligus sohibul hajat
Bapak Dr. Ramlianto, Kepala BPSDM
Provinsi Jawa Timur. Ibu, Bapak
sekalian, jika perkenankan
saya ingin kita mengajak kita untuk
ee
membaca Al-Fatihah, berdoa. Ada dua
kitab Al-Fatihah. Jadi, mungkin dua kali
al-Fatihahnya.
Yang pertama untuk almarhumah ibunda Pak
Ramli yang belum terlalu lama ini
berpulang ke rahmatullah. Insyaallah
husnul khatimah. Bapak dan semoga salah
satunya amal jariah yang tidak terputus
adalah anak saleh yang mendoakan. Nah,
kita ini sebagai sahabat-sahabat Pak
Ramli juga ikut mendoakan almarhumah.
Yang kedua adalah kepada korban
dari peristiwa kemarin sore ee yang saat
ini ee yang paling memang membuat kami
betul-betul
ee
dalam kondisi yang sulit dan kondisi
yang penuh dengan ee saya tidak bisa
menggambarkan
deskripsinya ya ee terminologi atau
diksi yang tepat untuk menggambarkan
rasanya. Tapi ada sebuah keterpanggilan
yang mengusik pikiran luar biasa saat
mendengar
tanda-tanda kehidupan yang jelas masih
ada di dalam. Namun
masih belum bisa kita pastikan bagaimana
cara menyelamatkan anak yang
bersangkutan.
Namun dalam suasana dan tantangan
lapangan sesulit apapun satu demi satu
personil
dari Basarnas dan Damkar dan semua tim
pendukung
dengan tambahan alat yang perlahan-lahan
mulai berdatang. Enggak perlahan-lahan
sih, satu persatu mulai berdatangan
karena mobilisasinya memang tidak bisa
instan tapi dipercepat semua. Itu bisa
diselamatkan.
Jadi kita tetap optimis. Maka kami mohon
doanya. Kami mohon doanya karena ada
salah satu orang tua yang semalam
dengan ketegaran dan penuh harapan
terinfo dan menyaksikan video yang
beredar suara anaknya sedang
berkomunikasi dengan petugas.
beberapa anak mungkin dari semalam sudah
tambah empat anak lagi dikeluarkan sejak
tengah malam ya sampai pagian ada tim
tambahan dari Semarang yang memperkuat
tapi anak yang justru orang tuanya ini
dengar ini belum terevakuasi ya jadi
mohon kita menunduk Palestina kita
al-fatihah kepada almarhumah ibunda Pak
Ramli dan juga kepada semua yang ada di
lokasi baik yang bertugas dan yang akan
diselamatkan supaya diberikan
keselamatan. Alfatihah.
Terima kasih
rekan-rekan
kepala OPD yang hadir pada kesempatan
ini. juga saya terinfo
ada pejabat administrator dan
kepala-kepala UPT Bapenda
serta Kepala Bapeda kabupaten kota
seJawa Timur dan Kepala Bappeda
kabupaten kota se Jawa Timur hadir semua
di sini. Bagi yang dari Pemkap dan
Pemkot kami haturkan selamat datang di
BPSDM Provinsi Jawa Timur.
Em saya mendapat amanah khusus dari Bu
Gubernur untuk memastikan bisa mewakili
beliau pagi ini. Kenapa ini menjadi
penting?
Memang ee roda pemerintahan harus terus
berjalan. Inilah fungsinya ada Gubernur,
ada Wakil Gubernur, ada Sekretaris
Daerah yang dalam kapasitas saat ini
juga menjadi kepala BPBD. Jadi kalau Pak
Gatot itu kalak kepala pelaksana BPBD.
Namun sejatinya Kepala BPBD secara
struktur formalnya adalah SekDA. Betul
Pak Jazuli ya. Ini Sekda ngelotok betul
ini soalnya dulu beliau ini ya. Jadi
inilah yang kemudian kenapa hari ini
jadi penting ngumpulkan semua Ibu Bapak
sekalian di sini ini bukan hal yang
mudah
karena semua punya tugas-tugas urgen
masing-masing yang dijalankan.
Dan efektivitas dari sesi pagi ini
menentukan kemaslahatan 42 juta warga
Jawa Timur yang kita layani bersama.
Nah, salah satunya adalah bagaimana
memiliki perspektif yang lebih luas
mengenai
leadership
dan hari ini ada Profesor Buckingham dan
Profesor Bebakua dari one of the best
universities in the world, Monash
University. Menurut saya ini terobosan,
Pak. Mungkin leadership update forum
yang pernah ngundang faculty member dari
luar negeri baru ketiga ini. Kita
berikan apresiasi kepada BPSM.
Very impressive. Nanti pakai bahasa apa,
Pak?
Bahasa Jawa, Pak. Prof. Bakiham
akan menggunakan bahasa Jawa,
bahasa Indonesia or English. Pak, will
you deliver your presentation in English
or bahasa?
campur-campur.
How about Profesor Bebaku,
beliau?
Saya ketemu pada saat saya diundang eh
di visiting eh fellowship dari DFAT ya,
Waktu, Department of Foreign Affairs and
Trade Australia. Jadi ee pemerintah
Federal Australia mengundang saya
mensponsori juga semuanya untuk eh ke
Melbourne.
Di antaranya kami mengunjungi
eh Indonesia Australia Center Study yang
ada di Mesh yang diinisiasi pertemuan
antara Presiden Yudoyono dengan waktu
itu Amerika eh ulangi maaf Australia
perdana menterinya at the time who was
the then prime minister
was it Kevin R or no it was after him or
Tony Abbot or was it Tony Abot?
Scott Morrison. Oke. So, eh Perdana
Menteri Morrison dan Presiden SBY waktu
itu kemudian bertemu dan terinisiasilah
center ini. Dan kemudian eh sampai 2022
kita tahu Pak SBY purna 2014. Artinya
selama 8 tahun berdiri sampai and today
it's still in operation. It has a
specific office. Ada kantornya sendiri
di sana. Jadi beliau bisa bahasa
Indonesia ya. Tapi saya tidak tahu kalau
untuk paparan beliau prefer. Nanti ada
terjemahannya, Pak. Oh, ada. There is a
translation service ya. Dan eh Profesor
Befak juga hadir di sini.
Temanya from local potential to national
progress. From local potential to
national progress. Kalau ngomong soal
Jawa Timur, kalau ngomong soal Jawa
Timur dari 38 provinsi di Indonesia
seper hampir hampir seperenam dari
perekonomiannya disumbang dari Jawa
Timur.
Ada 38 provinsi tapi hampir 1/enam
perekonomiannya dari Jawa Timur.
Lalu kalau kita bicara spesifik mengenai
sektoral,
kontribusi sektor manufaktur Indonesia,
saya ulangi Jawa Timur itu lebih dari
22%
dari Jawa Timur kepada Indonesia. Kalau
kita round up, kita bulatkan hampir
seperempat.
Ada 38 provinsi tapi hampir seperempat
manufakturnya disumbang dari Jawa Timur.
Untuk perdagangan ada 38 provinsi, saya
ulangi lagi tapi seperlima
dari
perdagangan
Indonesia itu dari Jawa Timur. Termasuk
kita ketahui 80% dari logistik ke
wilayah timur Indonesia ini di salurkan
via dari Jawa Timur. Nah, ini adalah
realitas signifikansi.
Tapi apakah kemudian artinya kita
tinggal bisnis as usual,
melanjutkan apa yang sudah ada
itu sudah cukup untuk mengubah potensi
lokal menjadi kemajuan bangsa atau
kemajuan nasional.
secara jumlah penduduk mungkin karena
begitu Jawa Timur bergerak seperenam
penduduk Jawa Timur Indonesia juga ikut
bergerak otomatis secara proporsi jumlah
penduduk proporsi PDRB
keunggulan sektoral termasuk di
pertanian sekalipun
kita adalah provinsi yang 30% lebih
sumbangan ekonominya dari manufaktur.
Tapi kalau bicara mengenai komoditas
pertanian,
kita ini nomor satu,
baik itu kita bicara padi, kita bicara
tebu, kita bicara susu, kita juga bicara
telur. Ini masih Jawa Timur juga yang
menjadi tumpuan lumbung pangan nasional.
migas
lebih dari seperempat lifting migas kita
itu ada di Cepu Bojonegoro.
Nah, makanya memang bagaimana kemudian
seluruh
potensial ini bisa kita optimalkan
meskipun di saat yang sama kita
dihadapkan pada tekanan jumlah penduduk
yang luar biasa.
Kalau kita mau ekstensifikasi lahan
pertanian, mungkin sudah sangat sulit
mencari lahan yang belum ditanduri atau
belum ditanami karena sudah tercover
semua. Inilah sebabnya memang kita harus
betul-betul bisa meningkatkan
produktivitas
dari seluruh elemen faktor produksi yang
ada di Jawa Timur. Apakah itu tanah atau
resources, apakah itu sumber daya
manusianya, apakah itu antepenernya,
semua
harus bisa kita maksimalkan.
Jadi ini bayangkan dalam 1 triwulan 3
bulan aja uang yang berputar di Jawa
Timur ini 850T
kurang lebih
kalikan 4 artinya kita bicara berapa?
3.400 triliun.
3.400 triliun
anggaran kita 20
kalau belum dikurangi. Kalau sudah
dikurangi bisa 26
ya. Jadi tidak ada 1%-nya
dari total perputaran ekonomi.
Kemarin ditanya di dewan,
kalau perekonomian tumbuhnya di sini kan
tumbuhnya kita 5,23%.
Kok PAD-nya tumbuhnya hanya 2% katanya
begitu. Nah, kami sampaikan bahwa
pertama harus kita lihat dulu yang
linier dengan pertumbuhan ekonomi
biasanya adalah objek pajak yang
bersifat terhadap penghasilan dan nilai
tambah yaitu PPN dan PPH. Itu satu.
Yang kedua,
artinya secara sektoral kita ini kan
kewenangannya ada di dua sektor yang
memang saat ini tentunya laju
pertumbuhannya tidak otomatis sama
dengan laju pertumbuhan agregat.
Laju pertumbuhan agregat sektor
manufaktur mungkin beda dengan sektor
otomotif. di mana sektor otomotif
menjadi satu-satunya tumpuan pajak kita
melalui pajak darah bermotor dan pajak
bahan bakar kendaraan bermotor.
Begitu pula dengan
satu lagi sumber yang besar adalah pajak
rokok yang mana kita ketahui bahwa ini
sektor yang memang ee penuh
kehati-hatian dalam mengelola
kesinambungannya.
Ada potensi lain seperti Badan Layanan
Umum Daerah Blood yang sekarang
direkognisi sebagai retribusi ya. Bukan
lagi sebagai itu, tapi sebagai retribusi
dulu dicollek kemudian akhirnya itu
menjadi PAD. Kalau sebelumnya mungkin
dia masuknya di lain-lain. Sekarang
masuknya sebagai PAD eh apa maaf sebagai
retribusi
blut. Ada BUMD.
Nah, namin ada catatan juga terhadap
BUMD seperti apa. Kami sudah dikasih
data pertumbuhan dari ee PAD kita dan
pertumbuhan dari ee
laba BUMD kita. Di mana memang dalam
iklim bisnis seperti saat ini bisa
bertahan laba juga sebenarnya sesuatu
yang ee impresif ya. Tidak selalu laba
itu tumbuh linier dengan pertumbuhan
ekonomi karena ada tantangan-tantangan
khusus. di bidang-bidang tertentu dan
ada keputusan strategis katakanlah untuk
menahan atau melakukan retain earning di
dalam buku. Tapi kurang lebih seperti
itu. Jadi sekali lagi itu belanja
pemerintah tadi kalau di tootal dengan
Pemkap, Pemkod pusat ini kurang lebih
itu kira-kira 5%-an lah kontribusi dari
government expenditure.
Consumption menyumbang kurang lebih 60%.
Government expenditure sekitar 5%. semua
jenjang itu. Lalu investment kurang
lebih 26 sampai 27%.
Jadi yang besar itu sebenarnya
consumption dan investment. Namun
demikian, government spending ini bisa
menjadi ibaratnya untuk nyalain mobil
sebenarnya tenaga yang dibutuhkan itu
kan lewat starter tuh mendongkret tuh
kecil cetek. Baru kemudian dia bisa
mengungkit power yang sedemikian besar.
Nah, government expenditure ini seperti
starter kalau diibaratkan oleh Pak
Dirjen Keuangan Daerah tadi. Jadi, kalau
sampai kemudian
belanja ini tidak efektif,
maka ini akan sangat berdampak
kepada roda perekonomian kita. Jadi, ada
sebenarnya jangan hanya lihat, "Oh, Pak,
cuma 5%."
Tapi 5% ini dari sisi timeliness dan
quality of spending. Kalau itu dipakai
lebih banyak untuk mendatangkan barang
impor dari luar, dia tidak berkontribusi
terhadap pengungkitan ekonomi kita.
Kalau dibelanjakannya numpuk di ujung,
maka peluang untuk menjadi pengungkit
ekonomi sepanjang tahun menjadi
mengecil.
ini kenapa selalu ada semacam
bahkan boleh dibilang seperti obsesi
bahwa harus ada belanja yang betul-betul
ee efektif dan tidak ditunda-tunda. Tadi
saya juga mengalami, Pak. Pertama kali
saya tahu bahwa ternyata udah ada
duitnya aja belum bisa ngapa-ngapain.
Itu waktu saya kerja di World Bank di
Bank Dunia. Saya ee dalam tim yang kami
eh berjuang dan mendapatkan dana hibah
dari Global Environment Facility untuk
pengembangan panas bumi di Kementerian
SDM senilai 4 juta dolar. Kalau di kurs
hari ini itu sudah hampir 65-an.
65-an miliar artinya ya itu mau
dilaksanakan SK PPK-nya belum ada.
itu sudah bulan Februari dia bilang,
"Kita harus jalan karena time-nya
mepet." Biasanya, Pak, untuk SKSK baru
beres Maret. Terus dari Januari ngapain
aja?
Kalau SK pejabat-pejabatnya itu baru
beres Maret,
kita berjuang gimana caranya bisa
Januari. Karena kalau sudah procurement
dari lembaga multilateral itu kan ada
tahapnya. Ada yang namanya no objection
letter. Kalau masih tahap prakualifikasi
ada no objection letter terhadap request
for prequalification atau EOI expression
of interest. Setelah diortlist minta nol
lagi no objection letter. Kadang ada
yang bisa dikip ya langsung. Kemudian
terhadap dokumen lelang no objection
letter lagi untuk diberikan kepada yang
lolos shortlist. Lalu setelah evaluasi
di no objection letter lagi baru
terakhir no objection terhadap kontrak.
Bayangkan kalau kemudian itu mundur
tambah panjang.
Jadi kita berjuang waktu itu bagaimana
supaya bisa beres di bulan awal enggak
nunggu Maret itu sebenarnya. Nah, itu
jadi betul banget tadi. Makanya
melakukan lelang setelah kua PPAS ini
sesuatu yang luar biasa. Tapi gimana Pak
Arif? Bisa sudah
ini KUA PPAS kita kan sudah ya Pak Yasin
ya.
Nah, tapi tidak ada jaminan bahwa yang
sudah dikaps pasti akan termaterialisasi
kan. Bisa saja tidak ikut dalam apa yang
diketok di final APBD
atau bisa jadi mempertimbangkan
realisasi dan perubahan-perubahan dari
pusat ataupun dari kondisi sekitar bisa
tidak dilaksanakan. Nah, ini nanti kan
tentu ada mitigasinya sejauh mana kita
bisa berkontrak. apakah bisa berkontrak
atau sekedar menunjuk pemenang dan
kontrak dilakukan di tahun anggaran yang
efektif. Ini yang perlu di ya
jadi itu sekelumit dari apa yang tadi
dibahas oleh Bapak ee Dirjen tadi ee Ibu
Bapak sekalian. Saya mungkin enggak
terlalu mengikuti slide karena ini
sesuatu yang pasti sudah sering di
dilihat oleh Ibu Bapak sekalian ee
keseharian karena ini leadership update
forum kita ingin widening perspektif.
Kita ingin lihat perspektif yang
berbeda.
Kemarin juga dari DPRD memberikan kritik
mengenai kenapa belanja
modal kita turun,
belanja pegawai tinggi, tapi mereka
enggak lihat bahwa belanja pegawai juga
turun sebenarnya dibanding realisasi
2025 di APBD perubahan dan APBD 2026.
Sebenarnya belanja pegawainya ada turun
malah.
dan dikatakan bahwa bagaimana kita bisa
berinvestasi, tapi kita harus menyadari
bahwa investasi kita untuk masa depan
Jawa Timur ini tidak selalu dalam bentuk
yang dikategorisasikan sebagai belanja
modal. Contoh
dikatakan tolong efisienkan anggaran dan
tingkatkan belanja infrastruktur.
Padahal ada yang dari Disub enggak di
sini ya? belanja untuk transjatim
kategorisasinya belanja modal atau
belanja barang dan jasa?
Belanja barang dan jasa
karena kita menggunakan konsep buy the
service.
Udah enggak zaman lagi kita beli
bus, kita yang ngerawat bus, ngerawatnya
juga mungkin bingung ngerawatnya gimana
dan akhirnya kita beli sesuai kemampuan.
kita berkembang sesuai kemampuan kita
beli. Tapi kalau kita pakai buy the
service,
kita bisa rute koridor sudah berapa
sekarang? Lebih dari lima koridor sudah
dilayani. Mungkin kalau kita harus
nyediain bus sendiri, satu koridor aja
ngos-ngosan kita menenuhinya. Itulah
yang disebut by the service. By the
service.
Nah, ini ini salah satu contoh bahwa
memang kita harus ee bisa menyampaikan
kepada publik gitu dialektika ini. Dan
kita enggak boleh menyalahkan
rekan-rekan dewan yang mengkritik karena
memang itu tugas rekan-rekan dewan untuk
menjadi check and balance. Kalau kita
tidak punya check and balance ya bablas
nanti kita. Ada beberapa hal yang tentu
perlu jadi perhatian. Saya tahu yang
kita konsern adalah aset. Kalau kita
hitung berapa nilai aset yang dimiliki
oleh pemerintah provinsi
dan return yield yang dihasilkan, ya
memang PR kita besar. Mungkin kebayang
gitu kalau ada aset management company,
serahkan saja aset itu kepada seorang
profesional. dia dapat remunerasi
proporsional terhadap revenue yang dia
bisa generate dari aset itu. Mungkin
lebih optimal lagi tuh aset-aset itu
untuk di hasilkan yield-nya untuk
pembangunan Jawa Timur. Kira-kira
begitu. Semacam dana abadi tapi
bentuknya aset kan gitu ya. BUMD kita
pun ada dua klasifikasi.
Ada
memang BUMD yang performing well, ada
BUMD yang ada tiga lah. Satu performing
well, satu
performing
istilahnya lehernya di atas air, satu
tenggelam.
Iya. Enggak, karyawan enggak digaji. Dan
kalau dilihat dari sektor bisnisnya, ada
yang bergerak di bisnis yang swasta juga
sudah banyak main di situ. Dan beda
kalau orang naruh duitnya sendiri
dipertaruhkan
itu beda drive-nya.
Jadi pengusaha itu swasta dia punya
pertarukan saya ya noosor-ndelosor nih
kalau bisnis ini jebol. Wah dia akan
berjuang habis-habisan supaya bisnis itu
jalan.
Tapi ya mohon maaf kalau misalnya dia
government own tapi melakukan bisnis
yang sebenarnya swasta bisa melakukan ya
daya saingnya memang enggak enggak mudah
mengelolanya gitu. Nah, pertanyaannya
apakah masih perlu
negara via pemerintah provinsi bergerak
di sektor yang sebenarnya swasta sudah
mumpuni bahkan jangan-jangan lebih
mumpuni dari kita kan gitu. Nah, ini
nanti pertanyaannya bagaimana? Jangan
sampai ada PHK, jangan sampai. Nah, itu
kan yang harus dipikirkan step by step.
Menteri keuangan dengan jelas ngomong,
"Ini kata-kata Menteri Keuangan
contohnya, kenapa kok cukai dibuat
tinggi?" katanya.
Ya, Pak. Emm, setelah dipelajari kalau
cukainya diturunkan pendapatan meningkat
enggak? Meningkat loh. Artinya kan
negara sebenarnya akan dapat lebih
banyak kalau cukai diturunkan. Ini saya
persis ngutip kata-kata Pak MenQ Purbaya
Yudi Sadewa
dulu 2000
10-an ya. Dulu saya pernah menjadi tim
beliau saat beliau menjadi staf khusus
paahatara jasa Menko Perekonomian.
Nah, beliau ngomong baru-baru ini kalau
cukai diturunkan, pendapatan meningkat
loh. Terus kenapa enggak diturunkan aja
gitu kan ya? Karena tujuannya bukan
hanya soal pendapatan, tapi memang
pengin ngerangin orang ngerokok.
Nah, terus yang kerja di sana gimana?
Udah disiapin belum lapangan kerja
alternatifnya? belum. Nah, maka beliau
enggak setuju di situ. Ya, kalau Anda
akan nyekek satu sektor,
bangun sektor yang lain untuk menampung
mereka semua. Belum siap ya jangan
dicekek. Akhirnya keputusan beliau cukai
tidak di naikkan dulu. Walaupun beliau
sempat bilang sebenarnya dia juga mikir
mau menurunkan tapi pengusahanya doanya
mintanya cukainya yang penting enggak
naik gitu. Jadi mungkin intelnya kurang
dalam juga mempelajari kemauan Pak MenQ
gitu ya. Atau mungkin. Tapi
mudah-mudahan masih ada ruang satu lagi
nih. Ini yang itu pelaku UMKM, UMKM ini
ya.
Waktu saya ditanya soal bagaimana nanti
rokok ilegal ini, Pak? Gitu kan. Padahal
kita tahu bahwa rokok yang membayar
cukai, cukai itulah yang kemudian
membiayai rumah sakit yang kita bangun.
Ya tentunya rokok ilegal kalau
pemerintah pandangannya ya tentu harus
bayar cukai. Kira-kira gitulah. Iya kan?
Nah, tapi ternyata respon di Akarub
bervariasi termasuk dianggap merugikan
petani tembakau. Statement seperti itu.
Nah, ternyata karena banyak sekali
pelaku usaha skala-skala kecil. Usaha
skala-skala kecil. Jadi bukan pabrikan
merek besar. Nah, mungkin yang itu ada
konsep yang namanya cukai kelas 3 yang
diharapkan bisa diwujudkan. Jadi
dibedakan. Nah, ini apakah akan
meningkatkan kepatuhan, mengurangi
peredaran rokok yang tidak membayar
cukai? Itu sesuatu yang perlu dialami,
gitu. Nah, itulah dinamika dinamika yang
yang dihadapi. Ee manakala kita bicara
mengenai ee sektoral tadi, bagaimana
soal pendapatan pendapatan kita sekali
lagi tadi yang BUMD tadi kan. Makanya
bagaimana kemudian ee kita bisa
me
merespon dengan tepat. Nah, Ibu Bapak
sekalian satu lagi yang saya pernah
ngomong di sini saya akan sampaikan lagi
bahwa ini rekan-rekan kepala Bapeda dan
Bapenda juga di kabupaten kota maupun
strukala OPD bahwa kita
adalah birokrat ya, panjenengan adalah
birokrat tapi yang menjadi leadernya
adalah political
eh elected, politically elected
official.
Nah, elected official ini tidak bisa
steril dari dinamika di luar.
Harapan kita teknokratik murni bisa
diwujudkan harapan kita. Tapi mari kita
bersifat realistis. Tentu tidak
sesederhana itu.
Nah, tapi tentu ada bedanya antara
pragmatis kompromistis yang kebablasan
dengan sesuatu yang masih dalam koridor
teknokrasi masih bisa diterima. Nah,
tantangan Ibu Bapak sekalian sebagai
leader
adalah memahami koridor tersebut.
Jangan pokoknya yang bisa hanya ini.
Kalau sudah begitu siap-siaplah hidup
bagaikan berada di
tepi juranglah,
berurusan dengan bupati jenengan, dengan
walikota jenengan. Kalau bahasanya ya
hanya ada satu cara, ada buffer, ada
koridor mengenai sesuatu yang
technically implementable
ya dan kemudian memilih bagaimana itu
menjadi politically acceptable.
Idealnya begitu. Maka kita beroperasi
dalam sebuah spektrum.
Yang paling ideal adalah yang
formulasinya itu paling tepat.
Tapi dari tapi ini bukan. Jadi jangan
anggap bahwa kebijakan ini sifatnya itu
hanya singular
tapi bayangkan ini sebagai sebuah
spektrum yang secara teknokratis masih
bisa dilakukan tapi politically ya ini
juga acceptable. Itu tantangan birokrasi
hari ini. Mulai dari ini kan bapeda
semua kan, mulai dari perencanaan.
Orang ngomong mandatory spending gitu
termasuk mandatory spending on
infrastructure itu kan disangkanya
belanja modal infrastruktur.
Infrastruktur mandatory spending 40%
mandatory spending kesehatan 20%
mandatory spending pendidikan 30%
udah 90% aja.
Terus untuk pembinaan ekonomi berapa?
10% kan cukup.
Jadi earing yang seperti ini realistis
atau enggak gitu.
Belanja pegawai Jawa Timur 9T
70%-nya untuk pendidikan dan kesehatan.
Kira-kira begitu. Jadi ya memang tentu
salah satunya kita ikutkan ke dalam
mandatory spending kan proporsi belanja
pegawainya itu sendiri. Nah, yang
infrastruktur tadi itulah yang kita
definisikan sebagai pengeluaran yang
produktif tadi ya. Ada infrastruktur.
Tapi infrastruktur itu sebenarnya kalau
menurut peraturan presiden terbaru
mengenai tahun 2015 kalau enggak salah
ya ee mengenai kerja sama pemerintah dan
badan usaha, pendefinisian infrastruktur
itu ada economic infrastructure, ada
social infrastructure, ada environmental
infrastructure. Nah, social
infrastruktur itu sekolah, rumah sakit,
itu juga infrastruktur,
social overhead capital. Jadi kalau
ditanya belanja infrastruktur, dia bisa
masuk di dalam situ, bisa masuk di dalam
kategori pendidikan maupun kesehatan ya
kategorisasinya.
Nah, jadi itu kira-kira yang bisa kami
sampaikan dan Bapak-bapak sekalian eh
lessons learn dari apa yang terjadi
kemarin.
Dalam situasi seperti ini memang
ada yang mengatakan bahwa ya keahlian
saya,
tupoksi saya adalah melaksanakan tugas
sesuai dengan ya tadi mohon maaf saya
ulangi tupoki kira-kira gitu. Tapi hari
ini di era media sosial kita semua
adalah communicator.
Kita semua dituntut untuk melakukan
komunikasi publik. Dan ini bukan sesuatu
yang mudah.
kita juga beroperasi tidak terisolir
dari entitas lain.
Ada juga
kerentanan dan kepekaan sosial yang
harus kita miliki.
Contoh hari ini tentu menyikapi kejadian
runtuh bangunan kemarin. Tidak sedikit
dari masyarakat kita yang kemudian fokus
mengenai
penyebabnya dan siapa yang harus
dipersalahkan.
Betul enggak?
sebuah menjadi sebuah menjadi sebuah
norma seakan-akan yang berlaku bahwa
dalam sebuah kejadian fokusnya langsung
kepada sebab dan pihak yang harus
dipersalahkan.
Ini harus terjawab memang sebagai upaya
korektif untuk ke depannya. Tapi kita
berurusan dengan hati
dan jiwa.
Sehingga pada saat kami ditanya kemarin,
"Bapak, bagaimana kira-kira apa
penyebabnya?" Kami sampaikan
fokus kita adalah pada penyelamatan
nyawa.
Nah, ini contoh bagaimana kita harus
Nah, yang kedua juga ternyata setelah
kami keliling dengan berbagai pihak
termasuk terakhir pada saat Ibu Gubernur
kemudian ke lapangan setelah mempercepat
kepulangan beliau dari acara misi dagang
yang relatif menurut kami sukses dengan
meraih transaksi R triliun, beliau
kemudian langsung kembali mempercepat
dan lari-lari di bandara untuk mengejar
kepulangan bisa ke Surabaya. Dan tengah
malam beliau di lapangan. Betul.
Ternyata banyak orang tua yang bayangkan
enggak tahu anaknya selamat atau tidak,
tidak diperkenankan ke lokasi karena
berbahaya, hanya bisa memantau dari
kejauhan.
Dan mereka
bertanya-tanya apakah tim itu masih
melakukan pencarian atau sudah give up.
Jadi ternyata constant
message of hope itu menjadi penting.
Nah, kehadiran leader itu bisa
memberikan message of hope tadi bahwa
semua masih action. per detik ini Pak
Sekda di lapangan
untuk menunjukkan bahwa official yang
tertinggi di Jawa Timur apakah itu
gubernur wagup atau saya itu ada di
lapangan untuk memastikan bahwa
the effort itu masih ongoing gitu. Nah,
ini penting gitu tadi. Karena apa?
Karena itu memberikan instilling
confidence. Kita tidak bisa bekerja
tanpa public trust. Nah, idealnya tadi
public trust itu butuh public
communication.
Pencitraan dong, Pak. Ya, gimana ya?
Enggak ada enggak ada item tanpa citra
kan? Semua perlu citra, semua perlu
merek. Contohnya aja orang sekarang itu
mau beli ke minimarket
itu kalau enggak ada embel-embel dua
nama itu ya tu apa ya kadang-kadang
enggak mampir loh. Saya ngalami. Betul
nih, Pak, Kepala Dinas Koperasi di
Trgalek waktu saya bupati. kita
mewajibkan ada Bu Ratna ya, kita
mewajibkan ee Pak Artoyo ya, kepala anu
ini dulu saya Bupati Trenggalik. Maaf
Kir kenapa saya hafal ya. Ee ini waktu
itu kita mewajibkan semua minimarket
harus koperasi
dan waktu itu kemudian dari Pempr ngasih
feedback oh kalau kewenangan mengenai
koperasi bukan di kabupaten. Jadi Anda
enggak bisa bikin perda koperasi.
Kewenangan kabupaten apa? Perdagangan.
Terus saya bilang gini ya. Saya sebagai
yang berwenang atas perdagangan maunya
koperasi. Boleh dong. Saya enggak ngatur
koperasi. Saya ngatur perdagangan. Dan
sebagai pemegang kewenangan perdagangan,
saya maunya minimarket harus koperasi.
Itu kita lakukan di tahun 2016 ya, Perda
itu. Nah, dalam perjalanan banyak yang
enggak mau karena mereka ngerasa saya
mau investan, saya enggak mau koperasi.
Padahal kita minta Anda harus gandeng
warung-warung tradisional situ sebagai
anggota koperasi juga untuk ikut
merasakan rezekinya dari minimarket
berwarba.
Terus gimana, Pak? Ya kalau mau enggak
berwarna laba. Oke, dia bikin tanpa
merek, enggak ada wara,
no franchise. Sepi. Akhirnya give up.
Pak, saya mending bikin koperasi aja,
Pak. Enggak bisa. Kalau enggak waralaba,
enggak ada yang mampir. Nah, that's the
power of brand.
Saya bukan tipe orang yang terobsesi
dengan brand juga gitu. Karena banyak
kerja-kerja yang seyoganya terjadi di
belakang layar. Nah, terlalu terobsesi
pada pencitraan juga berbahaya.
Fokus kepada ketok kerja ke yang
ketimbang beneran kerja itu juga bahaya.
Tapi tidak paham sama sekali bagaimana
mengkomunikasikan, maka trust itu tidak
mudah untuk terwujud. Nah, ini sekali
lagi sama seperti spektrum antara
politis dan juga teknokratis tadi dalam
sebuah policy, dalam sebuah decision.
Begitu bala dengan communication harus
pintar-pintar gitu apa mencari balance
fokus berlebihan pada komunikasi juga
bubra
tidak mau ngurusi komunikasi sama sekali
juga jadi bom waktu karena sulit karena
apa? Karena people live by perspective
hari ini. By perception gitu. Nah,
mudah-mudahan ini peristiwa semalam
berikan juga gambaran tadi Basarnas
kerja mempertaruhkan nyawa ada di
kolong-kolong sana. Orang tuanya
nangis-nangis bilang, "Kenapa semua
enggak ada yang kerja?" Ah, bayangin
jenengan kalau ada di tempat ngeri, Pak.
Balok segede begini posisinya tuh
gantung. Begitu dinyalain ekskavator
goyang geter. Hampir kita ketimpa
kita langsung bayangannya Pak Nyoman
bawa ekskavator kita bongkar. Tapi kalau
ternyata enggak kepakai y
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:05:18 UTC
Categories
Manage