Transcript
2msPWrQjEYk • ASN Belajar Seri 38 | 2025 - Pancasila dan Birokrasi: Dari Spirit Kebangsaan Ke Transformasi Yanblik
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0266_2msPWrQjEYk.txt
Kind: captions Language: id [Musik] Zaman yang terus bergerak, sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan menjadi ASN. berakhlak mulia, siap menyongsong Indonesia emas. ASN belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN cetar berkualitas. ASN belajar wujud pemerintahan kelas dunia. Tad pantang menyerah jadi ASN cepat berkualitas. [Musik] Halo sobat ASN, kita berjumpa lagi dalam webinar ASN belajar yang dipersembahkan oleh Corporate University SDGIS BPSDM Provinsi Jawa Timur. Sebelum memulai webinar, ada beberapa hal yang perlu Sobat ASN perhatikan agar acara dapat berjalan dengan lancar. Satu, tulis nama akun Zoom sesuai dengan format. Nama strip asal instansi Sobat ASN. Dua, aktifkan kamera. Pastikan posisi kamera tidak membelakangi cahaya ya, agar wajah Sobat ASN dapat terlihat lebih jelas. Tiga, gunakan virtual background yang sudah disediakan. Bagi sobat ASN yang sudah mengisi link pendaftaran, virtual background dapat diunduh pada link yang dikirimkan melalui pesan WhatsApp. Empat. Apabila Sobat ASN ingin mengajukan pertanyaan atau berpartisipasi interaktif, Sobat ASN dapat menggunakan reaction angkat tangan atau rise hand pada Zoom meeting. Lima. Bagi Sobat ASN yang mengikuti webinar melalui live YouTube BPSDM Jatim TV dapat menuliskan pertanyaan melalui kolom live chat. Enam. Jangan lupa siapkan alat tulis untuk mencatat hal-hal penting, ya. Siapkan pula alat tulis sobat ASN selain untuk mencatat hal-hal penting. Hal ini dapat mempertajam pemahaman Sobat SN tentang materi yang disampaikan oleh narasumber. Tujuh. Untuk mendapatkan e-sertifikat pada webinar ini, Sobat ASN wajib mengisi link presensi yang akan kami bagikan pada saat acara webinar berlangsung. Jangan lupa untuk mengisi lembar penilaian dan kuesioner juga agar e-sertifikat Sobat ASN dapat diunduh. Itulah beberapa hal yang patut Sobat ASN perhatikan selama mengikuti webinar ini. Tetap semangat dan selamat mengikuti webinar ASN Belajar. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Nugroho. Saya dari Biro Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur. Pada saat ini saya mengikuti pelatihan khusus analis kebijakan angkatan 4 di BPSDM Provinsi Jawa Timur. Pada pelatihan ini kami mengikuti pelatihan dengan bantuan LMS, offline, in class, dan Zoom meeting. Semuanya membuat pelatihan terasa bervariasi dan semakin menarik. LMS bisa memudahkan saya untuk mengakses materi-materi kapan saja dan di mana saja. Zoom memudahkan kami semua peserta untuk bisa berinteraksi aktif dengan para narasumber dan Incl memberikan kita semua fasilitas untuk saling meningkatkan networking dan saling berkoordinasi satu sama lain. BPSDM Jatim memberikan pelayanan terbaik, fasilitas yang terbaik dalam pelatihan saat ini. Dan saya harap BPSDM Jatim semakin maju dan jaya ke depannya. BPSDM Jatim juara juara juara. Selamat pagi. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Ntiani dari Biro Pemerintahan dan oton daerah sekretariat daerah Provinsi Jawa Timur. Peserta pelatihan khusus analis kebijakan tahun 2025. di mana dalam pembelajaran ini kami menggunakan metode trending yaitu ee satu dengan online class di mana dengan online class dengan kemajuan teknologi kami dapat ee pembelajaran secara online efektif dan efisien. Kemudian kedua dengan menggunakan eh learning management system di mana semua materi-materi yang diberikan oleh ee narasumber dapat kita download dan dapat kita ee pelajari setelah ee kita men-download. Kemudian ketiga dengan class di mana kita dapat berinteraksi bertukar pikiran dengan ee para peserta dan juga bertemu dengan fasilitator yang ada di BPSDM yang satset. Ee terima kasih kami ucapkan kepada BPS Jatim, BPSDM Jatim juara. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Saya kaget nama saya disebut buat kesan dan pesan. Jadi kesan saya ee mengikuti pelatihan ini. Saya juga ee terima kasih BPSDM sudah memberikan kesempatan untuk menambah wawasan tentang analisis kebijakan. Ee namun dengan waktu yang singkat padat melalui LMS. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Selamat sore dan salam sejahtera kita semua. Salam sehat Bapak Ibu. Alhamdulillah hari ini hadir semua ya. Ada yang izin hari ini? Oh, ada yang di Korea. Oke, yang lain mudah-mudahan sehat semua dan semua. Yang kami hormati Pak Sugeng wakil kelas dari pelatihan KAKK angkatan yang luar biasa ini angkatan 45 seperti tahun kemerdekaan kita. Beri applaus untuk Bapak Ibu sekalian. Yang kami hormati pula analis pemuda dan Bu Uci dan teman-teman tim dariana serta seluruh peserta pelatihan angka baik angkatan 4 maupun 5 Provinsi Jawa Timur yang berbahagia. [Musik] Jfak angkatan 4 dan 5 sukses merdeka. BPSBM Jatim juara. Juara juara. Jawa Timur [Musik] direktur Pembelajaran Karakter dan Sosial Kultural Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia Bapak Deni Junanto, S. Mpp. PXID. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur yang diwakili Kepala Bidang Pembina, Guru dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Salam sehat Bapak, Ibu. Yang terhormat Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur, Bapak Dr. Randlianto, S.PMP. Terima kasih, Bapak. Hari ini ada empat acara beliau. Bapak, Ibu alhamdulillah berkenan menyempatkan waktu untuk teman-teman JF di Jawa Timur. Terima kasih Pak Kaban. Yang kami hormati pula instansi pembina yang pertama dari Dinas Pendidikan hadir Bu Dranda Eti Prawesti, M.Si., Kabit Pembinaan Gtk Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Terima kasih, Ibu. Seluruh peserta hadir guru SMA dan ee SMK di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Izin melaporkan hari ini akan ada pembukaan yaitu untuk pelatihan fungsional sosial kultural jenjang du. Baik, terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yang saya hormati tim dari Direktorat Pembelajaran Karakter dan Sosial Kultural Lembaga Infasi Negara Republik Indonesia. dan para panitia penyelenggara, para instruktur, para narasumber, para widyaiswara, dan tentu yang saya banggakan peserta pelatihan ee sosial kultural jenjang dua. Di dalam undang-undang disebutkan bahwa kompetensi sosial kultural adalah kompetensi di mana ASN akan mengejawan wantah sebagai ee perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Gak tahu jalannya dari santai saja Mas ya dicat ini kesendangan sesama guru saja bisa ada konflik karena kesendangan akhirnya kepala sekolah kadang-kadang kait dari kepala sekolah beli opo sih begitu sampai setahun beli mobil kesendan buat apa kesend buat apa kata monggo bui Artinya anak-anak kita yang masih belum apa namanya memahais yang berikutnya karena sekarang juga perkembangan FPI SH itu banyak dari sampah danasan karena baru sudah Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Perkenalkan nama saya Darsanuddin Nurkafat dari SMA Negeri 2 Mejayen Kabupaten Madiun. Di sini saya sebagai peserta pelatihan sosial kultural yang diadakan oleh BPSDM Provinsi Jawa Timur. Di mana kegiatan ini itu ada dua aktivitas. Yang pertama MOC secara online atau daring. Kemudian yang kedua diadakan secara klasikal di mana yang pertama itu berada di kantor BPSDM Provinsi Jawa Timur dan ee kegiatan klasikal yang kedua itu ada lokus atau studi lapangan di Surakarta. Yang pertama itu ada di kantornya Bages Bangpol. Kemudian studi lapangan yang kedua itu diadakan di SMAN 1 Surakarta. di mana kegiatan semua yang diadakan oleh BPSDM Provinsi Jawa Timur itu sangat menarik dan menambah di mana ilmu-ilmu dan wawasan yang kita dapatkan dari kegiatan ini nantinya akan kita tularkan pada guru-guru. Terus kemudian di mana guru-guru itu nanti akan mengabdikan dirinya memberikan pelayanan yang terbaik kepada siswa-siswa yang berada di sekolahan masing-masing. Jadi kegiatan ini sangat bermanfaat sekali bagi guru-guru. Terima kasih BPSDM Provinsi Jawa Timur. BPSDM Provinsi Jawa Timur. Juara juara juara. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pelatihan sosial kultural jenjang dua provinsi Jawa Timur. Salam Pancasila. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Desi Nurul Imaniar. Saya dari SMA Negeri 2 Situbondo. Di sini saya mewakili teman-teman saya dalam pelatihan sosial kultural jenjang 2 Provinsi Jawa Timur tahun 2025. Saya mewakili teman-teman saya mengucapkan banyak terima kasih terutama kepada BPSDM karena telah memberikan sarana dan prasarana yang luar biasa telah menghadirkan ee para narasumber yang luar biasa kepada kami sehingga kami banyak mendapatkan ilmu-ilmu baru. Semoga nantinya kami bisa menularkan kepada anak didik kami sebagai ujung tombak dalam perjuangan bangsa yang akan mewarnai Indonesia ke depan. Terima kasih BPSDM Jatim. BPSDM Jatim juara juara juara. Hai assalamualaikum saya Coach Nfiani. Hari ini rasanya hati saya hangat bahagia sekali ketika membersamai guru-guru dari ee Jawa Timur ya. Masyaallah dengan ee BPSDM Jawa Timur yang mengadakan acara hari ini. Saya melihat betapa guru-guru itu tuh sangat siap gitu ya untuk menerima apa yang ingin disampaikan hari ini. Mereka adalah guru-guru yang lembut hatinya, punya cinta yang besar banget dan insyaallah siap untuk memberikan cinta kepada anak-anak didiknya. Saya merasa punya harapan Indonesia masih punya banyak harapan ketika guru-gurunya seperti ini. Sampai ketemu di acara BPSD yang berikutnya. Semangat guru-guru karena dirimu punya jasa yang tidak pernah bisa dibalas. Terima kasih. istilahnya LKM. banyak anak-anak siswa kami itu ee melakukan perilaku yang saya ketika MLS itu sering mendapatkan PKKBN bahaya stunting ya peringat gini karena usia belum matang jadi kalau bahasanya orang anak ya untuk pengembangan secara kultural ee Bapak Ibu Dengan bangganya saya secara pribadi mengucapkan mengucapkan terima kasih. Banyak ilmu yang telah saya dapatkan secara pribadi ee baik itu ilmu yang terkait dengan ee kompetensi saya ee yang secara spesifik adalah bagaimana kita menghadapi kenyataan hidup. Ternyata kita berbeda. Luar biasa. Dan nanti ee sertifikat akan kami bagikan memohon ee rida dari Allah Subhanahu wa taala dan juga mengucapkan syukur. Mohon izin juga Bapak Ibu kami dengan bacaan alhamdulillahiabbil alamin mengakhiri dan juga menutup latihan eh Sou School jenjang 2 Provinsi Jawa Timur tahun 2020. Terima kasih dan di Selati. Cukup sekian terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] apa namanya ee untuk segera berdiskusi dengan para narasumber dari BAPENAS ataupun dari unit-unit kerja yang lain yang kompeten. Dan dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim dengan senantiasa mengharap rida Allah subhanahu wa taala pada hari ini hari Rabu tanggal 16 Juli tahun 2025 pelatihan perencanaan dan penganggaran angkatan 2 tahun 2025 BPSDM Jawa Timur secara resmi saya nyatakan dibuka dan dimulai. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] kita di dalam dokumen perencanaan kita secara nasional maupun secara nasional di dalam sistem perencanaan sistem pembangunan nasional yang ada di Undangan nomor 25 tahun 24 itu sebetulnya ada tiga dan mendiskusikan dokumen perencangan penganggaran yang tidak ada dan untuk menghasilkan dokumen perencangan penganggaran yang lebih berkualitas. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Muhammad Isan Abdurrahman dari Biro Administrasi Pimpinan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur. Saya berkesempatan untuk mengikuti diklat perencanaan dan penganggaran tahun 2025 angkatan kedua di BPSDM Provinsi Jawa Timur. Diklatnya dilaksanakan dengan blended running yaitu online dan offline di BPSDM Provinsi Jawa Timur. Cara ini sangat bermanfaat bagi rekan-rekan jabatan fungsional perencana di lingkungan Provinsi Jawa Timur. Semoga dapat memberikan manfaat dan barokah khususnya dalam pelaksanaan tugas perencanaan dan juga BPSDM Provinsi Jawa Timur dapat terus menjadi pelopor dan dalam mengembangkan SDM di Provinsi Jawa Timur. Maju terus BPSDM Provinsi Jawa Timur. Juara. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Imang Indahuning Room dari Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Sutomo. Saya sebagai peserta pelatihan perencanaan dan penganggaran angkatan 2 tahun 2025 di BPSDM Provinsi Jawa Timur. Kesan saya selama pelatihan di sini untuk yang offline atau yang dilaksanakan secara tatap muka di sini untuk sarprasnya sangat baik terutama yang ada di kelasnya. Ee dari sisi ee penginapan mungkin ke depan bisa di ee tambahkan untuk pemeliharaannya supaya kita semua yang berada di sini dan tinggal di sini semakin nyaman dan aman untuk melaksanakan pelatihan di BPSDM Provinsi Jawa Timur. Terima kasih. Kami juga mengucapkan terima kasih sekali kepada Ibu Walikas, kepada Bapak narumber. ilmu yang telah kami dapat selama mengikuti pelatihan ini akan kami gunakan untuk menambah wawasan di kantor atau di OPD masing-masing. [Musik] Acara semuanya semoga sehat selalu sampai di rumah ketemu keluarga bahagia dan tentunya apa yang kita dapatkan ilmu terutama semoga bisa dimanfaatkan di OPD-nya masing-masing. Mungkin itu yang bisa saya sampaikan Bapak Ibu atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur BPSDM saya mewakili bahwa pelatihan ee perencanaan dan penganggaran angkatan 2 tahun 2025 dengan mengucap alhamdulillah dinyatakan diakhiri. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi sobat ASN di mana pun berada. Baik yang sudah bergabung di Zoom meeting dan live YouTube BPSDM Jatim TV. Senang sekali saya Yuri Sabrina yang pada pagi hari ini dapat kembali menyapa Sobat ASN dalam webinar ASN belajar seri 38 tahun 2025 persembahan Corpu SDGs BPSDM Provinsi Jawa Timur. Yeay. [Tepuk tangan] Di era digital dan globalisasi birokrasi Indonesia dituntut untuk tidak hanya cepat dan efisien, tetapi juga berakar pada nilai-nilai Pancasila. Pelayanan publik yang transparan, adil, dan humanis adalah wujud nyata pengalaman ideologi bangsa dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mewujudkan hal tersebut, kita sebagai ASN dituntut untuk mampu mengintegrasikan nilai-nilai kebangsaan dengan prinsip-prinsip good governance dan inovasi digital. Oleh karena itu, dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila, mari belajar bersama terkait relevansi Pancasila dalam membentuk birokrasi yang humanis, inklusif, dan berdaya saing bersama. Webinar ASN Belajar seri 38 tahun 2025. [Musik] Sobat ASN, untuk membuka webinar ASN belajar seri 38 tahun 2025 kali ini, marilah kita bersama dengarkan opening speech yang akan disampaikan oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur, yaitu Bapak Dr. Ramlianto, S.P., MP. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sehat dan salam sejahtera untuk kita sekalian. Sobat ASN di seluruh tanir, selamat bertemu kembali dalam webinar series ASN belajar, sebuah wahana pengembangan kompetensi ASN persembahan Jatim Corporate University, Badan Pengembangan Sumber dan Manusia Provinsi Jawa Timur. Hari ini Kamis tanggal 2 Oktober 2025, ASN belajar telah memasuki seri yang ke-38. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas antusiasme sobat ASN di seluruh negeri untuk terus mengikuti secara aktif program ASN belajar ini. Sebagai bentuk terima kasih kami, kami selalu berkomitmen dan sekaligus terus berikhtiar untuk menyajikan topik-topik pengembangan kompetensi yang menarik, kekinian, dan tentu berdampak secara nyata terhadap peningkatan kompetensi dan kinerja aparatur sipil negara di Indonesia. Sobat ASN, hari ini ASN belajar seri ke-38 tahun 2025 ini menyajikan salah satu topik dalam rangka memberikan sumbangsi pemikiran pada momen hari kesaktian Pancasila yang kita peringati setiap tanggal 1 Oktober. Sebuah momentum yang bukan sekedar mengenang sejarah, tetapi juga menghidupkan kembali kesadaran kita bahwa Pancasila adalah pondasi sekaligus penuntun arah bangsa. Karena tema ini tepat untuk kita elaborasi secara luas dan mendalam, maka ASN belajar seri ke-38 tahun 2025 ini mengangkat topik Pancasila dan birokrasi dari spirit kebangsaan ke transformasi pelayanan publik. Nah, sudah menjadi transisi akademik dalam ASN belajar bahwa topik menarik ini akan kita bahas secara intensif dari beragam perspektif bersama para narasumber yang sangat kompeten di bidangnya. Sabat ASN di seluruh tanah air, Pancasila adalah bintang penuntun bangsa. Ia bukan hanya dasar negara, tapi juga sumber nilai, orientasi moral, dan panduan etis dalam setiap kebijakan dan tindakan kita. Pancasila adalah roh kebangsaan yang mengikat keberagaman Indonesia menjadi satu harmoni. Ia merangkul perbedaan menyatukan keberagaman agama, suku, dan budaya dalam satu rumah besar bernama Indonesia. Di dalamnya terkandung nilai ketuhanan, kemanusiaan, tekad persatuan, permusyawaratan, serta keadilan sosial yang menjadi benteng bangsa menghadapi berbagai tantangan zaman. Bagi birokrasi, Pancasila adalah sumber energi moral yang menuntun ASN agar tidak hanya bekerja secara prosedural, tapi juga menjiwai setiap pelayanan dengan keadilan, kejujuran, dan keberpihakan pada rakyat. Dengan Pancasila, birokrasi bukan hanya mesin administrasi, melainkan wajah negara yang humanis dan berintegritas. Bagi birokrasi, Pancasila bukan sekedar teks konstitusional yang dibaca hanya pada saat upacara, melainkan energi yang harus menghidupkan setiap denyut pelayanan publik. Bagi birokrasi, Pancasila adalah kompas moral dan etika kerja yang menuntun setiap aparatur untuk bekerja bukan hanya demi memenuhi target, tetapi juga untuk menghadirkan rasa keadilan dan kemanusiaan dalam pelayanan publik. Di tengah arus disrupsi, digitalisasi, dan kompetisi global, birokrasi kita seringkiali dituntut untuk berubah cepat, tangkas, dan adaptif. Namun perubahan tanpa pijakan akan kehilangan arah. Sobat ASN di seluruh tanah air, di sinilah Pancasila hadir sebagai jangkar dan kompas yang menjaga agar inovasi birokrasi tidak tercerabut dari akar kebangsaan, agar transformasi birokrasi tetap berwajah humanis, dan agar pelayanan publik senantiasa berlandaskan nilai keadilan, persatuan, dan kemanusiaan. Birokrasi yang berpancasila adalah birokrasi yang tidak hanya efisien, tapi juga menghadirkan keadilan. Tidak hanya cepat, tetapi juga beretika. Tidak hanya modern, tapi juga menumbuhkan kepercayaan publik. Dari sinilah spirit kebangsaan menemukan bentuk nyatanya dalam kerja-kerja ASN sehari-hari. Transformasi pelan publik tidak boleh hanya berhenti pada sistem dan prosedur. Ia harus menyentuh dimensi yang lebih dalam, nilai, sikap, dan budaya. ASN adalah wajah negara di mata rakyat. Maka setiap senyuman, setiap kebijakan, dan setiap tindakan dan perkataannya adalah cerminan dari Pancasila yang hidup. Sobat ASN di seluruh tanah air. Lalu bagaimana kita sebagai ASN Indonesia bukan sekedar sebagai aparatur yang menjalankan administrasi, tapi juga pewaris nilai Pancasila, menjaga moral bangsa dan agan perubahan yang menyalahkan harapan masyarakat. Nah, untuk membahas cerdas dan tuntas topik ini, kami telah mengundang para narasumber hebat yang luar biasa yang sudah barang tentu sangat kompeten di bidangnya. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada para narasumber hebat yang telah berkenan hadir dan akan berbagi berbagai informasi strategis kepada Sobat ASN di seluruh tanah air. Pertama kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Bapak Sadono Sriharjo, ST, MM. Beliau adalah Direktur Pelaksanaan Diklat Pembinaan Ideologi Pancasila pada Badan Pembinaan Ideologi Pancasila atau BPIP. Kedua, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Bapak Dr. Listiono Santoso, SS, MHum. Beliau adalah seorang dosen ilmu filsafat dari Universitas Erlangga Surabaya. Dan ketiga, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Bapak Zulfikar Waliuddin Fattah, M.Pd. Beliau adalah tim pengembang laboratorium Pancasila pada Universitas Negeri Malang. Nah, Sobat ASN, mari kita simak dengan seksama webinar ASN belajar seri ke-38 tahun 2025. Semoga bermanfaat. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih kami ucapkan untuk Bapak Dr. Ramlianto, S.MP ya. Nah, sebelum kita berlanjut ke sesi berikutnya, Sobat ASN, kami informasikan bahwa saat ini Sobat ASN sudah dapat melakukan presensi pada laman semesta Bangkom. Link presensinya dapat Sobat ASN lihat pada running teks di bawah ya, kolom chat Zoom dan pincet YouTube BPSDM Jatim TV. Dan dikarenakan saat ini traffic presensi sedang tinggi, bagi sobat ASN yang masih belum bisa mengakses presensi dapat mencoba kembali secara berkala sampai dengan pukul 12.00 siang. [Musik] Sobat ASN, kita akan simak bersama materi pertama yang akan disampaikan oleh tim pengembang laboratorium Pancasila sekaligus dosen pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan Universitas Negeri Malang, Bapak Zulfikar Waliudin Fattah, M.Pd. [Musik] Selamat pagi, Pak Zulfikar. Selamat pagi, Mbak Yuris. Gimana kabar, Pak? Sehat, Pak. Alhamdulillah. Alhamdulillah. sudah siap ya, Pak, untuk membagikan materi pada pagi hari ini ke sobat ASN yang sudah kayaknya semangat banget nih, Teman-teman Sobat ASN untuk menyimak materi dari Pak Zulfikar. Siap. Semangat. Baik, Bapak kami persilakan. Oke. Baik, terima kasih. Selamat pagi. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita semuanya. Shalom. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan rahayu. Salam Pancasila. Terima kasih saya ucapkan ee untuk materi pertama yang diberikan kepada saya di sini. Saya akan ee bersama-sama dengan Sobat ASN semuanya membahas terkait dengan Pancasila dan good governance sebagai jalan menuju reformasi pelayanan publik. Oke. Baik, bisa ditampilkan slide-nya. Slide-nya bisa ditampilkan mungkin. Cek. Halo. Tes. Oke, slide yang pertama monggo bisa di tampilkan. Oke, baik. Terima kasih ee dari saya saja kalau gitu ya. mungkin ee ada sedikit gangguan. I baik. Eh yang pertama dalam topik Pancasila dan juga good governance sebagai jalan menuju reformasi pelayanan publik. Di sini kita awali dengan sebuah pertanyaan yang kemudian bisa merefleksi kita bersama begitu ya terkait dengan pertanyaan apakah ASN saat ini sudah benar-benar menjadi pelayan masyarakat. Nah, Sobat ASN semuanya, mari kita refleksi bersama apakah tugas ini sudah benar-benar dijalankan dengan betul-betul. Karena ASN tugas utamanya adalah salah satunya adalah terkait dengan pelayanan publik dan juga pelayanan masyarakat. Nah, di sini kita bisa melihat perbedaan gitu ya dalam paradigma pelayanan publik. Tentu saja ini ada model pelayanan dalam birokrasi lama dan juga ataupun versus birokrasi baru. Nah, apa perbedaan-perbedaan yang ada dalam format birokrasi lama dan juga birokrasi yang baru? Kita bisa melihat di slide selanjutnya di mana pertanyaan yang menjadi refleksi kita berikutnya adalah apa yang dimaksud dengan good governance. Apa yang dimaksud dengan good governance? Di sini merupakan salah satu refleksi kritis bagaimana pelayanan publik itu bisa berjalan dengan ideal. Good governance adalah suatu tata kelola gitu ya, suatu tata kelola ee pemerintahan dan juga ekonomi, politik dan semuanya terkait dengan pelayanan publik yang kemudian menekankan pada efektivitas ya transparansi, akuntabel dan juga equity. Nah, di sini kita semuanya harus merefleksi apakah kita ini sudah menjadi seorang ASN yang ee melakukan pelayanan seperti good governance itu sendiri. Nah, mari kita mulai dari landasan filosofis dan juga konseptual. Yang jelas ini akan berhubungan dengan nilai-nilai dari Pancasila. Oke. Pancasila adalah jiwa dan juga etika bangsa Indonesia. Pancasila terdiri dari lima sila dan kita tahu Pancasila itu bukan hanya sebuah ideologi, bukan hanya sebuah dasar negara, melainkan Pancasila ini adalah jiwa bangsa. Pancasila ini adalah way of life. Pancasila adalah pedoman hidup. sehingga kita bisa merefleksi nilai-nilai Pancasila itu mulai dari sila pertama ya ketuhanan ee nilai-nilai kemanusiaan kemudian nilai-nilai persatuan, kerakyatan dan juga keadilan sosial. Apakah kemudian dari spirit Pancasila ini sudah terinternalisasi dengan baik pada jiwa dan diri sobat ASN semuanya? Nah, ini menjadi refleksi kritis apakah Pancasila ini hanya sebatas teks gitu ya, apakah Pancasila ini hanya sebatas konsep namun dalam pelaksanaannya tidak berjalan dengan baik. Nah, mari kita refleksi bersama-sama. Jika dikaitkan dengan pondasi pelayanan publik itu sendiri, ada nilai keadilan sosial, kemanusiaan, dan juga persatuan yang di sini menjadi sebuah landasan etis dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Pancasila di sini juga berfungsi dalam mendorong pondasi pelayanan publik ini pada setiap aparatur negara untuk menginternalisasi nilai Pancasila dalam setiap tindakan dan juga pelayanannya. Nah, ini yang kemudian menjadi korelasi pertama antara Pancasila dan juga pelayanan publik. Pancasila adalah spirit dan juga pelayanan publik ini berlaku sebagai tools atau alat. Spirit dan alat ini jika digunakan dengan baik maka bisa menjadikan gitu ya pelayanan publik ini menjadi lebih baik, lebih efektif, lebih humanis, dan juga lebih transparan sesuai dengan jiwa Pancasila yang menjadi pedoman hidup dari bangsa Indonesia. kita lanjut. Nah, paradigma baru dalam tata kelola pemerintahan dalam lingkup good governance ini tidak lepas dari tiga sektor yang akan kita bahas di slide gitu ya. Ada yang namanya ee pemerintah. Nah, pemerintah ini sebagai apa? Sebagai regulator, sebagai fasilitator untuk apa? Untuk membangun pertanggungjawaban dan berlaku secara demokratis. pemerintah yang pertama. Yang kedua adalah sektor swasta yang tidak ee kita tinggalkan begitu ya. Dalam sektor swasta ini menjadi sebuah mitra strategis dalam pembangunan ekonomi dan pelayanan publik yang efisien. Dan yang ketiga yang menjadi paradigma baru di sini adalah masyarakat madani. Partisipasi aktif dalam masyarakat di sini dapat mendorong terciptanya goodance partisipasi aktif dalam apa? dalam pengawasan dan juga evaluasi kinerja pemerintahan. Karena masyarakat yang baik bukan hanya berlaku ee untuk menerapkan regulasi yang ada dari pemerintah, namun juga mengawasi, namun juga mengevaluasi agar apa? tercipta sinergitas antara pemerintah, sektor swasta, dan juga masyarakat yang kebutuhannya ini akan tercukupi dengan adanya lingkaran atau sinergitas dari ketiga sektor ini. Nah, dari itu maka good governance ini merupakan sebuah manajemen pembangunan yang solid, bertanggung jawab, efisien, serta demokratis dengan melibatkan ketiga pilar ini. Oke, kita lanjut. tiga pilar good governance dalam aksinya ya. Yang pertama adalah kolaborasi strategis, sinergi antar pilar, tata kelola yang berkelanjutan. Kemudian yang kedua tidak kalah penting adalah pembagian peran gitu ya. Setelah bersinergi dengan baik, pembagian peran ini juga mendapatkan porsi yang cukup penting di mana peran-peran yang spesifik ini harus bisa efektif berjalan untuk menuju kepada good governance tadi. Nah, itu tidak lepas. Yang ketiga adalah akuntabilitas bersama, tanggung jawab kolektif terhadap kesejahteraan masyarakat. Kembali lagi karena ASN ini adalah pelayanan gitu ya, fungsi utamanya adalah kepada pelayanan negara, kepada masyarakatnya. Maka di sini para sobat ASN ini adalah pemikul tanggung jawab yang kemudian mempertanggungjawabkan program-program yang dijalankan dengan efektif, dengan baik kepada masyarakat. Nah, akuntabilitas ini penting dalam aksi good governance. tu. Oke. Ee setelah kita tadi membahas dalam bingkai landasan filosofis dan teoritis, kita masuk pada prinsip-prinsip good governance dalam pelayanan publik. Nah, apa saja yang dimaksud di sini prinsip-prinsip ini? Prinsip utama dalam good governance, gitu ya. Good governance di sini adalah melibatkan partisipasi masyarakat yang baik. Itu prinsip yang pertama. Nah, jadi jangan sampai pelibatan masyarakat, pelibatan ee dalam forum, terus aspirasi dan juga partisipasi dalam perencanaan ke depan dalam hal apapun itu, itu harus di ee miliki atau kemudian dihimpun oleh ee governance yang baik itu kemudian bisa dijadikan program-program yang baru. partisipasi masyarakat ini akan mendorong kemajuan ini sama baiknya dengan transparansi. Transparansi yang dimaksud di sini adalah terkait dengan dalam utama dalam good governance itu adalah pertama akses informasi publik. Apakah publik ini bisa mengakses gitu ya informasi yang luas oleh sebuah lembaga? Apakah publikasi anggaran dan kinerjanya ini sudah dipublikasikan dengan baik secara transparan? Apakah kemudian proses pengadaan ini ee diberikan secara dengan prinsip terbuka? Nah, ini yang kemudian harus dimiliki oleh prinsip-prinsip dalam good governance terutama pada partisipasi masyarakat dan juga transparansi. ini penting untuk dilakukan tanpa adanya ini ketika pilar yang di awal tadi kita bahas ada partisipasi masyarakat di sini yang kemudian dibantu dengan transparansi yang baik ini akan mendorong ee tata kelola pemerintahan ini menuju good governance. Prinsip selanjutnya dalam good governance ini yang tidak kalah penting adalah akuntabilitas. Akuntabilitas sama dengan pertanggungjawaban pejabat publik dan juga setiap keputusan dan tindakan yang diambil menjalankan mandat. Jadi pertanggungjawaban misalkan apakah kemudian para sobat ASN ini sudah melakukan pertanggungjawaban dengan baik, apakah kemudian mangkir dari tugas dan yang lain-lain itu jangan sampai terjadi karena itu menyalah yang dari namanya prinsip good governance. Akuntabilitas itu penting yang dimiliki oleh Sobat ASN semuanya. Yang ketiga adalah supremasi hukum gitu ya, penegakan hukum yang adil. konsisten dan juga tidak memandang status sosial dalam memberikan keadilan. Nah, yang ke yang terakhir adalah efektivitas dan juga efisiensi. Ini perlu di ditekankan juga dalam prinsip good governance. Apakah pelayanan kita sudah tepat sasaran? Apakah sudah tepat waktunya? Apakah sudah efisien? Apakah sudah optimal dengan sumber daya yang ada? Nah, jika sudah berarti perlu dievaluasi untuk ditambahkan dalam rencana kerja baru untuk menambahkan efektivitas sehingga pelayanan menjadi lebih baik lagi. Jika belum dievaluasi apa yang kurang kemudian ditambahkan pelayanan-pelayanan yang ee sesuai dengan prinsip-prinsip good governance tadi. Selanjutnya dalam sebuah studi kasus gitu ya, pelayanan publik kita ada beberapa pencapaian positif yang ada di dalam sebuah pelayanan publik atau services. perbaikan waktu ya layanan yang signifikan itu perlu karena ya dalam studi kasus banyak terjadi gitu ya ee waktu pelayanan itu tidak menggunakan waktu yang efektif atau bertele-tele dan juga peningkatan integritas petugas pelayanan. Integritasnya ee petugas pelayanan itu juga perlu gitu ya untuk ditingkatkan. keramahan dan profesionalisme petugas serta kelengkapan sarana dan prasarana. Pencapaian positif ini menjadi salah satu tumpuan untuk menuju sebuah services pelayanan publik dalam good governance. Lalu muncul tantangan apa yang kemudian bisa dihadapi dalam kasus pelayanan publik di masyarakat kita. pertama adalah kadang-kadang gitu ya muncul ketidakhadiran petugas ya yang biasanya ee dalam ee kasus-kasus tertentu itu molor jamnya begitu ya. Kemudian mungkin ada gangguan ee dari listrik yang kemudian menghambat dari pelayanan itu. Nah, itu perlu diantisipasi jaringan internet juga karena kita sudah digitalisasi gitu ya pada era digitalisasi ya. ini yang perlu dihadapi, dipersiapkan apa saja tantangannya, ya. Baru ee birokrasi ini akan menentukan, mengevaluasi apa saja yang dihadapi dalam tantangan ini yang kemudian solusinya apa. Nah, ketika solusi itu bisa menghadapi tantangan dan gangguan yang dihadapi tadi, niscaya pelayanan publik ini akan berjalan dengan baik, gitu. Jadi intinya apa? Implementasi good governance ini juga memerlukan dukungan dari infrastruktur yang memadai dan juga selain itu ada komitmen dari seluruh aparatur ee sobat ASN semuanya dari aparatur negara, dari aparatur pelayanan semuanya harus memiliki komitmen juga jadi saling mengisi gitu ya. Kemudian di bab yang ketiga kita di bagian yang ketiga kita masuk pada reaktualisasi nilai Pancasila dalam pelayanan publik modern. Nah, apa sih di sini yang dimaksud dengan reaktualisasi? Nah, yaitu mengaktualisasikan kembali gitu ya, menerapkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam pelayanan publik yang modern ini. Seperti apa? Pertama, nilai Pancasila ini harus dijadikan sebagai landasan etika. Ya, karena Pancasila tadi berlaku sebagai way of life gitu ya, berlaku sebagai pedoman hidup. Maka seluruh aparatur itu harus memiliki jiwa Pancasila dalam pelayanan publik ini. Ya, pertama jelas dalam sila ketuhanan, spiritualitas, nilai religi itu harus ada dalam setiap para aparatur negara. Itu yang harus dimiliki. Kemudian yang kedua terkait dengan nilai kemanusiaan gitu ya. melayani dengan penuh empati, menghormati harkat dan martabat setiap warga negara. Tidak ada diskriminasi di sini. Kita memandang ee masyarakat itu sebagai sebuah subjek yang sama gitu ya, sebagai subjek yang setara, tidak kemudian dibeda-bedakan. itu harus seperti itu dalam memberikan pelayanan ketika melandaskan etika Pancasila ini sebagai landasan pelayanan publik. Yang kedua, yang ketiga adalah persatuan membangun solidaritas gitu ya, publik gitu ya, pelayanan publik yang mengutamakan kepentingan bersama. Jadi mengutamakan kepentingan bersama dibandingkan kepentingan dari masing-masing golongan, masing-masing individu gitu ya. itu harus diutamakan. Jadi, apakah itu sudah menjadi gitu ya? Apakah itu sudah ee termuat semuanya dalam etika pelayanan Sobat ASN semuanya? Ya, mari kita refleksikan bersama-sama. Yang keempat adalah kerakyatan. Ya, nilai kerakyatan di sini di sila keempat. Apa yang dimaksud etika pelayanan dalam kerakyatan di sini adalah mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pengambilan keputusan. Nah, ini yang kemudian tadi aspirasi dari masyarakat itu disaring. Ada help-nya gitu ya, ada ee apa layanan lapor, ada layanan keluh kesah. Nah, itu merupakan salah satu penjaringan aspirasi begitu dalam landasan etika pelayanan kita. ini menjadi sebuah evaluasi ketika layanan masyarakat ini memenuhi aspirasi dari masyarakat itu kepuasan dari masyarakat juga pasti akan meningkat. Oke, yang ke terakhir adalah landasan etika keadilan sosial. Di mana ee etika dalam keadilan sosial ini memberikan pelayanan yang setara tanpa adanya diskriminasi tadi yang adil jika datangnya ee terakhir gitu ya. ya didulukan yang pertama tadi datang bukan berdasarkan orangnya ini pejabat saya dulukan tidak tapi bagaimana memandang seseorang itu sebagai subjek utama yang setara gitu ya yang setara tanpa memihak pada kepentingan apapun itu gitu ya jadi landasan etika harus ee dimiliki gitu ya dalam landasan pelayanan publik gitu itu dari nilai masingmas masing-masing sila. Kemudian kita masuk pada bagian berikutnya gitu ya. Di sini ada digitalisasi pelayanan gitu ya. Karena kita sudah memasuki era digital di sini, kita bisa melihat gitu ya serba digital terkait dengan pelayanan dari ee para aparatur negara dengan tata kelola pemerintahan ini sudah banyak mengadopsi ee teknologi, sudah banyak mengadopsi terkait dengan pelayanan yang berbasiskan digital. Nah, ternyata setelah melakukan digitalisasi dalam hal pelayanan ini dalam bidang apapun itu ya, Sobat ASN semuanya, ternyata tingkat kepuasan itu meningkat ya. Kenapa ya? Karena masyarakat kita ini sudah berubah secara paradigma kita ini hidup di dunia ini sudah berkembang menuju ee digitalisasi. kita seringki menggunakan dan akrab menggunakan teknologi-teknologi yang kita gunakan secara digital ini setiap hari gitu ya, dari gadget, dari ee pekerjaan mungkin yang menggunakan komputer dan yang lain-lain itu sudah banyak menggunakan atau mengadopsi ee digitalisasi ini sehingga apa tingkat kepuasan dari masyarakat yang menjadi ee faktor utama dalam pelayanan publik ini bisa meningkat. Mungkin studi kasusnya ketika kita bisa melihat mall pelayanan publik atau ee apa namanya dalam keluh kesesah warga itu diberikan platform lapor gitu misalkan e-lapor. Nah, itu yang kemudian mengefisiensi ee dari waktunya mereka. Ternyata ee saya mudah dengan digitalisasi ini. Masyarakat merasa mudah itu dan akhirnya ee tingkat kepuasannya juga akan meningkat. Nah, yang kedua adalah pengurangan waktu. Dengan digitalisasi ini pengurangan waktu juga cukup signifikan terjadi begitu ya. Karena mungkin ee dari kegiatan masyarakat kita yang sibuk juga ada yang bekerja dan yang lain dengan kesibukan masing-masing. Maka ee dengan digitalisasi ini pengurangan waktu juga bisa lebih ee efektif digunakan gitu ya tanpa mengurus izin langsung misalkan datang ke tempat. Nah, Bapak, Ibu semuanya mungkin sekarang sudah banyak mengadopsi itu. Pertama dengan e-presensi ya. Nah, presensinya secara online ya. Ini yang kemudian menjadi salah satu efisiensi dalam digitalisasi pengurangan waktu yang digunakan dalam pelayanan publik. Nah, adopsi-adopsi digital seperti itu. Kemudian ada layanan akses 24 jam per7 hari. Nah, tersedia sepanjang waktu. Nah, bisa digunakan ee helpdk, program helpdesk dan yang lain-lain itu yang kemudian membantu ketika ee pada waktu-waktu tertentu yang ee pada kasusnya pada kenyataannya misalkan kantor tutupnya jam 3.00 sore. Nah, setelah itu jam .00 ada trouble misalkan karena melakukan suatu tugas gitu ya yang kemudian bisa dibantu dengan akses layanan berupa help base misalkan yang di situ ada jawaban otomatis ya itu juga salah satuya membantu gitu ya membantu terkait dengan pelayanan publik efektivitasnya. Oke, itu terkait dengan digitalisasi pelayanan yang ee dalam hal ini menjadi studi kasus kita dan banyak mengadopsi ee digitalisasi ini dalam kehidupan tata kelola pemerintahan gitu ya. Kemudian kita masuk pada ee bagian keempat gitu ya, dampak good governance terhadap reformasi dan juga pelayanan publik. Nah, di sini kita bisa gitu ya perbaikan kinerja pelayanan publik ini bisa berlandaskan yang pertama ada yang namanya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 terkait dengan pelayanan publik. Ini merupakan landasan hukum karena negara kita adalah negara hukum gitu ya yang tentu saja pelayanan publik juga diatur di dalam undang-undang tersebut. bahwasanya melayani publik itu harus sesuai dengan standar, harus sesuai dengan prosedur, harus sesuai dengan mekanisme dan juga pengawasan pelayanan. Nah, ini semuanya diatur. Perbaikan kinerja ini harus kemudian dikembalikan juga dari payung hukum yang tersedia. contohnya di Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 ini. Nah, kemudian yang kedua adalah terkait dengan implementasi prinsip good governance, penerapan transparansi, akuntabilitas, partisipasi dalam aspek pelayanan publik. Nah, ini perlu ditingkatkan agar perbaikan kinerja ini juga bisa meningkat. Transparansi terutama misalkan dalam penggunaan anggaran apapun gitu ya, transparansi itu dilakukan sebagai bentuk akuntabilitas atau pertanggungjawaban seorang tata kelola ee sebuah sistem gitu ya dalam sebuah lembaga kepada masyarakatnya. Nah, oleh karena itu mungkin nanti dari transparansi itu mendapatkan ee aspirasi ataupun masukan dari masyarakat yang merupakan subjek utama dalam pelayanan publik ini. Oh, mungkin dana yang seperti ini bisa dialihkan karena saya merasa kok fasilitas yang ini kurang. Nah, misalkan itu bisa menjadi bahan perbaikan kinerja dari pelayanan publik tersebut. Kemudian peningkatan kualitas layanan. Hasil nyata berupa pelayanan yang lebih cepat, mudah, murah, transparan, dan berkualitas. Ini harus menjadi konsern utama dalam perbaikan pelayanan publik. Bagaimana kemudian melayani masyarakat, melayani publik ini dengan cepat, tidak perlu bertele-tele dan harus mudah dan juga murah, transparan, dan juga ber berkualitas. Nah, nah kita bisa melihat gitu ya di sini ada yang namanya tantangan dan juga solusi dan dalam implementasi good governance gitu ya. Seringki dalam hal good governance kita bisa mengetahui ada hambatan-hambatan yang kemudian muncul gitu ya. Termasuk salah satunya yang sering itu adalah birokrasi yang berbelit gitu ya. budaya birokrasi yang feodal. Nah, ses kalau dengan BOS tidak berani membantah. Padahal bos juga belum tentu benar semuanya. Nah, itu menyalahi prinsip-prinsip dari good governance tadi. Nah, itu yang kemudian harus kita refleksi bersama-sama. Solusinya apa? ya, komitmen integritas membangun budaya kerja yang berintegritas tinggi. Nah, kita sebagai anggota dari atau bagian dari pelayanan publik itu juga harus memberikan saran, masukan, serta mengevaluasi jika dirasa dalam birokrasi itu juga tidak sejalan dengan prinsip-prinsip good governance. Yang kedua, masalah klasik, korupsi, penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan pribadi. Ini masalah yang sering terjadi dan tidak bisa kita putus sampai saat ini. Korupsi dari tingkat terkecil sampai terbesar itu memang menjadi salah satu momok yang ee ada di dalam kehidupan bangsa Indonesia. Solusinya apa? Salah satunya adalah pemberian sanksi yang tegas gitu ya. penegakan aturan yang tegas, konsisten. Yang ketiga adalah masalah kurang transparansi, informasi yang tidak mudah diakses publik. Ini menjadi salah satu tantangan bagaimana pelayanan publik ini harus menghasilkan transparansi yang baik kepada masyarakat. Salah satunya adalah mengadopsi inovasi digital ke dalam pelayanan publik sebagai bentuk dari good governance. Layanan online, transparan, efisien itu perlu diberikan gitu ya, perlu ditekankan di sana. Nah, salah satu bentuknya adalah pelayanan terpadu satu pintu. Ini studi kasus ketika kita melihat sebuah gedung digunakan dalam ee pelayanan publik. Ada bagian kesehatan, ada bagian pendidikan, ada bagian pencatatan dan yang lain-lain. Ini mempermudah masyarakat dalam mengakses gitu ya informasi dalam kemudian mengurus gitu ya terkait dengan administrasi. Yang pertama adalah mengurangi ee waktu yang bertele-tele atau efisiensi waktu di sini bisa meningkat, pengurangan waktu, pengurusan perizinan. Nah, ini bisa digunakan dan ternyata banyak diadopsi dan lebih efektif gitu ya. Nah, yang kedua adalah penghematan biaya. karena berkurangnya biaya yang ee tidak atau dirasa kurang penting itu bisa berkurang jauh dengan ee salah satunya pembentukan pelayanan terpadu satu pintu. Nah, contoh aplikasinya ah di suatu daerah ya masing-masing. Mari dievaluasi bersama-sama. Yang ketiga adalah layanan daring yang kemudian di sini ternyata ee akhir-akhir ini menjadi sangat familiar gitu ya. pelayanan daring ee sistem erapor dan yang lain-lain itu menjadi salah satu keunggulan dari ee adopsi digitalisasi dalam pelayanan terpadu. Proses cepat dilakukan secara online, tidak harus datang misalkan mengurusnya. Nah, itu menjadi komitmen ee dalam pelayanan publik di sini. Nah, itu ya. Kemudian yang terakhir di sini dalam menuju reformasi pelayanan publik yang berkelanjutan. Nah, bagaimana peran ASN Pancasilais? Nah, saya yakin sobat-sobat ASN semuanya di sini memiliki jiwa Pancasila, memiliki jiwa yang Pancasilais. Bagaimana kemudian mewujudkannya? Nah, Saudara-saudara semuanya harus kembali lagi pada yang pertama ASN di sini adalah sebagai role model integritas. Nah, seperti yang disinggung tadi di video pembukaan tadi bahwasanya ASN itu adalah wajah negara. Nah, Sobat ASN semuanya di sini dinilai sebagai sebuah role model dari sebuah negara, dinilai sebagai wajah dari pemerintah. Nah, sehingga saudara semuanya, sobat ASN di sini harus mencerminkan nilai-nilai Pancasila itu dalam pelayanan publik. Dari mulai ee keterbukaannya, dari mulai ee pelayanan terkait dengan ee apa namanya? antidiskriminasi dan yang lain-lain itu harus dijadikan ee pedoman bagi seorang ASN itu. ASN yang kedua adalah ASN sebagai agen perubahan dalam birokrasi. Ya, perubahan dalam birokrasi ini yang dimaksud apa? Ya, kalau misalkan dirasa birokrasi yang lama itu sudah tidak efektif, maka saudara-saudara, sobat-sobat ASN di sini adalah sebagai agen perubahan dalam birokrasi tersebut. harus bisa mendobrak perubahan itu. Jangan kemudian yah kita ikut birokrasi yang lama saja. Tampaknya kita kalau menggunakan birokrasi yang baru banyak mengalami penolakan. Nah, ini yang kemudian salah ketika ee teman-teman di sini menjadi peran ASN yang memiliki jiwa Pancasila. Ya, Teman-teman di sini, Sobat ASN semuanya di sini harus mengawal perubahan birokrasi itu. Birokrasi yang kemudian lebih transparan, tidak bertele-tele dan yang lain-lain. Yang ketiga adalah ASN sebagai penggerak layanan inklusif dan juga humanis. Nah, kadang di sini banyak terjadi gitu ya kasus-kasusnya beredar di media sosial bahwasanya ada pembedaan-pembedaan terhadap pelayanan publik di dalam masyarakat. ya karena satu dan yang lain hal maka ASN di sini bergerak harus berdasarkan prinsip inklusif dan juga humanis. Selanjutnya sinergi Pancasila dan good governance di sini membangun kepercayaan. Penting untuk membangun kepercayaan pelayanan yang adil dan transparan untuk meningkatkan apa satu adalah tras dari masyarakat. kepercayaan masyarakat ini menjadi kunci utama dalam pelayanan good governance yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Yang kedua adalah partisipasi aktif. Masyarakat ini harus diupayakan terlibat dalam ee perencanaan dan juga evaluasi ke depannya. Yang ketiga, akuntabilitas tadi pertanggungjawaban dan transparansi yang terukur. Dan yang keempat, perbaikan yang berkelanjutan. dari masukan tadi kemudian diberikan evaluasi untuk dijadikan sebuah program yang baru mungkin gitu ya untuk mengatasi sebuah masalah itu. Nah, sinergi ini akan menjadi sebuah ekosistem dalam pelayanan publik yang sehat dan responsif serta orientasinya pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat itu harus diutamakan. Strategi implementasinya seperti apa? Internalisasi nilai Pancasila dalam budaya kerja harus dimiliki. Jangan sampai teman-teman di sini ASN menjadi wajah negara tidak memiliki nilai-nilai Pancasila dalam budaya kerjanya. Nah, kadang-kadang e ASN ini hanya menuntaskan kewajibannya tanpa memiliki nilai dalam budaya kerja, tanpa memiliki etcos Pancasila itu sendiri. Yang kedua adalah penerapan prinsip governance dalam SOP dan regulasi. regulasi-regulasi, peraturan-peraturan ini harus SOP-nya disesuaikan dengan prinsip good governance tadi. Ini untuk mencapai good governance yang baik, yang memiliki sinergitas dengan nilai Pancasila. Yang ketiga, strateginya adalah pemanfaatan teknologi digital secara adil dan juga inklusif. Terakhir di sini adalah aksi nyata. Pemerintahan yang baik di sini harus memiliki pondasi reformasi Pancasila dan good governance sebagai pondasi kokoh reformasi pelayanan publik. Sehingga Pancasila dan good governance ini akan bersinergi dengan baik untuk pelayanan publik yang lebih baik dan efektif. Yang ketiga adalah kolaborasi semua pihak tadi dari pemerintahnya, dari swasta, dari masyarakat. Ini untuk apa? untuk mewujudkan pelayanan yang lebih prima, pelayanan yang lebih baik. Dan yang terakhir yang tidak kalah penting adalah komitmen bersama. Mau enggak kita karena komitmen ya komitmen bersama mau enggak kita ini untuk berubah menuju eh good governance yang lebih baik. Nah, sehingga apa? Tercipta pembangunan Indonesia yang lebih maju lagi. Itu materi yang dapat saya sampaikan di sini. Saya kembalikan kepada moderator. Terima kasih. Baik, terima kasih Pak Zulfikar untuk materinya yang luar biasa pada pagi hari ini. Nah, Sobat ASN setelah ini kita akan lanjut ke sesi tanya jawab. Untuk Sobat ASN yang bergabung di Zoom bisa menggunakan fitur rais hand ya atau yang bergabung melalui YouTube bisa tuliskan pertanyaan melalui live chat. Jadi sekali lagiang ya udah ayo gak apa [Musik] sobat ASN. Sekali lagi untuk sobat ASN yang ingin bertanya silakan gunakan fitur rest hand dan nanti penanya akan saya pilih ya. Akan saya pilih untuk Bapak Muhammad Devin sepertinya sudah rais hand. Silakan Bapak mengajukan pertanyaan untuk Bapak Zulfikar terkait dengan materi yang tadi sudah disampaikan. Iya, sudah. Baik. Selamat pagi Bapak Muhammad Devin. Halo, selamat pagi semua. Ini kedengaran kedengaran enggak ini studio? Oke, suaranya sudah. Oke, ya. Eh, oke. Ee, bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan nama saya dari bagian keuangan daerahi. Nah, di sini saya menangkan tentang ee Pancasila ya. Saya lihat ini ada nilai sebagai landasan etika pelayanan nih. Ada kemanusiaan, ada sosial, kerakyatan, dan juga kesatuan. Nah, di sini ada yang kurang nih adalah ee Ketuhanan Yang Maha Esa. Nah, tujuan dari Ketuhanan Yang Maha Esa dari adanya apa namanya tuh ee sebagai landasan etika pelayanan publik seperti apa pada ee apa namanya itu Ketuhanan Yang Maha Esa. Makasih. Baik, Bapak Zulfikar apakah sudah bisa menangkap pertanyaan dari Pak Muhammad Devin dengan jelas? Jelas enggak nih? Oke, sudah. Sudah, sudah, sudah. Oke, siap. Makasih. Baik, silakan Pak Zulfikar. Oke. Baik, terima kasih Pak Devin gitu ya. Tadi memang belum tertulis di dalam slide gitu ya terkait dengan ee implementasi etika sila pertama yang sila ketuhanan di sini. Apa sebenarnya implementasi dari sila pertama dalam etika pelayanan publik di sini? Salah satunya tadi sudah saya sampaikan sebenarnya di depan gitu ya, Pak, terkait dengan integritas dan perlakuan ee sifat kita yang kemudian mencerminkan ASN ini sebagai agen yang spiritual, agen yang religius dan takut terhadap Tuhannya. Itu, Pak. Sehingga apa? integritas serta e nilai-nilai yang lain yang dimiliki oleh ASN tersebut jika terintegrasi dengan nilai pertama, sila pertama. Itu tadi jelas kita sebagai ASN gitu ya akan takut dengan nilai-nilai Tuhan ketika kita melakukan hal yang kurang tepat gitu tentunya dalam birokrasi kita. Salah satunya ini akan menekan pada ee misalkan hambatan tadi yang kedua adalah korupsi. Nah, jika seorang ASN itu memiliki nilai etika ketuhanan yang baik gitu ya, spiritualitas yang baik, dia takut akan nilai-nilai Tuhan, nah itu akan otomatis gitu ya, Pak Devin. Otomatis tidak akan berani ketika melakukan korupsi misalkan atau ee misalkan ee ya sudahlah saya tidak ee kerja tepat waktu saja. Wong biasanya ramainya kantor itu jam 09.00 misalkan saya datangnya 0.30. Nah, ini yang kemudian kalau tidak memiliki integritas berdasarkan nilai ketuhanan, otomatis seorang ASN itu ya pasti akan melakukan hal itu. Tapi jika memiliki nilai ketuhanan tadi yang baik, seorang ASN itu pasti akan takut sebelum dia melakukan hal-hal yang dianggap tidak benar tadi. Nah, jadi seperti itu. Jadi integritas dan nilai yang ada pada diri ASN itu dilandasi dari etika-etika sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa itu tadi. Oke, gitu Pak Devin kira-kira ya. Baik, Bapak Devin terima kasih sudah memberikan pertanyaan untuk Pak Zulfikar. Selanjutnya pertanyaan kedua ada Ibu Yunita yang ternyata sudah rais hand. Silakan Ibu Yunita. Baik. Oke. Selamat pagi Bu Yunita. Selamat pagi. Baik, silakan langsung diberikan pertanyaan untuk Pak Zulfik pada pagi hari ini. Ini tadi kan ee transformasi pelayanan publik ya, Pak ya. Nah, ee kalau misalnya Pak ini pertanyaannya kalau misalnya untuk yang back office yang tidak langsung bersinggungan dengan pelayanan publik, bagaimana kami apakah kami juga bisa bertransformasi atau berdampak ee untuk berdampak kepada publik gitu, Pak? Ee publik itu juga merasakan pelayanan kami itu apakah itu mungkin gitu kan. Terus kemudian apakah itu mungkin bagaimana kami agar bisa ee memberikan pelayanan juga yang baik. Terus kemudian publik itu juga merasakan dampaknya bagaimana kami mengetahui oh ternyata ternyata kami sudah bisa berdampak. Terus kemudian apabila ee untuk yang melakukan pelayanan misalnya apakah ee kan tadi kan Bapak sampaikan bahwa perlu komitmen untuk ee meningkatkan integritas, transparansi, pokoknya prinsip-prinsip dari good governance untuk melakukan pelayanan publik. bagaimana ee menumbuhkan menumbuhkan komitmen itu. Karena kan kalau secara teori, kalau secara peraturan itu memang ada, tapi untuk implementasinya kan sebenarnya butuh kesadaran. Bagaimana menumbuhkan kesadaran itu misalnya kalau yang untuk melakukan pelayanan publik. Terima kasih, Pak. Baik, terima kasih Bu Yunita. Pak Zulfikar sudah bisa menjawab pertanyaan dari Bu Yunita. Silakan. Oke. Baik, terima kasih Bu Yunita. ya atas pertanyaannya terkait dengan pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan Bu Yunita. Nah, yang pertama terkait dengan bagaimana sih cara kita mengetahui gitu ya, masyarakat kita ini puas dengan yang namanya pelayanan publik yang sudah kita lakukan ya. Nah, tentu saja kita ini bisa melakukan dengan cara gitu ya yang klasiknya itu biasanya dilakukan oleh beberapa lembaga itu dengan adanya survei kepuasan ya. setiap lembaga ya jika ingin melakukan evaluasi gitu ya, apakah gitu ya pelayanan kami ini sudah mencapai tingkat kepuasan yang diinginkan oleh masyarakat atau belum ya silakan coba diberikan gitu ya setelah melakukan atau menggunakan layanan di sebuah lembaga silakan diberikan survei kepuasan karena apa kadang-kadang menyampaikan secara langsung kepada petugas itu masyarakat tidak berani. Nah, mengkritik pun ketika di media sosial misalkan tentang pelayanan ini, oh ini jelek, ini jelek, itu melanggar yang namanya nilai etik. Ya, kita sebagai ASN yang jelas memegang nilai etika berpancasila tidak melakukan hal seperti itu. Masyarakat pun juga akan sama jika memiliki landasan nilai etika yang baik. Maka dari itu perlu komitmen bagaimana ya ditingkatkan mulai dari surveinya masih kurang apa. Nah diberikan untuk pelayanannya misalkan, "Oh, lampunya kurang terang nih di sini pencahayaannya kurang terang." Oke. Baik. Nah, itu masuk dievaluasi setiap periode. Jadi mengevaluasi, membuka situs ataupun hasil survei layanan publik itu tidak. Kemudian dalam jangka waktu yang lama 1 tahun, 2 tahun itu tidak. Tapi bagaimana evaluasi pelayanan publik itu bisa ee lebih singkat gitu ya untuk kemudian memangkas dari nilai ketidakpuasan dari masyarakat itu sehingga apa? Ketika masyarakat memberikan saran nah misalkan bulan depan datang lagi ke lembaga itu gitu ya mereka bisa mengetahui perubahannya. Oh ternyata kantor ini mendengarkan kita loh gitu ya. Oh ternyata lembaga ini mendengarkan kita. Nah, kemudian yang pertanyaan yang kedua adalah terkait dengan bagaimana menginternalisasi diri kita sebagai pelayanan publik tadi. Apakah bisa gitu ya? Karena secara teori iya, tapi pelayanan mah kalau dalam praktiknya belum tentu. Yaah, seperti itu ya Bu Yunita tadi ya kurang lebih. Nah, maka yang perlu disadari di sini adalah kata-kata dari Bu Yunita itu sendiri. Yang pertama adalah sadar. Kesadaran harus dimiliki oleh setiap aparatur sipil negara. Jika aparatur sipil negara itu benar-benar berkomitmen untuk melakukan pelayanan dalam good governance, dalam lingkup good governance yang baik, itu tadi, yang pasti harus sadar dulu. Kalau tidak sadar ya tidak bisa Bu menginternalisasi diri kita. Kita hanya berusaha menggugurkan kewajiban. Saya tanyakan kembali kepada para sobat ASN di sini semuanya. Apakah kemudian teman-teman ataupun sobat ASN semuanya di sini mengikuti pelatihan ini untuk menggugurkan kewajiban atau dengan kepentingan tertentu atau memang ingin mengupgrade diri dengan pengetahuan baru? Mari direfleksikan bersama. Nah, sehingga itu ketika dimiliki oleh setiap aparatur sipil negara itu akan memiliki dampak yang signifikan. komitmen itu akan tumbuh dari diri sendiri. Kalau dari peraturan itu hanya bersifat mendukung, Bu. Aturan itu dibuat untuk mendukung agar membiasakan, agar membudayakan. Secara kebiasaan harus seperti itu. Kalau masalah komitmen itu dari kesadaran kita. Nah, jadi seperti itu kurang lebih ya. Semuanya harus memiliki kesadaran untuk memiliki komitmen kemudian memiliki etika Pancasila dalam setiap pelayanan publik. tidak ada jawaban yang lain di situ. Terima kasih Bu Yunita. Terima kasih untuk Bapak Muhammad Devin dan Ibu Yunita atas pertanyaannya. Semoga jawaban dari Bapak Zulfikar bisa menguatkan lagi ya ee keraguan-keraguan mungkin gimana caranya ya biar bisa ee dapat pengakuan atau mungkin dapat nilai yang benar-benar positif dari masyarakat. Nah, saya juga ingin mengucapkan terima kasih untuk Bapak Zulfikar Waliuddin Fattah, M.Pd. yang pagi hari ini sudah berkenan meluangkan waktu untuk menjadi narasumber pertama di webinar ASN Belajar seri 38. Sobat ASN, jangan ke mana-mana karena masih akan ada dua narasumber lagi yang akan berbagi insight luar biasa dalam webinar ASN Belajar seri 38. [Musik] Sobat ASN, materi berikutnya akan disampaikan oleh Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat atau FKDM Provinsi Jawa Timur dan beliau saat ini juga menjabat sebagai dosen filsafat di Fakultas Ilmu Budaya Universitas. Kepada Bapak Dr. Santos SS. MH kami silakan. [Musik] Selamat pagi Bapak Listiono. Bagaimana kabarnya? Selamat pagi Mbak Yuris. Ya. Sehat Pak? Alhamdulillah harus sehat. Harus sehat. Luar biasa. Bapak, ini sepertinya untuk narasumber kedua banyak yang sudah menunggu-nunggu juga ya untuk materi Bapak Listiono pada pagi hari ini ya. Kalau begitu langsung saja Bapak kami persilakan. Ngih. Matur suwun Pak Yuris. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat ee pagi, salam sejahtera buat kita semua. Ee yang saya hormati Bapak Dr. Ramlianto, Kepala PPSDM Provinsi Jawa Timur. Yang saya hormati Bapak Sadono Sriharjo selaku Direktur Pelatihan Diklat BPIP. Ee kemudian ini teman saya ini, Mas Yulfikar Waliudin, M.Pd., tim pengembang laboratorium Pancasila di Universitas Negeri Malang. dan sobat ASN yang berbahagia di seluruh Indonesia wabil khusus di Jawa Timur. Mbak Yuris, ini tema yang menurut saya cukup menarik ya, yang ee ee sebelumnya kami sampaikan terima kasih kepada PSDM yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk sharing informasi terkait dengan ee isu yang bukan isu sebenarnya, tema yang sebenarnya cukup fundamental dan penting bagi ASN. meskipun tema-tema seperti ini seringki dianggap sebagai tema yang sifatnya ee imbuan moral yang sifatnya simpulistis ya bicara Pancasila apa pentingnya bicara Pancasila gitu itu ya Mbak ya ee seolah-olah ee bicara Pancasila itu selalu tidak relevan dalam konteks kekinian apalagi kita telah tahu persis sejak ee reformasi 98 itu ada stroke type yang tidak baik terkait dengan Pancasila ee Ketika itu ada Undang-Undang Sidiknas yang yang salah satunya ee menghapus mata mata pelajaran dan mata kuliah Pancasila di satuan pendidikan dasar di perguruan tinggi. Itu itu kan seolah ada stereotype. Stereotipe bahwa seolah Pancasila itu selalu lekat dengan ee dengan salah satu rezim gitu loh ya. Salah satu rezim sehingga ketika rezimnya bermasalah seolah-olah mengindikasikan bahwa Pancasilanya bermasalah. ini kan satu persoalan penting gitu loh. Padahal Pancasila itu tidak terkait dengan persoalan rezim. Pancasila itu terkait dengan berdirinya sebuah bangsa yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia gitu loh. Sehingga tema hari ini apalagi senyampang dengan hari kesaktian Pancasila ini juga menjadi sesuatu yang bagi saya cukup di cukup saya sambut apresiasi dengan positif tema ini ya. Karena ee terminologi Pancasila sakti yang tadi disampaikan oleh oleh pengantar di Bapak Ramlianto tadi menjadi suatu yang relevan untuk kita bicarakan hari ini. Ee tetapi cara membincangkan Pancasila itu tidak boleh ee karena terminologi sakti itu kan seolah-olah Pancasila itu punya kesaktian luar biasa. gitu. Santri Mandra kuno seperti pendekar-pendekar itu berarti pendekatan terhadap Pancasila masih bersifat mistis. gitu loh. Padahal kita harus mencoba menerjemahkan Pancasila ee menjadi sesuatu yang rasionalogis itu loh. Bahwa dia adalah penunton moral bangsa yang harus diimplementasikan dalam praktik hidup keseharian bangsa bangsa dan negara Indonesia itu. Sehingga dia tidak boleh diletakkan dalam sebuah sebuah ritual mist kata sakti mandraguna tetapi harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. gitu. Sehingga kalau sehingga kalau kita dulu pernah berdebat tentang kapan hari lahir Pancasila kan dulu pernah terjadi perdebatan. Ada yang menyebut 1 Juni, ada yang menyebut 18 Agustus. Sebenarnya perdebatan yang paling penting itu bukan kapan hari lahir Pancasila, tapi kapan kita melahirkan Pancasila di negeri ini. Ini kan jadi satu pertanyaan penting bagi saya itu kapan kita melahirkan nilai-nilai Pancasila di negeri ini sehingga ee sehingga Pancasila tidak hanya menjadi peduhanpedoman moral dia tidak menjadi common value saja tapi Pancasila betul-betul menjadi praktik keseharian bagi kehidupan bernegara dan berbangsa. tidak hanya berupa pengamalan subjektif melalui melalui ee ee perjalanan pemerintahan dengan perundang-undangan dan sebagainya, tetapi juga dipraktikkan melalui pengalaman objektif. Itu kan pengamalan Pancasila itu ada ada dua bentuk. Satu bersifat subjektif, satu bersifat objektif. Kalau bersifat ee objektif adalah bagaimana nilai-nilai Pancasila. nil-nil Pancasila itu menjadi laku hidup keseharian semua anak bangsa Indonesia itu ya kan menjadi laku keseharian semua anak bangsa Indonesia tanpa terkecuali semua warga negara Indonesia punya komitmen moral untuk menjalankan nilai-nilai Pancasila dalam praktik kehidupan sehari-hari itu yang disebut dengan itu yang disebut dengan pengamalan Pancasila secara subjektif. Tapi juga tidak kalah pentingnya adalah pengamalan Pancasila secara subjektif. Bagaimana nilai-nilai Pancasila itu kemudian terlembaga terimplementasi melalui praktik penyelenggaraan negara. Ya, ini kan menjadi satu yang sangat penting. Makanya tadi di di kalimat pengantar ee Kepala PPSDM itu menjadi penting untuk digaris bawahi. Ada banyak kata kunci yang menurut saya hebat sekali tadi pengantarnya itu. Ada banyak kata kunci penting yang tadi disampaikan oleh Kepala ee BPSDM terkait dengan bagaimana posisi Pancasila ASN itu harus seperti apa dan sebagainya itu loh. Karena ini menjadi kata kunci yang harus betul-betul kita kita sadari bersama. Tadi tadi Pak Ramianto mengatakan bahwa ASN itu adalah wajah negara. Baik buruknya negara ya salah satunya bisa di dilihat dari bagaimana praktik cara hidup dan tindakan ASN sebagai penyelenggara negara. Itu loh. Ini jadi sesuatu catatan penting gitu. Makanya kalau kita melihat ee ee apakah Pancasila itu sudah berjalan di negeri ini, salah satu indikatornya bagaimana bagaimana praktik dan cara hidup ASN sebagai abdi negara menjalankan tugas dan fungsinya sebagai aparatur sipil negara. Nah, ini yang ini yang menjadi tatanan penting dari apa yang disampaikan oleh Bapak Ramanto. Nah, Bapak, Ibu sekalian, sobat ASN yang berbahagia, kalau tadi Mas Zulfikar sudah sangat panjang lebar bicara terkait dengan persoalan reformasi birokrasi, pelayanan kebijakan publik dan sebagainya. di dalam di materi saya, saya mencoba meletakkan ee tidak mencoba mengulang ya, karena beberapa ada beberapa irisan yang sama dengan apa yang disampaikan oleh Pak Zulfikar dan pengantar dari Pak Ramianto. dan coba mencoba meletakkan dalam konteks kalau Pak Jvear lebih pada reformasi birokrasi, saya mencoba meletakkan bagaimana ee ASN itu sebagai teladan moral untuk mempraktikkan Pancasila itu. Nah, saya mencoba meletakkan itu supaya tidak ada kesamaan ee tematik. Ee pertanyaan pentingnya adalah kita mau menjadi ASN seperti apa dalam konteks pelayanan publik ini? Ini kan pertanyaan penting karena setiap orang punya virtu, punya keutamaan hidup. Itu kata Henry Bengson itu keutamaan hidup sebagai mahasiswa apa? Keutamaan hidup sebagai ee birokrat apa? Keutamaan hidup sebagai ASN seperti apa? ini menjadi penting. Kita mau jadi ASN seperti apa dalam konteks pelayanan publik ini? Apakah kita yang akhirnya harus menjadi agen reformasi itu atau kita justru menjadi ee seseorang yang justru menjadi hambatan serius dalam berbagai aspek reformasi birokrasi? Karena saya saya yakin di negeri ini di seti di di ee pemerintahan negara Republik Indonesia, reformasi birokrasi sudah banyak dilakukan. Aturan-aturan main terkait dengan reformasi birokrasi dan pelayanan publik juga sudah banyak dilakukan g tapi kenapa masih ada banyak keluhan-keluhan masyarakat terkait dengan persoalan-persoalan itu gitu kan. Nah, ini kan kendalanya bisa jadi bukan karena persoalan reformasi birokrasi itu sendiri, tapi ada pada agen pelaksana reformasi birokrasi. Nah, ini menjadi satu catatan penting. Ee saya pernah ingat apa yang disampaikan oleh seorang filsuf namanya Samuel Huttington yang dia pernah mengatakan begini, "Ada banyak program pembangunan seringki gagal bukan karena program itu tidak dibuat dengan cara yang sistematis dengan berbagai analisis yang memadai sehingga program itu gagal di tengah jalan gitu. Tapi kata Hington, ada banyak program pembangunan di banyak negara, salah satunya mungkin di Indonesia itu seringkiali gagal karena persoalan mentalitas kebudayaan itu karena persoalan ee subjek yang menggerakkan program pembangunan itu. Nah, jadi kendalanya bukan pada persoalan programnya, tapi pada persoalan ee pelaksana dari program itu. sehingga kita bisa lihat di kita punya ada banyak program terkait dengan misalnya ee program tentang ee tertib lalu lintas misalnya ya kan kita sudah punya aturan main yang luar biasa t tentang ketertiban di jalan raya rambu lalinta sudah sangat memadai ya kan rambu-rambu yang di semua tempat selalu selalu ada tapi kenapa masih macet kenapa masih semerawut jangan-jangan karena persoalan kultur berkendaraan kita yang buruk gitu loh jadi yang harus diubah apa ya cara berkendaraannya karena aturannya sudah sangat luar biasa ya. Kita punya ee program-program terkait dengan kebersihan lingkungan. Bahkan kita punya ajaran anadofatu minal iman. Kebersihan adalah sebagian daripada iman itu. Tapi kenapa masih banyak sampah berserahkan di mana-mana? Jangan-jangan karena persoalan kultur membuang sampah kita yang bermasalah itu. Nah, ini jadi ini menjadi salah satu ee pengantar saya untuk mengatakan bahwa ee materi ini ingin ingin ingin ingin ee saya garis bawahi kita mau menjadi ASN seperti apa dalam konteks layanan publik itu loh. nya. Sobat ASN yang berbahagia, ada beber ada empat kata kunci yang penting di dalam webinar ini yang yang ee menjadi tema penting yaitu Pancasila, birokrasi, kebangsaan, dan pelayanan publik. Ini bagaimana menghubungkan nilai Pancasila dan birokrasi satu sisi, di sisi yang lain spirit kebangsaan dan pelayanan publik. Ini ini empat empat empat kata kunci yang menjadi salah satu ee entry point perbincangan kita di pagi hari ini. Itu loh tentang Pancasila, tentang birokrasi, tentang kebangsaan, dan tentang pelayanan publik. Ini mencoba menerjemahkan bahwa Pancasila itu tidak sekedar imbuhan moral. Pancasila itu tidak sekedar sistem value yang ada di langit itu loh ya kan? Tapi dia harus diturunkan di muka bumi melalui apa? ya, melalui praktik kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila itu kan sifatnya abstrak, umum, universal, ya kan? Dia sifatnya abstrak, umum, universal berlaku kapanpun, di mana pun nilai-nilainya nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, nilai keadilan itu sifatnya abstrak, umum, universal. dia dia merupakan common value itu. Tapi supaya common value itu bersifat konkret maka harus diturunkan dalam berbagai kebijakan-kebijakan, peraturan-peraturan, praktik hidup dan sebagainya. Salah satunya bagaimana bagaimana birokrasi sebagai ee sistem organisasi yang menjalankan pemerintahan itu betul-betul berorientasi pada pelayanan publik itu orientasinya memang pelayanan publik itu loh. Birokrasi sistem organisasinya ASN-nya adalah pelaksananya. Bagaimana birokrasi dan ASN itu orientasinya pada pelayanan publik dan pelayanan publik itu bagian dari sebuah spirit kebangsaan. ini yang yang perlu kita kita apa namanya kita sepakati bersama Bapak Ibu sekalian bahwa ee supaya kita tidak mencoba memisah-misahkan bahwa spirit kebangsaan itu hanya pada persoalan ee waktu di mana kita di mana kita waktu melawan kolonialisasi Belanda dan sebagainya. Tapi cinta tanah air sesungguhnya di diterapkan dan diimplementasikan melalui bagaimana seorang aparatur sipil negara itu bertugas sebagaimana tupoksi dan regulasinya gitu. Itu menurut saya itu spirit kebangsaan. Ketika dia melayani kepentingan publik, ketika dia berpihak pada kepentingan publik itu spirit kebangsaan yang luar biasa ya kan. Karena ASN itu tidak hanya pejabat publik, tapi dia pelayan publik, maka kehidupan ASN itu diatur dalam berbagai perundang-undangan dan diawasi oleh publik. Ya kan? Sehingga benar apa yang dikatakan oleh Kepala PPSDM tadi, ASN itu wajah negara di tempat dia bekerja sebagai ee agen yang mengakselerasi pelayanan publik. Ketika dia pulang di rumah, fungsi dia sebagai ASN juga bisa menjadi teladan bagaimana praktik berkehidupan di masyarakat itu dikembangkan. Itu sekarang sebagai sobat ASN itu wajah negara di mana pun kita berada. Apalagi ketika menjalankan fungsi sebagai aparatur sipil negara di lembaga pemerintahan gitu. Wong di dalam di tengah-tengah masyarakat saja kita harus menjadi teladan. Apalagi ketika menjalankan fungsinya sebagai aparatur negara itu loh. Makanya teman-teman bisa sobat ASN bisa bisa lihat bahwa ee hidup kita itu selalu diawasi oleh publik itu kenapa? Karena kita digaji oleh negara itu. Mereka hidup kita diawasi oleh publik itu ee salah sedikit ee ee praktik hidup kita kok ee tidak sesuai dengan profil kita sebagai SN. Mesti di tengah-tengah masyarakat selalu ada guncingan itu loh, selalu ada ee apa namanya grondelan itu loh ya kan. Kenapa ya? Karena kita aparatur sipil, kita pejabat publik dan juga pelayan publik yang hidup kita sesuai dengan profil kita itu loh. Sehingga kalau di tengah-tengah masyarakat ternyata kita sebagai ASN tidak bisa menjadi teladan dalam bernegara dan bermasyarakat, berarti ee ada sesuatu yang bermasalah pada waktu rekrutmen dulu. Itu loh. Ini yang harus dilakukan. Nah, muara tema ini Bapak ee Bapak Ibu sekalian, muara tema ini adalah bagaimana Pancasila sebagai sebuah sistem nilai itu kemudian di diimplementasikan melalui pembentukan modalitas yang disebut dengan birokrasi dalam norma-norma publiknya. Itu semangat yang dipakai adalah diorientasikan pada membangun faktori untuk pelayanan publik. Jadi itu alurnya itu Pancasila sebagai sebuah sistem nilai ya kan yang sifatnya abstrak umum universal diterjemahkan melalui ee kebijakan-kebijakan dalam sarana pelayanan publik. Faktanya apa? Masyarakat mendapatkan akses secara bebas dalam layanan publik, tidak bersifat diskriminatif kapanpun, di manapun. Fungsi layanan publik harus dilakukan terus-menerus. Ini yang disebut bahwa akhirnya kekuasaan itu berpihak pada masyarakat, negara berpihak pada kepentingan warga negara. Karena kalau kita kalau kita bicara tentang kenapa negara itu didirikan, beberapa filsuf mengatakan negara itu didirikan bukan untuk pejabat negara. Kekuasaan didirikan bukan untuk penguasa, tapi negara didirikan untuk kepentingan warga negara. Kekuasaan diselenggarakan dalam rangka untuk yang dikuasai. gitu. Jadi ini fatsun politik yang harus di harus diterima secara normatif oleh semua orang yang mengelola negara. Bahwa negara didirikan dalam rangka untuk warga negara. Maka negara membuat berbagai kebijakan-kebijakan supaya apa? Supaya kayak warga negara mendapatkan perlindungan, supaya warga negara mendapatkan akses di bidang kesehatan, supaya warga negara punya akses di bidang pendidikan, supaya warga negara punya akses di banyak hal. negara harus memfasilitasi itu dan apur negara sebagai abdi negara harus punya komitmen moral yang tidak berpihak pada kepentingan satu atau dua golongan. Maka bagaimana nilai Pancasila itu menjadi sebuah fakta dalam pelayanan publik gitu loh. Kan ini sebuah terobosan yang menurut saya luar biasa gitu. bagaimana nilai-nilai Pancasila yang abstrak tadi kemudian diterjemahkan melalui berbagai aturan-aturan ee regulasi-regulasi dalam rangka agar pelayanan publik di tengah masyarakat itu menjadi lebih meningkat dan masyarakat betul-betul terpuaskan dengan layanan publik itu. Masyarakat merasa negara hadir ketika dia mendapatkan masalah, ketika dia tidak bisa tidak tidak bisa mengurus administrasi kependudukan, negara hadir di sana. Ketika neges di bidang kesehatan, negara hadir melalui pelayanan publik. Itu loh. Ketika warga negara mengalami problem dalam ee akses di pekerjaan misalnya, negara hadir di sana. Itu itu yang disebut dengan komitmen moral. maka tema ini menjadi tema yang ee menurut saya selalu aktual gitu loh. Maka dalam konteks ini, dalam muara tema ini ee maka saya saya ingin mengatakan bahwa birokrasi sebagai teladan dan ujung tombak implementasi nilai Pancasila dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga kalau kalau dikatakan siapa yangus harus menjalankan Pancasila? Ya, semua warga negara. Tapi kalau dikatakan semua warga negara siapa yang menjadi ujung tumbaknya? Ya kita sebagai aparat sip negara birokrasi sebagai substnya itu harus betul-betul menunjukkan wajah bahwa Pancasila ada di dalam pelayanan birokrasi itu loh ya kan. Maka ASN merupakan pelaksana kunci dalam menjalankan dan mereformasi birokrasi sehingga ASN harus punya komitmen moral di situ. Maka tadi saya menyebut di awalawal diskusi kita mau menjadi ASN seperti apa dalam konteks pelayanan publik itu loh. Ini jelas komitmen moral yang harus ditagih oleh semua aparatur sipil negara itu loh. Kenapa? karena dia sudah bersedia mewakafkan dirinya menjadi aparat sipil negara itu dia sudah bersedia secara profesional menjadi abdi negara. Karena dia abdi negara maka hajat hidupnya memang dipakai dalam rangka untuk mengabdi kepada kepentingan negara. Salah satunya apa? Bertugas untuk memberikan layanan pada publik. Itu yang harus betul-betul di di digaris bawahi oleh kita sebagai ASN. kita itu abdi negara, maka enggak boleh ee kontraproduktif dengan logika negara dalam menjalankan ee roda pemerintahan. Kalau kita kontraproduktif atau kalau kita gaya hidup kita, cara kita bekerja kemudian malah jauh dari dari nilai-nilai Pancasila itu pasti ada anomali. Makanya kenapa kemudian ee banyak ee di berbagai survei misalnya ada kepuasan pada layanan publik rendah misalnya. Jangan-jangan memang proses layanan publik tidak berjalan semestinya. Itu kita lihat beberapa tahun yang lalu misalnya ada banyak kasus-kasus terkait dengan selalu ada invisible hand dalam layanan publik itu ya kan berarti kan persoalannya tidak hanya pada sistemnya tapi pada aparaturnya. sehingga melalui forum ini kita perlu merefleksikan diri itu sebenarnya kita memposisikan diri sebagai seperti apa dalam konteks layanan publik ini. Nah, Bapak Ibu sekalian ee bagaimana menerjemahkan nilai Pancasila dalam konteks layanan publik ini sebenarnya ini menunjukkan dan sebenarnya sangat relevan dengan visi ideologis Pancasila sejak dulu itu loh. Ini yang kenapa kemudian Pancasila itu tidak pernah lekang loh. Dia abstrak umum universal kapanpun di manapun sepanjang negara kesatuan Republik Indonesia itu berdiri maka Pancasila selalu hadir di sana itu ya kan. Nah jika dulu Pancasila itu berfungsi hanya sebagai ideologi persatuan pada zaman kolonial, pada zaman pergerakan dia menyatukan orang yang berbeda. Ideologi itu kan fungsinya menyatukan orang yang berbeda. Berbeda suku, berbeda etnisitas, berbeda agama. Mereka punya common denominator, sesuatu yang menyatukan itu. Maka Pancasila menjadi sebuah ideologi yang menyatukan orang yang berbeda-beda agama tadi. Nah, pada zaman Orde Baru Pancasila berubah menjadi sudah mengalami transformasi menjadi ideologi pembangunan. itu kan bahwa praktik program perencanaan pembangunan dalam repelita itu sesungguhnya merupakan realisasi dan implementasi dari nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan negara. Artinya semua program-program pembangunan sesungguhnya adalah realisasi untuk mengkonkretkan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari itu sehingga bukan bukan tidak lagi berdebat tentang kapan lahirnya Pancasila, tapi kapan nilai Pancasila itu dilahirkan di muka bumi itu. Kapan nilai keadilan, nilai persatuan, nilai demokrasi, kerakyatan, ketuhanan dan kemanusiaan itu betul-betul menjadi ee praktik keseharian kita itu loh. Nah, di dalam ideologi pembangunan itu kita bisa melihat ee beberapa program-program pembangunan yang yang diarahkan dalam rangka untuk untuk ee ee proses pemerataan pembangunan di segala bidang misalnya akses tenaga ee pekerjaan yang berkeadilan dan sebagainya bahwa kemudian ternyata ada ada anomali-anomali ya itu sebagai sebuah keniscayaan dalam semua proses pembangunan. Tetapi visi ideologis pada zaman Orde Baru itu sesungguhnya Pancasila menjadi sebuah ideologi pembangunan. Semua logika pembangunan diarahkan dalam rangka untuk mempraktikkan nilai-nilai Pancasila dalam praktik kehidupan sehari-hari. Nah, di dalam konteks kekinian, Pancasila sudah menjadi ideologi terbuka. Artinya artinya harus ada transformasi nilai itu. Tidak hanya persatuan sudah selesai, ya kan? Ideologi pembangunan sudah selesai. Saatnya kita mencoba membuka diri bahwa Pancasila itu ideologi terbuka, ideologi yang tidak bersifat stagnan, ideologi yang tidak bersifat jumud, tapi selalu dia selalu berdialektika dengan perkembangan-perkembangan zaman yang saat ini ee ee ada di tengah-tengah kita. Maka Pancasila harus bisa merespon dan menjawab semua persoalan kehidupan sedang berkembang gitu. gitu. Makanya, makanya dibutuhkan ee produk-produk pemikiran yang genuin dalam rangka untuk menerjemahkan Pancasila dalam praktik kehidupan sehari-hari. Dulu Prof. Mubiarto pernah mengkonstruksikan Pancasila menjadi ekonomi Pancasila misalnya, bagaimana program pembangunan diarahkan untuk mengedepankan ekonomi Pancasila yaitu ekonomi kooperasi. Itu menunjukkan bahwa itu produk genuin sebenarnya. bahwa praktik ekonomi di Indonesia itu ekonomi ekonomi kooperasi, bukan ekonomi korporasi. Ekonomi yang dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Makanya sekarang pemerintahan ee ee Prabowo sedang sangat giat untuk apa namanya? Menumbuhkan kembali ee koperasi merah putih di beberapa ee daerah. itu memang dalam rangka salah satunya adalah menunjukkan konsep pembangunan ekonomi seperti apa yang sebenarnya khas dalam konteks keindonesiaan itu loh ya kan ya itu pergulatan intelektual apakah itu benar atau tidak ya biarkan nanti zamannya menguji. Nah itu yang disebut dengan ideologi terbuka nilai-nilai Pancasila itu kemudian diterjemahkan dalam konteks kekinian itu loh termasuk salah satunya adalah bagaimana implementasi nilai-nilai Pancasila dalam pelayanan publik gitu loh kan. Apakah apa hubungannya pelayanan publik dengan nilai Pancasila? Ini yang kadang-kadang orang kadang-kadang kita merasa bahwa seolah itu tidak berhubungan itu loh. Padahal kita sudah sejak awal ee punya pemahaman bahwa Pancasila itu fundamen moral. Pancasila itu fundamen moral bernegara. Pancasila itu pedoman bernegara. Itu loh dia menjadi dasar dari praktik hidup bernegara kita. sehingga bangunan di atas Pancasila itu sesungguhnya adalah realisasi dari Pancasila apalagi birokrasi ya kan dia menjadi avan garda paling depan untuk menunjukkan bahwa kita itu birokrasi yang betul-betul menjalankan nilai Pancasila yang berketuhan yang berkemanusiaan, yang ber bersatu mengedepankan asas musyawarah untuk mufakat dan orientasinya untuk keadilan sosial. Nah, kata keadilan sosial itu kan tidak hanya pada ases aspek ekonomi belaka itu, tapi pada aspek pelayanan publik bahwa semua masyarakat itu nondiskriminatif mendapatkan pelayanan yang sama. Itu yang harusnya di dipahami gitu loh. Semua masyarakat tanpa terkecuali itu harus mendapatkan akses publik yang sama di hadapan negara. Maka konsep kita kan disebut negara bangsa, nation state. Kita bukan negara kerajaan. Kita tuh nation state, negara bangsa. Negara yang mengatasi bangsa-bangsa. Bahwa di hadapan semua di hadapan negara semua bangsa sama, di hadapan negara semua entitas agama sama. Di hadapan negara semua etnisitas sama. Itu konsep negara bangsa yang dibangun oleh the funding fathers kita. Jadi orientasi negara itu dibangun yang untuk kepentingan semua warga bangsa Indonesia non kecuali. Bahkan lebih ekstrem lagi kalau Bapak Ibu ee membaca konsep utilitarianismenya misalnya, konsep dalam praktik bernegara. Bahkan dalam keadaan tertentu ketika terjadi sebuah ee harus memilih di antara ee apa namanya ee warga negara, maka negara harus berpihak pada siapa? mengatakan negara harus berpihak kepada kelompok yang selama ini tidak pernah diuntungkan dalam akses publik. Itu itu menarik. Sebenarnya orang-orang yang orang-orang miskin yang tidak pernah punya akses di bidang ekonomi, tidak punya akses di bidang kesehatan, maka negara berpihak pada kepentingan itu. Itu harus didahulukan. Itu kan fatsum politik yang dibangun oleh the funding fades kita ketika mendirikan negara ini loh. Ya kan? Dan fatsum politik itu harus di pegang kuat-kurat oleh aparat sipil negara. Karena kita adegara, kita bukan abdi kekuasaan. gitu loh. Maka ketika kekuasaan beralih, ASN tetap kokoh karena dia netral ya kan. Dia enggak akan runtuh meskipun kekuasaan itu bermasalah. Kenapa? Karena kita itu mengabdi pada negara bukan mengabdi pada kekuasaan ya. Maka kita disebut sebagai abdi negara bukan abdi kekuasaan. Maka penerjemahan Pancasila dalam konteks layanan publik itu sebenarnya ee terlihat dari ketika kita memberikan layanan bersifat berkeadilan non diskriminatif itu sesungguhnya adalah sangat Pancasilais tanpa perlu mencari ee alasan yuridis ini letak Pancasila di mana gitu gak perlu tapi itu sudah sangat Pancasilais karena itu fason politik gitu loh. Maka kalau kita melihat ee perjalanan bagaimana penerimaan bangsa Indonesia terhadap Pancasila, kita lihat rentetan itu dari ideologi persatuan, ideologi pembangunan ke ideologi terbuka yang mirip dengan tema kita hari ini dari spirit kebangsaan ya kan cinta tanah air yang memanggul senjata dan sebagainya mengarah pada bagaimana kita memberikan layanan terbaik kepada warga negara itu sudah sangat Pancasilais. Bapak, Ibu, Sobat ASN yang berbahagia. Selama ini kita punya ee terjadi perdebatan yang seringki tidak pernah selesai untuk merumuskan bagaimana kita menunjukkan Pancasila sebagai ideologi, sebagai dasar, dan sebagai pandangan hidup. Ini sebenarnya sudah harusnya sudah selesailah ya kan. Tapi di negeri ini selalu selalu aja perdebatan itu muncul gitu loh Bapak Ibu sekalian. Sehingga benar kata seorang filsuf ee di Eropa, saya lupa namanya, salah satu negara yang tidak pernah selesai berdebat tentang ideologinya ya Indonesia gitu loh. Salah satu negara yang bangsanya tidak pernah selesai berdebat tentang ideologinya ya Indonesia ya. Tapi kalau perdebatan itu ingin ingin mengangkat Pancasila sebagai isu publik yang wajib ada dalam konteks bernegara ya sesuatu yang memang harus di dilakukan. Nah, Bapak, Ibu sekalian, Pancasila itu memiliki beberapa beberapa posisi. Yang pertama adalah Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa. Pancasila adalah way of life. Pancasila adalah eh jiwa bangsa yang sifatnya nature itu. Nature itu alamiah itu loh ya. Makanya Pancasila itu berurat dan berakar dalam tradisi-tradisi masyarakat Indonesia. Maka ideologi itu pas disebut sebagai ideologi bangsa karena dia bukan mengambil dari sesuatu di luar kita gitu loh. Kalau ideologi marksis, ideologi kapitalisme itu kan diambil dari sesuatu di luar kita itu dari produk pikiran orang peror tapi Pancasila itu bukan produk pikiran orang perorang. Pancasila itu konsensus bersama ya kan. ideologi yang tidak mengawang harusnya itu loh, tapi dia diambil dari praktik hidup keseharian masyarakat Indonesia yang berketuhanan, yang mengedepankan musyawarah, yang gotong-royong. Makanya Soekarno pernah mengatakan, "Saya bukan bukan penemu Pancasila, tapi saya hanya menggali mutiara-mutiara mutiara-mutiara luhur yang hidup dan berkembang dalam tradisi bangsa Indonesia itu." Maka kenapa Pancasila itu disebut sebagai sifat natural bangsa Indonesia? Dia sifat alamiah bangsa Indonesia. lima sila itu. Makanya kalau ada praktik hidup ee yang kemudian melanggar lima sila itu pasti pasti ada anomali ya, pasti ada anomali, pasti ada penyimpangan-penyimpangannya itu. Kemudian Pancasila dijadikan sebagai dasar dasar negara sebagai ideologi negara. Dasar negara itu pondasinya. Ideologi itu ee impian tentang masa depan. Nah, seperti ini contohnya Bapak, Ibu sekalian. Sering kita dengar bahasa politik di negeri ini selalu muncul Pancasila ditempatkan sebagai empat pilar. Nah, saya kami dulu Asosiasi Dosen Pancasila pernah pernah melakukan refleksi terkait dengan istilah Pancasila sebagai pilar. Kami kemudian berkesimpulan Pancasila itu bukan pilar, tapi Pancasila itu dasar. ya kan kalau dia pilar dia akan sejajar dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dengan Bineka Tunggal Ika dengan NKRI tapi dia itu dasar dasar bernegara kita itu loh seperti rumah Pancasila itu fondasinya dindingnya konstitusinya itu ya Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dindingnya harus kuat konstitusi harus kuat konstitusi itu boleh diamandemen sepanjang dia tidak melanggar Pancasila ya kan. Semua aturan aturan perundang-undangan di negeri ini boleh dibuat sepanjang dia tidak melanggar Pancasila. Sekali dia melanggar maka dia tidak berlaku sebagai hukum karena dia pondasinya. Bagaimana mungkin produk perundang-undangan itu melanggar pondasinya itu. Nah, ibarat rumah dindingnya sudah kokoh kita itu konstitusinya sudah kokoh. Meskipun saat ini ada ada ee ada isu ya isu ingin kembalikan lagi Undang-Undang Dasar ke UD yang semula. gitu. Ada isu seperti itu. Karena beberapa orang mengatakan bahwa beberapa beberapa pasal dalam Undang-Undang Das 45 itu yang diamandemen itu ee bukan logika kebangsan, tapi logika kapitalis. Nah, itu saya gak tahu. Nanti kita perdebatkan saja. Nah, di dalam rumah itu isinya apa? Bineka tunggal ika. Isi rumah kita itu berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Maka kita disebut dengan negara bangsa nation state ya kan. Maka the funding fis kita hebat sekali pikirannya sangat genuin. Kita tuh negara bangsa. Bayangkan satu negara menyunggi banyak bangsa, kita enggak pernah runtuh. Itu hebatnya Indonesia. Satu negara state menyunggi banyak bangsa itu suku bangsa dan sebag itu kan kita punya ratusan suku bangsa. Satu negara menyungip banyak bangsa, kita masih kokoh. Sementara di banyak negara satu banyak bangsa, satu bangsa disunggi oleh banyak negara. Konflik di mana-mana. Kan kita satu negara menyunggi banyak bangsa, kokoh berdiri. Kenapa? Karena kita punya komitmen bersama namanya Pancasila ya kan. Ini komitmen yang harus dipegang oleh semua anak bangsa dan terutama ASN ya kan. di banyak negara, banyak bangsa, satu banyak negara menyunggi satu bangsa tapi konflik terus-menerus. Nah, ini kan berarti mereka belum selesai tentang persoalan itu. Nah, ibarat rumah atapnya itu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi, posisi Pancas itu jelas dasar pondasi. Maka bangunan di atasnya ya kan apa itu konstitusi, sistem pemerintahan dan sebagainya merupakan realisasi dari nini-nini Pancasila. Itu gak boleh kontraproduktif, gak boleh kontradiksi. Kalau dia kontradiksi, dia melanggar ee melanggar ee norma politik kebangsaan, ya kan? Makanya di sini, makanya dalam konteks ini kan kenapa aparatur sipil negara warga negara itu wajib taat dan loyal pada negara apalagi aparatur sipil negara itu aparat sipil negara ya wajib taat dan loyal pada negara. Bapak Ibu bisa lihat di Amerika Serikat itu ada namanya American Education. American Education Raymond William itu pernah mengatakan bahwa di Amerika Serikat yang liberal, pendidikan adalah doktrinasi negara kepada warga negara supaya warga negara punya ketaatan dan loyalitas pada negara. Bayangkan di negara yang liberal aja pendidikan itu doktrinasi negara kepada warga negara. Itu supaya apa? supaya warga negara itu loyal pada logika negara, pada fas politik negara itu. Maka teman-teman bisa lihat kadang-kadang di Amerika itu kadang-kadang perlu kita pelajari coba lihat film-film di Amerika itu di film itu menjadi alat propaganda hebat kan di Amerika itu di pada faktanya Amerika itu kalah perang di Vietnam kalah perang lul lantak lah tapi mereka bisa menciptakan sebuah film ya kan melahirkan sosok satu sosok hebat namanya Remo itu sendirian bisa mengalahkan vitkong Jadi, jadi film jadi alat propaganda gitu loh. Bahwa meskipun kalah secara secara fakta mereka menciptakan sebuah narasi kemenangan gitu. L jangan-jangan ini memang bagian dari semangat kecintaan dia pada negara. Itu loh. Kenapa seperti itu? Ya karena doktrinasi negara pada warga negara itu sehingga negara punya loyal warga negara punya loyalitas pada negara apalagi aparat sipil negara. itu AS itu harus loyal pada negara, loyal pada konstitusi. Kalau dia melanggar loyalitas itu, maka dipertanyakan posisi dan komitmennya sebagai aparatur sipen negara. Nah, ini teman-teman, Bapak, Ibu, Sobat ASN bisa lihat Pancasila itu sudah memberikan fondasi penting bagaimana cara bernegara kita itu yang kelima silanya tidak boleh dipisahkan satu satu sama lain. Dia bersifat satu kesatuan organis. Enggak boleh hanya mengamalkan yang satu, meniadakan yang lain. Itu dia satu kesatuan organis itu yang tidak terpisah. sila pertama, sila kedua sebagai asas bermoral, moral bernegara, fundamen moral bernegara. Dia menjadi asas berketuhanan dan berkemanusiaan itu menjadi fundamen moral dalam bernegara itu. Ya kan? Ini karena ini menjadi nilai yang universal di hampir semua negara pasti juga mengedepankan negara-negara tertentu yang terutama yang menjadikan agama menjadi entitas penting dalam bernegara. Ketuhanan dan kemanusiaan itu asas moral dalam bernegara. Jadi, orang yang berketuhanan itu juga sesungguhnya merupakan orang yang memiliki kecintaan pada kemanusiaan. Itu ya kan. Berarti kalau kita kalau kita mengabdi pada kepentingan kemanusiaan, ketika melayani publik, itu juga sangat religius itu loh. Sehingga kita enggak boleh memisahkan bahwa ini bahwa kalau kita menjalankan perintah perintah Pancasila kemudian tidak dianggap religius. Justru nilai-nilai dalam Pancasila itu aspek religiusnya sangat kelihatan. Kalau kita mengabdi pada kepentingan orang lain itu kan sangat sangat ee berketuhanan dan berkemanusiaan tanpa harus mencari legitimasi. politik dan sebagainya. Sila ketiga itu sebagai bentuk negara, negara kesatuan Republik Indonesia. Sampai kapanp selalu kokoh. NKRI harga mati selalu bahasanya kan gitu kan. Sila keempat itu sistem bernegar ya kan. Bahwa demokrasi kita itu mengedepankan asas kerakyatan untuk kepentingan musyawarah mufakat. itu bahasa politiknya kan keren, bahasa teksnya dalam sila keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam dan perwakilan itu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah itu kan bahasa yang sangat puitis banget bahwa politik kita itu politik kebangsaan kita dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan bukan menang kalah lah Nah, sementara panggung politik kita saat ini kan menang kalah, bukan benar salah. Itu berarti kan berarti ada sesuatu anomali yang perlu kita refleksikan ulang itu. Sila keempat sistem bernegara. Sila kelima tujuan negara. Ya kan? Jadi kalau ditanya kapan Pancasila akan terwujud? Kalau sila kelima terwujud. Tapi mewujudkan sila kelima tidak boleh mengabaikan. Sila pertama sebagai jiwanya, sila kedua sebagai asas moralnya, sila ketiga sebagai bentuk negaranya. sila keempat sebagai sistem bernegaranya. Nah, ini kalau kita kalau kita eksplorasi dengan mendalam, kita bisa menciptakan sebuah konsep ee kalau silak konsep bagaimana ee apa namanya doktrin ideologis Pancasila untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh Indonesia. ini memang butuh butuh keberanian moral dan keberanian intelektual untuk menciptakan satu konsepsi penting gitu loh. Nah, ini pedoman bernegara kita sebenarnya itu sehingga semua penyelenggara negara itu harus mengikuti pedoman bernegara itu. Berketuhan dan berkemanusiaan. Ee mengedepankan anu negara kesatuan Republik Indonesia berada pada sebuah sistem demokrasi yang bermusyawarah. Tujuannya satu, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Itu bayangkan bagi seluruh rakyat Indonesia bukan hanya untuk sebagian kecil, tapi bagi semua warga bangsa Indonesia tanpa terkecuali. Logika-logika politik ini harus di dimengerti dan dikuasai oleh penyelenggara negara. Maka kita, maka tadi saya mengatakan kita mau jadi ASN seperti apa sebenarnya posisi kita itu loh, Teman Bapak Ibu sekalian. Itu fason politiknya seperti ini. Jadi kalau kalau pedoman bernegara seperti ini maka Pancasila itu sangat religius sebenarnya ya kan. Sekarang ini kan banyak yang menerjemahkan Pancasila menjadi seolah menjadi sekuler gitu loh. Pancasila itu religius tapi religius yang ee yang sifatnya nasionalis dan sebagainya itu. Makanya orang yang orang yang yakin akan kebenaran agamanya pasti tidak bersifat kontradiksi dengan nilai kebangsaannya. Itu dalam konteks keindonesiaan itu ya kan. Ini narasi yang hebat yang dibangun oleh the funding fadis kita. Mereka punya komitmen keagamaan yang cukup baik, tapi punya narsi kebangsaan yang hebat. Itu tidak bersifat sektarian, tidak bersifat primordial, tidak bersifat radikalis dan sebagainya. ini yang ee ini penerjemahannya di pedoman bernegara tadi. Nah, Bapak Ibu sekalian, saya pernah menulis buku yang baru terbit 2024 yang lalu tentang moral dan kekuasaan itu. Ini seperti fatsun politik sebenarnya ya. Monggo Bapak Ibu kalau mau baca ini ingin ini konteksnya adalah negara Pancasila bahwa ee yang tadi saya sebut negara itu ada bukan untuk kepentingan elit negara. Kekuasaan itu ada bukan untuk kepentingan yang berkuasa, tapi untuk kepentingan yang dikuasai dan untuk kepentingan warga negara. ini sebenarnya sudah sangat panjang lebar di diterjemahkan oleh the funding kita gitu loh. Bahkan konsep terbaru ya ini seperti konsep demokrasi deliberatif itu loh. Bahwa kepentingan publik itu lebih diutamakan daripada kepentingan satu dua golongan itu loh. Itu kan sudah itu kan sudah narasi sudah lama dibangun oleh the funding faders kita itu loh. Maka, maka dalam konteks pelayanan publik, publik itu dikedepankan bukan orang perorang. Publik itu bersifat netral, tidak disparitas. Ya kan publik itu siapapun. Maka kekuasaan harus berpihak pada kepentingan publik, bukan kepentingan orang perorang. SN sebagai penyelenggara negara harus berpihak pada kepentingan publik, bukan kepentingan dirinya sendiri, bukan kepentingan orang perorang. Makanya kita disebut sebagai abdi negara yang hidup kita mengabdi kepentingan negara. Ya kan? Karena hidup kita mengadu pada kepentingan negara punya kita punya komitmen yang jelas, kita punya fakta integritas yang jelas. Ya, ibaratnya kita sudah rela mewakafkan hidup kita untuk mengabdi pada kepentingan negara dan negara memfasilitasi ee hajat hidup kita. Karena kita sudah totalitas mengabdi pada kinian negara. Kalau gajinya belum cukup ya mudah-mudahan ke depan akan dicukupkan gitu loh. Tetapi karena kita mengabdi pada negara, negara memberi fasilitas itu supaya apa? Supaya kita totalitas untuk mengabdi pada kepentingan negara. Makanya kenapa ASN itu perlu di saya pernah pernah agak ada usulan agak ekstrem perlu dilitsus ideologis lagi bagi ASN bukan dalam kontenting untuk melihat apakah dia berbau kiri atau kiri atau tidak. Bukan. Tapi lisus ideologis ini dipakai dalam rangka untuk komitmen ASN pada kepentingan publik. itu harus di di dilisus lagi gitu ya kan kalau listus ideologis itu kan saya termasuk ASN yang mungkin mungkin tahapan paling akhir ya 99 atau 2000 ya 2000 itu yang ketika mau jadi ASN tuh ee harus lisus ideologi itu loh diwawancarai tentang pikirannya tentang ee ee jejak rekamnya sebelumnya itu itu untuk melihat apakah kita itu punya punya ee ee apa ya jejak-jejak negatif ee yang bermasar dalam konteks negara itu saya termasuk ASN yang paling akhir kali katanya artinya zaman saya itu lisus ideologi kemudian habis itu tidak ada lisus ideologi tapi dalam konteks kekinian lisus ideologi diperlukan dalam konteks membangun komitmen sebagai ASN yang kita sudah bersedia mewakafkan hidupnya untuk mengabdi pada kepentingan negara dan bangsa. bukan kepentingan orang perorang itu. Maka sebagai beri negara kan kita sudah difasilitasi ya kan. Makanya itu ruang pengabdian bukan ruang tempat di mana kita harus mencari penguasaan harta benda. Kalau pengin sugih ya jangan jadi ASN kan begitu ya. Selamat datang Pak Sadono. Kalau mau sugih jangan jadi ASN. Bapak, Ibu bisa lihat di negeri ini, di negara ini ya, selamat datang Pak Sadono ngih. Di negeri ini mana ada 10 orang terkaya di Indonesia ASN itu enggak ada ya. Kenapa? Ya karena kita adalah abdi negara yang mengabdi untuk kepentingan-kepentingan kebangsaan. Jadi, jadi kadang-kadang memang ee usulan untuk resursis bukan dalam rangka untuk memetakan pikiran seorang ASN, tetapi menjaga komitmen ideologis dia untuk menjalankan regulasi negara dengan cara yang baik dan benar. Itu ini enggak usah. Nah, ini Bapak, Ibu sekalian yang tadi saya sebut birokrasi itu alat negara. ASN itu sebagai abdi negara yang harus bergerak bersama untuk kepentingan tujuan bernegara. Maka kita disebut sebagai abdi. Ruang kita ruang pengabdian ya kan. Bukan ruang untuk mencari mencari apa ya ee apa ya harta kekuasaan dan sebagainya. Tapi kita memang punya komitmen moral bahwa kita tuh abdi negara bukan abdi kekuasaan. Dan negara sekali lagi bersifat netral. negara didirikan dalam rangka untuk membangun kesejahteraan warga negara. Jadi, ASN adalah alat negara yang berfungsi untuk agar kebijakan negara itu betul-betul terimplementasi dalam praktik hidup sehari-hari. Makanya di dalam kebijakan publik birokrasi itu harus orientasinya pada etika publik gitu. Makanya etika publik selalu berorientasi pada pelayanan publik, ya kan? Tindakan apar negara harus berintegritas. Integritas publik itu ya antara antara ee nilai dengan tindakan selalu selalu apa namanya? Nyambung ya kan. Dia menjadi teladan. Kita sudah punya sarana modalitasnya. tadi sudah disampaikan oleh Pak Zulfikar, birokrasi itu sudah jelas ee prinsipnya akuntabilitas, transparansi sudah jelas itu loh. Nah, tindakan dan modalitas itu dipakai dalam rangka untuk meraih tujuan bernegara kita, yaitu pelayanan publik yang berkualitas dan relevan. Mungkin itu yang dapat saya sampaikan. Terima kasih. Nanti bisa kita lanjutkan dengan dialog. Selamat datang, Pak Sadono. Terima kasih. Selamat datang, Pak. Baik, ya. Baik, terima kasih Bapak Dr. Listiano Santoso, SS, MHAM yang sudah memberikan pemaparan dan menjadi narasumber di sesi kedua kali ini. Dan sobat ASEN, setelah ini kita akan lanjut ke sesi tanya jawab. Jadi untuk sobat ASN yang bergabung di Zoom sekali lagi bisa menggunakan fitur eh rise hand atau yang bergabung melalui YouTube bisa tuliskan pertanyaan melalui live chat. [Musik] Dan untuk sesi tanya jawab di narasumber kedua ini sudah ada beberapa pertanyaan dari chat Zoom yang sudah diberikan oleh ee beberapa penanya. Ada Bapak Adiguna Darmadi yang menanyakan banyak masyarakat mengeluhkan pelayanan publik yang kaku karena alasan tidak sesuai SOP. Jadi yang ditanyakan adalah menurut Bapak, bagaimana seharusnya birokrasi mengimplementasikan nilai kemanusiaan dalam Pancasila di tengah keterikatan aturan tersebut? Silakan, Pak. Nggih. Matur suun, Mbak Yuris. Birokrasi pada regulasi pada aturan. Jadi sepanjang minimal dia mengikuti regulasi yang ada itu yang harusnya memang ditepati itu harus dijalankan. gitu loh. Bahwa kemudian ternyata ada hal yang sifatnya kasuistik muncul kebijakan-kebijakan kebijakan-kebijakan yang akhirnya mengedepankan aspek kemanusiaan. Tetapi regulasi tetap harus di tetap harus dijalankan dulu gitu loh. Regulasi tetap dijalankan dulu bahwa ternyata kemudian ada kasus-kasus tertentu yang harus mengedepankan aspek kemanusiaan dan sebagainya maka muncul kebijakan. Maka itulah sebabnya pelayanan publik tidak hanya berorientasi pada akuntabilitas, transparansi, netralitas pada tapi pada pada visi kemanusiaan itu loh ya kan sepanjang tidak melanggar regulasi maka itu boleh dilakukan gitu loh. Jadi memang birokrasi harus fleksibel tapi dalam konteks fleksibilitas ini dia harus terbuka tapi jangan telanjang jangan jangan terlalu permisif lah. Kalau terlalu permisif, akhirnya kemudian ee regulasi menjadi tidak punya tidak punya apa namanya kekuatan penekan. Padahal regulasi itu dibangun dalam rangka supaya semua proses layanan itu bersifat ee ee berjalan sesuai dengan alur yang sudah disediakan gitu loh. Bahwa kemudian ternyata ada kasus-kasus tertentu berarti ke depan perlu ada regulasi baru yang semakin menyempurnakan itu kan enggak enggak enggak ada regulasi itu yang sifatnya permanen itu selalu ada sesuatu yang disempurnakan terus-menerus itu loh dan birokrasi harus terbuka terhadap setiap masukan itu. kita dengarkan secara lebar-lebar apa keluhan publik terkait dengan persoalan pelayanan publik itu loh. Semakin banyak mendengar akan semakin mudah kita mereformasi birokrasi itu. Jadi seperti itu Mbak Yuris bahwa birokrasi tetap harus berjalan pada regulasi yang sudah ada, SOP yang sudah ditetapkan. Jangan bersifat liar, jangan kemudian membuat membuat aturan-aturan di luar regulasi itu karena nanti akan merepotkan gitu loh. Akan merepotkan yang kemarin dia boleh kok ini enggak boleh kan begitu. Akhirnya buat regulasi dulu sesuai dengan regulasinya, sesuai dengan tu porsinya kalau ada kartu stik biarkan pimpinan membuat kebijakan. Baik, terima kasih Bapak Alistiono. Selanjutnya untuk pertanyaan kedua ini masih dari chat Zoom lagi. Ini dari Bu Aini Rosidah. Mohon izin sempat disebutkan bahwa negara harus berpihak pada yang tidak pernah diperhatikan atau yang termarginalkan. Namun di sisi lain sebagai ASN yang juga bagian dari penyelenggara negara seringki terbentur oleh kebijakan-kebijakan politis yang dibuat oleh negara. Lantas bagaimana ASN harus bersikap di situasi demikian? Mohon jawaban dari Pak Lis. Terima kasih. Silakan Pak Lis. Terima kasih. Sekali lagi, ASN itu kan abdi negara bukan abdi kekuasaan. Jadi sepanjang bekerja sesuai dengan aturan bermain yang dibuat negara itu harus ditegakkan gak ditetapkan gitu. Itu yang harus ditegakkan. Tapi di lapangan memang seringkiali ada ada kasus-kasus yang kem ini sebenarnya tidak agak tidak berbeda dengan pertanyaan pertama tadi ya Mbak Y. Betul. Ada kasus-kasus yang memang perlu membutuhkan perhatian yang berbeda. Di situlah kemudian seorang pemimpin harus punya keutamaan hidup. Saya pengin mengatakan dulu ada seorang filsuf namanya Plato pernah membuat keutamaan hidup seorang pemimpin itu apa? Kebijaksanaan ya kan? Keutamaan hidup seorang aparatur negara itu apa? Keberanian menegakkan regulasi. Keutamaan hidup seorang rakyat itu apa? Kesabaran. Jadi ketika ada kasus-kasus tertentu, pemimpin harus punya wisdom, kebijaksanaan. Makanya tidak mudah jadi seorang pemimpin. Makanya pemimpin Wisdom itu menjadi seorang sesuatu ukuran penting ketika menyelenggarakan sebuah kebijakankijakan itu. Karena pasti ada kasus-kasus tertentu yang sifatnya namanya kasuistik itu. Jadi kalau menurut saya memang tetap regulasi berkomunikasi dengan kebijakan ee dengan pemimpin karena karena dia pasti punya punya ee standar dalam rangka untuk menentukan sebuah kebijakan itu. Tadi saya menyebut ini kan bahwa negara harus berpihak pada warga negara secara ekstrem. Bahkan ee teori unitisme mengatakan bahkan dalam keadaan tertentu ketika ada dua kasus yang berbeda negara berpihak pada siapa? Berpihaklah pada kepentingan yang selama ini tidak pernah mendapatkan akses publik. Itu loh. Dia harus dapat pelayanan dulu. Kenapa? karena selama ini tidak pernah mendapatkan akses publik itu ya selama ini dia tidak punya kemampuan untuk ee masuk ke dalam akses publik maka negara harus berpihak pada kepentingan orang itu dulu ya kan karena dia butuh kehadiran negara itu kalau kan ada kelompok-kelompok orang yang dia punya kemandirian untuk hadang ke situ misalnya dia ketika persoalan kesehatan dia gak ya punya akses akses untuk merebut kekuasaan tapi ada kelompok-kelompok orang yang tidak punya akses itu negara harus mendahulukan itu. Ya kan? Itu yang menurut saya harus sudah dilakukan. Baik, saya rasa jawaban dari Pak Listiono sudah sangat-amat luar biasa ee menjawab dua pertanyaan dari Bu Aini Rosida dan juga Bapak Adi Guna Darmadi. Terima kasih untuk kedua penanya dan juga saya ucapkan terima kasih sekali lagi kepada narasumber kedua pada pagi hari ini Bapak Dr. Listantos SSMHum. Pak terima kasih. Maturih. Sama-sama Pak. Sehat selalu, Pak. I. Dan bagi sobat ASN yang belum sempat bertanya, jangan khawatir ya, karena masih ada satu narasumber lagi. Tetap di ASN Belajar seri 38. [Musik] Masih bersama webinar ASN Belajar. Sobat ASN, untuk materi terakhir pada hari ini akan disampaikan oleh Direktur Pelaksanaan Diklat Pembinaan Ideologi Pancasila Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia yaitu Bapak Sadono Sriharjo, ST, M.M. [Musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang, Bapak. Selamat siang. Alhamdulillah, Pak. Terima kasih sudah berkenan hadir untuk menjadi narasumber ketiga pada ASN ee webinar belajar di seri ke-38 ini ya, Pak ya. Terima kasih kembali. Baik, Bapak sudah siap dengan materinya? Saya yakin kami langsung persilakan Bapak Sahdono Sriharjo, ST, MM. Silakan, Pak. Oke, terima kasih e moderator. Bismillahirrahmanirrahim. Salam Pancasila. Izinkan kami membuka sesi ini dengan pantun. Nah, Pulau Sumatera dikenal Suarnabi, Pak. Cakep. Kerajaan Sriwijaya, negara bangsa. Cakep. Salam Pancasila buat para peserta. Cakep. Mari sama membangun bangsa. Ye, terima kasih ee Bapak, Ibu semuanya. Mohon izin untuk share screen. Sudah kelihatan, Ibu moderator? Sudah, Pak. Aman. Sudah, nggih. Oke. Ee terima kasih Bapak Ibu sekalian. ini merupakan suatu kehormatan bagi kita semua bisa berjumpa di dalam silaturahmi kebangsaan di siang ini ee pagi menjelang siang Bapak Ibu sekalian ya. Dalam rangka kita mempercapkan suatu hal yang sangat ee fundamental terkait dengan pembinaan ideologi Pancasila. di mana tema kali ini adalah Pancasila dan birokrasi dari spirit kebangsaan ke transformasi pelayanan publik. E mungkin kalau boleh koreksi ini ee Pancasila mungkin Pancasila dalam birokrasi Ibu moderator ya. Karena kata dan ini ada apa? Ada ee substansi yang sepadan sehingga kalau Pancasila seharusnya berada di atas ee birokrasi karena kita melaksanakan birokrasi berlandaskan pada Pancasila. di mana di dalam perjumpaan pada kesempatan kali ini kita akan bersama-sama melakukan sharing dalam rangka bergotongroyong mengokohkan ideologi Pancasila utamanya melakukan suatu transformasi dari diri kita masing-masing sebagai aparatur sipil negara dengan perannya sebagai pelaksana kebijakan publik. sebagai pelayan publik maupun perkat persatuan dan kesatuan bangsa dalam mewujudkan kepemimpinan Pancasila, kepemimpinan aparatur sipil negara yang beretika, berintegritas, dan bervisi negarawan. Jadi bervisi negarawan ini kami garis bawahi sehingga di dalam perjumpaan ini bagaimana kita selalu mengingat bahwa kita sebagai aparatur sipil negara dengan tugas dan wewenang yang diberikan oleh regulasi harus mempunyai visi negara. suatu visi yang mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi maupun kelompok golongan. Bapak, Ibu peserta kegiatan yang kami banggakan. Itu saja dalam kesempatan ini juga izin memperkenalkan diri dan tentu saja perjumpaan ini merupakan perjumpaan yang tidak terakhir tapi merupakan awal perjumpaan dari kita semuanya sehingga pada saat mendatang kita bisa terus dapat berkomunikasi dalam rangka membangun visi kita sebagai aparatur negara yang mempunyai visi negarawan. Bapak, Ibu yang kami hormati, kami senantiasa membuka dialog, membuka masukan dari Bapak, Ibu sekalian, baik itu melalui media sosial, melalui WA, maupun melalui email yang ada di hadapan layar. Bapak, Ibu peserta semuanya. Bapak, Ibu yang kami banggakan. Di dalam kesempatan ini kita akan mempercapakan beberapa hal. di antaranya adalah terkait dengan landasan regulasi pelaksanaan kegiatan pelaksanaan silaturahmi dalam kesempatan ini. Kemudian juga refleksi kebangsaan, sejarah ketatanegaraan kita Pancasila sebagai ideologi negara maupun yang utama adalah bersama-sama kita menguatkan diri untuk melakukan transformasi diri menjadi teladan-teladan sebagai aparatur sipil negara yang pada saat ini nanti terus memberikan kontribusi mewujudkan kepimpinan Pancasila yang bervisi negarawan. Terus saja dalam konteks ini, dalam konteks membangun suatu ideologi negara, maka ada tiga dimensi yang selalu kita percakapkan di dalam kesempatan kali ini, yakni dari dimensi pengetahuan, dari dimensi sikap, maupun dari dimensi tindakan. Sehingga di dalam proses pertemuan kita pada siang ini, kita semua lebih mempunyai pengetahuan untuk mengidentifikasi nilai-nilai Pancasila dalam pembinaan ideologi Pancasila. Utamanya dalam proses pembelajaran proses silaturahmi yang kita lakukan pada kesempatan kali ini. Bagaimana kita merespon nilai-nilai Pancasila tersebut. utamanya dalam melaksanakan tugas, fungsi, maupun peran kita sebagai aparatur negara sehingga kita bisa menegakkan dan menguatkan nilai-nilai Pancasila dalam praktiknya pada pelaksanaan tugas dan fungsi kita sebagai aparatur sipil negara. Sebagaimana tadi kami sampaikan salam Pancasila bahwa kewajiban tanggung jawab untuk menegakkan dan menerapkan nilai-nilai Pancasila berada di atas pundak kita semuanya menjadi tanggung jawab seluruh warga negara Indonesia sehingga di dalam kesempatan ini kita bersama-sama bisa saling menguatkan kembali keinginan komitmen yang kuat untuk melakukan transformasi diri menjadi ASN yang ber karakter berlaruskan pada nilai-nilai Pancasila sehingga pada saatnya kita nanti mendapatkan kewenangan untuk membuat suatu kebijakan program maupun kegiatan, maka senantiasa dilandaskan pada nilai-nilai Pancasila apapun risikonya di manaun kapanp kita berada di dalam melaksanakan peran kita sebagai aparatur negara. Bapak, Ibu peserta kegiatan yang kami banggakan. Mari kita simak bersama betapa pentingnya pembangunan karakter bagi aparatur negara sebagai penyelenggara negara. Karena tidak ada artinya penguasaan kompetensi teknis, manajerial, maupun sosiokultural tanpa dilandasi dengan karakter dan jati diri yang kuat berdasarkan pada nilai-nilai Pancasila. Selamat menikmati. Mata pokok intisari mandat. Tokoh intisari mandat. yang saya terima dari MTRS ialah membangun bangsa nation building dari kemerosootan zaman kolonial untuk dijadikan satu bangsa yang berjiwa yang dapat dan mampu menghadapi semua tantangan pebangsa yang merdeka dalam abad ke-20 ini. Itulah intisari pokok daripada mandat MPR kepada saya. Sesungguhnya toh bahwa membangun satu negara, membangun ekonomi, membangun teknik, membangun pertahanan adalah pertama-tama dan pada tahap utamanya membangun jiwa bangsa. Bukankah demikian? Sekali lagi, bukankah demikian? Tentu saja keahlian adalah perlu, tetapi keahlian saja tanpa dilandaskan pada jiwa yang besar tidak akan dapat mungkin akan mencapai tujuannya. Inilah perlunya sekali lagi mutlak perlunya nation and character character building. Nah, itu Bapak sekalian pesan daripada proklamator kita. pentingnya nation and character building. Jadi menjadi suatu hal yang perlu kita perbincangkan di dalam percakapan ee pertemuan perjumpaan kali ini. bagaimana kita bersama-sama memberikan kontribusi di dalam pembangunan karakter dan bangsa berdasarkan pada nilai-nilai Pancasila sehingga penyelenggaraan negara pelaksanaan demokrasi yang kita laksanakan karena kita sebagai aparatur sipil negara berada di dalamnya mampu memberikan kontribusi yang optimal bagi terwujudnya tujuan berbangsa dan bernegara. Kalau kita melihat tujuan berbangsa dan bernegara adalah mewujudkan Indonesia merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur sebagaimana tercantung di dalam konstitusi kita. Dan Bapak Ibu peserta kegiatan yang kami hormati. Tujuan abadi, cita cita abadi berbangsa dan bernegara tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah cita moral daripada Pancasila itu sendiri. Merdeka merupakan cita moral daripada Pancasila. Sila pertama dan sila kedua. Bersatu merupakan cita moral daripada Pancasila sila ketiga. Berdaulat merupakan cita moral daripada sila keempat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusatan perwakilan. Adil dan makmur merupakan cita moral daripada Pancasila. Sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. sehingga tujuan maupun cita-cita berbangsa dan bernegara ini kalau disatukan dalam satu kata menurut pendakuan Dr. Andesus Muhammad Hatta adalah kebahagiaan. Jadi, Bapak Ibu sekalian, Pancasila menjadi bintang penuntun bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan kebahagiaan bagi seluruh rakyat Indonesia. mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bapak, Ibu peserta kegiatan yang kami hormati. kita dalam melaksanakan tugas sebagai birokrat dan pelaksanaan penyelenggaraan negara juga menghadapi tantangan yang sangat luar biasa utamanya yang diwanti-wanti oleh para wakil rakyat kita yang ada di dalam MPR melalui MPR nomor 6 MPR 2001 tentang etika berbangsa dan bernegara. Jadi, Bapak, Ibu sekalian, kita secara transparan bisa melihat terjadinya berbagai ner etika di dalam penyelenggaraan negara. Dan saja ini menjadi suatu hal yang menjadi konsern di dalam pelaksanaan pembangunan nasional. Kalau kita mengacu kepada Undang-Undang 59 tahun 2024, maka bagaimana aparatur penyelenggara negara ini menjadi salah satu fokus di dalam pelaksanaan pembinaan ideologi Pancasila. Dan Bapak Ibu peserta kegiatan yang kami banggakan. di dalam Undang-Undang RPJPN tahun 2025-2045 tersebut juga sudah menempatkan Pancasila sebagai landasan transformasi menuju Indonesia Emas 2045. Di dalam periode perencanaan 20 tahun, kita secara transparan dapat mencermati misi keempat, yakni suasi hukum, stabilitas, dan kepimpinan Indonesia. Di mana di dalamnya mengamanatkan kepada kita semua untuk memberikan kontribusi di dalam melaksanakan internalisasi nilai-nilai Pancasila di dalam praktik kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kemudian di dalam misi kelima yakni ketahanan sosial, budaya dan ekologi menjadi mandat kita semuanya untuk memberikan kontribusi di dalam pelaksanaan pembinaan ideologi Pancasila dalam rangka menguatkan kedaulatan di bidang politik, kemudian kemandirian di bidang ekonomi, kemudian kepribadian yang berkebudayaan, serta penguatan karakter dan jati diri berkan pada nilai-nilai Pancasila. Mengapa ini kami sampaikan Bapak, Ibu peserta kegiatan semuanya? Karena kita sebagai aparatur negara dalam melaksanakan peran kita selalu mengacu kepada dokumen-dokumen perencanaan. Dan induk daripada dukungan perencanaan untuk 20 tahun ke depan adalah Undang-Undang 59 2024 yang telah diderivasikan menjadi Peraturan Presiden Nomor 12 tahun 2025 tentang RPJMN tahun 2025-29 yang telah mengakomodir baik itu secara teknokratis maupun secara politis terpilih 2024-2029. Bapak, Ibu peserta kegiatan yang kami banggakan. Tentu saja dalam kesempatan ini juga kami mengajak kita bersama untuk melakukan kolaborasi, membangun suatu sinergisitas dalam rangka gotongroyong dalam pelaksanaan pembinaan ideologi Pancasila. Karena sebagaimana dimandatkan di dalam Peraturan Presiden nomor 7 tahun 2018 tentang Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. di mana lembaga ini merupakan lembaga yang berada di bawah presiden dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia dengan tugas membantu Presiden di bidang pembinaan ideologi Pancasila yang tujuan utamanya adalah membangun karakter dan bangsa pada nilai-nilai Pancasila. Tentu saja pelaksanaan pembinaan ideologi Pancasila ini memerlukan kontribusi dari segenap komponen bangsa Indonesia. Bapak, Ibu peserta kegiatan yang kami banggakan sehingga perjumpaan siang ini merupakan suatu wujud nyata langkah-langkah awal kita di dalam mengokohkan infrastruktur, mengokohkan jejaring kerja, mengokohkan gotong-royong di dalam pelaksanaan pembinaan ideologi Pancasila. gotongroyong di dalam membangun jiwa bangsa. Namun demikian, Bapak, Ibu peserta pelatihan, kita sudah memahami bahwa Pancasila merupakan dasar negara. Pancasila merupakan pandangan hidup bangsa Indonesia. Pancasila sebagai falsafah dasar bangsa Indonesia. Pancasila sebagai pemersatu bangsa Indonesia. Pancasila sebagai sumber segala sumber hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pertanyaannya Bapak Ibu sekalian, apakah Bapak Ibu sekalian sudah memahami bagaimana sejarah asal usul daripada Pancasila sebagai dasar negara, sebagai ideologi negara, pandang hidup maupun falsafah dasar bangsa tersebut. Nah, ini dalam konteks ee perjumpaan kali ini saya mengajak kepada Bapak Ibu semuanya untuk menemu kenali kembali Pancasila tersebut dalam konteks memahami sejarah ketatanegaraan kita. Karena kita sama-sama memahami tantangan yang di hadapi dalam penyelenggaraan negara, dalam melaksanakan peran kita sebagai aparatur negara. Apakah itu sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik, perekat persatuan dan kesatuan bangsa dengan corvalius berakhlak yang merupakan aktualisasi daripada nilai-nilai Pancasila menghadapi tantangan yang sangat luar biasa. utamanya dalam era kontemporer ini kita terus menghadapi bagaimana proxy war, asymetric war, cyber war, hoa bahkan narkoba, narkolema. Artinya di era media sosial ini kita juga menghadapi tantangan narkolima, Bapak Ibu sekalian. Narkoba lewat mata. bagaimana konten-konten kekerasan, konten-konten pornoaksi, pornografi, dan sebagainya demikian mudahnya diakses oleh generasi muda penerus bangsa. juga adu domba sara yang merupakan strategi yang terus dilaksanakan baik di era kolonial maupun pos kolonial saat ini tentu saja dalam kontekstual yang berbeda. Bapak, Ibu yang kami banggakan. Tadi sudah kami sampaikan bahwa bangsa ini menghadapi krisis multidimensi, menghadapi paradoks Indonesia, menghadapi nir etika di bidang sosial, budaya, politik, pemerintahan, ekonomi, bisnis, penegakan hukum yang berkeadilan, lingkungan, keilmuan, dan sebagainya. hampir semua sektor pembangunan di mana menjadi lingkup penyelenggaraan birokrasi kita menghadapi tantangan nir etika Pancasila tersebut. Belum lagi era industri yang tadi kami sampaikan semakin mem buat tantangan kita yang dilematis utamanya pemanfaatan teknologi informasi yang mendisrupsi semua proses bisnis di bidang layanan publik yang menjadi tanggung jawab kita semua sebagai aparatur negara. Demikian juga kondisi faktual geopolitik, geoekonomi, dan geostrategi. Bagaimana kita secara cermat bisa mengamati secara transparan terjadinya perubahan-perubahan yang tentu saja langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap Indonesia sebagai bagian daripada masyarakat internasional. Bapak, Ibu peserta kegiatan, Bapak, Ibu sebagai aparatur negara dengan peran sebagai aparatur negara tentu saja mempunyai kontribusi menjadi aktor utama, menjadi kontributor utama di dalam merumuskan kebijakan-kebijakan publik. bagaimana kebijakan-kebijakan publik saat ini ke depan dengan peran serta dari Bapak, Ibu semuanya bisa mereduksi terjadinya paradoksaradoks Indonesia utamanya terkait dengan pengelolaan sumber daya alam. Bagaimana agar nilai ekonomi, nilai tambah ekonomi dengan penguasaan teknologi industri ini dapat sebesar-besarnya dilakukan di dalam negeri Indonesia. Bagaimana kebijakan hilirisasi terhadap sumber daya alam ini dapat dilaksanakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran, kebahagiaan, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bukan untuk kemakmuran rakyat negara lain. Bapak, Ibu yang kami banggakan. Kita dikaruni sumber daya alam nikel sawit timah, batubara emas terbesar di dunia. Pertanyaannya, apakah pengelolaan sumber daya alam ini sudah sepenuhnya melaksanakan amanat daripada konstitusi kita? utamanya pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Tentu saja ini menjadi refleksi di dalam perjumpaan kita kali ini. Kalau kita mencermati juga permasalahan-permasalahan faktual n etika di dalam penyelenggaraan negara, bagaimana kita negara Pancasila tapi korupsi masih secara transparan terjadi di mana-mana di semua, tidak hanya di pemerintah pusat, tapi juga di pemerintah daerah. Corruption perception index kita itu nomor lima Bapak Ibu sekalian di ASEAN kita kalah dengan Vietnam kalah dengan temorliste yang baru beberapa tahun menjadi negara merdeka. Tentu saja ini menjadi refleksi juga bagaimana kita sebagai aparatur sipil negara bisa memberikan kontribusi yang terbaik dalam melaksanakan peran kita sebagai aparatur sipil negara. Demikian juga permasalahan nir etika Pancasila di dalam kebinekaan keteladanan berkepiden dalam kebudayaan gempuran daripada budaya-budaya asing yang melanda generasi muda penerus bangsa kita. Bagaimana di dalam sistem ekonomi, kemiskinan masih menjadi permasalahan utama di dalam pelaksanaan pembangunan nasional. Penyelenggaraan negara kita masih belum mampu mewujudkan amanat daripada para pendiri bangsa. Bapak, Ibu peserta kegiatan yang kami hormati. Kalau Bapak Ibu mencermati membaca daripada pidato 1 Juni, pidato kelahiran Pancasila yang disampaikan oleh Ir. Soekarno, maka di sana secara jelas bagaimana cita-cita para pendiri bangsa untuk mewujudkan negara Indonesia merdeka di mana di dalamnya tanpa adanya kemiskinan. Bapak, Ibu yang kami hormati. Demikian juga di dalam sistem pendidikan dan IPTEK. Bahkan kita hampir 20 tahun lebih di dalam kurikulum pendidikan kita tidak membicarakan, tidak mempercakapkan ideologi Pancasila. Pasca 2000, pasca 1998 atau pasca reformasi. 20 tahun lebih yang lalu. Bapak, Ibu sekalian, sehingga dalam konteks ini kami kembali akan ee mengajak kita semua untuk mengenali sejarah tata negara negara kesatuan Republik Indonesia utamia terkait dengan Pancasila. Jas merah. Jangan sekali-sekali meninggalkan ulama juga. Bagaimana kita mengingat jasa-jasa para ulama kita. Jas hijau. Jangan sekali-kali hilangkan jasa ulama kita. Bapak, Ibu yang kami banggakan. Pancasila sebagai dasar negara, sebagai pandangan hidup, sebagai falsafah dasar, sebagai pemersatu bangsa, sebagai sumber segala sumber hukum negara. Rumusannya sudah final yang ada di dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Namun demikian, apakah Bapak Ibu kita semua pernah atau memahami asal-usul daripada rumusan tersebut? Dalam konteks sejarah ketatanegaraan kita, maka rumusan Pancasila yang ada di dalam konstitusi kita disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945. Demikian juga dalam konteks sejarah yang merupakan rangkaian peristiwa dalam dimensi waktu. Maka rumusan Pancasila yang disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 juga tidak serta-merta ada, tetapi berasal dari rumusan Pancasila 22 Juni yang dihasilkan oleh panitia 9. Demikian juga dalam konteks dimensi sejarah, dimensi waktu, peristiwa-peristiwa yang berkaitan. Maka kita dapat melihat bahwa rumusan Pancasila 22 Juni juga tidak serta-merta ada, tapi berasal daripada rumusan Pancasila yang dihasilkan di dalam sidang BPUK yang pertama pada tanggal 29 Mei sampai dengan 1 Juni 1945. Rumusan tersebut disampaikan oleh anggota BPUPK Ir. Soekarno di hadapan sidang BPUPK pada tanggal 1 Juni 1945. Jadi, Bapak Ibu yang kami banggakan, kami menghimbau mengajak kepada kita semua yang hadir di dalam perjumpaan siang ini untuk membaca pidato 1 Juni tersebut. Mengapa demikian? Karena secara kontekstual nilai-nilai daripada prinsip atau asas dasar didirikannya Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh para pendiri bangsa ada di dalam pidato tersebut. Bagaimana nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, nilai-nilai kemanusiaan yang adil beradab, nilai-nilai persatuan Indonesia, nilai-nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusatan perwakilan, serta nilai-nilai yang ada di dalam keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia ada di dalam pidato tersebut. Jadi, Bapak, Ibu sekalian, dalam konteks hukum, dalam konteks regulasi, maka tanggal 1 Juni sudah ditetapkan sebagai hari lahir Pancasila melalui keputusan Presiden nomor 24 tahun 2016. Demikian juga tanggal 18 Agustus sudah ditetapkan sebagai Hari Konstitusi melalui keputusan Presiden Nomor 18 tahun 2008 pada saat Presiden kita Bapak Susilo Bambang Yudoyono. Bapak, Ibu yang kami hormati. Tentu saja pemahaman kita terhadap sejarah Pancasila ini menjadi suatu hal yang mutlak untuk menjadi pengetahuan kita sebagai birokrat, pengetahuan kita sebagai aparatur sipil negara sehingga kita semua dapat memetik, dapat meneladani keteladanan-keteladanan yang diberikan oleh para pendiri bangsa tersebut di dalam proses sejarah Pancasila. Bagaimana kebesaran daripada Ki Bagus Haji Kusumo, kebesaran daripada Kasman Singo? kebesaran daripada Kiai Agus Salim dengan menerima keputusan untuk mengganti atau menghilangkan tujuh kata di dalam rumusan sila pertama dari Pancasila rumusan 22 Juni 1945 atau yang dikenal dengan piagam Jakarta atau mukadimah menurut Ir. Soekarno atau gentleman agreement menurut Sukiman menjadi ketuhanan yang maha esa. Bagaimana para tokoh ulama ini mengedepankan kepentingan yang lebih besar kepentingan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia? Bapak, Ibu yang kami hormati. Tentu saja dalam konteks sejarah ketatanegaraan tersebut ingin kami sampaikan di dalam kesempatan ini ada dua bukti pendukung yang mendukung daripada sejarah Pancasila yang disampaikan di dalam kesempatan ini. Yang pertama adalah dokumen arsip sejarah yang saat ini sudah berada di pangkuan pemerintah Republik Indonesia. Dokumen nutulensi sidang BBPK yakni dokumen atau nutulensi AG Prenggodikto dan AK Prengodikto yang saat ini sudah tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia. Dan Bapak Ibu semuanya bisa melihat dokumen tersebut. Yang kedua adalah saksi-saksi daripada pelaku sejarah yang menyaksikan secara langsung peristiwa sejarah Pancasila mulai dari kelahiran permusuhan sampai dengan pengesahan Pancasila yang dilakukan oleh para pendiri bangsa. Bapak, Ibu sekalian yang kami banggakan. Bilamana Bapak Ibu mencermati membaca pidato 1 Juni, maka Bapak Ibu juga bisa lebih memahami Pancasila sebagai falsafah dasar bangsa Indonesia. Mengapa demikian? Karena di dalam pidato 1 Juni disampaikan pengertian filosofis Gronrah oleh Ir. Soekarno di dalam pidato 1 Juni tersebut. di mana filosofis Gronf adalah pondamen filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didikan gedung Indonesia merdeka yang kekal dan abadi. Jadi, Bapak Ibu sekalian, Pancasila adalah pondamen adalah pondamen daripada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di mana kita sebagai aparatur negara wajib hukumnya untuk memperkokoh fundamen tersebut. agar Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat kekal dan abadi hingga akhir zaman nanti. Pancasila adalah jiwa bangsa. Bagaimana kita terus berkontribusi di dalam membangun jiwa bangsa. Seperti tadi sampaikan oleh ee Ir. Soekarno di dalam pidatonya maupun wasiat-wasiat yang disampaikan di dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Jadi, Bapak, Ibu sekalian, tanpa membangun jiwa, tanpa membangun badan, maka tidak mungkin kita akan terbangun budi pekerti, tidak mungkin terbangun etika Pancasila, tidak mungkin akan muncul suatu komitmen, suatu janji untuk memberikan dukungan agar Indonesia raya abadi. tadi yang ada dalam wasiat yang diberikan di dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya baik stansa 1, stansa dua maupun stansa 3. Bapak, Ibu yang kami hormati. Tentu saja sekali lagi pentingnya Bapak Ibu kembali membaca, mencermati dan memahami prinsip prinsip dasar asas dasar daripada negara Indonesia merdeka yang disampaikan oleh para pendiri bangsa mulai dari sila pertama sampai dengan sila kelima daripada Pancasila. Bapak, Ibu yang kami hormati. Di dalam pidato 1 Juni tersebut juga disampaikan alternatif-alternatif yaitu Pancasila, Trisila, maupun Ekasila. Yang ingin kami sampaikan di sini adalah rumusan sosion nasionalisme, sosio demokrasi dan ketuhanan atau sosi religius. sosio berasal dari bahasa Latin yang artinya penuh dengan persahabatan, penuh dengan kehangatan, penuh dengan cinta kasih. Jadi, Bapak Ibu semuanya, kami mengajak kepada Bapak, Ibu semuanya agar kita selalu meningkatkan cinta kasih kita di dalam melaksanakan peran kita sebagai aparatur negara. Cinta kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, cinta kasih kepada diri kita sendiri, cinta kasih kepada sesama manusia dan cinta kasih kepada lingkungan hidup kita. Sehingga dengan menguatnya cinta kasih ini pasti dan pasti kita akan bertransformasi menjadi ASNASN yang senantiasa mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan ASN yang bervisi negarawan. Bapak, Ibu yang kami banggakan. Tentu saja kita mengenal bagaimana tokoh-tokoh yang tadi kami sampaikan memberikan keteladanan di dalam menyusun suatu konsensus agung berbangsa dan bernegara yaitu Pancasila. Bapak, Ibu yang kami banggakan. Tentu saja secara sekilas pemahaman terhadap sejarah ketatanegaraan yang kami sampaikan perlu dielaborasi lebih lanjut oleh Bapak Ibu sekalian sehingga kita semua bisa mewarisi nilai-nilai Pancasila, bisa mewarisi api semangat nilai-nilai Pancasila tersebut pada saat disampaikan oleh para pendiri bangsa ini. Bapak, Ibu yang kami banggakan. tentu saja sebagai aparatur sipil negara dan kalau kita boleh mengingatkan kembali kita pada saat menjadi aparatur sipil negara sudah mengucapkan sumpah sebagai aparatur sipil negara yaitu setia dan taat sepuhnya kepada Pancasila atau saja penguatan pengetahuan, penguatan keyakinan, penguatan tindakan berdasarkan nilai-nilai Pancasila sangat dan penting sebagai wujud realisasi daripada sumpah yang sudah kita ucapkan. Bapak, Ibu peserta kegiatan yang kami hormati. Tentu saja dalam konteks membangun karakter kepimpinan Pancasila, membangun ASN yang berkarakter berjati diri dan bervisi negarawan tersebut merupakan suatu proses yang berkesinambungan, suatu proses yang perlu dilaksanakan secara terus-menerus dalam berbagai kesempatan sehingga kita terus akan menguat aspek keyakinan, pengetahuan, maupun keteladanan kita dalam melaksanakan tugas dan peran kita sebagai aparatur sipil negara. Bapak, Ibu sekalian. Di samping itu juga pemahaman kita bahwa Pancasila merupakan ideologi negara menjadi suatu hal yang terus kita yakinkan dalam hati kita sehingga kita melaksanakan nilai-nilai Pancasila kapanpun, di manaun apapun risikonya. Kalau kita melihat seperti yang disampaikan oleh Ir. Soekarno maupun pengertian daripada filosofis gronselah yang tadi kami sampaikan secara jelas di sana bahwa Pancasila menjadi suatu bintang penuntun bagi kita untuk mewujudkan tujuan berbangsa dan bernegara. Bahkan secara tegas, Dres. Muhamad Tata menyampaikan Pancasila adalah lima asas yang merupakan ideologi negara. Demikian juga MPR RI 2020 yang lalu juga menyampaikan definisi pengertian Pancasila sebagai ideologi negara. Apabila dasar negara Pancasila dihubungkan dengan cita-cita dan tujuan negara. Jadilah Pancasila ideologi negara. Dan tadi kami sampaikan bahwa tujuan atau cita-cita berbangsa dan bernegara pada hakikatnya adalah Pancasila itu sendiri. Bapak, Ibu yang kami banggakan. Demikian juga di Undang 19 yang tadi sudah kami sampaikan kami kasih sebagai pengantar diskusi di dalam perjumpaan siang ini. Tentu saja Bapak Ibu yang kami banggakan peran kita bagaimana memberikan suatu kontribusi kita sebagai aparatur sipil negara. menjadi penjaga utama bagaimana Pancasila Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Binika tunggalika Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai konsensus dasar berbangsa dan bernegara tetap kita laksanakan, kita aktualisasikan di dalam praktik pelaksanaan peran kita sebagai aparatur sipil negara. Karena kita sebagai aktor-aktor yang menentukan proses transformasi apakah mencapai target-target yang sudah ditetapkan, mencapai kondisi Indonesia emas 2045, mencapai nanti cita-cita bangsa yaitu masyarakat adil dan makmur berlandaskan Pancasila dengan indikatorindikator kuantitatif yang sudah ditetapkan. Bapak, Ibu yang kami banggakan. Tentu saja pemahaman terkait dengan Pancasila ini akan menguatkan keyakinan kita, menguatkan pengetahuan kita, menguatkan tindakan kita, nilai-nilai Pancasila menjadi landasan etik spiritual di dalam pelaksanaan peran kita sebagai aparatur sipil negara. Bapak, Ibu yang kami banggakan. Dalam kesempatan ini yang tadi sudah kami sampaikan mengingatkan kembali sumpah kita sebagai aparatur sipil negara dan tentu saja sudah pada tempatnya bahwa kita menjadi patriot-patriot di dalam menegakkan dan merakukan nilai-nilai Pancasila di dalam pelaksanaan tugas kita. bagaimana kita memberikan kontribusi bagi terwujudnya penyelenggaraan negara yang bersih dan berwibawa. Bapak, Ibu yang kami banggakan. Bapak, Ibu ke depan adalah pemimpin-pemimpin nasional yang pasti dan pasti diberikan kewenangan untuk melaksanakan baik di level makro, meso maupun di ee level mikro. di level makro. Bagaimana kebijakan-kebijakan, bagaimana regulasi yang menjadi acuan di dalam pelaksanaan pembangunan nasional, yang menjadi acuan di dalam pelaksanaan peran ASN dalam penyelenggaraan pemerintah ini dapat dilaksanakan berlaraskan pada nilai-nilai Pancasila sehingga hasilnya ada roso Pancasila di dalamnya. Dan saja ini Bapak Ibu sekalian menjadi suatu refleksi di dalam perjumpaan siang ini. Karena saat ini kita adalah pejuang-pejuang saat ini. Kita mewarisi Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Kita bisa menjadi ASN karena perjuangan dari pahlawan kita. perjuangan mereka dengan mengorbankan harta benda, jiwa raga mereka untuk kemerdekaan, untuk negara kesatuan Republik Indonesia yang kita nikmati saat ini. tentu saja perjuangan ini menjadi tanggung jawab moral bersama bagi kita untuk senantiasa melaksanakan tugas fungsi peran kita secara optimal berlandkan pada ideologi negara yakni Pancasila. Mengapa demikian? Karena menurut wasiat daripada Bung Hatta, hanya ada satu negara yang menjadi negaraku. Negara itu tumbuh karena satu perbuatan dan itu perbuatanku. Jadi, Bapak, Ibu sekalian, mari kita bersama-sama menguatkan komitmen kita untuk memberikan kontribusi yang terbaik di dalam perbuatan kita masing-masing. Demikian yang dapat kami haturkan di dalam perjumpaan kali ini. Lebih kurang dari awal sampai akhir. Kalau ada hal yang kurang berkenan, mohon dimaafkan. Salam Pancasila. Salam Pancasila. Kami kembalikan ke Ibu moderator. Terima kasih Bapak Sadono Sriharjo, ST, MM yang sudah berkenan menjadi narasumber ketiga pada webinar ASN belajar seri ke-38 kali ini. Nah, Sobat ASN setelah ini kita akan lanjut ke sesi tanya jawab. Jadi, untuk Sobat ASN yang bergabung di Zoom bisa menggunakan rais hand atau bergabung melalui YouTube yang bisa menuliskan pertanyaannya melalui live chat. [Musik] Sudah ada dua penanya yang raise hand tadi dan langsung saja saya persilakan kepada Ibu Sri Hartati dari Biro Umum Setda Provinsi Kalimantan Timur. Silakan Ibu Sri ya. Masih belum ter Ibu Sri selamat siang Ibu Sri sudah rais hand tadi atau mungkin kita mau geser dulu ke Pak Henki. Iya. Oke. Baik. Karena Ibu Sri masih belum terhubung kami langsung bergeser ke penanya kedua yaitu Bapak Henki dari Rumah Sakit Dr. Erkus Matuban. Selamat siang Bapak Henki. Selamat siang, Ibu. Siang. Silakan, Pak. Langsung saja pertanyaannya. Oke, siap. Terima kasih. Ee salam kenal, Pak Sudono. Saya Hi dari RST POSM. Nggih. Baik. Ini ada dua pertanyaan, Pak. Bagaimana, Pak? Kameranya silakan, Bapak. Oh, ngih. Siapsiap. Ee untuk yang pertama, bagaimana strategi konkret yang dapat diterapkan untuk transformasi birokrasi Indonesia agar benar-benar merefleksikan di merefsikan nilai-nilai Pancasila khususnya sila keempat dan sila kelima dalam tata kelola pemerintahan sehari-hari. Itu yang pertama. Terus untuk yang kedua dalam konteks ee yang Bapak jelaskan barusan ee bagaimana peran ASN sebagai ujung tombak pemerintahan nggih dapat diperkuat untuk menjadi agen pemersatu yang efektif dalam mengaktualisasikan semangat Pancasila di tengah fragmentasi sosial yang semakin mencuat, Pak. Nah, itu yang saya tanyakan, Pak. Terima kasih. H. Baik, Bapak Sadono silakan langsung dijawab pertanyaan Bapak Henki. I terima kasih Pak Henki. Mungkin nanti juga rekan-rekan peserta bisa menambahkan sharing-nya karena ini kita merupakan ee sharing session ya di dalam perjumpaan kali ini. Dan memang ee Pak Engki seperti kami sampaikan tujuan utama daripada pembinaan ideologi Pancasila adalah membangun karakter dan bangsa. Jadi di sini strategi konkretnya dalam proses pembangunan karakter tentu saja harus ada pendekatan struktural dan pendekatan kultural. Dan dalam konteks pendekatan struktural sebagai contohnya adalah bagaimana kita memasukkan pendidikan Pancasila sebagai mata ajar kurikulum wajib. Ya, mata ajar wajib di dalam kurikulum dijencang pendidikan dasar menengah sampai dengan perguruan tinggi dengan memberlakukan peraturan pemerintah nomor 4 tahun 2022 tentang standar sistem pendidikan. Jadi ini ee konkretnya kita lakukan di dalam kurikulum tersebut, Pak Engki kurikulumnya adalah 70% praktik dan 30% teori sehingga ada habituasi secara langsung daripada ee anak-anak kita baik di dalam proses pembelajaran di sekolah, di keluarga, di komunitasnya mereka masing-masing, bahkan di media sosialnya. Karena ini kan sekarang empat pusat pendidikan, Pak Ini. Jadi, BPIP bersama-sama kementerian terkait menyusun buku teks utama pendidikan Pancasila. Kemudian untuk perguruan tinggi juga menyusun ee buku teks utama pendidikan Pancasila untuk perguruan tinggi. Dan ini memang merupakan suatu hal yang perlu dibangun, Pak. Karena kita 20 tahun lebih, Pak Ini vakum anak-anak kita tidak diajarkan ideologi Pancasila. Nah, ini menjadi soal yang ee apa upaya yang strategis juga bagaimana kita bersama-sama untuk membangun ee mengokohkan ideologi Pancasila tersebut. termasuk kemarin Pak Ini ada adik-adik dokter ee dokter-dokter lulusan luar negeri. Nah, masuk ke GTA dalam proses adaptasi juga kita sampaikan kembali bagaimana me men nemu kenali ideologi Pancasila karena mereka termasuk generasi yang hilang, lost generation karena tidak mendapatkan ideologi Pancasila di dalam proses pembelajarannya. dan ini menjadi suatu hal tentu saja ini perlu terus diupayakan Pak Henki ya sehingga di dalam konteks ini mungkin nanti kita bersama-sama bergotongroyong mengokohkan infrastruktur di dalam pelaksanaan Diklat PIP pendidikan dan pelatihan pembinaan ideologi Pancasila. Kalau dulu kita mengenal P4, nah sekarang kita akan sampaikan Diklat PIP sebagai pengganti P4. di mana diklat PIP ini sasarannya adalah seluruh warga negara Indonesia mulai dari aparatur negara ASN, TNI, PORI, Ormas, ORPOL, komponen masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, kemudian juga Purnapasbakat dan Purna Pasbakat Duta Pancasila. sehingga ini menjadi suatu gerakan atau kampanye nasional Pak Henggi, Bapak, Ibu sekalian yang perlu mendapatkan dukungan dari Bapak, Ibu semuanya. Sehingga dalam membangun sistem tersebut kita juga membangun SDM-nya, membangun infrastrukturnya. SDM misalnya kita melakukan training of trainer diklat bagi pengajar yang kalau dulu di P4 kita kenal Manggala, sekarang kita kenal sebagai Maheswara untuk yang masih aktif sebagai aparatur negara maupun penceramah di luar aparatur negara. Kemudian dalam konteks ee membangun jejaring kerja nasional, kita lakukan pendelegasian kewenangan untuk menyelenggarakan diklat PIP sehingga nanti seluruh lembaga kementerian maupun pemerintah daerah serta komponen bangsa lainnya dapat menyelenggarakan diklat pembinaan ideologi Pancasila. kita sebagai langkah awal juga melakukan diklat PIP bagi guru-guru, bagi dosen yang nanti akan kita laksanakan Pak Inki. Sehingga ini merupakan suatu investasi di dalam rangka membangun ee karakter dan bangsa untuk masa-masa mendatang. Sehingga dalam konteks ini karena kita juga melihat bahwa ASN utamanya ASN muda generasi Z dan sebagainya mereka juga kurang mendapatkan pemahaman terkait dengan ideologi Pancasila. Sehingga dalam kesempatan ini Pak Henki mungkin ada merupakan waktu yang tepat bagi kita semua untuk menyampaikan suatu konsepsi pemikiran bagaimana pengelolaan aparatur sipil negara tidak hanya mengembangkan kompetensi teknis, kompetensi manajerial, maupun kompetensi sosiokultural, tapi juga apa kompetensi maupun karakter maupun etika Pancasila ini perlu dijadikan suatu hal yang penting untuk persyaratan-persyaratan dalam melaksanakan tugas kita sebagai aparatur sipil negara. Kalau kita boleh mengambilkan contoh Pak HKI dulu kita CPNS kalau tidak lulus P4 maka pasti tidak dapat diangkat sebagai PNS. kita sebagai calon mahasiswa kalau tidak lulus P4 mari tidak mungkin diangkat sebagai ee mahasiswa. Nah, ini mungkin etika Pancasila ini, karakter Pancasila ini juga menjadi suatu hal yang perlu dipertimbangkan sehingga aparatur sipil negara ini utamanya dalam melaksanakan perannya selalu bisa melandaskan pada nilai-nilai Pancasila. Jadi harapan kami semuanya, harapan kita semuanya nanti revisi PP Manajemen ASN yang mengacu kepada Undang-Undang 20 2023 ini juga bagaimana mengatur pengembangan karakter kepimpinan Pancasila di dalam aparatur sipil negara. Kira-kira itu, Pak ee HKI. Mungkin kalau ada peserta lain yang ingin menyampaikan pendapatnya, menyampaikan sumbangan pemikirannya, kami haturkan. Baik, terima kasih Bapak Henki untuk pertanyaannya dan sudah terjawab dengan baik. Tadi sangat-sangat bagus sekali ee jawaban dari Bapak Sadono Sriharjo, ST, MM. Dan sepertinya untuk sesi kali ini Bapak punten sanget karena hanya ada satu penanya dan juga waktu kita terbatas sekali Bapak. Tapi saya ucapkan terima kasih untuk Bapak Sadono Siharjo, ST, MM yang sudah ee memberikan materi yang luar biasa pada sesi ketiga di webinar ASN belajar ke-38 pada hari ini. Dan sobat ASN, terima kasih Bapak Ibu semuanya. Mohon izin untuk undur diri. Salam Pancasila. Salam Pancasila. Baik, Sobat ASN. Tidak terasa kita sudah sampai di penghujung acara. Saya haturkan sekali lagi terima kasih sebanyak-banyaknya untuk seluruh pihak yang telah mendukung webinar ASN Belajar seri 38 tahun 2025 pada hari ini. Tim pengembang laboratorium Pancasila dan dosen pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan Universitas Negeri Malang, Bapak Zulfikar Waliuddin Fattah, M.Pd. Matur nuwun, Pak. Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat FKDM Provinsi Jawa Timur sekaligus dosen filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Erlangga, Bapak Dr. Listiono Santoso, SS, MHum. Terima kasih, Pak Listiono, Direktur Pelaksanaan Diklat Pembinaan Ideologi Pancasila, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia, Bapak Sadono Sriharjo, ST, MM. Terima kasih, Bapak. Dan yang pasti untuk sobat ASN sebelum mengakhiri sesi kami ingatkan kembali untuk cek secara berkala semesta Bangkom guna untuk mengunduh e-sertifikat. ASN belajar seri 38 tahun 2025 ini dipersembahkan oleh Corpu SDGs BPSDM Provinsi Jawa Timur. [Musik] kita5 sukses. Sukses. Sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdempat. Bersama ASN belajar. Ciptakan SDM unggul berprestasi selalu inisiatif dan kolaboratif untuk inovasi yang berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak mulia. Siapok Indonesia emas. ASN belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan tekad pantang menyerah jadi ASN getar berkualitas belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia satukan [Musik] [Tepuk tangan] [Musik]