Transcript
gEkZnm5RlX0 • ASN Belajar Seri 44 | 2025 - Sehat untuk Semua, Berdaya untuk Sesama
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0278_gEkZnm5RlX0.txt
Kind: captions
Language: id
[musik]
Zaman yang terus bergerak,
sambut dengan penuh semangat.
Saatnya [musik]
kita melangkah.
Hadapi segala [musik] tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak.
Bersama ASN belajar. [musik] Ciptakan
SDM unggul berprestasi.
[musik] Selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk [musik] inovasi yang
berkelanjutan.
Menjadi ASN berakhlak mulia.
Siap nyongsong Indonesia emas.
ASN [musik]
belajar wujudkan pemerintahan
berkelas dunia.
Lakukan tekad pantang [musik] menyerah
jadi ASN getar berkualitas.
[musik]
yang belajar wujudkan
pemerintahan
kelas [musik]
dunia
tukang tekad pantang menyerah
jadi AS berkuan kita [musik]
belajar
[musik]
Kami mencoba [musik]
menjadi yang terbaik. Melayani bangsa
dengan sepenuh [musik]
hati. Murahlah kami junjung teguhkan
diri
dan jadikan pedolan serta kekuatan.
Hadir [musik] di sini untuk mengabdi
rencanakan tugas kebanggaan negeri
situs melayani bangsa [musik]
dengan akuntabilitas tinggi.
Hong
kami dari sini [musik] suka dengan hati
tunjukkan kompetensi [musik] dalam
harmoni.
Layani bangsa loyal tanpa batasannya
[musik] dan berkolaborasi
gandeng tangan satu tujuan [musik]
menjadikan ASN lebih berakhlak
bekerja sepenuh hati [musik]
tulus membantu sesama dengan bangga kami
melayani
[musik]
bangsa
[musik]
Kami dari sini tegas dengan hati
tujukan kompetensi dalam harmoni.
[musik]
loyal tanpa batasannya
adaptif [musik]
dan berkolaborasi
bergandeng tangan satu tujuan [musik]
untuk menjadikan ASN lebih beragama
mengerdas penuh hati tulus membantu
sesama dengan [musik] kami melayani
dengan kami [musik] melayani
dengan mengang kami melayani lagi
[musik]
Hasen [musik]
bua semangat membara
di era digital terus [musik] berkarya
berkolaborasi
inisiatif tinggi
inovasi cempal [musik] Jawa Timur terus
melaju bersama BPSNI
Kita [musik]
terus melesat untuk Indonesia emas.
Prestasi hebat [musik] ASN unggul.
Tiada yang tertinggal [musik]
no one left behind. Kita terus melangkah
berkolaborasi. [musik]
Inisiatif tinggi
inovasi cemerlang. Jawa Timur terus
[musik] melat
kita terus [musik]
melesat untuk Indonesia emas prestasi
her aset [musik] unggur tiada yang
tertinggal
no one left behind kita terus [musik]
melangkah
berkolaborasi
inisiatif [musik]
tinggi.
Inovasi cemalah Jawa Timur [musik]
terus melaju. Bersama BPSDM
Jatim kita terus [musik] melesat untuk
Indonesia emas prestasi hebat bersama
kampus satelit PP [musik] PSBM Jatim no
one left behind. ASN umbul [musik] dan
berkualitas
Melesa tinggi
Indonesia jaya Yeah.
[musik]
Bam membangun asa
menuju cipta yang mulia.
[musik]
Kami hadir, kami berkarya untuk [musik]
Jawa Timur yang berjaya.
Langkah pasti [musik] menitipiti zaman
dengan semangat pembaharuan. [musik]
Ilmu dedikasi dan harapan [musik]
menjadi bekal masa depan.
PPS Temen Jating, Pusat unggulan.
Tempat lahirnya insan berkualitas.
[musik]
Mencetak STM berkompetensi
tangguh cerdasin
inovasi bersatu dalam visi yang terang
menjawab [musik] tantangan jalan genial.
PPSDM [musik]
Jawa Timur Center of Exens masa depan
gemilang
[musik]
[musik] bersama membangun asa
menuju cita yang mulia
Kami [musik]
hadir, kami berkarya untuk Jawa Timur
yang berjaya.
Langkah pasti [musik] meniti zaman
dengan semangat pembaruan
ilmu dedikasi [musik]
dan harapan
menjadi bekal masa depan.
BPSM [musik]
Jatim pusat unggulan
tempat lahirnya insan berkualitas
[musik]
mencatat Sm berkompetensi
tangguh [musik] cerdas penuh inovasi
bersatu dalam visi yang terang [musik]
menjawab tantangan jangan gemilang
[musik] PPSDN Jawa Timur senterans
masa depan
[musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat pagi sobat ASN di
seluruh Indonesia. Senang sekali saya
Lukman Ali dapat menyapa Sobat ASN dalam
acara webinar ASN belajar seri 44
persembahan spesial Corpu SDGIS BPSDE
Provinsi Jawa Timur. Saya juga ingin
menyapa untuk sobat SN yang tengah
menyaksikan acara ini melalui live
YouTube BPSDM Jatim TV. Terima kasih
karena sudah membersamai kami di tiap
minggunya. Sobat ASN, Hari Kesehatan
Nasional ke-61 yang diperingati pada
tanggal 12 November 2025 lalu menjadi
momen penting untuk mengingatkan kembali
arti strategis kesehatan sebagai pondasi
pembangunan nasional. Dalam konteks
pembangunan sumber daya manusia,
kesehatan menjadi modal dasar yang
menentukan produktivitas, kreativitas,
serta daya saing bangsa. Yuk,
bersama-sama perkuat komitmen menuju
masyarakat yang sehat, tangguh, dan
berdaya. Selengkapnya akan kita bahas di
webinar ASN Belajar seri 44. Sehat untuk
semua, berdaya untuk sesama,
transformasi kesehatan untuk Indonesia
Emas 2045.
[musik]
Dan untuk membuka webinar ASN Belajar
seri 44 kali ini, mari kita dengarkan
terlebih dahulu opening speech yang akan
disampaikan oleh Dr. Ramlianto, SPMP
selaku Kepala Badan Pengembangan Sumber
Daya Manusia Provinsi Jawa Timur.
[musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Salam sehat dan salam
sejahtera untuk kita sekalian. Sobat
Taisen di seluruh tanah air. Selamat
bertemu kembali dalam webinar series ASN
Belajar, sebuah wahana pengembangan
kompetensi ASN persembahan Jatim Corpor
University Badan Pengembangan Sumber
Daya Manusia Provinsi Jawa Timur.
Hari ini Kamis tanggal 13 November 2025,
ASN belajar telah memasuki seri yang
ke-44.
Kami menyampaikan terima kasih dan
apresiasi atas antusiasme Sobat ASN di
seluruh negeri untuk terus mengikuti
secara aktif program ASN belajar ini.
Sebagai bentuk terima kasih kami. Kami
terus berkomitmen sekaligus wis ikhtiar
untuk menyajikan topik-topik
pengembangan kompetensi yang menarik,
kekinian, dan tentu berdampak secara
nyata terhadap peningkatan kompetensi
dan kinerja aparatur sipil negara di
Indonesia.
Sobat ASN, hari ini ASN Belajar seri
ke-44 tahun 2025 ini menyajikan salah
satu topik dalam rangka memberikan
kontribusi pemikiran pada Hari Kesehatan
Nasional yang kita peringati pada
tanggal 12 November
2025 kemarin. sebuah momentum yang akan
mengingatkan kita semua pada kesehatan
yang menyatakan bahwa kesehatan bukan
sekedar urusan medis, melainkan cerminan
dari peradaban dan kemanusiaan sebuah
bangsa.
Di dalamnya tersimpan makna yang lebih
dalam dari sekedar angka harapan hidup,
yaitu harapan akan kehidupan yang lebih
bermartabat, berdaya, dan berkeadilan.
Karena tema ini sangat tepat untuk kita
elaborasi secara luas dan mendalam, maka
ASN belajar seri ke-44 tahun 2025 ini
mengangkat topik sehat untuk semua,
berdaya untuk sesama, transformasi
kesehatan untuk Indonesia Emas 2045.
Nah, sudah menjadi tradisi akademik
dalam SN belajar bahwa topik menarik ini
akan kita bahas secara intensif dari
beragam perspektif bersama para
narasumber yang sangat kompeten di
bidangnya.
Sobat ASN di seluruh tanah air, kita
menyadari sepenuhnya bahwa kesehatan
bukan hanya tentang menyembuhkan yang
sakit, tetapi tentang membangun
ekosistem kehidupan yang menyehatkan,
memberdayakan, dan memanusiakan.
Kesehatan adalah pondasi peradaban. Ia
bukan hanya hasil dari kebijakan publik,
tapi cerminan dari keberpihakan pada
kemanusiaan.
Kualitas kesehatan suatu bangsa
sesungguhnya adalah cermin dari
kedewasaan moral, politik, dan
sosialnya.
Dari cara bangsa menjaga udara yang
dihirup warganya, menyediakan air yang
diminum anak-anaknya, hingga memastikan
pelayanan yang adil bagi mereka yang
paling rentan, semuanya adalah ukuran
sejauh mana negara menempatkan kehidupan
manusia sebagai nilai tertinggi.
Sektor kesehatan tidak berdiri sendiri
ya bersinggungan dengan pendidikan,
ekonomi, lingkungan, infrastruktur,
bahkan kebijakan sosial dan budaya.
Karena ketika kesehatan melemah maka
produktivitas menurun, ketimpangan
melebar dan cita-cita pembangunan
kehilangan bijakan.
Sebaliknya, ketika kesehatan menguat,
maka seluruh sistem kehidupan bangsa
ikut berdenyut. Kesehatan yang terjamin
bukan hanya melahirkan masyarakat yang
kuat, tetapi juga menumbuhkan rasa
percaya diri, memperkuat daya saing, dan
meneguhkan kohesi sosial.
Kesehatan adalah simpul yang mengikat
seluruh sendi pembangunan nasional. Ia
bukan sekedar urusan rumah sakit dan
tenaga medis, melainkan tanggung jawab
bersama. dari petani yang menjaga pangan
bergizi, ASN yang menata kebijakan
publik, hingga masyarakat yang
menumbuhkan perilaku hidup sehat.
Sobat ASN di seluruh tanah air,
kesehatan adalah ruang kolaborasi antar
jiwa dan antar instansi.
Ia menuntut kehadiran pemerintah yang
tanggap, masyarakat yang sadar, serta
budaya pelayanan yang berakar pada
empati dan kemanusiaan.
Karena itu ketika kita berbicara tentang
transformasi kesehatan untuk Indonesia
Emas 2045, sesungguhnya kita sedang
berbicara tentang mimpi besar bangsa
menciptakan manusia Indonesia yang sehat
secara raga, cerdas secara pikir, dan
tangguh secara jiwa. Sebab hanya bangsa
yang sehat yang mampu berpikir jernih,
berinovasi, dan menjaga keberlanjutan
peradabannya.
Melalui forum ini kita diajak
merenungkan kembali peran STN sebagai
pelayan masyarakat bahwa tugas kita
bukan hanya mengelola kebijakan tapi
juga menumbuhkan empati, membangun
kesadaran, dan memperkuat kolaborasi
demi terwujudnya bangsa yang sehat,
lahir dan batin. Karena pada akhirnya
pelayanan yang menyehatkan adalah
pelayanan yang memanusiakan. Dan di
sanalah letak kemuliaan pengabdian itu
tumbuh. ketika setiap langkah birokrasi
menjadi ikhtiar kemanusiaan dan ketika
setiap kebijakan menjadi janji untuk
menyehatkan negeri. Nah, Sobat ASN di
seluruh tanah air, untuk membahas lebih
lanjut topik menarik ini, kami telah
mengundang para narasumber luar biasa
yang sudah barang tentu sangat kompeten
di bidangnya.
Kami menyampaikan terima kasih dan
apresiasi kepada para narasumber hebat
yang telah berkenan hadir dan akan
berbagi berbagai informasi strategis
kepada Sobat ASN di seluruh tanah air.
Pertama kami menyampaikan terima kasih
dan apresiasi kepada Bapak Dr. Bambang
Widianto, Staf Khusus Menteri Kesehatan
Bidang Tata Kelola Pemerintahan dan
Reformasi Birokrasi. Kedua, kami
menyampaikan terima kasih dan apresiasi
kepada Ibu Prof. Dr. Cita Rosita Sigit
Prakuswa.
Beliau adalah direktur Rumah Sakit Umum
Daerah Dr. Sutomo Surabaya. Dan ketiga,
kami menyampaikan terima kasih dan
apresiasi kepada Ibu Prof. Dr. Ratna Dwi
Wulandari, SKM, MKes. Beliau adalah
Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Erlangga Surabaya. Nah,
Sobat ASN di seluruh tanah air, mari
kita simak dengan seksama webinar ASN
belajar seri ke-44 tahun 2025. Semoga
bermanfaat. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
[musik]
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Kami ucapkan terima kasih
kepada Bapak Dr. Ramlianto, SPMP selaku
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya
Manusia Provinsi Jawa Timur atas opening
speech yang telah disampaikan. Sebelum
kita masuk ke keyote speaker kita yang
pertama, Bapak, Ibu, Sobat TSN sekalian,
mohon izin kami informasikan jangan lupa
untuk mengisi link presensi via
semestabangkom.id.
Dan dikarenakan saat ini traffic
presensi sedang tinggi, maka Bapak, Ibu,
Sobat ASN dapat cek secara berkala.
Nantinya link presensi ini akan
digunakan juga untuk mendapatkan
e-sertificate dari BPSDM Provinsi Jawa
Timur. Baik, kita langsung saja masuk ke
keyote speaker kita yang pertama. Kali
ini kita akan mendengarkan materi yang
sangat menarik dari Dr. Bambang Widianto
selaku staf khusus Menteri Kesehatan
Bidang Tata Kelola Pemerintahan dan
Reformasi Birokrasi.
[musik]
Ya, telah bergabung bersama dengan kami
semua di sini, Dr. Bambang Widianto.
Saya ingin ucapkan selamat datang
terlebih dahulu. Selamat datang dan
selamat pagi Pak Bambang.
Selamat pagi, Bapak.
Kabar baik, Pak Bambang.
Alhamdulillah.
Terima kasih sudah berkenan untuk datang
di webinar ASM Belajar seri 44 kali ini.
Kali ini kita akan mendengarkan materi
terkait dengan transformasi sektor
kesehatan sebagai bagian dari
pembangunan berkelanjutan menuju
Indonesia Emas 2045. Saya persilakan Dr.
Bambang Widianto untuk menyampaikan
materinya kurang lebih selama 30 menit.
Nanti kita akan masuk ke sesi tanya
jawab. Silakan, Pak Bambang.
Oke, terima kasih Pak Moderator, Bapak
Ibu sekalian. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Ee salam sejahtera bagi kita semua. Om
swastiastu. Namo buddhaya. Salam
kebajikan. Bapak Ibu sekalian terima
kasih atas undangannya. Ini merupakan
kehormatan bagi saya untuk dapat hadir
di sini. Jadi sesuai dengan ee topik
yang dimintakan kepada kami yaitu
transformasi sektor kesehatan sebagai
bagian dari pembangunan berkelanjutan
menuju Indonesia Emas 2045.
Bapak, Ibu sekalian, ini saya paparan
saya agak panjang, tapi saya ini berikan
aja bahannya kepada Bapak Ibu sekalian
sebagai latar belakang, tapi saya enggak
akan memaparkan semua. Saya hanya ingin
menyampaikan beberapa hal yang penting
sehingga Bapak Ibu dapat ee nanti
membaca sendiri dan melihat sebetulnya
apa sih esensinya kita melakukan
transformasi kesehatan nasional. Bapak,
Ibu sekalian,
next slide-nya Bapak, Ibu sekalian.
Next slide.
Nah, jadi Bapak Ibu sekalian,
tujuan daripada kita melakukan
transformasi kesehatan nasional itu
sebetulnya adalah kita ingin memperbaiki
indikator kesehatan nasional kita. Ya,
jadi itu tujuan utamanya
ya. Kalau kita lihat Bapak Ibu sekalian
dari slide yang saya sampaikan ini, ini
contohnya adalah angka kematian ibu
ya kan.
Angka kematian ibu melahirkan per
100.000 kelahiran hidup ya Indonesia itu
angkanya ya ini ini mungkin angkanya
sudah berubah sekarang tapi ini pada
tahun 2000 ee 22 itu adalah sekitar 189
pada tahun 2020. Saya mengambil tahun
2020 karena saya enggak punya
perbandingan untuk negara lainnya nih
yang agak sulit tuh mencari perbandingan
negara lainnya. Nah, itu kita tuh tinggi
sekali gitu. Dibandingkan dengan
Malaysia, dibandingkan dengan Vietnam,
dibandingkan dengan Filipina,
dibandingkan dengan Timor Leste aja kita
masih jauh lebih tinggi angka kematian
ibu melahirkannya.
Ya. Kemudian ada juga angka ee kematian
bayi juga kita tinggi itu Bapak Ibu
sekalian. kita bisa lihat kita kalah
kita cuman menang dari Myanmar saja ya.
Nah, ini kan sangat ironis gitu ya. Kita
negara besar, negara yang kita dalam
negara yang membangun cukup cepat, tapi
mengapa angka-angka ee ini masih kita
ketinggalan jauh dibandingkan negara
tetangga kita gitu. Slide berikutnya
ini jug nah ini Bapak Ibu sekalian ini
adalah penyebab kematian tertinggi di
Indonesia ya. Yang pertama itu sebabnya
adalah ee penyakit jantung, serangan
jantung. Yang kedua adalah stroke, yang
ketiga adalah kanker. Jadi, Bapak Ibu
bisa bayangkan
ya bahwa hampir
1 kom 1,3 juta orang itu meninggal
karena tiga penyakit ini setiap tahunnya
ya. Kenapa penyakit jantung? Karena kita
enggak punya fasilitas yang memadai di
seluruh Indonesia. Kenapa banyak yang
stroke meninggal? Karena kita juga
enggak mempunyai fasilitas yang memadai
untuk menangani jantung, untuk menangani
stroke di seluruh wilayah Indonesia. Di
kota-kota besar kita ada, tapi itu pun
baru sedikit ya. Jadi kalau orang kena
serangan jantung di daerah terpencil
atau di daerah Indonesia Timur misalnya
gitu ya, itu akan ee kekurangan waktu
untuk menanganinya sehingga meninggal.
Jadi ini menjadi penyebab kematian
tertinggi di Indonesia.
Slide berikutnya
ini, Bapak, Ibu sekalian
ya. Ini adalah cakupan yang sebelah
kanan itu adalah cakupan peserta BPJS
ya. Kalau kita tuh cakupan kita itu
sudah 96% Bapak Ibu sekalian.
Ya, jadi orang yang di-cover oleh BPJS
itu adalah dari seluruh penduduk kita
sudah 96%.
Nah, tapi cakupan peserta ini tidak
dibarengi dengan apa yang disebut dengan
service coverage ya. Yang di sebelah
kiri itu adalah service coverage kita
dan Indonesia itu baru 54%
ya. Jadi masih tertinggal dibanding
dengan negara lain ya. Jadi walaupun
cakupan BPJS kita 96%
tapi fakta di lapangan itu yang bisa
dilayani itu untuk Indonesia itu hanya
54%.
Jadi hanya setengahnya ya. Jadi walaupun
cakupan kita sudah 95% tapi layanan
kesehatan di bawah itu baru 9 baru 55
sekitar 55%. yaitu yang namanya service
coverage. Jadi target kita itu bukan
hanya sekedar cakupan peserta, tapi juga
yang disebut dengan ya universal service
coverage index, ya. Itu juga target
untuk kita benahi. Slide berikutnya,
Bapak, Ibu sekalian. Nah, ini tadi ini
sebenarnya penjelasan dari yang tadi apa
sih definisi dari service coverage itu?
P Bapak Ibu bisa lihat sendiri ya, bisa
baca sendiri ya slide berikutnya.
Nah, ini Bapak Ibu sekalian ini adalah
jumlah kasus dan biaya katastrofik dalam
program JKN Indonesia ya. Jadi walaupun
service coverage kita juga masih rendah,
tapi penyakit jantung, kanker, stroke
itu menelan biaya yang sangat tinggi.
Ya, ini untuk penyakit delan penyakit
ini aja sudah mencakap 35 triliun. Jadi
hal-hal ini yang apa namanya perlu kita
lihat juga bagaimana cara kita untuk
membiayai ini. Ya, ini yang penting
juga. Slide berikut.
Ini Bapak, Ibu sekalian. Ini
penyakit-penyakit penular yang masih
tinggi seperti TBC ya. Ini penyakit
lama. Tapi kenapa saya paparkan di sini?
Karena Indonesia merupakan penyumbang ee
penyakit TBC nomor dua di dunia setelah
India.
Ya. Jadi sekali lagi Bapak Ibu sekalian,
ketertinggalan-ketertinggalan ini yang
perlu kita perbaiki, perlu kita lakukan
transformasi untuk mengejar ini semua
ya. Dan kalau Bapak lihat itu yang
grafik warna hijau itu adalah notifikasi
ya, orang yang bisa dideteksi dia TBC
itu dari target tadinya kita masih
sangat rendah 46%
ya pada tahun 2023 ini kita agak lumayan
Bapak Ibu sekalian itu sudah mencakup
sampai ee 76% sekarang ya jadi itu jauh
membaik ya dibandingkan sebelumnya ya
dan ya ini yang kita ingin ingin kita
tingkatkan terus karena yang tidak
tertangkap melalui deteksi awal ini,
deteksi dini ini pasti berkeliaran dan
itu akan menularkan kepada yang lain.
Jadi ini sangat penting Bapak Ibu
sekalian terutama ee Bapak Ibu di
pemerintah daerah pasti ini juga menjadi
konsern bersama untuk kita bisa
menangani ini. Slide berikutnya.
Nah, dari hal-hal yang tadi saya
sampaikan, sebagian indikator kesehatan
nasional tadi yang saya sampaikan ya,
Kementerian Kesehatan itu merumuskan
yang kita sebut dengan enam pilar
transformasi kesehatan.
Ya, mungkin Bapak Ibu sudah pernah
mendengar ini enam pilar ya. Jadi ini
adalah hal-hal yang perlu kita lakukan,
yang perlu kita transformasi
agar ketertinggalan kita yang tadi saya
sampaikan itu bisa kita kejar
ya. Masa kita kalah sama negara tetangga
kita, kita kalah sama Malaysia, kita
kalah sama Filipina,
bahkan kita kalah sama Timor Leste. Itu
agak kayaknya agak kurang pas. Kita
sebagai negara yang sudah 85 tahun
merdeka harusnya kita mulai mengejar
ketertinggalan itu. Nah, untuk mengejar
ketertinggalan itu diperlukan
transformasi
yang sangat luas ya. Dan ini
transformasi pilar kesehatan ini adalah
transformasi terbesar yang pernah
dialami Indonesia dalam bidang sektor
kesehatan. ya. Kita biasanya mendengar
ada transformasi di sektor keuangan,
transformasi di sektor perbankan, ya,
transformasi di sektor perdagangan. Nah,
ini kita sekarang melakukan transformasi
sektor kesehatan melalui en pilar, ya.
Ya. Jadi apa tuh Bapak Ibu sekalian enam
pilar tadi ya? Bapak Ibu sebagai penjaga
gawang, sebagai ASN di ee provinsi
itu harus dapat mendorong ya
transformasi layanan enam tapila
transformasi ini ya. Karena kebanyakan
fasilitas kesehatan adalah di bawah
wewenang Bapak Ibu sekalian. Sebagai
contoh yang pertama adalah transformasi
layanan primer ini Bapak Ibu sekalian
ya.
Ya, ini tentang yang primer ini ee
adalah
kalau dulu kita menekankan pada kuratif,
sekarang kita harusnya menekankan kepada
apa yang disebut dengan ee promotif dan
preventif. Nah, ujung tombaknya adalah
layanan primer, adalah fasilitas
kesehatan primer, ya. Fasilitas
kesehatan tingkat pertama itu Puskesmas.
dan berbagai macam ee fasilitas
kesehatan yang milik bukan milik
pemerintah atau milik swasta, milik
masyarakat yang menjadi ee layanan
primer. Nah, ini ujung tombak ini harus
kita perbaiki Bapak Ibu sekalian ya. Ini
jadi ini kami mohon dukungan nih kepada
Bapak Ibu yang di daerah ya. Kami di
tingkat pusat memberikan banyak bantuan
ya untuk memajukan berbagai macam
fasilitas di daerah ini Bapak Ibu
sekalian. Nah, bisa balik ke slide
sebelumnya enggak, Pak?
Sebelumnya, Pak. Ya, ini, Pak. Jadi,
yang pertama tuh transformasi layanan
primer. Yang kedua adalah transformasi
layanan rujukan,
ya. Yang ketiga adalah transformasi
sistem ketahanan kesehatan. Ya, Bapak
Ibu tahu waktu kita COVID, kita sangat
apa namanya? tergopoh-gopoh karena
banyak sekali bahan baku kita masih
impor, vaksin kita enggak dapat segala
macam. Jadi ini harus kita perbaiki.
Kemudian tadi saya menyampaikan mengenai
pembiayaan yang besar tadi, makanya ada
transformasi keempat yaitu transformasi
sistem pembiayaan kesehatan.
Nah, ini Bapak Ibu sekalian ini
karena kita ingin memberikan layanan
kesehatan kepada masyarakat yang
terbaik. Pertama dari fasilitasnya tadi
yang pertama tuh layanan primer, layanan
rujukan, kemudian obat-obatan dan alat
kesehatan. Tapi kita juga harus
memikirkan bagaimana cara membiayainya
yaitu transformasi sistem pembiayaan
kesehatan. Nah, kemudian yang kelima ini
yang paling penting adalah transformasi
SDM kesehatan karena semuanya tadi tidak
akan berjalan tanpa didukung oleh SDM
yang ee yang berkompeten dalam bidang
kesehatan. Nah, ini ya Bapak, Ibu
sekalian transformasi kesehatan yang
sangat yang sedang kita jalankan.
Kemudian yang terakhir itu adalah
transformasi teknologi kesehatan.
Bapak, Ibu sekalian pasti sering
mendengar transformasi teknologi
kesehatan, tapi kita selalu asosiasinya
kepada teknologi informasi. Ya, itu
penting itu juga kita jalankan terus
traas itu. Tapi yang penting adalah
teknologi dalam bidang bioteknologi
ya. Bapak Ibu pasti sudah mendengar apa
yang namanya precision medicine. Jadi
kalau dulu kita diperiksa oleh dokter ya
pada tahap awal kita diperiksa mungkin
dokternya hanya interview kita melihat
fisik kita, kemudian ada pemeriksaan
darah, kemudian lama-lama ada MRI.
Kemudian lama-lama barangkali ada USG,
ada MRI, ada City scan, ada segala
macam. Nah, itu sekarang ada yang
disebut dengan precision medicine ya.
Itu dengan melihat struktur DNA kita.
Jadi pengobatan itu walaupun sakitnya
sama, mungkin kita
misalnya saja kita mempunyai kolesterol
yang tinggi, tapi treatmentnya bisa
berbeda antara satu individu dengan
individu yang lain dan itu tergantung
dari ee DNA kita, dari pembentuk apa
namanya ee struktur badan kita, sel
kita. Nah, kalau itu diperiksa kita bisa
tahu dan kita bisa tahu juga ke depan
itu kita akan mengalami sakit apa
sehingga kita bisa menanganinya dengan
lebih baik gitu ya. Penanganan lebih
baik, obat yang lebih cocok, tindakan
yang lebih cocok ya. Contoh untuk pasien
kanser misalnya itu walaupun sama-sama
ee ee kanser payudara misalnya, tapi
mungkin untuk setiap individu
penguatannya bisa lain. Itu yang disebut
dengan precision medicine. Nah, Bapak,
Ibu sekalian, kita sebagai ASN ya, kami
di Kementan Kesehatan sebagai ASN yang
menjalankan
menyang pilar ini
itu harus
mempunyai kompetensi
yang baik agar kita mampu menjalankan
ini. Makanya kita, Bapak, Ibu sekalian
di dalam Kementerian Kesehatan sendiri
kita menambahkan satu pilar lagi yaitu
pilar ketujuh ini untuk internal. kita
bisa enggak organisasi kita atau SDM
kita di Kementerian Kesehatan mendukung
enam pilar transformasi tersebut?
Ini kritikal banget nih, Bapak, Ibu
sekalian. Makanya itu penting
ya, makanya kita penting melakukan
transformasi internal. Jadi, Bapak Ibu
sekalian barangkali ini bisa dipakai
contoh oleh Bapak Ibu sekalian. apa sih
yang disebut dengan transformasi
internal untuk SDM segala macam itu. Ee
Bapak, Ibu sekalian mungkin kita bisa
berdiskusi panjang lebar
untuk bagaimana merubah budaya kerja ya,
bagaimana kita merubah cara kerja kita
agar kita dapat menjalankan enam pilar
transformasi kesehatan tadi. Karena ini
masif sekali.
Beli alat kita gampang, Pak. kita uang
sekarang nih tersedia untuk memberikan
misalnya ee city scan untuk seluruh
rumah sakit di kabupaten di 514
kabupaten ya kita alat-alat canggih itu
kita bagikan ke rumah sakit RSUD ke
provinsi segala macam tapi tanpa SDM
yang baik itu tidak akan terjadi, tidak
akan terwujud. Nah, ini yang kita selalu
kejar-kejaran nih Bapak, Ibu sekalian.
Makanya di Kemenk sendiri kita melakukan
transformasi internal agar sumber daya
kita itu benar-benar bisa menjalankan ee
enam pilar transformasi tadi. Slide
berikutnya.
Nah, Bapak Ibu sekalian ini ee ini
contoh aja Bapak Ibu se Bapak Ibu bisa
baca sendiri ya. Jadi, bagaimana kita
me-restructure lagi ya dari
apa rumah sakit, dari layanan primer ya
di layanan primer itu di bawahnya ada
puskesmas pembantu, ada posyandu ya,
bahkan sampai kita bagaimana kita bisa
menjalankan home visit. Saya rasa
Provinsi Jawa Timur sudah baik melakukan
ini ya. Jadi kalau bisa kita dorong lagi
agar kita bisa melakukan sampai home
visit untuk ee rumah tangga-rumah tangga
ee di setiap wilayah kita ya. Karena
sekali lagi pencegahan, promosi dan
pencegahan itu jauh lebih penting
daripada kuratif
ya. Nah, ternyata Bapak Ibu sekalian di
Puskesmas itu sebetulnya juga memiliki
laboratorium
ya. Kalau kita ke laboratorium swasta
kan mahal Bapak Ibu sekalian ya. Jadi
kita sekarang memperbaiki
restructure lagi berbagai macam
laboratorium yang berada di wilayah
masing-masing.
Nah, FKTP ini, fasilitas kesehatan
tingkat primer maupun laboratorium
PapKesmas ini ya itu semuanya
wewenangnya ada di pemerintah daerah.
Nah, jadi bagaimana kita bekerja sama
ya, kita sediakan ee standarnya, kita
bahkan sediakan alatnya, tapi kita perlu
bekerja sama untuk bagaimana mendidik
SDM, bagaimana menjalankan ini. Karena
ini semua ada di bawah wewenang ee
pemerintah daerah ya, Bapak, Ibu
sekalian.
Slide berikutnya. Jadi, ini kalau kita
lihat ya, Bapak, Ibu sekalian tadi itu
contohnya kan banyak tuh apa Puskesmas
ada 10.000, Ibu ada segala macam ya. Itu
juga apa namanya ee sebetulnya banyak
gitu. Kalau kita ke laboratorium swasta
itu mahal, mendingan kita di Lapkesmas
aja itu jauh lebih murah dan kualitasnya
sama gitu kan ya. Nah, di tingkat
preventif, di tingkat pencegahan kita
juga
memperkenalkan ya menambah tiga jenis
vaksin baru ya.
untuk dalam rangka program imunisasi
yang rutin. Bapak, Ibu sekalian ya. Ini
saya cepat-cepat aja Bapak Ibu bisa baca
sendiri ya. Slide berikutnya adalah
Nah, ini Bapak Ibu sekalian.
Jadi
sebelumnya Bapak, Ibu sekalian ya,
Puskesmas yang mempunyai USG itu hanya
20% Bapak Ibu sekalian.
Jadi
Bapak Ibu sekalian, kalau Bapak Ibu
mempunyai apa kita ibu kita atau anak
perempuan kita hamil biasanya dilakukan
USG.
Tapi ternyata enggak seluruh orang
Indonesia itu
waktu hamil dilakukan WG
ya. Jadi kita enggak bisa tahu nih ya,
mana bayi yang sungsang,
mana bayi yang ada kelainan ya. Dan
Puskesmas yang memiliki USG itu hanya
20%
ya. Jadi sisanya itu ya orang enggak di
OSG. Kalau sungsang langsung di bawah
rumah sakit ya enggak tahu ya meninggal.
Makanya angka kematian ibu melahirkan
kita itu tinggi. Nah, makanya Bapak, Ibu
sekalian kita di Kementerian Kesehatan
itu menyediakan USG untuk 10.000
Puskesmas
ya. Jadi, USG ya kan itu ee bisa kembali
ke slide sebelumnya Bapak, Ibu
ya. Itu ya ini USG kita penuhi Bapak Ibu
sekalian ya. Jadi pemeriksaan sebelum
hamil itu bisa dilakukan dan bisa
dilihat ya. Ini kita belikan alatnya
Bapak Ibu sekalian. Nah, ini kita butuh
kerja sama karena di sana harus dilatih
orangnya yang bisa melakukan USG ini.
Dan insyaallah angka kematian ibu
melahirkan kita atau kematian bayi juga
bisa menurun karena kita punya USG.
Slide berikutnya. Dan kemudian Bapak Ibu
mengetahui juga bahwa angka stunting
kita tinggi ya. Dan ee strategi kita
menangani stunting adalah bukan kita
mencari orang yang stunting terus kita
obati. Karena biasanya kalau anak sudah
stunting Bapak Ibu sekalian itu sangat
sulit dipulihkan ya. Tapi kita bisa
mencegah dengan melihat berat badannya,
dengan melihat pertumbuhannya, tinggi
badannya ya Bapak Ibu sekalian. Nah, itu
dibutuhkan alat yang namanya
antropometri.
Nah, ini kita bagikan juga nih ke
seluruh puskesmas kita bagikan
antropometri. Bahkan kalau antropometri
ini sampai ke ee sampai ke posandu
ya. Jadi ini sekarang kita sudah punya
ini. Jadi diharapkan sebelum orang itu
stunting pada waktu berat badannya
kurang, waktu tingginya enggak tumbuh
sesuai dengan standar ya pada waktu dia
mengalami kekurangan gizi itu sudah kita
tangani. Termasuk ibu yang hamilnya.
Karena stunting ini kebanyakan sebagian
besar juga datang dari bayi yang lahir
dari ibu yang kekurangan gizi.
Nah, makanya tadi pemeriksaan ante Natal
itu itu harus bisa dijalankan dengan
baik ya. pemeriksaan pada waktu ibu
hamil dengan USG dengan segala macam tes
laboratorium itu harusnya dapat
mengurangi angka kematian ibu melahirkan
dan nanti di tengah jalan juga dapat
mengurangi angka ee bayi yang meninggal.
Slide berikut Bapak Ibu sekalian.
Nah, ini apa namanya? Ee inilah kesmas
yang tadi saya sampaikan. Ini kita
perbaiki terus nanti Bapak Ibu bisa baca
sendiri. Jadi ee ini kita restructuring,
kita ee bikin levelnya, kita bikin
standarnya untuk masing-masing level.
Dari level yang di kabupaten, provinsi
sampai di level pusat untuk rujukan ini
semua kita perbaiki. Slide berikutnya
Bapak, Ibu sekalian.
Nah, ini
lab ini kita berikan peralatannya Bapak,
Ibu sekalian ya. pemerintah memberikan
peralatannya untuk Lap Kesmas tadi.
Jadi, Puskesmasnya sendiri kita berikan
alat-alat yang ee apa namanya? Dapat
mendeteksi berbagai macam penyakit. Tapi
di Lapkesmas ini juga kita sediakan
peralatan supaya ee apa namanya? Deteksi
yang lebih canggih itu dapat dilakukan
ya. Slide slide berikutnya Bapak Ibu
sekalian. Nah, ini itu tadi yang pertama
transformasi layanan primer. Yang
berikutnya adalah transformasi rujukan.
Bapak, Ibu sekalian ya, slide
berikutnya. Nah, ini ya. Jadi kita ingin
rumah sakit madia, rumah sakit utama,
rumah sakit paripurna itu bisa melakukan
beberapa hal seperti ini yang tadi saya
bilang tadi stroke paling tinggi apa
penyakit jantung paling tinggi ter ee
stroke, jantung, terus kanser, kemudian
yang terkait dengan ee penyakit ginjal
ya dan tadi untuk yang terkait dengan
ibu dan bayi ya. Jadi kalau Bapak Ibu
sekalian kita ingin memperbaiki ini di
seluruh tingkatan rumah sakit, kita
belikan alatnya, kita latih orangnya,
Bapak, Ibu sekalian, apa sih tujuannya?
Dalam rangka tadi itu, Bapak, Ibu
sekalian memperbaiki indikator kesehatan
nasional kita
ya. Indikator kesehatan nasional kita
yang mana tadi kita ketinggalan jauh
dibandingkan dengan negara-negara
tetangga kita. Ya, jadi ini memang
transformasi besar-besaran. perlu
dukungan dari berbagai macam pihak. Dan
sebagaimana transformasi kalau Bapak
lihat ee Bapak mungkin pelajari dari
kita yang sering barangkali Bapak Ibu
ikut PKn ya ikut LMHAS transformasi itu
biasanya enggak disukai sama orang gitu
Bapak Ibu sekalian ya. kita banyak
resistensi. Orang yang setuju
transformasi itu kalau kita baca di
textbook itu hanya 20%. Yang sisanya itu
pasti resistance terhadap perubahan.
Nah, ini Bapak Ibu sebagai ASN kita
harus bisa menangani ini sehingga
perubahan itu terjadi.
Ya, kalau tadi saya singgung tadi
sedikit dengan perubahan ee internal
kita, ter internal kita, kita itu
mengikuti berakhlak pasti Bapak Ibu
tahu. Tapi berakhlak ini kan masih
terlalu luas. perlu kita definisikan
ya, perlu kita punya yang operasional.
Nah, kami di Kemenkes itu Bapak Ibu
sekalian definisi berakhlak yang ee
banyak tadi itu kita ringkas ya. Kalau
di perusahaan swasta itu kan yang
namanya visi misi internal tuh juga
enggak panjang-panjang gitu. Nah, ini
juga begitu ya. kita ee
apa namanya? Ee slogan kita yang baru
itu untuk transformasi internal, untuk
visi transformasi internal adalah
pertama adalah eksekusi efektif, kedua
adalah ee cara kerja baru, dan ketiga
adalah layanan paripurna.
Itu Bapak, Ibu sekalian yang kita
dengungkan terus di dalam Kemenkes agar
kita bekerja secara efektif ya. Ada
caranya pasti.
cara kerja baru. Kalau cara kerja lama
kita enggak akan ngejar nih transformasi
ini, ya. Kemudian layanan ini yang
terkait dengan rujukan ini. Jadi selain
secara klinis kita baik, tapi secara
layanan kita juga harus ee apa namanya?
Harus bisa memberikan layanan yang baik.
Kalau Bapak, Ibu sekalian kan kita lihat
kenapa sih layanan kita kalau
dibandingkan rumah sakit swasta
barangkali orang lebih senang kalau yang
punya uang lebih senang ke rumah sakit
swasta. Itu kenapa gitu. Nah, itu harus
kita ee harus kita perbaiki.
Slide berikutnya Bapak Ibu sekalian.
Nah, ini kita memberikan peralatan ya,
alat kesehatan dari Pet City, MRI, C
scan, catlab tadi karena kita banyak
yang penyakit meninggal karena jantung
tapi rumah sakitnya enggak punya catlab
ya. Ini kita berikan Bapak, Ibu ee ini
kita berikannya kepada rumah sakit-rumah
sakit yang tertinggal ya, Bapak, Ibu
sekalian. Kalau rumah sakit yang sudah
bagus ya barangkali enggak perlu dibantu
ya. Tapi dari pengadaan, dari bagaimana
kita caranya menyediakan SDM-nya, ini
membutuhkan tantangan.
Dan tadi kenapa kita butuh transformasi
internal? Karena kita butuh melakukan
transformasi ini ke seluruh Indonesia.
Ya, barangkali ada rumah sakit yang
sudah bagus, ya sudah oke jalan terus.
Tapi sebagai Kementerian Kesehatan ya
yang lebih menekankan kepada public
health, tujuan kita adalah sekali lagi
memperbaiki indikator kesehatan nasional
kita yang tertinggal dibandingkan negara
tetangga kita. Ya, kita boleh pintar
tapi nyatanya kita tertinggal.
Ya, slide berikutnya. Nah, ini Bapak Ibu
sekalian Bapak Ibu bisa baca sendiri ini
yang ee untuk catlab ini di mana aja
kita ee bagikan, ya kan. Jadi di 84
kabupaten kota tuh sudah ada bisa
melakukan catlab ini data mungkin udah
ada yang baru lebih baru dari ini. Slide
berikutnya ini untuk yang ee apa
namanya? Bedah jantung terbuka ini Bapak
Ibu sekalian. Terus ini Bapak Ibu bisa
baca sendiri slide berikutnya ini untuk
melakukan tadi yang stroke yang bisa
melakukan trombektomi dan coiling ya di
berbagai macam ee daerah itu. Sekarang
kita bisa lihat 72 kabupaten kota juga
bisa. Nanti sebentar lagi kita target
kita harus seluruh kabupaten kota bisa
melakukan ini. Slide berikutnya
ini untuk yang trombolisis ya. Ini yang
terkait dengan stroke ya. Ya, slide
berikutnya
ini clipping juga ini terkait dengan
stroke. Terus Bapak Ibu bisa baca
sendiri ya ini untuk kanker. Kenapa sih
sistemic cancer terapi itu kan bisa
dilakukan harusnya di di berbagai
wilayah terpencil gitu. Orang enggak
perlu harus ke ee Surabaya atau enggak
perlu harus ke Jakarta. Slide
berikutnya. Slide berikutnya ini ee
mammografi ini Bapak Ibu bisa lihat
sendiri, bisa baca sendiri. Slide
berikutnya ini yang terkait dengan ee
untuk kanser ini yang ee radiologi yang
terkait dengan radiasi ya.
Ini yang ini yang ada pet city ini yang
terkait kanser ya, sikrotrone. Terus
terus terus selanjutnya Bapak Ibu bisa
baca sendiri ya slide berikutnya. Slide
berikutnya aja ini untuk hemodialysis ya
ini untuk CPD ini juga terkait dengan
ginjal. Slide berikutnya. Nah, ini
Bapak, Ibu sekalian yang berikutnya
adalah transformasi sistem kesehatan
nasional. Itu terdiri dari farmasial,
obat-obatan, dan juga peralatan. Jadi,
dua itu yang ingin kita tekankan ya.
Vaksin ya,
apa namanya ee pengobatan, obat,
peralatan dan respon emergency kalau
terjadi bencana atau terjadi ee musibah
gitu.
Ya, ini digital itu. SL slide berikutnya
Bapak Ibu bisa baca sendiri nih ya. Ini
ini ee produksi kita ee
ee jadi untuk obat-obat bahan baku obat
dari 8 dari 10 itu kita bisa kita
kerjakan di dalam negeri. Ya, sebelumnya
belum pernah nih Bapak Ibu sekalian kita
impor terus. Nah, ini sekarang kita
perbaiki. Ini Bapak Ibu bisa untuk
ceritanya bisa baca sendiri. Ini gampang
sekali dimerti. Ini sangat jelas. Terus
nah ini ee apa namanya ee
kerja sama-kerja sama terkait tadi ee
bahan baku obat ya. Jadi ada yang
namanya API itu active pharmaceutical
ingredien itu bahan baku obat itu
sekarang mulai kita bisa produksi di
Indonesia. Slide berikutnya.
Nah, ini perkembangan vaksin ya. Bapak,
Ibu sudah mendengar pasti. Terus terus
terus terus terus.
Saya cepat aja ya Bapak Ibu sekalian.
Ini untuk peralatan ya. Langsung aja
Bapak Ibu sekalian. Terus nah yang
berikutnya adalah transformasi
pembiayaan Bapak Ibu sekalian
ya. Jadi kita sekarang ingin lagi
menekankan
eh metodologi yang disebut dengan
national health account. Jadi Bapak Ibu
sekalian, kita tahu kita tuh
mengeluarkan uang banyak banget untuk
kesehatan, tapi kenapa indikator K
nasional kita rendah? Jadi kita mesti
tahu sebetulnya uang kita itu keluarnya
ke mana aja. Nah, itu kita bisa lihat
itu kalau kita punya National Health
Account accounting kesehatan nasional
yang bagus ya. Kemudian kita punya
sebelumnya masih sebelumnya Pak, kita
punya yang namanya health technology
assessment HPA. ini juga mau kita ee
kita dorong lagi supaya kita bisa
memilih obat-obatan atau peralatan atau
metodologi yang tepat untuk Indonesia.
Itu namanya HTA, Health Technology
assessment. Terus kita tadi cover BPJS
itu Bapak, Ibu pas sudah dengar ee ada
kesulitan di sini karena ini bertambah
besar biayanya. Makanya kita tiap tahun
sekarang melakukan annual review tarif
ya. Ini sekarang kita lagi dalam proses
untuk membikin daftar tarif yang baru
agar sesuai dengan kondisi di lapangan,
ya kan. Nah, kemudian health payment
kita konsolidasikan karena ini ada
banyak eh pihak yang melakukan
pembayaran kesehatan. Dan slide
berikutnya Bapak, Ibu sekalian ini kalau
kita lihat itu bisa kita lihat itu
sebetulnya uang kita yang kita keluarkan
ya itu berapa ya.
Ya. Dan ini memang meningkat terus
Bapak, Ibu sekalian itu bisa dilihat tuh
ada private insurance, ada social health
insurance, ada dari ee
pemerintah kita sendiri, dari NGO ini
siapa yang mengeluarkan ruang bisa kita
lihat. Dan kalau kita bisa melihat ini,
Bapak, Ibu, kita bisa menganalisa
masing-masing dan kita bisa memperbaiki
bagaimana cara kita ee mengeluarkan
pembiayaan agar ini lebih efisien. Terus
apa? Terus,
terus Bapak Ibu sekalian ini
adjustmentnya kita buat. Kemudian yang
berikutnya adalah transformasi SD dan
kesehatan
ya.
Ya kan? Ini Bapak Ibu sekalian ini
sekali lagi Bapak Ibu sekalian ya kan?
Jadi
kalau kita lihat kita tertinggal juga
dengan negara tetangga kita di Indonesia
itu adalah 0,5%
per 1000 populasi jumlah dokter kita
yang harusnya itu adalah 1,76 per1000
populasi. Orang selalu bilang katanya
ini pemerataannya ya kalau jumlahnya
cukup enggak. Jumlahnya juga kurang ya
bukan hanya pemerataannya. Bagaimana
kita bisa memeratakan orang kalau
jumlahnya kurang? Ya, dari sisi rasio
aja sudah kita lihat bahwa ini kurang
gitu dibandingkan dengan negara lain ya.
Slide berikutnya.
Nah, ini Bapak Ibu sekalian
ya.
Jadi masih ada banyak ya RSUD kalau di
Surabaya mungkin sudah bagus yang masih
kekurangan tenaga dokter. Jadi hanya 38%
ya,
ada 38% yang masih belum memiliki
tujuh spesialis dasar di rumah sakitnya
ya. Jadi ini Bapak Ibu bisa lihat
sendiri ya berapa kekurangannya. Inilah
kita sekarang bisa mengidentifikasi
kurangnya di mana, jenis spesialis mana
yang kurang
ya. Ini
intinya kita kurang. Makanya kenapa tadi
health service coverage kita rendah.
Walaupun cakupan BPJS-nya 96% tapi
health coverage-nya rendah. Ya, ini saya
lengkap aja Bapak Ibu sekalian. Slide
berikutnya. Slide berikutnya ya. Ini
Bapak Ibu bisa baca sendiri ya. Di
primary healthcare juga sama ya.
Essential workersnya masih kurang
ya.
ya. Terus
ya dokter spesialis masih kurang ya.
Makanya ee
kita sekarang membuka ee pendidikan
spesialis yang melalui ee berbasis rumah
sakit ya. Karena di manapun di dunia itu
pendidikan spesialis adalah melalui
rumah sakit. Jadi, rumah sakit-rumah
sakit ini penting untuk juga menjadi
tempat rumah sakit pendidikan dengan
standar yang kita akreditasi dengan
standar internasional. Jadi, standarnya
harus bagus, enggak boleh sembarangan.
Slide berikutnya. Slide berikutnya, Pak.
Cepat nih ee ini slide berikutnya
mungkin ya. Ini. Nah, ini transformasi
teknologi kesehatan Bapak, Ibu sekalian
ya. Next slide ya. ini kita punya
platform yang namanya satu sehat. Jadi
nanti semua data-data kesehatan itu bisa
kita simpan di dalam HP kita
masing-masing. Ya, ini sudah mulai kita
jalankan. Mungkin 2 3 tahun lagi ini
akan jauh lebih lengkap dari sekarang.
Ya, Bapak, Ibu mungkin ingat zaman COVID
waktu ada pedulindungi ini sebetulnya
mirip-mirip kayak gitu. Tapi untuk semua
penyakit dan semua tindakan medis yang
dilakukan itu bisa dilihat di dalam HP
kita masing-masing. Slide berikutnya
ya. Jadi ini ya. Jadi tapi kan untuk
bisa koneksi ini kita membutuhkan ee apa
namanya? membutuhkan internet dan
sebagainya dan ini kita sekarang provide
ee jaringan-jaringan sampai ke tingkat
Puskesmas.
Kalau yang belum ada dengan sistem
konvensional, kita menggunakan satelitir
ya. Itu untuk kita bisa menghubungkan
berbagai macam puskesmas supaya
individunya tercatat dengan baik ya,
tapi juga dalam melakukan rujukan juga
jauh lebih mudah ya. Slide berikutnya.
Nah, ini app-nya, aplikasinya Bapak, Ibu
sekalian ya sudah 111 juta orang yang
menggunakan. Terus, terus.
Nah, ini Bapak, Ibu sekalian yang saya
bilang ini yang health biotechnology
tadi yang precision medicine. Nah, ini
Bapak Ibu sekalian mungkin harus
terpapar juga dengan ini ya. Karena ke
depan itu pengobatan akan jauh berbeda
dengan yang sekarang. Kalau kita enggak
mengejar ketertinggalan ini karena kita
dibandingkan negara tetangga, negara
lain, kita tertinggal dalam bidang ini
ya. Jadi, ini mesti kita dorong terus,
ya. Slide berikutnya.
Slide berikut. Nah, ini Bapak Ibu bisa
sendiri ini ada videonya. Nanti mungkin
Bapak bisa lihat sendiri. Ini terkirim
juga kan videonya ya. Bapak Ibu bisa
lihat sendiri ya. Ini slide berikutnya
aja Pak ya. Nah, ini. Nah, saya ingin
karena kita sama-sama ASN nih Bapak Ibu
sekalian, Bapak Ibu di PPSDM ya. Apa sih
yang terjadi dengan kita nih? Bagaimana
sih kita, kenapa performance
managementen kita tuh enggak bagus gitu
Bapak, Ibu sekalian ya. kita punya
aturan yang terkait dengan indikator
kinerja individu,
tapi sebetulnya kita manfaatkan enggak
sih indikator kinerja individu ini?
Ya. Nah, ini kalau di Kemen CAS Bapak,
Ibu sekalian ini kalau Bapak bisa lihat
itu ada unit eson satunya itu ada satu
orang yang punya 97
ee Iki, indikator kinerja
ya, KPI kalau bahasa Inggrisnya.
Ya kan enggak mungkin orang bisa
mengerjakan 97. Tapi di di pihak lain
ada orang yang I-nya cuman satu. Mungkin
dia kerja seminggu selesai tuh I kan
setahun enggak kerja. Nah, jadi hal-hal
kayak gini Bapak Ibu sekalian ini yang
ingin kita perbaiki di Kemnes.
Barangkali saya bisa berbagi ini kita
masih dalam proses. Tapi kalau Bapak Ibu
ingin berbagi pengalaman dengan kami,
kami sangat bersedia untuk berkomunikasi
dengan Bapak Ibu sekalian. Bagaimana sih
kita menerapkan IKI? Kita sih tiap tahun
ngisi, tiap tahun ngisi Iki kita pasti.
Tapi IKI itu, Bapak, Ibu sekalian,
barangkali tidak berhubungan atau tidak
dimanfaatkan dalam kerangka
mencapai target organisasi.
Organisasi yang baik itu harus punya
target, punya visi besar.
Nah, visi besar ini kayak tadi yang enam
pilar transformasi kesehatan ya kan di
sisi di tingkat
kementerian barangkali orang paham
tapi sebagai individu terus saya mesti
ngapain itu pertanyaan yang banyakan
gitu. Nah, individu mengerjakan ini
harus bisa mencapai tujuan besar dari
transformasi kesehatan nasional kita.
itu yang paling penting. Nah, jadi ini
kalau kita lihat kita melakukan sedikit
analisa di kantor ternyata ada seperti
ini. Jadi mungkin Bapak Ibu di PPSDM
coba deh lihat berapa yang punya IQ
banyak, punya IQ sedikit, apakah dia
berimbang antara unit-unit kerja itu
perlu diperbaiki ya.
Slide berikutnya.
Nah,
ini
Renstra Kementerian Kesehatan Bapak, Ibu
sekalian ya. Sesuai ini kita menurut
kita kan bekerja sebagai pegawai negeri
pasti sesuai dengan peraturan yang ada.
Kita harus buat RENSRA. Tapi apakah
rensra itu sesuatu yang ee sesuatu yang
betul-betul bisa dijalankan atau hanya
rstra basa basi itu
sangat berbeda makanannya kan gitu ya.
Nah, renstra yang baik itu harus
mempunyai target, mempunyai tujuan dan
target.
Nah, ini kita lihat kalau di Kesehatan
ya untuk mencapai visi misi untuk
mencapai tujuan-tujuan transformasi
kesehatan kita mempunyai enam tujuan.
Nah, masing-masing tujuan itu ada
indikatornya, targetnya berapa.
Ya, itu contoh tadi yang paling kiri.
Karena kita health coverage kita rendah
masih 54%, target kita tahun ini adalah
63,5
tahun. Eh, 65 63,5%.
Nah, sori itu salah. Itu bukan tahun,
itu persen harusnya ya.
Eh, sori sori yang di sebelah kiri itu.
Betul ya. Jadi gini Bapak Ibu sekalian.
Indikator tujuan yang pertama itu
terkait dengan umur harapan hidup.
Umur harapan hidup kita itu memang
cukup tinggi 72 tahun. Tapi hidup sehat
dengan kualitas yang baik itu kita masih
rendah, Bapak, Ibu sekalian.
Masih sekitar hanya 60 tahun.
Walaupun umur kita rata-rata panjang 72
tahun, tapi hidup sehat dengan kualitas
yang baik itu sama 60 hanya 63 tahun.
Nah, itu
indikatornya ada Bapak secara
internasional menurut WHO ada. Nah, kita
targetnya meningkatkan umur dengan
kondisi sehat sampai 63 tahun. Nah,
kemudian yang di kanan itu baru yang
tadi saya sebut tadi ya adalah yang
terkait dengan service coverage tadi.
Walaupun kita 96%
dalam populasi coverage, tapi health
coverage-nya kita masih rendah.
Masih rendah ee kita ingin menaikkan ee
untuk lebih tinggi lagi
ya.
Jadi indeksnya mau kita naikkan sampai
56,75.
Karena indeks kita ini gila karena
indeks kita itu adalah ee masih sangat
rendah tadi Bapak, Ibu sekalian. Ee ya
slide berikutnya. Nah, dari enam tujuan
tadi, Bapak, Ibu sekalian di tingkat
menteri kan tadi ada enam tujuan slide
berikut sebelumnya itu bagaimana kita
menurunkannya ke bawah, menurunkannya ke
tingkat Eston 1 tuh ada yang disebut
dengan indikator sasaran strategis. Ini
Bapak, Ibu sekalian pasti sudah tahu
nih, tapi bagaimana kita
mempraktikkannya itu yang tantangan buat
kita semua. Kemudian ada indikator ee
kinerja program untuk eslon 1 dan ada
indikator kinerja kegiatan untuk eslon 2
dan ada indikator kinerja individu. Jadi
bisa Bapak Ibu bayangkan dari indikator
tujuan yang di atas tadi di eslon 1,
eson 2 turun ke bawah sampai ke individu
bisa enggak indikator kinerja individu
yang paling bawah itu memang betul-betul
mendukung indikator kinerja tujuan yang
besar tadi nah itu tantangan kita semua
karena selama ini saya lihat di Kemenkes
orang bikin individu itu adalah
pekerjaan sehari-hari dia jadikan
indikator kinerja padahal bukan itu
sebetulnya Ya, indikator kend individu
itu harus bisa mencapai tujuan
yang besar tadi, tujuan organisasi yang
besar melalui Renstra tadi ya. Slide
berikutnya.
Nah, ini Bapak Ibu bisa lihat ini di
masing-masing 1 berapa indikator tujuan
yang terkait. Kan kita punya indikator
tujuan tadi ya, Bapak, Ibu sekalian ada
enam. Jadi masing-masing Slon 1 itu
mengampu berapa indikator tujuannya? Ini
Bapak Ibu bisa lihat sendiri sampai ke
eselon 2-nya slide berikut
ya. Nah, ini kita ya dalam rangka
transformasi internal kita, Bapak Ibu
sekalian dalam rangka kita menyusun
indikator kinerja individu atau yang
sering disebut dengan KPI ya, kita
membuat apa yang disebut dengan ee
kerangka prima
ya. Jadi kita ini mengajarkan nih, Pak,
ke masing-masing ee eslon 2 masing-masid
itu enggak gampang, Bapak, Ibu sekalian,
ya. Karena ee prima itu p-nya adalah
pahampahami
ee visi dan arah tujuan, ya, Bapak, Ibu
sekalian. Yang kedua, R-nya itu rumuskan
strategi. Nah, karena tujuan tadi
biasanya kita enggak pernah merumuskan
strategi.
Mau begini, kita kan kerja sehari-hari
kerja rutin aja. pokoknya ada kerjaan
kerjain, ada kerjaan kerjain. Tapi Kak,
apakah kerjaan kita itu tadi bermakna
untuk pencapaian tujuan yang besar tadi?
Itu masih tanda tanya besar. Makanya
banyak sekali indikator kinerja
kesehatan nasional kita yang masih
tertinggal di dengan dibandingkan dengan
negara lain ya. Jadi rumuskan strategi
R-nya itu adalah yang paling berat
Bapak, Ibu sekalian. Nah, kalau kita
sudah rumuskan strategi, kita mesti
identifikasi tim kerja di bawahnya 3-nya
tuh siapa yang mengerjakan strategi
tadi, ya kan. Nah, kalau sudah itu kita
mulai jabarkan indikator kinerja ya.
Kita jabarkan apakah IK itu sesuai
dengan kaidah-kaidah smart ya. Smart itu
adalah apa namanya? Dia terukur ya dia
itu apa namanya? Ee bisa dijalankan
dengan baik. merupakan hasil kompromi
dengan yang lainnya. Ya.
Dan yang terakhir adalah yang disebut
dengan dialog kinerja. Pasti Bapak Ibu
sekalian di PPDSM kita tiap hari ngomong
tentang dialog kinerja.
Tapi dialog kinerja yang efektif itu
seperti apa? Itu tantangan kita, Bapak,
Ibu sekalian
ya. Jadi ee itu
yang jadi tantangan buat kita. Slide
berikutnya. Nah, ini Bapak, Ibu sekalian
dari IT tadi ini untuk 1 eselon 2 ini
contoh aja Bapak Ibu sekalian ya. Di
kita ada namanya Direktorat Pelayanan
Kesehatan. Kaitan dia dengan indikator
tujuan yang di atas tu apa? Nah, ini ada
turunannya. Ada turunannya nih Bapak,
Ibu sekalian. Ada IKP-nya ya kan tadi
ada dari tujuan ISS turun ke IKP. berapa
IKP yang mesti mengampu, berapa IKK yang
mesti mengampu. Nah, ini mesti
diidentifikasi nih, Bapak, Ibu sekalian.
Nah, ini Bapak Ibu kita butuh waktu
panjang nih untuk berdiskusi tentang
ini. Nanti saya sangat terbuka untuk
membagi pengalaman kita di Kemenkes.
Slide berikutnya ini contohnya dari IKP,
dari ISS turun ke IKP, turun ke IKK.
Ya, jadi enggak gampang kita sebetulnya
kerja itu Bapak, Ibu sekalian kalau
kerjaan kita mau bermakna dengan tujuan
organisasi yang berbasis rencana
strategis tadi
ya. Slide berikutnya kita cepat aja kita
lengkap ya. Nah, ini semua tadi IKK-nya.
Terus nah ini terus, Pak langsung aja.
Nah, ini contohnya kita ambil contoh
satu IKK aja sudah menunjukkan
merumuskan strateginya sudah ee penuh
tantangan. Bapak, Ibu sekalian ini kita
baru mulai nih Bapak Ibu sekalian jadi
belum selesai juga ya. Tapi untuk
menurunkan ini aja kita sudah butuh
waktu panjang karena ini mesti berdialog
dengan eslon 2, berdialog dengan staf
dan sebagainya. Slide berikutnya. Nah,
ini kalau kita dapat tadi ini baru satu
IKK ya, satu IKK tadi kita punya tiga
strategi misalnya. Nah, kalau kita punya
tiga strategi harus ada
aktivitas-strateginya. Aktivitasnya apa?
Nah, aktivitas inilah Bapak Ibu sekalian
yang menjadi dasar untuk menyusun KPI
ya, untuk menyusun IK ya. Slide
berikutnya ini menyusun IKIN-nya ya.
Kita identifikasi tim kerja dulu, Pak.
Ya. Strategi 1 dikerjakan oleh siapa?
Slon 3-nya siapa? Strategi 2 siapa?
Ya, slide berikutnya.
Nah, baru aktivitas strategi ini tadi
Bapak, Ibu ini adalah menjadi dasar
untuk menyusun indikator kinerja
individu. Output-nya apa harus jelas ya.
Jadi ini ya kita sekarang enggak boleh
IK itu lebih dari 10 untuk satu orang,
satu individu.
Tadi seperti saya sampaikan di slide
berikutnya ada yang sampai 97 itu sudah
pasti enggak mungkin aja gitu ya. Slide
berikutnya.
Nah, Bapak Ibu sekalian
ini problem bersama kita sebagai HSN nih
Bapak Ibu sekalian. Kita biasanya kalau
memberikan nilai kan baik, sangat baik
ya. kita agak sungkan memberikan kurang
ya, tapi baik sangat baik pun itu
kadang-kadang dengan perasaan kita gitu.
Nah, ini yang mau kita ubah Bapak, Ibu
sekalian sehingga orang-orang yang
menjalankan core tugasnya dia itu
harusnya nilainya baik kalau dia
selesai. Jadi, IQ tadi kalau dia
kerjakan selesai itu baik.
Tapi kalau dia mengerjakan beyond, ada
yang disebut dengan dia mengerjakan
lebih,
itu bisa kalau dia menyelesaikan
pekerjaan lebihnya itu, itu menjadi
sangat baik. Jadi kita pengin objektif
gitu. Jangan semua dikasih sangat baik.
Kalau semua dikasih sangat baik, susah
kita untuk melihat mana orang yang baik,
mana orang yang enggak baik. Mana orang
yang bagus, mana orang yang enggak
bagus.
Ya. Nah, semua core dan beyond ini harus
dilakukan dialog kinerja dengan
atasannya. Jadi enggak bisa kita
menentukan sendiri, enggak bisa si staf
itu menentukan sendiri ya. Nah, jadi
Bapak Ibu sekalian slide berikutnya
ini contoh IKIN-nya ajak dialog tadi
Bapak Ibu sekalian mana yang core, mana
yang beyond harus berdialog ya. Nah, ini
Bapak Ibu sekalian garis besar apa yang
kita lakukan di Kemenkes
ya untuk bagaimana kita mereformasi
SDM kita.
Ya, tujuannya supaya SDM kita,
organisasi Kemenkes bisa melakukan en
pilar transformasi yang dibutuhkan untuk
memperbaiki indikator kinerja kesehatan
nasional kita. Nah, jadi itu Bapak, Ibu
sekalian sekelumit pengalaman dari kami
ya. kita. Saya sangat terbuka kalau
Bapak, Ibu ingin ee berdialog lagi
dengan kami ya silakan silakan saja
Bapak Ibu bisa ke Jakarta atau saya bisa
ke sana silakan saja Pak ya. Ini karena
ini tujuan kita adalah semua memperbaiki
indikator kinerja nasional kita.
Barangkali saya akan berhenti di situ,
Bapak Ibu sekalian ya. Nanti lain waktu
kita akan bisa bertemu lagi. Sekali lagi
saya ingin mengucapkan terima kasih ya
kepada Bapak Ibu sekalian. Tetap
semangat Bapak Ibu sekalian. Terus
lakukan reform di tempat masing-masing
ya. Reform itu berat ya Bapak Ibu
sekalian. Tantangannya banyak tapi
lakukan itu demi kita melayani
masyarakat dengan baik. Tujuan kita
adalah melayani masyarakat ya masyarakat
yang sehat dengan indikator kesehatan
nasional. yang baik. Bapak, Ibu sekalian
terima kasih banyak. Mohon maaf
seandainya ada hal yang kurang berkenan.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
[musik]
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih Pak Bambang
atas materinya yang sangat menarik
terkait dengan data performance
kesehatan kita yang memang menjadikan
awareness tersendiri buat kita untuk
bagaimana kita bisa mengejar
ketertinggalan tersebut melalui upaya
enampil transformasi kesehatan yang
sudah Bapak berikan. Saat ini kita akan
masuk ke sesi tanya jawab. Mohon maaf
karena keterbatasan waktu kita harus
membatasi satu penanya saja dari Sobat
ASN. Silakan bagi yang sudah bergabung
bisa langsung saja menggunakan feature
rise hand ataupun yang tengah
menyaksikan melalui live YouTube BPSDM
Jatim TV. Anda bisa memberikan
pertanyaan kepada narasumber kita
melalui kolom live chat. Kita akan
undang untuk penanya kita yang sudah
bergabung di pagi hari ini. Selamat
pagi, Bapak.
Mohon izin, Bapak.
Iya,
ya. Oke, suaranya sudah masuk.
Oke. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Saya Dunaso, SH dari
Sindan, Kota Kediri. mau bertanya Bapak
untuk yang kesehatan mental ASN itu
apabila ada
mutasi baik internal atau eksternal itu
apakah ee perlu dicek kesehatannya baik
itu secara keseluruhan ataukah dengan
secara psikologisnya. Terus yang kedua
termasuk indikator kinerja individu lah
itu yang menjadi cash cading apa cor
coding itu siapa? Mohon petunjuk Bapak.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Mohon maaf, Pak. Tadi
pertanyaan yang kedua sedikit kurang
jelas, Pak. Yang pertama kan terkait
dengan ketika mutasi, apakah perlu dicek
kondisi kesehatan baik dari psikologis
maupun fisiknya. Pertanyaan kedua
mungkin bisa disampaikan ulang, Pak.
Oke. Ee terkait iki
indikator
kantor kinerja individu ya. Heeh.
Iya betul. Ee untuk yang menjadi cas
cading-nya itu siapa Bapak? Mohon
petunjuk Pak. Kalau saya ee mengerjakan
kayak apa istilahnya lek cara jaiki
gitu loh. Eah itu untuk yang jadi cost
cash cading-nya itu apakah yang membuat
atau atasan langsung? Oke.
Ee mohon petunjuk Bapak. Demikian dari
saya. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Silakan, Pakam. Langsung
saja dijawab, Pak.
Kalau pertanyaan pertama, Pak ee jawaban
cepatnya iya, Pak. Harus, ya. Harus.
Enggak usah orang yang mutasi, Pak.
Untuk yang semua pegawai kalau bisa kita
lakukan cek kesehatan rutin ya, termasuk
kesehatan jiwa. Kita di Kemenkes sudah
mulai nih, Pak ya. Jadi tiap tahun kita
melakukan cek rutin dan kita lombakan
tuh unit mana yang kolesterolnya paling
tinggi ya, unit mana yang apa namanya
gula darah H A1C-nya ee banyak yang
merah gitu. Itu kita lombakan tuh, Pak.
Jadi apalagi kita di Kemenkes kan kita
yang harusnya membikin orang sehat gitu.
Kalau kitanya sendiri enggak sehat ya
agak berat juga gitu. Nah itu kita kita
lakukan, Pak. Cek itu biayanya besar
memang Pak. Ini susah ya. Apalagi orang
yang ingin mutasi dan rotasi sebaiknya
sih dicek, Pak. Termasuk kesehatan
jiwanya, ya. Kalau yang kedua, Bapak Ibu
sekalian ini memang pekerjaan berat.
Kalau secara rutin atau secara
sehari-hari memang yang melakukan itu
adalah biro yang terkait dengan OSDM,
biro yang terkait dengan sumber daya
manusia. Harusnya dia yang menginisiasi
bekerja sama dengan biro perencanaan.
Karena ini hubungan yang dapat strategi
besarnya itu biasanya dari biro
perencanaan ya. Nah, tapi biasanya dua
apa dua unit ini OSDM dan perencanaan
kan kerjaannya juga sudah banyak gitu,
Pak. Nah, kami di Kemenkes karena
pegawai kami itu 60.000 ya, kami membuat
unit khusus untuk informasi untuk
transformasi internal ya. Jadi kita
mempunyai unit khusus nih, Pak, dibentuk
oleh Pak Menteri ya, yang disebut dengan
eh cultural transformation office, ya.
Jadi kita punya yang namanya CTO itu
adalah cultural transformation office.
Kita yang menangani itu dalam rangka
membantu biroM dan biro perencanaan
untuk merumuskan strategi dan untuk
meng-cascading dia sampai ke tingkat
individu. Ini kerjaan berat Bapak Ibu
sekalian. Ini kita juga baru mulai tapi
kalau kita enggak mulai nanti telat
terus kita, Pak. ya kan selama ini kita
mengisi IKI ya kerjaan rutin kita jadi
IKI tapi enggak ada hubungannya dengan
tujuan organisasi yang berbasiskan RSTRA
tadi. Jadi mudah-mudahan saya bisa
menjawab pertanyaan Bapak Pak. Semangat
terus Pak kita ingin membantu masyarakat
supaya tetap sehat di ke depannya kita
enggak ketinggalan dengan negara-negara
tetangga kita. Terima kasih, Pak.
Terima kasih Bapak untuk pertanyaannya.
Terima kasih juga Pak Bambang untuk
jawabannya. Pak Bambang sekali lagi
terima kasih untuk materi-materinya yang
sangat menarik sekali. Semoga ini dapat
diresapi oleh para sobat ASN kita untuk
bersama-sama kita melakukan transformasi
kesehatan di Indonesia. Salam sehat
selalu untuk Pak Bambang. Kita bertemu
lagi di event-event selanjutnya. Thank
you, Pak.
Terima kasih banyak. Salam sehat
semuanya.
Baik, Sobat ASN. Jangan ke mana-mana.
Bagi yang masih belum berkesempatan
untuk bertanya kepada narasumber kita.
Kita masih punya dua narasumber lagi.
Tetap di webinar ASN belajar seri 44.
[musik]
Anda kembali lagi menyaksikan webinar
ASN Belajar seri 44. Kali ini di paparan
kedua kita akan mendengarkan paparan
materi yang sangat menarik langsung dari
Prof. Cita Rosita Sigit Prakuswa, beliau
selaku Direktur Rumah Sakit Umum Daerah
Dr. Sutomo Surabaya.
[musik]
Telah bergabung bersama dengan kami
semua di sini. Prof. Cita. Selamat
siang, Prof. Cita. Kabar baik.
Selamat siang, Mas Lukman. Alhamdulillah
baik.
Baik. Tadi kita sudah mendengarkan
paparan dari Pak Bambang Widianto. Kali
ini kita akan mendengarkan paparan
materi dari Prof. Cita terkait dengan
partisipasi aktif ASN dalam mendukung
kebijakan dan inovasi di bidang
kesehatan. Mohon izin Prof. Cita nanti
untuk waktu penyampaian materi kurang
lebih selama 30 menit nanti kita akan
langsung masuk ke sesi tanya jawab.
Silakan Prof Cita.
Terima kasih Pak Lukman. Izin share
screen
di slide show.
Ayo, mau dikecilin
ya. Apakah sudah kelihatan Pak Lukman?
Terlihat, Prof. Cita. Silakan.
Baik matur nuwun Pak Lukman
ya.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat siang, salam
sejahtera. Om swastiastu. Namo buddhaya.
Salam kebajikan. Ee pertama-tama terima
kasih Bapak Ramli yang telah ee memberi
kesempatan saya join di acara yang luar
biasa ini. Dipandu oleh Pak Lukman dan
tadi bersama Bapak Bambang Widianto dari
Staf Khusus Kementerian Kesehatan dan
juga nanti dengan Prof. Ratna, Dekan FKM
UNAIR. topik saya ee dengan tema Sehat
untuk semua berdaya untuk semua
transformasi kesehatan untuk Indonesia
Emas 2024 dengan topik partisipasi aktif
ASN dalam mendukung kebijakan dan
inovasi di bidang kesehatan baik
lingkungan kerja maupun di masyarakat.
Maka kata kuncinya adalah ASN
partisipasi aktif kebijakan bidang
kesehatan, lingkungan kerja dan
masyarakat.
Latar belakang dan relevansi ini sangat
ee penting topik ini. Kenapa tadi Bapak
Bambang sudah menyampaikan tentang
transformasi kesehatan hanya bisa
berhasil bila ASN mengambil peran aktif
sebagai agen perubahan. Jadi bukan hanya
pelaksana tapi penggerak pelaksanaan
kebijakan di lapangan dan inovasi
layanan dan pendidikan klinis karena
kami adalah rumah sakit pendidikan utama
Fakultas Kedokteran UNangga harus
diterjemahkan menjadi praktik nyata di
Ingat kerja. budaya kerja berbasis data,
mutu, akuntabilitas akan memperkuat daya
unggit perubahan dan setiap ASN
berdampak pada masyarakat sehingga
orientasi bukan hanya menyelesaikan
program tetapi mengarah pada outcome.
Tadi Pak Bambang juga sudah menyampaikan
dan prinsip sehat untuk semua berdaya
untuk sesama menjadi Kompas Moral ASN
masa kini untuk Indonesia, Mas 2024-2045
yang membutuhkan ASN yang mampu memimpin
transformasi dan sebagai garda terdepan
sistem kesehatan. Kalau kita bicara
inovasi tadi seperti ada kata kunci di
depan di pada judul penuhan baru atau
pembaruan ini beda ada agak perbedaan
kalau penemuan baru ya baru gres gitu ya
kalau pembaruan sudah ada tapi di ATM
amati tiru modifikasi dan bentuknya bisa
gagasan, metode ataupun alat.
Nilai dasar core value dari ASN berhalak
antara lain adalah adaptif yaitu ASN
harus cepat menyesuaikan diri menghadapi
perubahan yang abadi adalah perubahan
itu sendiri. dan ASN terus harus
berinovasi, mengembangkan kreativitas,
dan tentu berani mencoba, tidak takut
gagal, dan belajar dari pengalaman.
Sehingga dari tiga poin tersebut, maka
partisipasi ASN dalam kebijakan dan
inovasi di bidang kesehatan menjadi
sangat penting. Merupakan ujung tombak
penyelenggaan pemerintah pelayanan
publik dan Indonesia. Saat ini telah
disampaikan oleh Pak Bambang tadi sedang
melaksanakan transformasi sistem
kesehatan melalui enam pilar utama
antara lain SDM yang kita bahas hari
ini. Dan keberhasilan tentu tergantung
dari partisipasi aktif ASN yang tidak
hanya pelaksana program namin juga
change agent atau agent of change dan
inovator publik. Ini sudah dijelaskan
panjang lebar tadi oleh Pak Bambang.
Matur nuwun. Dan kita fokus pada
transformasi SDM kesehatan.
Jadi ada empat tahapan penting dalam
partisipasi aktif ASN dalam mendukung
kebijakan dan inovasi di bidang
kesehatan. Yang pertama adalah tahap
pemahaman dan adaptasi atau implementasi
kebijakan. Dengan cara apa? Pada tahap
awal ini memastikan kebijakan kesehatan
terbaru dapat diimplementasikan dengan
benar dan adaptif. Untuk itu harus paham
enam pilar transformasi kesehatan,
bagaimana adopsi budaya kerja baru, dan
kompetensi digital yang saat ini memang
mau tidak mau, suka tidak suka harus
kita lakukan. Tahap kedua adalah
identifikasi masalah dan ideasi inovasi.
Jadi, partisipasi aktif ini diwujudkan
dengan mencari titik lemah dalam sistem
layanan yang ada dan menawarkan solusi
baru. Bapak, Ibu sekalian, identifikasi
kesenjangan dan gagasan kreatif ini
penting karena masalah itu ada di
sekitar kita dan bagaimana cara
berinovasi? Ya harus nemu masalahnya,
gap-nya apa dan kemudian solusi dan
solusinya itu tidak mungkin dilakukan
tanpa kolaborasi lintas fungsi. Itu yang
kedua. Yang ketiga, tahap perancangan
atau uji coba. Setelah ide ditemukan,
maka ASN harus berani menguji terbatas.
Dengan cara apa? Membuat prototippe, uji
coba skala kecil dan pengukuran dampak
dan perbaikan berkelanjutan. Yang
keempat adalah tahap perlembagaan dan
replikasi dampak luas. Jadi kalau sudah
bagus, berhasil harus menjadi praktik
dan standar yang dibagikan. Di sini ada
perlembagaan atau institusionalisasi,
dokumentasi, dan diseminasi, dan
partisipasi IKPP menjadi duta inovasi.
Jadi secara menyeluruh maka keempat
tahapan ini dengan menjalani keempat
tahapan ini maka ASN bertransformasi
dari sekedar pelaksana menjadi penggerak
utama yang secara aktif merancang
mewujudkan meningkatkan mutu layanan
kesehatan. Jadi sekali lagi inovasi itu
tidak selalu sesuatu yang muluk-muluk.
Apapun yang ada di sekitar kita, kita
tahu masalah tuh sudah alhamdulillah
tahu masalah. Kemudian W-nya akad
masalahnya apa? kemudian mulai mengelis
prioritisasi dan solusi yang paling
mungkin paling mampu laksana itu yang
kita melakukan inovasi dalam mencapai
solusi dan kalau inovasi itu sudah
berjalan, lanjutannya apa? Ya
dilanjutkan. W sudah bagus ya. Yang
kedua direplikasikan dan yang ketiga
atau diamati tiru modifikasi untuk
masalah yang lain.
Eh, izin kami men-share best practice di
Sutomo. Jadi, eh kami sudah
terakreditasi internasional, join
commission internasional dengan kategori
academic medical center hospital yaitu
ada dua em bidang utama atau pokja utama
yaitu medical professional education dan
human subject research program. Sutomo
adalah Rumah Sakit Pendidikan Utama
Universitas Erlangga. Tetapi tentu kami
sebagai rumah sakit juga berdiri dan
memiliki Sutomo Health Education
Training Center yang sampai saat ini
menjadi eh tulang punggung terutama
Indonesia bagian timur dan seluruh
Indonesia untuk melakukan pelatihan dan
juga pendidikan selain dari UNER. Dan
alhamdulillah kami telah mengembangkan
interconnected innovation ekosystem,
ekosistem inovasi yang terkoneksi.
Bapak, Ibu sekalian, sekedar sharing
pada tahun 2022 kami melakukan
organisasi eh health index survei dan
dari empat nilai budaya dari Sutomo
etika integritas profesional, inovatif
yang paling tinggi dinilai oleh
masyarakat adalah profesional dan
dinilai oleh diri sendiri dan yang
paling rendah adalah inovasi. Dan ee
dengan berubahnya sistem terutama sistem
IT mandiri pada 1 Januari 2023, maka
inovasi yang tadinya kurang baik.
kemudian sekarang menjadi em cukup baik
bahkan baik kalau kita melihat before
after dari IT Mandiri. Jadi ee yang ke
belakang ini kita akan diskusi tentang
bagaimana ekosistem inovasi di Sutta mau
dibangun dan berkolaborasi dengan
seluruh bidang. Saya paling senang
gambar ini merupakan sebuah filosofi
bola lampu. Kalau kita lihat bola
lampunya ini, maka yang paling penting
adalah bagaimana power-nya masuk.
powernya itu adalah SDM dan bagaimana
dia bisa menyinari sekeliling dengan
sinar yang bagus dan ee fokus adalah
tergantung dari sungkupnya. Sungkup
utama tentu pelayanan medik karena rumah
sakit adalah untuk unit layanan publik
ya. Kemudian tiga poin yang penting
lainnya adalah pendidikan profesi,
penelitian dan keesd-an umum operasional
dan perencanaan dan keuangan. Dengan
visi menjadi rumah sakit tersier
terpercaya aman, dan bermutu tinggi
serta mandiri, maka empat misi ini harus
dijalankan di empat direktorat dengan
baik dan dengan mengimplementasikan
nilai budaya, etika, integritas,
profesional, inovatif. Sekali lagi kami
adalah pemberi layanan kesehatan dan
pendidikan dan penelitian tidak bisa
lepas dari kesehatan dan harus mendukung
kesehatan. Sutomo ada 18 hektar tapi
saya paling suka spot ini. Sering dibuat
spot foto juga untuk tamu-tamu karena di
latar belakang adalah heritage sejarah.
Kita tidak bisa melupakan sejarah.
Kemudian hijau-hijau ini merupakan masa
depan yang gemilang dengan e tumbuhan
yang tumbuh subur dan ada air dan juga
ini ada patung keluarga yang
menggambarkan bahwa sitas Hospitalia
Sutomo yang kalau bicara tentang ASN
sekitar 5.000 sekian, tapi kalau
ditambah dengan adik-adik PPDS, pegawai
BLUD kontrak dan lain-lain ya sampai
mencapai 7.000-an ya dan di sini ada
anak-anak bermain, ada orang tua dan
lainnya. Jadi ini adalah spot yang
menurut saya paling filosofis di Sutomo.
Fenomena pertama isu terkait
sustainability caring of life. Jadi ada
tiga pilar penting. Yang pertama planet
tadi sudah disampaikan juga oleh Pak
Ramli pada saat eh pembukaan ya opening
bahwa kita harus menjaga planet people.
Sutomo adalah rumah sakit harus menjaga
civitas hospitalia, kesejahteraan dan
juga masyarakat. Tentu jauh dari
sempurna. Namun insyaallah kami
kawan-kawan seluruhnya berbenah untuk
sutama yang lebih baik dan profit.
Karena hanya dengan profit yang baik
maka planet dan people bisa kita rawat
bersama-sama. Sehingga tiga hal pilar
ini menjadi penting dalam
mewujudkan atau dalam mengatasi fenomena
pertama isu terkait sustainability
caring of life. Dan alhamdulillah pada
penilaian ESG Environmental Social
Governance Assessment Report yang
dilakukan oleh lembaga eh dari Korea
sutama mendapatkan nilai 94. Kalau kita
lihat di sini memang bagus ya 94 tapi
range-nya yang mulai 33 sampai 98
walaupun menggerumbulnya di sebelah sini
ya dan kemudian untuk environ-nya ya
rata-rata masih di sini ada 33 sampai 78
gak apa-apa memang sulit untuk mencapai
kesempurnaan dari segala macam
keterbatasan tetapi yang penting ee
hasilnya baik dan bisa terukur dan yang
kekurangan-kekurangan yang penting ke
depan menjadi lebih baik lagi.
Kemudian fenomena kedua tadi yang
pertama adalah sustainability caring of
life dengan tiga pilar eh people,
kemudian eh planet dan profit. Kemudian
yang kedua ini adalah survei terhadap
orang Indonesia berobat ke luar negeri.
Ternyata Jawa Timur nomor dua ya di sini
ee peringkat yang menjadi masyarakat
keluar negi sehingga arahan dari Ibu
Gubernur ayo gimana caranya agar eh
world class hospital itu bisa
dilaksanakan dan bisa ngerem laju
pasien-pasien yang berobat ke luar
negeri.
Faktor yang mempengaruhi ee reputasi
dari World Cital ada berbagai macam
antara lain adalah manajemen dan
kepemimpinan. Kalau kita bicara
manajemen adalah struktur direktur,
direksi salon 3, katimker, kemudian
kepala instalasi, kepala unit, kepala
KS, ketua KSM, koordinator KSM dan ee
komite-komite unit lain dan seterusnya.
Sementara kalau kepemimpinan itu adalah
bicara leadership. kita masing-masing
adalah pemimpin diri sendiri, pemimpin
lingkungan kecil kita, dan masing-masing
unit di rumah sakit atau di sebuah
organisasi tak ada satuun orang dan tak
ada satuun unit yang tidak penting. Ini
perlu dipupuk dan ini menjadi
keberhasilan untuk reputasi Wordtas
Hospital. Faktor eksternal ini sulit
kita kendalikan rekomendasi pasien
tetapi bisa diarahkan atau diperbaiki
atau ditingkatkan bila kualitas
pelayanan klinis juga meningkat. Kalau
kualitas pelayanan kinas meningkat, maka
pengalaman dan kepuasan pasien
meningkat. Sehingga memang kami sangat
peduli rumah sakit besar dari kritik
sehingga kami sangat menerima kritik dan
saran untuk perbaikan ke depan. Nah,
yang paling penting adalah inovasi dan
teknologi. Saat ini digitalisasi sesuatu
yang tidak bisa kita hindari dan untuk
bersandar internasional harus memiliki
inovasi dan teknologi yang baik. Di
Sutomo ada inovasi medis. Kami selalu
terus-menerus melakukan inovasi dan
inovasi itu dilakukan oleh sumber daya
manusia yang profesional sehingga
memiliki tim yang terdiri dari
keseluruhan yang untuk terus-menerus
berinovasi untuk Sutomo tangguh tumbuh
dan terus melaju serta lebih baik.
Inovasi di Sutomo diawali atau
di-support atau dikompori gitu ya oleh
digitalisasi dan efisiensi dari
kemandirian IT yang alhamdulillah sudah
menjadi tonggak sejarah untuk kami 1
Januari 2023.
Sutomo tugasnya melaksanakan upaya
kesehatan dengan upaya peningkatan,
pencegahan, dan penyelenggaraan upaya
rujukan serta penyelenggaraan
pendidikan, pelatihan, penelitian,
pengembangan kesehatan dan digitalisasi
mandiri ini ee sudah dibuktikan untuk
pengelolaan data yang benar dan
alhamdulillah kami mendapatkan juara
satu untuk satu data tahun kemarin dan
tahun ini. Dan kami menjalankan sistem
informasi enterprise utama untuk
transparansi dan akuntabilitas atau
siesta. Tidak hanya terkait layanan tapi
juga pendidikan, penelitian,
pengembangan, dan pengadaan mulai dari
perencanaan brief sampai vendor
management system. Pengadaannya ada
UPPTSA unit pengadaan satu atap sampai
pembayaran dengan DGP. Kemudian juga
yang lain-lain tentang umum operasional,
tentang ee IT dan seterusnya. Kemudian
Aksata. Aksatnya dari bahasa Sanskrit
artinya adalah keberlanjutan tadi,
sustainability eh medical record secara
mandiri sudah kami lakukan juga. Dan
untuk pengamanan data telah
terserifikasi ISO 270012022.
Dalam semua slide hampir ada innovating
efficiencies dan regulating
dependencies. Harus harus efisien.
Gimana caranya efisien? Harus
berinovasi. Dan kami adalah Rumah Sakit
Umum Daerah milik PEMPR Jatim. Matur
nuwun untuk dukungan Pempr Jatim yang
luar biasa. mau enggak mau pasti
tergantung pada PMPing. Tapi kami
berusaha untuk meregulasi ketergantungan
itu sehingga ada roadmap untuk menuju
kemandirian.
Persiapan IT mandiri ini merupakan
sesuatu yang panjang dan berliku-liku.
Akhirnya happy ending digitalisasi
mandiri 2023. Jadi untuk Bapak Ibu
mungkin ee para pengelola rumah sakit
yang belum IT mandiri ee harus
bersemangat karena dengan IT mandiri
kita bisa melakukan apa yang kita mau
dan inovasi juga bisa ee berjalan dengan
cepat dan ee tumbuh terus untuk layanan
yang lebih baik. Transformasi IT mandiri
tadi sudah ada pada slide sebelumnya,
tapi yang penting ini efisiensinya
langsung kelihatan ya. Tadinya hampir 20
M 1 tahun sekitar 15 kadang-kadang 16
dan seterusnya. Pada saat COVID pun
masih 15 ya. Kemudian 2023 sekitar 9
karena kami harus mencukupi sarpras dan
saat ini untuk 2025 ada ee 5 miliar ya
sampai pada bulan Oktober. Dan ini sudah
bisa kelihatan bahwa efisiensi itu ee
sangatlah em terbantu ya. Dan kita bisa
mengalihkan dana ini untuk dana
operasional layanan publik yang lain.
Before after-nya sebelum
aplikasi-aplikasi 2 setelah 65 sebelum
28 server setelah 53. Data pihak ketiga
validitasnya rendah kemudian sekarang
validitasnya tinggi mencakup
confidentiality integrity dan
availability. integrasi. Awalnya sulit
untuk integrasi dan saat ini sudah
berintegrasi dengan berbagai macam
stakeholder. Sekali lagi IT Mandiri ini
menjadi penopang inovasi yang terjadi di
Sutomo. Ini adalah interconnected
innovation ekosistem kami yang
disederhanakan
dan tagline-nya adalah one innovation
open up another innovation. Satu inovasi
membuka inovasi yang lainnya. satu
inovasi yang berhasil tidak hanya
dilanjutkan dan direplikasi, tapi juga
menjadi masalah berikutnya dan
diselesaikan itu akan bergulir terus.
Command Center sebagai command center
sebagai eh back office dan front office
merupakan pusat pengendali.
Alhamdulillah didukung kerja sama
pengembangan big data oleh Diskominfo
dan jugaembang pengembangan AI oleh ITS
dan ee tentu saja layanan medik
merupakan yang utama dengan rekam medis
elektronik Aksata. Tata tapnya adalah
turn around time antar titik pelayanan
di IGD, bagaimana mempercepat jalur
pelayanan, kemudian jadwal dinas digital
dari eh kawan-kawan dari keperawatan,
PEx ini Pek sistem untuk radiologi. Jadi
kita menggunakan tidak lagi menggunakan
kertas ataupun film, CCTV, LIS untuk
laboratorium pendaftaran online
mempercepat layanan ambulans layanan eh
anjungan pendaftaran mandiri, BE
monitoring sikompass untuk operasi S
klaim untuk klaim PPJS didukung oleh
tadi yang saya sampaikan brief untuk
perencanaan kemudian vendor management
system sampai di GP dan juga ada ini JP
ya kemudian ada manajemen aset Nutriart
untuk kawan-kawan dari gizi sandi
sampaikan keuanmu di sini dan survei
kepuasan masyarakat menjadi tolok ukur
bagaimana kita sudah melayani dengan
baik dan kelitbangan ada elektronik KPK
monitoring evaluasi riset si cerdas
untuk training center global research
site dan health technology assessment
manajemen sumber daya manusia karena
inovasi tadi eh interconnected
innovating ecosystem dijalankan oleh
SDM. Nah, sekarang bagaimana manajemen
SDM bisa dilakukan dengan baik? Bapak,
Ibu sekalian, kalau kita bicara ruang
lingkup dalam sebuah organisasi ada
people, ada structure. Untuk people
membutuhkan transformasi kultur untuk
menjadi lebih baik ya dengan
organizational culture. Eh, dan untuk
structure kita membutuhkan transformasi
bisnis. People diperlukan untuk high
commitment untuk mengeksekusi service
quality. Sementara structure diperlukan
on the high performance untuk juga
service quality. Kita lihat bahwa di
sini kami mengadakan em
inovasi ning mululan budaya et profi,
peningkatan mutu layanan, pembangunan
budaya et profi, nilai-nilai budaya kami
etika, integritas, profesional, dan
inovatif. Jadi kami melakukan
inovasi kawan-kawan SDM apresiasi ATB
agen transformasi budaya yang awalnya
dari del instalasi pada tahun 2024
kemudian 2025 8 instalasi sedang on the
way proses dan pada saat kami melakukan
ee inovasi agen transformasi budaya itu
ada jangka pendek pretest kemudian
dilakukan klinik budaya dan gemba
direksi jadi kami turun ke bawah dan
dilakukan monitoring tengah untuk jangka
pendek dan Kemudian untuk jangka
menengah monitoring jangka panjang dan
untuk monitoring akhir dan akhirnya
dilakukan apprisal. Dan pada agen
transformasi budaya di 8 instalasi 2024,
8 di 2025 sisanya 8 di 2026, semua agen
transformasi budaya diminta harus aware
pada sekeliling, konscern pada
masalah-masalah dan di list mana masalah
yang paling mendesak untuk diselesaikan
dan kawan-kawan membuktikan bahwa
inovasi tidak selalu butuh biaya dan
tidak selalu butuh penambahan SDM. Nanti
akan kita bahas di belakang. Selain itu
kalau ini tadi tentang transformasi
budaya people, maka kami juga melakukan
transformasi bisnis untuk structure
yaitu SKEDU terintegrasi sistem
kepegawaian terpadu dengan inovasi nada
G yaitu penataan data SKEDU terintegrasi
bagaimana mulai dilakukan betting dan ee
kebutuhan analis kebutuhan karyawan atau
kinerja. Kemudian setelah ada karyawan
baru dilakukan manajemen talenta,
kemudian dimonitor dari Siesta dan juga
balance scorecard. ada Fanara untuk
absensi yang fleksibel dan akhirnya kami
memiliki eh Nine BX untuk penilaian dan
ini merupakan lanjutan atau rangkaian
dari em proses bahwa SDM di Sutomo ini
dilakukan penilaian dengan benar untuk
manajemen talenta dan penataan karir
untuk ATB batch 2 dan sudah jalan dan
batch 3 akan berjalan tahun depan.
Ini adalah SK direktur tentang tim
penataan SDM tadi yang structure dan
agen transformasi budaya untuk people.
Ruang lingkup ATB. Kenapa kita memilih
delapan pertama ini? Karena jantungnya
Sutomo ya. Ee gerak Amerta dan SOC ini
merupakan defen center dan asuransi non
BPJS yang merupakan jet pangan untuk
Sutomo meng-cover dari keterbatasan dari
BPJS. Kemudian PPJT, IGD yang enggak
pernah tidur, GDPT yang selalu juga gak
pernah tidur untuk melakukan diagnostik,
Onco Center kami merupakan eh pusat ONCO
yang terbaik di Indonesia. Rawat jalan
yang sehari 3.000 pasien. Dialisis juga
ee terbaik, terbanyak ya. Dan ee rawat
inap anak ini yang paling ruet
sebenarnya ya. Kemudian sudah berhasil
dengan baik dan kali ini batch 2 sedang
ber langsung.
Pros jalanan ATB agen transformasi
budaya. Kami membuat buku kurikulum dan
modul dan melakukan sosialisasi pada
seluruh civitas hospitalia dan mulai
berfokus pada delapan instalasi pertama
dengan Ning Mulan Nudaya ETRI,
peningkatan mutu layanan pembangunan
budaya ETPI. Dan di sini ada Rio Waida.
Ini merupakan inspirator kami. Eh,
seorang peselancar yang sudah masuk ke
Olimpik, peselancar nasional yang
awalnya takut air, enggak berani laut
ternyata bisa jadi peselancar. Maka tak
ada kata menyerah dengan era fuka di
mana volatility semuanya berubah dengan
cepat. Uncertainty, GJ, complexity
semuanya bulat dan ambiguity. bingungi
kita harus melawan dengan fuka yang baik
yaitu vision, punya visi, understand,
berusaha memahami semua eh kehirup
pikuan yang terjadi, perubahan-perubahan
yang demikian cepat terjadi dan clarity
membuat lebih jelas dan agile harus
mampu beradaptasi dilakukan mini loka
karya ATB, kenapa sih perlu ada kegiatan
agen transformasi budaya dan seterusnya.
Terima kasih untuk para senior, Dr. Agus
Ali Faisi untuk menyampaikan tentang
service of happiness yang ee disampaikan
terus-menerus pada teman-teman dan
bagaimana cara bersyukur juga para
senior yang lain termasuk potret
pengaduan layanan publik di Dr. Sutomo.
Dan ini adalah ee agen transformasi
budaya proses yang kami lakukan dan
alhamdulillah kami sudah dibimbing oleh
Pak Jonan tiga kali datang ke Sutomo
untuk bagaimana membangun ee kultur
transformasi budaya dan
mohon maaf dan ee di sini ada
pendampingan klinik budaya yang kami
lakukan dan kemba work. Jadi ini adalah
em ATB yang kami lakukan pada dan
ternyata klinik budaya ini laku keras ya
ee setiap hari ada yang ee untuk
bertanya dan berdiskusi sehingga kami
sangat mengapresiasi seluruh Civitas
Hospitalia Sutomo. Monitoringnya
bagaimana? kami melakukan monitoring
dengan balance scorecard mulai pros
bisnis internal kemudian ee
pengembangannya dan aspek finansial dan
juga aspek dari ee bagaimana kepuasan
stakeholder. Tentu yang yang bagus
adalah segi apa belah ketupat ya. Tetapi
sekali lagi Bapak Ibu sekalian, kita
tentu tak mungkin sempurna jauh dari
sempurna. Merah enggak apa-apa tetapi
yang penting kita berusaha untuk
memperbaiki before dan after program itu
untuk menjadi lebih baik. sehingga kami
melakukan eh dashboard balance scorecard
dari program ATP dan m-feedbackkan
kepada instalasi-instalasi tersebut.
Selain itu, kami juga melakukan survei
tingkat pemahaman terhadap budaya
organisasi dan survei behavioral yang
dilakukan monitoring evaluasi lapangan
di lokasi secara diam-diam tersembunyi
eh mistery gas dan juga langsung
dilakukan oleh para pasien dan before
and after ATB performanya membaik dan
ATB tersebut tidak hanya dokter tetapi
juga perawat cleaning service kemudian
ptip eh customer service dan seterusnya
dari berbagai Em instalasi tersebut ini
menjadi cikal bakal juga terjadinya
inovasi di Sutomo Interconnected
Innovation Ecosistem 1 IT Mandiri 2 ATB.
Sebenarnya kenapa sih kok ATB itu harus
dilakukan? Karena kami menyadari dari
survei lima survei yang dilakukan belum
terimplementasinya nilai budaya
organisasi. Eti profi semua hafal etika
integritas profesional inovatif tapi
implementasinya belum dengan baik.
Kemudian belum terintegrasinya penataan
SDM dalam SKEDU. Jadi tadi yang ada
ruang lingkup ya, people-nya, budayanya,
kemudian strukturnya, dan belum
dilakukan pemantauan mutu pelayanan
kurang adekuat sehingga tren peningkatan
kualitas keluhan publik meningkat. Apa
sekarang enggak ada keluhan banyak
tetapi semakin berkurang dan bintang
lianya tambah banyak, bintang satunya
tambah sedikit. Tentu sekali lagi jauh
dari sempurna. Oleh karena itu, kami
melakukan pelatihan ATB dengan empati
sensitif dengan tujuan peningkatan
kinerja layanan di instalasi ATB.
Kemudian selain budaya ee pembangunan
budaya ETI profit tadi juga penataan
sikedu terintegrasi dan MONEV untuk
peningkatan mutu layanan. Kesemuanya ini
menunjukkan atau mengarahkan kita bahwa
mau enggak mau suka enggak suka kita
harus melakukan perubahan. Dengan cara
apa? dengan cara membentuk agen
transformasi budaya dan setelah
dilakukan maka terjadi mutu layanan yang
meningkat waktu pelayanan rawat jalan
juga meningkat visi DPJ dokter spesialis
juga meningkat ini tidak simsalabin
teman-teman semuanya dilakukan dengan
inovasi-inovasi dari kawan-kawan yang
ada pada instalasi dan perubahan tren
keluhan publik miskunikasi dan pelayanan
lama juga berkurang dan perbandingan
keluhan publik pada instalasi yang sudah
dapat ATP sama unit yang lain yang belum
dapat ATB itu juga berbeda. Sehingga
kami yakin bahwa ini penting untuk
dilakukan. Dan untuk ATB alhamdulillah
pada saat Persi yang lalu kami
mendapatkan juara satu dalam kategori
manajemen dan leadership untuk agen
transformasi budaya di Sutomo. Sist
informasi dikrit SDM ini memang S karena
ini adalah Sutomo gitu ya, merupakan
gabungan antara
pendidikan, keesd-an dan juga pelatih ee
penelitian. Dan ini portal KSM ini
menjadi ujungnya semua aspek baik aspek
pelayanan kemudian aspek pendidikan
maupun aspek penelitian dan aspek ke
SDM-an masuk dalam portal KSM yang bisa
dilakukan feedback pada KSM
masing-masing. Dan alhamdulillah untuk
kediklatan dan keSDM-an penelitian dan
SDM ini kami juga sudah bisa terkonnect
dengan cyber kampus UNER, rumah sakit
jejaring simaster BKD dan Kementerian
Kesehatan tentu saja sebagai stakeholder
dari Sutomo.
Gambaran ini sebenarnya merupakan
bentuk inovasi-inovasi yang dilakukan di
Direktorat Pendidikan Profesi Penelitian
dan SDM menjadi penting pada konteks ini
karena keSesDM-an. Yang bikin inovasi
adalah SDM dan ini untuk SDM juga. Yang
berikutnya komponen dari perencanaan
pegawai. Ini penting untuk mencapai
tujuan organisasi harus selaras dengan
tujuan organisasi. analisis ketersediaan
SDM, peramalan kebutuhan pegawai atau
RBUT, identifikasi kesenjangan, sehingga
kita bisa melakukan dengan tepat kapan
kita membutuhkan penambahan pegawai dan
pengembangan strategi untuk rekrutmen,
pengembangan kapasitas kalau sudah masuk
tadi di lampunya itu dan dilakukan
mutasi dan promosi. Tentu terkait dengan
perencanaan anggaran untuk dialokasikan.
Yang terakhir adalah evaluasi dan
pemantauan untuk melakukan
strategi-strategi yang lebih baik.
Gambar ini menunjukkan gambar yang dua
slide sebelumnya tadi. Bagaimana tadi
bola lampu tadi begitu kita membutuhkan
SDM dan masuk SDM ini dalam bola lampu,
maka mulai dilakukan manajemen talenta
dan penataan karir. Di sini dilakukan
pendidikan dan pelatihan untuk
meningkatkan mutu dari SDM dengan cara
apa? pendidikan profesi, fellowship,
doktorship, dan lain-lain. Dan di Siesta
yang merupakan backbund dari Sutomo,
Sistem Informasi Enterprise Sutomo untuk
transparansi dan akuntabilitas. Aksata
adalah E-Medical Record, ada HTA,
E-Metev, KEPK online. Dan pada
portal KSM ada tiga komponen penting,
koordinator pendidikan dan pelatihan,
koordinator pelayanan, koordinator
penelitian dan pengembangan serta mutu
ini ada monitoring riset. Semua ini
menjadi data-data yang dimasukkan di
sini untuk data pelayanan, pendidikan,
penelitian, dan manajerial yang
dilakukan evaluasi terus-menerus. Terima
kasih untuk kawan-kawan dari Biro
Organisasi dan Biro BKD BKD yang telah
mengoptimalkan men-support Van Fanara
presensi yang fleksibel untuk Civitas
Hospitalia Sutomo. Dan setelah itu ini
akan digunakan untuk menentukan komponen
potensi dan komponen kinerja untuk NebX
pegawai di Sutomo.
Ini sebuah contoh nadag penataan sistem
kepakaian terpadu dengan aplikasi portal
KSM yang kami miliki dengan analisis
beban kinerja bas setting-nya bagaimana
dan pemetaan jabatannya bagaimana.
Aksata adalah e-medical record kami dan
data-data ini nanti akan masuk pada
rencana kebutuhan SDMK dan rekrutmen
SDMK sesuai dengan kebutuhan pemenuhan
kompetensi rumah sakit yang tadi juga
sempat disinggung oleh Bapak Bambang.
Kemudian yang berikutnya adalah penataan
karir. Terima kasih Bijing BKD untuk
jabatan dan angka kredit ini memudahkan
kami untuk memonitor dari ESR BKD.
Kemudian detail angka kredit. Sekarang
semua juga sudah bisa melihat berapa
angka kredit saya, kapan saya waktunya
naik pangkat dan seterusnya bisa
dilakukan mandiri.
tadi yang pertama tentang interconnected
innovation ecosystem diawali dengan IT
yang mandiri kemudian penataan SDM dan
pembangunan budaya dan hasil dari IT
mandiri dan penataan pembangunan budaya
dan penataan ee SDM maka kami melakukan
berbagai inovasi yang akan disampaikan
ke belakang. Yang pertama adalah
konsolidasi pengadaan farmasi.
Dengan adanya IT mandiri, maka kami
menjadi siap untuk integrasi data
presisi yang real time sehingga kami
mencoba menggagas konsolidasi dengan
rumah sakit vertikal dengan skala
nasional menjadi kesulitan tersendiri
karena Sutomo adalah rumah sakit umum
daerah dan rumah sakit vertikal itu
adalah tegak lurus di Kemenkes. Tentu
saja kami juga mematuhi aturan Kemenkes
tapi secara struktur kami sedikit
berbeda. Dan IT Mandiri ini memperkuat
sistem internal untuk memberanikan diri
berkolaborasi eksternal dan kombinasi
digitalisasi internal dan konsolidasi
eksternal menimbulkan efisiensi yang
menyeluruh yang akan kami bahas pada
slide berikut. Ini dasar konsolidasi.
Jadi kami melakukan konsolidasi dengan
berbagai rumah sakit umum vertikal agar
pembelian pengadaan alat-alat kedokteran
bisa ditekan dengan harga yang baik dan
dapat digunakan efisiensinya untuk
kebutuhan yang lain. Emm tidak mudah.
Ini adalah perjalanan panjang roadmap
yang kami lakukan dan tentu matur nuwun
untuk Kementerian Kesehatan yang telah
membolehkan kami untuk bergabung dengan
Rumah Sakit Umum Pusat untuk berbagai
konsolidasi.
ini adalah ee konsolidasi terkait
berbagai pihak di ee Ngurah kemudian di
RSOS juga konsolidasi juglos semar di
harapan kita RSPON kemudian di Dharmais
ya alhamdulillah semuanya bisa berjalan
dengan happy ending. Ini adalah
monitoring dan evaluasi
ini secara eh progres secara singkat.
Jadi kami melakukan konsiderasi implan
mohon maaf kurang n ortopedi kemudian
stand balon jantung obat BHMP obat dan
alkes dengan Dinkes Prof kami melakukan
bersama rumah sakit pemerintah provinsi
albumin dan BMHP dengan RCM grasiaraf
onkologi saluran cerah dengan laten.
Jadi semua ini bisa terjadi karena
inovasi yang dilakukan dari IT dari SDM
jadi sadar sendiri oh ya kita bisa
melakukan efisiensi. gimana caranya
melakukan terobosan-terobosan. Ada
masalah di sini, kemudian inovasi
terjadi dan inovasi harus berkolaborasi
dengan siapa saja.
Ini adalah konsolidasi dan efisiensi.
Kita bisa lihat di sini em efisiensinya
lumayan ya sampai 10 M untuk ee berbagai
jenis konsolidasi ini.
Kemudian yang berikutnya percepatan
penatausahaan keuangan. Selama ini
sebelum terjadi inovasi, interconnected
innovation ekosystem sering mendapatkan
keluhan eh keterlambatan pembayaran dan
juga pengadaan konsolidasi karena
ruetnya berkas-berkas dan seterusnya.
Sekali lagi karena IT mandiri dan agen
transformasi budaya serta penataan SDM
maka inovasi ini dapat dilakukan oleh
teman-teman keuangan dengan baik. Jadi
ada tiga komponen penting untuk memulai
inovasi pada alur ekosistem transaksi
pembayaran digital. yaitu
kontrak payung yang ee ada dalam
regulasi approval PPKOM, kemudian SIESTA
sistem informasi enterprise utomo untuk
transparansi dan akuntabilitas
sampai ke pihak gudang pembuatan berita
acara dan ada pembayaran lewat DGP dan
ini ada sipol. Jadi alur ini alur
konsinyasi maupun alur konsolidasi dapat
terjadi karena inovasi dari kawan-kawan
keuangan yang bekerja sama dengan
perencanaan dan evaluasi dan tentu
bekerja sama dengan kawan-kawan yang
lainnya terutama yang dan penunjang
medik.
Ini manfaat digitalisasi terhadap
otomatisasi transparansi pembayaran jasa
layanan. Dengan adanya EMR ini, EMR ya,
Electronic Medical Record ini juga
merupakan tonggak sejarah yang paling
penting. Kita bisa memiliki building
system yang real time sehingga dapat
dilakukan penarikan transaksi kinerja
layanan dari ribuan tindakan dan ribuan
poin. Dan poin tadi terintegrasi dalam
data klaim di monitor VR. Kemudian
penyampaian poin pada DPJP dan DPJTM
dokter penanggung jawab pasien melalui
WA dan kemudian ada info pembayaran.
Jadi semuanya dilaksanakan dengan
transparan. Kalau ada yang tidak
disepakati atau oh ini kok enggak benar
ini seperti harusnya dievaluasi atau
direvisi, ya silakan kita akan
berdiskusi dengan data-data yang ada.
Kemudian ini juga memanfaatkan
digitalisasi terhadap smart claim.
Bapak, Ibu sekalian, 85% pasien SUUTMO
adalah BPJS. Mau enggak mau, suka enggak
suka, kami harus ngopeni pasien BPJS.
Sehingga tahun 2024 setiap bulan saya
menarik data sendiri dari National
CESMIC Center Sutomo untuk melihat
bagaimana eh klaim kita Sutama terhadap
BPJS dan karena sudah tambah baik tahun
ini, maka tahun ini saya melakukannya 3
bulan sekali dan mungkin tahun depan
nanti 6 bulan sekali. Dan medical record
dimulai dari 2010 tapi mandiri sejak IT
1 Januari 2023. Eh, apresiasi untuk
kawan-kawan dari CASMIC Center yang
sudah mengintegrasikan coding grouping
National CaseMic Center. Ini juga sebuah
inovasi namanya S Claim ya, Sutom Claim
dan kami menjadi rujukan dari beberapa
rumah sakit dan sudah dilakukaning
recomended eh elektronik sejak September
2023. Jadi kawan-kawan ee memang tidak
bisa seperti semudah membalikkan telapak
tangan. butuh waktu. Tapi enggak
apa-apa, never give up, just do it one
by one. Dan kemudian ini juga
mensimplifikasi berkas ee dengan cara
apa? Dengan cara memonitor.
Apakah suara saya terdengar?
Cita.
ini coba
sudah masuk Prof Cita Moon maaf tadi
sempat terputus Prof Cita.
Oh ee sudah berapa slot ya kira-kira
mulai? Mohon maaf saya enggak kerasa.
Tadi sudah sampai di bagian
transformasi. Iya. Yang di bagian ini
rekam medis elektronik tadi Prof. Cita.
Oh ya. Baik. Mohon maaf enggak kerasa
kalau terlempar.
Mohon izin saya lanjutkan. Dan ee
simplifikasi berkas ini kami memiliki ee
inovasi yaitu eh champion coder.
Bagaimana melakukan pelatihan pada
champion coder yaitu DPJP atau dokter
yang memahami koder. Karena masalahnya
selama ini coder dan dokter itu sesuatu
yang sangat berbeda. Maka ada dokter
yang harus paham sama koder dan
dilakukan pelatihan kemudian sosialisasi
edukasi terus-menerus dan itu akhirnya
yang bisa meningkatkan klaim BPJS kami
dan tentu briding satu sehat. dari
Kementerian Kesehatan matur nuwun sejak
Agustus 2024.
Manfaat digitalisasi terhadap
pengelolaan klaim di Sutomo untuk
mencegah pending. Jadi pending kami
lumayan kecil ya saat ini dengan
validasi biometrik. Maturasi klaim 95%
setiap tanggal 1. Berkas klaim digital
100% dipat cepat di-upload di JKM Drive
dan breaching dengan apotek online dan
verifikator internal medis yaitu akurasi
coding sesuai dengan kaidah. Jadi eh
step-stepnya adalah penyeregaman
persepsi berkas klaim dengan verifikator
BPJS. Kemudian ini tentu membutuhkan
namanya inovasi itu tidak bisa satu kali
langsung jadi ya, perlu
perbaikan-perbaikan dan juga ada
fingerprint dan eh face recognition atau
vis yang merupakan em tonggak-tonggak
penting dalam pengelolaan klaim. Bapak,
Ibu sekalian, sebelum IT Mandiri sebelum
1 Januari 2023, kami memiliki berbagai
masalah. Berangkat klaim itu molor
setelah tanggal 10, cashflow terganggu.
Maturitas SEP [tertawa] juga rendah
kurang dari 75% sehingga banyak klaim
susulan. Kemudian security level,
security level 3-nya juga rendah. Nilai
klaim kecil. Padahal kami ini rujukan ee
tersier sehingga security-nya
mestinya tinggi tapi kami tidak rapi
dalam mengajukan klaim. Berkas tidak
lengkap sehingga risiko pendingnya
meningkat. Keempatnya ini merupakan
masalah yang diselesaikan oleh
kawan-kawan case mix ya, MED keuangan
rekam medis tentu saja dari ee bagian ee
RM instalasi rekam medis maupun komputer
rekam medis sehingga
memunculkan aplikasi Claim untuk
menyelesaikan masalah-masalah yang ada
ini. Sehingga setelah SUTM klaim tadi
yang disampaikan sebelumnya, maka kami
menjadikan berangkat klaim yang awalnya
tanggal 10 lebih menjadi tanggal 1.
Maturitas SEP yang tadinya kurang dari
75 menjadi lebih dari 95. Severity level
yang tadinya kurang dari 20 menjadi
lebih dari 30 sesuai dengan realitas.
Berkas yang tidak lengkap tadinya lebih
dari 25 menjadi kurang dari 5%. Sekali
lagi ini terjadi karena kerja hebat dari
kawan-kawan Sutomo interconnected
innovation ecosystem. semua nyambung
antara satu unit dengan unit lainnya.
Karena kalau tidak demikian tidak
mungkin ini bisa terjadi. Sutomo
memiliki kompleksitas yang cukup tinggi
dan saya sangat mengapresiasi bagaimana
kawan-kawan berinovasi tadi kuncinya dua
IT mandiri dengan SDM-nya. Berinovasi
untuk merubah mindset, berbudaya inovasi
dengan berkolaborasi.
Dengan adanya aplikasi atau inovasi es
krim tadi, maka kita bisa lihat di sini
peningkatan pengajuan klaimnya meningkat
ya, baik dari BPJS maupun non BPJS.
2025-nya ini belum selesai ya. Jadi ini
adalah proyeksinya dan saat ini sudah
melampaui yang ditulis di papan ee di
slide. Manfaat digitalisasi terhadap
transformasi. Jadi tadi selain pengadaan
bisa hemat 10 M, kemudian itu untuk ini
ya konsolidasi, kemudian juga untuk
obat-obatan saya tidak menyampaikan di
sini ee dan ini untuk penghematan biaya
kertas dan efisiensi SDM 549 ee juta per
tahun. tadi IT juga ya sudah ada
penghemalan juga 10 M dan berbagai macam
efisiensi yang sudah dilakukan sesuai
dengan tagline innovating efficiency,
regulating dependency. Dan ini saya
sangat mengapresiasi untuk eh pada
kawan-kawan Sutomo terutama ee di
seluruh unit dan instalasi karena
listrik juga penggunaannya sekarang
berkurang, air juga demikian dan
efisiensi ini memang harus menjadi
gerakan yang bersama-sama.
ee manfaat digitalisasi tadi terhadap
peran transformasi pengadaan secara
keseluruhan, mempercepat waktu siklus,
akurasi mitigasi risiko, dan ketahanan
rantai pasok. Ini yang dibutuhkan. Jadi
sebenarnya kawan-kawan, setiap kita
berinovasi yang penting adalah golnya
apa, masalahnya apa, apa yang harus kita
lakukan untuk mencapai goal tersebut dan
dilakukan monitoring dan evaluasi
terus-menerus sampai mendekati target.
Kalau tadi cerita berbagai inovasi
dimulai dari interconnecting innovation
ecosystem dari IT Mandiri, kemudian
perubahan mindset dari agen transformasi
budaya, kemudian juga perubahan penataan
dari SDM, kemudian bagaimana kawan-kawan
dari penunjang medik tentang ee
pelayanan pada ee pengadaan pada
alat-alat ee kedokteran dan juga
keuangan untuk mempercepat em proses
pembayaran, prosesnya pengadaan dan juga
tadi teman-teman untuk konsolidasi dan
lain-lain.
Maka sekarang dampak inovasinya apa sih
kalau inovasi sudah berjalan dengan
baik?
Studi kasus di Sutomo selama 8,5 tahun
terakhir. Jadi analisis eh profil Sutomo
menunjukkan program efisiensi
terintegrasi berdampak positif pada
aspek atau outcome klinis dan finansial.
Kalau kita bicara efisiensi finansial
pasti oke. Kemudian bagaimana dengan
aspek klinis? Pasti banyak yang skeptis.
Kemudian untuk itu pada setiap inovasi
harus diingat bahwa mentoring dan
coaching menjadi alat pembentuk
kepemimpinan yang kuat. Dibedakan sekali
lagi manajemen dengan leader ya. dan
kepeminan kuat di semua level tentu
tidak hanya terpatri pada direksi
mendukung implementasi program efisiensi
yang terintegrasi dan program efisiensi
terintegrasi berdampak konsisten dalam
penurunan outcome peningkatan outcome
medis yaitu em length ofstill-nya
menurun, readmisi balik kurang dari 30
harinya juga menurun dan kematian juga
menurun dan berdampak finansial dengan
penurunan biaya rawat dan defisit serta
peningkatan revenue meski
pasiennya meningkat dan makin kompleks
dan makin severe. Sehingga studi ini
membuktikan bahwa pengembangan
kompetensi leader bukan sekedar teori
agen transformasi budaya, IT mandiri,
penataan SDM dan hasil yang terukur
memberikan bukti kuat untuk rumah sakit
lain yang berminat mengadopsi pendekatan
serupa. Jadi, Bapak, Ibu sekalian kalau
kita lihat di sini ini yang per bulanan
ya. Kalau ini persemesteran yang
biru-biru ini kita lihat bahwa setelah
pada saat COVID turun pasiennya semua
COVID turun ya kemudian meningkat dan
saat ini posisi di atasnya sebelum
COVID. Demikian pula yang per semesteran
dan ee untuk pengelolaan jumlah dan
kompleksitas pasien yang terus meningkat
ini membutuhkan sistem yang tepat dengan
manajemen yang kompleks. Sutomo memiliki
sistem kompleks untuk memadukan
pelayanan medis sebagai ujung tombak
tadi disungkupnya manajemen organisasi,
teknologi informasi dan kepatuhan
regulasi dalam satu kesatuan langkah dan
tujuan.
Tren rawat inap maupun rawat jalan. Ini
rawat inap rawat jalan ya per bulan.
Nah, ini kalau per semester anu ya lebih
nyata. Dan keempat aspek ini saling
terkait. Koordinasi lintas disiplin
diperlukan untuk menjaga mutu dan
keselamatan pasien. Pasiennya naik.
Bagaimana dengan outcome klinis dan
outcome finansialnya? Outcome klinis
kita lihat kematian. Kematian menurun
baik itu ee yang bulanan maupun yang
per semesteran ya. Kemudian reakmisi
kurang dari 30 hari. Jadi kalau pasien
belum 30 hari kembali itu berarti belum
tuntas ya pasien penyakitnya. Ini juga
menurun ini ya ini yang bulanan ini yang
eh semesteran. Kemudian length of stay
atau rata-rata length of stay rata-rata
rawat inap itu juga menurun. Jadi dengan
kompleksitas tinggi, severity tinggi,
jumlah tinggi namun mortalitas menurun
kematian, readmisi balik kurang dari 30
hari menurun dan length of stay juga
menurun. Bagaimana dengan outcome
finansial? out finansialnya dengan
pasiennya naik kemudian tren biaya rawat
dan pendapatan menurut tentu gak bisa
drastis pasiennya naik kita butuh uang
dan itu ee ketangguhan chain itu yang
perlu diperhatikan oleh kawan-kawan
memang kadang-kadang uber-uberan ya
untuk supply chain karena ee
kebutuhannya tinggi dan ee prinsipnya
tidak menyisakan banyak di gudang tetapi
tidak ada yang expired dan ee layanan di
ee dicukupi. Tentu dinamikanya di
lapangan luar biasa, tetapi trennya
semakin lama semakin baik.
Tren harmoni non jasa dan berbasis
tarif. Jadi kalau ini per bulanan, ini
persemesteran ya kita bisa lihat di sini
kalau bicara tentang
unit cost. Jadi kalau misalkan di warung
tuh ada kebutuhan sembako dipasi dengan
BPJS di atasnya unit cost sehingga kita
masih survive. Namun kalau bicara dengan
tarif, jadi tambah pengembangan.
Misalkan kalau di sebuah warung gitu ya,
kedai ada apa untuk membayar ART,
membersihkan ruangan, memperbaiki lampu,
kemudian membeli meja dan seterusnya itu
kita relatif negatif. Tetapi kalau kita
di sini lihat negatifnya tambah lama
tambah dekat ya. Tetapi kalau
dibandingkan unit cost kita memang masih
positif. Untuk itu teman-teman juga
dalam rangka innovating eficiency dan
regulating dependency kami juga
melakukan e revenue dari kediklatan,
training pendidikan dan juga tentu dari
pasien-pasien yang non BPJS dan dari
kelitbangan, dari penelitian-penelitian
yang kami lakukan.
Dengan pasien yang meningkat, sivil
meningkat dan kompensity meningkat,
ternyata biaya farmasi, radiologi,
laborat, dan darah juga cenderung
menurun. trennya menurun.
Jadi ee Bapak Ibu sekalian itu tadi
adalah dampak bagaimana kendali mutu dan
kendali biaya bisa dilakukan dengan
inovasi yang dilakukan oleh kawan-kawan
Sutomo Interconnected Innovation
Ecosystem. Dampak inovasi yang lainnya,
antrian pasien sangat berkurang dengan
adanya inovasi pendaftaran online.
Tadinya mesti antri sandal dari pagi
hari, sekarang sudah ada nomor antrian
online bisa lebih ee terkendali ya, jauh
lebih baik dan ada petugas yang siap
membantu apabila tidak bisa melakukan
antrian online. Dan ini em apresiasi
untuk kawan-kawan dari pelayanan medik,
penunjang medik, dan juga IGD bisa
menurunkan pasien lebih dari 6 jam di
IGD awalnya 33% menjadi 19 dan akhirnya
menjadi 5%. di tata ront antar titik
pelayanan ini juga membuktikan bahwa
inovasi di tempat yang sangat hidup ikut
seperti IGD dengan 24 jam tidak pernah
tidur itu bisa menghasilkan sesuatu yang
ee menyenangkan atau menguntungkan untuk
kualitas pelayanan di masyarakat. Dan
dengan adanya inovasi-inovasi tersebut,
nilai IKM kami juga lambat tahun
meningkat. Demikian pula nilai Google
Review.
Yang berikutnya tadi aplikasi di IGD
untuk round ante titik pelayanan.
Alhamdulillah ee bisa mendapatkan
prestasi istimewa dari LAN. Kemudian
agen transformasi budaya juga
mendapatkan dari LAN juga untuk prestasi
istimewa. Dan keduanya mendapatkan eh
rekognisi atau award dari Persi juara 1
untuk ATB di leadership dan managemen eh
em skema. Kemudian untuk tata atau nonp
pelayanan ini mendapatkan juara satu dan
grand award hospital mendapatkan tiket
gratis untuk International Hospital
Forum di Korea tahun depan karena
mendapatkan eh prestasi istimewa di
Persi dan Pion. Jadi bagaimana prom dan
friend reporting outcome dan experience
measure pasien mau pulang scan barcode
kemudian bisa menuliskan pengalamannya
dan juga eh outcome yang dirasakan oleh
pasien. Tentu alhamdulillah secara
general baik, tapi begitu dibreakdown
per instalasi ya ada merah-merahnya gak
apa-apa. Jangan takut untuk
mengintrospeksi diri bahwa kita belum
baik yang penting adalah menjadi lebih
baik. Dan alhamdulillah untuk PR dan
Prom ini kami mendapatkan award hospital
Passion Center care award oleh KS.
Ini slide terakhir ee buah manis dari
inovasi yang dilakukan di Sutomo sejak
IT Mandiri 1 Januari 2023. Kemudian ada
agen transformasi budaya yang merubah
mindset dari kawan-kawan. Kami
mendapatkan eh Grand Hospital Pic Award
dan mendapat delan award pada Persi yang
lalu terbanyak award terbanyak dari
Rumah Sakit eh seluruh Indonesia. Dan
kami juga mendapatkan Indonesia
Healthcare Innovation Award tentang
penanganan crisis di IGD juara 1 dalam
kategori mutu layanan kesehatan BPJS
Award Seeva Paramita Award yaitu Rumah
Sakit berkomitmen juara 1 tipe A dan
yang berikutnya ini ada Hospital Passion
Center Care Award yang juga eh kami
peroleh dan ini tentu berkat kerja sama,
kerja keras dan kerja cerdas dari
kawan-kawan seluruh civitas Hospitalia
Tomo.
ini adalah tema impact innovation
yang di
Sustainability Caring of Life oleh Ibu
Gubernur pada 87 tahun Sutomo beberapa
saat yang lalu menunjukkan pohon-pohon
Inovasi yang sudah kami lakukan. Yang
pertama adalah inovasi dari Direktorat
Pelayanan Medis dan Penunjang medis.
Aksata, emedical record, pagar untuk
antibiotika, jaget untuk eh jadwal
digital dari pendidikan profesi
penelitian dan ladbang tadi juga sudah
kita saksikan dari Direktur Pancaran
Keuangan mulai B famous dan digp dan
lain-lain. Manset juga dari
umumasionalismaan
TKDE dan siesta. Dan kami juga memiliki
inovasi yang baru di launching yaitu
tentang Farmatrex 360, Simonika, Irtika
dan juga Manset 02. Kickof inovasi baru
ini baru diresmikan oleh Ibu Gubernur.
Slide terakhir peluang masa depan.
Bapak, Ibu sekalian, partisipasi aktif
ASN bisa memastikan kebijakan nasional
kesehatan tidak berhenti hanya pada
dokumen dan integritas, kompetensi,
kolaborasi menjadi fondasi pelaksanaan
kebijakan yang efektif. Inovasi
kesehatan tadi ada tiga pilar, planet,
people, dan profit harus menjadi budaya.
pembelajaran klinik dan publikasi ilmiah
serta advokasi kebijakan di kesehatan
terutama kami di rumah sakit merupakan
kontribusi yang memperkuat negara dan
perubahan sistem berawal dari perubahan
perilaku ASN di lingkungan kerja dan di
masyarakat. Ingat bahwa masa depan
kesehatan bangsa ditentukan oleh
kualitas tindakan ASN hari ini sehingga
komitmen ASN hari ini adalah persembahan
bagi generasi yang akan datang. Demikian
dari saya, semoga bermanfaat. Saya
kembalikan kepada Bapak Lukman.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
[musik]
Terima kasih Prof. Cita. Paparannya
sangat komprehensif, sangat detail. Saya
selalu takjub melihat leader yang tahu
apa yang dimau dalam organisasi yang
dipimpinnya. bagaimana cara mencapainya
dan posisinya seperti apa. Tadi kita
sudah simak dengan detail dan sangat
jelas ya, Sobat TN terkait bagaimana eh
innovation culture internalization di
RSUD Dr. Sutomo, termasuk bagaimana
culture transformation dan busisnis
transformation ini diterapkan sehingga
mencapai kinerja kesehatan yang sangat
membaik terus melakukan continuous
improvement. Sebelum itu saya juga ingin
mengundang bagi sobat TSN yang ingin
bertanya silakan bisa mengaktifkan
feature hand yang bergabung di Zoom
ataupun yang tengah menyaksikan melalui
live YouTube PPSDM Jatim TV bisa
langsung saja tulis pertanyaan melalui
kolom live chat. Eh Prof Cita menarik
sekali ee tadi saya mau tanya terkait
dengan transformasi SDM ya. Bagaimana
cara mengubah culture yang istilahnya
mindset orang-orang ini itu sudah
mengakar ya kita punya fixed mindset
seperti itu. Tadi Prof. Cita sudah
menyampaikan inisiasi-inisiasi yang
sudah dilakukan oleh RSUD Dr. Sutomo.
Tapi seringki kita sudah tahu emm apa
namanya ee materinya, teorinya gitu ya.
Selalu diadakan training, diadakan
mentoring, coaching, pembukaan ruang
diskusi supaya kebebasan berpendapat ini
ada. Mengubah orang-orang yang punya low
commitment dan juga low performance
menjadi orang-orang dengan high
commitment dan juga high performance. di
ee organisasi yang Ibu pimpin mungkin
bisa dibagikan cerita-cerita ke sobat
ASN karena ini kan seringkiali terjadi
ya ee budaya itu tidak bisa timbul
ketika ada orang-orang dalam tanda kutip
toksik yang masih belum bisa dirubah.
Kalau di ee implementasi RSUD drter
Sutomo seperti apa, Prof. Cita.
Terima kasih eh Pak Luman. Jadi
monitoring evaluasi adalah kuncinya.
Kita sering mendapatkan coaching,
mentoring, tapi kalau sudah titik ya
sudah gitu. tapi model evaluasi dan
untuk orang-orang mungkin kita enggak
bilang toksik tapi yang kurang
bersemangat gitu ya. Jadi ee pada saat
kami melakukan agen transformasi budaya
itu dibreakdown ya di preteli kalau
bahasa Jawa ya etika integritas
profesional inovatif etika itu apa aja
sih gitu ya. Ini loh etika do and
don-nya ini ini tahu semua enggak ada
apa FGD dan seterusnya itu ada beberapa
hari ya dan kita ada klinik budaya
integritas apa profesional apa ee
inovasi apa kemudian itu berlanjut terus
dan agen transformasi budaya itu adalah
orang-orang pilihan jadi memang kita
sudah lihat di instalasi tersebut wah
ini kayaknya dokternya yang ini nih yang
bisa jadi contoh karena sebuah leader
itu agen trans itu kan bukan di
manajemen ya bukan di struktur tapi
leader memimpin memimpin di instalasi
itu ada dokter yang sudah kelihatan ini
nih bisa jadi leader nih gitu. Kami
melihat ya tim ya melihat kemudian
perawatnya mana kemudian petugas
kebersihannya siapa, pamtipnya siapa em
kemudian yang front office-nya siapa dan
seterusnya. Nah, selain siapa itu
dijadikan satu dulu. Ini harta yang tak
ee ternilai. Dijadikan satu, disamakan
persepsinya benar-benar kemudian ee
diajak diskusi dan di-challenge untuk
melihat masalah. Kemudian ayo inovasinya
apa untuk menyelesaikan masalah dan
seterusnya. Tentu pada saat bergerak di
inovasi itu ada yang rendet ya. Rendet
itu bukan berarti toksik, tidak selalu
ya. Kadang-kadang malas halah wong gitu
gak gitu sama saja. Nah itu tantangannya
bagaimana para agent of change ini agen
transformasi budaya ini di anu dilakukan
anu ya apa fakta integritas kemudian
kayak pelantikan seremonial
kecil-kecilan untuk oh saya ini agen
transformasi gitu ya. Di bidang saya.
namanya agen transformasi sudah pasti
baik ya, tetapi untuk mengajak
teman-temannya menjadi jadi
leader-leader yang baik itu adalah
leader yang mampu menggerakkan tim untuk
mengikuti ke arah yang benar. itu yang
mereka ee lakukan dan kami sendiri
melakukan em outbond untuk agen
transformasi budaya itu bukan hanya
agennya saja, tapi agen plus orang-orang
yang kira-kira paling ee masih
ygga-yonga atau masih agak sulit untuk
ee diajak bergabung itu malah kami ajak
untuk outbound dibaurkan dengan
semuanya. Ya, awalnya memang ada yang
bilang, "Loh itu kan biasanya malas
sering bolosan kok malah diajak." Ya,
kita enggak usah ngomong ya. pokoknya
ini diajak ini membaur, kemudian setelah
itu pulang dari outbond ee menjadi lebih
baik, lebih bersemangat. Jadi ee untuk
teman-teman yang kurang bersemangat itu
mungkin belum memahami sepenuhnya, perlu
pendekatan dan perlu dichallenge, perlu
diberi kesempatan. Karena saya ingat
nasihat ayah saya, setiap orang baik
punya masa lalu. Jadi kita gak usah
menghakimi dan orang yang kurang baik
punya masa depan untuk jadi lebih baik.
Jadi kita positive thinking saja.
Mungkin itu salah satu caranya. tentu
tidak semudah membalikkan telapak tangan
dan saya sangat mengapresiasi seluruh
tim ATB, tim coaching dan mentoring
karena itu semua dilakukan bersamaan
tidak bisa dilipas seperti pisahkan
antara coach dan mentor dan tentu tim
ATB, tim dari ke-an semua dan tim
seluruh civitas Hospitalia yang ikut
bergerak bersama-sama. Demikian Mas
Tukman.
Baik, terima kasih Prof Cita untuk
jawabannya. Sangat menarik sekali. Mohon
maaf tadi saya baru saja direminder oleh
panitia bahwasanya kita memiliki
keterbatasan waktu. Prof. Mohon izin
sebelum diakhiri materi di siang hari
ini. Barangkali dari Prof. Cita ada
closing statement yang ingin disampaikan
bagi Sobat ASN yang masih menyaksikan
acara kali ini. Silakan Prof. Cita.
Terima kasih Sobat ASN. Jadi seperti
tadi saya sampaikan bahwa ayo mari kita
bergerak bersama-sama karena ASN bukan
hanya menjalankan program tapi kita
menjadi leader di sektor kita
masing-masing dan ee tentu RS dr. Omo.
Sangat terima kasih kepada seluruh
support yang diberikan oleh Ibu Gubernur
dan seluruh jajaran PEMPR Jawa Timur
karena RC Dr. Sutomo bisa tumbuh tangguh
tumbuh dan terus melaju berkat support
dari eh Pemprov Jatim dan seluruh
stakeholder dan juga SITES Hospitalia
Dr. Sutomo. Dan terakhir never give up
just do it one by one. Tetap semangat
Prof. Cita terima kasih sekali lagi.
Salam sehat selalu Prof Cita. Sukses
selalu untuk RSUD Dr. Sutomo. Kita
bertemu lagi di event-event selanjutnya.
Sampai bertemu lagi, Prof Cita.
Terima kasih. Saya izin live. Matur
nuwun. Terima kasih kembali Prof Cita.
Baik Bapak, Ibu, Sobat ASN. Kita masih
ada satu narasumber lagi. Jadi jangan ke
mana-mana. Tetap di webinar ASN Belajar
seri 44 tahun 2025.
[musik]
Anda kembali lagi menyaksikan webinar
ASN Belajar seri 44. Di materi terakhir
kali ini kita akan mengundang Prof.
Ratna Dwi Wulandari selaku Dekan
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Erlangga.
[musik]
Selamat siang, Prof. Ratna. Kabar baik
telah bergabung bersama dengan kami
semua di sini Prof. Ratna Dwi Wulandari
selaku Dekan Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Erlangga
Surabaya. Siang, Prof.
Selamat siang.
Kabar baik, Prof. Ratna.
Alhamdulillah baik.
Baik, Prof. Ratna. Kali ini kita akan
jelas ya, Pak Lutman ya.
Jelas. Jelas sekali Prof. Ratna.
Alhamdulillah.
Baik, Prof. Ratna izin kami mulai. Kali
ini kita akan dengarkan materi terkait
dengan kesadaran ASN, kesehatan tanggung
jawab bersama. Punten mohon izin
menginformasikan untuk penyampaian
materi kurang lebih selama 30 menit,
Prof. Nanti kita akan masuk ke sesi
diskusi. Silakan, Prof. Ratna.
Iya.
Siap. Terima kasih.
Baik. Ee bismillahirrahmanirrahim.
Selamat siang. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Ee pertama-tama kami sampaikan terima
kasih kepada BPSDM Provinsi Jawa Timur
yang telah memberikan kesempatan kepada
saya untuk bergabung di dalam ee webinar
series yang menurut saya ini adalah
forum yang sangat luar biasa gitu ya.
mempertemukan ee ASN di Jawa Timur dari
berbagai bidang untuk bersama-sama
membahas suatu isu yang pastinya isu ini
sangat menarik untuk kita ee cermati
secara bersama-sama. Terima kasih kepada
Bapak Ramli, kemudian kepada narasumber
sebelumnya ada ee Bambang dan Prof.
Cita. Oke. Ee Bapak Ibu sekalian untuk
tema yang akan kami bawakan pada ee
siang hari ini ini adalah tentang
bagaimana menumbuhkan kesadaran
ASN ya, Aparatur sipil negara. dalam hal
ini mengenai bagaimana kita membangun
tanggung jawab bersama melalui
kolaborasi lintas sektor demi masyarakat
yang sehat dan sejahtera. Ee pada waktu
saya mendapatkan tema ini, saya sangat
ee senang gitu ya. Kenapa? Karena saya
di FKM ya, Fakultas Kesehatan Masyarakat
itu ee membidangi sebuah ranting ilmu
yang membahas mengenai titik beratnya
adalah upaya pengendalian kesehatan
melalui titik beratnya adalah promotif
dan preventif ya. Ee berbeda dengan
Prof. Cita yang berasal dari rumah sakit
ya. Ketika di rumah sakit itu orang
sudah dalam kondisi sakit. Nah, ketika
orang sudah sakit, bagaimana dia nanti
akan bisa ee sembuh, maka rumah sakit
berperan besar di sana. Tetapi kami dari
Fakultas Kesehatan Masyarakat
ini tugas utama kami adalah menjaga
bagaimana orang-orang yang sehat itu
tidak menjadi sakit. Bagaimana kita
mencegah orang supaya tidak menjadi
sakit. Nah, jadi itu yang menjadi hal
yang menurut saya sangat membahagiakan.
Kenapa? Karena ketika kita para ASN ini
nantinya sudah paham betul dengan ee
kegiatan-kegiatan
ee bagaimana menjaga supaya kita tetap
sehat, maka ini sebenarnya adalah upaya
yang sangat strategis untuk mendorong
produktivitas masyarakat, bangsa, dan
negara pada umumnya. Next slide.
Oke. Ee tagline yang diusung oleh BPSDM
juga sangat bagus di sini ya. Sehat
untuk semua, berdaya untuk sesama. Nah,
memang sehat itu adalah hak asasi
manusia, ya. Jadi, semua orang berhak
untuk sehat dan kalau kita tidak sehat,
kita enggak akan bisa berdaya, kita
enggak akan bisa apa-apa. Maka ketika
kita sehat, kita akan bisa berdaya untuk
sesama yang artinya menjadikan kita
sebagai manusia yang bermanfaat, ya. Dan
sebagaimana kita sering dengar begitu
ya, bahwa sebaik-baik manusia itu adalah
manusia yang bisa memberikan manfaat
bagi sesamanya.
Topik ini sangat relevan dengan ee arah
transformasi kesehatan Indonesia yang
mana ada sebuah cita-cita mulia yaitu
menuju ke Indonesia Emas 2045.
Next slide.
Oke, saya akan mengulik dulu mengenai
apa sih Indonesia Emas 2045 ini ya. Jadi
Indonesia Emas 2045 itu artinya setahun
pasca kemerdekaan begitu ya. Ini adalah
sebuah visi kita punya cita-cita
Indonesia akan menjadi negara maju pada
waktu itu. Adil, makmur, berdaulat. ya.
Dan 2045 itu sudah enggak lama lagi.
Sekarang sudah 2025. Artinya kita hanya
punya waktu 20 tahun untuk menuju ke
sana. Ya, visi ini mencakup peningkatan
kesejahteraan rakyat, peningkatan
kualitas sumber daya manusia yang
unggul, serta menjadi salah satu
kekuatan ekonomi terbesar dunia. Ini
kondisi yang sangat ideal dan kita pasti
saya yakin semua orang Indonesia ini
terutama ASN pasti sangat sangat setuju
dengan cita-cita ini ya. Nah, yang perlu
kita garis bawahi bahwa peningkatan
kualitas SDM di dalam generasi emas 2045
ini diharapkan akan menjadi generasi
yang pintar, kreatif, sehat, dan
berkarakter kuat dengan kompetensi dan
kualitas hidup yang tinggi. Nah, untuk
bisa mewujudkan
ini pintar, kreatif, sehat, karakter
kuat, ini banyak hal yang harus kita
lakukan ya.
sektor pendidikan berperan, agama
berperan, dan sektor-sektor lain dan
salah satunya adalah kesehatan itu
sendiri. Ya, next slide.
Oke, saya akan mengawali kajian ini
dengan menunjukkan bagaimana pergeseran
piramida penduduk Indonesia. Ini saya
mengambil gambar piramida penduduk
Indonesia dari tahun 2010,
2020 dan prediksinya untuk 2045.
Ya, kalau kita lihat dari bentuknya
ini terlihat
ada perubahan ya.
bawah lebar atas menyempit. 2020 mulai
agak menggembung di tengah. Yang di atas
mulai sedikit melebar.
2045 melebar terus sampai ke atas ya.
Nah, inilah Bapak Ibu ya. Ee kalau
Bapak, Ibu pernah mendengar sebutan atau
istilah bonus demografi begitu ya. Jadi
kita sudah sering mendengar kata bonus
demografi akan didapatkan Indonesia di
tahun 2030-2035.
Kenapa kok disebut bonusografi? Oke,
kita lihat ee angkatan kerja, usia
angkatan kerja ya. Di 2020 ini usia
angkatan kerja atau usia penduduk
produktif itu dominan. Apalagi di 2045
ya, sangat dominan usia angkatan kerja
itu. Di sini besarannya itu paling besar
di antara kelompok usia yang lain. Nah,
dengan asumsi seluruh kelompok usia
angkatan kerja pada tahun 2030 sampai
dengan 2045 ini berada dalam kondisi
kesehatan yang maksimal, maka dia akan
bisa produktif. Ya, artinya
perbandingan antara penduduk yang tidak
produktif dibanding yang produktif itu
lebih banyak penduduk produktifnya
sehingga produktivitas kita akan
meningkat berkali-kali lipat. Nah, itu
berbeda dengan piramida penduduk yang di
awal-awal periode di tahun 2010 dan
sebelumnya itu persentase penduduk usia
produktifnya sedikit.
Nah, tetapi yang perlu kita cermati
Bapak Ibu, apakah benar bahwa 2030, 2035
sampai dengan 2045 Indonesia ini akan
benar-benar berada pada bonus demografi.
Artinya produktivitas kita meningkat
berkali-kali lipat karena semua penduduk
usia produktif itu produktif. Ternyata
tidak sesederhana itu untuk kita bisa
mencapai bonus demografi tersebut. Oke,
next slide
ya. Oke,
grafik berikut ini menunjukkan mengenai
pergerakan usia harapan hidup kita, ya.
Jadi, dari situ terlihat usia harapan
hidup kita terus meningkat. Tentunya ini
sebuah kondisi yang sangat positif ya,
sangat membanggakan bagi kita. Meskipun
kalau kita bandingkan dengan beberapa
negara maju, kita masih di bawah di
bawah mereka, tapi tren positif ya. Ini
ini adalah sebuah prestasi begitu ya. ee
makin lama usia penduduk Indonesia makin
panjang. Nah, tetapi kita kembali lagi
kita tidak boleh
langsung berbahagia melihat data ini.
Kenapa? Mari kita lihat data di
sebelahnya ya. Data di sebelahnya
menunjukkan ee bahwa
pergerakan kasus-kasus penyakit itu
ternyata sudah banyak berubah ya. Kalau
kita melihat 10 penyakit penyebab
kematian tertinggi, kalau kita mengikuti
dari katakanlah 10 tahun terakhir itu
perubahannya sudah sangat besar begitu
ya. Ee pada era-era saat ini maka
penyakit yang berkontribusi terhadap ee
terjadinya kematian itu sudah mulai
bergeser ke arah penyakit-penyakit yang
itu merupakan penyakit akibat gaya hidup
ya. penyakit akibat gaya hidup. Kalau ee
kita lihat di sini misalkan di situ yang
tertinggi ya, yang tertinggi itu adalah
kematian karena
ee jantung, stroke. Nah,
diabetes melitus. Nah, itu tiga
tertingginya adalah penyakit-penyakit
akibat gaya hidup.
Yang ketiga memang masih penyakit
konvensional, penyakit tibi. Nah, ini
juga PR kita. TB itu sejak Indonesia
belum merdeka sudah ada banyak jumlahnya
sampai ee
sekian tahun Indonesia merdeka itu masih
80 tahun Indonesia merdeka TIB masih
banyak di Indonesia. Padahal di beberapa
negara maju tibi itu sudah tinggal
sejarah gitu ya. Tapi di beberapa negara
berpenduduk padat seperti Indiaah itu
memang masih menjadi PR besar. Nah ini
kondisi kita gitu ya. Sementara kita
tahu gitu ya ee penyakit jantung,
stroke, DM itu banyak terjadi pada
orang-orang usia tua. Nah, dan sekarang
yang lebih mengkhawatirkan lagi
pergeseran usianya itu sudah semakin
muda. Jadi, kalau dulu mungkin 40 tahun
ke atas itu baru banyak yang sakit.
Sekarang ee statistik menunjukkan di
bawah 40 itu sudah banyak. Bahkan ada
hipertensi dan DM pada usia muda, usia
remaja itu juga sudah ada. Nah, ini
adalah sinyal yang harus kita
perhatikan. Kenapa? Karena artinya
generasi usia produktif yang nanti
diharapkan akan bisa memberikan
produktivitas yang tinggi di tahun 2030,
2035 sampai dengan 2045 nanti itu kalau
tidak kita jaga dari awal maka
mereka-mereka ini akan memasuki
usia-usia produktif 30 ke atas, 40 ke
atas itu dalam kondisi tidak sehat.
Karena grafik usia ee
yang mengalami gangguan-gangguan
penyakit metabolik itu semakin turun,
semakin mudah, semakin mudah. Nah,
sementara ketika orang itu sudah
mengalami penyakit degeneratif, penyakit
metabolik, misalkan stroke contohnya ya,
seseorang ketika sudah ee mengalami
stroke misalkan, maka untuk dia bisa
sembuh seperti sediakala
bisa, tapi enggak 100%. Nah, ini pasti
akan menurunkan produktivitas.
Nah, itulah kenapa meskipun kita sangat
berharap ada bonus demografi, ada
Indonesia emas, tapi ada sinyal kuat
yang harus kita waspadai bahwa bonus
demografi dan Indonesia emas ini belum
tentu akan kita dapatkan.
Kenapa? Ya, dia tidak akan kita dapatkan
kalau generasi-generasi yang memasuki
usia produktif pada tahun itu tidak
berada dalam kondisi sehat atau berada
dalam kondisi sakit. Nah, ini trennya
sudah ke arah sana. Tren kita itu sudah
seperti itu. Sehingga ini harus
betul-betul kita waspadai, ya. Oke, next
slide.
Nah, ini kalau tadi gambaran penyakit
metabolik ini penyakit tuberkulosis ya.
kita kalau menurut statistik dunia,
jumlah penderita hipertensi eh maaf
tuberkulosis di Indonesia ini nomor dua
terbesar di dunia setelah India.
Ee tapi saya gak tahu kalau misalkan
pencatatannya betul begitu ya,
screening-nya betul, penemuannya
intensif, jangan-jangan kita malah nomor
satu gitu ya. Sekarang ini kita tahu
bahwa angka penemuan tuberkulosis kita
itu masih belum optimal. Masih banyak
kasus-kasus yang belum ditemukan. Ee
masih banyak orang-orang yang gak mau
mengikuti screening. Nah, kalau ini
nanti sudah jalan jalan bagus, bisa saja
temuannya besar dan kita menjadi
negara penyumbang tibi terbesar di
dunia. Bisa jadi seperti itu. Dan kita
tahu tibi ini sangat menular gitu ya.
Dan orang kalau sudah sakit TBI pasti
produktivitasnya juga akan menurun gitu
ya. Kalau kita lihat distribusinya ee
antar kabupaten di Jawa Timur itu semua
kabupaten ada ya. Jadi kalau Bapak Ibu
di lingkungan kantor itu misalkan ada
satu orang yang sakit tibi di ruangannya
lalu dia tidak pernah memakai masker,
kita juga tidak memakai masker, dia
tidak berobat, tidak mengikuti
pengobatan, bisa dipastikan tidak berapa
lama satu ruangan akan kena tibi semua.
Nah, itu itu yang harus kita waspadai
ya. Sehingga inilah tantangan besar
bagaimana kita itu harus paham tentang
peta-peta penyakit yang ada di Indonesia
di Jawa Timur pada khususnya trennya
seperti apa sehingga kita para ASN ini
nanti bisa mengambil peran begitu ya
supaya bonus demografi Indonesia emas
itu betul-betul bisa kita raih ya sesuai
dengan periodisasi yang sudah kita
proyeksikan 2030 hingga 2045.
Next slide.
Oke. Hiv Aid ee masih mengkhawatirkan
juga. Kita lihat trennya grafiknya
meningkat, demam berdarah meningkat.
Oke, next slide.
Oke, hipertensi. Nah, ini biasanya DM
sama hipertensi itu berteman begitu ya.
Entah munculnya siapa dulu. Nah, tapi
ini ini seringki berteman di dalam diri
orang itu ya sudah DM hipertensi yang
sudah nanti mengarahnya ke stroke,
jantung dan seterusnya. Ini grafiknya
juga terus meningkat, usianya semakin
dini. Next slide.
Nah, ini yang diabetes. Oke, lanjut
di sisi yang lain. Nah, ini CA ya,
kanker. Kita ternyata tercatat di dunia
ini sebagai 10
negara ya yang menyumbang
kematian karena kanker yang tinggi ya.
Ini ini contoh kanker payudara misalkan.
beberapa kanker yang lain tidak terlalu
besar, tapi kalau semua penyakit kanker
itu kita hitung menjadi satu, maka
kontribusi ee prevalensi CA itu semakin
meningkat dan kita termasuk tinggi di
dunia ini ya. Dan makin ke sini makin
banyak orang yang terkenal dengan usia
yang juga semakin muda. Next slide
ya.
ee kasus-kasus yang barusan saya
omongkan tadi itu sebagian besar terjadi
pada usia remaja sampai dengan dewasa.
Nah, ternyata pada usia anak-anak itu
juga tidak kalah mengerikan potretnya
gitu ya. Kenapa? Karena ternyata kita
juga masih menghadapi masalah stunting.
Angka di Indonesia di ee tahun
berdasarkan hasil survei ya tahun 2023
itu masih 19,8%.
ya ini angka yang masih tinggi.
Harapannya sebenarnya 2024 itu sudah
turun sampai ke 14% harapannya seperti
itu. Tapi ternyata itu belum berhasil.
Nah, sementara kita tahu bahwa ee
seorang anak yang ketika masa
balitanya itu mengalami stunting,
maka dikhawatirkan
kualitas hidup berikutnya ketika dia
memasuki masa sekolah bahkan sampai masa
ee usia produktif nantinya
itu tidak akan bisa optimal gitu ya. ya.
Karena stunting itu sebuah ee
kelainan
gizi yang sifatnya kronis yang dia itu
tidak muncul sesaat ya, tapi dia
munculnya kumulatif dipengaruhi oleh
kondisi ibu bahkan kondisi ibu sejak
sebelum dia hamil ya kondisi calon
pengantin sampai dia hamil sampai
melahirkan itu secara kumulatif nanti
akan bisa mempengaruhi kejadian stunting
pada anaknya ya pada balita. Nah, kalau
kita melihat kondisi state yang masih
tinggi begini ini kita juga menjadi
khawatir begitu ya. Ee pada saat
anak-anak yang sekarang ini terdeteksi
stting bagaimana masa depannya. Padahal
anak-anak inilah nanti calon pemimpin
kita 10, 15, 20 tahun yang akan datang.
Nah, ini hal-hal yang menurut saya perlu
kesadaran kita bersama. Kasus-kasus
semua yang saya omongkan tadi memang
berbicara tentang masalah kesehatan.
Tapi yang perlu Bapak Ibu pahami bahwa
munculnya kasus-kasus tadi
itu multifaktorial penyebabnya
dan pastinya penyelesaiannya juga akan
multifaktorial.
tidak mungkin diselesaikan hanya satu
sektor, satu pihak, tapi membutuhkan
kolaborasi dari banyak pihak. Nah,
inilah kenapa saya merasa bahwa topik
yang kita angkat siang ini itu sangat
relevan. Karena nanti dari pembahasan
kita sebenarnya ada dua hal yang saya ee
pribadi ingin capai ya. Yang pertama
secara institusional nanti Bapak Ibu ASN
ini ee entah Bapak Ibu ini berasal dari
sektor apapun, dari dinas apapun itu
akan akan bisa tergugah gitu bahwa oh
saya sebenarnya bisa loh berkontribusi
untuk pencegahan penanganan kasus-kasus
ini sehingga nanti kasus-kasus ini akan
dengan cepat bisa selesaikan
sehingga cita-cita bonus demografi
Indonesia emas itu bisa tercapai ya itu
secara institusi usional. Yang kedua,
secara pribadi saya berharap ASN di
Indonesia khususnya atau lebih khusus di
Jawa Timur ini secara jumlah cukup
banyak begitu ya. Nah, ketika para ASN
ini secara personal punya kesadaran
bahwa
saya ini orang yang punya risiko
terhadap beberapa penyakit yang tadi
saya sampaikan, maka Bapak Ibu ini
secara personal juga akan melakukan
tindakan-tindakan yang akan membuat
Bapak Ibu tetap stay dalam kondisi
sehat. Bapak, Ibu akan mengubah
kebiasaan-kebiasaan yang mungkin selama
ini berisiko tapi tidak sadar bahwa itu
berisiko menjadi kebiasaannya lebih
sehat. Nah, ketika para ASN ini nanti
secara individu punya kesadaran untuk
menerapkan pola yang pola hidup yang
sehat, kemudian punya kontribusi sosial
untuk lingkungannya, menjaga
lingkungannya sehat, bisa menjaga
orang-orang di sekitarnya yang misalnya
ee kondisinya kebetulan tidak
menguntungkan bisa kita ee lindungi
supaya kesehatannya menjadi lebih baik.
maka gerakan personal ini akan membawa
efek yang luar biasa ya. Jadi dengan
sinergisme
semua ESN untuk punya kesadaran
bagaimana saya menjaga diri saya sehat,
bagaimana instansi saya berkontribusi
untuk menciptakan kesehatan sesama, maka
kesehatan ini akan menjadi sesuatu yang
mudah untuk kita wujudkan. Begitu ya. Ee
jangan berpikir bahwa yang penting saya
sehat, orang lain enggak sehat enggak
apa-apa kan orang lain bukan saya. Gak
bisa begitu Bapak Ibu konsepnya seperti
contoh saya tadi, saya sehat, teman saya
sakit TB enggak enggak lama saya akan
ikut sakit.
Saya sehat, teman saya DM plus
hipertensi misalkan, kan gak apa-apa
enggak enggak kena ke saya. Tapi kalau
dia teman kerja saya dengan dia sakit
seperti itu produktivitasnya pasti
turun. Nah, kalau produktivitasnya
turun, siapa yang rugi? Kita sebagai
temannya akan sering menggantikan
perannya dan seterusnya. Nah, tentunya
ini kondisi yang tidak ideal. Nah,
makanya kenapa itulah kesadaran kita
untuk ee berkolaborasi di dalam
mewujudkan
perilaku sehat diri kita, lingkungan
kita, di kantor, tempat kita bekerja itu
menjadi sesuatu yang sebenarnya menjadi
kepentingan kita. Kita semua. kita semua
penting untuk menjadikan ini ee isu yang
harus menjadi konsern semua orang. Oke,
next slide.
Ini saya tampilkan sebuah gambar yang
mungkin secara singkat itu bisa saya
sampaikan gitu ya, bahwa untuk orang itu
menjadi berada pada status kesehatan
yang baik itu ternyata dipengaruhi oleh
banyak hal ya.
Ee ini menurut teori Bloom itu paling
tidak ada empat gitu ya, ada empat hal
utama. Apa itu ya? Ada yang namanya
lingkungan. Lingkungan harus sehat, ada
yang namanya faktor keturunan ya. Kalau
beberapa penyakit itu memang diturunkan.
Nah, ini ini juga harus kita perhatikan
bagaimana pengendaliannya nanti.
Kemudian ada faktor perilaku yang
membuat orang sebetulnya awalnya sehat
menjadi tidak sehat karena perilakunya.
Dan yang keempat adalah pelayanan
kesehatan. Nah, ini harus harus kita
perhatikan begitu supaya
setiap orang itu nanti bisa berada dalam
kondisi kesehatan yang optimal. Oke,
next slide.
Nah, ee di dalam
lingkup penanganan penyakit itu ada
empat ee upaya begitu ya yang itu
menjadi tanggung jawab bersama-sama ya.
Ada upaya yang kita sebut sebagai
promotif.
Upaya promotif ini adalah untuk
meningkatkan
status kesehatan seseorang.
Yang kedua adalah upaya preventif. Ini
adalah untuk mencegah agar orang tidak
sakit. Tapi kalau orang sudah sakit,
bagaimana? Masuk ke kuratif,
disembuhkan.
Nah, kalau sakitnya itu kemudian memberi
dampak misalkan seperti stroke tadi
menjadi ada gangguan gerak misalkan,
lalu bagaimana? Masuklah ke
rehabilitatif. Jadi ee fungsinya
direhabilitasi kembali supaya
bisa kembali seperti semula atau
mengurangi paling tidak mengurangi
dampak negatifnya gitu ya. Meskipun
tidak bisa kembali seperti semula tapi
bisa ee lebih baik begitu. Nah,
yang bisa kita lakukan kalau kita bukan
orang kesehatan, kita enggak mungkin
masuk di kuratif. Kalau kita bukan
tenaga medis kita enggak bisa masuk di
kuratif.
Tapi kalau untuk promotif preventif
siapapun bisa, Bapak Ibu dari instansi
apapun bisa. Bahkan bukan hanya ASN,
semua orang bisa untuk promotif
preventif ini. Karena untuk tindakan
promotif preventif ini kita bisa lakukan
di dalam ranah individu, ranah keluarga,
maupun ranah komunitas. Oke, next slide.
Nah, saya mengutip sebuah pernyataan
yang dihasilkan dari Ottawa Charter ya,
yang mengatakan bahwa help is created
and live by people within the setting of
their everyday life where they learn,
work, play, and love.
yang secara singkat bisa kita artikan
bahwa ee kesehatan itu tidak semata-mata
dihasilkan oleh layanan kesehatan ya,
tetapi kesehatan itu tercipta dari
kehidupan sehari-hari kita sendiri ya.
Jadi sekarang ini misalkan sekarang ini
Bapak Ibu sehat apa enggak ya gitu ya.
Nah, Bapak Ibu sehat atau tidak itu
tidak ditentukan oleh orang kesehatan.
Bapak Ibu sehat atau tidak ditentukan
oleh di mana Bapak Ibu tinggal. Apa yang
Bapak, Ibu lakukan sehari-hari? Apa yang
Bapak, Ibu makan sehari-hari? Apa yang
Bapak, Ibu lakukan sehari-hari? Apa yang
Bapak Ibu ee sukai dan tidak sukai? Itu
yang menentukan kita ini akan menjadi
sehat atau tidak. Nah, jadi kesehatan
itu akan terbentuk melalui apa saja?
Nomor satu, kita butuh kebijakan publik
yang sehat. Kebijakan-kebijakan harus
pro kesehatan.
Misalkan kenapa harus ada KTR kawasan
terbatas merokok? Ee mungkin di antara
Bapak Ibu ada yang masih sebagai
perokok. Oke ya. Paling tidak kalau
masih sebagai perokok silakanlah merokok
tapi jangan mengajak orang lain menjadi
perokok pasif. Kenapa? Ditetapkan
kemudian KTR kawasan terbatas merokok
supaya orang-orang yang tidak ingin
menghirup asap rokok, orang-orang yang
ingin menghirup udara segar itu tidak
kesulitan untuk mendapatkannya.
Orang-orang yang memang belum bisa
berhenti merokok ya silakan merokok di
tempat yang sudah disediakan. Jangan
jangan mengganggu publik. Nah, itu
contoh kebijakan publik yang sehat itu
seperti itu. Oke. Kemudian lingkungan
belajar ya. Lingkungan belajar dan
lingkungan kerja yang mendukung
kesejahteraan itu juga harus diciptakan.
Bagaimana lingkungan kerja Bapak Ibu itu
mendukung kesehatan dan kesejahteraan.
Misalnya apa sih lingkungan yang
mendukung kesehatan, kesejahteraan? ee
kesejahteraan di sini bukan hanya soal
pendapatan, soal uang, tapi kesehatan
itu sendiri adalah komponen kunci dari
kesejahteraan. Misalkan bagaimana ee
lingkungan kerja kita apakah terbebas
dari hazat-hazat yang berbahaya.
ee katakanlah kebisingan,
pencahayaan,
ee sirkulasi udara dan seterusnya harus
bisa membuat kita ee hidup dalam situasi
yang nyaman yang membuat kita menjadi
sehat gitu ya. Kemudian komunitas yang
inklusif dan aman. Komunitas Inclusivity
eh artinya komunitas yang bisa diakses
oleh siapapun, tidak membeda-bedakan dan
bisa memberikan jaminan keamanan ya,
serta gaya hidup dan interaksi sosial
yang positif. Makin ke sini yang harus
kita waspadai adalah penyakit-penyakit
akibat gaya hidup. Ya, mungkin Bapak,
Ibu yang masih muda-muda ini terutama
gitu ya, Mas, Mbak begitu yang mungkin
habis kerja karena capek, pulang kerja
mampir belok. ke kafe tertentu gitu
boleh. Boleh enggak ngelarang orang
kafe. Tapi pilihlah minuman yang rendah
kalori. Ee enggak usah pakai gula
misalkan atau bawa gula sendiri yang ee
low sugar misalkan. Nah, misalkan ya itu
gaya hidup yang harus kita kendalikan
sendiri. Kita yang bisa mengendalikan
hal-hal seperti itu. Oke, next slide
ya. Jadi
kesehatan itu bukan hanya tanggung jawab
sektor kesehatan. Kesehatan itu hanya
membantu saja. Tetapi masyarakat sehat
itu akan tercipta dari sinergi antar
sektor. Ada sektor ekonomi, ada sektor
pendidikan, sosial, lingkungan,
keagamaan, dan masih banyak lagi. Nah,
ini yang harus kita pegang. Oke, next
slide.
Next slide. Nah, ini tantangan yang
sekarang ini real kita hadapi ya,
tantangan pembangunan kesehatan di
Indonesia. Di sinilah
kita lintas sektor itu harus bergerak
bersama-sama ya. Ada transisi
epidemiologi ya tadi penyakit menularnya
masih ada, tapi penyakit degeneratif
muncul, penyakit gaya hidup muncul, ada
transisi demografi, lansianya makin
banyak. Kalau lansia sehat gak apa-apa
gitu ya. Tapi kalau lanseannya tidak
sehat itu cenderung konsumtif kesehatan.
Ee kalau zaman dulu orang ee gagal
ginjal harus cuci darah mungkin umurnya
enggak panjang gitu ya, 3 4 tahun
meninggal gitu ya. Sekarang ini karena
alat cuci darah sudah semakin canggih
dan tersedia di mana-mana. Orang bisa
hidup dengan cuci darah itu sampai 10
tahun lebih ya. Tapi kan kita tahu cuci
darah itu mahal gitu ya. ee ee uang
negara banyakbanyak terserap ke sana
gitu ya. Jadi kenapa BPJS itu katanya
kok enggak balance gitu keuangannya ya?
Karena warga Indonesia ini banyak yang
yang penyakitnya sudah terkategori
terkategori penyakit kronis gitu ya,
yang terus menerus butuh pengobatan
terus-terus enggak bisa berhenti dan itu
konsumtif sekali gitu ya. Transisi gaya
hidup kita semakin ke sini orang makin
malas bergerak gitu ya. Kalau di kantor
ada lift pasti naik lift enggak mau naik
tangga misalkan dan seterusnya. Banyak
itu transisi gaya hidup. Transisi
ekologi dan iklim ini juga tantangan
besar.
Bagaimana perubahan iklim ini sudah
menjadi menjadikan lingkungan kita
semakin ee apa? Tidak tertebak begitu
ya. Musim-musim tidak tertebak,
penyakit-penyakit akibat lingkungan
makin tinggi, urbanisasi, belum lagi
transisi digital. Nah, banyak hal ini
berkontribusi terhadap kesehatan ya.
Membuat orang menjadi rentan, semakin
rentan. Nah, di sinilah Bapak, Ibu bisa
mengambil peran sesuai dengan
instansinya masing-masing. Apa yang bisa
saya lakukan untuk berperan sebagai
change agent? Kita eh Bapak, Ibu sebagai
ASN ini adalah sebuah profesi yang
menurut saya punya posisi yang yang
cukup ada value-nya di masyarakat kita
ya. Posisi yang strategis gitu ya. Masih
banyak orang yang ingin anaknya menjadi
ASN dengan segala cara. orang ingin
anaknya menjadi ASN ee pengin dapat
mant.
Jadi Bapak Ibu ini adalah orang-orang
pilihan gitu ya. Nah, karena Bapak Ibu
ini orang pilihan di situlah kita harus
mengambil peran. Salah satu peran kita
apa? Salah satu peran kita adalah
sebagai agent of change. Bagaimana kita
sebagai ASN ini bisa berperan sebagai
pembawa perubahan positif di dalam
lingkungan terdekat kita atau sebelum
lingkungan di dalam diri kita sendiri
dulu. bagaimana kita nanti bisa menjadi
panutan perilaku sehat itu seperti apa
ya. Kemudian di lingkungan terdekat
kita, di keluarga kita, di lingkungan
yang lebih luas di dalam kita
bermasyarakat, di kantor kita. Nah,
kalau pemahaman-pemahaman mengenai
hal-hal seperti ini tertanam di semua
ASN,
maka di situlah kita boleh menjadi
optimis bahwa memang Indonesia akan
layak mendapatkan bonus demografi dan
akan menjadi negara maju, akan terwujud
Indonesia emas di 2045.
Nah, itu itu yang menjadi tanggung jawab
kita bersama. Kolaborasi ini menjadi
penting. Next slide.
Ya. Mengapa diperlukan kolaborasi lintas
sektor? Karena determinan kesehatan itu
bersifat multidimensi ya. Sehingga
sinergi lintas sektor itu akan
meningkatkan efisiensi dan dampak ya.
Kesehatan masyarakat bergantung pada
kebijakan sosial, ekonomi, dan
lingkungan yang pro terhadap kesehatan.
Bukan karena saya orang kesehatan
kemudian saya ngomong begini, tetapi
saya berbicara begini supaya ee kita
semua merasa bertanggung jawab. Kita
enggak inginkan seperti COVID kemarin.
Covid itu adalah sebuah virus. Kalau
kita bilang, "Oh, ini urusan kesehatan."
Iya, ini penyakit urusannya orang
kesehatan. Tetapi kita lihat bagaimana
COVID itu memporak-porakkan semua
sektor.
Nah, inilah kenapa kewaspadaan itu harus
ada di semua sektor. Bahwa kesehatan itu
adalah tanggung jawab semua sektor.
Kolaborasi ini penting. Banyak
kasus-kasus yang enggak akan selesai.
Hanya dibahas orang kesehatan saja.
Semua orang harus bergerak. Imunisasi
misalkan kalau yang bergerak hanya orang
kesehatan enggak selesai. Dinas
Pendidikan harus bergerak. Kenapa?
Karena yang diimunisasi itu sasarannya
ada di sekolah-sekolah, di sekolah SD
misalkan. Jadi kalau kalau sekolah
enggak mendukung enggak bisa dong gitu.
Kemudian anemi. Kalau hanya kesehatan
yang bergerak enggak selesai. Siapa
lagi? Dinas Pendidikan lagi. Kenapa?
Karena anak-anak SMA itu banyak yang
ternyata terdeteksi anemi. Anak SMP, SMA
ketika mereka ee mulai haid rutin
misalkan kalau mereka tidak mau
mengkonsumsi tablet tambah darah yang
diberikan sekolah enggak ngawasi, maka
anggaran negara untuk beli tablet tambah
darah itu hanya akan sia-sia. Dibagikan
gak diawasi minumnya hilang gak tahu ke
mana. Nah, contoh seperti itu ya. Jadi
ee Kementerian Agama misalkan sebelum
orang menikah ada bimbingan perkawinan.
Apa sih yang perlu saya sampaikan? Oke.
Muatan-muatan bagaimana menjadi calon
ibu yang baik diberikan termasuk calon
ibu yang sehat supaya anak yang
dilahirkan sehat misalkan dan
sektor-sektor lain pasti punya
kontribusi yang luar biasa. Oke, mohon
izin Pak Lukman. Waktu saya tinggal
berapa menit ya? Iya, masih tersisa 5
menit lagi, Prof.
Berapa? Berapa menit? Mohon
5 menit lagi, Prof.
5 menit 5 menit lagi. Oke. Baik, terima
kasih ya. Oke, next slide kalau begitu.
Nah, konsep kolaborasi lintas sektor itu
seperti apa? Ya, kolaborasi itu artinya
adalah kerja sama terencana antar
lembaga lintas sektor dengan prinsip
saling ketergantungan, saling
menguatkan, dan saling bertanggung
jawab. Saya rasa urusan kolaborasi ini
mungkin bisa kita ee bahas pada semua
urusan, bukan hanya urusan kesehatan
saja gitu ya. Nah, nanti ee sinergi ini
menjadi sesuatu yang tidak bisa kita
hindari. Anggaplah Indonesia ini satu
keluarga.
Sektor A, sektor B, sektor C itu adalah
orang-orang di dalam keluarga itu. Ada
misalkan anak pertama, kedua, ketiga,
keempat, gak mungkin dong mereka enggak
saling membantu. Kalau mereka saling
membantu, yang yang sejahtera siapa?
yang sejahtera keluarga itu ya. Jadi
kalau antar sektor ini egosektoralnya
untuk saling membantu itu tinggi, yang
rugi siapa? Yang rugi Indonesia, yang
rugi masyarakat Indonesia ya. Karena
kita sebenarnya satu badan ya, hanya
dibedakan dengan sektor A, B, C, D, E.
Nah, di sinilah kenapa kolaborasi lintas
sektor itu menjadi penting begitu ya.
Jadi kalau ee Bapak Ibu pimpinan ini
terutama gitu ya diundang sektor lain
untuk membahas problemnya mereka ya itu
jangan kemudian tidak datang gitu ya.
Ketika sektor lain itu mengajak kita
diskusi itu artinya kita punya peran di
sana dan kita harus tunjukkan bahwa saya
bisa kok berperan gitu ya. Apalagi kalau
kita berbicara kesehatan ini karena saya
juga orang yang harus disehatkan
sehingga kalau saya berkontribusi
berarti sebenarnya saya juga menjaga
kesehatan diri saya sendiri. Oke, next
slide.
Nah, ini ini yang mungkin tolong Bapak
Ibu semuanya, terutama jika Bapak Ibu
ini ada di level pimpinan ee tentang
konsep health in all policy ya. Jadi,
health in all policy ini adalah konsep
global dari WHO yang mengatakan bahwa
kebijakan di semua sektor itu harus
mempertimbangkan dampaknya terhadap
kesehatan. Ya,
jangan hanya ditelaah dari satu aspek
saja. Misalkan hanya ditelaah, oh ini
berdampak positif terhadap ekonomi,
harus didukung. Iya. Oke, bagus sih.
Tapi jangan lupa kalau misalkan dia
hanya berdampak terhadap ee apa namanya?
Dia mengungkit ekonomi tapi kemudian
melemahkan kesehatan, maka uang yang
didapatkan dari sektor ekonomi nanti
juga akan habis. Habisnya ke mana? Lari
untuk ngobatin orang sakitnya. Jadi
percuma gitu loh. Pendapatannya tinggi
tapi pengeluarannya juga tinggi. Enggak
akan meningkat kesejahteraannya.
ya. Ee jadi ini yang harus betul-betul
kita perhatikan. Jadi kalau Bapak Ibu
dipercaya untuk ee merancang sebuah
kebijakan misalkan, pertimbangkanlah ada
enggak ee dampaknya yang merugikan
kesehatan. Jika ada, gimana cara saya
meminimalisir dampak ini? Ya, jadi
health in all policies ini adalah
framework yang harus di
pakai sebagai guideline oleh semua
pengambil kebijakan. Oke, next slide.
Nah, ini beberapa bentuk kolaborasi
lintas sektor yang mungkin bisa kita ee
create di lingkungan terdekat kita.
Misalkan ada forum lintas OPD, integrasi
program kemitraan publik, swasta,
komunitas, kemudian kolaborasi berbasis
data dan evidence based policy dan
seterusnya. Next slide.
Ada satu lagi mungkin ini terakhir yang
saya sampaikan mengenai whole of
government and whole of society bahwa
kolaborasi itu tidak hanya antar
instansi pemerintah tetapi kolaborasi
itu harus melibatkan sektor swasta,
akademisi, komunitas, media. Ini yang
kemudian kita kenal sebagai pentahelic
collaboration ya. Pentah collaboration
ini adalah sebuah model pendekatan yang
inklusif. Jadi sekali lagi di dalam era
fuka ya, volatility, uncertainty,
kemudian eh ambiguity, complexity, kita
enggak bisa bekerja sendiri, kita enggak
bisa jalan sendiri.
kita harus gandeng tangan bersama orang
lain. Karena hanya dengan kolaborasi
maka sesuatu yang kompleks akan bisa
kita buat menjadi lebih sederhana,
sesuatu yang ambigu bisa kita perjelas,
sesuatu yang ee apa namanya
mengancam bagi kita, bisa kita sharing
risiko sehingga menjadi lebih kecil dan
seterusnya. Ya, jadi ini adalah sebuah
ee peran yang ditunggu dari kita semua
selaku ASN ya. Oke. Baik. Mungkin ini
memang masih ada beberapa slide lagi
tapi mengingat waktu mungkin ee seperti
itu ya Pak Lukman yang bisa kami
sampaikan.
[musik]
Prof. Ratna, terima kasih untuk
edukasinya, untuk kami-kami yang masih
awam terhadap berbagai hal seperti yang
tadi Prof. Ratna ee sampaikan ya, Prof.
Ratna izin diskusi beberapa hal terkait
dengan keresahan-keresahan yang seringki
kita alami sebagai masyarakat Aum
terkait kesehatan ya. Seringkiali kan
kita ee saat ini kita sudah tahu
bahwasanya tren-tren makanan seperti
makanan minuman manis, makanan cepat
saji, makanan yang berasal dari
tepung-tepungan ini kan lagi hype pening
banget di masyarakat kita. Sebenarnya
apakah pemerintah ini aware gak ee Prof.
Ratna terhadap isu-isu ini dan
barangkali ada kebijakan publik yang
memang meregulasi penyebaran
makanan-makanan seperti ini agar tidak
terlalu meluas. Karena kalau kita
bandingkan dengan outlet makanan sehat
pun juga masih terbatas di lingkungan
kita. Kalau menurut pandangan Prof.
Ratna seperti apa, Prof?
Iya. Oke. Baik, terima kasih, Pak
Lukman. itu adalah isu yang sebenarnya
bagi kalangan orang kesehatan itu sudah
sudah sering dibahas. Tetapi memang
sampai sekarang itu belum terwujud
sebagai sebuah kebijakan publik yang
konkret gitu ya. Ee saya contohkan di
beberapa negara maju ya Pak Lukman ya.
Ee di beberapa negara maju yang sudah
sangat konsern terhadap ee penyakit
akibat gaya hidup mereka itu sudah
memberlakukan yang namanya cukai. Nah,
kalau kita seringnya dengar cukai itu
kan cukai rokok ya. Dan sebenarnya cukai
rokok itu kan sudah di dimaksudkan
pemerintah untuk
apa namanya ya? Membuat
ee rokok ini tidak dengan mudah
didapatkan oleh orang-orang yang enggak
mampu begitu ya. Sehingga ada cukainya
yang nanti harapannya ee hasil dari
cukai rokok ini juga akan bisa untuk
membiayai kesehatan gitu ya. Nah, kalau
di beberapa negara maju istilah cukai
ini juga berlaku untuk makanan dan
minuman manis ya. Jadi ada cukainya
sendiri sehingga harga makanan dan
minuman
manis atau makanan minuman yang ee
enggak sehat itu bisa menjadi lebih
mahal. Ini akan membuat orang untuk
berpikir dua kali kalau mau mau membeli
makanan yang ee tidak terlalu sehat
untuk dirinya.
Nah, tetapi di Indonesia belum belum
sampai ke sana dan memang regulasi kita
masih masih lemah. sebenarnya ada ada
badan yang ditunjuk untuk itu. Nah,
tetapi karena mungkin keterbatasan ee
jangkauan juga sehingga pemantauan untuk
ee industri makan minuman yang kurang
sehat ini ee enggak terlalu intensif
juga yang dalam arti masyarakat ini bisa
dengan yakin bahwa oh ini makanan ini
kalorinya sekian-sekian itu kita enggak
tahu gitu ya. ee harusnya ada ada
kebijakan yang bisa membuat setiap
pengelola makan itu mencantumkan
kandungan zat gizinya, ingrediennya
secara jujur yang harus di-update secara
rutin sehingga kita sebagai customer itu
terlindungi. Saya bisa memilih makanan
yang ingrediennya sesuai dengan ee
kemauan saya. Ee kalorinya bisa saya
ambil mana yang paling ee tidak
membahayakan saya. Tapi sampai sekarang
kita belum belum bisa mendapatkan itu
dengan mudah ya. ee pada beberapa
industri memang sudah sudah konsisten
menerapkan seperti itu. Ee tapi itu
biasanya industri besar. Kalau
industri-industri kecil rasa-rasanya
belum ada yang sampai ke sana. Dan
padahal kita tahu justru
industri-industri kecil yang ada di
sekitar kita tinggal inilah yang mudah
diakses oleh sebagian besar masyarakat
kita. Sehingga memang ini tantangan
tersendiri ya. Jadi health in policy
seperti yang tadi saya sampaikan ini
memang masih menjadi PR kita bersama.
bagaimana supaya para pengambil
kebijakan ini semakin aware bahwa ee
ketika kita membuat kebijakan itu jangan
lupa sertakan juga kebijakan-kebijakan
kesehatan yang itu tujuannya adalah
untuk melindungi masyarakat kita. Oke,
demikian saya rasa Pak Lukman.
Terima kasih Prof. Ratna walaupun
semisal belum ada kebijakan publik yang
mengatur setidaknya sobat-sobat ASN yang
menyaksikan webinar ASN kali ini sudah
mendapatkan awareness dan harapannya
seperti yang tadi Prof. Ratna bilang
promotif dan preventifnya harus jalan
karena ini bisa dilakukan oleh siapa
saja tidak hanya dari tenaga medis saja.
Prof. Ratna terima kasih sudah berkenan
untuk bergabung di webinar ASN belajar
seri 44 kali ini. Barangkali sebelum
ditutup Prof Ratna karena keterbatasan
eh keterbatasan waktu ada closing
statement yang ingin disampaikan kepada
Sobat ASN yang masih menyaksikan.
Silakan Prof. Ratna.
Ya. Baik.
Untuk closing statement, saya akan
mengutip sebuah kalimat yang itu menjadi
jargonnya orang public health ya, orang
kesehatan masyarakat ya. Apa itu ya?
Health is not everything but without
help everything is nothing. Yang artinya
apa? Kesehatan itu bukan segalanya, tapi
tanpa kesehatan segalanya tidak berarti.
Nah, kurang lebih seperti itu. Terima
kasih.
Terima kasih Prof. Ratna. Salam sehat
selalu, Prof. Pratna. Kita bertemu lagi
di event-event selanjutnya, Prof. Ratna.
Thank you, Prof.
Terima kasih.
Baik, Sobat ASN. Tidak terasa kita sudah
berada di penghujung acara webinar ASN
Belajar seri 44 kali ini. Sekali lagi
kami ucapkan terima kasih atas seluruh
partisipasi aktifnya selama mengikuti
acara kali ini. Dan kami juga ucapkan
terima kasih kepada seluruh narasumber
yang telah berkenan untuk membagikan
insight ee banyak sekali terhadap Sobat
ASN. Dan jangan lupa untuk mengisi link
presensi pada laman semestacom.id id
karena e-sertifikat akan kami bagikan
bagi siapapun yang sudah mengisi link
presensi kali ini. Webinar ASM belajar
seri 44 persembahan Cororpu SDGIS BPSDM
Provinsi Jawa Timur. Saya Lukman Ali
beserta kru yang bertugas pamit undur
diri. Terima kasih. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Sampai
berjumpa di webinar ASN seri berikutnya.
[musik]
Zaman yang terus bergerak. [musik]
Sambut dengan penuh semangat.
Saatnya kita [musik]
melangkah.
Hadapi segala tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan [musik]
berdampak.
Bersama ASN
belajar.
Ciptakan [musik] SDM unggul berprestasi
selalu inisiatif dan kolaboratif [musik]
untuk inovasi yang berkelanjutan.
[musik] Menjadi ASN berakhlak mulia
siap menyongsong Indonesia emas.
ASM
belajar wujudkan
pemerintahan
berkelas dunia
tekad pantang [musik] menyerah
jadi ASN getar berkualitas
belajar juga
[musik]
selalu dunia
tekat pandang menyerah
jadi
berkualitar
sama
[musik]
H