Transcript
gEkZnm5RlX0 • ASN Belajar Seri 44 | 2025 - Sehat untuk Semua, Berdaya untuk Sesama
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0278_gEkZnm5RlX0.txt
Kind: captions Language: id [musik] Zaman yang terus bergerak, sambut dengan penuh semangat. Saatnya [musik] kita melangkah. Hadapi segala [musik] tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. [musik] Ciptakan SDM unggul berprestasi. [musik] Selalu inisiatif dan kolaboratif untuk [musik] inovasi yang berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak mulia. Siap nyongsong Indonesia emas. ASN [musik] belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia. Lakukan tekad pantang [musik] menyerah jadi ASN getar berkualitas. [musik] yang belajar wujudkan pemerintahan kelas [musik] dunia tukang tekad pantang menyerah jadi AS berkuan kita [musik] belajar [musik] Kami mencoba [musik] menjadi yang terbaik. Melayani bangsa dengan sepenuh [musik] hati. Murahlah kami junjung teguhkan diri dan jadikan pedolan serta kekuatan. Hadir [musik] di sini untuk mengabdi rencanakan tugas kebanggaan negeri situs melayani bangsa [musik] dengan akuntabilitas tinggi. Hong kami dari sini [musik] suka dengan hati tunjukkan kompetensi [musik] dalam harmoni. Layani bangsa loyal tanpa batasannya [musik] dan berkolaborasi gandeng tangan satu tujuan [musik] menjadikan ASN lebih berakhlak bekerja sepenuh hati [musik] tulus membantu sesama dengan bangga kami melayani [musik] bangsa [musik] Kami dari sini tegas dengan hati tujukan kompetensi dalam harmoni. [musik] loyal tanpa batasannya adaptif [musik] dan berkolaborasi bergandeng tangan satu tujuan [musik] untuk menjadikan ASN lebih beragama mengerdas penuh hati tulus membantu sesama dengan [musik] kami melayani dengan kami [musik] melayani dengan mengang kami melayani lagi [musik] Hasen [musik] bua semangat membara di era digital terus [musik] berkarya berkolaborasi inisiatif tinggi inovasi cempal [musik] Jawa Timur terus melaju bersama BPSNI Kita [musik] terus melesat untuk Indonesia emas. Prestasi hebat [musik] ASN unggul. Tiada yang tertinggal [musik] no one left behind. Kita terus melangkah berkolaborasi. [musik] Inisiatif tinggi inovasi cemerlang. Jawa Timur terus [musik] melat kita terus [musik] melesat untuk Indonesia emas prestasi her aset [musik] unggur tiada yang tertinggal no one left behind kita terus [musik] melangkah berkolaborasi inisiatif [musik] tinggi. Inovasi cemalah Jawa Timur [musik] terus melaju. Bersama BPSDM Jatim kita terus [musik] melesat untuk Indonesia emas prestasi hebat bersama kampus satelit PP [musik] PSBM Jatim no one left behind. ASN umbul [musik] dan berkualitas Melesa tinggi Indonesia jaya Yeah. [musik] Bam membangun asa menuju cipta yang mulia. [musik] Kami hadir, kami berkarya untuk [musik] Jawa Timur yang berjaya. Langkah pasti [musik] menitipiti zaman dengan semangat pembaharuan. [musik] Ilmu dedikasi dan harapan [musik] menjadi bekal masa depan. PPS Temen Jating, Pusat unggulan. Tempat lahirnya insan berkualitas. [musik] Mencetak STM berkompetensi tangguh cerdasin inovasi bersatu dalam visi yang terang menjawab [musik] tantangan jalan genial. PPSDM [musik] Jawa Timur Center of Exens masa depan gemilang [musik] [musik] bersama membangun asa menuju cita yang mulia Kami [musik] hadir, kami berkarya untuk Jawa Timur yang berjaya. Langkah pasti [musik] meniti zaman dengan semangat pembaruan ilmu dedikasi [musik] dan harapan menjadi bekal masa depan. BPSM [musik] Jatim pusat unggulan tempat lahirnya insan berkualitas [musik] mencatat Sm berkompetensi tangguh [musik] cerdas penuh inovasi bersatu dalam visi yang terang [musik] menjawab tantangan jangan gemilang [musik] PPSDN Jawa Timur senterans masa depan [musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi sobat ASN di seluruh Indonesia. Senang sekali saya Lukman Ali dapat menyapa Sobat ASN dalam acara webinar ASN belajar seri 44 persembahan spesial Corpu SDGIS BPSDE Provinsi Jawa Timur. Saya juga ingin menyapa untuk sobat SN yang tengah menyaksikan acara ini melalui live YouTube BPSDM Jatim TV. Terima kasih karena sudah membersamai kami di tiap minggunya. Sobat ASN, Hari Kesehatan Nasional ke-61 yang diperingati pada tanggal 12 November 2025 lalu menjadi momen penting untuk mengingatkan kembali arti strategis kesehatan sebagai pondasi pembangunan nasional. Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia, kesehatan menjadi modal dasar yang menentukan produktivitas, kreativitas, serta daya saing bangsa. Yuk, bersama-sama perkuat komitmen menuju masyarakat yang sehat, tangguh, dan berdaya. Selengkapnya akan kita bahas di webinar ASN Belajar seri 44. Sehat untuk semua, berdaya untuk sesama, transformasi kesehatan untuk Indonesia Emas 2045. [musik] Dan untuk membuka webinar ASN Belajar seri 44 kali ini, mari kita dengarkan terlebih dahulu opening speech yang akan disampaikan oleh Dr. Ramlianto, SPMP selaku Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. [musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sehat dan salam sejahtera untuk kita sekalian. Sobat Taisen di seluruh tanah air. Selamat bertemu kembali dalam webinar series ASN Belajar, sebuah wahana pengembangan kompetensi ASN persembahan Jatim Corpor University Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. Hari ini Kamis tanggal 13 November 2025, ASN belajar telah memasuki seri yang ke-44. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas antusiasme Sobat ASN di seluruh negeri untuk terus mengikuti secara aktif program ASN belajar ini. Sebagai bentuk terima kasih kami. Kami terus berkomitmen sekaligus wis ikhtiar untuk menyajikan topik-topik pengembangan kompetensi yang menarik, kekinian, dan tentu berdampak secara nyata terhadap peningkatan kompetensi dan kinerja aparatur sipil negara di Indonesia. Sobat ASN, hari ini ASN Belajar seri ke-44 tahun 2025 ini menyajikan salah satu topik dalam rangka memberikan kontribusi pemikiran pada Hari Kesehatan Nasional yang kita peringati pada tanggal 12 November 2025 kemarin. sebuah momentum yang akan mengingatkan kita semua pada kesehatan yang menyatakan bahwa kesehatan bukan sekedar urusan medis, melainkan cerminan dari peradaban dan kemanusiaan sebuah bangsa. Di dalamnya tersimpan makna yang lebih dalam dari sekedar angka harapan hidup, yaitu harapan akan kehidupan yang lebih bermartabat, berdaya, dan berkeadilan. Karena tema ini sangat tepat untuk kita elaborasi secara luas dan mendalam, maka ASN belajar seri ke-44 tahun 2025 ini mengangkat topik sehat untuk semua, berdaya untuk sesama, transformasi kesehatan untuk Indonesia Emas 2045. Nah, sudah menjadi tradisi akademik dalam SN belajar bahwa topik menarik ini akan kita bahas secara intensif dari beragam perspektif bersama para narasumber yang sangat kompeten di bidangnya. Sobat ASN di seluruh tanah air, kita menyadari sepenuhnya bahwa kesehatan bukan hanya tentang menyembuhkan yang sakit, tetapi tentang membangun ekosistem kehidupan yang menyehatkan, memberdayakan, dan memanusiakan. Kesehatan adalah pondasi peradaban. Ia bukan hanya hasil dari kebijakan publik, tapi cerminan dari keberpihakan pada kemanusiaan. Kualitas kesehatan suatu bangsa sesungguhnya adalah cermin dari kedewasaan moral, politik, dan sosialnya. Dari cara bangsa menjaga udara yang dihirup warganya, menyediakan air yang diminum anak-anaknya, hingga memastikan pelayanan yang adil bagi mereka yang paling rentan, semuanya adalah ukuran sejauh mana negara menempatkan kehidupan manusia sebagai nilai tertinggi. Sektor kesehatan tidak berdiri sendiri ya bersinggungan dengan pendidikan, ekonomi, lingkungan, infrastruktur, bahkan kebijakan sosial dan budaya. Karena ketika kesehatan melemah maka produktivitas menurun, ketimpangan melebar dan cita-cita pembangunan kehilangan bijakan. Sebaliknya, ketika kesehatan menguat, maka seluruh sistem kehidupan bangsa ikut berdenyut. Kesehatan yang terjamin bukan hanya melahirkan masyarakat yang kuat, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri, memperkuat daya saing, dan meneguhkan kohesi sosial. Kesehatan adalah simpul yang mengikat seluruh sendi pembangunan nasional. Ia bukan sekedar urusan rumah sakit dan tenaga medis, melainkan tanggung jawab bersama. dari petani yang menjaga pangan bergizi, ASN yang menata kebijakan publik, hingga masyarakat yang menumbuhkan perilaku hidup sehat. Sobat ASN di seluruh tanah air, kesehatan adalah ruang kolaborasi antar jiwa dan antar instansi. Ia menuntut kehadiran pemerintah yang tanggap, masyarakat yang sadar, serta budaya pelayanan yang berakar pada empati dan kemanusiaan. Karena itu ketika kita berbicara tentang transformasi kesehatan untuk Indonesia Emas 2045, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang mimpi besar bangsa menciptakan manusia Indonesia yang sehat secara raga, cerdas secara pikir, dan tangguh secara jiwa. Sebab hanya bangsa yang sehat yang mampu berpikir jernih, berinovasi, dan menjaga keberlanjutan peradabannya. Melalui forum ini kita diajak merenungkan kembali peran STN sebagai pelayan masyarakat bahwa tugas kita bukan hanya mengelola kebijakan tapi juga menumbuhkan empati, membangun kesadaran, dan memperkuat kolaborasi demi terwujudnya bangsa yang sehat, lahir dan batin. Karena pada akhirnya pelayanan yang menyehatkan adalah pelayanan yang memanusiakan. Dan di sanalah letak kemuliaan pengabdian itu tumbuh. ketika setiap langkah birokrasi menjadi ikhtiar kemanusiaan dan ketika setiap kebijakan menjadi janji untuk menyehatkan negeri. Nah, Sobat ASN di seluruh tanah air, untuk membahas lebih lanjut topik menarik ini, kami telah mengundang para narasumber luar biasa yang sudah barang tentu sangat kompeten di bidangnya. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada para narasumber hebat yang telah berkenan hadir dan akan berbagi berbagai informasi strategis kepada Sobat ASN di seluruh tanah air. Pertama kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Bapak Dr. Bambang Widianto, Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Tata Kelola Pemerintahan dan Reformasi Birokrasi. Kedua, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Ibu Prof. Dr. Cita Rosita Sigit Prakuswa. Beliau adalah direktur Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Sutomo Surabaya. Dan ketiga, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Ibu Prof. Dr. Ratna Dwi Wulandari, SKM, MKes. Beliau adalah Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Erlangga Surabaya. Nah, Sobat ASN di seluruh tanah air, mari kita simak dengan seksama webinar ASN belajar seri ke-44 tahun 2025. Semoga bermanfaat. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [musik] Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ramlianto, SPMP selaku Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur atas opening speech yang telah disampaikan. Sebelum kita masuk ke keyote speaker kita yang pertama, Bapak, Ibu, Sobat TSN sekalian, mohon izin kami informasikan jangan lupa untuk mengisi link presensi via semestabangkom.id. Dan dikarenakan saat ini traffic presensi sedang tinggi, maka Bapak, Ibu, Sobat ASN dapat cek secara berkala. Nantinya link presensi ini akan digunakan juga untuk mendapatkan e-sertificate dari BPSDM Provinsi Jawa Timur. Baik, kita langsung saja masuk ke keyote speaker kita yang pertama. Kali ini kita akan mendengarkan materi yang sangat menarik dari Dr. Bambang Widianto selaku staf khusus Menteri Kesehatan Bidang Tata Kelola Pemerintahan dan Reformasi Birokrasi. [musik] Ya, telah bergabung bersama dengan kami semua di sini, Dr. Bambang Widianto. Saya ingin ucapkan selamat datang terlebih dahulu. Selamat datang dan selamat pagi Pak Bambang. Selamat pagi, Bapak. Kabar baik, Pak Bambang. Alhamdulillah. Terima kasih sudah berkenan untuk datang di webinar ASM Belajar seri 44 kali ini. Kali ini kita akan mendengarkan materi terkait dengan transformasi sektor kesehatan sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045. Saya persilakan Dr. Bambang Widianto untuk menyampaikan materinya kurang lebih selama 30 menit. Nanti kita akan masuk ke sesi tanya jawab. Silakan, Pak Bambang. Oke, terima kasih Pak Moderator, Bapak Ibu sekalian. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ee salam sejahtera bagi kita semua. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan. Bapak Ibu sekalian terima kasih atas undangannya. Ini merupakan kehormatan bagi saya untuk dapat hadir di sini. Jadi sesuai dengan ee topik yang dimintakan kepada kami yaitu transformasi sektor kesehatan sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045. Bapak, Ibu sekalian, ini saya paparan saya agak panjang, tapi saya ini berikan aja bahannya kepada Bapak Ibu sekalian sebagai latar belakang, tapi saya enggak akan memaparkan semua. Saya hanya ingin menyampaikan beberapa hal yang penting sehingga Bapak Ibu dapat ee nanti membaca sendiri dan melihat sebetulnya apa sih esensinya kita melakukan transformasi kesehatan nasional. Bapak, Ibu sekalian, next slide-nya Bapak, Ibu sekalian. Next slide. Nah, jadi Bapak Ibu sekalian, tujuan daripada kita melakukan transformasi kesehatan nasional itu sebetulnya adalah kita ingin memperbaiki indikator kesehatan nasional kita. Ya, jadi itu tujuan utamanya ya. Kalau kita lihat Bapak Ibu sekalian dari slide yang saya sampaikan ini, ini contohnya adalah angka kematian ibu ya kan. Angka kematian ibu melahirkan per 100.000 kelahiran hidup ya Indonesia itu angkanya ya ini ini mungkin angkanya sudah berubah sekarang tapi ini pada tahun 2000 ee 22 itu adalah sekitar 189 pada tahun 2020. Saya mengambil tahun 2020 karena saya enggak punya perbandingan untuk negara lainnya nih yang agak sulit tuh mencari perbandingan negara lainnya. Nah, itu kita tuh tinggi sekali gitu. Dibandingkan dengan Malaysia, dibandingkan dengan Vietnam, dibandingkan dengan Filipina, dibandingkan dengan Timor Leste aja kita masih jauh lebih tinggi angka kematian ibu melahirkannya. Ya. Kemudian ada juga angka ee kematian bayi juga kita tinggi itu Bapak Ibu sekalian. kita bisa lihat kita kalah kita cuman menang dari Myanmar saja ya. Nah, ini kan sangat ironis gitu ya. Kita negara besar, negara yang kita dalam negara yang membangun cukup cepat, tapi mengapa angka-angka ee ini masih kita ketinggalan jauh dibandingkan negara tetangga kita gitu. Slide berikutnya ini jug nah ini Bapak Ibu sekalian ini adalah penyebab kematian tertinggi di Indonesia ya. Yang pertama itu sebabnya adalah ee penyakit jantung, serangan jantung. Yang kedua adalah stroke, yang ketiga adalah kanker. Jadi, Bapak Ibu bisa bayangkan ya bahwa hampir 1 kom 1,3 juta orang itu meninggal karena tiga penyakit ini setiap tahunnya ya. Kenapa penyakit jantung? Karena kita enggak punya fasilitas yang memadai di seluruh Indonesia. Kenapa banyak yang stroke meninggal? Karena kita juga enggak mempunyai fasilitas yang memadai untuk menangani jantung, untuk menangani stroke di seluruh wilayah Indonesia. Di kota-kota besar kita ada, tapi itu pun baru sedikit ya. Jadi kalau orang kena serangan jantung di daerah terpencil atau di daerah Indonesia Timur misalnya gitu ya, itu akan ee kekurangan waktu untuk menanganinya sehingga meninggal. Jadi ini menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Slide berikutnya ini, Bapak, Ibu sekalian ya. Ini adalah cakupan yang sebelah kanan itu adalah cakupan peserta BPJS ya. Kalau kita tuh cakupan kita itu sudah 96% Bapak Ibu sekalian. Ya, jadi orang yang di-cover oleh BPJS itu adalah dari seluruh penduduk kita sudah 96%. Nah, tapi cakupan peserta ini tidak dibarengi dengan apa yang disebut dengan service coverage ya. Yang di sebelah kiri itu adalah service coverage kita dan Indonesia itu baru 54% ya. Jadi masih tertinggal dibanding dengan negara lain ya. Jadi walaupun cakupan BPJS kita 96% tapi fakta di lapangan itu yang bisa dilayani itu untuk Indonesia itu hanya 54%. Jadi hanya setengahnya ya. Jadi walaupun cakupan kita sudah 95% tapi layanan kesehatan di bawah itu baru 9 baru 55 sekitar 55%. yaitu yang namanya service coverage. Jadi target kita itu bukan hanya sekedar cakupan peserta, tapi juga yang disebut dengan ya universal service coverage index, ya. Itu juga target untuk kita benahi. Slide berikutnya, Bapak, Ibu sekalian. Nah, ini tadi ini sebenarnya penjelasan dari yang tadi apa sih definisi dari service coverage itu? P Bapak Ibu bisa lihat sendiri ya, bisa baca sendiri ya slide berikutnya. Nah, ini Bapak Ibu sekalian ini adalah jumlah kasus dan biaya katastrofik dalam program JKN Indonesia ya. Jadi walaupun service coverage kita juga masih rendah, tapi penyakit jantung, kanker, stroke itu menelan biaya yang sangat tinggi. Ya, ini untuk penyakit delan penyakit ini aja sudah mencakap 35 triliun. Jadi hal-hal ini yang apa namanya perlu kita lihat juga bagaimana cara kita untuk membiayai ini. Ya, ini yang penting juga. Slide berikut. Ini Bapak, Ibu sekalian. Ini penyakit-penyakit penular yang masih tinggi seperti TBC ya. Ini penyakit lama. Tapi kenapa saya paparkan di sini? Karena Indonesia merupakan penyumbang ee penyakit TBC nomor dua di dunia setelah India. Ya. Jadi sekali lagi Bapak Ibu sekalian, ketertinggalan-ketertinggalan ini yang perlu kita perbaiki, perlu kita lakukan transformasi untuk mengejar ini semua ya. Dan kalau Bapak lihat itu yang grafik warna hijau itu adalah notifikasi ya, orang yang bisa dideteksi dia TBC itu dari target tadinya kita masih sangat rendah 46% ya pada tahun 2023 ini kita agak lumayan Bapak Ibu sekalian itu sudah mencakup sampai ee 76% sekarang ya jadi itu jauh membaik ya dibandingkan sebelumnya ya dan ya ini yang kita ingin ingin kita tingkatkan terus karena yang tidak tertangkap melalui deteksi awal ini, deteksi dini ini pasti berkeliaran dan itu akan menularkan kepada yang lain. Jadi ini sangat penting Bapak Ibu sekalian terutama ee Bapak Ibu di pemerintah daerah pasti ini juga menjadi konsern bersama untuk kita bisa menangani ini. Slide berikutnya. Nah, dari hal-hal yang tadi saya sampaikan, sebagian indikator kesehatan nasional tadi yang saya sampaikan ya, Kementerian Kesehatan itu merumuskan yang kita sebut dengan enam pilar transformasi kesehatan. Ya, mungkin Bapak Ibu sudah pernah mendengar ini enam pilar ya. Jadi ini adalah hal-hal yang perlu kita lakukan, yang perlu kita transformasi agar ketertinggalan kita yang tadi saya sampaikan itu bisa kita kejar ya. Masa kita kalah sama negara tetangga kita, kita kalah sama Malaysia, kita kalah sama Filipina, bahkan kita kalah sama Timor Leste. Itu agak kayaknya agak kurang pas. Kita sebagai negara yang sudah 85 tahun merdeka harusnya kita mulai mengejar ketertinggalan itu. Nah, untuk mengejar ketertinggalan itu diperlukan transformasi yang sangat luas ya. Dan ini transformasi pilar kesehatan ini adalah transformasi terbesar yang pernah dialami Indonesia dalam bidang sektor kesehatan. ya. Kita biasanya mendengar ada transformasi di sektor keuangan, transformasi di sektor perbankan, ya, transformasi di sektor perdagangan. Nah, ini kita sekarang melakukan transformasi sektor kesehatan melalui en pilar, ya. Ya. Jadi apa tuh Bapak Ibu sekalian enam pilar tadi ya? Bapak Ibu sebagai penjaga gawang, sebagai ASN di ee provinsi itu harus dapat mendorong ya transformasi layanan enam tapila transformasi ini ya. Karena kebanyakan fasilitas kesehatan adalah di bawah wewenang Bapak Ibu sekalian. Sebagai contoh yang pertama adalah transformasi layanan primer ini Bapak Ibu sekalian ya. Ya, ini tentang yang primer ini ee adalah kalau dulu kita menekankan pada kuratif, sekarang kita harusnya menekankan kepada apa yang disebut dengan ee promotif dan preventif. Nah, ujung tombaknya adalah layanan primer, adalah fasilitas kesehatan primer, ya. Fasilitas kesehatan tingkat pertama itu Puskesmas. dan berbagai macam ee fasilitas kesehatan yang milik bukan milik pemerintah atau milik swasta, milik masyarakat yang menjadi ee layanan primer. Nah, ini ujung tombak ini harus kita perbaiki Bapak Ibu sekalian ya. Ini jadi ini kami mohon dukungan nih kepada Bapak Ibu yang di daerah ya. Kami di tingkat pusat memberikan banyak bantuan ya untuk memajukan berbagai macam fasilitas di daerah ini Bapak Ibu sekalian. Nah, bisa balik ke slide sebelumnya enggak, Pak? Sebelumnya, Pak. Ya, ini, Pak. Jadi, yang pertama tuh transformasi layanan primer. Yang kedua adalah transformasi layanan rujukan, ya. Yang ketiga adalah transformasi sistem ketahanan kesehatan. Ya, Bapak Ibu tahu waktu kita COVID, kita sangat apa namanya? tergopoh-gopoh karena banyak sekali bahan baku kita masih impor, vaksin kita enggak dapat segala macam. Jadi ini harus kita perbaiki. Kemudian tadi saya menyampaikan mengenai pembiayaan yang besar tadi, makanya ada transformasi keempat yaitu transformasi sistem pembiayaan kesehatan. Nah, ini Bapak Ibu sekalian ini karena kita ingin memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat yang terbaik. Pertama dari fasilitasnya tadi yang pertama tuh layanan primer, layanan rujukan, kemudian obat-obatan dan alat kesehatan. Tapi kita juga harus memikirkan bagaimana cara membiayainya yaitu transformasi sistem pembiayaan kesehatan. Nah, kemudian yang kelima ini yang paling penting adalah transformasi SDM kesehatan karena semuanya tadi tidak akan berjalan tanpa didukung oleh SDM yang ee yang berkompeten dalam bidang kesehatan. Nah, ini ya Bapak, Ibu sekalian transformasi kesehatan yang sangat yang sedang kita jalankan. Kemudian yang terakhir itu adalah transformasi teknologi kesehatan. Bapak, Ibu sekalian pasti sering mendengar transformasi teknologi kesehatan, tapi kita selalu asosiasinya kepada teknologi informasi. Ya, itu penting itu juga kita jalankan terus traas itu. Tapi yang penting adalah teknologi dalam bidang bioteknologi ya. Bapak Ibu pasti sudah mendengar apa yang namanya precision medicine. Jadi kalau dulu kita diperiksa oleh dokter ya pada tahap awal kita diperiksa mungkin dokternya hanya interview kita melihat fisik kita, kemudian ada pemeriksaan darah, kemudian lama-lama ada MRI. Kemudian lama-lama barangkali ada USG, ada MRI, ada City scan, ada segala macam. Nah, itu sekarang ada yang disebut dengan precision medicine ya. Itu dengan melihat struktur DNA kita. Jadi pengobatan itu walaupun sakitnya sama, mungkin kita misalnya saja kita mempunyai kolesterol yang tinggi, tapi treatmentnya bisa berbeda antara satu individu dengan individu yang lain dan itu tergantung dari ee DNA kita, dari pembentuk apa namanya ee struktur badan kita, sel kita. Nah, kalau itu diperiksa kita bisa tahu dan kita bisa tahu juga ke depan itu kita akan mengalami sakit apa sehingga kita bisa menanganinya dengan lebih baik gitu ya. Penanganan lebih baik, obat yang lebih cocok, tindakan yang lebih cocok ya. Contoh untuk pasien kanser misalnya itu walaupun sama-sama ee ee kanser payudara misalnya, tapi mungkin untuk setiap individu penguatannya bisa lain. Itu yang disebut dengan precision medicine. Nah, Bapak, Ibu sekalian, kita sebagai ASN ya, kami di Kementan Kesehatan sebagai ASN yang menjalankan menyang pilar ini itu harus mempunyai kompetensi yang baik agar kita mampu menjalankan ini. Makanya kita, Bapak, Ibu sekalian di dalam Kementerian Kesehatan sendiri kita menambahkan satu pilar lagi yaitu pilar ketujuh ini untuk internal. kita bisa enggak organisasi kita atau SDM kita di Kementerian Kesehatan mendukung enam pilar transformasi tersebut? Ini kritikal banget nih, Bapak, Ibu sekalian. Makanya itu penting ya, makanya kita penting melakukan transformasi internal. Jadi, Bapak Ibu sekalian barangkali ini bisa dipakai contoh oleh Bapak Ibu sekalian. apa sih yang disebut dengan transformasi internal untuk SDM segala macam itu. Ee Bapak, Ibu sekalian mungkin kita bisa berdiskusi panjang lebar untuk bagaimana merubah budaya kerja ya, bagaimana kita merubah cara kerja kita agar kita dapat menjalankan enam pilar transformasi kesehatan tadi. Karena ini masif sekali. Beli alat kita gampang, Pak. kita uang sekarang nih tersedia untuk memberikan misalnya ee city scan untuk seluruh rumah sakit di kabupaten di 514 kabupaten ya kita alat-alat canggih itu kita bagikan ke rumah sakit RSUD ke provinsi segala macam tapi tanpa SDM yang baik itu tidak akan terjadi, tidak akan terwujud. Nah, ini yang kita selalu kejar-kejaran nih Bapak, Ibu sekalian. Makanya di Kemenk sendiri kita melakukan transformasi internal agar sumber daya kita itu benar-benar bisa menjalankan ee enam pilar transformasi tadi. Slide berikutnya. Nah, Bapak Ibu sekalian ini ee ini contoh aja Bapak Ibu se Bapak Ibu bisa baca sendiri ya. Jadi, bagaimana kita me-restructure lagi ya dari apa rumah sakit, dari layanan primer ya di layanan primer itu di bawahnya ada puskesmas pembantu, ada posyandu ya, bahkan sampai kita bagaimana kita bisa menjalankan home visit. Saya rasa Provinsi Jawa Timur sudah baik melakukan ini ya. Jadi kalau bisa kita dorong lagi agar kita bisa melakukan sampai home visit untuk ee rumah tangga-rumah tangga ee di setiap wilayah kita ya. Karena sekali lagi pencegahan, promosi dan pencegahan itu jauh lebih penting daripada kuratif ya. Nah, ternyata Bapak Ibu sekalian di Puskesmas itu sebetulnya juga memiliki laboratorium ya. Kalau kita ke laboratorium swasta kan mahal Bapak Ibu sekalian ya. Jadi kita sekarang memperbaiki restructure lagi berbagai macam laboratorium yang berada di wilayah masing-masing. Nah, FKTP ini, fasilitas kesehatan tingkat primer maupun laboratorium PapKesmas ini ya itu semuanya wewenangnya ada di pemerintah daerah. Nah, jadi bagaimana kita bekerja sama ya, kita sediakan ee standarnya, kita bahkan sediakan alatnya, tapi kita perlu bekerja sama untuk bagaimana mendidik SDM, bagaimana menjalankan ini. Karena ini semua ada di bawah wewenang ee pemerintah daerah ya, Bapak, Ibu sekalian. Slide berikutnya. Jadi, ini kalau kita lihat ya, Bapak, Ibu sekalian tadi itu contohnya kan banyak tuh apa Puskesmas ada 10.000, Ibu ada segala macam ya. Itu juga apa namanya ee sebetulnya banyak gitu. Kalau kita ke laboratorium swasta itu mahal, mendingan kita di Lapkesmas aja itu jauh lebih murah dan kualitasnya sama gitu kan ya. Nah, di tingkat preventif, di tingkat pencegahan kita juga memperkenalkan ya menambah tiga jenis vaksin baru ya. untuk dalam rangka program imunisasi yang rutin. Bapak, Ibu sekalian ya. Ini saya cepat-cepat aja Bapak Ibu bisa baca sendiri ya. Slide berikutnya adalah Nah, ini Bapak Ibu sekalian. Jadi sebelumnya Bapak, Ibu sekalian ya, Puskesmas yang mempunyai USG itu hanya 20% Bapak Ibu sekalian. Jadi Bapak Ibu sekalian, kalau Bapak Ibu mempunyai apa kita ibu kita atau anak perempuan kita hamil biasanya dilakukan USG. Tapi ternyata enggak seluruh orang Indonesia itu waktu hamil dilakukan WG ya. Jadi kita enggak bisa tahu nih ya, mana bayi yang sungsang, mana bayi yang ada kelainan ya. Dan Puskesmas yang memiliki USG itu hanya 20% ya. Jadi sisanya itu ya orang enggak di OSG. Kalau sungsang langsung di bawah rumah sakit ya enggak tahu ya meninggal. Makanya angka kematian ibu melahirkan kita itu tinggi. Nah, makanya Bapak, Ibu sekalian kita di Kementerian Kesehatan itu menyediakan USG untuk 10.000 Puskesmas ya. Jadi, USG ya kan itu ee bisa kembali ke slide sebelumnya Bapak, Ibu ya. Itu ya ini USG kita penuhi Bapak Ibu sekalian ya. Jadi pemeriksaan sebelum hamil itu bisa dilakukan dan bisa dilihat ya. Ini kita belikan alatnya Bapak Ibu sekalian. Nah, ini kita butuh kerja sama karena di sana harus dilatih orangnya yang bisa melakukan USG ini. Dan insyaallah angka kematian ibu melahirkan kita atau kematian bayi juga bisa menurun karena kita punya USG. Slide berikutnya. Dan kemudian Bapak Ibu mengetahui juga bahwa angka stunting kita tinggi ya. Dan ee strategi kita menangani stunting adalah bukan kita mencari orang yang stunting terus kita obati. Karena biasanya kalau anak sudah stunting Bapak Ibu sekalian itu sangat sulit dipulihkan ya. Tapi kita bisa mencegah dengan melihat berat badannya, dengan melihat pertumbuhannya, tinggi badannya ya Bapak Ibu sekalian. Nah, itu dibutuhkan alat yang namanya antropometri. Nah, ini kita bagikan juga nih ke seluruh puskesmas kita bagikan antropometri. Bahkan kalau antropometri ini sampai ke ee sampai ke posandu ya. Jadi ini sekarang kita sudah punya ini. Jadi diharapkan sebelum orang itu stunting pada waktu berat badannya kurang, waktu tingginya enggak tumbuh sesuai dengan standar ya pada waktu dia mengalami kekurangan gizi itu sudah kita tangani. Termasuk ibu yang hamilnya. Karena stunting ini kebanyakan sebagian besar juga datang dari bayi yang lahir dari ibu yang kekurangan gizi. Nah, makanya tadi pemeriksaan ante Natal itu itu harus bisa dijalankan dengan baik ya. pemeriksaan pada waktu ibu hamil dengan USG dengan segala macam tes laboratorium itu harusnya dapat mengurangi angka kematian ibu melahirkan dan nanti di tengah jalan juga dapat mengurangi angka ee bayi yang meninggal. Slide berikut Bapak Ibu sekalian. Nah, ini apa namanya? Ee inilah kesmas yang tadi saya sampaikan. Ini kita perbaiki terus nanti Bapak Ibu bisa baca sendiri. Jadi ee ini kita restructuring, kita ee bikin levelnya, kita bikin standarnya untuk masing-masing level. Dari level yang di kabupaten, provinsi sampai di level pusat untuk rujukan ini semua kita perbaiki. Slide berikutnya Bapak, Ibu sekalian. Nah, ini lab ini kita berikan peralatannya Bapak, Ibu sekalian ya. pemerintah memberikan peralatannya untuk Lap Kesmas tadi. Jadi, Puskesmasnya sendiri kita berikan alat-alat yang ee apa namanya? Dapat mendeteksi berbagai macam penyakit. Tapi di Lapkesmas ini juga kita sediakan peralatan supaya ee apa namanya? Deteksi yang lebih canggih itu dapat dilakukan ya. Slide slide berikutnya Bapak Ibu sekalian. Nah, ini itu tadi yang pertama transformasi layanan primer. Yang berikutnya adalah transformasi rujukan. Bapak, Ibu sekalian ya, slide berikutnya. Nah, ini ya. Jadi kita ingin rumah sakit madia, rumah sakit utama, rumah sakit paripurna itu bisa melakukan beberapa hal seperti ini yang tadi saya bilang tadi stroke paling tinggi apa penyakit jantung paling tinggi ter ee stroke, jantung, terus kanser, kemudian yang terkait dengan ee penyakit ginjal ya dan tadi untuk yang terkait dengan ibu dan bayi ya. Jadi kalau Bapak Ibu sekalian kita ingin memperbaiki ini di seluruh tingkatan rumah sakit, kita belikan alatnya, kita latih orangnya, Bapak, Ibu sekalian, apa sih tujuannya? Dalam rangka tadi itu, Bapak, Ibu sekalian memperbaiki indikator kesehatan nasional kita ya. Indikator kesehatan nasional kita yang mana tadi kita ketinggalan jauh dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita. Ya, jadi ini memang transformasi besar-besaran. perlu dukungan dari berbagai macam pihak. Dan sebagaimana transformasi kalau Bapak lihat ee Bapak mungkin pelajari dari kita yang sering barangkali Bapak Ibu ikut PKn ya ikut LMHAS transformasi itu biasanya enggak disukai sama orang gitu Bapak Ibu sekalian ya. kita banyak resistensi. Orang yang setuju transformasi itu kalau kita baca di textbook itu hanya 20%. Yang sisanya itu pasti resistance terhadap perubahan. Nah, ini Bapak Ibu sebagai ASN kita harus bisa menangani ini sehingga perubahan itu terjadi. Ya, kalau tadi saya singgung tadi sedikit dengan perubahan ee internal kita, ter internal kita, kita itu mengikuti berakhlak pasti Bapak Ibu tahu. Tapi berakhlak ini kan masih terlalu luas. perlu kita definisikan ya, perlu kita punya yang operasional. Nah, kami di Kemenkes itu Bapak Ibu sekalian definisi berakhlak yang ee banyak tadi itu kita ringkas ya. Kalau di perusahaan swasta itu kan yang namanya visi misi internal tuh juga enggak panjang-panjang gitu. Nah, ini juga begitu ya. kita ee apa namanya? Ee slogan kita yang baru itu untuk transformasi internal, untuk visi transformasi internal adalah pertama adalah eksekusi efektif, kedua adalah ee cara kerja baru, dan ketiga adalah layanan paripurna. Itu Bapak, Ibu sekalian yang kita dengungkan terus di dalam Kemenkes agar kita bekerja secara efektif ya. Ada caranya pasti. cara kerja baru. Kalau cara kerja lama kita enggak akan ngejar nih transformasi ini, ya. Kemudian layanan ini yang terkait dengan rujukan ini. Jadi selain secara klinis kita baik, tapi secara layanan kita juga harus ee apa namanya? Harus bisa memberikan layanan yang baik. Kalau Bapak, Ibu sekalian kan kita lihat kenapa sih layanan kita kalau dibandingkan rumah sakit swasta barangkali orang lebih senang kalau yang punya uang lebih senang ke rumah sakit swasta. Itu kenapa gitu. Nah, itu harus kita ee harus kita perbaiki. Slide berikutnya Bapak Ibu sekalian. Nah, ini kita memberikan peralatan ya, alat kesehatan dari Pet City, MRI, C scan, catlab tadi karena kita banyak yang penyakit meninggal karena jantung tapi rumah sakitnya enggak punya catlab ya. Ini kita berikan Bapak, Ibu ee ini kita berikannya kepada rumah sakit-rumah sakit yang tertinggal ya, Bapak, Ibu sekalian. Kalau rumah sakit yang sudah bagus ya barangkali enggak perlu dibantu ya. Tapi dari pengadaan, dari bagaimana kita caranya menyediakan SDM-nya, ini membutuhkan tantangan. Dan tadi kenapa kita butuh transformasi internal? Karena kita butuh melakukan transformasi ini ke seluruh Indonesia. Ya, barangkali ada rumah sakit yang sudah bagus, ya sudah oke jalan terus. Tapi sebagai Kementerian Kesehatan ya yang lebih menekankan kepada public health, tujuan kita adalah sekali lagi memperbaiki indikator kesehatan nasional kita yang tertinggal dibandingkan negara tetangga kita. Ya, kita boleh pintar tapi nyatanya kita tertinggal. Ya, slide berikutnya. Nah, ini Bapak Ibu sekalian Bapak Ibu bisa baca sendiri ini yang ee untuk catlab ini di mana aja kita ee bagikan, ya kan. Jadi di 84 kabupaten kota tuh sudah ada bisa melakukan catlab ini data mungkin udah ada yang baru lebih baru dari ini. Slide berikutnya ini untuk yang ee apa namanya? Bedah jantung terbuka ini Bapak Ibu sekalian. Terus ini Bapak Ibu bisa baca sendiri slide berikutnya ini untuk melakukan tadi yang stroke yang bisa melakukan trombektomi dan coiling ya di berbagai macam ee daerah itu. Sekarang kita bisa lihat 72 kabupaten kota juga bisa. Nanti sebentar lagi kita target kita harus seluruh kabupaten kota bisa melakukan ini. Slide berikutnya ini untuk yang trombolisis ya. Ini yang terkait dengan stroke ya. Ya, slide berikutnya ini clipping juga ini terkait dengan stroke. Terus Bapak Ibu bisa baca sendiri ya ini untuk kanker. Kenapa sih sistemic cancer terapi itu kan bisa dilakukan harusnya di di berbagai wilayah terpencil gitu. Orang enggak perlu harus ke ee Surabaya atau enggak perlu harus ke Jakarta. Slide berikutnya. Slide berikutnya ini ee mammografi ini Bapak Ibu bisa lihat sendiri, bisa baca sendiri. Slide berikutnya ini yang terkait dengan ee untuk kanser ini yang ee radiologi yang terkait dengan radiasi ya. Ini yang ini yang ada pet city ini yang terkait kanser ya, sikrotrone. Terus terus terus selanjutnya Bapak Ibu bisa baca sendiri ya slide berikutnya. Slide berikutnya aja ini untuk hemodialysis ya ini untuk CPD ini juga terkait dengan ginjal. Slide berikutnya. Nah, ini Bapak, Ibu sekalian yang berikutnya adalah transformasi sistem kesehatan nasional. Itu terdiri dari farmasial, obat-obatan, dan juga peralatan. Jadi, dua itu yang ingin kita tekankan ya. Vaksin ya, apa namanya ee pengobatan, obat, peralatan dan respon emergency kalau terjadi bencana atau terjadi ee musibah gitu. Ya, ini digital itu. SL slide berikutnya Bapak Ibu bisa baca sendiri nih ya. Ini ini ee produksi kita ee ee jadi untuk obat-obat bahan baku obat dari 8 dari 10 itu kita bisa kita kerjakan di dalam negeri. Ya, sebelumnya belum pernah nih Bapak Ibu sekalian kita impor terus. Nah, ini sekarang kita perbaiki. Ini Bapak Ibu bisa untuk ceritanya bisa baca sendiri. Ini gampang sekali dimerti. Ini sangat jelas. Terus nah ini ee apa namanya ee kerja sama-kerja sama terkait tadi ee bahan baku obat ya. Jadi ada yang namanya API itu active pharmaceutical ingredien itu bahan baku obat itu sekarang mulai kita bisa produksi di Indonesia. Slide berikutnya. Nah, ini perkembangan vaksin ya. Bapak, Ibu sudah mendengar pasti. Terus terus terus terus terus. Saya cepat aja ya Bapak Ibu sekalian. Ini untuk peralatan ya. Langsung aja Bapak Ibu sekalian. Terus nah yang berikutnya adalah transformasi pembiayaan Bapak Ibu sekalian ya. Jadi kita sekarang ingin lagi menekankan eh metodologi yang disebut dengan national health account. Jadi Bapak Ibu sekalian, kita tahu kita tuh mengeluarkan uang banyak banget untuk kesehatan, tapi kenapa indikator K nasional kita rendah? Jadi kita mesti tahu sebetulnya uang kita itu keluarnya ke mana aja. Nah, itu kita bisa lihat itu kalau kita punya National Health Account accounting kesehatan nasional yang bagus ya. Kemudian kita punya sebelumnya masih sebelumnya Pak, kita punya yang namanya health technology assessment HPA. ini juga mau kita ee kita dorong lagi supaya kita bisa memilih obat-obatan atau peralatan atau metodologi yang tepat untuk Indonesia. Itu namanya HTA, Health Technology assessment. Terus kita tadi cover BPJS itu Bapak, Ibu pas sudah dengar ee ada kesulitan di sini karena ini bertambah besar biayanya. Makanya kita tiap tahun sekarang melakukan annual review tarif ya. Ini sekarang kita lagi dalam proses untuk membikin daftar tarif yang baru agar sesuai dengan kondisi di lapangan, ya kan. Nah, kemudian health payment kita konsolidasikan karena ini ada banyak eh pihak yang melakukan pembayaran kesehatan. Dan slide berikutnya Bapak, Ibu sekalian ini kalau kita lihat itu bisa kita lihat itu sebetulnya uang kita yang kita keluarkan ya itu berapa ya. Ya. Dan ini memang meningkat terus Bapak, Ibu sekalian itu bisa dilihat tuh ada private insurance, ada social health insurance, ada dari ee pemerintah kita sendiri, dari NGO ini siapa yang mengeluarkan ruang bisa kita lihat. Dan kalau kita bisa melihat ini, Bapak, Ibu, kita bisa menganalisa masing-masing dan kita bisa memperbaiki bagaimana cara kita ee mengeluarkan pembiayaan agar ini lebih efisien. Terus apa? Terus, terus Bapak Ibu sekalian ini adjustmentnya kita buat. Kemudian yang berikutnya adalah transformasi SD dan kesehatan ya. Ya kan? Ini Bapak Ibu sekalian ini sekali lagi Bapak Ibu sekalian ya kan? Jadi kalau kita lihat kita tertinggal juga dengan negara tetangga kita di Indonesia itu adalah 0,5% per 1000 populasi jumlah dokter kita yang harusnya itu adalah 1,76 per1000 populasi. Orang selalu bilang katanya ini pemerataannya ya kalau jumlahnya cukup enggak. Jumlahnya juga kurang ya bukan hanya pemerataannya. Bagaimana kita bisa memeratakan orang kalau jumlahnya kurang? Ya, dari sisi rasio aja sudah kita lihat bahwa ini kurang gitu dibandingkan dengan negara lain ya. Slide berikutnya. Nah, ini Bapak Ibu sekalian ya. Jadi masih ada banyak ya RSUD kalau di Surabaya mungkin sudah bagus yang masih kekurangan tenaga dokter. Jadi hanya 38% ya, ada 38% yang masih belum memiliki tujuh spesialis dasar di rumah sakitnya ya. Jadi ini Bapak Ibu bisa lihat sendiri ya berapa kekurangannya. Inilah kita sekarang bisa mengidentifikasi kurangnya di mana, jenis spesialis mana yang kurang ya. Ini intinya kita kurang. Makanya kenapa tadi health service coverage kita rendah. Walaupun cakupan BPJS-nya 96% tapi health coverage-nya rendah. Ya, ini saya lengkap aja Bapak Ibu sekalian. Slide berikutnya. Slide berikutnya ya. Ini Bapak Ibu bisa baca sendiri ya. Di primary healthcare juga sama ya. Essential workersnya masih kurang ya. ya. Terus ya dokter spesialis masih kurang ya. Makanya ee kita sekarang membuka ee pendidikan spesialis yang melalui ee berbasis rumah sakit ya. Karena di manapun di dunia itu pendidikan spesialis adalah melalui rumah sakit. Jadi, rumah sakit-rumah sakit ini penting untuk juga menjadi tempat rumah sakit pendidikan dengan standar yang kita akreditasi dengan standar internasional. Jadi, standarnya harus bagus, enggak boleh sembarangan. Slide berikutnya. Slide berikutnya, Pak. Cepat nih ee ini slide berikutnya mungkin ya. Ini. Nah, ini transformasi teknologi kesehatan Bapak, Ibu sekalian ya. Next slide ya. ini kita punya platform yang namanya satu sehat. Jadi nanti semua data-data kesehatan itu bisa kita simpan di dalam HP kita masing-masing. Ya, ini sudah mulai kita jalankan. Mungkin 2 3 tahun lagi ini akan jauh lebih lengkap dari sekarang. Ya, Bapak, Ibu mungkin ingat zaman COVID waktu ada pedulindungi ini sebetulnya mirip-mirip kayak gitu. Tapi untuk semua penyakit dan semua tindakan medis yang dilakukan itu bisa dilihat di dalam HP kita masing-masing. Slide berikutnya ya. Jadi ini ya. Jadi tapi kan untuk bisa koneksi ini kita membutuhkan ee apa namanya? membutuhkan internet dan sebagainya dan ini kita sekarang provide ee jaringan-jaringan sampai ke tingkat Puskesmas. Kalau yang belum ada dengan sistem konvensional, kita menggunakan satelitir ya. Itu untuk kita bisa menghubungkan berbagai macam puskesmas supaya individunya tercatat dengan baik ya, tapi juga dalam melakukan rujukan juga jauh lebih mudah ya. Slide berikutnya. Nah, ini app-nya, aplikasinya Bapak, Ibu sekalian ya sudah 111 juta orang yang menggunakan. Terus, terus. Nah, ini Bapak, Ibu sekalian yang saya bilang ini yang health biotechnology tadi yang precision medicine. Nah, ini Bapak Ibu sekalian mungkin harus terpapar juga dengan ini ya. Karena ke depan itu pengobatan akan jauh berbeda dengan yang sekarang. Kalau kita enggak mengejar ketertinggalan ini karena kita dibandingkan negara tetangga, negara lain, kita tertinggal dalam bidang ini ya. Jadi, ini mesti kita dorong terus, ya. Slide berikutnya. Slide berikut. Nah, ini Bapak Ibu bisa sendiri ini ada videonya. Nanti mungkin Bapak bisa lihat sendiri. Ini terkirim juga kan videonya ya. Bapak Ibu bisa lihat sendiri ya. Ini slide berikutnya aja Pak ya. Nah, ini. Nah, saya ingin karena kita sama-sama ASN nih Bapak Ibu sekalian, Bapak Ibu di PPSDM ya. Apa sih yang terjadi dengan kita nih? Bagaimana sih kita, kenapa performance managementen kita tuh enggak bagus gitu Bapak, Ibu sekalian ya. kita punya aturan yang terkait dengan indikator kinerja individu, tapi sebetulnya kita manfaatkan enggak sih indikator kinerja individu ini? Ya. Nah, ini kalau di Kemen CAS Bapak, Ibu sekalian ini kalau Bapak bisa lihat itu ada unit eson satunya itu ada satu orang yang punya 97 ee Iki, indikator kinerja ya, KPI kalau bahasa Inggrisnya. Ya kan enggak mungkin orang bisa mengerjakan 97. Tapi di di pihak lain ada orang yang I-nya cuman satu. Mungkin dia kerja seminggu selesai tuh I kan setahun enggak kerja. Nah, jadi hal-hal kayak gini Bapak Ibu sekalian ini yang ingin kita perbaiki di Kemnes. Barangkali saya bisa berbagi ini kita masih dalam proses. Tapi kalau Bapak Ibu ingin berbagi pengalaman dengan kami, kami sangat bersedia untuk berkomunikasi dengan Bapak Ibu sekalian. Bagaimana sih kita menerapkan IKI? Kita sih tiap tahun ngisi, tiap tahun ngisi Iki kita pasti. Tapi IKI itu, Bapak, Ibu sekalian, barangkali tidak berhubungan atau tidak dimanfaatkan dalam kerangka mencapai target organisasi. Organisasi yang baik itu harus punya target, punya visi besar. Nah, visi besar ini kayak tadi yang enam pilar transformasi kesehatan ya kan di sisi di tingkat kementerian barangkali orang paham tapi sebagai individu terus saya mesti ngapain itu pertanyaan yang banyakan gitu. Nah, individu mengerjakan ini harus bisa mencapai tujuan besar dari transformasi kesehatan nasional kita. itu yang paling penting. Nah, jadi ini kalau kita lihat kita melakukan sedikit analisa di kantor ternyata ada seperti ini. Jadi mungkin Bapak Ibu di PPSDM coba deh lihat berapa yang punya IQ banyak, punya IQ sedikit, apakah dia berimbang antara unit-unit kerja itu perlu diperbaiki ya. Slide berikutnya. Nah, ini Renstra Kementerian Kesehatan Bapak, Ibu sekalian ya. Sesuai ini kita menurut kita kan bekerja sebagai pegawai negeri pasti sesuai dengan peraturan yang ada. Kita harus buat RENSRA. Tapi apakah rensra itu sesuatu yang ee sesuatu yang betul-betul bisa dijalankan atau hanya rstra basa basi itu sangat berbeda makanannya kan gitu ya. Nah, renstra yang baik itu harus mempunyai target, mempunyai tujuan dan target. Nah, ini kita lihat kalau di Kesehatan ya untuk mencapai visi misi untuk mencapai tujuan-tujuan transformasi kesehatan kita mempunyai enam tujuan. Nah, masing-masing tujuan itu ada indikatornya, targetnya berapa. Ya, itu contoh tadi yang paling kiri. Karena kita health coverage kita rendah masih 54%, target kita tahun ini adalah 63,5 tahun. Eh, 65 63,5%. Nah, sori itu salah. Itu bukan tahun, itu persen harusnya ya. Eh, sori sori yang di sebelah kiri itu. Betul ya. Jadi gini Bapak Ibu sekalian. Indikator tujuan yang pertama itu terkait dengan umur harapan hidup. Umur harapan hidup kita itu memang cukup tinggi 72 tahun. Tapi hidup sehat dengan kualitas yang baik itu kita masih rendah, Bapak, Ibu sekalian. Masih sekitar hanya 60 tahun. Walaupun umur kita rata-rata panjang 72 tahun, tapi hidup sehat dengan kualitas yang baik itu sama 60 hanya 63 tahun. Nah, itu indikatornya ada Bapak secara internasional menurut WHO ada. Nah, kita targetnya meningkatkan umur dengan kondisi sehat sampai 63 tahun. Nah, kemudian yang di kanan itu baru yang tadi saya sebut tadi ya adalah yang terkait dengan service coverage tadi. Walaupun kita 96% dalam populasi coverage, tapi health coverage-nya kita masih rendah. Masih rendah ee kita ingin menaikkan ee untuk lebih tinggi lagi ya. Jadi indeksnya mau kita naikkan sampai 56,75. Karena indeks kita ini gila karena indeks kita itu adalah ee masih sangat rendah tadi Bapak, Ibu sekalian. Ee ya slide berikutnya. Nah, dari enam tujuan tadi, Bapak, Ibu sekalian di tingkat menteri kan tadi ada enam tujuan slide berikut sebelumnya itu bagaimana kita menurunkannya ke bawah, menurunkannya ke tingkat Eston 1 tuh ada yang disebut dengan indikator sasaran strategis. Ini Bapak, Ibu sekalian pasti sudah tahu nih, tapi bagaimana kita mempraktikkannya itu yang tantangan buat kita semua. Kemudian ada indikator ee kinerja program untuk eslon 1 dan ada indikator kinerja kegiatan untuk eslon 2 dan ada indikator kinerja individu. Jadi bisa Bapak Ibu bayangkan dari indikator tujuan yang di atas tadi di eslon 1, eson 2 turun ke bawah sampai ke individu bisa enggak indikator kinerja individu yang paling bawah itu memang betul-betul mendukung indikator kinerja tujuan yang besar tadi nah itu tantangan kita semua karena selama ini saya lihat di Kemenkes orang bikin individu itu adalah pekerjaan sehari-hari dia jadikan indikator kinerja padahal bukan itu sebetulnya Ya, indikator kend individu itu harus bisa mencapai tujuan yang besar tadi, tujuan organisasi yang besar melalui Renstra tadi ya. Slide berikutnya. Nah, ini Bapak Ibu bisa lihat ini di masing-masing 1 berapa indikator tujuan yang terkait. Kan kita punya indikator tujuan tadi ya, Bapak, Ibu sekalian ada enam. Jadi masing-masing Slon 1 itu mengampu berapa indikator tujuannya? Ini Bapak Ibu bisa lihat sendiri sampai ke eselon 2-nya slide berikut ya. Nah, ini kita ya dalam rangka transformasi internal kita, Bapak Ibu sekalian dalam rangka kita menyusun indikator kinerja individu atau yang sering disebut dengan KPI ya, kita membuat apa yang disebut dengan ee kerangka prima ya. Jadi kita ini mengajarkan nih, Pak, ke masing-masing ee eslon 2 masing-masid itu enggak gampang, Bapak, Ibu sekalian, ya. Karena ee prima itu p-nya adalah pahampahami ee visi dan arah tujuan, ya, Bapak, Ibu sekalian. Yang kedua, R-nya itu rumuskan strategi. Nah, karena tujuan tadi biasanya kita enggak pernah merumuskan strategi. Mau begini, kita kan kerja sehari-hari kerja rutin aja. pokoknya ada kerjaan kerjain, ada kerjaan kerjain. Tapi Kak, apakah kerjaan kita itu tadi bermakna untuk pencapaian tujuan yang besar tadi? Itu masih tanda tanya besar. Makanya banyak sekali indikator kinerja kesehatan nasional kita yang masih tertinggal di dengan dibandingkan dengan negara lain ya. Jadi rumuskan strategi R-nya itu adalah yang paling berat Bapak, Ibu sekalian. Nah, kalau kita sudah rumuskan strategi, kita mesti identifikasi tim kerja di bawahnya 3-nya tuh siapa yang mengerjakan strategi tadi, ya kan. Nah, kalau sudah itu kita mulai jabarkan indikator kinerja ya. Kita jabarkan apakah IK itu sesuai dengan kaidah-kaidah smart ya. Smart itu adalah apa namanya? Dia terukur ya dia itu apa namanya? Ee bisa dijalankan dengan baik. merupakan hasil kompromi dengan yang lainnya. Ya. Dan yang terakhir adalah yang disebut dengan dialog kinerja. Pasti Bapak Ibu sekalian di PPDSM kita tiap hari ngomong tentang dialog kinerja. Tapi dialog kinerja yang efektif itu seperti apa? Itu tantangan kita, Bapak, Ibu sekalian ya. Jadi ee itu yang jadi tantangan buat kita. Slide berikutnya. Nah, ini Bapak, Ibu sekalian dari IT tadi ini untuk 1 eselon 2 ini contoh aja Bapak Ibu sekalian ya. Di kita ada namanya Direktorat Pelayanan Kesehatan. Kaitan dia dengan indikator tujuan yang di atas tu apa? Nah, ini ada turunannya. Ada turunannya nih Bapak, Ibu sekalian. Ada IKP-nya ya kan tadi ada dari tujuan ISS turun ke IKP. berapa IKP yang mesti mengampu, berapa IKK yang mesti mengampu. Nah, ini mesti diidentifikasi nih, Bapak, Ibu sekalian. Nah, ini Bapak Ibu kita butuh waktu panjang nih untuk berdiskusi tentang ini. Nanti saya sangat terbuka untuk membagi pengalaman kita di Kemenkes. Slide berikutnya ini contohnya dari IKP, dari ISS turun ke IKP, turun ke IKK. Ya, jadi enggak gampang kita sebetulnya kerja itu Bapak, Ibu sekalian kalau kerjaan kita mau bermakna dengan tujuan organisasi yang berbasis rencana strategis tadi ya. Slide berikutnya kita cepat aja kita lengkap ya. Nah, ini semua tadi IKK-nya. Terus nah ini terus, Pak langsung aja. Nah, ini contohnya kita ambil contoh satu IKK aja sudah menunjukkan merumuskan strateginya sudah ee penuh tantangan. Bapak, Ibu sekalian ini kita baru mulai nih Bapak Ibu sekalian jadi belum selesai juga ya. Tapi untuk menurunkan ini aja kita sudah butuh waktu panjang karena ini mesti berdialog dengan eslon 2, berdialog dengan staf dan sebagainya. Slide berikutnya. Nah, ini kalau kita dapat tadi ini baru satu IKK ya, satu IKK tadi kita punya tiga strategi misalnya. Nah, kalau kita punya tiga strategi harus ada aktivitas-strateginya. Aktivitasnya apa? Nah, aktivitas inilah Bapak Ibu sekalian yang menjadi dasar untuk menyusun KPI ya, untuk menyusun IK ya. Slide berikutnya ini menyusun IKIN-nya ya. Kita identifikasi tim kerja dulu, Pak. Ya. Strategi 1 dikerjakan oleh siapa? Slon 3-nya siapa? Strategi 2 siapa? Ya, slide berikutnya. Nah, baru aktivitas strategi ini tadi Bapak, Ibu ini adalah menjadi dasar untuk menyusun indikator kinerja individu. Output-nya apa harus jelas ya. Jadi ini ya kita sekarang enggak boleh IK itu lebih dari 10 untuk satu orang, satu individu. Tadi seperti saya sampaikan di slide berikutnya ada yang sampai 97 itu sudah pasti enggak mungkin aja gitu ya. Slide berikutnya. Nah, Bapak Ibu sekalian ini problem bersama kita sebagai HSN nih Bapak Ibu sekalian. Kita biasanya kalau memberikan nilai kan baik, sangat baik ya. kita agak sungkan memberikan kurang ya, tapi baik sangat baik pun itu kadang-kadang dengan perasaan kita gitu. Nah, ini yang mau kita ubah Bapak, Ibu sekalian sehingga orang-orang yang menjalankan core tugasnya dia itu harusnya nilainya baik kalau dia selesai. Jadi, IQ tadi kalau dia kerjakan selesai itu baik. Tapi kalau dia mengerjakan beyond, ada yang disebut dengan dia mengerjakan lebih, itu bisa kalau dia menyelesaikan pekerjaan lebihnya itu, itu menjadi sangat baik. Jadi kita pengin objektif gitu. Jangan semua dikasih sangat baik. Kalau semua dikasih sangat baik, susah kita untuk melihat mana orang yang baik, mana orang yang enggak baik. Mana orang yang bagus, mana orang yang enggak bagus. Ya. Nah, semua core dan beyond ini harus dilakukan dialog kinerja dengan atasannya. Jadi enggak bisa kita menentukan sendiri, enggak bisa si staf itu menentukan sendiri ya. Nah, jadi Bapak Ibu sekalian slide berikutnya ini contoh IKIN-nya ajak dialog tadi Bapak Ibu sekalian mana yang core, mana yang beyond harus berdialog ya. Nah, ini Bapak Ibu sekalian garis besar apa yang kita lakukan di Kemenkes ya untuk bagaimana kita mereformasi SDM kita. Ya, tujuannya supaya SDM kita, organisasi Kemenkes bisa melakukan en pilar transformasi yang dibutuhkan untuk memperbaiki indikator kinerja kesehatan nasional kita. Nah, jadi itu Bapak, Ibu sekalian sekelumit pengalaman dari kami ya. kita. Saya sangat terbuka kalau Bapak, Ibu ingin ee berdialog lagi dengan kami ya silakan silakan saja Bapak Ibu bisa ke Jakarta atau saya bisa ke sana silakan saja Pak ya. Ini karena ini tujuan kita adalah semua memperbaiki indikator kinerja nasional kita. Barangkali saya akan berhenti di situ, Bapak Ibu sekalian ya. Nanti lain waktu kita akan bisa bertemu lagi. Sekali lagi saya ingin mengucapkan terima kasih ya kepada Bapak Ibu sekalian. Tetap semangat Bapak Ibu sekalian. Terus lakukan reform di tempat masing-masing ya. Reform itu berat ya Bapak Ibu sekalian. Tantangannya banyak tapi lakukan itu demi kita melayani masyarakat dengan baik. Tujuan kita adalah melayani masyarakat ya masyarakat yang sehat dengan indikator kesehatan nasional. yang baik. Bapak, Ibu sekalian terima kasih banyak. Mohon maaf seandainya ada hal yang kurang berkenan. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [musik] Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Pak Bambang atas materinya yang sangat menarik terkait dengan data performance kesehatan kita yang memang menjadikan awareness tersendiri buat kita untuk bagaimana kita bisa mengejar ketertinggalan tersebut melalui upaya enampil transformasi kesehatan yang sudah Bapak berikan. Saat ini kita akan masuk ke sesi tanya jawab. Mohon maaf karena keterbatasan waktu kita harus membatasi satu penanya saja dari Sobat ASN. Silakan bagi yang sudah bergabung bisa langsung saja menggunakan feature rise hand ataupun yang tengah menyaksikan melalui live YouTube BPSDM Jatim TV. Anda bisa memberikan pertanyaan kepada narasumber kita melalui kolom live chat. Kita akan undang untuk penanya kita yang sudah bergabung di pagi hari ini. Selamat pagi, Bapak. Mohon izin, Bapak. Iya, ya. Oke, suaranya sudah masuk. Oke. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Dunaso, SH dari Sindan, Kota Kediri. mau bertanya Bapak untuk yang kesehatan mental ASN itu apabila ada mutasi baik internal atau eksternal itu apakah ee perlu dicek kesehatannya baik itu secara keseluruhan ataukah dengan secara psikologisnya. Terus yang kedua termasuk indikator kinerja individu lah itu yang menjadi cash cading apa cor coding itu siapa? Mohon petunjuk Bapak. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Mohon maaf, Pak. Tadi pertanyaan yang kedua sedikit kurang jelas, Pak. Yang pertama kan terkait dengan ketika mutasi, apakah perlu dicek kondisi kesehatan baik dari psikologis maupun fisiknya. Pertanyaan kedua mungkin bisa disampaikan ulang, Pak. Oke. Ee terkait iki indikator kantor kinerja individu ya. Heeh. Iya betul. Ee untuk yang menjadi cas cading-nya itu siapa Bapak? Mohon petunjuk Pak. Kalau saya ee mengerjakan kayak apa istilahnya lek cara jaiki gitu loh. Eah itu untuk yang jadi cost cash cading-nya itu apakah yang membuat atau atasan langsung? Oke. Ee mohon petunjuk Bapak. Demikian dari saya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Silakan, Pakam. Langsung saja dijawab, Pak. Kalau pertanyaan pertama, Pak ee jawaban cepatnya iya, Pak. Harus, ya. Harus. Enggak usah orang yang mutasi, Pak. Untuk yang semua pegawai kalau bisa kita lakukan cek kesehatan rutin ya, termasuk kesehatan jiwa. Kita di Kemenkes sudah mulai nih, Pak ya. Jadi tiap tahun kita melakukan cek rutin dan kita lombakan tuh unit mana yang kolesterolnya paling tinggi ya, unit mana yang apa namanya gula darah H A1C-nya ee banyak yang merah gitu. Itu kita lombakan tuh, Pak. Jadi apalagi kita di Kemenkes kan kita yang harusnya membikin orang sehat gitu. Kalau kitanya sendiri enggak sehat ya agak berat juga gitu. Nah itu kita kita lakukan, Pak. Cek itu biayanya besar memang Pak. Ini susah ya. Apalagi orang yang ingin mutasi dan rotasi sebaiknya sih dicek, Pak. Termasuk kesehatan jiwanya, ya. Kalau yang kedua, Bapak Ibu sekalian ini memang pekerjaan berat. Kalau secara rutin atau secara sehari-hari memang yang melakukan itu adalah biro yang terkait dengan OSDM, biro yang terkait dengan sumber daya manusia. Harusnya dia yang menginisiasi bekerja sama dengan biro perencanaan. Karena ini hubungan yang dapat strategi besarnya itu biasanya dari biro perencanaan ya. Nah, tapi biasanya dua apa dua unit ini OSDM dan perencanaan kan kerjaannya juga sudah banyak gitu, Pak. Nah, kami di Kemenkes karena pegawai kami itu 60.000 ya, kami membuat unit khusus untuk informasi untuk transformasi internal ya. Jadi kita mempunyai unit khusus nih, Pak, dibentuk oleh Pak Menteri ya, yang disebut dengan eh cultural transformation office, ya. Jadi kita punya yang namanya CTO itu adalah cultural transformation office. Kita yang menangani itu dalam rangka membantu biroM dan biro perencanaan untuk merumuskan strategi dan untuk meng-cascading dia sampai ke tingkat individu. Ini kerjaan berat Bapak Ibu sekalian. Ini kita juga baru mulai tapi kalau kita enggak mulai nanti telat terus kita, Pak. ya kan selama ini kita mengisi IKI ya kerjaan rutin kita jadi IKI tapi enggak ada hubungannya dengan tujuan organisasi yang berbasiskan RSTRA tadi. Jadi mudah-mudahan saya bisa menjawab pertanyaan Bapak Pak. Semangat terus Pak kita ingin membantu masyarakat supaya tetap sehat di ke depannya kita enggak ketinggalan dengan negara-negara tetangga kita. Terima kasih, Pak. Terima kasih Bapak untuk pertanyaannya. Terima kasih juga Pak Bambang untuk jawabannya. Pak Bambang sekali lagi terima kasih untuk materi-materinya yang sangat menarik sekali. Semoga ini dapat diresapi oleh para sobat ASN kita untuk bersama-sama kita melakukan transformasi kesehatan di Indonesia. Salam sehat selalu untuk Pak Bambang. Kita bertemu lagi di event-event selanjutnya. Thank you, Pak. Terima kasih banyak. Salam sehat semuanya. Baik, Sobat ASN. Jangan ke mana-mana. Bagi yang masih belum berkesempatan untuk bertanya kepada narasumber kita. Kita masih punya dua narasumber lagi. Tetap di webinar ASN belajar seri 44. [musik] Anda kembali lagi menyaksikan webinar ASN Belajar seri 44. Kali ini di paparan kedua kita akan mendengarkan paparan materi yang sangat menarik langsung dari Prof. Cita Rosita Sigit Prakuswa, beliau selaku Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Sutomo Surabaya. [musik] Telah bergabung bersama dengan kami semua di sini. Prof. Cita. Selamat siang, Prof. Cita. Kabar baik. Selamat siang, Mas Lukman. Alhamdulillah baik. Baik. Tadi kita sudah mendengarkan paparan dari Pak Bambang Widianto. Kali ini kita akan mendengarkan paparan materi dari Prof. Cita terkait dengan partisipasi aktif ASN dalam mendukung kebijakan dan inovasi di bidang kesehatan. Mohon izin Prof. Cita nanti untuk waktu penyampaian materi kurang lebih selama 30 menit nanti kita akan langsung masuk ke sesi tanya jawab. Silakan Prof Cita. Terima kasih Pak Lukman. Izin share screen di slide show. Ayo, mau dikecilin ya. Apakah sudah kelihatan Pak Lukman? Terlihat, Prof. Cita. Silakan. Baik matur nuwun Pak Lukman ya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang, salam sejahtera. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan. Ee pertama-tama terima kasih Bapak Ramli yang telah ee memberi kesempatan saya join di acara yang luar biasa ini. Dipandu oleh Pak Lukman dan tadi bersama Bapak Bambang Widianto dari Staf Khusus Kementerian Kesehatan dan juga nanti dengan Prof. Ratna, Dekan FKM UNAIR. topik saya ee dengan tema Sehat untuk semua berdaya untuk semua transformasi kesehatan untuk Indonesia Emas 2024 dengan topik partisipasi aktif ASN dalam mendukung kebijakan dan inovasi di bidang kesehatan baik lingkungan kerja maupun di masyarakat. Maka kata kuncinya adalah ASN partisipasi aktif kebijakan bidang kesehatan, lingkungan kerja dan masyarakat. Latar belakang dan relevansi ini sangat ee penting topik ini. Kenapa tadi Bapak Bambang sudah menyampaikan tentang transformasi kesehatan hanya bisa berhasil bila ASN mengambil peran aktif sebagai agen perubahan. Jadi bukan hanya pelaksana tapi penggerak pelaksanaan kebijakan di lapangan dan inovasi layanan dan pendidikan klinis karena kami adalah rumah sakit pendidikan utama Fakultas Kedokteran UNangga harus diterjemahkan menjadi praktik nyata di Ingat kerja. budaya kerja berbasis data, mutu, akuntabilitas akan memperkuat daya unggit perubahan dan setiap ASN berdampak pada masyarakat sehingga orientasi bukan hanya menyelesaikan program tetapi mengarah pada outcome. Tadi Pak Bambang juga sudah menyampaikan dan prinsip sehat untuk semua berdaya untuk sesama menjadi Kompas Moral ASN masa kini untuk Indonesia, Mas 2024-2045 yang membutuhkan ASN yang mampu memimpin transformasi dan sebagai garda terdepan sistem kesehatan. Kalau kita bicara inovasi tadi seperti ada kata kunci di depan di pada judul penuhan baru atau pembaruan ini beda ada agak perbedaan kalau penemuan baru ya baru gres gitu ya kalau pembaruan sudah ada tapi di ATM amati tiru modifikasi dan bentuknya bisa gagasan, metode ataupun alat. Nilai dasar core value dari ASN berhalak antara lain adalah adaptif yaitu ASN harus cepat menyesuaikan diri menghadapi perubahan yang abadi adalah perubahan itu sendiri. dan ASN terus harus berinovasi, mengembangkan kreativitas, dan tentu berani mencoba, tidak takut gagal, dan belajar dari pengalaman. Sehingga dari tiga poin tersebut, maka partisipasi ASN dalam kebijakan dan inovasi di bidang kesehatan menjadi sangat penting. Merupakan ujung tombak penyelenggaan pemerintah pelayanan publik dan Indonesia. Saat ini telah disampaikan oleh Pak Bambang tadi sedang melaksanakan transformasi sistem kesehatan melalui enam pilar utama antara lain SDM yang kita bahas hari ini. Dan keberhasilan tentu tergantung dari partisipasi aktif ASN yang tidak hanya pelaksana program namin juga change agent atau agent of change dan inovator publik. Ini sudah dijelaskan panjang lebar tadi oleh Pak Bambang. Matur nuwun. Dan kita fokus pada transformasi SDM kesehatan. Jadi ada empat tahapan penting dalam partisipasi aktif ASN dalam mendukung kebijakan dan inovasi di bidang kesehatan. Yang pertama adalah tahap pemahaman dan adaptasi atau implementasi kebijakan. Dengan cara apa? Pada tahap awal ini memastikan kebijakan kesehatan terbaru dapat diimplementasikan dengan benar dan adaptif. Untuk itu harus paham enam pilar transformasi kesehatan, bagaimana adopsi budaya kerja baru, dan kompetensi digital yang saat ini memang mau tidak mau, suka tidak suka harus kita lakukan. Tahap kedua adalah identifikasi masalah dan ideasi inovasi. Jadi, partisipasi aktif ini diwujudkan dengan mencari titik lemah dalam sistem layanan yang ada dan menawarkan solusi baru. Bapak, Ibu sekalian, identifikasi kesenjangan dan gagasan kreatif ini penting karena masalah itu ada di sekitar kita dan bagaimana cara berinovasi? Ya harus nemu masalahnya, gap-nya apa dan kemudian solusi dan solusinya itu tidak mungkin dilakukan tanpa kolaborasi lintas fungsi. Itu yang kedua. Yang ketiga, tahap perancangan atau uji coba. Setelah ide ditemukan, maka ASN harus berani menguji terbatas. Dengan cara apa? Membuat prototippe, uji coba skala kecil dan pengukuran dampak dan perbaikan berkelanjutan. Yang keempat adalah tahap perlembagaan dan replikasi dampak luas. Jadi kalau sudah bagus, berhasil harus menjadi praktik dan standar yang dibagikan. Di sini ada perlembagaan atau institusionalisasi, dokumentasi, dan diseminasi, dan partisipasi IKPP menjadi duta inovasi. Jadi secara menyeluruh maka keempat tahapan ini dengan menjalani keempat tahapan ini maka ASN bertransformasi dari sekedar pelaksana menjadi penggerak utama yang secara aktif merancang mewujudkan meningkatkan mutu layanan kesehatan. Jadi sekali lagi inovasi itu tidak selalu sesuatu yang muluk-muluk. Apapun yang ada di sekitar kita, kita tahu masalah tuh sudah alhamdulillah tahu masalah. Kemudian W-nya akad masalahnya apa? kemudian mulai mengelis prioritisasi dan solusi yang paling mungkin paling mampu laksana itu yang kita melakukan inovasi dalam mencapai solusi dan kalau inovasi itu sudah berjalan, lanjutannya apa? Ya dilanjutkan. W sudah bagus ya. Yang kedua direplikasikan dan yang ketiga atau diamati tiru modifikasi untuk masalah yang lain. Eh, izin kami men-share best practice di Sutomo. Jadi, eh kami sudah terakreditasi internasional, join commission internasional dengan kategori academic medical center hospital yaitu ada dua em bidang utama atau pokja utama yaitu medical professional education dan human subject research program. Sutomo adalah Rumah Sakit Pendidikan Utama Universitas Erlangga. Tetapi tentu kami sebagai rumah sakit juga berdiri dan memiliki Sutomo Health Education Training Center yang sampai saat ini menjadi eh tulang punggung terutama Indonesia bagian timur dan seluruh Indonesia untuk melakukan pelatihan dan juga pendidikan selain dari UNER. Dan alhamdulillah kami telah mengembangkan interconnected innovation ekosystem, ekosistem inovasi yang terkoneksi. Bapak, Ibu sekalian, sekedar sharing pada tahun 2022 kami melakukan organisasi eh health index survei dan dari empat nilai budaya dari Sutomo etika integritas profesional, inovatif yang paling tinggi dinilai oleh masyarakat adalah profesional dan dinilai oleh diri sendiri dan yang paling rendah adalah inovasi. Dan ee dengan berubahnya sistem terutama sistem IT mandiri pada 1 Januari 2023, maka inovasi yang tadinya kurang baik. kemudian sekarang menjadi em cukup baik bahkan baik kalau kita melihat before after dari IT Mandiri. Jadi ee yang ke belakang ini kita akan diskusi tentang bagaimana ekosistem inovasi di Sutta mau dibangun dan berkolaborasi dengan seluruh bidang. Saya paling senang gambar ini merupakan sebuah filosofi bola lampu. Kalau kita lihat bola lampunya ini, maka yang paling penting adalah bagaimana power-nya masuk. powernya itu adalah SDM dan bagaimana dia bisa menyinari sekeliling dengan sinar yang bagus dan ee fokus adalah tergantung dari sungkupnya. Sungkup utama tentu pelayanan medik karena rumah sakit adalah untuk unit layanan publik ya. Kemudian tiga poin yang penting lainnya adalah pendidikan profesi, penelitian dan keesd-an umum operasional dan perencanaan dan keuangan. Dengan visi menjadi rumah sakit tersier terpercaya aman, dan bermutu tinggi serta mandiri, maka empat misi ini harus dijalankan di empat direktorat dengan baik dan dengan mengimplementasikan nilai budaya, etika, integritas, profesional, inovatif. Sekali lagi kami adalah pemberi layanan kesehatan dan pendidikan dan penelitian tidak bisa lepas dari kesehatan dan harus mendukung kesehatan. Sutomo ada 18 hektar tapi saya paling suka spot ini. Sering dibuat spot foto juga untuk tamu-tamu karena di latar belakang adalah heritage sejarah. Kita tidak bisa melupakan sejarah. Kemudian hijau-hijau ini merupakan masa depan yang gemilang dengan e tumbuhan yang tumbuh subur dan ada air dan juga ini ada patung keluarga yang menggambarkan bahwa sitas Hospitalia Sutomo yang kalau bicara tentang ASN sekitar 5.000 sekian, tapi kalau ditambah dengan adik-adik PPDS, pegawai BLUD kontrak dan lain-lain ya sampai mencapai 7.000-an ya dan di sini ada anak-anak bermain, ada orang tua dan lainnya. Jadi ini adalah spot yang menurut saya paling filosofis di Sutomo. Fenomena pertama isu terkait sustainability caring of life. Jadi ada tiga pilar penting. Yang pertama planet tadi sudah disampaikan juga oleh Pak Ramli pada saat eh pembukaan ya opening bahwa kita harus menjaga planet people. Sutomo adalah rumah sakit harus menjaga civitas hospitalia, kesejahteraan dan juga masyarakat. Tentu jauh dari sempurna. Namun insyaallah kami kawan-kawan seluruhnya berbenah untuk sutama yang lebih baik dan profit. Karena hanya dengan profit yang baik maka planet dan people bisa kita rawat bersama-sama. Sehingga tiga hal pilar ini menjadi penting dalam mewujudkan atau dalam mengatasi fenomena pertama isu terkait sustainability caring of life. Dan alhamdulillah pada penilaian ESG Environmental Social Governance Assessment Report yang dilakukan oleh lembaga eh dari Korea sutama mendapatkan nilai 94. Kalau kita lihat di sini memang bagus ya 94 tapi range-nya yang mulai 33 sampai 98 walaupun menggerumbulnya di sebelah sini ya dan kemudian untuk environ-nya ya rata-rata masih di sini ada 33 sampai 78 gak apa-apa memang sulit untuk mencapai kesempurnaan dari segala macam keterbatasan tetapi yang penting ee hasilnya baik dan bisa terukur dan yang kekurangan-kekurangan yang penting ke depan menjadi lebih baik lagi. Kemudian fenomena kedua tadi yang pertama adalah sustainability caring of life dengan tiga pilar eh people, kemudian eh planet dan profit. Kemudian yang kedua ini adalah survei terhadap orang Indonesia berobat ke luar negeri. Ternyata Jawa Timur nomor dua ya di sini ee peringkat yang menjadi masyarakat keluar negi sehingga arahan dari Ibu Gubernur ayo gimana caranya agar eh world class hospital itu bisa dilaksanakan dan bisa ngerem laju pasien-pasien yang berobat ke luar negeri. Faktor yang mempengaruhi ee reputasi dari World Cital ada berbagai macam antara lain adalah manajemen dan kepemimpinan. Kalau kita bicara manajemen adalah struktur direktur, direksi salon 3, katimker, kemudian kepala instalasi, kepala unit, kepala KS, ketua KSM, koordinator KSM dan ee komite-komite unit lain dan seterusnya. Sementara kalau kepemimpinan itu adalah bicara leadership. kita masing-masing adalah pemimpin diri sendiri, pemimpin lingkungan kecil kita, dan masing-masing unit di rumah sakit atau di sebuah organisasi tak ada satuun orang dan tak ada satuun unit yang tidak penting. Ini perlu dipupuk dan ini menjadi keberhasilan untuk reputasi Wordtas Hospital. Faktor eksternal ini sulit kita kendalikan rekomendasi pasien tetapi bisa diarahkan atau diperbaiki atau ditingkatkan bila kualitas pelayanan klinis juga meningkat. Kalau kualitas pelayanan kinas meningkat, maka pengalaman dan kepuasan pasien meningkat. Sehingga memang kami sangat peduli rumah sakit besar dari kritik sehingga kami sangat menerima kritik dan saran untuk perbaikan ke depan. Nah, yang paling penting adalah inovasi dan teknologi. Saat ini digitalisasi sesuatu yang tidak bisa kita hindari dan untuk bersandar internasional harus memiliki inovasi dan teknologi yang baik. Di Sutomo ada inovasi medis. Kami selalu terus-menerus melakukan inovasi dan inovasi itu dilakukan oleh sumber daya manusia yang profesional sehingga memiliki tim yang terdiri dari keseluruhan yang untuk terus-menerus berinovasi untuk Sutomo tangguh tumbuh dan terus melaju serta lebih baik. Inovasi di Sutomo diawali atau di-support atau dikompori gitu ya oleh digitalisasi dan efisiensi dari kemandirian IT yang alhamdulillah sudah menjadi tonggak sejarah untuk kami 1 Januari 2023. Sutomo tugasnya melaksanakan upaya kesehatan dengan upaya peningkatan, pencegahan, dan penyelenggaraan upaya rujukan serta penyelenggaraan pendidikan, pelatihan, penelitian, pengembangan kesehatan dan digitalisasi mandiri ini ee sudah dibuktikan untuk pengelolaan data yang benar dan alhamdulillah kami mendapatkan juara satu untuk satu data tahun kemarin dan tahun ini. Dan kami menjalankan sistem informasi enterprise utama untuk transparansi dan akuntabilitas atau siesta. Tidak hanya terkait layanan tapi juga pendidikan, penelitian, pengembangan, dan pengadaan mulai dari perencanaan brief sampai vendor management system. Pengadaannya ada UPPTSA unit pengadaan satu atap sampai pembayaran dengan DGP. Kemudian juga yang lain-lain tentang umum operasional, tentang ee IT dan seterusnya. Kemudian Aksata. Aksatnya dari bahasa Sanskrit artinya adalah keberlanjutan tadi, sustainability eh medical record secara mandiri sudah kami lakukan juga. Dan untuk pengamanan data telah terserifikasi ISO 270012022. Dalam semua slide hampir ada innovating efficiencies dan regulating dependencies. Harus harus efisien. Gimana caranya efisien? Harus berinovasi. Dan kami adalah Rumah Sakit Umum Daerah milik PEMPR Jatim. Matur nuwun untuk dukungan Pempr Jatim yang luar biasa. mau enggak mau pasti tergantung pada PMPing. Tapi kami berusaha untuk meregulasi ketergantungan itu sehingga ada roadmap untuk menuju kemandirian. Persiapan IT mandiri ini merupakan sesuatu yang panjang dan berliku-liku. Akhirnya happy ending digitalisasi mandiri 2023. Jadi untuk Bapak Ibu mungkin ee para pengelola rumah sakit yang belum IT mandiri ee harus bersemangat karena dengan IT mandiri kita bisa melakukan apa yang kita mau dan inovasi juga bisa ee berjalan dengan cepat dan ee tumbuh terus untuk layanan yang lebih baik. Transformasi IT mandiri tadi sudah ada pada slide sebelumnya, tapi yang penting ini efisiensinya langsung kelihatan ya. Tadinya hampir 20 M 1 tahun sekitar 15 kadang-kadang 16 dan seterusnya. Pada saat COVID pun masih 15 ya. Kemudian 2023 sekitar 9 karena kami harus mencukupi sarpras dan saat ini untuk 2025 ada ee 5 miliar ya sampai pada bulan Oktober. Dan ini sudah bisa kelihatan bahwa efisiensi itu ee sangatlah em terbantu ya. Dan kita bisa mengalihkan dana ini untuk dana operasional layanan publik yang lain. Before after-nya sebelum aplikasi-aplikasi 2 setelah 65 sebelum 28 server setelah 53. Data pihak ketiga validitasnya rendah kemudian sekarang validitasnya tinggi mencakup confidentiality integrity dan availability. integrasi. Awalnya sulit untuk integrasi dan saat ini sudah berintegrasi dengan berbagai macam stakeholder. Sekali lagi IT Mandiri ini menjadi penopang inovasi yang terjadi di Sutomo. Ini adalah interconnected innovation ekosistem kami yang disederhanakan dan tagline-nya adalah one innovation open up another innovation. Satu inovasi membuka inovasi yang lainnya. satu inovasi yang berhasil tidak hanya dilanjutkan dan direplikasi, tapi juga menjadi masalah berikutnya dan diselesaikan itu akan bergulir terus. Command Center sebagai command center sebagai eh back office dan front office merupakan pusat pengendali. Alhamdulillah didukung kerja sama pengembangan big data oleh Diskominfo dan jugaembang pengembangan AI oleh ITS dan ee tentu saja layanan medik merupakan yang utama dengan rekam medis elektronik Aksata. Tata tapnya adalah turn around time antar titik pelayanan di IGD, bagaimana mempercepat jalur pelayanan, kemudian jadwal dinas digital dari eh kawan-kawan dari keperawatan, PEx ini Pek sistem untuk radiologi. Jadi kita menggunakan tidak lagi menggunakan kertas ataupun film, CCTV, LIS untuk laboratorium pendaftaran online mempercepat layanan ambulans layanan eh anjungan pendaftaran mandiri, BE monitoring sikompass untuk operasi S klaim untuk klaim PPJS didukung oleh tadi yang saya sampaikan brief untuk perencanaan kemudian vendor management system sampai di GP dan juga ada ini JP ya kemudian ada manajemen aset Nutriart untuk kawan-kawan dari gizi sandi sampaikan keuanmu di sini dan survei kepuasan masyarakat menjadi tolok ukur bagaimana kita sudah melayani dengan baik dan kelitbangan ada elektronik KPK monitoring evaluasi riset si cerdas untuk training center global research site dan health technology assessment manajemen sumber daya manusia karena inovasi tadi eh interconnected innovating ecosystem dijalankan oleh SDM. Nah, sekarang bagaimana manajemen SDM bisa dilakukan dengan baik? Bapak, Ibu sekalian, kalau kita bicara ruang lingkup dalam sebuah organisasi ada people, ada structure. Untuk people membutuhkan transformasi kultur untuk menjadi lebih baik ya dengan organizational culture. Eh, dan untuk structure kita membutuhkan transformasi bisnis. People diperlukan untuk high commitment untuk mengeksekusi service quality. Sementara structure diperlukan on the high performance untuk juga service quality. Kita lihat bahwa di sini kami mengadakan em inovasi ning mululan budaya et profi, peningkatan mutu layanan, pembangunan budaya et profi, nilai-nilai budaya kami etika, integritas, profesional, dan inovatif. Jadi kami melakukan inovasi kawan-kawan SDM apresiasi ATB agen transformasi budaya yang awalnya dari del instalasi pada tahun 2024 kemudian 2025 8 instalasi sedang on the way proses dan pada saat kami melakukan ee inovasi agen transformasi budaya itu ada jangka pendek pretest kemudian dilakukan klinik budaya dan gemba direksi jadi kami turun ke bawah dan dilakukan monitoring tengah untuk jangka pendek dan Kemudian untuk jangka menengah monitoring jangka panjang dan untuk monitoring akhir dan akhirnya dilakukan apprisal. Dan pada agen transformasi budaya di 8 instalasi 2024, 8 di 2025 sisanya 8 di 2026, semua agen transformasi budaya diminta harus aware pada sekeliling, konscern pada masalah-masalah dan di list mana masalah yang paling mendesak untuk diselesaikan dan kawan-kawan membuktikan bahwa inovasi tidak selalu butuh biaya dan tidak selalu butuh penambahan SDM. Nanti akan kita bahas di belakang. Selain itu kalau ini tadi tentang transformasi budaya people, maka kami juga melakukan transformasi bisnis untuk structure yaitu SKEDU terintegrasi sistem kepegawaian terpadu dengan inovasi nada G yaitu penataan data SKEDU terintegrasi bagaimana mulai dilakukan betting dan ee kebutuhan analis kebutuhan karyawan atau kinerja. Kemudian setelah ada karyawan baru dilakukan manajemen talenta, kemudian dimonitor dari Siesta dan juga balance scorecard. ada Fanara untuk absensi yang fleksibel dan akhirnya kami memiliki eh Nine BX untuk penilaian dan ini merupakan lanjutan atau rangkaian dari em proses bahwa SDM di Sutomo ini dilakukan penilaian dengan benar untuk manajemen talenta dan penataan karir untuk ATB batch 2 dan sudah jalan dan batch 3 akan berjalan tahun depan. Ini adalah SK direktur tentang tim penataan SDM tadi yang structure dan agen transformasi budaya untuk people. Ruang lingkup ATB. Kenapa kita memilih delapan pertama ini? Karena jantungnya Sutomo ya. Ee gerak Amerta dan SOC ini merupakan defen center dan asuransi non BPJS yang merupakan jet pangan untuk Sutomo meng-cover dari keterbatasan dari BPJS. Kemudian PPJT, IGD yang enggak pernah tidur, GDPT yang selalu juga gak pernah tidur untuk melakukan diagnostik, Onco Center kami merupakan eh pusat ONCO yang terbaik di Indonesia. Rawat jalan yang sehari 3.000 pasien. Dialisis juga ee terbaik, terbanyak ya. Dan ee rawat inap anak ini yang paling ruet sebenarnya ya. Kemudian sudah berhasil dengan baik dan kali ini batch 2 sedang ber langsung. Pros jalanan ATB agen transformasi budaya. Kami membuat buku kurikulum dan modul dan melakukan sosialisasi pada seluruh civitas hospitalia dan mulai berfokus pada delapan instalasi pertama dengan Ning Mulan Nudaya ETRI, peningkatan mutu layanan pembangunan budaya ETPI. Dan di sini ada Rio Waida. Ini merupakan inspirator kami. Eh, seorang peselancar yang sudah masuk ke Olimpik, peselancar nasional yang awalnya takut air, enggak berani laut ternyata bisa jadi peselancar. Maka tak ada kata menyerah dengan era fuka di mana volatility semuanya berubah dengan cepat. Uncertainty, GJ, complexity semuanya bulat dan ambiguity. bingungi kita harus melawan dengan fuka yang baik yaitu vision, punya visi, understand, berusaha memahami semua eh kehirup pikuan yang terjadi, perubahan-perubahan yang demikian cepat terjadi dan clarity membuat lebih jelas dan agile harus mampu beradaptasi dilakukan mini loka karya ATB, kenapa sih perlu ada kegiatan agen transformasi budaya dan seterusnya. Terima kasih untuk para senior, Dr. Agus Ali Faisi untuk menyampaikan tentang service of happiness yang ee disampaikan terus-menerus pada teman-teman dan bagaimana cara bersyukur juga para senior yang lain termasuk potret pengaduan layanan publik di Dr. Sutomo. Dan ini adalah ee agen transformasi budaya proses yang kami lakukan dan alhamdulillah kami sudah dibimbing oleh Pak Jonan tiga kali datang ke Sutomo untuk bagaimana membangun ee kultur transformasi budaya dan mohon maaf dan ee di sini ada pendampingan klinik budaya yang kami lakukan dan kemba work. Jadi ini adalah em ATB yang kami lakukan pada dan ternyata klinik budaya ini laku keras ya ee setiap hari ada yang ee untuk bertanya dan berdiskusi sehingga kami sangat mengapresiasi seluruh Civitas Hospitalia Sutomo. Monitoringnya bagaimana? kami melakukan monitoring dengan balance scorecard mulai pros bisnis internal kemudian ee pengembangannya dan aspek finansial dan juga aspek dari ee bagaimana kepuasan stakeholder. Tentu yang yang bagus adalah segi apa belah ketupat ya. Tetapi sekali lagi Bapak Ibu sekalian, kita tentu tak mungkin sempurna jauh dari sempurna. Merah enggak apa-apa tetapi yang penting kita berusaha untuk memperbaiki before dan after program itu untuk menjadi lebih baik. sehingga kami melakukan eh dashboard balance scorecard dari program ATP dan m-feedbackkan kepada instalasi-instalasi tersebut. Selain itu, kami juga melakukan survei tingkat pemahaman terhadap budaya organisasi dan survei behavioral yang dilakukan monitoring evaluasi lapangan di lokasi secara diam-diam tersembunyi eh mistery gas dan juga langsung dilakukan oleh para pasien dan before and after ATB performanya membaik dan ATB tersebut tidak hanya dokter tetapi juga perawat cleaning service kemudian ptip eh customer service dan seterusnya dari berbagai Em instalasi tersebut ini menjadi cikal bakal juga terjadinya inovasi di Sutomo Interconnected Innovation Ecosistem 1 IT Mandiri 2 ATB. Sebenarnya kenapa sih kok ATB itu harus dilakukan? Karena kami menyadari dari survei lima survei yang dilakukan belum terimplementasinya nilai budaya organisasi. Eti profi semua hafal etika integritas profesional inovatif tapi implementasinya belum dengan baik. Kemudian belum terintegrasinya penataan SDM dalam SKEDU. Jadi tadi yang ada ruang lingkup ya, people-nya, budayanya, kemudian strukturnya, dan belum dilakukan pemantauan mutu pelayanan kurang adekuat sehingga tren peningkatan kualitas keluhan publik meningkat. Apa sekarang enggak ada keluhan banyak tetapi semakin berkurang dan bintang lianya tambah banyak, bintang satunya tambah sedikit. Tentu sekali lagi jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami melakukan pelatihan ATB dengan empati sensitif dengan tujuan peningkatan kinerja layanan di instalasi ATB. Kemudian selain budaya ee pembangunan budaya ETI profit tadi juga penataan sikedu terintegrasi dan MONEV untuk peningkatan mutu layanan. Kesemuanya ini menunjukkan atau mengarahkan kita bahwa mau enggak mau suka enggak suka kita harus melakukan perubahan. Dengan cara apa? dengan cara membentuk agen transformasi budaya dan setelah dilakukan maka terjadi mutu layanan yang meningkat waktu pelayanan rawat jalan juga meningkat visi DPJ dokter spesialis juga meningkat ini tidak simsalabin teman-teman semuanya dilakukan dengan inovasi-inovasi dari kawan-kawan yang ada pada instalasi dan perubahan tren keluhan publik miskunikasi dan pelayanan lama juga berkurang dan perbandingan keluhan publik pada instalasi yang sudah dapat ATP sama unit yang lain yang belum dapat ATB itu juga berbeda. Sehingga kami yakin bahwa ini penting untuk dilakukan. Dan untuk ATB alhamdulillah pada saat Persi yang lalu kami mendapatkan juara satu dalam kategori manajemen dan leadership untuk agen transformasi budaya di Sutomo. Sist informasi dikrit SDM ini memang S karena ini adalah Sutomo gitu ya, merupakan gabungan antara pendidikan, keesd-an dan juga pelatih ee penelitian. Dan ini portal KSM ini menjadi ujungnya semua aspek baik aspek pelayanan kemudian aspek pendidikan maupun aspek penelitian dan aspek ke SDM-an masuk dalam portal KSM yang bisa dilakukan feedback pada KSM masing-masing. Dan alhamdulillah untuk kediklatan dan keSDM-an penelitian dan SDM ini kami juga sudah bisa terkonnect dengan cyber kampus UNER, rumah sakit jejaring simaster BKD dan Kementerian Kesehatan tentu saja sebagai stakeholder dari Sutomo. Gambaran ini sebenarnya merupakan bentuk inovasi-inovasi yang dilakukan di Direktorat Pendidikan Profesi Penelitian dan SDM menjadi penting pada konteks ini karena keSesDM-an. Yang bikin inovasi adalah SDM dan ini untuk SDM juga. Yang berikutnya komponen dari perencanaan pegawai. Ini penting untuk mencapai tujuan organisasi harus selaras dengan tujuan organisasi. analisis ketersediaan SDM, peramalan kebutuhan pegawai atau RBUT, identifikasi kesenjangan, sehingga kita bisa melakukan dengan tepat kapan kita membutuhkan penambahan pegawai dan pengembangan strategi untuk rekrutmen, pengembangan kapasitas kalau sudah masuk tadi di lampunya itu dan dilakukan mutasi dan promosi. Tentu terkait dengan perencanaan anggaran untuk dialokasikan. Yang terakhir adalah evaluasi dan pemantauan untuk melakukan strategi-strategi yang lebih baik. Gambar ini menunjukkan gambar yang dua slide sebelumnya tadi. Bagaimana tadi bola lampu tadi begitu kita membutuhkan SDM dan masuk SDM ini dalam bola lampu, maka mulai dilakukan manajemen talenta dan penataan karir. Di sini dilakukan pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan mutu dari SDM dengan cara apa? pendidikan profesi, fellowship, doktorship, dan lain-lain. Dan di Siesta yang merupakan backbund dari Sutomo, Sistem Informasi Enterprise Sutomo untuk transparansi dan akuntabilitas. Aksata adalah E-Medical Record, ada HTA, E-Metev, KEPK online. Dan pada portal KSM ada tiga komponen penting, koordinator pendidikan dan pelatihan, koordinator pelayanan, koordinator penelitian dan pengembangan serta mutu ini ada monitoring riset. Semua ini menjadi data-data yang dimasukkan di sini untuk data pelayanan, pendidikan, penelitian, dan manajerial yang dilakukan evaluasi terus-menerus. Terima kasih untuk kawan-kawan dari Biro Organisasi dan Biro BKD BKD yang telah mengoptimalkan men-support Van Fanara presensi yang fleksibel untuk Civitas Hospitalia Sutomo. Dan setelah itu ini akan digunakan untuk menentukan komponen potensi dan komponen kinerja untuk NebX pegawai di Sutomo. Ini sebuah contoh nadag penataan sistem kepakaian terpadu dengan aplikasi portal KSM yang kami miliki dengan analisis beban kinerja bas setting-nya bagaimana dan pemetaan jabatannya bagaimana. Aksata adalah e-medical record kami dan data-data ini nanti akan masuk pada rencana kebutuhan SDMK dan rekrutmen SDMK sesuai dengan kebutuhan pemenuhan kompetensi rumah sakit yang tadi juga sempat disinggung oleh Bapak Bambang. Kemudian yang berikutnya adalah penataan karir. Terima kasih Bijing BKD untuk jabatan dan angka kredit ini memudahkan kami untuk memonitor dari ESR BKD. Kemudian detail angka kredit. Sekarang semua juga sudah bisa melihat berapa angka kredit saya, kapan saya waktunya naik pangkat dan seterusnya bisa dilakukan mandiri. tadi yang pertama tentang interconnected innovation ecosystem diawali dengan IT yang mandiri kemudian penataan SDM dan pembangunan budaya dan hasil dari IT mandiri dan penataan pembangunan budaya dan penataan ee SDM maka kami melakukan berbagai inovasi yang akan disampaikan ke belakang. Yang pertama adalah konsolidasi pengadaan farmasi. Dengan adanya IT mandiri, maka kami menjadi siap untuk integrasi data presisi yang real time sehingga kami mencoba menggagas konsolidasi dengan rumah sakit vertikal dengan skala nasional menjadi kesulitan tersendiri karena Sutomo adalah rumah sakit umum daerah dan rumah sakit vertikal itu adalah tegak lurus di Kemenkes. Tentu saja kami juga mematuhi aturan Kemenkes tapi secara struktur kami sedikit berbeda. Dan IT Mandiri ini memperkuat sistem internal untuk memberanikan diri berkolaborasi eksternal dan kombinasi digitalisasi internal dan konsolidasi eksternal menimbulkan efisiensi yang menyeluruh yang akan kami bahas pada slide berikut. Ini dasar konsolidasi. Jadi kami melakukan konsolidasi dengan berbagai rumah sakit umum vertikal agar pembelian pengadaan alat-alat kedokteran bisa ditekan dengan harga yang baik dan dapat digunakan efisiensinya untuk kebutuhan yang lain. Emm tidak mudah. Ini adalah perjalanan panjang roadmap yang kami lakukan dan tentu matur nuwun untuk Kementerian Kesehatan yang telah membolehkan kami untuk bergabung dengan Rumah Sakit Umum Pusat untuk berbagai konsolidasi. ini adalah ee konsolidasi terkait berbagai pihak di ee Ngurah kemudian di RSOS juga konsolidasi juglos semar di harapan kita RSPON kemudian di Dharmais ya alhamdulillah semuanya bisa berjalan dengan happy ending. Ini adalah monitoring dan evaluasi ini secara eh progres secara singkat. Jadi kami melakukan konsiderasi implan mohon maaf kurang n ortopedi kemudian stand balon jantung obat BHMP obat dan alkes dengan Dinkes Prof kami melakukan bersama rumah sakit pemerintah provinsi albumin dan BMHP dengan RCM grasiaraf onkologi saluran cerah dengan laten. Jadi semua ini bisa terjadi karena inovasi yang dilakukan dari IT dari SDM jadi sadar sendiri oh ya kita bisa melakukan efisiensi. gimana caranya melakukan terobosan-terobosan. Ada masalah di sini, kemudian inovasi terjadi dan inovasi harus berkolaborasi dengan siapa saja. Ini adalah konsolidasi dan efisiensi. Kita bisa lihat di sini em efisiensinya lumayan ya sampai 10 M untuk ee berbagai jenis konsolidasi ini. Kemudian yang berikutnya percepatan penatausahaan keuangan. Selama ini sebelum terjadi inovasi, interconnected innovation ekosystem sering mendapatkan keluhan eh keterlambatan pembayaran dan juga pengadaan konsolidasi karena ruetnya berkas-berkas dan seterusnya. Sekali lagi karena IT mandiri dan agen transformasi budaya serta penataan SDM maka inovasi ini dapat dilakukan oleh teman-teman keuangan dengan baik. Jadi ada tiga komponen penting untuk memulai inovasi pada alur ekosistem transaksi pembayaran digital. yaitu kontrak payung yang ee ada dalam regulasi approval PPKOM, kemudian SIESTA sistem informasi enterprise utomo untuk transparansi dan akuntabilitas sampai ke pihak gudang pembuatan berita acara dan ada pembayaran lewat DGP dan ini ada sipol. Jadi alur ini alur konsinyasi maupun alur konsolidasi dapat terjadi karena inovasi dari kawan-kawan keuangan yang bekerja sama dengan perencanaan dan evaluasi dan tentu bekerja sama dengan kawan-kawan yang lainnya terutama yang dan penunjang medik. Ini manfaat digitalisasi terhadap otomatisasi transparansi pembayaran jasa layanan. Dengan adanya EMR ini, EMR ya, Electronic Medical Record ini juga merupakan tonggak sejarah yang paling penting. Kita bisa memiliki building system yang real time sehingga dapat dilakukan penarikan transaksi kinerja layanan dari ribuan tindakan dan ribuan poin. Dan poin tadi terintegrasi dalam data klaim di monitor VR. Kemudian penyampaian poin pada DPJP dan DPJTM dokter penanggung jawab pasien melalui WA dan kemudian ada info pembayaran. Jadi semuanya dilaksanakan dengan transparan. Kalau ada yang tidak disepakati atau oh ini kok enggak benar ini seperti harusnya dievaluasi atau direvisi, ya silakan kita akan berdiskusi dengan data-data yang ada. Kemudian ini juga memanfaatkan digitalisasi terhadap smart claim. Bapak, Ibu sekalian, 85% pasien SUUTMO adalah BPJS. Mau enggak mau, suka enggak suka, kami harus ngopeni pasien BPJS. Sehingga tahun 2024 setiap bulan saya menarik data sendiri dari National CESMIC Center Sutomo untuk melihat bagaimana eh klaim kita Sutama terhadap BPJS dan karena sudah tambah baik tahun ini, maka tahun ini saya melakukannya 3 bulan sekali dan mungkin tahun depan nanti 6 bulan sekali. Dan medical record dimulai dari 2010 tapi mandiri sejak IT 1 Januari 2023. Eh, apresiasi untuk kawan-kawan dari CASMIC Center yang sudah mengintegrasikan coding grouping National CaseMic Center. Ini juga sebuah inovasi namanya S Claim ya, Sutom Claim dan kami menjadi rujukan dari beberapa rumah sakit dan sudah dilakukaning recomended eh elektronik sejak September 2023. Jadi kawan-kawan ee memang tidak bisa seperti semudah membalikkan telapak tangan. butuh waktu. Tapi enggak apa-apa, never give up, just do it one by one. Dan kemudian ini juga mensimplifikasi berkas ee dengan cara apa? Dengan cara memonitor. Apakah suara saya terdengar? Cita. ini coba sudah masuk Prof Cita Moon maaf tadi sempat terputus Prof Cita. Oh ee sudah berapa slot ya kira-kira mulai? Mohon maaf saya enggak kerasa. Tadi sudah sampai di bagian transformasi. Iya. Yang di bagian ini rekam medis elektronik tadi Prof. Cita. Oh ya. Baik. Mohon maaf enggak kerasa kalau terlempar. Mohon izin saya lanjutkan. Dan ee simplifikasi berkas ini kami memiliki ee inovasi yaitu eh champion coder. Bagaimana melakukan pelatihan pada champion coder yaitu DPJP atau dokter yang memahami koder. Karena masalahnya selama ini coder dan dokter itu sesuatu yang sangat berbeda. Maka ada dokter yang harus paham sama koder dan dilakukan pelatihan kemudian sosialisasi edukasi terus-menerus dan itu akhirnya yang bisa meningkatkan klaim BPJS kami dan tentu briding satu sehat. dari Kementerian Kesehatan matur nuwun sejak Agustus 2024. Manfaat digitalisasi terhadap pengelolaan klaim di Sutomo untuk mencegah pending. Jadi pending kami lumayan kecil ya saat ini dengan validasi biometrik. Maturasi klaim 95% setiap tanggal 1. Berkas klaim digital 100% dipat cepat di-upload di JKM Drive dan breaching dengan apotek online dan verifikator internal medis yaitu akurasi coding sesuai dengan kaidah. Jadi eh step-stepnya adalah penyeregaman persepsi berkas klaim dengan verifikator BPJS. Kemudian ini tentu membutuhkan namanya inovasi itu tidak bisa satu kali langsung jadi ya, perlu perbaikan-perbaikan dan juga ada fingerprint dan eh face recognition atau vis yang merupakan em tonggak-tonggak penting dalam pengelolaan klaim. Bapak, Ibu sekalian, sebelum IT Mandiri sebelum 1 Januari 2023, kami memiliki berbagai masalah. Berangkat klaim itu molor setelah tanggal 10, cashflow terganggu. Maturitas SEP [tertawa] juga rendah kurang dari 75% sehingga banyak klaim susulan. Kemudian security level, security level 3-nya juga rendah. Nilai klaim kecil. Padahal kami ini rujukan ee tersier sehingga security-nya mestinya tinggi tapi kami tidak rapi dalam mengajukan klaim. Berkas tidak lengkap sehingga risiko pendingnya meningkat. Keempatnya ini merupakan masalah yang diselesaikan oleh kawan-kawan case mix ya, MED keuangan rekam medis tentu saja dari ee bagian ee RM instalasi rekam medis maupun komputer rekam medis sehingga memunculkan aplikasi Claim untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada ini. Sehingga setelah SUTM klaim tadi yang disampaikan sebelumnya, maka kami menjadikan berangkat klaim yang awalnya tanggal 10 lebih menjadi tanggal 1. Maturitas SEP yang tadinya kurang dari 75 menjadi lebih dari 95. Severity level yang tadinya kurang dari 20 menjadi lebih dari 30 sesuai dengan realitas. Berkas yang tidak lengkap tadinya lebih dari 25 menjadi kurang dari 5%. Sekali lagi ini terjadi karena kerja hebat dari kawan-kawan Sutomo interconnected innovation ecosystem. semua nyambung antara satu unit dengan unit lainnya. Karena kalau tidak demikian tidak mungkin ini bisa terjadi. Sutomo memiliki kompleksitas yang cukup tinggi dan saya sangat mengapresiasi bagaimana kawan-kawan berinovasi tadi kuncinya dua IT mandiri dengan SDM-nya. Berinovasi untuk merubah mindset, berbudaya inovasi dengan berkolaborasi. Dengan adanya aplikasi atau inovasi es krim tadi, maka kita bisa lihat di sini peningkatan pengajuan klaimnya meningkat ya, baik dari BPJS maupun non BPJS. 2025-nya ini belum selesai ya. Jadi ini adalah proyeksinya dan saat ini sudah melampaui yang ditulis di papan ee di slide. Manfaat digitalisasi terhadap transformasi. Jadi tadi selain pengadaan bisa hemat 10 M, kemudian itu untuk ini ya konsolidasi, kemudian juga untuk obat-obatan saya tidak menyampaikan di sini ee dan ini untuk penghematan biaya kertas dan efisiensi SDM 549 ee juta per tahun. tadi IT juga ya sudah ada penghemalan juga 10 M dan berbagai macam efisiensi yang sudah dilakukan sesuai dengan tagline innovating efficiency, regulating dependency. Dan ini saya sangat mengapresiasi untuk eh pada kawan-kawan Sutomo terutama ee di seluruh unit dan instalasi karena listrik juga penggunaannya sekarang berkurang, air juga demikian dan efisiensi ini memang harus menjadi gerakan yang bersama-sama. ee manfaat digitalisasi tadi terhadap peran transformasi pengadaan secara keseluruhan, mempercepat waktu siklus, akurasi mitigasi risiko, dan ketahanan rantai pasok. Ini yang dibutuhkan. Jadi sebenarnya kawan-kawan, setiap kita berinovasi yang penting adalah golnya apa, masalahnya apa, apa yang harus kita lakukan untuk mencapai goal tersebut dan dilakukan monitoring dan evaluasi terus-menerus sampai mendekati target. Kalau tadi cerita berbagai inovasi dimulai dari interconnecting innovation ecosystem dari IT Mandiri, kemudian perubahan mindset dari agen transformasi budaya, kemudian juga perubahan penataan dari SDM, kemudian bagaimana kawan-kawan dari penunjang medik tentang ee pelayanan pada ee pengadaan pada alat-alat ee kedokteran dan juga keuangan untuk mempercepat em proses pembayaran, prosesnya pengadaan dan juga tadi teman-teman untuk konsolidasi dan lain-lain. Maka sekarang dampak inovasinya apa sih kalau inovasi sudah berjalan dengan baik? Studi kasus di Sutomo selama 8,5 tahun terakhir. Jadi analisis eh profil Sutomo menunjukkan program efisiensi terintegrasi berdampak positif pada aspek atau outcome klinis dan finansial. Kalau kita bicara efisiensi finansial pasti oke. Kemudian bagaimana dengan aspek klinis? Pasti banyak yang skeptis. Kemudian untuk itu pada setiap inovasi harus diingat bahwa mentoring dan coaching menjadi alat pembentuk kepemimpinan yang kuat. Dibedakan sekali lagi manajemen dengan leader ya. dan kepeminan kuat di semua level tentu tidak hanya terpatri pada direksi mendukung implementasi program efisiensi yang terintegrasi dan program efisiensi terintegrasi berdampak konsisten dalam penurunan outcome peningkatan outcome medis yaitu em length ofstill-nya menurun, readmisi balik kurang dari 30 harinya juga menurun dan kematian juga menurun dan berdampak finansial dengan penurunan biaya rawat dan defisit serta peningkatan revenue meski pasiennya meningkat dan makin kompleks dan makin severe. Sehingga studi ini membuktikan bahwa pengembangan kompetensi leader bukan sekedar teori agen transformasi budaya, IT mandiri, penataan SDM dan hasil yang terukur memberikan bukti kuat untuk rumah sakit lain yang berminat mengadopsi pendekatan serupa. Jadi, Bapak, Ibu sekalian kalau kita lihat di sini ini yang per bulanan ya. Kalau ini persemesteran yang biru-biru ini kita lihat bahwa setelah pada saat COVID turun pasiennya semua COVID turun ya kemudian meningkat dan saat ini posisi di atasnya sebelum COVID. Demikian pula yang per semesteran dan ee untuk pengelolaan jumlah dan kompleksitas pasien yang terus meningkat ini membutuhkan sistem yang tepat dengan manajemen yang kompleks. Sutomo memiliki sistem kompleks untuk memadukan pelayanan medis sebagai ujung tombak tadi disungkupnya manajemen organisasi, teknologi informasi dan kepatuhan regulasi dalam satu kesatuan langkah dan tujuan. Tren rawat inap maupun rawat jalan. Ini rawat inap rawat jalan ya per bulan. Nah, ini kalau per semester anu ya lebih nyata. Dan keempat aspek ini saling terkait. Koordinasi lintas disiplin diperlukan untuk menjaga mutu dan keselamatan pasien. Pasiennya naik. Bagaimana dengan outcome klinis dan outcome finansialnya? Outcome klinis kita lihat kematian. Kematian menurun baik itu ee yang bulanan maupun yang per semesteran ya. Kemudian reakmisi kurang dari 30 hari. Jadi kalau pasien belum 30 hari kembali itu berarti belum tuntas ya pasien penyakitnya. Ini juga menurun ini ya ini yang bulanan ini yang eh semesteran. Kemudian length of stay atau rata-rata length of stay rata-rata rawat inap itu juga menurun. Jadi dengan kompleksitas tinggi, severity tinggi, jumlah tinggi namun mortalitas menurun kematian, readmisi balik kurang dari 30 hari menurun dan length of stay juga menurun. Bagaimana dengan outcome finansial? out finansialnya dengan pasiennya naik kemudian tren biaya rawat dan pendapatan menurut tentu gak bisa drastis pasiennya naik kita butuh uang dan itu ee ketangguhan chain itu yang perlu diperhatikan oleh kawan-kawan memang kadang-kadang uber-uberan ya untuk supply chain karena ee kebutuhannya tinggi dan ee prinsipnya tidak menyisakan banyak di gudang tetapi tidak ada yang expired dan ee layanan di ee dicukupi. Tentu dinamikanya di lapangan luar biasa, tetapi trennya semakin lama semakin baik. Tren harmoni non jasa dan berbasis tarif. Jadi kalau ini per bulanan, ini persemesteran ya kita bisa lihat di sini kalau bicara tentang unit cost. Jadi kalau misalkan di warung tuh ada kebutuhan sembako dipasi dengan BPJS di atasnya unit cost sehingga kita masih survive. Namun kalau bicara dengan tarif, jadi tambah pengembangan. Misalkan kalau di sebuah warung gitu ya, kedai ada apa untuk membayar ART, membersihkan ruangan, memperbaiki lampu, kemudian membeli meja dan seterusnya itu kita relatif negatif. Tetapi kalau kita di sini lihat negatifnya tambah lama tambah dekat ya. Tetapi kalau dibandingkan unit cost kita memang masih positif. Untuk itu teman-teman juga dalam rangka innovating eficiency dan regulating dependency kami juga melakukan e revenue dari kediklatan, training pendidikan dan juga tentu dari pasien-pasien yang non BPJS dan dari kelitbangan, dari penelitian-penelitian yang kami lakukan. Dengan pasien yang meningkat, sivil meningkat dan kompensity meningkat, ternyata biaya farmasi, radiologi, laborat, dan darah juga cenderung menurun. trennya menurun. Jadi ee Bapak Ibu sekalian itu tadi adalah dampak bagaimana kendali mutu dan kendali biaya bisa dilakukan dengan inovasi yang dilakukan oleh kawan-kawan Sutomo Interconnected Innovation Ecosystem. Dampak inovasi yang lainnya, antrian pasien sangat berkurang dengan adanya inovasi pendaftaran online. Tadinya mesti antri sandal dari pagi hari, sekarang sudah ada nomor antrian online bisa lebih ee terkendali ya, jauh lebih baik dan ada petugas yang siap membantu apabila tidak bisa melakukan antrian online. Dan ini em apresiasi untuk kawan-kawan dari pelayanan medik, penunjang medik, dan juga IGD bisa menurunkan pasien lebih dari 6 jam di IGD awalnya 33% menjadi 19 dan akhirnya menjadi 5%. di tata ront antar titik pelayanan ini juga membuktikan bahwa inovasi di tempat yang sangat hidup ikut seperti IGD dengan 24 jam tidak pernah tidur itu bisa menghasilkan sesuatu yang ee menyenangkan atau menguntungkan untuk kualitas pelayanan di masyarakat. Dan dengan adanya inovasi-inovasi tersebut, nilai IKM kami juga lambat tahun meningkat. Demikian pula nilai Google Review. Yang berikutnya tadi aplikasi di IGD untuk round ante titik pelayanan. Alhamdulillah ee bisa mendapatkan prestasi istimewa dari LAN. Kemudian agen transformasi budaya juga mendapatkan dari LAN juga untuk prestasi istimewa. Dan keduanya mendapatkan eh rekognisi atau award dari Persi juara 1 untuk ATB di leadership dan managemen eh em skema. Kemudian untuk tata atau nonp pelayanan ini mendapatkan juara satu dan grand award hospital mendapatkan tiket gratis untuk International Hospital Forum di Korea tahun depan karena mendapatkan eh prestasi istimewa di Persi dan Pion. Jadi bagaimana prom dan friend reporting outcome dan experience measure pasien mau pulang scan barcode kemudian bisa menuliskan pengalamannya dan juga eh outcome yang dirasakan oleh pasien. Tentu alhamdulillah secara general baik, tapi begitu dibreakdown per instalasi ya ada merah-merahnya gak apa-apa. Jangan takut untuk mengintrospeksi diri bahwa kita belum baik yang penting adalah menjadi lebih baik. Dan alhamdulillah untuk PR dan Prom ini kami mendapatkan award hospital Passion Center care award oleh KS. Ini slide terakhir ee buah manis dari inovasi yang dilakukan di Sutomo sejak IT Mandiri 1 Januari 2023. Kemudian ada agen transformasi budaya yang merubah mindset dari kawan-kawan. Kami mendapatkan eh Grand Hospital Pic Award dan mendapat delan award pada Persi yang lalu terbanyak award terbanyak dari Rumah Sakit eh seluruh Indonesia. Dan kami juga mendapatkan Indonesia Healthcare Innovation Award tentang penanganan crisis di IGD juara 1 dalam kategori mutu layanan kesehatan BPJS Award Seeva Paramita Award yaitu Rumah Sakit berkomitmen juara 1 tipe A dan yang berikutnya ini ada Hospital Passion Center Care Award yang juga eh kami peroleh dan ini tentu berkat kerja sama, kerja keras dan kerja cerdas dari kawan-kawan seluruh civitas Hospitalia Tomo. ini adalah tema impact innovation yang di Sustainability Caring of Life oleh Ibu Gubernur pada 87 tahun Sutomo beberapa saat yang lalu menunjukkan pohon-pohon Inovasi yang sudah kami lakukan. Yang pertama adalah inovasi dari Direktorat Pelayanan Medis dan Penunjang medis. Aksata, emedical record, pagar untuk antibiotika, jaget untuk eh jadwal digital dari pendidikan profesi penelitian dan ladbang tadi juga sudah kita saksikan dari Direktur Pancaran Keuangan mulai B famous dan digp dan lain-lain. Manset juga dari umumasionalismaan TKDE dan siesta. Dan kami juga memiliki inovasi yang baru di launching yaitu tentang Farmatrex 360, Simonika, Irtika dan juga Manset 02. Kickof inovasi baru ini baru diresmikan oleh Ibu Gubernur. Slide terakhir peluang masa depan. Bapak, Ibu sekalian, partisipasi aktif ASN bisa memastikan kebijakan nasional kesehatan tidak berhenti hanya pada dokumen dan integritas, kompetensi, kolaborasi menjadi fondasi pelaksanaan kebijakan yang efektif. Inovasi kesehatan tadi ada tiga pilar, planet, people, dan profit harus menjadi budaya. pembelajaran klinik dan publikasi ilmiah serta advokasi kebijakan di kesehatan terutama kami di rumah sakit merupakan kontribusi yang memperkuat negara dan perubahan sistem berawal dari perubahan perilaku ASN di lingkungan kerja dan di masyarakat. Ingat bahwa masa depan kesehatan bangsa ditentukan oleh kualitas tindakan ASN hari ini sehingga komitmen ASN hari ini adalah persembahan bagi generasi yang akan datang. Demikian dari saya, semoga bermanfaat. Saya kembalikan kepada Bapak Lukman. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [musik] Terima kasih Prof. Cita. Paparannya sangat komprehensif, sangat detail. Saya selalu takjub melihat leader yang tahu apa yang dimau dalam organisasi yang dipimpinnya. bagaimana cara mencapainya dan posisinya seperti apa. Tadi kita sudah simak dengan detail dan sangat jelas ya, Sobat TN terkait bagaimana eh innovation culture internalization di RSUD Dr. Sutomo, termasuk bagaimana culture transformation dan busisnis transformation ini diterapkan sehingga mencapai kinerja kesehatan yang sangat membaik terus melakukan continuous improvement. Sebelum itu saya juga ingin mengundang bagi sobat TSN yang ingin bertanya silakan bisa mengaktifkan feature hand yang bergabung di Zoom ataupun yang tengah menyaksikan melalui live YouTube PPSDM Jatim TV bisa langsung saja tulis pertanyaan melalui kolom live chat. Eh Prof Cita menarik sekali ee tadi saya mau tanya terkait dengan transformasi SDM ya. Bagaimana cara mengubah culture yang istilahnya mindset orang-orang ini itu sudah mengakar ya kita punya fixed mindset seperti itu. Tadi Prof. Cita sudah menyampaikan inisiasi-inisiasi yang sudah dilakukan oleh RSUD Dr. Sutomo. Tapi seringki kita sudah tahu emm apa namanya ee materinya, teorinya gitu ya. Selalu diadakan training, diadakan mentoring, coaching, pembukaan ruang diskusi supaya kebebasan berpendapat ini ada. Mengubah orang-orang yang punya low commitment dan juga low performance menjadi orang-orang dengan high commitment dan juga high performance. di ee organisasi yang Ibu pimpin mungkin bisa dibagikan cerita-cerita ke sobat ASN karena ini kan seringkiali terjadi ya ee budaya itu tidak bisa timbul ketika ada orang-orang dalam tanda kutip toksik yang masih belum bisa dirubah. Kalau di ee implementasi RSUD drter Sutomo seperti apa, Prof. Cita. Terima kasih eh Pak Luman. Jadi monitoring evaluasi adalah kuncinya. Kita sering mendapatkan coaching, mentoring, tapi kalau sudah titik ya sudah gitu. tapi model evaluasi dan untuk orang-orang mungkin kita enggak bilang toksik tapi yang kurang bersemangat gitu ya. Jadi ee pada saat kami melakukan agen transformasi budaya itu dibreakdown ya di preteli kalau bahasa Jawa ya etika integritas profesional inovatif etika itu apa aja sih gitu ya. Ini loh etika do and don-nya ini ini tahu semua enggak ada apa FGD dan seterusnya itu ada beberapa hari ya dan kita ada klinik budaya integritas apa profesional apa ee inovasi apa kemudian itu berlanjut terus dan agen transformasi budaya itu adalah orang-orang pilihan jadi memang kita sudah lihat di instalasi tersebut wah ini kayaknya dokternya yang ini nih yang bisa jadi contoh karena sebuah leader itu agen trans itu kan bukan di manajemen ya bukan di struktur tapi leader memimpin memimpin di instalasi itu ada dokter yang sudah kelihatan ini nih bisa jadi leader nih gitu. Kami melihat ya tim ya melihat kemudian perawatnya mana kemudian petugas kebersihannya siapa, pamtipnya siapa em kemudian yang front office-nya siapa dan seterusnya. Nah, selain siapa itu dijadikan satu dulu. Ini harta yang tak ee ternilai. Dijadikan satu, disamakan persepsinya benar-benar kemudian ee diajak diskusi dan di-challenge untuk melihat masalah. Kemudian ayo inovasinya apa untuk menyelesaikan masalah dan seterusnya. Tentu pada saat bergerak di inovasi itu ada yang rendet ya. Rendet itu bukan berarti toksik, tidak selalu ya. Kadang-kadang malas halah wong gitu gak gitu sama saja. Nah itu tantangannya bagaimana para agent of change ini agen transformasi budaya ini di anu dilakukan anu ya apa fakta integritas kemudian kayak pelantikan seremonial kecil-kecilan untuk oh saya ini agen transformasi gitu ya. Di bidang saya. namanya agen transformasi sudah pasti baik ya, tetapi untuk mengajak teman-temannya menjadi jadi leader-leader yang baik itu adalah leader yang mampu menggerakkan tim untuk mengikuti ke arah yang benar. itu yang mereka ee lakukan dan kami sendiri melakukan em outbond untuk agen transformasi budaya itu bukan hanya agennya saja, tapi agen plus orang-orang yang kira-kira paling ee masih ygga-yonga atau masih agak sulit untuk ee diajak bergabung itu malah kami ajak untuk outbound dibaurkan dengan semuanya. Ya, awalnya memang ada yang bilang, "Loh itu kan biasanya malas sering bolosan kok malah diajak." Ya, kita enggak usah ngomong ya. pokoknya ini diajak ini membaur, kemudian setelah itu pulang dari outbond ee menjadi lebih baik, lebih bersemangat. Jadi ee untuk teman-teman yang kurang bersemangat itu mungkin belum memahami sepenuhnya, perlu pendekatan dan perlu dichallenge, perlu diberi kesempatan. Karena saya ingat nasihat ayah saya, setiap orang baik punya masa lalu. Jadi kita gak usah menghakimi dan orang yang kurang baik punya masa depan untuk jadi lebih baik. Jadi kita positive thinking saja. Mungkin itu salah satu caranya. tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan dan saya sangat mengapresiasi seluruh tim ATB, tim coaching dan mentoring karena itu semua dilakukan bersamaan tidak bisa dilipas seperti pisahkan antara coach dan mentor dan tentu tim ATB, tim dari ke-an semua dan tim seluruh civitas Hospitalia yang ikut bergerak bersama-sama. Demikian Mas Tukman. Baik, terima kasih Prof Cita untuk jawabannya. Sangat menarik sekali. Mohon maaf tadi saya baru saja direminder oleh panitia bahwasanya kita memiliki keterbatasan waktu. Prof. Mohon izin sebelum diakhiri materi di siang hari ini. Barangkali dari Prof. Cita ada closing statement yang ingin disampaikan bagi Sobat ASN yang masih menyaksikan acara kali ini. Silakan Prof. Cita. Terima kasih Sobat ASN. Jadi seperti tadi saya sampaikan bahwa ayo mari kita bergerak bersama-sama karena ASN bukan hanya menjalankan program tapi kita menjadi leader di sektor kita masing-masing dan ee tentu RS dr. Omo. Sangat terima kasih kepada seluruh support yang diberikan oleh Ibu Gubernur dan seluruh jajaran PEMPR Jawa Timur karena RC Dr. Sutomo bisa tumbuh tangguh tumbuh dan terus melaju berkat support dari eh Pemprov Jatim dan seluruh stakeholder dan juga SITES Hospitalia Dr. Sutomo. Dan terakhir never give up just do it one by one. Tetap semangat Prof. Cita terima kasih sekali lagi. Salam sehat selalu Prof Cita. Sukses selalu untuk RSUD Dr. Sutomo. Kita bertemu lagi di event-event selanjutnya. Sampai bertemu lagi, Prof Cita. Terima kasih. Saya izin live. Matur nuwun. Terima kasih kembali Prof Cita. Baik Bapak, Ibu, Sobat ASN. Kita masih ada satu narasumber lagi. Jadi jangan ke mana-mana. Tetap di webinar ASN Belajar seri 44 tahun 2025. [musik] Anda kembali lagi menyaksikan webinar ASN Belajar seri 44. Di materi terakhir kali ini kita akan mengundang Prof. Ratna Dwi Wulandari selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Erlangga. [musik] Selamat siang, Prof. Ratna. Kabar baik telah bergabung bersama dengan kami semua di sini Prof. Ratna Dwi Wulandari selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Erlangga Surabaya. Siang, Prof. Selamat siang. Kabar baik, Prof. Ratna. Alhamdulillah baik. Baik, Prof. Ratna. Kali ini kita akan jelas ya, Pak Lutman ya. Jelas. Jelas sekali Prof. Ratna. Alhamdulillah. Baik, Prof. Ratna izin kami mulai. Kali ini kita akan dengarkan materi terkait dengan kesadaran ASN, kesehatan tanggung jawab bersama. Punten mohon izin menginformasikan untuk penyampaian materi kurang lebih selama 30 menit, Prof. Nanti kita akan masuk ke sesi diskusi. Silakan, Prof. Ratna. Iya. Siap. Terima kasih. Baik. Ee bismillahirrahmanirrahim. Selamat siang. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ee pertama-tama kami sampaikan terima kasih kepada BPSDM Provinsi Jawa Timur yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk bergabung di dalam ee webinar series yang menurut saya ini adalah forum yang sangat luar biasa gitu ya. mempertemukan ee ASN di Jawa Timur dari berbagai bidang untuk bersama-sama membahas suatu isu yang pastinya isu ini sangat menarik untuk kita ee cermati secara bersama-sama. Terima kasih kepada Bapak Ramli, kemudian kepada narasumber sebelumnya ada ee Bambang dan Prof. Cita. Oke. Ee Bapak Ibu sekalian untuk tema yang akan kami bawakan pada ee siang hari ini ini adalah tentang bagaimana menumbuhkan kesadaran ASN ya, Aparatur sipil negara. dalam hal ini mengenai bagaimana kita membangun tanggung jawab bersama melalui kolaborasi lintas sektor demi masyarakat yang sehat dan sejahtera. Ee pada waktu saya mendapatkan tema ini, saya sangat ee senang gitu ya. Kenapa? Karena saya di FKM ya, Fakultas Kesehatan Masyarakat itu ee membidangi sebuah ranting ilmu yang membahas mengenai titik beratnya adalah upaya pengendalian kesehatan melalui titik beratnya adalah promotif dan preventif ya. Ee berbeda dengan Prof. Cita yang berasal dari rumah sakit ya. Ketika di rumah sakit itu orang sudah dalam kondisi sakit. Nah, ketika orang sudah sakit, bagaimana dia nanti akan bisa ee sembuh, maka rumah sakit berperan besar di sana. Tetapi kami dari Fakultas Kesehatan Masyarakat ini tugas utama kami adalah menjaga bagaimana orang-orang yang sehat itu tidak menjadi sakit. Bagaimana kita mencegah orang supaya tidak menjadi sakit. Nah, jadi itu yang menjadi hal yang menurut saya sangat membahagiakan. Kenapa? Karena ketika kita para ASN ini nantinya sudah paham betul dengan ee kegiatan-kegiatan ee bagaimana menjaga supaya kita tetap sehat, maka ini sebenarnya adalah upaya yang sangat strategis untuk mendorong produktivitas masyarakat, bangsa, dan negara pada umumnya. Next slide. Oke. Ee tagline yang diusung oleh BPSDM juga sangat bagus di sini ya. Sehat untuk semua, berdaya untuk sesama. Nah, memang sehat itu adalah hak asasi manusia, ya. Jadi, semua orang berhak untuk sehat dan kalau kita tidak sehat, kita enggak akan bisa berdaya, kita enggak akan bisa apa-apa. Maka ketika kita sehat, kita akan bisa berdaya untuk sesama yang artinya menjadikan kita sebagai manusia yang bermanfaat, ya. Dan sebagaimana kita sering dengar begitu ya, bahwa sebaik-baik manusia itu adalah manusia yang bisa memberikan manfaat bagi sesamanya. Topik ini sangat relevan dengan ee arah transformasi kesehatan Indonesia yang mana ada sebuah cita-cita mulia yaitu menuju ke Indonesia Emas 2045. Next slide. Oke, saya akan mengulik dulu mengenai apa sih Indonesia Emas 2045 ini ya. Jadi Indonesia Emas 2045 itu artinya setahun pasca kemerdekaan begitu ya. Ini adalah sebuah visi kita punya cita-cita Indonesia akan menjadi negara maju pada waktu itu. Adil, makmur, berdaulat. ya. Dan 2045 itu sudah enggak lama lagi. Sekarang sudah 2025. Artinya kita hanya punya waktu 20 tahun untuk menuju ke sana. Ya, visi ini mencakup peningkatan kesejahteraan rakyat, peningkatan kualitas sumber daya manusia yang unggul, serta menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia. Ini kondisi yang sangat ideal dan kita pasti saya yakin semua orang Indonesia ini terutama ASN pasti sangat sangat setuju dengan cita-cita ini ya. Nah, yang perlu kita garis bawahi bahwa peningkatan kualitas SDM di dalam generasi emas 2045 ini diharapkan akan menjadi generasi yang pintar, kreatif, sehat, dan berkarakter kuat dengan kompetensi dan kualitas hidup yang tinggi. Nah, untuk bisa mewujudkan ini pintar, kreatif, sehat, karakter kuat, ini banyak hal yang harus kita lakukan ya. sektor pendidikan berperan, agama berperan, dan sektor-sektor lain dan salah satunya adalah kesehatan itu sendiri. Ya, next slide. Oke, saya akan mengawali kajian ini dengan menunjukkan bagaimana pergeseran piramida penduduk Indonesia. Ini saya mengambil gambar piramida penduduk Indonesia dari tahun 2010, 2020 dan prediksinya untuk 2045. Ya, kalau kita lihat dari bentuknya ini terlihat ada perubahan ya. bawah lebar atas menyempit. 2020 mulai agak menggembung di tengah. Yang di atas mulai sedikit melebar. 2045 melebar terus sampai ke atas ya. Nah, inilah Bapak Ibu ya. Ee kalau Bapak, Ibu pernah mendengar sebutan atau istilah bonus demografi begitu ya. Jadi kita sudah sering mendengar kata bonus demografi akan didapatkan Indonesia di tahun 2030-2035. Kenapa kok disebut bonusografi? Oke, kita lihat ee angkatan kerja, usia angkatan kerja ya. Di 2020 ini usia angkatan kerja atau usia penduduk produktif itu dominan. Apalagi di 2045 ya, sangat dominan usia angkatan kerja itu. Di sini besarannya itu paling besar di antara kelompok usia yang lain. Nah, dengan asumsi seluruh kelompok usia angkatan kerja pada tahun 2030 sampai dengan 2045 ini berada dalam kondisi kesehatan yang maksimal, maka dia akan bisa produktif. Ya, artinya perbandingan antara penduduk yang tidak produktif dibanding yang produktif itu lebih banyak penduduk produktifnya sehingga produktivitas kita akan meningkat berkali-kali lipat. Nah, itu berbeda dengan piramida penduduk yang di awal-awal periode di tahun 2010 dan sebelumnya itu persentase penduduk usia produktifnya sedikit. Nah, tetapi yang perlu kita cermati Bapak Ibu, apakah benar bahwa 2030, 2035 sampai dengan 2045 Indonesia ini akan benar-benar berada pada bonus demografi. Artinya produktivitas kita meningkat berkali-kali lipat karena semua penduduk usia produktif itu produktif. Ternyata tidak sesederhana itu untuk kita bisa mencapai bonus demografi tersebut. Oke, next slide ya. Oke, grafik berikut ini menunjukkan mengenai pergerakan usia harapan hidup kita, ya. Jadi, dari situ terlihat usia harapan hidup kita terus meningkat. Tentunya ini sebuah kondisi yang sangat positif ya, sangat membanggakan bagi kita. Meskipun kalau kita bandingkan dengan beberapa negara maju, kita masih di bawah di bawah mereka, tapi tren positif ya. Ini ini adalah sebuah prestasi begitu ya. ee makin lama usia penduduk Indonesia makin panjang. Nah, tetapi kita kembali lagi kita tidak boleh langsung berbahagia melihat data ini. Kenapa? Mari kita lihat data di sebelahnya ya. Data di sebelahnya menunjukkan ee bahwa pergerakan kasus-kasus penyakit itu ternyata sudah banyak berubah ya. Kalau kita melihat 10 penyakit penyebab kematian tertinggi, kalau kita mengikuti dari katakanlah 10 tahun terakhir itu perubahannya sudah sangat besar begitu ya. Ee pada era-era saat ini maka penyakit yang berkontribusi terhadap ee terjadinya kematian itu sudah mulai bergeser ke arah penyakit-penyakit yang itu merupakan penyakit akibat gaya hidup ya. penyakit akibat gaya hidup. Kalau ee kita lihat di sini misalkan di situ yang tertinggi ya, yang tertinggi itu adalah kematian karena ee jantung, stroke. Nah, diabetes melitus. Nah, itu tiga tertingginya adalah penyakit-penyakit akibat gaya hidup. Yang ketiga memang masih penyakit konvensional, penyakit tibi. Nah, ini juga PR kita. TB itu sejak Indonesia belum merdeka sudah ada banyak jumlahnya sampai ee sekian tahun Indonesia merdeka itu masih 80 tahun Indonesia merdeka TIB masih banyak di Indonesia. Padahal di beberapa negara maju tibi itu sudah tinggal sejarah gitu ya. Tapi di beberapa negara berpenduduk padat seperti Indiaah itu memang masih menjadi PR besar. Nah ini kondisi kita gitu ya. Sementara kita tahu gitu ya ee penyakit jantung, stroke, DM itu banyak terjadi pada orang-orang usia tua. Nah, dan sekarang yang lebih mengkhawatirkan lagi pergeseran usianya itu sudah semakin muda. Jadi, kalau dulu mungkin 40 tahun ke atas itu baru banyak yang sakit. Sekarang ee statistik menunjukkan di bawah 40 itu sudah banyak. Bahkan ada hipertensi dan DM pada usia muda, usia remaja itu juga sudah ada. Nah, ini adalah sinyal yang harus kita perhatikan. Kenapa? Karena artinya generasi usia produktif yang nanti diharapkan akan bisa memberikan produktivitas yang tinggi di tahun 2030, 2035 sampai dengan 2045 nanti itu kalau tidak kita jaga dari awal maka mereka-mereka ini akan memasuki usia-usia produktif 30 ke atas, 40 ke atas itu dalam kondisi tidak sehat. Karena grafik usia ee yang mengalami gangguan-gangguan penyakit metabolik itu semakin turun, semakin mudah, semakin mudah. Nah, sementara ketika orang itu sudah mengalami penyakit degeneratif, penyakit metabolik, misalkan stroke contohnya ya, seseorang ketika sudah ee mengalami stroke misalkan, maka untuk dia bisa sembuh seperti sediakala bisa, tapi enggak 100%. Nah, ini pasti akan menurunkan produktivitas. Nah, itulah kenapa meskipun kita sangat berharap ada bonus demografi, ada Indonesia emas, tapi ada sinyal kuat yang harus kita waspadai bahwa bonus demografi dan Indonesia emas ini belum tentu akan kita dapatkan. Kenapa? Ya, dia tidak akan kita dapatkan kalau generasi-generasi yang memasuki usia produktif pada tahun itu tidak berada dalam kondisi sehat atau berada dalam kondisi sakit. Nah, ini trennya sudah ke arah sana. Tren kita itu sudah seperti itu. Sehingga ini harus betul-betul kita waspadai, ya. Oke, next slide. Nah, ini kalau tadi gambaran penyakit metabolik ini penyakit tuberkulosis ya. kita kalau menurut statistik dunia, jumlah penderita hipertensi eh maaf tuberkulosis di Indonesia ini nomor dua terbesar di dunia setelah India. Ee tapi saya gak tahu kalau misalkan pencatatannya betul begitu ya, screening-nya betul, penemuannya intensif, jangan-jangan kita malah nomor satu gitu ya. Sekarang ini kita tahu bahwa angka penemuan tuberkulosis kita itu masih belum optimal. Masih banyak kasus-kasus yang belum ditemukan. Ee masih banyak orang-orang yang gak mau mengikuti screening. Nah, kalau ini nanti sudah jalan jalan bagus, bisa saja temuannya besar dan kita menjadi negara penyumbang tibi terbesar di dunia. Bisa jadi seperti itu. Dan kita tahu tibi ini sangat menular gitu ya. Dan orang kalau sudah sakit TBI pasti produktivitasnya juga akan menurun gitu ya. Kalau kita lihat distribusinya ee antar kabupaten di Jawa Timur itu semua kabupaten ada ya. Jadi kalau Bapak Ibu di lingkungan kantor itu misalkan ada satu orang yang sakit tibi di ruangannya lalu dia tidak pernah memakai masker, kita juga tidak memakai masker, dia tidak berobat, tidak mengikuti pengobatan, bisa dipastikan tidak berapa lama satu ruangan akan kena tibi semua. Nah, itu itu yang harus kita waspadai ya. Sehingga inilah tantangan besar bagaimana kita itu harus paham tentang peta-peta penyakit yang ada di Indonesia di Jawa Timur pada khususnya trennya seperti apa sehingga kita para ASN ini nanti bisa mengambil peran begitu ya supaya bonus demografi Indonesia emas itu betul-betul bisa kita raih ya sesuai dengan periodisasi yang sudah kita proyeksikan 2030 hingga 2045. Next slide. Oke. Hiv Aid ee masih mengkhawatirkan juga. Kita lihat trennya grafiknya meningkat, demam berdarah meningkat. Oke, next slide. Oke, hipertensi. Nah, ini biasanya DM sama hipertensi itu berteman begitu ya. Entah munculnya siapa dulu. Nah, tapi ini ini seringki berteman di dalam diri orang itu ya sudah DM hipertensi yang sudah nanti mengarahnya ke stroke, jantung dan seterusnya. Ini grafiknya juga terus meningkat, usianya semakin dini. Next slide. Nah, ini yang diabetes. Oke, lanjut di sisi yang lain. Nah, ini CA ya, kanker. Kita ternyata tercatat di dunia ini sebagai 10 negara ya yang menyumbang kematian karena kanker yang tinggi ya. Ini ini contoh kanker payudara misalkan. beberapa kanker yang lain tidak terlalu besar, tapi kalau semua penyakit kanker itu kita hitung menjadi satu, maka kontribusi ee prevalensi CA itu semakin meningkat dan kita termasuk tinggi di dunia ini ya. Dan makin ke sini makin banyak orang yang terkenal dengan usia yang juga semakin muda. Next slide ya. ee kasus-kasus yang barusan saya omongkan tadi itu sebagian besar terjadi pada usia remaja sampai dengan dewasa. Nah, ternyata pada usia anak-anak itu juga tidak kalah mengerikan potretnya gitu ya. Kenapa? Karena ternyata kita juga masih menghadapi masalah stunting. Angka di Indonesia di ee tahun berdasarkan hasil survei ya tahun 2023 itu masih 19,8%. ya ini angka yang masih tinggi. Harapannya sebenarnya 2024 itu sudah turun sampai ke 14% harapannya seperti itu. Tapi ternyata itu belum berhasil. Nah, sementara kita tahu bahwa ee seorang anak yang ketika masa balitanya itu mengalami stunting, maka dikhawatirkan kualitas hidup berikutnya ketika dia memasuki masa sekolah bahkan sampai masa ee usia produktif nantinya itu tidak akan bisa optimal gitu ya. ya. Karena stunting itu sebuah ee kelainan gizi yang sifatnya kronis yang dia itu tidak muncul sesaat ya, tapi dia munculnya kumulatif dipengaruhi oleh kondisi ibu bahkan kondisi ibu sejak sebelum dia hamil ya kondisi calon pengantin sampai dia hamil sampai melahirkan itu secara kumulatif nanti akan bisa mempengaruhi kejadian stunting pada anaknya ya pada balita. Nah, kalau kita melihat kondisi state yang masih tinggi begini ini kita juga menjadi khawatir begitu ya. Ee pada saat anak-anak yang sekarang ini terdeteksi stting bagaimana masa depannya. Padahal anak-anak inilah nanti calon pemimpin kita 10, 15, 20 tahun yang akan datang. Nah, ini hal-hal yang menurut saya perlu kesadaran kita bersama. Kasus-kasus semua yang saya omongkan tadi memang berbicara tentang masalah kesehatan. Tapi yang perlu Bapak Ibu pahami bahwa munculnya kasus-kasus tadi itu multifaktorial penyebabnya dan pastinya penyelesaiannya juga akan multifaktorial. tidak mungkin diselesaikan hanya satu sektor, satu pihak, tapi membutuhkan kolaborasi dari banyak pihak. Nah, inilah kenapa saya merasa bahwa topik yang kita angkat siang ini itu sangat relevan. Karena nanti dari pembahasan kita sebenarnya ada dua hal yang saya ee pribadi ingin capai ya. Yang pertama secara institusional nanti Bapak Ibu ASN ini ee entah Bapak Ibu ini berasal dari sektor apapun, dari dinas apapun itu akan akan bisa tergugah gitu bahwa oh saya sebenarnya bisa loh berkontribusi untuk pencegahan penanganan kasus-kasus ini sehingga nanti kasus-kasus ini akan dengan cepat bisa selesaikan sehingga cita-cita bonus demografi Indonesia emas itu bisa tercapai ya itu secara institusi usional. Yang kedua, secara pribadi saya berharap ASN di Indonesia khususnya atau lebih khusus di Jawa Timur ini secara jumlah cukup banyak begitu ya. Nah, ketika para ASN ini secara personal punya kesadaran bahwa saya ini orang yang punya risiko terhadap beberapa penyakit yang tadi saya sampaikan, maka Bapak Ibu ini secara personal juga akan melakukan tindakan-tindakan yang akan membuat Bapak Ibu tetap stay dalam kondisi sehat. Bapak, Ibu akan mengubah kebiasaan-kebiasaan yang mungkin selama ini berisiko tapi tidak sadar bahwa itu berisiko menjadi kebiasaannya lebih sehat. Nah, ketika para ASN ini nanti secara individu punya kesadaran untuk menerapkan pola yang pola hidup yang sehat, kemudian punya kontribusi sosial untuk lingkungannya, menjaga lingkungannya sehat, bisa menjaga orang-orang di sekitarnya yang misalnya ee kondisinya kebetulan tidak menguntungkan bisa kita ee lindungi supaya kesehatannya menjadi lebih baik. maka gerakan personal ini akan membawa efek yang luar biasa ya. Jadi dengan sinergisme semua ESN untuk punya kesadaran bagaimana saya menjaga diri saya sehat, bagaimana instansi saya berkontribusi untuk menciptakan kesehatan sesama, maka kesehatan ini akan menjadi sesuatu yang mudah untuk kita wujudkan. Begitu ya. Ee jangan berpikir bahwa yang penting saya sehat, orang lain enggak sehat enggak apa-apa kan orang lain bukan saya. Gak bisa begitu Bapak Ibu konsepnya seperti contoh saya tadi, saya sehat, teman saya sakit TB enggak enggak lama saya akan ikut sakit. Saya sehat, teman saya DM plus hipertensi misalkan, kan gak apa-apa enggak enggak kena ke saya. Tapi kalau dia teman kerja saya dengan dia sakit seperti itu produktivitasnya pasti turun. Nah, kalau produktivitasnya turun, siapa yang rugi? Kita sebagai temannya akan sering menggantikan perannya dan seterusnya. Nah, tentunya ini kondisi yang tidak ideal. Nah, makanya kenapa itulah kesadaran kita untuk ee berkolaborasi di dalam mewujudkan perilaku sehat diri kita, lingkungan kita, di kantor, tempat kita bekerja itu menjadi sesuatu yang sebenarnya menjadi kepentingan kita. Kita semua. kita semua penting untuk menjadikan ini ee isu yang harus menjadi konsern semua orang. Oke, next slide. Ini saya tampilkan sebuah gambar yang mungkin secara singkat itu bisa saya sampaikan gitu ya, bahwa untuk orang itu menjadi berada pada status kesehatan yang baik itu ternyata dipengaruhi oleh banyak hal ya. Ee ini menurut teori Bloom itu paling tidak ada empat gitu ya, ada empat hal utama. Apa itu ya? Ada yang namanya lingkungan. Lingkungan harus sehat, ada yang namanya faktor keturunan ya. Kalau beberapa penyakit itu memang diturunkan. Nah, ini ini juga harus kita perhatikan bagaimana pengendaliannya nanti. Kemudian ada faktor perilaku yang membuat orang sebetulnya awalnya sehat menjadi tidak sehat karena perilakunya. Dan yang keempat adalah pelayanan kesehatan. Nah, ini harus harus kita perhatikan begitu supaya setiap orang itu nanti bisa berada dalam kondisi kesehatan yang optimal. Oke, next slide. Nah, ee di dalam lingkup penanganan penyakit itu ada empat ee upaya begitu ya yang itu menjadi tanggung jawab bersama-sama ya. Ada upaya yang kita sebut sebagai promotif. Upaya promotif ini adalah untuk meningkatkan status kesehatan seseorang. Yang kedua adalah upaya preventif. Ini adalah untuk mencegah agar orang tidak sakit. Tapi kalau orang sudah sakit, bagaimana? Masuk ke kuratif, disembuhkan. Nah, kalau sakitnya itu kemudian memberi dampak misalkan seperti stroke tadi menjadi ada gangguan gerak misalkan, lalu bagaimana? Masuklah ke rehabilitatif. Jadi ee fungsinya direhabilitasi kembali supaya bisa kembali seperti semula atau mengurangi paling tidak mengurangi dampak negatifnya gitu ya. Meskipun tidak bisa kembali seperti semula tapi bisa ee lebih baik begitu. Nah, yang bisa kita lakukan kalau kita bukan orang kesehatan, kita enggak mungkin masuk di kuratif. Kalau kita bukan tenaga medis kita enggak bisa masuk di kuratif. Tapi kalau untuk promotif preventif siapapun bisa, Bapak Ibu dari instansi apapun bisa. Bahkan bukan hanya ASN, semua orang bisa untuk promotif preventif ini. Karena untuk tindakan promotif preventif ini kita bisa lakukan di dalam ranah individu, ranah keluarga, maupun ranah komunitas. Oke, next slide. Nah, saya mengutip sebuah pernyataan yang dihasilkan dari Ottawa Charter ya, yang mengatakan bahwa help is created and live by people within the setting of their everyday life where they learn, work, play, and love. yang secara singkat bisa kita artikan bahwa ee kesehatan itu tidak semata-mata dihasilkan oleh layanan kesehatan ya, tetapi kesehatan itu tercipta dari kehidupan sehari-hari kita sendiri ya. Jadi sekarang ini misalkan sekarang ini Bapak Ibu sehat apa enggak ya gitu ya. Nah, Bapak Ibu sehat atau tidak itu tidak ditentukan oleh orang kesehatan. Bapak Ibu sehat atau tidak ditentukan oleh di mana Bapak Ibu tinggal. Apa yang Bapak, Ibu lakukan sehari-hari? Apa yang Bapak, Ibu makan sehari-hari? Apa yang Bapak, Ibu lakukan sehari-hari? Apa yang Bapak Ibu ee sukai dan tidak sukai? Itu yang menentukan kita ini akan menjadi sehat atau tidak. Nah, jadi kesehatan itu akan terbentuk melalui apa saja? Nomor satu, kita butuh kebijakan publik yang sehat. Kebijakan-kebijakan harus pro kesehatan. Misalkan kenapa harus ada KTR kawasan terbatas merokok? Ee mungkin di antara Bapak Ibu ada yang masih sebagai perokok. Oke ya. Paling tidak kalau masih sebagai perokok silakanlah merokok tapi jangan mengajak orang lain menjadi perokok pasif. Kenapa? Ditetapkan kemudian KTR kawasan terbatas merokok supaya orang-orang yang tidak ingin menghirup asap rokok, orang-orang yang ingin menghirup udara segar itu tidak kesulitan untuk mendapatkannya. Orang-orang yang memang belum bisa berhenti merokok ya silakan merokok di tempat yang sudah disediakan. Jangan jangan mengganggu publik. Nah, itu contoh kebijakan publik yang sehat itu seperti itu. Oke. Kemudian lingkungan belajar ya. Lingkungan belajar dan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan itu juga harus diciptakan. Bagaimana lingkungan kerja Bapak Ibu itu mendukung kesehatan dan kesejahteraan. Misalnya apa sih lingkungan yang mendukung kesehatan, kesejahteraan? ee kesejahteraan di sini bukan hanya soal pendapatan, soal uang, tapi kesehatan itu sendiri adalah komponen kunci dari kesejahteraan. Misalkan bagaimana ee lingkungan kerja kita apakah terbebas dari hazat-hazat yang berbahaya. ee katakanlah kebisingan, pencahayaan, ee sirkulasi udara dan seterusnya harus bisa membuat kita ee hidup dalam situasi yang nyaman yang membuat kita menjadi sehat gitu ya. Kemudian komunitas yang inklusif dan aman. Komunitas Inclusivity eh artinya komunitas yang bisa diakses oleh siapapun, tidak membeda-bedakan dan bisa memberikan jaminan keamanan ya, serta gaya hidup dan interaksi sosial yang positif. Makin ke sini yang harus kita waspadai adalah penyakit-penyakit akibat gaya hidup. Ya, mungkin Bapak, Ibu yang masih muda-muda ini terutama gitu ya, Mas, Mbak begitu yang mungkin habis kerja karena capek, pulang kerja mampir belok. ke kafe tertentu gitu boleh. Boleh enggak ngelarang orang kafe. Tapi pilihlah minuman yang rendah kalori. Ee enggak usah pakai gula misalkan atau bawa gula sendiri yang ee low sugar misalkan. Nah, misalkan ya itu gaya hidup yang harus kita kendalikan sendiri. Kita yang bisa mengendalikan hal-hal seperti itu. Oke, next slide ya. Jadi kesehatan itu bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan. Kesehatan itu hanya membantu saja. Tetapi masyarakat sehat itu akan tercipta dari sinergi antar sektor. Ada sektor ekonomi, ada sektor pendidikan, sosial, lingkungan, keagamaan, dan masih banyak lagi. Nah, ini yang harus kita pegang. Oke, next slide. Next slide. Nah, ini tantangan yang sekarang ini real kita hadapi ya, tantangan pembangunan kesehatan di Indonesia. Di sinilah kita lintas sektor itu harus bergerak bersama-sama ya. Ada transisi epidemiologi ya tadi penyakit menularnya masih ada, tapi penyakit degeneratif muncul, penyakit gaya hidup muncul, ada transisi demografi, lansianya makin banyak. Kalau lansia sehat gak apa-apa gitu ya. Tapi kalau lanseannya tidak sehat itu cenderung konsumtif kesehatan. Ee kalau zaman dulu orang ee gagal ginjal harus cuci darah mungkin umurnya enggak panjang gitu ya, 3 4 tahun meninggal gitu ya. Sekarang ini karena alat cuci darah sudah semakin canggih dan tersedia di mana-mana. Orang bisa hidup dengan cuci darah itu sampai 10 tahun lebih ya. Tapi kan kita tahu cuci darah itu mahal gitu ya. ee ee uang negara banyakbanyak terserap ke sana gitu ya. Jadi kenapa BPJS itu katanya kok enggak balance gitu keuangannya ya? Karena warga Indonesia ini banyak yang yang penyakitnya sudah terkategori terkategori penyakit kronis gitu ya, yang terus menerus butuh pengobatan terus-terus enggak bisa berhenti dan itu konsumtif sekali gitu ya. Transisi gaya hidup kita semakin ke sini orang makin malas bergerak gitu ya. Kalau di kantor ada lift pasti naik lift enggak mau naik tangga misalkan dan seterusnya. Banyak itu transisi gaya hidup. Transisi ekologi dan iklim ini juga tantangan besar. Bagaimana perubahan iklim ini sudah menjadi menjadikan lingkungan kita semakin ee apa? Tidak tertebak begitu ya. Musim-musim tidak tertebak, penyakit-penyakit akibat lingkungan makin tinggi, urbanisasi, belum lagi transisi digital. Nah, banyak hal ini berkontribusi terhadap kesehatan ya. Membuat orang menjadi rentan, semakin rentan. Nah, di sinilah Bapak, Ibu bisa mengambil peran sesuai dengan instansinya masing-masing. Apa yang bisa saya lakukan untuk berperan sebagai change agent? Kita eh Bapak, Ibu sebagai ASN ini adalah sebuah profesi yang menurut saya punya posisi yang yang cukup ada value-nya di masyarakat kita ya. Posisi yang strategis gitu ya. Masih banyak orang yang ingin anaknya menjadi ASN dengan segala cara. orang ingin anaknya menjadi ASN ee pengin dapat mant. Jadi Bapak Ibu ini adalah orang-orang pilihan gitu ya. Nah, karena Bapak Ibu ini orang pilihan di situlah kita harus mengambil peran. Salah satu peran kita apa? Salah satu peran kita adalah sebagai agent of change. Bagaimana kita sebagai ASN ini bisa berperan sebagai pembawa perubahan positif di dalam lingkungan terdekat kita atau sebelum lingkungan di dalam diri kita sendiri dulu. bagaimana kita nanti bisa menjadi panutan perilaku sehat itu seperti apa ya. Kemudian di lingkungan terdekat kita, di keluarga kita, di lingkungan yang lebih luas di dalam kita bermasyarakat, di kantor kita. Nah, kalau pemahaman-pemahaman mengenai hal-hal seperti ini tertanam di semua ASN, maka di situlah kita boleh menjadi optimis bahwa memang Indonesia akan layak mendapatkan bonus demografi dan akan menjadi negara maju, akan terwujud Indonesia emas di 2045. Nah, itu itu yang menjadi tanggung jawab kita bersama. Kolaborasi ini menjadi penting. Next slide. Ya. Mengapa diperlukan kolaborasi lintas sektor? Karena determinan kesehatan itu bersifat multidimensi ya. Sehingga sinergi lintas sektor itu akan meningkatkan efisiensi dan dampak ya. Kesehatan masyarakat bergantung pada kebijakan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang pro terhadap kesehatan. Bukan karena saya orang kesehatan kemudian saya ngomong begini, tetapi saya berbicara begini supaya ee kita semua merasa bertanggung jawab. Kita enggak inginkan seperti COVID kemarin. Covid itu adalah sebuah virus. Kalau kita bilang, "Oh, ini urusan kesehatan." Iya, ini penyakit urusannya orang kesehatan. Tetapi kita lihat bagaimana COVID itu memporak-porakkan semua sektor. Nah, inilah kenapa kewaspadaan itu harus ada di semua sektor. Bahwa kesehatan itu adalah tanggung jawab semua sektor. Kolaborasi ini penting. Banyak kasus-kasus yang enggak akan selesai. Hanya dibahas orang kesehatan saja. Semua orang harus bergerak. Imunisasi misalkan kalau yang bergerak hanya orang kesehatan enggak selesai. Dinas Pendidikan harus bergerak. Kenapa? Karena yang diimunisasi itu sasarannya ada di sekolah-sekolah, di sekolah SD misalkan. Jadi kalau kalau sekolah enggak mendukung enggak bisa dong gitu. Kemudian anemi. Kalau hanya kesehatan yang bergerak enggak selesai. Siapa lagi? Dinas Pendidikan lagi. Kenapa? Karena anak-anak SMA itu banyak yang ternyata terdeteksi anemi. Anak SMP, SMA ketika mereka ee mulai haid rutin misalkan kalau mereka tidak mau mengkonsumsi tablet tambah darah yang diberikan sekolah enggak ngawasi, maka anggaran negara untuk beli tablet tambah darah itu hanya akan sia-sia. Dibagikan gak diawasi minumnya hilang gak tahu ke mana. Nah, contoh seperti itu ya. Jadi ee Kementerian Agama misalkan sebelum orang menikah ada bimbingan perkawinan. Apa sih yang perlu saya sampaikan? Oke. Muatan-muatan bagaimana menjadi calon ibu yang baik diberikan termasuk calon ibu yang sehat supaya anak yang dilahirkan sehat misalkan dan sektor-sektor lain pasti punya kontribusi yang luar biasa. Oke, mohon izin Pak Lukman. Waktu saya tinggal berapa menit ya? Iya, masih tersisa 5 menit lagi, Prof. Berapa? Berapa menit? Mohon 5 menit lagi, Prof. 5 menit 5 menit lagi. Oke. Baik, terima kasih ya. Oke, next slide kalau begitu. Nah, konsep kolaborasi lintas sektor itu seperti apa? Ya, kolaborasi itu artinya adalah kerja sama terencana antar lembaga lintas sektor dengan prinsip saling ketergantungan, saling menguatkan, dan saling bertanggung jawab. Saya rasa urusan kolaborasi ini mungkin bisa kita ee bahas pada semua urusan, bukan hanya urusan kesehatan saja gitu ya. Nah, nanti ee sinergi ini menjadi sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Anggaplah Indonesia ini satu keluarga. Sektor A, sektor B, sektor C itu adalah orang-orang di dalam keluarga itu. Ada misalkan anak pertama, kedua, ketiga, keempat, gak mungkin dong mereka enggak saling membantu. Kalau mereka saling membantu, yang yang sejahtera siapa? yang sejahtera keluarga itu ya. Jadi kalau antar sektor ini egosektoralnya untuk saling membantu itu tinggi, yang rugi siapa? Yang rugi Indonesia, yang rugi masyarakat Indonesia ya. Karena kita sebenarnya satu badan ya, hanya dibedakan dengan sektor A, B, C, D, E. Nah, di sinilah kenapa kolaborasi lintas sektor itu menjadi penting begitu ya. Jadi kalau ee Bapak Ibu pimpinan ini terutama gitu ya diundang sektor lain untuk membahas problemnya mereka ya itu jangan kemudian tidak datang gitu ya. Ketika sektor lain itu mengajak kita diskusi itu artinya kita punya peran di sana dan kita harus tunjukkan bahwa saya bisa kok berperan gitu ya. Apalagi kalau kita berbicara kesehatan ini karena saya juga orang yang harus disehatkan sehingga kalau saya berkontribusi berarti sebenarnya saya juga menjaga kesehatan diri saya sendiri. Oke, next slide. Nah, ini ini yang mungkin tolong Bapak Ibu semuanya, terutama jika Bapak Ibu ini ada di level pimpinan ee tentang konsep health in all policy ya. Jadi, health in all policy ini adalah konsep global dari WHO yang mengatakan bahwa kebijakan di semua sektor itu harus mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan. Ya, jangan hanya ditelaah dari satu aspek saja. Misalkan hanya ditelaah, oh ini berdampak positif terhadap ekonomi, harus didukung. Iya. Oke, bagus sih. Tapi jangan lupa kalau misalkan dia hanya berdampak terhadap ee apa namanya? Dia mengungkit ekonomi tapi kemudian melemahkan kesehatan, maka uang yang didapatkan dari sektor ekonomi nanti juga akan habis. Habisnya ke mana? Lari untuk ngobatin orang sakitnya. Jadi percuma gitu loh. Pendapatannya tinggi tapi pengeluarannya juga tinggi. Enggak akan meningkat kesejahteraannya. ya. Ee jadi ini yang harus betul-betul kita perhatikan. Jadi kalau Bapak Ibu dipercaya untuk ee merancang sebuah kebijakan misalkan, pertimbangkanlah ada enggak ee dampaknya yang merugikan kesehatan. Jika ada, gimana cara saya meminimalisir dampak ini? Ya, jadi health in all policies ini adalah framework yang harus di pakai sebagai guideline oleh semua pengambil kebijakan. Oke, next slide. Nah, ini beberapa bentuk kolaborasi lintas sektor yang mungkin bisa kita ee create di lingkungan terdekat kita. Misalkan ada forum lintas OPD, integrasi program kemitraan publik, swasta, komunitas, kemudian kolaborasi berbasis data dan evidence based policy dan seterusnya. Next slide. Ada satu lagi mungkin ini terakhir yang saya sampaikan mengenai whole of government and whole of society bahwa kolaborasi itu tidak hanya antar instansi pemerintah tetapi kolaborasi itu harus melibatkan sektor swasta, akademisi, komunitas, media. Ini yang kemudian kita kenal sebagai pentahelic collaboration ya. Pentah collaboration ini adalah sebuah model pendekatan yang inklusif. Jadi sekali lagi di dalam era fuka ya, volatility, uncertainty, kemudian eh ambiguity, complexity, kita enggak bisa bekerja sendiri, kita enggak bisa jalan sendiri. kita harus gandeng tangan bersama orang lain. Karena hanya dengan kolaborasi maka sesuatu yang kompleks akan bisa kita buat menjadi lebih sederhana, sesuatu yang ambigu bisa kita perjelas, sesuatu yang ee apa namanya mengancam bagi kita, bisa kita sharing risiko sehingga menjadi lebih kecil dan seterusnya. Ya, jadi ini adalah sebuah ee peran yang ditunggu dari kita semua selaku ASN ya. Oke. Baik. Mungkin ini memang masih ada beberapa slide lagi tapi mengingat waktu mungkin ee seperti itu ya Pak Lukman yang bisa kami sampaikan. [musik] Prof. Ratna, terima kasih untuk edukasinya, untuk kami-kami yang masih awam terhadap berbagai hal seperti yang tadi Prof. Ratna ee sampaikan ya, Prof. Ratna izin diskusi beberapa hal terkait dengan keresahan-keresahan yang seringki kita alami sebagai masyarakat Aum terkait kesehatan ya. Seringkiali kan kita ee saat ini kita sudah tahu bahwasanya tren-tren makanan seperti makanan minuman manis, makanan cepat saji, makanan yang berasal dari tepung-tepungan ini kan lagi hype pening banget di masyarakat kita. Sebenarnya apakah pemerintah ini aware gak ee Prof. Ratna terhadap isu-isu ini dan barangkali ada kebijakan publik yang memang meregulasi penyebaran makanan-makanan seperti ini agar tidak terlalu meluas. Karena kalau kita bandingkan dengan outlet makanan sehat pun juga masih terbatas di lingkungan kita. Kalau menurut pandangan Prof. Ratna seperti apa, Prof? Iya. Oke. Baik, terima kasih, Pak Lukman. itu adalah isu yang sebenarnya bagi kalangan orang kesehatan itu sudah sudah sering dibahas. Tetapi memang sampai sekarang itu belum terwujud sebagai sebuah kebijakan publik yang konkret gitu ya. Ee saya contohkan di beberapa negara maju ya Pak Lukman ya. Ee di beberapa negara maju yang sudah sangat konsern terhadap ee penyakit akibat gaya hidup mereka itu sudah memberlakukan yang namanya cukai. Nah, kalau kita seringnya dengar cukai itu kan cukai rokok ya. Dan sebenarnya cukai rokok itu kan sudah di dimaksudkan pemerintah untuk apa namanya ya? Membuat ee rokok ini tidak dengan mudah didapatkan oleh orang-orang yang enggak mampu begitu ya. Sehingga ada cukainya yang nanti harapannya ee hasil dari cukai rokok ini juga akan bisa untuk membiayai kesehatan gitu ya. Nah, kalau di beberapa negara maju istilah cukai ini juga berlaku untuk makanan dan minuman manis ya. Jadi ada cukainya sendiri sehingga harga makanan dan minuman manis atau makanan minuman yang ee enggak sehat itu bisa menjadi lebih mahal. Ini akan membuat orang untuk berpikir dua kali kalau mau mau membeli makanan yang ee tidak terlalu sehat untuk dirinya. Nah, tetapi di Indonesia belum belum sampai ke sana dan memang regulasi kita masih masih lemah. sebenarnya ada ada badan yang ditunjuk untuk itu. Nah, tetapi karena mungkin keterbatasan ee jangkauan juga sehingga pemantauan untuk ee industri makan minuman yang kurang sehat ini ee enggak terlalu intensif juga yang dalam arti masyarakat ini bisa dengan yakin bahwa oh ini makanan ini kalorinya sekian-sekian itu kita enggak tahu gitu ya. ee harusnya ada ada kebijakan yang bisa membuat setiap pengelola makan itu mencantumkan kandungan zat gizinya, ingrediennya secara jujur yang harus di-update secara rutin sehingga kita sebagai customer itu terlindungi. Saya bisa memilih makanan yang ingrediennya sesuai dengan ee kemauan saya. Ee kalorinya bisa saya ambil mana yang paling ee tidak membahayakan saya. Tapi sampai sekarang kita belum belum bisa mendapatkan itu dengan mudah ya. ee pada beberapa industri memang sudah sudah konsisten menerapkan seperti itu. Ee tapi itu biasanya industri besar. Kalau industri-industri kecil rasa-rasanya belum ada yang sampai ke sana. Dan padahal kita tahu justru industri-industri kecil yang ada di sekitar kita tinggal inilah yang mudah diakses oleh sebagian besar masyarakat kita. Sehingga memang ini tantangan tersendiri ya. Jadi health in policy seperti yang tadi saya sampaikan ini memang masih menjadi PR kita bersama. bagaimana supaya para pengambil kebijakan ini semakin aware bahwa ee ketika kita membuat kebijakan itu jangan lupa sertakan juga kebijakan-kebijakan kesehatan yang itu tujuannya adalah untuk melindungi masyarakat kita. Oke, demikian saya rasa Pak Lukman. Terima kasih Prof. Ratna walaupun semisal belum ada kebijakan publik yang mengatur setidaknya sobat-sobat ASN yang menyaksikan webinar ASN kali ini sudah mendapatkan awareness dan harapannya seperti yang tadi Prof. Ratna bilang promotif dan preventifnya harus jalan karena ini bisa dilakukan oleh siapa saja tidak hanya dari tenaga medis saja. Prof. Ratna terima kasih sudah berkenan untuk bergabung di webinar ASN belajar seri 44 kali ini. Barangkali sebelum ditutup Prof Ratna karena keterbatasan eh keterbatasan waktu ada closing statement yang ingin disampaikan kepada Sobat ASN yang masih menyaksikan. Silakan Prof. Ratna. Ya. Baik. Untuk closing statement, saya akan mengutip sebuah kalimat yang itu menjadi jargonnya orang public health ya, orang kesehatan masyarakat ya. Apa itu ya? Health is not everything but without help everything is nothing. Yang artinya apa? Kesehatan itu bukan segalanya, tapi tanpa kesehatan segalanya tidak berarti. Nah, kurang lebih seperti itu. Terima kasih. Terima kasih Prof. Ratna. Salam sehat selalu, Prof. Pratna. Kita bertemu lagi di event-event selanjutnya, Prof. Ratna. Thank you, Prof. Terima kasih. Baik, Sobat ASN. Tidak terasa kita sudah berada di penghujung acara webinar ASN Belajar seri 44 kali ini. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih atas seluruh partisipasi aktifnya selama mengikuti acara kali ini. Dan kami juga ucapkan terima kasih kepada seluruh narasumber yang telah berkenan untuk membagikan insight ee banyak sekali terhadap Sobat ASN. Dan jangan lupa untuk mengisi link presensi pada laman semestacom.id id karena e-sertifikat akan kami bagikan bagi siapapun yang sudah mengisi link presensi kali ini. Webinar ASM belajar seri 44 persembahan Cororpu SDGIS BPSDM Provinsi Jawa Timur. Saya Lukman Ali beserta kru yang bertugas pamit undur diri. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sampai berjumpa di webinar ASN seri berikutnya. [musik] Zaman yang terus bergerak. [musik] Sambut dengan penuh semangat. Saatnya kita [musik] melangkah. Hadapi segala tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan [musik] berdampak. Bersama ASN belajar. Ciptakan [musik] SDM unggul berprestasi selalu inisiatif dan kolaboratif [musik] untuk inovasi yang berkelanjutan. [musik] Menjadi ASN berakhlak mulia siap menyongsong Indonesia emas. ASM belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia tekad pantang [musik] menyerah jadi ASN getar berkualitas belajar juga [musik] selalu dunia tekat pandang menyerah jadi berkualitar sama [musik] H