ASN Belajar Seri 44 | 2025 - Sehat untuk Semua, Berdaya untuk Sesama
gEkZnm5RlX0 • 2025-11-13
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id [musik] Zaman yang terus bergerak, sambut dengan penuh semangat. Saatnya [musik] kita melangkah. Hadapi segala [musik] tantangan. Tingkatkan setiap kompetensi untuk pelayanan berdampak. Bersama ASN belajar. [musik] Ciptakan SDM unggul berprestasi. [musik] Selalu inisiatif dan kolaboratif untuk [musik] inovasi yang berkelanjutan. Menjadi ASN berakhlak mulia. Siap nyongsong Indonesia emas. ASN [musik] belajar wujudkan pemerintahan berkelas dunia. Lakukan tekad pantang [musik] menyerah jadi ASN getar berkualitas. [musik] yang belajar wujudkan pemerintahan kelas [musik] dunia tukang tekad pantang menyerah jadi AS berkuan kita [musik] belajar [musik] Kami mencoba [musik] menjadi yang terbaik. Melayani bangsa dengan sepenuh [musik] hati. Murahlah kami junjung teguhkan diri dan jadikan pedolan serta kekuatan. Hadir [musik] di sini untuk mengabdi rencanakan tugas kebanggaan negeri situs melayani bangsa [musik] dengan akuntabilitas tinggi. Hong kami dari sini [musik] suka dengan hati tunjukkan kompetensi [musik] dalam harmoni. Layani bangsa loyal tanpa batasannya [musik] dan berkolaborasi gandeng tangan satu tujuan [musik] menjadikan ASN lebih berakhlak bekerja sepenuh hati [musik] tulus membantu sesama dengan bangga kami melayani [musik] bangsa [musik] Kami dari sini tegas dengan hati tujukan kompetensi dalam harmoni. [musik] loyal tanpa batasannya adaptif [musik] dan berkolaborasi bergandeng tangan satu tujuan [musik] untuk menjadikan ASN lebih beragama mengerdas penuh hati tulus membantu sesama dengan [musik] kami melayani dengan kami [musik] melayani dengan mengang kami melayani lagi [musik] Hasen [musik] bua semangat membara di era digital terus [musik] berkarya berkolaborasi inisiatif tinggi inovasi cempal [musik] Jawa Timur terus melaju bersama BPSNI Kita [musik] terus melesat untuk Indonesia emas. Prestasi hebat [musik] ASN unggul. Tiada yang tertinggal [musik] no one left behind. Kita terus melangkah berkolaborasi. [musik] Inisiatif tinggi inovasi cemerlang. Jawa Timur terus [musik] melat kita terus [musik] melesat untuk Indonesia emas prestasi her aset [musik] unggur tiada yang tertinggal no one left behind kita terus [musik] melangkah berkolaborasi inisiatif [musik] tinggi. Inovasi cemalah Jawa Timur [musik] terus melaju. Bersama BPSDM Jatim kita terus [musik] melesat untuk Indonesia emas prestasi hebat bersama kampus satelit PP [musik] PSBM Jatim no one left behind. ASN umbul [musik] dan berkualitas Melesa tinggi Indonesia jaya Yeah. [musik] Bam membangun asa menuju cipta yang mulia. [musik] Kami hadir, kami berkarya untuk [musik] Jawa Timur yang berjaya. Langkah pasti [musik] menitipiti zaman dengan semangat pembaharuan. [musik] Ilmu dedikasi dan harapan [musik] menjadi bekal masa depan. PPS Temen Jating, Pusat unggulan. Tempat lahirnya insan berkualitas. [musik] Mencetak STM berkompetensi tangguh cerdasin inovasi bersatu dalam visi yang terang menjawab [musik] tantangan jalan genial. PPSDM [musik] Jawa Timur Center of Exens masa depan gemilang [musik] [musik] bersama membangun asa menuju cita yang mulia Kami [musik] hadir, kami berkarya untuk Jawa Timur yang berjaya. Langkah pasti [musik] meniti zaman dengan semangat pembaruan ilmu dedikasi [musik] dan harapan menjadi bekal masa depan. BPSM [musik] Jatim pusat unggulan tempat lahirnya insan berkualitas [musik] mencatat Sm berkompetensi tangguh [musik] cerdas penuh inovasi bersatu dalam visi yang terang [musik] menjawab tantangan jangan gemilang [musik] PPSDN Jawa Timur senterans masa depan [musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi sobat ASN di seluruh Indonesia. Senang sekali saya Lukman Ali dapat menyapa Sobat ASN dalam acara webinar ASN belajar seri 44 persembahan spesial Corpu SDGIS BPSDE Provinsi Jawa Timur. Saya juga ingin menyapa untuk sobat SN yang tengah menyaksikan acara ini melalui live YouTube BPSDM Jatim TV. Terima kasih karena sudah membersamai kami di tiap minggunya. Sobat ASN, Hari Kesehatan Nasional ke-61 yang diperingati pada tanggal 12 November 2025 lalu menjadi momen penting untuk mengingatkan kembali arti strategis kesehatan sebagai pondasi pembangunan nasional. Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia, kesehatan menjadi modal dasar yang menentukan produktivitas, kreativitas, serta daya saing bangsa. Yuk, bersama-sama perkuat komitmen menuju masyarakat yang sehat, tangguh, dan berdaya. Selengkapnya akan kita bahas di webinar ASN Belajar seri 44. Sehat untuk semua, berdaya untuk sesama, transformasi kesehatan untuk Indonesia Emas 2045. [musik] Dan untuk membuka webinar ASN Belajar seri 44 kali ini, mari kita dengarkan terlebih dahulu opening speech yang akan disampaikan oleh Dr. Ramlianto, SPMP selaku Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. [musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sehat dan salam sejahtera untuk kita sekalian. Sobat Taisen di seluruh tanah air. Selamat bertemu kembali dalam webinar series ASN Belajar, sebuah wahana pengembangan kompetensi ASN persembahan Jatim Corpor University Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. Hari ini Kamis tanggal 13 November 2025, ASN belajar telah memasuki seri yang ke-44. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas antusiasme Sobat ASN di seluruh negeri untuk terus mengikuti secara aktif program ASN belajar ini. Sebagai bentuk terima kasih kami. Kami terus berkomitmen sekaligus wis ikhtiar untuk menyajikan topik-topik pengembangan kompetensi yang menarik, kekinian, dan tentu berdampak secara nyata terhadap peningkatan kompetensi dan kinerja aparatur sipil negara di Indonesia. Sobat ASN, hari ini ASN Belajar seri ke-44 tahun 2025 ini menyajikan salah satu topik dalam rangka memberikan kontribusi pemikiran pada Hari Kesehatan Nasional yang kita peringati pada tanggal 12 November 2025 kemarin. sebuah momentum yang akan mengingatkan kita semua pada kesehatan yang menyatakan bahwa kesehatan bukan sekedar urusan medis, melainkan cerminan dari peradaban dan kemanusiaan sebuah bangsa. Di dalamnya tersimpan makna yang lebih dalam dari sekedar angka harapan hidup, yaitu harapan akan kehidupan yang lebih bermartabat, berdaya, dan berkeadilan. Karena tema ini sangat tepat untuk kita elaborasi secara luas dan mendalam, maka ASN belajar seri ke-44 tahun 2025 ini mengangkat topik sehat untuk semua, berdaya untuk sesama, transformasi kesehatan untuk Indonesia Emas 2045. Nah, sudah menjadi tradisi akademik dalam SN belajar bahwa topik menarik ini akan kita bahas secara intensif dari beragam perspektif bersama para narasumber yang sangat kompeten di bidangnya. Sobat ASN di seluruh tanah air, kita menyadari sepenuhnya bahwa kesehatan bukan hanya tentang menyembuhkan yang sakit, tetapi tentang membangun ekosistem kehidupan yang menyehatkan, memberdayakan, dan memanusiakan. Kesehatan adalah pondasi peradaban. Ia bukan hanya hasil dari kebijakan publik, tapi cerminan dari keberpihakan pada kemanusiaan. Kualitas kesehatan suatu bangsa sesungguhnya adalah cermin dari kedewasaan moral, politik, dan sosialnya. Dari cara bangsa menjaga udara yang dihirup warganya, menyediakan air yang diminum anak-anaknya, hingga memastikan pelayanan yang adil bagi mereka yang paling rentan, semuanya adalah ukuran sejauh mana negara menempatkan kehidupan manusia sebagai nilai tertinggi. Sektor kesehatan tidak berdiri sendiri ya bersinggungan dengan pendidikan, ekonomi, lingkungan, infrastruktur, bahkan kebijakan sosial dan budaya. Karena ketika kesehatan melemah maka produktivitas menurun, ketimpangan melebar dan cita-cita pembangunan kehilangan bijakan. Sebaliknya, ketika kesehatan menguat, maka seluruh sistem kehidupan bangsa ikut berdenyut. Kesehatan yang terjamin bukan hanya melahirkan masyarakat yang kuat, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri, memperkuat daya saing, dan meneguhkan kohesi sosial. Kesehatan adalah simpul yang mengikat seluruh sendi pembangunan nasional. Ia bukan sekedar urusan rumah sakit dan tenaga medis, melainkan tanggung jawab bersama. dari petani yang menjaga pangan bergizi, ASN yang menata kebijakan publik, hingga masyarakat yang menumbuhkan perilaku hidup sehat. Sobat ASN di seluruh tanah air, kesehatan adalah ruang kolaborasi antar jiwa dan antar instansi. Ia menuntut kehadiran pemerintah yang tanggap, masyarakat yang sadar, serta budaya pelayanan yang berakar pada empati dan kemanusiaan. Karena itu ketika kita berbicara tentang transformasi kesehatan untuk Indonesia Emas 2045, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang mimpi besar bangsa menciptakan manusia Indonesia yang sehat secara raga, cerdas secara pikir, dan tangguh secara jiwa. Sebab hanya bangsa yang sehat yang mampu berpikir jernih, berinovasi, dan menjaga keberlanjutan peradabannya. Melalui forum ini kita diajak merenungkan kembali peran STN sebagai pelayan masyarakat bahwa tugas kita bukan hanya mengelola kebijakan tapi juga menumbuhkan empati, membangun kesadaran, dan memperkuat kolaborasi demi terwujudnya bangsa yang sehat, lahir dan batin. Karena pada akhirnya pelayanan yang menyehatkan adalah pelayanan yang memanusiakan. Dan di sanalah letak kemuliaan pengabdian itu tumbuh. ketika setiap langkah birokrasi menjadi ikhtiar kemanusiaan dan ketika setiap kebijakan menjadi janji untuk menyehatkan negeri. Nah, Sobat ASN di seluruh tanah air, untuk membahas lebih lanjut topik menarik ini, kami telah mengundang para narasumber luar biasa yang sudah barang tentu sangat kompeten di bidangnya. Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada para narasumber hebat yang telah berkenan hadir dan akan berbagi berbagai informasi strategis kepada Sobat ASN di seluruh tanah air. Pertama kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Bapak Dr. Bambang Widianto, Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Tata Kelola Pemerintahan dan Reformasi Birokrasi. Kedua, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Ibu Prof. Dr. Cita Rosita Sigit Prakuswa. Beliau adalah direktur Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Sutomo Surabaya. Dan ketiga, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Ibu Prof. Dr. Ratna Dwi Wulandari, SKM, MKes. Beliau adalah Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Erlangga Surabaya. Nah, Sobat ASN di seluruh tanah air, mari kita simak dengan seksama webinar ASN belajar seri ke-44 tahun 2025. Semoga bermanfaat. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [musik] Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ramlianto, SPMP selaku Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur atas opening speech yang telah disampaikan. Sebelum kita masuk ke keyote speaker kita yang pertama, Bapak, Ibu, Sobat TSN sekalian, mohon izin kami informasikan jangan lupa untuk mengisi link presensi via semestabangkom.id. Dan dikarenakan saat ini traffic presensi sedang tinggi, maka Bapak, Ibu, Sobat ASN dapat cek secara berkala. Nantinya link presensi ini akan digunakan juga untuk mendapatkan e-sertificate dari BPSDM Provinsi Jawa Timur. Baik, kita langsung saja masuk ke keyote speaker kita yang pertama. Kali ini kita akan mendengarkan materi yang sangat menarik dari Dr. Bambang Widianto selaku staf khusus Menteri Kesehatan Bidang Tata Kelola Pemerintahan dan Reformasi Birokrasi. [musik] Ya, telah bergabung bersama dengan kami semua di sini, Dr. Bambang Widianto. Saya ingin ucapkan selamat datang terlebih dahulu. Selamat datang dan selamat pagi Pak Bambang. Selamat pagi, Bapak. Kabar baik, Pak Bambang. Alhamdulillah. Terima kasih sudah berkenan untuk datang di webinar ASM Belajar seri 44 kali ini. Kali ini kita akan mendengarkan materi terkait dengan transformasi sektor kesehatan sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045. Saya persilakan Dr. Bambang Widianto untuk menyampaikan materinya kurang lebih selama 30 menit. Nanti kita akan masuk ke sesi tanya jawab. Silakan, Pak Bambang. Oke, terima kasih Pak Moderator, Bapak Ibu sekalian. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ee salam sejahtera bagi kita semua. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan. Bapak Ibu sekalian terima kasih atas undangannya. Ini merupakan kehormatan bagi saya untuk dapat hadir di sini. Jadi sesuai dengan ee topik yang dimintakan kepada kami yaitu transformasi sektor kesehatan sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045. Bapak, Ibu sekalian, ini saya paparan saya agak panjang, tapi saya ini berikan aja bahannya kepada Bapak Ibu sekalian sebagai latar belakang, tapi saya enggak akan memaparkan semua. Saya hanya ingin menyampaikan beberapa hal yang penting sehingga Bapak Ibu dapat ee nanti membaca sendiri dan melihat sebetulnya apa sih esensinya kita melakukan transformasi kesehatan nasional. Bapak, Ibu sekalian, next slide-nya Bapak, Ibu sekalian. Next slide. Nah, jadi Bapak Ibu sekalian, tujuan daripada kita melakukan transformasi kesehatan nasional itu sebetulnya adalah kita ingin memperbaiki indikator kesehatan nasional kita. Ya, jadi itu tujuan utamanya ya. Kalau kita lihat Bapak Ibu sekalian dari slide yang saya sampaikan ini, ini contohnya adalah angka kematian ibu ya kan. Angka kematian ibu melahirkan per 100.000 kelahiran hidup ya Indonesia itu angkanya ya ini ini mungkin angkanya sudah berubah sekarang tapi ini pada tahun 2000 ee 22 itu adalah sekitar 189 pada tahun 2020. Saya mengambil tahun 2020 karena saya enggak punya perbandingan untuk negara lainnya nih yang agak sulit tuh mencari perbandingan negara lainnya. Nah, itu kita tuh tinggi sekali gitu. Dibandingkan dengan Malaysia, dibandingkan dengan Vietnam, dibandingkan dengan Filipina, dibandingkan dengan Timor Leste aja kita masih jauh lebih tinggi angka kematian ibu melahirkannya. Ya. Kemudian ada juga angka ee kematian bayi juga kita tinggi itu Bapak Ibu sekalian. kita bisa lihat kita kalah kita cuman menang dari Myanmar saja ya. Nah, ini kan sangat ironis gitu ya. Kita negara besar, negara yang kita dalam negara yang membangun cukup cepat, tapi mengapa angka-angka ee ini masih kita ketinggalan jauh dibandingkan negara tetangga kita gitu. Slide berikutnya ini jug nah ini Bapak Ibu sekalian ini adalah penyebab kematian tertinggi di Indonesia ya. Yang pertama itu sebabnya adalah ee penyakit jantung, serangan jantung. Yang kedua adalah stroke, yang ketiga adalah kanker. Jadi, Bapak Ibu bisa bayangkan ya bahwa hampir 1 kom 1,3 juta orang itu meninggal karena tiga penyakit ini setiap tahunnya ya. Kenapa penyakit jantung? Karena kita enggak punya fasilitas yang memadai di seluruh Indonesia. Kenapa banyak yang stroke meninggal? Karena kita juga enggak mempunyai fasilitas yang memadai untuk menangani jantung, untuk menangani stroke di seluruh wilayah Indonesia. Di kota-kota besar kita ada, tapi itu pun baru sedikit ya. Jadi kalau orang kena serangan jantung di daerah terpencil atau di daerah Indonesia Timur misalnya gitu ya, itu akan ee kekurangan waktu untuk menanganinya sehingga meninggal. Jadi ini menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Slide berikutnya ini, Bapak, Ibu sekalian ya. Ini adalah cakupan yang sebelah kanan itu adalah cakupan peserta BPJS ya. Kalau kita tuh cakupan kita itu sudah 96% Bapak Ibu sekalian. Ya, jadi orang yang di-cover oleh BPJS itu adalah dari seluruh penduduk kita sudah 96%. Nah, tapi cakupan peserta ini tidak dibarengi dengan apa yang disebut dengan service coverage ya. Yang di sebelah kiri itu adalah service coverage kita dan Indonesia itu baru 54% ya. Jadi masih tertinggal dibanding dengan negara lain ya. Jadi walaupun cakupan BPJS kita 96% tapi fakta di lapangan itu yang bisa dilayani itu untuk Indonesia itu hanya 54%. Jadi hanya setengahnya ya. Jadi walaupun cakupan kita sudah 95% tapi layanan kesehatan di bawah itu baru 9 baru 55 sekitar 55%. yaitu yang namanya service coverage. Jadi target kita itu bukan hanya sekedar cakupan peserta, tapi juga yang disebut dengan ya universal service coverage index, ya. Itu juga target untuk kita benahi. Slide berikutnya, Bapak, Ibu sekalian. Nah, ini tadi ini sebenarnya penjelasan dari yang tadi apa sih definisi dari service coverage itu? P Bapak Ibu bisa lihat sendiri ya, bisa baca sendiri ya slide berikutnya. Nah, ini Bapak Ibu sekalian ini adalah jumlah kasus dan biaya katastrofik dalam program JKN Indonesia ya. Jadi walaupun service coverage kita juga masih rendah, tapi penyakit jantung, kanker, stroke itu menelan biaya yang sangat tinggi. Ya, ini untuk penyakit delan penyakit ini aja sudah mencakap 35 triliun. Jadi hal-hal ini yang apa namanya perlu kita lihat juga bagaimana cara kita untuk membiayai ini. Ya, ini yang penting juga. Slide berikut. Ini Bapak, Ibu sekalian. Ini penyakit-penyakit penular yang masih tinggi seperti TBC ya. Ini penyakit lama. Tapi kenapa saya paparkan di sini? Karena Indonesia merupakan penyumbang ee penyakit TBC nomor dua di dunia setelah India. Ya. Jadi sekali lagi Bapak Ibu sekalian, ketertinggalan-ketertinggalan ini yang perlu kita perbaiki, perlu kita lakukan transformasi untuk mengejar ini semua ya. Dan kalau Bapak lihat itu yang grafik warna hijau itu adalah notifikasi ya, orang yang bisa dideteksi dia TBC itu dari target tadinya kita masih sangat rendah 46% ya pada tahun 2023 ini kita agak lumayan Bapak Ibu sekalian itu sudah mencakup sampai ee 76% sekarang ya jadi itu jauh membaik ya dibandingkan sebelumnya ya dan ya ini yang kita ingin ingin kita tingkatkan terus karena yang tidak tertangkap melalui deteksi awal ini, deteksi dini ini pasti berkeliaran dan itu akan menularkan kepada yang lain. Jadi ini sangat penting Bapak Ibu sekalian terutama ee Bapak Ibu di pemerintah daerah pasti ini juga menjadi konsern bersama untuk kita bisa menangani ini. Slide berikutnya. Nah, dari hal-hal yang tadi saya sampaikan, sebagian indikator kesehatan nasional tadi yang saya sampaikan ya, Kementerian Kesehatan itu merumuskan yang kita sebut dengan enam pilar transformasi kesehatan. Ya, mungkin Bapak Ibu sudah pernah mendengar ini enam pilar ya. Jadi ini adalah hal-hal yang perlu kita lakukan, yang perlu kita transformasi agar ketertinggalan kita yang tadi saya sampaikan itu bisa kita kejar ya. Masa kita kalah sama negara tetangga kita, kita kalah sama Malaysia, kita kalah sama Filipina, bahkan kita kalah sama Timor Leste. Itu agak kayaknya agak kurang pas. Kita sebagai negara yang sudah 85 tahun merdeka harusnya kita mulai mengejar ketertinggalan itu. Nah, untuk mengejar ketertinggalan itu diperlukan transformasi yang sangat luas ya. Dan ini transformasi pilar kesehatan ini adalah transformasi terbesar yang pernah dialami Indonesia dalam bidang sektor kesehatan. ya. Kita biasanya mendengar ada transformasi di sektor keuangan, transformasi di sektor perbankan, ya, transformasi di sektor perdagangan. Nah, ini kita sekarang melakukan transformasi sektor kesehatan melalui en pilar, ya. Ya. Jadi apa tuh Bapak Ibu sekalian enam pilar tadi ya? Bapak Ibu sebagai penjaga gawang, sebagai ASN di ee provinsi itu harus dapat mendorong ya transformasi layanan enam tapila transformasi ini ya. Karena kebanyakan fasilitas kesehatan adalah di bawah wewenang Bapak Ibu sekalian. Sebagai contoh yang pertama adalah transformasi layanan primer ini Bapak Ibu sekalian ya. Ya, ini tentang yang primer ini ee adalah kalau dulu kita menekankan pada kuratif, sekarang kita harusnya menekankan kepada apa yang disebut dengan ee promotif dan preventif. Nah, ujung tombaknya adalah layanan primer, adalah fasilitas kesehatan primer, ya. Fasilitas kesehatan tingkat pertama itu Puskesmas. dan berbagai macam ee fasilitas kesehatan yang milik bukan milik pemerintah atau milik swasta, milik masyarakat yang menjadi ee layanan primer. Nah, ini ujung tombak ini harus kita perbaiki Bapak Ibu sekalian ya. Ini jadi ini kami mohon dukungan nih kepada Bapak Ibu yang di daerah ya. Kami di tingkat pusat memberikan banyak bantuan ya untuk memajukan berbagai macam fasilitas di daerah ini Bapak Ibu sekalian. Nah, bisa balik ke slide sebelumnya enggak, Pak? Sebelumnya, Pak. Ya, ini, Pak. Jadi, yang pertama tuh transformasi layanan primer. Yang kedua adalah transformasi layanan rujukan, ya. Yang ketiga adalah transformasi sistem ketahanan kesehatan. Ya, Bapak Ibu tahu waktu kita COVID, kita sangat apa namanya? tergopoh-gopoh karena banyak sekali bahan baku kita masih impor, vaksin kita enggak dapat segala macam. Jadi ini harus kita perbaiki. Kemudian tadi saya menyampaikan mengenai pembiayaan yang besar tadi, makanya ada transformasi keempat yaitu transformasi sistem pembiayaan kesehatan. Nah, ini Bapak Ibu sekalian ini karena kita ingin memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat yang terbaik. Pertama dari fasilitasnya tadi yang pertama tuh layanan primer, layanan rujukan, kemudian obat-obatan dan alat kesehatan. Tapi kita juga harus memikirkan bagaimana cara membiayainya yaitu transformasi sistem pembiayaan kesehatan. Nah, kemudian yang kelima ini yang paling penting adalah transformasi SDM kesehatan karena semuanya tadi tidak akan berjalan tanpa didukung oleh SDM yang ee yang berkompeten dalam bidang kesehatan. Nah, ini ya Bapak, Ibu sekalian transformasi kesehatan yang sangat yang sedang kita jalankan. Kemudian yang terakhir itu adalah transformasi teknologi kesehatan. Bapak, Ibu sekalian pasti sering mendengar transformasi teknologi kesehatan, tapi kita selalu asosiasinya kepada teknologi informasi. Ya, itu penting itu juga kita jalankan terus traas itu. Tapi yang penting adalah teknologi dalam bidang bioteknologi ya. Bapak Ibu pasti sudah mendengar apa yang namanya precision medicine. Jadi kalau dulu kita diperiksa oleh dokter ya pada tahap awal kita diperiksa mungkin dokternya hanya interview kita melihat fisik kita, kemudian ada pemeriksaan darah, kemudian lama-lama ada MRI. Kemudian lama-lama barangkali ada USG, ada MRI, ada City scan, ada segala macam. Nah, itu sekarang ada yang disebut dengan precision medicine ya. Itu dengan melihat struktur DNA kita. Jadi pengobatan itu walaupun sakitnya sama, mungkin kita misalnya saja kita mempunyai kolesterol yang tinggi, tapi treatmentnya bisa berbeda antara satu individu dengan individu yang lain dan itu tergantung dari ee DNA kita, dari pembentuk apa namanya ee struktur badan kita, sel kita. Nah, kalau itu diperiksa kita bisa tahu dan kita bisa tahu juga ke depan itu kita akan mengalami sakit apa sehingga kita bisa menanganinya dengan lebih baik gitu ya. Penanganan lebih baik, obat yang lebih cocok, tindakan yang lebih cocok ya. Contoh untuk pasien kanser misalnya itu walaupun sama-sama ee ee kanser payudara misalnya, tapi mungkin untuk setiap individu penguatannya bisa lain. Itu yang disebut dengan precision medicine. Nah, Bapak, Ibu sekalian, kita sebagai ASN ya, kami di Kementan Kesehatan sebagai ASN yang menjalankan menyang pilar ini itu harus mempunyai kompetensi yang baik agar kita mampu menjalankan ini. Makanya kita, Bapak, Ibu sekalian di dalam Kementerian Kesehatan sendiri kita menambahkan satu pilar lagi yaitu pilar ketujuh ini untuk internal. kita bisa enggak organisasi kita atau SDM kita di Kementerian Kesehatan mendukung enam pilar transformasi tersebut? Ini kritikal banget nih, Bapak, Ibu sekalian. Makanya itu penting ya, makanya kita penting melakukan transformasi internal. Jadi, Bapak Ibu sekalian barangkali ini bisa dipakai contoh oleh Bapak Ibu sekalian. apa sih yang disebut dengan transformasi internal untuk SDM segala macam itu. Ee Bapak, Ibu sekalian mungkin kita bisa berdiskusi panjang lebar untuk bagaimana merubah budaya kerja ya, bagaimana kita merubah cara kerja kita agar kita dapat menjalankan enam pilar transformasi kesehatan tadi. Karena ini masif sekali. Beli alat kita gampang, Pak. kita uang sekarang nih tersedia untuk memberikan misalnya ee city scan untuk seluruh rumah sakit di kabupaten di 514 kabupaten ya kita alat-alat canggih itu kita bagikan ke rumah sakit RSUD ke provinsi segala macam tapi tanpa SDM yang baik itu tidak akan terjadi, tidak akan terwujud. Nah, ini yang kita selalu kejar-kejaran nih Bapak, Ibu sekalian. Makanya di Kemenk sendiri kita melakukan transformasi internal agar sumber daya kita itu benar-benar bisa menjalankan ee enam pilar transformasi tadi. Slide berikutnya. Nah, Bapak Ibu sekalian ini ee ini contoh aja Bapak Ibu se Bapak Ibu bisa baca sendiri ya. Jadi, bagaimana kita me-restructure lagi ya dari apa rumah sakit, dari layanan primer ya di layanan primer itu di bawahnya ada puskesmas pembantu, ada posyandu ya, bahkan sampai kita bagaimana kita bisa menjalankan home visit. Saya rasa Provinsi Jawa Timur sudah baik melakukan ini ya. Jadi kalau bisa kita dorong lagi agar kita bisa melakukan sampai home visit untuk ee rumah tangga-rumah tangga ee di setiap wilayah kita ya. Karena sekali lagi pencegahan, promosi dan pencegahan itu jauh lebih penting daripada kuratif ya. Nah, ternyata Bapak Ibu sekalian di Puskesmas itu sebetulnya juga memiliki laboratorium ya. Kalau kita ke laboratorium swasta kan mahal Bapak Ibu sekalian ya. Jadi kita sekarang memperbaiki restructure lagi berbagai macam laboratorium yang berada di wilayah masing-masing. Nah, FKTP ini, fasilitas kesehatan tingkat primer maupun laboratorium PapKesmas ini ya itu semuanya wewenangnya ada di pemerintah daerah. Nah, jadi bagaimana kita bekerja sama ya, kita sediakan ee standarnya, kita bahkan sediakan alatnya, tapi kita perlu bekerja sama untuk bagaimana mendidik SDM, bagaimana menjalankan ini. Karena ini semua ada di bawah wewenang ee pemerintah daerah ya, Bapak, Ibu sekalian. Slide berikutnya. Jadi, ini kalau kita lihat ya, Bapak, Ibu sekalian tadi itu contohnya kan banyak tuh apa Puskesmas ada 10.000, Ibu ada segala macam ya. Itu juga apa namanya ee sebetulnya banyak gitu. Kalau kita ke laboratorium swasta itu mahal, mendingan kita di Lapkesmas aja itu jauh lebih murah dan kualitasnya sama gitu kan ya. Nah, di tingkat preventif, di tingkat pencegahan kita juga memperkenalkan ya menambah tiga jenis vaksin baru ya. untuk dalam rangka program imunisasi yang rutin. Bapak, Ibu sekalian ya. Ini saya cepat-cepat aja Bapak Ibu bisa baca sendiri ya. Slide berikutnya adalah Nah, ini Bapak Ibu sekalian. Jadi sebelumnya Bapak, Ibu sekalian ya, Puskesmas yang mempunyai USG itu hanya 20% Bapak Ibu sekalian. Jadi Bapak Ibu sekalian, kalau Bapak Ibu mempunyai apa kita ibu kita atau anak perempuan kita hamil biasanya dilakukan USG. Tapi ternyata enggak seluruh orang Indonesia itu waktu hamil dilakukan WG ya. Jadi kita enggak bisa tahu nih ya, mana bayi yang sungsang, mana bayi yang ada kelainan ya. Dan Puskesmas yang memiliki USG itu hanya 20% ya. Jadi sisanya itu ya orang enggak di OSG. Kalau sungsang langsung di bawah rumah sakit ya enggak tahu ya meninggal. Makanya angka kematian ibu melahirkan kita itu tinggi. Nah, makanya Bapak, Ibu sekalian kita di Kementerian Kesehatan itu menyediakan USG untuk 10.000 Puskesmas ya. Jadi, USG ya kan itu ee bisa kembali ke slide sebelumnya Bapak, Ibu ya. Itu ya ini USG kita penuhi Bapak Ibu sekalian ya. Jadi pemeriksaan sebelum hamil itu bisa dilakukan dan bisa dilihat ya. Ini kita belikan alatnya Bapak Ibu sekalian. Nah, ini kita butuh kerja sama karena di sana harus dilatih orangnya yang bisa melakukan USG ini. Dan insyaallah angka kematian ibu melahirkan kita atau kematian bayi juga bisa menurun karena kita punya USG. Slide berikutnya. Dan kemudian Bapak Ibu mengetahui juga bahwa angka stunting kita tinggi ya. Dan ee strategi kita menangani stunting adalah bukan kita mencari orang yang stunting terus kita obati. Karena biasanya kalau anak sudah stunting Bapak Ibu sekalian itu sangat sulit dipulihkan ya. Tapi kita bisa mencegah dengan melihat berat badannya, dengan melihat pertumbuhannya, tinggi badannya ya Bapak Ibu sekalian. Nah, itu dibutuhkan alat yang namanya antropometri. Nah, ini kita bagikan juga nih ke seluruh puskesmas kita bagikan antropometri. Bahkan kalau antropometri ini sampai ke ee sampai ke posandu ya. Jadi ini sekarang kita sudah punya ini. Jadi diharapkan sebelum orang itu stunting pada waktu berat badannya kurang, waktu tingginya enggak tumbuh sesuai dengan standar ya pada waktu dia mengalami kekurangan gizi itu sudah kita tangani. Termasuk ibu yang hamilnya. Karena stunting ini kebanyakan sebagian besar juga datang dari bayi yang lahir dari ibu yang kekurangan gizi. Nah, makanya tadi pemeriksaan ante Natal itu itu harus bisa dijalankan dengan baik ya. pemeriksaan pada waktu ibu hamil dengan USG dengan segala macam tes laboratorium itu harusnya dapat mengurangi angka kematian ibu melahirkan dan nanti di tengah jalan juga dapat mengurangi angka ee bayi yang meninggal. Slide berikut Bapak Ibu sekalian. Nah, ini apa namanya? Ee inilah kesmas yang tadi saya sampaikan. Ini kita perbaiki terus nanti Bapak Ibu bisa baca sendiri. Jadi ee ini kita restructuring, kita ee bikin levelnya, kita bikin standarnya untuk masing-masing level. Dari level yang di kabupaten, provinsi sampai di level pusat untuk rujukan ini semua kita perbaiki. Slide berikutnya Bapak, Ibu sekalian. Nah, ini lab ini kita berikan peralatannya Bapak, Ibu sekalian ya. pemerintah memberikan peralatannya untuk Lap Kesmas tadi. Jadi, Puskesmasnya sendiri kita berikan alat-alat yang ee apa namanya? Dapat mendeteksi berbagai macam penyakit. Tapi di Lapkesmas ini juga kita sediakan peralatan supaya ee apa namanya? Deteksi yang lebih canggih itu dapat dilakukan ya. Slide slide berikutnya Bapak Ibu sekalian. Nah, ini itu tadi yang pertama transformasi layanan primer. Yang berikutnya adalah transformasi rujukan. Bapak, Ibu sekalian ya, slide berikutnya. Nah, ini ya. Jadi kita ingin rumah sakit madia, rumah sakit utama, rumah sakit paripurna itu bisa melakukan beberapa hal seperti ini yang tadi saya bilang tadi stroke paling tinggi apa penyakit jantung paling tinggi ter ee stroke, jantung, terus kanser, kemudian yang terkait dengan ee penyakit ginjal ya dan tadi untuk yang terkait dengan ibu dan bayi ya. Jadi kalau Bapak Ibu sekalian kita ingin memperbaiki ini di seluruh tingkatan rumah sakit, kita belikan alatnya, kita latih orangnya, Bapak, Ibu sekalian, apa sih tujuannya? Dalam rangka tadi itu, Bapak, Ibu sekalian memperbaiki indikator kesehatan nasional kita ya. Indikator kesehatan nasional kita yang mana tadi kita ketinggalan jauh dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita. Ya, jadi ini memang transformasi besar-besaran. perlu dukungan dari berbagai macam pihak. Dan sebagaimana transformasi kalau Bapak lihat ee Bapak mungkin pelajari dari kita yang sering barangkali Bapak Ibu ikut PKn ya ikut LMHAS transformasi itu biasanya enggak disukai sama orang gitu Bapak Ibu sekalian ya. kita banyak resistensi. Orang yang setuju transformasi itu kalau kita baca di textbook itu hanya 20%. Yang sisanya itu pasti resistance terhadap perubahan. Nah, ini Bapak Ibu sebagai ASN kita harus bisa menangani ini sehingga perubahan itu terjadi. Ya, kalau tadi saya singgung tadi sedikit dengan perubahan ee internal kita, ter internal kita, kita itu mengikuti berakhlak pasti Bapak Ibu tahu. Tapi berakhlak ini kan masih terlalu luas. perlu kita definisikan ya, perlu kita punya yang operasional. Nah, kami di Kemenkes itu Bapak Ibu sekalian definisi berakhlak yang ee banyak tadi itu kita ringkas ya. Kalau di perusahaan swasta itu kan yang namanya visi misi internal tuh juga enggak panjang-panjang gitu. Nah, ini juga begitu ya. kita ee apa namanya? Ee slogan kita yang baru itu untuk transformasi internal, untuk visi transformasi internal adalah pertama adalah eksekusi efektif, kedua adalah ee cara kerja baru, dan ketiga adalah layanan paripurna. Itu Bapak, Ibu sekalian yang kita dengungkan terus di dalam Kemenkes agar kita bekerja secara efektif ya. Ada caranya pasti. cara kerja baru. Kalau cara kerja lama kita enggak akan ngejar nih transformasi ini, ya. Kemudian layanan ini yang terkait dengan rujukan ini. Jadi selain secara klinis kita baik, tapi secara layanan kita juga harus ee apa namanya? Harus bisa memberikan layanan yang baik. Kalau Bapak, Ibu sekalian kan kita lihat kenapa sih layanan kita kalau dibandingkan rumah sakit swasta barangkali orang lebih senang kalau yang punya uang lebih senang ke rumah sakit swasta. Itu kenapa gitu. Nah, itu harus kita ee harus kita perbaiki. Slide berikutnya Bapak Ibu sekalian. Nah, ini kita memberikan peralatan ya, alat kesehatan dari Pet City, MRI, C scan, catlab tadi karena kita banyak yang penyakit meninggal karena jantung tapi rumah sakitnya enggak punya catlab ya. Ini kita berikan Bapak, Ibu ee ini kita berikannya kepada rumah sakit-rumah sakit yang tertinggal ya, Bapak, Ibu sekalian. Kalau rumah sakit yang sudah bagus ya barangkali enggak perlu dibantu ya. Tapi dari pengadaan, dari bagaimana kita caranya menyediakan SDM-nya, ini membutuhkan tantangan. Dan tadi kenapa kita butuh transformasi internal? Karena kita butuh melakukan transformasi ini ke seluruh Indonesia. Ya, barangkali ada rumah sakit yang sudah bagus, ya sudah oke jalan terus. Tapi sebagai Kementerian Kesehatan ya yang lebih menekankan kepada public health, tujuan kita adalah sekali lagi memperbaiki indikator kesehatan nasional kita yang tertinggal dibandingkan negara tetangga kita. Ya, kita boleh pintar tapi nyatanya kita tertinggal. Ya, slide berikutnya. Nah, ini Bapak Ibu sekalian Bapak Ibu bisa baca sendiri ini yang ee untuk catlab ini di mana aja kita ee bagikan, ya kan. Jadi di 84 kabupaten kota tuh sudah ada bisa melakukan catlab ini data mungkin udah ada yang baru lebih baru dari ini. Slide berikutnya ini untuk yang ee apa namanya? Bedah jantung terbuka ini Bapak Ibu sekalian. Terus ini Bapak Ibu bisa baca sendiri slide berikutnya ini untuk melakukan tadi yang stroke yang bisa melakukan trombektomi dan coiling ya di berbagai macam ee daerah itu. Sekarang kita bisa lihat 72 kabupaten kota juga bisa. Nanti sebentar lagi kita target kita harus seluruh kabupaten kota bisa melakukan ini. Slide berikutnya ini untuk yang trombolisis ya. Ini yang terkait dengan stroke ya. Ya, slide berikutnya ini clipping juga ini terkait dengan stroke. Terus Bapak Ibu bisa baca sendiri ya ini untuk kanker. Kenapa sih sistemic cancer terapi itu kan bisa dilakukan harusnya di di berbagai wilayah terpencil gitu. Orang enggak perlu harus ke ee Surabaya atau enggak perlu harus ke Jakarta. Slide berikutnya. Slide berikutnya ini ee mammografi ini Bapak Ibu bisa lihat sendiri, bisa baca sendiri. Slide berikutnya ini yang terkait dengan ee untuk kanser ini yang ee radiologi yang terkait dengan radiasi ya. Ini yang ini yang ada pet city ini yang terkait kanser ya, sikrotrone. Terus terus terus selanjutnya Bapak Ibu bisa baca sendiri ya slide berikutnya. Slide berikutnya aja ini untuk hemodialysis ya ini untuk CPD ini juga terkait dengan ginjal. Slide berikutnya. Nah, ini Bapak, Ibu sekalian yang berikutnya adalah transformasi sistem kesehatan nasional. Itu terdiri dari farmasial, obat-obatan, dan juga peralatan. Jadi, dua itu yang ingin kita tekankan ya. Vaksin ya, apa namanya ee pengobatan, obat, peralatan dan respon emergency kalau terjadi bencana atau terjadi ee musibah gitu. Ya, ini digital itu. SL slide berikutnya Bapak Ibu bisa baca sendiri nih ya. Ini ini ee produksi kita ee ee jadi untuk obat-obat bahan baku obat dari 8 dari 10 itu kita bisa kita kerjakan di dalam negeri. Ya, sebelumnya belum pernah nih Bapak Ibu sekalian kita impor terus. Nah, ini sekarang kita perbaiki. Ini Bapak Ibu bisa untuk ceritanya bisa baca sendiri. Ini gampang sekali dimerti. Ini sangat jelas. Terus nah ini ee apa namanya ee kerja sama-kerja sama terkait tadi ee bahan baku obat ya. Jadi ada yang namanya API itu active pharmaceutical ingredien itu bahan baku obat itu sekarang mulai kita bisa produksi di Indonesia. Slide berikutnya. Nah, ini perkembangan vaksin ya. Bapak, Ibu sudah mendengar pasti. Terus terus terus terus terus. Saya cepat aja ya Bapak Ibu sekalian. Ini untuk peralatan ya. Langsung aja Bapak Ibu sekalian. Terus nah yang berikutnya adalah transformasi pembiayaan Bapak Ibu sekalian ya. Jadi kita sekarang ingin lagi menekankan eh metodologi yang disebut dengan national health account. Jadi Bapak Ibu sekalian, kita tahu kita tuh mengeluarkan uang banyak banget untuk kesehatan, tapi kenapa indikator K nasional kita rendah? Jadi kita mesti tahu sebetulnya uang kita itu keluarnya ke mana aja. Nah, itu kita bisa lihat itu kalau kita punya National Health Account accounting kesehatan nasional yang bagus ya. Kemudian kita punya sebelumnya masih sebelumnya Pak, kita punya yang namanya health technology assessment HPA. ini juga mau kita ee kita dorong lagi supaya kita bisa memilih obat-obatan atau peralatan atau metodologi yang tepat untuk Indonesia. Itu namanya HTA, Health Technology assessment. Terus kita tadi cover BPJS itu Bapak, Ibu pas sudah dengar ee ada kesulitan di sini karena ini bertambah besar biayanya. Makanya kita tiap tahun sekarang melakukan annual review tarif ya. Ini sekarang kita lagi dalam proses untuk membikin daftar tarif yang baru agar sesuai dengan kondisi di lapangan, ya kan. Nah, kemudian health payment kita konsolidasikan karena ini ada banyak eh pihak yang melakukan pembayaran kesehatan. Dan slide berikutnya Bapak, Ibu sekalian ini kalau kita lihat itu bisa kita lihat itu sebetulnya uang kita yang kita keluarkan ya itu berapa ya. Ya. Dan ini memang meningkat terus Bapak, Ibu sekalian itu bisa dilihat tuh ada private insurance, ada social health insurance, ada dari ee pemerintah kita sendiri, dari NGO ini siapa yang mengeluarkan ruang bisa kita lihat. Dan kalau kita bisa melihat ini, Bapak, Ibu, kita bisa menganalisa masing-masing dan kita bisa memperbaiki bagaimana cara kita ee mengeluarkan pembiayaan agar ini lebih efisien. Terus apa? Terus, terus Bapak Ibu sekalian ini adjustmentnya kita buat. Kemudian yang berikutnya adalah transformasi SD dan kesehatan ya. Ya kan? Ini Bapak Ibu sekalian ini sekali lagi Bapak Ibu sekalian ya kan? Jadi kalau kita lihat kita tertinggal juga dengan negara tetangga kita di Indonesia itu adalah 0,5% per 1000 populasi jumlah dokter kita yang harusnya itu adalah 1,76 per1000 populasi. Orang selalu bilang katanya ini pemerataannya ya kalau jumlahnya cukup enggak. Jumlahnya juga kurang ya bukan hanya pemerataannya. Bagaimana kita bisa memeratakan orang kalau jumlahnya kurang? Ya, dari sisi rasio aja sudah kita lihat bahwa ini kurang gitu dibandingkan dengan negara lain ya. Slide berikutnya. Nah, ini Bapak Ibu sekalian ya. Jadi masih ada banyak ya RSUD kalau di Surabaya mungkin sudah bagus yang masih kekurangan tenaga dokter. Jadi hanya 38% ya, ada 38% yang masih belum memiliki tujuh spesialis dasar di rumah sakitnya ya. Jadi ini Bapak Ibu bisa lihat sendiri ya berapa kekurangannya. Inilah kita sekarang bisa mengidentifikasi kurangnya di mana, jenis spesialis mana yang kurang ya. Ini intinya kita kurang. Makanya kenapa tadi health service coverage kita rendah. Walaupun cakupan BPJS-nya 96% tapi health coverage-nya rendah. Ya, ini saya lengkap aja Bapak Ibu sekalian. Slide berikutnya. Slide berikutnya ya. Ini Bapak Ibu bisa baca sendiri ya. Di primary healthcare juga sama ya. Essential workersnya masih kurang ya. ya. Terus ya dokter spesialis masih kurang ya. Makanya ee kita sekarang membuka ee pendidikan spesialis yang melalui ee berbasis rumah sakit ya. Karena di manapun di dunia itu pendidikan spesialis adalah melalui rumah sakit. Jadi, rumah sakit-rumah sakit ini penting untuk juga menjadi tempat rumah sakit pendidikan dengan standar yang kita akreditasi dengan standar internasional. Jadi, standarnya harus bagus, enggak boleh sembarangan. Slide berikutnya. Slide berikutnya, Pak. Cepat nih ee ini slide berikutnya mungkin ya. Ini. Nah, ini transformasi teknologi kesehatan Bapak, Ibu sekalian ya. Next slide ya. ini kita punya platform yang namanya satu sehat. Jadi nanti semua data-data kesehatan itu bisa kita simpan di dalam HP kita masing-masing. Ya, ini sudah mulai kita jalankan. Mungkin 2 3 tahun lagi ini akan jauh lebih lengkap dari sekarang. Ya, Bapak, Ibu mungkin ingat zaman COVID waktu ada pedulindungi ini sebetulnya mirip-mirip kayak gitu. Tapi untuk semua penyakit dan semua tindakan medis yang dilakukan itu bisa dilihat di dalam HP kita masing-masing. Slide berikutnya ya. Jadi ini ya. Jadi tapi kan untuk bisa koneksi ini kita membutuhkan ee apa namanya? membutuhkan internet dan sebagainya dan ini kita sekarang provide ee jaringan-jaringan sampai ke tingkat Puskesmas. Kalau yang belum ada dengan sistem konvensional, kita menggunakan satelitir ya. Itu untuk kita bisa menghubungkan berbagai macam puskesmas supaya individunya tercatat dengan baik ya, tapi juga dalam melakukan rujukan juga jauh lebih mudah ya. Slide berikutnya. Nah, ini app-nya, aplikasinya Bapak, Ibu sekalian ya sudah 111 juta orang yang menggunakan. Terus, terus. Nah, ini Bapak, Ibu sekalian yang saya bilang ini yang health biotechnology tadi yang precision medicine. Nah, ini Bapak Ibu sekalian mungkin harus terpapar juga dengan ini ya. Karena ke depan itu pengobatan akan jauh berbeda dengan yang sekarang. Kalau kita enggak mengejar ketertinggalan ini karena kita dibandingkan negara tetangga, negara lain, kita tertinggal dalam bidang ini ya. Jadi, ini mesti kita dorong terus, ya. Slide berikutnya. Slide berikut. Nah, ini Bapak Ibu bisa sendiri ini ada videonya. Nanti mungkin Bapak bisa lihat sendiri. Ini terkirim juga kan videonya ya. Bapak Ibu bisa lihat sendiri ya. Ini slide berikutnya aja Pak ya. Nah, ini. Nah, saya ingin karena kita sama-sama ASN nih Bapak Ibu sekalian, Bapak Ibu di PPSDM ya. Apa sih yang terjadi dengan kita nih? Bagaimana sih kita, kenapa performance managementen kita tuh enggak bagus gitu Bapak, Ibu sekalian ya. kita punya aturan yang terkait dengan indikator kinerja individu, tapi sebetulnya kita manfaatkan enggak sih indikator kinerja individu ini? Ya. Nah, ini kalau di Kemen CAS Bapak, Ibu sekalian ini kalau Bapak bisa lihat itu ada unit eson satunya itu ada satu orang yang punya 97 ee Iki, indikator kinerja ya, KPI kalau bahasa Inggrisnya. Ya kan enggak mungkin orang bisa mengerjakan 97. Tapi di di pihak lain ada orang yang I-nya cuman satu. Mungkin dia kerja seminggu selesai tuh I kan setahun enggak kerja. Nah, jadi hal-hal kayak gini Bapak Ibu sekalian ini yang ingin kita perbaiki di Kemnes. Barangkali saya bisa berbagi ini kita masih dalam proses. Tapi kalau Bapak Ibu ingin berbagi pengalaman dengan kami, kami sangat bersedia untuk berkomunikasi dengan Bapak Ibu sekalian. Bagaimana sih kita menerapkan IKI? Kita sih tiap tahun ngisi, tiap tahun ngisi Iki kita pasti. Tapi IKI itu, Bapak, Ibu sekalian, barangkali tidak berhubungan atau tidak dimanfaatkan dalam kerangka mencapai target organisasi. Organisasi yang baik itu harus punya target, punya visi besar. Nah, visi besar ini kayak tadi yang enam pilar transformasi kesehatan ya kan di sisi di tingkat kementerian barangkali orang paham tapi sebagai individu terus saya mesti ngapain itu pertanyaan yang banyakan gitu. Nah, individu mengerjakan ini harus bisa mencapai tujuan besar dari transformasi kesehatan nasional kita. itu yang paling penting. Nah, jadi ini kalau kita lihat kita melakukan sedikit analisa di kantor ternyata ada seperti ini. Jadi mungkin Bapak Ibu di PPSDM coba deh lihat berapa yang punya IQ banyak, punya IQ sedikit, apakah dia berimbang antara unit-unit kerja itu perlu diperbaiki ya. Slide berikutnya. Nah, ini Renstra Kementerian Kesehatan Bapak, Ibu sekalian ya. Sesuai ini kita menurut kita kan bekerja sebagai pegawai negeri pasti sesuai dengan peraturan yang ada. Kita harus buat RENSRA. Tapi apakah rensra itu sesuatu yang ee sesuatu yang betul-betul bisa dijalankan atau hanya rstra basa basi itu sangat berbeda makanannya kan gitu ya. Nah, renstra yang baik itu harus mempunyai target, mempunyai tujuan dan target. Nah, ini kita lihat kalau di Kesehatan ya untuk mencapai visi misi untuk mencapai tujuan-tujuan transformasi kesehatan kita mempunyai enam tujuan. Nah, masing-masing tujuan itu ada indikatornya, targetnya berapa. Ya, itu contoh tadi yang paling kiri. Karena kita health coverage kita rendah masih 54%, target kita tahun ini adalah 63,5 tahun. Eh, 65 63,5%. Nah, sori itu salah. Itu bukan tahun, itu persen harusnya ya. Eh, sori sori yang di sebelah kiri itu. Betul ya. Jadi gini Bapak Ibu sekalian. Indikator tujuan yang pertama itu terkait dengan umur harapan hidup. Umur harapan hidup kita itu memang cukup tinggi 72 tahun. Tapi hidup sehat dengan kualitas yang baik itu kita masih rendah, Bapak, Ibu sekalian. Masih sekitar hanya 60 tahun. Walaupun umur kita rata-rata panjang 72 tahun, tapi hidup sehat dengan kualitas yang baik itu sama 60 hanya 63 tahun. Nah, itu indikatornya ada Bapak secara internasional menurut WHO ada. Nah, kita targetnya meningkatkan umur dengan kondisi sehat sampai 63 tahun. Nah, kemudian yang di kanan itu baru yang tadi saya sebut tadi ya adalah yang terkait dengan service coverage tadi. Walaupun kita 96% dalam populasi coverage, tapi health coverage-nya kita masih rendah. Masih rendah ee kita ingin menaikkan ee untuk lebih tinggi lagi ya. Jadi indeksnya mau kita naikkan sampai 56,75. Karena indeks kita ini gila karena indeks kita itu adalah ee masih sangat rendah tadi Bapak, Ibu sekalian. Ee ya slide berikutnya. Nah, dari enam tujuan tadi, Bapak, Ibu sekalian di tingkat menteri kan tadi ada enam tujuan slide berikut sebelumnya itu bagaimana kita menurunkannya ke bawah, menurunkannya ke tingkat Eston 1 tuh ada yang disebut dengan indikator sasaran strategis. Ini Bapak, Ibu sekalian pasti sudah tahu nih, tapi bagaimana kita mempraktikkannya itu yang tantangan buat kita semua. Kemudian ada indikator ee kinerja program untuk eslon 1 dan ada indikator kinerja kegiatan untuk eslon 2 dan ada indikator kinerja individu. Jadi bisa Bapak Ibu bayangkan dari indikator tujuan yang di atas tadi di eslon 1, eson 2 turun ke bawah sampai ke individu bisa enggak indikator kinerja individu yang paling bawah itu memang betul-betul mendukung indikator kinerja tujuan yang besar tadi nah itu tantangan kita semua karena selama ini saya lihat di Kemenkes orang bikin individu itu adalah pekerjaan sehari-hari dia jadikan indikator kinerja padahal bukan itu sebetulnya Ya, indikator kend individu itu harus bisa mencapai tujuan yang besar tadi, tujuan organisasi yang besar melalui Renstra tadi ya. Slide berikutnya. Nah, ini Bapak Ibu bisa lihat ini di masing-masing 1 berapa indikator tujuan yang terkait. Kan kita punya indikator tujuan tadi ya, Bapak, Ibu sekalian ada enam. Jadi masing-masing Slon 1 itu mengampu berapa indikator tujuannya? Ini Bapak Ibu bisa lihat sendiri sampai ke eselon 2-nya slide berikut ya. Nah, ini kita ya dalam rangka transformasi internal kita, Bapak Ibu sekalian dalam rangka kita menyusun indikator kinerja individu atau yang sering disebut dengan KPI ya, kita membuat apa yang disebut dengan ee kerangka prima ya. Jadi kita ini mengajarkan nih, Pak, ke masing-masing ee eslon 2 masing-masid itu enggak gampang, Bapak, Ibu sekalian, ya. Karena ee prima itu p-nya adalah pahampahami ee visi dan arah tujuan, ya, Bapak, Ibu sekalian. Yang kedua, R-nya itu rumuskan strategi. Nah, karena tujuan tadi biasanya kita enggak pernah merumuskan strategi. Mau begini, kita kan kerja sehari-hari kerja rutin aja. pokoknya ada kerjaan kerjain, ada kerjaan kerjain. Tapi Kak, apakah kerjaan kita itu tadi bermakna untuk pencapaian tujuan yang besar tadi? Itu masih tanda tanya besar. Makanya banyak sekali indikator kinerja kesehatan nasional kita yang masih tertinggal di dengan dibandingkan dengan negara lain ya. Jadi rumuskan strategi R-nya itu adalah yang paling berat Bapak, Ibu sekalian. Nah, kalau kita sudah rumuskan strategi, kita mesti identifikasi tim kerja di bawahnya 3-nya tuh siapa yang mengerjakan strategi tadi, ya kan. Nah, kalau sudah itu kita mulai jabarkan indikator kinerja ya. Kita jabarkan apakah IK itu sesuai dengan kaidah-kaidah smart ya. Smart itu adalah apa namanya? Dia terukur ya dia itu apa namanya? Ee bisa dijalankan dengan baik. merupakan hasil kompromi dengan yang lainnya. Ya. Dan yang terakhir adalah yang disebut dengan dialog kinerja. Pasti Bapak Ibu sekalian di PPDSM kita tiap hari ngomong tentang dialog kinerja. Tapi dialog kinerja yang efektif itu seperti apa? Itu tantangan kita, Bapak, Ibu sekalian ya. Jadi ee itu yang jadi tantangan buat kita. Slide berikutnya. Nah, ini Bapak, Ibu sekalian dari IT tadi ini untuk 1 eselon 2 ini contoh aja Bapak Ibu sekalian ya. Di kita ada namanya Direktorat Pelayanan Kesehatan. Kaitan dia dengan indikator tujuan yang di atas tu apa? Nah, ini ada turunannya. Ada turunannya nih Bapak, Ibu sekalian. Ada IKP-nya ya kan tadi ada dari tujuan ISS turun ke IKP. berapa IKP yang mesti mengampu, berapa IKK yang mesti mengampu. Nah, ini mesti diidentifikasi nih, Bapak, Ibu sekalian. Nah, ini Bapak Ibu kita butuh waktu panjang nih untuk berdiskusi tentang ini. Nanti saya sangat terbuka untuk membagi pengalaman kita di Kemenkes. Slide berikutnya ini contohnya dari IKP, dari ISS turun ke IKP, turun ke IKK. Ya, jadi enggak gampang kita sebetulnya kerja itu Bapak, Ibu sekalian kalau kerjaan kita mau bermakna dengan tujuan organisasi yang berbasis rencana strategis tadi ya. Slide berikutnya kita cepat aja kita lengkap ya. Nah, ini semua tadi IKK-nya. Terus nah ini terus, Pak langsung aja. Nah, ini contohnya kita ambil contoh satu IKK aja sudah menunjukkan merumuskan strateginya sudah ee penuh tantangan. Bapak, Ibu sekalian ini kita baru mulai nih Bapak Ibu sekalian jadi belum selesai juga ya. Tapi untuk menurunkan ini aja kita sudah butuh waktu panjang karena ini mesti berdialog dengan eslon 2, berdialog dengan staf dan sebagainya. Slide berikutnya. Nah, ini kalau kita dapat tadi ini baru satu IKK ya, satu IKK tadi kita punya tiga strategi misalnya. Nah, kalau kita punya tiga strategi harus ada aktivitas-strateginya. Aktivitasnya apa? Nah, aktivitas inilah Bapak Ibu sekalian yang menjadi dasar untuk menyusun KPI ya, untuk menyusun IK ya. Slide berikutnya ini menyusun IKIN-nya ya. Kita identifikasi tim kerja dulu, Pak. Ya. Strategi 1 dikerjakan oleh siapa? Slon 3-
Resume
Categories