ASN Belajar Seri 44 | 2025 - Sehat untuk Semua, Berdaya untuk Sesama
gEkZnm5RlX0 • 2025-11-13
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
[musik]
Zaman yang terus bergerak,
sambut dengan penuh semangat.
Saatnya [musik]
kita melangkah.
Hadapi segala [musik] tantangan.
Tingkatkan setiap kompetensi
untuk pelayanan berdampak.
Bersama ASN belajar. [musik] Ciptakan
SDM unggul berprestasi.
[musik] Selalu inisiatif dan kolaboratif
untuk [musik] inovasi yang
berkelanjutan.
Menjadi ASN berakhlak mulia.
Siap nyongsong Indonesia emas.
ASN [musik]
belajar wujudkan pemerintahan
berkelas dunia.
Lakukan tekad pantang [musik] menyerah
jadi ASN getar berkualitas.
[musik]
yang belajar wujudkan
pemerintahan
kelas [musik]
dunia
tukang tekad pantang menyerah
jadi AS berkuan kita [musik]
belajar
[musik]
Kami mencoba [musik]
menjadi yang terbaik. Melayani bangsa
dengan sepenuh [musik]
hati. Murahlah kami junjung teguhkan
diri
dan jadikan pedolan serta kekuatan.
Hadir [musik] di sini untuk mengabdi
rencanakan tugas kebanggaan negeri
situs melayani bangsa [musik]
dengan akuntabilitas tinggi.
Hong
kami dari sini [musik] suka dengan hati
tunjukkan kompetensi [musik] dalam
harmoni.
Layani bangsa loyal tanpa batasannya
[musik] dan berkolaborasi
gandeng tangan satu tujuan [musik]
menjadikan ASN lebih berakhlak
bekerja sepenuh hati [musik]
tulus membantu sesama dengan bangga kami
melayani
[musik]
bangsa
[musik]
Kami dari sini tegas dengan hati
tujukan kompetensi dalam harmoni.
[musik]
loyal tanpa batasannya
adaptif [musik]
dan berkolaborasi
bergandeng tangan satu tujuan [musik]
untuk menjadikan ASN lebih beragama
mengerdas penuh hati tulus membantu
sesama dengan [musik] kami melayani
dengan kami [musik] melayani
dengan mengang kami melayani lagi
[musik]
Hasen [musik]
bua semangat membara
di era digital terus [musik] berkarya
berkolaborasi
inisiatif tinggi
inovasi cempal [musik] Jawa Timur terus
melaju bersama BPSNI
Kita [musik]
terus melesat untuk Indonesia emas.
Prestasi hebat [musik] ASN unggul.
Tiada yang tertinggal [musik]
no one left behind. Kita terus melangkah
berkolaborasi. [musik]
Inisiatif tinggi
inovasi cemerlang. Jawa Timur terus
[musik] melat
kita terus [musik]
melesat untuk Indonesia emas prestasi
her aset [musik] unggur tiada yang
tertinggal
no one left behind kita terus [musik]
melangkah
berkolaborasi
inisiatif [musik]
tinggi.
Inovasi cemalah Jawa Timur [musik]
terus melaju. Bersama BPSDM
Jatim kita terus [musik] melesat untuk
Indonesia emas prestasi hebat bersama
kampus satelit PP [musik] PSBM Jatim no
one left behind. ASN umbul [musik] dan
berkualitas
Melesa tinggi
Indonesia jaya Yeah.
[musik]
Bam membangun asa
menuju cipta yang mulia.
[musik]
Kami hadir, kami berkarya untuk [musik]
Jawa Timur yang berjaya.
Langkah pasti [musik] menitipiti zaman
dengan semangat pembaharuan. [musik]
Ilmu dedikasi dan harapan [musik]
menjadi bekal masa depan.
PPS Temen Jating, Pusat unggulan.
Tempat lahirnya insan berkualitas.
[musik]
Mencetak STM berkompetensi
tangguh cerdasin
inovasi bersatu dalam visi yang terang
menjawab [musik] tantangan jalan genial.
PPSDM [musik]
Jawa Timur Center of Exens masa depan
gemilang
[musik]
[musik] bersama membangun asa
menuju cita yang mulia
Kami [musik]
hadir, kami berkarya untuk Jawa Timur
yang berjaya.
Langkah pasti [musik] meniti zaman
dengan semangat pembaruan
ilmu dedikasi [musik]
dan harapan
menjadi bekal masa depan.
BPSM [musik]
Jatim pusat unggulan
tempat lahirnya insan berkualitas
[musik]
mencatat Sm berkompetensi
tangguh [musik] cerdas penuh inovasi
bersatu dalam visi yang terang [musik]
menjawab tantangan jangan gemilang
[musik] PPSDN Jawa Timur senterans
masa depan
[musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Selamat pagi sobat ASN di
seluruh Indonesia. Senang sekali saya
Lukman Ali dapat menyapa Sobat ASN dalam
acara webinar ASN belajar seri 44
persembahan spesial Corpu SDGIS BPSDE
Provinsi Jawa Timur. Saya juga ingin
menyapa untuk sobat SN yang tengah
menyaksikan acara ini melalui live
YouTube BPSDM Jatim TV. Terima kasih
karena sudah membersamai kami di tiap
minggunya. Sobat ASN, Hari Kesehatan
Nasional ke-61 yang diperingati pada
tanggal 12 November 2025 lalu menjadi
momen penting untuk mengingatkan kembali
arti strategis kesehatan sebagai pondasi
pembangunan nasional. Dalam konteks
pembangunan sumber daya manusia,
kesehatan menjadi modal dasar yang
menentukan produktivitas, kreativitas,
serta daya saing bangsa. Yuk,
bersama-sama perkuat komitmen menuju
masyarakat yang sehat, tangguh, dan
berdaya. Selengkapnya akan kita bahas di
webinar ASN Belajar seri 44. Sehat untuk
semua, berdaya untuk sesama,
transformasi kesehatan untuk Indonesia
Emas 2045.
[musik]
Dan untuk membuka webinar ASN Belajar
seri 44 kali ini, mari kita dengarkan
terlebih dahulu opening speech yang akan
disampaikan oleh Dr. Ramlianto, SPMP
selaku Kepala Badan Pengembangan Sumber
Daya Manusia Provinsi Jawa Timur.
[musik]
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Salam sehat dan salam
sejahtera untuk kita sekalian. Sobat
Taisen di seluruh tanah air. Selamat
bertemu kembali dalam webinar series ASN
Belajar, sebuah wahana pengembangan
kompetensi ASN persembahan Jatim Corpor
University Badan Pengembangan Sumber
Daya Manusia Provinsi Jawa Timur.
Hari ini Kamis tanggal 13 November 2025,
ASN belajar telah memasuki seri yang
ke-44.
Kami menyampaikan terima kasih dan
apresiasi atas antusiasme Sobat ASN di
seluruh negeri untuk terus mengikuti
secara aktif program ASN belajar ini.
Sebagai bentuk terima kasih kami. Kami
terus berkomitmen sekaligus wis ikhtiar
untuk menyajikan topik-topik
pengembangan kompetensi yang menarik,
kekinian, dan tentu berdampak secara
nyata terhadap peningkatan kompetensi
dan kinerja aparatur sipil negara di
Indonesia.
Sobat ASN, hari ini ASN Belajar seri
ke-44 tahun 2025 ini menyajikan salah
satu topik dalam rangka memberikan
kontribusi pemikiran pada Hari Kesehatan
Nasional yang kita peringati pada
tanggal 12 November
2025 kemarin. sebuah momentum yang akan
mengingatkan kita semua pada kesehatan
yang menyatakan bahwa kesehatan bukan
sekedar urusan medis, melainkan cerminan
dari peradaban dan kemanusiaan sebuah
bangsa.
Di dalamnya tersimpan makna yang lebih
dalam dari sekedar angka harapan hidup,
yaitu harapan akan kehidupan yang lebih
bermartabat, berdaya, dan berkeadilan.
Karena tema ini sangat tepat untuk kita
elaborasi secara luas dan mendalam, maka
ASN belajar seri ke-44 tahun 2025 ini
mengangkat topik sehat untuk semua,
berdaya untuk sesama, transformasi
kesehatan untuk Indonesia Emas 2045.
Nah, sudah menjadi tradisi akademik
dalam SN belajar bahwa topik menarik ini
akan kita bahas secara intensif dari
beragam perspektif bersama para
narasumber yang sangat kompeten di
bidangnya.
Sobat ASN di seluruh tanah air, kita
menyadari sepenuhnya bahwa kesehatan
bukan hanya tentang menyembuhkan yang
sakit, tetapi tentang membangun
ekosistem kehidupan yang menyehatkan,
memberdayakan, dan memanusiakan.
Kesehatan adalah pondasi peradaban. Ia
bukan hanya hasil dari kebijakan publik,
tapi cerminan dari keberpihakan pada
kemanusiaan.
Kualitas kesehatan suatu bangsa
sesungguhnya adalah cermin dari
kedewasaan moral, politik, dan
sosialnya.
Dari cara bangsa menjaga udara yang
dihirup warganya, menyediakan air yang
diminum anak-anaknya, hingga memastikan
pelayanan yang adil bagi mereka yang
paling rentan, semuanya adalah ukuran
sejauh mana negara menempatkan kehidupan
manusia sebagai nilai tertinggi.
Sektor kesehatan tidak berdiri sendiri
ya bersinggungan dengan pendidikan,
ekonomi, lingkungan, infrastruktur,
bahkan kebijakan sosial dan budaya.
Karena ketika kesehatan melemah maka
produktivitas menurun, ketimpangan
melebar dan cita-cita pembangunan
kehilangan bijakan.
Sebaliknya, ketika kesehatan menguat,
maka seluruh sistem kehidupan bangsa
ikut berdenyut. Kesehatan yang terjamin
bukan hanya melahirkan masyarakat yang
kuat, tetapi juga menumbuhkan rasa
percaya diri, memperkuat daya saing, dan
meneguhkan kohesi sosial.
Kesehatan adalah simpul yang mengikat
seluruh sendi pembangunan nasional. Ia
bukan sekedar urusan rumah sakit dan
tenaga medis, melainkan tanggung jawab
bersama. dari petani yang menjaga pangan
bergizi, ASN yang menata kebijakan
publik, hingga masyarakat yang
menumbuhkan perilaku hidup sehat.
Sobat ASN di seluruh tanah air,
kesehatan adalah ruang kolaborasi antar
jiwa dan antar instansi.
Ia menuntut kehadiran pemerintah yang
tanggap, masyarakat yang sadar, serta
budaya pelayanan yang berakar pada
empati dan kemanusiaan.
Karena itu ketika kita berbicara tentang
transformasi kesehatan untuk Indonesia
Emas 2045, sesungguhnya kita sedang
berbicara tentang mimpi besar bangsa
menciptakan manusia Indonesia yang sehat
secara raga, cerdas secara pikir, dan
tangguh secara jiwa. Sebab hanya bangsa
yang sehat yang mampu berpikir jernih,
berinovasi, dan menjaga keberlanjutan
peradabannya.
Melalui forum ini kita diajak
merenungkan kembali peran STN sebagai
pelayan masyarakat bahwa tugas kita
bukan hanya mengelola kebijakan tapi
juga menumbuhkan empati, membangun
kesadaran, dan memperkuat kolaborasi
demi terwujudnya bangsa yang sehat,
lahir dan batin. Karena pada akhirnya
pelayanan yang menyehatkan adalah
pelayanan yang memanusiakan. Dan di
sanalah letak kemuliaan pengabdian itu
tumbuh. ketika setiap langkah birokrasi
menjadi ikhtiar kemanusiaan dan ketika
setiap kebijakan menjadi janji untuk
menyehatkan negeri. Nah, Sobat ASN di
seluruh tanah air, untuk membahas lebih
lanjut topik menarik ini, kami telah
mengundang para narasumber luar biasa
yang sudah barang tentu sangat kompeten
di bidangnya.
Kami menyampaikan terima kasih dan
apresiasi kepada para narasumber hebat
yang telah berkenan hadir dan akan
berbagi berbagai informasi strategis
kepada Sobat ASN di seluruh tanah air.
Pertama kami menyampaikan terima kasih
dan apresiasi kepada Bapak Dr. Bambang
Widianto, Staf Khusus Menteri Kesehatan
Bidang Tata Kelola Pemerintahan dan
Reformasi Birokrasi. Kedua, kami
menyampaikan terima kasih dan apresiasi
kepada Ibu Prof. Dr. Cita Rosita Sigit
Prakuswa.
Beliau adalah direktur Rumah Sakit Umum
Daerah Dr. Sutomo Surabaya. Dan ketiga,
kami menyampaikan terima kasih dan
apresiasi kepada Ibu Prof. Dr. Ratna Dwi
Wulandari, SKM, MKes. Beliau adalah
Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Erlangga Surabaya. Nah,
Sobat ASN di seluruh tanah air, mari
kita simak dengan seksama webinar ASN
belajar seri ke-44 tahun 2025. Semoga
bermanfaat. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
[musik]
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Kami ucapkan terima kasih
kepada Bapak Dr. Ramlianto, SPMP selaku
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya
Manusia Provinsi Jawa Timur atas opening
speech yang telah disampaikan. Sebelum
kita masuk ke keyote speaker kita yang
pertama, Bapak, Ibu, Sobat TSN sekalian,
mohon izin kami informasikan jangan lupa
untuk mengisi link presensi via
semestabangkom.id.
Dan dikarenakan saat ini traffic
presensi sedang tinggi, maka Bapak, Ibu,
Sobat ASN dapat cek secara berkala.
Nantinya link presensi ini akan
digunakan juga untuk mendapatkan
e-sertificate dari BPSDM Provinsi Jawa
Timur. Baik, kita langsung saja masuk ke
keyote speaker kita yang pertama. Kali
ini kita akan mendengarkan materi yang
sangat menarik dari Dr. Bambang Widianto
selaku staf khusus Menteri Kesehatan
Bidang Tata Kelola Pemerintahan dan
Reformasi Birokrasi.
[musik]
Ya, telah bergabung bersama dengan kami
semua di sini, Dr. Bambang Widianto.
Saya ingin ucapkan selamat datang
terlebih dahulu. Selamat datang dan
selamat pagi Pak Bambang.
Selamat pagi, Bapak.
Kabar baik, Pak Bambang.
Alhamdulillah.
Terima kasih sudah berkenan untuk datang
di webinar ASM Belajar seri 44 kali ini.
Kali ini kita akan mendengarkan materi
terkait dengan transformasi sektor
kesehatan sebagai bagian dari
pembangunan berkelanjutan menuju
Indonesia Emas 2045. Saya persilakan Dr.
Bambang Widianto untuk menyampaikan
materinya kurang lebih selama 30 menit.
Nanti kita akan masuk ke sesi tanya
jawab. Silakan, Pak Bambang.
Oke, terima kasih Pak Moderator, Bapak
Ibu sekalian. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Ee salam sejahtera bagi kita semua. Om
swastiastu. Namo buddhaya. Salam
kebajikan. Bapak Ibu sekalian terima
kasih atas undangannya. Ini merupakan
kehormatan bagi saya untuk dapat hadir
di sini. Jadi sesuai dengan ee topik
yang dimintakan kepada kami yaitu
transformasi sektor kesehatan sebagai
bagian dari pembangunan berkelanjutan
menuju Indonesia Emas 2045.
Bapak, Ibu sekalian, ini saya paparan
saya agak panjang, tapi saya ini berikan
aja bahannya kepada Bapak Ibu sekalian
sebagai latar belakang, tapi saya enggak
akan memaparkan semua. Saya hanya ingin
menyampaikan beberapa hal yang penting
sehingga Bapak Ibu dapat ee nanti
membaca sendiri dan melihat sebetulnya
apa sih esensinya kita melakukan
transformasi kesehatan nasional. Bapak,
Ibu sekalian,
next slide-nya Bapak, Ibu sekalian.
Next slide.
Nah, jadi Bapak Ibu sekalian,
tujuan daripada kita melakukan
transformasi kesehatan nasional itu
sebetulnya adalah kita ingin memperbaiki
indikator kesehatan nasional kita. Ya,
jadi itu tujuan utamanya
ya. Kalau kita lihat Bapak Ibu sekalian
dari slide yang saya sampaikan ini, ini
contohnya adalah angka kematian ibu
ya kan.
Angka kematian ibu melahirkan per
100.000 kelahiran hidup ya Indonesia itu
angkanya ya ini ini mungkin angkanya
sudah berubah sekarang tapi ini pada
tahun 2000 ee 22 itu adalah sekitar 189
pada tahun 2020. Saya mengambil tahun
2020 karena saya enggak punya
perbandingan untuk negara lainnya nih
yang agak sulit tuh mencari perbandingan
negara lainnya. Nah, itu kita tuh tinggi
sekali gitu. Dibandingkan dengan
Malaysia, dibandingkan dengan Vietnam,
dibandingkan dengan Filipina,
dibandingkan dengan Timor Leste aja kita
masih jauh lebih tinggi angka kematian
ibu melahirkannya.
Ya. Kemudian ada juga angka ee kematian
bayi juga kita tinggi itu Bapak Ibu
sekalian. kita bisa lihat kita kalah
kita cuman menang dari Myanmar saja ya.
Nah, ini kan sangat ironis gitu ya. Kita
negara besar, negara yang kita dalam
negara yang membangun cukup cepat, tapi
mengapa angka-angka ee ini masih kita
ketinggalan jauh dibandingkan negara
tetangga kita gitu. Slide berikutnya
ini jug nah ini Bapak Ibu sekalian ini
adalah penyebab kematian tertinggi di
Indonesia ya. Yang pertama itu sebabnya
adalah ee penyakit jantung, serangan
jantung. Yang kedua adalah stroke, yang
ketiga adalah kanker. Jadi, Bapak Ibu
bisa bayangkan
ya bahwa hampir
1 kom 1,3 juta orang itu meninggal
karena tiga penyakit ini setiap tahunnya
ya. Kenapa penyakit jantung? Karena kita
enggak punya fasilitas yang memadai di
seluruh Indonesia. Kenapa banyak yang
stroke meninggal? Karena kita juga
enggak mempunyai fasilitas yang memadai
untuk menangani jantung, untuk menangani
stroke di seluruh wilayah Indonesia. Di
kota-kota besar kita ada, tapi itu pun
baru sedikit ya. Jadi kalau orang kena
serangan jantung di daerah terpencil
atau di daerah Indonesia Timur misalnya
gitu ya, itu akan ee kekurangan waktu
untuk menanganinya sehingga meninggal.
Jadi ini menjadi penyebab kematian
tertinggi di Indonesia.
Slide berikutnya
ini, Bapak, Ibu sekalian
ya. Ini adalah cakupan yang sebelah
kanan itu adalah cakupan peserta BPJS
ya. Kalau kita tuh cakupan kita itu
sudah 96% Bapak Ibu sekalian.
Ya, jadi orang yang di-cover oleh BPJS
itu adalah dari seluruh penduduk kita
sudah 96%.
Nah, tapi cakupan peserta ini tidak
dibarengi dengan apa yang disebut dengan
service coverage ya. Yang di sebelah
kiri itu adalah service coverage kita
dan Indonesia itu baru 54%
ya. Jadi masih tertinggal dibanding
dengan negara lain ya. Jadi walaupun
cakupan BPJS kita 96%
tapi fakta di lapangan itu yang bisa
dilayani itu untuk Indonesia itu hanya
54%.
Jadi hanya setengahnya ya. Jadi walaupun
cakupan kita sudah 95% tapi layanan
kesehatan di bawah itu baru 9 baru 55
sekitar 55%. yaitu yang namanya service
coverage. Jadi target kita itu bukan
hanya sekedar cakupan peserta, tapi juga
yang disebut dengan ya universal service
coverage index, ya. Itu juga target
untuk kita benahi. Slide berikutnya,
Bapak, Ibu sekalian. Nah, ini tadi ini
sebenarnya penjelasan dari yang tadi apa
sih definisi dari service coverage itu?
P Bapak Ibu bisa lihat sendiri ya, bisa
baca sendiri ya slide berikutnya.
Nah, ini Bapak Ibu sekalian ini adalah
jumlah kasus dan biaya katastrofik dalam
program JKN Indonesia ya. Jadi walaupun
service coverage kita juga masih rendah,
tapi penyakit jantung, kanker, stroke
itu menelan biaya yang sangat tinggi.
Ya, ini untuk penyakit delan penyakit
ini aja sudah mencakap 35 triliun. Jadi
hal-hal ini yang apa namanya perlu kita
lihat juga bagaimana cara kita untuk
membiayai ini. Ya, ini yang penting
juga. Slide berikut.
Ini Bapak, Ibu sekalian. Ini
penyakit-penyakit penular yang masih
tinggi seperti TBC ya. Ini penyakit
lama. Tapi kenapa saya paparkan di sini?
Karena Indonesia merupakan penyumbang ee
penyakit TBC nomor dua di dunia setelah
India.
Ya. Jadi sekali lagi Bapak Ibu sekalian,
ketertinggalan-ketertinggalan ini yang
perlu kita perbaiki, perlu kita lakukan
transformasi untuk mengejar ini semua
ya. Dan kalau Bapak lihat itu yang
grafik warna hijau itu adalah notifikasi
ya, orang yang bisa dideteksi dia TBC
itu dari target tadinya kita masih
sangat rendah 46%
ya pada tahun 2023 ini kita agak lumayan
Bapak Ibu sekalian itu sudah mencakup
sampai ee 76% sekarang ya jadi itu jauh
membaik ya dibandingkan sebelumnya ya
dan ya ini yang kita ingin ingin kita
tingkatkan terus karena yang tidak
tertangkap melalui deteksi awal ini,
deteksi dini ini pasti berkeliaran dan
itu akan menularkan kepada yang lain.
Jadi ini sangat penting Bapak Ibu
sekalian terutama ee Bapak Ibu di
pemerintah daerah pasti ini juga menjadi
konsern bersama untuk kita bisa
menangani ini. Slide berikutnya.
Nah, dari hal-hal yang tadi saya
sampaikan, sebagian indikator kesehatan
nasional tadi yang saya sampaikan ya,
Kementerian Kesehatan itu merumuskan
yang kita sebut dengan enam pilar
transformasi kesehatan.
Ya, mungkin Bapak Ibu sudah pernah
mendengar ini enam pilar ya. Jadi ini
adalah hal-hal yang perlu kita lakukan,
yang perlu kita transformasi
agar ketertinggalan kita yang tadi saya
sampaikan itu bisa kita kejar
ya. Masa kita kalah sama negara tetangga
kita, kita kalah sama Malaysia, kita
kalah sama Filipina,
bahkan kita kalah sama Timor Leste. Itu
agak kayaknya agak kurang pas. Kita
sebagai negara yang sudah 85 tahun
merdeka harusnya kita mulai mengejar
ketertinggalan itu. Nah, untuk mengejar
ketertinggalan itu diperlukan
transformasi
yang sangat luas ya. Dan ini
transformasi pilar kesehatan ini adalah
transformasi terbesar yang pernah
dialami Indonesia dalam bidang sektor
kesehatan. ya. Kita biasanya mendengar
ada transformasi di sektor keuangan,
transformasi di sektor perbankan, ya,
transformasi di sektor perdagangan. Nah,
ini kita sekarang melakukan transformasi
sektor kesehatan melalui en pilar, ya.
Ya. Jadi apa tuh Bapak Ibu sekalian enam
pilar tadi ya? Bapak Ibu sebagai penjaga
gawang, sebagai ASN di ee provinsi
itu harus dapat mendorong ya
transformasi layanan enam tapila
transformasi ini ya. Karena kebanyakan
fasilitas kesehatan adalah di bawah
wewenang Bapak Ibu sekalian. Sebagai
contoh yang pertama adalah transformasi
layanan primer ini Bapak Ibu sekalian
ya.
Ya, ini tentang yang primer ini ee
adalah
kalau dulu kita menekankan pada kuratif,
sekarang kita harusnya menekankan kepada
apa yang disebut dengan ee promotif dan
preventif. Nah, ujung tombaknya adalah
layanan primer, adalah fasilitas
kesehatan primer, ya. Fasilitas
kesehatan tingkat pertama itu Puskesmas.
dan berbagai macam ee fasilitas
kesehatan yang milik bukan milik
pemerintah atau milik swasta, milik
masyarakat yang menjadi ee layanan
primer. Nah, ini ujung tombak ini harus
kita perbaiki Bapak Ibu sekalian ya. Ini
jadi ini kami mohon dukungan nih kepada
Bapak Ibu yang di daerah ya. Kami di
tingkat pusat memberikan banyak bantuan
ya untuk memajukan berbagai macam
fasilitas di daerah ini Bapak Ibu
sekalian. Nah, bisa balik ke slide
sebelumnya enggak, Pak?
Sebelumnya, Pak. Ya, ini, Pak. Jadi,
yang pertama tuh transformasi layanan
primer. Yang kedua adalah transformasi
layanan rujukan,
ya. Yang ketiga adalah transformasi
sistem ketahanan kesehatan. Ya, Bapak
Ibu tahu waktu kita COVID, kita sangat
apa namanya? tergopoh-gopoh karena
banyak sekali bahan baku kita masih
impor, vaksin kita enggak dapat segala
macam. Jadi ini harus kita perbaiki.
Kemudian tadi saya menyampaikan mengenai
pembiayaan yang besar tadi, makanya ada
transformasi keempat yaitu transformasi
sistem pembiayaan kesehatan.
Nah, ini Bapak Ibu sekalian ini
karena kita ingin memberikan layanan
kesehatan kepada masyarakat yang
terbaik. Pertama dari fasilitasnya tadi
yang pertama tuh layanan primer, layanan
rujukan, kemudian obat-obatan dan alat
kesehatan. Tapi kita juga harus
memikirkan bagaimana cara membiayainya
yaitu transformasi sistem pembiayaan
kesehatan. Nah, kemudian yang kelima ini
yang paling penting adalah transformasi
SDM kesehatan karena semuanya tadi tidak
akan berjalan tanpa didukung oleh SDM
yang ee yang berkompeten dalam bidang
kesehatan. Nah, ini ya Bapak, Ibu
sekalian transformasi kesehatan yang
sangat yang sedang kita jalankan.
Kemudian yang terakhir itu adalah
transformasi teknologi kesehatan.
Bapak, Ibu sekalian pasti sering
mendengar transformasi teknologi
kesehatan, tapi kita selalu asosiasinya
kepada teknologi informasi. Ya, itu
penting itu juga kita jalankan terus
traas itu. Tapi yang penting adalah
teknologi dalam bidang bioteknologi
ya. Bapak Ibu pasti sudah mendengar apa
yang namanya precision medicine. Jadi
kalau dulu kita diperiksa oleh dokter ya
pada tahap awal kita diperiksa mungkin
dokternya hanya interview kita melihat
fisik kita, kemudian ada pemeriksaan
darah, kemudian lama-lama ada MRI.
Kemudian lama-lama barangkali ada USG,
ada MRI, ada City scan, ada segala
macam. Nah, itu sekarang ada yang
disebut dengan precision medicine ya.
Itu dengan melihat struktur DNA kita.
Jadi pengobatan itu walaupun sakitnya
sama, mungkin kita
misalnya saja kita mempunyai kolesterol
yang tinggi, tapi treatmentnya bisa
berbeda antara satu individu dengan
individu yang lain dan itu tergantung
dari ee DNA kita, dari pembentuk apa
namanya ee struktur badan kita, sel
kita. Nah, kalau itu diperiksa kita bisa
tahu dan kita bisa tahu juga ke depan
itu kita akan mengalami sakit apa
sehingga kita bisa menanganinya dengan
lebih baik gitu ya. Penanganan lebih
baik, obat yang lebih cocok, tindakan
yang lebih cocok ya. Contoh untuk pasien
kanser misalnya itu walaupun sama-sama
ee ee kanser payudara misalnya, tapi
mungkin untuk setiap individu
penguatannya bisa lain. Itu yang disebut
dengan precision medicine. Nah, Bapak,
Ibu sekalian, kita sebagai ASN ya, kami
di Kementan Kesehatan sebagai ASN yang
menjalankan
menyang pilar ini
itu harus
mempunyai kompetensi
yang baik agar kita mampu menjalankan
ini. Makanya kita, Bapak, Ibu sekalian
di dalam Kementerian Kesehatan sendiri
kita menambahkan satu pilar lagi yaitu
pilar ketujuh ini untuk internal. kita
bisa enggak organisasi kita atau SDM
kita di Kementerian Kesehatan mendukung
enam pilar transformasi tersebut?
Ini kritikal banget nih, Bapak, Ibu
sekalian. Makanya itu penting
ya, makanya kita penting melakukan
transformasi internal. Jadi, Bapak Ibu
sekalian barangkali ini bisa dipakai
contoh oleh Bapak Ibu sekalian. apa sih
yang disebut dengan transformasi
internal untuk SDM segala macam itu. Ee
Bapak, Ibu sekalian mungkin kita bisa
berdiskusi panjang lebar
untuk bagaimana merubah budaya kerja ya,
bagaimana kita merubah cara kerja kita
agar kita dapat menjalankan enam pilar
transformasi kesehatan tadi. Karena ini
masif sekali.
Beli alat kita gampang, Pak. kita uang
sekarang nih tersedia untuk memberikan
misalnya ee city scan untuk seluruh
rumah sakit di kabupaten di 514
kabupaten ya kita alat-alat canggih itu
kita bagikan ke rumah sakit RSUD ke
provinsi segala macam tapi tanpa SDM
yang baik itu tidak akan terjadi, tidak
akan terwujud. Nah, ini yang kita selalu
kejar-kejaran nih Bapak, Ibu sekalian.
Makanya di Kemenk sendiri kita melakukan
transformasi internal agar sumber daya
kita itu benar-benar bisa menjalankan ee
enam pilar transformasi tadi. Slide
berikutnya.
Nah, Bapak Ibu sekalian ini ee ini
contoh aja Bapak Ibu se Bapak Ibu bisa
baca sendiri ya. Jadi, bagaimana kita
me-restructure lagi ya dari
apa rumah sakit, dari layanan primer ya
di layanan primer itu di bawahnya ada
puskesmas pembantu, ada posyandu ya,
bahkan sampai kita bagaimana kita bisa
menjalankan home visit. Saya rasa
Provinsi Jawa Timur sudah baik melakukan
ini ya. Jadi kalau bisa kita dorong lagi
agar kita bisa melakukan sampai home
visit untuk ee rumah tangga-rumah tangga
ee di setiap wilayah kita ya. Karena
sekali lagi pencegahan, promosi dan
pencegahan itu jauh lebih penting
daripada kuratif
ya. Nah, ternyata Bapak Ibu sekalian di
Puskesmas itu sebetulnya juga memiliki
laboratorium
ya. Kalau kita ke laboratorium swasta
kan mahal Bapak Ibu sekalian ya. Jadi
kita sekarang memperbaiki
restructure lagi berbagai macam
laboratorium yang berada di wilayah
masing-masing.
Nah, FKTP ini, fasilitas kesehatan
tingkat primer maupun laboratorium
PapKesmas ini ya itu semuanya
wewenangnya ada di pemerintah daerah.
Nah, jadi bagaimana kita bekerja sama
ya, kita sediakan ee standarnya, kita
bahkan sediakan alatnya, tapi kita perlu
bekerja sama untuk bagaimana mendidik
SDM, bagaimana menjalankan ini. Karena
ini semua ada di bawah wewenang ee
pemerintah daerah ya, Bapak, Ibu
sekalian.
Slide berikutnya. Jadi, ini kalau kita
lihat ya, Bapak, Ibu sekalian tadi itu
contohnya kan banyak tuh apa Puskesmas
ada 10.000, Ibu ada segala macam ya. Itu
juga apa namanya ee sebetulnya banyak
gitu. Kalau kita ke laboratorium swasta
itu mahal, mendingan kita di Lapkesmas
aja itu jauh lebih murah dan kualitasnya
sama gitu kan ya. Nah, di tingkat
preventif, di tingkat pencegahan kita
juga
memperkenalkan ya menambah tiga jenis
vaksin baru ya.
untuk dalam rangka program imunisasi
yang rutin. Bapak, Ibu sekalian ya. Ini
saya cepat-cepat aja Bapak Ibu bisa baca
sendiri ya. Slide berikutnya adalah
Nah, ini Bapak Ibu sekalian.
Jadi
sebelumnya Bapak, Ibu sekalian ya,
Puskesmas yang mempunyai USG itu hanya
20% Bapak Ibu sekalian.
Jadi
Bapak Ibu sekalian, kalau Bapak Ibu
mempunyai apa kita ibu kita atau anak
perempuan kita hamil biasanya dilakukan
USG.
Tapi ternyata enggak seluruh orang
Indonesia itu
waktu hamil dilakukan WG
ya. Jadi kita enggak bisa tahu nih ya,
mana bayi yang sungsang,
mana bayi yang ada kelainan ya. Dan
Puskesmas yang memiliki USG itu hanya
20%
ya. Jadi sisanya itu ya orang enggak di
OSG. Kalau sungsang langsung di bawah
rumah sakit ya enggak tahu ya meninggal.
Makanya angka kematian ibu melahirkan
kita itu tinggi. Nah, makanya Bapak, Ibu
sekalian kita di Kementerian Kesehatan
itu menyediakan USG untuk 10.000
Puskesmas
ya. Jadi, USG ya kan itu ee bisa kembali
ke slide sebelumnya Bapak, Ibu
ya. Itu ya ini USG kita penuhi Bapak Ibu
sekalian ya. Jadi pemeriksaan sebelum
hamil itu bisa dilakukan dan bisa
dilihat ya. Ini kita belikan alatnya
Bapak Ibu sekalian. Nah, ini kita butuh
kerja sama karena di sana harus dilatih
orangnya yang bisa melakukan USG ini.
Dan insyaallah angka kematian ibu
melahirkan kita atau kematian bayi juga
bisa menurun karena kita punya USG.
Slide berikutnya. Dan kemudian Bapak Ibu
mengetahui juga bahwa angka stunting
kita tinggi ya. Dan ee strategi kita
menangani stunting adalah bukan kita
mencari orang yang stunting terus kita
obati. Karena biasanya kalau anak sudah
stunting Bapak Ibu sekalian itu sangat
sulit dipulihkan ya. Tapi kita bisa
mencegah dengan melihat berat badannya,
dengan melihat pertumbuhannya, tinggi
badannya ya Bapak Ibu sekalian. Nah, itu
dibutuhkan alat yang namanya
antropometri.
Nah, ini kita bagikan juga nih ke
seluruh puskesmas kita bagikan
antropometri. Bahkan kalau antropometri
ini sampai ke ee sampai ke posandu
ya. Jadi ini sekarang kita sudah punya
ini. Jadi diharapkan sebelum orang itu
stunting pada waktu berat badannya
kurang, waktu tingginya enggak tumbuh
sesuai dengan standar ya pada waktu dia
mengalami kekurangan gizi itu sudah kita
tangani. Termasuk ibu yang hamilnya.
Karena stunting ini kebanyakan sebagian
besar juga datang dari bayi yang lahir
dari ibu yang kekurangan gizi.
Nah, makanya tadi pemeriksaan ante Natal
itu itu harus bisa dijalankan dengan
baik ya. pemeriksaan pada waktu ibu
hamil dengan USG dengan segala macam tes
laboratorium itu harusnya dapat
mengurangi angka kematian ibu melahirkan
dan nanti di tengah jalan juga dapat
mengurangi angka ee bayi yang meninggal.
Slide berikut Bapak Ibu sekalian.
Nah, ini apa namanya? Ee inilah kesmas
yang tadi saya sampaikan. Ini kita
perbaiki terus nanti Bapak Ibu bisa baca
sendiri. Jadi ee ini kita restructuring,
kita ee bikin levelnya, kita bikin
standarnya untuk masing-masing level.
Dari level yang di kabupaten, provinsi
sampai di level pusat untuk rujukan ini
semua kita perbaiki. Slide berikutnya
Bapak, Ibu sekalian.
Nah, ini
lab ini kita berikan peralatannya Bapak,
Ibu sekalian ya. pemerintah memberikan
peralatannya untuk Lap Kesmas tadi.
Jadi, Puskesmasnya sendiri kita berikan
alat-alat yang ee apa namanya? Dapat
mendeteksi berbagai macam penyakit. Tapi
di Lapkesmas ini juga kita sediakan
peralatan supaya ee apa namanya? Deteksi
yang lebih canggih itu dapat dilakukan
ya. Slide slide berikutnya Bapak Ibu
sekalian. Nah, ini itu tadi yang pertama
transformasi layanan primer. Yang
berikutnya adalah transformasi rujukan.
Bapak, Ibu sekalian ya, slide
berikutnya. Nah, ini ya. Jadi kita ingin
rumah sakit madia, rumah sakit utama,
rumah sakit paripurna itu bisa melakukan
beberapa hal seperti ini yang tadi saya
bilang tadi stroke paling tinggi apa
penyakit jantung paling tinggi ter ee
stroke, jantung, terus kanser, kemudian
yang terkait dengan ee penyakit ginjal
ya dan tadi untuk yang terkait dengan
ibu dan bayi ya. Jadi kalau Bapak Ibu
sekalian kita ingin memperbaiki ini di
seluruh tingkatan rumah sakit, kita
belikan alatnya, kita latih orangnya,
Bapak, Ibu sekalian, apa sih tujuannya?
Dalam rangka tadi itu, Bapak, Ibu
sekalian memperbaiki indikator kesehatan
nasional kita
ya. Indikator kesehatan nasional kita
yang mana tadi kita ketinggalan jauh
dibandingkan dengan negara-negara
tetangga kita. Ya, jadi ini memang
transformasi besar-besaran. perlu
dukungan dari berbagai macam pihak. Dan
sebagaimana transformasi kalau Bapak
lihat ee Bapak mungkin pelajari dari
kita yang sering barangkali Bapak Ibu
ikut PKn ya ikut LMHAS transformasi itu
biasanya enggak disukai sama orang gitu
Bapak Ibu sekalian ya. kita banyak
resistensi. Orang yang setuju
transformasi itu kalau kita baca di
textbook itu hanya 20%. Yang sisanya itu
pasti resistance terhadap perubahan.
Nah, ini Bapak Ibu sebagai ASN kita
harus bisa menangani ini sehingga
perubahan itu terjadi.
Ya, kalau tadi saya singgung tadi
sedikit dengan perubahan ee internal
kita, ter internal kita, kita itu
mengikuti berakhlak pasti Bapak Ibu
tahu. Tapi berakhlak ini kan masih
terlalu luas. perlu kita definisikan
ya, perlu kita punya yang operasional.
Nah, kami di Kemenkes itu Bapak Ibu
sekalian definisi berakhlak yang ee
banyak tadi itu kita ringkas ya. Kalau
di perusahaan swasta itu kan yang
namanya visi misi internal tuh juga
enggak panjang-panjang gitu. Nah, ini
juga begitu ya. kita ee
apa namanya? Ee slogan kita yang baru
itu untuk transformasi internal, untuk
visi transformasi internal adalah
pertama adalah eksekusi efektif, kedua
adalah ee cara kerja baru, dan ketiga
adalah layanan paripurna.
Itu Bapak, Ibu sekalian yang kita
dengungkan terus di dalam Kemenkes agar
kita bekerja secara efektif ya. Ada
caranya pasti.
cara kerja baru. Kalau cara kerja lama
kita enggak akan ngejar nih transformasi
ini, ya. Kemudian layanan ini yang
terkait dengan rujukan ini. Jadi selain
secara klinis kita baik, tapi secara
layanan kita juga harus ee apa namanya?
Harus bisa memberikan layanan yang baik.
Kalau Bapak, Ibu sekalian kan kita lihat
kenapa sih layanan kita kalau
dibandingkan rumah sakit swasta
barangkali orang lebih senang kalau yang
punya uang lebih senang ke rumah sakit
swasta. Itu kenapa gitu. Nah, itu harus
kita ee harus kita perbaiki.
Slide berikutnya Bapak Ibu sekalian.
Nah, ini kita memberikan peralatan ya,
alat kesehatan dari Pet City, MRI, C
scan, catlab tadi karena kita banyak
yang penyakit meninggal karena jantung
tapi rumah sakitnya enggak punya catlab
ya. Ini kita berikan Bapak, Ibu ee ini
kita berikannya kepada rumah sakit-rumah
sakit yang tertinggal ya, Bapak, Ibu
sekalian. Kalau rumah sakit yang sudah
bagus ya barangkali enggak perlu dibantu
ya. Tapi dari pengadaan, dari bagaimana
kita caranya menyediakan SDM-nya, ini
membutuhkan tantangan.
Dan tadi kenapa kita butuh transformasi
internal? Karena kita butuh melakukan
transformasi ini ke seluruh Indonesia.
Ya, barangkali ada rumah sakit yang
sudah bagus, ya sudah oke jalan terus.
Tapi sebagai Kementerian Kesehatan ya
yang lebih menekankan kepada public
health, tujuan kita adalah sekali lagi
memperbaiki indikator kesehatan nasional
kita yang tertinggal dibandingkan negara
tetangga kita. Ya, kita boleh pintar
tapi nyatanya kita tertinggal.
Ya, slide berikutnya. Nah, ini Bapak Ibu
sekalian Bapak Ibu bisa baca sendiri ini
yang ee untuk catlab ini di mana aja
kita ee bagikan, ya kan. Jadi di 84
kabupaten kota tuh sudah ada bisa
melakukan catlab ini data mungkin udah
ada yang baru lebih baru dari ini. Slide
berikutnya ini untuk yang ee apa
namanya? Bedah jantung terbuka ini Bapak
Ibu sekalian. Terus ini Bapak Ibu bisa
baca sendiri slide berikutnya ini untuk
melakukan tadi yang stroke yang bisa
melakukan trombektomi dan coiling ya di
berbagai macam ee daerah itu. Sekarang
kita bisa lihat 72 kabupaten kota juga
bisa. Nanti sebentar lagi kita target
kita harus seluruh kabupaten kota bisa
melakukan ini. Slide berikutnya
ini untuk yang trombolisis ya. Ini yang
terkait dengan stroke ya. Ya, slide
berikutnya
ini clipping juga ini terkait dengan
stroke. Terus Bapak Ibu bisa baca
sendiri ya ini untuk kanker. Kenapa sih
sistemic cancer terapi itu kan bisa
dilakukan harusnya di di berbagai
wilayah terpencil gitu. Orang enggak
perlu harus ke ee Surabaya atau enggak
perlu harus ke Jakarta. Slide
berikutnya. Slide berikutnya ini ee
mammografi ini Bapak Ibu bisa lihat
sendiri, bisa baca sendiri. Slide
berikutnya ini yang terkait dengan ee
untuk kanser ini yang ee radiologi yang
terkait dengan radiasi ya.
Ini yang ini yang ada pet city ini yang
terkait kanser ya, sikrotrone. Terus
terus terus selanjutnya Bapak Ibu bisa
baca sendiri ya slide berikutnya. Slide
berikutnya aja ini untuk hemodialysis ya
ini untuk CPD ini juga terkait dengan
ginjal. Slide berikutnya. Nah, ini
Bapak, Ibu sekalian yang berikutnya
adalah transformasi sistem kesehatan
nasional. Itu terdiri dari farmasial,
obat-obatan, dan juga peralatan. Jadi,
dua itu yang ingin kita tekankan ya.
Vaksin ya,
apa namanya ee pengobatan, obat,
peralatan dan respon emergency kalau
terjadi bencana atau terjadi ee musibah
gitu.
Ya, ini digital itu. SL slide berikutnya
Bapak Ibu bisa baca sendiri nih ya. Ini
ini ee produksi kita ee
ee jadi untuk obat-obat bahan baku obat
dari 8 dari 10 itu kita bisa kita
kerjakan di dalam negeri. Ya, sebelumnya
belum pernah nih Bapak Ibu sekalian kita
impor terus. Nah, ini sekarang kita
perbaiki. Ini Bapak Ibu bisa untuk
ceritanya bisa baca sendiri. Ini gampang
sekali dimerti. Ini sangat jelas. Terus
nah ini ee apa namanya ee
kerja sama-kerja sama terkait tadi ee
bahan baku obat ya. Jadi ada yang
namanya API itu active pharmaceutical
ingredien itu bahan baku obat itu
sekarang mulai kita bisa produksi di
Indonesia. Slide berikutnya.
Nah, ini perkembangan vaksin ya. Bapak,
Ibu sudah mendengar pasti. Terus terus
terus terus terus.
Saya cepat aja ya Bapak Ibu sekalian.
Ini untuk peralatan ya. Langsung aja
Bapak Ibu sekalian. Terus nah yang
berikutnya adalah transformasi
pembiayaan Bapak Ibu sekalian
ya. Jadi kita sekarang ingin lagi
menekankan
eh metodologi yang disebut dengan
national health account. Jadi Bapak Ibu
sekalian, kita tahu kita tuh
mengeluarkan uang banyak banget untuk
kesehatan, tapi kenapa indikator K
nasional kita rendah? Jadi kita mesti
tahu sebetulnya uang kita itu keluarnya
ke mana aja. Nah, itu kita bisa lihat
itu kalau kita punya National Health
Account accounting kesehatan nasional
yang bagus ya. Kemudian kita punya
sebelumnya masih sebelumnya Pak, kita
punya yang namanya health technology
assessment HPA. ini juga mau kita ee
kita dorong lagi supaya kita bisa
memilih obat-obatan atau peralatan atau
metodologi yang tepat untuk Indonesia.
Itu namanya HTA, Health Technology
assessment. Terus kita tadi cover BPJS
itu Bapak, Ibu pas sudah dengar ee ada
kesulitan di sini karena ini bertambah
besar biayanya. Makanya kita tiap tahun
sekarang melakukan annual review tarif
ya. Ini sekarang kita lagi dalam proses
untuk membikin daftar tarif yang baru
agar sesuai dengan kondisi di lapangan,
ya kan. Nah, kemudian health payment
kita konsolidasikan karena ini ada
banyak eh pihak yang melakukan
pembayaran kesehatan. Dan slide
berikutnya Bapak, Ibu sekalian ini kalau
kita lihat itu bisa kita lihat itu
sebetulnya uang kita yang kita keluarkan
ya itu berapa ya.
Ya. Dan ini memang meningkat terus
Bapak, Ibu sekalian itu bisa dilihat tuh
ada private insurance, ada social health
insurance, ada dari ee
pemerintah kita sendiri, dari NGO ini
siapa yang mengeluarkan ruang bisa kita
lihat. Dan kalau kita bisa melihat ini,
Bapak, Ibu, kita bisa menganalisa
masing-masing dan kita bisa memperbaiki
bagaimana cara kita ee mengeluarkan
pembiayaan agar ini lebih efisien. Terus
apa? Terus,
terus Bapak Ibu sekalian ini
adjustmentnya kita buat. Kemudian yang
berikutnya adalah transformasi SD dan
kesehatan
ya.
Ya kan? Ini Bapak Ibu sekalian ini
sekali lagi Bapak Ibu sekalian ya kan?
Jadi
kalau kita lihat kita tertinggal juga
dengan negara tetangga kita di Indonesia
itu adalah 0,5%
per 1000 populasi jumlah dokter kita
yang harusnya itu adalah 1,76 per1000
populasi. Orang selalu bilang katanya
ini pemerataannya ya kalau jumlahnya
cukup enggak. Jumlahnya juga kurang ya
bukan hanya pemerataannya. Bagaimana
kita bisa memeratakan orang kalau
jumlahnya kurang? Ya, dari sisi rasio
aja sudah kita lihat bahwa ini kurang
gitu dibandingkan dengan negara lain ya.
Slide berikutnya.
Nah, ini Bapak Ibu sekalian
ya.
Jadi masih ada banyak ya RSUD kalau di
Surabaya mungkin sudah bagus yang masih
kekurangan tenaga dokter. Jadi hanya 38%
ya,
ada 38% yang masih belum memiliki
tujuh spesialis dasar di rumah sakitnya
ya. Jadi ini Bapak Ibu bisa lihat
sendiri ya berapa kekurangannya. Inilah
kita sekarang bisa mengidentifikasi
kurangnya di mana, jenis spesialis mana
yang kurang
ya. Ini
intinya kita kurang. Makanya kenapa tadi
health service coverage kita rendah.
Walaupun cakupan BPJS-nya 96% tapi
health coverage-nya rendah. Ya, ini saya
lengkap aja Bapak Ibu sekalian. Slide
berikutnya. Slide berikutnya ya. Ini
Bapak Ibu bisa baca sendiri ya. Di
primary healthcare juga sama ya.
Essential workersnya masih kurang
ya.
ya. Terus
ya dokter spesialis masih kurang ya.
Makanya ee
kita sekarang membuka ee pendidikan
spesialis yang melalui ee berbasis rumah
sakit ya. Karena di manapun di dunia itu
pendidikan spesialis adalah melalui
rumah sakit. Jadi, rumah sakit-rumah
sakit ini penting untuk juga menjadi
tempat rumah sakit pendidikan dengan
standar yang kita akreditasi dengan
standar internasional. Jadi, standarnya
harus bagus, enggak boleh sembarangan.
Slide berikutnya. Slide berikutnya, Pak.
Cepat nih ee ini slide berikutnya
mungkin ya. Ini. Nah, ini transformasi
teknologi kesehatan Bapak, Ibu sekalian
ya. Next slide ya. ini kita punya
platform yang namanya satu sehat. Jadi
nanti semua data-data kesehatan itu bisa
kita simpan di dalam HP kita
masing-masing. Ya, ini sudah mulai kita
jalankan. Mungkin 2 3 tahun lagi ini
akan jauh lebih lengkap dari sekarang.
Ya, Bapak, Ibu mungkin ingat zaman COVID
waktu ada pedulindungi ini sebetulnya
mirip-mirip kayak gitu. Tapi untuk semua
penyakit dan semua tindakan medis yang
dilakukan itu bisa dilihat di dalam HP
kita masing-masing. Slide berikutnya
ya. Jadi ini ya. Jadi tapi kan untuk
bisa koneksi ini kita membutuhkan ee apa
namanya? membutuhkan internet dan
sebagainya dan ini kita sekarang provide
ee jaringan-jaringan sampai ke tingkat
Puskesmas.
Kalau yang belum ada dengan sistem
konvensional, kita menggunakan satelitir
ya. Itu untuk kita bisa menghubungkan
berbagai macam puskesmas supaya
individunya tercatat dengan baik ya,
tapi juga dalam melakukan rujukan juga
jauh lebih mudah ya. Slide berikutnya.
Nah, ini app-nya, aplikasinya Bapak, Ibu
sekalian ya sudah 111 juta orang yang
menggunakan. Terus, terus.
Nah, ini Bapak, Ibu sekalian yang saya
bilang ini yang health biotechnology
tadi yang precision medicine. Nah, ini
Bapak Ibu sekalian mungkin harus
terpapar juga dengan ini ya. Karena ke
depan itu pengobatan akan jauh berbeda
dengan yang sekarang. Kalau kita enggak
mengejar ketertinggalan ini karena kita
dibandingkan negara tetangga, negara
lain, kita tertinggal dalam bidang ini
ya. Jadi, ini mesti kita dorong terus,
ya. Slide berikutnya.
Slide berikut. Nah, ini Bapak Ibu bisa
sendiri ini ada videonya. Nanti mungkin
Bapak bisa lihat sendiri. Ini terkirim
juga kan videonya ya. Bapak Ibu bisa
lihat sendiri ya. Ini slide berikutnya
aja Pak ya. Nah, ini. Nah, saya ingin
karena kita sama-sama ASN nih Bapak Ibu
sekalian, Bapak Ibu di PPSDM ya. Apa sih
yang terjadi dengan kita nih? Bagaimana
sih kita, kenapa performance
managementen kita tuh enggak bagus gitu
Bapak, Ibu sekalian ya. kita punya
aturan yang terkait dengan indikator
kinerja individu,
tapi sebetulnya kita manfaatkan enggak
sih indikator kinerja individu ini?
Ya. Nah, ini kalau di Kemen CAS Bapak,
Ibu sekalian ini kalau Bapak bisa lihat
itu ada unit eson satunya itu ada satu
orang yang punya 97
ee Iki, indikator kinerja
ya, KPI kalau bahasa Inggrisnya.
Ya kan enggak mungkin orang bisa
mengerjakan 97. Tapi di di pihak lain
ada orang yang I-nya cuman satu. Mungkin
dia kerja seminggu selesai tuh I kan
setahun enggak kerja. Nah, jadi hal-hal
kayak gini Bapak Ibu sekalian ini yang
ingin kita perbaiki di Kemnes.
Barangkali saya bisa berbagi ini kita
masih dalam proses. Tapi kalau Bapak Ibu
ingin berbagi pengalaman dengan kami,
kami sangat bersedia untuk berkomunikasi
dengan Bapak Ibu sekalian. Bagaimana sih
kita menerapkan IKI? Kita sih tiap tahun
ngisi, tiap tahun ngisi Iki kita pasti.
Tapi IKI itu, Bapak, Ibu sekalian,
barangkali tidak berhubungan atau tidak
dimanfaatkan dalam kerangka
mencapai target organisasi.
Organisasi yang baik itu harus punya
target, punya visi besar.
Nah, visi besar ini kayak tadi yang enam
pilar transformasi kesehatan ya kan di
sisi di tingkat
kementerian barangkali orang paham
tapi sebagai individu terus saya mesti
ngapain itu pertanyaan yang banyakan
gitu. Nah, individu mengerjakan ini
harus bisa mencapai tujuan besar dari
transformasi kesehatan nasional kita.
itu yang paling penting. Nah, jadi ini
kalau kita lihat kita melakukan sedikit
analisa di kantor ternyata ada seperti
ini. Jadi mungkin Bapak Ibu di PPSDM
coba deh lihat berapa yang punya IQ
banyak, punya IQ sedikit, apakah dia
berimbang antara unit-unit kerja itu
perlu diperbaiki ya.
Slide berikutnya.
Nah,
ini
Renstra Kementerian Kesehatan Bapak, Ibu
sekalian ya. Sesuai ini kita menurut
kita kan bekerja sebagai pegawai negeri
pasti sesuai dengan peraturan yang ada.
Kita harus buat RENSRA. Tapi apakah
rensra itu sesuatu yang ee sesuatu yang
betul-betul bisa dijalankan atau hanya
rstra basa basi itu
sangat berbeda makanannya kan gitu ya.
Nah, renstra yang baik itu harus
mempunyai target, mempunyai tujuan dan
target.
Nah, ini kita lihat kalau di Kesehatan
ya untuk mencapai visi misi untuk
mencapai tujuan-tujuan transformasi
kesehatan kita mempunyai enam tujuan.
Nah, masing-masing tujuan itu ada
indikatornya, targetnya berapa.
Ya, itu contoh tadi yang paling kiri.
Karena kita health coverage kita rendah
masih 54%, target kita tahun ini adalah
63,5
tahun. Eh, 65 63,5%.
Nah, sori itu salah. Itu bukan tahun,
itu persen harusnya ya.
Eh, sori sori yang di sebelah kiri itu.
Betul ya. Jadi gini Bapak Ibu sekalian.
Indikator tujuan yang pertama itu
terkait dengan umur harapan hidup.
Umur harapan hidup kita itu memang
cukup tinggi 72 tahun. Tapi hidup sehat
dengan kualitas yang baik itu kita masih
rendah, Bapak, Ibu sekalian.
Masih sekitar hanya 60 tahun.
Walaupun umur kita rata-rata panjang 72
tahun, tapi hidup sehat dengan kualitas
yang baik itu sama 60 hanya 63 tahun.
Nah, itu
indikatornya ada Bapak secara
internasional menurut WHO ada. Nah, kita
targetnya meningkatkan umur dengan
kondisi sehat sampai 63 tahun. Nah,
kemudian yang di kanan itu baru yang
tadi saya sebut tadi ya adalah yang
terkait dengan service coverage tadi.
Walaupun kita 96%
dalam populasi coverage, tapi health
coverage-nya kita masih rendah.
Masih rendah ee kita ingin menaikkan ee
untuk lebih tinggi lagi
ya.
Jadi indeksnya mau kita naikkan sampai
56,75.
Karena indeks kita ini gila karena
indeks kita itu adalah ee masih sangat
rendah tadi Bapak, Ibu sekalian. Ee ya
slide berikutnya. Nah, dari enam tujuan
tadi, Bapak, Ibu sekalian di tingkat
menteri kan tadi ada enam tujuan slide
berikut sebelumnya itu bagaimana kita
menurunkannya ke bawah, menurunkannya ke
tingkat Eston 1 tuh ada yang disebut
dengan indikator sasaran strategis. Ini
Bapak, Ibu sekalian pasti sudah tahu
nih, tapi bagaimana kita
mempraktikkannya itu yang tantangan buat
kita semua. Kemudian ada indikator ee
kinerja program untuk eslon 1 dan ada
indikator kinerja kegiatan untuk eslon 2
dan ada indikator kinerja individu. Jadi
bisa Bapak Ibu bayangkan dari indikator
tujuan yang di atas tadi di eslon 1,
eson 2 turun ke bawah sampai ke individu
bisa enggak indikator kinerja individu
yang paling bawah itu memang betul-betul
mendukung indikator kinerja tujuan yang
besar tadi nah itu tantangan kita semua
karena selama ini saya lihat di Kemenkes
orang bikin individu itu adalah
pekerjaan sehari-hari dia jadikan
indikator kinerja padahal bukan itu
sebetulnya Ya, indikator kend individu
itu harus bisa mencapai tujuan
yang besar tadi, tujuan organisasi yang
besar melalui Renstra tadi ya. Slide
berikutnya.
Nah, ini Bapak Ibu bisa lihat ini di
masing-masing 1 berapa indikator tujuan
yang terkait. Kan kita punya indikator
tujuan tadi ya, Bapak, Ibu sekalian ada
enam. Jadi masing-masing Slon 1 itu
mengampu berapa indikator tujuannya? Ini
Bapak Ibu bisa lihat sendiri sampai ke
eselon 2-nya slide berikut
ya. Nah, ini kita ya dalam rangka
transformasi internal kita, Bapak Ibu
sekalian dalam rangka kita menyusun
indikator kinerja individu atau yang
sering disebut dengan KPI ya, kita
membuat apa yang disebut dengan ee
kerangka prima
ya. Jadi kita ini mengajarkan nih, Pak,
ke masing-masing ee eslon 2 masing-masid
itu enggak gampang, Bapak, Ibu sekalian,
ya. Karena ee prima itu p-nya adalah
pahampahami
ee visi dan arah tujuan, ya, Bapak, Ibu
sekalian. Yang kedua, R-nya itu rumuskan
strategi. Nah, karena tujuan tadi
biasanya kita enggak pernah merumuskan
strategi.
Mau begini, kita kan kerja sehari-hari
kerja rutin aja. pokoknya ada kerjaan
kerjain, ada kerjaan kerjain. Tapi Kak,
apakah kerjaan kita itu tadi bermakna
untuk pencapaian tujuan yang besar tadi?
Itu masih tanda tanya besar. Makanya
banyak sekali indikator kinerja
kesehatan nasional kita yang masih
tertinggal di dengan dibandingkan dengan
negara lain ya. Jadi rumuskan strategi
R-nya itu adalah yang paling berat
Bapak, Ibu sekalian. Nah, kalau kita
sudah rumuskan strategi, kita mesti
identifikasi tim kerja di bawahnya 3-nya
tuh siapa yang mengerjakan strategi
tadi, ya kan. Nah, kalau sudah itu kita
mulai jabarkan indikator kinerja ya.
Kita jabarkan apakah IK itu sesuai
dengan kaidah-kaidah smart ya. Smart itu
adalah apa namanya? Dia terukur ya dia
itu apa namanya? Ee bisa dijalankan
dengan baik. merupakan hasil kompromi
dengan yang lainnya. Ya.
Dan yang terakhir adalah yang disebut
dengan dialog kinerja. Pasti Bapak Ibu
sekalian di PPDSM kita tiap hari ngomong
tentang dialog kinerja.
Tapi dialog kinerja yang efektif itu
seperti apa? Itu tantangan kita, Bapak,
Ibu sekalian
ya. Jadi ee itu
yang jadi tantangan buat kita. Slide
berikutnya. Nah, ini Bapak, Ibu sekalian
dari IT tadi ini untuk 1 eselon 2 ini
contoh aja Bapak Ibu sekalian ya. Di
kita ada namanya Direktorat Pelayanan
Kesehatan. Kaitan dia dengan indikator
tujuan yang di atas tu apa? Nah, ini ada
turunannya. Ada turunannya nih Bapak,
Ibu sekalian. Ada IKP-nya ya kan tadi
ada dari tujuan ISS turun ke IKP. berapa
IKP yang mesti mengampu, berapa IKK yang
mesti mengampu. Nah, ini mesti
diidentifikasi nih, Bapak, Ibu sekalian.
Nah, ini Bapak Ibu kita butuh waktu
panjang nih untuk berdiskusi tentang
ini. Nanti saya sangat terbuka untuk
membagi pengalaman kita di Kemenkes.
Slide berikutnya ini contohnya dari IKP,
dari ISS turun ke IKP, turun ke IKK.
Ya, jadi enggak gampang kita sebetulnya
kerja itu Bapak, Ibu sekalian kalau
kerjaan kita mau bermakna dengan tujuan
organisasi yang berbasis rencana
strategis tadi
ya. Slide berikutnya kita cepat aja kita
lengkap ya. Nah, ini semua tadi IKK-nya.
Terus nah ini terus, Pak langsung aja.
Nah, ini contohnya kita ambil contoh
satu IKK aja sudah menunjukkan
merumuskan strateginya sudah ee penuh
tantangan. Bapak, Ibu sekalian ini kita
baru mulai nih Bapak Ibu sekalian jadi
belum selesai juga ya. Tapi untuk
menurunkan ini aja kita sudah butuh
waktu panjang karena ini mesti berdialog
dengan eslon 2, berdialog dengan staf
dan sebagainya. Slide berikutnya. Nah,
ini kalau kita dapat tadi ini baru satu
IKK ya, satu IKK tadi kita punya tiga
strategi misalnya. Nah, kalau kita punya
tiga strategi harus ada
aktivitas-strateginya. Aktivitasnya apa?
Nah, aktivitas inilah Bapak Ibu sekalian
yang menjadi dasar untuk menyusun KPI
ya, untuk menyusun IK ya. Slide
berikutnya ini menyusun IKIN-nya ya.
Kita identifikasi tim kerja dulu, Pak.
Ya. Strategi 1 dikerjakan oleh siapa?
Slon 3-
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:05:15 UTC
Categories
Manage