Transcript
hiRWouRCZ1M • ASN Belajar Seri 2 | 2026 - From Smart Thinking to Smart Policy
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/BPSDMJATIMTV/.shards/text-0001.zst#text/0291_hiRWouRCZ1M.txt
Kind: captions Language: id Kami mencoba menjadi yang terbaik. Melayani bangsa dengan sepenuh hati. Marah kami junjung taguhkan diri dan jadikan pedoman serta kekuatan. hadir di sini untuk mengabdi laksanakan tugas kebanggaan negeri sis melaihani bangsa dengan akuntabilitas tinggi. Hem di sini suka dengan hati tunjukkan kompetensi dalam harmoni. melayani bangsa loyal tanpa batasannya selalu dan berkolaborasi bergandeng tangan satu tujuan menjadikan ASN lebih berakhlak bekerja sepenuh hati tulus membantu sesama dengan bangga kami melayani bangsa Kami dari sini tegas dengan hati. Tunjukkan kompetensi dalam harmoni. Bangsa loyal tanpa batasannya adaptif dan berkolaborasi. Bergandeng tangan satu tujuan untuk menjadikan AS yang lebih beragung. menggenas penuh hati tulus membantu sesama bila kami melayani dengan kami melayani dengan menga kami melayani bangsa H Bersam membangun asa menuju cipta yang mulia. Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa Timur yang berjaya. Langkah pasti menitipi zaman dengan semangat pembaruan. Ilmu dedikasi dan harapan menjadi bekal masa depan. PPS Jing Pusat unggulan tempat lahirnya insan berkualitas mencetak STM berkompetensi tandu cerdasin inovasi bersatu dalam visi yang terang menjawab tantangan dan jalan kamiang PPSD dan Jawa Timur Center of Sans masa depan bersama membangun asa menuju cita yang mulia. Kami hadir, kami berkarya untuk Jawa Timur yang berjaya. Langkah pasti meniti zaman dengan semangat pembaruan, ilmu dedikasi dan harapan menjadi bekal masa depan. BPSM Jatim pusat unggulan tempat lahirnya insan berkualitas. Mencat STM berkompetensi tangguh cerdas penuh inovasi bersatu dalam visi yang terang menjawab tantangan dan jangan demiang PPSDN Jawa Timur Center of Sans masa depan gemilang L Has muda semangat membara di era digital terus berkarya berkolaborasi inisiatif tinggi inovasi cambalak Jawa Timur terus melaju bersama BPST yang cim kita terus melesa Untuk Indonesia emas prestasi hebat ASN unggul tiada yang tertinggal no one left behind. Kita terus melangkah berkolaborasi inisiatif tinggi inovasi cemerlang. Jawa Timur terus melayu bersama BPSDM Jatim kita terus melesat untuk Indonesia emas prestasi her aset unggur tiada yang tertinggal no one left behind kita terus melangkah berkolaborasi inisiatif tinggi. Inovasi cemalah. Jawa Timur terus melaju. Bersama BPSDM Jatim kita terus melesat. Untuk Indonesia emas prestasi hebat bersama kampus satelit PPSM Jatim. No one left behind. ASN unggul dan berkualitas. Melesa tinggi Indonesia jaya. Yeah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi, salam sejahtera, Om swastiastu, namo buddhaya, salam kebajikan rahayu. Selamat pagi sobat ASN di mana pun berada. Senang sekali pada pagi hari ini saya Yuri Sabrina yang akan memandu berjalannya webinar ASN belajar seri 2 2026. Boleh kasih tepuk tangan buat kita semua. Dan yang pasti pagi hari ini sobat ASN dan juga saya, kita akan sama-sama belajar tentang tema yaitu tema pada hari ini from smart thinking to smart policy, yaitu berpikir bijak untuk keputusan berdampak. Nah, di sini ditekankan pentingnya bahwa pola pikir yang cerdas, kritis, dan berbasis data sebagai fondasi utama dalam setiap proses pengambilan kebijakan. Jadi, Sobat ASN sebagai aparatur dituntut tidak hanya memahami regulasi dan prosedur, tetapi juga harus mampu membaca konteks serta mengelola informasi dan juga mempertimbangkan berbagai dampak sosial, ekonomi, dan pelayanan publik secara komprehensif. Nah, melalui pemikiran yang bijak dan terstruktur di setiap keputusan yang dihasilkan nantinya diharapkan bisa menjadi kebijakan yang solutif. adaptif dan berorientasi pada kepentingan masyarakat. Transformasi dari cara berpikir yang cerdas menuju kebijakan yang tepat sasaran bisa menjadi kunci dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang efektif, akuntabel, dan bisa memberikan dampak nyata bagi pembangunan daerah serta peningkatan kualitas pelayanan publik. Dan seluruhnya selengkapnya akan dibahas dalam webinar ISN Belajar Seri 2 2026. Baik, Sobat ASN, sebentar lagi kita akan menyimak bersama, mendengarkan bersama yaitu opening speech yang akan disampaikan oleh Bapak Dr. Ramlianto, S.PMP selaku Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sehat dan salam sejahtera untuk kita sekalian. Sobat ASN di seluruh tanah air, selamat bertemu kembali dalam ruang belajar bersama webinar series ASN belajar persembahan JATEM Corporate University Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur. Forum pengembangan kompetensi ASN ini merupakan sebuah ikhtiar kolektif untuk menjaga semangat pembelajaran ASN agar tetap menyala dan berkelanjutan di tengah tugas pengabdian yang semakin kompleks. Sat SN, tema yang kita angkat pada seri kedua tahun 2026 ini adalah from smart thinking to smart policy. Berpikir bijak untuk keputusan berdampak. Tema ini adalah kelanjutan logis dari ikhtiar kita membangun ASN yang smart sebagaimana kita bahas di seri pertama minggu lalu. Namun tema ini juga mengandung pesan yang lebih dalam dan lebih luas bahwa kecerdasan berpikir harus bermuara pada kebijakan yang tepat, keputusan yang arif, dan dampak yang nyata bagi masyarakat. Di tengah dunia yang semakin kompleks ditandai oleh banjir informasi, percepatan perubahan, serta persoalan publik yang saling terkait, ASN tidak cukup hanya patuh pada prosedur. ASN dituntut mampu berpikir kritis, menimbang dengan jernih, dan memutuskan dengan bijaksana. Sebab satu keputusan birokrasi hari ini dapat menentukan kualitas hidup masyarakat di masa depan. bahwa smart thinking bukan sekedar kecerdasan intelektual, tetapi kemampuan untuk membaca konteks, menguji asumsi, memilah fakta dari opini, serta melihat masalah secara utuh. Sementara smart policy bukan sekedar kebijakan yang sah secara regulasi, tetapi kebijakan yang logis, etis, berbasis data, dan berpihak pada kepentingan publik. Sabat ASN di seluruh tanah air. Di sinilah peran critical thinking menjadi sangat krusial. Berpikir kritis adalah soft kompetensi strategis ASN masa kini dan masa depan. Kompetensi yang membuat kita tidak reaktif, tidak tergesa-gesa, dan tidak terjebak pada rutinitas administratif. Dengan berpikir kritis, ASN mampu menjembatani pengetahuan dengan tindakan. visi dengan implementasi serta regulasi dengan dampak nyata. Dengan kemampuan inilah ASN mampu mengurangi persoalan yang kompleks menjadi keputusan yang jernih dan terukur. Critical thinking menuntut aparatur untuk berani bertanya mengapa. bukan sekedar bagaimana berani menguji pilihan sebelum menetapkannya serta berani menimbang risiko dan manfaat demi kepentingan publik. Dari proses berpikir yang matang inilah lahir kebijakan yang tidak hanya cepat dan patuh aturan, tetapi juga adil, solutif, dan benar-benar dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Sabat ASN, birokrasi yang kuat bukan hanya dibangun oleh sistem dan struktur, tetapi oleh kualitas nalar para pengambil keputusan di dalamnya. Ketika SN mampu berpikir bijak, maka kebijakan akan lebih presisi, pelayanan publik lebih bermakna, dan kepercayaan masyarakat akan tumbuh dengan sendirinya. Birokrasi yang kuat bukan hanya dibangun oleh sistem dan struktur, tetapi oleh kualitas para pengambil keputusan di dalamnya. Kita perlu bersepakat bahwa belajar berpikir adalah bagian dari pengabdian. Bahwa setiap ASN di level manaun memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan keputusan yang diambil tidak sekedar aman secara administratif, tapi juga adil, rasional, dan berdampak. Shabat ASN di seluruh tanah air. Akhirnya saya berharap forum ini menjadi ruang menajamkan nalar, memperluas perspektif dan memperkuat keberanian berpikir agar ASN Indonesia hadir sebagai aparatur yang cerdas dalam berpikir, bijak dalam memutuskan, dan nyata dalam memberikan dampak bagi masyarakat. Karena pada akhirnya ASN yang berpikir kritis adalah ASN yang memuliakan amanah. Ia tidak bekerja sekedar menyelesaikan tugas, tetapi menimbang dampak. Ia tidak berhenti pada kepatuhan prosedur, tetapi bergerak menuju makna pelayanan. Dan dari aparatur yang demikianlah birokrasi menemukan rohnya kembali sebagai penggerak perubahan, penjaga kepercayaan publik, dan penopang masa depan bangsa. Sahabat ASN di seluruh tanah air, kehadiran para narasumber hebat kali ini akan semakin memberikan wawasan yang luas dan makin memantapkan langkah pengabdian kita sebagai ASN Indonesia. Atas nama BPSDM Provinsi Jawa Timur dan seluruh ASN Indonesia, izinkan kami menyampaikan apresiasi dan penghormatan setinggi-tingginya. Pertama kepada Bapak Dr. Yusharto Untoyungo, M.Pd. Beliau adalah Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Kedua kepada Bapak Deni Junanto, S. MPP, PhD. Beliau adalah Direktur Direktorat Pembelajaran Karakter dan Sosial Kultural Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia. Dan ketiga kepada Ibu Berlian Gresarini, MS, PhD, psikolog. Beliau adalah akademisi dari Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya. Kehadiran para narasumber ini menegaskan bahwa SN belajar bukan sekedar forum diskusi tapi ruang strategis untuk menyatukan visi, menyelaraskan kebijakan, dan memastikan bahwa pembelajaran benar-benar bertransformasi menjadi kinerja dan dampak nyata. Nah, Sobat ASN seluruh tanah air, mari kita simak dengan seksama. Webinar ASN belajar seri kedua tahun 2026. Semoga bermanfaat. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sobat ASN, saya ingin mengingatkan jangan lupa untuk mengisi absensi di semestabangkom.id dan karena akan ada tiga narasumber yang hari ini akan memberikan ee banyak insight pastinya jangan sampai kesempatan ini disia-siakan dan nanti juga kami akan memberikan souvenir untuk tiga orang penanya aktif di kolom komentar. Jadi disimak dengan baik. Jangan lupa nanti bertanya sebanyak-banyaknya ke para narasumber. Nah, kali ini saya akan menyapa langsung untuk narasumber pertama yang sudah hadir di webinar ASN Belajar seri 2 2026. Selamat pagi Bapak Yus Harto. Selamat pagi. Apa suara saya bisa didengar, Bu? Aman, Pak. Aman sekali. Jelas clear di sini. Bagaimana kabar, Pak? Kabar baik, Bu. Terima kasih. Alhamdulillah. Jadi, Sobat ASN kalau saya ee Pak, saya izin memperkenalkan terlebih dahulu Bapak Yusharto ini adalah Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri atau BSKDN Kementerian Dalam Negeri. Sehat ya, Pak, hari ini, Pak? Alhamdulillah sehat. Alhamdulillah, Pak. Kayaknya ee pemandangan di belakang itu cerah sekali. itu background atau memang iya itu ee background yang dicreate teman-teman bisa Oh, keren. Tampak nyata ya, Pak ya. Siap. Kantor kami di BSKDN Kemendagri. Baik, Bapak. Bapak, Ibu yang berkesempatan ke Jakarta silakan mampir. Siap. Terima kasih, Bapak. Bapak langsung saja kalau begitu untuk tema pertama pada pagi hari ini. Silakan, ya. Terima kasih. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi. Salam sejahtera untuk kita sekalian. Om swastiastu, Namo Buddhaya, salam kebajikan. Yang terhormat dan kita banggakan Bapak Ramlianto, sahabat saya, Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur. Yang kami hormati para narasumber pada ASN belajar seri kedua yang dilaksanakan hari ini yaitu Bapak Deni Junanto dan Ibu Berlian Gresi Septarini. Ee memulai pagi ini saya ingin menyampaikan satu pantun untuk seluruh peserta yang sudah hadir pada pagi hari ini. Pagi hari memetik cendana, disimpan rapi dalam peti. Data bicara bukan sekedar wacana, kebijakan berdampak lahir dari bukti. Bapak, Ibu sekalian ee kami senang sekali bisa bersama-sama dengan Bapak pada Bapak dan Ibu pada pagi hari ini untuk membahas tema yang menurut kami juga sangat penting, yaitu yang berkaitan dengan system thinking eh smart thinking dalam perumusan kebijakan publik. Bapak, Ibu sekalian ee Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri ini memiliki amanah untuk bersama-sama dengan stakeholder yang ada di Kementerian Dalam Negeri untuk merumuskan ee kebijakan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah di lingkup Kementerian Dalam Negeri. Tugas ini ee disampaikan melalui Peraturan Presiden Nomor 111 tahun 2021 dan peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 9 tahun 2025 yang mengatur tentang ee tugas dan fungsi ee Kementerian Dalam Negeri. Tentu ruang lingkup ini sangat di ee tentukan oleh ee beberapa hal di antaranya ee luasan dari peran Kementerian Dalam Negeri dalam pelaksanaan ee tugas yaitu melakukan pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Ada beberapa hal yang ingin kami ingatkan berdasarkan ee pasal 8 ayat 3 lalu pasal 379 ayat 2 tentang pembinaan dan pengawasan yang dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat nasional sampai dengan pemerintah daerah. Pemerintah daerah e pemerintah pusat itu melaksanakan fungsi pembinaan dan pengawasan. pembinaan umum itu dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri sekaligus beberapa ee pembinaan dan pengawasan yang sifatnya teknis yang berkaitan dengan tugas teknis Kementerian Dalam Negeri ke Pemerintah Daerah. Ee di antaranya adalah kebijakan berkaitan dengan kependudukan catatan sipil, lalu penataan wilayah, pemberian coding untuk wilayah dan sebagainya. Berikutnya adalah ee pelaksanaan pemilihan umum, pemilihan kepala daerah melalui Direktorat Jenderal Otonomi Daerah. Sementara pada pemerintah daerah itu ditugaskan kepada ee pemerintah provinsi di mana ee gubernur sebagai wakil pemerintah pusat melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan yang ada di pemerintah kabupaten kota BINAS itu. Bapak, Ibu sekalian, salah satu di antara 10 pembinaan yang dilakukan itu adalah terhadap kebijakan daerah. diharapkan kebijakan itu lahir berdasarkan bukti dan data yang cukup sehingga ee menjadi ee instrumen untuk ee memandu penyelenggaraan pemerintahan daerah secara keseluruhan. Dilihat dari ee urusan atau bidang apa saja yang akan dilahirkan kebijakan tersebut. sangat luas Bapak, Ibu sekalian. Ini berdasarkan juga ketentuan Undang-Undang Das Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2024. Dia meliputi urusan pemerintahan umum ya. Urusan pemerintahan umum ini banyak dilaksanakan sebenarnya oleh Presiden lalu disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri setelah itu kepada pemerintah daerah. melekat pada fungsi kepala wilayah di antaranya pembinaan wawasan kebangsaan dan ee pembinaan wawasan kebangsaan dan ketahanan nasional, pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa, pembinaan kehidupan demokrasi, koordinasi antar instansi pemerintahan, ee pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan dalam penanganan konflik sosial. dan ee tugas-tugas yang sifatnya pise ermission yaitu tugas-tugas yang tidak ditampung dalam ee pembagian urusan yang ada. Ini menjadi bagian dari urusan pemerintahan umum. Di samping itu, ada juga urusan yang sifatnya konkurrensi dilaksanakan bersama-sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. dibagi dua, yaitu urusan wajib lalu urusan pilihan. Urusan wajib dibagi lagi atas urusan wajib dengan layanan dasar. Ada enam, yang memiliki standar pelayanan minimal dan urusan wajib yang tanpa layanan dasar atau tanpa ee SPM. hanya ditetapkan norma standar ee NSPK oleh pemerintah pusat. Demikian juga ada urusan konkuren lain yang sifatnya pilihan. Ada delapan urusan dan pemerintah daerah tidak harus memilih semuanya. Nah, di antaranya adalah yang berkaitan dengan pertanian, kehutanan, energi dan sumber daya mineral, pariwisata, kelautan dan perikanan, perdagangan, perindustrian, dan transmigrasi. Sedemikian luasnya ee urusan ini, Bapak Ibu sekalian, ini akan diwarnai oleh berbagai kebijakan yang akan dipeluarkan oleh pemerintah secara berjenjang, pemerintah kabupaten, kota, dan pemerintah provinsi. untuk bisa merumuskan kebijakan Bapak, Ibu sekalian. setidak-tidaknya kita bisa melihat beberapa level dari ee strategi kebijakan atau perumusan kebijakan yang kita ee sampaikan melalui rekomendasi kebijakan atau instrumen-instrumen yang lain. Bisa berupa polisi brief, bisa berupa makalah kebijakan, nota dinas dan sebagainya. itu dimulai dari learning and grow perspective. Jadi dibutuhkan sumber daya manusia yang berkompetensi tinggi. Benar yang disampaikan oleh Pak Ramlianto tadi bahwa dukungan sumber daya manusia yang berkompeten terutama dengan banjir data yang ada saat ini ini menjadikan ee prasyarat untuk bisa menghasilkan kebijakan yang baik. ini harus kita mulai dari ketersediaan sumber daya manusia yang berkompetensi tinggi. Kita bukan hanya bersaing sesama ASN dalam mengolah data, tetapi juga sudah bersaing dengan kecepatan yang luar biasa yang ditawarkan oleh teknologi informasi. Saat ini kita mengenal berbagai aplikasi yang sudah sehari-hari Bapak dan Ibu gunakan. ini hanya menjadi tools bagi kita. Tetapi sumber daya manusia itu masih yang utama yang dapat memanfaatkan berbagai potensi termasuk di antaranya teknologi digital untuk menunjang penyelenggaraan tugas dalam rangka menganalisa dan ee menyampaikan berbagai rekomendasi terhadap permasalahan kritis yang dihadapi oleh ee pemerintah saat ini. ee mungkin sumber daya manusia yang berkompetensi inilah yang serus kita ciptakan. Di antaranya lewat kegiatan ASN ee belajar saat ini. Kemarin kami diskusi dengan ee Komisi eh public services yang ada di Kandra. Nah, mereka menyampaikan bahwa fokus dari pengembangan sumber daya manusia saat ini adalah speak out ya, menjadikan SDM itu mau mengemukakan gagasannya secara terbuka entah secara tertulis maupun dalam forum-forum yang di desain sedemikian rupa sehingga semua hal yang berkaitan dengan kondisi saat ini dapat diung lungkap dan dapat dianalisis dengan tepat. Mudah-mudahan ee Jawa Timur berikut pemerintah daerah akan terus berbenah untuk bisa menghasilkan SDM yang berkompetensi tinggi. Yang berikutnya adalah organisasi yang sesuai kebutuhan. Mungkin saja desain organisasi yang akan mengeksekusi berbagai saran kebijakan ini juga perlu dilakukan penyesuaian. banyak sekali pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya klerikal ya, yang berulang dan sebagainya masih tetap saja dikerjakan oleh ee pemerintah. Umpama ini yang harus kita desain sedemikian rupa sehingga organisasi kita menjadi lebih kejil, lebih lincah untuk menghadapi kebutuhan yang dihadapi saat ini. Ambatan yang lain juga dalam pengorganisasian di antaranya pelibatan sektor swasta. Swasta ada dalam ee pemahaman kita menjadi mitra dalam penyelenggaraan pemerintahan, pelayanan publik dan pemberdayaan masyarakat. Namun ada kalanya kita masih bersikap semuanya harus dilakukan oleh pemerintah. Contohnya pengelolaan sampah. Mungkin saja organisasi Dinas Lingkungan kita ya tidak perlu lagi dibebani dengan pekerjaan yang sebenarnya pekerjaan itu akan lebih baik apabila ditangani oleh pihak swasta. Demikian juga dengan pekerjaan-pekerjaan yang lain yang semestinya sudah bertransformasi. pemerintahan yang baik itu hanya menghasilkan kebijakan yang adil, merata, dan berkeadilan sosial untuk diterapkan oleh masyarakat secara keseluruhan. Yang berikutnya adalah sistem informasi yang handal. Dengan adanya sistem informasi yang handal, proses pengambilan keputusan tidak akan bertele-tele, tidak akan ada lagi rapat yang harus dilakukan secara ee manual dan sebagainya. Dengan sistem informasi yang tersedia real time terupdate lalu teranalisa dengan algoritme yang sudah ditetapkan, para pihak akan menyerap informasi itu dan langsung mengeksekusi. Dengan demikian ee sistem informasi benar-benar dapat mendukung ee penerapan kebijakan hingga sampai implementasi kebijakan. Yang berikutnya adalah pengelolaan anggaran yang akuntabel. Ini pun bisa menjadi bagian dari learning and crowd perspective untuk kita bisa menghasilkan kebijakan yang ee baik. SDM yang berkualitas ini akan menghasilkan perencanaan yang ber yang baik. Lalu, pengelolaan anggaran ini akan mengendalikan mutu kebijakan yang lebih baik. Dan dengan demikian, ee fasilitasi dan pembinaan strategi kebijakan, pembinaan manajemen strategi kebijakan, dan formulasi rumusan kebijakan akan semakin baik dan berkualitas. Pada customer perspektif ini ada Kementerian Lembaga terkait, Unit Kerja Sat Kemendagri, pemda berikut stakeholder yang sangat luas sampai dengan asosiasi berikut masyarakat secara individual mungkin saja bisa merepresentasi ee kepentingannya lewat ee proses perumusan kebijakan. Di sini akan ada perumusan kebijakan. Lalu ada pembinaan inovasi daerah yang ee berkualitas. Karena memang kami memahami bahwa ee inovasi daerah sebagai salah satu sumber dari best practices yang ada di daerah ini akan menjadi salah satu evidence yang bisa dirujuk yang akan menjadi bahan dasar untuk perumusan kebijakan. Yang berikutnya adalah peningkatan pengelolaan tata kelola kelembagaan yang efektif. Dengan demikian ee Bapak Ibu sekalian ee kita akan menghasilkan ee kebijakan yang dirumuskan ee secara berkualitas. Bapak, Ibu sekalian ee dari perspektif peta strategi kebijakan tadi, kita akan mencoba melihat ee seperti apa penyelenggaraan kebijakan yang ada. Penyelenggara kebijakan itu ee mencakup ee rangkaian proses terstruktur untuk menghasilkan kebijakan yang tepat sasaran, implementatif, dan selaras dengan mandat pemerintahan. terdiri dari beberapa langkah dan bisa dikembangkan lebih jauh Bapak Ibu sekalian berdasarkan ee banyak panduan yang kita bisa ikuti. Di antaranya dengan William dan dengan lima langkah dan sebagainya. Yang pertama adalah perumusan kebijakan. ini mencakup proses untuk mengidentifikasi isu strategis analisis kebutuhan kebijakan serta penyusunan alternatif solusi. Nah, proses penyusunan kebijakan ini berfokus pada penerjemahan hasil perumusan menjadi dokumen kebijakan yang lengkap, terstandar, dan operasional. di antara lain berupa strategi kebijakan, pedoman teknis, norma, lalu ada standar, prosedur, dan kriteria, serta rencana aksi yang dihasilkan dari ee hasil melakukan analisis terhadap kebutuhan kebijakan, lalu ee menentukan isu strategis yang akan diselesaikan. Yang berikutnya adalah pelaksanaan kebijakan. Pada pelaksanaan kebijakan ini secara implementatif dilakukan apa yang menjadi muatan dari kebijakan yang telah ditetapkan. Pilihan-pilihan yang ada itu di ee laksanakan secara tertib dan sesuai dengan ee target dan standar yang telah ditetapkan. Ada beberapa tantangan dalam perumusan kebijakan di Indonesia, Bapak, Ibu sekalian. Yang pertama, disparitas pembangunan. Ee kita melihat bahwa ee kesenjangan antara wilayah di Indonesia itu sangat besar ya, di mana belum merata atau senjang dalam tingkat kesejahteraan, pertumbuhan ekonomi dan kualitas hidup. ini menjadi ee tantangan di antaranya juga dengan wilayah perkotaan dan perdesaan atau antara provinsi, kabupaten, dan kota. Nah, disparitas ini dapat dilihat dari data PDRB terutama yang membandingkan PDRB per kapita antar wilayah. Ee jauh sekali e bedanya. Di antaranya Jakarta itu sudah sekitar 26an juta pendapatan per kapita. berdasarkan PDRB. Sementara daerah lain ini masih sangat tertinggal. Ada yang masih sekitar 2.000 ee per kapita, pendapatan per kapita. Dan ee ini menjadi tantangan bagi kita untuk memperbaiki kebijakan dalam pelaksanaan pembangunan maupun juga dalam proses pengukuran. umpama ee sudah saatnya enggak ini kita saya ajak teman-teman untuk berpikir kalau kita mencoba membandingkan antara kebijakan yang ditetapkan pemerintah Vietnam dengan Indonesia dalam penetapan batas kemiskinan untuk fitnah mereka ya menetapkan perbedaan antara wilayah kota dan pedesaan dalam batas kemiskinan Untuk Indonesia saat ini masih menetapkan satu ee batas kemiskinan yaitu sekitar r.000 lebih itu pendapatan. Kalau kurang dia berkategori miskin, sementara kalau ee lebih tinggi dia sudah bukan penduduk miskin lagi. Tetapi untuk fitnah mereka membagi atas wilayah perdesaan itu sekitar 1,2 juta. Kalau dirupiahkan itu menjadi batas miskin antara ee penduduk untuk perkotaan sekitar 1,8 juta. ini kalau dilihat dari batas kemiskinan saja antara Vietnam dan Indonesia ya kita sudah agak berbeda dan mereka sudah melampaui pendapatan per kapita ee Indonesia untuk tahun 2025 kemarin. Mereka sudah berada pada ee 5.000 US Do per kapita per tahun. Sementara Indonesia masih sekitar 4.900. ini barangkali bagian dari tugas kita Bapak Ibu sekalian dalam ee mencoba untuk ee mendorong percepatan ee pemerataan pembangunan yang harus didukung dengan kebijakan yang tepat. Yang berikutnya adalah partisipasi ee publik dalam penyelenggaraan ee perumusan kebijakan ini juga masih belum optimal. ada upaya untuk melibatkan masyarakat, tetapi kecenderungannya itu masih sifatnya ee seremonial dan sangat-sangat prosedural. Ee untuk itu ee kita harus memperbaiki kebijakannya Bapak Ibu sekalian. kami lewat ee BSKDN menawarkan apa yang disebut dengan program review yang kita adopsi dari ee pemerintah Jepang di mana ee pada proses ee monitoring atau evaluasi setiap kebijakan nah itu ee pelibatan masyarakatnya tidak orang-orang itu saja. Pencenderungan yang saya amati di desa ya, aktor utamanya itu kalau bukan guru ya pemuka agama sehingga ee partisipasi itu tidak meluas. Begitu kita terapkan di salah satu wilayah di Yogyakarta, pengakuan dari masyarakat itu baru kali ini saya diundang dalam proses bisa berbicara di depan Pak Kepala Desa ini merupakan pengalaman pertama saya. Nah, ini Bapak Ibu sekalian menunjukkan bahwa ee partisipasi publik dalam kegiatan perumusan kebijakan kita memang masih perlu untuk ditingkatkan. Nah, contoh yang ada dalam gambar ini ee bagaimana kejadian di Jawa Tengah ya, Pak Ramli ya dan Bapak Ibu sekalian di mana ee masyarakat tidak dilibatkan atau tidak menjadi bagian dari proses dalam penetapan kebijakan ee besaran pajak bumi dan bangunan pedesaan dan perkotaan. Yang berikutnya ee yang berkaitan dengan tantangan ini adalah data dan informasi yang kurang akurat. Ee adaum atau tagline yang kita pakai selama ini adalah evidence based policy. Berarti kita harus merumuskan kebijakan yang akurat itu berdasarkan evidence. Evidence ini diantaranya adalah data. dan informasi yang kita jadikan input utama dalam proses perumusan kebijakan ini pun masih ee belum akurat Bapak Ibu sekalian dan terus dilakukan berbagai upaya untuk sinkronisasi lewat SPBE dan Bapak dan Ibu mungkin apabila sebagai analis kebijakan silakan mengambil inisiatif untuk bisa melihat Masih ada enggak data yang sepertinya dipublish, dipublish sudah begitu bagus, tetapi kok terasa di masyarakat belum seperti yang dipublish umpama. ini barangkali ee bisa ee menjadi kajian para analis kebijakan untuk bisa ee merekomendasikan bagian data dan informasi mana yang masih kurang dalam konstellasi ee perumusan kebijakan yang ada di daerah masing-masing atau di organisasi pemerintah masing-masing. Apakah diperbaiki cara pengambilan datanya? ee jenis datanya mungkin saja kita perlu data rasio umpama, tetapi yang terkumpul hanya data ordinal, data nominal umpama. Ini barangkali e menjadi bagian yang harus kita coba kaji. Ee jenis datanya, cara memprosesnya ya. data yang bukan rasio masih data nominal kok digunakan operasi matematis yang belum memenuhi syarat untuk diberlakukan untuk data nominal. Nah, cara menganalisa pun ini bisa menjadi ee kesalahan dalam ee proses yang menjadikan kebijakan yang kita hasilkan berdasarkan data dan informasi itu menjadi tidak akurat. Yang berikutnya masalah koordinasi dan sinergi antar lembaga. Ini ee sangat penting Bapak Ibu sekalian. Ee banyak sekali ee inisiasi-inisiasi yang dilakukan tetapi oleh kelompok yang belum ee memiliki kewenangan. Dan untuk itu ee kita harus mengkanalisasi berbagai pemikiran yang timbul ini untuk bisa ee bersinergi dan bisa diberikan atau memberikan manfaat bagi ee pihak yang lebih luas. Untuk itu ee BSKDN mengajak Bapak Ibu sekalian berikut seluruh komponen yang berkaitan dengan perumusan kebijakan di Indonesia untuk bersinergi dalam melaksanakan perumusan kebijakan. Kepala Daerah dan DPRDAN Perkompinda, lalu Camat Lurah, Satlinmas, Polp, ee Tim Penggerak PKK, akademisi, pendidik dan tenaga kependidikan, dunia usaha, ee tokoh agama dan sebagainya ini diharapkan akan menjadi ee stakeholder dalam ee perumusan kebijakan yang ada di ee Indonesia Lanjut ee smart thinking ini ya hanya menjadi cara dan bagaimana harus kita transformasi menjadi smart policy. Smart thinking ini dalam konteks kebijakan publik bukan hanya sekedar metode atau ee singkatan tertentu, melainkan cara berpikir yang cerdas, bernalar kuat, berbasis data, dan berorientasi dampak dalam seluruh kebijakan. Ee smart thinking ini berangkat dari kemampuan untuk beberapa hal, yaitu memahami masalah publik secara mendalam. Berarti kita harus turun ke bawah bisa merasakan ee apa saja yang menjadi masalah yang ada pada masyarakat kita. Jangan gunakan asumsi ee nanti ee kita akan salah memahami permasalahan dalam ee lingkungan komunitas kita. Yang berikutnya, kemampuan untuk menggunakan data dan bukti sebagai dasar keputusan mengaitkan kebijakan dengan hasil, dampak nyata dan mengantisipasi risiko atau dinamika perubahan yang terjadi di waktu yang akan datang. dengan smart thinking ya, kita bisa mengantisipasi ee memitigasi permasalahan. Karena pada dasarnya pengambilan satu kebijakan berarti keberpihakan kita. Kalau kita sudah berpihak berarti akan ada dua pihak. Akan ada yang mendukung dan akan ada yang berlawanan atau akan menjadi pihak yang harus kita mitigasi. agar kepentingannya tidak tereduksi lebih jauh karena kebijakan yang kita hasilkan. Ada beberapa pendekatan dalam smart thinking yaitu evidence based policy yaitu keputusan kebijakan didasarkan pada data, riset dan bukti empiris. bukti kalau dalam berbagai literatur yang berkaitan dengan evidence based policy itu disebutkan inovasi yang menjadi bagian dari best practices ini pun bisa menjadi evidence yang dapat diterapkan atau dijadikan dasar untuk pengambilan kebijakan yang berikutnya adalah system thinking. kebijakan dipahami sebagai bagian dari sistem yang saling terkait lintas sektor dan di wilayah. Pendekatan ini juga sangat baik Bapak Ibu sekalian di mana kita bisa terbantu dengan adanya aplikasi yang sudah dikembangkan untuk mendukung sistem thinking dan sistem dinamik di mana kita ee dipandu dan bisa menemukan causa loop diagram ya yang akan ee menjadi leverage atau permasalahan utama yang harus kita selesaikan dan akan mempengaruhi pencapaian atau penyelesaian masalah yang lain. Yang berikutnya, analytical thinking menggunakan analisis kebijakan untuk menimbang berbagai opsi dan konsekuensi. Dan ada juga eh pendekatan berupa result and impact orientation yang fokus pada hasil dan perubahan yang dihasilkan oleh kebijakan. Ada beberapa referensi yang dapat kita gunakan untuk smart thinking dalam kebijakan publik, yaitu yang ditulis oleh Eugin Bardah dan Erik Fatasnik ya dalam bukunya Practical Guide for Policy Analysis The F to effective Solving. ee pada catatan ini eh pada tulisan ini menekankan pada kebijakan publik yang baik lahir dari proses berpikir sistemis sistematis yang berfokus pada pemecahan masalah nyata dengan beberapa tahapan dan di sini juga ditemukan ee definisi operasional tentang smart thinking yaitu berpikir cerdas dan solutif Demikian juga dalam Danela Midows dalam buku Thinking in System Primer ini memberikan perspektif bahwa masalah publik merupakan bagian dari sistem yang saling terkait, saling menjalin antara satu sama lain. Dan di sini ditekankan bahwa smart thinking adalah cara berpikir untuk mendorong perumus kebijakan untuk memahami keterkaitan antar sektor, dampak tidak langsung kebijakan, serta risiko kebijakan jangka panjang. Bagi pemerintah daerah, system thinking membantu menghindari kebijakan sektoral yang parsial dan mendorong kebijakan yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan. dirajut kembali berbagai kebijakan yang mungkin saja sudah ditetapkan di pemerintah pusat disesuaikan dengan kondisi lokal yang ada di daerah. Dalam konteks pemerintahan, smart thinking ee ini merupakan pendekatan sistematis dalam memahami permasalahan, mengolah informasi, mengelola ketidakpastian, dan menghasilkan keputusan kebijakan yang berkualitas. ada dalam beberapa tahapan mulai dari identifikasi dan perumusan masalah, lalu penyusunan alternatif kebijakan, smart thinking juga terkait yaitu analisis dampak kebijakan lalu penetapan kebijakan sampai dengan evaluasi dan pembelajaran kebijakan. Bapak, Ibu sekalian ee kalau kita mencoba untuk ee melakukan sintesa dari berbagai pemikiran tentang smart thinking yang dikemukakan secara general tadi pada level daerah, apa yang kita sebut sebagai kebijakan daerah yang berdampak dan berbaris nyata. Secara sederhana ee kebijakan daerah itu tidak hanya harus tepat secara administratif, tetapi juga berdampak nyata bagi masyarakat. ini mungkin ee jadi catatan kita semua dan setuju dengan pernyataan dari Pak Ramianto di pembukaan tadi disusun berdasarkan data yang valid dan anda ini akan berdampak dan berbasis data menjadi kunci untuk memastikan bahwa kebijakan publik mampu menjawab kebutuhan ril masyarakat, meningkatkan efektivitas pembangunan, dan memperkuat akuntabilitas pemerintahan daerah. Kebijakan daerah berbasis data dirumuskan dan ditetapkan dan dilaksanakan dengan menjadikan data dan bukti empiris sebagai dasar utama dalam lima tahapan. Ya, seperti yang disampaikan tadi dalam pengambilan keputusan implementasi smart thinking dalam mendorong kebijakan daerah berbasis data di antaranya data dan evidence daerah, pemanfaatan data statistik daerah, data sektoral OPD, serta data kabupaten kota sebagai dasar perumusan kebijakan. Apa saja yang ada di sekitar kita? data tentang IPM. IPM dibagi lagi atas kesehatan, pendidikan, dan pendapatan untuk sampai memungkinkan untuk kita bisa mengakses row data yang menyusun ee IPM tersebut. Karena mungkin untuk analisa kita, kita membutuhkan tidak data sebagai hasil analisis, tetapi juga masih dalam bentuk grow data grow input yang akan kita coba analisis dan kombinasikan melihat relasi dengan kondisi atau data yang baik. Yang berikutnya berpikir sistemik dan terintegrasi. Ya, ini pemikiran dari fif disiplin dari Peter Sing ini juga ee dapat kita terapkan dalam berpikir sistemik dan terintegrasi yang dikenal dengan sistem thinking dan sistem dinamik. ee banyak diajarkan di Diklat PIM DU juga sudah dikenalkan diklat PIM 3. Praktiknya ini kita harus sering-sering menyusun kausal loop yang ada berdasarkan bidang tugas kita. seumpama apa saja sih faktor yang menentukan ee atas berhasilnya pendidikan PAUD. Nah, itu memiliki sistem thinking tersendiri ya. Begitu juga sistem pendidikan pada satuan pendidikan tertentu ya dilakukan secara ee sistemik. Setelah itu diintegrasikan atau kalau kita melakukan pendekatan dengan statistik diferensial ini, kita bisa melakukan metaanalisis terhadap data-data yang kita hasilkan. Dan dari sana ya diharapkan ee dukungan data dan informasi ini akan bermanfaat karena kita gunakan dengan cara menganalisis yang tepat. Yang berikutnya adalah kontekstual dan spasial. Pendekatan kewilayahan dan spasial ini untuk memahami perbedaan antar wilayah di Jawa Timur. Berorientasi dampak pembangunan. Menetapkan tujuan yang terukur dan berorientasi pada perubahan nyata pada masyarakat. Adaptif terhadap dinamika daerah. Kami selaku BSKDN diharapkan ee kami akan berperan sebagai salah satu wadah untuk bisa mengintegrasikan berbagai pemikiran yang berasal dari smart thinking yang sudah menjadi ee hasil di antaranya adalah bentuk policy brief dan sebagainya. ini sudah kami lakukan secara ee bertahap Bapak Ibu sekalian. Di antaranya kerja sama dengan Australia kita melakukan peningkatan kapasitas untuk anjak di sekitar 12 provinsi yang menjadi lokasi kerja sama kami dengan ee Australia. mereka setiap tahun ee membuat ee polisy yang diharapkan berdasarkan smart thinking di antaranya. Lalu kita lakukan ee apa namanya ee penilaian seleksi yang terpilih ini akan mengikuti program di Australia National University dan Queensland University. selama kurang lebih ee 2 minggu. Ee setelah itu ee mereka balik lalu diseminarkan hasilnya. Rumusan kebijakan yang sudah dihasilkan lewat proses belajar ini dicangkokkan ke dalam ee kondisi eh permanen institution yang itu yang ada di tempat kerja masing-masing. Diberi waktu sekitar 3 bulan sehingga dalam proses mulai dari ee agenda setting sampai dengan perumusan perumusan masalah. Lalu penulisan kebijakan, implementasi dan evaluasi dalam siklus yang utut bisa dirasakan oleh peserta. Rencananya tanggal 28 Januari di akhir Januari ini akan ada seminar yang diikuti oleh ee narasumber dari Queensland University yang akan kami laksanakan di Ambon, Maluku. Dan para peserta memang diarahkan untuk bisa menggunakan salah satunya tools marketing untuk bisa merumuskan kebijakan yang lebih baik. Akan ada forum kebijakan nasional dan daerah. Nah, ini mudah-mudahan kita bisa lakukan dan akan ada dalam bentuk outlook kebijakan ee pemerintahan daerah yang akan kita laksanakan setiap tahun. Yang berikutnya adalah platform kolaborasi digital yaitu integrasi dari SIPD, IIID, IKD, ITKPDN ini berbasis data sehingga kita bisa ee membangun ee knowledge hub yang berdasarkan hasil-hasil pengukuran dan evidence yang dikumpulkan oleh ee Kementerian Dalam Negeri. Yang berikutnya adalah polisi lab dan policy network. Nah, ini yang sedang terus dan sedang kita laksanakan Bapak Ibu sekalian untuk meningkatkan fungsi BSKDN ke depan di mana kita sudah tidak punya peneliti lagi tetapi kita akan menjadi pengguna dari hasil penelitian, menjadi beneficiari dari penyelenggara-penyelenggara penelitian. Saya pikir ini yang dapat kami share Pak Ramli dan Bapak dan Ibu sekalian selaku peserta ASN Belajar seri 2 yang dilaksanakan oleh BPSDN Provinsi Jawa Timur. Mudah-mudahan bermanfaat dan kita pun akan terus bersama-sama ee meningkatkan kapasitas dan kompetensi kita dalam melaksanakan ya smart thinking untuk mendukung perumusan kebijakan yang lebih berkualitas ke depan. Demikian kami akhiri. Wabillahi taufik walhidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi. Salam sejahtera untuk kita sekalian. Om santi shanti shanti. Om nama buddhaya. Salam kebajikan. Selesai. Terima kasih, Pak Yus Harto untuk seluruh materinya yang diberikan pada pagi hari ini. Nah, sepertinya sudah ada beberapa sobat ASN yang sudah mulai ee bertanya di kolom komentar. Langsung saja kalau begitu mungkin. Dan sekali lagi saya ingatkan untuk sobat ASN yang mungkin belum absen, jangan lupa untuk absen terlebih dahulu di semestabangkom.id. Dan untuk penanya nantinya kami akan ada souvenir yang akan diberikan kepada penanya aktif lewat kolom komentar ataupun yang nanti akan langsung bertanya kepada para narasumber. Dan untuk penanya pertama pada pagi hari ini, silakan Bapak dengan Bapak siapa, Pak? Selamat pagi Bapak Shihin kalau saya tidak salah ya. Bapak Solihin dari Dispusip Banyuwangi. Baik. Oke. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua. Waalaikumsalam warak Dr. Yusarto yang saya hormati. Terima kasih Bapak yang sudah banyak memberikan pencerahan kepada kami sebagai aparatur sipir negara dan Ibu host yang terkorba. Ee tadi sudah di banyak pemaparan yang disajikan oleh Bapak Dr. Yus Harto. Namun ada beberapa hal yang perlu kami apa eh tanyakan terkait dengan from smart thinking to smart policy atau berpikir pijak untuk keputusan berdampak. tentunya Bapak ee berpikir ijab dalam pengambilan keputusan yang berdampak smart thinking for decision atau melibatkan pendekatan kritis, sistematik, dan berbasis data untuk meminimalkan ee risiko dan memaksimalkan dampak positif. Ada beberapa hal yang perlu kami tanyakan ketika kami ee berpikir untuk bagaimana untuk bisa memaksimalkan ee kebijakan ini supaya kebijakan yang kami ee berikan ini ee berdampak bagus bagi apa yang menjadi ee keinginan kita semua. Tentunya ee dampak-dampak ini perlu kita pikirkan. Jangan sampai kebijakan-kebijakan yang kita nanti berikan kepada ee publik supaya tidak berdampak sangat besar tentunya bisa merugikan ee bukan hanya yang ee apa namanya? Bukan hanya yang memberi memberi ee kebijakan maupun yang menerima kebijakan. Ee apa yang perlu saya tanyakan ini, Pak? apa sebenarnya masalah ee masalah atau keputusan utama yang perlu diambil Bapak itu yang pertama Bapak. Saya ulangi lagi Bapak apa sebenarnya masalah atau keputusan utama yang perlu kita ambil supaya kebijakan ini kebijakan itu bisa berdampak baik kepada ee orang yang menerima kebijakan. Kemudian yang kedua dampak dan konsekuensinya dari jangka panjang Bapak. Apa dampak positif dan negatif dari keputusan ini atau kebijakan ini dalam jangka pendek dan jangka panang panjang ketika kita memberikan ee kebijakan ini supaya berdampak baik dan bermanfaat bagi ee si penerima kebijakan itu sendiri. Terus yang ketiga, Bapak, apa risiko terbesar jika saya misalkan salah untuk mengambil keputusan ini atau memberikan ee apa namanya kebijakan ini? Itu, Pak. Tiga yang perlu kami sampaikan karena kita mungkin bisa di ASN ini kan minimal kan bisa untuk melayani ee masyarakat yang memperluk memerlukan informasi. Saya kira itu, Pak dr. Yus Harto. Terima kasih, mohon maaf. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sehat, Bapak. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Iya. Oke. Baik. Pertanyaan yang lain? Iya. Mungkin langsung dijawab dulu Bapak untuk pertanyaan dari Bapak Shihin karena sudah ada tiga pertanyaan langsung silakan Pak I. Terima kasih Pakihin. Salam. ini untuk Banyuwangi. Kemarin saya hadir di acara apa tuh Gandrung Sewu ya dengan ee kebijakan-kebijakan yang dihasilkan oleh pemerintah kabupaten ee Banyuwangi. Menurut kami ini sudah berdampak ya dilihat dari berbagai indikator makro yang dicapai oleh Kabupaten Banyuwangi. Saya pikir ee sudah on the track lah bagaimana ee pemerintah Kabupaten Banyuwangi melahirkan kebijakan-kebijakannya. di antaranya yang menurut saya di yang sangat-sangat fenomenal untuk daerah lain berusaha untuk menarik sebanyak-banyaknya investasi tetapi kebijakan untuk ee Banyuwangi terutama untuk akomodasi membatasi ee akomodasi yang ee tingkat apa tuh ee bintang tiga atau bintang empat gitu dan diserahkan kepada masyar masyarakat dalam bentuk homestay dan ini menjadi ee salah satu pemicu begitu besarnya pertumbuhan ekonomi dan kita bisa mengecek juga ee tingkat hunian ee homestay berikut ee peningkatan pendapatan ee secara rata-rata dari pemilik homestay itu juga semakin baik dan yang utama tingkat kepuasan dari masyarakat masyarakat di mana ee lama tinggal juga ini bisa menjadi salah satu ukuran yang cukup meningkat signifikan untuk Kabupaten Banyuwangi. Berarti ee dalam proses perumusan kebijakan hemat kami apa yang menjadi pengalaman Kabupaten Banyuwangi ini sudah bisa dijadikan sebagai best practices bagi daerah lain. Mulai dari ee agenda setting. Agenda setting itu mau menemukan common enemy yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Musuh bersama kita itu apa? Musi bersama adalah ee dari yang saya amati dan diskusi dengan Pak Abdullah Azwar Anas berikut pejabat-pejabat yang ada di Kabupaten Banyuwangi itu dimulai dengan perbaikan ee standar hidup masyarakat di antaranya tentang kebersihan. Bagaimana ee permasalahan utama dilihat dari ee perkampungan ee yang paling dekat dengan pelabuhan yang ada di penyeberangan ee Bali, Banyuwangi umpama ini akan menjadi ee cermin apabila ini bisa diperbaiki dengan baik akan mengikuti ee daerah yang lain dan dengan demikian akan di ee mengundang wisatawan untuk tinggal dan berlama-lama di Banyuwangi menjadi tidak bermasalah karena standar dalam ee layanan dasar yang sangat penting dan diperhatikan oleh masyarakat atau wisatawan itu di antaranya kebersihan dapat dipenuhi. Berarti masalahnya sudah dirumuskan dengan benar. Tidak semua masalah itu harus menjadi bagian dari penyelesaian ee permasalahan dan menjadi muatan kebijakan. Masalah yang akan kita pilih adalah masalah yang mendesak dan prioritas dan memiliki leverage terbesar untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang baik. Ini yang harus kita rumuskan dengan tepat. dalam proses perumusan kebijakan setelah agenda setting ya kita akan merumuskan masalah. masalah itu adalah ee tidak sesuainya antara harapan dengan kenyataan yang sudah prioritas diselesaikan saat ini. Saat ini itu yang akan menjadi ee permasalahan apa ee muatan masalah kita ya. Tidak kesesuaian atau ada diskrepansi. antara dasoin dan dasolen dan harus diselesaikan saat ini. Lebih baik lagi apabila pilihan itu akan merupakan ee leverage, merupakan penentu atas sekian banyak masalah yang lain yang menjadi penyerta dalam kondisi yang kita hadapi. Untuk itu ya sekali lagi banyak sekali instrumen mulai dari FBON analisis sampai dengan menggunakan ee pendekatan ee melihat hubungan, relasi regresi. Lalu kalau kita menggunakan sistem thinking, sistem dinamik, kita memasukkan semua masalah berikut faktor-faktor yang berpengaruh ke dalam pensing, ya, aplikasi untuk mendukung sistem thinking dan sistem dinamik sehingga kita bisa menemukan permasalahan yang sebenarnya yang memiliki le rate tertinggi dan akan kita jadikan sebagai muatan dalam kebijakan kita. Dengan demikian Bapak, Ibu sekalian, apabila kita melakukan langkahnya secara benar, kita akan menghasilkan dampak. Akan ada ee dampak positif yang lebih besar dan negatif yang lebih kecil. ini akan menjadi bagian yang kita pertimbangkan dalam pemilihan alternatif kebijakan procons yang mana ee negatif yang masih kita bisa tolerir di mana para pihak yang mungkin saja ee dirugikan dengan adanya kebijakan ini masih kita bisa tangani dengan baik, diberikan cara lain ya untuk bisa ee apa ee menyelesaikan permasalahan yang timbul. Contoh yang tadi bagaimana ee masyarakat itu bisa memulai usaha dengan akomodasi, penyediaan akomodasi yang representatif mungkin. Nah, di sini dipilih dilakukan ee pemilihan ee proons yang lebih banyak proya dan lebih sedikit kontranya. Kalau semua pengusaha dias diundang lalu akan mematikan usaha di tingkat lokal, ya tentu kita akan berhadapan dengan masyarakat kita sendiri yang menerima ee efek negatif dari kebijakan yang kita ee keluarkan. dampaknya ya. Kalau salah ya mau tidak mau kita harus mengulangi Bapak ya. Ee kita memperbaiki proses ya mungkin saja dalam agenda setting-nya yang kita ee salah masih ada faktor yang lain yang Bapak tidak masukkan sebagai penentu ya. Nah, di sini saya melihat ee apa bagusnya atau komprehensifnya pensim atau system thinking system dinamik dalam membantu kita dalam merumuskan kebijakan. Tinggal kejelian kita, Bapak ya, memasukkan semua faktor. Jangan ini sudah banyak sekali, jangan dibatasi. Begitu juga dengan ee para stakeholder yang akan ee menjadikan kita ee memahami data yang akan ee kita ee hasilkan. Salah satu contoh yang menarik, Kementerian Dalam Negeri diminta oleh pemerintah Presiden pada saat itu Pak Jokowi untuk melakukan ee perumusan kebijakan yang berkaitan dengan strategi yang tepat dalam menangani ee virus Covid ya. Ya. Baik, Bapak. Ee itu Iya. Mohon izin. Ini barangkali jawaban saya ya. Terima kasih. Terima kasih. Baik, untuk Bapak Sihin kira-kira dari seluruh pertanyaan tadi apakah sudah terjawab dengan baik? Sudah. Keren. Untuk Bapak Solohin kami mohon izin untuk bisa mencantumkan di kolom komentar nanti nama, asal instansi dan nomor telepon atau nomor WhatsApp. Jadi nanti akan dihubungi oleh panitia dari BPSDM ya, Pak untuk souvenirnya. He. Oke, selamat untuk Pak Solihin. Terima kasih sekali lagi Bapak Shihin. Bapak Yus terima kasih banyak untuk waktunya pada pagi hari ini. Sudah berkenan untuk memberikan materi ya, memaparkan materi-materi yang memang sesuai dengan tema ee webinar ASN pada seri kali ini. Kami doakan kita bisa ketemu lagi ya, Pak ya. Semoga ya di webinar Amin. ASN belajar seri selanjutnya. Baik, Bapak. sehat selalu. Salam untuk keluarga. Bapak silakan melanjutkan kegiatan atau aktivitas pada pagi hari ini. Terima kasih. Baik, itu tadi ee narasumber pertama kita ya dari Bapak Yus. Mohon maaf saya agak sedikit lupa nama beliau karena namanya sungguh unik ya kan. Bapak Yusharto Huntoyungo. Nah, Dr. Yusharto Huntoyungo selaku Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri BSKDN Kementerian Dalam Negeri. Sekali lagi terima kasih. Untuk selanjutnya mungkin kita akan bisa langsung ke narasumber kedua yang siang hari ini pagi menjelang siang hari ini sudah siap untuk memberikan juga pemaparan materi sesuai dengan tema webinar ASN belajar seri 2 2026 yaitu From Smart Thinking to Smart Policy. Berpikir bijak untuk keputusan berdampak. Sekali lagi saya ingatkan untuk seluruh sobat ASN jangan lupa mengisi absensi di semestabank.id ya dan nantinya juga kami masih tetap akan membagikan souvenir untuk penanya aktif lewat kolom komentar ataupun yang bertanya langsung. Baik, untuk narasumber kedua sepertinya sudah siap. Selamat pagi Bapak Deni Junanto, S. MP, PhD. Selamat pagi. Selamat pagi. Sehat, Pak? Alhamdulillah. Sehat-sehat ya. Alhamdulillah. Jadi, Sobat ASN untuk pemateri kedua kali ini yaitu Bapak Deni Junanto, S. MP, PhD. Beliau ini selaku Direktur Direktorat Pembelajaran Karakter dan Sosial di Lembaga Administrasi Administrasi Negara Republik Indonesia. Sudah siap untuk membagikan materi pada pagi hari ini, Pak? Insyaallah. Insyaallah siap. Insyaallah. Bismillah. Baik, Bapak, langsung saja kami silakan. Baik. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi menjelang siang ya. Tentu semangatnya semangat pagi semua. Salam sejahtera untuk kita semua. Shalom. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan. Ya. Yang saya hormati Pak Ramlianto, Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur. Ee Pak Yuris ya sebagai moderator ee Bapak Ibu ee narasumber yang lain ya, ada Pak Yusarto, ada Bu Gresi Septarini dan teman-teman di BPSDM Jawa Timur. Dan tidak lupa ee izinkan saya menyapa para peserta webinar seri 2 ya di yang diselenggarakan oleh BPSTM Provinsi Jawa Timur ini. Luar biasa sekali. Ee saya kira ee sebuah kebanggaan ya ee bagi kami ya bisa hadir dalam ee sharing ya yang diselenggarakan oleh BPS Prosi Jawa Timur. ini sebuah budaya yang kira saya kira harus di ee kembangkan terus dijaga ya komitmennya, konsistensinya ya Pak Ramli. Baik ee terkait dengan topik kita pagi hari ini ya. Ya, ini adalah topik yang menarik. saya kira ee pilihan topiknya ini tepat sekalah saya kira bahwa di tengah-tengah situasi kita yang ya ee bahkan sekarang mungkin ice-nya kita ke ee ke global begitu ya, ke Amerika. Apa yang mau dilakukan oleh Amerika Serikat dan seterusnya. Nah, ini adalah kaitannya juga dengan bagaimana Indonesia me mengantisipasinya begitu ya. Baik. Ee untuk memper ee singkat waktu dan supaya lebih efektif mohon izin saya share ee paparan saya sebentar ya. Ya, tentu judulnya ini menarik ya, smart thinking to smart policy. Artinya kalau kita tidak smart berpikir gitu maka polisnya juga tidak akan smart. Nah, bagaimana kita bisa membuat smart policy? Ya, ini tentu banyak ee syarat ya, banyak kondisi yang harus kita ee apa namanya? penuhi dulu sebelum bisa mencapai dia bisa berdampak. Pada tataran tertinggi saya kira bukan hanya bijak ya polis tapi sudah mencapai ke wisdom sebenarnya ya kalau dari konsep kata gitu ya. Jadi yang harusnya keluar dari pemerintah itu adalah sebuah kebijaksanaan, bukan hanya sebuah kebijakan. Karena kalau sebuah kebijakan ya belum tentu dia bijaksana, kan begitu ya. Nah, bagaimana kebijaksanaan itu bisa tumbuh, bisa muncul? Nah, ini ee yang akan kita diskusikan gitu ya pagi hari ini. Baik, Ibu Bapak sekalian ya. Ee pada kesempatan ini saya ingin mengajak dulu ya, kita lihat ini adalah sebuah potret ya, di mana pemerintah ya memberikan layanan ya, membuat halte ya, shelter, BS gitu ya. Ee niatnya baik gitu ya. Niatnya baik ya. Ee desainnya pun menarik gitu ya. Tapi sekalian ketika hujan ya ternyata shelternya ini bolong gitu atasnya ya. Jadi percuma rasanya kalau ee kita punya kebijakan yang baik gitu ya, kita punya desain yang menarik gitu ya, tapi masyarakat yang merasakannya tetap harus kesulitan. Nah, saya kira kita bisa belajar banyak dari sebuah ee katakanlah ini kesalahan gitu ya. Apa sebenar yang salah dari desain ini? Apa yang salah sebenarnya? Artinya kita kan tidak pernah bertanya kepada masyarakat sebenarnya apa sih yang dibutuhkan? Hanya kadang-kadang kita pemerintah ini ee serba merasa paling tahu apa yang dibutuhkan masyarakat. Nah, ini dia yang ee Ibu Bapak sekalian yang dari gambar ini saya kira kita bisa belajar banyak. Nah, untuk bisa memutuskan sesuatu itu lebih tepat, ya, kita bisa belajar dari Einstein. Einstein katakan bahwa if I had an hour to solve a problem, ya, I would spend 55 minutes thinking about the problem and 5 minutes thinking about the solutions. Jadi sebetulnya ya berbagai kebijakan kita ya atau solusi-solusi yang kita tawarkan itu harus kita pikirkan dulu dengan matang ya. Apa sih sebenarnya mencari menjadi penyebabnya gitu kan. Jangan kita terburu-buru langsung mengeluarkan solusi, mengeluarkan kebijakan ya mengeluarkan keputusan tanpa mengetahui akar permasalahannya. Nah, dari foto yang sebelumnya kan kita tahu ya, kita lihat ya bahwa oke solusinya apa sih kalau orang kehujanan, kepanasan, nunggu base gitu ya, solusinya apa kita buatkan halte. Nah, ternyata halenya pun tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Nah, jadi saya kira ini ee harus kita renungi ya bersama ya. Apakah betul-betul sebenarnya keputusan-keputusan yang kita ambil di sektor publik ini ee sudah berdasarkan pemikiran yang matang, pemikiran yang komprehensif begitu untuk bisa memberikan sebuah solusi yang tepat yang betul-betul memang ee menyasar pada akar permasalahannya. Nah, itu Ibu, Bapak ya. Nah, ini menarik ya. Kalau bicara smart eh policy ya, kenapa itu menjadi penting ya? Karena kebijakan publik ya kalau dia kebijakan publiknya tidak smart gitu ya. Padahal kebijakan ini yang sangat menentukan kehidupan dari jutaan warga. Apalagi Indonesia sekarang sudah 280 juta orang begitu ya. Nah, ini kalau tidak dikelola ya dampaknya akan sangat ee fatal begitu ya. Dan kenapa smart policy itu penting? Karena dari kesalahan berpikir ya artinya ada banyak bias di situ ya asumsi yang keliru, kemudian keputusan kita yang reaktif ya kebijakan itu tidak menjadi efektif bahkan cenderung merugikan. Nah, di Indonesia ya, negara yang sama-sama kita cintai, yang kita harapkan terus menuju ke Indonesia emas ya, kompleksitas sosial dan keragaman wilayah kita sangat-sangat ee dinamis begitu. Kita juga punya keterbatasan sumber daya dan juga tekanan politik. bahkan bukan hanya dari ee luar gitu ya, dari dalam negeri sendiri juga ee apa namanya ee sangat tinggi. Dan kita sebagai pilihan kita sebagai negara demokrasi ya dengan dinamika sosial ekonomi yang demikian ini butuh cara berpikir ya dari yang reaktif menjadi strategis. Jadi bukan hanya kita ee menunggu sesu masalah itu terjadi gitu ya. Tapi kita bagaimana mengantis mengantisip masalah ya ee supaya masalah itu tidak terjadi. Nah, saya kira ini perlunya eh smart policy ya dalam bukunya ya Daron dan James ya James Robinson ini menyatakan bahwa apa sih yang menyebabkan sebuah negara atau negara-negara itu gagal ya. Ya, salah satunya adalah disebabkan oleh institusinya ya. institusi tentu ya dalam hal ini yang mengeluarkan ee serangkaian kebijakan negara. Jadi perbedaan antara Korea Utara, Korea Selatan misalnya atau katakanlah ya di Semenanjung ya Malaysia, Malaysia dengan Singapura dengan Indonesia atau kita punya kondisi geografis yang tidak terlalu berbeda ya. cuacanya mirip-mirip ya, hujannya juga banyak begitu, panasnya juga tinggi. Tapi ternyata ya kesejahteraannya atau kemajuan dari suatu bang ee apa dari negara-negara ini berbeda ya. Salah satunya disebabkan oleh karena tadi ya karena institusinya yang pada gilirannya juga berkaitan pada kebijakan ya. Nah, ini yang ingin saya sharing ya Ibu Bapak sekalian. dunia ya dunia kebijakan publik ya sekarang ini kompleks. Tadi ya sudah disinggung tadi disampaikan oleh Pak Ramli kemudian juga Pak Yusarto tadi juga ya bahwa sekarang adalah kompleks serba cepat sehingga kita perlu berpikir cerdas ya dan ini menjadi dasar untuk pengambilan kebijakan yang berdampak. Jadi, smart policy tentu bukan keputusan administratif, tapi keputusan yang berbasis pada data ya, berpihak pada publik, punya orientasi jangka panjang, tidak hanya jangka pendek, kemudian adaptif terhadap perubahan dan bisa diimplementasikan secara efektif, ya. Jadi, ini ee keputusan yang smart begitu. Dan yang ini yang perlu ee saya sampaikan juga bahwa kebijakan yang baik itu tidak lahir hanya dari niat baik, tapi cara berpikir yang tepat. Kita ya nanti kita bisa diskusi ya banyak ee contoh ya bahwa niatnya baik gitu tapi ternyata cara berpikir kita yang tidak tepat sehingga kebijakannya menjadi tidak efektif begitu ya. Nah, saya ingin mengajak ya Bapak, Ibu sekalian kita melihat ee fenomena yang ada ya terkait dengan tuntutan kenaikan UMP di Jakarta itu di 2006 ya 2000 di 2026 ini nyaris 6 juta, Jawa Barat masih R juta. intinya bahwa tuntutan buru ya untuk kenaikan gajinya, kenaikan upahnya itu sangat-sangat realistis gitu ya. Apa namanya? Ditambah juga dengan tingkat inflasi yang tinggi gitu ya. Sehingga daya beli masyarakat itu tertekan. Kita tentu dengan mudah kita akan memihak siapa? Memihak buruh atau memihak siapa? Pengusaha. misalnya karena di sini yang berhadapan adalah pengusaha dengan buruk. Tapi sebagai pengambil kebijakan ya kita tentu harus tadi berpikir ya secara cerdas begitu kan. Ini kalau dibahas tentu ee panjang ya. Ee ini hanya saya sebutkan bahwa fenomena ini inilah yang dihadapkan kita di pemerintah selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan seperti ini ya. antara pilihan ke mana kita memihak ya, kemudian apa kita bisa berpikir di jangka panjang. Faktanya ya, faktanya ya berdasarkan data ketika harga atau upah ya upah tenaga kerja ya itu meningkat yang terjadi pengusaha bukan mungkin kita enggak bicara UMKM ya atau pengusaha-pengusaha yang kecil, pengusaha-usaha itu mengalihkan produksinya ke negara-negara lain yang memiliki tingkat upah yang lebih rendah daripada Indonesia yang terjadi adalah merubah pabrik-pabrik itu ya menjadi distributor. Jadi yang ada hanya impor barang ya. Jadi Indonesia secara agregat gitu ya, secara sebuah negara kita tidak lagi menjadi negara yang ee produktif, tapi kita menjadi negara yang hanya sebagai distributor. Nah, itu tentu perlu pendalaman yang lebih ee jauh gitu ya terkait dengan kasus ini. Ini saya sampaikan karena seringkiali nanti kita diharapkan pada seperti ini kondisi-kondisi yang membuat kita menjadi iya ya. kita harus bagaimana kita berpihak, bagaimana kita harus bersikap kan gitu ya. Nah, dari smart thinking ke smart policy ya tentu eh smart policy tidak akan bisa terjadi kalau kita tidak berpikir secara smart ya. Dan Pak Yus tadi juga sudah sampaikan ya, apa itu smart thinking. Saya kira eh pada intinya bahwa smart thinking adalah berpikir sistematis, berbasis data dan bukti, bukan asumsi. Begitu kan menggunakan data riset dan bukti kita bisa harus paham akar masalahnya ya. Bukan hanya gejala yang kita obati begitu. Kemudian kita bisa mengelola bias kognitif ya dan kepentingan sehingga melihat dampaknya secara ee apa namanya lebih luas. Jadi antara lintas sektor ya kita berpikir sistemik dan jangka panjang sehingga ya smart policy adalah hasil dari smart thinking yang dia relevan terhadap masalah publik ya karena tidak semua apa ee tidak semua polisi ternyata relevan begitu kan. Dia layak secara politik dan administratif kemudian berdampak nyata dan berkelanjutan. Nah, kalau dilihat ya kunci dari smart policy atau karakteristik dari smart policy adalah evidence base ya, berbasis data dan riset yang valid ya karena banyak juga data dan riset yang tidak valid. Begitu. Yang kedua adalah people centered ya menjawab kebutuhan masyarakat ya bukan hanya sekedar birokrasi sekali lagi yang kita jadikan centered itu adalah masyarakat. Contoh halte tadi itu jelas-jelas membuktikan bahwa hanya government centered ya. Kita hanya melihat kepentingan bahwa oke ee anggaran sudah ditetapkan, anggaran sudah cair gitu, anggaran sudah dimanfaatkan sehingga halnya ada terbangun begitu. Tapi masalahnya apakah itu menjawab kebutuhan masyarakat atau tidak? Begitu kan. Kemudian karakteristiknya dari smart policy adalah adaptif. dia mampu menyesuaikan dengan perubahan zaman ya. Kemudian smart policy juga ya. Nah, di sana ada kolaboratif artinya melibatkan seluruh stakeholder yang ada baik itu akademisi, swasta, masyarakat sipil. Kita kenal dengan istilah pentah gitu ya. Kemudian juga dia measur ya memiliki indikator kinerja yang jelas ya. Kita enggak bisa bilang bahwa kebijakan ini berhasil, kebijakan ini tidak berhasil. kebijakan ini sukses atau kebijakan ini tidak sukses, ukurannya apa gitu kan. Maka indikator ini menjadi penting ya, bagaimana kita bisa menyusun indikator itu yang ee jelas begitu ya, yang terukur. Jadi ee ini adalah karakteristik dari ee smart policy begitu ya. Nah, kita sering bilang ya, oke ayo kita bikin kebijakan yang evidence base, evidence based dan seterusnya. Tapi ternyata ada permasalahan dalam evidence base policy ya. Eh, Bapak, Ibu sekalian, masalah yang pertama dalam evidence policy adalah tergantung pada randomized control trials, ya. It istilah it work there but not always it will work here. Jadi kadang-kadang kita latah begitu ketika kita melihat kebijakan di suatu negara itu berhasil lalu dengan satama- mata, oke kita tiru ee apa namanya ee kita terapkan di Indonesia, kita terapkan di Sim belum tentu berhasil. Demikian juga di daerah mungkin kita lihat keberhasilan Provinsi Jawa Timur gitu ya. belum tentu juga akan sama berhasilnya ketika kebijakan yang sama itu diterapkan di provinsi yang lain. Bahkan dalam eh scop provinsi ya, kebijakan yang ada di Kabupaten A gitu ya atau di Kota Surabaya belum tentu sok cocok dengan di Kota Malang gitu ya ee dan lain juga sebagainya. Jadi pembuat kebijakan harus memahami bagaimana kebijakan itu bekerja gitu ya. Faktor pendukung apa yang harus tersedia. Kemudian konteks lokal kita harus lihat kalau kita bilang istilah apa? Kearifan kearifan lokal begitu memungkinkan proses kausalnya sama. Jadi tidak cukup hanya mengeluarkan perb ya per gup gitu ya. Kemudian kita berharap bahwa kebijakan itu akan berjalan sendiri. Oh, sudah kok gitu ya. Ee jadi kita harus memperhitungkan namanya faktor-faktor pendukung lainnya dan banyak kombinasi ya yang juga menghasilkan efek yang sama. Jadi tidak harus bahwa faktor yang ada di contoh yang kita tiru begitu ya itu harus ada juga di ee tempat yang akan kita laksanakan. bisa jadi kombinasinya lain. Nah, ini dia permasalahan dari evidence base policy. Nah, supaya dia lebih ee apa namanya? Konkret gitu ya, ini saya sampaikan contoh kegagalan ya dalam penerapan evidence based policy di Bangladesh. Ada istilah Bangladesh integrated project ya. Program diluncurkan tahun 95 untuk mengurangi kekurangan gizi pada anak-anak, ibu hamil, dan menyusui melalui apa? Pemantauan pertumbuhan. pemilihan makanan tambahan ya, peningkatan kapasitas nutrisi ya dari tingkat nasional maupun komunitas atau komunitas masyarakat. Ini adalah meniru yang namanya dari Tamil Nadu Integrated Nutrition Project begitu. Nah, tapi program ini gagal. Kenapa gagal? Karena tadi faktor-faktor pendukungnya beda ya. ketika di Tamil ya, ibu-ibu itu punya akses langsung ya, punya power gitu ya untuk membeli sayuran, makanan, bahan makanan dan seterusnya tidak terjadi di Bangladesh ya. Di Bangladesh yang belanja itu laki-laki, suami-suaminya atau bapak-bapaknya. Sehingga enggak paham ketika ini diberikan ke ee program yang sama, efeknya berbeda ya. Kemudian yang kedua ada kasus misalnya di California Classiz Reduction ya. Ini di tahun '96 ya. Intinya bahwa ee mengurangi jumlah siswa. Jadi ee dulu kita dulu zaman sekolah gitu ya kan satu orang mungkin 40 orang eh satu satu guru ngajar 40 murid ya mungkin lebih gitu sampai 48 50 gini kebanyakan di sekolah-sekolah negeri seperti itu. Nah ini berdasarkan penelitiannya dari star student teacher achievement ratio. Jadi ada penelitian di tahun '85 sampai 9 itu bahwa semakin sedikit muridnya maka pencapaian nilai matematik dan IPA gitu ya itu akan semakin tinggi berdasarkan penelitian di Tennessee ya. Tapi ketika diterapkan di California ini dampaknya tidak sama. Karena apa? Karena banyak faktor yang ee apa namanya? mempengaruhi ee sehingga ee impact-nya berbeda begitu ya. Nah, ini adalah contoh kalau kita apa istilahnya ya benar-benar plekplek gitu ya mengikuti apa yang ada di evidence base policy. Nah, sekarang kita bergeser ke kebijakan publik di Indonesia. Masalahnya apa sih gitu? kebijakan publik di Indonesia. Saya enggak mungkin enggak sebutkan satu persatu secara umum ya mungkin kita lihat ya kita masih rasakan kebijakannya reaktif terhadap tekanan publik atau viral di media sosial. Ada istilah no viral no justice gitu ya. Kalau enggak ini viral, enggak diviralkan, enggak ada perhatian dari pemerintah. Jalan jelek gitu ya, rumah sakit ee apa namanya? tidak memadai, jembatan mau rubuh gitu ya, ee transportasi umum jelek, ya macam-macam ya. Ah, ini kalau viral saya kira ini juga salah satu dampak ya kalau kita bilang dampak positif juga lah ya dari sosial media. Mungkin kalau dulu kita enggak pernah tahu yang namanya mungkin jalan di mana itu ee sudah mau hancur begitu ya, enggak bisa dilewati gitu. Tapi dengan adanya sekarang di media sosial, maka perhatian pemerintah ee lebih concern gitu. Nah, problemnya juga adalah sekarang masyarakat punya tuntutan yang luar biasa begitu dengan berbagai tadi ya aliran data informasi masyarakat tahu berapa sih APBD di Provinsi Jawa Timur gitu, berapa sih APBN kita untuk ke mana, berapa sih anggaran untuk BGN gitu, berapa sih anggaran untuk pendidikan kesehatan dan seterusnya. masyarakat punya tuntutan yang lebih besar sekali. Nah, ini dia. Nah, problemnya kadang-kadang ya pemerintah sifatnya hanya reaktif gitu. Kalau ada muncul di sosial media baru kita berapa kerubuk gitu ya, kebakaran jenggot seperti. Nah, kemudian masalahnya yang kedua adalah seringki pendekatan kita adalah seragam untuk masalah yang beragam. Jadi istilah one size fits all itu ya ini seringkiali kita temukan ya. Kemudian kebijakan publik di Indonesia juga minim uji coba dan evaluasi saya ya mungkin banyaklah kita kalau misalnya ee apa yang paling gampang misalnya adalah sekarang apa apakah sekarang kebijakan atau peraturan ya ee buang sampah itu benar-benar kita diterapkan dengan benar yang sesederhana itulah kebijakannya ada, peraturannya ada, tapi kan enggak pernah dicoba apalagi deval kebijakan publik di kita juga kebanyakan fokus pada output ya, bukan outcome ya, apalagi dampaknya ya. Contoh misalnya program bantuan ya itu tetap tepat sasaran secara desain tetapi bocor dalam implementasi karena datanya tidak mutahir atau datanya mungkin dimanipulasi begitu ya. Jadi banyak faktor di kita yang mempengaruhi kenapa jadi tidak smart polisinya. Nah, masalahnya juga adanya bias ya dalam pengambilan keputusan kebijakan. Contoh yang seringki muncul adalah confirmation bias. Hanya mencari data yang mendukung kebijakan yang sudah diputuskan. Jadi kita putuskan dulu kebijakan baru kemudian kita cari argumentasinya gitu. Ini kan keliru jadinya ya. Jadi kemudian kita juga kadang-kadang oke banyak sekali ee policy paper ya, policy brief segala macam gitu ya. Itu juga kadang-kadang ee sesuai pesanan begitu ya. Jadi policy brief yang memang mendukung untuk ee sebuah kebijakan itu keluar. Nah, ini yang seringkiali kalau kita di pelatihan analis kebijakan ee saya sarankan bahwa ee setiap analisis kebijakan itu tidak boleh bohong tapi boleh salah begitu ya. Tapi enggak boleh bohong. Kemudian adanya political bias ya, kebijakan demi popularitas jangka pendek ya. Ya, ini diskusi yang menarik ya kalau bicara political bias. Kemudian juga ada status quas ya. Menjaga status qu ini malas kita. Udahlah kebijakan yang lama walaupun enggak efektif ya kita terapkan aja terus-menerus ya. Padahal smart thinking itu menuntut keberanian untuk mengoreksi diri ya. Jadi kita ya di pemerintah gitu ya ini harus membuka diri ya kita harus terima koreksi dari masyarakat karena sejatinya adalah yang kita layani adalah masyarakat kan begitu. Kalau kita sudah enggak mau dikoreksi ya, akhirlah terjadinya bias. Studi kasus di Indonesia misalnya subsidi energi. Masalahnya misalnya kita ambil adalah subsidi BBM yang terlalu besar ya sehingga apa membebani APBN dan tidak tepat sasaran karena subsidinya diterata dinikmati oleh mereka yang mampu begitu. Nah, smart thinking yang kita kembangkan adalah bahwa perlu adalah analis perlu adanya analisis data penerima manfaat. Kemudian kita simulasikan ya dampak fiskalnya dan sosial begitu. Dan smart polisinya bagaimana? Pengalihan subsidi ya subsidi BBM ke bantuan langsung ya dan program-program sosial. Nah, pelajaran yang bisa kita ambil ya dari ee kasus subsidi energi ini adalah kebijakan populer belum tentu adil ya. Subsidi kan kita senang kalau harga bensin murah ya, harga ee solar murah gitu ya, tapi belum tentu adil. Sekarang kita tentu masih bisa melihat di faktanya di masyarakat siapa yang menikmati Pertalight, siapa yang menikmati solar, begitu kan? Apakah dirasakan adil atau tidak? Nah, itu dia dan data dan komunikasi publik sangat menentukan keberhasilan ya. Nah, ini dia ee kasus subsidi BBM. Contoh yang kedua status ee kasusnya adalah penanganan stunting. Stunting itu di awal ya dianggap hanya masalah kesehatan ya ketika anak tidak tumbuh ya secara normal tingginya, berat badannya dan seterusnya. Wah, ini kaitannya dengan kesehatan. Padahal cara berpikirnya harusnya kan kita kita sudah rubah stunting adalah masalah multidimensi. Dia berkaitan juga terkait dengan gizi, terkait juga dengan sanitasi, pendidikan, kemiskinan gitu ya. Sehingga smart policy yang harus dikeluarkan adalah penekatan konvergensi lintas sektor. Sekali lagi konvergen ya harus ada keterkaitan. Jangan e setiap sektor itu bekerja sendiri-sendiri gitu kan sehingga mengklaim kemudian ya bahwa tingkat stunting turun itu karena saya dinas ini, dinas itu dan seterusnya harus ada yang konvergen gitu kan dan dampaknya penurunan prevalansi stunting di berbagai daerah. Nah, ini adalah smart policy yang kita sudah lakukan ya untuk stunting. Kemudian kita belajar dari beberapa negara di dunia. Contoh di Finlandia di pendidikan smart thinking ya. Masalah pendidikan bukan soal kurikulum semata, tapi kualitas guru dan kepercayaan trust kita terhadap institusi pendidikan. So why finance education system ranks among the best globally? Ini yang menjadi menarik di Finland ya, di Finlandia otonomi sekolah itu sangat tinggi ya. Guru itu sebuah profesi yang sangat punya apa ya nilai tinggi di masyarakat ya punya kelas lah. Punya kelas. Jadi enggak seperti di ya kalau saya buat negara plus 62 ini kan gitu ya. guru yang kadang-kadang ee apa namanya itu ee honorer begitu ya ee masih bergelut dengan ya kebutuhan-kebutuhan dasar. Ini yang harus kita rubah sebetulnya ya. Kemudian minim ujian nasional. Jadi di sana ya ee apa namanya? Jam waktunya juga belajar sedikit, waktu istirahatnya lebih banyak. Tapi kenapa kok kualitasnya lebih bagus? ini menjadi menarik kualitas pendidikan dingin dengan tekanan rendah sehingga potensi siswa belajar ya potensi siswa itu lebih ee berkembang gitu. Nah, untuk Indonesia berarti reformasi kebijakannya harus menyentuh akar sistemnya. kita tidak bisa bongkar pasang kurikulum ya seakan-akan kalau kurikulum oke kita pakai kurikulum merdeka belajar kurikulum ini ternyata masalahnya lebih dari itu. Nah, ini yang kita bisa belajar dari Ilandia. Kita lihat ee Singapura misalnya terkait dengan kasus transportasi publik ya. Ya, sama si Singapura juga punya masalah yang sama dengan kita macet lahannya terbatas. Saya kira ini Prof. ee problematik di mana-mana ya yang dilakukan apa? Mobil pribadi bukan hak mutlak ya ini diatur ya, tetapi pilihan yang harus diatur sehingga masyarakatnya beralih ke transportasi umum. Begitu. Smart policy-nya bagaimana? Dengan menerapkan eh electronic road pricing ya, ERP ya. Kita katanya sudah mau dibahas tapi enggak tahu sampai kapan. belum ada kejelasannya. Kemudian ada istilah sertifikat kepemilikan kenaraan sertificat of entitlement ya. Nah, Ibu Bapak sekalian kalau di ee apa namanya? Di Singapura itu orang enggak mentang-mentang punya duit dia beli mobil du l dan seterusnya ya suka-suka dia gitu ya. Sekarang kebijakan ganjil genap, ternyata ganjil genap menguntungkan siapa gitu kan. Menguntungkan pedagang mobil gitu ya. Karena orang beli lagi mobil biar platnya beda begitu. Kalau di Singapura enggak, walaupun Anda punya uang entar dulu gitu. Anda punya ee sertifikat kepemilikan enggak ya. Dan di sini bisa lihat Ibu Bapak sekalian ya, semakin apa istilahnya ee jenis mobilnya makin ya ee mewah begitu ya, sedan kemudian ini makin mahal harga sertifikat kepemilikannya ini. Jadi ee kalau di Singapura kalau mau beli mobil bukan hanya langsung ke dealer kasih uang gitu ya, tapi tanya dulu mana sertifikat kepemilikan Anda. Ee jadi ee seperti itu sehingga pilihan masyarakat akan dipaksa untuk menggunakan transportasi publik. Nah, ini saya kira juga yang perlu kita ee belajar dari e Singapura. Di Selandia Baru misalnya ya, ada istilah wellbe budget bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu berarti pada kesejahteraan. Ini sudah dibuktikan di ee banyak negara gitu ya. Intinya kesejahteraan. Jadi jangan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi ya, tapi kita fokus pada kesehatan mental misalnya ya, kesehatan anak ya, kesenjangan gitu. Sehingga pelajarannya adalah indikator kebijakan itu menentukan arah kebijakan ya. Nah, itu Bapak sekalian. Nah, problem dari evidence based policy ya e dalam bukunya ya Nancy Kart Wright dan Jeremy Hardy disampaikan bahwa eh prediksi kita berharap bahwa sebuah kebijakan itu akan berhasil akan smart itu misalnya katakanlah ya it will work here kalau misalnya ada tiga ini bangku yang punya anak kaki tiga gitu ya karena kita berpikir bahwa it worksh itu sudah berhasil di tempat lain kemudian Kemudian support factors are here. Jadi kita juga punya kok faktor-faktor yang mendukungnya. Kemudian berperannya akan bekerja yang sama. Tapi ketika satu asumsinya atau premisnya enggak ada, ini tidak akan berhasil. Jadi Bapak sekalian, kita tidak boleh terlalu gegabah gitu ya. Oke, kita tiru apa yang berhasil di satu daerah, satu negara. Kemudian kita plek-plekan gitu ya. benar-benar ee habis-habisan gitu ya kita tiru belum tentu berhasil gitu. Jadi harus ada ee premis yang sama, harus ada ee apa support yang sama. Nah, untuk Indonesia misalnya ya, smart policy jadi berbasis bukti bukan asumsi. Sekali lagi ya, bukan asumsi. kita seringki pemerintah berasumsi bahwa ee yang dibutuhkan masyarakat A ya, yang dibutuhkan masyarakat B. Kita harus lihat dulu evidence-nya ya. Kita harus belajar kontekstual dengan keragaman daerah. Nah, ini dia. Tidak ada kebijakan yang one fits for all. Katakanlah misalnya kebijakan ee pendidikan misalnya apakah mungkin ya di jangka saya enggak tahu nanti di kita pertimbangkan lagi pendidikan di Jawa Timur apakah sama dengan di Jawa Tengah misal apa di Provinsi DKI ya apakah kesehatan juga sama apakah ee apa namanya perumahan dan banyak hal lainnya ya saya kira ini harus kontekstual dengan keragaman daerah Ada satu kabupaten ya di Indonesia Timur bisa katakan itu jalanannya halus mulus begitu ya. Tapi ternyata masyarakatnya enggak ada yang punya mobil, enggak ada yang punya kendaraan. Jadi buat apa kadang-kadang kita bangun jalan yang sebagus itu? Karena enggak ada manfaatnya juga bagi masyarakat. Tapi dari perspektif pemerintah, oh iya nih jalan kita, kita sudah berhasil membangun jalan sekian ee kilometer gitu. Kemarin kolaboratif lintas sektor ini yang paling sulit juga. sektor kita ego namanya. Saya enggak tahu sampai kapan kita selalu ee apa namanya egosektoral ini kapan pernah selesai begitu ya. Kalau Bapak Ibu lihat kabel listrik kita ya keluar rumah aja Bapak Ibu atau keluar kantor kita lihat kabel listrik di jalanan ya kabel telepon, kabel fiber optik, kabel apalagi di situ ya bulat di situ di tiang-tiang listrik itu. Ya seperti itulah kondisi birokrasi kita ya. ruet enggak mau kolaborasi ya. Padahal apa susahnya sih gitu mereka kerja sama begitu ya ee sehingga punya satu pemahaman yang sama, satu visi yang sama. Untuk smart policy kita adaptif ya terbuka terhadap evaluasi. Jadi jangan jangan alergi dengan evaluasi. Big data ya sekali lagi big data analytics. Terus orientasi kita harus berdampak jangka panjang. Nah, untuk itu Ibu Bapak sekalian, smart policy itu harus kita berbicaranya. Misalnya gini, kegagalan di Bangladesh tadi ya, BNP integrated eh program tadi itu karena ya horizontal search-nya tidak dilakukan. Jadi, faktor-faktor pendukungnya itu tidak di ee apa namanya? Tidak disediakan. Mereka tidak bisa mengidentifikasi semua ee support factors-nya. Apakah kemudian apakah dengan implementasi kebijakan adalah menghilangkan faktor positif dan malah menyebabkan faktor ee negatif yang baru? Kita harus ketika kita menyelar satu kebijakan ya maka kita harus eh perbesar perlebar horizon kita ya. Apa sih faktor-faktor yang bisa mendukung kebijakan? Nah, kemudian eh vertical set juga harus kita lakukan ya untuk menemukan tingkat kausal yang tepat. ya kegagalan di California tadi karena ee hierarkinya gitu ya, hierarki kausalnya itu tidak sama dengan apa yang ada dilakukan di Tes ya. Nah, jadi Bapak sekalian ini ee bahwa prinsip-prinsip ini harus kita ee jaga kita lakukan. Nah, sekarang kita ASN ya dan pengambil kebijakan. Perannya kita apa? kita adalah sebagai policy thinker ya, bukan sekedar pelaksana kebijakan publik walaupun di ASN ya salah satu fungsi kita adalah sebagai pelaksana kebijakan publik. Tapi jangan lupa ya ini Indonesia ini kan sudah sekarang apa eh fenomenanya adalah political technocracy i sebenarnya ya bahwa kebijakan-kebijakan kita lebih dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan politik dibanding kepentingan-kepentingan teknokrasi ya. Dan kita sebagai ASN harus berani sebagai policy thinker membangun kita budaya diskusi berbasis data. Ayo ketika kita mengeluarkan kebijakan ya dinas apa? Dinas apa ya kita datanya mana gitu datanya apa sehingga kebijakan kita tidak berdasarkan asumsi. Kita harus berani menyampaikan evidence meski enggak populer misalnya tapi evidence-nya begini. Masyarakatnya enggak puas. Ada sedikit gangguan ee kendala teknis ya dari sinyal narasumber kedua pada sesi kali ini. Masih akan ada. Oke, Bapak yang lebih penting adalah sebentar kok kepencet ya. Ya, relevance is essential. Jadi eh kebijakan itu harus relevan dengan apa yang ada di kondisi kita masing-masing gitu ya. No policy works everywhere but policy works in context ya. Sekali lagi relevansi. Jadi smart policy kita bicara kalau bicara smart gitu ya bukan yang paling canggih bukan. Kalau kebijakan yang paling membingungkan masyarakat gitu ya ee oh ini berarti smart nih polisinya enggak gitu. Tapi kebijakan yang paling bijak dan yang berdampak dari mana dia bisa keluar? Dari cara berpikir yang jernih ya. Lahirlah keputusan yang adil, efektif dan berkelanjutan. Ya, good policy starts with good thinking and good thinking starts with humility to learn keinginan kita, kerendahan hati kita untuk terus belajar. Pemerintah enggak boleh sombong, enggak boleh mentang-mentang gitu ya. Merasa paling tahu, merasa paling benar. Saya kira kita harus belajar dari banyak hal, bahkan dari masyarakatnya bahkan harum itu yang nomor satu malah. Nah, caranya gimana? Salah satunya kita bisa menggunakan scoping immersion namanya ya. Kita immer dengan masyarakat. Tinggalkan kunjungan-kunjungan apa daerah apa kunjungan kerja dan mbok kita ayo kita ke terjun ke masyarakat langsung kita merasakan apa yang apa masyarakat rasakan. Nah dengan demikian kita bisa berpikirnya dengan jernih. I Bapak sekalian nah di foto ini ya. Sekarang kita eranya apa? Sekarang bisa beralih ke era energi terbarukan, mobil listrik. Sekarang kalau kita beli mobil listrik misalnya, maka yang harus kita lakukan apa? Kita beli, kita pasang meter itu di listrik, di rumah, ya, dan seterusnya. Di sana kalau pemerintah itu mau lebih mendorong, lebih wise gitu, tiang-tiang listrik itu kan ada listriknya. tiang-tiang lampu ya, tiang lampu di jalan, lampu jalan ya, bukan tiang lampu jalan itu kan ada listrik di UK itu sudah di lakukan seperti ini, Bapak. Jadi orang ngecas itu enggak ke SPKLU ya, enggak ke pomension di mana pun dia ya itu kalau pemerintah kita mau serius ya mendorong energi ee terbarukan ya. Nah, ini adalah contoh bahwa yuk kita ke mana kita mau bergerak. Nah, ini saya tutup dengan eh Einstein lagi ya. Einstein katakan ya, "We cannot solve our problems with the same thinking we use when we created it." Jadi cara berpikir kita harus berubah. Mungkin nanti e dari sisi psikologi ya, Bu. Materi yang pertama sudah diuraikan oleh Pakarto ya. pendekatan makro. Di sini kita melihat ee bagaimana di tataran organisasi dirumuskan kebijakan publik yang didasarkan pada proses berpikir bijak dan smart. Ya, kemudian Pak Deni Yunanto tadi juga memberikan ee penjelasan di level MESO atau level menengah. Di sini kita lihat, kita pelajari bersama-sama bagaimana ASN sebagai bagian dari sistem organisasi menerapkan smart thinking dalam perumusan program yang berdampak pada masyarakat. Tadi simpel aja indikatornya gimana sih ee cara kita lihat kalau apa yang kita lakukan itu sudah melalui proses smart thinking atau belum. tadi dijawab oleh Pak Deni, simpel saja dilihat dampaknya di masyarakat. Apakah mereka merasakan dampak tersebut atau tidak dari apa yang kita lakukan. Jika dampaknya positif tentunya Bapak, Ibu sekalian sudah menerapkan proses smart thinking dalam merumuskan dan kemudian merealisasikan apa yang ada di pikiran Bapak Ibu sekalian. Nah, yang saya jelaskan di sini adalah pendekatan mikronya. Nah, orang psikologi sukanya yang mikro-mikro ya, kecil tapi indah gitu. Ee maksudnya mikro di sini adalah bagaimana Bapak Ibu sebagai ASN atau sebagai individu di sini mengidentifikasi karakter bijak dalam dirinya dan bagaimana ee proses berpikir bijak itu dilakukan. Ya, nantinya kita akan mempelajari bersama di sini apa yang dimaksud dengan berpikir bijak. Kemudian apa saja karakteristik individu yang bijak serta bagaimana berpikir bijak dan pengambilan keputusan itu ee punya keterkaitan satu sama lain. Silakan lanjut. Nah, yang pertama kita lihat dulu ya konsep kebijakan nih apa sih gitu. Kebijakan kebijaksanaan ya bukan polusi ya. Wisdom itu pengertiannya adalah kecerdasan. individu. Tiap diri Bapak Ibu sekalian punya kebijaksanaan ini dan ini berlaku umum. Lintas budaya, lintas usia punya, kita semua punya. Dan ini termasuk dalam ee psychological capital ya. Kalau saya boleh bilang dari ee sudut pandang psikologi ini adalah modal psikologis kita yang harus kita kelola dengan baik supaya ee bisa dimanfaatkan dengan ee nilai dampak yang sebesar-besarnya ya. Jadi kebijaksanaan merupakan kecerdasan individu menggunakan pikirannya berdasarkan pada pengalaman dan pengetahuan sebelumnya. Tadi saya masih ingat ya, ada quot-nya Einstein bahwa setelah kita menyelesaikan persoalan ya, kita enggak menggunakan cara yang sama untuk melihat persoalan yang lain. Kenapa? karena kita sudah mengalami proses pembelajaran dan tambahan pengetahuan yang harusnya tidak sama dengan kondisi awal ketika kita menelaah sebuah persoalan ya. Kemudian dalam proses ee pembentukan kebijaksanaan dalam diri kita ya ada proses ini kenapa ya monitornya kok kejang-kejang begini ya? Jangan-jangan trouble juga ya. Baik, Ibu. Ee aman, Ibu di sini masih bisa di sini aman sih? Aman ya? Baik, saya lanjutkan. Heeh. Kok saya lihat di sini monitornya kejang-kejang gitu, ya. Oke, saya lanjutkan ya. Jadi, ada proses integrasi. Integrasi ini berarti sinkronisasi ya, keselarasan antara pikiran, perasaan, dan perbuatan. Jadi ini harus dalam satu garis yang sama. Apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, dan apa yang kita lakukan hendaknya sejalan. Kalau kita memang ee ingin mengidentifikasi apakah diri kita itu memiliki kebijaksanaan atau tidak, gitu ya. juga ada keinginan untuk mengevaluasi diri kita sendiri ya ketika kita mengevaluasi atau melihat sebuah persoalan. Dan uniknya di Indonesia ini Sahrani dan Dharma tahun 2022 ini melakukan penelitian ya tentang ee bagaimana cara bagaimana kebijaksanaan itu dirumuskan di Indonesia yang spesifik di budaya Indonesia. Karena Indonesia itu budayanya adalah kolektivism sehingga kita itu selalu berpegang teguh untuk menjaga keselarasan antara kita dengan lingkungan kita. Ya, maka kebijaksanaan ditujukan untuk menciptakan kondisi selaras antara individu dan lingkungannya. Ya. Jadi ini yang dimaksud dengan kebijaksanaan. Ini adalah potensi psikologis kita, modal psikologis kita yang berguna ya ee sebagai bahan kita untuk bersifat resilien, tahan terhadap segala jenis tantangan, tahan terhadap segala jenis persoalan dan ee situasi yang kritis. ini termasuk di dalamnya psychological capital ini. Mohon dilanjutkan ke slide berikutnya. Nah, masih menurut Sahrani dan Dharma tadi ya. Jadi kalau di Indonesia ee ada tiga faktor kebijaksanaan. Yang pertama adalah smart thinking. Smart thinking yang kita bahas ya pada hari ini gitu. Jadi betul panitia menuliskan bahwa smart thinking ini from smart thinking akhirnya bisa keluar ee pembuatan kebijaksanaan yang didasarkan pada kebijaksanaan gitu ya. Karena memang elemen dari kebijaksanaan yang pertama adalah berpikir cerdas, smart thinking. Tapi tidak cukup hanya itu saja ya Bapak Ibu. harusnya juga dilengkapi dengan positif personality, kepribadian Bapak, Ibu yang positif dan kemudian bagaimana Bapak Ibu melakukan sebuah tindakan yang dapat dipercaya atau reliability in acting. Tiga komponen ini yang mendefinisikan bagaimana konsep kebijaksanaan itu spesifik ada di dalam budaya masyarakat kita. Secara umum tiga faktor ini juga ditemukan ya, tapi ee proporsinya akan berbeda-beda di setiap budaya. Kalau di Indonesia proporsi terbesarnya ada pada smart thinking. Jadi saya rasa sudah tepat ya eh BPSDM membuat TOR ee belajar bersama pada sesi ini untuk di smart thinking karena memang itu adalah eh komponen yang paling penting untuk membentuk pola pikir bijaksana. Selanjutnya. Nah, di sini yang dimaksud dengan smart thinking. Saya minta Bapak Ibu juga melakukan proses ee refleksi gitu ya. Apakah saya memiliki ini gitu karena saya yakin Bapak Ibu nanti akan berhadapan dengan ee masyarakat, dengan komunitas. Coba dipikirkan kembali karena di sini adalah bagian saya menjelaskan secara mikro gitu ya. Apakah benar Bapak, Ibu memiliki karakteristik-karakteristik seperti ini? Ya, yang dimaksud dengan smart thinking ya, Bapak, Ibu punya prinsip yang kuat, punya kepemimpinan untuk dirinya sendiri, bisa mengelola dirinya sendiri dengan baik, ya. Kemudian bisa dijadikan contoh panutan bagi masyarakat. coba diintrospeksi apakah ee karakteristik seperti ini ada pada diri Bapak dan Ibu sekalian. Kalau ada aman ya. Kemudian juga tidak mudah menyerah ya, konsisten terhadap tujuannya. Kalau menghadapi hambatan ketika menghadapi masyarakat yang susah untuk didekati, Bapak, Ibu tetap dengan tujuannya menggunakan strategi yang berbeda, berpikir ulang, kemudian juga ee tetap ya pada tujuan dan target yang ingin dicapai. cerdas, kompeten berpikiran maju ya, terbuka, kritis, kemudian juga memiliki pengetahuan yang bisa diandalkan. Bapak, Ibu dapat memberikan pencerahan kepada stakeholder terpenting ee dalam pekerjaan Bapak, Ibu yaitu masyarakat ya. Kemudian juga berpengalaman menunjukkan pengalaman yang memuaskan ketika berhadapan dengan masyarakat dan memberikan pelayanan. Bapak, Ibu juga hendaknya memiliki kemampuan untuk memberikan saran, memberikan masukan kepada orang lain, baik itu kepada masyarakat, kepada rekan kerja Bapak Ibu sekalian, juga kepada organisasi. Kemudian kemampuan untuk mengevaluasi diri Bapak Ibu sendirian. Bapak Ibu sendiri ya mengetahui apa kekuatan dan kelemahannya ya. Saya kira ini adalah karakteristik ee idaman ya semua ASN. Kebetulan saya juga terlibat dalam pembuatan ee soal seleksi CASN ya. Kami para psikolog di Indonesia biasanya dikirim ke Jakarta setiap tahun untuk ee merumuskan apa saja karakteristik sosiokultural yang diharapkan ada dalam diri ASN ya. sehingga kami buat soalnya berupa ee situational judgment test dengan menggunakan indikator ee perilaku yang sudah menjadi baku ya, sudah menjadi standar utama di situ. Selanjutnya mohon di lanjutkan. Nah, komponen yang kedua adalah kepribadian yang positif. Ya, di sini coba ditelusuri Bapak Ibu sekalian apakah Bapak Ibu memiliki perhatian atau ketertarikan ya terhadap persoalan publik daripada diri kita sendiri. Ya, coba dilihat apakah ketika kita berinteraksi apakah kita masih mengedepankan kepentingan diri sendiri. Saya harap tidak ya, karena itu bukan bagian dari kepribadian yang positif. Kemudian taat pada aturan. Bapak, Ibu juga hendaknya punya kepribadian yang rendah hati ya. Ee kalau kita menampilkan hedonisme itu saya kira jauh sekali ya dari ee rendah hati gitu ya. Kemudian ee berbicara secara halus ee tahu pendekatan yang tepat untuk berbicara kepada publik. tentunya publik yang akan dihadapi oleh Bapak Ibu punya segmentasi yang berbeda-beda dengan dan membutuhkan strategi berbicara yang variatif juga sopan ya, kemudian ramah dan kalem gitu ya. Jadi enggak mudah terpicu ee emosinya. Bapak, Ibu hendaknya sebagai bagian dari kepribadian positif ini juga ee senang ya membantu orang lain. Jadi, kami juga ada indikator untuk ASN itu em concern to others need ya. Jadi keinginan kita untuk merespon kebutuhan orang lain ya. Jadi kepekaan kita terhadap kebutuhan orang lain. Kemudian juga rela untuk berkorban ya punya passion atau punya ketertarikan, semangat untuk memberikan pelayanan yang terbaik terhadap orang lain. Simpel ya, tidak mengada-ada ya. Saya paham untuk ASN yang sekarang di Jensi pasti punya second account ya yang tidak bisa diakses oleh atasannya gitu. Tapi hati-hati second account Anda ee pada saatnya juga akan bisa merubah kepribadian Anda gitu ya. Jadi lebih baik kalau punya account ya sudah cukup satu saja hidup seadanya. Memang itu harus selaras antara apa yang Anda pikirkan yang Anda lakukan ya. mudah memaafkan ya, mau memaafkan orang lain. Nah, ini tadi berkaitan dengan ego lintas oral atau kalau yang dikenal di konsep psikologi namanya silentality ya. Kita enggak mau kolaborasi sama bagian yang lain karena kita ngerasa kalau bagian kerja kita ini yang paling ngasih kontribusi yang paling oke gitu ya buat ee perusahaan. Padahal kan tidak semestinya seperti itu. Kita harus mau berkolaborasi gitu ya. Kemudian mencintai ee kedamaian juga bisa memahami apa yang menjadi persoalan orang lain. Bertanggung jawab konsisten, memiliki komitmen yang kuat gitu ya. Kemudian mempertahankan integritas Bapak Ibu ketika bekerja. percaya diri ee mampu untuk mengekspresikan pendapatnya, menyatakan pendapatnya, mandiri, mudah untuk beradaptasi, berempati. Ya, sekali lagi ini kaitannya dengan bagaimana kita memahami apa yang dialami oleh orang lain, baik itu masyarakat yang langsung terkena imbas dari pekerjaan kita gitu ya, ataupun rekan kita yang terdekat di organisasi. Kita lanjut ke komponen yang ketiga. Nah, di sini Bapak Ibu harus ada konsistensi antara apa yang Bapak Ibu pikirkan dan apa yang Bapak Ibu lakukan ya. Pertama di sini Bapak Ibu harus memiliki kemampuan untuk melihat sebuah persoalan dari berbagai sudut pandang ya. Kemudian secara hati-hati merumuskan respon apa yang tepat. Silakan dipikirkan apa dampak dari keputusan yang Bapak Ibu ambil. Berhati-hatilah di situ. Manajemen risiko harus tetap dikedepankan. Apa yang terjadi jika saya jalankan ini? Siapa yang terdampak? Dampak positifnya apa? Dampak negatifnya apa? Ya. Kemudian berani mengambil keputusan yang memang seharusnya untuk menyelesaikan sebuah persoalan. Di sini juga Bapak Ibu diharapkan untuk bisa mengontrol emosi ya. Jadi kecerdasan emosi pun di sini juga ee ikut berperan ya, Bapak, Ibu. Ee harus bisa berpikir positif gitu ya. Bisa jadi program yang Bapak Ibu jalankan saat ini tidak terlihat tidak bermakna gitu ya ee kalau dibandingin dibandingin dengan apa yang dilakukan oleh rekan-rekan Bapak Ibu sekalian. Tapi sekali lagi jangan dilihat seperti itu karena yang menjadi patokan kita adalah ee apakah yang kita lakukan itu punya dampak yang positif. terhadap masyarakat tu. Kemudian juga Bapak Ibu harus menghargai ee diri sendiri dan juga orang lain jika mengalami kegagalan. Ee jangan melabel bahwa Bapak Ibu tidak becus, tidak kompeten. Coba dilihat apakah situasinya sama pendekatan tadi yang diajarkan oleh Pak Deni gitu ya. Jangan-jangan ee situasinya sudah berbeda. Jadi bangku yang tadinya punya kaki tiga itu salah satunya tidak seimbang gitu. Jadi kita evaluasi belum tentu pendekatan yang sama bisa diterapkan pada situasi yang kita hadapi saat ini. Ya, Bapak Ibu juga diminta untuk bisa bekerja bersama mendengarkan orang lain pendapatnya seperti apa, termasuk mendapatkan masukan dari masyarakat. Jika memang ada yang salah ya kita mengaku saja bahwa kita salah mungkin melakukan diagnosis di awal. Kemudian juga ee salah mungkin dalam hal teknis ada kekurangan kita akui kemudian kita minta maaf kepada masyarakat. ee kemudian kita minta saran kepada mereka bagaimana cara memperbaiki pendekatan yang paling efektif seperti apa. Nah, ini adalah karakteristik dari ee kebijaksanaan ya, Bapak Ibu. Jadi, ada tiga komponen yang saya jelaskan sebelumnya. Kita lanjut. Nah, kebijaksanaan dan pengambilan keputusan itu berkaitan satu sama lain. Tadi sudah dijelaskan di level MESO ya oleh Pak Deni. Itu di sini ada dua model kebijaksanaan. Yang pertama analitikal. Analytical itu proses kita berpikir dengan m-breakdown sebuah persoalan yang ee besar menjadi bagian-bagian yang kecil dengan menggunakan database. Tadinya ee tadi sempat saya lihat gitu ya, data yang digunakan adalah big data kalau sekarang sehingga kita bisa punya wawasan gitu ya. ee data tersebut bisa kita gunakan untuk mengambil sebuah kebijakan yang dampaknya bisa lebih dirasakan. Kemudian kemampuan kita untuk berpikir abstrak. Di sini maksudnya berpikir abstrak adalah membayangkan bahwa setelah kita pilah menjadi hal yang kecil-kecil ya, apakah faktor ini punya ee hubungan sebab akibat atau mungkin menjadi bagian dari faktor yang lainnya. Ini adalah kemampuan kita untuk berpikir abstrak. Yang kedua, model kebijaksanaan adalah sintetik. ya sintetik ini kemampuan untuk menyimpulkan kita melakukan refleksi terhadap elemen-elemen kecil itu tadi ya. Setelah data itu kita pilihpilih ee pilah-pilah gitu ya menjadi data yang kecil kita ambil kesimpulannya. Kemudian juga eh emotional empat gitu ya, kepedulian kita. Jadi ini adalah bagian dari konteks kontekstualnya kita melakukan ee pemahaman terhadap konteks permasalahan. Kita kaitkan dengan datanya seperti apa ya. Nah, yang menarik ini dari penelitian Takahasi gitu ya. Di lintas budaya ya usia menentukan cara kita menerapkan model kebijaksanaan yang mana ya. Jadi kalau di Indonesia tadi angka harapan hidupnya sampai dengan 75. Ini penelitian ini ada di US dan Jepang gitu ya. US dan Jepang sama saja ee pada usia dewasa lanjut ya yang banyak difungsikan di sini adalah proses berpikir sintetisnya menjadi hal yang wajar karena di usia ini Bapak Ibu sekalian sudah punya pengalaman hidup yang banyak gitu ya. usia dewasa lanjut. Kalau di Indonesia ee dewasa lanjut itu dimulai usia 55 ke atas gitu ya. Dan punya helicopter view ya karena sudah mengalami berbagai pengalaman ups and down gitu ya. Jadi paham oh kalau seperti ini berarti nanti apa yang akan terjadi gitu. Nah kalau di middle age yang rata-rata usianya 45 tahun yang banyak dipakai adalah proses berpikir analitiknya. Nah, kaitannya apa dalam perilaku kerja Bapak Ibu di lingkungan ASN? Ya, akan menjadi sangat harmonis jika Bapak Ibu ketika melibatkan proses berpikir seperti ini meminta masukan ya dari pihak-pihak yang sudah punya pengalaman yang lebih kompeten untuk menelaah sebuah persoalan dan merumuskan kebijakan. karena proses berpikirnya beda. Kecuali Bapak Ibu ee setelah ini paham bahwa oh saya berarti harus mulai melatih proses berpikir sintetis saya gitu ya. Ee mulai melihat dan mempelajari data dengan lebih komprehensif dibandingkan proses berpikir analitiknya. Nah, ini yang bisa saya sampaikan dari pendekatan individu ya ee dari segi bagaimana karakteristik berpikir kritis ada dalam diri Bapak dan Ibu sekalian sebagai ASN. Silakan jika ada yang mau ditanyakan. Ini adalah referensinya ya Bapak Ibu. Kalau mau mendalami boleh di halaman selanjutnya panitia. Ya, ini adalah referasinya. Sahrani dan Dharma ini adalah peneliti di Indonesia. Jadi, dia menjelaskan bagaimana karakteristik kebijaksanaan itu bisa berbeda ya di lintas budaya. Tapi temuan mereka semua mengkonfirmasi bahwa elemennya tetap sama di tiga itu tadi. Hanya memang karakteristiknya dijabarkan secara lebih rinci. Silakan Bapak Ibu jika ada yang ingin ditanyakan. Saya kembalikan kepada selaku moderator untuk memandu. Baik, terima kasih Bu Gresi untuk pemaparan materi di segmen ketiga ini ya. Jadi untuk sobat ASN seluruhnya yang siang hari ini sudah mengikuti dari awal narsum pertama hingga narsum ketiga ini, kami persilakan untuk di segmen ketiga ini. Apabila ada yang ingin bertanya lewat ee kolom komentar atau mungkin mau bertanya langsung dengan Ibu Gresi kami persilakan. Jangan lupa sekali lagi saya ingatkan untuk sobat ASN mengisi absen di semestabangkom.id ya. Dan untuk seluruh penanya yang sudah bertanya pada webinar seri ee webinar ASN seri 2026 ini nantinya akan mendapatkan souvenir. Jadi silakan kepada Bapak Ibu apakah sudah ada yang mau bertanya mungkin. Baik, sambil saya tunggu Bapak Ibu yang mau bertanya kepada Bu Gresi ya, Ibu. Saya mungkin mau sedikit cit karena sepertinya kita tetanggaan ya, Bu ya. Oh iya. Oh iya. Ibu di Kenjeran ya. Tangan di mana, Mbak? Iya saya di Surabaya Utara atau timur ya komplek itu ya Pak. Oh situ. BPSDM di mana ya ini ya kantornya ya? Kalau BPSDM sendiri di Surabaya Barat. Surabaya Barat. Saya seringnya main ke BKD itu nantin mahasiswa praktik di situ. Silakan nih sudah ada yang mau nanya ya. Baik, sudah ada satu pertanyaan dari Bapak Maulana Bintang Bahari dari instansi Pengadilan Tinggi Tuin. Betul Surabaya. Silakan Pak. Iya betul Bu. Pengadilan Tinggi Tun. Iya. Silakan Pak I. Halo. Aman. Suaranya jelas. Suara saya masuk ya, Bu. Masuk. Oke, Bu. Eh, Ibu eh izin bertanya. Tadi Ibu kan mmention beberapa hal. Yang pertama adalah two modes of wisdom yang di dalamnya ada the ada analytical sama the sintetic gitu ya. Kalau misalkan tadi kan Ibu sebutkan misalkan eh the analytical itu cara mengolah apa? Berpikirnya menggunakan database eh database ataupun eh reasoningreasoning begitu. Kemudian desintetik itu lebih ke empat dan emotional regulation. Nah, nah yang saya tanyakan ee untuk menggunakan dua mode ini ee itu kapan kita bisa menentukan oh ee kayaknya this time ini ee adalah saat yang tepat untuk kita menggunakan cara berpikir yang analitikal atau kayaknya saat ini tuh lebih tepatnya kita untuk ee mengambil polisi itu menggunakan ee yang mode sintetik itu kapan dan bagaimana kita menentukan kriteria-kriteria case-case tertentu yang ketika kita harus ambil satu polay ee kita oh ini indikatornya ini sebaiknya kalau kasusnya seperti ini kita harus menggunakan e the the analytical way atau oh kalau misalkan kasusnya seperti ini ya I think it's better ketika kita gunakan the synthetic eh synthetic way gitu menggunakan empathy emotional regulation. Nah, itu pertanyaan saya yang pertama. Kemudian yang kedua, tadi Bu juga menyjung soal positif personality. Yang saya mau tanyakan eh apakah positif personality itu merupakan sifat bawaan ataukah positif personality itu hasil dari konstruksi sosial, Bu? Gitu. Lanjutannya saya juga mau bertanya, Bu. Bagaimana sebenarnya kepribadian positif itu berpengaruh pada proses pengambilan keputusan dalam diri seseorang gitu? Terima kasih. Baik, silakan. Baik, pertanyaannya diborong tiga ya, Pak ya. Yang pertama kondisi apa yang jadikan panduan gitu ya, bahwa kita waktunya menggunakan proses analytical ataukah sintetik. Pertama dilihat dulu dari segi keterbaruan sebuah persoalan. Jika itu adalah persoalan yang baru, kita belum punya database yang banyak di situ kita tidak bisa berpikir reduksionis dengan menggunakan sintetis. Tentunya kita juga harus mengeksplorasi data-data lain ya yang bisa kita jadikan acuan untuk memandu kita merumuskan sebuah kebijakan. Tapi jika novelty-nya itu enggak ada, ini adalah persoalan yang berulang ya, Bapak, Ibu dapat menerapkan proses berpikir yang sifatnya sintetik. Sintetik di sini maksudnya kita melakukan ekstrapolasi. Kemarin pendekatannya apa yang berhasil, apa yang tidak gitu ya. Kemudian kalau diterapkan sekarang kondisinya apakah masih sama? Kondisinya seperti itu kemudian sukses faktornya seperti apa? Fil factornya seperti apa? jika mungkin diterapkan cara yang sama, tingkat efektivitasnya seperti apa? Pertama dari segi novelty-nya, ya. Kemudian yang kedua, novelty of the problem. Yang kedua, kondisi yang harus kita pertimbangkan adalah maturity dari anggota atau tim yang kita ajak untuk bekerja sama. Nah, Bapak, Ibu hendaknya lihat bersama di situ apakah ee stakeholder yang terlibat dengan pekerjaan Bapak, Ibu ketika berhubungan dengan proses pengambilan keputusan ini ya punya tingkat kematangan yang tinggi atau tidak. Tingkat kematangan itu dilihat dari bagaimana mereka memahami informasi yang ada dalam sebuah organisasi tersebut dan bagaimana mereka mempersepsikan informasi itu untuk digunakan. ee memproses sebuah permasalahan. Nah, kalau tingkat maturity-nya itu rendah ya, Bapak, Ibu dapat langsung menggunakan proses berpikir yang sintetik. Dalam hal ini kita bisa lebih ee oto otoriter ya untuk mengatakan datanya kita pakai ini saja, tidak usah melebar ke mana-mana, silakan dipahami. Akan tetapi jika stakeholder Bapak Ibu punya tingkat kematangan yang tinggi ya silakan digunakan proses brainstorming. kita analisis bareng-bareng Anda punya data apa dari seksi itu punya data apa kita padu padankan ya karena tingkat pemahaman mereka terhadap informasi dan data itu sudah baik ya. Jadi itu menjawab pertanyaan yang ee pertama Pak Maulana ya. Ini kayaknya trouble network ya. Kok saya keluar kayak nge-freeze gitu Mbak Yuris baik-baik saja kah? Aman, Bu. Aman. Aman. Terjelas. Clear. Terdengar di sini. Oke. Ya. Ee terus tadi yang kedua apa, ya, Pak Maulana? Ya, positif personality ya tadi ya. Iya, Bu. Positive personality. Positive personality itu apakah personality sifat bawaan atau ya I apakah itu sifat bawaan atau ya hasil konstruksi sosial. Oke. Kepribadian pada prinsipnya merupakan karakteristik yang sifatnya menetap. Tapi kami di psikologi percaya bahwa kepribadian merupakan fungsi dari ee dan individu dan lingkungan yang membentuk ya. Sehingga makanya dibilang relatif menetap. Jadi enggak ada ya pakemnya bilang kalau orang berkepribadian sulit itu entar entar dia juga mulai dari level pelaksana sampai kepala bagian akan sulit terus. tidak tergantung pada bagaimana dia disemai di lingkungan yang seperti apa ya. Lingkungan yang supportif dia memberikan ee memfasilitasi orang untuk berkembang tentunya juga akan berkontribusi terhadap perubahan kepribadiannya ya. Tapi kalau lingkungannya negatif misalnya prestasi kerjanya enggak ada ee pengakuannya gitu ya, yang berprestasi malah banyak disyirikin, dikasih kerjaan yang benar-benar enggak enak gitu ya, enggak berhenti berhenti kerjaannya ya. Berarti dia akan ada di lingkungan yang pupuknya tidak baik gitu ya. Maka dia akan berkembang ee negatif terus kepribadiannya. Jadi tidak bersifat menetap, tergantung di lingkungan mana Bapak Ibu ee berada tadi. Terus pertanyaan yang ketiga ee apa ya Mas Maulana? Ee itu tadi Bu, kalau misalkan eh positif personality itu kan Ibu barusan jawab bahwa dia tidak menetap artinya ee sangat tidak harus tergantung dari ee lingkungannya. Kemudian pertanyaan berikutnya eh bagaimana eh positif personality itu berpengaruh pada proses pengambilan keputusan yang sulit? Iya. Bagaimana kepribadian bisa berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan? Ee sebenarnya proses pengambilan keputusan tidak banyak terkait dengan kepribadian kita ya, tapi pada fungsi kognitif kita, Pak. kemampuan kita untuk menganalisis, mengintegrasikan data, kemudian menyatukan data itu kembali gitu ya. Akan tetapi proses pengambilan keputusan kita akan sangat dipengaruhi oleh sikap, attitude. Dalam attitude tersebut juga eh ada kepribadian yang berpengaruh. Salah satu contohnya di big personality itu ada kepribadian namanya agreableness. Agabel itu adalah kecenderungan individu untuk bersikap setuju, tidak kritis. Karena dia kalau bahasa anak sekarang namanya people pleasure ya. Jadi kecenderungan untuk udahlah pokoknya asal disepakatin aja daripada nyari konflik sama yang lain gitu. Nah, ini yang membentuk sikap kita terhadap suatu persoalan. Sikap itu merupakan penilaian kita terhadap sebuah persoalan ya. Mempengaruhi sikap kita. Kalau kita punya kepribadian agreableness itu pada akhirnya ketika kita dihadapkan pada persoalan misalnya ya ee misalnya kalau di tempat Bapak apa ya ee PTUN ya. Intinya pada saat dihadapkan pada sebuah persoalan, kita enggak lagi berpikir bahwa kita ada di pihak yang kritis untuk menyelesaikan atau memberikan solusi terhadap sebuah persoalan. Kita akan melihat orang-orang ngelihat persoalan itu kayak gimana sih? Oh, setuju. Kalau setuju ngapain saya rasa bahwa saya harus enggak setuju gitu kan. Meskipun sebenarnya setuju itu melawan prinsipnya dia, tapi karena dia punya agraabess yang tinggi, dia people pleasure, dia enggak mau mengecewakan orang lain, pada akhirnya dia akan mengikut pendapat yang terbanyak seperti itu. Itu, Pak. Contohnya bagaimana kepribadian juga sedikit berkontribusi terhadap proses pengambilan keputusan. saya bilang sedikit karena sebenarnya yang berperan banyak di sini adalah proses atau kemampuan kognitif kita. Baik, sudah terjawab ya Mas Maulana untuk pertanyaan-pertanyaan yang sudah diberi dan juga nomor WhatsApp-nya ya, Mas ya di kolom chat, di kolom komentar. Baik, Ibu Gra ya. Di chat. Oh, di kolom chat. Di kolom chat. Betul di kolom chat. Oke, eh terima kasih sudah berkenan menjawab pertanyaan dari sobat ASN pada siang hari ini. Dan untuk closing materi ketiga kali ini Bu kami silakan. Baik untuk closing statement-nya Sobat ASN dengan mempelajari apa itu karakteristik kebijaksanaan. Saya harap Sobat ASN juga bisa mengidentifikasi ya karakteristik apa yang ada untuk kemudian dioptimalkan untuk membentuk karakter ASN yang bijak, menerapkan cara berpikir yang cerdas gitu ya. kemudian juga memiliki kepribadian yang positif serta memiliki tindakan yang konsisten dengan apa yang dipikirkan. Saya sangat berharap ee pada materi yang saya sampaikan kali ini bisa membantu para sobat ASN untuk mengidentifikasi karakteristik dalam diri masing-masing sehingga kita tahu apa saja yang harus kita tonjolkan ketika kita melakukan pelayanan terhadap publik. memenuhi kebutuhan komunitas dan masyarakat di sekitar kita. Itu Mbak yang bisa saya sampaikan. Kurang lebihnya saya mohon maaf dan terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Terima kasih Mbak Yuris. Dengan senang hati Bu Gresi. Sampai ketemu lagi mungkin di seri webinar ASN belajar yang selanjut-selanjutnya. Terima kasih. Salam sehat, salam hormat untuk keluarga. Salam sehat untuk semuanya, Sobat ASN. Baik, untuk seluruh sobat ASN yang sampai saat ini masih tetap ee menyimak seluruh rangkaian acara, seluruh materi yang diberikan oleh para narasumber dan juga harapan saya, harapan kami di sini seluruh materi ini bisa membawa dampak, membawa manfaat ya. karena semua materi yang diberikan oleh para narasumber sangat-sangat insightful sekali. Nah, sekali lagi jangan lupa untuk yang belum absen silakan absen terlebih dahulu di semestabangkom.id ya karena nanti bisa tidak mendapatkan sertifikat kalau enggak absen ya. dan juga kepada seluruh penanya saya ingatkan sekali lagi untuk tidak lupa menulis nama lalu dari instansi mana dan juga ee nomor telepon atau nomor WhatsApp yang bisa dihubungi untuk pengiriman souvenir atau merchandise dari BPSDM Jawa Timur. Untuk itu langsung saja saya akhiri webinar ASN belajar seri 2 2026 kali ini. Saya Yuri Sabrina pamit. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kami mencoba menjadi yang terbaik. Melayani bangsa dengan sepenuh hati. Berhak kami junjung teguhkan diri dan jadikan pedoman serta kekuatan. Hadir di sini untuk mengabdi laksanakan tugas ke bangga negeri. Memerasi melayan bangsa dengan akuntabilitas tinggi. Hindi. Suka dengan hati tunjukkan kompetensi dalam harmoni. melayani bangsa loyal tanpa batasannya telah berkolaborasi bergandeng tangan satu tujuan untuk menjadikan ASN lebih berakhlak bekerja sepenuh hati tulus membantu sesama dengan bangga kami melayani bangsa Kami dari sini tegas dengan hati. Tunjukkan kompetensi dalam harmoni. Layani bangsa loyal tanpa batasannya. Kalau ada dan berkolaborasi bergandeng tangan satu tujuan untuk menjadikan ASN lebih beragam mengerjas penuh hati tulus membantu sesama bila kami melayani bangah kami melayani kami melayani B