MEMBANGUN BUDAYA PENGELOLAAN SAMPAH
oQizSVqvpwE • 2024-02-10
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
baik hari ini kita kembali lagi nih
bertemu di rangkaian acara webinar
bersama sayaana selaku MC sekaligus
moderator yang akan memandu acara ini
dari pukul 00 hingga pukul
11dillah kita hari ini merupakan webin
pert nih yang diselenggarakan oletik
ulang
proones di tahun
2024ah
kemareng 23 webinar pada tahun 2023
kemar acara webinar kita pada hari ini
mengusung tema membangun budaya
pengelolaan sampah yang akan disampaikan
ole pemateri kita pada hari ini yaitu
bapak
drara ini diselenggar
oletik yangjaama dengan universitas
islamonesianyau datang dan juga
memberikan salam hormat saya kepada
pemateri kita pada hari ini yaitu bapak
drd lalu kepada bapak Dr hijrahra SM
selaku founder dari butik ulang pro
Indonesia sekaligus sekretaris jurusan
Teknik Lingkungan universitas
islamonesia dan juga tidak lupa kepada
bapak ibu peserta webinar pada hari yang
berbahagia
ini sebelum masuk ke materi weinar kita
saya Ingatkan Untuk Bapak Ibu sekalian
untuk dapat pengisi daftar hadir atau
presensi di Link yang telah admin kami
kirimkan di kolom Chat Zoom ya Bapak Ibu
sekalian kemudian Dengan hormat saya
juga ingin meminta kesediaan Bapak Ibu
sekalian untuk dapat menonaktifkan
mikropon selama kegiatan ini berlangsung
supaya kita semua dapat menikmati materi
yang disampaikan dengan baik
baik Oh selanjutnya sebelum kita masuk
ke acara inti kita yaitu penyampaian
materi akan ada sambutan dari bapak Pak
Dr hijrah Putra S selaku founder dari
butik daur ulang Project Indonesia
sekaligus sekretaris jurusan Teknik
lingkukan Universitas Islam Indonesia
baik langsung saja waktu dan layar kami
persilakan baik Terima kasih Mbak
mudah-mudahan suara saya sudah terdengar
dengan jelas ya Bismillahirrahmanirrahim
asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh
bismillahamdulillahillah Eh tentunya
selamat pagi salam sejahtera untuk kita
semuanya yang saya hormati bapak Dr
Iswanto
ee teman-teman panitia serta Bapak Ibu
ee peserta webinar membangun budaya
pengolahan sampah pada hari ini e Sabtu
10 Februari 2024 mudah-mudahan kita
semuanya dalam kondisi yang sehat
bersemangat dan siap untuk mengikuti
webinar ee Sabtu ya 2 minggu yang
dilakukan oleh EE butik da ulang Project
B Indonesia dan jurusan Teknik
Lingkungan ee Universitas Islam
Indonesia Eh benar sekali Bapak Ibu ini
adalah kesempatan pertama di tahun
2024 mudah-mudahan ee bisa lancar bisa
sesemangat pada saat melaksanakan
berbagai macam topik webinar di tahun
2023 yang lalu gitu ya dan mudah-mudahan
20 24 ini juga akan membawa perubahan
yang baik juga ya terkait dengan
pengolaan sampah yang ada di Indonesia
gitu ya dan di Februari ini kita juga
akan memperingati hari peduli sampah
nasional beberapa hari lagi sebuah
kejadian yang luar biasa di ee suatu
daerah yang merenggut nyawa cukup banyak
gara-gara persoalan sampah mudah-mudahan
dengan semangat kita untuk membangun
budaya pengolahan sampah yang lebih baik
dimulai dari diri kita dimulai dari
keluarga kita dimulai dari lingkungan
terdekat kita dapat menghasilkan
pengolaan sampah yang lebih baik di masa
yang akan datang Eh Topik ini sangat
eh sangat relate ya dengan pemateri kita
ini tokoh yang EE kami kagumi juga kami
banyak sekali belajar dengan beliau di
saat masih kuliah beliau sudah
berkecimpung di bidang pengolahan sampah
jadi ini adalah salah satu guru kami
yang juga tetap hingga saat ini
konsisten ya dalam melakukan pengololaan
sampah memberdayakan masyarakat ee di
berbagai macam lokasi dan Bapak Ibu
mungkin sudah tidak asing lagi dengan
desa sukunan yang ada di Yogyakarta
mungkin juga sudah pernah berkunjung dan
EE beliaulah yang memulai desa sukunan
mudah-mudahan materi hari ini
eh dapat menyemangati kita semuanya
memulai dari hal-hal yang sederhana dan
bisa terus konsisten bermanfaat kepada
masyarakat ya
eh seperti layaknya webinar Project B eh
seperti biasanya G ya kita mulai tepat
waktu dan tidak perlu lama-lama untuk
sambutan agar materi inti kita bisa
Dengarkan dengan baik dan bisa
bermanfaat kepada Bapak Ibu semuanya
Dengan mengucapkan
Bismillahirrahmanirrahim webinar
membangun budaya pengolaan sampah pada
hari Sabtu 10 Februari 2024
ee resmi untuk dibuka dan mudah-mudahan
bisa bermanfaat untuk kita semuanya
Terima kasih sekali lagi pak Iswanto
atas waktunya dan mudah-mudahan bapak
ibu dapat mengikuti dengan baik dan
jangan khawatir kita juga live streaming
di YouTube dan nanti bisa diikuti
kembali mungkin ada sinyal atau kendala
jadi tetap bisa mengikuti dengan baik
selamat bertugas Mbak Anisa dan tim
mudah-mudahan diberikan kelancar mohon
maaf jika banyak kekurangan wabillahi
taufik wal hiidah wasalamualaikum
warahmatullahi
wabarakatuh Waalaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh Terima kasih
untuk Bapak hijrah yang telah memberikan
sambutannya dan sekaligus membuka acara
pada pagi hari ini Baik eh Bapak Ibu
sekalian kami dari panitia juga
melakukan live
Melu youtube channel kami yaitu di Pro
Indonesia jadiis selamaara weinar ini
berangsung mungkin ada Bapak Ibu
sekalian yang terkendala diom tidak per
khawatir karena Bapak Ibu sealian
jugaetapisaikuti webinar ini mu youtube
channel kamiitu di
Pro selanutnya seperti biasanya ni Bapak
Ibu sekalian hari ini kami juga
menyapkan berbagai
macam
i anyaan terbaik dan du Story Instagram
terunik selama webinar ini berlangsung
untuk pemenang tiga pertanyaan terbaik
nantinya akan kami umumkan di akhir
acara Sedangkan untuk pemenang du Story
Instagram terunik akan kami Hubungi
langsung melalui DM
Instagram Nah jadi bagi Bapak Ibu
sekalian yang ingin bertanya nih selama
webinar ini berlangsung itu dapat sekali
langsung memberikan pertanyaannya
melalui kolom chat dengan format nama
kemudian pertanyaan yang inin ditanyakan
dan nantinya akani p terbaik untuk
memenangkan doorpr spesial dari kami
baik ee mungkin tanpa berlama-lama lagi
kita langsung lanjut ke acara inti kita
yaitu penyampaian materi namun sebelum
itu Mari kita simak terlebih dahulu CV
dari pemateri kita
[Musik]
berikut
[Musik]
Iya baik itu tadi sekilas mengenai
pemateri kita pada hari ini mungkin kita
akan sedikit menyapa pemateri kita
terlebih dahulu ya Bapak Ibu sekalian
Asalamualaikum Selamat pagi
Bapak Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh Mbak selamat
pagi segar ini ya
alhamdulillah bapak gimana kabarnya hari
ini Pak Alhamdulillah sehat dan semangat
Alhamdulillah baik Kalau gitu mungkin
kita untuk efisiensi waktu mungkin kita
langsung lanjut aja untuk mulai
penyampaian materinya begitu ya Pak ya
untuk penyampaian materinya waktunya
kurang lebih sampai sekitar jam 1030
begitu ya Pak
ya tanpa bernama lagi mungkin langsung
saja tempat dan layar
kami baik
terimaihillah warahmatullahi
wabarakatuh yang saya hormati pak hijrah
Purnama Pak Dr hijrah Purnama Putra eh
dosen di Universitas Islam Indonesia eh
jurusan teknik lingkungan dan juga
founder butik e daur ulang yang juga
menyelenggarakan Project B Indonesia
luar biasa Kami bangga Eh punya sahabat
yang komitmen dan konsisten untuk terus
e mengawal eh pengelolaan sampah di
Indonesia dan Untuk itu saya juga mohon
izin Bapak Ibu semuanya eh kami juga
terus belajar Jadi kami nanti akan lebih
banyak keesare pengalaman apa yang kami
lakukan dan tentunya juga nanti ee kami
sangat terbuka untuk MI e mendapatkan
masukan atau Apun ya untuk kemajuan ke
depannya untuk itu selanjutnya saya izin
e share screen
mudah-mudahan sudah bisa tampil ya Mbak
Mbak Anisah sudah Pak sudah terlihat Oke
baik ini
ee membangun budaya ya budaya
pengelolaan sampah ini sangat dalam
karena kalau sudah
Ee budaya ini ee tidak hanya melibatkan
pikiran tidak hanya melibatkan otak
tetapi juga sudah
melibatkan hati jadi hati pikiran dan
juga gerakan nyata ya artinya aksi ya
butuh tangan butuh kaki ya untuk bisa
menggerakkan kaki dan tangan itu
ternyata tidak hanya masalah otaknya
pintar Tetapi yang jauh
lebih menonjol perannya adalah justru di
hati karena dengan hati ternyata bisa
menggerakkan tangan dan kaki untuk
bergerak melangkah dan lain sebagainya
Untuk itu kita perlu melihat ee apa sih
sebenarnya budaya
ini dari beberapa literatur memang kalau
sudah berbicara budaya nah ini tidak
bisa dilepaskan dari yang namanya
Kebiasaan kalau sudah membudaya berarti
sudah membiasa artinya sudah Ee
dilakukan
dalam
seharian dan ini biasanya juga ee sukar
diubah tapi untuk membangun budaya ini
juga tidak kemudian instan mungkin Butuh
Waktu waktunya pun relatif ada yang
pendek tapi kebanyakan ya membutuhkan
waktu yang
tidak sedikit bisa bertahun-tahun
bahkan dan ketika kita bicara budaya
maka yang melingkupi
adalah macam-macam jadi ini keseluruhan
yang
Kompleks karena mengkait terkait dengan
masalah
kepercayaannya pengetahuannya bahkan
juga berhubungan dengan seni bahkan
berhubungan dengan hukum moral adat
istiadat dan ini ini ini merupakan ee
salah satu ee ee Apa pengertian dari e
budaya dan apakah pemudian budaya itu
hanya berupa seni budaya yang biasa kita
identikkan dengan seni
tidak jadi budaya ini bisa berupa ide
bisa
gagasan bisa yang kemudian terbentuk
dalam pola perilaku tindakan dan bahkan
juga menghasilkan
karya sehingga budaya ini juga melalui
proses belajar Nah jadi kita memang ee
ketika belajar itu juga nanti bisa jadi
outputnya adalah sebuah budaya atau
kebudayaan
dan budaya itu bisa diwariskan
urun tememurun artinya tidak hanya
dilaksanakan pada saat ini saja tetapi
justru menjadi ciri khas budaya itu
ketika kemudian sudah Ee diikuti
dilaksanakan bertahun-tahun
turun-temurun dari generasi ke
generasi makanya kemudian ciri budaya
ini biasanya bersifat
kolektif kenapa kapa kolektif karena
dibentuk dan berada dalam kelompok
masyarakat sehingga anggota masyarakat
itu
memiliki budaya tersebut dan juga
menjalankan budaya
itu kemudian juga bahwa budaya ini tadi
ee bisa berubah karena tadi ee berkaitan
dengan ee Bagaimana perkembangan di
lingkungan
kita zaman dulu sebelum ee
teknologi informasi maju seperti
sekarang ini barangkali
ee budaya-budaya ini lebih banyak ee
bersifat yang tindakan konvensional
tetapi sekarang sudah banyak juga ee
budaya budaya itu dihiasi dengan
teknologi informasi ini sebagai sebuah
ee media dan metode yang digunakan ee
Ketika kita bicara masalah budaya jadi
ee daydaya itu juga bersifat
adaptif terus mengikuti perubahan namun
tidak sepenuhnya mengubah keseluruhan
nilai yang terkandung dalam budaya
itu jadi misalkan ada ee
kegotongroyongan Ini masih biasanya
mewarnai ya jadi ee komponen sosial
aspek sosial ini juga e betul-betul
masih melekat di dalam ee budaya itu
sendiri kemudian ee bahwa budaya ini ya
dapat diwarisi atau diwariskan
juga yang diwariskan Apa nilai dan
karakter dari generasi ke
generasi sehingga dapat diajarkan dan
dapat
dipelajari ini dalam konteks ee
pengelolaan sampah Nanti saya sampaikan
budaya Apa saja sih yang kemudian bisa
kita
lihat seperti contoh misalnya ketika
kita ee datang atau mengunjungi suatu
tempat di mana suatu tempat itu sudah
memiliki budaya untuk memilah sampah
maka ketika kita hadir di sana maka kita
juga akhirnya
mengikuti budaya setempat dan kalau ini
diteruskan dalam
kehidupan sehari-hari dan kemudian
dibawa kembali ke tempat mereka asal
maka kemudian budaya itu juga bisa
sebenarnya dibelajar atau dipelajari
dari tempat lain kemudian di adopsi di
tempat
kita ya banyak
ee mahasiswa yang belajar ke luar negeri
itu betul-betul tertib ketika berada di
sana karena di sana memang sudah
tercipta aturan dan bahkan juga sudah
menjadi budaya masyarakat setempat ee
dalam pengelolaan sampah sehingga dia
juga mengikutinya karena kalau tidak
mengikuti maka dia bisa dikatakan
sebagai ee masyarakat ABN normal artinya
tidak mengikuti norma-norma yang ada di
situ nah namun Ya ini yang kita
sayangkan bahwa budaya yang sebenarnya
baik itu kemudian ketika pulang itu
tidak dilanjutkan atau tidak di ee
laksanakan dalam kehidupan sehari-hari
bahkan kembali mengikuti ee pola
pengelolaan sampah yang Ee tidak
benar dan sebenarnya budaya ini bisa
menjadi ee identitas
jadi ee sebagaimana ee disampaikan Pak
izrah tadi memang kami sudah mulai
bergerak untuk membangun budaya
masyarakat dalam pengelolaan sampah ini
ini di sukunan di desa wisata sukunan
mungkin bisa digogling ya desa wisata
sukunan ini sudah tahun
2003-2004 dan ini sudah melekat sebagai
identitas sukunan bahwa ketika ee ingat
sukunan maka di situ adalah ingat ee
pengelolaan sampahnya karena memang kita
membangun e spesifiknya adalah ee
berkaitan dengan pengelolaan
sampah Ketika kita bicara budaya maka
kita juga tidak terlepas dari kearifan
lokal ya kita beruntung ya kita
beruntung bahwa Indonesia ini ee banyak
sekali nilai-nilai kearifan yang
bersumber dari masyarakat entah itu
masyarakat tradisional termasuk juga
agama
tentunya dan di kearan lokal ini
sebenarnya menjunjung tinggi etika dan
moral yang tumbuh dalam
masyarakat dan ini banyak sekali yang
berkaitan dengan masalah kelestarian
lingkungan kemudian bahwa kearifan lokal
ini merupakan kebiasaan yang hidup dalam
masyarakat yang diperoleh secara
turun-temurun dan ini sudah
diimplementasikan dipraktikkan dalam
kehidupan masyarakat
jadi ee kalau sudah kearifan lokal ini
ee di situ memuat nilai-nilai yang telah
mendarah
daging bahkan ketika kemudian kita tidak
mengikuti kita
ee mendapatkan ya semacam sanksi sosial
ya karena sudah dianggap tidak umum lagi
di
situ ini beberapa ee contoh ya kearifan
lokal yang EE bisa berupa falsafah
misalnya kalau dijakarta ini ada
falsafah ee hamemayu hayuning
Bawono jadi kita sebagai umat manusia
sebagai khalifah di muka bumi ini wajib
hukumnya untuk menjaga memperindah dan
menyelamatkan bumi di mana kita berpijak
ini kemudian ada lagi Gemi Nastiti
ngati-hati ini ajaran ee dari leluhur
kita ya bahwa kita juga harus
menerapkan ajaran Gemi Nastiti
ngati-ati Gemi itu artinya
hemat Nastiti cermat kemudian ngati-hati
itu
berhati-hati ya dalam hal berpikir
bersikap dan
bertindak Sehingga dalam konteks sampah
ini agar orang tidak banyak
menyampah tidak banyak menghasilkan
sampah jadi ini bisa kita terapkan dalam
kehidupan
sehari-hari
misalnya walaupun kita punya uang
banyakah bukan berarti kita membeli
barang-barang yang
over sehingga nanti banyak yang menjadi
sisa nah artinya Berarti di situ pasti
akan banyak menghasilkan
sampah kemudian juga cermat
cermat itu ee berkaitan dengan bagaimana
ketika kita mau Bali e beli barang ya
harus kita e
berpikir kalau saya beli barang Tapi
cepat rusak maka akan cepat menjadi
sampah Tetapi kalau kita beli barang
yang relatif awet maka juga tidak akan
cepat-cepat menjadi sampah tapi sekarang
banyak sekali Misalkan contoh Lampah ya
lampu listrik lampu penerangan ini ada
yang harganya murah tetapi dalam waktu 3
bulan sudah mati akhirnya sudah menjadi
sampah tapi ada yang mahal tetapi bisa
bertahun nah ini berarti kan juga
kecermatan kita termasuk hal-hal yang
lain-lain kemudian kalau ngati-hati ya
upayakan ketika kita sudah membeli atau
mengkonsumsi barang itu betul-betul
dijaga dipelihara agar tidak cepat rusak
karena begitu cepat rusak maka akan
menjadi sampah nah ini contoh-contoh
yang realistis yang bisa kita laksanakan
dalam kehidupan
sehari-hari kemudian juga ajaran berani
berbuat harus berani bertanggung
jawab ini Misalkan contoh ya berani
Beranak ya harus bertanggung jawab
terhadap anak ya yang dikaruniakan
kepada
kita tanggung jawabnya dalam bentuk apa
ia membimbing
mengajari
menyekolahkan membiayai dan lain
sebagainya maka dalam konteks sampah
berani menyampah ya harus bertanggung
jawab terhadap sampah yang
dihasilkan termasuk
juga membayar iuran retribusi sampah
residu misalnya jadi jangan sampai nanti
kita ee tidak bertanggung jawab terhadap
sampah yang kita hasil
kemudian ini ini saya ingat terus ini ya
ketika sejak kecil saya hidup di desa
ya itu orang tua dan guru selalu
berpesan Jangan membuang kulit pisang di
jalan dan waktu itu televisi pun cerita
anak-anak itu juga
menyampaikan kulit pisang yang kecil
ketika berada di Jalan kemudian terinjak
dan membuat orang yangjak itu terpeleset
maka kemudian terjatuh dan akhirnya
cidera ini sampai sekarang pun itu masih
teringat
terus sehingga kemudian hal-hal yang
semacam ini tentunya harus kita
sampaikan juga kepada anak-anak dalam
konteks sekarang tentunya tidak hanya
kulit
pisang
misalnya membakar sampah itu tabu
gitu membakar sampah itu betul-betul
bisa mencelakakan orang manakala yang
dibakar itu adalah mengandung racun
Misalnya
dioksin dioksin ini kan termasuk
kategori
supertksin Nah kalau hal yang semacam
itu sudah diberikan sejak dini oleh
orang tua maupun oleh guru
maka anak-anak kita sudah akan masuk ke
dalam pikirannya ke dalam hatinya dan
selalu teringat membakar sampah plastik
itu betul-betul dilarang karena akan
bisa menyebabkan Berbagai gangguan
kesehatan termasuk juga kanker dan lain
sebagainya Bapak Ibu dan EE hadirin
semuanya ketika kita tarik ke budaya
pengelolaan
sampah maka sebenarnya di dalam
mengelola sampah ini memang
butuh perubahan pola pikir
mindsetnya mindsetnya yang sebelumnya
barangkali sampah itu ya
dibuang bisa dirubah sekarang pola
pikirnya sampah itu material Bahan baku
untuk sesuatu yang bermanfaat bisa jadi
pupuk bisa kerajinan bisa jadi
macam-macam produk baru lagi dan lain
sebagainya kemudian tentunya juga dalam
bersikap bersikapnya yang tadinya
barangkali hanya sebagai penonton
sebagai seorang yang bisa mengkritik
tetapi tidak tidak bersikap artinya cuek
saja terhadap permasalahan sampah yang
ada di
sekitarnya ya Sehingga ini perlu menarik
kepedulian orang terhadap masalah
sampah ya dan yang paling utama adalah
Pola tindakan
action-nya
amalannya ya amalannya contoh kecil
Kalau sudah
membudaya ketika melihat di sekitar kita
ada sampah
tercecer maka tidak akan menunggu yang
lain mengambil atau petugas kebersihan
mengambil
tetapi sudah akan mengambil secara
reflek dan juga tidak pengin karena
Sanjungan dan lain sebagainya tetapi itu
sebuah menjadi kebiasaan ketika melihat
sampah di sekitar kita langsung kita
pungut dan kita tempatkan di
tempatnya
termasuk pada anak-anak kita ketika
menghasilkan bungkus permen yang bar
biasanya kecil gitu ini pun harus kita
berikan penyadaran kepada anak-anak
Kalau tidak ada tempat sampah di
sekitarnya maka e sakulah yang menjadi
tempat sampahnya sampai kemudian nanti
Ketika menemukan tempat sampah baru
dimasukkan keak sampah itu ini juga saya
alami Ketika anak-anak saya
ee Kebetulan juga menghasilkan sampah
kecil kemudian di saku kemudian ketika
pulang maka dia akan memasukkan ke
tempat sampah atau
ketika istri saya mencuci pakaiannya
maka kemudian dia akan mengecek sakunya
ada sampahnya atau tidak ketika ada
sampahnya berarti sudah penanaman ya
penyadaran sejak di ini ini sudah
masuk jadi lebih baik kita memang ee
Bagaimana mengamalkan ya
tersebut kemudian sistem pengelolaan
sampah yang sudah membudaya ini ya
memang ee
terinternalisasi dan
terimplementasi kadang ini ee ini juga
terjadi ya ketika belum terinternalisasi
dalam
ee
Sanubari ya
seseorang ketika berada di tempat yang
memang di situ tercipta atmosfer
pengeluaan sampah dia
melakukan tetapi ketika tidak dia tidak
melakukan berarti belum
terinternalisasi atau bahkan ketika dia
membuka bungkus
permen ketika refleknya adal masih
membuang begitu saja Berarti belum
terinternalisasi bisa dilihat
Tetapi kalau sudah memasukkan hunggus
permen ke sakunya Wah itu berarti sudah
terinternalisasi karena apa dilihat
orang ataupun tidak refleknya
adalah nempatkan sampah tidak seberang
gu kemudian bahwa pengelolaan sampah
sebagai budaya ini juga sifatnya dinamis
jadi bisa berubah juga sesuai
perkembangan diunan
demikian awalnya dulu di sukunan itu
setelah memilah di di rumah
masing-masing kemudian ee rumah tangga
tersebut memasukkan pada bin atau tong
sampah yang kita tempatkan di pinggir
jalan nah sehingga tugasnya memilah di
rumah dan memasukkan ke tong sampah
secara terpilah
juga dalam perkembangannya
ternyata karena memang yang
berlalu-lalang di jalan kampung itu
tidak hanya masyarakat kita termasuk
dari luar kadang-kadang orang yang dari
luar yang tidak memilahkan juga
memasukkan di
situ kemudian Kemudian kita rubah Oh
berarti Jangan ditempatkan tong
sampahnya di pinggir jalan tapi masukkan
di dalam
pagar Nah itu sehingga bisa terawasi
dengan mudah dan bisa terlokalisir ee
sampah-sampah yang masuk di situ memang
sampah-sampah dari masyarakat
kita dalam perkembangan berikutnya
ketika covid
misalnya ketika pergerakan itu juga
dibatasi maka kemudian yang tadinya satu
kampung itu dalam satu Pul pengepulan
sampah yang sudah terpilah maka kemudian
diubah pengumpulan sampahnya di tingkat
Dasa
Wisma dan lain sebagainya Saya kira ini
ee juga e bahwa Ee kita bisa eh
mengadaptasi ya perubahan-perubahan yang
ada ini e contoh budaya dalam mengelola
sampah pertama adalah bagaimana kita
harus membudayakan untuk mengurangi
sampah atau membatasi sampah dengan
menerapkan re reuse recycle dalam
kehidupan
sehari-hari ini sudah banyak dan sering
Ee kita peroleh ya ilmu atau atau
pemahaman tentang 3 R ini tapi lagi-lagi
memang dalam implementasinya yang masih
e
minim kemudian juga budaya memilah
sampah nah ini perlu ditanamkan di mana
pun berada kalau di kampus saya di
Poltekes Kemenkes
Jogyakarta ini di budaya memilah juga
kita betul-betul Kawal ya dengan sistem
bahkan sudah kita masukkan di dalam
panduan
akademik panduan
akademik bahwa mahasiswa wajib sudah
melakukan pemilihan sampah Buktinya apa
sudah menabung di bank sampah jadi bank
sampah di kampus kami ada empat lokasi
ya termasuk di asrama nah ketika
kemudian sudah dibangun sistem ketika
tidak mengikuti sistem maka ada
konsekuensinya nah konsekuensinya apa
konsekuensinya adalah ya masiswa tidak
bisa mengikuti ujian tengah semester
atau ujian akhir semester manakala dia
belum ada bukti memilah dan menabung di
bank sampah Apakah harus di bank
sampahnya kampus tidak bank sampah yang
ada di tempat tinggalnya pun bisa bahkan
kalau belum ada bank sampah di tempat
tinggalnya ya bisa merintis untuk
menumbuhkan untuk membangun bank sampah
di tempat tinggal mereka jadi Mahasiswa
juga bisa menjadi penggerak di dalam
pengelolaan sampah
ini kemudian misalnya budaya menangani
sampah secara RAM
lingkungan ini ini yang kadang-kadang
EE banyak
dilanggar ketika kita ingat misalnya TPA
piungan ya TP
regionalnya Jogja Sleman Bantul Karta
mantul ini
ditutup maka kemudian betul-betul kita
bisa melihat Bagaimana masyarakat
menghalalkan segala cara untuk membuang
sampah yang penting hilang dari
pandangan mata bahkan juga terjadi ee
betul-betul
ee pemandangan pembakaran sampah di
mana-mana nah ini ber berarti sudah
tidak
lagi mengikuti budaya penanganan sampah
secara ramah
lingkungan kemudian juga budaya
bertanggung jawab terhadap semua sampah
yang
dihasilkan
artinya semua sampah yang kita hasilkan
entah itu yang laku jual yang tidak laku
dijual yang organik maupun nonorganik
termasuk sampah yang masuk kategori B3
tentunya kita harus bertanggung jawab ya
termasuk membayar biaya penanganan
sampah resido sampah yang betul-betul
sampah yang layak masuk ke
TPA sampah-sampah yang laku jual
sampah-sampah yang bisa diolah harusnya
tidak perlu sampai ke TPA karena itu
boros boros transportasinya boros ee
bahan bakarnya boros lahan ya lahan
tpa-nya itu
sendiri
Bapak
Ibu kalau kita lihat perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi dan gaya hidup
masyarakat ini akan berpengaruh terhadap
jenis dan jumlah
S kita ingat waktu dulu ketika minum itu
ya pakai cangkir pakai kap gelas
Akhirnya sekarang sudah banyak sekali
kap-kap yang sekali
pakai dulu kalau tempe itu bungkusnya
daun berkembang sekarang menjadi
plastik dulu kalau kita ee Istilahnya
kendurian ya Ini bungkusnya daun
kemudian berubah kertas sekarang juga
sudah banyak menggunakan
sterofor dan lain sebagainya dulu pakai
tas
belanja sekarang sudah banyak
menggunakan plastik
resek kantong plastik ini betul-betul
perubahan perubahan perilaku
ya akhirnya terbentuk budaya yang
sebenarnya tidak baik untuk lingkungan
tidak baik karena Ee tidak seperti zaman
dulu yang banyakan adalah organik
sehingga bumi tersenyum ketika
mendapatkannya tetapi sekarang banyak
sekali sampah-sampah yang sulit
terdegradasi
terdekomposisi dan ketika masuk ke dalam
tanah maka Pun Menangis
sedih ini dampaknya apa ketika kemudian
tidak tertangani dengan baik sampah
sampah menjadi pemandangan yang
memalukan dan ingat bahwa sebenarnya
Indonesia ini sangat
potensial untuk menjadi destinasi wisata
dunia tetapi manakala kita tidak
mengelola sampah dengan baik maka
pemandangan-pemandangan akan Kemudian
terpolusi tercemarkan oleh sampah-sampah
yang berserakan dan ini Tentunya e kita
prihatin Oleh sebab itu kita harus mulai
bergerak untuk peduli pada sampahnya
sehingga Indonesia yang terkenal dengan
keanekaragaman hayati dan juga bagaimana
ee Indonesia sangat indah ini
betul-betul bisa terjadi
ini contoh ya
contoh kalau yang tinggal di Jogja ini
kilas balik dampak penutupan tpst
piungan ini ditutup hanya dalam waktu
hitungan hari bahkan ya mungkin minggu
ya tidak sampai 1 bulan sudah begitu
banyak pemandangan-pemandangan seperti
ini ya ini
ee tentunya sangat memprihatinkan dan
kami juga Sedih ketika melihat seperti
ini karena ketika kemudian diserahkan
kepada pemerintah pemerintah pun juga
bingung tpst-nya penuh tidak bisa di
digunakan untuk menampung sampah dari
masyarakat kemudian ketika masyarakat
diminta untuk Kab sampah membatasi
lahirnya sampah ternyata juga tidak
dijalankan dengan maksimal sehingga
serakanlah sampah-sampah menjadi
pemandangan yang
mengganggu ya Jadi ini ee betul-betul
menjadi keprihatinan kita Saya kira
tidak hanya di Jogja di beberapa kota di
Indonesia baik di Jawa maupun luar Jawa
seringki kita melihat bagaimana krisis
TPA ee untuk sampah
ini
nah permasalahan pengelolaan sampah ini
memang pertama berkaitan dengan
masyarakat gemar menyampah tapi tidak
mau memilah dan
mengolah jadi ini permasalahan
juga sudah gemar menyampah tapi tidak
mau memilah apalagi mengolah
gitu Ada juga yang sudah mulai peduli
tetapi ketika menghasilkan produk juga
kesulitan untuk memasarkan atau
menjualnya ya kami beruntung ya di
Sleman ini ada peraturan Bupati
kebijakan
Bupati kelompok-kelompok masyarakat yang
mengolah sampah organiknya menjadi
kompos itu dibeli oleh pemerintah nah
ini berarti sudah
Ee menyelesaikan permasalahan pemasaran
gitu kemudian pengolahan masih terbatas
pada Jenis sampah yang laku jual dan
belum secara
komprehensif sehingga sampah residu ini
masih belum tertangani Nah sampah residu
ini ya tidak laku dijual tidak bisa
diolah dan belum diangkut ke TP akhirnya
ya dibakar atau dibuang
sembarangan kemudian juga lemahnya
penegakan aturan atau
hukum ini lagi-lagi ya
pemandangan-pemandangan yang Ee Kita
bisa lihat di
sungai kemudian di pinggir jalan di
tempat-tempat kosong di
bantaran-bantaran sungai di pantai kita
lihat ya Banyak
sekali kemudian pengurus kelompok
pengelola sampah yang sebenarnya sudah
mulai kadang-kadang memang dalam
perjalanannya itu pasti menemukan banyak
rintangan banyak kendala Nah
kadang-kadang akhirnya pengurusnya
mandek
frustasi nah ketika itu tidak dilakukan
pendampingan penguatan lagi maka ini
juga kir
berenti kemudian juga banyak kita
temukan semangatnya itu hanya di
awal-awal saja
hangat-hangat tahi
ayam begitu berjalan ada kerikil-kerikil
apalagi tajam maka kemudian berhenti Nah
inilah ee bagaimana kita mengawal
sesuatu yang memang kita
ee bergeser atau berubah ini ya
betul-betul perlu
pendampingan kemudian juga krisis lahan
TPA ya Sehingga perlu reform reformulasi
ya reformulasi pengelolaan sampah ini
pada intinya bahwa sampah harus
diselesaikan Ini masalah martabat bangsa
ini Ketika nanti kita cuek e terhadap
permasalahan sampah di Indonesia ini
juga akan mempengaruhi martabat bangsa
kita Umuh dan lain
sebagainya nah kembali
lagi kita harus menagih bahwa setiap
orang bertanggung jawab terhadap
sampahnya
ya ketika ketika itu maka kita bisa
kemudian lakukan Kab sampah Setiap
keluarga harus
berencana Bagaimana meminimalkan
sampahnya
ya
batasi
kemudian pilah kemudian
olah nah sehingga ini bahwa perilaku
pengelolaan sampah yang menyimpang tadi
ini bisa menimbulkan
bahaya berbagai aspek yang bahaya
tidakya B bahaya
lingkungan bisa mengancam
keselamatan keamanan ya termasuk
keretakan
sosial konflik ya Bahkan bisa juga
politik gitu artinya bisa berkaitan
dengan masalah ee kepemerintahan karena
banyak sekali ya aksi-aksi demo yang
berkaitan dengan e masalah sampah ini
oleh sebab itu perlu ee budaya
pengelolaan sampah yang baik dan
benar yang baik itu bukan berarti
outputnya hanya terlihat bersih gitu
suatu lingkungan tapi kalau caranya
tidak benar Nah ini berarti sudah tidak
memenuhi aspek budaya
lagi kita berkaca ya kebiasaan saat ini
Kebanyakan orang masih menyanyakan
sampah membenci sampah gemar menyampah
membuang dan membakar masih mencampur
sampah dan juga masih banyak yang
bergantung pada
pemerintah ya ya memang kalau kita
bicara di dalam undang-undang
8 tahun 2008 ini memang pemerintah dalam
pemerintah darerah ini sebagai
penanggung jawab penyelenggaraan artinya
penyelenggaraannya diatur dan lain
sebagainya ini Pemerintah tetapi
laksananya tentunya masyarakat itu
seni nah budaya yang diharap itu dari
menyia-nyiakan ya kalau bisa
mendayagunakan dari membenci ya
menyayangi sampah karena batas sampah
dengan barang yang kita konsumsi ini
sangat tipis sangat tipis kulit pisang
barusan kita makan begitu
sudah kulitnya kita anggap sampah
kemudian seolah-olah menjijikkan padahal
isinya Barisan kita makan Nah kalau itu
dirubah kulit pisang itu disayangi
karena apa ini bisa digunakan untuk
membuat pupuk kompos
misalnya dari gemar menyampah kemudian
berpikir untuk minimisasi sampah Kab
sampah pangannya begitu dari hanya
membuang maka memanfaatkan dari yang
tadinya membakar kemudian mendaur ulang
dari mencampur harus sudah mulai membud
akan memilah Oh Biasanya kadang-kadang
kita anu menunggu yang lainnya juga
enggak mau memilah ya untuk menuju yang
baik kita harus punya konsistensi
diri jangan ikut-ikutan orang yang
memang masih belum ya belum sadar Nah
kalau semuanya ikut-ikutan yang salah ya
kita akan menjadi salah juga maka kita
harus berani mengawali ya harus berani
mengawali karena apa kalau tidak tidak
ada yang mengawali Siapa lagi kalau kita
hanya menunggu yang
lain Kemudian dari yang bergantung penuh
kepada pemerintah tentunya kita harus
mulai berbasis
masyarakat Jadi bagaimana kita juga
mengorganisir masyarakat oleh sebab itu
Bapak Ibu semuanya kita harus menanamkan
budaya minimasi
sampah kalau zaman dulu ini ibaratnya
sampah yang kita hasilkan kita semuanya
kita sampai buang ke TPA maka sekarang
berpikir dulu dalam menentukan pilihan
barang yang kita konsumsi dan lain
sebagainya setelah itu ketika menjadi
sampah Kita juga harus apa yang bisa
kita gunakan lagi gunakan du kemudian
apa yang bisa diolah diolah dulu jadi
konsep reus reus recycle itu betul-betul
bisa kita jalankan sehingga yang masuk
ke TPA itu betul-betul hanya sampah
residu residual
waste sehingga nanti akan terbentuk ya
sistem penanganan sampah di TPA ini akan
lebih sanitary lebih
baik Saya kira tidak perlu saya
sampaikan berkaitan Apa saja sih yang
bisa dilakukan dalam hal minimasi sampah
intinya lakukan 3R ya membatasi lahirnya
sampah dengan
Reus menggunakan kembali recycle
mengolah dan mendaur ulang ini nanti ee
Saya kira bisa dibaca sendiri ee
Bagaimana eh kegiatan-kegiatan yang
sifatnya
eh Rus
ya Yang yang mudah ini ya membiasakan
bawa tas Belnya dari rumah bisa dilipat
kemudian nanti masukkan ke tas sekolah
atau tas ketika kuliah bisa juga ditaruh
di jok motor dan lain
sebagainya kemudian juga menggunakan
sapu tangan dari kain ini ini juga tidak
sulit
sebenarnya reuse ini contoh yang mudah
ini menggabungkan sisa sabun mandi
dengan sabun yang baru ya sehingga tidak
akan menjadi
sampah recyclel banyak sekali aksi-aksi
yang sudah dijalankan oleh masyarakat
kalau dikuna nanti saya ceritakan apa
saja yang EE dilaksanakan di
sukunan nah ini Bapak Ibu pola pikir
pengurangan sampah di
Sumber ketika kita mau menggunakan
produk saja sudah kita pikirkan
bagaimana sampahnya nantinya
gitu nah ketika kita sudah betul-betul
menghasilkan sampah yang kita lakukan
adalah reuse Bisa enggak
diuse kalau enggak bisa dius bisa enggak
ak diolah
dicycle kalau dapat ini berarti akan
mengikuti eh cycle ya mengikuti ee
lingkaran ya lingkaran daur ulang ketika
tidak dapat pun tidak dapat di-reuse dan
tidak dapat
di-recycle laku jual enggak barang
itu laku jual enggak berarti kita juga
penting mempertimbangkan
ketika kita membeli
barang
packagingnya ini termasuk kategori laku
jual atau
tidak karena kalau tidak laku dijual
juga nanti akhirnya cepat menjadi sampah
nah ketika sudah seperti itu kita bisa
berpikir lagi Bisa enggak sih barang itu
diganti atau ada enggak pilihan
lain pilihan
lain barang yang fungsinya sama sama
tetapi yang satunya tadi menghasilkan
sampah residu sementara yang ini tidak
nah Berarti kita bisa memilih barang
yang masih punya lingkaran siklus e daur
ulang karena apa kalau sudah menjadi
betul-betul the real waste sampah residu
maka konsekuensinya itu akan menjadi
beban lingkungan ya karena apa dibuang
ke ee TPS ya Tergantung teknologi yang
kita
gunakan kalau kita ingat undang-undang
18 sebenarnya sudah ada di situ
kewajiban penghasil sampah Setiap orang
wajib mengurangi dan menangani sampah
dengan cara
berwawasan
lingkungan nah ini Jadi kami tekankan
sekali lagi bahwa penghasil sampah harus
bertanggung jawab terhadap
sampahnya dan itu sudah Ee disampaikan
di dalam pasal 12 undang-undang 18
2008 kita
beruntung bahwa sudah ada undang-undang
yang khusus tentang pengelolaan sampah
undang-undang Nomor 18 tahun 2008 ini
sudah cukup lama berarti ini sudah 16
tahun ya
lahirnya benar ya 16
tahun ya ini eh merupakan eh
perubahan ah pengeluaran sampah dari
zaman
jahiliah yang menggunakan sistem kumpul
angkut buang yang mengandalkan TPA yang
berbasis pada pemerintah bertumpu kepada
pemerintah dan juga dampaknya ya TPA
cepat penuh gitu Ini bergeser jadi ini
sudah bergeser
eh
mindsetnya paradigmanya berubah
menjadi pengurangan Ayo kita Kabi sampah
Ayo kita tangani penanganan sampah
karena apa kalau istilah membuang saja
membuang dengan menangani beda kalau
membuang itu cenderungnya adalah Asal
yang penting
dibuang tapi kalau penanganan itu ada
Tata
caranya ya bagaimana cara memilahnya
bagaimana cara
mengumpulkannya Bagaimana cara
mengangkutnya bagaimana cara mengolahnya
sampai Bagaimana cara memproses akhirnya
nah sehingga ee ruh di dalam
undang-undang 18 ini adalah mengutamakan
pengurangan dan penanganan sampah di
sumbernya kemudian juga berbasis
masyarakat kemudian harapannya ee sampah
residu berkurang dan TPA akan menjadi
awal Nah di sinilah bak pentingnya
Bagaimana mengembangkan sistem
pengelolaan sampah Mandiri secara
mandiri ini yang kita terapkan di
sukunan adalah pengolaan sampah Mandiri
produktif ya kemudian ramah lingkungan
berbasis
masyarakat jadi persoalan sampah tadi
harapannya bisa diselesaikan dengan
menggali potensi sampahnya di situlah
nanti akan tercipta lingkungannya bersih
secara ekologinya baik kemudian juga
akan meningkatkan pendapatan
masyarakat Ya ini juga eh Saya kira eh
pendekatan Eku ya ecological Economic
ini sangat penting karena ekonomi itu
juga tidak bisa diabaikan karena ekonomi
juga bisa menjadi penjaga sustainability
menjaga
keberlanjutan Tetapi kalau hanya ekonomi
saja ini juga membahayakan karena uang
itu jahat bisa jadi dengan ekonomi
justru akan kemudian menghancurkan ya
sesuatu yang sebenarnya ee sudah
tertanam tadi karena Apa penyakit iri ya
penyakit ee dengki ini akan menjadi
sifat-sifat yang selalu ada di dalam e
diri
manusia nah Oleh sebab itu ini pengelan
Mandiri berbasis masyarakat ini perlu
kita betul-betul semarakkan Apa itu
pengel sampah Mandiri berbasis
masyarakat adalah penanganan sampah yang
direncanakan dilaksanakan dikembangkan
dan dijaga
keberlanjutannya oleh masyarakat atau
komunitas masyarakat itu bisa
diterjemahkan mulai dari yang paling
kecil Dasa Wisma RT RW Kampung dusun
pondok pesantren dan lain
sebagainya nah ini kunci sukses
pengelolaan sampah Mandiri ya tadi ya
direncanakan oleh
masyarakat masyarakat setiap masyarakat
itu punya
kespesifikan yang berbeda dengan yang
lainnya kemudian ada peraturan berbasis
kearifan
lokal Tersedianya sarana
prasarana kudian ada wadah atau kelompok
yang mengorganisir kemudian dukungan dan
partisipasi masyarakat serta manajemen
kelompok yang
baik Nah kenapa kok perlu pengelolaan
sampah
Mandiri kita akui kita lihat bahwa
kemampuan pemerintah daerah dalam
pelayanan persampahan ini sangat
terbatas biasanya masih cenderung Ke
kota-kota kawasan kota sementara sampah
itu
dihasilkan oleh setiap rumah tangga baik
di di kota maupun di
Desa Sumber sampah paling besar adalah
permukimanya masyarakat Ya ini jadi ee
permukiman ini besar ya
48%. kemudian semakin dekat dengan
sumber maka pengelolaan sampah akan
semakin efisien dan
efektif kemudian sampah memiliki potensi
sebagai sumber daya yang dapat
diberdayakan oleh masyarakat
ya kemudian memang tadi kembali
penghasil sampah Ya wajib bertanggung
jawab terhadap
sampahnya nah ini pengelolaan sampah
prinsipnya adalah peila jadi kata
kuncinya adalah pila pilah mana yang
termasuk kategori sampah lagaku
jual mau didekati dengan sistem bank
bisa mau didekati dengan sodqah sampah
bisa ataupun cara-cara yang lain e
bagaimana sampah laku jual ini bisa
diselesaikan kemudian yang kuning ini
adalah sampah yang tidak laku dijual
tetapi bisa diolah oleh masyarakat ya
tadi sampah organik itu banyak Paling
banyak persentasenya nah sebenarnya itu
juga potensial untuk bisa diselesaikan
di rumah sendiri-sendiri dengan
komposter nah yang menjadi persoalan
adalah sampah yang tidak dapat dijual
dan tidak dapat diolah Nah ini
betul-betul residual
waste-nya apa yang bisa dilakukan ganti
atau
batasi ganti atau batasi ini akan
berjalan dengan baik manakala ada
kebijakan dari
pemerintah Mas sudah banyak ya Beberapa
e contoh ya daerah-daerah yang sudah
menerapkan
Ee tidak menggunakan atau tidak
menyediakan kantong plastik e di tempat
tempat ee penjualan ya misalkan di
miniarket ya di warung-warung bahkan ini
diganti tidak plastik tetapi sudah
menggunakan
kertas beu nah ini tantangan ya Banyak
sekali tantangannya ada kepedulian
kemudian kesadaran kemampuan kemauan
keteladanan kebersamaan dan
keberlanjutan ya E berlanjutan ini yang
kadang-kadang memang perlu betul-betul
menjadi perhatian kita Nah kalau
model-model pengelolaan sampah Mandiri
tadi sudah sampaikan ada sodqah ada bank
sampah bahkan juga ada yang namanya
tps3n nah oleh karena pengelolaan sampah
Mandiri ini ee Tidak seperti biasanya
Tidak seperti yang
dulu maka ini perlu suatu gerakan
membangun budaya baru dalam pengan
samp mungkin Secara teori sudah banyak
tetapi tadi ini yang dirubah tidak hanya
apa namanya pemikiran saja tidak hanya
pola pikirnya tapi juga dalam
bersikap dan juga dalam tindakan inilah
yang eh kita sebut perlu ada agen
perubahan Agent of Change Dan saya yakin
siapun dapat menjadi agen perubahan
dalam pengelolaan sampah di mana pun
berada sekalipun tidak ee belajar Tidak
kuliah yang berkaitan dengan sampah
karena sebenarnya sampah ini tidak sulit
untuk kemudian dipelajari dan
diimplementasikan nah
perubahan-perubahan ini Tentunya ee
perlu menggunakan berbagai macam
pendekatan pendekatan yang utama
tentunya dengan pendekatan
education jadi ini menjadi
landasan
pengetahuan kemudian juga menggunakan
pendekatan aturan ya
rule kemudian juga pendekatan
teknologi teknologinya kalau yang
menerapkan masyarakat tentunya ya
teknologi-teknologi tepat guna kemudian
pendekatan leadership sangat bergantung
kepada eh faktor kepemimpinan nah sosial
ini saya memandang sangat penting sekali
menjadi dasar karena apa sustainability
sebuah program pengelolaan sampah ini
ternyata
adalah banyak
sosialnya ya kalau hanya mengandalkan
ekonomi ekonomi paling menarik tetapi
untuk menjaga
sustainabilitynya ini juga masih
unstable ya Maka kalau sosial
ketika pondasi sosial itu tidak
retak maka itu akan menjaga
keberlanjutan ini kami buktikan di
beberapa
komunitas ya kemudian pendekatan kes
katan dan lingkungan ya healthy and
ecology ini juga penting ya karena orang
sekarang berpikirnya bagaimana agar kita
hidup sehat agar kita kesehatan
lingkungannya sehat baik
gitu nah bapak
ibu langkah membangun budaya pengelolaan
sampah ini memang tantangannya banyak ya
orang biasanya berkata sulit sulit bukan
berarti tidak bisa tapi semakin sulit
maka semakin besar tantangan yang harus
kita gunakan inovasinya juga harus
semakin banyak kreativitasnya harus
lebih baik nah mengubah mindset
dulu dulu di tempat kami orang membakar
sampah itu juga menjadi kebiasaan tapi
manakala kemudian kita sampaikan bahwa
ternyata ketika sampah plastik itu
dibakar menghasilkan macam-macam Racun
Dan sudah diilustrasikan eh dalam e
riset-riset di luar negeri ya bahkan
juga di perguruan tinggi ini ternyata
dampaknya ee sangat
mengganggu harapannya ketika sudah
mindsetnya tercipta maka harapannya bisa
menyentuh
rasa ya perasaannya kemudian akhirnya
bangkit untuk sadar untuk
peduli untuk masalah keterampilan Saya
kira tidak sulit yang paling sulit itu
yang mengubah hati
perasaan nah kemudian ketika sudah
terampilan kita Bekali dengan pelatihan
pelatihan dan lain sebagainya maka
diharapkan kesadarannya muncul
kemauannya muncul kemampuannya ada
sehingga di situlah terbentuk perilaku
kebiasaan dan budaya baru di dalam
pengelolaan
sampah ini juga kita tidak perlu galau
ya ketika kita melakukan ee
gerakan-gerakan ya perubahan ee
perubahan perilaku karena kita akan
dihadapkan dalam masyarakat
itu ada tiga golongan ya kalau tadinya
sudah dirasa nyaman ya dalam kebiasaan
lama Comfort zone kemudian kita berubah
maka kita pasti akan dihadapkan kepada
ee zona penuh pantangan atau bahkan
Danger
Zone ada 20% ini yang langsung menerima
menerapkan
Tetapi ada juga 20% itu langsung menolah
menentang Apun baiknya pasti ada yang
menilai itu tidak
baik kemudian 60% itu biasanya and
menunggu dan melihat yang lain dulu nah
sehingga 60% itu harus bisa kita tarik e
bagaimana kemudian bisa mengikuti ya
gerakan-gerakan menuju ee perbaikan tadi
Nah jadi kita harus siap mental juga
tidak mungkin 100% orang kok setuju
dengan apa yang kita
Gagas dalam ilmu perubahan perilaku ada
tiga faktor yang mempengaruhi e perilaku
masyarakat itu bisa
berubah yang pertama adalah predisposing
Factor ya ini faktor yang memudahkan ya
ya pendidik pengetahuan tadi ya kemudian
enabling Factor ini yang
eh yang bisa mendukung ya terlaksan
perilaku baru itu adanya sarana
prasarana teknologi dan n kemudian
reinforcing Factor ini yang betul-betul
menguatkan agar kemudian kuat ya perlu
peraturan perlu kebijakan perlu ciptakan
kearifan lokal perlu penegakan hukum
sehingga masyarakat itu akhirnya
kemudian
berubah nah memang di negara-negara maju
itu selain e pengetahuan juga penguatan
ini eh peraturan dan penegakan hukum
kalau sudah
Ee peraturan itu dikawal dengan baik
yang yang baik ya diberi insentif reward
kemudian yang tidak baik atau melanggar
itu diberi e
punishment jadi ada konsekuensinya tapi
kalau sama-sama dibiarkan ya akhirnya
kemudian kembali ke ee kebiasaan lama
lagi intinya Bahwa perlu ada gerakan
perubahan dalam pengelolaan sampah jadi
move on bagaimana kita move on maka oleh
sebab itu ya visi pengelolaan sampah
juga sudah jelas sudah ada undang-undang
SDI sebagai guidance
action jangan sampai mimpi cita-cita
melangit tetapi tidak pernah
dilaksanakan atau tidak eh menginjak di
bumi gitu action jadi jangan muluk-muluk
dulu tapi susun program-program
kegiatan-kegiatan yang memang ee
realistis untuk dijalankan kemudian
passion passion itu bagaimana
membangkitkan
dairah semangat antusiasme masyarakat
karena yang namanya Berubah itu kalau
tidak
berlapis-lapis
mentalnya ya maka bisa jadi dia akan
frustasi belum mencapai
cita-cita kemudian juga caboration jadi
collaboration ini eh bekerja sama dengan
berbagai
pihakion tadi ya Kita juga harus bisa
mengidentifikasi masyarakat itu bisa
berantusias dengan cara apa
pendekatannya apa
gitu karena kalau tidak ada pendekatan
yang tepat juga tidak akan menarik dan
tidak akan menimbulkan
antusias nah pendekatan dalam ani tadi
mungkin ada juga yang ee lebih dengan
motif spiritual karena masyarakatnya di
situ mungkin masyarakat yang religius
dan lain sebagainya maka pendekatan
spiritual bisa dilakukan misalnya tadi
dengan sodqah sampah itu mungkin eh akan
menjadi eh metode yang pas ada juga
pendekatan sosial kalau memang di situ
ikatan sosialnya banyak kemudian juga
terjadi
ee relasi sosial yang cukup erat dan
terbangun cukup lama bisa menggunakan
pendekatan
sosial bisa juga menakan pendekatan
ekonomi ya banyak memang kita tidak
pungkiri bahwa ekonomi ini yang menarik
tadi ya kemudian hukum dan politik untuk
kebijakan dan penegakan aturan kemudian
kesehatan Danan dan teknologi tadi nah
sekali lagi Bapak Ibu semuanya ini
faktor penentu
kebijakan faktor sosial menurut saya ini
pondasi
utama faktor ekonomi faktor kepemimpinan
kelembagaan dan faktor sumber
daya ini juga penjaga
keberlanjutan nah ini beberapa inovasi
kebijakan pemerintah daerah ini di
Sleman sudah ada yang dijalankan yang
nomor pembelian kompos ini sudah o oleh
pemerintah pembelian diskon retribusi
ini juga
sudah kemudian yang masih belum setiap
instansi pemerintah
wajib mengurangi sampah memiliki bank
sampah ini belum secara
maksimal kemudian pemberian alokasi
anggaran keluran dengan mempertimbangkan
Tingkat keberhasilan pengelolaan sampah
ini bisa bentuk Renya itu ketika
kemudian beres sampahnya maka
anggarannya bisa ditambahkan untuk desa
atau kelurahan tersebut jadi ada semacam
ee apa namanya motif yang membangkitkan
kita
bergerak
kemudian ada perdes perdes atau
peraturan Kelurahan ya kemudian sampah
organikan sendiri di rumah wajib
gitu
kemudian pengorganisasian sampah mulai
di tingkat RT RW dan seterusnya kemudian
juga pemberdayaan PKK ini sangat
strategis sebenarnya sebagai ujung
tombak dalam pengan sampah karena
ibu-ibu ini biasanya yang masih memiliki
apa namanya kegiatan-kegiatan sosial
arisan pertemuan PKK pengajian dan lain
sebagainya sehingga ee ikatan emosional
antara satu dengan yang lainnya itu
masih tinggi termasuk ini pelarangan
pemakaian
stereofor ini marah ini ya sekarang
marah sekali orang
eh diberi bok dari
stof apalagi kalau di yyakarta ini eh
apa tujuan wisata banyak sekali
ee wisatawan yang datang ke Jogja
kadang-kadang masih menggunakan boknya
dari sterofob Wah ini semakin banyak
Nanti sampah yang
ditinggalkan setelah berwisata nah
sementara TPS kita terbatas Lah ini kan
jadi jadi masalah
gitu kemudian juga kewajiban industri
atau perusahaan atau dunia usaha agar
alokasikan sebagai dana CSR untuk
mendukung keluangan S nah ini juga perlu
didorong ini Pemerintah Daerah bisa
mendorong Bagaimana eh industri
perusahaan yang ada di wilayahnya atau
kalau pemerintah pusat ya Eh
industri-industri besar itu kemudian Ayo
Salurkan csrnya untuk MEB up pengelolaan
sampahnya di situ Jadi Bapak Ibu tidak
akan berubah suatu kaum kecuali kaum itu
sendiri yang melakukan perubahan saya
akan cerita ini bagaimana
dikunan kita ee membangun kesadaran dan
budaya pengelolaan sampah di desa wisata
sukunan terus terang ya ini harus ada
yang mengawali
tadi harus ada yang mengawali dan
Kebetulan saya mencoba
mengawali jadi angka 1000 tanpa adanya
satu di awal maka akan menjadi kosong 1
miliar tidak ada angka satu di depan
sendiri maka kosong Maka jangan
ragu-ragu untuk mengawali karena bisa
jadi dengan awalan yang bapak ibu
lakukan itu semuanya akan menjadi
bernilai dan
berarti dan saya punya prinsip satu
keteladanan lebih berharga daripada
serib
Nas jadi menerapkan inarsng tulod
mangunsri
inijaran k ya kalau kita terapkan
betul-betul sangat
dalam Luwih becik sitik-sitik Ning ajek
ketimbang gede terus mandek jadi lebih
baik kecil-kecil tapi konsisten daripada
penginnya kita langsung besar gitu ya
dengan seremonial yang betul-betul mgar
gitu ya tetapi setelah
itu menjadi sebuah
ee ya sesuatu Monumen kegagalan Ya ini
yang kita tidak mau ya Jadi intinya
kita mulai dari yang kecil kita mulai
dari diri sendiri dan kita mulai dari
sekarang kemudian yang kita asah ya
tentunya Bagaimana otak pengetahuan kita
kemudian hati Kesadaran sikap kita
kemudian juga hand ya perbuatan tindakan
jadi
tiga H keseimbangan 3h ini intinya Talk
do sedikit bicara tetapi banyak kerjanya
Bapak Ibu saya akan mengajak yang belum
kesukunan atau yang pernah juga gak
apa-apa saya mengajak kesukunan sekarang
Pejamkan mata dan sekarang buka matanya
sekarang kita sampai di sukunan Kampung
wisata lingkungan
atauis kita Perintis pengelolaan sampah
Mandiri tidak hanya di yyakarta tapi
dionesiaokasi kita di
perbatasantaraa
dan pantul ya Jadi kalau pernah ke
Poltekes Kemenkes Yogyakarta ini Satu
kelurahan ya ya kemudian KK kita sekitar
300-an ini peta wisata yang kita Rintis
ya tentunya sedikit demi
sedikit
dan sebenarnya kami keluarga pendatang
ya Jadi tidak mesti keluarga pendatang
ini kemudian tidak bisa diterima di
suatu masyarakat kita bisa menjadi agen
of Ching kita bisa menjadi agen
perubahan Kami keluarga
eh mulai tinggal di sekunan itu
1997 kemudian
ketika masuk di sukunan kami dihadapkan
kepada masalah sampah ya karena apa Saya
tidak punya halaman rumah saya kecil
halaman saya sempit jadi tidak dan juga
tidak ada pelayanan sampah seperti di
kota Sebelumnya saya tinggal di kota
Jogja ya mertua di dekat Keraton Jogja
gitu di sana urusan sampah selesai
dengan membayar begitu masuk sukunan
bingung gimana nih ngelola
sampahnya tetangga saya masih banyak
pekarangan-pekarangan luas Sementara
saya enggak punya nah ini yang menjadi e
pendorong juga nah Alhamdulillah tahun
2000 ee petani-petani sudah mulai
komplain juga terhadap sampah karena
sampah-sampah banyak yang masuk ke sawah
dan mereka yang
dirugikan bahkan juga yang rusak sak
padinya pemandangan seperti ini banyak
sekali terjadi ya termasuk di bantaran
sungai termasuk aksi pembakaran
sampah kemudian juga pernah juga ee
terjadi gejala konflik sosial ya sampai
ada yang menulis seperti ini yang buang
sampah di situ mati masuk neraka otak
buntek rezeki seret ini itu hanya orang
peraniaya ini jadi walaupun tidak ada
orangnya ini biasanya takut nah di situ
kemudian saya mencoba ya dalam
kebingungan Saya tererserang bingung
waktu itu hanya saya berta
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:12:15 UTC
Categories
Manage