Transcript
HcbzszOU2gg • Book Launching "Kunci Keberlanjutan PSBM"
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/ProjectBIndonesia/.shards/text-0001.zst#text/0131_HcbzszOU2gg.txt
Kind: captions
Language: id
keadaan sehat dan penuh semangat.
Perkenalkan saya Nuhasania Maulida, MC
sekaligus moderator yang akan menemani
dan memandu jalannya acara webinar dan
book launching ini dari pukul .00 siang
hingga pukul .00 nanti. Pertama-tama
izinkan saya mengucapkan selamat datang
dan terima kasih atas kehadiran Bapak
Ibu peserta yang telah meluangkan
waktunya untuk bergabung dalam webinar
dan berkunching hari ini, Sabtu, 15
November 2025.
Webinar TB launching kita hari iniung
topik C keberlanjutan pola sampah
berbasis masyarakat yang akan
disampaikan oleh empat penulis buku yang
luar biasa yaitu Bapak Dr. Ir. Hijrah
Purnam Putra SDM Ibuia
Bapak
Islam dan Bapak Abdullah Rahman Ali.
Tidak lupa salam hormat kepada Bapak Dr.
Ir. Awaludin Nurumianto STM Engineering
IPM selaku ketua jurusan teknik
lingkungan Universitas Islam Indonesia.
Dan juga tidak lupa kepada Bapak Ibu
peserta webinar dan launching pada hari
yang berbahagia ini. Sebelum masuk ke
materi webinar dan kita, saya mohon izin
untuk mengingatkan Bapak Ibu untuk
mengisi daftar hadir atau presensi di
link yang telah admin kami kirimkan di
kolom chat.
Kemudian dengan hormat saya meminta
kesediaan Bapak Ibu untuk menonaktifkan
mikrofon selama kegiatan berlangsung
supaya kita dapat mendengarkan materi
yang disampaikan dengan jelas.
Baik, selanjutnya sebelum kita masuk ke
acara inti kita yaitu penyampaian materi
akan ada sambutan dari Bapak Dr.
Ir. Awaluddin Nuranto STM. Engineering
PN selaku Ketua Jurusan Teknik
Lingkungan Universitas Islam Indonesia.
Baik, langsung saja kepada Bapak Awalin.
Waktu dan tempat kami persilakan.
Baik, suara saya sudah terdengar ya
Bapak Ibu ya.
Baik. Bismillahirrahmanirrahim.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Alhamdulillah rabbil alamin. Asalatu
wasalamu ala asrofil iya wal mursin wa
ala alihi rasulillahi ajmain. Amma
ba'du. Ee saya sangat berbahagia pada
kesempatan siang hari ini dapat hadir
secara langsung untuk bertatap muka
dengan Bapak Ibu semuanya di ee ruang
maya ini ee dalam rangka kegiatan
webinar dan juga bookching yang ee
diselenggarakan oleh ee Project B
Indonesia dan bekerja sama dengan
Jurusan Teknik Lingkungan. ee kami dari
jurnik lingkungan cukup mengapresiasi
apa yang ee sudah ee dilaksanakan ini
ya, karena kegiatan ini berlangsung ee
cukup sustainable
dan menghadirkan berbagai topik-topik
yang bermanfaat bagi ee bidang pengelola
lingkungan dan dengan projek BI
Indonesia tidak terbatas di pengelolaan
sampah ya, tetapi ee limbah, udara, air
dan yang lain-lain yang menjadi fokus
dari bidang teknik itu sendiri. Bapak,
Ibu yang kami hormati ee Pakah dan
mahasiswanya gitu ya. Ee ini sudah
menerbitkan satu buah buku yang akan
kita bahas bersama pada hari ini ter
dengan ee indeks keberlanjutan gitu ya.
Bagaimana pengelolaan ee sampah di level
masyarakat ya, partisipasi masyarakat
tadi bis ee berlanjut. Karena kalau kita
tahu bahwa ee mungkin data lebih detail
nanti dari Pak Hijrah gitu ya. ee ada
banyak misalkan bank-bank sampah yang
sudah ada di Indonesia ini ada ya
mungkin sampai 30.000-an gitu ya di
Indonesia kalau kita lihat di SI PSN.
Tetapi ee ternyata ee aspek penur sampah
sendiri gitu ya itu ee pengurangan
sampah sendiri itu belum ee ya ada gitu
ya, tetapi target yang diharapkan itu
masih belum tercapai untuk agreg
keseluruhan. Nah, tentunya ee ini
menjadi penting bagi ee kita untuk apa
ya merumuskan gitu ya, untuk bisa
menilai gitu ya agar ee pengelolaan
sampah yang di masyarakat tadi itu tidak
ya tidak mungkin ada kegagalan gitu ya,
kemudian juga lebih efisien dan juga
nanti ee terkena dengan layanan publik
gitu ya. Ee barangkali bisa meningkatkan
ee layanannya. Nah, ee apa yang
dilakukan oleh Pak Hijrah dan ee tim
gitu ya, tentu ini ee merupakan satu
kajian akademik yang ee penting dan juga
ee menarik karena ee dari aspek praktik
itu ee dilaksanakan di berbagai bank
sampah yang ada di ee Yogyakarta
sehingga ee nanti hasilnya pun sangat
menarik dan ee sangat mungkin bisa
diterapkan di ee bank sampah-bank sampah
ataupun ee unit pengelolaan sampah ee ee
di ee tingkat ee masyarakat gitu ya. Dan
ini juga ee menunjukkan satu ee ee
komitmen dari jurusan teknik lingkungan
dalam hal untuk ee memberikan ee
diseminasi gitu ya. Jadi tidak hanya ee
hasil tugas akhir itu ee berakhir di apa
ee ee perpustakaan saja gitu ya, tetapi
juga di ee baca dan juga bisa memberikan
apa ee sebagai referensi juga kepada
masyarakat. Eh, terima kasih kepada Pak
Hijrah. Kemudian penulis yang lain ada
Mbak e Via, kemudian Mas e Abdur Rahman,
dan juga Mas Fatur. Ee insyaallah ini
akan dakwah bilitabah gitu ya yang bisa
menjadi ee manfaat bagi kita semuanya.
tentu ee ada apabila nanti hal-hal yang
masih perlu ditingkatkan dalam buku dan
lain-lain tentu ini ee ee mungkin bisa
dibahas lebih lanjut ya di dalam webinar
kali ini.
ee saya sangat ee mendukung kegiatan ini
dan mudah-mudahan di ee
kegiatan-kegiatan lain jurusan teknik
ilmuan UII, dosen maupun mahasiswanya
menghasilkan karya-karya lain yang ee
bisa bermanfaat tentunya. Ee ee saya
mohon maaf juga karena mungkin nanti
tidak bisa kegiatan ini secara ee penuh
gitu ya. Tetapi ee sekali lagi saya
mengucapkan selamat kepada Pak Hijrah
dan tim. Kemudian kami juga mengucapkan
selamat untuk ee bisa saling berbagi
nanti dengan Bapak Ibu ee peserta
webinar lainnya. Demikian yang bisa kami
sampaikan lebih dan kurang saya mohon
maaf. Wab taufik walhidayah.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih untuk Bapak
Awalin yang telah memberikan sambutannya
sekaligus membuka acara webinar dan book
launching pada siang hari ini. Bapak,
Ibu peserta webinar dan book launching
sekalian, kami dari panitia juga
melakukan live streaming melalui YouTube
channel kami di Project B Indonesia.
Jika semisal selama acara webinar dan
book launching ee ada yang terkendala
dalam Zoom, tidak perlu khawatir karena
Bapak Ibu juga tetap bisa mengikuti
webinar dan launching hari ini melalui
YouTube channel kami. Selanjutnya
seperti biasa hari ini kami juga
menyiapkan berbagai macam doorpress
spesial untuk Bapak Ibu yang beruntung.
Ada tiga produk spesial dari butik daur
ulang projek Indonesia, tiga thumbnail
dari penerbit di publish, dan tiga vouet
diskon pembelian buku dari
doorp ini diberikan berdasarkan
pertanyaan-pertanyaan terbaik dan story
Instagram terunik selama webinar dan
cing ini berlangsung. Untuk
pertanyaan-pertanyaan terbaik akan kami
umumkan di akhir acara webinar dan
nanti. Sedangkan untuk pemenang story
Instagram terunik akan kami hubungi
langsung melalui DM Instagram. Nah, hari
ini karena banyak sekali doorbes spesial
bagi Bapak Ibu peserta,
jadi tidak perlu malu-malu dan ee
langsung saja memberikan pertanyaannya
melalui kolom chat dengan format nama.
Kemudian pertanyaan yang ingin
ditanyakan dan nantinya akan kami pilih
penanya terbaik untuk memenangkan door
price. Lalu untuk story Instagram, Bapak
Ibu dapat membuat story Instagram
semenarik mungkin dan jangan lupa tag
Instagram kami di @projecti Indonesia.
Tanpa berlama-lama lagi, kita akan
langsung lanjut ke acara inti, yaitu
penyampaian materi. Namun sebelum itu,
mari kita lihat terlebih dahulu CV dari
pemateri kita hari ini.
[musik]
Baik, itu tadi sekilas mengenai pemateri
dan penulis buku kunci keberlanjutan
pengelolaan sampah berbasis masyarakat
pada hari ini yang akan mengisi webinar
danci. Mungkin untuk efisiensi waktu
jika pemateri sudah siap, kita bisa
langsung saja untuk memulai penyampaian
materi. Kurang lebih waktunya hingga
pukul .30. Tanpa berlama-lama lagi waktu
dan tempat kami persilakan.
Baik, terima kasih Pak Nuha. Ee
mudah-mudahan suara saya sudah terdengar
dengan jelas ya. Baik, ee izin untuk
memulai teman-teman semuanya dan Bapak
Ibu. Bismillahirrahmanirrahim.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Ee bismillah walhamdulillah wasalatu
wassalamu ala rasulillah. Ee pada
kesempatan siang hari ini tentunya
selamat siang, salam sejahtera untuk
kita semuanya. Terima kasih Bapak Ibu
yang telah ee bergung dalam kegiatan
yang dilakukan oleh Jurusan Teknik
Lingkungan Universitas Islam Indonesia
dan butik Daur ulang Project B
Indonesia.
Em, Pak Awaludin terima kasih atas ee
sambutannya.
Biasanya kegiatan kita di pagi hari,
tapi kami kita coba untuk siang hari
gitu ya, karena tadi pagi ada kegiatan
yang lain di jurusan teknik lingkungan
hubungannya dengan ee pengembangan arah
pendidikan dan kurikulum gitu ya. Dan
Bapak Ibu yang telah bergabung
mudah-mudahan dapat mengikuti dengan
baik ya. Nah, biasa jadi hari ini saya
ngajak teman tiga teman yang lain gitu
ya. Ada Mas Fatur di sini, Mbak Via dan
Mas Abdul yang ee beberapa waktu yang
lalu kami mencoba untuk melakukan
penelitian
ee terkait dengan indeks kelanjutan yang
ada di pengelolaan sampah berbasis
masyarakat gitu.
hasilnya. Kemudian ee metode
menghasilkan suatu instrumen lah
kira-kira begitu. Walaupun instrumennya
masih terus perlu dikembangkan dan
beberapa mahasiswa kami juga ee terus ee
melakukan penelitian terkait dengan hal
tersebut gitu ya. Nah, dalam hal
tersebut karena hasilnya menarik dan
kami coba untuk iseng-iseng menulis gitu
ya, menulis ee menjadi buku gitu ya. Dan
ternyata oleh penerbit dipublish
kemudian lima untuk bisa dicetakkan
menjadi sebuah buku yang harapannya bisa
disebar luaskan kepada masyarakat lebih
luas. Dan di sini didukung sebenarnya
oleh Direktorat ee Pengembangan Akademik
ya. ya. Kebetulan di UII punya program
namanya UII menulis gitu. Jadi mencoba
untuk me ya dalam tanda kutip sedikit
memaksa para civitas akademikanya untuk
bisa menulis agar tidak hanya berakhir
sebagai penelitian di perpustakaan saja
seperti yang disampaikan Pak awal tadi
ya. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi
kita semuanya. Eh, Mas Fatur, Mbak Via,
Mas Abdul, kita mulai ya. Ee kita eh
share screen untuk bisa mulai materi
kita pada kesempatan hari ini. Konsepnya
ee sama-sama belajar ya, Bapak, Ibu ya.
Bukan berarti kami yang berada di depan
ini kemudian jadi sangat tahu, tapi
sebenarnya ini menjadi kesempatan untuk
buku ini sangat terbuka untuk ditambahi
sehingga nanti versi-versi berikutnya
menjadi lebih baik lagi gitu ya. Ee
judul bukunya seperti yang sudah
diketahui oleh Bapak Ibu, sikerlanjutan
pengolaan sampah berbasis masyarakat ya.
Oke, next.
ee hal-hal yang kita akan pelajari di
dalam ee pertemuan kali ini kami mencoba
untuk membahas enam bagian ya. Yang
pertama terkait dengan pengantar
ee yang dimaksud sebenarnya PSBM itu apa
gitu. Walaupun Bapak Ibu yang bergabung
hari ini pasti tadi Pak Awal
menyampaikan ada bank sampah ya, ada TPS
3R, ada sedekah sampah gitu. Ini menjadi
hal-hal yang sebenarnya sudah sering
kita dengar gitu. Kemudian kita nanti
akan bahas juga sebenarnya ada tantangan
apa gitu ya dan efektivitas dari
aktivitas yang dilakukan oleh ee PSBM
ini sehingga dengan adanya tantangan
tadi mungkin muncul sebuah kepentingan.
Perlu ada ee sedikit apa
penilaian mungkin ya kita sebut
penilaianlah ya tingkat keberlanjutan.
Mengapa bank sampah itu banyak?
tapi juga yang tidak bertahan gitu.
Kenapa sedekah sampah itu muncul terus
tapi dampaknya tidak terlalu besar gitu?
Kenapa TPS3R? Oh, ternyata tempatnya
mangkrap gitu ya. Jadi ee perlu indeks
ee bukan hanya untuk menghitung saja
tapi sebenarnya yang penting adalah
halnya nanti itu apa sehingga tindak
lanjut yang perlu dilakukan itu ee kita
perlu ketahui bersama. Nah, nanti
teman-teman Mas Fatur akan menjelaskan
poin 4, 5, dan 6 khusus bicara tentang
bank sampah ya. Mulai dari bagaimana
cara menyusun indeksnya sehingga dapat
dipertanggungjawabkan
secara ilmiah begitu ya. bagaimana
indikator-indikator
ee parameter itu terbentuk bagi
bagaimana kita memberikan penilaiannya
dan nanti akan diakhiri dengan ada
simulasi dari penilaian yang dilakukan
nanti di ujung akan ketemu status
keberlanjutannya itu seperti apa gitu.
Tidak berlanjutkah atau sangat ee
keberlanjutan yang tinggi begitu ya. Ee
dan di balik itu nanti akan dijelaskan
ee setelah itu apaagi gitu ya ee yang
perlu kita lakukan gitu. Kemudian nanti
setelah Mas Fatur kemudian akan
dilanjutkan oleh Mbak Via ya. Mbak Via
ini akan bahas terkait dengan TPS3R
sama tadi menggunakan juga metode
penyusunannya seperti apa, kemudian
indikator-indikator yang diperlukan itu
apa saja pertanyaan-pertanyaannya.
Kemudian dilakukanlah simulasi ya dan ee
ada status keberlanjutan yang dilakukan.
Nah, setelah Mbak dengan TPS 3R nanti
akan Mas Abdullah ya Mas Abdul ini ee
terkait dengan sedekah sampah.
ee menggunakan metodenya seperti apa,
kemudian indikator yang ada di dalamnya
apa saja dan juga nanti akan muncul
simulasi penilaian. Dan sebagai
informasi memang Bapak Ibu, kebetulan
peneliti ini masih mengambil wilayah
sampling itu di wilayah Jogja.
Nah, mudah-mudahan nanti ke depan dapat
kita kembangkan untuk wilayah-wilayah
yang lain seluruh wilayah Indonesia
gitu. Siapa tahu kita menemukan faktor
lain selain ee aspek-aspek yang dibahas,
mungkin akan berpengaruh aspek
kewilayahan gitu ya yang ee sementara
belum kita masukkan di sana. Oke. Baik,
tidak akan berlama-lama lagi agar
nantinya bisa lebih komprehensif. Next.
ee yang pertama terkait dengan ee bagian
saya gitu ya yang membahas mengapa ee
kita memerlukan indeks ini. Next. Yang
pertama adalah ternyata Bapak Ibu dalam
ee sistem pengolaan sampah yang berbasis
masyarakat tadi kita punya tantangan ya
terkait dengan pengolaan sampah yang ada
di Indonesia. Target-target yang
ditentukan banyak yang belum dicapai ya.
ee tidak bermaksud untuk menyalahkan
gitu, tapi kondisinya real. Jadi ee
akhir-akhir ini kita mendengarkan ada 34
landfill atau TPA yang ditutup oleh
pemerintah pusat gitu ya. Karena ya
berbagai macam tantangan yang dihadapi
gitu ya. ee kita bisa lihat targetnya
yang hijau. Kemudian ternyata ee yang
biru ee itu ee apa pencapaiannya berarti
masih ada gap yang belum ee tercapai
gitu ya. Next. Ee kemudian banyak
sebenarnya ee program juga yang mungkin
belum berjalan dengan maksimal gitu ya.
Jadi banyak bank sampah yang sulit untuk
bertahan gitu. Saat kita datang ke bank
sampah. para pengurus yang sudah luar
biasa bekerja ternyata ee mereka
mengeluhkan, susah ngajak warga untuk
milas sampah, susah untuk regenerasi
tempat yang tidak ada dan seterusnya.
Jadi tidak tidak berkelanjutan gitu ya.
Nah, akhirnya apa ee ini akan berdangka
panjang gitu ya. Jadi ee pengelolaan
sampah yang sudah dibangun dari sistem
hulu ke hilir dengan melibatkan
masyarakat
tapi ee tidak dapat bekerja secara
optimal. Nah, berarti kan akan ada ee
jangka panjang dampaknya. Jadi, jumlah
semakin hari semakin besar semakin tidak
bisa dikelola dengan baik. Tapi, kita
tidak bisa juga menyalahkan oh
masyarakat yang salah. ya mungkin
sistemnya belumung terkait dengan itu.
Nah, oleh karena itu maka karena belum
ada standar untuk instrumen
keberlanjutan, maka kami berpikir,
sepertinya kita butuh instrumen
keberlanjutannya. Di mana yang dikatakan
bank sampah ini ee layak untuk
berlanjut, punya keberlanjutan tinggi
dan seterusnya gitu ya. Jadi ee inilah
menjadi dasar kenapa ee penelitian dan
buku ini dihajar.
Karena apa, Bapak Ibu? Kalau kita bicara
siklus sampah itu sangat panjang gitu
ya. Mulai dari sumber sampah
ee sampai kemudian ee pergi ke tempat
pengumpulan ee transfer poin,
pengangkutan, TPA dan seterusnya. di
berikutnya Mas Patur ee dia pergi
mengalir dari satu tempat ee ke tempat
yang lain gitu. Tidak seperti air limbah
masuk ke sistem perpipaan gitu ya. Di
sana banyak ee masyarakat yang terlibat,
banyak instansi yang terlibat, bahkan
swasta pun ikut terlibat. Jadi itu jadi
samp akan berada di berbagai macam
posisi mengalir dari hulu ke hilir. Jadi
perjalanannya panjang gitu. Tapi ada
garis bawahnya Bapak, ada kolom pertama
itu kalau di sumber sampah dan sudah
dilakukan pengolaan secara individu,
maka ee beban pengolaan sampah yang ada
berikutnya itu menjadi lebih ringan.
Tentunya harus dilengkapi dengan data
ya, kuantita, sampah seperti apa
sehingga bisa dikelola dengan baik ya.
Nah, next. ee kita perlu jadi untuk
mendukung kegiatan di sumber tadi sudah
dilakukan nih, sudah diarahkan ya, ada
pengolaan sampah berbasis masyarakat.
2019 pemerintah meloncingakan nasional
pilah sampah dari rumah gitu ya.
Kemudian pendekatan 3R sampah itu enggak
dianggap lagi sebagai barang yang tidak
berguna dengan syarat itu harus dipilah
dengan baik ya. Berarti harus ada punya
fasilitas, ada bank sampah diatur nih
lewat Permen LHK 14 tahun 21. Sebelumnya
sudah punya juga Permen LHK 14 tahun
2012 atau 13 gitu. Sedekah sampah memang
belum diatur terlalu detail gitu ya.
Kemudian ada TPS 3R juga sudah diatur
oleh Permen PU nomor 3 tahun 2013. Tapi
dari instrumen-instrumen tersebut baru
berbicara tentang operasional, belum
tindak lanjut. Kalau sakitnya ini
dikasih obat apa kira-kira ya? Kalau
sakitnya itu diobat apa? Nah, jadi
bicaranya adalah pengembangan di masa
yang akan datang. Nah, sebenarnya PSBM
ini apa sih tujuannya, Bapak, Ibu?
tujuan dan ee mungkin prinsip ya dari
PSBM tersebut pastinya kita mengajak
kepada masyarakat untuk bisa bertanggung
jawab terhadap sampah yang dihasilkan,
meningkatkan partisipasi Bapak, Ibu
supaya apa? Sampah yang nanti pergi ke
TPA itu bisa berkurang
banyak. Ternyata di TPA TPA itu dipenuhi
oleh saudara-saudara kita yang
berprofesi sebagai pemulung. Berarti
kalau di sana bekerja mengambil sampah
kita, berarti sampah kita masih memiliki
nilai ekonomi dong. Kenapa tidak
dialihkan di awal supaya apa? Ekonominya
bisa didapat, masyarakat lebih banyak
bertanggung jawab gitu, bisa pemanfaatan
kembali sehingga prinsipnya dari
masyarakat, masyarakat dan untuk
masyarakat itu bisa tercapai. Ini
seperti slogan kegiatan yang lain ya.
Tapi artinya ee keterlibatan masyarakat
itu penting. Tapi Bapak Ibu, kita tidak
bisa lupa gitu kan bahwa aspek
pengelolaan sampah itu ada yang lain
gitu. Lain aspek ee peran serta
masyarakat
ada lima ya. Jadi ee mulai dari tadi
peram masyarakat, kemudian di dalamnya
ada teknis operasional.
Bagaimana sampah tadi mengalir dari satu
tempat ke tempat yang lain. Ada gerobak,
ada truk sampah, ada jenis pengomposan
ini dan seterusnya. Kita sebut sebagai
teknis operasional.
Selain itu ada kelembagaan ya yang
mengatur ee kelembagaan tadi ada
pembiayaan, ada pengaturan. Nah, ini
kita coba breakdown Bapak, Ibu satu-satu
ya yang namanya yang sama itu peraturan
itu kayak apa gitu ya. Jadi kalau
dilihat di sini peran pokoknya komponen
yang menjaga pola dinamika sistem gitu
ya. Landasan, oh ada bank sampah ada
landasan hukumnya. Oh kenapa masyarakat
harus pila sampah? Ada landasan
hukumnya. Kenapa masyarakat harus bayar
sekian landasan hukumnya? Kemudian
kelembagaan gitu ya. Ah ini juga penting
gitu ya. Bagaimana bentuknya? Di bawah
siapa ini bank sampah? TPR dikelola oleh
siapa gitu ya? yang bangun siapa, yang
ngelola siapa gitu ya, yang diinduk
kepada lembaga yang mana. Sehingga ini
menjadi list dari ee aturan-aturan
yang ada supaya kegiatan ini dapat
berjalan dengan baik. Tidak terlebih itu
saja, Bapak, Ibu. Ada peraturan,
kelembagaan, ada juga urusan pembiayaan,
gitu.
Nah, itu yang paling penting ya. ee
tidak paling penting juga ya kan katanya
UUD gitu ya, ujung-ujungnya duit. Tapi
artinya ee dengan adanya support
anggaran yang jelas menjadi ee
berpendanaan yang jelas sehingga
pengelola PSBM ini menjadi tahu dia
harus punya alternatif sumber pendanaan
yang mana gitu. Kalau tidak dis-upport
dengan ee anggaran dari misalnya dari
pemerintah. Oh, harus ada swasta
misalnya. Oh, harus ada ee kegiatan dan
seterusnya. Nah, kemudian ada teknis
operasional Bapak Ibu mulai dari
aktivitas sarana prasarana, perencanaan,
kewadahan, bagaimana memindahkan sampah
dari rumah masyarakat menuju ke TPS 3R.
Ee bagaimana teknisnya masyarakat bisa
memilih kemudian disetorkan kepada bank
sampah. barulah aspek yang paling
terakhir ini menjadi hal yang paling
pokok yaitu peran masyarakat gitu ya
yang setelah ini ya. Oke. Komponen yang
ee mungkin dia bukan tidak bersifat
subsistem ya tapi terkait dalam berbagai
macam ee penyediaan kapasitas ya maupun
ee pendanaan. Nah, harapannya dengan
masyarakat yang terlibat aktif ini dapat
mengurangi
ee pembebanan kepada sistem atau
aspek-aspek yang lain. Tapi kita tidak
bisa pungkir, Bapak, Ibu bahwa PSBM ini,
pengolaan sampah berbasis masyarakat ini
memiliki banyak tantangan. Nah, ini kita
petakan tantangan tersebut mulai dari
Bapak Ibu pasti sangat sering mendengar
ini ya sarana prasarana terbatas,
peralatan banyak tidak berfungsi,
pendapatannya tidak ee fluktuatif,
kadang laku, Pak. Kadang tidak. Sudah
buat kompos ternyata enggak laku, gitu
ya. Oh, lemahnya penegakan. Yang sana
sudah mila sampah, yang sini tidak mila
sampah tapi tetap dapat pelayanan gitu
ya.
Akhirnya ya biaya operasional menjadi
lebih gd belum memadai, susah nyari
orang untuk bekerja di bidang pengolaan
sampah gitu. Koordinasi, Pak. Ini segala
macam tantangan yang pasti Bapak, Ibu
mendapatkan. Nah, tapi di balik
tantangan itu semuanya, Bapak, Ibu, kita
lihat bahwa PSBM ini terus meningkat,
Bapak, Ibu. Nah, kita punya data ini
kita sebut sebagai efektivitas PSBM. Ini
data yang kita ambil dari SIPSN tanpa
memilah-milah Bapak, Ibu ya. Jumlah
TPS3R begitu kita masukkan kata kuncinya
TPS3R muncul 72.3
unit ya. Walaupun Kementerian PUPR masih
pasti punya data yang lebih akurat gitu.
Tapi kita lihat di dalam SIPSN
berarti banyak losi yang mungkin misal
nih ee ada Bapak Ibu dari PU mungkin
hadir hari ini enggak sebanyak itu Mas
Hijrah 7.000 itu terlalu banyak gitu. Ah
berarti ada yang diklaim sebagai TPS 3R
di dalam laporan SIPSN gitu. Sehingga
pada saat kita masukkan kata kunci SIPSN
TPS 3R muncul 72.000 ya eh 7.200 mohon
maaf 7.200
Tapi kondisinya mungkin belum bisa
berjalan dengan optimal. Macam-macam ya,
kurang SDM, minim sarana, keterbatasan
biaya pengolaan dan seterusnya. Tidak
juga berbeda dengan bank sampah dan
sedekah sampah. Jumlahnya besar Bapak
Ibu 25.264
unit. Ini juga kasusnya sama. Kita
masukkan kata bank sampah di dalam SIPSN
dengan berbagai macam tantangan sehingga
dia tidak juga dianggap berjalan dengan
optimal, rendah partisipasi, kurang pan
sampah organik ya macam-macam. Tidak
konsisten penetapan harga pengepul ya.
hari ini dikumpulkan, hari ini harganya
tinggi, pas jual harganya rendah, ya
macam-macamlah curhatannya ibu-ibu para
pengelola ee bank sampah misalnya. Nah,
sehingga kami melihat ada suatu
kepentingan bahwa indeks keberlanjutan
itu penting Bapak, Ibu untuk kita punyai
agar tiap lokasi, setiap daerah kita
bisa mengacu kepada indeks tersebut,
bisa mengukur kelas kita ada di mana.
Bukan untuk membandingkan, tapi untuk
diperlukan treatmentnya, gitu ya. Misal
contoh Bapak, Ibu saat kita ke dokter,
kita ngeluh sakit kepala.
Kalau hanya sekedar sakit kepala, maka
obat sakit kepala diperlukan. Tapi kalau
sakit kepalanya berlanjut
ternyata memunculkan penyakit yang lebih
besar lagi dengan perlu tindakan yang
lebih besar, maka obatnya tindakannya
juga akan berbeda. Nah, kita coba milih
memilih bahwa indeks keberlanjutan itu
akan dibagi menjadi lima poin sesuai
dengan aspek ee pengelolaan sama teknis
operasional, regulasi, peran serta
masyarakat, pembiayaan, dan kelembagaan.
sehingga apa?
Indeks ini menjadi penting dalam sistem
keberlanjutan.
Ya, pertama memang belum ada standar
keberlanjutan ter PSBM. PSBM yang baik
itu dinilai dari apa gitu ya, masih ee
parsial dan pemahamannya masih beda-beda
setiap ee orang gitu ya, setiap
instansi, setiap pengelola. Nah, kita
pengin mengetahui efektivitasnya seperti
apa dan yang paling penting adalah
memberikan gambaran bagi pemangku
kebijakan dalam menentukan arah
pengembangan sistem pengelolaan sampah
sehingga ketahuan, oh PSBM-nya sudah
cukup banyak tapi apa tidak efektif? Oh,
PSBMnya sudah menyerap anggaran banyak
tapi ternyata belum dapat menyerap
sampah dengan banyak. Nah, kenapa
seperti itu? hubungannya tentu dengan
prinsip sirkular ekonomi,
SDGs gitu ya. Itu menjadi hal yang ee
terkonnect Bapak Ibu. Efisiensi sumber
daya, daur ulang material ya pengurangan
residu ke TPA. Ini kan para pemangku
kebijakan saat ini sedang ngomongin
tentang ini ya sehingga SDJ 11, 12, 13
itu bisa tersambung dengan B ya. Nah,
harapannya Ibu dengan adanya indeks
keberlanjutan ini bisa memberikan
manfaat ya. Manfaat tidak hanya kepada
mahasiswa, peneliti, tapi manfaat indeks
keberlanjutan ini bisa ke pemerintah
daerah ya. Kemudian bisa ke dinas yang
bertanggung jawab terhadap lingkungan
hidup ya, ke pengelola PSBM-nya sendiri
juga sangat penting. Oh, saya lemahnya
di aspek mana nih? Ya, sehingga perlu
ditingkatkan
dan masyarakat pada umumnya kan mungkin
bisa diumumkan bangsa di kota X
berjumlah 300 unit tapi yang hanya
bertahan 1 jarang kita dengar berita itu
gitu ya. Ah, karena biasanya dia kan
beritanya dari 300 unit sudah sekian,
sudah sekian selalu berita baik mungkin
ya. Jadi mungkin masyarakat juga
sehingga ee peran dari swasta bisa
masuk, dia bisa membantu apa ya.
Seringki kita berhadapan saat masyarakat
mau dibantu oleh suatu program, mereka
bingung ini B ya. Nah, jadi dengan
adanya indeks ini harapannya dapat
terlihat apa yang pengin dibantu di ee
setiap lokasi berbeda-beda. Nah, oleh
karena itu Bapak Ibu kita coba dengarkan
pemaparan dari Mas Fatur, Mas ee Mbak
Via, Mas Abdul kait dengan masing-masing
lokasi. Bapak, Ibu silakan mencermati
sesuai dengan lokasi yang Bapak, Ibu
mungkin kerjakan saat ini atau for dari
Bapak Ibu, bank sampah, TPS3R atau
sedekah sampah. Silakan, Mas Fatur
dilanjut, ya.
Baik, ee terima kasih, Pak atas
pengantarnya. Ya, Bapak, Ibu sekalian,
selanjutnya kita akan lanjutkan
pembahasan pada bank sampah. Di
pembahasan bank sampah ini seperti yang
tadi di awal, kita ada fokus pada tiga
pembahasan, yaitu metode penetapan
ee indeks keberlanjutan, yang kedua itu
indikator dan parameter apa yang kita
tetapkan, dan yang ketiga itu kita
simulasikan dari instrumen yang telah
ada.
Baik, Bapak, Ibu sekalian. Yang pertama,
metode penyusunan indeks keberlanjutan.
Yang pertama, untuk menyusun indeks
keberlanjutan ini kita mengacu atau
mendasari pada lima aspek pengelolaan
sampah. Dalam hal ini pada bank sampah
yang pertama aspek teknis operasional.
Ee di sini kita lihat, kita nilai ee
aspek-aspek teknis mulai dari sampah itu
masuk ke bank sampah, sampah itu
ditimbang, lalu melakukan penjualan dan
pembukuan. Itu merupakan aspek-aspek
dari teknis operasional. Yang kedua itu
adalah aspek kelembagaan. Di sini
merupakan aspek yang mengatur sistem ke
berlanjutannya atau sistem pengelolaan
dari bank sampah itu sendiri. Yang
ketiga, aspek peran serta masyarakat di
sini. Karena pada dasarnya bank sampah
ini merupakan salah satu program dari
PSBM. Oleh karena itu, aspek peranan
serta masyarakat ini merupakan salah
satu aspek kunci dan aspek penting dalam
penilaian keberlanjutan bank sampah.
Yang selanjutnya aspek hukum dan
peraturan. Di sini kita lihat apakah
sudah ada dukungan ataupun dari
pemerintah daerah dan pemerintah
setempat apakah sudah memiliki hukuman
ee peraturan yang mengatur terkait bank
sampah. Dan yang terakhir aspek
pembiayaan.
Selanjutnya
ee dalam menentukan indikator kita
melakukan pembobotan. Dalam hal ini kita
melakukan literatur review dan
pengobotan ee dari bobot 20 sampai 5.
Ada empat bobot di mana ee bobot 20 itu
untuk yang kita temukan empat kali dalam
literatur yang berbeda. 15 itu untuk
tiga kali ee pada referensi yang
berbeda-beda. 10 itu dua kali dan 5 itu
hanya satu kali.
Dan yang ketiga itu kita lakukan scoring
parameter menggunakan skala 0 sampai 4
dengan 0 itu buruk dan 4 itu sampai ee
kualitasnya sangat baik.
Selanjutnya setelah kita melakukan ee
menentukan aspek-aspek apa saja yang ee
menjadikan dasar dalam penetapan
indikator, kita lakukan pembuatan dan
scoring dan kita lakukan ee perhitungan
matematis sederhana untuk melakukan ee
skor yang didapat itu ada ee rentang
dari 0 sampai 695 dengan ada lima kelas
ee tingkat keberlanjutan mulai dari ee 0
sampai 140 itu nilai yang sangat ee
tidak berkelanjutan sampai yang sangat
berkelanjutan itu di rentang spor 556
sampai 695.
Untuk selanjutnya ini merupakan
indikator dalam ee penentuan instrumen
keberlanjutan bank sampah pada aspek ee
teknis operasional. Bisa dilihat di sini
teknis operasional itu mengatur dari
mulai sampah itu masuk ke bank sampah
sampai dengan ee sampah itu dijual ke
pengepul. Lalu ada pengelolaan sampah
lanjutan dan ee pengelolaan lingkungan
yang dilakukan oleh bank sampah itu
sendiri. Berat sampah itu dipengaruhi
oleh pengumpulan sampah yang dilakukan,
timulan sampah yang ee dapat ditampung
oleh bank sampah kilogram per harinya
dan cakupan pelayanan bank sampah itu
sendiri. Apakah itu melayani 1 RT dan
efektivitasnya melayani 80% 100% dari
cak pelayanan itu merupakan masuk kepada
ee teknis operasional.
Yang selanjutnya pada aspek kebijakan
dan regulasi itu ada dua indikator
pedoman regulasi bank sampah dan ee
peraturan atau dukungan dari ee
pemerintahan setempat desa ee tentang
pemalahan sampah. mengenai pedoman
regulasi bank sampah ini tentunya kita
mengacu pada ee Permen LH nomor 14 tahun
2021 di mana apakah ee sudah ee
peraturan ini dapat dipahami dengan baik
oleh para pengurus atau belum terkait ee
kelengkapan jam ee operasional,
pembagian jobd dan lain-lain.
Selanjutnya pada
aspek peran serta masyarakat ini kita
menemukan dua
indikator penting yaitu pengetahuan
masyarakat tentang pengelolaan sampah
dan ee pemilahan di sumber. Karena ee
dari kita melakukan wawancara dengan ee
berbagai pihak atau pengurus dari bank
sampah, salah satu faktor pentingnya itu
adalah ee bagaimana sampah ini
harapannya sudah bisa diolah ataupun
dipilah terlebih dahulu di rumah baru
disetorkan ke bank sampah. karena itu
merupakan salah satu ee
aspek yang penting dalam ee peran serta
masyarakat di pengelolaan bank sampah.
Yang selanjutnya pembiayaan ini ada dua
biaya operasional bank sampah itu ee
digunakan untuk perawatan fasilitas gaji
pegawai ataupun apabila ada ee bank
sampah yang melakukan fasilitas
penjemputan sampah itu merupakan
opsional. Dan yang kedua itu pemasukan
bagi bank sampah itu sendiri didapatkan
dari bantuan dari pihak eksternal
ataupun dari penambahan nasabah bank
sampah itu sendiri.
Yang terakhir ee aspek kelembagaan ee
ditemukan ada lima indikator mulai dari
administrasi, pencatatan ee dan
pembukuan dari bank sampah itu sendiri,
kerja sama dengan pihak ketiga ataupun
pengepul, pemberdayaan SDM, ee tergabung
dalam komunitas bank sampah, dan
memiliki legalitas kepengurusan dalam
struktur organisasi ee bank sampah.
Dan Bapak, Ibu sekalian dapat dilihat ee
dari indikator dari aspek indikator yang
telah kita susun mendapatkan ee berbagai
macam parameter-parameter penilaian yang
kita jadikan salah ee sebuah instrumen
untuk dapat menilai tingkat
keberlanjutan bank sampah.
Dapat saya contohkan seperti pada aspek
ee teknis operasional dan indikator
berat sampah. Di sini kita ee menilai
berat sampah yang dikelola dari bank
sampah ini. 80% dari kapasitas layanan
yang sudah direncanakan itu dapat
memiliki skor 3. Berat sampah yang
dikelola 30 sampai 80% dari kapasitas
layanan yang direncanakan itu memiliki
skor dua. Eh untuk skor satunya itu
kurang dari 30% dari kapasitas layanan
yang direncanakan dan nol apabila tidak
ada sampah masuk.
Ini selanjutnya merupakan masih sama
terkait ee instrumen yang telah kita
susun dari berbagai macam aspek.
Dan selanjutnya
ee kita lakukan kita coba lakukan
simulasi ee dari instrumen telah yang
telah kita susun. Anggap saja kita
sekarang sedang menilai salah satu bank
sampah, bank sampah X yang ada di
Kabupaten Sleman. Setelah kita lakukan
wawancara dan kita melakukan penilaian
berdasarkan ee instrumen dan
indikator-indikator yang telah disusun
ee dari bank sampah X ini memiliki nilai
total nilai 640
dari ee keseluruhan parameter yang telah
kita nilai dan kita coba analisis
dari masing-masing parameternya dan kita
coba lihat 640 ini ee sudah mencapai
nilai keberlanjutan atau tingkat
keberlanjutan ee baik atau belum.
Setelah kita lakukan penilaian dari ee
bank sampah X ini
dengan skor 640 atau kita persentasikan
sebesar 90%
ee bank sampah ini dapat dikategorikan
ee sangat berkelanjutan.
seperti itu dari mengenai ee
indeks keberlanjutan yang disusun ee
dari program bank sampah yang
selanjutnya kita akan lanjutkan
pembahasan ke TPS3R. Silakan Mbak Afia.
Baik, terima kasih Mas Fatur untuk
penjelasannya. Ee Bapak Ibu sekalian,
kita akan melanjutkan ke TPS3 ER.
Next.
Yang pertama yaitu metode penyusunan
indeks keberlanjutan pada TPS3R.
Adapun langkah yang pertama yaitu
melakukan penyusunan indikator
berdasarkan lima aspek pengelolaan
sampah yang terdiri dari teknis
operasional, kelembagaan, peran serta
masyarakat, hukum dan peraturan, serta
pembiayaan.
Kedua yaitu melakukan pembobotan
kesesuaian. Dalam menentukan bobot
indikator dilihat dari banyaknya
pengujian yang telah dilakukan di
lapangan. Adapun untuk bobot 20 yang
berarti indikator dilakukan sebanyak
lebih dari 5 kali pengujian. Kemudian
bobot 15 yang menandakan indikator
dilakukan sebanyak 4 kali pengujian
bobot 10 di mana indikator dilakukan
sebanyak tiga kali pengujian dan bobot
lima yaitu indikator dilakukan sebanyak
dua kali pengujian. Yang ketiga yaitu
penentuan skala penilaian parameter yang
berguna untuk menggambarkan kondisi di
TPS 3R dengan nilai 0 hingga 4 dengan
keterangan buruk, cukup, baik, dan
sangat baik.
Ee untuk yang selanjutnya yaitu
terkait pembobotan scoring atau bisa
disebut juga dengan nilai relatif yang
diperoleh dari akumulasi antara nilai
dari tiap parameter dikali dengan bobot
kesesuaian pada tiap indikator.
Yang kelima yaitu penentuan tingkat
keberlanjutan. Adapun untuk persentase
tingkat keberlanjutan ini diperoleh dari
skor yang telah diperoleh dibagi skor
maksimum dikali 100%. Dan yang terakhir
yaitu kita menentukan skala tingkat
keberlanjutan.
Adapun untuk TPS 3R ini nilai
keberlanjutannya mulai dari 0 hingga
yang paling tinggi yaitu 890
dengan persentase keberlanjutan 0 hingga
20% dengan kategori sangat tidak
berkelanjutan, 20 hingga 40% dengan
kategori tidak berkelanjutan, 40 hingga
60%
dengan kategori cukup berkelanjutan,
60% hingga 80% dengan kategori
berkelanjutan,
dan 80 hingga 100% dengan kategori
sangat berkelanjutan.
Untuk indikator dan parameter penilaian
TPS 3R terdiri dari lima. Yang pertama
yaitu teknis operasional yang terdiri
dari tujuh indikator. Yang pertama yaitu
kualitas sampah dikelola. yang dilihat
dari persentase sampah dikelola TPS3R
atau melayani minimal 200 KK atau sampah
yang dikelola sebesar lebih dari 6 m³
per hari. Dan yang kedua yaitu kondisi
sarana dan prasarana yang dilihat dari
kebungsian sarana dan prasarana pada TPS
3R. Yang ketiga, jenis pengelolaan. Pada
TPS3R terdapat proses pemilahan dan
pengolahan sampah. anorganik lebih dari
satu jenis dan atau pengolahan sampah
anorganik seperti pengepresan maupun
pencacahan serta penjualan sampah ke
pelapak atau pengepul. Yang keempat,
produksi kompos atau produk sejenis di
mana sampah organik yang diolah menjadi
kompos atau produk lain seperti BSF
magot maupun pakan ikan.
Kemudian sampah daur ulang yaitu jumlah
sampah anorganik yang dijual ke
pengepul.
Selanjutnya volume residu ke TPA yaitu
residu yang masuk ke TPA kurang dari
30%.
Kemudian pengelolaan lingkungan di mana
TPS3R telah melakukan pengendalian bau
serta tidak melakukan pembakaran sampah.
Selanjutnya
regulasi yang memiliki dua indikator
seperti pedoman dan peraturan daerah
terkait TPS3R.
Apakah apakah pengelola telah mengetahui
serta menerapkan peraturan daerah
mengenai TPS3R?
Kemudian kebijakan tentang pengelolaan
sampah yang berkaitan dengan TPS 3R. Di
sini apakah pengelola telah mengetahui
kebijakan seperti surat edaran maupun
surat keputusan terkait pengelolaan
sampah
serta sudah menerapkannya
oleh pengelola? Selanjutnya yaitu
mengenai partisipasi masyarakat yang
terdiri dari dua indikator. Yang pertama
pengembangan pelanggan TPS 3R.
Indikator ini dilihat dari adanya
penambahan pelanggan ataupun tidak
adanya penambahan pelanggan serta TPS 3R
mengalami penurunan pelanggan. Yang
kedua yaitu pengetahuan masyarakat
tentang TPS 3R. Apakah TPS 3R telah
melakukan sosialisasi tentang TPS 3R
kepada masyarakat? Selanjutnya
terkait kelembagaan.
Pada kelembagaan ini memiliki tujuh
indikator. Yang pertama, sumber daya
manusia. Apakah pekerja TPS di TPS3R
telah melakukan tugas sesuai dengan
fungsinya seperti pengumpulan,
pemilahan, dan pengolahan sampah. Yang
kedua, kerja sama dengan pihak luar.
Adapun kesepakatan dengan pengepul
mengenai harga jual sampah maupun jadwal
pengambilan sampah.
Kemudian struktur organisasi adanya
struktur organisasi dan pengelola aktif
dalam kepengurusan TPS 3R. Keempat,
legalitas lembaga. Pada TPS 3R sendiri
telah terdapat akta notaris, SK dinas,
SK kelurahan, ataupun anggaran dasar
anggaran rumah tangga. Selanjutnya SOP
di mana TPS 3R telah memiliki SOP dan
sudah diterapkan oleh pengurus.
Kemudian administrasi pengelolaan yang
dilakukan pencatatan terkait pengeluaran
jumlah sampah pada TPS3R. Dan yang
terakhir yaitu tergabung dalam komunitas
antar TPS 3R dalam skala provinsi maupun
skala kabupaten atau kota. Untuk
indikator terakhir yaitu mengenai
pembiayaan.
Adapun untuk pembiayaan ini terdiri dari
dua indikator. Yang pertama kondisi
keuangan TPS3R. Apakah TPS3R ini
mengalami penurunan ataupun ee
pembiayaannya sendiri mengalami
peningkatan atau juga antara pengeluaran
sama pemasukan itu nilainya balance.
Yang kedua yaitu bantuan pemerintahan
dan pihak luar. adanya bantuan dana
serta peralatan operasional dari
pemerintah dan atau pihak luar. Jadi
pada TPS 3R ini dari total keseluruhan
indikator memiliki 20 indikator.
Selanjutnya untuk contoh indikator
beserta parameternya yang pertama di
teknis operasional. Sebagai contoh itu
indikator tentang kuantitas sampah
dikelola.
Dalam kuantitas sampah dikelola ini
untuk parameternya sendiri
memiliki skala yang di mana sampah
dikelola 100% atau sampah yang tidak
dikelola kurang dari 100% dengan
masing-masing memiliki nilai parameter
serta bobot untuk indikator ini sebesar
20. Kemudian untuk regulasi sebagai
contoh pedoman dan peraturan daerah
tentang TPS 3R yang di mana untuk
parameternya sendiri pengelola TPS 3R
telah mengetahui pedoman ataupun
peraturan daerah mengenai TPS 3R dan
sudah diterapkan oleh pengelola serta
pengelola TPS 3R belum mengetahui
pedoman dan peraturan daerah terkait
TPS3R dan belum juga diterapkan oleh
pengelola. Adapun untuk nilai
parameternya ini terdiri dari 0 sampai 3
dengan bobot 10.
Selanjutnya untuk partisipasi masyarakat
salah satu indikatornya mengenai
pengembangan pelanggan TPS 3R yang di
mana untuk pelanggan ini bisa dilihat
dari penambahan pelanggan, tidak ada
penambahan pelanggan, serta TPS3R
mengalami penurunan pelanggan. Untuk
nilainya sendiri terdiri dari 0 hingga 3
yang akan menggambarkan
jum gambaran pelanggan tersebut dengan
bobot 15. Kemudian keuangan. Contohnya
kondisi keuangan di TPS 3R. Apakah
keuangan ini antara pemasukan lebih
besar dari pengeluaran atau pemasukan
sama dengan pengeluaran atau pemasukan
kecil dari pengeluaran dengan nilai
dengan range 0 2 dan 3 dengan bobot 15.
Yang terakhir yaitu kelembagaan. Contoh
indikatornya kerja sama dengan pihak
luar atau pengepul sampah yang membahas
tentang adanya kesepakatan dengan
pengumpul mengenai harga jual sampah
maupun jadwal pengambilan sampah.
Adapun simulasi dalam penentuan indeks
keberlanjutan TPS3R yang pertama yaitu
melakukan wawancara dan penilaian pada
TPS 3R. Sebagai contoh, berikut
merupakan logbook instrumen penilaian
keberlanjutan pada TPS 3R yang terdiri
dari indikator-indikator mulai dari
teknis operasional hingga
kelembagaan. Kemudian kita
meneliti salah satunya yaitu kuantitas
sampah dikelola. Apakah di TPS 3R ini ee
sampahnya sudah melayani 100% cakupan
atau kurang dari 100% cakupan? Untuk
menilainya itu kita melihat dari skala
nilainya. Sebagai contoh dimasukkan
nilai 2 untuk bobot 20. Kemudian skornya
ini merupakan pengali
penilaian dan bobot. Kemudian didapatkan
skor sebesar 40. Setelah itu kita
melakukan hal yang sama untuk tiap-tiap
indikator sehingga diperoleh akumulasi
nilai sebesar 695.
Dari hasil wawancara dan penilaian ini
kita input skor ke dalam grafik untuk
mengetahui apakah tiap-tiap indikator
ini telah memenuhi nilai maksimum dan
bisa juga sebagai ee keberlanjutan dari
TPS 3R itu sendiri.
Kemudian dari wawancara tadi setelah
kita menghitung, kita melakukan
akumulasi nilai yang diperoleh dari
perkalian antara nilai per tiap
parameter pada indikator dikali sama
bobot kesesuaian. Selanjutnya kita
menghitung tingkat keberlanjutan dari
TPS 3R yang telah diteliti dengan rumus
skor yang diperoleh yaitu sebesar 695
dibagi skor maksimum sebesar 890 * 100%.
Kemudian dari penilaian ini didapatkan
bahwa TPS 3R yang diteliti memperoleh
nilai akhir sebesar 695
atau 78%.
yang di mana nilai tersebut masuk ke
dalam kategori berkelanjutan.
Ee berikut penjelasan terkait TPS 3R.
Selanjutnya akan dijelaskan mengenai
sedekah sampah.
Baik, terima kasih untuk waktunya Mbak
Via. Ee selanjutnya kita akan masuk ke
dalam sesi sedekah sampah. Bapak, Ibu
sekalian ee perlu diketahui juga bahwa
sedekah sampah ini merupakan salah satu
program juga dari pengelolaan sampah
berbasis masyarakat selain TPS 3R dan
bank sampah. Ee untuk Bapak Ibu sekalian
yang masih asing dengan sedekah sampah,
apa sih sedekah sampah itu? Sebenarnya
sedekah sampah itu kurang lebih ee sama
dengan bank sampah. Tetapi bedanya
sistemnya untuk sedekah sampah ini
masyarakat akan menjual sampah mereka ke
petugas sedekah sampah tetapi tidak
mendapatkan keuntungan dari hasil
penjualan tersebut atau lebih
mengikhlaskan ee dari hasil penjualan
tersebut dikarenakan ee dari hasil
penjualan tersebut nantinya akan
digunakan dari pihak petugas sedekah
sampah untuk ee mengelola atau ee
melaksanakan program-program
pemberdayaan masyarakat ee ke depannya.
Ee selanjutnya, Mas ee baik ee kemudian
untuk pada indeks keberlanjutan pada
sedekah sampah ini ee sebenarnya baik
lagi mengacu ee pada lima aspek
pengawalan sampah berasi masyarakat.
Untuk penyusunannya ee yang pertama ada
teknis operasional, kemudian dasar hukum
atau regulasi, kemudian ada peran serta
masyarakat,
ada pembiayaan, dan terakhir adalah
kelembagaan. Nah, untuk ee penyusunan
indeks kebelanjutan ini ada dua metode
yang digunakan. Ee yang pertama ada
pembuatan kesesuaian di mana ee dalam
pembuatan kesesuaian ini ee menggunakan
sebuah bobot untuk perhitungan setiap
indikatornya. Oleh karena itu, perlu
ditentukan bobot nilai kesesuaian untuk
membedakan tingkat kesesuaian dan bisa
diperhitungkan menggunakan metode
scoring nantinya. Ee seperti yang bisa
kita lihat di tabel tersebut Bapak Ibu
sekalian bahwa terdapat empat bobot.
yang pertama ada 20, 15, 10, dan 5. Nah,
untuk bobot ee yang 20 sendiri itu
nantinya digunakan jika indikator yang
akan dipakai ini ee pernah digunakan
sebelumnya sebanyak empat kali atau
lebih dari empat ee pada referensi atau
pada penelitian sebelumnya dengan ee
dengan penelitian yang berbeda-beda.
Begitu juga pada bobot yang 15 ee itu
nanti sebanyak tiga kali ee pernah
digunakan di penelitian sebelumnya.
Kemudian pada bobot 10 itu sebanyak dua
kali dan pada bobot 5 ini nanti ee hanya
pernah sekali digunakan pada penelitian
sebelumnya ee untuk meneliti peniaan
pada sedekah sampah juga.
Dan metode selanjutnya adalah pembuatan
pada parameter. Jadi untuk ee parameter
ini nilai skala parameter ini sangat
penting untuk mendukung keberlanjutan
Bapak Ibu sekalian. Karena dengan adanya
nilai parameter ini ee akan tahu berapa
nilai ee setiap indikatornya nanti. Nah,
untuk nilai skala yang digunakan itu ada
4 3 2 1 0. Ee keterangannya untuk 4
sendiri itu sangat baik. Kemudian tiga
itu baik, dua cukup, eh satu tidak
cukup, dan nol sendiri itu buruk.
Ee lanjut, Mas. Nah, ini merupakan salah
satu contohnya Bapak, Ibu sekalian yang
sudah saya jelaskan di slide sebelumnya.
Jadi, contohnya untuk indikator
pengetahuan masyarakat terkait pengan
sampah dengan kode 1C. Nah, untuk
indikator ini sendiri itu masuk dalam
aspek peran serta masyarakat, Bapak,
Ibu. Ee jadi ee setelah saya kita cari
tahu bahwa ee indikator ini ternyata
sudah pernah digunakan atau sudah pernah
dipakai dari beberapa penelitian
sebelumnya seperti penelitanya Isworo
2018, kemudian IAMU dan kawan-kawan
2022, Sanjevi dan Sahabudin 2015 dan
Santika dan kawan-kawan 2022. Nah,
makanya pada indikator ini ee
mendapatkan atau menggunakan ee bobot 20
untuk ke depannya untuk dalam instrumen
itu nanti dengan nilai skala tiga nilai
skala parameter 3, 2, dan 1.
Lanjut, Mas.
Nah, setelah ee indikator
keberlanjutan tadi disusun menggunakan
dua metode tadi, terbentuklah instrumen
keberlanjutan atau media untuk
menilai sebuah sedekah sampah ke
depannya. Apa agar ee diketahui bahwa
sedekah sampah tersebut keberlanjutan
atau tidak keberlanjutan. Nah, untuk ee
instrumen tersebut ee kembali lagi
mengacu pada lima aspek penguangan
sampah masyarakat. Yang pertama itu ada
teknis operasional. Ee di teknis
operasional sendiri terdapat lima
indikator. Yang pertama ada kuantitas
sampah. Di mana ee pada indikator ini
dilihat dari persentase area pelayanan
Bapak, Ibu sekalian dari ee area
pelayanan sedekah sampah itu yaitu skala
RT atau RW. Kemudian indikator kedua
adalah pemilahan dari petugas. Jadi ee
pada indikator ini apakah dilihat dari
apakah Mas ee petugas dekas sampah itu
ee sudah melakukan pemilahan secara
komposisinya seperti ee plastik,
kemudian karet, sampah jenis kertas,
logam, dan lain-lain. Atau ee
petugas sudah memilah sampah secara
komposisi dan lebih detail. Jadi, misal
sudah dipilah ee seperti plastik
sendiri. Nah, itu plastik itu nanti
dipilah secara detail lagi. Ee dipilah
seperti plastik HDPE sendiri, kemudian
PP sendiri, LDPE, kemudian begitu juga
pada sampah kaca, kemudian ada botol
kaca sendiri, kaca cetakan sendiri,
kemudian sampah logam juga ada besi
jenis A, besi jenis B, aluminium dan
lain-lain. Kemudian indikator
selanjutnya adalah penjualan sampah.
Jadi untuk indikator penjualan sampah
ini dilihat dari hasil penjualan sampah
selama 3 bulan terakhir Bapak Ibu
sekalian apakah ee terdapat kenaikan
atau penurunan atau stabil dalam
penjualan sampah diah sampah ini.
Kemudian faktor keempat eh indikator
keempat adalah pengelolaan lingkungan.
Jadi untuk indikator ini dilihat dari
pengolaan lingkungan yang sudah
dilakukan oleh ee petugas
ee sedekah sampah. eh seperti penerapan
3R, reduce, reus, dan resikel atau ee
pengolaan residu dari pengelolaan
sedekah sampah itu sendiri. Dan
indikator kelima adalah kondisi sarana
dan prasarana. Pada kondisi sarana dan
prasarana ini dilihat dari persentase
dari sarana prasarana yang masih
berfungsi atau masih ee layak digunakan
dengan baik. Kemudian pada aspek
selanjutnya adalah kebijakan atau
regulasi. Di mana di aspek ini terdapat
dua indikator yang pertama peraturan
desa terkait pengolaan sampah. Ee dari
indikator ini dilihat apakah desa
tersebut sudah mempunyai undang-undang
atau regulasi atau peraturan ee terkait
pengolan sampah seperti pwadahan yang
tepat, kemudian mengolah sampah dari
rumah atau memilah sampah dan lain-lain.
Selanjutnya indikator kedua adalah
pedoman atau regulasi terkait pengan
sampah. Nah, pada indikator ini dilihat
ee apakah petugas sampah, petugas
sedekah sampah tepatnya atau masyarakat
sudah paham terkait undang-undang atau
regulasi sampah apa dan apakah sudah
diterapkan secara baik dan benar.
Selanjutnya adalah ee
aspek pada peran serta masyarakat. Pada
per serta masyarakat ini terdapat dua
indikator. Yang pertama pengetahuan
masyarakat terkait pengangan sampah.
Pada aspek ini ee dilihat dari peran
masyarakat dalam hal ee memahami terkait
pengan sampah yang sudah disampaikan
dari ee pihak petugas sedekah sampah
melalui seperti kegiatan sosialisasi
atau kegiatan webinar atau yang
lain-lain. Ee kemudian indikator
selanjutnya adalah pemilahan di sumber
ee di mana masa pada indikator ini
dilihat apakah masyarakat sudah
melakukan pemilahan di sumber atau di
dari rumah sebelum ee masyarakat itu
menyerahkan sampah mereka atau menjual
sampah mereka ke pihak sedekah sampah.
atau bahkan ada masyarakat yang hanya
menyetorkan sampah saja, tetapi tanpa
pemilahan dari rumah sebelum mereka
menjualnya ke sedekah sampah. Kemudian
aspek selanjutnya adalah pembiayaan.
Pada aspek pembiayaan ini terdapat dua
indikator, Bapak, Ibu sekalian. Yang
pertama adalah pemasukan sedekah sampah.
Nah, pada indikator ini dilihat ee
apakah ee
di indikator ini ee dana yang digunakan
itu berasal dari ee terdapat penambahan
dana dari luar seperti bantuan dana dari
luar, kemudian penambahan nasabah atau
hanya ee nasabah yang sudah ada
sebelumnya, Bapak, Ibu. Kemudian untuk
selanjutnya
ee terdapat indikator biaya operasional
sedekah sampah. Nah, pada indikator ini
dilihat apakah biaya operasional ini
melebihi dari pemasukan atau bahkan ee
tidak melebihi dari pemasukan. Nah,
untuk yang terakhir adalah dari aspek
kelembagaan. Jadi, untuk ee aspek
kelembagaan ini terdapat kurang lebih
tujuh indikator yang digunakan untuk
penilaian. Yang pertama adalah struktur
organisasi. Nah, untuk struktur
organisasi ini dilihat apakah ee dari
pihak sedekah sampah sendiri ini sudah
terdapat struktur organisasi untuk
mengelola
ee sedekah sampah tersebut dan apakah
masih aktif atau hanya sekedar ee
catatan saja struktur organisasi
tersebut. Tidak ada ee sumber dayanya,
sumber daya manusianya. Kemudian ee
indikator selanjutnya adalah kerja sama
dengan pihak luar. Ee dari indikator ini
dilihat bahwa apakah sedekah sampah ini
ee sudah kerja sama seperti dengan pihak
pengepul untuk menjual sampah mereka,
kemudian untuk ee memastikan ee
penetapan harga dan pengambilan sampah
kurang lebih untuk kerja sama dalam hal
tersebut. Kemudian ee indikator
selanjutnya adalah sumber daya manusia
atau SDM. Ee pada indikator ini ee
dilihat dari ee kemampuan dari setiap
petugas dari sedekah sampah melalui ee
diberikanlah diberikannya melalui
pelatihan yang sudah ada dan ee pengurus
sedekah sampah bisa melakukan studi
banding ke sedekah sampah lain untuk
meningkatkan skill atau kualitas serta
pemahaman mereka terkait pengolaan
sedekah sampah. Kemudian ee indikator
selanjutnya adalah SOP atau standar
operasional pelaksana. ee pada indikator
ini ee dilihat bahwa
ee pengurus sedekah sampah itu apakah
sudah ada SOP dan sudah ee menerapkan
atau belum. Kemudian untuk indikator
selanjutnya adalah administrasi
pengelolaan. Di mana pada indikator ini
ee biasanya
para pengurus itu ee melakukan pembukuan
atau pencatatan terkait ee keluar masuk
dari biaya ee yang dihasilkan dari
pengelolaan sedekah sampah. Kemian yang
keenam adalah indikator pengolaan hasil
penjualan. Untuk indikator hasil ini
biasanya dari pihak petugas sedekah
sampah itu ee mengolah hasil penjualan
dari sedekah sampah dalam bentuk
penyaluran dana untuk kegiatan sosial
dan program simpan pinjam untuk
masyarakat Bapak Ibu sekalian. Dan
kemudian untuk indikator terakhir adalah
tergabungnya dalam komunitas sedekah
sampah. Jadi pada indikator terakhir ini
dilihat apakah ee dari sedekah sampah
tersebut sudah tergabung dalam
ee komunitas sedekah sampah atau belum
untuk dilakukan penilaian. Kemudian
lanjut, Mas.
Nah, dari seluruh ee indikator yang
sudah saya jelaskan tadi, yang sudah
saya jelaskan di sebelumnya, ini
merupakan salah satu contoh dari setiap
aspek ee dari indikator tersebut.
Contohnya untuk untuk aspek teknis
operasional itu terdapat indikator
kuantitas sampah dengan bobot 15 dengan
parameter sebagai berikut. Seperti berat
sampah yang dikelola 80% dari area
pelayanan. berat sampah yang dikelola
lebih dari 30% dan kurang dari 80% dari
area pelayanan dan lain-lain. Kemudian
ee contoh berikutnya pada aspek
kebijakan atau regulasi ee di mana
indikatornya contohnya adalah peraturan
desa terkait pengan sampah dengan
parameter ee nilai skalanya 320 dan
bobotnya adalah 10. Untuk parameternya
adalah sudah memiliki peraturan desa
terkait sedekah sampah dan sudah
diterapkan. kemudian sudah memiliki
peraturan desa terkait sedekah sampah
tetapi belum diterapkan dan belum
terdapat peraturan desa terkait sedekah
sampah.
Kemudian contoh selanjutnya adalah pada
aspek ee peran serta masyarakat. Pada
aspek ini contoh indikatornya adalah
pengetahuan masyarakat terkait pengahan
sampah. Jadi untuk indikator ini
mendapat menggunakan bobot 30 dengan
nilai skala parameter 321. ee dengan
parameter sebagai berikut. Kemudian
untuk ee
aspek pembiayaan dengan indikator
contohnya adalah pemasukan sedekah
sampah dengan bobot yang digunakan
adalah 15 dengan nilai ee skala
parameter itu 4, 3, dan 2 dengan
penjelasan parameter sebagai berikut.
Kemudian seperti yang ada di tabel-tabel
tersebut. Kemudian selanjutnya adalah
yang terakhir aspek ee kelembagaan. pada
aspek kelembagaan
ee untuk contoh indikatornya adalah
struktur organisasi. Nah, untuk struktur
organisasi ini menggunakan bobot 20
dengan nilai parameter 3, 2, dan 0. Dan
penjelasan ee terkait parameter tersebut
seperti tabel pada berikut itu.
Kemudian lanjut. Nah, setelah ee
indikator tersebut tersusun ee kemudian
indikator tersebut ee akan digunakan
untuk ee melakukan penilaian dan
mengetahui status keberlanjutan pada
sedekah sampah. Nah, untuk penilaian
tersebut ee untuk indikatorindikator
yang sudah disusun tersebut ee berbentuk
dalam logbook Bapak Ibu sekalian atau
logbook penilaian keberlanjutan pada
sedekah sampah. Nah, untuk logbook
sendiri itu terdiri dari aspek, kemudian
kode, indikator, parameter, skor, bobot,
nilai, [tertawa]
dan ee skor akhir atau total. Jadi ee
pada penilaian ini terdapat beberapa
tahap. Yang pertama ada Bapak, Ibu
sekalian sedang melakukan penilaian pada
sedekah sampah X misalnya. Nah, misal
pada pada saat melakukan penilaian
terutama pada indikator kuantitas
sampah. Nah, itu ternyata ee sedekah
sampah tersebut berat sampah yang
dikelola itu kurang dari 30% dari area
pelayanan. Maka skor yang ee didapat itu
adalah 1. Kemudian bobot dari indikator
tersebut kan itu 15. Jadi nanti ee untuk
nilai indikator kuantitas sampah
tersebut 1 * 15 maka mendapatkan nilai
15 untuk ee indikator kuantitas sampah
tersebut. Kurang lebih seperti itu untuk
sistem penilaian sampai dengan indikator
yang terakhir. Nah, hasil dari penilaian
tersebut ee diperoleh untuk total nilai
akhirnya itu adalah skornya 275. Nah,
kemudian saat itu dari hasil penilaian
tersebut diinput ee ke dalam grafik
untuk mengetahui
ee nilai maksimum dan nilai minimumnya
dengan memasukkan kode-kode dari setiap
indikator tersebut. Dan selanjutnya ee
setelah melakukan input hasil ke dalam
grafik tersebut kemudian diinput ke
dalam grafik tentang keber keberlanjutan
Bapak Ibu sekalian untuk mengetahui
apakah ee setiap sedekah sampah tersebut
sedekah sampah yang dinilai tersebut ee
masuk dalam beberapa kategori seperti
sangat tidak berkelanjutan, tidak
berkelanjutan, cukup berkelanjutan,
berkelanjutan sangat berkelanjutan. ee
dari hasil penilaian tadi ee diperoleh
untuk skor akhirnya itu adalah 275 Bapak
Ibu sekalian ya. 275 itu masuk dalam ee
kategori tidak berkelanjutan di mana 275
itu ee masuk dalam rentang keberlanjutan
145 sampai 290
atau dalam bentuk persentase itu ee 38%
itu masuk dalam kata dalam rentang 20%
sampai 40%. ee berdasarkan hasil
penilaian pada sedekah sampah X
diperoleh nilai akhir sebesar 275 atau
skornya itu 275
atau sekitar 38%
ee di mana dengan hasil akhir tersebut
ee termasuk dalam kategori tidak
berkelanjutan. Kurang lebih seperti itu
penjelasan dari saya terkait sedekah
sampah. Jika ada kekurangan saya mohon
maaf.
Baik, eh terima kasih Mas eh Fato, Mbak
Via, dan Mas Abdul yang sudah
menjelaskan secara detail terkait dengan
instrumen yang ada. Instrumennya intinya
arahnya keberlanjutan Bapak, Ibu ya.
Jadi tidak menilai ee bagaimana kinerja
ee yang ada di masing lokasi, tidak.
Tapi instrumen tersebut memang berisi
pertanyaan-pertanyaan,
tapi pertanyaan tersebut memang tidak
semua ditahan gitu ya, tapi
pertanyaan-pertanyaan yang sudah dipilih
dan masuk dalam aspek ee keberlanjutan.
Nah, setelah dian oleh ketiganya tadi ee
kan ada kelas ya, ada kategori yang akan
muncul gitu ya. mulai dari yang paling
rendah adalah sangat tidak berjutan atau
dengan nama lainlah gitu ya. Kemudian
tidak berkelanjutan cukup ee
berkelanjutan kemudian ee berkelanjutan
dan sangat ee berkelanjutan. Nah,
masing-masing skala ini ya memiliki ee
aktivitas lanjut yang berbeda. Misalnya
contoh Bapak Ibu, ini sekedar contoh
saja gitu ya sebagai penutup gitu ya.
Setelah diukur tadi kan ketahuan tadi
Mas F sepertinya menampilkan contoh yang
ee sangat berkelanjutan gitu. Kemudian
Mbak Via tadi yang ee berkelanjutan atau
berkelanjutan? Mas Abdul tadi
menyampaikan yang tidak berkelanjutan.
Ini misalnya contoh ya setelah diukur
dan kira-kira treatmentnya apa walaupun
masing-masing lokasi ini ee sangat
berbeda gitu ya. Ee tadi seperti di chat
ada yang mengirimkan laporan kan tidak
semua lokasi bisa membuat laporan yang
baik. Nah, kita mencoba untuk membuat
berbagai macam opsi ya yang bisa
ditawarkan. Misalnya saat dia tidak
berkelanjutan kalau teknis
operasionalnya mungkin dia butuh
fokusnya ke standarisasi SOP gitu ya.
Ini setelah sampah ini masuk kemudian
ditimbang dicatat berapa lama disimpan
harus jelas gitu ya. mungkin juga bisa
memanfaatkan teknologi sederhana untuk
proses mungkin pencatatan gitu ya.
Kemudian ya mungkin ada perbedaan antara
masyarakat yang sudah terlibat dengan
yang tidak terlibat. Jadi ini kita coba
buat berbagai macam alternatif tapi
tidak terpaku ya Bapak Ibu harus seperti
ini tidak gitu ya. Jadi ini adalah ee ee
pilihan Bapak Ibu nanti di teknis
operasional akan melakukan apa
diregulasi kebijakan akan melakukan apa
gitu di perayaan akan melakukan apa.
Nah, ini misalnya di peran serta
masyarakat ya. Oh, edukasinya tetap
harus lanjut ya. Kader lingkungan itu
diperlukan gitu. Oh, ternyata ada juga
insentif sosial untuk menambahkan,
menumbuhkan rasa memiliki terhadap si ee
aktivitas yang dikelola bersama tadi.
Ibu yang sudah berjalan pengolaan bank
sampahnya, ada nih bentuk insentif
sosial, tidak hanya ee materi mungkin ya
dalam bentuk yang lain, mungkin
penghargaan bentuknya yang lain.
Kemudian ada aspek ee kelembagaan. Nah,
ini juga ada contoh satu lagi yang ee
sudah berkelanjutan ya ee di selanjutnya
ya. Ee kalau yang sudah berkelanjutan
itu seperti apa? Oh misalnya inovasi
harus diterapkan gitu agar pengelola
tidak merasa bosan terhadap aktivitas
yang sudah dilakukan gitu ya. Kemudian
sarana prasarana mungkin bisa
dioptimalisasi
SM ee peningkatan SDM. maka dalam ee
konteksnya dia sudah berkelanjutan ini,
kelompok sudah berkelanjutan, maka
pelatihannya kalau ee Dinas Lingkungan
Hidup melakukan pelatihan jangan
kelompokkan dengan yang tidak
berkelanjutan. Artinya kapasitas SDM ini
bisa saja saat dia sudah berkelanjutan
dia bisa mengarah kepada leadership ya,
pengaturan administrasi yang baik gitu
ya. bagaimana kekompakan tim dan
seterusnya. Tapi kalau yang masih
berjuang ya, yang masih ee apa ee
berkelanjutan tadi itu penguatan
aspek-aspek yang lebih ee sifatnya
teknis kepada jalannya bank sampah
sampah TPSAR. Jadi belum berkembang ke
mana-mana agar ee terarah gitu. Kemudian
regulasi misalnya ya, ee pembiayaan
sudah bisa masuk nih dari sistem ee
swasta. Kalau TPS3R misalnya penguatan
dari sistem retribusi produk mungkin
yang sudah bisa dijual saat ada
kunjungan gitu ya. Nah, peran serta
masyarakat mungkin juga sudah ee tetap
harus dilakukan edukasi ya ee
penghargaan kepada komunitas yang aktif.
Oh, si pelanggan yang ee sudah milah
sampah, sudah berlangganan bank cukup
lama, ada penghargaan tersebut. Jadi,
ini adalah hasil pengukuran dan mungkin
sedikit ee opsi solusi gitu ya terhadap
lokasi-lokasi yang ee ada tersebut gitu
ya. Jadi ee tantangannya bisa
macam-macam. Baik Bapak Ibu ee mungkin
ada baiknya kita juga bisa berdiskusi.
Saya lihat tadi pertanyaan-pertanyaan
sudah cukup banyak yang disampaikan
pastinya. Mudah-mudahan ini bisa
bermanfaat bagi kita semuanya, terutama
bagi kami berempat yang masih terus
harus belajar ya ee untuk mengembangkan
berbagai macam ee keperluan yang
berhubungan dengan pengelolaan sampah
berbasis masyarakat ya. Ee terima kasih
Bapak, Ibu atas peran yang diberikan
dan mudah-mudahan kita bisa lanjutkan
untuk sesi tanya jawab. Saya mewakili
teman-teman bertiga ee memohon maaf ada
penyampaian yang ee kurang berkenan atau
kurang jelas. Mudah-mudahan nanti kita
lanjutkan di dalam sesi pertanyaan.
Terima kasih sekali lagi mohon maaf.
Wabillahi taufik wal hidayah.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Saya kembalikan kepada Mbak
Nuha
warahmatullahi wabarakatuh.
Baik, demikian tadi penyampaian materi
yang luar biasa, bermanfaat dan
inspiratif dari narasumber kita yaitu
Bapak Hijrah, Ibu Khairiah, Bapak Fadur,
dan Bapak Abdullah. Terima kasih atas
penjelasan dan penyampaian materinya.
Nah, jika dilihat sudah banyak sekali
pertanyaan dari Bapak Ibu peserta
webinar dan buku launching ini. Namun
sebelum kita masuk ke acara selanjutnya,
izinkan saya menyampaikan beberapa
informasi terlebih dahulu kepada Bapak
Ibu peserta webinar dan kuaji. ee yang
ingin yang menginginkan buku dan materi
webinar
ee hari ini dapat request terlebih
dahulu melalui link yang telah admin
kami kirimkan di kolom chat Zoom.
Kemudian sebelum kita masuk ke sesi
tanya jawab, kita akan melakukan sesi
foto bersama terlebih dahulu. Untuk sesi
foto bersama kali ini saya akan dibantu
oleh admin kita. kepada admin
dipersilakan.
Baik, terima kasih
dokumen dimulai dari slot
3 2 1. Slide kedua 3 21
dan slide terakhir 3 21. Baik, terima
kasih. Saya kembalikan ke Mbak.
Baik, terima kasih untuk admin yang
telah membantu sesi foto bersama kita
pada siang hari ini. Kemudian
selanjutnya kami juga ingin meminta
kesediaan Bapak Ibu untuk mengisi
kuesioner yang linknya sudah di-share di
kolom chat Zoom supaya kegiatan kami
selanjutnya bisa lebih baik lagi di
kemudian hari. Kita sampai di acara yang
ditunggu-tunggu. yaitu sesi tanya jawab.
Di sini kami sudah membantu merangkumkan
pertanyaan dari Bapak Ibu
ee peserta training online. Saya akan
membacakan dan nanti selanjutnya bisa ee
untuk dijawab.
Baik, pertanyaan yang pertama dari Bapak
Rudianto. Pertanyaan pertama, mengapa
banyak program pengelolaan sampah di
daerah yang tidak bekerja secara optimal
meskipun telah mendapatkan dukungan dan
pendanaan? Pertanyaan kedua, bagaimana
keterlibatan aktif masyarakat dapat
meningkatkan efektivitas PSBM dalam
jangka panjang? Kemudian yang terakhir,
apa bentuk standar instrumen
keberlanjutan yang paling dibutuhkan
untuk memastikan pengelolaan sampah
tetap berjalan konsisten?
Baik,
untuk pertanyaan ini akan dijawab oleh
hijrah. Betul, Bapak.
Oke, terima kasih Mbak Nuh dan
Mbak Pak Rudianto terima kasih juga atas
pertanyaannya. saya mencoba untuk
menjawab gitu. Ee
memang dalam ee keberlanjutan ini kami
melihat bahwa tidak hanya satu aspek
saja yang ee
menonjol begitu, tapi ee ke ee apa
keterkaitan antar aspek itu menjadi juga
yang sangat penting ya. Nomor satu
misalnya pernyataan Pak Rudi sudah
banyak yang dibantu ya dengan dukungan
pendanaan tapi ternyata belum bisa
bekerja secara optimal gitu. Mungkin ada
hal yang lain dalam aspek yang lain yang
tidak dibantu secara penuh mungkin belum
ee dapat bekerja dengan baik gitu ya.
misalnya ee aspek ee kelembagaannya
belum dibenahi gitu ya secara internal
di dalam TPS 3R tersebut sehingga ee
praktik misalnya istilah one man show
gitu. Jadi satu orang itu yang terus dia
sebagai ketua, dia yang nyatat
administrasi
ee keterungan kepada orang ini menjadi
lebih tinggi saat orang ini perlu
dihadirkan untuk rapat di dinas, di
dewan, presentasi ke mana, aktivitas di
dalamnya tidak bisa bekerja secara
optimal gitu. Jadi permasalahannya tidak
hanya support pemerintah dan pendanaan
saja, tapi secara internal
regulasi, peran serta masyarakat itu
menjadi hal yang ee penting. Ee
keterlibatan masyarakat itu pasti. Jadi
kan tadi slogannya Mas Fatur, Mbak Via,
Mas Abdul tadi ya dari masyarakat untuk
masyarakat gitu ya. Jadi berangkatnya
memang dari kebutuhan
saat TPS 3R dihadirkan dalam satu lokasi
berarti ada indikasi bahwa lokasi
tersebut belum bisa melakukan
pengelolaan sampah dengan baik ditandai
dia masuk daerah rawan sanitasi.
Kemudian ada ee misalnya ini apa
namanya? Ee aduh apa namanya saya lupa
kuesioner untuk ee tingkat kebutuhan ya
ee pemilihan apa istilahnya di dalam
Juknis 2024 ee TPS 3R itu ya saya agak
lupa artinya di dalam kuesioner tersebut
kemudian menghasilkan bahwa masyarakat
di lokasi tersebut memang butuh ee
sistem pengolahan sampah. Kemudian
willingness to pay gitu ya, kemampuan
dia untuk membayar karena sistem
tersebut bisa berjalan dengan adanya
support pendanaan gitu. Yang masyarakat
yang biasanya bakar sampah, buang sampah
sembarangan atau dia kelola di lahan dia
karena dia punya lahan besar e dia
merasa tidak perlu membayar saat
sistemnya nanti. Ngapain bayar? Saya
selama ini tidak pernah bayar sampah.
Saya buang di belakang selesai gitu ya.
Nah, berarti kan ada pengubahan mindset
tadi. Berarti penyiapan masyarakat sejak
awal itu menjadi pondasi dasar sambil
nanti terus dikuatkan, sambil berjalan.
Jadi, betul sekali keterlibatan
masyarakat itu salah satu untuk membuat
si PSBM ini ee dapat berjalan ee dengan
baik. Nah, mungkin itu ee saya tidak
satu persatu tapi mungkin secara umum
sudah terjawab begitu Mbak.
Baik, terima kasih Bapak Ijrah sudah
menjawab pertanyaan Bapak Rudianto.
Pertanyaan selanjutnya dari Bapak
Hartawan.
Jika jika pengelolaan sampah yang ideal
membutuhkan pemilahan dari rumah,
dukungan kelembagaan yang kuat,
pembiayaan yang jelas, serta fasilitas
teknis yang memadai, maka bagaimana
masyarakat dapat berperan secara nyata
dan berkelanjutanikan
sisteman sampah berbasis masyarakat
berjalan efektif dan tidak kembali
berhenti di tengah jalan seperti banyak
program sebelumnya.
Baik, untuk pertanyaan ini mungkin bisa
dijawab.
Baik, terima kasih untuk pertanyaannya
dari Bapak Hartawan. Jadi sebenarnya
masyarakat itu dapat berperan secara
nyata dan berkelanjutan dalam memastikan
sistem pangan sampah berbasis masyarakat
agar berjalan efektif ee melalui
keterlibatan aktif yang terstruktur dan
ee konsisten. Bapak
eh peran ini dimulai dari hal yang
sederhana sebenarnya seperti melakukan
pemilihan sampah dari rumah. Kemudian
itu sebagai pondasi utama agar proses
pengumpulan sampah, kemudian pengolahan
dan pemanfaatan nilai ekonomi sampah itu
dapat berjalan secara ef secara efisien.
Ee kemudian selain itu juga ee
masyarakat perlu terlibat juga dalam
kelembagaan lokal seperti ee bank
sampah, kemudian TPS3R,
kelompok SDK sampah, baik itu mengurus
ee kemudian anggota aktif maupun peserta
kegiatan rutin ee sehingga terbentuk ee
organisasi yang kuat dan tidak
tergantung kepada pemerintah. Selain
itu, dukungan berkelanjutan juga dapat
ee diperkuat melalui partisipasi dalam
penyusunan aturan bersama kayan
pembayaran iuran, serta transparasi
keuangan yang ee membangun kepercayaan
dan berkelanjutan pembiayaan
operasional. Ee masyarakat pun bisa
berperan menjaga fasilitas teknis
melalui kedisiplinan pembangunan,
gotong-royong, dan pelaporan kerusakan
agar sarana yang tersedia itu tidak
mangkrat. Bapak, kurang lebih seperti
itu untuk pertanya jawaban dari
pertanyaan dari Bapak.
Baik, terima kasih Bapak Abdullah yang
sudah menjawab pertanyaan dari Bapak
Hartawan.
Selanjutnya ada pertanyaan dari Ibu
Yolanda
tentang perbedaan TPS3R dan TPST. Apakah
suatu infrastruktur pengelolaan sampah
yang dilengkapi dengan teknologi
pengelolaan sampah pengelolaan sederhana
seperti pemilahan, pengesan,
dan pengomposan sudah dapat dioperasikan
sebagai TPST atau sebagai TPS 3R. Lalu
apakah TPS 3R yang overload dan melayani
tiga kecamatan bisa disebut TPST?
Baik, itu tadi pertanyaan dari Ibu
Yolanda. Bisa mungkin bisa dijawab oleh
ee Ibu ya.
Baik, terima kasih Bu Yolanda atas
pertanyaannya. Terkait perbedaan TPS3R
dan TPST. Ee sebenarnya itu kalau untuk
TPS 3R cakupannya untuk skala kawasan.
Sedangkan untuk TPS sendiri untuk
pengelolaannya itu sudah dibawa
pemerintah, kota atau kabupaten. Terkait
infrastrukturnya sendiri antara TPS3R
dan TPST sebetulnya sama sudah ada
pemilahan, pengepresan, dan pengomposan
juga. Namun kembali lagi untuk TPS 3R
yang overload dan melani tiga kecamatan
ee apabila sampah yang di lain tiga
kecamatan ini masih di TPS 3R maka itu
masih menjadi cakupan untuk TPS3R itu
sendiri. nih. Sedangkan kalau untuk TPST
balik lagi ee untuk pengolahannya
sendiri sudah dibawa pemerintah kota
atau kabupaten.
Mungkin mungkin itu dari saya. Terima
kasih.
Baik, terima kasih Ibu
sudah menjawab pertanyaan dari Bu.
Pertanyaan selanjutnya dari Ibu Windya
Agustus.
Alhamdulillah kami sudah memiliki 70
cabang bank sampah. Dalam praktiknya
kendala kami adalah keberadaan bank
sampah mengambil rezeki pemulung
tugas sampah yang sudah ada.
pembantuannya bagaimana memberikan
wacana pola
baik mungkin untuk pertanyaan ini bisa
dijawab oleh
Bapak Agung
atau Bapak Fatut.
Baik, ee terima kasih, terima kasih juga
atas pertanyaannya dari Bu Windia
Agustin. Sebenarnya selamat ee
alhamdulillah sudah miliki 70 cabang
bank sampah, namun kendalanya ee
sering ini ya Bu ya dengan ada pemulung.
Ee melihat kendala tersebut ee apabila
dikembalikan lagi ee kepada prinsip PSBM
yaitu salah satunya ada juga peran serta
masyarakat aktif. dalam ini mungkin ee
menurut pandangan saya mengenai pemulung
dan petugas sampah ini mungkin ee ee Ibu
dapat melakukan diskusi dengan para
pemulung yang ada dan melakukan kerja
sama untuk sama-sama karena tujuan dari
pemulung ataupun dari bank sampah ini
kan prinsipnya adalah menukar sampah
menjadi nilai yang bernilai ekonomi
gitu. dan juga pastinya juga ee sering
terjadi di lapangan itu perbedaan atau
kesepakatan nilai jual dengan pengepul.
Ada baiknya apabila ee dapat
dikomunikasikan
terkait ee sampah-sampah yang ada dan
dapat bekerja sama dan dapat menyepakati
ee harga jual sampah agar dapat ee
pengelolaan sampah ini dapat kolaboratif
gitu. Mungkin seperti itu, Mbakasih.
Baik, terima kasih Bu Kor sudah menjawab
pertanyaan Ibu Winnya ya. Semoga
terjawab pertanyaannya.
Kemudian pertanyaan selanjutnya dari
Bapak atau Ibu Sri Suria.
Apakah masyarakat di sekitar kampus dan
kos-kosan di sekitar kampus sudah
menerapkan konsep sampah terintegrasi
dan dapat membantu bagi mahasiswa yang
tidak mampu bagi aspek ekonomis dari
TPS3R.
Baik, untuk pertanyaan ini mungkin bisa
dijawab
oleh Ibu Artia ya mengenai TPS 3F.
Ee baik, terima kasih pertanyaannya
dari Bapak atau Ibu Trisyukria.
Ee sebagai contoh di dekat kos saya itu
tidak semua kosan itu telah menerapkan
konsep sampah terintegrasi. Bahkan dari
mereka juga masih banyak ee membuang
sampah juga enggak ke TPS3R.
Kemudian ee bagi masyarakat yang tidak
mampu bagi aspek ekonomis tentunya TPS
3R ini juga memiliki nilai ekonomis.
Tapi untuk nilai ekonomisnya ini kembali
untuk ee dana operasional ataupun dana
pemeliharaan bagi TPS 3R itu sendiri.
dari saya cukup, Mbak.
Baik, terima kasih Ibu sudah menjawab
pertanyaan dari Bapak atau Ibu Putri.
Selanjutnya dari Ibu Ayu TPS 3R banyak
yang beroperasi dengan anggaran
terbatas. Mereka tidak keberatan
masyarakat tidak memilih memilah karena
memberikan potensi adanya sampah yang
bernilai dan bisa diterima pengepul.
Dalam operasinya, TPS 3R berperan juga
sebagai bank sampah sehingga kinerja
tidak maksimal. Bagaimana solusi
mengoptimalkannya?
Baik, kepada Bapak Batu silakan untuk
menjawab pertanyaan dari Ibu Ida.
Baik, terima kasih. Ee untuk
pertanyaannya TPS3R banyak yang
beroperasi dengan anggaran terbatas.
Mereka tidak keberatan. Masyarakat tidak
memilah karena memberi potensi menerima
pengepul. dalam operasinya TPS berperan
juga sebagai bank sampah sehingga
kinerja baik ee berdasarkan pertanyaan
ini mungkin di bisa dilihat ee seperti
salah satu usulan yang tadi kami
sampaikan ee bahwa perlunya ada
kejelasan terkait SOP ataupun sistem
kerja dari ee masing-masing ee program
PSBM itu sendiri gitu. ee seperti dalam
contohnya hal ini TPS3R
ee karena perbedaan TPS3R dan bank
sampah ini kan ee TPS 3R itu ada
pengelolaan yang berbasis 3R, sedangkan
bank sampah itu hanya sistemnya dari
masyarakat menyetor sampah dan menjual
gitu. Mungkin saran yang dapat di eh
terapkan bagi TPS 3R yang juga sering
berperan sebagai bank sampah mungkin
bisa ditentukan SOP yang jelas dari TPS
3R tersebut untuk dapat mengelola ee
sampah dan juga bisa memisahkan antara
TPS 3R dan bank sampah itu sendiri.
Mungkin seperti itu, Mbak.
Baik, terima kasih Bapak Fatbo. Semoga
jawabannya menjawab pertanyaan Ibu Ida.
Pertanyaan selanjutnya
dari bank sampah unit Mandiri.
Apa peran bank sampah dan TPS3?
Baik, kepada Ibu Via dipersilakan.
Eh, baik, terima kasih untuk
pertanyaannya dari bank Sampah Unit
Mandiri. Apa peran bank sampah dan TPS
3R? Untuk bank sampah dan TPS 3R ini
sebenarnya ee perannya hampir sama.
Sama-sama untuk mengurangi sampah,
untuk mengurangi beban sampah yang masuk
ke TPA. Namun secara teknisnya itu untuk
bank sampah lebih ke fokus pada
pemilihan sampah anorganik. Kemudian
dari sampah organik ini ee sampahnya
dijual. kepada pengelola dan yang di
mana untuk hasil dari penjualan sampah
ini akan dimasukkan ke dalam buku
tabungan.
Dan kemudian untuk TPS 3R sendiri itu
fokusnya untuk mengolah sampah anorganik
dan sampah anorganik yang selanjutnya
sampah anorganik ini akan dijual ke
pengepul.
Untuk skalanya sendiri, bank sampah
lebih ke scopnya RTRW atau bisa juga di
sekolah sekolah diterapkan
bank sampah. Sedangkan untuk TPS 3R ini
skala kawasannya lebih ke kawasan
permukiman.
Kemudian bank sampah sendiri bisa
membuat ekonomi sirkular yang di mana ee
nasabah-nasabah yang menjual sampah
kepada pengelola bank sampah akan
mendapatkan uang yang akan dikumpul
dalam satu tabungan yang di mana uang
ini bisa diambil
berdasarkan periode tertentu seperti ee
libur libur sekolah ataupun ketika
mau Idul Fitri. Sedangkan untuk TPS3R,
TPS3R ini fokusnya lebih ke pengurangan
dan pengelolaan sampah organik maupun
sampah organik. Pada bank sampah ini,
sampah organik itu memiliki nilai jual.
Sedangkan untuk TPS 3R itu bisa
menghasilkan produk seperti produk
kompos, pencacahan.
Kemudian untuk bank sampah dan terpes 3R
ini sama-sama sebagai pemberdayaan
masyarakat dalam mengelola sampah agar
masyarakat ee bisa menumbuhkan
kesadarannya untuk mengelola sampah di
rumah-rumah.
Berikut dari saya.
Baik, terima kasih Ibu yang sudah
menjawab pertanyaan dari bank sampah
unit negeri.
Pertanyaan selanjutnya yaitu dari Bapak
Ahmad Subhan. Saya berminat untuk
melakukan pengelolaan sampah berbasis
masjid. Pertanyaannya, bagaimana cara
saya harus memulai untuk pengelolaan
sampah tersebut dan membentuk bank
sampah? Kemudian saya sangat salut
dengan jurusan teknik lingkungan UI dan
pemateri yang sangat mumpuni dan sangat
peduli dengan pengelolaan sampah.
Pertanyaannya, bagaimana menjaga susensi
terhadap kepedulian terhadap pengolaan
sampah tersebut? Ada tidak komunitas
untuk menjaga semangat dalam pengelolaan
sampah ini untuk motivasi, sarana
konsultasi, dan jejaring? Silakan kepada
Bapak Abdul untuk menjawab pertanyaan
dari Bapak.
Baik, terima kasih eh untuk
pertanyaannya dari Bapak Ahmad Suban.
Jadi untuk bagaimana cara
harus memulai untuk penghan sampah dan
menentukan dan membentuk bank sampah
atau pengan sampah berbasis masjid. Ee
jadi untuk yang bisa dilakukan
mungkin dari skala kecil terlebih dahulu
Bapak seperti ee
menyediakan ee tempat sampah di sekitar
masjid ee tetapi untuk ee untuk tempat
sampah tersebut ee terbagi sudah terbagi
menjadi kelompoknya menjadi seperti
organik, anorganik atau ee yang
lain-lain. Kemudian untuk sampah
tersebut nantinya ee jika sudah ee full
atau sudah penuh ee bisa dilakukan
pemilahan. Nah, untuk pemilahannya itu
ee bisa dilakukan seperti berkelompok
jadi membentuk tim kecil untuk mengolah
mengelola sampah tersebut. Nah, untuk ee
setelah dilakukan pemilahan tersebut ee
bisa dari sampah tersebut mungkin dijual
atau ee di iya dijual ke pemulung atau
pengepul untuk mendapatkan hasil. Nah,
dari hasilnya tersebut ee dari hasil
penjualan sampah tersebut bisa digunakan
untuk mengelola masjid atau mengelola
lingkungan di sekitar masjid tersebut.
Kurang lebih seperti itu, Bapak, untuk
ee langkah awal untuk mengolah sampah
tapi di berbasis masjid. Kemudian ee
pertanyaan selanjutnya adalah
ee
bagaimana menjaga konsistensi terhadap
kepedulian terhadap pengan sampah
tersebut. ada tidak komunitas untuk
menjaga semangat dalam buangan sampah
ini untuk motivasi sarana konsultasi dan
sejaring.
Ee untuk menjaga kepedulian dan semangat
dalam jangka panjang itu bisa bergabung
dengan komunitas atau jaring yang
memiliki visi yang sama, Pak. Seperti ee
contohnya itu ada kelompok ee jaringan
pengan sampah masyarakat. Kalau di Jogja
itu sepertinya ada kelompok namanya
JPSM. Kalau tidak salah ya, Pak Izah.
Untuk nama kelompoknya itu seperti itu.
Itu berisi seperti kelompok pengangan
sampah ee TPS3R sampah. Kurang lebih
seperti itu. Mohon maaf kalau masih
kalau salah saya. Nah, untuk ee menjaga
motivasinya itu ee seperti ee lebih ke
dukungan komunitas dan jejaring dari
kelompok tersebut sih, Pak. Jadi ee
misal Bapak nanti tergabung dalam
kelompok tersebut, nanti ee Bapak bisa
sharing dengan komunitas lain bagaimana
sih untuk mengalas sampahnya B agar
lebih baik, agar lebih maju ke depannya
gitu. Jadi dengan sharing tersebut ee
bisa menjaga ee semangat untuk mengolah
sampah. Kurang lebih seperti itu yaak.
Terima kasih. Mungkin itu pertanyaan
dari saya.
Baik, terima kasih Bapak Abdul. sudah
menjawab pertanyaan dari Bapak Sultan.
Pertanyaan selanjutnya ada dari Ibu Irma
Norfatima.
Jika sebuah bank sampah TPS3R seringki
kesulitan mencari
yang mau menerima
harga yang layak, bagaimana strategi
untuk menciptakan pasar yang stabil bagi
produk dari pengelolaan sampah agar
program ini bisa scale up secara ekonomi
berkelanjutan? strategi apa yang perlu
disiapkan di setiap segmentasi
pengelolaan sampah. Baik, silakan untuk
satu untuk menjawab pertanyaan Ibu Irma.
Baik, terima kasih Ibu Irma. Ee
kesulitan mencari pembeli ya, Bu.
ee mungkin untuk ee yang bisa dilakukan
ya terkait ee
mengalami kesulitan tersebut mungkin
bisa ee yang pertama ee memulai dengan
ee menstandarkan kualitas produk yang
dimiliki. Contohnya plastik itu harus
bersih dan kering. kompos yang ee
dilakukan itu ee juga bernilai ergonomis
yang baik agar juga membentuk
kepercayaan dengan ee pembeli itu ee ee
dengan baik. Ee dan selanjutnya juga
bisa menjalin kerja sama dengan
pengumpul dengan jangka panjang. Tidak
hanya hanya ee per ee apa ya dengan
jangka pendek, namun jangka panjang
dengan menyajikan juga produk ee dan
kualitas yang baik. Mungkin itu, Mbak.
Baik, terima kasih Bapak Fun atas
jawaban dari pertanyaan.
Pertanyaan selanjutnya
dari
Ibu Wida, bagaimana kemungkinan peluang
pengelolaan sampah dikelola Bumides dan
bagaimana bisa mengarahkan pada nilai
tambah sampah
mereka. Baik, kepada Bapak Hijrah
dipersilakan untuk menjawab,
Mbak Nuha ya. Ee tapi kalau pematerinya
ramai-ramai seru juga ya karena jawabnya
bareng-bareng bisa bagi-bagi tugas sama
Mas Fatur, Masul, Mbak Via gitu. Ee
terkait tadi sepertinya slide 11 agak
terlewat Mbak ee Nuha ya. Ee tidak
apa-apa. Saya saya sekalian jawab saja
gitu ya. Walaupun Mas Abdul nih yang
sangat ahli dengan ee urusan sedekah
sampah gitu ya. Ee sepertinya Bu sama
dengan pertanyaan di slide 10 gitu ya,
Bu Irma ini sudah sangat ee baik sekali
gitu ya. Kemudian artinya gerakan yang
Ibu lakukan basisnya adalah sosial gitu
ya. ee terus dilanjutkan tinggal nanti
dicari ee keberlanjut poin
keberlanjutannya itu ada di mana agar ee
pengelola dapat terus melakukan eskalasi
kegiatannya menjadi lebih besar, tidak
menurun gitu ya. berarti harus ada ee
langkah-langkah yang harus dilakukan
oleh ee pengurus kira-kira begitu ya
untuk ee mendapatkan ee apa ee kegiatan
yang menjadi lebih baik lagi begitu. Ee
nomor 12 Mbak Nuha apa pertanyaannya
tadi?
Oke. Ee peluang untuk dilakukan oleh
Boomdes gitu ya. ee sangat memungkinkan
ee kalau pengelolaan sampah itu
dilakukan oleh ee unit usaha yang ada di
dalam ee desa begitu ya, di bawah
koordinasi desa. Banyak contoh ee di
berbagai macam lokasi Boomdes ini dapat
dengan maksimal melakukan ee pengelolaan
sampah. ee dari segi pendanaan tentunya
dapat di-support oleh ee Boomdes itu
sendiri begitu ya dengan sistem yang ada
begitu ya. Dan ini sebenarnya lintas ee
instansi begitu ya dari sampah yang
dikelola oleh di lingkungan hidup.
Kemudian BUOMDES dan desa ini dikelola
oleh instansi yang lain gitu ya. tapi
sangat mungkin untuk dikolaborasikan.
Tidak hanya sampah, mungkin dengan
misalnya hubungannya dengan pertanian,
peternakan yang produk-produk turunan
dan sampah dapat dimanfaatkan dengan
kegiatan-kegiatan yang lain. misalnya
dikemas dengan edukasi, kunjungan gitu
ya atau atraksi-atraksi wisata yang
lingkungan sangat mungkin untuk
dilakukan dengan model ee Boomdes ya
dalam rangka untuk menambah nilai tambah
dari SA tadi. Ya, mungkin itu untuk Bu
Wida dan Bu Irma dalam pertanyaan ee
sebelumnya.
Baik, terima kasih Bapak Indra sudah
menjawab pertanyaan dari Ibu Irma dan
Ibu Wida.
Itu tadi pertanyaan Ibu Wida sekaligus
menjadi pertanyaan penutup dari sesi
tanya jawab kita pada webinar dan book
launching pada siang hari ini. Bagi
Bapak Ibu peserta yang pertanyaannya
belum terjawab, semoga lain waktu dan
kesempatan kita dapat bertemu dan
pertanyaan Bapak Ibu dapat terjawab.
Baik, di sini kami sudah mengantomi
nama-nama penerima doorprice. Eh,
penerima doorprice nanti bisa
menghubungi admin kami melalui kontak
WhatsApp untuk mengirimkan alamatnya,
ya.
Baik, untuk pemenang door price spesial
dari butik daur Ular ada Ibu Ibu Ida
Ayuridiati
dari Bali, kemudian Bapak Abdi dari
Sukabumi, kemudian Bapak Sian dari
Sleman. Kemudian special door dari
publish ada Bapak Ahmad Subhan dari
Cirebon, kemudian Ibu Windya Agusti dari
Sidoharjo dan Ibu Irma Nurfatimah dari
Sleman.
Kemudian pemenang yang mendapatkan
voucher diskon penerbitan buku dipublish
ada Bapak Dianto, Bapak Hartawan,
Bandolanda.
Baik, sekali lagi mengingatkan untuk
pemenang doorpris bisa menghubungi admin
WhatsApp setelah acara ini berakhir.
Kemudian ee di akhir bulan nanti kami
juga ada webinar yang akan diisi oleh
Ir. Elrida Agustina Stmt yaitu dosen
rekayasa infrastruktur lingkungan ITB
yang berjudul Material Flow Analisis.
atau F
dalam sistem pengelolaan sampah yang
efisien dan berkelanjutan. Jadi, bagi
Bapak Ibu yang berminat untuk mengikuti
webinar bisa mendaftar di link yang
tercang.
Baik, kita telah sampai di penghujung
acara ya, Bapak, Ibu peserta webinar ee
dan launching sekalian. Puji syukur hari
ini ee kita sudah ee belajar banyak
melalui webinar dan food watching, kunci
keberlanjutan pengelolaan sampah
berbasis masyarakat yang disampaikan
oleh pemateri kita yaitu Bapak Dr.
Putra, SD, MI, Ibu Khairi, Bapak. Fadul
Hajarul Islam dan Bapak Abdullah Rahman
Ali. Banyak sekali ilmu yang kita
dapatkan pada saat penyampaian materi
dan sesi tanya jawab. Semoga ilmu-ilmu
tersebut bermanfaat dan menjadi amal
jariah. Lalu saya juga mengucapkan
terima kasih kepada Bapak Dr. eh
Engering Ir. Awaluddin Nurwianto, ST. M.
Engineering selaku Ketua Jurusan Teknik
Perukuan Universitas Islam Indonesia
yang telah hadir dan tadi memberikan
sambutan juga. Tidak lupa kepada panitia
peserta yang telah berkontribusi dan
antusias selama webinar dan ini
berlangsung.
Sampai bertemu lagi di webinar atau TO
yang akan ee datang dengan tema-tema
yang lebih menarik lagi. Akhir kata,
saya selaku MC sekaligus moderator
memohon maaf sebesar-besarnya
apabila selama memandu acara terdapat
kesalahan kata maupun perbuatan. Saya
Nuh Hasani Maida pamit undur diri.
Terima kasih. Asalamualaikum
warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih teman-teman
semuanya, Bapak, Ibu. Terima kasih.
Sampai bertemu lagi di lain kesempatan.
Terima kasih.
P