Book Launching "Kunci Keberlanjutan PSBM"
HcbzszOU2gg • 2025-11-15
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
keadaan sehat dan penuh semangat.
Perkenalkan saya Nuhasania Maulida, MC
sekaligus moderator yang akan menemani
dan memandu jalannya acara webinar dan
book launching ini dari pukul .00 siang
hingga pukul .00 nanti. Pertama-tama
izinkan saya mengucapkan selamat datang
dan terima kasih atas kehadiran Bapak
Ibu peserta yang telah meluangkan
waktunya untuk bergabung dalam webinar
dan berkunching hari ini, Sabtu, 15
November 2025.
Webinar TB launching kita hari iniung
topik C keberlanjutan pola sampah
berbasis masyarakat yang akan
disampaikan oleh empat penulis buku yang
luar biasa yaitu Bapak Dr. Ir. Hijrah
Purnam Putra SDM Ibuia
Bapak
Islam dan Bapak Abdullah Rahman Ali.
Tidak lupa salam hormat kepada Bapak Dr.
Ir. Awaludin Nurumianto STM Engineering
IPM selaku ketua jurusan teknik
lingkungan Universitas Islam Indonesia.
Dan juga tidak lupa kepada Bapak Ibu
peserta webinar dan launching pada hari
yang berbahagia ini. Sebelum masuk ke
materi webinar dan kita, saya mohon izin
untuk mengingatkan Bapak Ibu untuk
mengisi daftar hadir atau presensi di
link yang telah admin kami kirimkan di
kolom chat.
Kemudian dengan hormat saya meminta
kesediaan Bapak Ibu untuk menonaktifkan
mikrofon selama kegiatan berlangsung
supaya kita dapat mendengarkan materi
yang disampaikan dengan jelas.
Baik, selanjutnya sebelum kita masuk ke
acara inti kita yaitu penyampaian materi
akan ada sambutan dari Bapak Dr.
Ir. Awaluddin Nuranto STM. Engineering
PN selaku Ketua Jurusan Teknik
Lingkungan Universitas Islam Indonesia.
Baik, langsung saja kepada Bapak Awalin.
Waktu dan tempat kami persilakan.
Baik, suara saya sudah terdengar ya
Bapak Ibu ya.
Baik. Bismillahirrahmanirrahim.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Alhamdulillah rabbil alamin. Asalatu
wasalamu ala asrofil iya wal mursin wa
ala alihi rasulillahi ajmain. Amma
ba'du. Ee saya sangat berbahagia pada
kesempatan siang hari ini dapat hadir
secara langsung untuk bertatap muka
dengan Bapak Ibu semuanya di ee ruang
maya ini ee dalam rangka kegiatan
webinar dan juga bookching yang ee
diselenggarakan oleh ee Project B
Indonesia dan bekerja sama dengan
Jurusan Teknik Lingkungan. ee kami dari
jurnik lingkungan cukup mengapresiasi
apa yang ee sudah ee dilaksanakan ini
ya, karena kegiatan ini berlangsung ee
cukup sustainable
dan menghadirkan berbagai topik-topik
yang bermanfaat bagi ee bidang pengelola
lingkungan dan dengan projek BI
Indonesia tidak terbatas di pengelolaan
sampah ya, tetapi ee limbah, udara, air
dan yang lain-lain yang menjadi fokus
dari bidang teknik itu sendiri. Bapak,
Ibu yang kami hormati ee Pakah dan
mahasiswanya gitu ya. Ee ini sudah
menerbitkan satu buah buku yang akan
kita bahas bersama pada hari ini ter
dengan ee indeks keberlanjutan gitu ya.
Bagaimana pengelolaan ee sampah di level
masyarakat ya, partisipasi masyarakat
tadi bis ee berlanjut. Karena kalau kita
tahu bahwa ee mungkin data lebih detail
nanti dari Pak Hijrah gitu ya. ee ada
banyak misalkan bank-bank sampah yang
sudah ada di Indonesia ini ada ya
mungkin sampai 30.000-an gitu ya di
Indonesia kalau kita lihat di SI PSN.
Tetapi ee ternyata ee aspek penur sampah
sendiri gitu ya itu ee pengurangan
sampah sendiri itu belum ee ya ada gitu
ya, tetapi target yang diharapkan itu
masih belum tercapai untuk agreg
keseluruhan. Nah, tentunya ee ini
menjadi penting bagi ee kita untuk apa
ya merumuskan gitu ya, untuk bisa
menilai gitu ya agar ee pengelolaan
sampah yang di masyarakat tadi itu tidak
ya tidak mungkin ada kegagalan gitu ya,
kemudian juga lebih efisien dan juga
nanti ee terkena dengan layanan publik
gitu ya. Ee barangkali bisa meningkatkan
ee layanannya. Nah, ee apa yang
dilakukan oleh Pak Hijrah dan ee tim
gitu ya, tentu ini ee merupakan satu
kajian akademik yang ee penting dan juga
ee menarik karena ee dari aspek praktik
itu ee dilaksanakan di berbagai bank
sampah yang ada di ee Yogyakarta
sehingga ee nanti hasilnya pun sangat
menarik dan ee sangat mungkin bisa
diterapkan di ee bank sampah-bank sampah
ataupun ee unit pengelolaan sampah ee ee
di ee tingkat ee masyarakat gitu ya. Dan
ini juga ee menunjukkan satu ee ee
komitmen dari jurusan teknik lingkungan
dalam hal untuk ee memberikan ee
diseminasi gitu ya. Jadi tidak hanya ee
hasil tugas akhir itu ee berakhir di apa
ee ee perpustakaan saja gitu ya, tetapi
juga di ee baca dan juga bisa memberikan
apa ee sebagai referensi juga kepada
masyarakat. Eh, terima kasih kepada Pak
Hijrah. Kemudian penulis yang lain ada
Mbak e Via, kemudian Mas e Abdur Rahman,
dan juga Mas Fatur. Ee insyaallah ini
akan dakwah bilitabah gitu ya yang bisa
menjadi ee manfaat bagi kita semuanya.
tentu ee ada apabila nanti hal-hal yang
masih perlu ditingkatkan dalam buku dan
lain-lain tentu ini ee ee mungkin bisa
dibahas lebih lanjut ya di dalam webinar
kali ini.
ee saya sangat ee mendukung kegiatan ini
dan mudah-mudahan di ee
kegiatan-kegiatan lain jurusan teknik
ilmuan UII, dosen maupun mahasiswanya
menghasilkan karya-karya lain yang ee
bisa bermanfaat tentunya. Ee ee saya
mohon maaf juga karena mungkin nanti
tidak bisa kegiatan ini secara ee penuh
gitu ya. Tetapi ee sekali lagi saya
mengucapkan selamat kepada Pak Hijrah
dan tim. Kemudian kami juga mengucapkan
selamat untuk ee bisa saling berbagi
nanti dengan Bapak Ibu ee peserta
webinar lainnya. Demikian yang bisa kami
sampaikan lebih dan kurang saya mohon
maaf. Wab taufik walhidayah.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Terima kasih untuk Bapak
Awalin yang telah memberikan sambutannya
sekaligus membuka acara webinar dan book
launching pada siang hari ini. Bapak,
Ibu peserta webinar dan book launching
sekalian, kami dari panitia juga
melakukan live streaming melalui YouTube
channel kami di Project B Indonesia.
Jika semisal selama acara webinar dan
book launching ee ada yang terkendala
dalam Zoom, tidak perlu khawatir karena
Bapak Ibu juga tetap bisa mengikuti
webinar dan launching hari ini melalui
YouTube channel kami. Selanjutnya
seperti biasa hari ini kami juga
menyiapkan berbagai macam doorpress
spesial untuk Bapak Ibu yang beruntung.
Ada tiga produk spesial dari butik daur
ulang projek Indonesia, tiga thumbnail
dari penerbit di publish, dan tiga vouet
diskon pembelian buku dari
doorp ini diberikan berdasarkan
pertanyaan-pertanyaan terbaik dan story
Instagram terunik selama webinar dan
cing ini berlangsung. Untuk
pertanyaan-pertanyaan terbaik akan kami
umumkan di akhir acara webinar dan
nanti. Sedangkan untuk pemenang story
Instagram terunik akan kami hubungi
langsung melalui DM Instagram. Nah, hari
ini karena banyak sekali doorbes spesial
bagi Bapak Ibu peserta,
jadi tidak perlu malu-malu dan ee
langsung saja memberikan pertanyaannya
melalui kolom chat dengan format nama.
Kemudian pertanyaan yang ingin
ditanyakan dan nantinya akan kami pilih
penanya terbaik untuk memenangkan door
price. Lalu untuk story Instagram, Bapak
Ibu dapat membuat story Instagram
semenarik mungkin dan jangan lupa tag
Instagram kami di @projecti Indonesia.
Tanpa berlama-lama lagi, kita akan
langsung lanjut ke acara inti, yaitu
penyampaian materi. Namun sebelum itu,
mari kita lihat terlebih dahulu CV dari
pemateri kita hari ini.
[musik]
Baik, itu tadi sekilas mengenai pemateri
dan penulis buku kunci keberlanjutan
pengelolaan sampah berbasis masyarakat
pada hari ini yang akan mengisi webinar
danci. Mungkin untuk efisiensi waktu
jika pemateri sudah siap, kita bisa
langsung saja untuk memulai penyampaian
materi. Kurang lebih waktunya hingga
pukul .30. Tanpa berlama-lama lagi waktu
dan tempat kami persilakan.
Baik, terima kasih Pak Nuha. Ee
mudah-mudahan suara saya sudah terdengar
dengan jelas ya. Baik, ee izin untuk
memulai teman-teman semuanya dan Bapak
Ibu. Bismillahirrahmanirrahim.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Ee bismillah walhamdulillah wasalatu
wassalamu ala rasulillah. Ee pada
kesempatan siang hari ini tentunya
selamat siang, salam sejahtera untuk
kita semuanya. Terima kasih Bapak Ibu
yang telah ee bergung dalam kegiatan
yang dilakukan oleh Jurusan Teknik
Lingkungan Universitas Islam Indonesia
dan butik Daur ulang Project B
Indonesia.
Em, Pak Awaludin terima kasih atas ee
sambutannya.
Biasanya kegiatan kita di pagi hari,
tapi kami kita coba untuk siang hari
gitu ya, karena tadi pagi ada kegiatan
yang lain di jurusan teknik lingkungan
hubungannya dengan ee pengembangan arah
pendidikan dan kurikulum gitu ya. Dan
Bapak Ibu yang telah bergabung
mudah-mudahan dapat mengikuti dengan
baik ya. Nah, biasa jadi hari ini saya
ngajak teman tiga teman yang lain gitu
ya. Ada Mas Fatur di sini, Mbak Via dan
Mas Abdul yang ee beberapa waktu yang
lalu kami mencoba untuk melakukan
penelitian
ee terkait dengan indeks kelanjutan yang
ada di pengelolaan sampah berbasis
masyarakat gitu.
hasilnya. Kemudian ee metode
menghasilkan suatu instrumen lah
kira-kira begitu. Walaupun instrumennya
masih terus perlu dikembangkan dan
beberapa mahasiswa kami juga ee terus ee
melakukan penelitian terkait dengan hal
tersebut gitu ya. Nah, dalam hal
tersebut karena hasilnya menarik dan
kami coba untuk iseng-iseng menulis gitu
ya, menulis ee menjadi buku gitu ya. Dan
ternyata oleh penerbit dipublish
kemudian lima untuk bisa dicetakkan
menjadi sebuah buku yang harapannya bisa
disebar luaskan kepada masyarakat lebih
luas. Dan di sini didukung sebenarnya
oleh Direktorat ee Pengembangan Akademik
ya. ya. Kebetulan di UII punya program
namanya UII menulis gitu. Jadi mencoba
untuk me ya dalam tanda kutip sedikit
memaksa para civitas akademikanya untuk
bisa menulis agar tidak hanya berakhir
sebagai penelitian di perpustakaan saja
seperti yang disampaikan Pak awal tadi
ya. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi
kita semuanya. Eh, Mas Fatur, Mbak Via,
Mas Abdul, kita mulai ya. Ee kita eh
share screen untuk bisa mulai materi
kita pada kesempatan hari ini. Konsepnya
ee sama-sama belajar ya, Bapak, Ibu ya.
Bukan berarti kami yang berada di depan
ini kemudian jadi sangat tahu, tapi
sebenarnya ini menjadi kesempatan untuk
buku ini sangat terbuka untuk ditambahi
sehingga nanti versi-versi berikutnya
menjadi lebih baik lagi gitu ya. Ee
judul bukunya seperti yang sudah
diketahui oleh Bapak Ibu, sikerlanjutan
pengolaan sampah berbasis masyarakat ya.
Oke, next.
ee hal-hal yang kita akan pelajari di
dalam ee pertemuan kali ini kami mencoba
untuk membahas enam bagian ya. Yang
pertama terkait dengan pengantar
ee yang dimaksud sebenarnya PSBM itu apa
gitu. Walaupun Bapak Ibu yang bergabung
hari ini pasti tadi Pak Awal
menyampaikan ada bank sampah ya, ada TPS
3R, ada sedekah sampah gitu. Ini menjadi
hal-hal yang sebenarnya sudah sering
kita dengar gitu. Kemudian kita nanti
akan bahas juga sebenarnya ada tantangan
apa gitu ya dan efektivitas dari
aktivitas yang dilakukan oleh ee PSBM
ini sehingga dengan adanya tantangan
tadi mungkin muncul sebuah kepentingan.
Perlu ada ee sedikit apa
penilaian mungkin ya kita sebut
penilaianlah ya tingkat keberlanjutan.
Mengapa bank sampah itu banyak?
tapi juga yang tidak bertahan gitu.
Kenapa sedekah sampah itu muncul terus
tapi dampaknya tidak terlalu besar gitu?
Kenapa TPS3R? Oh, ternyata tempatnya
mangkrap gitu ya. Jadi ee perlu indeks
ee bukan hanya untuk menghitung saja
tapi sebenarnya yang penting adalah
halnya nanti itu apa sehingga tindak
lanjut yang perlu dilakukan itu ee kita
perlu ketahui bersama. Nah, nanti
teman-teman Mas Fatur akan menjelaskan
poin 4, 5, dan 6 khusus bicara tentang
bank sampah ya. Mulai dari bagaimana
cara menyusun indeksnya sehingga dapat
dipertanggungjawabkan
secara ilmiah begitu ya. bagaimana
indikator-indikator
ee parameter itu terbentuk bagi
bagaimana kita memberikan penilaiannya
dan nanti akan diakhiri dengan ada
simulasi dari penilaian yang dilakukan
nanti di ujung akan ketemu status
keberlanjutannya itu seperti apa gitu.
Tidak berlanjutkah atau sangat ee
keberlanjutan yang tinggi begitu ya. Ee
dan di balik itu nanti akan dijelaskan
ee setelah itu apaagi gitu ya ee yang
perlu kita lakukan gitu. Kemudian nanti
setelah Mas Fatur kemudian akan
dilanjutkan oleh Mbak Via ya. Mbak Via
ini akan bahas terkait dengan TPS3R
sama tadi menggunakan juga metode
penyusunannya seperti apa, kemudian
indikator-indikator yang diperlukan itu
apa saja pertanyaan-pertanyaannya.
Kemudian dilakukanlah simulasi ya dan ee
ada status keberlanjutan yang dilakukan.
Nah, setelah Mbak dengan TPS 3R nanti
akan Mas Abdullah ya Mas Abdul ini ee
terkait dengan sedekah sampah.
ee menggunakan metodenya seperti apa,
kemudian indikator yang ada di dalamnya
apa saja dan juga nanti akan muncul
simulasi penilaian. Dan sebagai
informasi memang Bapak Ibu, kebetulan
peneliti ini masih mengambil wilayah
sampling itu di wilayah Jogja.
Nah, mudah-mudahan nanti ke depan dapat
kita kembangkan untuk wilayah-wilayah
yang lain seluruh wilayah Indonesia
gitu. Siapa tahu kita menemukan faktor
lain selain ee aspek-aspek yang dibahas,
mungkin akan berpengaruh aspek
kewilayahan gitu ya yang ee sementara
belum kita masukkan di sana. Oke. Baik,
tidak akan berlama-lama lagi agar
nantinya bisa lebih komprehensif. Next.
ee yang pertama terkait dengan ee bagian
saya gitu ya yang membahas mengapa ee
kita memerlukan indeks ini. Next. Yang
pertama adalah ternyata Bapak Ibu dalam
ee sistem pengolaan sampah yang berbasis
masyarakat tadi kita punya tantangan ya
terkait dengan pengolaan sampah yang ada
di Indonesia. Target-target yang
ditentukan banyak yang belum dicapai ya.
ee tidak bermaksud untuk menyalahkan
gitu, tapi kondisinya real. Jadi ee
akhir-akhir ini kita mendengarkan ada 34
landfill atau TPA yang ditutup oleh
pemerintah pusat gitu ya. Karena ya
berbagai macam tantangan yang dihadapi
gitu ya. ee kita bisa lihat targetnya
yang hijau. Kemudian ternyata ee yang
biru ee itu ee apa pencapaiannya berarti
masih ada gap yang belum ee tercapai
gitu ya. Next. Ee kemudian banyak
sebenarnya ee program juga yang mungkin
belum berjalan dengan maksimal gitu ya.
Jadi banyak bank sampah yang sulit untuk
bertahan gitu. Saat kita datang ke bank
sampah. para pengurus yang sudah luar
biasa bekerja ternyata ee mereka
mengeluhkan, susah ngajak warga untuk
milas sampah, susah untuk regenerasi
tempat yang tidak ada dan seterusnya.
Jadi tidak tidak berkelanjutan gitu ya.
Nah, akhirnya apa ee ini akan berdangka
panjang gitu ya. Jadi ee pengelolaan
sampah yang sudah dibangun dari sistem
hulu ke hilir dengan melibatkan
masyarakat
tapi ee tidak dapat bekerja secara
optimal. Nah, berarti kan akan ada ee
jangka panjang dampaknya. Jadi, jumlah
semakin hari semakin besar semakin tidak
bisa dikelola dengan baik. Tapi, kita
tidak bisa juga menyalahkan oh
masyarakat yang salah. ya mungkin
sistemnya belumung terkait dengan itu.
Nah, oleh karena itu maka karena belum
ada standar untuk instrumen
keberlanjutan, maka kami berpikir,
sepertinya kita butuh instrumen
keberlanjutannya. Di mana yang dikatakan
bank sampah ini ee layak untuk
berlanjut, punya keberlanjutan tinggi
dan seterusnya gitu ya. Jadi ee inilah
menjadi dasar kenapa ee penelitian dan
buku ini dihajar.
Karena apa, Bapak Ibu? Kalau kita bicara
siklus sampah itu sangat panjang gitu
ya. Mulai dari sumber sampah
ee sampai kemudian ee pergi ke tempat
pengumpulan ee transfer poin,
pengangkutan, TPA dan seterusnya. di
berikutnya Mas Patur ee dia pergi
mengalir dari satu tempat ee ke tempat
yang lain gitu. Tidak seperti air limbah
masuk ke sistem perpipaan gitu ya. Di
sana banyak ee masyarakat yang terlibat,
banyak instansi yang terlibat, bahkan
swasta pun ikut terlibat. Jadi itu jadi
samp akan berada di berbagai macam
posisi mengalir dari hulu ke hilir. Jadi
perjalanannya panjang gitu. Tapi ada
garis bawahnya Bapak, ada kolom pertama
itu kalau di sumber sampah dan sudah
dilakukan pengolaan secara individu,
maka ee beban pengolaan sampah yang ada
berikutnya itu menjadi lebih ringan.
Tentunya harus dilengkapi dengan data
ya, kuantita, sampah seperti apa
sehingga bisa dikelola dengan baik ya.
Nah, next. ee kita perlu jadi untuk
mendukung kegiatan di sumber tadi sudah
dilakukan nih, sudah diarahkan ya, ada
pengolaan sampah berbasis masyarakat.
2019 pemerintah meloncingakan nasional
pilah sampah dari rumah gitu ya.
Kemudian pendekatan 3R sampah itu enggak
dianggap lagi sebagai barang yang tidak
berguna dengan syarat itu harus dipilah
dengan baik ya. Berarti harus ada punya
fasilitas, ada bank sampah diatur nih
lewat Permen LHK 14 tahun 21. Sebelumnya
sudah punya juga Permen LHK 14 tahun
2012 atau 13 gitu. Sedekah sampah memang
belum diatur terlalu detail gitu ya.
Kemudian ada TPS 3R juga sudah diatur
oleh Permen PU nomor 3 tahun 2013. Tapi
dari instrumen-instrumen tersebut baru
berbicara tentang operasional, belum
tindak lanjut. Kalau sakitnya ini
dikasih obat apa kira-kira ya? Kalau
sakitnya itu diobat apa? Nah, jadi
bicaranya adalah pengembangan di masa
yang akan datang. Nah, sebenarnya PSBM
ini apa sih tujuannya, Bapak, Ibu?
tujuan dan ee mungkin prinsip ya dari
PSBM tersebut pastinya kita mengajak
kepada masyarakat untuk bisa bertanggung
jawab terhadap sampah yang dihasilkan,
meningkatkan partisipasi Bapak, Ibu
supaya apa? Sampah yang nanti pergi ke
TPA itu bisa berkurang
banyak. Ternyata di TPA TPA itu dipenuhi
oleh saudara-saudara kita yang
berprofesi sebagai pemulung. Berarti
kalau di sana bekerja mengambil sampah
kita, berarti sampah kita masih memiliki
nilai ekonomi dong. Kenapa tidak
dialihkan di awal supaya apa? Ekonominya
bisa didapat, masyarakat lebih banyak
bertanggung jawab gitu, bisa pemanfaatan
kembali sehingga prinsipnya dari
masyarakat, masyarakat dan untuk
masyarakat itu bisa tercapai. Ini
seperti slogan kegiatan yang lain ya.
Tapi artinya ee keterlibatan masyarakat
itu penting. Tapi Bapak Ibu, kita tidak
bisa lupa gitu kan bahwa aspek
pengelolaan sampah itu ada yang lain
gitu. Lain aspek ee peran serta
masyarakat
ada lima ya. Jadi ee mulai dari tadi
peram masyarakat, kemudian di dalamnya
ada teknis operasional.
Bagaimana sampah tadi mengalir dari satu
tempat ke tempat yang lain. Ada gerobak,
ada truk sampah, ada jenis pengomposan
ini dan seterusnya. Kita sebut sebagai
teknis operasional.
Selain itu ada kelembagaan ya yang
mengatur ee kelembagaan tadi ada
pembiayaan, ada pengaturan. Nah, ini
kita coba breakdown Bapak, Ibu satu-satu
ya yang namanya yang sama itu peraturan
itu kayak apa gitu ya. Jadi kalau
dilihat di sini peran pokoknya komponen
yang menjaga pola dinamika sistem gitu
ya. Landasan, oh ada bank sampah ada
landasan hukumnya. Oh kenapa masyarakat
harus pila sampah? Ada landasan
hukumnya. Kenapa masyarakat harus bayar
sekian landasan hukumnya? Kemudian
kelembagaan gitu ya. Ah ini juga penting
gitu ya. Bagaimana bentuknya? Di bawah
siapa ini bank sampah? TPR dikelola oleh
siapa gitu ya? yang bangun siapa, yang
ngelola siapa gitu ya, yang diinduk
kepada lembaga yang mana. Sehingga ini
menjadi list dari ee aturan-aturan
yang ada supaya kegiatan ini dapat
berjalan dengan baik. Tidak terlebih itu
saja, Bapak, Ibu. Ada peraturan,
kelembagaan, ada juga urusan pembiayaan,
gitu.
Nah, itu yang paling penting ya. ee
tidak paling penting juga ya kan katanya
UUD gitu ya, ujung-ujungnya duit. Tapi
artinya ee dengan adanya support
anggaran yang jelas menjadi ee
berpendanaan yang jelas sehingga
pengelola PSBM ini menjadi tahu dia
harus punya alternatif sumber pendanaan
yang mana gitu. Kalau tidak dis-upport
dengan ee anggaran dari misalnya dari
pemerintah. Oh, harus ada swasta
misalnya. Oh, harus ada ee kegiatan dan
seterusnya. Nah, kemudian ada teknis
operasional Bapak Ibu mulai dari
aktivitas sarana prasarana, perencanaan,
kewadahan, bagaimana memindahkan sampah
dari rumah masyarakat menuju ke TPS 3R.
Ee bagaimana teknisnya masyarakat bisa
memilih kemudian disetorkan kepada bank
sampah. barulah aspek yang paling
terakhir ini menjadi hal yang paling
pokok yaitu peran masyarakat gitu ya
yang setelah ini ya. Oke. Komponen yang
ee mungkin dia bukan tidak bersifat
subsistem ya tapi terkait dalam berbagai
macam ee penyediaan kapasitas ya maupun
ee pendanaan. Nah, harapannya dengan
masyarakat yang terlibat aktif ini dapat
mengurangi
ee pembebanan kepada sistem atau
aspek-aspek yang lain. Tapi kita tidak
bisa pungkir, Bapak, Ibu bahwa PSBM ini,
pengolaan sampah berbasis masyarakat ini
memiliki banyak tantangan. Nah, ini kita
petakan tantangan tersebut mulai dari
Bapak Ibu pasti sangat sering mendengar
ini ya sarana prasarana terbatas,
peralatan banyak tidak berfungsi,
pendapatannya tidak ee fluktuatif,
kadang laku, Pak. Kadang tidak. Sudah
buat kompos ternyata enggak laku, gitu
ya. Oh, lemahnya penegakan. Yang sana
sudah mila sampah, yang sini tidak mila
sampah tapi tetap dapat pelayanan gitu
ya.
Akhirnya ya biaya operasional menjadi
lebih gd belum memadai, susah nyari
orang untuk bekerja di bidang pengolaan
sampah gitu. Koordinasi, Pak. Ini segala
macam tantangan yang pasti Bapak, Ibu
mendapatkan. Nah, tapi di balik
tantangan itu semuanya, Bapak, Ibu, kita
lihat bahwa PSBM ini terus meningkat,
Bapak, Ibu. Nah, kita punya data ini
kita sebut sebagai efektivitas PSBM. Ini
data yang kita ambil dari SIPSN tanpa
memilah-milah Bapak, Ibu ya. Jumlah
TPS3R begitu kita masukkan kata kuncinya
TPS3R muncul 72.3
unit ya. Walaupun Kementerian PUPR masih
pasti punya data yang lebih akurat gitu.
Tapi kita lihat di dalam SIPSN
berarti banyak losi yang mungkin misal
nih ee ada Bapak Ibu dari PU mungkin
hadir hari ini enggak sebanyak itu Mas
Hijrah 7.000 itu terlalu banyak gitu. Ah
berarti ada yang diklaim sebagai TPS 3R
di dalam laporan SIPSN gitu. Sehingga
pada saat kita masukkan kata kunci SIPSN
TPS 3R muncul 72.000 ya eh 7.200 mohon
maaf 7.200
Tapi kondisinya mungkin belum bisa
berjalan dengan optimal. Macam-macam ya,
kurang SDM, minim sarana, keterbatasan
biaya pengolaan dan seterusnya. Tidak
juga berbeda dengan bank sampah dan
sedekah sampah. Jumlahnya besar Bapak
Ibu 25.264
unit. Ini juga kasusnya sama. Kita
masukkan kata bank sampah di dalam SIPSN
dengan berbagai macam tantangan sehingga
dia tidak juga dianggap berjalan dengan
optimal, rendah partisipasi, kurang pan
sampah organik ya macam-macam. Tidak
konsisten penetapan harga pengepul ya.
hari ini dikumpulkan, hari ini harganya
tinggi, pas jual harganya rendah, ya
macam-macamlah curhatannya ibu-ibu para
pengelola ee bank sampah misalnya. Nah,
sehingga kami melihat ada suatu
kepentingan bahwa indeks keberlanjutan
itu penting Bapak, Ibu untuk kita punyai
agar tiap lokasi, setiap daerah kita
bisa mengacu kepada indeks tersebut,
bisa mengukur kelas kita ada di mana.
Bukan untuk membandingkan, tapi untuk
diperlukan treatmentnya, gitu ya. Misal
contoh Bapak, Ibu saat kita ke dokter,
kita ngeluh sakit kepala.
Kalau hanya sekedar sakit kepala, maka
obat sakit kepala diperlukan. Tapi kalau
sakit kepalanya berlanjut
ternyata memunculkan penyakit yang lebih
besar lagi dengan perlu tindakan yang
lebih besar, maka obatnya tindakannya
juga akan berbeda. Nah, kita coba milih
memilih bahwa indeks keberlanjutan itu
akan dibagi menjadi lima poin sesuai
dengan aspek ee pengelolaan sama teknis
operasional, regulasi, peran serta
masyarakat, pembiayaan, dan kelembagaan.
sehingga apa?
Indeks ini menjadi penting dalam sistem
keberlanjutan.
Ya, pertama memang belum ada standar
keberlanjutan ter PSBM. PSBM yang baik
itu dinilai dari apa gitu ya, masih ee
parsial dan pemahamannya masih beda-beda
setiap ee orang gitu ya, setiap
instansi, setiap pengelola. Nah, kita
pengin mengetahui efektivitasnya seperti
apa dan yang paling penting adalah
memberikan gambaran bagi pemangku
kebijakan dalam menentukan arah
pengembangan sistem pengelolaan sampah
sehingga ketahuan, oh PSBM-nya sudah
cukup banyak tapi apa tidak efektif? Oh,
PSBMnya sudah menyerap anggaran banyak
tapi ternyata belum dapat menyerap
sampah dengan banyak. Nah, kenapa
seperti itu? hubungannya tentu dengan
prinsip sirkular ekonomi,
SDGs gitu ya. Itu menjadi hal yang ee
terkonnect Bapak Ibu. Efisiensi sumber
daya, daur ulang material ya pengurangan
residu ke TPA. Ini kan para pemangku
kebijakan saat ini sedang ngomongin
tentang ini ya sehingga SDJ 11, 12, 13
itu bisa tersambung dengan B ya. Nah,
harapannya Ibu dengan adanya indeks
keberlanjutan ini bisa memberikan
manfaat ya. Manfaat tidak hanya kepada
mahasiswa, peneliti, tapi manfaat indeks
keberlanjutan ini bisa ke pemerintah
daerah ya. Kemudian bisa ke dinas yang
bertanggung jawab terhadap lingkungan
hidup ya, ke pengelola PSBM-nya sendiri
juga sangat penting. Oh, saya lemahnya
di aspek mana nih? Ya, sehingga perlu
ditingkatkan
dan masyarakat pada umumnya kan mungkin
bisa diumumkan bangsa di kota X
berjumlah 300 unit tapi yang hanya
bertahan 1 jarang kita dengar berita itu
gitu ya. Ah, karena biasanya dia kan
beritanya dari 300 unit sudah sekian,
sudah sekian selalu berita baik mungkin
ya. Jadi mungkin masyarakat juga
sehingga ee peran dari swasta bisa
masuk, dia bisa membantu apa ya.
Seringki kita berhadapan saat masyarakat
mau dibantu oleh suatu program, mereka
bingung ini B ya. Nah, jadi dengan
adanya indeks ini harapannya dapat
terlihat apa yang pengin dibantu di ee
setiap lokasi berbeda-beda. Nah, oleh
karena itu Bapak Ibu kita coba dengarkan
pemaparan dari Mas Fatur, Mas ee Mbak
Via, Mas Abdul kait dengan masing-masing
lokasi. Bapak, Ibu silakan mencermati
sesuai dengan lokasi yang Bapak, Ibu
mungkin kerjakan saat ini atau for dari
Bapak Ibu, bank sampah, TPS3R atau
sedekah sampah. Silakan, Mas Fatur
dilanjut, ya.
Baik, ee terima kasih, Pak atas
pengantarnya. Ya, Bapak, Ibu sekalian,
selanjutnya kita akan lanjutkan
pembahasan pada bank sampah. Di
pembahasan bank sampah ini seperti yang
tadi di awal, kita ada fokus pada tiga
pembahasan, yaitu metode penetapan
ee indeks keberlanjutan, yang kedua itu
indikator dan parameter apa yang kita
tetapkan, dan yang ketiga itu kita
simulasikan dari instrumen yang telah
ada.
Baik, Bapak, Ibu sekalian. Yang pertama,
metode penyusunan indeks keberlanjutan.
Yang pertama, untuk menyusun indeks
keberlanjutan ini kita mengacu atau
mendasari pada lima aspek pengelolaan
sampah. Dalam hal ini pada bank sampah
yang pertama aspek teknis operasional.
Ee di sini kita lihat, kita nilai ee
aspek-aspek teknis mulai dari sampah itu
masuk ke bank sampah, sampah itu
ditimbang, lalu melakukan penjualan dan
pembukuan. Itu merupakan aspek-aspek
dari teknis operasional. Yang kedua itu
adalah aspek kelembagaan. Di sini
merupakan aspek yang mengatur sistem ke
berlanjutannya atau sistem pengelolaan
dari bank sampah itu sendiri. Yang
ketiga, aspek peran serta masyarakat di
sini. Karena pada dasarnya bank sampah
ini merupakan salah satu program dari
PSBM. Oleh karena itu, aspek peranan
serta masyarakat ini merupakan salah
satu aspek kunci dan aspek penting dalam
penilaian keberlanjutan bank sampah.
Yang selanjutnya aspek hukum dan
peraturan. Di sini kita lihat apakah
sudah ada dukungan ataupun dari
pemerintah daerah dan pemerintah
setempat apakah sudah memiliki hukuman
ee peraturan yang mengatur terkait bank
sampah. Dan yang terakhir aspek
pembiayaan.
Selanjutnya
ee dalam menentukan indikator kita
melakukan pembobotan. Dalam hal ini kita
melakukan literatur review dan
pengobotan ee dari bobot 20 sampai 5.
Ada empat bobot di mana ee bobot 20 itu
untuk yang kita temukan empat kali dalam
literatur yang berbeda. 15 itu untuk
tiga kali ee pada referensi yang
berbeda-beda. 10 itu dua kali dan 5 itu
hanya satu kali.
Dan yang ketiga itu kita lakukan scoring
parameter menggunakan skala 0 sampai 4
dengan 0 itu buruk dan 4 itu sampai ee
kualitasnya sangat baik.
Selanjutnya setelah kita melakukan ee
menentukan aspek-aspek apa saja yang ee
menjadikan dasar dalam penetapan
indikator, kita lakukan pembuatan dan
scoring dan kita lakukan ee perhitungan
matematis sederhana untuk melakukan ee
skor yang didapat itu ada ee rentang
dari 0 sampai 695 dengan ada lima kelas
ee tingkat keberlanjutan mulai dari ee 0
sampai 140 itu nilai yang sangat ee
tidak berkelanjutan sampai yang sangat
berkelanjutan itu di rentang spor 556
sampai 695.
Untuk selanjutnya ini merupakan
indikator dalam ee penentuan instrumen
keberlanjutan bank sampah pada aspek ee
teknis operasional. Bisa dilihat di sini
teknis operasional itu mengatur dari
mulai sampah itu masuk ke bank sampah
sampai dengan ee sampah itu dijual ke
pengepul. Lalu ada pengelolaan sampah
lanjutan dan ee pengelolaan lingkungan
yang dilakukan oleh bank sampah itu
sendiri. Berat sampah itu dipengaruhi
oleh pengumpulan sampah yang dilakukan,
timulan sampah yang ee dapat ditampung
oleh bank sampah kilogram per harinya
dan cakupan pelayanan bank sampah itu
sendiri. Apakah itu melayani 1 RT dan
efektivitasnya melayani 80% 100% dari
cak pelayanan itu merupakan masuk kepada
ee teknis operasional.
Yang selanjutnya pada aspek kebijakan
dan regulasi itu ada dua indikator
pedoman regulasi bank sampah dan ee
peraturan atau dukungan dari ee
pemerintahan setempat desa ee tentang
pemalahan sampah. mengenai pedoman
regulasi bank sampah ini tentunya kita
mengacu pada ee Permen LH nomor 14 tahun
2021 di mana apakah ee sudah ee
peraturan ini dapat dipahami dengan baik
oleh para pengurus atau belum terkait ee
kelengkapan jam ee operasional,
pembagian jobd dan lain-lain.
Selanjutnya pada
aspek peran serta masyarakat ini kita
menemukan dua
indikator penting yaitu pengetahuan
masyarakat tentang pengelolaan sampah
dan ee pemilahan di sumber. Karena ee
dari kita melakukan wawancara dengan ee
berbagai pihak atau pengurus dari bank
sampah, salah satu faktor pentingnya itu
adalah ee bagaimana sampah ini
harapannya sudah bisa diolah ataupun
dipilah terlebih dahulu di rumah baru
disetorkan ke bank sampah. karena itu
merupakan salah satu ee
aspek yang penting dalam ee peran serta
masyarakat di pengelolaan bank sampah.
Yang selanjutnya pembiayaan ini ada dua
biaya operasional bank sampah itu ee
digunakan untuk perawatan fasilitas gaji
pegawai ataupun apabila ada ee bank
sampah yang melakukan fasilitas
penjemputan sampah itu merupakan
opsional. Dan yang kedua itu pemasukan
bagi bank sampah itu sendiri didapatkan
dari bantuan dari pihak eksternal
ataupun dari penambahan nasabah bank
sampah itu sendiri.
Yang terakhir ee aspek kelembagaan ee
ditemukan ada lima indikator mulai dari
administrasi, pencatatan ee dan
pembukuan dari bank sampah itu sendiri,
kerja sama dengan pihak ketiga ataupun
pengepul, pemberdayaan SDM, ee tergabung
dalam komunitas bank sampah, dan
memiliki legalitas kepengurusan dalam
struktur organisasi ee bank sampah.
Dan Bapak, Ibu sekalian dapat dilihat ee
dari indikator dari aspek indikator yang
telah kita susun mendapatkan ee berbagai
macam parameter-parameter penilaian yang
kita jadikan salah ee sebuah instrumen
untuk dapat menilai tingkat
keberlanjutan bank sampah.
Dapat saya contohkan seperti pada aspek
ee teknis operasional dan indikator
berat sampah. Di sini kita ee menilai
berat sampah yang dikelola dari bank
sampah ini. 80% dari kapasitas layanan
yang sudah direncanakan itu dapat
memiliki skor 3. Berat sampah yang
dikelola 30 sampai 80% dari kapasitas
layanan yang direncanakan itu memiliki
skor dua. Eh untuk skor satunya itu
kurang dari 30% dari kapasitas layanan
yang direncanakan dan nol apabila tidak
ada sampah masuk.
Ini selanjutnya merupakan masih sama
terkait ee instrumen yang telah kita
susun dari berbagai macam aspek.
Dan selanjutnya
ee kita lakukan kita coba lakukan
simulasi ee dari instrumen telah yang
telah kita susun. Anggap saja kita
sekarang sedang menilai salah satu bank
sampah, bank sampah X yang ada di
Kabupaten Sleman. Setelah kita lakukan
wawancara dan kita melakukan penilaian
berdasarkan ee instrumen dan
indikator-indikator yang telah disusun
ee dari bank sampah X ini memiliki nilai
total nilai 640
dari ee keseluruhan parameter yang telah
kita nilai dan kita coba analisis
dari masing-masing parameternya dan kita
coba lihat 640 ini ee sudah mencapai
nilai keberlanjutan atau tingkat
keberlanjutan ee baik atau belum.
Setelah kita lakukan penilaian dari ee
bank sampah X ini
dengan skor 640 atau kita persentasikan
sebesar 90%
ee bank sampah ini dapat dikategorikan
ee sangat berkelanjutan.
seperti itu dari mengenai ee
indeks keberlanjutan yang disusun ee
dari program bank sampah yang
selanjutnya kita akan lanjutkan
pembahasan ke TPS3R. Silakan Mbak Afia.
Baik, terima kasih Mas Fatur untuk
penjelasannya. Ee Bapak Ibu sekalian,
kita akan melanjutkan ke TPS3 ER.
Next.
Yang pertama yaitu metode penyusunan
indeks keberlanjutan pada TPS3R.
Adapun langkah yang pertama yaitu
melakukan penyusunan indikator
berdasarkan lima aspek pengelolaan
sampah yang terdiri dari teknis
operasional, kelembagaan, peran serta
masyarakat, hukum dan peraturan, serta
pembiayaan.
Kedua yaitu melakukan pembobotan
kesesuaian. Dalam menentukan bobot
indikator dilihat dari banyaknya
pengujian yang telah dilakukan di
lapangan. Adapun untuk bobot 20 yang
berarti indikator dilakukan sebanyak
lebih dari 5 kali pengujian. Kemudian
bobot 15 yang menandakan indikator
dilakukan sebanyak 4 kali pengujian
bobot 10 di mana indikator dilakukan
sebanyak tiga kali pengujian dan bobot
lima yaitu indikator dilakukan sebanyak
dua kali pengujian. Yang ketiga yaitu
penentuan skala penilaian parameter yang
berguna untuk menggambarkan kondisi di
TPS 3R dengan nilai 0 hingga 4 dengan
keterangan buruk, cukup, baik, dan
sangat baik.
Ee untuk yang selanjutnya yaitu
terkait pembobotan scoring atau bisa
disebut juga dengan nilai relatif yang
diperoleh dari akumulasi antara nilai
dari tiap parameter dikali dengan bobot
kesesuaian pada tiap indikator.
Yang kelima yaitu penentuan tingkat
keberlanjutan. Adapun untuk persentase
tingkat keberlanjutan ini diperoleh dari
skor yang telah diperoleh dibagi skor
maksimum dikali 100%. Dan yang terakhir
yaitu kita menentukan skala tingkat
keberlanjutan.
Adapun untuk TPS 3R ini nilai
keberlanjutannya mulai dari 0 hingga
yang paling tinggi yaitu 890
dengan persentase keberlanjutan 0 hingga
20% dengan kategori sangat tidak
berkelanjutan, 20 hingga 40% dengan
kategori tidak berkelanjutan, 40 hingga
60%
dengan kategori cukup berkelanjutan,
60% hingga 80% dengan kategori
berkelanjutan,
dan 80 hingga 100% dengan kategori
sangat berkelanjutan.
Untuk indikator dan parameter penilaian
TPS 3R terdiri dari lima. Yang pertama
yaitu teknis operasional yang terdiri
dari tujuh indikator. Yang pertama yaitu
kualitas sampah dikelola. yang dilihat
dari persentase sampah dikelola TPS3R
atau melayani minimal 200 KK atau sampah
yang dikelola sebesar lebih dari 6 m³
per hari. Dan yang kedua yaitu kondisi
sarana dan prasarana yang dilihat dari
kebungsian sarana dan prasarana pada TPS
3R. Yang ketiga, jenis pengelolaan. Pada
TPS3R terdapat proses pemilahan dan
pengolahan sampah. anorganik lebih dari
satu jenis dan atau pengolahan sampah
anorganik seperti pengepresan maupun
pencacahan serta penjualan sampah ke
pelapak atau pengepul. Yang keempat,
produksi kompos atau produk sejenis di
mana sampah organik yang diolah menjadi
kompos atau produk lain seperti BSF
magot maupun pakan ikan.
Kemudian sampah daur ulang yaitu jumlah
sampah anorganik yang dijual ke
pengepul.
Selanjutnya volume residu ke TPA yaitu
residu yang masuk ke TPA kurang dari
30%.
Kemudian pengelolaan lingkungan di mana
TPS3R telah melakukan pengendalian bau
serta tidak melakukan pembakaran sampah.
Selanjutnya
regulasi yang memiliki dua indikator
seperti pedoman dan peraturan daerah
terkait TPS3R.
Apakah apakah pengelola telah mengetahui
serta menerapkan peraturan daerah
mengenai TPS3R?
Kemudian kebijakan tentang pengelolaan
sampah yang berkaitan dengan TPS 3R. Di
sini apakah pengelola telah mengetahui
kebijakan seperti surat edaran maupun
surat keputusan terkait pengelolaan
sampah
serta sudah menerapkannya
oleh pengelola? Selanjutnya yaitu
mengenai partisipasi masyarakat yang
terdiri dari dua indikator. Yang pertama
pengembangan pelanggan TPS 3R.
Indikator ini dilihat dari adanya
penambahan pelanggan ataupun tidak
adanya penambahan pelanggan serta TPS 3R
mengalami penurunan pelanggan. Yang
kedua yaitu pengetahuan masyarakat
tentang TPS 3R. Apakah TPS 3R telah
melakukan sosialisasi tentang TPS 3R
kepada masyarakat? Selanjutnya
terkait kelembagaan.
Pada kelembagaan ini memiliki tujuh
indikator. Yang pertama, sumber daya
manusia. Apakah pekerja TPS di TPS3R
telah melakukan tugas sesuai dengan
fungsinya seperti pengumpulan,
pemilahan, dan pengolahan sampah. Yang
kedua, kerja sama dengan pihak luar.
Adapun kesepakatan dengan pengepul
mengenai harga jual sampah maupun jadwal
pengambilan sampah.
Kemudian struktur organisasi adanya
struktur organisasi dan pengelola aktif
dalam kepengurusan TPS 3R. Keempat,
legalitas lembaga. Pada TPS 3R sendiri
telah terdapat akta notaris, SK dinas,
SK kelurahan, ataupun anggaran dasar
anggaran rumah tangga. Selanjutnya SOP
di mana TPS 3R telah memiliki SOP dan
sudah diterapkan oleh pengurus.
Kemudian administrasi pengelolaan yang
dilakukan pencatatan terkait pengeluaran
jumlah sampah pada TPS3R. Dan yang
terakhir yaitu tergabung dalam komunitas
antar TPS 3R dalam skala provinsi maupun
skala kabupaten atau kota. Untuk
indikator terakhir yaitu mengenai
pembiayaan.
Adapun untuk pembiayaan ini terdiri dari
dua indikator. Yang pertama kondisi
keuangan TPS3R. Apakah TPS3R ini
mengalami penurunan ataupun ee
pembiayaannya sendiri mengalami
peningkatan atau juga antara pengeluaran
sama pemasukan itu nilainya balance.
Yang kedua yaitu bantuan pemerintahan
dan pihak luar. adanya bantuan dana
serta peralatan operasional dari
pemerintah dan atau pihak luar. Jadi
pada TPS 3R ini dari total keseluruhan
indikator memiliki 20 indikator.
Selanjutnya untuk contoh indikator
beserta parameternya yang pertama di
teknis operasional. Sebagai contoh itu
indikator tentang kuantitas sampah
dikelola.
Dalam kuantitas sampah dikelola ini
untuk parameternya sendiri
memiliki skala yang di mana sampah
dikelola 100% atau sampah yang tidak
dikelola kurang dari 100% dengan
masing-masing memiliki nilai parameter
serta bobot untuk indikator ini sebesar
20. Kemudian untuk regulasi sebagai
contoh pedoman dan peraturan daerah
tentang TPS 3R yang di mana untuk
parameternya sendiri pengelola TPS 3R
telah mengetahui pedoman ataupun
peraturan daerah mengenai TPS 3R dan
sudah diterapkan oleh pengelola serta
pengelola TPS 3R belum mengetahui
pedoman dan peraturan daerah terkait
TPS3R dan belum juga diterapkan oleh
pengelola. Adapun untuk nilai
parameternya ini terdiri dari 0 sampai 3
dengan bobot 10.
Selanjutnya untuk partisipasi masyarakat
salah satu indikatornya mengenai
pengembangan pelanggan TPS 3R yang di
mana untuk pelanggan ini bisa dilihat
dari penambahan pelanggan, tidak ada
penambahan pelanggan, serta TPS3R
mengalami penurunan pelanggan. Untuk
nilainya sendiri terdiri dari 0 hingga 3
yang akan menggambarkan
jum gambaran pelanggan tersebut dengan
bobot 15. Kemudian keuangan. Contohnya
kondisi keuangan di TPS 3R. Apakah
keuangan ini antara pemasukan lebih
besar dari pengeluaran atau pemasukan
sama dengan pengeluaran atau pemasukan
kecil dari pengeluaran dengan nilai
dengan range 0 2 dan 3 dengan bobot 15.
Yang terakhir yaitu kelembagaan. Contoh
indikatornya kerja sama dengan pihak
luar atau pengepul sampah yang membahas
tentang adanya kesepakatan dengan
pengumpul mengenai harga jual sampah
maupun jadwal pengambilan sampah.
Adapun simulasi dalam penentuan indeks
keberlanjutan TPS3R yang pertama yaitu
melakukan wawancara dan penilaian pada
TPS 3R. Sebagai contoh, berikut
merupakan logbook instrumen penilaian
keberlanjutan pada TPS 3R yang terdiri
dari indikator-indikator mulai dari
teknis operasional hingga
kelembagaan. Kemudian kita
meneliti salah satunya yaitu kuantitas
sampah dikelola. Apakah di TPS 3R ini ee
sampahnya sudah melayani 100% cakupan
atau kurang dari 100% cakupan? Untuk
menilainya itu kita melihat dari skala
nilainya. Sebagai contoh dimasukkan
nilai 2 untuk bobot 20. Kemudian skornya
ini merupakan pengali
penilaian dan bobot. Kemudian didapatkan
skor sebesar 40. Setelah itu kita
melakukan hal yang sama untuk tiap-tiap
indikator sehingga diperoleh akumulasi
nilai sebesar 695.
Dari hasil wawancara dan penilaian ini
kita input skor ke dalam grafik untuk
mengetahui apakah tiap-tiap indikator
ini telah memenuhi nilai maksimum dan
bisa juga sebagai ee keberlanjutan dari
TPS 3R itu sendiri.
Kemudian dari wawancara tadi setelah
kita menghitung, kita melakukan
akumulasi nilai yang diperoleh dari
perkalian antara nilai per tiap
parameter pada indikator dikali sama
bobot kesesuaian. Selanjutnya kita
menghitung tingkat keberlanjutan dari
TPS 3R yang telah diteliti dengan rumus
skor yang diperoleh yaitu sebesar 695
dibagi skor maksimum sebesar 890 * 100%.
Kemudian dari penilaian ini didapatkan
bahwa TPS 3R yang diteliti memperoleh
nilai akhir sebesar 695
atau 78%.
yang di mana nilai tersebut masuk ke
dalam kategori berkelanjutan.
Ee berikut penjelasan terkait TPS 3R.
Selanjutnya akan dijelaskan mengenai
sedekah sampah.
Baik, terima kasih untuk waktunya Mbak
Via. Ee selanjutnya kita akan masuk ke
dalam sesi sedekah sampah. Bapak, Ibu
sekalian ee perlu diketahui juga bahwa
sedekah sampah ini merupakan salah satu
program juga dari pengelolaan sampah
berbasis masyarakat selain TPS 3R dan
bank sampah. Ee untuk Bapak Ibu sekalian
yang masih asing dengan sedekah sampah,
apa sih sedekah sampah itu? Sebenarnya
sedekah sampah itu kurang lebih ee sama
dengan bank sampah. Tetapi bedanya
sistemnya untuk sedekah sampah ini
masyarakat akan menjual sampah mereka ke
petugas sedekah sampah tetapi tidak
mendapatkan keuntungan dari hasil
penjualan tersebut atau lebih
mengikhlaskan ee dari hasil penjualan
tersebut dikarenakan ee dari hasil
penjualan tersebut nantinya akan
digunakan dari pihak petugas sedekah
sampah untuk ee mengelola atau ee
melaksanakan program-program
pemberdayaan masyarakat ee ke depannya.
Ee selanjutnya, Mas ee baik ee kemudian
untuk pada indeks keberlanjutan pada
sedekah sampah ini ee sebenarnya baik
lagi mengacu ee pada lima aspek
pengawalan sampah berasi masyarakat.
Untuk penyusunannya ee yang pertama ada
teknis operasional, kemudian dasar hukum
atau regulasi, kemudian ada peran serta
masyarakat,
ada pembiayaan, dan terakhir adalah
kelembagaan. Nah, untuk ee penyusunan
indeks kebelanjutan ini ada dua metode
yang digunakan. Ee yang pertama ada
pembuatan kesesuaian di mana ee dalam
pembuatan kesesuaian ini ee menggunakan
sebuah bobot untuk perhitungan setiap
indikatornya. Oleh karena itu, perlu
ditentukan bobot nilai kesesuaian untuk
membedakan tingkat kesesuaian dan bisa
diperhitungkan menggunakan metode
scoring nantinya. Ee seperti yang bisa
kita lihat di tabel tersebut Bapak Ibu
sekalian bahwa terdapat empat bobot.
yang pertama ada 20, 15, 10, dan 5. Nah,
untuk bobot ee yang 20 sendiri itu
nantinya digunakan jika indikator yang
akan dipakai ini ee pernah digunakan
sebelumnya sebanyak empat kali atau
lebih dari empat ee pada referensi atau
pada penelitian sebelumnya dengan ee
dengan penelitian yang berbeda-beda.
Begitu juga pada bobot yang 15 ee itu
nanti sebanyak tiga kali ee pernah
digunakan di penelitian sebelumnya.
Kemudian pada bobot 10 itu sebanyak dua
kali dan pada bobot 5 ini nanti ee hanya
pernah sekali digunakan pada penelitian
sebelumnya ee untuk meneliti peniaan
pada sedekah sampah juga.
Dan metode selanjutnya adalah pembuatan
pada parameter. Jadi untuk ee parameter
ini nilai skala parameter ini sangat
penting untuk mendukung keberlanjutan
Bapak Ibu sekalian. Karena dengan adanya
nilai parameter ini ee akan tahu berapa
nilai ee setiap indikatornya nanti. Nah,
untuk nilai skala yang digunakan itu ada
4 3 2 1 0. Ee keterangannya untuk 4
sendiri itu sangat baik. Kemudian tiga
itu baik, dua cukup, eh satu tidak
cukup, dan nol sendiri itu buruk.
Ee lanjut, Mas. Nah, ini merupakan salah
satu contohnya Bapak, Ibu sekalian yang
sudah saya jelaskan di slide sebelumnya.
Jadi, contohnya untuk indikator
pengetahuan masyarakat terkait pengan
sampah dengan kode 1C. Nah, untuk
indikator ini sendiri itu masuk dalam
aspek peran serta masyarakat, Bapak,
Ibu. Ee jadi ee setelah saya kita cari
tahu bahwa ee indikator ini ternyata
sudah pernah digunakan atau sudah pernah
dipakai dari beberapa penelitian
sebelumnya seperti penelitanya Isworo
2018, kemudian IAMU dan kawan-kawan
2022, Sanjevi dan Sahabudin 2015 dan
Santika dan kawan-kawan 2022. Nah,
makanya pada indikator ini ee
mendapatkan atau menggunakan ee bobot 20
untuk ke depannya untuk dalam instrumen
itu nanti dengan nilai skala tiga nilai
skala parameter 3, 2, dan 1.
Lanjut, Mas.
Nah, setelah ee indikator
keberlanjutan tadi disusun menggunakan
dua metode tadi, terbentuklah instrumen
keberlanjutan atau media untuk
menilai sebuah sedekah sampah ke
depannya. Apa agar ee diketahui bahwa
sedekah sampah tersebut keberlanjutan
atau tidak keberlanjutan. Nah, untuk ee
instrumen tersebut ee kembali lagi
mengacu pada lima aspek penguangan
sampah masyarakat. Yang pertama itu ada
teknis operasional. Ee di teknis
operasional sendiri terdapat lima
indikator. Yang pertama ada kuantitas
sampah. Di mana ee pada indikator ini
dilihat dari persentase area pelayanan
Bapak, Ibu sekalian dari ee area
pelayanan sedekah sampah itu yaitu skala
RT atau RW. Kemudian indikator kedua
adalah pemilahan dari petugas. Jadi ee
pada indikator ini apakah dilihat dari
apakah Mas ee petugas dekas sampah itu
ee sudah melakukan pemilahan secara
komposisinya seperti ee plastik,
kemudian karet, sampah jenis kertas,
logam, dan lain-lain. Atau ee
petugas sudah memilah sampah secara
komposisi dan lebih detail. Jadi, misal
sudah dipilah ee seperti plastik
sendiri. Nah, itu plastik itu nanti
dipilah secara detail lagi. Ee dipilah
seperti plastik HDPE sendiri, kemudian
PP sendiri, LDPE, kemudian begitu juga
pada sampah kaca, kemudian ada botol
kaca sendiri, kaca cetakan sendiri,
kemudian sampah logam juga ada besi
jenis A, besi jenis B, aluminium dan
lain-lain. Kemudian indikator
selanjutnya adalah penjualan sampah.
Jadi untuk indikator penjualan sampah
ini dilihat dari hasil penjualan sampah
selama 3 bulan terakhir Bapak Ibu
sekalian apakah ee terdapat kenaikan
atau penurunan atau stabil dalam
penjualan sampah diah sampah ini.
Kemudian faktor keempat eh indikator
keempat adalah pengelolaan lingkungan.
Jadi untuk indikator ini dilihat dari
pengolaan lingkungan yang sudah
dilakukan oleh ee petugas
ee sedekah sampah. eh seperti penerapan
3R, reduce, reus, dan resikel atau ee
pengolaan residu dari pengelolaan
sedekah sampah itu sendiri. Dan
indikator kelima adalah kondisi sarana
dan prasarana. Pada kondisi sarana dan
prasarana ini dilihat dari persentase
dari sarana prasarana yang masih
berfungsi atau masih ee layak digunakan
dengan baik. Kemudian pada aspek
selanjutnya adalah kebijakan atau
regulasi. Di mana di aspek ini terdapat
dua indikator yang pertama peraturan
desa terkait pengolaan sampah. Ee dari
indikator ini dilihat apakah desa
tersebut sudah mempunyai undang-undang
atau regulasi atau peraturan ee terkait
pengolan sampah seperti pwadahan yang
tepat, kemudian mengolah sampah dari
rumah atau memilah sampah dan lain-lain.
Selanjutnya indikator kedua adalah
pedoman atau regulasi terkait pengan
sampah. Nah, pada indikator ini dilihat
ee apakah petugas sampah, petugas
sedekah sampah tepatnya atau masyarakat
sudah paham terkait undang-undang atau
regulasi sampah apa dan apakah sudah
diterapkan secara baik dan benar.
Selanjutnya adalah ee
aspek pada peran serta masyarakat. Pada
per serta masyarakat ini terdapat dua
indikator. Yang pertama pengetahuan
masyarakat terkait pengangan sampah.
Pada aspek ini ee dilihat dari peran
masyarakat dalam hal ee memahami terkait
pengan sampah yang sudah disampaikan
dari ee pihak petugas sedekah sampah
melalui seperti kegiatan sosialisasi
atau kegiatan webinar atau yang
lain-lain. Ee kemudian indikator
selanjutnya adalah pemilahan di sumber
ee di mana masa pada indikator ini
dilihat apakah masyarakat sudah
melakukan pemilahan di sumber atau di
dari rumah sebelum ee masyarakat itu
menyerahkan sampah mereka atau menjual
sampah mereka ke pihak sedekah sampah.
atau bahkan ada masyarakat yang hanya
menyetorkan sampah saja, tetapi tanpa
pemilahan dari rumah sebelum mereka
menjualnya ke sedekah sampah. Kemudian
aspek selanjutnya adalah pembiayaan.
Pada aspek pembiayaan ini terdapat dua
indikator, Bapak, Ibu sekalian. Yang
pertama adalah pemasukan sedekah sampah.
Nah, pada indikator ini dilihat ee
apakah ee
di indikator ini ee dana yang digunakan
itu berasal dari ee terdapat penambahan
dana dari luar seperti bantuan dana dari
luar, kemudian penambahan nasabah atau
hanya ee nasabah yang sudah ada
sebelumnya, Bapak, Ibu. Kemudian untuk
selanjutnya
ee terdapat indikator biaya operasional
sedekah sampah. Nah, pada indikator ini
dilihat apakah biaya operasional ini
melebihi dari pemasukan atau bahkan ee
tidak melebihi dari pemasukan. Nah,
untuk yang terakhir adalah dari aspek
kelembagaan. Jadi, untuk ee aspek
kelembagaan ini terdapat kurang lebih
tujuh indikator yang digunakan untuk
penilaian. Yang pertama adalah struktur
organisasi. Nah, untuk struktur
organisasi ini dilihat apakah ee dari
pihak sedekah sampah sendiri ini sudah
terdapat struktur organisasi untuk
mengelola
ee sedekah sampah tersebut dan apakah
masih aktif atau hanya sekedar ee
catatan saja struktur organisasi
tersebut. Tidak ada ee sumber dayanya,
sumber daya manusianya. Kemudian ee
indikator selanjutnya adalah kerja sama
dengan pihak luar. Ee dari indikator ini
dilihat bahwa apakah sedekah sampah ini
ee sudah kerja sama seperti dengan pihak
pengepul untuk menjual sampah mereka,
kemudian untuk ee memastikan ee
penetapan harga dan pengambilan sampah
kurang lebih untuk kerja sama dalam hal
tersebut. Kemudian ee indikator
selanjutnya adalah sumber daya manusia
atau SDM. Ee pada indikator ini ee
dilihat dari ee kemampuan dari setiap
petugas dari sedekah sampah melalui ee
diberikanlah diberikannya melalui
pelatihan yang sudah ada dan ee pengurus
sedekah sampah bisa melakukan studi
banding ke sedekah sampah lain untuk
meningkatkan skill atau kualitas serta
pemahaman mereka terkait pengolaan
sedekah sampah. Kemudian ee indikator
selanjutnya adalah SOP atau standar
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:12:18 UTC
Categories
Manage