Book Launching "Kunci Keberlanjutan PSBM"
HcbzszOU2gg • 2025-11-15
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id keadaan sehat dan penuh semangat. Perkenalkan saya Nuhasania Maulida, MC sekaligus moderator yang akan menemani dan memandu jalannya acara webinar dan book launching ini dari pukul .00 siang hingga pukul .00 nanti. Pertama-tama izinkan saya mengucapkan selamat datang dan terima kasih atas kehadiran Bapak Ibu peserta yang telah meluangkan waktunya untuk bergabung dalam webinar dan berkunching hari ini, Sabtu, 15 November 2025. Webinar TB launching kita hari iniung topik C keberlanjutan pola sampah berbasis masyarakat yang akan disampaikan oleh empat penulis buku yang luar biasa yaitu Bapak Dr. Ir. Hijrah Purnam Putra SDM Ibuia Bapak Islam dan Bapak Abdullah Rahman Ali. Tidak lupa salam hormat kepada Bapak Dr. Ir. Awaludin Nurumianto STM Engineering IPM selaku ketua jurusan teknik lingkungan Universitas Islam Indonesia. Dan juga tidak lupa kepada Bapak Ibu peserta webinar dan launching pada hari yang berbahagia ini. Sebelum masuk ke materi webinar dan kita, saya mohon izin untuk mengingatkan Bapak Ibu untuk mengisi daftar hadir atau presensi di link yang telah admin kami kirimkan di kolom chat. Kemudian dengan hormat saya meminta kesediaan Bapak Ibu untuk menonaktifkan mikrofon selama kegiatan berlangsung supaya kita dapat mendengarkan materi yang disampaikan dengan jelas. Baik, selanjutnya sebelum kita masuk ke acara inti kita yaitu penyampaian materi akan ada sambutan dari Bapak Dr. Ir. Awaluddin Nuranto STM. Engineering PN selaku Ketua Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia. Baik, langsung saja kepada Bapak Awalin. Waktu dan tempat kami persilakan. Baik, suara saya sudah terdengar ya Bapak Ibu ya. Baik. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah rabbil alamin. Asalatu wasalamu ala asrofil iya wal mursin wa ala alihi rasulillahi ajmain. Amma ba'du. Ee saya sangat berbahagia pada kesempatan siang hari ini dapat hadir secara langsung untuk bertatap muka dengan Bapak Ibu semuanya di ee ruang maya ini ee dalam rangka kegiatan webinar dan juga bookching yang ee diselenggarakan oleh ee Project B Indonesia dan bekerja sama dengan Jurusan Teknik Lingkungan. ee kami dari jurnik lingkungan cukup mengapresiasi apa yang ee sudah ee dilaksanakan ini ya, karena kegiatan ini berlangsung ee cukup sustainable dan menghadirkan berbagai topik-topik yang bermanfaat bagi ee bidang pengelola lingkungan dan dengan projek BI Indonesia tidak terbatas di pengelolaan sampah ya, tetapi ee limbah, udara, air dan yang lain-lain yang menjadi fokus dari bidang teknik itu sendiri. Bapak, Ibu yang kami hormati ee Pakah dan mahasiswanya gitu ya. Ee ini sudah menerbitkan satu buah buku yang akan kita bahas bersama pada hari ini ter dengan ee indeks keberlanjutan gitu ya. Bagaimana pengelolaan ee sampah di level masyarakat ya, partisipasi masyarakat tadi bis ee berlanjut. Karena kalau kita tahu bahwa ee mungkin data lebih detail nanti dari Pak Hijrah gitu ya. ee ada banyak misalkan bank-bank sampah yang sudah ada di Indonesia ini ada ya mungkin sampai 30.000-an gitu ya di Indonesia kalau kita lihat di SI PSN. Tetapi ee ternyata ee aspek penur sampah sendiri gitu ya itu ee pengurangan sampah sendiri itu belum ee ya ada gitu ya, tetapi target yang diharapkan itu masih belum tercapai untuk agreg keseluruhan. Nah, tentunya ee ini menjadi penting bagi ee kita untuk apa ya merumuskan gitu ya, untuk bisa menilai gitu ya agar ee pengelolaan sampah yang di masyarakat tadi itu tidak ya tidak mungkin ada kegagalan gitu ya, kemudian juga lebih efisien dan juga nanti ee terkena dengan layanan publik gitu ya. Ee barangkali bisa meningkatkan ee layanannya. Nah, ee apa yang dilakukan oleh Pak Hijrah dan ee tim gitu ya, tentu ini ee merupakan satu kajian akademik yang ee penting dan juga ee menarik karena ee dari aspek praktik itu ee dilaksanakan di berbagai bank sampah yang ada di ee Yogyakarta sehingga ee nanti hasilnya pun sangat menarik dan ee sangat mungkin bisa diterapkan di ee bank sampah-bank sampah ataupun ee unit pengelolaan sampah ee ee di ee tingkat ee masyarakat gitu ya. Dan ini juga ee menunjukkan satu ee ee komitmen dari jurusan teknik lingkungan dalam hal untuk ee memberikan ee diseminasi gitu ya. Jadi tidak hanya ee hasil tugas akhir itu ee berakhir di apa ee ee perpustakaan saja gitu ya, tetapi juga di ee baca dan juga bisa memberikan apa ee sebagai referensi juga kepada masyarakat. Eh, terima kasih kepada Pak Hijrah. Kemudian penulis yang lain ada Mbak e Via, kemudian Mas e Abdur Rahman, dan juga Mas Fatur. Ee insyaallah ini akan dakwah bilitabah gitu ya yang bisa menjadi ee manfaat bagi kita semuanya. tentu ee ada apabila nanti hal-hal yang masih perlu ditingkatkan dalam buku dan lain-lain tentu ini ee ee mungkin bisa dibahas lebih lanjut ya di dalam webinar kali ini. ee saya sangat ee mendukung kegiatan ini dan mudah-mudahan di ee kegiatan-kegiatan lain jurusan teknik ilmuan UII, dosen maupun mahasiswanya menghasilkan karya-karya lain yang ee bisa bermanfaat tentunya. Ee ee saya mohon maaf juga karena mungkin nanti tidak bisa kegiatan ini secara ee penuh gitu ya. Tetapi ee sekali lagi saya mengucapkan selamat kepada Pak Hijrah dan tim. Kemudian kami juga mengucapkan selamat untuk ee bisa saling berbagi nanti dengan Bapak Ibu ee peserta webinar lainnya. Demikian yang bisa kami sampaikan lebih dan kurang saya mohon maaf. Wab taufik walhidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih untuk Bapak Awalin yang telah memberikan sambutannya sekaligus membuka acara webinar dan book launching pada siang hari ini. Bapak, Ibu peserta webinar dan book launching sekalian, kami dari panitia juga melakukan live streaming melalui YouTube channel kami di Project B Indonesia. Jika semisal selama acara webinar dan book launching ee ada yang terkendala dalam Zoom, tidak perlu khawatir karena Bapak Ibu juga tetap bisa mengikuti webinar dan launching hari ini melalui YouTube channel kami. Selanjutnya seperti biasa hari ini kami juga menyiapkan berbagai macam doorpress spesial untuk Bapak Ibu yang beruntung. Ada tiga produk spesial dari butik daur ulang projek Indonesia, tiga thumbnail dari penerbit di publish, dan tiga vouet diskon pembelian buku dari doorp ini diberikan berdasarkan pertanyaan-pertanyaan terbaik dan story Instagram terunik selama webinar dan cing ini berlangsung. Untuk pertanyaan-pertanyaan terbaik akan kami umumkan di akhir acara webinar dan nanti. Sedangkan untuk pemenang story Instagram terunik akan kami hubungi langsung melalui DM Instagram. Nah, hari ini karena banyak sekali doorbes spesial bagi Bapak Ibu peserta, jadi tidak perlu malu-malu dan ee langsung saja memberikan pertanyaannya melalui kolom chat dengan format nama. Kemudian pertanyaan yang ingin ditanyakan dan nantinya akan kami pilih penanya terbaik untuk memenangkan door price. Lalu untuk story Instagram, Bapak Ibu dapat membuat story Instagram semenarik mungkin dan jangan lupa tag Instagram kami di @projecti Indonesia. Tanpa berlama-lama lagi, kita akan langsung lanjut ke acara inti, yaitu penyampaian materi. Namun sebelum itu, mari kita lihat terlebih dahulu CV dari pemateri kita hari ini. [musik] Baik, itu tadi sekilas mengenai pemateri dan penulis buku kunci keberlanjutan pengelolaan sampah berbasis masyarakat pada hari ini yang akan mengisi webinar danci. Mungkin untuk efisiensi waktu jika pemateri sudah siap, kita bisa langsung saja untuk memulai penyampaian materi. Kurang lebih waktunya hingga pukul .30. Tanpa berlama-lama lagi waktu dan tempat kami persilakan. Baik, terima kasih Pak Nuha. Ee mudah-mudahan suara saya sudah terdengar dengan jelas ya. Baik, ee izin untuk memulai teman-teman semuanya dan Bapak Ibu. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ee bismillah walhamdulillah wasalatu wassalamu ala rasulillah. Ee pada kesempatan siang hari ini tentunya selamat siang, salam sejahtera untuk kita semuanya. Terima kasih Bapak Ibu yang telah ee bergung dalam kegiatan yang dilakukan oleh Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia dan butik Daur ulang Project B Indonesia. Em, Pak Awaludin terima kasih atas ee sambutannya. Biasanya kegiatan kita di pagi hari, tapi kami kita coba untuk siang hari gitu ya, karena tadi pagi ada kegiatan yang lain di jurusan teknik lingkungan hubungannya dengan ee pengembangan arah pendidikan dan kurikulum gitu ya. Dan Bapak Ibu yang telah bergabung mudah-mudahan dapat mengikuti dengan baik ya. Nah, biasa jadi hari ini saya ngajak teman tiga teman yang lain gitu ya. Ada Mas Fatur di sini, Mbak Via dan Mas Abdul yang ee beberapa waktu yang lalu kami mencoba untuk melakukan penelitian ee terkait dengan indeks kelanjutan yang ada di pengelolaan sampah berbasis masyarakat gitu. hasilnya. Kemudian ee metode menghasilkan suatu instrumen lah kira-kira begitu. Walaupun instrumennya masih terus perlu dikembangkan dan beberapa mahasiswa kami juga ee terus ee melakukan penelitian terkait dengan hal tersebut gitu ya. Nah, dalam hal tersebut karena hasilnya menarik dan kami coba untuk iseng-iseng menulis gitu ya, menulis ee menjadi buku gitu ya. Dan ternyata oleh penerbit dipublish kemudian lima untuk bisa dicetakkan menjadi sebuah buku yang harapannya bisa disebar luaskan kepada masyarakat lebih luas. Dan di sini didukung sebenarnya oleh Direktorat ee Pengembangan Akademik ya. ya. Kebetulan di UII punya program namanya UII menulis gitu. Jadi mencoba untuk me ya dalam tanda kutip sedikit memaksa para civitas akademikanya untuk bisa menulis agar tidak hanya berakhir sebagai penelitian di perpustakaan saja seperti yang disampaikan Pak awal tadi ya. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kita semuanya. Eh, Mas Fatur, Mbak Via, Mas Abdul, kita mulai ya. Ee kita eh share screen untuk bisa mulai materi kita pada kesempatan hari ini. Konsepnya ee sama-sama belajar ya, Bapak, Ibu ya. Bukan berarti kami yang berada di depan ini kemudian jadi sangat tahu, tapi sebenarnya ini menjadi kesempatan untuk buku ini sangat terbuka untuk ditambahi sehingga nanti versi-versi berikutnya menjadi lebih baik lagi gitu ya. Ee judul bukunya seperti yang sudah diketahui oleh Bapak Ibu, sikerlanjutan pengolaan sampah berbasis masyarakat ya. Oke, next. ee hal-hal yang kita akan pelajari di dalam ee pertemuan kali ini kami mencoba untuk membahas enam bagian ya. Yang pertama terkait dengan pengantar ee yang dimaksud sebenarnya PSBM itu apa gitu. Walaupun Bapak Ibu yang bergabung hari ini pasti tadi Pak Awal menyampaikan ada bank sampah ya, ada TPS 3R, ada sedekah sampah gitu. Ini menjadi hal-hal yang sebenarnya sudah sering kita dengar gitu. Kemudian kita nanti akan bahas juga sebenarnya ada tantangan apa gitu ya dan efektivitas dari aktivitas yang dilakukan oleh ee PSBM ini sehingga dengan adanya tantangan tadi mungkin muncul sebuah kepentingan. Perlu ada ee sedikit apa penilaian mungkin ya kita sebut penilaianlah ya tingkat keberlanjutan. Mengapa bank sampah itu banyak? tapi juga yang tidak bertahan gitu. Kenapa sedekah sampah itu muncul terus tapi dampaknya tidak terlalu besar gitu? Kenapa TPS3R? Oh, ternyata tempatnya mangkrap gitu ya. Jadi ee perlu indeks ee bukan hanya untuk menghitung saja tapi sebenarnya yang penting adalah halnya nanti itu apa sehingga tindak lanjut yang perlu dilakukan itu ee kita perlu ketahui bersama. Nah, nanti teman-teman Mas Fatur akan menjelaskan poin 4, 5, dan 6 khusus bicara tentang bank sampah ya. Mulai dari bagaimana cara menyusun indeksnya sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah begitu ya. bagaimana indikator-indikator ee parameter itu terbentuk bagi bagaimana kita memberikan penilaiannya dan nanti akan diakhiri dengan ada simulasi dari penilaian yang dilakukan nanti di ujung akan ketemu status keberlanjutannya itu seperti apa gitu. Tidak berlanjutkah atau sangat ee keberlanjutan yang tinggi begitu ya. Ee dan di balik itu nanti akan dijelaskan ee setelah itu apaagi gitu ya ee yang perlu kita lakukan gitu. Kemudian nanti setelah Mas Fatur kemudian akan dilanjutkan oleh Mbak Via ya. Mbak Via ini akan bahas terkait dengan TPS3R sama tadi menggunakan juga metode penyusunannya seperti apa, kemudian indikator-indikator yang diperlukan itu apa saja pertanyaan-pertanyaannya. Kemudian dilakukanlah simulasi ya dan ee ada status keberlanjutan yang dilakukan. Nah, setelah Mbak dengan TPS 3R nanti akan Mas Abdullah ya Mas Abdul ini ee terkait dengan sedekah sampah. ee menggunakan metodenya seperti apa, kemudian indikator yang ada di dalamnya apa saja dan juga nanti akan muncul simulasi penilaian. Dan sebagai informasi memang Bapak Ibu, kebetulan peneliti ini masih mengambil wilayah sampling itu di wilayah Jogja. Nah, mudah-mudahan nanti ke depan dapat kita kembangkan untuk wilayah-wilayah yang lain seluruh wilayah Indonesia gitu. Siapa tahu kita menemukan faktor lain selain ee aspek-aspek yang dibahas, mungkin akan berpengaruh aspek kewilayahan gitu ya yang ee sementara belum kita masukkan di sana. Oke. Baik, tidak akan berlama-lama lagi agar nantinya bisa lebih komprehensif. Next. ee yang pertama terkait dengan ee bagian saya gitu ya yang membahas mengapa ee kita memerlukan indeks ini. Next. Yang pertama adalah ternyata Bapak Ibu dalam ee sistem pengolaan sampah yang berbasis masyarakat tadi kita punya tantangan ya terkait dengan pengolaan sampah yang ada di Indonesia. Target-target yang ditentukan banyak yang belum dicapai ya. ee tidak bermaksud untuk menyalahkan gitu, tapi kondisinya real. Jadi ee akhir-akhir ini kita mendengarkan ada 34 landfill atau TPA yang ditutup oleh pemerintah pusat gitu ya. Karena ya berbagai macam tantangan yang dihadapi gitu ya. ee kita bisa lihat targetnya yang hijau. Kemudian ternyata ee yang biru ee itu ee apa pencapaiannya berarti masih ada gap yang belum ee tercapai gitu ya. Next. Ee kemudian banyak sebenarnya ee program juga yang mungkin belum berjalan dengan maksimal gitu ya. Jadi banyak bank sampah yang sulit untuk bertahan gitu. Saat kita datang ke bank sampah. para pengurus yang sudah luar biasa bekerja ternyata ee mereka mengeluhkan, susah ngajak warga untuk milas sampah, susah untuk regenerasi tempat yang tidak ada dan seterusnya. Jadi tidak tidak berkelanjutan gitu ya. Nah, akhirnya apa ee ini akan berdangka panjang gitu ya. Jadi ee pengelolaan sampah yang sudah dibangun dari sistem hulu ke hilir dengan melibatkan masyarakat tapi ee tidak dapat bekerja secara optimal. Nah, berarti kan akan ada ee jangka panjang dampaknya. Jadi, jumlah semakin hari semakin besar semakin tidak bisa dikelola dengan baik. Tapi, kita tidak bisa juga menyalahkan oh masyarakat yang salah. ya mungkin sistemnya belumung terkait dengan itu. Nah, oleh karena itu maka karena belum ada standar untuk instrumen keberlanjutan, maka kami berpikir, sepertinya kita butuh instrumen keberlanjutannya. Di mana yang dikatakan bank sampah ini ee layak untuk berlanjut, punya keberlanjutan tinggi dan seterusnya gitu ya. Jadi ee inilah menjadi dasar kenapa ee penelitian dan buku ini dihajar. Karena apa, Bapak Ibu? Kalau kita bicara siklus sampah itu sangat panjang gitu ya. Mulai dari sumber sampah ee sampai kemudian ee pergi ke tempat pengumpulan ee transfer poin, pengangkutan, TPA dan seterusnya. di berikutnya Mas Patur ee dia pergi mengalir dari satu tempat ee ke tempat yang lain gitu. Tidak seperti air limbah masuk ke sistem perpipaan gitu ya. Di sana banyak ee masyarakat yang terlibat, banyak instansi yang terlibat, bahkan swasta pun ikut terlibat. Jadi itu jadi samp akan berada di berbagai macam posisi mengalir dari hulu ke hilir. Jadi perjalanannya panjang gitu. Tapi ada garis bawahnya Bapak, ada kolom pertama itu kalau di sumber sampah dan sudah dilakukan pengolaan secara individu, maka ee beban pengolaan sampah yang ada berikutnya itu menjadi lebih ringan. Tentunya harus dilengkapi dengan data ya, kuantita, sampah seperti apa sehingga bisa dikelola dengan baik ya. Nah, next. ee kita perlu jadi untuk mendukung kegiatan di sumber tadi sudah dilakukan nih, sudah diarahkan ya, ada pengolaan sampah berbasis masyarakat. 2019 pemerintah meloncingakan nasional pilah sampah dari rumah gitu ya. Kemudian pendekatan 3R sampah itu enggak dianggap lagi sebagai barang yang tidak berguna dengan syarat itu harus dipilah dengan baik ya. Berarti harus ada punya fasilitas, ada bank sampah diatur nih lewat Permen LHK 14 tahun 21. Sebelumnya sudah punya juga Permen LHK 14 tahun 2012 atau 13 gitu. Sedekah sampah memang belum diatur terlalu detail gitu ya. Kemudian ada TPS 3R juga sudah diatur oleh Permen PU nomor 3 tahun 2013. Tapi dari instrumen-instrumen tersebut baru berbicara tentang operasional, belum tindak lanjut. Kalau sakitnya ini dikasih obat apa kira-kira ya? Kalau sakitnya itu diobat apa? Nah, jadi bicaranya adalah pengembangan di masa yang akan datang. Nah, sebenarnya PSBM ini apa sih tujuannya, Bapak, Ibu? tujuan dan ee mungkin prinsip ya dari PSBM tersebut pastinya kita mengajak kepada masyarakat untuk bisa bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan, meningkatkan partisipasi Bapak, Ibu supaya apa? Sampah yang nanti pergi ke TPA itu bisa berkurang banyak. Ternyata di TPA TPA itu dipenuhi oleh saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai pemulung. Berarti kalau di sana bekerja mengambil sampah kita, berarti sampah kita masih memiliki nilai ekonomi dong. Kenapa tidak dialihkan di awal supaya apa? Ekonominya bisa didapat, masyarakat lebih banyak bertanggung jawab gitu, bisa pemanfaatan kembali sehingga prinsipnya dari masyarakat, masyarakat dan untuk masyarakat itu bisa tercapai. Ini seperti slogan kegiatan yang lain ya. Tapi artinya ee keterlibatan masyarakat itu penting. Tapi Bapak Ibu, kita tidak bisa lupa gitu kan bahwa aspek pengelolaan sampah itu ada yang lain gitu. Lain aspek ee peran serta masyarakat ada lima ya. Jadi ee mulai dari tadi peram masyarakat, kemudian di dalamnya ada teknis operasional. Bagaimana sampah tadi mengalir dari satu tempat ke tempat yang lain. Ada gerobak, ada truk sampah, ada jenis pengomposan ini dan seterusnya. Kita sebut sebagai teknis operasional. Selain itu ada kelembagaan ya yang mengatur ee kelembagaan tadi ada pembiayaan, ada pengaturan. Nah, ini kita coba breakdown Bapak, Ibu satu-satu ya yang namanya yang sama itu peraturan itu kayak apa gitu ya. Jadi kalau dilihat di sini peran pokoknya komponen yang menjaga pola dinamika sistem gitu ya. Landasan, oh ada bank sampah ada landasan hukumnya. Oh kenapa masyarakat harus pila sampah? Ada landasan hukumnya. Kenapa masyarakat harus bayar sekian landasan hukumnya? Kemudian kelembagaan gitu ya. Ah ini juga penting gitu ya. Bagaimana bentuknya? Di bawah siapa ini bank sampah? TPR dikelola oleh siapa gitu ya? yang bangun siapa, yang ngelola siapa gitu ya, yang diinduk kepada lembaga yang mana. Sehingga ini menjadi list dari ee aturan-aturan yang ada supaya kegiatan ini dapat berjalan dengan baik. Tidak terlebih itu saja, Bapak, Ibu. Ada peraturan, kelembagaan, ada juga urusan pembiayaan, gitu. Nah, itu yang paling penting ya. ee tidak paling penting juga ya kan katanya UUD gitu ya, ujung-ujungnya duit. Tapi artinya ee dengan adanya support anggaran yang jelas menjadi ee berpendanaan yang jelas sehingga pengelola PSBM ini menjadi tahu dia harus punya alternatif sumber pendanaan yang mana gitu. Kalau tidak dis-upport dengan ee anggaran dari misalnya dari pemerintah. Oh, harus ada swasta misalnya. Oh, harus ada ee kegiatan dan seterusnya. Nah, kemudian ada teknis operasional Bapak Ibu mulai dari aktivitas sarana prasarana, perencanaan, kewadahan, bagaimana memindahkan sampah dari rumah masyarakat menuju ke TPS 3R. Ee bagaimana teknisnya masyarakat bisa memilih kemudian disetorkan kepada bank sampah. barulah aspek yang paling terakhir ini menjadi hal yang paling pokok yaitu peran masyarakat gitu ya yang setelah ini ya. Oke. Komponen yang ee mungkin dia bukan tidak bersifat subsistem ya tapi terkait dalam berbagai macam ee penyediaan kapasitas ya maupun ee pendanaan. Nah, harapannya dengan masyarakat yang terlibat aktif ini dapat mengurangi ee pembebanan kepada sistem atau aspek-aspek yang lain. Tapi kita tidak bisa pungkir, Bapak, Ibu bahwa PSBM ini, pengolaan sampah berbasis masyarakat ini memiliki banyak tantangan. Nah, ini kita petakan tantangan tersebut mulai dari Bapak Ibu pasti sangat sering mendengar ini ya sarana prasarana terbatas, peralatan banyak tidak berfungsi, pendapatannya tidak ee fluktuatif, kadang laku, Pak. Kadang tidak. Sudah buat kompos ternyata enggak laku, gitu ya. Oh, lemahnya penegakan. Yang sana sudah mila sampah, yang sini tidak mila sampah tapi tetap dapat pelayanan gitu ya. Akhirnya ya biaya operasional menjadi lebih gd belum memadai, susah nyari orang untuk bekerja di bidang pengolaan sampah gitu. Koordinasi, Pak. Ini segala macam tantangan yang pasti Bapak, Ibu mendapatkan. Nah, tapi di balik tantangan itu semuanya, Bapak, Ibu, kita lihat bahwa PSBM ini terus meningkat, Bapak, Ibu. Nah, kita punya data ini kita sebut sebagai efektivitas PSBM. Ini data yang kita ambil dari SIPSN tanpa memilah-milah Bapak, Ibu ya. Jumlah TPS3R begitu kita masukkan kata kuncinya TPS3R muncul 72.3 unit ya. Walaupun Kementerian PUPR masih pasti punya data yang lebih akurat gitu. Tapi kita lihat di dalam SIPSN berarti banyak losi yang mungkin misal nih ee ada Bapak Ibu dari PU mungkin hadir hari ini enggak sebanyak itu Mas Hijrah 7.000 itu terlalu banyak gitu. Ah berarti ada yang diklaim sebagai TPS 3R di dalam laporan SIPSN gitu. Sehingga pada saat kita masukkan kata kunci SIPSN TPS 3R muncul 72.000 ya eh 7.200 mohon maaf 7.200 Tapi kondisinya mungkin belum bisa berjalan dengan optimal. Macam-macam ya, kurang SDM, minim sarana, keterbatasan biaya pengolaan dan seterusnya. Tidak juga berbeda dengan bank sampah dan sedekah sampah. Jumlahnya besar Bapak Ibu 25.264 unit. Ini juga kasusnya sama. Kita masukkan kata bank sampah di dalam SIPSN dengan berbagai macam tantangan sehingga dia tidak juga dianggap berjalan dengan optimal, rendah partisipasi, kurang pan sampah organik ya macam-macam. Tidak konsisten penetapan harga pengepul ya. hari ini dikumpulkan, hari ini harganya tinggi, pas jual harganya rendah, ya macam-macamlah curhatannya ibu-ibu para pengelola ee bank sampah misalnya. Nah, sehingga kami melihat ada suatu kepentingan bahwa indeks keberlanjutan itu penting Bapak, Ibu untuk kita punyai agar tiap lokasi, setiap daerah kita bisa mengacu kepada indeks tersebut, bisa mengukur kelas kita ada di mana. Bukan untuk membandingkan, tapi untuk diperlukan treatmentnya, gitu ya. Misal contoh Bapak, Ibu saat kita ke dokter, kita ngeluh sakit kepala. Kalau hanya sekedar sakit kepala, maka obat sakit kepala diperlukan. Tapi kalau sakit kepalanya berlanjut ternyata memunculkan penyakit yang lebih besar lagi dengan perlu tindakan yang lebih besar, maka obatnya tindakannya juga akan berbeda. Nah, kita coba milih memilih bahwa indeks keberlanjutan itu akan dibagi menjadi lima poin sesuai dengan aspek ee pengelolaan sama teknis operasional, regulasi, peran serta masyarakat, pembiayaan, dan kelembagaan. sehingga apa? Indeks ini menjadi penting dalam sistem keberlanjutan. Ya, pertama memang belum ada standar keberlanjutan ter PSBM. PSBM yang baik itu dinilai dari apa gitu ya, masih ee parsial dan pemahamannya masih beda-beda setiap ee orang gitu ya, setiap instansi, setiap pengelola. Nah, kita pengin mengetahui efektivitasnya seperti apa dan yang paling penting adalah memberikan gambaran bagi pemangku kebijakan dalam menentukan arah pengembangan sistem pengelolaan sampah sehingga ketahuan, oh PSBM-nya sudah cukup banyak tapi apa tidak efektif? Oh, PSBMnya sudah menyerap anggaran banyak tapi ternyata belum dapat menyerap sampah dengan banyak. Nah, kenapa seperti itu? hubungannya tentu dengan prinsip sirkular ekonomi, SDGs gitu ya. Itu menjadi hal yang ee terkonnect Bapak Ibu. Efisiensi sumber daya, daur ulang material ya pengurangan residu ke TPA. Ini kan para pemangku kebijakan saat ini sedang ngomongin tentang ini ya sehingga SDJ 11, 12, 13 itu bisa tersambung dengan B ya. Nah, harapannya Ibu dengan adanya indeks keberlanjutan ini bisa memberikan manfaat ya. Manfaat tidak hanya kepada mahasiswa, peneliti, tapi manfaat indeks keberlanjutan ini bisa ke pemerintah daerah ya. Kemudian bisa ke dinas yang bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup ya, ke pengelola PSBM-nya sendiri juga sangat penting. Oh, saya lemahnya di aspek mana nih? Ya, sehingga perlu ditingkatkan dan masyarakat pada umumnya kan mungkin bisa diumumkan bangsa di kota X berjumlah 300 unit tapi yang hanya bertahan 1 jarang kita dengar berita itu gitu ya. Ah, karena biasanya dia kan beritanya dari 300 unit sudah sekian, sudah sekian selalu berita baik mungkin ya. Jadi mungkin masyarakat juga sehingga ee peran dari swasta bisa masuk, dia bisa membantu apa ya. Seringki kita berhadapan saat masyarakat mau dibantu oleh suatu program, mereka bingung ini B ya. Nah, jadi dengan adanya indeks ini harapannya dapat terlihat apa yang pengin dibantu di ee setiap lokasi berbeda-beda. Nah, oleh karena itu Bapak Ibu kita coba dengarkan pemaparan dari Mas Fatur, Mas ee Mbak Via, Mas Abdul kait dengan masing-masing lokasi. Bapak, Ibu silakan mencermati sesuai dengan lokasi yang Bapak, Ibu mungkin kerjakan saat ini atau for dari Bapak Ibu, bank sampah, TPS3R atau sedekah sampah. Silakan, Mas Fatur dilanjut, ya. Baik, ee terima kasih, Pak atas pengantarnya. Ya, Bapak, Ibu sekalian, selanjutnya kita akan lanjutkan pembahasan pada bank sampah. Di pembahasan bank sampah ini seperti yang tadi di awal, kita ada fokus pada tiga pembahasan, yaitu metode penetapan ee indeks keberlanjutan, yang kedua itu indikator dan parameter apa yang kita tetapkan, dan yang ketiga itu kita simulasikan dari instrumen yang telah ada. Baik, Bapak, Ibu sekalian. Yang pertama, metode penyusunan indeks keberlanjutan. Yang pertama, untuk menyusun indeks keberlanjutan ini kita mengacu atau mendasari pada lima aspek pengelolaan sampah. Dalam hal ini pada bank sampah yang pertama aspek teknis operasional. Ee di sini kita lihat, kita nilai ee aspek-aspek teknis mulai dari sampah itu masuk ke bank sampah, sampah itu ditimbang, lalu melakukan penjualan dan pembukuan. Itu merupakan aspek-aspek dari teknis operasional. Yang kedua itu adalah aspek kelembagaan. Di sini merupakan aspek yang mengatur sistem ke berlanjutannya atau sistem pengelolaan dari bank sampah itu sendiri. Yang ketiga, aspek peran serta masyarakat di sini. Karena pada dasarnya bank sampah ini merupakan salah satu program dari PSBM. Oleh karena itu, aspek peranan serta masyarakat ini merupakan salah satu aspek kunci dan aspek penting dalam penilaian keberlanjutan bank sampah. Yang selanjutnya aspek hukum dan peraturan. Di sini kita lihat apakah sudah ada dukungan ataupun dari pemerintah daerah dan pemerintah setempat apakah sudah memiliki hukuman ee peraturan yang mengatur terkait bank sampah. Dan yang terakhir aspek pembiayaan. Selanjutnya ee dalam menentukan indikator kita melakukan pembobotan. Dalam hal ini kita melakukan literatur review dan pengobotan ee dari bobot 20 sampai 5. Ada empat bobot di mana ee bobot 20 itu untuk yang kita temukan empat kali dalam literatur yang berbeda. 15 itu untuk tiga kali ee pada referensi yang berbeda-beda. 10 itu dua kali dan 5 itu hanya satu kali. Dan yang ketiga itu kita lakukan scoring parameter menggunakan skala 0 sampai 4 dengan 0 itu buruk dan 4 itu sampai ee kualitasnya sangat baik. Selanjutnya setelah kita melakukan ee menentukan aspek-aspek apa saja yang ee menjadikan dasar dalam penetapan indikator, kita lakukan pembuatan dan scoring dan kita lakukan ee perhitungan matematis sederhana untuk melakukan ee skor yang didapat itu ada ee rentang dari 0 sampai 695 dengan ada lima kelas ee tingkat keberlanjutan mulai dari ee 0 sampai 140 itu nilai yang sangat ee tidak berkelanjutan sampai yang sangat berkelanjutan itu di rentang spor 556 sampai 695. Untuk selanjutnya ini merupakan indikator dalam ee penentuan instrumen keberlanjutan bank sampah pada aspek ee teknis operasional. Bisa dilihat di sini teknis operasional itu mengatur dari mulai sampah itu masuk ke bank sampah sampai dengan ee sampah itu dijual ke pengepul. Lalu ada pengelolaan sampah lanjutan dan ee pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh bank sampah itu sendiri. Berat sampah itu dipengaruhi oleh pengumpulan sampah yang dilakukan, timulan sampah yang ee dapat ditampung oleh bank sampah kilogram per harinya dan cakupan pelayanan bank sampah itu sendiri. Apakah itu melayani 1 RT dan efektivitasnya melayani 80% 100% dari cak pelayanan itu merupakan masuk kepada ee teknis operasional. Yang selanjutnya pada aspek kebijakan dan regulasi itu ada dua indikator pedoman regulasi bank sampah dan ee peraturan atau dukungan dari ee pemerintahan setempat desa ee tentang pemalahan sampah. mengenai pedoman regulasi bank sampah ini tentunya kita mengacu pada ee Permen LH nomor 14 tahun 2021 di mana apakah ee sudah ee peraturan ini dapat dipahami dengan baik oleh para pengurus atau belum terkait ee kelengkapan jam ee operasional, pembagian jobd dan lain-lain. Selanjutnya pada aspek peran serta masyarakat ini kita menemukan dua indikator penting yaitu pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan sampah dan ee pemilahan di sumber. Karena ee dari kita melakukan wawancara dengan ee berbagai pihak atau pengurus dari bank sampah, salah satu faktor pentingnya itu adalah ee bagaimana sampah ini harapannya sudah bisa diolah ataupun dipilah terlebih dahulu di rumah baru disetorkan ke bank sampah. karena itu merupakan salah satu ee aspek yang penting dalam ee peran serta masyarakat di pengelolaan bank sampah. Yang selanjutnya pembiayaan ini ada dua biaya operasional bank sampah itu ee digunakan untuk perawatan fasilitas gaji pegawai ataupun apabila ada ee bank sampah yang melakukan fasilitas penjemputan sampah itu merupakan opsional. Dan yang kedua itu pemasukan bagi bank sampah itu sendiri didapatkan dari bantuan dari pihak eksternal ataupun dari penambahan nasabah bank sampah itu sendiri. Yang terakhir ee aspek kelembagaan ee ditemukan ada lima indikator mulai dari administrasi, pencatatan ee dan pembukuan dari bank sampah itu sendiri, kerja sama dengan pihak ketiga ataupun pengepul, pemberdayaan SDM, ee tergabung dalam komunitas bank sampah, dan memiliki legalitas kepengurusan dalam struktur organisasi ee bank sampah. Dan Bapak, Ibu sekalian dapat dilihat ee dari indikator dari aspek indikator yang telah kita susun mendapatkan ee berbagai macam parameter-parameter penilaian yang kita jadikan salah ee sebuah instrumen untuk dapat menilai tingkat keberlanjutan bank sampah. Dapat saya contohkan seperti pada aspek ee teknis operasional dan indikator berat sampah. Di sini kita ee menilai berat sampah yang dikelola dari bank sampah ini. 80% dari kapasitas layanan yang sudah direncanakan itu dapat memiliki skor 3. Berat sampah yang dikelola 30 sampai 80% dari kapasitas layanan yang direncanakan itu memiliki skor dua. Eh untuk skor satunya itu kurang dari 30% dari kapasitas layanan yang direncanakan dan nol apabila tidak ada sampah masuk. Ini selanjutnya merupakan masih sama terkait ee instrumen yang telah kita susun dari berbagai macam aspek. Dan selanjutnya ee kita lakukan kita coba lakukan simulasi ee dari instrumen telah yang telah kita susun. Anggap saja kita sekarang sedang menilai salah satu bank sampah, bank sampah X yang ada di Kabupaten Sleman. Setelah kita lakukan wawancara dan kita melakukan penilaian berdasarkan ee instrumen dan indikator-indikator yang telah disusun ee dari bank sampah X ini memiliki nilai total nilai 640 dari ee keseluruhan parameter yang telah kita nilai dan kita coba analisis dari masing-masing parameternya dan kita coba lihat 640 ini ee sudah mencapai nilai keberlanjutan atau tingkat keberlanjutan ee baik atau belum. Setelah kita lakukan penilaian dari ee bank sampah X ini dengan skor 640 atau kita persentasikan sebesar 90% ee bank sampah ini dapat dikategorikan ee sangat berkelanjutan. seperti itu dari mengenai ee indeks keberlanjutan yang disusun ee dari program bank sampah yang selanjutnya kita akan lanjutkan pembahasan ke TPS3R. Silakan Mbak Afia. Baik, terima kasih Mas Fatur untuk penjelasannya. Ee Bapak Ibu sekalian, kita akan melanjutkan ke TPS3 ER. Next. Yang pertama yaitu metode penyusunan indeks keberlanjutan pada TPS3R. Adapun langkah yang pertama yaitu melakukan penyusunan indikator berdasarkan lima aspek pengelolaan sampah yang terdiri dari teknis operasional, kelembagaan, peran serta masyarakat, hukum dan peraturan, serta pembiayaan. Kedua yaitu melakukan pembobotan kesesuaian. Dalam menentukan bobot indikator dilihat dari banyaknya pengujian yang telah dilakukan di lapangan. Adapun untuk bobot 20 yang berarti indikator dilakukan sebanyak lebih dari 5 kali pengujian. Kemudian bobot 15 yang menandakan indikator dilakukan sebanyak 4 kali pengujian bobot 10 di mana indikator dilakukan sebanyak tiga kali pengujian dan bobot lima yaitu indikator dilakukan sebanyak dua kali pengujian. Yang ketiga yaitu penentuan skala penilaian parameter yang berguna untuk menggambarkan kondisi di TPS 3R dengan nilai 0 hingga 4 dengan keterangan buruk, cukup, baik, dan sangat baik. Ee untuk yang selanjutnya yaitu terkait pembobotan scoring atau bisa disebut juga dengan nilai relatif yang diperoleh dari akumulasi antara nilai dari tiap parameter dikali dengan bobot kesesuaian pada tiap indikator. Yang kelima yaitu penentuan tingkat keberlanjutan. Adapun untuk persentase tingkat keberlanjutan ini diperoleh dari skor yang telah diperoleh dibagi skor maksimum dikali 100%. Dan yang terakhir yaitu kita menentukan skala tingkat keberlanjutan. Adapun untuk TPS 3R ini nilai keberlanjutannya mulai dari 0 hingga yang paling tinggi yaitu 890 dengan persentase keberlanjutan 0 hingga 20% dengan kategori sangat tidak berkelanjutan, 20 hingga 40% dengan kategori tidak berkelanjutan, 40 hingga 60% dengan kategori cukup berkelanjutan, 60% hingga 80% dengan kategori berkelanjutan, dan 80 hingga 100% dengan kategori sangat berkelanjutan. Untuk indikator dan parameter penilaian TPS 3R terdiri dari lima. Yang pertama yaitu teknis operasional yang terdiri dari tujuh indikator. Yang pertama yaitu kualitas sampah dikelola. yang dilihat dari persentase sampah dikelola TPS3R atau melayani minimal 200 KK atau sampah yang dikelola sebesar lebih dari 6 m³ per hari. Dan yang kedua yaitu kondisi sarana dan prasarana yang dilihat dari kebungsian sarana dan prasarana pada TPS 3R. Yang ketiga, jenis pengelolaan. Pada TPS3R terdapat proses pemilahan dan pengolahan sampah. anorganik lebih dari satu jenis dan atau pengolahan sampah anorganik seperti pengepresan maupun pencacahan serta penjualan sampah ke pelapak atau pengepul. Yang keempat, produksi kompos atau produk sejenis di mana sampah organik yang diolah menjadi kompos atau produk lain seperti BSF magot maupun pakan ikan. Kemudian sampah daur ulang yaitu jumlah sampah anorganik yang dijual ke pengepul. Selanjutnya volume residu ke TPA yaitu residu yang masuk ke TPA kurang dari 30%. Kemudian pengelolaan lingkungan di mana TPS3R telah melakukan pengendalian bau serta tidak melakukan pembakaran sampah. Selanjutnya regulasi yang memiliki dua indikator seperti pedoman dan peraturan daerah terkait TPS3R. Apakah apakah pengelola telah mengetahui serta menerapkan peraturan daerah mengenai TPS3R? Kemudian kebijakan tentang pengelolaan sampah yang berkaitan dengan TPS 3R. Di sini apakah pengelola telah mengetahui kebijakan seperti surat edaran maupun surat keputusan terkait pengelolaan sampah serta sudah menerapkannya oleh pengelola? Selanjutnya yaitu mengenai partisipasi masyarakat yang terdiri dari dua indikator. Yang pertama pengembangan pelanggan TPS 3R. Indikator ini dilihat dari adanya penambahan pelanggan ataupun tidak adanya penambahan pelanggan serta TPS 3R mengalami penurunan pelanggan. Yang kedua yaitu pengetahuan masyarakat tentang TPS 3R. Apakah TPS 3R telah melakukan sosialisasi tentang TPS 3R kepada masyarakat? Selanjutnya terkait kelembagaan. Pada kelembagaan ini memiliki tujuh indikator. Yang pertama, sumber daya manusia. Apakah pekerja TPS di TPS3R telah melakukan tugas sesuai dengan fungsinya seperti pengumpulan, pemilahan, dan pengolahan sampah. Yang kedua, kerja sama dengan pihak luar. Adapun kesepakatan dengan pengepul mengenai harga jual sampah maupun jadwal pengambilan sampah. Kemudian struktur organisasi adanya struktur organisasi dan pengelola aktif dalam kepengurusan TPS 3R. Keempat, legalitas lembaga. Pada TPS 3R sendiri telah terdapat akta notaris, SK dinas, SK kelurahan, ataupun anggaran dasar anggaran rumah tangga. Selanjutnya SOP di mana TPS 3R telah memiliki SOP dan sudah diterapkan oleh pengurus. Kemudian administrasi pengelolaan yang dilakukan pencatatan terkait pengeluaran jumlah sampah pada TPS3R. Dan yang terakhir yaitu tergabung dalam komunitas antar TPS 3R dalam skala provinsi maupun skala kabupaten atau kota. Untuk indikator terakhir yaitu mengenai pembiayaan. Adapun untuk pembiayaan ini terdiri dari dua indikator. Yang pertama kondisi keuangan TPS3R. Apakah TPS3R ini mengalami penurunan ataupun ee pembiayaannya sendiri mengalami peningkatan atau juga antara pengeluaran sama pemasukan itu nilainya balance. Yang kedua yaitu bantuan pemerintahan dan pihak luar. adanya bantuan dana serta peralatan operasional dari pemerintah dan atau pihak luar. Jadi pada TPS 3R ini dari total keseluruhan indikator memiliki 20 indikator. Selanjutnya untuk contoh indikator beserta parameternya yang pertama di teknis operasional. Sebagai contoh itu indikator tentang kuantitas sampah dikelola. Dalam kuantitas sampah dikelola ini untuk parameternya sendiri memiliki skala yang di mana sampah dikelola 100% atau sampah yang tidak dikelola kurang dari 100% dengan masing-masing memiliki nilai parameter serta bobot untuk indikator ini sebesar 20. Kemudian untuk regulasi sebagai contoh pedoman dan peraturan daerah tentang TPS 3R yang di mana untuk parameternya sendiri pengelola TPS 3R telah mengetahui pedoman ataupun peraturan daerah mengenai TPS 3R dan sudah diterapkan oleh pengelola serta pengelola TPS 3R belum mengetahui pedoman dan peraturan daerah terkait TPS3R dan belum juga diterapkan oleh pengelola. Adapun untuk nilai parameternya ini terdiri dari 0 sampai 3 dengan bobot 10. Selanjutnya untuk partisipasi masyarakat salah satu indikatornya mengenai pengembangan pelanggan TPS 3R yang di mana untuk pelanggan ini bisa dilihat dari penambahan pelanggan, tidak ada penambahan pelanggan, serta TPS3R mengalami penurunan pelanggan. Untuk nilainya sendiri terdiri dari 0 hingga 3 yang akan menggambarkan jum gambaran pelanggan tersebut dengan bobot 15. Kemudian keuangan. Contohnya kondisi keuangan di TPS 3R. Apakah keuangan ini antara pemasukan lebih besar dari pengeluaran atau pemasukan sama dengan pengeluaran atau pemasukan kecil dari pengeluaran dengan nilai dengan range 0 2 dan 3 dengan bobot 15. Yang terakhir yaitu kelembagaan. Contoh indikatornya kerja sama dengan pihak luar atau pengepul sampah yang membahas tentang adanya kesepakatan dengan pengumpul mengenai harga jual sampah maupun jadwal pengambilan sampah. Adapun simulasi dalam penentuan indeks keberlanjutan TPS3R yang pertama yaitu melakukan wawancara dan penilaian pada TPS 3R. Sebagai contoh, berikut merupakan logbook instrumen penilaian keberlanjutan pada TPS 3R yang terdiri dari indikator-indikator mulai dari teknis operasional hingga kelembagaan. Kemudian kita meneliti salah satunya yaitu kuantitas sampah dikelola. Apakah di TPS 3R ini ee sampahnya sudah melayani 100% cakupan atau kurang dari 100% cakupan? Untuk menilainya itu kita melihat dari skala nilainya. Sebagai contoh dimasukkan nilai 2 untuk bobot 20. Kemudian skornya ini merupakan pengali penilaian dan bobot. Kemudian didapatkan skor sebesar 40. Setelah itu kita melakukan hal yang sama untuk tiap-tiap indikator sehingga diperoleh akumulasi nilai sebesar 695. Dari hasil wawancara dan penilaian ini kita input skor ke dalam grafik untuk mengetahui apakah tiap-tiap indikator ini telah memenuhi nilai maksimum dan bisa juga sebagai ee keberlanjutan dari TPS 3R itu sendiri. Kemudian dari wawancara tadi setelah kita menghitung, kita melakukan akumulasi nilai yang diperoleh dari perkalian antara nilai per tiap parameter pada indikator dikali sama bobot kesesuaian. Selanjutnya kita menghitung tingkat keberlanjutan dari TPS 3R yang telah diteliti dengan rumus skor yang diperoleh yaitu sebesar 695 dibagi skor maksimum sebesar 890 * 100%. Kemudian dari penilaian ini didapatkan bahwa TPS 3R yang diteliti memperoleh nilai akhir sebesar 695 atau 78%. yang di mana nilai tersebut masuk ke dalam kategori berkelanjutan. Ee berikut penjelasan terkait TPS 3R. Selanjutnya akan dijelaskan mengenai sedekah sampah. Baik, terima kasih untuk waktunya Mbak Via. Ee selanjutnya kita akan masuk ke dalam sesi sedekah sampah. Bapak, Ibu sekalian ee perlu diketahui juga bahwa sedekah sampah ini merupakan salah satu program juga dari pengelolaan sampah berbasis masyarakat selain TPS 3R dan bank sampah. Ee untuk Bapak Ibu sekalian yang masih asing dengan sedekah sampah, apa sih sedekah sampah itu? Sebenarnya sedekah sampah itu kurang lebih ee sama dengan bank sampah. Tetapi bedanya sistemnya untuk sedekah sampah ini masyarakat akan menjual sampah mereka ke petugas sedekah sampah tetapi tidak mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan tersebut atau lebih mengikhlaskan ee dari hasil penjualan tersebut dikarenakan ee dari hasil penjualan tersebut nantinya akan digunakan dari pihak petugas sedekah sampah untuk ee mengelola atau ee melaksanakan program-program pemberdayaan masyarakat ee ke depannya. Ee selanjutnya, Mas ee baik ee kemudian untuk pada indeks keberlanjutan pada sedekah sampah ini ee sebenarnya baik lagi mengacu ee pada lima aspek pengawalan sampah berasi masyarakat. Untuk penyusunannya ee yang pertama ada teknis operasional, kemudian dasar hukum atau regulasi, kemudian ada peran serta masyarakat, ada pembiayaan, dan terakhir adalah kelembagaan. Nah, untuk ee penyusunan indeks kebelanjutan ini ada dua metode yang digunakan. Ee yang pertama ada pembuatan kesesuaian di mana ee dalam pembuatan kesesuaian ini ee menggunakan sebuah bobot untuk perhitungan setiap indikatornya. Oleh karena itu, perlu ditentukan bobot nilai kesesuaian untuk membedakan tingkat kesesuaian dan bisa diperhitungkan menggunakan metode scoring nantinya. Ee seperti yang bisa kita lihat di tabel tersebut Bapak Ibu sekalian bahwa terdapat empat bobot. yang pertama ada 20, 15, 10, dan 5. Nah, untuk bobot ee yang 20 sendiri itu nantinya digunakan jika indikator yang akan dipakai ini ee pernah digunakan sebelumnya sebanyak empat kali atau lebih dari empat ee pada referensi atau pada penelitian sebelumnya dengan ee dengan penelitian yang berbeda-beda. Begitu juga pada bobot yang 15 ee itu nanti sebanyak tiga kali ee pernah digunakan di penelitian sebelumnya. Kemudian pada bobot 10 itu sebanyak dua kali dan pada bobot 5 ini nanti ee hanya pernah sekali digunakan pada penelitian sebelumnya ee untuk meneliti peniaan pada sedekah sampah juga. Dan metode selanjutnya adalah pembuatan pada parameter. Jadi untuk ee parameter ini nilai skala parameter ini sangat penting untuk mendukung keberlanjutan Bapak Ibu sekalian. Karena dengan adanya nilai parameter ini ee akan tahu berapa nilai ee setiap indikatornya nanti. Nah, untuk nilai skala yang digunakan itu ada 4 3 2 1 0. Ee keterangannya untuk 4 sendiri itu sangat baik. Kemudian tiga itu baik, dua cukup, eh satu tidak cukup, dan nol sendiri itu buruk. Ee lanjut, Mas. Nah, ini merupakan salah satu contohnya Bapak, Ibu sekalian yang sudah saya jelaskan di slide sebelumnya. Jadi, contohnya untuk indikator pengetahuan masyarakat terkait pengan sampah dengan kode 1C. Nah, untuk indikator ini sendiri itu masuk dalam aspek peran serta masyarakat, Bapak, Ibu. Ee jadi ee setelah saya kita cari tahu bahwa ee indikator ini ternyata sudah pernah digunakan atau sudah pernah dipakai dari beberapa penelitian sebelumnya seperti penelitanya Isworo 2018, kemudian IAMU dan kawan-kawan 2022, Sanjevi dan Sahabudin 2015 dan Santika dan kawan-kawan 2022. Nah, makanya pada indikator ini ee mendapatkan atau menggunakan ee bobot 20 untuk ke depannya untuk dalam instrumen itu nanti dengan nilai skala tiga nilai skala parameter 3, 2, dan 1. Lanjut, Mas. Nah, setelah ee indikator keberlanjutan tadi disusun menggunakan dua metode tadi, terbentuklah instrumen keberlanjutan atau media untuk menilai sebuah sedekah sampah ke depannya. Apa agar ee diketahui bahwa sedekah sampah tersebut keberlanjutan atau tidak keberlanjutan. Nah, untuk ee instrumen tersebut ee kembali lagi mengacu pada lima aspek penguangan sampah masyarakat. Yang pertama itu ada teknis operasional. Ee di teknis operasional sendiri terdapat lima indikator. Yang pertama ada kuantitas sampah. Di mana ee pada indikator ini dilihat dari persentase area pelayanan Bapak, Ibu sekalian dari ee area pelayanan sedekah sampah itu yaitu skala RT atau RW. Kemudian indikator kedua adalah pemilahan dari petugas. Jadi ee pada indikator ini apakah dilihat dari apakah Mas ee petugas dekas sampah itu ee sudah melakukan pemilahan secara komposisinya seperti ee plastik, kemudian karet, sampah jenis kertas, logam, dan lain-lain. Atau ee petugas sudah memilah sampah secara komposisi dan lebih detail. Jadi, misal sudah dipilah ee seperti plastik sendiri. Nah, itu plastik itu nanti dipilah secara detail lagi. Ee dipilah seperti plastik HDPE sendiri, kemudian PP sendiri, LDPE, kemudian begitu juga pada sampah kaca, kemudian ada botol kaca sendiri, kaca cetakan sendiri, kemudian sampah logam juga ada besi jenis A, besi jenis B, aluminium dan lain-lain. Kemudian indikator selanjutnya adalah penjualan sampah. Jadi untuk indikator penjualan sampah ini dilihat dari hasil penjualan sampah selama 3 bulan terakhir Bapak Ibu sekalian apakah ee terdapat kenaikan atau penurunan atau stabil dalam penjualan sampah diah sampah ini. Kemudian faktor keempat eh indikator keempat adalah pengelolaan lingkungan. Jadi untuk indikator ini dilihat dari pengolaan lingkungan yang sudah dilakukan oleh ee petugas ee sedekah sampah. eh seperti penerapan 3R, reduce, reus, dan resikel atau ee pengolaan residu dari pengelolaan sedekah sampah itu sendiri. Dan indikator kelima adalah kondisi sarana dan prasarana. Pada kondisi sarana dan prasarana ini dilihat dari persentase dari sarana prasarana yang masih berfungsi atau masih ee layak digunakan dengan baik. Kemudian pada aspek selanjutnya adalah kebijakan atau regulasi. Di mana di aspek ini terdapat dua indikator yang pertama peraturan desa terkait pengolaan sampah. Ee dari indikator ini dilihat apakah desa tersebut sudah mempunyai undang-undang atau regulasi atau peraturan ee terkait pengolan sampah seperti pwadahan yang tepat, kemudian mengolah sampah dari rumah atau memilah sampah dan lain-lain. Selanjutnya indikator kedua adalah pedoman atau regulasi terkait pengan sampah. Nah, pada indikator ini dilihat ee apakah petugas sampah, petugas sedekah sampah tepatnya atau masyarakat sudah paham terkait undang-undang atau regulasi sampah apa dan apakah sudah diterapkan secara baik dan benar. Selanjutnya adalah ee aspek pada peran serta masyarakat. Pada per serta masyarakat ini terdapat dua indikator. Yang pertama pengetahuan masyarakat terkait pengangan sampah. Pada aspek ini ee dilihat dari peran masyarakat dalam hal ee memahami terkait pengan sampah yang sudah disampaikan dari ee pihak petugas sedekah sampah melalui seperti kegiatan sosialisasi atau kegiatan webinar atau yang lain-lain. Ee kemudian indikator selanjutnya adalah pemilahan di sumber ee di mana masa pada indikator ini dilihat apakah masyarakat sudah melakukan pemilahan di sumber atau di dari rumah sebelum ee masyarakat itu menyerahkan sampah mereka atau menjual sampah mereka ke pihak sedekah sampah. atau bahkan ada masyarakat yang hanya menyetorkan sampah saja, tetapi tanpa pemilahan dari rumah sebelum mereka menjualnya ke sedekah sampah. Kemudian aspek selanjutnya adalah pembiayaan. Pada aspek pembiayaan ini terdapat dua indikator, Bapak, Ibu sekalian. Yang pertama adalah pemasukan sedekah sampah. Nah, pada indikator ini dilihat ee apakah ee di indikator ini ee dana yang digunakan itu berasal dari ee terdapat penambahan dana dari luar seperti bantuan dana dari luar, kemudian penambahan nasabah atau hanya ee nasabah yang sudah ada sebelumnya, Bapak, Ibu. Kemudian untuk selanjutnya ee terdapat indikator biaya operasional sedekah sampah. Nah, pada indikator ini dilihat apakah biaya operasional ini melebihi dari pemasukan atau bahkan ee tidak melebihi dari pemasukan. Nah, untuk yang terakhir adalah dari aspek kelembagaan. Jadi, untuk ee aspek kelembagaan ini terdapat kurang lebih tujuh indikator yang digunakan untuk penilaian. Yang pertama adalah struktur organisasi. Nah, untuk struktur organisasi ini dilihat apakah ee dari pihak sedekah sampah sendiri ini sudah terdapat struktur organisasi untuk mengelola ee sedekah sampah tersebut dan apakah masih aktif atau hanya sekedar ee catatan saja struktur organisasi tersebut. Tidak ada ee sumber dayanya, sumber daya manusianya. Kemudian ee indikator selanjutnya adalah kerja sama dengan pihak luar. Ee dari indikator ini dilihat bahwa apakah sedekah sampah ini ee sudah kerja sama seperti dengan pihak pengepul untuk menjual sampah mereka, kemudian untuk ee memastikan ee penetapan harga dan pengambilan sampah kurang lebih untuk kerja sama dalam hal tersebut. Kemudian ee indikator selanjutnya adalah sumber daya manusia atau SDM. Ee pada indikator ini ee dilihat dari ee kemampuan dari setiap petugas dari sedekah sampah melalui ee diberikanlah diberikannya melalui pelatihan yang sudah ada dan ee pengurus sedekah sampah bisa melakukan studi banding ke sedekah sampah lain untuk meningkatkan skill atau kualitas serta pemahaman mereka terkait pengolaan sedekah sampah. Kemudian ee indikator selanjutnya adalah SOP atau standar
Resume
Categories