Transcript
N37qDBr6xdo • Cara petani Jerman selamatkan tanah demi ketahanan pangan | DW Dokumenter
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/DWDokumenter/.shards/text-0001.zst#text/0022_N37qDBr6xdo.txt
Kind: captions
Language: id
Dunia di bawah tanah
menyimpan kekayaan yang tak terukur.
Miliaran makhluk kecil,
hidup dalam segenggam tanah yang sehat.
Ada energi tercipta,
yang sebelumnya tidak ada.
Hanya dari organisme hidup.
Tanah yang hidup adalah basis kehidupan.
Sebagian besar keanekaragaman hayati
hidup di bawah permukaan tanah.
Namun, kondisi buruk melanda banyak lahan.
Pertanian intensif dan cuaca
membuat tanah berada di bawah tekanan.
Anda bisa lihat setiap tanaman rusak.
Apa yang bisa dilakukan?
Kita harus mulai memperbaiki tanah yang rusak.
Saya punya pertanian,
sudah turun temurun di keluarga sejak abad ke-17.
Kalau saya memperlakukan tanah
seperti yang umum dilakukan,
cucu saya tidak akan bisa hidup dari itu lagi.
Petani ini menunjukkan ladang-ladang
di sekitar desanya di selatan Berlin.
Di sini, kelihatan jelas
bahwa tanah sudah terdegradasi.
Kesuburannya hilang.
Anda bahkan tidak bisa memasukkan jari lagi.
Tanahnya jadi sangat keras.
Memang di bawahnya masih ada kelembapan,
tapi tanah ini tak bisa lagi beregenerasi.
Kami sadar, tidak bisa terus begini.
Tanah sudah mencapai batasnya.
Badai debu dan pasir terjadi lima kali setahun,
padahal dulu hanya sekali dalam 10 tahun,
sekarang lima kali setahun.
Salah satu penyebab degradasi tanah di sini
adalah pembukaan ladang besar
untuk memberi ruang bagi mesin pemanen.
Akibatnya, ladang mengering lebih cepat
dan lebih cepat hancur.
Tanah berpasir, yang terlihat kuning,
membentang di seluruh wilayah ini.
Tanah ini paling tidak subur
dan menerima curah hujan paling sedikit.
Pemantau kekeringan sering menunjukkan
daerah timur Sungai Elbe yang paling terdampak.
Di selatan Brandenburg
ada gurun terbesar di Jerman,
seluas lima kilometer persegi.
Selama puluhan tahun,
tank-tank melintasi lapangan latihan ini.
Hanya tanaman khusus, rumput kering,
dan lumut yang bisa bertahan di Gurun Lieberos.
Area ini tak bisa digunakan lagi
untuk pertanian.
Brandenburg, dan timur Jerman umumnya,
sangat terdampak karena terletak jauh dari laut.
Tanah berpasir di sini sulit menyimpan air.
Ditambah perubahan iklim
yang menyebabkan suhu lebih tinggi
dan berkurangnya curah hujan,
atau periode panjang tanpa hujan di musim panas.
Ini membuat Brandenburg sangat rentan
terhadap perubahan iklim.
Para petani khawatir:
Apa yang masih bisa tumbuh di masa depan?
Seberapa besar penyesuaian yang perlu dilakukan?
Beberapa petani sudah mencoba tanaman dari Asia,
seperti kacang arab,
yang menurut para ahli bisa berkembang di lahan Eropa
dan dianggap pengkondisi tanah yang baik.
Tapi, akankah berhasil di sini?
Di lahan pertanian ini,
petani organik Bernhardt von der Marwitz
mengolah tanah pasir yang tandus.
Keuntungan dari tanaman polong lokal,
seperti kacang polong dan kacang broad,
menurun dalam beberapa tahun terakhir.
Tanah ini memiliki permeabilitas air tinggi,
sehingga cepat kering.
Lahan yang lebih kering adalah syarat utama
untuk kacang arab,
jadi tanah ini cocok untuk itu.
Dia berhasil mendapat 40 karung benih
dari selatan Prancis,
meski tidak ada jaminan benih ini akan tumbuh.
Kami mencoba berbagai varietas
untuk mengetahui mana
yang paling optimal untuk lokasi kami.
Saat menanam tiba.
Mesin penanam kali ini
diisi dengan biji kacang arab.
Eksperimen dimulai.
Suatu hari pada akhir April,
dan kondisi cuaca mendukung.
Komunitas ilmiah dan organisasi pemasaran regional
juga tertarik untuk melihat
apakah percobaan petani ini berhasil.
Harapannya tinggi.
Pengalaman sangat dibutuhkan:
Seberapa dalam benih harus ditanam?
Isabella Krause bekerja di Regionalwert AG,
organisasi yang mendukung produksi pangan lokal.
Dia berharap bisa memperkenalkan kacang arab
ke Brandenburg.
Pertanian soal rumit,
tidak bisa disalin begitu saja.
Saya tidak bisa hanya melihat kondisi di India,
Australia, atau Kanada,
lalu menerapkannya di sini.
Kondisi bisa berbeda,
bahkan dalam jarak dekat.
Jadi, kita harus melakukannya dengan cara berbeda.
Kita bisa belajar dari sana,
tapi harus memikirkan ulang semuanya.
Mereka mengolah lahan 11 hektare,
yang idealnya menghasilkan 11 ton kacang arab.
Itu rencananya, tapi hanya waktu
yang akan membuktikan.
Untuk penelitian,
mereka membagi lahan
untuk memantau pertumbuhan kacang arab
pada berbagai kondisi.
Kacang jenis ini sangat cocok untuk tanah di sini,
karena merupakan tanaman polong
yang dapat mengikat nitrogen.
Dan sangat baik untuk manusia karena kaya protein,
serat, dan sangat serbaguna:
Mulai dari tepung kacang arab
hingga pasta dan keripik kacang arab.
Selain sehat, kacang ini juga sangat lezat.
Terutama untuk hummus dan falafel!
Benih ini seharusnya tumbuh dalam
dua sampai tiga minggu.
Di tempat barunya,
yaitu tanah pasir Brandenburg,
di timur Jerman,
yang terbentuk sekitar 15.000 tahun lalu
pada zaman es.
Wilayah ini khas dengan lapisan pasir sungai, kerikil,
dan beberapa partikel tanah liat.
Tanah ini lebih dari sekadar lapisan pasir.
Pemindaian 3D menunjukkan tekstur khasnya:
Sistem akar, saluran, dan rongga.
Ruang melimpah ini membuat tanah berfungsi
sebagai penyimpanan air.
Satu meter kubik tanah bisa
menyimpan sampai 300 liter air,
berfungsi seperti spons besar.
Tanah adalah ruang utama untuk perputaran air.
Curah hujan jatuh ke tanah,
dan tanah menentukan seberapa banyak
yang meresap atau mengalir di permukaan.
Kita manusia memengaruhi pengelolaan air tanah,
dengan cara kita menggunakan dan mengolah lahan.
Ini pertanian organik di utara Berlin.
Selama lima tahun terakhir,
Lena dan Phillip Adler fokus pada tanah.
Hasil panen mereka dinikmati di restoran lokal,
oleh pengunjung yang memetik sendiri dan pelanggan.
Tapi awalnya tidak mudah,
di tengah kekeringan 2019.
Itu benar-benar gila.
Tempat ini benar-benar seperti gurun.
Tanah yang baru digarap terlihat kosong dan tandus,
bahkan terlihat seperti pernah digiling.
Ya, terlihat buruk.
Lalu datang musim panas dan kekeringan,
dan tanah mengering hingga kedalaman
30 sampai 40 sentimeter.
Untuk menghadapi tanah pasir yang buruk,
mereka mendiversifikasi tanaman,
baik di atas maupun di bawah tanah.
Lebih dari 120 varietas sayuran organik
ditanam di tiga hektare lahan.
Tanah menyukai keberagaman.
Akar tanaman bekerja berbeda
dan memanfaatkan ruang yang luas.
Kami belum sepenuhnya memahami interaksi di tanah,
terutama dengan mikrobioma.
Tapi, studi global baru telah menunjukkan
bahwa keberagaman membuat tanah lebih tangguh
dibandingkan monokultur.
Menanam berbagai sayuran
membutuhkan lebih banyak usaha
karena setiap jenis punya kebutuhan berbeda.
Varietas langka atau tua yang ditanam Lena dan Philipp
diminati pelanggan dan bermanfaat bagi tanah.
Dengan berbagai jenis tanaman,
Anda bisa memperbaiki tanah.
Kubis membutuhkan banyak nutrisi,
sedangkan kacang mengembalikan banyak nutrisi,
dan seterusnya.
Jika Anda merotasi tanaman dengan bijak,
tanah bisa diperbaiki,
termasuk dalam hal pengelolaan tanaman.
Tujuannya adalah untuk memperbaiki tanah selama proses penanaman,
bukan mengurasnya.
Ini adalah tampilan tempat tanam mereka di luar musim.
Untuk mendukung keberagaman,
setelah panen, tanah diberi tanaman penutup,
campuran berbagai jenis tanaman.
Kami menanam vetch rye,
sejenis gandum hitam di musim dingin.
Tanaman ini mulai tumbuh di tahun pertama
dan melanjutkan pertumbuhan tahun berikutnya,
jadi tanah tetap tertutup.
Ini mencegah tanah kehilangan nutrisi,
menjaga kelestariannya, mempertahankan air
dan memberikan pemupukan pertama
untuk tahun berikutnya.
Legum seperti gandum, kacang polong,
dan kacang adalah bagian dari solusi.
Mereka menyerap nitrogen dari udara dan,
dengan bantuan bakteri khusus,
menyimpannya dalam nodul kecil di akar.
Di sini, ada banyak bakteri nodul di sini.
Ini memberikan pupuk alami
untuk sayuran musim depan.
Jika tanaman penutup tidak membeku
pada musim dingin,
tanaman dipotong dan ditutupi.
Jadi ada ruang subur lagi untuk sayuran.
Dengan kehidupan tanah yang beragam,
kita dapat merespons
kejadian-kejadian yang tidak terduga,
karena selalu ada organisme-organisme khusus
yang terlibat.
Mark sudah memanen gandumnya.
Sekarang, dia juga ingin mendiversifikasi ladangnya.
Ini benih utama, benih yang besar untuk kotak depan.
Ada jenis-jenis gandum, kacang polong,
bunga matahari, dan serradella.
Ditambah benih halus
seperti semanggi dan rumput lebah,
tujuannya membangun tumbuhan hijau
dan humus di tanah secepat mungkin.
Benih ditanam hari ini.
Benih halus mulai tumbuh dalam dua hari,
membentuk akar halus dan kecambah pertama.
Benih kasar butuh seminggu.
Tanaman ini hanya berfungsi sebagai perbaikan tanah
karena tidak dipanen
dan dibiarkan hingga musim semi berikutnya.
Ia mulai mengubah cara berpikirnya 20 tahun lalu.
Dulu, setelah panen,
kami membajak untuk menghancurkan tunggul
dan menggemburkan tanah,
tapi ini justru menghasilkan debu dan mengangkat batu.
Ayah saya sering bilang,
“Lihat, cara ini tidak efektif,
hasil panennya terlalu sedikit
dibandingkan usaha yang kita lakukan.”
Jadi, kami memutuskan
untuk berhenti membajak sepenuhnya
dan mengubah metode kami.
Mark telah mencoba banyak hal:
Meneliti,
mengikuti kursus pengelolaan tanah,
bahkan pergi ke Brasil untuk mempelajari
metode tanam tanpa olah tanah.
Metode ini memungkinkan penanaman langsung
setelah panen tanpa membajak,
dengan alat tanam hanya sedikit membelah tanah,
kehidupan tanah tetap terlindungi.
Pengalaman dari negara lain
yang telah melakukan ini selama puluhan tahun
menunjukkan bahwa ini satu-satunya cara.
Semua metode lain telah dicoba
selama berabad-abad,
setidaknya 200 tahun,
dan semuanya menyebabkan penurunan karbon
serta kesuburan tanah.
Dia sekarang aktif
dalam komunitas tanam tanpa olah tanah.
Menghadiri konferensi, memberikan ceramah,
tur di pertaniannya,
bertukar ide dengan petani lain melalui media sosial,
dan diakui sebagai pelopor di bidang ini.
Tentu saja, itu membuat saya sangat bangga.
Ketika ada yang bilang,
“Apa yang dia katakan benar, bukan omong kosong.“
Rasanya luar biasa jika mereka bisa
menghindari kesalahan
yang kami buat 10 atau 15 tahun lalu.
Kami sudah melakukan banyak kesalahan,
jadi orang lain tidak perlu mengulanginya.
Dengan begitu, kemajuan bisa lebih cepat.
Mungkin itulah alasan semakin banyak orang
yang mulai mencoba di berbagai tempat,
meski hanya sebatas eksperimen.
Banyak yang sudah beralih dari membajak
ke metode budidaya yang lebih lembut,
tapi hanya sedikit
yang menerapkan penanaman langsung.
Metode ini jarang dapat dukungan,
karena menghemat minyak solar dan pupuk.
Ini kacang polong.
Ini gandum, gandum hitam.
Kacang polong putih, kacang beda lagi.
Semua penuh dengan itu.
Sekarang, di sini tenang,
dan dunia hewan, serangga, jamur mulai hidup
dan mengolah tanah, memperbaikinya.
Jerami di atas akan dimakan sampai tahun depan.
Tanaman selingan akan mati,
ada yang mati, ada yang tidak,
ada yang membeku, ada yang tidak.
Lalu daun-daun jatuh
dan membentuk lapisan makanan berikutnya
untuk keberagaman yang kami pelihara di sini.
Sebelum konversi,
tanahnya hanya mengandung 1% humus.
Sekarang, sudah 2%,
masih sangat rendah.
Ini tugas lintas generasi
yang memberikan perubahan.
Sekarang, tanah memberi kembali
apa yang kami lakukan selama ini.
Di tahun-tahun kering, kami tetap panen,
bahkan di tahun yang sangat kering.
Tidak ada yang hilang atau rusak.
Siapakah makhluk kecil
yang membuat tanah menjadi subur?
Dan apa yang mereka butuhkan
untuk bertahan hidup?
Jelas bahwa air sangat penting
bagi kelangsungan hidup semua makhluk di tanah.
Namun, pasokan makanan juga sangat krusial.
Keduanya tidak banyak di tanah di Brandenburg.
Kami bertemu ahli zoologi tanah, Nicole Scheunemann,
di bukit pasir dekat area latihan militer.
Ia tahu bahwa gurun ini juga penuh kehidupan.
Di sini ia menemukan makhluk kecil
seperti ekor pegas, meskipun populasinya sedikit,
mirip dengan tanah pertanian konvensional.
Ladang sebenarnya punya kondisi mirip dengan gurun.
Tidak ada banyak masukan bahan organik,
karena setiap produk yang ditanam
biasanya dipanen dan tidak kembali ke tanah.
Ini berarti sumber daya, bahan, diekstraksi,
tetapi tidak banyak yang masuk.
Jika hanya pupuk mineral yang digunakan,
tidak ada bahan organik
yang bisa dimanfaatkan oleh hewan.
Di padang rumput ini,
ada keberagaman spesies yang luar biasa.
Beberapa sentimeter tanah teratas,
tanah dipenuhi kehidupan.
Tanah yang lebih gelap
mengandung banyak akar dan bahan organik.
Hewan-hewan kecil dipancing untuk keluar
dari tanah dengan memakai muslihat tertentu.
Cahaya dan kehangatan membuat makhluk tanah ini
melarikan diri ke bawah melalui corong.
Yang pertama muncul adalah kutu tanduk.
Ada sekitar 20.000 kutu tanduk
di setiap meter persegi tanah.
Mereka mengurai sisa tanaman
dan kotoran hewan dengan efektif.
Beberapa kutu loncat kecil
kadang muncul dalam jumlah besar,
meski mereka pemalu dan menghindari cahaya.
Mereka lebih suka bersembunyi di tempat gelap.
Cahaya berbahaya bagi hewan-hewan kecil ini.
Mereka dapat merasakan perbedaan
antara gelap dan terang untuk menghindari cahaya.
Cacing benang, atau nematoda,
adalah hewan tanah yang paling banyak jumlahnya.
Empat dari lima makhluk hidup di dunia
termasuk dalam kelompok cacing kecil ini.
Mereka bertanggung jawab atas penguraian
dan pengangkutan sisa tanaman di tanah.
Ada pemakan bakteri, jamur, ada pemakan alga.
Ada juga yang merusak
dengan menusuk dan mengisap akar tanaman.
Secara keseluruhan,
nematoda ini mempercepat proses dekomposisi.
Nematoda yang memakan bakteri dan jamur
sangat penting
karena mereka meningkatkan
perputaran organisme tersebut,
sehingga mempercepat proses kerja mereka.
Tanah yang subur dipenuhi oleh jamur dan bakteri
yang menguraikan partikel
menjadi struktur-struktur kecil
dan menyediakan nutrisi untuk tanaman.
Titik utama aktivitas berada di sekitar akar,
di mana filamen jamur terhubung dengan ujung akar.
Di sana, tersedia makanan untuk semua organisme,
termasuk gula tanaman.
Para ilmuwan baru mulai
memahami interaksi kompleks ini.
Hari ini hari penting bagi
"promotor kacang arab" Brandenburg.
Pertemuan di sebuah ladang dekat Trebbin,
di barat daya Berlin.
Beberapa pejabat tinggi
telah mengumumkan kehadirannya,
tampaknya ada lebih banyak yang dipertaruhkan
daripada yang terlihat di awal.
Budidaya tanaman penghasil protein
yang dikatakan tahan terhadap iklim dan ramah tanah ini
menarik perhatian Menteri Pertanian,
Sekretaris Negara Bagian, dan rombongannya.
Isabella Krause memanfaatkan kesempatan ini
untuk mempromosikan proyeknya.
Semakin saya berbicara dengan petani di sini,
semakin saya merasakan keputusasaan mereka.
Mereka bertanya:
Apa yang masih bisa kita tanam di masa depan?
Hal penting bagi saya adalah kerja sama.
Kita butuh asosiasi petani di sini
yang percaya pada kacang arab
dan siap mengembangkannya.
Koki kantin di koperasi pertanian Trebbin
juga penggemar kacang arab.
Dia sedang membuat falafel
menggunakan hasil panen tahun lalu.
Tapi hidangan baru akan disajikan
setelah menteri menginspeksi ladang.
Sementara itu, kedua petani berbagi pengalaman
tentang eksperimen mereka.
Pertanian ini dikenal
dengan pendekatannya yang eksperimental.
Pengetahuan yang diperoleh di sini akan bermanfaat
bagi pertanian Jerman secara keseluruhan.
Saya dari Baden-Württemberg,
di mana kondisi pertaniannya berbeda.
Lahan lebih kecil dan kondisi tanahnya lain.
Tapi petani di sana juga sedang
bereksperimen dengan kacang arab
dan mencari tanaman lain yang bisa ditanam.
Saatnya bagian santai acara ini.
Pak menteri mencicipi
hasil panen kacang arab dari Brandenburg.
Tapi kenyataan di lapangan kurang menggembirakan.
Di banyak tempat, benih tidak tumbuh.
Petani ini menyalahkan kualitas tanah yang buruk.
Di bagian sini memang sulit.
Kalau kita lihat ke kanan, kiri
ke depan atau belakang, perbedaannya sangat jelas.
Sangat menarik.
Awalnya saya tidak lihat perbedaan besar di permukaan.
Tapi di bawahnya,
tanahnya di sini kering.
Rasanya seperti pasir pantai!
Ya, benar.
Yang membuatnya berbeda dari gurun,
di sini lebih banyak curah hujan.
Tapi ini, tanah pasir.
100 kilometer ke timur, Bernhardt von der Marwitz
memeriksa tanaman kacang arabnya di Friedersdorf.
Varietas Irenka tumbuh dengan sangat baik dan kuat,
dalam barisan rapat.
Ini menjanjikan.
Namun, hanya satu varietas yang berhasil,
ditanam di satu hektare.
Sisanya gagal total.
Sepuluh hektare bibit kacang arab
tidak membawa hasil.
Yang terlihat hijau muda di sini
adalah tanaman penggantinya – bunga matahari.
Rusak semuanya.
Baris per baris,
semuanya benar-benar rusak.
Setiap hari saya amati benihnya,
awalnya kelihatan mulai berkecambah,
dan saya merasa optimistis,
mungkin ini akan berhasil.
Lalu saya seminggu tidak ada.
Waktu saya kembali saya pikir,
tanaman seharusnya sudah tumbuh.
Waktu saya periksa lagi,
ternyata benih-benihnya membusuk,
baunya sudah membusuk, seperti berjamur,
isinya kosong seperti sudah dimakan habis.
Apa penyebabnya?
Karena tanahnya atau varietasnya?
Di Institut Penelitian Lanskap Pertanian Leibniz,
para peneliti sedang memeriksa
sampel tanah dari Friedersdorf.
Ahli biologi Elisabeth Berlinghof punya dugaan.
Kami pasang tenda-tenda kecil ini
karena menemukan larva lalat pada benih di ladang.
Tujuannya untuk menangkap dan mengidentifikasinya.
Dan kami memang berhasil menangkap beberapa larva.
Kemungkinan besar mereka berasal dari spesies delia,
hama yang memakan benih kacang arab,
dan ini mungkin penyebab
buruknya pertumbuhan tanaman.
Pertanyaannya: Mengapa larva hanya merusak
satu varietas, tapi tidak menyerang yang lain?
Ini masih belum terjawab.
Mungkin varietas yang tidak terinfeksi
memiliki kulit lebih tebal
atau senyawa dalam kulitnya yang menghalangi lalat,
tapi kami belum tahu dengan pasti.
Di Müncheberg, mereka telah mengikuti percobaan budidaya kacang arab selama tiga tahun.
Tampaknya, tidak semua varietas cocok.
Mosab Halwani adalah pemimpin eksperimen.
Dia mengenal kacang arab
dari kampung halamannya di Suriah.
Ya, varietas ini sudah bagus.
Ya, ini kelihatan lebih gelap,
sudah seperti kacang arab klasik.
Ya, ini klasik dan ini lebih terang.
Dia senang, karena kemungkinan tanaman ini
bisa ditanam dalam jumlah besar di sini.
Selama dua tahun pertama,
saya terus memantau cuaca dan data iklim
untuk menentukan waktu terbaik menanam.
Bagaimana kondisinya,
kapan waktu terbaik untuk menanam?
Apakah cocok untuk kacang arab?
Iklim di Brandenburg saat ini
mirip dengan kota asal saya, Aleppo,
dengan curah hujan biasanya
tidak lebih dari 350-400 mm.
Cuaca di Brandenburg juga seperti itu.
Dengan suhu yang semakin tinggi setiap tahun,
musim tanam pun berubah.
Kacang arab jelas merupakan salah satu cara
untuk beradaptasi dengan kondisi baru ini.
Pertama, panas yang semakin meningkat
menyebabkan lebih banyak penguapan,
sehingga air dalam sistem menjadi lebih sedikit
meskipun hujan akan meningkat di masa depan.
Selain itu, pola hujan bergeser,
dengan lebih banyak hujan terjadi di musim dingin,
yang tidak dibutuhkan.
Fenomena cuaca sedang berubah,
sehingga ketika cuaca jadi stabil,
kondisinya bertahan lebih lama.
Apakah pohon dapat melindungi lahan pertanian?
Di Prignitz, barat laut Berlin,
seorang petani meyakini solusi ini untuk tanahnya.
Bisa diambil untuk kotak pasir anak-anak.
Lima tahun lalu, ia menanam pohon poplar.
Ini mempercepat perubahan tanah
yang biasanya makan waktu puluhan tahun.
Anda bisa lihat bahwa
jaringan akar tanah di sini sangat bagus.
Ada gulma tumbuh,
tapi itu bukan masalah!
Saya akan gali lebih dalam.
Di sini terlihat seluruh sistem akar.
Di sini ada daun yang jatuh,
ada naungan bayangan pohon.
Jadi, di sini kehidupan tanahnya
bisa berkembang lebih intensif,
karena tidak ada pengolahan tanah,
dibandingkan dengan di sana.
Reiner Guhl berhasil meyakinkan pemilik lahan sewaannya
untuk mendukung rencana
menanam pohon di lahan pertanian.
Langkah yang jarang dilakukan
karena setiap hektare sangat berharga bagi petani.
Namun, ia menjelaskan bahwa pohon-pohon ini
sangat membantunya sepanjang tahun.
Ada lebih dari 17.000 pohon poplar di sini,
membuat area ini lebih sejuk
berkat pendinginan alami dari penguapan.
Kami menciptakan koridor hijau,
dan yang membuat saya bangga,
meskipun ini lahan pertanian konvensional,
jalur pohon ini dikelola secara organik.
Tanpa pestisida, tanpa pupuk.
Kami hanya memanfaatkan pohon-pohon ini.
Yang sangat mencolok adalah satwa liar
yang berlindung di deretan pohon ini.
Tidak ada kaitannya dengan lahan pertanian,
tapi di sini lebih teduh.
Burung-burung terbang bolak-balik,
burung perkutut dan kelinci berkembang di sini.
Area ini jadi semacam tempat perlindungan yang tenang,
dan memberikan manfaat luar biasa
bagi flora dan fauna.
Mereka yang skeptis mengatakan
pohon akan menyerap nutrisi baik untuk gandum.
Pengalaman petani menunjukkan sebaliknya.
Gandum tumbuh sama baiknya
di dekat barisan pohon seperti di ladang.
Selain itu, tanah ringan lebih terikat
sehingga mencegah erosi.
Apa yang kita lihat?
Misalnya, kemarin debu tidak terbawa ke desa
Barisan pohon menyaringnya.
Efek-efek seperti ini hanya terlihat
jika kita bekerja dengan sistem ini setiap hari.
2 hektare pohon
di atas 140 hektare lahan pertanian.
Pohon-pohon memberikan efek
pendinginan, naungan, dan menahan angin.
Barisan pohon juga menjaga kelembapan,
sesuatu yang tidak bisa dilakukan mesin.
Menurut pengalaman Reiner Guhl,
pohon lebih efektif
daripada sistem penyiraman apa pun.
Petani di sini juga mulai
menanam pohon di ladang mereka.
Pohon poplar muda tumbuh
di ladang dekat Mark Dümichen,
dan rencananya sereal
akan segera tumbuh di antara pepohonan.
Namun, bagaimana tanah bisa pulih
setelah bertahun-tahun intensif digarap dan terkuras?
Untuk itu, petani membuat kompos sendiri
dari jerami, rumput, daun, kayu, dan tanah liat,
menghasilkan humus siap pakai dalam enam minggu.
Baunya seperti tanah hutan.
Dan itu adalah aroma yang sangat menyenangkan.
Hewan-hewan kecil di tanah ini
membantu proses penguraian bahan itu.
Kotoran mereka berfungsi sebagai semen
yang membentuk struktur tanah yang stabil.
Ini dibutuhkan untuk menyimpan air dan nutrisi.
Kompos ini berbeda dari yang biasanya diproduksi
dan dijual di toko serba ada.
atau tempat lainnya.
Kompos ini adalah kompos yang dikontrol,
artinya proses pengomposan —yaitu pembusukan—
dilakukan secara terkontrol dengan cara
menambahkan air setiap hari
dan dirotasi perlahan untuk mendinginkan suhunya.
Kompos yang sudah jadi
disebar di ladang seperti pupuk.
Namun, apakah dampaknya sebanding
dengan usaha yang dilakukan?
Jika Anda menggali tanah hutan hujan,
ada lima sentimeter
bahan organik di atas tanahnya
yang mendukung pertumbuhan luar biasa
tanpa pupuk atau pembajakan.
Tapi di sini tidak ada tanah seperti itu.
Di sini tidak ada hutan hujan,
jadi kita harus meniru sistem ini
sambil tetap memanen gandum.
Keluarga Dümichen telah bertani di sini
selama lebih dari 400 tahun.
Nenek moyangnya selalu kesulitan
mendapatkan hasil panen yang baik,
dan sekarang perubahan iklim
semakin mempersulit keadaan.
Namun, dia ingin mewariskan pertanian ini
kepada putranya suatu saat nanti.
Kompos adalah langkah pertama.
Tapi belum cukup.
Untuk memperbanyak kompos,
dia menggunakan metode teh kompos,
di mana kompos direndam dalam air hangat
selama 1-2 hari bersama madu dan bubuk batu.
Campuran ini, yang berbau seperti bir
dan teh herbal tampaknya disukai mikroba.
Memang tidak bisa langsung terlihat efeknya,
tapi saya tahu itu berhasil
karena tanamannya jadi sangat sehat.
Jadi, saya tidak perlu perlindungan tanaman lagi
seperti fungisida.
Semua bisa diatasi dengan teh kompos,
dan hasilnya sangat baik.
Belum ada bukti bahwa teh kompos
meningkatkan pembentukan humus,
namun Mark yakin dengan itu.
Baginya, penanaman langsung, tanaman penutup,
dan teh kompos harus saling mendukung.
Dia menerapkan infus ini ke ladangnya
hingga tiga kali dalam satu musim.
Dia hanya menyemprotkannya
pada senja atau malam hari
agar bakteri yang sensitif terhadap cahaya
tidak langsung rusak oleh sinar matahari.
Ada energi tercipta, yang sebelumnya tidak ada.
Hanya berasal dari organisme hidup.
Sekarang ada mikroba yang mulai berkembang
dan memberikan efek yang sebelumnya tidak ada.
Tanaman memanfaatkan hal ini secara maksimal
dan terus tumbuh meskipun di masa sulit.
Ini berarti tanaman dapat melakukan
hal-hal yang biasanya tidak bisa dilakukannya
karena hujan lebat, kekeringan,
atau sinar matahari yang ekstrem.
Setelah disemprot dengan teh dari tumbuhan,
tanaman akan segera melanjutkan perkembangannya.
Sebagai petani konvensional,
Mark dulu sering menggunakan pestisida mahal.
Berkat metode barunya,
ia hampir tidak membutuhkannya lagi.
Perubahan iklim tidak hanya membuat cuaca lebih panas, tetapi juga lebih sulit diprediksi.
Tanah yang sehat dapat menjadi penyangga.
Hujan deras turun di kebun sayur
Philipp dan Lena Adler,
dan tanah menyerap air dengan cepat.
Setelah beberapa saat,
air meresap sepenuhnya.
Philipp juga menggunakan bakteri
untuk membantu memperbaiki tanah.
Fermentasi menyegarkan tanah.
Kami merasa tanah kami sudah cukup terevitalisasi.
Pada suhu yang tepat, proses ini memakan waktu
sekitar 10 hari atau seminggu.
Anda bisa mengukur pH-nya.
Kalau aromanya baik,
kami akan menggunakannya.
Saya hanya berharap itu akan penuh
dengan bakteri baik yang bisa saya tambahkan ke tanah
yang sementara ini saya beri tekanan.
Fermentasi dibuat dari sisa-sisa tanaman,
seperti limbah dapur.
Namun berbeda dengan kompos,
fermentasi ini dilakukan
oleh bakteri asam laktat tanpa udara.
Proses ini menghasilkan cairan berbau asam
yang kaya mikroorganisme dan nutrisi.
Philipp secara rutin menyebarkan ini di ladangnya.
Petani lain tertawa karena saya
melakukannya dengan tangan, lambat sekali,
sementara mereka pakai semprotan.
Mereka sering meremehkan cara rumahan seperti ini.
Pentingnya bakteri baik
bagi kesehatan manusia sudah jelas.
Begitu juga kesadaran bahwa
tanah bukan sekadar media tanam,
tetapi sistem yang penuh dengan kehidupan.
Pertanian organik memanfaatkan pengetahuan ini.
Tanpa menggunakan bahan kimia,
petani dan tukang kebun mengandalkan
bantuan dari alam dan berbagai cara alami lainnya.
Pertama, plastik penutup mencegah gulma tumbuh.
Gulma berkecambah tapi mati
karena tidak mendapat cahaya.
Tentu saja, ini menghemat tenaga
dan memberikan kehangatan untuk labu serta zukini.
Air tetap bisa meresap,
menjaga kelembapan tanah.
Organisme tanah tetap aman,
tidak dijangkau dan dimakan burung,
serta bisa memakan gulma
dan kompos yang kami berikan.
Berkat teknik budidaya yang canggih,
mereka bisa memanen
hasil yang melimpah dari lahan kecil
sambil memperbaiki kualitas tanah secara nyata.
Memasuki tahun kelima,
hasil dari perbaikan struktur tanah mulai terlihat.
Proses ini memang panjang,
dan semoga dalam 10 tahun ke depan
hasilnya semakin nyata.
Mengapa tidak banyak petani
yang menerapkan metode ini?
Lena dan Philipp menyebut metode mereka organik-intensif.
Mereka bekerja dari pagi hingga malam,
dengan lembur, kerja fisik, dan idealisme.
Mengapa tidak menggunakan istilah
regeneratif yang sedang tren?
Istilah regeneratif akan terdengar sederhana
untuk apa yang kami lakukan.
Fokus kami adalah memperbaiki tanah
secara berkelanjutan.
Saya rasa istilah ini diperkenalkan
untuk menetapkan standar yang seharusnya sudah menjadi hal normal,
untuk mengembalikannya.
Regeneratif berarti membuat yang rusak
menjadi utuh lagi.
Sudah cukup buruk bahwa kita harus
memperbaiki ulang tanah yang rusak.
Para penggemar organik mungkin akan mengatakan
bahwa mereka sudah lama melakukan ini.
Tapi saya rasa baik
bahwa banyak petani konvensional
juga mulai berpikir untuk memperbaiki lahan mereka.
Musim panen tiba di Friedersdorf.
Kacang arab sudah matang dengan baik,
tapi hanya satu hektare yang tumbuh.
Itu kemunduran.
Sekarang, petani organik ini berharap ada hasil baik
dari sisa lahan yang ditanami varietas Irenka,
kacang arab warna cokelat.
Saya rasa hasilnya tidak terlalu buruk.
Kami mungkin bisa mencapai satu ton per hektare.
Itu perkiraan kasar saya.
Tentu saja, ini sangat emosional.
Melihat proses yang kami jalani bersama
hampir berakhir.
Sekarang semakin mendebarkan.
Kami belum bisa merayakan,
karena masih perlu panen, menganalisis hasilnya,
dan membersihkan produk.
Jadi, kacang arab belum siap disajikan.
Tapi hanya dengan melihat proses
dan mendengar suara gemerisiknya,
saya sudah sangat senang.
Panen selesai dalam kurang dari setengah jam
dengan mesin panen besar.
Meskipun ada kemunduran,
petani memutuskan untuk melanjutkan.
Sepertinya, ada hasil yang akhirnya
bisa disajikan di piring.
Koki di restoran peternakan memasak kari pertama kali
menggunakan varietas Irenka.
Petani, sopir mesin panen, dan ahli ekonomi pertanian
tidak sabar ingin mencicipinya.
Rasanya enak.
Saya senang sekali kacang arab
bisa memberikan tekstur pada makanan,
jadi bukan hanya dijadikan bubur.
Kacangnya terasa, dipadukan dengan sayuran.
Bisa dibilang "kenyal saat digigit",
kombinasi yang enak.
Sangat lezat.
Saya tidak ingin terlalu cepat berharap,
tapi mungkin ini awal dari kacang arab Brandenburg
yang berwarna merah, bukan putih-coklat.
Produk baru mulai tumbuh di
ladang-ladang Brandenburg.
Petani merombak pertanian mereka,
dan lanskapnya berubah.
Sebuah gerakan berkembang,
dengan tanah yang subur sebagai inti dari semuanya.