Cara petani Jerman selamatkan tanah demi ketahanan pangan | DW Dokumenter
N37qDBr6xdo • 2025-03-15
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Dunia di bawah tanah menyimpan kekayaan yang tak terukur. Miliaran makhluk kecil, hidup dalam segenggam tanah yang sehat. Ada energi tercipta, yang sebelumnya tidak ada. Hanya dari organisme hidup. Tanah yang hidup adalah basis kehidupan. Sebagian besar keanekaragaman hayati hidup di bawah permukaan tanah. Namun, kondisi buruk melanda banyak lahan. Pertanian intensif dan cuaca membuat tanah berada di bawah tekanan. Anda bisa lihat setiap tanaman rusak. Apa yang bisa dilakukan? Kita harus mulai memperbaiki tanah yang rusak. Saya punya pertanian, sudah turun temurun di keluarga sejak abad ke-17. Kalau saya memperlakukan tanah seperti yang umum dilakukan, cucu saya tidak akan bisa hidup dari itu lagi. Petani ini menunjukkan ladang-ladang di sekitar desanya di selatan Berlin. Di sini, kelihatan jelas bahwa tanah sudah terdegradasi. Kesuburannya hilang. Anda bahkan tidak bisa memasukkan jari lagi. Tanahnya jadi sangat keras. Memang di bawahnya masih ada kelembapan, tapi tanah ini tak bisa lagi beregenerasi. Kami sadar, tidak bisa terus begini. Tanah sudah mencapai batasnya. Badai debu dan pasir terjadi lima kali setahun, padahal dulu hanya sekali dalam 10 tahun, sekarang lima kali setahun. Salah satu penyebab degradasi tanah di sini adalah pembukaan ladang besar untuk memberi ruang bagi mesin pemanen. Akibatnya, ladang mengering lebih cepat dan lebih cepat hancur. Tanah berpasir, yang terlihat kuning, membentang di seluruh wilayah ini. Tanah ini paling tidak subur dan menerima curah hujan paling sedikit. Pemantau kekeringan sering menunjukkan daerah timur Sungai Elbe yang paling terdampak. Di selatan Brandenburg ada gurun terbesar di Jerman, seluas lima kilometer persegi. Selama puluhan tahun, tank-tank melintasi lapangan latihan ini. Hanya tanaman khusus, rumput kering, dan lumut yang bisa bertahan di Gurun Lieberos. Area ini tak bisa digunakan lagi untuk pertanian. Brandenburg, dan timur Jerman umumnya, sangat terdampak karena terletak jauh dari laut. Tanah berpasir di sini sulit menyimpan air. Ditambah perubahan iklim yang menyebabkan suhu lebih tinggi dan berkurangnya curah hujan, atau periode panjang tanpa hujan di musim panas. Ini membuat Brandenburg sangat rentan terhadap perubahan iklim. Para petani khawatir: Apa yang masih bisa tumbuh di masa depan? Seberapa besar penyesuaian yang perlu dilakukan? Beberapa petani sudah mencoba tanaman dari Asia, seperti kacang arab, yang menurut para ahli bisa berkembang di lahan Eropa dan dianggap pengkondisi tanah yang baik. Tapi, akankah berhasil di sini? Di lahan pertanian ini, petani organik Bernhardt von der Marwitz mengolah tanah pasir yang tandus. Keuntungan dari tanaman polong lokal, seperti kacang polong dan kacang broad, menurun dalam beberapa tahun terakhir. Tanah ini memiliki permeabilitas air tinggi, sehingga cepat kering. Lahan yang lebih kering adalah syarat utama untuk kacang arab, jadi tanah ini cocok untuk itu. Dia berhasil mendapat 40 karung benih dari selatan Prancis, meski tidak ada jaminan benih ini akan tumbuh. Kami mencoba berbagai varietas untuk mengetahui mana yang paling optimal untuk lokasi kami. Saat menanam tiba. Mesin penanam kali ini diisi dengan biji kacang arab. Eksperimen dimulai. Suatu hari pada akhir April, dan kondisi cuaca mendukung. Komunitas ilmiah dan organisasi pemasaran regional juga tertarik untuk melihat apakah percobaan petani ini berhasil. Harapannya tinggi. Pengalaman sangat dibutuhkan: Seberapa dalam benih harus ditanam? Isabella Krause bekerja di Regionalwert AG, organisasi yang mendukung produksi pangan lokal. Dia berharap bisa memperkenalkan kacang arab ke Brandenburg. Pertanian soal rumit, tidak bisa disalin begitu saja. Saya tidak bisa hanya melihat kondisi di India, Australia, atau Kanada, lalu menerapkannya di sini. Kondisi bisa berbeda, bahkan dalam jarak dekat. Jadi, kita harus melakukannya dengan cara berbeda. Kita bisa belajar dari sana, tapi harus memikirkan ulang semuanya. Mereka mengolah lahan 11 hektare, yang idealnya menghasilkan 11 ton kacang arab. Itu rencananya, tapi hanya waktu yang akan membuktikan. Untuk penelitian, mereka membagi lahan untuk memantau pertumbuhan kacang arab pada berbagai kondisi. Kacang jenis ini sangat cocok untuk tanah di sini, karena merupakan tanaman polong yang dapat mengikat nitrogen. Dan sangat baik untuk manusia karena kaya protein, serat, dan sangat serbaguna: Mulai dari tepung kacang arab hingga pasta dan keripik kacang arab. Selain sehat, kacang ini juga sangat lezat. Terutama untuk hummus dan falafel! Benih ini seharusnya tumbuh dalam dua sampai tiga minggu. Di tempat barunya, yaitu tanah pasir Brandenburg, di timur Jerman, yang terbentuk sekitar 15.000 tahun lalu pada zaman es. Wilayah ini khas dengan lapisan pasir sungai, kerikil, dan beberapa partikel tanah liat. Tanah ini lebih dari sekadar lapisan pasir. Pemindaian 3D menunjukkan tekstur khasnya: Sistem akar, saluran, dan rongga. Ruang melimpah ini membuat tanah berfungsi sebagai penyimpanan air. Satu meter kubik tanah bisa menyimpan sampai 300 liter air, berfungsi seperti spons besar. Tanah adalah ruang utama untuk perputaran air. Curah hujan jatuh ke tanah, dan tanah menentukan seberapa banyak yang meresap atau mengalir di permukaan. Kita manusia memengaruhi pengelolaan air tanah, dengan cara kita menggunakan dan mengolah lahan. Ini pertanian organik di utara Berlin. Selama lima tahun terakhir, Lena dan Phillip Adler fokus pada tanah. Hasil panen mereka dinikmati di restoran lokal, oleh pengunjung yang memetik sendiri dan pelanggan. Tapi awalnya tidak mudah, di tengah kekeringan 2019. Itu benar-benar gila. Tempat ini benar-benar seperti gurun. Tanah yang baru digarap terlihat kosong dan tandus, bahkan terlihat seperti pernah digiling. Ya, terlihat buruk. Lalu datang musim panas dan kekeringan, dan tanah mengering hingga kedalaman 30 sampai 40 sentimeter. Untuk menghadapi tanah pasir yang buruk, mereka mendiversifikasi tanaman, baik di atas maupun di bawah tanah. Lebih dari 120 varietas sayuran organik ditanam di tiga hektare lahan. Tanah menyukai keberagaman. Akar tanaman bekerja berbeda dan memanfaatkan ruang yang luas. Kami belum sepenuhnya memahami interaksi di tanah, terutama dengan mikrobioma. Tapi, studi global baru telah menunjukkan bahwa keberagaman membuat tanah lebih tangguh dibandingkan monokultur. Menanam berbagai sayuran membutuhkan lebih banyak usaha karena setiap jenis punya kebutuhan berbeda. Varietas langka atau tua yang ditanam Lena dan Philipp diminati pelanggan dan bermanfaat bagi tanah. Dengan berbagai jenis tanaman, Anda bisa memperbaiki tanah. Kubis membutuhkan banyak nutrisi, sedangkan kacang mengembalikan banyak nutrisi, dan seterusnya. Jika Anda merotasi tanaman dengan bijak, tanah bisa diperbaiki, termasuk dalam hal pengelolaan tanaman. Tujuannya adalah untuk memperbaiki tanah selama proses penanaman, bukan mengurasnya. Ini adalah tampilan tempat tanam mereka di luar musim. Untuk mendukung keberagaman, setelah panen, tanah diberi tanaman penutup, campuran berbagai jenis tanaman. Kami menanam vetch rye, sejenis gandum hitam di musim dingin. Tanaman ini mulai tumbuh di tahun pertama dan melanjutkan pertumbuhan tahun berikutnya, jadi tanah tetap tertutup. Ini mencegah tanah kehilangan nutrisi, menjaga kelestariannya, mempertahankan air dan memberikan pemupukan pertama untuk tahun berikutnya. Legum seperti gandum, kacang polong, dan kacang adalah bagian dari solusi. Mereka menyerap nitrogen dari udara dan, dengan bantuan bakteri khusus, menyimpannya dalam nodul kecil di akar. Di sini, ada banyak bakteri nodul di sini. Ini memberikan pupuk alami untuk sayuran musim depan. Jika tanaman penutup tidak membeku pada musim dingin, tanaman dipotong dan ditutupi. Jadi ada ruang subur lagi untuk sayuran. Dengan kehidupan tanah yang beragam, kita dapat merespons kejadian-kejadian yang tidak terduga, karena selalu ada organisme-organisme khusus yang terlibat. Mark sudah memanen gandumnya. Sekarang, dia juga ingin mendiversifikasi ladangnya. Ini benih utama, benih yang besar untuk kotak depan. Ada jenis-jenis gandum, kacang polong, bunga matahari, dan serradella. Ditambah benih halus seperti semanggi dan rumput lebah, tujuannya membangun tumbuhan hijau dan humus di tanah secepat mungkin. Benih ditanam hari ini. Benih halus mulai tumbuh dalam dua hari, membentuk akar halus dan kecambah pertama. Benih kasar butuh seminggu. Tanaman ini hanya berfungsi sebagai perbaikan tanah karena tidak dipanen dan dibiarkan hingga musim semi berikutnya. Ia mulai mengubah cara berpikirnya 20 tahun lalu. Dulu, setelah panen, kami membajak untuk menghancurkan tunggul dan menggemburkan tanah, tapi ini justru menghasilkan debu dan mengangkat batu. Ayah saya sering bilang, “Lihat, cara ini tidak efektif, hasil panennya terlalu sedikit dibandingkan usaha yang kita lakukan.” Jadi, kami memutuskan untuk berhenti membajak sepenuhnya dan mengubah metode kami. Mark telah mencoba banyak hal: Meneliti, mengikuti kursus pengelolaan tanah, bahkan pergi ke Brasil untuk mempelajari metode tanam tanpa olah tanah. Metode ini memungkinkan penanaman langsung setelah panen tanpa membajak, dengan alat tanam hanya sedikit membelah tanah, kehidupan tanah tetap terlindungi. Pengalaman dari negara lain yang telah melakukan ini selama puluhan tahun menunjukkan bahwa ini satu-satunya cara. Semua metode lain telah dicoba selama berabad-abad, setidaknya 200 tahun, dan semuanya menyebabkan penurunan karbon serta kesuburan tanah. Dia sekarang aktif dalam komunitas tanam tanpa olah tanah. Menghadiri konferensi, memberikan ceramah, tur di pertaniannya, bertukar ide dengan petani lain melalui media sosial, dan diakui sebagai pelopor di bidang ini. Tentu saja, itu membuat saya sangat bangga. Ketika ada yang bilang, “Apa yang dia katakan benar, bukan omong kosong.“ Rasanya luar biasa jika mereka bisa menghindari kesalahan yang kami buat 10 atau 15 tahun lalu. Kami sudah melakukan banyak kesalahan, jadi orang lain tidak perlu mengulanginya. Dengan begitu, kemajuan bisa lebih cepat. Mungkin itulah alasan semakin banyak orang yang mulai mencoba di berbagai tempat, meski hanya sebatas eksperimen. Banyak yang sudah beralih dari membajak ke metode budidaya yang lebih lembut, tapi hanya sedikit yang menerapkan penanaman langsung. Metode ini jarang dapat dukungan, karena menghemat minyak solar dan pupuk. Ini kacang polong. Ini gandum, gandum hitam. Kacang polong putih, kacang beda lagi. Semua penuh dengan itu. Sekarang, di sini tenang, dan dunia hewan, serangga, jamur mulai hidup dan mengolah tanah, memperbaikinya. Jerami di atas akan dimakan sampai tahun depan. Tanaman selingan akan mati, ada yang mati, ada yang tidak, ada yang membeku, ada yang tidak. Lalu daun-daun jatuh dan membentuk lapisan makanan berikutnya untuk keberagaman yang kami pelihara di sini. Sebelum konversi, tanahnya hanya mengandung 1% humus. Sekarang, sudah 2%, masih sangat rendah. Ini tugas lintas generasi yang memberikan perubahan. Sekarang, tanah memberi kembali apa yang kami lakukan selama ini. Di tahun-tahun kering, kami tetap panen, bahkan di tahun yang sangat kering. Tidak ada yang hilang atau rusak. Siapakah makhluk kecil yang membuat tanah menjadi subur? Dan apa yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup? Jelas bahwa air sangat penting bagi kelangsungan hidup semua makhluk di tanah. Namun, pasokan makanan juga sangat krusial. Keduanya tidak banyak di tanah di Brandenburg. Kami bertemu ahli zoologi tanah, Nicole Scheunemann, di bukit pasir dekat area latihan militer. Ia tahu bahwa gurun ini juga penuh kehidupan. Di sini ia menemukan makhluk kecil seperti ekor pegas, meskipun populasinya sedikit, mirip dengan tanah pertanian konvensional. Ladang sebenarnya punya kondisi mirip dengan gurun. Tidak ada banyak masukan bahan organik, karena setiap produk yang ditanam biasanya dipanen dan tidak kembali ke tanah. Ini berarti sumber daya, bahan, diekstraksi, tetapi tidak banyak yang masuk. Jika hanya pupuk mineral yang digunakan, tidak ada bahan organik yang bisa dimanfaatkan oleh hewan. Di padang rumput ini, ada keberagaman spesies yang luar biasa. Beberapa sentimeter tanah teratas, tanah dipenuhi kehidupan. Tanah yang lebih gelap mengandung banyak akar dan bahan organik. Hewan-hewan kecil dipancing untuk keluar dari tanah dengan memakai muslihat tertentu. Cahaya dan kehangatan membuat makhluk tanah ini melarikan diri ke bawah melalui corong. Yang pertama muncul adalah kutu tanduk. Ada sekitar 20.000 kutu tanduk di setiap meter persegi tanah. Mereka mengurai sisa tanaman dan kotoran hewan dengan efektif. Beberapa kutu loncat kecil kadang muncul dalam jumlah besar, meski mereka pemalu dan menghindari cahaya. Mereka lebih suka bersembunyi di tempat gelap. Cahaya berbahaya bagi hewan-hewan kecil ini. Mereka dapat merasakan perbedaan antara gelap dan terang untuk menghindari cahaya. Cacing benang, atau nematoda, adalah hewan tanah yang paling banyak jumlahnya. Empat dari lima makhluk hidup di dunia termasuk dalam kelompok cacing kecil ini. Mereka bertanggung jawab atas penguraian dan pengangkutan sisa tanaman di tanah. Ada pemakan bakteri, jamur, ada pemakan alga. Ada juga yang merusak dengan menusuk dan mengisap akar tanaman. Secara keseluruhan, nematoda ini mempercepat proses dekomposisi. Nematoda yang memakan bakteri dan jamur sangat penting karena mereka meningkatkan perputaran organisme tersebut, sehingga mempercepat proses kerja mereka. Tanah yang subur dipenuhi oleh jamur dan bakteri yang menguraikan partikel menjadi struktur-struktur kecil dan menyediakan nutrisi untuk tanaman. Titik utama aktivitas berada di sekitar akar, di mana filamen jamur terhubung dengan ujung akar. Di sana, tersedia makanan untuk semua organisme, termasuk gula tanaman. Para ilmuwan baru mulai memahami interaksi kompleks ini. Hari ini hari penting bagi "promotor kacang arab" Brandenburg. Pertemuan di sebuah ladang dekat Trebbin, di barat daya Berlin. Beberapa pejabat tinggi telah mengumumkan kehadirannya, tampaknya ada lebih banyak yang dipertaruhkan daripada yang terlihat di awal. Budidaya tanaman penghasil protein yang dikatakan tahan terhadap iklim dan ramah tanah ini menarik perhatian Menteri Pertanian, Sekretaris Negara Bagian, dan rombongannya. Isabella Krause memanfaatkan kesempatan ini untuk mempromosikan proyeknya. Semakin saya berbicara dengan petani di sini, semakin saya merasakan keputusasaan mereka. Mereka bertanya: Apa yang masih bisa kita tanam di masa depan? Hal penting bagi saya adalah kerja sama. Kita butuh asosiasi petani di sini yang percaya pada kacang arab dan siap mengembangkannya. Koki kantin di koperasi pertanian Trebbin juga penggemar kacang arab. Dia sedang membuat falafel menggunakan hasil panen tahun lalu. Tapi hidangan baru akan disajikan setelah menteri menginspeksi ladang. Sementara itu, kedua petani berbagi pengalaman tentang eksperimen mereka. Pertanian ini dikenal dengan pendekatannya yang eksperimental. Pengetahuan yang diperoleh di sini akan bermanfaat bagi pertanian Jerman secara keseluruhan. Saya dari Baden-Württemberg, di mana kondisi pertaniannya berbeda. Lahan lebih kecil dan kondisi tanahnya lain. Tapi petani di sana juga sedang bereksperimen dengan kacang arab dan mencari tanaman lain yang bisa ditanam. Saatnya bagian santai acara ini. Pak menteri mencicipi hasil panen kacang arab dari Brandenburg. Tapi kenyataan di lapangan kurang menggembirakan. Di banyak tempat, benih tidak tumbuh. Petani ini menyalahkan kualitas tanah yang buruk. Di bagian sini memang sulit. Kalau kita lihat ke kanan, kiri ke depan atau belakang, perbedaannya sangat jelas. Sangat menarik. Awalnya saya tidak lihat perbedaan besar di permukaan. Tapi di bawahnya, tanahnya di sini kering. Rasanya seperti pasir pantai! Ya, benar. Yang membuatnya berbeda dari gurun, di sini lebih banyak curah hujan. Tapi ini, tanah pasir. 100 kilometer ke timur, Bernhardt von der Marwitz memeriksa tanaman kacang arabnya di Friedersdorf. Varietas Irenka tumbuh dengan sangat baik dan kuat, dalam barisan rapat. Ini menjanjikan. Namun, hanya satu varietas yang berhasil, ditanam di satu hektare. Sisanya gagal total. Sepuluh hektare bibit kacang arab tidak membawa hasil. Yang terlihat hijau muda di sini adalah tanaman penggantinya – bunga matahari. Rusak semuanya. Baris per baris, semuanya benar-benar rusak. Setiap hari saya amati benihnya, awalnya kelihatan mulai berkecambah, dan saya merasa optimistis, mungkin ini akan berhasil. Lalu saya seminggu tidak ada. Waktu saya kembali saya pikir, tanaman seharusnya sudah tumbuh. Waktu saya periksa lagi, ternyata benih-benihnya membusuk, baunya sudah membusuk, seperti berjamur, isinya kosong seperti sudah dimakan habis. Apa penyebabnya? Karena tanahnya atau varietasnya? Di Institut Penelitian Lanskap Pertanian Leibniz, para peneliti sedang memeriksa sampel tanah dari Friedersdorf. Ahli biologi Elisabeth Berlinghof punya dugaan. Kami pasang tenda-tenda kecil ini karena menemukan larva lalat pada benih di ladang. Tujuannya untuk menangkap dan mengidentifikasinya. Dan kami memang berhasil menangkap beberapa larva. Kemungkinan besar mereka berasal dari spesies delia, hama yang memakan benih kacang arab, dan ini mungkin penyebab buruknya pertumbuhan tanaman. Pertanyaannya: Mengapa larva hanya merusak satu varietas, tapi tidak menyerang yang lain? Ini masih belum terjawab. Mungkin varietas yang tidak terinfeksi memiliki kulit lebih tebal atau senyawa dalam kulitnya yang menghalangi lalat, tapi kami belum tahu dengan pasti. Di Müncheberg, mereka telah mengikuti percobaan budidaya kacang arab selama tiga tahun. Tampaknya, tidak semua varietas cocok. Mosab Halwani adalah pemimpin eksperimen. Dia mengenal kacang arab dari kampung halamannya di Suriah. Ya, varietas ini sudah bagus. Ya, ini kelihatan lebih gelap, sudah seperti kacang arab klasik. Ya, ini klasik dan ini lebih terang. Dia senang, karena kemungkinan tanaman ini bisa ditanam dalam jumlah besar di sini. Selama dua tahun pertama, saya terus memantau cuaca dan data iklim untuk menentukan waktu terbaik menanam. Bagaimana kondisinya, kapan waktu terbaik untuk menanam? Apakah cocok untuk kacang arab? Iklim di Brandenburg saat ini mirip dengan kota asal saya, Aleppo, dengan curah hujan biasanya tidak lebih dari 350-400 mm. Cuaca di Brandenburg juga seperti itu. Dengan suhu yang semakin tinggi setiap tahun, musim tanam pun berubah. Kacang arab jelas merupakan salah satu cara untuk beradaptasi dengan kondisi baru ini. Pertama, panas yang semakin meningkat menyebabkan lebih banyak penguapan, sehingga air dalam sistem menjadi lebih sedikit meskipun hujan akan meningkat di masa depan. Selain itu, pola hujan bergeser, dengan lebih banyak hujan terjadi di musim dingin, yang tidak dibutuhkan. Fenomena cuaca sedang berubah, sehingga ketika cuaca jadi stabil, kondisinya bertahan lebih lama. Apakah pohon dapat melindungi lahan pertanian? Di Prignitz, barat laut Berlin, seorang petani meyakini solusi ini untuk tanahnya. Bisa diambil untuk kotak pasir anak-anak. Lima tahun lalu, ia menanam pohon poplar. Ini mempercepat perubahan tanah yang biasanya makan waktu puluhan tahun. Anda bisa lihat bahwa jaringan akar tanah di sini sangat bagus. Ada gulma tumbuh, tapi itu bukan masalah! Saya akan gali lebih dalam. Di sini terlihat seluruh sistem akar. Di sini ada daun yang jatuh, ada naungan bayangan pohon. Jadi, di sini kehidupan tanahnya bisa berkembang lebih intensif, karena tidak ada pengolahan tanah, dibandingkan dengan di sana. Reiner Guhl berhasil meyakinkan pemilik lahan sewaannya untuk mendukung rencana menanam pohon di lahan pertanian. Langkah yang jarang dilakukan karena setiap hektare sangat berharga bagi petani. Namun, ia menjelaskan bahwa pohon-pohon ini sangat membantunya sepanjang tahun. Ada lebih dari 17.000 pohon poplar di sini, membuat area ini lebih sejuk berkat pendinginan alami dari penguapan. Kami menciptakan koridor hijau, dan yang membuat saya bangga, meskipun ini lahan pertanian konvensional, jalur pohon ini dikelola secara organik. Tanpa pestisida, tanpa pupuk. Kami hanya memanfaatkan pohon-pohon ini. Yang sangat mencolok adalah satwa liar yang berlindung di deretan pohon ini. Tidak ada kaitannya dengan lahan pertanian, tapi di sini lebih teduh. Burung-burung terbang bolak-balik, burung perkutut dan kelinci berkembang di sini. Area ini jadi semacam tempat perlindungan yang tenang, dan memberikan manfaat luar biasa bagi flora dan fauna. Mereka yang skeptis mengatakan pohon akan menyerap nutrisi baik untuk gandum. Pengalaman petani menunjukkan sebaliknya. Gandum tumbuh sama baiknya di dekat barisan pohon seperti di ladang. Selain itu, tanah ringan lebih terikat sehingga mencegah erosi. Apa yang kita lihat? Misalnya, kemarin debu tidak terbawa ke desa Barisan pohon menyaringnya. Efek-efek seperti ini hanya terlihat jika kita bekerja dengan sistem ini setiap hari. 2 hektare pohon di atas 140 hektare lahan pertanian. Pohon-pohon memberikan efek pendinginan, naungan, dan menahan angin. Barisan pohon juga menjaga kelembapan, sesuatu yang tidak bisa dilakukan mesin. Menurut pengalaman Reiner Guhl, pohon lebih efektif daripada sistem penyiraman apa pun. Petani di sini juga mulai menanam pohon di ladang mereka. Pohon poplar muda tumbuh di ladang dekat Mark Dümichen, dan rencananya sereal akan segera tumbuh di antara pepohonan. Namun, bagaimana tanah bisa pulih setelah bertahun-tahun intensif digarap dan terkuras? Untuk itu, petani membuat kompos sendiri dari jerami, rumput, daun, kayu, dan tanah liat, menghasilkan humus siap pakai dalam enam minggu. Baunya seperti tanah hutan. Dan itu adalah aroma yang sangat menyenangkan. Hewan-hewan kecil di tanah ini membantu proses penguraian bahan itu. Kotoran mereka berfungsi sebagai semen yang membentuk struktur tanah yang stabil. Ini dibutuhkan untuk menyimpan air dan nutrisi. Kompos ini berbeda dari yang biasanya diproduksi dan dijual di toko serba ada. atau tempat lainnya. Kompos ini adalah kompos yang dikontrol, artinya proses pengomposan —yaitu pembusukan— dilakukan secara terkontrol dengan cara menambahkan air setiap hari dan dirotasi perlahan untuk mendinginkan suhunya. Kompos yang sudah jadi disebar di ladang seperti pupuk. Namun, apakah dampaknya sebanding dengan usaha yang dilakukan? Jika Anda menggali tanah hutan hujan, ada lima sentimeter bahan organik di atas tanahnya yang mendukung pertumbuhan luar biasa tanpa pupuk atau pembajakan. Tapi di sini tidak ada tanah seperti itu. Di sini tidak ada hutan hujan, jadi kita harus meniru sistem ini sambil tetap memanen gandum. Keluarga Dümichen telah bertani di sini selama lebih dari 400 tahun. Nenek moyangnya selalu kesulitan mendapatkan hasil panen yang baik, dan sekarang perubahan iklim semakin mempersulit keadaan. Namun, dia ingin mewariskan pertanian ini kepada putranya suatu saat nanti. Kompos adalah langkah pertama. Tapi belum cukup. Untuk memperbanyak kompos, dia menggunakan metode teh kompos, di mana kompos direndam dalam air hangat selama 1-2 hari bersama madu dan bubuk batu. Campuran ini, yang berbau seperti bir dan teh herbal tampaknya disukai mikroba. Memang tidak bisa langsung terlihat efeknya, tapi saya tahu itu berhasil karena tanamannya jadi sangat sehat. Jadi, saya tidak perlu perlindungan tanaman lagi seperti fungisida. Semua bisa diatasi dengan teh kompos, dan hasilnya sangat baik. Belum ada bukti bahwa teh kompos meningkatkan pembentukan humus, namun Mark yakin dengan itu. Baginya, penanaman langsung, tanaman penutup, dan teh kompos harus saling mendukung. Dia menerapkan infus ini ke ladangnya hingga tiga kali dalam satu musim. Dia hanya menyemprotkannya pada senja atau malam hari agar bakteri yang sensitif terhadap cahaya tidak langsung rusak oleh sinar matahari. Ada energi tercipta, yang sebelumnya tidak ada. Hanya berasal dari organisme hidup. Sekarang ada mikroba yang mulai berkembang dan memberikan efek yang sebelumnya tidak ada. Tanaman memanfaatkan hal ini secara maksimal dan terus tumbuh meskipun di masa sulit. Ini berarti tanaman dapat melakukan hal-hal yang biasanya tidak bisa dilakukannya karena hujan lebat, kekeringan, atau sinar matahari yang ekstrem. Setelah disemprot dengan teh dari tumbuhan, tanaman akan segera melanjutkan perkembangannya. Sebagai petani konvensional, Mark dulu sering menggunakan pestisida mahal. Berkat metode barunya, ia hampir tidak membutuhkannya lagi. Perubahan iklim tidak hanya membuat cuaca lebih panas, tetapi juga lebih sulit diprediksi. Tanah yang sehat dapat menjadi penyangga. Hujan deras turun di kebun sayur Philipp dan Lena Adler, dan tanah menyerap air dengan cepat. Setelah beberapa saat, air meresap sepenuhnya. Philipp juga menggunakan bakteri untuk membantu memperbaiki tanah. Fermentasi menyegarkan tanah. Kami merasa tanah kami sudah cukup terevitalisasi. Pada suhu yang tepat, proses ini memakan waktu sekitar 10 hari atau seminggu. Anda bisa mengukur pH-nya. Kalau aromanya baik, kami akan menggunakannya. Saya hanya berharap itu akan penuh dengan bakteri baik yang bisa saya tambahkan ke tanah yang sementara ini saya beri tekanan. Fermentasi dibuat dari sisa-sisa tanaman, seperti limbah dapur. Namun berbeda dengan kompos, fermentasi ini dilakukan oleh bakteri asam laktat tanpa udara. Proses ini menghasilkan cairan berbau asam yang kaya mikroorganisme dan nutrisi. Philipp secara rutin menyebarkan ini di ladangnya. Petani lain tertawa karena saya melakukannya dengan tangan, lambat sekali, sementara mereka pakai semprotan. Mereka sering meremehkan cara rumahan seperti ini. Pentingnya bakteri baik bagi kesehatan manusia sudah jelas. Begitu juga kesadaran bahwa tanah bukan sekadar media tanam, tetapi sistem yang penuh dengan kehidupan. Pertanian organik memanfaatkan pengetahuan ini. Tanpa menggunakan bahan kimia, petani dan tukang kebun mengandalkan bantuan dari alam dan berbagai cara alami lainnya. Pertama, plastik penutup mencegah gulma tumbuh. Gulma berkecambah tapi mati karena tidak mendapat cahaya. Tentu saja, ini menghemat tenaga dan memberikan kehangatan untuk labu serta zukini. Air tetap bisa meresap, menjaga kelembapan tanah. Organisme tanah tetap aman, tidak dijangkau dan dimakan burung, serta bisa memakan gulma dan kompos yang kami berikan. Berkat teknik budidaya yang canggih, mereka bisa memanen hasil yang melimpah dari lahan kecil sambil memperbaiki kualitas tanah secara nyata. Memasuki tahun kelima, hasil dari perbaikan struktur tanah mulai terlihat. Proses ini memang panjang, dan semoga dalam 10 tahun ke depan hasilnya semakin nyata. Mengapa tidak banyak petani yang menerapkan metode ini? Lena dan Philipp menyebut metode mereka organik-intensif. Mereka bekerja dari pagi hingga malam, dengan lembur, kerja fisik, dan idealisme. Mengapa tidak menggunakan istilah regeneratif yang sedang tren? Istilah regeneratif akan terdengar sederhana untuk apa yang kami lakukan. Fokus kami adalah memperbaiki tanah secara berkelanjutan. Saya rasa istilah ini diperkenalkan untuk menetapkan standar yang seharusnya sudah menjadi hal normal, untuk mengembalikannya. Regeneratif berarti membuat yang rusak menjadi utuh lagi. Sudah cukup buruk bahwa kita harus memperbaiki ulang tanah yang rusak. Para penggemar organik mungkin akan mengatakan bahwa mereka sudah lama melakukan ini. Tapi saya rasa baik bahwa banyak petani konvensional juga mulai berpikir untuk memperbaiki lahan mereka. Musim panen tiba di Friedersdorf. Kacang arab sudah matang dengan baik, tapi hanya satu hektare yang tumbuh. Itu kemunduran. Sekarang, petani organik ini berharap ada hasil baik dari sisa lahan yang ditanami varietas Irenka, kacang arab warna cokelat. Saya rasa hasilnya tidak terlalu buruk. Kami mungkin bisa mencapai satu ton per hektare. Itu perkiraan kasar saya. Tentu saja, ini sangat emosional. Melihat proses yang kami jalani bersama hampir berakhir. Sekarang semakin mendebarkan. Kami belum bisa merayakan, karena masih perlu panen, menganalisis hasilnya, dan membersihkan produk. Jadi, kacang arab belum siap disajikan. Tapi hanya dengan melihat proses dan mendengar suara gemerisiknya, saya sudah sangat senang. Panen selesai dalam kurang dari setengah jam dengan mesin panen besar. Meskipun ada kemunduran, petani memutuskan untuk melanjutkan. Sepertinya, ada hasil yang akhirnya bisa disajikan di piring. Koki di restoran peternakan memasak kari pertama kali menggunakan varietas Irenka. Petani, sopir mesin panen, dan ahli ekonomi pertanian tidak sabar ingin mencicipinya. Rasanya enak. Saya senang sekali kacang arab bisa memberikan tekstur pada makanan, jadi bukan hanya dijadikan bubur. Kacangnya terasa, dipadukan dengan sayuran. Bisa dibilang "kenyal saat digigit", kombinasi yang enak. Sangat lezat. Saya tidak ingin terlalu cepat berharap, tapi mungkin ini awal dari kacang arab Brandenburg yang berwarna merah, bukan putih-coklat. Produk baru mulai tumbuh di ladang-ladang Brandenburg. Petani merombak pertanian mereka, dan lanskapnya berubah. Sebuah gerakan berkembang, dengan tanah yang subur sebagai inti dari semuanya.
Resume
Categories