Transcript
FGUvVZ2xxVk • Transnistria: Wilayah sengketa yang terjepit antara Rusia dan Uni Eropa | DW Dokumenter
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/DWDokumenter/.shards/text-0001.zst#text/0063_FGUvVZ2xxVk.txt
Kind: captions Language: id [Musik] Transnistria di perbatasan Ukraina. Ledakan menghancurkan dua menara radio penting. Ini adalah serangan terarah terhadap jaringan komunikasi. Penyerang bertopeng menembaki gedung pemerintah. Kerusuhan juga melanda wilayah ini beberapa minggu sebelum Rusia menginvasi negara tetangganya, Ukraina. Apakah ini sebuah kebetulan? Wilayah ini merupakan bagian dari Republik Moldova terletak di antara Ukraina dan Rumania. Namun mereka lebih memilih menjadi bagian dari Rusia dan telah mendeklarasikan diri sebagai negara merdeka bernama Pritnestrovskaya Moldavskaya Republika yang lebih dikenal dengan nama Transnistria. Tiraspol ibu kota republik ini terletak di timur negara itu. Beginilah penampakannya di sini seperti kapsul waktu dari era Uni Soviet. Pada musim semi tahun 2022, gedung-gedung pemerintahan diserang di wilayah ini. Semua terjadi di tengah bayang-bayang perang di Ukraina. Mungkinkah wilayah yang kurang dikenal di Eropa Timur ini berubah menjadi pemicu konflik baru? Jika ditarik garis lurus pada petah, Transnistria terletak sekitar 700 km dari Rusia. Jejak masa lalu Uni Soviet masih terasa kuat dengan adanya patung lilin bintang merah dan palu arit di ruang-ruang publik. Suasananya mengingatkan pada era perang dingin dan tak sedikit warganya yang menginginkan penyatuan kembali dengan Rusia. Kami ingin menjadi bagian Rusia. Mereka akan membantu kami. Mereka mungkin akan menaikkan uang pensiun karena yang kami terima saat ini sangat kecil. [Musik] Ibu kota Moldova Kijinau hanya berjarak 80 km dari Tiraspol. Mayoritas warga di sini berbicara bahasa Rumania dan merasa memiliki keterikatan dengan Uni Eropa. Kehadiran kafe-kafe, bangunan berdinding kaca, dan pusat perbelanjaan membuat kota ini tampak seperti kota-kota di Eropa Barat. Kaum mudanya fasih berbahasa Inggris dan merek-merek barat mendominasi jalanan. sangat kontras dengan suasana di Transnistria. Saya kenal orang-orang pendukung setiap Putin yang begitu fanatik dengan keyakinannya. [Musik] Erika Singer adalah jurnalis untuk sejumlah surat kabar ternama di Jerman dan dikenal sebagai pakar politik internasional. Dia lahir di Transnistria dan selama bertahun-tahun telah menulis tentang konflik di wilayah tersebut di mana kesetiaan terhadap Rusia masih mengakar kuat. Sepanjang sejarah Transmistria, mereka tidak pernah ingin mendekat ke Moldova dan bilang, "Kami ingin menjadi bagian dari Republik Moldova lagi." Mereka tidak menginginkan itu. Pengaruh Rusia masih terasa dalam kehidupan sehari-hari di Transnistria. Dari sekitar 350.000 Ibu penduduknya banyak yang masih hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Transnistri transmistria memiliki sejarah yang berbeda dari wilayah Moldova lainnya. Karena transmisteria dulunya merupakan bagian dari kekaisaran Rusia. Inilah yang mungkin menciptakan semacam identitas dan kedekatan tersendiri dengan Rusia. Dengan perbatasan bendera dan mata uang sendiri. Transnistria memandang dirinya sebagai republik berdaulat. Namun pandangan dunia berbeda. Negara de facto ini tidak diakui oleh negara anggota PBB dan secara resmi dianggap sebagai bagian dari Moldova. Sejak 2016, Vadim Krasnoselski telah memimpin wilayah yang secara resmi tidak diakui sebagai negara ini. Baginya, Transnistria seharusnya menjadi bagian dari Rusia. Namun, ada apa di balik kedekatannya dengan Putin? Mari kita lihat lebih dekat. Transmistria terpisah dari wilayah Moldova lainnya oleh sungai Mister. Anggur tumbuh di tanahnya yang subur dan biara-biara tua seperti ini menjadi saksi bisu sejarah yang panjang. Hingga akhir abad ke-18, Transnistria berada di bawah pengaruh kekaisaran Otoman, wilayah multietnis yang dihuni oleh orang Rumania, Ukraina, dan Tatar. Dulu sebagian besar wilayah Moldova saat ini adalah bagian dari Besar Arabia. Namun Transnistria adalah wilayah perbatasan yang disengketakan. Transnistria kemudian menjadi bagian dari kekaisaran Rusia. Pada tahun 1924, wilayah itu diambil alih oleh Uni Soviet menjadi sebuah republik otonom. Besarabia di sisi lain berada di bawah administrasi Rumania. Selama Perang Dunia Kedua, pasukan Jerman dan Rumania menduduki Transnistria. Namun setelah perang berakhir, wilayah itu kembali ke Uni Soviet sebagai bagian dari Moldova. Pada tahun 1991, Uni Soviet runtuh. Moldova mendeklarasikan kemerdekaannya. Namun, Transnistria tidak ingin menjadi bagian dari Moldova sehingga mendeklarasikan dirinya sebagai negara merdeka. Pada tahun 1992, konflik dengan Moldova meningkat. Para separatis Transnistria bertempur melawan militer Moldova. Meski berlangsung singkat, pertempuran berdarah ini menandai awal dari konflik Transnistria. Gencatan senjata disepakati tidak lama setelah itu. Namun, sejak saat itu pula konflik Transnistria dianggap beku, belum selesai, dan berpotensi meledak kapan saja. Rekaman ini diambil diam-diam karena sensitif secara politik. Sejak 1992, sekitar 1500 tentara Rusia telah dikerahkan ke Transnistria sebagai pasukan penjaga perdamaian. Tentara asing berada di wilayah negara berdaulat tanpa izin dari negara tersebut. Apa yang sebenarnya dilakukan Rusia di sini? [Musik] Sejak runtuhnya Uni Soviet, beberapa negara pecahan Soviet bergabung dengan NATO. Putin memandang ekspansi NATO ke wilayah timur sebagai pelanggaran kepercayaan. Merujuk pada perjanjian lisan yang dibuat pada tahun 1990-an. Sejumlah pernyataan Putin menunjukkan pandangannya bahwa Barat adalah musuh yang ingin melemahkan Rusia. Perlu diingat bahwa cara pandang Putin tentang dunia dipengaruhi oleh pengalamannya sebagai perwira KJB. Dan bagi seorang mantan agen KJB, NATO adalah musuh. forgato Mungkinkah kehadiran tentara Rusia yang terus berlanjut di wilayah ini merupakan peringatan bagi NATO dan Uni Eropa bahwa mereka tidak boleh lewat dari wilayah tersebut? [Musik] Saya pindah ke Jerman bersama keluarga saat saya masih kecil, tetapi saya masih punya banyak keluarga di sana, baik di Moldova maupun di Transnistria. Saat kecil, kemudian remaja dan dewasa, saya terus kembali ke sana untuk mengunjungi keluarga dan liburan musim panas. Saya ingat dulu jalanan selalu ramai di musim panas, banyak festival. Tapi kemudian semakin banyak orang yang pergi ke luar negeri. Anak-anak muda khususnya tak lagi merasa punya masa depan di sana. Tidak banyak pilihan di sini. Jadi saya berencana pergi ke luar negeri. Kami sudah tua, anak-anak kami sudah pergi. Empat anak saya sudah pergi ke luar negeri. Mereka pergi karena situasi di sini. Jika dilihat dari rata-rata gaji tahunan. Moldova adalah salah satu negara termiskin di Eropa, hanya sekitar 6.000. Sebagai perbandingan, gaji rata-rata di Eropa 7uh kali lebih tinggi. Namun, kemiskinan di Transnistria jauh lebih ekstrem. Rata-rata gaji tahunan hanya sekitar 2.000 sepertiga dari gaji di wilayah Moldova lainnya. Terisolasi dari aturan internasional membuat Transnistria tidak mendapat investasi asing. Tidak ada investor yang mau membawa modal pengetahuan atau teknologinya ke sana. Valeriup Pasha adalah pengamat politik di Moldova. Dia memimpin watchdog.md, organisasi independen yang menganalisis perkembangan politik dan memerangi korupsi dan disinformasi. Jadi, Rusia memberikan bantuan finansial kepada Transnistria, membayar gaji dan pensiun banyak orang selama bertahun-tahun. Namun yang paling penting adalah pasokan gas gratis. Ya, gas gratis Anda tidak salah dengar. Di Transnistria, gas gratis ini sudah ada sejak 1992. Gas tersebut mengalir melalui pipa lewat Ukraina langsung ke negara de facto ini. Bagi Transnistria, gas gratis dari Rusia bukan sekadar sumber energi, tapi urat nadi bagi seluruh industri. Kebijakan ini populer di kalangan warga. Saat referendum di tahun 2006, hampir 97% warga memilih bergabung dengan Rusia. Namun, angka itu tidak berarti apa-apa karena Transnistria tidak diakui secara internasional. Hal yang penting untuk dipahami adalah bahwa tanpa energi gratis dari Rusia, perekonomian di wilayah ini tidak akan mampu bersaing. Paradoks yang nyata, Transnistria tidak hanya mengandalkan gas dari Rusia, tapi juga hidup dari perdagangan dengan Uni Eropa. Sekitar 80% ekspornya ditujukan ke Eropa. Mulai dari logam, bahan kimia, dan tekstil. Gas di Transnistria berasal dari Rusia, tapi uangnya berasal dari Eropa. Hanya para oligarki yang bisa meraup keuntungan di sini. Secara perlahan, satu kelompok bisnis menguasai kekuatan negara. Cara kerjanya mirip model klasik oligarki Eropa Timur. Bisnis besar mendanai politisi lokal dan sebagai imbalan mereka diberi impunitas penuh atas segala tindak kejahatan. Para oligarki memiliki kekuasaan yang besar di negara ini. Namun bagaimana keterlibatan mereka dalam konflik Transnistria? Kekayaan dan pengaruh para oligarki bermula pada tahun 1990-an. Setelah runtuhnya Uni Soviet, penyelundupan rokok, minuman beralkohol, senjata api, dan narkoba meraja lela. Menurut perkiraan, hingga 10 miliar batang rokok ilegal dari Transnistria masuk ke Uni Eropa setiap tahunnya. Pabrik penyulingan ilegal memproduksi alkohol dalam skala besar, lalu menjualnya melalui pasar gelap. Sementara senjata dari persediaan lama Soviet tersebar ke wilayah konflik di seluruh dunia lewat Ukraina atau Moldova. Ini sherif, kerajaan bisnis yang mendominasi Transnistria. Bisnisnya tidak hanya terdiri dari supermarket, bank, layanan ponsel, dan alkohol saja, tapi juga klub sepak bola yang pernah mengalahkan Real Madrid. [Musik] Tokoh utama di balik grup sherif adalah Victor Gusan. Mereka membayar pajak lalu mendapat akses ke sumber daya yang murah terutama energi. Grup serif ini juga mampu menyuap politisi di Moldova. Dengan begitu mereka mendapat akses bebas masuk ke pasar Eropa. Ini contoh rezim oligarki yang sempurna. Namun di sisi lain mereka tetap harus memikirkan kepentingan geopolitik Rusia dan mereka takut menentangnya. Itulah sebabnya para oligarki berkomitmen pada kepentingan Rusia. Ini Ilan Shor. Dia dihukum 15 tahun penjara karena pencucian uang. Dari luar negeri dia mendukung kekuatan Prorusia secara agresif baik finansial maupun strategi. Berkat bantuannya, FG Niagutul berhasil naik ke tampuk kekuasaan. Gubernur Wilayah otonom Gagau Zia di Moldova ini dikenal sebagai pendukung setia Putin. Dia dihukum karena pendanaan ilegal partai politik. Tak lama sebelum pemilu parlemen Moldova tahun 2025, Rusia juga memiliki pengaruh cukup besar di Gagauzia. Pertanyaannya, sampai kapan para oligarki dan transnistria mampu mempertahankan arah politik seperti ini? Pasukan proor Rusia telah memerintah Moldova selama bertahun-tahun. Namun titik balik terjadi di 2020. Maya Sandu menjadi presiden dan menetapkan arah baru melawan korupsi dan mendukung Eropa. Pada bulan Juni 2022, dia berada di ambang sebuah pencapaian penting. Kita akan melakukan pemungutan suara pada resolusi secara keseluruhan. Pemungutan suara dibuka, pemungutan suara ditutup. Dan resolusi ini disetujui dengan suara terbanyak. Bersama dengan Ukraina, Moldova diberikan status kandidat resmi Uni Eropa. Sebuah langkah kecil tetapi berdampak besar. Akankah wilayah Uni Eropa semakin dekat ke Rusia? Situasi di Moldova ternyata tidak sesederhana yang terlihat di peta. Negara ini terpecah. Sebagian condong ke Uni Eropa, sebagian lagi ke Rusia. Lebih dari sepertiga warga Moldova tidak mempercayai Uni Eropa dan justru menginginkan hubungan yang lebih erat dengan Rusia. Kami ingin bekerja sama, saling membantu dan saling mendukung dengan Rusia. Banyak yang membenci Putin karena dia dianggap memulai banyak perang. Tapi tampaknya yang terjadi justru sebaliknya. Aksi protes menentang kebijakan pro Eropa semakin sering terjadi. Begitu pula aksi protes yang mendukung Eropa, kedua kubu secara perlahan semakin menguat. Pemilihan Presiden November 2024, Maya Sandu menang melawan kandidat Pro Rusia. Dengan kemenangan itu, dia mempertahankan arah kebijakan pro Eropa negaranya. Di saat bersamaan, warga Moldova memberikan suara untuk menentukan apakah negara harus tetap mengejar keanggotaan Uni Eropa. Meski selisihnya tipis, mayoritas suara setuju mendukung langkah itu. Nama Ilan Shor muncul kembali. Pemerintah Moldova menuduhnya menginvestasikan sekitar 4 juta US DO untuk memanipulasi pemilu. Dia diduga menggunakan pengaruhnya untuk kepentingan Rusia. Apakah Moldova kini semakin dekat menjadi anggota Uni Eropa? Apa respons Kremlin terhadap hal ini? Wilayah separatis Transmisteria sekali lagi mengalami pemadaman listrik setelah pasokan gas dari Rusia melalui Ukraina dihentikan. Wilayah yang didukung Rusia tersebut memperpanjang pemadaman listrik pada hari Minggu. Semua industri kecuali produksi pangan telah ditutup. Mulai Januari 2025, Rusia tidak lagi memasuk gas gratis ke Transnistria. Akibatnya, krisis pasokan energi besar-besaran melanda Transnistria dan Republik Moldova. Semua orang kedinginan. Mereka hanya ingin tidur tenang. Jalanan bahkan lebih hangat daripada di sekolah. Ini hanya kesulitan sementara. Semuanya akan baik-baik saja. Rusia tidak mungkin meninggalkan kami dalam keadaan apapun. Sejak satu Januari warga tidak memiliki air panas, listrik, dan pemanas. Mereka terpaksa mengenakan jaket tebal di rumah dan berusaha menghangatkan diri dengan selimut berlapis-lapis. Sekarang kompor seperti ini jadi sangat penting di musim dingin. Karena pasokan gas kami diputus dan listrik padam, kami terpaksa menggunakan kompor ini untuk memasak dan menghangatkan rumah agar hidup bisa terus berjalan. Bagi banyak keluarga muda di sini, kehidupan sehari-hari bukanlah hal mudah. Karena seringkiali beberapa generasi tinggal bersama dalam satu atap. Listrik hanya menyala setiap 4 jam sekali dan gas sudah menjadi komoditas mewah yang tak terjangkau. Saya yakin mereka akan mencapai kesepakatan. Gas dan listrik akan tersedia kembali. Semua akan kembali normal. Mustahil hidup tanpa listrik dan gas. Kris energi tidak hanya mempengaruhi Transnistria, tetapi juga Moldova. Sekitar 70% listrik Moldova berasal dari pembangkit listrik yang dioperasikan dengan gas gratis Rusia di Transnistria. Kremlin mengklaim bahwa Ukraina belum memperpanjang perjanjian transportasi gas dengan Rusia yang telah berakhir pada akhir 2024. Akibatnya, Rusia tidak bisa lagi memasuk gas ke Transnistria. Rusia juga mengirimkan tagihan pengiriman gas selama 30 tahun terakhir senilai 700 juta dolar kepada pemerintah Moldova. Bantuan datang dari Uni Eropa. Presiden Moldova menerima 250 juta euro. Lewat rencana berjangka 2 tahun ini, Moldova diharapkan bisa mandiri, terbebas dari gas Rusia. Berkat dukungan Uni Eropa, Moldova berhasil mengatasi krisis gas. Namun, kepercayaan rakyat terhadap pemerintahan Sandu memburuk. Keadaan tidak akan berubah, malah bisa jadi lebih buruk. Di wilayah kekuasaan Moldova sekalipun menurut jajak pendapat, banyak yang meyakini bahwa pihak yang bertanggung jawab atas krisis gas di Transnistria adalah pemerintah Moldova, bukan Rusia. Apakah semua ini hanya bagian dari perang propaganda? Perdana Menteri Moldova menuduh Rusia menggunakan energi sebagai senjata politik. Pertanyaannya, apa yang ingin dicapai Rusia dengan melemahkan pemerintahan Moldova dan mengganggu stabilitas negara tersebut? Yang memotivasi Putin adalah peta yang akan tercatat dalam buku sejarah Rusia setelah ia tiada. Ya. Jadi tentang seberapa luas nantinya wilayah yang tercatat berhasil direbut kembali atau dibebaskan dibawa kepemimpinannya. Selama bertahun-tahun Putin menggambarkan Uni Eropa dan NATO sebagai musuh. Tapi mengapa? Benarkah kebijakan pro Barat Ukraina dan Moldova menjadi ancaman bagi Rusia? Ini bukan sekedar soal memperkuat keamanan Rusia, tapi tentang membangun kembali identitas Rusia itu sendiri, menguasai kembali wilayah-wilayah bekas kekaisaran Rusia secara fisik. [Musik] Jadi, apakah fokus utama Rusia adalah memulihkan kembali klaim kekuasaannya seperti dulu? Mari kita lihat Georgia dan Ukraina. Pada tahun 2008, Rusia menginvasi Georgia ketika negara itu mencoba mengembalikan kendali atas sebuah wilayah separatis. Rusia kemudian menganeksasi Krimea pada tahun 2014 dan menyerang Ukraina pada tahun 2022. Pada tahun 2024, Rusia dituduh berupaya mempengaruhi pemilu di Georgia. Indikasi intervensi Rusia juga terlihat di Moldova. [Musik] Russ Rusia telah menggunakan berbagai cara untuk mempengaruhi spektrum politik di Moldova. Cara-cara ini juga digunakan di Ukraina sebagai bagian dari persiapan operasi militer. Kita juga telah melihat Rusia menggunakan serangan cyber, penyebaran disinformasi, dan campur tangan dalam proses pemilu di berbagai negara. Putin tidak perlu menginvasi atau berperang secara langsung. Dia punya cara lain yang disebut perang hibrida. Dengan kata lain, dia cukup menciptakan kekacauan dan membuat pemerintah Moldova pusing mengatasinya. Presiden Moldova mengatakan, aksi-aksi protes yang terjadi saat ini diorganisir oleh orang-orang korup yang mencuri uang negara. Kelompok itu menurutnya telah menjarah negara, melarikan diri, dan kini memanfaatkan orang-orang miskin untuk mengguncang stabilitas negara. Para pengunjuk rasa adalah orang-orang yang tinggal di desa-desa. Lalu ada yang datang ke rumah mereka dan bilang, "Kami akan berikan kalian sejumlah uang, tetapi kalian harus ikut sekarang." Mereka kemudian digiring ke dalam bus lalu dibawa ke ibu kota. Setelahnya mereka disuruh berdemonstrasi dan mengangkat poster-poster tuntutan. Siapa dalang serangan pada April 2022 yang kita lihat di awal video masih belum jelas hingga kini. Namun muncul pertanyaan, mungkinkah serangan di Transnistria bagian dari perang hibrida Rusia? Apakah ini hanya kebetulan atau sengaja dilakukan saat warga Moldova akan melakukan pemungutan suara tentang keanggotaan mereka di Uni Eropa? Itu adalah serangan palsu yang diorganisir oleh KGB Transnistria di bawah kendali FSB Rusia. Bukan berarti orang-orang percaya begitu saja dengan apa yang sebenarnya terjadi atau yang mereka klaim terjadi. Namun hal ini tetap saja menambah arus informasi yang mengganggu. Di sisi lain, pihak Prorusia menuduh Ukraina sebagai dalang serangan tersebut. Tiga orang tidak dikenal melepaskan tembakan ke gedung pemerintah pada Senin. Mereka memasuki Transnistria secara ilegal dari Ukraina, melakukan serangan teroris dan melarikan diri. [Musik] Para pengamat di Barat khawatir Rusia bisa membuka front baru dari Transnistria. Pertanyaan utamanya, akankah Putin terus memperluas pengaruhnya di Moldova? sejauh mana dia berani melangkah. Bahaya perang di wilayah ini akan terus ada selama bertahun-tahun. Kita tidak tahu sampai kapan. Dalam konteks ini, upaya Rusia untuk menguasai Moldova akan semakin meningkat. Eropa akan dipaksa untuk memainkan peran yang lebih aktif. Setidaknya untuk menjaga keamanannya sendiri, lingkungan sekitarnya, dan perannya di kawasan dan dunia. Transnistria tetap menjadi wilayah yang krusial secara geopolitik. Kelompok pro Eropa berusaha menstabilkan Moldova dalam perjalanannya bergabung ke Uni Eropa. Sementara kekuatan Prorusia menggunakan perang hibrida untuk mencegah bekas Republik Soviet itu semakin dekat dengan demokrasi Barat. Para oligarki meraup keuntungan dari perpecahan negara di balik layar. Bagaimanapun, eskalasi di perbatasan dengan Rumania dapat memaksa NATO memperkuat kehadiran militernya di kawasan. Hal ini akan secara signifikan meningkatkan risiko konfrontasi langsung dengan Rusia. Transistria mungkin kecil, tetapi perkembangannya di masa depan bisa berdampak luas.