File TXT tidak ditemukan.
Transnistria: Wilayah sengketa yang terjepit antara Rusia dan Uni Eropa | DW Dokumenter
FGUvVZ2xxVk • 2025-09-26
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Transnistria di perbatasan Ukraina.
Ledakan menghancurkan dua menara radio
penting. Ini adalah serangan terarah
terhadap jaringan komunikasi.
Penyerang bertopeng menembaki gedung
pemerintah.
Kerusuhan juga melanda wilayah ini
beberapa minggu sebelum Rusia menginvasi
negara tetangganya, Ukraina. Apakah ini
sebuah kebetulan?
Wilayah ini merupakan bagian dari
Republik Moldova terletak di antara
Ukraina dan Rumania. Namun mereka lebih
memilih menjadi bagian dari Rusia dan
telah mendeklarasikan diri sebagai
negara merdeka bernama Pritnestrovskaya
Moldavskaya Republika yang lebih dikenal
dengan nama Transnistria. Tiraspol ibu
kota republik ini terletak di timur
negara itu. Beginilah penampakannya di
sini
seperti kapsul waktu dari era Uni
Soviet.
Pada musim semi tahun 2022,
gedung-gedung pemerintahan diserang di
wilayah ini. Semua terjadi di tengah
bayang-bayang perang di Ukraina.
Mungkinkah wilayah yang kurang dikenal
di Eropa Timur ini berubah menjadi
pemicu konflik baru?
Jika ditarik garis lurus pada petah,
Transnistria terletak sekitar 700 km
dari Rusia. Jejak masa lalu Uni Soviet
masih terasa kuat dengan adanya patung
lilin bintang merah dan palu arit di
ruang-ruang publik. Suasananya
mengingatkan pada era perang dingin dan
tak sedikit warganya yang menginginkan
penyatuan kembali dengan Rusia.
Kami ingin menjadi bagian Rusia. Mereka
akan membantu kami. Mereka mungkin akan
menaikkan uang pensiun karena yang kami
terima saat ini sangat kecil.
[Musik]
Ibu kota Moldova Kijinau hanya berjarak
80 km dari Tiraspol.
Mayoritas warga di sini berbicara bahasa
Rumania dan merasa memiliki keterikatan
dengan Uni Eropa.
Kehadiran kafe-kafe, bangunan berdinding
kaca, dan pusat perbelanjaan membuat
kota ini tampak seperti kota-kota di
Eropa Barat. Kaum mudanya fasih
berbahasa Inggris dan merek-merek barat
mendominasi jalanan. sangat kontras
dengan suasana di Transnistria.
Saya kenal orang-orang pendukung setiap
Putin yang begitu fanatik dengan
keyakinannya.
[Musik]
Erika Singer adalah jurnalis untuk
sejumlah surat kabar ternama di Jerman
dan dikenal sebagai pakar politik
internasional. Dia lahir di Transnistria
dan selama bertahun-tahun telah menulis
tentang konflik di wilayah tersebut di
mana kesetiaan terhadap Rusia masih
mengakar kuat. Sepanjang sejarah
Transmistria, mereka tidak pernah ingin
mendekat ke Moldova dan bilang, "Kami
ingin menjadi bagian dari Republik
Moldova lagi." Mereka tidak menginginkan
itu.
Pengaruh Rusia masih terasa dalam
kehidupan sehari-hari di Transnistria.
Dari sekitar 350.000 Ibu penduduknya
banyak yang masih hidup dalam
bayang-bayang masa lalu.
Transnistri
transmistria memiliki sejarah yang
berbeda dari wilayah Moldova lainnya.
Karena transmisteria dulunya merupakan
bagian dari kekaisaran Rusia. Inilah
yang mungkin menciptakan semacam
identitas dan kedekatan tersendiri
dengan Rusia.
Dengan perbatasan bendera dan mata uang
sendiri. Transnistria memandang dirinya
sebagai republik berdaulat. Namun
pandangan dunia berbeda. Negara de facto
ini tidak diakui oleh negara anggota PBB
dan secara resmi dianggap sebagai bagian
dari Moldova. Sejak 2016, Vadim
Krasnoselski telah memimpin wilayah yang
secara resmi tidak diakui sebagai negara
ini. Baginya, Transnistria seharusnya
menjadi bagian dari Rusia.
Namun, ada apa di balik kedekatannya
dengan Putin? Mari kita lihat lebih
dekat.
Transmistria terpisah dari wilayah
Moldova lainnya oleh sungai Mister.
Anggur tumbuh di tanahnya yang subur dan
biara-biara tua seperti ini menjadi
saksi bisu sejarah yang panjang. Hingga
akhir abad ke-18, Transnistria berada di
bawah pengaruh kekaisaran Otoman,
wilayah multietnis yang dihuni oleh
orang Rumania, Ukraina, dan Tatar.
Dulu sebagian besar wilayah Moldova saat
ini adalah bagian dari Besar Arabia.
Namun Transnistria adalah wilayah
perbatasan yang disengketakan.
Transnistria kemudian menjadi bagian
dari kekaisaran Rusia.
Pada tahun 1924, wilayah itu diambil
alih oleh Uni Soviet menjadi sebuah
republik otonom. Besarabia di sisi lain
berada di bawah administrasi Rumania.
Selama Perang Dunia Kedua, pasukan
Jerman dan Rumania menduduki
Transnistria.
Namun setelah perang berakhir, wilayah
itu kembali ke Uni Soviet sebagai bagian
dari Moldova. Pada tahun 1991, Uni
Soviet runtuh. Moldova mendeklarasikan
kemerdekaannya. Namun, Transnistria
tidak ingin menjadi bagian dari Moldova
sehingga mendeklarasikan dirinya sebagai
negara merdeka.
Pada tahun 1992, konflik dengan Moldova
meningkat. Para separatis Transnistria
bertempur melawan militer Moldova.
Meski berlangsung singkat, pertempuran
berdarah ini menandai awal dari konflik
Transnistria.
Gencatan senjata disepakati tidak lama
setelah itu. Namun, sejak saat itu pula
konflik Transnistria dianggap beku,
belum selesai, dan berpotensi meledak
kapan saja.
Rekaman ini diambil diam-diam karena
sensitif secara politik.
Sejak 1992, sekitar 1500 tentara Rusia
telah dikerahkan ke Transnistria sebagai
pasukan penjaga perdamaian.
Tentara asing berada di wilayah negara
berdaulat tanpa izin dari negara
tersebut. Apa yang sebenarnya dilakukan
Rusia di sini?
[Musik]
Sejak runtuhnya Uni Soviet, beberapa
negara pecahan Soviet bergabung dengan
NATO.
Putin memandang ekspansi NATO ke wilayah
timur sebagai pelanggaran kepercayaan.
Merujuk pada perjanjian lisan yang
dibuat pada tahun 1990-an.
Sejumlah pernyataan Putin menunjukkan
pandangannya bahwa Barat adalah musuh
yang ingin melemahkan Rusia.
Perlu diingat bahwa cara pandang Putin
tentang dunia dipengaruhi oleh
pengalamannya sebagai perwira KJB.
Dan bagi seorang mantan agen KJB, NATO
adalah musuh.
forgato
Mungkinkah kehadiran tentara Rusia yang
terus berlanjut di wilayah ini merupakan
peringatan bagi NATO dan Uni Eropa bahwa
mereka tidak boleh lewat dari wilayah
tersebut?
[Musik]
Saya pindah ke Jerman bersama keluarga
saat saya masih kecil, tetapi saya masih
punya banyak keluarga di sana, baik di
Moldova maupun di Transnistria.
Saat kecil, kemudian remaja dan dewasa,
saya terus kembali ke sana untuk
mengunjungi keluarga dan liburan musim
panas.
Saya ingat dulu jalanan selalu ramai di
musim panas, banyak festival. Tapi
kemudian semakin banyak orang yang pergi
ke luar negeri. Anak-anak muda khususnya
tak lagi merasa punya masa depan di
sana.
Tidak banyak pilihan di sini.
Jadi saya berencana pergi ke luar
negeri.
Kami sudah tua, anak-anak kami sudah
pergi. Empat anak saya sudah pergi ke
luar negeri. Mereka pergi karena situasi
di sini.
Jika dilihat dari rata-rata gaji
tahunan. Moldova adalah salah satu
negara termiskin di Eropa, hanya sekitar
6.000.
Sebagai perbandingan, gaji rata-rata di
Eropa 7uh kali lebih tinggi. Namun,
kemiskinan di Transnistria jauh lebih
ekstrem. Rata-rata gaji tahunan hanya
sekitar 2.000 sepertiga dari gaji di
wilayah Moldova lainnya.
Terisolasi dari aturan internasional
membuat Transnistria tidak mendapat
investasi asing. Tidak ada investor yang
mau membawa modal pengetahuan atau
teknologinya ke sana.
Valeriup Pasha adalah pengamat politik
di Moldova. Dia memimpin watchdog.md,
organisasi independen yang menganalisis
perkembangan politik dan memerangi
korupsi dan disinformasi.
Jadi, Rusia memberikan bantuan finansial
kepada Transnistria, membayar gaji dan
pensiun banyak orang selama
bertahun-tahun. Namun yang paling
penting adalah pasokan gas gratis.
Ya, gas gratis Anda tidak salah dengar.
Di Transnistria, gas gratis ini sudah
ada sejak 1992. Gas tersebut mengalir
melalui pipa lewat Ukraina langsung ke
negara de facto ini. Bagi Transnistria,
gas gratis dari Rusia bukan sekadar
sumber energi, tapi urat nadi bagi
seluruh industri.
Kebijakan ini populer di kalangan warga.
Saat referendum di tahun 2006, hampir
97% warga memilih bergabung dengan
Rusia. Namun, angka itu tidak berarti
apa-apa karena Transnistria tidak diakui
secara internasional.
Hal yang penting untuk dipahami adalah
bahwa tanpa energi gratis dari Rusia,
perekonomian di wilayah ini tidak akan
mampu bersaing.
Paradoks yang nyata, Transnistria tidak
hanya mengandalkan gas dari Rusia, tapi
juga hidup dari perdagangan dengan Uni
Eropa. Sekitar 80% ekspornya ditujukan
ke Eropa. Mulai dari logam, bahan kimia,
dan tekstil. Gas di Transnistria berasal
dari Rusia, tapi uangnya berasal dari
Eropa.
Hanya para oligarki yang bisa meraup
keuntungan di sini.
Secara perlahan,
satu kelompok bisnis menguasai kekuatan
negara.
Cara kerjanya mirip model klasik
oligarki Eropa Timur.
Bisnis besar mendanai politisi lokal dan
sebagai imbalan mereka diberi impunitas
penuh atas segala tindak kejahatan.
Para oligarki memiliki kekuasaan yang
besar di negara ini. Namun bagaimana
keterlibatan mereka dalam konflik
Transnistria?
Kekayaan dan pengaruh para oligarki
bermula pada tahun 1990-an. Setelah
runtuhnya Uni Soviet, penyelundupan
rokok, minuman beralkohol, senjata api,
dan narkoba meraja lela. Menurut
perkiraan, hingga 10 miliar batang rokok
ilegal dari Transnistria masuk ke Uni
Eropa setiap tahunnya. Pabrik
penyulingan ilegal memproduksi alkohol
dalam skala besar, lalu menjualnya
melalui pasar gelap. Sementara senjata
dari persediaan lama Soviet tersebar ke
wilayah konflik di seluruh dunia lewat
Ukraina atau Moldova.
Ini sherif, kerajaan bisnis yang
mendominasi Transnistria.
Bisnisnya tidak hanya terdiri dari
supermarket, bank, layanan ponsel, dan
alkohol saja,
tapi juga klub sepak bola yang pernah
mengalahkan Real Madrid.
[Musik]
Tokoh utama di balik grup sherif adalah
Victor Gusan.
Mereka membayar pajak lalu mendapat
akses ke sumber daya yang murah terutama
energi.
Grup serif ini juga mampu menyuap
politisi di Moldova.
Dengan begitu mereka mendapat akses
bebas masuk ke pasar Eropa.
Ini contoh rezim oligarki yang sempurna.
Namun di sisi lain mereka tetap harus
memikirkan kepentingan geopolitik Rusia
dan mereka takut menentangnya.
Itulah sebabnya para oligarki
berkomitmen pada kepentingan Rusia. Ini
Ilan Shor. Dia dihukum 15 tahun penjara
karena pencucian uang. Dari luar negeri
dia mendukung kekuatan Prorusia secara
agresif baik finansial maupun strategi.
Berkat bantuannya, FG Niagutul berhasil
naik ke tampuk kekuasaan. Gubernur
Wilayah otonom Gagau Zia di Moldova ini
dikenal sebagai pendukung setia Putin.
Dia dihukum karena pendanaan ilegal
partai politik. Tak lama sebelum pemilu
parlemen Moldova tahun 2025, Rusia juga
memiliki pengaruh cukup besar di
Gagauzia. Pertanyaannya, sampai kapan
para oligarki dan transnistria mampu
mempertahankan arah politik seperti ini?
Pasukan proor Rusia telah memerintah
Moldova selama bertahun-tahun. Namun
titik balik terjadi di 2020. Maya Sandu
menjadi presiden dan menetapkan arah
baru melawan korupsi dan mendukung
Eropa.
Pada bulan Juni 2022, dia berada di
ambang sebuah pencapaian penting. Kita
akan melakukan pemungutan suara pada
resolusi secara keseluruhan. Pemungutan
suara dibuka, pemungutan suara ditutup.
Dan resolusi ini disetujui dengan suara
terbanyak.
Bersama dengan Ukraina, Moldova
diberikan status kandidat resmi Uni
Eropa.
Sebuah langkah kecil tetapi berdampak
besar. Akankah wilayah Uni Eropa semakin
dekat ke Rusia? Situasi di Moldova
ternyata tidak sesederhana yang terlihat
di peta. Negara ini terpecah.
Sebagian condong ke Uni Eropa, sebagian
lagi ke Rusia. Lebih dari sepertiga
warga Moldova tidak mempercayai Uni
Eropa dan justru menginginkan hubungan
yang lebih erat dengan Rusia. Kami ingin
bekerja sama, saling membantu dan saling
mendukung dengan Rusia. Banyak yang
membenci Putin karena dia dianggap
memulai banyak perang. Tapi tampaknya
yang terjadi justru sebaliknya.
Aksi protes menentang kebijakan pro
Eropa semakin sering terjadi. Begitu
pula aksi protes yang mendukung Eropa,
kedua kubu secara perlahan semakin
menguat.
Pemilihan Presiden November 2024, Maya
Sandu menang melawan kandidat Pro Rusia.
Dengan kemenangan itu, dia
mempertahankan arah kebijakan pro Eropa
negaranya.
Di saat bersamaan, warga Moldova
memberikan suara untuk menentukan apakah
negara harus tetap mengejar keanggotaan
Uni Eropa. Meski selisihnya tipis,
mayoritas suara setuju mendukung langkah
itu.
Nama Ilan Shor muncul kembali.
Pemerintah Moldova menuduhnya
menginvestasikan sekitar 4 juta US DO
untuk memanipulasi pemilu. Dia diduga
menggunakan pengaruhnya untuk
kepentingan Rusia.
Apakah Moldova kini semakin dekat
menjadi anggota Uni Eropa? Apa respons
Kremlin terhadap hal ini?
Wilayah separatis Transmisteria sekali
lagi mengalami pemadaman listrik setelah
pasokan gas dari Rusia melalui Ukraina
dihentikan.
Wilayah yang didukung Rusia tersebut
memperpanjang pemadaman listrik pada
hari Minggu. Semua industri kecuali
produksi pangan telah ditutup.
Mulai Januari 2025, Rusia tidak lagi
memasuk gas gratis ke Transnistria.
Akibatnya, krisis pasokan energi
besar-besaran melanda Transnistria dan
Republik Moldova.
Semua orang kedinginan. Mereka hanya
ingin tidur tenang. Jalanan bahkan lebih
hangat daripada di sekolah.
Ini hanya kesulitan sementara. Semuanya
akan baik-baik saja. Rusia tidak mungkin
meninggalkan kami dalam keadaan apapun.
Sejak satu Januari warga tidak memiliki
air panas, listrik, dan pemanas. Mereka
terpaksa mengenakan jaket tebal di rumah
dan berusaha menghangatkan diri dengan
selimut berlapis-lapis.
Sekarang kompor seperti ini jadi sangat
penting di musim dingin. Karena pasokan
gas kami diputus dan listrik padam, kami
terpaksa menggunakan kompor ini untuk
memasak dan menghangatkan rumah agar
hidup bisa terus berjalan.
Bagi banyak keluarga muda di sini,
kehidupan sehari-hari bukanlah hal
mudah. Karena seringkiali beberapa
generasi tinggal bersama dalam satu
atap. Listrik hanya menyala setiap 4 jam
sekali dan gas sudah menjadi komoditas
mewah yang tak terjangkau.
Saya yakin mereka akan mencapai
kesepakatan. Gas dan listrik akan
tersedia kembali. Semua akan kembali
normal. Mustahil hidup tanpa listrik dan
gas.
Kris energi tidak hanya mempengaruhi
Transnistria, tetapi juga Moldova.
Sekitar 70% listrik Moldova berasal dari
pembangkit listrik yang dioperasikan
dengan gas gratis Rusia di Transnistria.
Kremlin mengklaim bahwa Ukraina belum
memperpanjang perjanjian transportasi
gas dengan Rusia yang telah berakhir
pada akhir 2024. Akibatnya, Rusia tidak
bisa lagi memasuk gas ke Transnistria.
Rusia juga mengirimkan tagihan
pengiriman gas selama 30 tahun terakhir
senilai 700 juta dolar kepada pemerintah
Moldova.
Bantuan datang dari Uni Eropa. Presiden
Moldova menerima 250 juta euro. Lewat
rencana berjangka 2 tahun ini, Moldova
diharapkan bisa mandiri, terbebas dari
gas Rusia. Berkat dukungan Uni Eropa,
Moldova berhasil mengatasi krisis gas.
Namun, kepercayaan rakyat terhadap
pemerintahan Sandu memburuk.
Keadaan tidak akan berubah, malah bisa
jadi lebih buruk.
Di wilayah kekuasaan Moldova sekalipun
menurut jajak pendapat, banyak yang
meyakini bahwa pihak yang bertanggung
jawab atas krisis gas di Transnistria
adalah pemerintah Moldova, bukan Rusia.
Apakah semua ini hanya bagian dari
perang propaganda? Perdana Menteri
Moldova menuduh Rusia menggunakan energi
sebagai senjata politik.
Pertanyaannya, apa yang ingin dicapai
Rusia dengan melemahkan pemerintahan
Moldova dan mengganggu stabilitas negara
tersebut?
Yang memotivasi Putin adalah peta yang
akan tercatat dalam buku sejarah Rusia
setelah ia tiada.
Ya. Jadi tentang seberapa luas nantinya
wilayah yang tercatat berhasil direbut
kembali atau dibebaskan dibawa
kepemimpinannya.
Selama bertahun-tahun Putin
menggambarkan Uni Eropa dan NATO sebagai
musuh. Tapi mengapa? Benarkah kebijakan
pro Barat Ukraina dan Moldova menjadi
ancaman bagi Rusia?
Ini bukan sekedar soal memperkuat
keamanan Rusia, tapi tentang membangun
kembali identitas Rusia itu sendiri,
menguasai kembali wilayah-wilayah bekas
kekaisaran Rusia secara fisik.
[Musik]
Jadi, apakah fokus utama Rusia adalah
memulihkan kembali klaim kekuasaannya
seperti dulu? Mari kita lihat Georgia
dan Ukraina. Pada tahun 2008, Rusia
menginvasi Georgia ketika negara itu
mencoba mengembalikan kendali atas
sebuah wilayah separatis. Rusia kemudian
menganeksasi Krimea pada tahun 2014 dan
menyerang Ukraina pada tahun 2022.
Pada tahun 2024, Rusia dituduh berupaya
mempengaruhi pemilu di Georgia. Indikasi
intervensi Rusia juga terlihat di
Moldova.
[Musik]
Russ
Rusia telah menggunakan berbagai cara
untuk mempengaruhi spektrum politik di
Moldova.
Cara-cara ini juga digunakan di Ukraina
sebagai bagian dari persiapan operasi
militer. Kita juga telah melihat Rusia
menggunakan serangan cyber, penyebaran
disinformasi,
dan campur tangan dalam proses pemilu di
berbagai negara.
Putin tidak perlu menginvasi atau
berperang secara langsung. Dia punya
cara lain yang disebut perang hibrida.
Dengan kata lain, dia cukup menciptakan
kekacauan dan membuat pemerintah Moldova
pusing mengatasinya.
Presiden Moldova mengatakan, aksi-aksi
protes yang terjadi saat ini diorganisir
oleh orang-orang korup yang mencuri uang
negara. Kelompok itu menurutnya telah
menjarah negara, melarikan diri, dan
kini memanfaatkan orang-orang miskin
untuk mengguncang stabilitas negara.
Para pengunjuk rasa adalah orang-orang
yang tinggal di desa-desa. Lalu ada yang
datang ke rumah mereka dan bilang, "Kami
akan berikan kalian sejumlah uang,
tetapi kalian harus ikut sekarang."
Mereka kemudian digiring ke dalam bus
lalu dibawa ke ibu kota. Setelahnya
mereka disuruh berdemonstrasi dan
mengangkat poster-poster tuntutan.
Siapa dalang serangan pada April 2022
yang kita lihat di awal video masih
belum jelas hingga kini. Namun muncul
pertanyaan, mungkinkah serangan di
Transnistria bagian dari perang hibrida
Rusia? Apakah ini hanya kebetulan atau
sengaja dilakukan saat warga Moldova
akan melakukan pemungutan suara tentang
keanggotaan mereka di Uni Eropa?
Itu adalah serangan palsu yang
diorganisir oleh KGB Transnistria di
bawah kendali FSB Rusia.
Bukan berarti orang-orang percaya begitu
saja dengan apa yang sebenarnya terjadi
atau yang mereka klaim terjadi.
Namun hal ini tetap saja menambah arus
informasi yang mengganggu.
Di sisi lain, pihak Prorusia menuduh
Ukraina sebagai dalang serangan
tersebut.
Tiga orang tidak dikenal melepaskan
tembakan ke gedung pemerintah pada
Senin. Mereka memasuki Transnistria
secara ilegal dari Ukraina, melakukan
serangan teroris dan melarikan diri.
[Musik]
Para pengamat di Barat khawatir Rusia
bisa membuka front baru dari
Transnistria.
Pertanyaan utamanya, akankah Putin terus
memperluas pengaruhnya di Moldova?
sejauh mana dia berani melangkah.
Bahaya perang di wilayah ini akan terus
ada selama bertahun-tahun. Kita tidak
tahu sampai kapan. Dalam konteks ini,
upaya Rusia untuk menguasai Moldova akan
semakin meningkat. Eropa akan dipaksa
untuk memainkan peran yang lebih aktif.
Setidaknya untuk menjaga keamanannya
sendiri, lingkungan sekitarnya, dan
perannya di kawasan dan dunia.
Transnistria tetap menjadi wilayah yang
krusial secara geopolitik. Kelompok pro
Eropa berusaha menstabilkan Moldova
dalam perjalanannya bergabung ke Uni
Eropa. Sementara kekuatan Prorusia
menggunakan perang hibrida untuk
mencegah bekas Republik Soviet itu
semakin dekat dengan demokrasi Barat.
Para oligarki meraup keuntungan dari
perpecahan negara di balik layar.
Bagaimanapun, eskalasi di perbatasan
dengan Rumania dapat memaksa NATO
memperkuat kehadiran militernya di
kawasan. Hal ini akan secara signifikan
meningkatkan risiko konfrontasi langsung
dengan Rusia.
Transistria mungkin kecil, tetapi
perkembangannya di masa depan bisa
berdampak luas.
Resume
Read
file updated 2026-02-13 13:06:46 UTC
Categories
Manage