Transcript
eX2DY5zu9E4 • Trauma warga Timur Tengah: Serangan Hamas dan perang Israel di Gaza | DW Dokumenter
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/DWDokumenter/.shards/text-0001.zst#text/0067_eX2DY5zu9E4.txt
Kind: captions Language: id 7 Oktober 2023. Perhatian dunia tertuju ke Timur Tengah saat Hamas menyerang Israel. Membunuh tanpa pandang bulu menyandera warga. Adegan kekejaman di luar n Israel diserang hingga ke pusat. Saya berbaring di sana dan berpikir, inikah caranya saya akan meninggal. Saya rasa 7 Oktober adalah fase baru bagi orang Yahudi, tepat setelah Holocaust. Hari paling berdarah dalam sejarah konflik Zionis Arab. Ini trauma yang sangat serius bagi orang Israel. Saat ini kami merasa ini tidak akan boleh terulang lagi. Israel meresponnya dengan perang. Tujuannya adalah menghancurkan Hamas. Tapi pengeboman dan pengusiran warga Palestina seolah mengulang sejarah kelam mereka. Nakba, malapetaka hilangnya tanah air mereka. Kami diusir dengan tidak manusiawi dengan cara paling mengerikan yang kami alami benar-benar horor. Menurut saya ini lebih buruk daripada Nakba. Kita kehilangan kata saat menggambarkan yang terjadi di Gaza. Saya kehilangan 70 orang lebih anggota keluarga. Kemarin saya kehilangan sepupu saya dan dua anaknya. Ini trauma berat bagi orang-orang di sana. Titik terendah baru dari konflik ini tercapai pada 7 Oktober. Bagaimana kekerasan yang mengerikan ini terus melahirkan gelombang kekerasan tanpa adanya belas kasihan? Kedua pihak tidak menunjukkan empati terhadap penderitaan pihak lain karena trauma mengerikan yang mereka alami di masa lalu. Kedua pihak masih dalam keadaan trauma, dalam keadaan emosi tinggi yang mengeruhkan akal sehat mereka. Trauma apakah ini dan mengapa orang Israel dan Palestina meneruskan siklus trauma ini? Apa arti 7 Oktober bagi masa depan Timur Tengah? Untuk saat ini artinya adalah perang terbuka dan terlama dalam sejarah Israel. Apakah ada harapan? Adakah jalan keluar? Jalur Gaza, sebidang area dengan bentuk memanjang. Lebarnya antara 6 dan 14 km dan panjang 40 km serta berpenduduk padat. Sebelum 7 Oktober, lebih dari 2 juta orang tinggal di sini. Di antara mereka, kelompok militan Islam radikal Hamas sedang menyiapkan serangan besar-besaran. Gambar-gambar ini bukan dari 7 Oktober. Ini video latihan Hamas di jalur Gaza. Mereka berlatih di berbagai model desa dan kota-kota Israel, posisi dan kem militer Israel. Mereka sangat konsisten. Ada pembagian tugas antara mereka yang berperang dan yang menculik. Dan Anda dapat melihat keseluruhan rencana lewat berbagai sudut pandang saat latihan. Di sejumlah lokasi berbeda, Hamas terang-terangan berlatih untuk serangan 7 Oktober. Israel juga bisa melihatnya. Kami melihat video-video ini sebelum 7 Oktober. Kami tahu sebelum 7 Oktober. Saya juga mengatakan ada yang lebih dari video ini. Saya malu mengatakan ada lebih banyak informasi dan video ini juga informasi. Oke, jadi kami melihatnya. Kami sudah tahu rencananya selama satu dekade. Mereka tahu persis apa yang terjadi. Cuma mereka tidak percaya. Sinwar sudah ingin menyerang di titik ini. Pemimpin Hamas Yahya Sinwar dianggap sebagai salah satu dalang 7 Oktober. Mengapa Hamas mengunggah video ini online? Mengapa mereka mengungkap rencananya? Hamas seperti organisasi lainnya butuh publisitas dan propaganda. Dan saya pikir saat itu mereka tengah menggalang dukungan. Mereka ingin dapat legitimasi menunjukkan betapa mereka terorganisasi, termiliterisasi, dan telah menjadi organisasi militer yang berkembang dengan baik. Israel tidak menanggapi video itu dengan serius. Sebagian masalahnya adalah arogansi dan perasaan bahwa kami punya teknologi terbaik, punya pemahaman dan semua yang terbaik. Bagi sebagian jenderal Israel, aktivitas ini terlihat seperti rutinitas dan perilaku normal tentara. Dalam kasus ini, tentara teroris Hamas yang berlatih untuk hari pembalasan. Mereka tidak menganggapnya persiapan untuk serangan yang akan segera terjadi. Kami tahu kami menghadapi organisasi teroris yang selalu ingin melenyapkan kami. Tapi kami selalu menyangkal dan menganggap mereka hanya berlatih. Itulah kesalahpahaman kami. Kebanyakan warga di sisi Israel yang berbatasan dengan jalur Gaza tidak tahu ada serangan besar yang direncanakan di sisi Palestina. Tepat di belakang pagar ini ada keyboots near Oos. Sekitar 400 orang tinggal di sini. Ini rumah Hadas Calderon. Jarak kami sekitar 2,5 km dari pagar. Bukan dari Gaza, tapi dari pagar. Di balik pagar ada kanunis dan desa-desa Arab lainnya. Seperti kebanyakan keyboots, near ozalah komunitas pertanian yang sengaja dibangun. Sebagian besar penduduknya berhaluan kiri dan liberal. Saya lahir di sini, tinggal di Tel Afif lalu berkeliling dunia. Saya kembali dan berkeluarga. Saya bertemu mantan suami saya. Kami punya empat anak dan saya menjalankan sebuah klinik pengobatan alternatif. Situasinya tidak tenang. Selama 20 tahun ada banyak serangan roket teroris. Kehidupan di sini seperti antara di surga dan neraka. Sebagian besarnya surga tenang, hijau, dan menyenangkan. Tapi sekali atau dua kali setahun berubah jadi neraka. Anak-anak tumbuh dalam bayang-bayang situasi ini. Mereka menjadi cemas. Apalagi Er putra bungsu saya. Dia takut sendirian. Saya harus menidurkannya setiap malam. Sering terpikir untuk pindah, tapi tidak mudah. Jauh di lubuk hati. Saya tahu tumbuh seperti ini tidak sehat untuk anak-anak. Tapi akar kami di sini. Ini rumah kami. Tinggal sedekat itu dengan pagar hanya mungkin dengan adanya jaminan keamanan dari negara Israel. Keamanan bukanlah kata yang tepat. Bagi kami ini perang eksistensial. Ini adalah hakikat kami untuk mempertahankan hidup. Ini bukan sekadar keamanan dan setiap politisi yang saya ingat selalu mencalonkan diri sebagai penjaga keamanan. Anda terpilih jadi perdana menteri karena alasan keamanan, bukan situasi ekonomi. Trauma besar bagi Israel adalah orang Yahudi tidak pernah merasa aman di manapun di dunia ini. Sebagai orang Yahudi, kami akan selalu hidup di sekitar orang-orang yang seolah ingin membunuh kami. Di manapun itu, di selatan, utara, di luar negeri, akan selalu ada orang yang berpikir bahwa kami tidak pantas hidup. Kami dibesarkan dengan cerita-cerita dari orang tua. Sebagian dari cerita itu berasal dari holokaust. Mereka dibunuh, dianggap hama di seluruh Eropa dan Timur Tengah. Ada semacam pola pikir bahwa kami dapat hidup di mana saja, tapi perlu terus waspada. Sejarah panjang pogrom Holocaust. Orang-orang Yahudi di Israel masih menyandang derita ini. Ini negara yang kami dirikan setelah SOA. setelah Holokaust yang dibangun dari Abu sebagai tempat berlindung bagi orang-orang Yahudi dari seluruh dunia. Dan Israel dianggap sebagai satu-satunya tempat di dunia di mana orang Yahudi bisa merasa aman. Tapi keamanan sejati masih sulit diraih. Negara-negara Arab di sekitarnya tidak menerima resolusi PBB untuk pembentukan negara Yahudi. Lima di antaranya menyerang Israel. Holocaust bukan satu-satunya trauma yang dihadapi Israel. Ada perang kemerdekaan saat Israel diserang semua negara Arab di sekitarnya. Negara ini telah berperang selamanya. 48 56 67 dua kali intifada dan perang saat ini kami terlibat pertempuran dan konfrontasi terus-menerus dengan musuh tak pernah berhenti. Saya rasa mustahil mengerti psikologi Israel tanpa memahami keinginan mereka yang mendambah rasa aman dan perlindungan. Di Israel bagian selatan, dambaan akan rasa aman ini terwujud dalam bentuk baja dan beton. Israel ingin melindungi diri sendiri setelah melepaskan diri dari Gaza pada 2005. Pagar perbatasan yang sangat modern untuk menangkal serangan. Saat pagar selesai dibangun pada 2021, biayanya diperkirakan lebih dari Rp16 triliun. Dengan tembok ini, kami ingin memberi rasa aman pada warga di selatan dan membuat wilayah yang indah ini tumbuh dan makmur dengan panjang 65 km dan tinggi 6 m. Tembok ini dilengkapi teknologi dengan kamera pengintai, detektor gerakan, dan senapan mesin otomatis. Tembok ini diciptakan karena perkembangan yang terjadi di perbatasan. Israel menemukan Hamas telah menggali terowongan di bawah perbatasan untuk membawa orang-orang mereka ke dalam kibut Zim ke desa-desa. Tembok besi. Kami akan membangun tembok besi, sistem pertahanan yang kuat yang menghalangi pihak yang ingin menyerah. Kami juga memasang banyak sensor di bawah tanah yang akan berbunyi jika ada yang berusaha melewati rintangan. Saya rasa tidak ada negara di dunia yang punya teknologi seperti ini. Hingga 7 Oktober 2023, Israel percaya penghalang ini tidak dapat ditembus dan bisa menjamin keamanan. Menurut saya, tembok pengaman di Gaza dan perbatasan tepi barat punya dua fungsi. Pertama, menjamin keamanan Israel. menempatkan mereka dalam geto sukarela dengan tembok dan pembatas yang dirancang untuk memberi rasa aman. Tapi tembok dan pembatas itu punya tujuan lain. Memastikan Israel tidak perlu berurusan dengan Palestina. Mereka menghilang di balik tembok dan pagar. Dengan begitu tidak ada yang perlu berhadapan atau mendengar tentang mereka. Israel tidak lagi diingatkan tentang mereka. Mereka di sana dan kami di sini. Itu menenangkan pikiran. Saya rasa orang Israel lebih suka tidak memikirkan kehidupan orang Palestina di Gaza. Itu sangat menyakitkan dan lebih mudah untuk tidak memikirkannya. Publik kehilangan minat. Saya tampil di televisi. Kami ada di jaringan televisi terbesar di Israel. Jika kami terlalu banyak menyiarkan kejadian di jalur Gaza, di tepi barat dan lainnya, kami kehilangan pemirsa. Betul. Jika dikatakan orang-orang tak mau mendengar kejadian di sana, kami sudah muak menderita. Kami tidak mau mendengarnya. Mereka takut, orang-orang takut. Sama alasannya kenapa mereka tidak mau belajar bahasa Arab. Mereka tidak mau berhubungan dengan bahasa itu, dengan orang-orangnya. Mereka itu musuh. Saya tahu pasti bahwa orang-orang yang selamat dari Holocaust tidak mau mendengar bahasa Jerman dan mengunjungi Jerman. Mereka mau melepaskan diri dari itu. Saya rasa sama dengan bahasa Arab itu bahasa musuh. Dan musuh itu tinggal di sini, kota Gaza. Di sisi lain pagar, hanya ada dua penyeberangan perbatasan ke Israel dan negara Israel mengendalikan segala yang masuk dan keluar. Basar Albilbisi lahir di sini. Dia belajar farmakologi dan bekerja di apotek orang tuanya sampai perang dimulai. Hidup sehari-hari di balik pagar itu sulit. Bahkan sebelum perang usia saya 23 tahun. Saya tidak pernah tahu ada hari tanpa pemadaman listrik di Gaza. Orang-orang di sini hidup dalam kemiskinan dan banyak hal dibatasi. Pendudukan Israel terus-menerus menekan kami. Mereka mau kami meninggalkan negara kami. Mereka mau menguasai seluruh Palestina. Telah lama mereka menekan rakyat Palestina, terutama kami di Gaza. Blokade kesulitan berpergian, mewujudkan impian untuk bergerak. Semuanya sulit. Bahkan sebelum 7 Oktober sikap pasrah dan depresi menyebar luas. Tapi Basyar tetap optimis. Kesukaannya adalah menari dabk tarian nasional Palestina. Basyar salah satu penari terbaik di Gaza dan biasa tampil rutin sampai perang tiba. Saya merasa seolah terbang saat menari dap. Tidak ada yang membatasi saya. Saya bebas. Bisa bergerak sesuka hati, bisa tertawa, bersedih, bisa melompat di udara. Saya bisa mengekspresikan diri. Baginya menari adalah bentuk terapi. Terapi kelompok selalu seperti itu. Setelah setiap serangan, kami menari di antara puing dan abu. Kami tersenyum di tengah rasa sakit. Itu cara terbaik menggambarkannya. Kami mau sampaikan pesan bahwa orang-orang di sini berjuang untuk impian dan ingin mereka capai. Kami tidak beda dengan orang-orang di luar sana. Hanya saja mereka punya lebih banyak kesempatan. Basyar percaya bahwa tarian punya kekuatan penyembuh. Selama perang kami mengajari anak-anak cara sederhana menari dapke agar mereka berlatih dan merasakannya. Itu cara membebaskan pikiran mereka. mengajari dapke terutama ke anak-anak seperti menanam benih yang akan tumbuh subur. Tujuannya bukan supaya mereka jadi penari terbaik, tapi menghubungkan mereka dengan kampung halaman dan supaya mencintai tanah air. Kampung halaman yang hanya dikenal Basyar dan anak muda lainnya lewat cerita. Sekitar 70% penduduk Gaza adalah keturunan orang-orang yang pindah atau melarikan diri. Keluarga kami sering membahas NBA 1948. Cara mereka melarikan diri, mereka harus meninggalkan rumah dan bertahan hidup. Kami tanya apa mereka pergi tanpa pemberitahuan. Tidak terbayang biadabnya mereka. Tekanannya sangat besar sampai mereka harus pergi nakba. Tidak ada peristiwa lain yang dampaknya sebesar itu dalam sejarah Palestina. Kata nakba berarti malapetaka. Kata yang dipakai orang Palestina untuk menggambarkan peristiwa pada 1947 dan 1948. Pada 1948, semua negara Arab di sekitarnya menyerang Israel secara bersamaan. Dalam konflik yang dimulai sebagai peran defensif terhadap agresi Arab, Israel mengusir orang Palestina dari banyak wilayah tersebut atau orang Palestina melarikan diri karena takut dibantai. BA adalah kampanye strategis yang disengaja untuk membersihkan tanah bersejarah Palestina sebanyak mungkin dari populasi nonyahudi. Saya rasa efeknya sangat mendalam bagi psikologi Palestina. Cerita Nakba masih membekas di hati dan pikiran keluarga-keluarga Palestina. diwariskan dari generasi ke generasi dan trauma itu akan terus hidup. Contohnya yang saya dengar dari nenek saya, kadang saat nenek lihat pohon melati yang cantik, katanya pohon melati ini mirip punya kami di Java. Sampai hari ini ayah saya masih menyimpan kunci rumah mereka. Dulu ayah mengajak kami ke tanah kami di Birseba. Dan saya ingat ketika masih kecil kami pergi ke rumah Bibi dan di sana ada pesta pernikahan. Saya sangat senang bisa melihat tanah itu. Peristiwa ini sangat luar biasa dalam sejarah Palestina karena banyak yang mengalami trauma secara langsung. Dan bukan hanya satu peristiwa saja, itu trauma berkepanjangan. Banyak warga Palestina tidak diizinkan kembali setelah perang 1948. Mereka dan keturunannya masih belum punya rumah sampai hari ini. Semakin Nakba dikaitkan dengan masa lalu Palestina, semakin penting hal itu dalam ingatan kolektif mereka. Menurut saya dalam ingatan orang Palestina, Nakba sudah mencapai dimensi yang membuat perdamaian mustahil dilakukan tanpa mempertimbangkan nakb adalah dasar dari segalanya yang membuat mereka terus maju yang menciptakan ideologi, kekerasan, agresi dan kemarahan dan penghinaan. Dan semua emosi ini asalnya dari nakbah. Itu yang utama. Keyakinan bahwa dahulu semuanya lebih baik dan tiadanya harapan terkait blokade. Ini dasar sempurna bagi berkembangnya radikalisme. Hidup di Gaza sangatlah sulit sebelum 7 Oktober. Tingkat penganggurannya salah satu yang tertinggi di dunia saat itu dengan pembatasan pergerakan yang sepenuhnya dikontrol dan tingkat masalah kesehatan mental juga sangat tinggi. Berbagai studi menyimpulkan bahwa lebih dari 90% anak-anak Palestina pernah trauma sekali atau berkali-kali karena bom, perang, kehilangan kerabat, penghancuran rumah, dan sekolah mereka. Banyak dari mereka yang benar-benar depresi dan cemas. Mereka marah, burka. Beberapa dari mereka bilang kepada saya bahwa mereka tidak mau ke kamar mandi kecuali ibu mereka ikut. beberapa akan ikut ke manaun ibu atau orang tua mereka berada dan tidak mau beranjak. Bagi banyak warga Palestina di Gaza, penyebabnya jelas bukan Hamas, tapi Israel. Pada Maret 2018, protes besar dimulai di Gaza. 70 tahun setelah NBA. Setiap Jumat, ribuan orang berjalan menuju pagar perbatasan. Bagi saya, Mars of Return adalah acar akbar aktivisme tanpa kekerasan Palestina guna menuntut hak-hak sah kami sebagai warga Palestina. Untuk diakui sebagai bangsa, kami layak berdiri sebagai negara dan diakui bahwa kami telah diusir dari komunitas, tanah, dan desa kami pada 1948 lewat peristiwa nakba, lewat kampanye pembersihan etnis. Ini cara lain orang Palestina bilang, "Kami di sini, kami manusia yang berhak punya negara atau daerah. Kami lelah dengan kehidupan ini, dengan blokade ini. Kami lelah dengan pengeboman. Kami mau hidup normal seperti manusia lainnya." Selama hampir 2 tahun, tiap minggunya ribuan orang Palestina berdemonstrasi. Suasana memanas dan semakin agresif. Hamas mengeksploitasi kemarahan ini. Orang Palestina sangat frustrasi dengan penutupan karantina wilayah dan blokade atas Gaza. Dan Hamas memanfaatkan perasaan itu yang sama sekali tidak diprakarsai oleh Hamas. Yahya Sinwar, pemimpin Hamas di jalur Gaza segera mengambil alih gerakan demonstrasi ini. Hari ini rakyat kita memulai fase baru dalam sejarah perjuangan dan perlawanan nasional. Di jalan menuju pembebasan dan arah kembali. Hari ini rakyat kita di Gaza, di tepi barat, di wilayah pendudukan 1948 dan di luar negeri maju bersama untuk memulai fase baru dan memperbaiki arah. Pemerintah Israel khawatir saat warga Palestina menyerbu pagar, militer merespons dengan peluru karet, gas air mata, kadang peluru tajam. Siapapun yang mendekati pagar artinya mempertaruhkan nyawa. Ratusan orang tewas, puluhan ribu lainnya luka-luka. Banyak warga Palestina yang tidak bersalah tewas selama March of Return. Jelas ini kegagalan bagi pencetusnya. Tapi semua usaha warga Palestina untuk mencapai apapun hingga saat ini hampir selalu gagal. Mereka mencoba cara diplomatik, negosiasi, proses Oslo dan dua intifada. Sampai saat ini semuanya gagal. Yahya Sinwar, saya rasa sejak peristiwa itu berakhir, dia mulai memikirkan serangan yang lebih luas dan dramatis terhadap Israel. Dan tentu saja itu 7 Oktober. Sejak 2017, Yahya Sinwar menjabat sebagai petinggi Hamas dan pemimpin de facto di Gaza. Jelas Yahya Sinwarlah dalang 7 Oktober. Saya pernah bertemu dia, tapi tidak tahu seberapa jauh saya mengenalnya. Dia orang yang sangat licik, cerdik, dan penuh perhitungan. Kata orang, dia nyari seperti psikopat. Entahlah, dia sangat karismatik, kepribadiannya sangat kuat. Dia sangat tegas dan dia sangat kejam, sangat brutal. Jika menggambarkan orang seperti Sinwar, dia orang yang ideologi adalah hal yang paling penting baginya. mengumumkan tujuannya menghancurkan Israel dan membunuh orang Yahudi di negara itu. Orang-orang kami akan memenuhi perbatasan seperti banjir bandang dan mencerabut keberadaan kalian. Mereka akan memakai pisau untuk menikap, mobil untuk menabrak, atau bom molotof untuk membakar jantung kalian. Sinwar lahir di jalur Gaza pada 1962 dari orang tua pengungsi. Dia anggota pendiri Hamas dan salah satu tokoh paling radikal. Di usia 20-an dia dipenjara oleh Israel. Dia dihukum seumur hidup. Dia dipenjara karena membunuh kolaborator Palestina, bukan karena membunuh warga Israel. Bisa jadi dia mencekik beberapa orang dengan tangan kosong. Dia dipenjara karena itu, bukan karena membunuh Yahudi, tapi orang Palestina. Dia menggunakan lamanya masa hukuman untuk mempelajari musuhnya. Pikirannya yang tajam membuatnya kian berbahaya bagi Israel. Orang bilang Sinwar banyak menghabiskan waktunya di penjara menonton TV Israel. Berusaha memahami psikologi orang Israel. 22 tahun di berbagai penjara di Israel, dia membaca semua yang bisa dibaca. Dia lancar berbahasa Ibrani. Saya melihatnya sebagai pemimpin Palestina yang mengenal masyarakat Israel lebih baik dibandingkan pemimpin Palestina lainnya. Dengan membaca sejarah Israel, Holocaust, dan pogrom lainnya di masa lalu, mereka mengerti perasaan dan trauma orang-orang Yahudi. Kesannya seolah Yahya Sinwar mempelajari mental Israel untuk mencari tahu cara memaksimalkan penderitaan mereka. Sepertinya dia benar-benar mengerti cara membuat orang Israel geram. Rekan sesama narapidana takut dan hormat pada Sinwar. Dia menempatkan diri sebagai pemimpin tahanan dan membuktikan dirinya kejam dan kasar. Pada 2011, Shinwar dibebaskan bersama sejumlah pengikut setianya dalam pertukaran tahanan. Netanyahu membebaskannya bersama dengan ribuan tahanan Palestina lain untuk membebaskan seorang tentara Israel, Gilat Shalid, yang dipenjara hampir 5 tahun pada 2011. Ada banyak tekanan opini publik dan pada satu titik Bibi menyimpulkan bahwa secara politis lebih baik menyerah dan membebaskannya meski banyak lembaga keamanan yang keberatan. Meski saya tidak mengecam kesepakatan ini, hari itu saya dan teman-teman berdiri di penjara sambil menangis melihat semua pembunuh yang kami buru selama bertahun-tahun dibebaskan. Dengan gerakan ini, pita dan bendera Hamas. Bagi saya itu hari yang kelam, sebuah bencana. Sinwar disambut seperti pahlawan. Calon dalang 7 Oktober itu segera memperluas pengaruhnya dalam struktur kekuasaan Hamas dan ia berhasil meningkatkan popularitasnya. Sejak keluar dari penjara, dia berjanji untuk melakukan apapun untuk membebaskan sesama tahanan yang tertinggal. Kita harus berasumsi Sinwar mempelajari bahwa orang Israel tidak akan meninggalkan siapapun. Dia punya visi membebaskan semua tahanan. Masalah ini sangat sensitif bagi masyarakat Palestina. Dia memenangkan pikiran dan hati masyarakat dengan menampilkan diri sebagai pelindung dan penyelamat tahanan. Nasib tahanan Palestina di penjara Israel masih menjadi isu utama di Gaza. Sinwar tahu bahwa ia bisa membebaskan mereka sebagai ganti pembebasan Sandra Israel. Tindakannya menunjukkan ia telah mempelajari bahwa penyanderaan bisa sangat efektif. Tapi kita juga melihat ia merasa bisa melakukan lebih banyak lagi. Saya bisa bebaskan tahanan secara besar-besaran. Tapi ada yang jauh lebih besar. Saya bisa merusak fondasi keamanan dan kepercayaan diri Israel. Dan itulah tujuannya. Awalnya Israel tidak menyadari rencana ini. Sinwar tampak fokus pada Gaza dan upayanya meraih kekuasaan. Keluar dari penjara bersama beberapa rekan kepercayaannya. Dengan cepat dia singkirkan semua pemimpin termasuk Ismail Haniah yang setelah kudeta di Gaza menjadi perdana menteri pemerintahan Hamas. Hania yang terbunuh di Teheran pada 2024 berangkat ke Qatar. Sinuar dan anak buahnya tidak membuang waktu. Mereka mengambil ahli biro politik, mengisinya dengan orang-orang dari cabang militer. Kepemimpinan politik lumpuh dikirim keluar Gaza. Dia memindahkan pusat kekuasaan ke Gaza. Untuk pertama kalinya dalam dekade terakhir, pusat kekuasaan Hamas ada di Gaza, bukan di luar negeri dengan pemerintah di pengasingan. Dalam pemilihan internal pada 2017, Yahya Sinwar diangkat menjadi kepala Hamas di Gaza. Dia tahu cara memobilisasi rakyatnya. Hamas telah berdiri dan mengakar dalam kesadaran Palestina, suka atau tidak, setuju atau tidak, dan saya pribadi tidak setuju dengan hampir semua yang dikatakan Hamas. Jika Anda menjadi korban, disudutkan, dipukuli tiap hari dan ada tangan yang diulurkan kepada Anda, Anda akan memegangnya tangan apapun itu sesederhana itu. Jadi, Sinwar tampil dengan visi menciptakan pasukan khusus, Nuhbah yang menyusup ke Israel. Dia ingin memungkinkan Hamas melawan Israel dengan cara yang lebih baik dari sebelumnya. Alat penting dalam perang melawan Israel, terowongan. Di bawah rezim Hamas, jaringan terowongan bawah tanah telah dibangun di seluruh jalur Gaza selama bertahun-tahun. Jadi, terowongan adalah cara mereka untuk bersembunyi dari angkatan udara Israel. itu juga memungkinkan mereka untuk menjalankan semua rencana itu, yaitu memproduksi rudal dan roket sehingga Israel tidak akan bisa menyerang dari udara. Kabarnya ada lebih dari 1000 terowongan di jalur Gaza sepanjang beberapa kilometer. Jaringan ini dikenal sebagai Metro Gaza. Hamas mengendalikan pembangunan dan pengoperasian terowongan. Senjata diproduksi dan diangkut di sini. Milisi Hamas menggali pipa air untuk pembangunan roket. Seperti yang ditunjukkan Hamas dalam video yang diunggah online ini. Ada sesuatu yang meresahkan tentang pipa air. Pipa yang seharusnya membawa esensi kehidupan ini dipakai untuk membuat instrumen pembunuhan. Hal itu sedikit menggambarkan keadaan pikiran militan Hamas. Pada dasarnya itu adalah kultus kematian. Hakikat kehidupan dalam pemikiran Islam radikal adalah kehidupan setelah kematian. Bukan di dunia ini. Kita tidak memahaminya karena kita punya cara berpikir bar. Hamas hanya peduli satu hal, yakni pemberantasan negara Israel. Dari sudut pandang mereka itu lebih utama dibanding hal lain, termasuk kesejahteraan penduduk. Roket dan rudal dalam perang suci melawan iblis adalah sah. Sesederhana itu, Hamas juga bisa mengandalkan sekutu-sekutunya yang kuat. Saya yakin itu dilakukan dengan dukungan Iran dan Hizbullah karena mereka juga melakukan hal sama di negara mereka. Iran adalah negara pertama yang mendukung Hamas secara politik dan militer. Republik Islam di Teheran masih menjadi sekutu terpentingnya. Hubungan Iran dan Hamas dari awal anggapan bahwa musuh dari musuh adalah teman saya. Dan karena Hamas menentang Israel secara otomatis mereka berhubungan baik dengan Iran. Di tengah blokade jalur Gaza, Hamas menerima bantuan dari Teheran untuk memastikan kelangsungan hidupnya. Jelas Hamas bergantung pada dukungan Iran dalam hal dana, amunisi, senjata, pelatihan. dan perencanaan. Iran melakukan operasi besar-besaran dari Iran ke Sudan, dari Sudan hingga Gaza dan mendukung mereka dengan senjata. Lewat proksi Iran di Timur Tengah yang disebut juga cincin api, Iran hendak mengepung Israel dengan beragam organisasi di Yaman, Irak, Suriah, Lebanon, dan Gaza tanpa risiko konfrontasi langsung. Sementara Israel membangun hubungan dengan lawan-lawan Iran. Pada September 2020, Israel menandatangani perjanjian Abraham dengan Uni Emirat Arab dan Bahrain yang dimediasi Amerika Serikat. Maroko dan Sudan kemudian bergabung. Fokusnya adalah membangun hubungan diplomatik, merebut kekuasaan untuk Benjamin Netanyahu. Sementara Palestina disingkirkan. Pesawat Israel pertama terbang terjadwal ke Emirat. simbol normalisasi hubungan. Ada kekecewaan besar saat melihat tingkat normalisasi ini terjadi. Penerbangan harian kontinu orang Yahudi Israel ke Dubai mengadakan pesta dan perayaan dan berbisnis di sana. Kedua pihak bolak-balik terbang di atas kami penduduk Palestina. Sementara kami masih menderita di bawah pendudukan ini. Dengan menandatangani perjanjian Abraham dan mencapai kesepakatan dengan Arab Saudi, pemerintah Israel di bawah Netanyahu berusaha mengabaikan Palestina. Tapi ini adalah perilaku anak kecil yang menutup mata dengan tangannya sewaktu takut atau tidak mau menghadapi kenyataan. Puncak normalisasi ini adalah kunjungan pertama Presiden Israel ke Abu Dhabi. Israel merayakan kesepakatan ini sebagai titik balik besar. Tapi bagi Palestina itu melambangkan ancaman. Menyingkirkan pertanyaan tentang masa depan mereka. Mereka memprotes pengkhianatan ini. Palestinian. Saya rasa orang Palestina dan banyak orang lain di dunia Arab merasa perjanjian Abraham mewakili mereka yang menandatanganinya. Bukannya mewakili harapan, hati nurani, dan aspirasi bangsa Arab. Dan tentu saja bukan orang Palestina. Dan saya pikir perjanjian Abraham adalah alat lain untuk menyangkal sejarah dan hak-hak Palestina. Orang Palestina bisa sangat mendapat manfaat dari perdamaian yang lebih luas. Mereka harus jadi bagian dari proses itu. Tapi mereka tidak boleh punya hak veto atas proses tersebut. Dia dengan sangat arogan mengira bisa memaksakan fakta ke Palestina bahwa dia akan segera menandatangani perjanjian dengan Arab Saudi. Meskipun Arab Saudi bersi keras bahwa jalan menuju negara Palestina harus menjadi bagian dari perjanjian itu. Sebuah Timur Tengah yang baru di peta tidak ada Gaza dan tepi barat pemicu psikologis trauma masa lalu Palestina. Saya rasa ada korelasi langsung antara serangan 7 Oktober dan perjanjian itu, terutama dengan Arab Saudi di mana jalur Gaza, Hamas, solusi politik untuk situasi Palestina diabaikan. Menurut saya, Hamas berusaha merebut kembali kekuasaan dalam negosiasi untuk menentukan masa depan alih-alih menjadi terpinggirkan. Lalu ada masalah yang belum selesai tentang pemukiman Israel di tepi barat dan Yerusalem Timur yang melanggar hukum internasional. Saat ini ada 150 permukiman dengan lebih dari 700.000 penduduk. Ini berarti satu dari 14 orang Israel tinggal di tepi barat yang diduduki termasuk di Yerusalem Timur. Setiap petak tanah diperebutkan. Pemerintah ekstrem kanan Netanyahu mengklaim hak eksklusif atas yang disebut area Yudea dan Samaria yakni tepi barat. Para pemukim bisa menukar kekuatan politik mereka dengan keinginan dari likud secara umum dan Netanyahu secara pribadi untuk menguasai Israel. Jadi yang kecil justru mengendalikan yang besar. Israel adalah sebuah proyek, sebuah gerakan, sesuatu yang terus berkembang. selalu ingin lebih banyak tanah, lebih banyak rumah, dan merebut lebih banyak lahan dengan mengurangi jumlah orang Palestina. Makin sedikit orangnya, makin banyak tanahnya. Hal ini selalu membawa kembali ingatan akan nakba. Banyak orang Palestina merasa sangat trauma dengan pengalaman diperiksa tentara sebelum menyeberangi perbatasan. Pemicu trauma yang lebih jelas adalah pengambil alihan rumah mereka. Pastinya segala bentuk tindakan militer atau kekerasan Israel adalah pemicu trauma bagi mereka. Saya rasa ada efek pemicu di kedua pihak. Kekerasan militer Israel membuat warga Palestina takut. Itu wajar. Mereka takut diusir lagi, dipaksa melarikan diri lagi. Dan warga Israel takut serangan teror terhadap Israel akan direncanakan dan dilakukan lagi. Saya rasa yang kita lakukan di tepi barat dengan meningkatnya jumlah pemukim akan merusak masa depan negara Yahudi Israel. Tidak diragukan lagi. Situasi semakin buruk pada musim semi 2021. Dimulai dengan protes di area Syekh Jarah di Yerusalem Timur terhadap keputusan pengadilan yang mengusir warga Palestina dari rumah-rumah mereka untuk pemukim Israel. Saya rasa Syekh Jarah menjadi ekspresi simbolis kampanye pembersihan etnis yang terjadi di Yerusalem dan sekitarnya. Terutama karena dipimpin oleh para pemukim fanatik yang sangat ekstrem. Lalu mereka membuatnya sangat jelas. Hinaan, serangan, cercaan terhadap orang Palestina yang tinggal di sana dan perebutan rumah dan penyingkiran perabotan membuangnya dengan brutal. Menyadarkan banyak orang bahwa ini adalah hal yang terus berlanjut. Warga Palestina dan beberapa warga Israel sayap kiri memprotes pengusiran tersebut. Di tengah situasi yang memanas, bentrokan pecah di Bukit Bait Suci dan polisi Israel menyerbu Masjid Al-Aqsa, tempat suci ketiga umat Islam. Hamas memanfaatkan kemarahan orang-orang Palestina. Hamas merasa pantas menggambarkan diri sebagai penjaga tempat suci Allaqsa di Yerusalem. Jerusalem. Hamas menembakkan roket. Israel merespons keras seperti biasa. Perang pecah lagi dan ratusan orang tewas. Rumah Yahya Sinuwar di jalur Gaza juga hancur dalam serangan. Tapi saat gencatan senjata terjadi, dia keluar dari reruntuhan karena rumahnya hancur dan duduk di kursi di antara reruntuhan untuk menunjukkan bahwa dia selamat dan akan bertahan. Dan ya itu tindakan pembangkangan. Setelah operasi khusus ini, Israel percaya bahwa kekuatan Hamas akan tertahan. Seperti kata kepala intelijen saat itu, 2 seteng tahun lalu, mereka akan tertahan setidaknya selama 5 tahun ke depan. Ternyata dia salah. Pada awal 2023, 10 bulan sebelum 7 Oktober, Israel punya kekhawatiran sendiri. Negara itu diguncang demonstrasi. Ratusan ribu orang turun ke jalan. Mereka memprotes reformasi peradilan kontroversial oleh pemerintah yang bertujuan membatasi kekuasaan Mahkamah Agung. Tekanan bagi Netanyahu terus meningkat. Ada laporan inteligas bahwa mereka paham situasi di Israel sangat buruk karena sengketa reformasi peradilan. Pada saat yang sama, situasi keamanan menegang. Unit pengawasan IDF memantau aktivitas mencurigakan di perbatasan Gaza. Dalam dua atau 3 minggu sebelum serangan, para pengintai mengawasi dan melihat semua latihan di perbatasan dan mereka diperintahkan untuk tutup mulut. Kalian tidak tahu apa-apa tentang strategi itu. Kami tahu mereka terhalang dan tidak ada ancaman. Tapi saya rasa jika kita tidak mau melihat sesuatu, kita tidak akan melihatnya. Jika Israel mengawasi saluran dan TV, radio, dan surat kabar Hamas, slogan utamanya adalah jihad, jihad, jihad. Jelas ada yang sedang terjadi di jalur Gaza. Pendaratan amfibi, tank tiruan, pertempuran dari rumah ke rumah. Pada September, kelompok bersenjata Palestina melakukan latihan gabungan untuk situasi ini. Media Israel melaporkan latihan ini, tapi pemerintah diam saja. Tapi intelijen sudah lama mengetahui rencana tembok Kiko, cetak biru Hamas untuk serangan skala besar. Kami tahu rencana mereka. Kami punya banyak dokumen yang terang-terangan berisi rencana mereka. Sebagian besar bahkan bukan rahasia. Pertanyaan, apakah ini sekadar latihan muncul tiga atau emp hari sebelum serangan? Dan semua orang dari sistem intelligence bilang bahwa ini cuma latihan. Suatu kesalahan perhitungan yang luar biasa dengan konsekuensi yang mengerikan. Pada titik ini, orang-orang di Israel merasa aman. Sampai-sampai ada festival musik di dekat jalur Gaza. Kami berangkat dari rumah sekitar tengah malam. Katanya ini akan jadi festival besar. Artis-artis didatangkan dari luar negeri dan akan sangat keren. Kesempatan untuk bersukaria. Saya tidak bertanya di mana tempatnya. Lalu saya lihat Gaza dinavigasi dan tanya kenapa kita sedekat ini dengan Gaza. Saat kami tiba, saya melihat banyak polisi, keamanan, dan militer. Saya pikir, "Oke, kita aman. Semua akan baik-baik saja. Kemungkinan paling buruknya ada tembakan roket. Perasaan itu tidak bisa digambarkan 6 jam terkeren dalam hidup saya. Kami melompat, bersenang-senang. Ini lebih dari sekadar musik. 6 Oktober sekitar 4000 orang berkumpul untuk menari di Gurun Negev. hanya 5 km dari perbatasan ke Gaza. Di sisi lain pagar, Hamas memulai serangan mereka terhadap Israel. Tahap 1. Pertama, mereka mengaktifkan semua telepon seluler dengan kartu SIM Israel yang dibeli secara bebas di pasar Israel. Ini salah satu tanda bahwa Israel mestinya menempatkan seluruh pasukan di perbatasan. Jika ingin berkomunikasi, mereka tidak bisa memakai telepon Palestina yang tidak bisa dioperasikan di Israel. Masalahnya kami gagal memahami bahwa tujuan aktivasi ini hanya satu. Di Tel Afif, komunitas intelligenten menerima peringatan. Kami tahu ada rapat video para petinggi militer. Mereka tahu ada hal berbeda yang sedang terjadi dan mereka memutuskan untuk membahasnya lagi besok paginya terlambat. Serangan dimulai malam itu juga. Sekitar pukul .00 Pagi, orang-orang di pihak Hamas berkumpul di masjid dan tempat-tempat lain. Jadi, ada kejadian luar biasa di mana 3000 milisi Hamas dipanggil ke masjid. Bukan lewat telepon atau radio, tapi lewat utusan langsung. Diperintahkan mengambil senjata dari rumah dan melapor untuk bertugas. Mereka masih tidak tahu mereka akan menyerah. Mereka pikir itu latihan. Masjid adalah salah satu tempat yang di bawahnya ada amunisi dan semacamnya. Hanya beberapa komandan yang tahu serangan akan terjadi. Orang tingkat bawah dan saya berbicara dengan mereka. Mereka baru tahu pada dini hari. Pukul 629 pagi, Hamas meluncurkan ribuan roket. Mereka mulai dengan roket dan rudal karena mereka tahu orang Israel terbiasa dengan rudal dan roket. Di seluruh negeri, pihak berwenang mengumumkan siaga merah. bukanlah operasi biasa kalau ada 3000 atau 4000 rudal yang bisa dilihat di layar TV di seluruh negeri. Di seluruh negeri ada artilleriy ruda. Jadi banyak orang paham bahwa saat itu akan ada infiltrasi. Tapi tidak ada yang mengira akan sebesar itu. Tujuan serangan roket itu adalah menutupi motif operasi yang sebenarnya. Hamas menggunakan drone udara untuk menjatuhkan granat ke menara-menara, melumpuhkan kamera, sensor, dan senjata otomatis. Hamas dengan cerdik merencanakan pelumphan sensor-sensor itu di awal serangan. Menembak sangat mudah. Sekitar 3.000 simpatisan bersenjata lengkap dari Hamas dan milisi lainnya maju ke pagar perbatasan. Saat tiba di pagar, mereka semua diberitahu ini bukan latihan, kita akan masuk. Lalu mereka meledakkan pagar di puluhan titik. Saya rasa di menit-menit terakhir Shinuar memutuskan menyerang 60 titik penyeberangan, bukan empat atau lima, untuk menyandera kembali lalu menegosiasikan pertukaran. Setiap unit bertanggung jawab atas tempat tertentu. Entah itu pangkalan militer, kota, atau keyboots. Jadi, setiap orang punya misi. Mereka menyusup ke Israel dengan skoter, truk pick up. Mereka tidak tahu tentang misi lainnya. Mereka sangat fokus, sangat spesifik. Pelaksanaannya sebagus itu. Ribuan tentara Hamas menyerbu perbatasan. Hamas tahu tentara Israel tidak akan beroperasi penuh karena 7 Oktober adalah hari libur Yahudi dan banyak pasukan ditempatkan di tepi barat. Titik-titik pertahanan yang kuat sudah diserbu. Lalu mereka menyerang dengan para layang bermotor. Dalam perjalanan mereka melihat festival musik itu mengejutkan. Mereka tidak punya informasi intelijen tentang pesta atau festival ini, tapi itu sangat bagus bagi mereka. Ada ribuan target. Penyelenggara festival diberitahu adanya serangan. Tiba-tiba musik berhenti. Saya mendongak dan melihat sesuatu yang mirip kembang api. Kami ada di dekat lantai dansa dan melihat pesawat nyerawak lalu melambaikan tangan. Kami pikir itu bagian dari acara yang memotret festival. Lalu kami dengar suara tembakan semakin dekat. Tiba-tiba ada truk di depan kami. Mereka berlari ke arah kami dan menembaki mobil kami. Kami melompat keluar dari mobil dan berlari. Orang-orang di sebelah saya jatuh. Saya tidak tahu apa yang terjadi. Saya terduduk di tanah dan gemeta. Saya tidak bisa lari. Ada asap di mana-mana dan tembakan di atas saya. Kami lari ke lantai dana. Ada mayat di mana-mana. Kami terpaksa melangkahi mereka. Saya menghubungi saudara saya dan bertanya, "Di mana orang-orang? Di mana tentara, polisi? Tidak ada helikopter di sini. Balasannya, Michal, gali lubang dan kubur dirimu." Cerita-cerita holokaust muncul di kepala saya. Mereka bilang semasa holokaust mereka menggali lubang untuk bersembunyi. Saya pikir apa ini caranya saya meninggal dunia? Baku tembak dimulai. Seseorang di depan saya memegangi kepalanya. Bilang, "Saya tertembak." Dan saya lihat kepalanya berlumuran darah. Dia menatap saya. Saya tidak akan lupa tatapan itu. Dia tidak berdaya dan saya bilang kita semua akan tewas di sini. Lalu ada granat meledak. Kedua telinga saya berdarah. Saya tidak bisa mendengar, hanya dengar dengingan. Perut saya kena pecahan peluru. Saya menunduk dan lihat darah mengucup. Saya tidak melihat kilasan hidup saya seperti kata orang. Saya hanya berbaring dan berpikir apakah ini cara saya meninggal dunia? Lebih dari 350 orang dibunuh Hamas. Itu pembantaian. Sekitar 40 disandra dari festival itu dan dibawa ke Gaza. Semakin banyak milisi Hamas menyeberangi pagar terbuka ke Israel. Begitu serangan dimulai, orang lain ikut bergabung. Lalu orang-orang yang belum pernah berlatih ikut menyeberang perbatasan dan melampiaskan rasa frustrasi dan kecemasan mereka pada para korban malang di sana. Desa-kota Israel sangat dekat dengan perbatasan. 5 menit kadang dengan berjalan atau berlari. Mereka hanya perlu menyeberang di beberapa titik untuk masuk ke kibim. Begitu menyeberang, sisi lain berubah jadi medan perang. Hamas juga menyerang kibut neiros. Banyak penghuninya masih tertidur. Para militan menembak siapapun yang mereka lihat. Saya dengar suara-suara berbahasa Arab. Teriakan, jeritan, suara mengerikan. ledakan dan saya sadar bukan hanya ada roket. Setelah berjalan sekitar 1 jam kami tiba di dua kibut zim utama Niros dan Niram. Kami di sini di pusat permukiman. Pukul .30 pagi saya mendapat pesan dari mantan suami yang sedang bersama anak-anak kami. Katanya ada teroris di rumah. Mereka melompat keluar dari jendela ruang aman dan sembunyi di semak-semak. Listrik mati, AC juga gelap dan panas. Dan saya dengar mereka datang. Mereka ada di rumah saya. Mereka tidak bergegas. Itulah yang mengejutkan. Mereka tidak terburu-buru. Mereka berkeliling seolah itu desa mereka. Mereka membunuh dengan santai. Mereka menjarah. Mereka membawa semua orang dari desa mereka. Orang tua, muda, anak-anak. semuanya di sana dan tidak ada yang datang menyelamatkan kami. Saat keluar saya lihat rumah-rumah terbakar dan mobil-mobil yang diparkir semuanya hancur. Mayat yang dibakar dan dimutilasi. Saya mulai sadar besarnya bencana ini. Ini Soah. Tidak ada kata lain untuk itu. Saya menelepon keluarga, tapi anak-anak tidak menjawab. Ayah mereka tidak menjawab. Ibu saya juga. Lima anggota keluarga saya hilang. Saya tidak tahu mereka di mana. Ibu saya berusia 80 tahun. Noya keponakan saya yang berusia 13 tahun autis. Over ayah anak-anak saya. Er putra saya yang berusia 12 tahun dan putri saya yang berusia 16 tahun. Sahar. Saya panik. Tidak lama ada video online video putra saya RS di Sandra. 5 hari kemudian saya dapat konfirmasi resmi bahwa mereka di Sandra. Pada 18 Oktober ada yang mengetuk pintu. Saya diinfokan bahwa Ibu dan Noya ditemukan di penampungan bergelimang darah. Para militan menculik warga Israel, muda maupun tua dan membawa mereka ke Gaza. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Mereka berencana menangkap 10 hingga 20 orang. Itu perintahnya. Membawa 240 orang adalah kejutan strategis bagi kami dan mereka. Hampir semua warga Israel kenal seseorang yang dibunuh atau disandra. 7 Oktober adalah hari paling berdarah dalam sejarah Yahudi sejak Shoah Holocaust. Israel sangat syok. Lagi-lagi mereka trauma. Jika diingat lagi saya pikir ini masih seolah mimpi atau mimpi buruk. tentara, warga sipil, perempuan, anak-anak. Mereka target kekejaman Hamas itu pembantaian bukan operasi militer. Dan itu mengerikan. Militan Hamas dan jihad Islam telah menyusup 18 km ke Israel, membunuh dan menyandra warga. Wilayahnya sangat luas. Seluruh Negev bagian selatan ditaklukkan selama 48 jam. itu pembantaian. Tidak lama setelahnya semua bertanya bagaimana negara Israel membiarkan ini terjadi? Itu gabungan semacam hukum Murphy. Semua yang bisa salah akan salah pada hari itu. Tidak ada cukup tentara. Orang-orang tidak ada di pos mereka. itu pagi hari libur. Israel dengan cara tertentu bersiap untuk insiden yang sangat-sangat kecil, bukan untuk perang. Warga Israel, kita sedang berperang. Bukan operasi, bukan pertempuran. Perang musuh pasti akan membayarnya. Israel mencoba mengambil kendali, merebut pos-pos militer dan membebaskan Sandra. Perasaan kami campur aduk, terkejut, malu, ingin balas dendam, gagal. Karena Israel sangat terkejut. Butuh waktu 3 minggu untuk menyiapkan operasi darat. Jalur Gaza ditutup total dan 360.000 tentara cadangan dikerahkan untuk serangan balasan. Saya rasa para pemimpin Israel bertekad membasmi ancaman teroris, tapi sulit untuk tidak melihat adanya keinginan balas dendam di sana. Balas dendam tidak baik dalam kalkulasi perang, tapi itu tidak bisa dicegah. Naif jika berpikir tidak ada yang mau balas dendam. Itu dorongan yang manusiawi, tapi bukan strategi yang bagus untuk menang. Saya sangat khawatir dan saya duga akan ada reaksi balas dendam dari orang Israel. Dan saya ingat menelepon sepupu saya di Gaza dan bilang, "Cari cara untuk pergi dari sana. Ini akan jadi bencana." Beberapa jam setelah pembantaian, Israel menyerang Gaza dari udara. Dampaknya menghancurkan. 3 minggu kemudian, Israel melancarkan serangan darat dengan puluhan ribu tentara. Gaza menjadi medan perang dan tinggal kuing-kuing. Pasukan Israel menghancurkan jaringan terowongan. Mereka memburu Yahya Sinwar, musuh publik nomor 1. Tapi rekaman menunjukkan dia dan keluarganya melarikan diri melalui Metro Gaza. Ada di banyak kamera PDR di terowongan yang kami masuki. Direkam pada 7 atau 8 Oktober. Rekamannya ditemukan beberapa minggu kemudian. Saat itu Sinwar sudah ada di tempat lain, tidak terlihat lagi. Saya rasa Israel akan melakukan apapun untuk membunuhnya. Tapi dia bukan orang yang akan tewas di tempat tidur. Dia ada di bank. Entah di bawah Kan Yunis atau Di Rafa. Saya tidak tahu. Dia yang paling tahu tentang terowongan itu. Dan tentu saja dia dikelilingi para Sandra. Saya percaya informasi bahwa mereka berhasil membunuhnya. Tapi karena takut membahayakan nyawa Sandra, mereka menahan diri. Di Israel, pembantaian 7 Oktober punya wajah spanduk besar di Tel Afif. Ingatlah siapa yang diuntungkan dari perpecahan ini. Bersatulah sekarang. Sinwar adalah simbol yang sangat penting bagi Hamas, tapi juga bagi orang Israel. Kita bisa memahami kebutuhan mereka untuk menangkapnya agar merasa aman. Fokus hanya pada satu orang dan bila begitu kita membunuhnya kita menang. Buat saya itu kekanakan. Saya rasa Sinwar penting seperti Bin Laden. Itu simbol. Tapi kita tidak perlu memperpanjang perang untuk menemukannya. Kita mungkin akan menemukannya 10 tahun lagi. Israel telah keliru karena gagal menemukan cara menyerang yang lebih baik dan cerdik untuk membebaskan Sandra dan membunuh Sinwar dan rekan-rekannya. Menurut PBB, serangan udara dari invasi jalur Gaza telah menewaskan lebih dari 40.000 orang dan melukai lebih dari 90.000 orang, termasuk banyak perempuan dan anak-anak. Israel membela serangan skala besar tersebut dengan mengklaim Hamas bersembunyi di antara penduduk Sipil. Lebih dari 70.000 bangunan hancur. Ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal. Kelaparan, penyakit, dan keputusasaan ada di mana-mana. Saya bahkan tidak bisa membayangkan tingkat rasa takut dan trauma penduduk di Gaza sekarang. Mereka tidak tahu apakah mereka atau keluarga mereka akan terbunuh. Saya kehilangan 70 lebih anggota keluarga. Kami kehilangan semua rumah dan harta benda kami. Yang terburuk dari kejadian di Gaza adalah semua ini disiarkan di televisi. Semua orang tahu dan bisa melihat kejadian di Gaza di layar kaca dan dunia belum bisa menghentikannya. Satu lagi generasi di Gaza yang hidup dalam perang menjadi trauma dan rentan radikalisasi. Ini tidak membuat Israel lebih aman. Memang benar bahwa orang-orang yang sekarang menderita karena Israel akan menjadi anti Israel di masa mendatang. Itu benar. Kapan perang akan berakhir? Tidak ada yang tahu. Sepertinya tidak ada tujuan yang jelas. Apa yang Netanyahu inginkan? Apa yang Israel mau? Apa mereka mau memusnahkan seluruh warga Palestina atau apa masalahnya? Basar Albelbisi melarikan diri dari pengeboman seperti warga lainnya. Baru saja ada serangan di sini. Ada penembakan. Suaranya keras sekali. Keadaan di sini berbahaya. Di sini berbahaya juga berbahaya bagi siapapun yang berpikir untuk pulang. Sebelum perang ini penjara besar dipagari di tiga sisi. Sisi keempatnya laut. Perang mengubahnya menjadi penjara kecil. Pesawat terkadang terbang di atas mengebom dan ingin membunuh kami. Basyar sekarang tinggal di selatan. Rumahnya di bagian utara hancur total. Hal terburuknya kami tidak tahu ke mana akan pergi, di mana kami akan tinggal, apakah bisa pulang lagi? Kami pergi tanpa tahu kami tidak akan pulang. Kami tidak mengira ini akan berlangsung 6 bulan. Kami bilang mungkin beberapa hari, 2 minggu dan kami akan kembali. Kami tidak membawa pakaian, dokumen, sertifikat. Tadinya kami pikir itu tidak perlu. Sejak 7 Oktober, ratusan ribu orang melarikan diri melintasi Gaza untuk mencari tempat berlindung. Tidak ada air, makanan, dan perlengkapan medis. Mereka rakyat biasa dari kota Gaza. Mereka selalu waspada selama 200 hari. Dan itu terlihat di mata mereka di sana ada kesedihan dan kelelahan. Yang terpenting mereka kehilangan harapan untuk tinggal di sana lagi. Sama sekali tidak ada makanan, pengeboman tidak berhenti. Kematian dan kehancuran di mana-mana. Tidak ada tempat yang aman di Gaza. Di utara terlalu berbahaya. Mereka ingin mengusir seluruh penduduk dari Gaza Utara. Basyar dan keluarganya telah tiga kali mengungsi. Kini mereka berkemah di pantai. Tempat-tempat ini tidak berpenghuni sebelum perang. Kami mengalami bentuk pengusiran yang paling mengerikan. Kami harus menanggung kekejaman ini. Tidak ada yang menang dalam perang ini. Orang Palestina menghadapi kematian dan penderitaan. Is berduka atas kematian. berharap para Sandra yang masih ditahan Hamas bisa pulang. Penyanderan itu pengalaman yang mengerikan bagi orang Israel. Pikiran masih adanya Sandra di terowongan di Gaza dan perempuan yang diperkosa adalah hal yang menurut saya tidak dapat diterima oleh orang Israel manaun. ini tentang warga negara tidak bersalah yang diculik organisasi teror yang brutal dan mereka benar-benar menderita penghinaan itu tidak dapat diterima. Israel tenggelam dalam kesedihan semacam depresi. Wajah para Sandra dapat dilihat di mana-mana di jalanan. Semua orang di sini tahu nama dan kisah mereka. Kerabat mereka terus memprotes Netanyahu dan pemerintahannya. Seperti di luar kedutaan AS di Tel Afif ini. Pemerintahan ekstrem kanan ini ingin terus berperang dan tidak fokus memulangkan Sandra. Netanyahu tidak peduli dengan para Sandra atau setidaknya menyadari dia tidak bisa mencapai tujuan perangnya melenyapkan Hamas jika dia peduli dengan para Sandra. Inilah alasan Sara Netanyahu bilang kepada para keluarga, "Kalian masuk dalam permainan sinuar." Dan itu mengerikan untuk dikatakan kepada orang tua anak-anak di korban Sandra. Tapi saya tahu dari mana asalnya. Tentu saja Sinwar dan yang lain tahu kita sensitif dan kita negara demokratis dan orang-orang akan berdemonstrasi di jalan. Para keluarga korban terus berkampanye dan melampiaskan kemarahan mereka. Mereka demo di depan markas besar Partai Likut. Partainya Benjamin Netanyahu. Penyandraan ini memicu trauma SOA. Permainan Hamas sangat kejam, semacam perang psikologis dengan terus mengunggah video para Sandra. Dengan begitu mereka membuat publik Israel geram. Secara psikologis mereka sangat menyakiti kami. Maksud saya upaya mereka melakukan apapun untuk melemahkan kami cukup nyata dan itu berhasil. Secerca ha ini melemahkan Israel. Mantan suami Hadas Calderon masih di Sandra Hamas. Anak-anaknya dibebaskan pada akhir November bersama dengan 108 Sandra lainnya sebagai ganti tahanan Palestina. Anak-anak saya hilang selama 52 hari. Lalu mereka pulang. Kami berpelukan dan menangis. syok. Dia tersenyum tapi dia syok. Dia masih belum bisa menangis sampai hari ini. Sahar langsung menangis tanpa berhenti. Mereka terus bicara. Mereka kembali. Tapi ini belum selesai. Mereka terus mengingat Oktober. Mereka hidup dalam ketidakpastian dan ketakutan. Mereka pikir teroris bisa menyerang lagi. Rumah mereka bukan lagi tempat yang aman. Kepolosan mereka telah dicuri. Tidak ada lagi kebahagiaan. Tidak ada. Saya sendiri sadar tidak ada lagi yang membuat kami bahagia. Dulu kami bisa menikmati hal-hal kecil, sekarang tidak. Seolah ada sesuatu yang telah dimatikan. Perjuangan kami belum berakhir. Ayah mereka masih di sana. Rasa sakit semacam ini tidak bisa dilawan. Selama lebih dari 75 tahun, warga Israel dan Palestina terkurung dalam lingkaran trauma tanpa akhir. Saya trauma sejak lahir. Saya lahir dalam kisah tentang holocaust. dibesarkan dalam peperangan. Saya prajurit perang. Saya trauma sejak kecil. Penelitian baru epigenetika membuktikan bahwa dampak traumatis berlangsung selama beberapa generasi. Diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya di masa depan. Dan saya menduga bahwa kami warga Palestina terpengaruh semua bentuk ini. 7 Oktober dan perang di Gaza membuat satu generasi muda Israel dan Palestina tetap mengalami trauma. Mihal kembali ke tempat pembantaian untuk pertama kalinya. Dia mendengar perang di Gaza berkecamuk di kejauhan. Ini luka yang akan membekas seumur hidup saya. Banyak orang yang tidak akan pernah lagi saya temui. Dia berusaha mencari cara mengatasi apa yang ia alami. Saya tidak akan tenggelam dalam kesedihan dan depresi. Itu yang mereka mau. Tidak akan saya biarkan itu terjadi. Saya berpikir apa yang bisa saya lakukan untuk menceritakan kisah ini supaya orang-orang tahu kejadian sebenarnya juga untuk mengenang mendiang teman-teman saya dan untuk menjadi suara bagi para perempuan yang tidak lagi bisa bicara. Itu cara saya sembuh. Saya ke sini dan menceritakan kisah saya dan saya tidak percaya ini benar-benar terjadi. Saya tidak percaya. Saya menonton video saya. Saya melihat kejadiannya. Saya tidak percaya kejahatan seperti itu ada. Karena mereka kemari tidak hanya untuk membunuh, tapi untuk melukai, mempermalukan, merendahkan kami. Jika pepohonan bisa bicara, apakah ada jalan untuk memaafkan setelah semua yang terjadi? Tampaknya itu mustahil. Riset trauma menunjukkan bahwa orang yang disakiti berisiko lebih tinggi untuk menyakiti orang lain. Pernyataan bahwa orang yang terluka akan melukai orang lain bukan berarti setiap orang yang terluka pasti akan melukai orang lain. Jika kamu pernah disakiti dan selain itu kamu dididik harus bersikap kasar kepada orang tertentu. Kamu juga dididik bahwa keluargamu juga tersakiti dan masyarakatmu juga tersakiti. Dan kamu mempelajari sejarah dengan cara yang berkontribusi pada rasa duka itu dan pola pikir yang kuat sebagai korban. Semua itu pasti akan mengarah pada fakta bahwa kamu kemungkinan akan menyakiti orang lain. Saya mewawancarai banyak pelaku kekerasan di seluruh dunia. Dan yang saya perhatikan adalah para pelaku selalu memandang diri sebagai korban dan para pemimpin memanfaatkan itu untuk merekrut pengikut. Mereka menceritakan kisah korban untuk memobilisasi simpatisan. Dan faktanya saya paling memperhatikan hal ini saat bicara dengan para ekstremis Yahudi di Israel dan anggota Hamas. Ketika trauma menjadi dasar identitas korban, mereka tidak bisa lagi berempati terhadap orang lain karena mereka korbannya. Sejak kapan korban merasa harus empati kepada pelaku? Karena jika posisimu korban, orang lain adalah pelaku. Tidak ada tanggung jawab atas tindakan kekerasan dari kedua pihak. Kekerasan berlebihan yang menyebabkan trauma dengan konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, kedua pihak memegang narasi korban yang melegitimasi kekerasan dan membebaskan mereka dari tanggung jawab. Konsekuensi dari selalu melihat diri sendiri sebagai korban dan yang lain sebagai pelaku dapat memicu tindakan kekejaman. Dan saya pikir itu berlaku untuk kedua pihak. Basyar berusaha membantu menyembuhkan trauma dengan caranya sendiri. Menari bersama anak-anak di kem pengungsian. Tingkat kesulitan latihan menari anak-anak tergantung gurunya. Para guru ada di bawah tekanan besar dan harus mengembangkan rasa tentang keadaan anak-anak. Setiap orang punya cerita dan latar belakang budaya sendiri. Dan sekarang semuanya berkumpul di tempat ini. Jadi mungkin sulit menguasai diri saat mengajar. Saya harus terus menunjukkan bahwa saya penuh dengan energi positif. Ini yang ingin saya komunikasikan kepada anak-anak agar mereka belajar mencintai tari seperti saya. Dengan tarian tradisional Dap, saya mencoba melawan energi negatif di sekitar kami. Hanya dengan begitu kami bisa melewati semua ini. Terlepas dari keadaan, kami berusaha sebaik mungkin membuat mereka tersenyum. Saya rasa mereka gembira dan menikmati suasana yang kami buat. Saya rasa dalam benak mereka jauh dari perang. Apa ada harapan? Ada jalan keluar. Saya rasa dua pihak yang berkonflik yang sama-sama mengalami trauma berat bisa menemukan cara untuk saling menghubungi. Di bawah bayang-bayang trauma ini, mereka bisa saling mengembangkan empati. Tapi saya rasa yang terjadi di Israel dan Palestina malah sebaliknya. Empati sangatlah penting. Saya rasa itu yang akan membuat kita bisa berkomunikasi lagi. Pemahaman semua pihak tentang trauma pihak lain sangat penting untuk rekonsiliasi. Tidak diragukan lagi. Saya rasa tidak ada kelompok di kedua pihak. kelompok kecil yang saling berbicara, keluarga yang putra atau putri mereka terbunuh jumlahnya kecil sekali. Dan saya rasa ini tidak akan terjadi di waktu dekat. Saya tidak yakin satu-satunya jalan menuju perdamaian adalah terapi trauma. Tidak ada waktu untuk itu. Saya percaya negosiasi perdamaian harus dimulai. Hanya dengan begitu kami bisa mengatasi trauma masing-masing. Belum sampai, belum sampai di sana.