Trauma warga Timur Tengah: Serangan Hamas dan perang Israel di Gaza | DW Dokumenter
eX2DY5zu9E4 • 2025-10-07
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
7 Oktober 2023.
Perhatian dunia tertuju ke Timur Tengah
saat Hamas menyerang Israel. Membunuh
tanpa pandang bulu menyandera warga.
Adegan kekejaman di luar n Israel
diserang hingga ke pusat.
Saya berbaring di sana dan berpikir,
inikah caranya saya akan meninggal.
Saya rasa 7 Oktober adalah fase baru
bagi orang Yahudi, tepat setelah
Holocaust.
Hari paling berdarah dalam sejarah
konflik Zionis Arab.
Ini trauma yang sangat serius bagi orang
Israel.
Saat ini kami merasa ini tidak akan
boleh terulang lagi. Israel meresponnya
dengan perang.
Tujuannya adalah menghancurkan Hamas.
Tapi pengeboman dan pengusiran warga
Palestina seolah mengulang sejarah kelam
mereka.
Nakba, malapetaka hilangnya tanah air
mereka.
Kami diusir dengan tidak manusiawi
dengan cara paling mengerikan yang kami
alami benar-benar horor.
Menurut saya ini lebih buruk daripada
Nakba. Kita kehilangan kata saat
menggambarkan yang terjadi di Gaza.
Saya kehilangan 70 orang lebih anggota
keluarga. Kemarin saya kehilangan sepupu
saya dan dua anaknya.
Ini trauma berat bagi orang-orang di
sana.
Titik terendah baru dari konflik ini
tercapai pada 7 Oktober. Bagaimana
kekerasan yang mengerikan ini terus
melahirkan gelombang kekerasan tanpa
adanya belas kasihan?
Kedua pihak tidak menunjukkan empati
terhadap penderitaan pihak lain karena
trauma mengerikan yang mereka alami di
masa lalu.
Kedua pihak masih dalam keadaan trauma,
dalam keadaan emosi tinggi yang
mengeruhkan akal sehat mereka.
Trauma apakah ini dan mengapa orang
Israel dan Palestina meneruskan siklus
trauma ini? Apa arti 7 Oktober bagi masa
depan Timur Tengah? Untuk saat ini
artinya adalah perang terbuka dan
terlama dalam sejarah Israel. Apakah ada
harapan? Adakah jalan keluar?
Jalur Gaza, sebidang area dengan bentuk
memanjang. Lebarnya antara 6 dan 14 km
dan panjang 40 km serta berpenduduk
padat. Sebelum 7 Oktober, lebih dari 2
juta orang tinggal di sini. Di antara
mereka, kelompok militan Islam radikal
Hamas sedang menyiapkan serangan
besar-besaran. Gambar-gambar ini bukan
dari 7 Oktober. Ini video latihan Hamas
di jalur Gaza.
Mereka berlatih di berbagai model desa
dan kota-kota Israel, posisi dan kem
militer Israel. Mereka sangat konsisten.
Ada pembagian tugas antara mereka yang
berperang dan yang menculik. Dan Anda
dapat melihat keseluruhan rencana lewat
berbagai sudut pandang saat latihan.
Di sejumlah lokasi berbeda, Hamas
terang-terangan berlatih untuk serangan
7 Oktober.
Israel juga bisa melihatnya.
Kami melihat video-video ini sebelum 7
Oktober. Kami tahu sebelum 7 Oktober.
Saya juga mengatakan ada yang lebih dari
video ini. Saya malu mengatakan ada
lebih banyak informasi dan video ini
juga informasi. Oke, jadi kami
melihatnya. Kami sudah tahu rencananya
selama satu dekade.
Mereka tahu persis apa yang terjadi.
Cuma mereka tidak percaya. Sinwar sudah
ingin menyerang di titik ini.
Pemimpin Hamas Yahya Sinwar dianggap
sebagai salah satu dalang 7 Oktober.
Mengapa Hamas mengunggah video ini
online? Mengapa mereka mengungkap
rencananya?
Hamas seperti organisasi lainnya butuh
publisitas dan propaganda.
Dan saya pikir saat itu mereka tengah
menggalang dukungan.
Mereka ingin dapat legitimasi
menunjukkan betapa mereka terorganisasi,
termiliterisasi, dan telah menjadi
organisasi militer yang berkembang
dengan baik.
Israel tidak menanggapi video itu dengan
serius.
Sebagian masalahnya adalah arogansi dan
perasaan bahwa kami punya teknologi
terbaik, punya pemahaman dan semua yang
terbaik.
Bagi sebagian jenderal Israel, aktivitas
ini terlihat seperti rutinitas dan
perilaku normal tentara. Dalam kasus
ini, tentara teroris Hamas yang berlatih
untuk hari pembalasan. Mereka tidak
menganggapnya
persiapan untuk serangan yang akan
segera terjadi.
Kami tahu kami menghadapi organisasi
teroris yang selalu ingin melenyapkan
kami.
Tapi kami selalu menyangkal dan
menganggap mereka hanya berlatih. Itulah
kesalahpahaman kami.
Kebanyakan warga di sisi Israel yang
berbatasan dengan jalur Gaza tidak tahu
ada serangan besar yang direncanakan di
sisi Palestina.
Tepat di belakang pagar ini ada keyboots
near Oos. Sekitar 400 orang tinggal di
sini.
Ini rumah Hadas Calderon.
Jarak kami sekitar 2,5 km dari pagar.
Bukan dari Gaza, tapi dari pagar. Di
balik pagar ada kanunis dan desa-desa
Arab lainnya. Seperti kebanyakan
keyboots, near ozalah komunitas
pertanian yang sengaja dibangun.
Sebagian besar penduduknya berhaluan
kiri dan liberal.
Saya lahir di sini, tinggal di Tel Afif
lalu berkeliling dunia. Saya kembali dan
berkeluarga.
Saya bertemu mantan suami saya.
Kami punya empat anak dan saya
menjalankan sebuah klinik pengobatan
alternatif.
Situasinya tidak tenang. Selama 20 tahun
ada banyak serangan roket teroris.
Kehidupan di sini seperti antara di
surga dan neraka.
Sebagian besarnya surga tenang, hijau,
dan menyenangkan. Tapi sekali atau dua
kali setahun berubah jadi neraka.
Anak-anak tumbuh dalam bayang-bayang
situasi ini.
Mereka menjadi cemas.
Apalagi Er putra bungsu saya. Dia takut
sendirian. Saya harus menidurkannya
setiap malam. Sering terpikir untuk
pindah, tapi tidak mudah. Jauh di lubuk
hati. Saya tahu tumbuh seperti ini tidak
sehat untuk anak-anak.
Tapi akar kami di sini. Ini rumah kami.
Tinggal sedekat itu dengan pagar hanya
mungkin dengan adanya jaminan keamanan
dari negara Israel.
Keamanan bukanlah kata yang tepat. Bagi
kami ini perang eksistensial.
Ini adalah hakikat kami untuk
mempertahankan hidup. Ini bukan sekadar
keamanan
dan setiap politisi yang saya ingat
selalu mencalonkan diri sebagai penjaga
keamanan.
Anda terpilih jadi perdana menteri
karena alasan keamanan,
bukan situasi ekonomi.
Trauma besar bagi Israel adalah orang
Yahudi tidak pernah merasa aman di
manapun di dunia ini.
Sebagai orang Yahudi, kami akan selalu
hidup di sekitar orang-orang yang seolah
ingin membunuh kami. Di manapun itu, di
selatan, utara, di luar negeri, akan
selalu ada orang yang berpikir bahwa
kami tidak pantas hidup.
Kami dibesarkan dengan cerita-cerita
dari orang tua. Sebagian dari cerita itu
berasal dari holokaust.
Mereka dibunuh, dianggap hama di seluruh
Eropa dan Timur Tengah.
Ada semacam pola pikir bahwa kami dapat
hidup di mana saja, tapi perlu terus
waspada.
Sejarah panjang pogrom
Holocaust.
Orang-orang Yahudi di Israel masih
menyandang derita ini.
Ini negara yang kami dirikan setelah
SOA.
setelah Holokaust yang dibangun dari Abu
sebagai tempat berlindung bagi
orang-orang Yahudi dari seluruh dunia.
Dan Israel dianggap sebagai satu-satunya
tempat di dunia di mana orang Yahudi
bisa merasa aman.
Tapi keamanan sejati masih sulit diraih.
Negara-negara Arab di sekitarnya tidak
menerima resolusi PBB untuk pembentukan
negara Yahudi. Lima di antaranya
menyerang Israel.
Holocaust bukan satu-satunya trauma yang
dihadapi Israel. Ada perang kemerdekaan
saat Israel diserang semua negara Arab
di sekitarnya.
Negara ini telah berperang selamanya.
48 56 67
dua kali intifada dan perang saat ini
kami terlibat pertempuran dan
konfrontasi terus-menerus dengan musuh
tak pernah berhenti.
Saya rasa mustahil mengerti psikologi
Israel tanpa memahami keinginan mereka
yang mendambah rasa aman dan
perlindungan.
Di Israel bagian selatan, dambaan akan
rasa aman ini terwujud dalam bentuk baja
dan beton. Israel ingin melindungi diri
sendiri setelah melepaskan diri dari
Gaza pada 2005. Pagar perbatasan yang
sangat modern untuk menangkal serangan.
Saat pagar selesai dibangun pada 2021,
biayanya diperkirakan lebih dari Rp16
triliun.
Dengan tembok ini, kami ingin memberi
rasa aman pada warga di selatan
dan membuat wilayah yang indah ini
tumbuh dan makmur
dengan panjang 65 km dan tinggi 6 m.
Tembok ini dilengkapi teknologi dengan
kamera pengintai, detektor gerakan, dan
senapan mesin otomatis.
Tembok ini diciptakan karena
perkembangan yang terjadi di perbatasan.
Israel menemukan Hamas telah menggali
terowongan di bawah perbatasan untuk
membawa orang-orang mereka ke dalam
kibut Zim ke desa-desa.
Tembok besi.
Kami akan membangun tembok besi, sistem
pertahanan yang kuat
yang menghalangi pihak yang ingin
menyerah.
Kami juga memasang banyak sensor di
bawah tanah yang akan berbunyi jika ada
yang berusaha melewati rintangan.
Saya rasa tidak ada negara di dunia yang
punya teknologi seperti ini.
Hingga 7 Oktober 2023, Israel percaya
penghalang ini tidak dapat ditembus dan
bisa menjamin keamanan.
Menurut saya, tembok pengaman di Gaza
dan perbatasan tepi barat punya dua
fungsi.
Pertama, menjamin keamanan Israel.
menempatkan mereka dalam geto sukarela
dengan tembok dan pembatas yang
dirancang untuk memberi rasa aman.
Tapi tembok dan pembatas itu punya
tujuan lain. Memastikan Israel tidak
perlu berurusan dengan Palestina. Mereka
menghilang di balik tembok dan pagar.
Dengan begitu tidak ada yang perlu
berhadapan atau mendengar tentang
mereka. Israel tidak lagi diingatkan
tentang mereka.
Mereka di sana dan kami di sini. Itu
menenangkan pikiran.
Saya rasa orang Israel lebih suka tidak
memikirkan kehidupan orang Palestina di
Gaza. Itu sangat menyakitkan dan lebih
mudah untuk tidak memikirkannya.
Publik kehilangan minat. Saya tampil di
televisi. Kami ada di jaringan televisi
terbesar di Israel. Jika kami terlalu
banyak menyiarkan kejadian di jalur
Gaza, di tepi barat dan lainnya, kami
kehilangan pemirsa.
Betul. Jika dikatakan orang-orang tak
mau mendengar kejadian di sana, kami
sudah muak menderita. Kami tidak mau
mendengarnya.
Mereka takut, orang-orang takut.
Sama alasannya kenapa mereka tidak mau
belajar bahasa Arab.
Mereka tidak mau berhubungan dengan
bahasa itu, dengan orang-orangnya.
Mereka itu musuh.
Saya tahu pasti bahwa orang-orang yang
selamat dari Holocaust tidak mau
mendengar bahasa Jerman dan mengunjungi
Jerman. Mereka mau melepaskan diri dari
itu. Saya rasa sama dengan bahasa Arab
itu bahasa musuh.
Dan musuh itu tinggal di sini, kota
Gaza. Di sisi lain pagar,
hanya ada dua penyeberangan perbatasan
ke Israel dan negara Israel
mengendalikan segala yang masuk dan
keluar.
Basar Albilbisi lahir di sini. Dia
belajar farmakologi dan bekerja di
apotek orang tuanya sampai perang
dimulai.
Hidup sehari-hari di balik pagar itu
sulit. Bahkan sebelum perang
usia saya 23 tahun. Saya tidak pernah
tahu ada hari tanpa pemadaman listrik di
Gaza.
Orang-orang di sini hidup dalam
kemiskinan dan banyak hal dibatasi.
Pendudukan Israel terus-menerus menekan
kami. Mereka mau kami meninggalkan
negara kami. Mereka mau menguasai
seluruh Palestina.
Telah lama mereka menekan rakyat
Palestina, terutama kami di Gaza.
Blokade kesulitan berpergian, mewujudkan
impian untuk bergerak. Semuanya sulit.
Bahkan sebelum 7 Oktober sikap pasrah
dan depresi menyebar luas.
Tapi Basyar tetap optimis. Kesukaannya
adalah menari dabk tarian nasional
Palestina. Basyar salah satu penari
terbaik di Gaza dan biasa tampil rutin
sampai perang tiba.
Saya merasa seolah terbang saat menari
dap. Tidak ada yang membatasi saya. Saya
bebas. Bisa bergerak sesuka hati, bisa
tertawa, bersedih, bisa melompat di
udara. Saya bisa mengekspresikan diri.
Baginya menari adalah bentuk terapi.
Terapi kelompok selalu seperti itu.
Setelah setiap serangan, kami menari di
antara puing dan abu. Kami tersenyum di
tengah rasa sakit. Itu cara terbaik
menggambarkannya.
Kami mau sampaikan pesan bahwa
orang-orang di sini berjuang untuk
impian dan ingin mereka capai.
Kami tidak beda dengan orang-orang di
luar sana.
Hanya saja mereka punya lebih banyak
kesempatan.
Basyar percaya bahwa tarian punya
kekuatan penyembuh.
Selama perang kami mengajari anak-anak
cara sederhana menari dapke agar mereka
berlatih dan merasakannya. Itu cara
membebaskan pikiran mereka.
mengajari dapke terutama ke anak-anak
seperti menanam benih yang akan tumbuh
subur. Tujuannya bukan supaya mereka
jadi penari terbaik, tapi menghubungkan
mereka dengan kampung halaman dan supaya
mencintai tanah air.
Kampung halaman yang hanya dikenal
Basyar dan anak muda lainnya lewat
cerita.
Sekitar 70% penduduk Gaza adalah
keturunan orang-orang yang pindah atau
melarikan diri.
Keluarga kami sering membahas NBA 1948.
Cara mereka melarikan diri, mereka harus
meninggalkan rumah dan bertahan hidup.
Kami tanya apa mereka pergi tanpa
pemberitahuan.
Tidak terbayang biadabnya mereka.
Tekanannya sangat besar sampai mereka
harus pergi
nakba. Tidak ada peristiwa lain yang
dampaknya sebesar itu dalam sejarah
Palestina.
Kata nakba berarti malapetaka. Kata yang
dipakai orang Palestina untuk
menggambarkan peristiwa pada 1947 dan
1948.
Pada 1948,
semua negara Arab di sekitarnya
menyerang Israel secara bersamaan. Dalam
konflik yang dimulai sebagai peran
defensif terhadap agresi Arab, Israel
mengusir orang Palestina dari banyak
wilayah tersebut
atau orang Palestina melarikan diri
karena takut dibantai.
BA adalah kampanye strategis yang
disengaja untuk membersihkan tanah
bersejarah Palestina sebanyak mungkin
dari populasi nonyahudi.
Saya rasa efeknya sangat mendalam bagi
psikologi Palestina.
Cerita Nakba masih membekas di hati dan
pikiran keluarga-keluarga Palestina.
diwariskan dari generasi ke generasi dan
trauma itu akan terus hidup.
Contohnya yang saya dengar dari nenek
saya, kadang saat nenek lihat pohon
melati yang cantik, katanya pohon melati
ini mirip punya kami di Java.
Sampai hari ini ayah saya masih
menyimpan kunci rumah mereka. Dulu ayah
mengajak kami ke tanah kami di Birseba.
Dan saya ingat ketika masih kecil kami
pergi ke rumah Bibi dan di sana ada
pesta pernikahan. Saya sangat senang
bisa melihat tanah itu.
Peristiwa ini sangat luar biasa dalam
sejarah Palestina karena banyak yang
mengalami trauma secara langsung. Dan
bukan hanya satu peristiwa saja, itu
trauma berkepanjangan.
Banyak warga Palestina tidak diizinkan
kembali setelah perang 1948.
Mereka dan keturunannya masih belum
punya rumah sampai hari ini.
Semakin Nakba dikaitkan dengan masa lalu
Palestina, semakin penting hal itu dalam
ingatan kolektif mereka.
Menurut saya dalam ingatan orang
Palestina, Nakba sudah mencapai dimensi
yang membuat perdamaian mustahil
dilakukan tanpa mempertimbangkan nakb
adalah dasar dari segalanya yang membuat
mereka terus maju yang menciptakan
ideologi, kekerasan, agresi dan
kemarahan dan penghinaan. Dan semua
emosi ini asalnya dari nakbah. Itu yang
utama.
Keyakinan bahwa dahulu semuanya lebih
baik dan tiadanya harapan terkait
blokade.
Ini dasar sempurna bagi berkembangnya
radikalisme.
Hidup di Gaza sangatlah sulit sebelum 7
Oktober. Tingkat penganggurannya salah
satu yang tertinggi di dunia saat itu
dengan pembatasan pergerakan yang
sepenuhnya dikontrol
dan tingkat masalah kesehatan mental
juga sangat tinggi.
Berbagai studi menyimpulkan bahwa lebih
dari 90% anak-anak Palestina pernah
trauma sekali atau berkali-kali karena
bom, perang, kehilangan kerabat,
penghancuran rumah, dan sekolah mereka.
Banyak dari mereka yang benar-benar
depresi dan cemas. Mereka marah, burka.
Beberapa dari mereka bilang kepada saya
bahwa mereka tidak mau ke kamar mandi
kecuali ibu mereka ikut. beberapa akan
ikut ke manaun ibu atau orang tua mereka
berada dan tidak mau beranjak.
Bagi banyak warga Palestina di Gaza,
penyebabnya jelas bukan Hamas, tapi
Israel. Pada Maret 2018, protes besar
dimulai di Gaza. 70 tahun setelah NBA.
Setiap Jumat, ribuan orang berjalan
menuju pagar perbatasan.
Bagi saya, Mars of Return adalah acar
akbar aktivisme tanpa kekerasan
Palestina guna menuntut hak-hak sah kami
sebagai warga Palestina. Untuk diakui
sebagai bangsa, kami layak berdiri
sebagai negara dan diakui bahwa kami
telah diusir dari komunitas, tanah, dan
desa kami pada 1948 lewat peristiwa
nakba, lewat kampanye pembersihan etnis.
Ini cara lain orang Palestina bilang,
"Kami di sini, kami manusia yang berhak
punya negara atau daerah.
Kami lelah dengan kehidupan ini, dengan
blokade ini. Kami lelah dengan
pengeboman. Kami mau hidup normal
seperti manusia lainnya."
Selama hampir 2 tahun, tiap minggunya
ribuan orang Palestina berdemonstrasi.
Suasana memanas dan semakin agresif.
Hamas mengeksploitasi kemarahan ini.
Orang Palestina sangat frustrasi dengan
penutupan karantina wilayah dan blokade
atas Gaza. Dan Hamas memanfaatkan
perasaan itu yang sama sekali tidak
diprakarsai oleh Hamas.
Yahya Sinwar, pemimpin Hamas di jalur
Gaza segera mengambil alih gerakan
demonstrasi ini.
Hari ini rakyat kita memulai fase baru
dalam sejarah perjuangan dan perlawanan
nasional. Di jalan menuju pembebasan dan
arah kembali. Hari ini rakyat kita di
Gaza, di tepi barat, di wilayah
pendudukan 1948
dan di luar negeri maju bersama untuk
memulai fase baru dan memperbaiki arah.
Pemerintah Israel khawatir saat warga
Palestina menyerbu pagar, militer
merespons dengan peluru karet, gas air
mata, kadang peluru tajam. Siapapun yang
mendekati pagar artinya mempertaruhkan
nyawa. Ratusan orang tewas, puluhan ribu
lainnya luka-luka.
Banyak warga Palestina yang tidak
bersalah tewas selama March of Return.
Jelas ini kegagalan bagi pencetusnya.
Tapi semua usaha warga Palestina untuk
mencapai apapun hingga saat ini hampir
selalu gagal.
Mereka mencoba cara diplomatik,
negosiasi, proses Oslo dan dua intifada.
Sampai saat ini semuanya gagal.
Yahya Sinwar, saya rasa sejak peristiwa
itu berakhir, dia mulai memikirkan
serangan yang lebih luas dan dramatis
terhadap Israel.
Dan tentu saja itu 7 Oktober.
Sejak 2017, Yahya Sinwar menjabat
sebagai petinggi Hamas dan pemimpin de
facto di Gaza.
Jelas Yahya Sinwarlah dalang 7 Oktober.
Saya pernah bertemu dia, tapi tidak tahu
seberapa jauh saya mengenalnya. Dia
orang yang sangat licik, cerdik, dan
penuh perhitungan. Kata orang, dia nyari
seperti psikopat. Entahlah,
dia sangat karismatik, kepribadiannya
sangat kuat. Dia sangat tegas dan dia
sangat kejam, sangat brutal.
Jika menggambarkan orang seperti Sinwar,
dia orang yang ideologi adalah hal yang
paling penting baginya.
mengumumkan tujuannya menghancurkan
Israel dan membunuh orang Yahudi di
negara itu.
Orang-orang kami akan memenuhi
perbatasan seperti banjir bandang dan
mencerabut keberadaan kalian. Mereka
akan memakai pisau untuk menikap, mobil
untuk menabrak, atau bom molotof untuk
membakar jantung kalian.
Sinwar lahir di jalur Gaza pada 1962
dari orang tua pengungsi. Dia anggota
pendiri Hamas dan salah satu tokoh
paling radikal. Di usia 20-an dia
dipenjara oleh Israel.
Dia dihukum seumur hidup. Dia dipenjara
karena membunuh kolaborator Palestina,
bukan karena membunuh warga Israel. Bisa
jadi dia mencekik beberapa orang dengan
tangan kosong.
Dia dipenjara karena itu, bukan karena
membunuh Yahudi, tapi orang Palestina.
Dia menggunakan lamanya masa hukuman
untuk mempelajari musuhnya. Pikirannya
yang tajam membuatnya kian berbahaya
bagi Israel.
Orang bilang Sinwar banyak menghabiskan
waktunya di penjara menonton TV Israel.
Berusaha memahami psikologi orang
Israel.
22 tahun di berbagai penjara di Israel,
dia membaca semua yang bisa dibaca. Dia
lancar berbahasa Ibrani.
Saya melihatnya sebagai pemimpin
Palestina yang mengenal masyarakat
Israel lebih baik dibandingkan pemimpin
Palestina lainnya.
Dengan membaca sejarah Israel,
Holocaust, dan pogrom lainnya di masa
lalu, mereka mengerti perasaan dan
trauma orang-orang Yahudi.
Kesannya seolah Yahya Sinwar mempelajari
mental Israel untuk mencari tahu cara
memaksimalkan penderitaan mereka.
Sepertinya dia benar-benar mengerti cara
membuat orang Israel geram.
Rekan sesama narapidana takut dan hormat
pada Sinwar.
Dia menempatkan diri sebagai pemimpin
tahanan dan membuktikan dirinya kejam
dan kasar.
Pada 2011, Shinwar dibebaskan bersama
sejumlah pengikut setianya dalam
pertukaran tahanan.
Netanyahu membebaskannya bersama dengan
ribuan tahanan Palestina lain untuk
membebaskan seorang tentara Israel,
Gilat Shalid, yang dipenjara hampir 5
tahun pada 2011.
Ada banyak tekanan opini publik dan pada
satu titik Bibi menyimpulkan bahwa
secara politis
lebih baik menyerah dan membebaskannya
meski banyak lembaga keamanan yang
keberatan.
Meski saya tidak mengecam kesepakatan
ini,
hari itu saya dan teman-teman berdiri di
penjara sambil menangis melihat semua
pembunuh yang kami buru selama
bertahun-tahun dibebaskan.
Dengan gerakan ini, pita dan bendera
Hamas.
Bagi saya itu hari yang kelam, sebuah
bencana.
Sinwar disambut seperti pahlawan.
Calon dalang 7 Oktober itu segera
memperluas pengaruhnya dalam struktur
kekuasaan Hamas
dan ia berhasil meningkatkan
popularitasnya.
Sejak keluar dari penjara, dia berjanji
untuk melakukan apapun untuk membebaskan
sesama tahanan yang tertinggal.
Kita harus berasumsi Sinwar mempelajari
bahwa orang Israel tidak akan
meninggalkan siapapun.
Dia punya visi membebaskan semua
tahanan.
Masalah ini sangat sensitif bagi
masyarakat Palestina.
Dia memenangkan pikiran dan hati
masyarakat dengan menampilkan diri
sebagai pelindung dan penyelamat
tahanan.
Nasib tahanan Palestina di penjara
Israel masih menjadi isu utama di Gaza.
Sinwar tahu bahwa ia bisa membebaskan
mereka sebagai ganti pembebasan Sandra
Israel.
Tindakannya menunjukkan ia telah
mempelajari bahwa penyanderaan bisa
sangat efektif.
Tapi kita juga melihat ia merasa bisa
melakukan lebih banyak lagi. Saya bisa
bebaskan tahanan secara besar-besaran.
Tapi ada yang jauh lebih besar.
Saya bisa merusak fondasi keamanan dan
kepercayaan diri Israel.
Dan itulah tujuannya.
Awalnya Israel tidak menyadari rencana
ini. Sinwar tampak fokus pada Gaza dan
upayanya meraih kekuasaan.
Keluar dari penjara bersama beberapa
rekan kepercayaannya.
Dengan cepat dia singkirkan semua
pemimpin termasuk Ismail Haniah yang
setelah kudeta di Gaza menjadi perdana
menteri pemerintahan Hamas.
Hania yang terbunuh di Teheran pada 2024
berangkat ke Qatar.
Sinuar dan anak buahnya tidak membuang
waktu.
Mereka mengambil ahli biro politik,
mengisinya dengan orang-orang dari
cabang militer.
Kepemimpinan politik lumpuh dikirim
keluar Gaza.
Dia memindahkan pusat kekuasaan ke Gaza.
Untuk pertama kalinya dalam dekade
terakhir, pusat kekuasaan Hamas ada di
Gaza, bukan di luar negeri dengan
pemerintah di pengasingan.
Dalam pemilihan internal pada 2017,
Yahya Sinwar diangkat menjadi kepala
Hamas di Gaza.
Dia tahu cara memobilisasi rakyatnya.
Hamas telah berdiri dan mengakar dalam
kesadaran Palestina, suka atau tidak,
setuju atau tidak, dan saya pribadi
tidak setuju dengan hampir semua yang
dikatakan Hamas.
Jika Anda menjadi korban, disudutkan,
dipukuli tiap hari dan ada tangan yang
diulurkan kepada Anda, Anda akan
memegangnya tangan apapun itu
sesederhana itu.
Jadi, Sinwar tampil dengan visi
menciptakan pasukan khusus, Nuhbah yang
menyusup ke Israel.
Dia ingin memungkinkan Hamas melawan
Israel dengan cara yang lebih baik dari
sebelumnya.
Alat penting dalam perang melawan
Israel, terowongan. Di bawah rezim
Hamas, jaringan terowongan bawah tanah
telah dibangun di seluruh jalur Gaza
selama bertahun-tahun.
Jadi, terowongan adalah cara mereka
untuk bersembunyi dari angkatan udara
Israel. itu juga memungkinkan mereka
untuk menjalankan semua rencana itu,
yaitu memproduksi rudal dan roket
sehingga Israel tidak akan bisa
menyerang dari udara.
Kabarnya ada lebih dari 1000 terowongan
di jalur Gaza sepanjang beberapa
kilometer. Jaringan ini dikenal sebagai
Metro Gaza. Hamas mengendalikan
pembangunan dan pengoperasian
terowongan.
Senjata diproduksi dan diangkut di sini.
Milisi Hamas menggali pipa air untuk
pembangunan roket.
Seperti yang ditunjukkan Hamas dalam
video yang diunggah online ini.
Ada sesuatu yang meresahkan tentang pipa
air.
Pipa yang seharusnya membawa esensi
kehidupan ini dipakai untuk membuat
instrumen pembunuhan.
Hal itu sedikit menggambarkan keadaan
pikiran militan Hamas. Pada dasarnya itu
adalah kultus kematian.
Hakikat kehidupan dalam pemikiran Islam
radikal adalah kehidupan setelah
kematian. Bukan di dunia ini. Kita tidak
memahaminya karena kita punya cara
berpikir bar.
Hamas hanya peduli satu hal, yakni
pemberantasan negara Israel. Dari sudut
pandang mereka itu lebih utama dibanding
hal lain, termasuk kesejahteraan
penduduk.
Roket dan rudal dalam perang suci
melawan iblis adalah sah.
Sesederhana itu,
Hamas juga bisa mengandalkan
sekutu-sekutunya yang kuat.
Saya yakin itu dilakukan dengan dukungan
Iran dan Hizbullah karena mereka juga
melakukan hal sama di negara mereka.
Iran adalah negara pertama yang
mendukung Hamas secara politik dan
militer. Republik Islam di Teheran masih
menjadi sekutu terpentingnya.
Hubungan Iran dan Hamas dari awal
anggapan bahwa musuh dari musuh adalah
teman saya. Dan karena Hamas menentang
Israel secara otomatis mereka
berhubungan baik dengan Iran.
Di tengah blokade jalur Gaza, Hamas
menerima bantuan dari Teheran untuk
memastikan kelangsungan hidupnya.
Jelas Hamas bergantung pada dukungan
Iran dalam hal dana, amunisi, senjata,
pelatihan.
dan perencanaan.
Iran melakukan operasi besar-besaran
dari Iran ke Sudan, dari Sudan hingga
Gaza dan mendukung mereka dengan
senjata.
Lewat proksi Iran di Timur Tengah yang
disebut juga cincin api, Iran hendak
mengepung Israel dengan beragam
organisasi di Yaman, Irak, Suriah,
Lebanon, dan Gaza tanpa risiko
konfrontasi langsung. Sementara Israel
membangun hubungan dengan lawan-lawan
Iran. Pada September 2020, Israel
menandatangani perjanjian Abraham dengan
Uni Emirat Arab dan Bahrain yang
dimediasi Amerika Serikat. Maroko dan
Sudan kemudian bergabung. Fokusnya
adalah membangun hubungan diplomatik,
merebut kekuasaan untuk Benjamin
Netanyahu. Sementara Palestina
disingkirkan.
Pesawat Israel pertama terbang terjadwal
ke Emirat. simbol normalisasi hubungan.
Ada kekecewaan besar saat melihat
tingkat normalisasi ini terjadi.
Penerbangan harian kontinu orang Yahudi
Israel ke Dubai mengadakan pesta dan
perayaan dan berbisnis di sana. Kedua
pihak bolak-balik terbang di atas kami
penduduk Palestina. Sementara kami masih
menderita di bawah pendudukan ini.
Dengan menandatangani perjanjian Abraham
dan mencapai kesepakatan dengan Arab
Saudi, pemerintah Israel di bawah
Netanyahu berusaha mengabaikan
Palestina.
Tapi ini adalah perilaku anak kecil yang
menutup mata dengan tangannya sewaktu
takut atau tidak mau menghadapi
kenyataan.
Puncak normalisasi ini adalah kunjungan
pertama Presiden Israel ke Abu Dhabi.
Israel merayakan kesepakatan ini sebagai
titik balik besar.
Tapi bagi Palestina itu melambangkan
ancaman.
Menyingkirkan pertanyaan tentang masa
depan mereka.
Mereka memprotes pengkhianatan ini.
Palestinian.
Saya rasa orang Palestina dan banyak
orang lain di dunia Arab merasa
perjanjian Abraham mewakili mereka yang
menandatanganinya.
Bukannya mewakili harapan, hati nurani,
dan aspirasi bangsa Arab. Dan tentu saja
bukan orang Palestina.
Dan saya pikir perjanjian Abraham adalah
alat lain untuk menyangkal sejarah dan
hak-hak Palestina.
Orang Palestina bisa sangat mendapat
manfaat dari perdamaian yang lebih luas.
Mereka harus jadi bagian dari proses
itu. Tapi mereka tidak boleh punya hak
veto atas proses tersebut.
Dia dengan sangat arogan mengira bisa
memaksakan fakta ke Palestina bahwa dia
akan segera menandatangani perjanjian
dengan Arab Saudi. Meskipun Arab Saudi
bersi keras bahwa jalan menuju negara
Palestina harus menjadi bagian dari
perjanjian itu.
Sebuah Timur Tengah yang baru di peta
tidak ada Gaza dan tepi barat pemicu
psikologis trauma masa lalu Palestina.
Saya rasa ada korelasi langsung antara
serangan 7 Oktober dan perjanjian itu,
terutama dengan Arab Saudi di mana jalur
Gaza, Hamas, solusi politik untuk
situasi Palestina diabaikan.
Menurut saya, Hamas berusaha merebut
kembali kekuasaan dalam negosiasi untuk
menentukan masa depan alih-alih menjadi
terpinggirkan.
Lalu ada masalah yang belum selesai
tentang pemukiman Israel di tepi barat
dan Yerusalem Timur yang melanggar hukum
internasional. Saat ini ada 150
permukiman dengan lebih dari 700.000
penduduk. Ini berarti satu dari 14 orang
Israel tinggal di tepi barat yang
diduduki termasuk di Yerusalem Timur.
Setiap petak tanah diperebutkan.
Pemerintah ekstrem kanan Netanyahu
mengklaim hak eksklusif atas yang
disebut area Yudea dan Samaria yakni
tepi barat.
Para pemukim bisa menukar kekuatan
politik mereka dengan keinginan dari
likud secara umum dan Netanyahu secara
pribadi untuk menguasai Israel. Jadi
yang kecil justru mengendalikan yang
besar.
Israel adalah sebuah proyek, sebuah
gerakan, sesuatu yang terus berkembang.
selalu ingin lebih banyak tanah, lebih
banyak rumah, dan merebut lebih banyak
lahan dengan mengurangi jumlah orang
Palestina. Makin sedikit orangnya, makin
banyak tanahnya. Hal ini selalu membawa
kembali ingatan akan nakba.
Banyak orang Palestina merasa sangat
trauma dengan pengalaman diperiksa
tentara sebelum menyeberangi perbatasan.
Pemicu trauma yang lebih jelas adalah
pengambil alihan rumah mereka. Pastinya
segala bentuk tindakan militer atau
kekerasan Israel adalah pemicu trauma
bagi mereka.
Saya rasa ada efek pemicu di kedua
pihak. Kekerasan militer Israel membuat
warga Palestina takut. Itu wajar.
Mereka takut diusir lagi, dipaksa
melarikan diri lagi.
Dan warga Israel takut serangan teror
terhadap Israel akan direncanakan dan
dilakukan lagi.
Saya rasa yang kita lakukan di tepi
barat dengan meningkatnya jumlah pemukim
akan merusak masa depan negara Yahudi
Israel. Tidak diragukan lagi.
Situasi semakin buruk pada musim semi
2021.
Dimulai dengan protes di area Syekh
Jarah di Yerusalem Timur terhadap
keputusan pengadilan yang mengusir warga
Palestina dari rumah-rumah mereka untuk
pemukim Israel.
Saya rasa Syekh Jarah menjadi ekspresi
simbolis kampanye pembersihan etnis yang
terjadi di Yerusalem dan sekitarnya.
Terutama karena dipimpin oleh para
pemukim fanatik yang sangat ekstrem.
Lalu mereka membuatnya sangat jelas.
Hinaan, serangan, cercaan terhadap orang
Palestina yang tinggal di sana dan
perebutan rumah dan penyingkiran
perabotan membuangnya dengan brutal.
Menyadarkan banyak orang bahwa ini
adalah hal yang terus berlanjut.
Warga Palestina dan beberapa warga
Israel sayap kiri memprotes pengusiran
tersebut. Di tengah situasi yang
memanas, bentrokan pecah di Bukit Bait
Suci dan polisi Israel menyerbu Masjid
Al-Aqsa, tempat suci ketiga umat Islam.
Hamas memanfaatkan kemarahan orang-orang
Palestina.
Hamas merasa pantas menggambarkan diri
sebagai penjaga tempat suci Allaqsa di
Yerusalem.
Jerusalem.
Hamas menembakkan roket.
Israel merespons keras seperti biasa.
Perang pecah lagi dan ratusan orang
tewas.
Rumah Yahya Sinuwar di jalur Gaza juga
hancur dalam serangan.
Tapi saat gencatan senjata terjadi, dia
keluar dari reruntuhan karena rumahnya
hancur dan duduk di kursi di antara
reruntuhan untuk menunjukkan bahwa dia
selamat dan akan bertahan.
Dan ya itu tindakan pembangkangan.
Setelah operasi khusus ini, Israel
percaya bahwa kekuatan Hamas akan
tertahan. Seperti kata kepala intelijen
saat itu, 2 seteng tahun lalu, mereka
akan tertahan setidaknya selama 5 tahun
ke depan. Ternyata dia salah.
Pada awal 2023, 10 bulan sebelum 7
Oktober, Israel punya kekhawatiran
sendiri. Negara itu diguncang
demonstrasi. Ratusan ribu orang turun ke
jalan. Mereka memprotes reformasi
peradilan kontroversial oleh pemerintah
yang bertujuan membatasi kekuasaan
Mahkamah Agung. Tekanan bagi Netanyahu
terus meningkat.
Ada laporan inteligas
bahwa mereka paham situasi di Israel
sangat buruk
karena sengketa reformasi peradilan.
Pada saat yang sama, situasi keamanan
menegang. Unit pengawasan IDF memantau
aktivitas mencurigakan di perbatasan
Gaza.
Dalam dua atau 3 minggu sebelum
serangan, para pengintai mengawasi dan
melihat semua latihan di perbatasan dan
mereka diperintahkan untuk tutup mulut.
Kalian tidak tahu apa-apa tentang
strategi itu. Kami tahu mereka terhalang
dan tidak ada ancaman.
Tapi saya rasa jika kita tidak mau
melihat sesuatu, kita tidak akan
melihatnya. Jika Israel mengawasi
saluran dan TV, radio, dan surat kabar
Hamas, slogan utamanya adalah jihad,
jihad, jihad.
Jelas ada yang sedang terjadi di jalur
Gaza. Pendaratan amfibi, tank tiruan,
pertempuran dari rumah ke rumah. Pada
September, kelompok bersenjata Palestina
melakukan latihan gabungan untuk situasi
ini.
Media Israel melaporkan latihan ini,
tapi pemerintah diam saja.
Tapi intelijen sudah lama mengetahui
rencana tembok Kiko, cetak biru Hamas
untuk serangan skala besar.
Kami tahu rencana mereka. Kami punya
banyak dokumen yang terang-terangan
berisi rencana mereka. Sebagian besar
bahkan bukan rahasia.
Pertanyaan, apakah ini sekadar latihan
muncul tiga atau emp hari sebelum
serangan? Dan semua orang dari sistem
intelligence bilang bahwa ini cuma
latihan.
Suatu kesalahan perhitungan yang luar
biasa dengan konsekuensi yang
mengerikan. Pada titik ini, orang-orang
di Israel merasa aman. Sampai-sampai ada
festival musik di dekat jalur Gaza.
Kami berangkat dari rumah sekitar tengah
malam. Katanya ini akan jadi festival
besar. Artis-artis didatangkan dari luar
negeri dan akan sangat keren. Kesempatan
untuk bersukaria. Saya tidak bertanya di
mana tempatnya. Lalu saya lihat Gaza
dinavigasi dan tanya kenapa kita sedekat
ini dengan Gaza.
Saat kami tiba, saya melihat banyak
polisi, keamanan, dan militer. Saya
pikir, "Oke, kita aman. Semua akan
baik-baik saja. Kemungkinan paling
buruknya ada tembakan roket.
Perasaan itu tidak bisa digambarkan 6
jam terkeren dalam hidup saya. Kami
melompat, bersenang-senang.
Ini lebih dari sekadar musik.
6 Oktober sekitar 4000 orang berkumpul
untuk menari di Gurun Negev. hanya 5 km
dari perbatasan ke Gaza.
Di sisi lain pagar, Hamas memulai
serangan mereka terhadap Israel. Tahap
1.
Pertama, mereka mengaktifkan semua
telepon seluler
dengan kartu SIM Israel yang dibeli
secara bebas di pasar Israel.
Ini salah satu tanda bahwa Israel
mestinya menempatkan seluruh pasukan di
perbatasan.
Jika ingin berkomunikasi, mereka tidak
bisa memakai telepon Palestina yang
tidak bisa dioperasikan di Israel.
Masalahnya kami gagal memahami bahwa
tujuan aktivasi ini hanya satu.
Di Tel Afif, komunitas intelligenten
menerima peringatan.
Kami tahu ada rapat video para petinggi
militer. Mereka tahu ada hal berbeda
yang sedang terjadi dan mereka
memutuskan untuk membahasnya lagi besok
paginya terlambat.
Serangan dimulai malam itu juga.
Sekitar pukul .00 Pagi, orang-orang di
pihak Hamas berkumpul di masjid dan
tempat-tempat lain.
Jadi, ada kejadian luar biasa di mana
3000 milisi Hamas dipanggil ke masjid.
Bukan lewat telepon atau radio, tapi
lewat utusan langsung.
Diperintahkan mengambil senjata dari
rumah dan melapor untuk bertugas. Mereka
masih tidak tahu mereka akan menyerah.
Mereka pikir itu latihan.
Masjid adalah salah satu tempat yang di
bawahnya ada amunisi dan semacamnya.
Hanya beberapa komandan yang tahu
serangan akan terjadi.
Orang tingkat bawah dan saya berbicara
dengan mereka. Mereka baru tahu pada
dini hari.
Pukul 629 pagi, Hamas meluncurkan ribuan
roket.
Mereka mulai dengan roket dan rudal
karena mereka tahu orang Israel terbiasa
dengan rudal dan roket.
Di seluruh negeri, pihak berwenang
mengumumkan siaga merah.
bukanlah operasi biasa kalau ada 3000
atau 4000 rudal yang bisa dilihat di
layar TV di seluruh negeri.
Di seluruh negeri ada artilleriy ruda.
Jadi banyak orang paham bahwa saat itu
akan ada infiltrasi. Tapi tidak ada yang
mengira akan sebesar itu.
Tujuan serangan roket itu adalah
menutupi motif operasi yang sebenarnya.
Hamas menggunakan drone udara untuk
menjatuhkan granat ke menara-menara,
melumpuhkan kamera, sensor, dan senjata
otomatis.
Hamas dengan cerdik merencanakan
pelumphan sensor-sensor itu di awal
serangan.
Menembak sangat mudah.
Sekitar 3.000 simpatisan bersenjata
lengkap dari Hamas dan milisi lainnya
maju ke pagar perbatasan.
Saat tiba di pagar, mereka semua
diberitahu ini bukan latihan, kita akan
masuk.
Lalu mereka meledakkan pagar di puluhan
titik.
Saya rasa di menit-menit terakhir
Shinuar memutuskan menyerang 60 titik
penyeberangan,
bukan empat atau lima, untuk menyandera
kembali lalu menegosiasikan pertukaran.
Setiap unit bertanggung jawab atas
tempat tertentu. Entah itu pangkalan
militer, kota, atau keyboots. Jadi,
setiap orang punya misi.
Mereka menyusup ke Israel dengan skoter,
truk pick up.
Mereka tidak tahu tentang misi lainnya.
Mereka sangat fokus, sangat spesifik.
Pelaksanaannya sebagus itu.
Ribuan tentara Hamas menyerbu
perbatasan.
Hamas tahu tentara Israel tidak akan
beroperasi penuh karena 7 Oktober adalah
hari libur Yahudi dan banyak pasukan
ditempatkan di tepi barat. Titik-titik
pertahanan yang kuat sudah diserbu. Lalu
mereka menyerang dengan para layang
bermotor.
Dalam perjalanan mereka melihat festival
musik
itu mengejutkan.
Mereka tidak punya informasi intelijen
tentang pesta atau festival ini, tapi
itu sangat bagus bagi mereka. Ada ribuan
target.
Penyelenggara festival diberitahu adanya
serangan.
Tiba-tiba musik berhenti.
Saya mendongak dan melihat sesuatu yang
mirip kembang api.
Kami ada di dekat lantai dansa dan
melihat pesawat nyerawak lalu
melambaikan tangan. Kami pikir itu
bagian dari acara yang memotret
festival.
Lalu kami dengar suara tembakan semakin
dekat.
Tiba-tiba ada truk di depan kami. Mereka
berlari ke arah kami dan menembaki mobil
kami.
Kami melompat keluar dari mobil dan
berlari. Orang-orang di sebelah saya
jatuh. Saya tidak tahu apa yang terjadi.
Saya terduduk di tanah dan gemeta. Saya
tidak bisa lari.
Ada asap di mana-mana dan tembakan di
atas saya.
Kami lari ke lantai dana. Ada mayat di
mana-mana.
Kami terpaksa melangkahi mereka.
Saya menghubungi saudara saya dan
bertanya, "Di mana orang-orang? Di mana
tentara, polisi? Tidak ada helikopter di
sini.
Balasannya, Michal, gali lubang dan
kubur dirimu."
Cerita-cerita holokaust muncul di kepala
saya. Mereka bilang semasa holokaust
mereka menggali lubang untuk
bersembunyi. Saya pikir apa ini caranya
saya meninggal dunia?
Baku tembak dimulai. Seseorang di depan
saya memegangi kepalanya. Bilang, "Saya
tertembak." Dan saya lihat kepalanya
berlumuran darah. Dia menatap saya.
Saya tidak akan lupa tatapan itu.
Dia tidak berdaya dan saya bilang kita
semua akan tewas di sini.
Lalu ada granat meledak.
Kedua telinga saya berdarah. Saya tidak
bisa mendengar, hanya dengar dengingan.
Perut saya kena pecahan peluru. Saya
menunduk dan lihat darah mengucup.
Saya tidak melihat kilasan hidup saya
seperti kata orang. Saya hanya berbaring
dan berpikir apakah ini cara saya
meninggal dunia?
Lebih dari 350 orang dibunuh Hamas.
Itu pembantaian.
Sekitar 40 disandra dari festival itu
dan dibawa ke Gaza.
Semakin banyak milisi Hamas menyeberangi
pagar terbuka ke Israel.
Begitu serangan dimulai, orang lain ikut
bergabung. Lalu orang-orang yang belum
pernah berlatih ikut menyeberang
perbatasan dan melampiaskan rasa
frustrasi dan kecemasan mereka pada para
korban malang di sana.
Desa-kota Israel sangat dekat dengan
perbatasan. 5 menit kadang dengan
berjalan atau berlari. Mereka hanya
perlu menyeberang di beberapa titik
untuk masuk ke kibim.
Begitu menyeberang, sisi lain berubah
jadi medan perang.
Hamas juga menyerang kibut neiros.
Banyak penghuninya masih tertidur.
Para militan menembak siapapun yang
mereka lihat.
Saya dengar suara-suara berbahasa Arab.
Teriakan, jeritan, suara mengerikan.
ledakan dan saya sadar bukan hanya ada
roket.
Setelah berjalan sekitar 1 jam kami tiba
di dua kibut zim utama Niros dan Niram.
Kami di sini di pusat permukiman.
Pukul .30 pagi saya mendapat pesan dari
mantan suami yang sedang bersama
anak-anak kami. Katanya ada teroris di
rumah. Mereka melompat keluar dari
jendela ruang aman dan sembunyi di
semak-semak.
Listrik mati, AC juga gelap dan panas.
Dan saya dengar mereka datang.
Mereka ada di rumah saya.
Mereka tidak bergegas. Itulah yang
mengejutkan. Mereka tidak terburu-buru.
Mereka berkeliling seolah itu desa
mereka. Mereka membunuh dengan santai.
Mereka menjarah. Mereka membawa semua
orang dari desa mereka. Orang tua, muda,
anak-anak.
semuanya di sana
dan tidak ada yang datang menyelamatkan
kami.
Saat keluar saya lihat rumah-rumah
terbakar
dan mobil-mobil yang diparkir semuanya
hancur.
Mayat yang dibakar dan dimutilasi.
Saya mulai sadar besarnya bencana ini.
Ini Soah. Tidak ada kata lain untuk itu.
Saya menelepon keluarga, tapi anak-anak
tidak menjawab.
Ayah mereka tidak menjawab.
Ibu saya juga.
Lima anggota keluarga saya hilang.
Saya tidak tahu mereka di mana. Ibu saya
berusia 80 tahun. Noya keponakan saya
yang berusia 13 tahun autis.
Over ayah anak-anak saya. Er putra saya
yang berusia 12 tahun dan putri saya
yang berusia 16 tahun. Sahar. Saya
panik.
Tidak lama ada video online
video putra saya RS di Sandra.
5 hari kemudian saya dapat konfirmasi
resmi bahwa mereka di Sandra.
Pada 18 Oktober ada yang mengetuk pintu.
Saya diinfokan bahwa Ibu dan Noya
ditemukan di penampungan
bergelimang darah.
Para militan menculik warga Israel, muda
maupun tua dan membawa mereka ke Gaza.
Allahu Akbar. Allahu Akbar.
Allahu Akbar.
Mereka berencana menangkap 10 hingga 20
orang. Itu perintahnya.
Membawa 240 orang adalah kejutan
strategis bagi kami dan mereka.
Hampir semua warga Israel kenal
seseorang yang dibunuh atau disandra.
7 Oktober adalah hari paling berdarah
dalam sejarah Yahudi sejak Shoah
Holocaust.
Israel sangat syok. Lagi-lagi mereka
trauma.
Jika diingat lagi saya pikir ini masih
seolah mimpi atau mimpi buruk.
tentara, warga sipil, perempuan,
anak-anak. Mereka target kekejaman Hamas
itu pembantaian
bukan operasi militer. Dan itu
mengerikan.
Militan Hamas dan jihad Islam telah
menyusup 18 km ke Israel, membunuh dan
menyandra warga.
Wilayahnya sangat luas. Seluruh Negev
bagian selatan ditaklukkan selama 48
jam.
itu pembantaian.
Tidak lama setelahnya semua bertanya
bagaimana negara Israel membiarkan ini
terjadi?
Itu gabungan semacam hukum Murphy.
Semua yang bisa salah akan salah pada
hari itu.
Tidak ada cukup tentara. Orang-orang
tidak ada di pos mereka. itu pagi hari
libur. Israel dengan cara tertentu
bersiap untuk insiden yang sangat-sangat
kecil, bukan untuk perang.
Warga Israel, kita sedang berperang.
Bukan operasi, bukan pertempuran. Perang
musuh pasti akan membayarnya.
Israel mencoba mengambil kendali,
merebut pos-pos militer
dan membebaskan Sandra.
Perasaan kami campur aduk, terkejut,
malu, ingin balas dendam, gagal.
Karena Israel sangat terkejut. Butuh
waktu 3 minggu untuk menyiapkan operasi
darat.
Jalur Gaza ditutup total dan 360.000
tentara cadangan dikerahkan untuk
serangan balasan.
Saya rasa para pemimpin Israel bertekad
membasmi ancaman teroris,
tapi sulit untuk tidak melihat adanya
keinginan balas dendam di sana.
Balas dendam tidak baik dalam kalkulasi
perang, tapi itu tidak bisa dicegah.
Naif jika berpikir tidak ada yang mau
balas dendam.
Itu dorongan yang manusiawi, tapi bukan
strategi yang bagus untuk menang.
Saya sangat khawatir dan saya duga akan
ada reaksi balas dendam dari orang
Israel.
Dan saya ingat menelepon sepupu saya di
Gaza dan bilang, "Cari cara untuk pergi
dari sana. Ini akan jadi bencana."
Beberapa jam setelah pembantaian, Israel
menyerang Gaza dari udara. Dampaknya
menghancurkan.
3 minggu kemudian, Israel melancarkan
serangan darat dengan puluhan ribu
tentara.
Gaza menjadi medan perang dan tinggal
kuing-kuing.
Pasukan Israel menghancurkan jaringan
terowongan. Mereka memburu Yahya Sinwar,
musuh publik nomor 1. Tapi rekaman
menunjukkan dia dan keluarganya
melarikan diri melalui Metro Gaza.
Ada di banyak kamera PDR di terowongan
yang kami masuki.
Direkam pada 7 atau 8 Oktober.
Rekamannya ditemukan beberapa minggu
kemudian. Saat itu Sinwar sudah ada di
tempat lain, tidak terlihat lagi.
Saya rasa Israel akan melakukan apapun
untuk membunuhnya. Tapi dia bukan orang
yang akan tewas di tempat tidur. Dia ada
di bank. Entah di bawah Kan Yunis atau
Di Rafa. Saya tidak tahu.
Dia yang paling tahu tentang terowongan
itu. Dan tentu saja dia dikelilingi para
Sandra.
Saya percaya informasi
bahwa mereka berhasil membunuhnya.
Tapi karena takut membahayakan nyawa
Sandra, mereka menahan diri.
Di Israel, pembantaian 7 Oktober punya
wajah spanduk besar di Tel Afif.
Ingatlah siapa yang diuntungkan dari
perpecahan ini. Bersatulah sekarang.
Sinwar adalah simbol yang sangat penting
bagi Hamas, tapi juga bagi orang Israel.
Kita bisa memahami kebutuhan mereka
untuk menangkapnya agar merasa aman.
Fokus hanya pada satu orang dan bila
begitu kita membunuhnya kita menang.
Buat saya itu kekanakan.
Saya rasa Sinwar penting seperti Bin
Laden. Itu simbol. Tapi kita tidak perlu
memperpanjang perang untuk menemukannya.
Kita mungkin akan menemukannya 10 tahun
lagi.
Israel telah keliru karena gagal
menemukan cara menyerang yang lebih baik
dan cerdik untuk membebaskan Sandra dan
membunuh Sinwar dan rekan-rekannya.
Menurut PBB, serangan udara dari invasi
jalur Gaza telah menewaskan lebih dari
40.000 orang dan melukai lebih dari
90.000 orang, termasuk banyak perempuan
dan anak-anak.
Israel membela serangan skala besar
tersebut dengan mengklaim Hamas
bersembunyi di antara penduduk Sipil.
Lebih dari 70.000 bangunan hancur.
Ratusan ribu orang kehilangan tempat
tinggal. Kelaparan, penyakit, dan
keputusasaan ada di mana-mana.
Saya bahkan tidak bisa membayangkan
tingkat rasa takut dan trauma penduduk
di Gaza sekarang. Mereka tidak tahu
apakah mereka atau keluarga mereka akan
terbunuh.
Saya kehilangan 70 lebih anggota
keluarga. Kami kehilangan semua rumah
dan harta benda kami.
Yang terburuk dari kejadian di Gaza
adalah semua ini disiarkan di televisi.
Semua orang tahu dan bisa melihat
kejadian di Gaza di layar kaca dan dunia
belum bisa menghentikannya.
Satu lagi generasi di Gaza yang hidup
dalam perang menjadi trauma dan rentan
radikalisasi.
Ini tidak membuat Israel lebih aman.
Memang benar bahwa orang-orang yang
sekarang menderita karena Israel akan
menjadi anti Israel di masa mendatang.
Itu benar.
Kapan perang akan berakhir? Tidak ada
yang tahu. Sepertinya tidak ada tujuan
yang jelas.
Apa yang Netanyahu inginkan? Apa yang
Israel mau? Apa mereka mau memusnahkan
seluruh warga Palestina atau apa
masalahnya?
Basar Albelbisi melarikan diri dari
pengeboman seperti warga lainnya.
Baru saja ada serangan di sini.
Ada penembakan. Suaranya keras sekali.
Keadaan di sini berbahaya.
Di sini berbahaya
juga berbahaya bagi siapapun yang
berpikir untuk pulang.
Sebelum perang ini penjara besar
dipagari di tiga sisi. Sisi keempatnya
laut. Perang mengubahnya menjadi penjara
kecil. Pesawat terkadang terbang di atas
mengebom dan ingin membunuh kami.
Basyar sekarang tinggal di selatan.
Rumahnya di bagian utara hancur total.
Hal terburuknya kami tidak tahu ke mana
akan pergi, di mana kami akan tinggal,
apakah bisa pulang lagi?
Kami pergi tanpa tahu kami tidak akan
pulang. Kami tidak mengira ini akan
berlangsung 6 bulan. Kami bilang mungkin
beberapa hari, 2 minggu dan kami akan
kembali. Kami tidak membawa pakaian,
dokumen, sertifikat. Tadinya kami pikir
itu tidak perlu.
Sejak 7 Oktober, ratusan ribu orang
melarikan diri melintasi Gaza untuk
mencari tempat berlindung.
Tidak ada air, makanan, dan perlengkapan
medis.
Mereka rakyat biasa dari kota Gaza.
Mereka selalu waspada selama 200 hari.
Dan itu terlihat di mata mereka di sana
ada kesedihan dan kelelahan. Yang
terpenting mereka kehilangan harapan
untuk tinggal di sana lagi. Sama sekali
tidak ada makanan, pengeboman tidak
berhenti. Kematian dan kehancuran di
mana-mana. Tidak ada tempat yang aman di
Gaza.
Di utara terlalu berbahaya. Mereka ingin
mengusir seluruh penduduk dari Gaza
Utara.
Basyar dan keluarganya telah tiga kali
mengungsi.
Kini mereka berkemah di pantai.
Tempat-tempat ini tidak berpenghuni
sebelum perang.
Kami mengalami bentuk pengusiran yang
paling mengerikan.
Kami harus menanggung kekejaman ini.
Tidak ada yang menang dalam perang ini.
Orang Palestina menghadapi kematian dan
penderitaan.
Is berduka atas kematian. berharap para
Sandra yang masih ditahan Hamas bisa
pulang.
Penyanderan itu pengalaman yang
mengerikan bagi orang Israel. Pikiran
masih adanya Sandra di terowongan di
Gaza dan perempuan yang diperkosa adalah
hal yang menurut saya tidak dapat
diterima oleh orang Israel manaun.
ini tentang warga negara tidak bersalah
yang diculik organisasi teror yang
brutal dan mereka benar-benar menderita
penghinaan itu tidak dapat diterima.
Israel tenggelam dalam kesedihan semacam
depresi.
Wajah para Sandra dapat dilihat di
mana-mana di jalanan.
Semua orang di sini tahu nama dan kisah
mereka.
Kerabat mereka terus memprotes Netanyahu
dan pemerintahannya.
Seperti di luar kedutaan AS di Tel Afif
ini.
Pemerintahan ekstrem kanan ini ingin
terus berperang dan tidak fokus
memulangkan Sandra.
Netanyahu tidak peduli dengan para
Sandra atau setidaknya menyadari dia
tidak bisa mencapai tujuan perangnya
melenyapkan Hamas jika dia peduli dengan
para Sandra.
Inilah alasan Sara Netanyahu bilang
kepada para keluarga, "Kalian masuk
dalam permainan sinuar." Dan itu
mengerikan untuk dikatakan kepada orang
tua anak-anak di korban Sandra. Tapi
saya tahu dari mana asalnya. Tentu saja
Sinwar dan yang lain tahu kita sensitif
dan kita negara demokratis dan
orang-orang akan berdemonstrasi di
jalan.
Para keluarga korban terus berkampanye
dan melampiaskan kemarahan mereka.
Mereka demo di depan markas besar Partai
Likut. Partainya Benjamin Netanyahu.
Penyandraan ini memicu trauma SOA.
Permainan Hamas sangat kejam, semacam
perang psikologis dengan terus
mengunggah video para Sandra. Dengan
begitu mereka membuat publik Israel
geram.
Secara psikologis mereka sangat
menyakiti kami. Maksud saya upaya mereka
melakukan apapun untuk melemahkan kami
cukup nyata dan itu berhasil.
Secerca ha ini melemahkan Israel.
Mantan suami Hadas Calderon masih di
Sandra Hamas.
Anak-anaknya dibebaskan pada akhir
November bersama dengan 108 Sandra
lainnya sebagai ganti tahanan Palestina.
Anak-anak saya hilang selama 52 hari.
Lalu mereka pulang.
Kami berpelukan dan menangis.
syok. Dia tersenyum tapi dia syok.
Dia masih belum bisa menangis sampai
hari ini.
Sahar langsung menangis tanpa berhenti.
Mereka terus bicara.
Mereka kembali. Tapi ini belum selesai.
Mereka terus mengingat Oktober.
Mereka hidup dalam ketidakpastian dan
ketakutan. Mereka pikir teroris bisa
menyerang lagi. Rumah mereka bukan lagi
tempat yang aman.
Kepolosan mereka telah dicuri.
Tidak ada lagi kebahagiaan. Tidak ada.
Saya sendiri sadar tidak ada lagi yang
membuat kami bahagia.
Dulu kami bisa menikmati hal-hal kecil,
sekarang tidak. Seolah ada sesuatu yang
telah dimatikan.
Perjuangan kami belum berakhir. Ayah
mereka masih di sana.
Rasa sakit semacam ini tidak bisa
dilawan.
Selama le
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:12:57 UTC
Categories
Manage