Transcript
7VYRLsdMDGY • Omnivora – Bagaimana seekor udang calico bisa jadi ancaman | DW Dokumenter
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/DWDokumenter/.shards/text-0001.zst#text/0096_7VYRLsdMDGY.txt
Kind: captions
Language: id
Calico sangat rakus
dan berkembang biak dengan sangat cepat.
Udang karang air tawar ini
sekarang mengancam spesies liar lokal.
Dalam satu kolam kecil,
puluhan ribu udang karang dapat hidup.
Bisakah spesies invasif ini dihentikan?
Atau justru akan terus menyebar ke seluruh Jerman?
Mengapa udang karang calico
begitu berbahaya bagi keanekaragaman hayati?
Salah satunya karena mereka mampu
berkembang biak dengan sangat cepat.
Seperti yang terjadi di Rheinstetten, Jerman ini.
Pada akhir 2017,
diperkirakan sekitar 60.000 udang karang hidup di sini.
Setelah mereka menyantap semua spesies,
calico memakan sesamanya.
Dan kini yang tersisa hanya rawa yang keruh.
Mereka memakan semuanya:
Tumbuhan air, larva, hingga kecebong.
Mereka adalah omnivora yang mampu
bertahan hidup di perairan seperti ini.
Kami tidak tahu itu sebelumnya.
Kami menghadapi spesies yang benar-benar baru.
Tim peneliti sedang berusaha keras
mengatasi masalah ini.
Udang karang calico juga dapat menyebar di daratan,
menginvasi seluruh biotop.
Media massa di Jerman menyoroti spesies ini.
"Mesin pembunuh",
“Memakan semua yang ada di depan mereka”,
"Bencana”, demikian tajuk utama media Jerman.
Sebagai omnivora, udang karang calico
menyukai larva dan tanaman.
Calico berkembang biak dengan sangat cepat.
Setelah menetas, udang karang hanya butuh
tiga atau empat bulan untuk bertumbuh dewasa.
Lebih cepat daripada jenis
udang karang mana pun di Eropa.
Betinanya dapat bertelur hingga 500 butir.
Di Jerman, tak ada pesaing lain yang sepadan.
Calico unggul dalam segala hal
dibanding udang karang lokal
berkat kemampuannya berkembang biak.
Kami menemui seorang nelayan
di kota kecil di Karlsruhe.
Dia berburu udang karang,
dan bisa menangkap ribuan hewan itu
hanya dari satu kolam.
Saya sudah menangkap sekitar 10.000 udang karang
dalam beberapa tahun terakhir.
Pernah dalam satu keranjang
isinya ada lebih dari 100 ekor!
Tapi kadang tangkapan sedikit, seperti sekarang.
Berkat menangkap udang karang
selama bertahun-tahun,
ia pun mulai bisa mengatasi masalah ini.
Udang karang memakan semua yang ada di kolam ini.
Sekarang, Anda bisa melihat tanaman tumbuh kembali.
Sebelumnya tidak seperti itu!
Dulu semuanya habis.
Dia berusaha mengendalikan
populasi udang karang di tempat tinggalnya.
Namun, mustahil memusnahkan semuanya.
Nelayan itu bertemu dengan tim peneliti Jerman-Prancis
yang sedang melakukan sensus skala besar.
Mereka ingin tahu seberapa cepat udang karang
berkembang biak di perairan Jerman.
Pertama, udang disuntik.
Kami sedang mengukur dan menandai udang karang itu
agar kami dapat mencarinya setelah dilepas.
Udang karang sudah menghancurkan
beberapa biotop di sini.
Tim peneliti juga sudah menangkap
serta memusnahkan ribuan ekor.
Namun, mereka tidak mampu membasmi semuanya,
sehingga mereka ingin memahami
perilaku hewan itu lebih baik.
Udang karang calico menjadi masalah utama
di wilayah hulu Sungai Rhein,
tetapi mereka sudah menyebar ke utara,
sepanjang sungai di Nordrhein-Westfalen.
Wilayah Eropa lainnya juga berisiko.
Namun, udang karang ini tidak termasuk
dalam daftar spesies asing invasif Uni Eropa
yang mengancam satwa setempat.
Mereka sudah menyebar jauh di sepanjang Sungai Rhein
dan akan segera mencapai Belanda.
Mereka perlu segera dimasukkan
ke daftar spesies asing invasif Uni Eropa.
Harapannya, studi kami dapat
membantu mewujudkannya.
Jika benar terwujud, udang karang calico
akan diakui sebagai ancaman besar.
Kolam kecil di Rheinland-Pfalz ini
jadi bukti betapa ganasnya hewan itu.
Mereka sukses menghancurkan seluruh biotop ini.
Kami sudah cukup lama mengikuti tim peneliti ini.
Mereka ingin memperkenalkan kembali
kura-kura rawa Eropa,
yang dianggap sudah punah di wilayah Rhein.
Tim ini telah berupaya keras melepaskan kura-kura baru.
Namun, udang karang calico terus mengganggu.
Kami memperkenalkan kembali spesies
kura-kura lokal ini bertahun-tahun yang lalu.
Sekarang banyak sekali waktu yang kami habiskan
untuk mengurusi spesies invasif
dibanding kura-kura lokal.
Bagi ahli konservasi, ini sungguh membuat frustrasi.
Kolam ini awalnya dibuat khusus
untuk kura-kura bertahun-tahun lalu.
Namun, udang karang calico datang dan menguasainya.
Tempat ini awalnya dipenuhi tanaman dan serangga,
serta berair jernih.
Begitu udang karang hadir,
semua berubah menjadi rawa keruh.
Inilah bukti bagaimana udang karang calico
dapat merusak proyek konservasi mahal
yang awalnya ditujukan untuk spesies lokal.
Jika berkembang biak terlalu cepat,
mereka bahkan bisa saling memakan.
Meskipun mereka tidak dapat memakan kura-kura,
mereka dapat menghancurkan habitatnya.
Kami terus berusaha menciptakan habitat baru
untuk memulihkan keanekaragaman hayati,
tetapi yang terjadi justru kembalinya spesies invasif
yang mengganggu keseimbangan ekosistem.
Perjuangan kami terasa sia-sia.
Sempat ada banyak udang karang
yang mati di sini akibat kekeringan,
tetapi populasinya bisa pulih dengan cepat.
Keberadaan calico tidak hanya
jadi ancaman bagi kura-kura,
tapi juga bencana bagi amfibi setempat.
Kini, habitat mereka di sepanjang Sungai Rhein
dalam bahaya.
Penggiat konservasi asal Australia ini
memantau amfibi di wilayah hulu Sungai Rhein.
Dia selalu was-was akan menemukan udang karang
di salah satu biotop kecil yang sedang dia teliti.
Dia yakin, itu hanya soal waktu.
Apa pun dapat terjadi.
Setiap kali sampai di suatu tempat,
bisa jadi calico sudah ada.
Di sini, amfibi tidak berdaya melawan udang karang.
Telur dan kecebong mereka akan dimakan.
Pertanyaannya adalah,
apakah populasi amfibi akan stabil
pada tingkat yang lebih rendah di alam,
atau justru akan menurun sampai punah?
Itu adalah kondisi yang tidak ingin kami temukan.
Tiga jam kemudian,
setelah matahari terbenam,
ahli biologi itu menunjukkan kepada kami
biotop yang sudah direnggut oleh udang karang calico.
Pada malam hari, spesies invasif ini sangat aktif.
Dulu dia bisa menemukan ratusan katak
di sini pada malam hari.
Sekarang, hanya ada satu.
Tak jauh dari sana,
dia menangkap udang karang calico pertamanya.
Konon, ribuan udang karang hidup di rawa kecil ini.
Amfibi sudah pasti kalah.
Dia terus menemukan jejak udang karang
di sepanjang tepian.
Itu adalah cangkangnya.
Ketika mereka tumbuh,
cangkangnya tidak dapat membesar.
Mereka perlu melepaskannya.
Satu hal yang pasti:
Mengusir udang karang itu mustahil.
Mereka terlalu dominan.
Ini artinya, banyak habitat amfibi lainnya juga terancam.
Cornelia Buchta menunjukkan kepada kami
apa yang dipertaruhkan.
Wilayah selatan Karlsruhe ini
belum didatangi udang karang.
Tempat ini menjadi habitat bagi katak
dan berbagai jenis kadal air.
Habitat ini diciptakan khusus untuk amfibi,
yang populasinya sudah terancam
akibat ekspansi perkotaan.
Kini, udang karang calico berpotensi menjadi ancaman.
Di sekitar Karlsruhe,
situasi bagi amfibi cukup memprihatinkan.
Hal ini disebabkan oleh pemanfaatan lahan
dan pemisahan habitat hidup
dan tempat berkembang biak,
yang membuat mereka sulit mencapai habitat darat.
Spesies invasif, terutama udang karang calico
juga memperburuk keadaan.
Seluruh biotop terancam.
Padahal, banyak di antaranya merupakan habitat
bagi spesies amfibi yang terancam punah.
Saat ini, separuh spesies amfibi
endemik Jerman terancam punah.
Populasi capung juga menurun.
Ahli biologi ini telah mempelajari serangga
selama puluhan tahun.
Di Trippstadt, di sebuah hutan dekat Karlsruhe,
dia membeli sejumlah bekas kolam pemancingan
untuk membangun oasis capung.
Untuk saat ini, rawa tersebut masih
menjadi habitat penting bagi sang predator.
Udang karang calico belum menyebar di sini.
Namun di Kandel,
dekat sungai di wilayah selatan Rheinland-Pfalz,
udang karang sudah menyebar.
Spesies itu telah menghancurkan habitat vital capung.
Dulu ada lebih banyak spesies di sini,
tapi belakangan ini,
kami menyadari bahwa populasi mereka
menurun secara signifikan.
Sempat menjadi habitat yang aman,
sekarang telur dan larva capung
menjadi santapan udang karang.
Populasi capung yang menurun berdampak
pada terganggunya rantai makanan.
Capung merupakan mangsa bagi sejumlah spesies.
Banyak spesies burung memangsa capung
yang baru menetas, bahkan capung dewasa.
Laba-laba, reptil, dan amfibi juga kehilangan
sebagian pasokan makanan mereka.
Dampak jangka panjang dari udang karang
terhadap ekosistem masih belum jelas.
Namun, yang pasti,
udang karang calico sudah menemukan kondisi ideal
untuk menyebar dari satu biotop ke biotop lainnya.
Hal ini karena sebagian besar area ini saling terhubung.
Keterhubungan di alam biasanya menjadi hal positif.
Dengan begitu, semuanya bisa berkomunikasi,
dan spesies bisa menyebar.
Namun dalam kasus ini,
keterhubungan menjadi masalah ketika spesies invasif juga ikut menyebar.
Ahli biologi ini hanya bisa menyaksikan
serangga kesayangannya dimangsa
dan habitatnya perlahan menghilang.
Lain lagi temuan dari ahli biologi ini.
Ia menunjukkan dampak invasi udang karang
yang mengubah dataran banjir di hulu Sungai Rhein.
Peneliti yang menggeluti udang karang calico
selama lebih dari 15 tahun itu
mengonfirmasi bahwa spesies udang karang lokal
sudah musnah di sini.
Meski bisa langsung mengenali udang karang calico,
ia kesulitan untuk menangkapnya.
Udang invasif itu kabur mencari perlindungan.
Mereka memang sangat lihai bertahan hidup.
Itulah perbedaan antara menangkap udang karang
yang invasif dan udang karang biasa.
Udang karang biasa akan diam karena panik,
sementara udang karang yang invasif
akan melarikan diri.
Fakta bahwa hanya udang karang invasif
yang hidup di sini
disebabkan oleh sesuatu
yang disebut wabah udang karang.
Wabah itu dibawa oleh sebagian besar
udang karang yang bermigrasi,
tetapi mereka sendiri tidak mati karenanya.
Sayangnya, wabah itu membuat spesies lokal mati
dalam satu atau dua minggu.
Wabah udang karang yang disebabkan oleh
patogen invasif mirip fungi itu
menyebabkan kelumpuhan.
Hewan yang terinfeksi
sering kali kehilangan anggota tubuh.
Wabah ini tidak berbahaya bagi manusia.
Namun, spesies asing lainnya,
seperti udang karang sinyal, udang karang berduri,
atau udang karang rawa merah,
mampu menularkan penyakit ini.
Ahli biologi ini hanya bisa pasrah
ketika spesies udang karang Amerika itu
menggusur spesies setempat.
Sedang terjadi pergeseran spesies udang karang.
Udang karang calico berbeda dari udang karang Eropa.
Mereka itu cocoknya dianggap hama,
karena cara hidup mereka berbeda
meski hidup di lingkungan yang sama.
Udang karang calico juga memasuki area
yang sebelumnya tidak dihuni udang karang.
Misalnya dataran banjir,
yang hanya tergenang air untuk sementara
dan bisa sangat hangat di musim panas.
Udang karang lokal tidak mampu
bertahan di kondisi seperti itu.
Akibatnya, ekosistem di sana belum siap
dengan keberadaan udang karang apa pun.
Sayangnya, udang karang calico
bisa berkembang pesat di sana.
Hal itu menimbulkan dampak ekologis serius
seperti yang bisa kita amati saat ini.
Masih terlalu dini untuk mengetahui
seberapa besar wabah udang karang
akan mengubah dataran banjir di hulu Sungai Rhein.
Pertanyaannya, bisakah invasi
udang karang calico dihentikan?
Dan bagaimana awalnya ini bisa terjadi?
Udang karang calico berasal
dari Amerika Utara dan Kanada.
Di sana, mereka menghadapi persaingan ketat.
Namun, mereka menemukan cara bertahan hidup
dengan mengikuti apa yang disebut strategi-R,
yakni strategi reproduksi
dengan menghasilkan sebanyak mungkin telur
demi memastikan sebagian keturunannya
bisa bertahan hidup.
Di Jerman, habitat untuk udang karang lebih luas
karena hampir tidak ada pesaing
dan hanya sedikit pemangsa
yang mau memakan mereka.
Di sini, udang karang calico sebagian besar hidup
di kolam dan rawa tanpa ikan pemangsa,
sehingga mereka hampir tidak punya musuh.
Namun, bagaimana spesies Amerika Utara ini
bisa sampai ke Jerman?
Semuanya mungkin bermula di sekitar danau buatan
di dekat bandara internasional Karlsruhe ini.
Dari hanya sedikit udang karang,
bahkan mungkin hanya dari seekor betina
mampu mengubah segalanya.
Jika seekor betina dapat bertelur 250 hingga 500 butir,
dia dapat dengan cepat memperbanyak populasi.
Artinya, satu kejadian tunggal saja sudah cukup
untuk membentuk populasi baru.
Tak jauh dari sana, sebuah bekas bandara militer
juga turut memainkan peran.
Tentara Kanada ditempatkan di sini hingga tahun 1993.
Di Kanada, para tentara biasanya
memakai udang karang sebagai umpan pancing.
Selama proses riset, kami menemukan beberapa video
yang menunjukkan cara menggunakan
udang karang sebagai umpan.
Caranya mudah.
Saya pasang seperti ini karena
ikan akan menyerang udang karang
dengan memutar ekornya
dan memakannya dari ekor terlebih dahulu.
Jadi itulah mengapa saya mengarahkan kail seperti itu.
Baiklah, mari kita coba.
Beberapa udang karang
mungkin berhasil melepaskan diri dari kail,
atau mungkin juga,
yang terjadi jauh lebih sederhana.
Biasanya, nelayan membawa ember kecil
berisi udang karang untuk dijadikan umpan.
Tapi jika tidak dapat ikan,
mereka bisa saja langsung ingin pulang,
tapi, embernya kan masih penuh dengan udang karang.
Jadi, bisa saja mereka berpikir
bahwa membawa embernya pulang akan repot.
Alhasil, mereka membuangnya ke air.
Di Amerika Utara,
hal ini disebut bait bucket introduction,
yaitu masuknya spesies invasif ke habitat baru
karena pembuangan isi ember umpan ke perairan.
Skenario inilah yang paling mungkin
menjadi penyebabnya.
Namun yang pasti, manusialah yang membawa
udang karang calico ke Jerman.
Akibatnya, udang karang calico
memenuhi sekitar 80% dataran banjir
di sepanjang hulu Sungai Rhein.
Di beberapa area, hingga 10 ekor
bisa ditemukan dalam 1 m².
Dari sini, mereka menyebar ke arah utara
mengikuti aliran Sungai Rhein.
Belum jelas seberapa jauh penyebarannya,
karena penelitian masih terbatas.
Namun, laporan media sudah mulai
meningkatkan kesadaran publik.
Pada tahun 2018, warga menemukan
udang karang di Wiesbaden.
Di tahun yang sama, lebih banyak lagi
ditemukan di jantung kota Düsseldorf,
di anak sungai dan aliran kecil Sungai Rhein.
Bahkan, udang karang calico pertama
sudah ditemukan di Schwarzwald.
Keduanya kemungkinan besar dibawa oleh manusia,
karena kecil kemungkinan mereka bisa berpindah sejauh itu sendiri.
Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi invasi ini?
Kami kembali menemui nelayan
yang menganggap dirinya
sebagai seorang pemburu udang karang.
Saya tidak hanya memancing untuk menangkapnya.
Banyak nelayan yang suka menangkap ikan
lalu melepaskannya setelah ditimbang dan difoto.
Saya tidak seperti itu.
Nelayan itu tidak hanya berburu udang karang,
dia juga memakannya secara rutin.
Saya tidak menangkap hewan
hanya untuk dibunuh atau dibuang.
Itu tidak baik.
Kita harus bisa memanfaatkan tangkapan kita.
Bukan sebagai hidangan utama, tapi sebagai camilan.
Yang bisa dimakan hanya ekornya.
Tapi jika udang karang calico bisa dimakan,
kenapa tidak dimakan saja semuanya?
Saatnya menuju Berlin.
Di sini, udang karang rawa merah invasif
telah menyebar ke berbagai ruang hijau.
Memang ada perusahaan yang kini menangkap
dan menjualnya untuk kebutuhan kuliner.
Namun, populasinya masih tetap stabil.
Selama puluhan tahun,
sudah banyak upaya yang dilakukan
untuk memusnahkan semua udang karang di Eropa.
Upaya pemburuan massal juga sudah dilakukan.
Namun, cara itu tidak pernah berhasil.
Justru kini berdampak sebaliknya.
Populasi mereka malah bertambah banyak
dan menyebar lebih luas.
Udang karang dibawa ke sini
karena ada kepentingan untuk memanfaatkannya.
Tidak ada seorang pun yang ingin memusnahkan
sepenuhnya sesuatu yang mereka gunakan.
Kalau memakannya bukan solusi,
bagaimana dengan meracuni mereka dengan biosida?
Secara teori, bisa.
Mari kita lihat Swedia, Norwegia, dan Inggris.
Di sini biosida sedang diuji pada udang karang sinyal,
spesies invasif lainnya.
Salah satu biosida yang umum
digunakan adalah piretrum,
yaitu insektisida yang bahan aktifnya
berasal dari bunga seruni.
Di lokasi uji coba yang kecil,
para peneliti berhasil
membasmi udang karang sepenuhnya
hanya dengan satu, dua,
terkadang tiga perlakuan khusus.
Sayangnya, bukan hanya udang karang yang mati.
Dengan dosis ini, beberapa ikan, telur,
dan larva mungkin juga bisa mati.
Para peneliti melihatnya
sebagai intervensi darurat kimiawi,
tetapi hanya efektif jika udang karang belum menyebar.
Jika sudah, sulit dipastikan semuanya bisa dimusnahkan.
Namun, jika upaya ini berhasil,
pengamatan menunjukkan bahwa hewan lain
akan pulih dengan cepat di tahun pertama.
Jadi, biosida dapat membantu melawan spesies invasif.
Bisakah diterapkan di Jerman?
Solusinya benar.
Dalam biologi evolusi,
semakin cepat Anda menemukan hama,
semakin keras Anda harus “melawannya”.
Dalam kasus udang karang,
ini bisa dilakukan dengan biosida.
Namun, di sepanjang Sungai Rhein,
solusi ini sudah terlambat.
Udang karang sudah menetap.
Akankah Jerman menggunakan biosida
untuk pengendalian hama?
Kemungkinannya sangat kecil,
dan meskipun keputusan pada akhirnya diambil,
semuanya mungkin sudah terlalu terlambat.
Namun, ada beberapa kabar baik.
Setidaknya di tingkat lokal,
masuknya udang karang dapat dicegah
dan habitat amfibi dapat dilindungi.
Kami kembali menemui
tim ahli biologi di Rheinstetten.
Mereka tidak mau berdiam diri
melihat seluruh biotop amfibi hancur.
Pada tahun 2018,
mereka berhasil menangkap puluhan ribu
udang karang calico dari kolam ini.
Memang sangat memakan waktu,
tetapi kami tetap melakukannya
untuk melindungi spesies yang terancam punah.
Kami ingin memastikan katak pohon di sini tetap ada,
dan jika kami tidak mulai,
seluruh katak pohon akan musnah dari wilayah ini.
Menangkap udang karang saja tidak cukup.
Tim peneliti juga menumpuk kerikil
untuk mencegah udang karang menggali lubang.
Hal ini menghentikan udang karang untuk menggali,
dan menghancurkan lubang sembunyi mereka.
Intinya, kita harus tetap menghentikan invasi mereka.
Itulah mengapa mereka mengelilingi kolam ini
dengan pelindung dari batang pohon,
sebuah penghalang untuk mencegah
masuknya udang karang.
Meskipun udang karang calico
dapat bermigrasi berkilo-kilo meter jauhnya,
mereka tidak bisa melewati batang pohon
setinggi 30 cm ini,
selama tidak ada lubang yang digali tikus.
Untuk menghindari itu, lubang kayu segera ditutup.
Bahkan satu celah pun
dapat membahayakan keseluruhan proyek.
Jika seekor betina masuk air,
maka akan ada 350 ekor udang karang
dalam waktu singkat.
Seekor udang karang dapat memenuhi perairan
dengan ribuan keturunan hanya dalam setahun.
Selama ini, para peneliti tidak yakin
apakah langkah perlindungan mereka akan efektif.
Namun kini, upaya mereka jelas berhasil.
Tiga tahun lalu, kolam ini dipenuhi udang karang.
Kini, airnya kembali jernih,
dan penuh dengan keanekaragaman hayati.
Katak pohon kembali.
Kolam tersebut perlahan pulih,
dan tim peneliti bahkan juga menemukan
larva capung kaisar.
Mungkinkah ini menjadi solusi
untuk melindungi lebih banyak biotop ke depannya?
Coba bandingkan dengan rencana
penggantian jalan raya dan rel kereta.
Ada banyak perencanaan yang dilakukan.
Jadi, penting untuk mempertimbangkan
pengalaman kami.
Dampaknya sangat luas.
Dengan solusi ini,
habitat konservasi yang baru dibangun
dapat terlindungi dari udang karang calico sejak awal.
Proyek percontohan ini selesai pada tahun 2020,
dan tim peneliti Karlsruhe
sejak saat itu telah berkolaborasi
dengan organisasi lingkungan Jerman, NABU,
untuk mengubah lebih banyak biotop.
Lalu apa yang bisa kita pelajari
dari udang karang calico?
Yang pasti, menangkap, meracuni, atau memakannya,
tidak akan bisa memusnahkannya,
setidaknya di dataran banjir hulu Sungai Rhein.
Sudah terlambat jika kita mau
mencegah kedatangan udang karang calico.
Upaya yang bisa dilakukan adalah dengan
mencoba mengendalikan mereka di dataran banjir ini.
Kini tanggung jawab ada di tangan manusia.
Mencegah udang karang calico
menyebar ke seluruh Jerman.
Dampak pasti penyebarannya
terhadap spesies lokal bawah air
jika upaya itu gagal masih menjadi misteri.
Namun yang jelas, udang-udang karang baru
terus masuk ke ekosistem.
Di masa depan, perilaku manusialah
yang akan menentukan
apakah mereka akan mengganggu biotop kecil
di tempat lain di Jerman atau tidak.
Lagipula, udang karang calico dari Amerika itu
memang tidak seharusnya hidup di sini sejak awal.