Omnivora – Bagaimana seekor udang calico bisa jadi ancaman | DW Dokumenter
7VYRLsdMDGY • 2026-01-22
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Calico sangat rakus dan berkembang biak dengan sangat cepat. Udang karang air tawar ini sekarang mengancam spesies liar lokal. Dalam satu kolam kecil, puluhan ribu udang karang dapat hidup. Bisakah spesies invasif ini dihentikan? Atau justru akan terus menyebar ke seluruh Jerman? Mengapa udang karang calico begitu berbahaya bagi keanekaragaman hayati? Salah satunya karena mereka mampu berkembang biak dengan sangat cepat. Seperti yang terjadi di Rheinstetten, Jerman ini. Pada akhir 2017, diperkirakan sekitar 60.000 udang karang hidup di sini. Setelah mereka menyantap semua spesies, calico memakan sesamanya. Dan kini yang tersisa hanya rawa yang keruh. Mereka memakan semuanya: Tumbuhan air, larva, hingga kecebong. Mereka adalah omnivora yang mampu bertahan hidup di perairan seperti ini. Kami tidak tahu itu sebelumnya. Kami menghadapi spesies yang benar-benar baru. Tim peneliti sedang berusaha keras mengatasi masalah ini. Udang karang calico juga dapat menyebar di daratan, menginvasi seluruh biotop. Media massa di Jerman menyoroti spesies ini. "Mesin pembunuh", “Memakan semua yang ada di depan mereka”, "Bencana”, demikian tajuk utama media Jerman. Sebagai omnivora, udang karang calico menyukai larva dan tanaman. Calico berkembang biak dengan sangat cepat. Setelah menetas, udang karang hanya butuh tiga atau empat bulan untuk bertumbuh dewasa. Lebih cepat daripada jenis udang karang mana pun di Eropa. Betinanya dapat bertelur hingga 500 butir. Di Jerman, tak ada pesaing lain yang sepadan. Calico unggul dalam segala hal dibanding udang karang lokal berkat kemampuannya berkembang biak. Kami menemui seorang nelayan di kota kecil di Karlsruhe. Dia berburu udang karang, dan bisa menangkap ribuan hewan itu hanya dari satu kolam. Saya sudah menangkap sekitar 10.000 udang karang dalam beberapa tahun terakhir. Pernah dalam satu keranjang isinya ada lebih dari 100 ekor! Tapi kadang tangkapan sedikit, seperti sekarang. Berkat menangkap udang karang selama bertahun-tahun, ia pun mulai bisa mengatasi masalah ini. Udang karang memakan semua yang ada di kolam ini. Sekarang, Anda bisa melihat tanaman tumbuh kembali. Sebelumnya tidak seperti itu! Dulu semuanya habis. Dia berusaha mengendalikan populasi udang karang di tempat tinggalnya. Namun, mustahil memusnahkan semuanya. Nelayan itu bertemu dengan tim peneliti Jerman-Prancis yang sedang melakukan sensus skala besar. Mereka ingin tahu seberapa cepat udang karang berkembang biak di perairan Jerman. Pertama, udang disuntik. Kami sedang mengukur dan menandai udang karang itu agar kami dapat mencarinya setelah dilepas. Udang karang sudah menghancurkan beberapa biotop di sini. Tim peneliti juga sudah menangkap serta memusnahkan ribuan ekor. Namun, mereka tidak mampu membasmi semuanya, sehingga mereka ingin memahami perilaku hewan itu lebih baik. Udang karang calico menjadi masalah utama di wilayah hulu Sungai Rhein, tetapi mereka sudah menyebar ke utara, sepanjang sungai di Nordrhein-Westfalen. Wilayah Eropa lainnya juga berisiko. Namun, udang karang ini tidak termasuk dalam daftar spesies asing invasif Uni Eropa yang mengancam satwa setempat. Mereka sudah menyebar jauh di sepanjang Sungai Rhein dan akan segera mencapai Belanda. Mereka perlu segera dimasukkan ke daftar spesies asing invasif Uni Eropa. Harapannya, studi kami dapat membantu mewujudkannya. Jika benar terwujud, udang karang calico akan diakui sebagai ancaman besar. Kolam kecil di Rheinland-Pfalz ini jadi bukti betapa ganasnya hewan itu. Mereka sukses menghancurkan seluruh biotop ini. Kami sudah cukup lama mengikuti tim peneliti ini. Mereka ingin memperkenalkan kembali kura-kura rawa Eropa, yang dianggap sudah punah di wilayah Rhein. Tim ini telah berupaya keras melepaskan kura-kura baru. Namun, udang karang calico terus mengganggu. Kami memperkenalkan kembali spesies kura-kura lokal ini bertahun-tahun yang lalu. Sekarang banyak sekali waktu yang kami habiskan untuk mengurusi spesies invasif dibanding kura-kura lokal. Bagi ahli konservasi, ini sungguh membuat frustrasi. Kolam ini awalnya dibuat khusus untuk kura-kura bertahun-tahun lalu. Namun, udang karang calico datang dan menguasainya. Tempat ini awalnya dipenuhi tanaman dan serangga, serta berair jernih. Begitu udang karang hadir, semua berubah menjadi rawa keruh. Inilah bukti bagaimana udang karang calico dapat merusak proyek konservasi mahal yang awalnya ditujukan untuk spesies lokal. Jika berkembang biak terlalu cepat, mereka bahkan bisa saling memakan. Meskipun mereka tidak dapat memakan kura-kura, mereka dapat menghancurkan habitatnya. Kami terus berusaha menciptakan habitat baru untuk memulihkan keanekaragaman hayati, tetapi yang terjadi justru kembalinya spesies invasif yang mengganggu keseimbangan ekosistem. Perjuangan kami terasa sia-sia. Sempat ada banyak udang karang yang mati di sini akibat kekeringan, tetapi populasinya bisa pulih dengan cepat. Keberadaan calico tidak hanya jadi ancaman bagi kura-kura, tapi juga bencana bagi amfibi setempat. Kini, habitat mereka di sepanjang Sungai Rhein dalam bahaya. Penggiat konservasi asal Australia ini memantau amfibi di wilayah hulu Sungai Rhein. Dia selalu was-was akan menemukan udang karang di salah satu biotop kecil yang sedang dia teliti. Dia yakin, itu hanya soal waktu. Apa pun dapat terjadi. Setiap kali sampai di suatu tempat, bisa jadi calico sudah ada. Di sini, amfibi tidak berdaya melawan udang karang. Telur dan kecebong mereka akan dimakan. Pertanyaannya adalah, apakah populasi amfibi akan stabil pada tingkat yang lebih rendah di alam, atau justru akan menurun sampai punah? Itu adalah kondisi yang tidak ingin kami temukan. Tiga jam kemudian, setelah matahari terbenam, ahli biologi itu menunjukkan kepada kami biotop yang sudah direnggut oleh udang karang calico. Pada malam hari, spesies invasif ini sangat aktif. Dulu dia bisa menemukan ratusan katak di sini pada malam hari. Sekarang, hanya ada satu. Tak jauh dari sana, dia menangkap udang karang calico pertamanya. Konon, ribuan udang karang hidup di rawa kecil ini. Amfibi sudah pasti kalah. Dia terus menemukan jejak udang karang di sepanjang tepian. Itu adalah cangkangnya. Ketika mereka tumbuh, cangkangnya tidak dapat membesar. Mereka perlu melepaskannya. Satu hal yang pasti: Mengusir udang karang itu mustahil. Mereka terlalu dominan. Ini artinya, banyak habitat amfibi lainnya juga terancam. Cornelia Buchta menunjukkan kepada kami apa yang dipertaruhkan. Wilayah selatan Karlsruhe ini belum didatangi udang karang. Tempat ini menjadi habitat bagi katak dan berbagai jenis kadal air. Habitat ini diciptakan khusus untuk amfibi, yang populasinya sudah terancam akibat ekspansi perkotaan. Kini, udang karang calico berpotensi menjadi ancaman. Di sekitar Karlsruhe, situasi bagi amfibi cukup memprihatinkan. Hal ini disebabkan oleh pemanfaatan lahan dan pemisahan habitat hidup dan tempat berkembang biak, yang membuat mereka sulit mencapai habitat darat. Spesies invasif, terutama udang karang calico juga memperburuk keadaan. Seluruh biotop terancam. Padahal, banyak di antaranya merupakan habitat bagi spesies amfibi yang terancam punah. Saat ini, separuh spesies amfibi endemik Jerman terancam punah. Populasi capung juga menurun. Ahli biologi ini telah mempelajari serangga selama puluhan tahun. Di Trippstadt, di sebuah hutan dekat Karlsruhe, dia membeli sejumlah bekas kolam pemancingan untuk membangun oasis capung. Untuk saat ini, rawa tersebut masih menjadi habitat penting bagi sang predator. Udang karang calico belum menyebar di sini. Namun di Kandel, dekat sungai di wilayah selatan Rheinland-Pfalz, udang karang sudah menyebar. Spesies itu telah menghancurkan habitat vital capung. Dulu ada lebih banyak spesies di sini, tapi belakangan ini, kami menyadari bahwa populasi mereka menurun secara signifikan. Sempat menjadi habitat yang aman, sekarang telur dan larva capung menjadi santapan udang karang. Populasi capung yang menurun berdampak pada terganggunya rantai makanan. Capung merupakan mangsa bagi sejumlah spesies. Banyak spesies burung memangsa capung yang baru menetas, bahkan capung dewasa. Laba-laba, reptil, dan amfibi juga kehilangan sebagian pasokan makanan mereka. Dampak jangka panjang dari udang karang terhadap ekosistem masih belum jelas. Namun, yang pasti, udang karang calico sudah menemukan kondisi ideal untuk menyebar dari satu biotop ke biotop lainnya. Hal ini karena sebagian besar area ini saling terhubung. Keterhubungan di alam biasanya menjadi hal positif. Dengan begitu, semuanya bisa berkomunikasi, dan spesies bisa menyebar. Namun dalam kasus ini, keterhubungan menjadi masalah ketika spesies invasif juga ikut menyebar. Ahli biologi ini hanya bisa menyaksikan serangga kesayangannya dimangsa dan habitatnya perlahan menghilang. Lain lagi temuan dari ahli biologi ini. Ia menunjukkan dampak invasi udang karang yang mengubah dataran banjir di hulu Sungai Rhein. Peneliti yang menggeluti udang karang calico selama lebih dari 15 tahun itu mengonfirmasi bahwa spesies udang karang lokal sudah musnah di sini. Meski bisa langsung mengenali udang karang calico, ia kesulitan untuk menangkapnya. Udang invasif itu kabur mencari perlindungan. Mereka memang sangat lihai bertahan hidup. Itulah perbedaan antara menangkap udang karang yang invasif dan udang karang biasa. Udang karang biasa akan diam karena panik, sementara udang karang yang invasif akan melarikan diri. Fakta bahwa hanya udang karang invasif yang hidup di sini disebabkan oleh sesuatu yang disebut wabah udang karang. Wabah itu dibawa oleh sebagian besar udang karang yang bermigrasi, tetapi mereka sendiri tidak mati karenanya. Sayangnya, wabah itu membuat spesies lokal mati dalam satu atau dua minggu. Wabah udang karang yang disebabkan oleh patogen invasif mirip fungi itu menyebabkan kelumpuhan. Hewan yang terinfeksi sering kali kehilangan anggota tubuh. Wabah ini tidak berbahaya bagi manusia. Namun, spesies asing lainnya, seperti udang karang sinyal, udang karang berduri, atau udang karang rawa merah, mampu menularkan penyakit ini. Ahli biologi ini hanya bisa pasrah ketika spesies udang karang Amerika itu menggusur spesies setempat. Sedang terjadi pergeseran spesies udang karang. Udang karang calico berbeda dari udang karang Eropa. Mereka itu cocoknya dianggap hama, karena cara hidup mereka berbeda meski hidup di lingkungan yang sama. Udang karang calico juga memasuki area yang sebelumnya tidak dihuni udang karang. Misalnya dataran banjir, yang hanya tergenang air untuk sementara dan bisa sangat hangat di musim panas. Udang karang lokal tidak mampu bertahan di kondisi seperti itu. Akibatnya, ekosistem di sana belum siap dengan keberadaan udang karang apa pun. Sayangnya, udang karang calico bisa berkembang pesat di sana. Hal itu menimbulkan dampak ekologis serius seperti yang bisa kita amati saat ini. Masih terlalu dini untuk mengetahui seberapa besar wabah udang karang akan mengubah dataran banjir di hulu Sungai Rhein. Pertanyaannya, bisakah invasi udang karang calico dihentikan? Dan bagaimana awalnya ini bisa terjadi? Udang karang calico berasal dari Amerika Utara dan Kanada. Di sana, mereka menghadapi persaingan ketat. Namun, mereka menemukan cara bertahan hidup dengan mengikuti apa yang disebut strategi-R, yakni strategi reproduksi dengan menghasilkan sebanyak mungkin telur demi memastikan sebagian keturunannya bisa bertahan hidup. Di Jerman, habitat untuk udang karang lebih luas karena hampir tidak ada pesaing dan hanya sedikit pemangsa yang mau memakan mereka. Di sini, udang karang calico sebagian besar hidup di kolam dan rawa tanpa ikan pemangsa, sehingga mereka hampir tidak punya musuh. Namun, bagaimana spesies Amerika Utara ini bisa sampai ke Jerman? Semuanya mungkin bermula di sekitar danau buatan di dekat bandara internasional Karlsruhe ini. Dari hanya sedikit udang karang, bahkan mungkin hanya dari seekor betina mampu mengubah segalanya. Jika seekor betina dapat bertelur 250 hingga 500 butir, dia dapat dengan cepat memperbanyak populasi. Artinya, satu kejadian tunggal saja sudah cukup untuk membentuk populasi baru. Tak jauh dari sana, sebuah bekas bandara militer juga turut memainkan peran. Tentara Kanada ditempatkan di sini hingga tahun 1993. Di Kanada, para tentara biasanya memakai udang karang sebagai umpan pancing. Selama proses riset, kami menemukan beberapa video yang menunjukkan cara menggunakan udang karang sebagai umpan. Caranya mudah. Saya pasang seperti ini karena ikan akan menyerang udang karang dengan memutar ekornya dan memakannya dari ekor terlebih dahulu. Jadi itulah mengapa saya mengarahkan kail seperti itu. Baiklah, mari kita coba. Beberapa udang karang mungkin berhasil melepaskan diri dari kail, atau mungkin juga, yang terjadi jauh lebih sederhana. Biasanya, nelayan membawa ember kecil berisi udang karang untuk dijadikan umpan. Tapi jika tidak dapat ikan, mereka bisa saja langsung ingin pulang, tapi, embernya kan masih penuh dengan udang karang. Jadi, bisa saja mereka berpikir bahwa membawa embernya pulang akan repot. Alhasil, mereka membuangnya ke air. Di Amerika Utara, hal ini disebut bait bucket introduction, yaitu masuknya spesies invasif ke habitat baru karena pembuangan isi ember umpan ke perairan. Skenario inilah yang paling mungkin menjadi penyebabnya. Namun yang pasti, manusialah yang membawa udang karang calico ke Jerman. Akibatnya, udang karang calico memenuhi sekitar 80% dataran banjir di sepanjang hulu Sungai Rhein. Di beberapa area, hingga 10 ekor bisa ditemukan dalam 1 m². Dari sini, mereka menyebar ke arah utara mengikuti aliran Sungai Rhein. Belum jelas seberapa jauh penyebarannya, karena penelitian masih terbatas. Namun, laporan media sudah mulai meningkatkan kesadaran publik. Pada tahun 2018, warga menemukan udang karang di Wiesbaden. Di tahun yang sama, lebih banyak lagi ditemukan di jantung kota Düsseldorf, di anak sungai dan aliran kecil Sungai Rhein. Bahkan, udang karang calico pertama sudah ditemukan di Schwarzwald. Keduanya kemungkinan besar dibawa oleh manusia, karena kecil kemungkinan mereka bisa berpindah sejauh itu sendiri. Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi invasi ini? Kami kembali menemui nelayan yang menganggap dirinya sebagai seorang pemburu udang karang. Saya tidak hanya memancing untuk menangkapnya. Banyak nelayan yang suka menangkap ikan lalu melepaskannya setelah ditimbang dan difoto. Saya tidak seperti itu. Nelayan itu tidak hanya berburu udang karang, dia juga memakannya secara rutin. Saya tidak menangkap hewan hanya untuk dibunuh atau dibuang. Itu tidak baik. Kita harus bisa memanfaatkan tangkapan kita. Bukan sebagai hidangan utama, tapi sebagai camilan. Yang bisa dimakan hanya ekornya. Tapi jika udang karang calico bisa dimakan, kenapa tidak dimakan saja semuanya? Saatnya menuju Berlin. Di sini, udang karang rawa merah invasif telah menyebar ke berbagai ruang hijau. Memang ada perusahaan yang kini menangkap dan menjualnya untuk kebutuhan kuliner. Namun, populasinya masih tetap stabil. Selama puluhan tahun, sudah banyak upaya yang dilakukan untuk memusnahkan semua udang karang di Eropa. Upaya pemburuan massal juga sudah dilakukan. Namun, cara itu tidak pernah berhasil. Justru kini berdampak sebaliknya. Populasi mereka malah bertambah banyak dan menyebar lebih luas. Udang karang dibawa ke sini karena ada kepentingan untuk memanfaatkannya. Tidak ada seorang pun yang ingin memusnahkan sepenuhnya sesuatu yang mereka gunakan. Kalau memakannya bukan solusi, bagaimana dengan meracuni mereka dengan biosida? Secara teori, bisa. Mari kita lihat Swedia, Norwegia, dan Inggris. Di sini biosida sedang diuji pada udang karang sinyal, spesies invasif lainnya. Salah satu biosida yang umum digunakan adalah piretrum, yaitu insektisida yang bahan aktifnya berasal dari bunga seruni. Di lokasi uji coba yang kecil, para peneliti berhasil membasmi udang karang sepenuhnya hanya dengan satu, dua, terkadang tiga perlakuan khusus. Sayangnya, bukan hanya udang karang yang mati. Dengan dosis ini, beberapa ikan, telur, dan larva mungkin juga bisa mati. Para peneliti melihatnya sebagai intervensi darurat kimiawi, tetapi hanya efektif jika udang karang belum menyebar. Jika sudah, sulit dipastikan semuanya bisa dimusnahkan. Namun, jika upaya ini berhasil, pengamatan menunjukkan bahwa hewan lain akan pulih dengan cepat di tahun pertama. Jadi, biosida dapat membantu melawan spesies invasif. Bisakah diterapkan di Jerman? Solusinya benar. Dalam biologi evolusi, semakin cepat Anda menemukan hama, semakin keras Anda harus “melawannya”. Dalam kasus udang karang, ini bisa dilakukan dengan biosida. Namun, di sepanjang Sungai Rhein, solusi ini sudah terlambat. Udang karang sudah menetap. Akankah Jerman menggunakan biosida untuk pengendalian hama? Kemungkinannya sangat kecil, dan meskipun keputusan pada akhirnya diambil, semuanya mungkin sudah terlalu terlambat. Namun, ada beberapa kabar baik. Setidaknya di tingkat lokal, masuknya udang karang dapat dicegah dan habitat amfibi dapat dilindungi. Kami kembali menemui tim ahli biologi di Rheinstetten. Mereka tidak mau berdiam diri melihat seluruh biotop amfibi hancur. Pada tahun 2018, mereka berhasil menangkap puluhan ribu udang karang calico dari kolam ini. Memang sangat memakan waktu, tetapi kami tetap melakukannya untuk melindungi spesies yang terancam punah. Kami ingin memastikan katak pohon di sini tetap ada, dan jika kami tidak mulai, seluruh katak pohon akan musnah dari wilayah ini. Menangkap udang karang saja tidak cukup. Tim peneliti juga menumpuk kerikil untuk mencegah udang karang menggali lubang. Hal ini menghentikan udang karang untuk menggali, dan menghancurkan lubang sembunyi mereka. Intinya, kita harus tetap menghentikan invasi mereka. Itulah mengapa mereka mengelilingi kolam ini dengan pelindung dari batang pohon, sebuah penghalang untuk mencegah masuknya udang karang. Meskipun udang karang calico dapat bermigrasi berkilo-kilo meter jauhnya, mereka tidak bisa melewati batang pohon setinggi 30 cm ini, selama tidak ada lubang yang digali tikus. Untuk menghindari itu, lubang kayu segera ditutup. Bahkan satu celah pun dapat membahayakan keseluruhan proyek. Jika seekor betina masuk air, maka akan ada 350 ekor udang karang dalam waktu singkat. Seekor udang karang dapat memenuhi perairan dengan ribuan keturunan hanya dalam setahun. Selama ini, para peneliti tidak yakin apakah langkah perlindungan mereka akan efektif. Namun kini, upaya mereka jelas berhasil. Tiga tahun lalu, kolam ini dipenuhi udang karang. Kini, airnya kembali jernih, dan penuh dengan keanekaragaman hayati. Katak pohon kembali. Kolam tersebut perlahan pulih, dan tim peneliti bahkan juga menemukan larva capung kaisar. Mungkinkah ini menjadi solusi untuk melindungi lebih banyak biotop ke depannya? Coba bandingkan dengan rencana penggantian jalan raya dan rel kereta. Ada banyak perencanaan yang dilakukan. Jadi, penting untuk mempertimbangkan pengalaman kami. Dampaknya sangat luas. Dengan solusi ini, habitat konservasi yang baru dibangun dapat terlindungi dari udang karang calico sejak awal. Proyek percontohan ini selesai pada tahun 2020, dan tim peneliti Karlsruhe sejak saat itu telah berkolaborasi dengan organisasi lingkungan Jerman, NABU, untuk mengubah lebih banyak biotop. Lalu apa yang bisa kita pelajari dari udang karang calico? Yang pasti, menangkap, meracuni, atau memakannya, tidak akan bisa memusnahkannya, setidaknya di dataran banjir hulu Sungai Rhein. Sudah terlambat jika kita mau mencegah kedatangan udang karang calico. Upaya yang bisa dilakukan adalah dengan mencoba mengendalikan mereka di dataran banjir ini. Kini tanggung jawab ada di tangan manusia. Mencegah udang karang calico menyebar ke seluruh Jerman. Dampak pasti penyebarannya terhadap spesies lokal bawah air jika upaya itu gagal masih menjadi misteri. Namun yang jelas, udang-udang karang baru terus masuk ke ekosistem. Di masa depan, perilaku manusialah yang akan menentukan apakah mereka akan mengganggu biotop kecil di tempat lain di Jerman atau tidak. Lagipula, udang karang calico dari Amerika itu memang tidak seharusnya hidup di sini sejak awal.
Resume
Categories