Transcript
CTjQy81o2H4 • TOO BOLD!! Purbaya Refuses Compensation for China's High-Speed ​​Rail Project | 4.1 Trillion Rupi...
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/Bennix/.shards/text-0001.zst#text/0461_CTjQy81o2H4.txt
Kind: captions
Language: id
yang artinya kok KCIC yang rugi yang
bayar negara. Negara kan duitnya dari
pajak, duitnya kan lu juga. Berarti lu
sama gua disuruh patungan bayar
kerugiannya KCIC lewat pajak kita.
Padahal dulu pas bangun gua enggak dapat
bagian tuh dari proyek 110 triliun, lu
juga enggak dapat bagian. Kok
bisa-bisanya kita giliran rugi aja kita
disuruh ikutan bayar? Setuju enggak sih
lu?
[Musik]
Guys, ngeri banget nih, Guys. Menteri
favorit kita Purbaya baru aja ditodong
nih buat bayarin utangnya, kerugiannya
proyek kereta cepat Jakarta Planet Mars,
Guys. Ya, lu udah tahulah ngapain juga
orang pergi ke Planet Mars enggak ada
hantu di situ. Ya, tapi tetap aja
projjectnya kita bangun nih, kereta
cepat Jakarta Planet Mars. Dan akibatnya
apa? Profitable enggak? Nyungsep. Iya.
Indonesia rugi triliunan. Lu bayangin ya
kita ngutang buat biaya projject kereta
cepat ke planet Mars itu habis duit 100
triliun lebih isinya apa? Hantu blau,
Guys. Karena okupensinya sepi, enggak
ada yang naik juga. Dan yang lebih sedih
lagi, posisinya rugi. Artinya kalau rugi
kan boro-boro balik modal. Ya, gimana
mau balik modal? Balik modal kan hitung
dari profit, Guys. Ini enggak bisa balik
modal lah kalau posisi rugi triliunan
setiap tahun. Tapi sekarang yang disuruh
bayar rakyat Indonesia. Aneh banget.
Ngeri ini, Guys. Lu setuju enggak kalau
duit negara, which is negara bayarkan
pakai pajak. pajakan duit rakyat duit
lu. Lu setuju enggak duit lu dipakai
buat bayar project Planet Mars ini? Ini
ngeri sih. Todongan yang sangat ngeri.
Gimana ya Purbaya reaksinya ya? Yuk
jangan skip video ini makanya kita lihat
aja langsung videonya Purbaya. Let's
check this
utang KSC dibay biayai APBN. Saya belum
dihubungi untuk masalah itu, Mbak. Nanti
begitu ada saya apa di jumpa pers yang
mingguan deh saya kasih tahu update-nya
seperti apa. Yang jelas sekarang saya
belum di hubungin tentang masalah itu.
Tapi kalau ini kan kayak di bawah dan
antara kan ya.
Kalau di bawah dan antara kan mereka
sudah punya punya sudah punya manajemen
sendiri, sudah punya apa dividen sendiri
yang rata-rata setahun bisa 80 triliun
atau lebih. H
harusnya mereka manage dari situ, jangan
ke kita lagi. Karena kan kalau enggak ya
semuanya ke kita lagi termasuk
dividennya.
Jadi ini kan mau dipisahin swasta sama
government ya. Jangan kalau enak swasta,
kalau enggak enak government. Saya pikir
begitu ya, Pak. Posisi saya sekarang
yang saya tahu seperti karena saya belum
diskusi dengan mereka.
Ah, gua setuju banget, Guys. Betul sih.
Ini setuju gua. Kenapa gua setuju?
Pertama nih ada poin penting di sini.
Dia bilang gini, "Ini kan KCC yang
ngerjain sekarang jadi punya Danantara."
Dan antara dong yang harusnya tanggung
jawab yang pusing mikirin soal itu.
Kenapa? Karena kan buat teman-teman yang
belum tahu ya, dan antara ini kan jadi
super holding membawahi semua BUMN. Nah,
kemarin lu tahulah BUMN di Indonesia itu
semua bayar dividen. Zaman dulu deviden
disetor ke negara jadi pendapatan
negara. Tapi zaman sekarang tidak.
Deviden BUMN disetor ke Danantara
holding company-nya kita. So, sovereign
world fund kita sudah ada nih namanya
Danantara. Tiba-tiba kok ada perusahaan
mereka yang batuk-batuk kesakitan. Kok
disuruh negara yang bayarin perusahaan
yang penyakitan itu? Aneh banget. Lu
udah makan deviden dari BUMN kita.
Giliran ada BUMN penyakitan, lu minta
lagi ke negara. Kan konyol. Ini logika
berpikir Purbaya masuk di gua. Kalau lu
pengen government bantuin, kalau gitu
balikin dividennya. Jangan lu makan
dividennya. Balikin dividennya ke negara
baru negara boleh tolongin. Setuju gua
lu aneh enggak kalau seandainya kok
pemerintah disuruh tanggung jawab
project KCIC? Menurut gua aneh. Jadi di
sini gua sepakat dengan Purbaya bahwa ya
Danantara tanggung jawab Tanantara ya
kerjain lu kan udah jadi manajemen lu di
situ. Jangan kucuk-kucuk minta sama
negara padahal lu udah makan dividennya.
Jangan mau enaknya aja. Benar jangan mau
enaknya aja minta dividen dari Bank
Mandiri, Bank BRI, BSI. Lu minta tuh
semua dividennya. Eh giliran ada
perusahaan BUMN yang lu manage bangkrut,
collapse, rugi, lu ngemiss lagi ked
enggak logis lu mandiri lah. Lu udah
punya duit sendiri 80 triliun tuh kata
Purbaya tuh.
Makes sense, logis. Nah, tapi buat
teman-teman yang belum update ya terkait
peristiwa KCIC ini ya, gua mau
buka-bukaan loh. KCIC itu sebetulnya
isinya ada dua pihak. Yang pertama
konsorsium Indonesia, yang kedua
konsorsium China. Jadi PTKCIC itu isinya
cuman dua. Yang pertama konsorsium 4
BUMN di Indonesia. Isinya ada Wijaya
Karya, Jasa Marga, PTPN Perkebunan
Nusantara 8. Lalu ada PT Kereta Api
Indonesia. Nah, konsorsium Indonesia
inilah yang dinamakan sebagai PT PSBI,
Pilar Sinergi BUMN Indonesia. Nah, pihak
Cina sendiri, konsorsium Cina itu isinya
ada lima perusahaan. Ada China Railway
International Company, lalu ada China
Railway Group Limited, ada Sino Hydro
Corporation Limited, lalu ada CRRC
Corporation Limited, serta ada China
Railway Signal and Communication
Corporation. Anyway, gampangnya adalah
konsorsium Indonesia sahamnya ada 60%,
konsorsium Cina 50 perusahaan Cina itu
40%. Jadi di sini kita bisa bilang
karena mayoritas adalah BUMN kita 60% ya
kita bisa bilang PTKCIC ini ya mayoritas
under BUMN lah. Nah, terus dari situ
ketika lu bikin project ini sebetulnya
ada kisah yang menarik. Kenapa sih yang
menang itu Cina? Ya karena memang
awalnya yang tertarik buat ngerjain
projek ini ada Cina sama Jepang. Nah,
teman-teman banyak yang salah pikir
kenapa harus sama Cina? Padahal Jepang
bunganya lebih murah. Betul. Bunganya
Jepang itu memang lebih kecil 0,5%, Cina
itu 2%. Tapi kalau lihat pokok utangnya,
kalau Jepang yang ngerjain, Jepang itu
butuh duit 6,2 miliar dolar. Sementara
kalau Cina memang bunganya lebih gede
2%, tapi dia budgetnya cukup 5 miliar
dolar selesai ini barang. Jadi memang
pakai logika itu gua bisa paham kenapa
akhirnya Indonesia memutuskan maju
bersama China. Karena China butuh modal
yang lebih sedikit meskipun bunganya
lebih gede. Sayang 1000 sayang di tengah
perjalanan ternyata modalnya kurang
akibatnya ditambah. Udah kandung tanda
tangan nih sama Cina nih. Bunga 2% nih.
Modal 5 miliar dolar. Ternyata di tengah
jalan enggak cukup. Project ini butuh
top up. Akibatnya bengkak jadi 7,2
miliar dolar malah jadi lebih mahal
dibanding Jepang. Udah lebih mahal
dibanding Jepang. Eh bunganya juga naik.
Tadinya cuma 2% sekarang jadi 3%. lah
kalau lu hitung pakai kurs sekarang ya
7,2 miliar itu setara 110 triliun, Guys.
Nah, itulah total pembiayaan yang
dibutuhkan buat jadiin ini barang utang
ke Cina development bank. Mantap tuh.
Jadi, di sini jelas ya, bahwa project
KCIC itu kereta cepat Indonesia Planet
Mars itu ternyata ya memang punya BUMN.
Pemiliknya ada dua. 60% konsorsium BUMN
Indonesia, 40% konsorsium Cina. Ee
isinya BUMN Cina juga. Anyway, jadi dari
situ lu bisa lihatlah bahwa memang KCIC
ini ya BUMN kita bisa bilang. Oke, jadi
bagus dong kita punya BUMN yang bisa
ngerjain kereta cepat bagus, canggih.
Tapi ya sayang ser000u sayang ya e BUMN
Indonesia lu tahulah keahlian BUMN di
Indonesia itu bukan cetak untung tapi
cetak rugi. Semakin banyak ruginya
semakin bagus. Kalau bisa disubsidi
lagi. Udah disubsidi rugi lagi memang
blow on. Iya namanya juga negara
abal-abal. Makanya KCIC juga gak mau
kalah dong dengan BUMN yang lain. BUMN
yang lain hobinya rugi, kenapa gua gak
boleh rugi? Itulah cita-cita hidup dia.
Makanya kalau lihat laporan keuangan dia
di tahun 2023 KCIC yang namanya PSB ini,
lu lihat tuh di layar kaca ruginya 974
miliar, Guys. Jadi tahun 2023 perusahaan
ini rugi 974 miliar. Tentu kalau tahun
2023 rugi, tahun 2024 kalau orang waras
cita-citanya profit. Tapi namanya BUMN
kalau bisa rugi, ruginya lebih parah
lagi. Jadi apa yang dicatat prestasinya
tentu konsistensi rugi dikali 4. Jadi di
tahun 2024 ruginya bukannya berkurang
tetapi bertambah. Luar biasa pintar
isinya orang-orang Indonesia ini.
Sehingga kerugiannya PSBI konsorsium
Indonesia itu sebelumnya cuman rugi 900
miliar di tahun 2023. Di tahun 2024
sukses besar ruginya menjadi 4 triliun.
Nah, konsistensi ini memang yang luar
biasa di Indonesia. Konsistensi korupsi,
konsistensi nepotisme, konsistensi
bangkrut. Memang ini hal-hal yang
harusnya masuk guenes book ya of world
record lah. Kalau ada negara sih,
negara-negara lain kalau ada perusahaan
rugi-rugi rugi terus pasti bangkrut lah,
hilang dari muka bumi bahkan. Tapi kalau
di Indonesia rugi rugi rugi terus hidup
terus enggak mati-mati sampai detik ini.
Contoh tuh lu lihat ada PLN lah, ada
Pertamina lah. Pokoknya banyaklah di
Indonesia ini keajaiban dunia. Kalau
luar negeri sudah mati. Di Indonesia
enggak bisa jadi kayak zombie ini
barang. Mati enggak, hidup enggak gitu,
tapi rugi terus. Tapi kok enggak
mati-mati. Aneh ya? Itulah Indonesia.
Yang lebih seru lagi ya, konsorsium
Indonesia ini ternyata pemegang saham
terbesarnya adalah kereta api Indonesia.
Jadi kereta api Indonesia itu pegang 60%
saham di konsorsium Indonesia itu PSB
itu. Jadi gua gambarin rumahnya simpel.
Ini ada PTK CIC di atas. Ini holding-nya
undernya ada dua konsorsium. Konsorsium
Indonesia namanya PTPSBI 60%. Konsorsium
China di sini dia punya 40%. Nah, kita
ngomongin yang Indonesia, Cinanya enggak
usahlah, enggak penting. Tapi yang
Indonesianya, yang PSBI ini pilar
sinergi BUMN Indonesia ini sinergi untuk
rugi bersama. Artinya ya, PSBI ini
isinya apa tadi? Ada Wijaya Karya, ada
PTPN, ada kereta api Indonesia, ada Jasa
Marga. Nah, apesnya nih yang pegang Sham
paling banyak adalah KHI yang artinya
kerugiannya kereta cepat Indonesia
Planet Mars ini ditanggung sebagian
besar ya sama KAI. Jadi karena KAI itu
pegang SAM paling banyak which is ya
lebih dari 50% di PTPSB itu kalau
seandainya KCIC ini rugi 4 triliun ya
kurang lebih KAI harus tanggung
setengahnya 2 triliun. Luar biasa ini
KAI duitnya kebanyakan ya lu dibanding
lu rugi-rugi terus investasi enggak
jelas mendingan duitnya dibelikan
danantara bon dah bunga 2% tapi enggak
boncos. Nah, anyway soal kerugian KCIC
ini juga pernah dimention nih sama salah
satu pengamat kebijakan publik ya Agus
Pambagio. Dia pernah kasih ide seperti
ini nih.
Iya Pak Jokowi enggak mau tahu, enggak
mau dengar saya dan Pak Jonan kan Pak
Jonan dipecat, saya dipanggil ke istana
dan saya sudah jelaskan bahwa ini mahal
sekali tidak bisa dibay tapi Pak Jokowi
ngetut bisa karena saya tanya ini ide
siapa sih Pak? Ide saya. Nah, sudah.
Jadi ya, apa yang sekarang terjadi sudah
saya ingatkan clear di istana juga Pak
Jonan pasti juga sudah bicara sebelum
dipecat.
Jadi dari situ lu sudah bisa lihat bahwa
ya betul enggak sih KCIT ini pasti
merugi? Kita hitung aja lah gampang.
Kita harus bicara berdasarkan data
teman-teman tahu di tahun 2024 KCIC itu
membukukan pendapatan 1,5 triliun. Ini
Om Z loh, Guys. Bukan profit. No. OMZ
1,5 triliun. dari 1,5 triliun Omz itu
profitnya apa? Enggak ada minus bahkan.
Tapi kan Benix baik ya 1,5 triliun omzet
gua katakan net profit marginnya 20%
lah. Artinya 1,5 triliun kalau 20% net
profit marginnya berarti KCIC ini cuan
300 miliar setiap tahun. Karena gua
baik. Dia cuan 300 miliar setiap tahun
karena gua baik. Nah, lu bayangin 300
miliar setiap tahun ya. Kalau perusahaan
ini jalan 100 tahun, berarti penghasilan
dia cuman 30 triliun, Guys. Sementara
modal buat bangun ini 110 triliun. Yang
artinya lu butuh 300 tahun lebih baru
ini barang balik modal. Kalau profit
20%. Faktanya hari ini enggak profit,
Guys. Malah minus ya. Karena BX baik dia
jadi profit 367 tahun lebih tepatnya.
Jadi ini penghitungan yang sangat-sangat
saintifik, Guys. Kenapa bisa 1,5
triliun? Gampang aja. Di tahun 2024 KCIC
itu menjual 6,06
juta tiket. Kalau rata-rata tiketnya di
R250.000 per tiket, total ya jadi 1,5
triliun, Guys. Cuman ya itu enggak bakal
cukup karena berdasarkan laporan
keuangan ya perusahaan ini ruginya aja 4
triliun. Bayangin ruginya aja 4 triliun.
Bahkan lu punya OMZ 4 triliun aja enggak
cukup, Guys, buat nutup itu. Jadi, ya
udahlah memang realitanya dia project
rugi. Jadi, di sini lu setuju enggak
sama Purbaya? Kalau seandainya aneh
banget sih ini project udah rugi terus
negara harus talangin lagi hari ini, lu
setuju enggak sih? Mendingan enggak usah
lah, enggak usah ku campur. Setuju dong.
Iya, tapi lu juga harus hati-hati karena
ada negara tetangga kita yang ngutang
sama China juga buat bikin pelabuhan di
Sri Lanka. Namanya pelabuhan
internasional hamban tonta. nilai
investasinya 21 triliun alias 1/5 dari
KCIC. Apa yang terjadi di situ? Dia
bangun itu pelabuhan, ternyata
pelabuhannya sepi, Guys. Kagak laku.
Akibatnya apa? Mereka enggak bisa bayar
hutang. Nah, jadi ganti ruginya apa dong
karena dia enggak bisa bayar utang? Ya,
si Jimping kan orangnya baik sama kayak
dep kolektor pinjol-pinjol lu itu lah.
Lu kagak bisa bayar hutang, apa yang lu
bisa kasih aset lu? Ya, dalam kasus Sri
Lanka dia serahkan pelabuhannya untuk
dikelola oleh pemerintah China selama 99
tahun ke depan. Kenapa? Karena si
Jingping baik. Dia bisa aja bilang 100
tahun tapi dia kurangin 1 tahun biar
angka cantik. Di sini lu sudah bisa
lihat jiwa-jiwa penjudi si Jimping ya.
Angka 99 lebih cantik daripada 100. Itu
bukti dia itu murah hati, Guys. Jadi
bukannya 100 tahun, tapi 99 tahun hak
untuk mengelola pelabuhan di Sri Lanka.
Nah, yang hebatnya si Jimping ini ketika
kemudian pelabuhan itu kan namanya juga
negara bikin pelabuhan buat bawa
kontainer, barang-barang, ekspor impor,
ya. Cuma si Jing ini kan orangnya
inovatif, Guys. Begitu pelabuhannya
disita sama pemerintah China, apa yang
terjadi? Pelabuhannya diconfort. Tadinya
pelabuhan dagang, hari ini pelabuhan
Hamban tonta di Sri Lanka itu sudah
berubah wujud. Tadinya cowok, sekarang
jadi cewek. Hebat nih operasi kelamin.
Tadinya pelabuhan dagang, hari ini
Hamban tak berubah jadi pelabuhan
militer dioperasikan oleh angkatan laut
China. Jadi ini strategi yang hebat nih
buat membuka bisnis, Guys. Buka cabang.
Ya, namanya juga franchise juga boleh
kan buka cabang di mana-mana. Tapi ini
franchise tanpa modal. Angkatan laut
Cina bisa buka cabang di Sri Lanka
dengan modal kecil bisa buka cabang
pangkalan lautnya. Brilian enggak?
Brilian sih menurut gua. Nah, ini bisa
enggak terjadi yang sama di Indonesia?
Tunggu dulu, kita bahas dulu. Masih ada
juga negara lain yang gagal bayar hutang
namanya Laos. Nah, lu tahu Laos ini sama
briliannya dengan negara Indonesia. Jadi
apa yang dilakukan oleh Laos? Sudah tahu
negaranya sepi kagara manusia. Apa yang
dia lakukan? kayaknya bagus banget ya
kalau kita bikin kereta cepat laos
Planet Mars. Bikin dia juga enggak mau
kalah sama Indonesia, bikin dia projject
kereta cepat ngutang 6 miliar dolar juga
ke Cina. Apa yang terjadi? Zong dong itu
barang kagak ada yang naik. Dia ngutang
95 triliun. Gila lu bayangin negara
sekecil Laos ngutang 95 triliun. Beda
tipis sama Indonesia ngutangnya 110
triliun buat bikin kereta cepat.
Sama-sama ke planet Mars juga.
Ujung-ujungnya apa, Zong? Alhasil apa?
Hilang mimpinya Laos. Tadinya Laos
bercita-cita kereta ini bakal penuh
karena akan menghubungkan Laos,
Thailand, dan China. Tetapi cita-cita
Laos pudar. Kereta cepat Laos ini
ternyata cuma jadi saos, Guys. Karena
enggak bawa apa-apa. Kosong melangkong.
Akibatnya kereta saos ini ya siap-siap
disita sama Cina. Tapi bukan cuma kereta
cepat, Guys. Memang Laos ini brilian
banget orang-orangnya. Ya, setelah
projek itu gagal, mereka juga punya ide
brilian lagi. Bikin pembangkit listrik,
tenaga air, bendungan. Modalnya dari
mana? Cina juga. Alhasil apa? Zong juga
namanya juga penduduknya seupil di Laos
ini. Apa yang terjadi sekarang? Itu
pembangkit listrik udah jadi punya Cina
dan jaringan listrik sampai ke
bendungan-bendungannya udah jadi punya
Cina juga. Kalau Indonesia konteksnya ya
udah PLN ganti nama jadi PLC pembangkit
listrik Cina. Itulah yang terjadi di
Laos. Sekarang aset-aset strategik di
Laos itu dikuasai oleh China. Wei luar
biasa nih Laos nih. Nah, kalau dalam
kasus Indonesia gimana nih, Pak? Kan
gawat juga nih kita rugi 4 triliun
terus. Kalau hitungan Pak Benix balik
modal, kalau positive thinking ya 300
tahun baru balik modal ini barang. Kalau
positive thinking, kalau profit
maksudnya. Tapi ada kabar baiknya ya.
KCIC ini kita juga enggak tahu sih
sebetulnya kalau Sri Lanka kan
dijaminkan negara, dijaminkan
pelabuhannya. Negara lain dijaminkan
kereta cepatnya, dijaminkan
bendungannya, dijaminkan kabel
listriknya aja juga sampai dijaminin.
Nah, Indonesia gimana bedanya jenis
utangnya? Kalau di Sri Lanka yang
dijaminkan ya asetnya, aset negara
dijaminkan langsung ke China. Nah, kalau
di Indonesia setahu gua sih belum ada
dokumen yang membuktikan sebaliknya.
Jadi, gua berasumsi positif bahwa yang
dijaminkanlah BUMN itu sendiri ke China.
Jadi, in case kita gagal bayar, ya Cina
bakal dapat PT KCIC. Menurut gua, it's
ok. Ambil aja itu KCIC. Kenapa? Ya,
kalau Indonesia enggak gagal bayar, lu
ambil KCIC, lu bawa pulang dah, lu
gendong itu rel keretanya tuh bawa ke
Cina. Bisa gua rasa enggak, Guys.
Artinya di sini pun kalau seandainya
diita kita rugi enggak? Enggak rugi-rugi
amat. Beda dalam kasusnya kalau di Laos
gagal bayar itu soverein default. Jadi
kesalahan kerugian ada di sovereign ada
di negara. Tapi kalau di Indonesia ada
di PT BUMN yang namanya KCIC itu. Jadi
makanya di sini gua setuju dengan logika
berpikirnya si Purbaya bahwa di sini
yang ngutang yang bisnis KCIC. Kalau
gagal bayar kalau bisnisnya zong yang
bertanggung jawab ya KCIC sendiri. Kalau
seandainya Indonesia gagal bayar,
hopefully asumsi gua benar. Yang jadi
jaminan lah ya KCIC itu silakan lu
ambillah tuh KCIC itu bawa pulanglah lu
gendong tuh rel sama keretanya bisa
kalau enggak encok encok lu. Gua rasa
itu pilihan yang lebih bagus tapi
seandainya itu default ada resiko juga
sih. Apa nama baik okelah bukan negara
yang pasang badan jadi jaminan seperti
Sri Lanka dan negara Laos itu Indonesia
BUMN-nya sendiri tapi kan citra
Indonesia di mata investor menjadi
negara yang tidak bertanggung jawab.
Bisa-bisanya lu ngambil utang dari
negara lain untuk membiayai proyek buat
negara lu sendiri, tetapi udah tahu
proyeknya Zong, lu enggak tanggung jawab
gitu dong. Lu setuju enggak? Indonesia
kalau seandainya default, biarin aja
default, tapi resikonya nama baik kita
jadi tidak dipercaya oleh investor
asing. Atau lu lebih setuju negara masuk
bayarin itu subsidi itu yang artinya kok
KCIC yang rugi yang bayar negara. Negara
kan duitnya dari pajak, duitnya kan lu
juga. Berarti lu sama gua disuruh
patungan bayar kerugiannya KCIC lewat
pajak kita. Padahal dulu pas bangun gua
enggak dapat bagian tuh dari proyek 100
triliun, lu juga enggak dapat bagian.
Kok bisa-bisanya kita giliran rugi aja
kita disuruh ikutan bayar? Setuju enggak
sih lu? Jadi solusinya mana nih guys?
Yang bayar mendingan negara atau
BUMN-nya aja dibankrutin sekalian?
Menurut lu gimana? Anyway ada good
news-nya. Dan antara sepertinya mau
ambil alih memang kewajiban ini. Anyway,
itu kan anak lu memang. So, kemarin itu
kita dapat berita si Danantara baru
berangkat ke China di tanggal 8 Oktober
kemarin nih ya tim dari Danantara udah
berangkat nih buat negosiasi dengan
China ya. Semoga proses restrukturisasi
utang ini ya bisa berjalan dengan baik
ya. Gua sih ada harapannya begini ini
sebetulnya kan masalah B2B nih bisnis to
bisnis beda dengan Laos atau Sri Lanka
yang B2G atau bahkan G2G. Nah, Indonesia
ini kan murni bitubin konteksnya kan
utang itu yang ngutang PTKCIC yang kalau
menurut gua kalau mau collabs ya
biarinlah collaps sepanjang bukan aset
negara yang dijaminkan tapi lu berpikir
ya ada orang mau ngasih utang R10
triliun masa sih enggak ada jaminan di
belakang layar apa yang dijaminkan ya
apa betul asumsi gua enggak ada yang
dijaminkan sama sekali aset negara kita
knows hopefully enggak ada lah. Nah,
kalaupun seandainya enggak ada nih
harapan gua sih tim negosiasi ini bisa
nurunin bunga hutang itu. Pertama. Yang
kedua yaitu kurs. Kalau kursnya masih
dalam US dollar bisa enggak di-convert
bayar pakai yuan? Karena Indonesia punya
stok yuan banyak. Kalau bisa ya pakai
yuan kita aja yang buat bayar utang itu.
Jadi kita enggak ada resiko buat keluar
biaya konversi lagi, biaya forex lagi
untuk konversi dari rupiah ke dolar.
Karena kalau kita bayar utangnya pakai
dolar, sama aja kita menggadaikan
rupiah, rupiah makin melemah, Guys.
Bahaya sih. Atau solusi yang ketiga,
kerugian yang terjadi di KCC ini
diconvert melalui investasi China
pembangunan kilang-kilang minyak di
Indonesia. Karena kan Cina ini udah jago
banget bikin kilang minyak, biaya juga
lebih murah. Mereka punya petrol China.
Undang aja mereka ke sini. Dibanding
kita impor minyak dari kilang-kilang
yang ada di Singapura, memperkaya
mafia-mafia minyak Singapura, lebih baik
kilangnya kita bangun di sini pakai
biaya China. Inget enggak? Purbaya
pernah bilang,
"Saya pernah kasih tawaran ke mereka,
kalau Anda enggak bisa bikin, ya udah
ini ada investor dari Cina mau bangun
kilang, Anda perlu beli 30 tahun.
Setelah 30 tahun Anda dapat kilangnya
gratis." Pertama, Pertamina bilang,
"Kami keberatan dengan usul tersebut
karena kami sudah overcapacity."
Kemarin sempat ada investor dari Cina
mau bangun kilang di sini. Setelah
sekian tahun kilangnya bakal jadi milik
Indonesia, gratis tapi ditolak sama
Pertamina. Nah, ini bisa jadi momen nih,
convert. Jadi, utang yang kita convert
ke proyek kilang. Lu setuju enggak? Kita
maju negosiasi pakai metode itu. Jadi,
utang di KCIC diconvert dengan
pembandungan kilang minyak skala besar
bersama Petro China. Win-win nih,
Indonesia jadi enggak perlu impor lagi
dari Singapura. Atau lu ada solusi lain?
Gimana caranya biar utangnya si Wus ini,
masalah ini bisa kelar? Nih. Gua sih
intinya enggak setuju tetap kalau
seandainya Indonesia negara, rakyat yang
disuruh bayar. Makanya gua sepaham sama
Purbaya. Purbaya bilang negara jangan
bantuin biar dan antara yang kelarin. Lu
setuju enggak, Guys, dengan metodenya
Purbaya? Dan solusi lu seperti apa sih
buat menyelesaikan masalah KCC ini?
Ditunggu ya komentar kalian. Segera
tulis di kolom komentar di bawah ini.
Jangan lupa subscribe channel Benix
sekarang juga. Semoga video ini
bermanfaat. Salam sehat, salam cuan. Bye
bye.
[Musik]