File TXT tidak ditemukan.
TOO BOLD!! Purbaya Refuses Compensation for China's High-Speed Rail Project | 4.1 Trillion Rupi...
CTjQy81o2H4 • 2025-10-15
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id yang artinya kok KCIC yang rugi yang bayar negara. Negara kan duitnya dari pajak, duitnya kan lu juga. Berarti lu sama gua disuruh patungan bayar kerugiannya KCIC lewat pajak kita. Padahal dulu pas bangun gua enggak dapat bagian tuh dari proyek 110 triliun, lu juga enggak dapat bagian. Kok bisa-bisanya kita giliran rugi aja kita disuruh ikutan bayar? Setuju enggak sih lu? [Musik] Guys, ngeri banget nih, Guys. Menteri favorit kita Purbaya baru aja ditodong nih buat bayarin utangnya, kerugiannya proyek kereta cepat Jakarta Planet Mars, Guys. Ya, lu udah tahulah ngapain juga orang pergi ke Planet Mars enggak ada hantu di situ. Ya, tapi tetap aja projjectnya kita bangun nih, kereta cepat Jakarta Planet Mars. Dan akibatnya apa? Profitable enggak? Nyungsep. Iya. Indonesia rugi triliunan. Lu bayangin ya kita ngutang buat biaya projject kereta cepat ke planet Mars itu habis duit 100 triliun lebih isinya apa? Hantu blau, Guys. Karena okupensinya sepi, enggak ada yang naik juga. Dan yang lebih sedih lagi, posisinya rugi. Artinya kalau rugi kan boro-boro balik modal. Ya, gimana mau balik modal? Balik modal kan hitung dari profit, Guys. Ini enggak bisa balik modal lah kalau posisi rugi triliunan setiap tahun. Tapi sekarang yang disuruh bayar rakyat Indonesia. Aneh banget. Ngeri ini, Guys. Lu setuju enggak kalau duit negara, which is negara bayarkan pakai pajak. pajakan duit rakyat duit lu. Lu setuju enggak duit lu dipakai buat bayar project Planet Mars ini? Ini ngeri sih. Todongan yang sangat ngeri. Gimana ya Purbaya reaksinya ya? Yuk jangan skip video ini makanya kita lihat aja langsung videonya Purbaya. Let's check this utang KSC dibay biayai APBN. Saya belum dihubungi untuk masalah itu, Mbak. Nanti begitu ada saya apa di jumpa pers yang mingguan deh saya kasih tahu update-nya seperti apa. Yang jelas sekarang saya belum di hubungin tentang masalah itu. Tapi kalau ini kan kayak di bawah dan antara kan ya. Kalau di bawah dan antara kan mereka sudah punya punya sudah punya manajemen sendiri, sudah punya apa dividen sendiri yang rata-rata setahun bisa 80 triliun atau lebih. H harusnya mereka manage dari situ, jangan ke kita lagi. Karena kan kalau enggak ya semuanya ke kita lagi termasuk dividennya. Jadi ini kan mau dipisahin swasta sama government ya. Jangan kalau enak swasta, kalau enggak enak government. Saya pikir begitu ya, Pak. Posisi saya sekarang yang saya tahu seperti karena saya belum diskusi dengan mereka. Ah, gua setuju banget, Guys. Betul sih. Ini setuju gua. Kenapa gua setuju? Pertama nih ada poin penting di sini. Dia bilang gini, "Ini kan KCC yang ngerjain sekarang jadi punya Danantara." Dan antara dong yang harusnya tanggung jawab yang pusing mikirin soal itu. Kenapa? Karena kan buat teman-teman yang belum tahu ya, dan antara ini kan jadi super holding membawahi semua BUMN. Nah, kemarin lu tahulah BUMN di Indonesia itu semua bayar dividen. Zaman dulu deviden disetor ke negara jadi pendapatan negara. Tapi zaman sekarang tidak. Deviden BUMN disetor ke Danantara holding company-nya kita. So, sovereign world fund kita sudah ada nih namanya Danantara. Tiba-tiba kok ada perusahaan mereka yang batuk-batuk kesakitan. Kok disuruh negara yang bayarin perusahaan yang penyakitan itu? Aneh banget. Lu udah makan deviden dari BUMN kita. Giliran ada BUMN penyakitan, lu minta lagi ke negara. Kan konyol. Ini logika berpikir Purbaya masuk di gua. Kalau lu pengen government bantuin, kalau gitu balikin dividennya. Jangan lu makan dividennya. Balikin dividennya ke negara baru negara boleh tolongin. Setuju gua lu aneh enggak kalau seandainya kok pemerintah disuruh tanggung jawab project KCIC? Menurut gua aneh. Jadi di sini gua sepakat dengan Purbaya bahwa ya Danantara tanggung jawab Tanantara ya kerjain lu kan udah jadi manajemen lu di situ. Jangan kucuk-kucuk minta sama negara padahal lu udah makan dividennya. Jangan mau enaknya aja. Benar jangan mau enaknya aja minta dividen dari Bank Mandiri, Bank BRI, BSI. Lu minta tuh semua dividennya. Eh giliran ada perusahaan BUMN yang lu manage bangkrut, collapse, rugi, lu ngemiss lagi ked enggak logis lu mandiri lah. Lu udah punya duit sendiri 80 triliun tuh kata Purbaya tuh. Makes sense, logis. Nah, tapi buat teman-teman yang belum update ya terkait peristiwa KCIC ini ya, gua mau buka-bukaan loh. KCIC itu sebetulnya isinya ada dua pihak. Yang pertama konsorsium Indonesia, yang kedua konsorsium China. Jadi PTKCIC itu isinya cuman dua. Yang pertama konsorsium 4 BUMN di Indonesia. Isinya ada Wijaya Karya, Jasa Marga, PTPN Perkebunan Nusantara 8. Lalu ada PT Kereta Api Indonesia. Nah, konsorsium Indonesia inilah yang dinamakan sebagai PT PSBI, Pilar Sinergi BUMN Indonesia. Nah, pihak Cina sendiri, konsorsium Cina itu isinya ada lima perusahaan. Ada China Railway International Company, lalu ada China Railway Group Limited, ada Sino Hydro Corporation Limited, lalu ada CRRC Corporation Limited, serta ada China Railway Signal and Communication Corporation. Anyway, gampangnya adalah konsorsium Indonesia sahamnya ada 60%, konsorsium Cina 50 perusahaan Cina itu 40%. Jadi di sini kita bisa bilang karena mayoritas adalah BUMN kita 60% ya kita bisa bilang PTKCIC ini ya mayoritas under BUMN lah. Nah, terus dari situ ketika lu bikin project ini sebetulnya ada kisah yang menarik. Kenapa sih yang menang itu Cina? Ya karena memang awalnya yang tertarik buat ngerjain projek ini ada Cina sama Jepang. Nah, teman-teman banyak yang salah pikir kenapa harus sama Cina? Padahal Jepang bunganya lebih murah. Betul. Bunganya Jepang itu memang lebih kecil 0,5%, Cina itu 2%. Tapi kalau lihat pokok utangnya, kalau Jepang yang ngerjain, Jepang itu butuh duit 6,2 miliar dolar. Sementara kalau Cina memang bunganya lebih gede 2%, tapi dia budgetnya cukup 5 miliar dolar selesai ini barang. Jadi memang pakai logika itu gua bisa paham kenapa akhirnya Indonesia memutuskan maju bersama China. Karena China butuh modal yang lebih sedikit meskipun bunganya lebih gede. Sayang 1000 sayang di tengah perjalanan ternyata modalnya kurang akibatnya ditambah. Udah kandung tanda tangan nih sama Cina nih. Bunga 2% nih. Modal 5 miliar dolar. Ternyata di tengah jalan enggak cukup. Project ini butuh top up. Akibatnya bengkak jadi 7,2 miliar dolar malah jadi lebih mahal dibanding Jepang. Udah lebih mahal dibanding Jepang. Eh bunganya juga naik. Tadinya cuma 2% sekarang jadi 3%. lah kalau lu hitung pakai kurs sekarang ya 7,2 miliar itu setara 110 triliun, Guys. Nah, itulah total pembiayaan yang dibutuhkan buat jadiin ini barang utang ke Cina development bank. Mantap tuh. Jadi, di sini jelas ya, bahwa project KCIC itu kereta cepat Indonesia Planet Mars itu ternyata ya memang punya BUMN. Pemiliknya ada dua. 60% konsorsium BUMN Indonesia, 40% konsorsium Cina. Ee isinya BUMN Cina juga. Anyway, jadi dari situ lu bisa lihatlah bahwa memang KCIC ini ya BUMN kita bisa bilang. Oke, jadi bagus dong kita punya BUMN yang bisa ngerjain kereta cepat bagus, canggih. Tapi ya sayang ser000u sayang ya e BUMN Indonesia lu tahulah keahlian BUMN di Indonesia itu bukan cetak untung tapi cetak rugi. Semakin banyak ruginya semakin bagus. Kalau bisa disubsidi lagi. Udah disubsidi rugi lagi memang blow on. Iya namanya juga negara abal-abal. Makanya KCIC juga gak mau kalah dong dengan BUMN yang lain. BUMN yang lain hobinya rugi, kenapa gua gak boleh rugi? Itulah cita-cita hidup dia. Makanya kalau lihat laporan keuangan dia di tahun 2023 KCIC yang namanya PSB ini, lu lihat tuh di layar kaca ruginya 974 miliar, Guys. Jadi tahun 2023 perusahaan ini rugi 974 miliar. Tentu kalau tahun 2023 rugi, tahun 2024 kalau orang waras cita-citanya profit. Tapi namanya BUMN kalau bisa rugi, ruginya lebih parah lagi. Jadi apa yang dicatat prestasinya tentu konsistensi rugi dikali 4. Jadi di tahun 2024 ruginya bukannya berkurang tetapi bertambah. Luar biasa pintar isinya orang-orang Indonesia ini. Sehingga kerugiannya PSBI konsorsium Indonesia itu sebelumnya cuman rugi 900 miliar di tahun 2023. Di tahun 2024 sukses besar ruginya menjadi 4 triliun. Nah, konsistensi ini memang yang luar biasa di Indonesia. Konsistensi korupsi, konsistensi nepotisme, konsistensi bangkrut. Memang ini hal-hal yang harusnya masuk guenes book ya of world record lah. Kalau ada negara sih, negara-negara lain kalau ada perusahaan rugi-rugi rugi terus pasti bangkrut lah, hilang dari muka bumi bahkan. Tapi kalau di Indonesia rugi rugi rugi terus hidup terus enggak mati-mati sampai detik ini. Contoh tuh lu lihat ada PLN lah, ada Pertamina lah. Pokoknya banyaklah di Indonesia ini keajaiban dunia. Kalau luar negeri sudah mati. Di Indonesia enggak bisa jadi kayak zombie ini barang. Mati enggak, hidup enggak gitu, tapi rugi terus. Tapi kok enggak mati-mati. Aneh ya? Itulah Indonesia. Yang lebih seru lagi ya, konsorsium Indonesia ini ternyata pemegang saham terbesarnya adalah kereta api Indonesia. Jadi kereta api Indonesia itu pegang 60% saham di konsorsium Indonesia itu PSB itu. Jadi gua gambarin rumahnya simpel. Ini ada PTK CIC di atas. Ini holding-nya undernya ada dua konsorsium. Konsorsium Indonesia namanya PTPSBI 60%. Konsorsium China di sini dia punya 40%. Nah, kita ngomongin yang Indonesia, Cinanya enggak usahlah, enggak penting. Tapi yang Indonesianya, yang PSBI ini pilar sinergi BUMN Indonesia ini sinergi untuk rugi bersama. Artinya ya, PSBI ini isinya apa tadi? Ada Wijaya Karya, ada PTPN, ada kereta api Indonesia, ada Jasa Marga. Nah, apesnya nih yang pegang Sham paling banyak adalah KHI yang artinya kerugiannya kereta cepat Indonesia Planet Mars ini ditanggung sebagian besar ya sama KAI. Jadi karena KAI itu pegang SAM paling banyak which is ya lebih dari 50% di PTPSB itu kalau seandainya KCIC ini rugi 4 triliun ya kurang lebih KAI harus tanggung setengahnya 2 triliun. Luar biasa ini KAI duitnya kebanyakan ya lu dibanding lu rugi-rugi terus investasi enggak jelas mendingan duitnya dibelikan danantara bon dah bunga 2% tapi enggak boncos. Nah, anyway soal kerugian KCIC ini juga pernah dimention nih sama salah satu pengamat kebijakan publik ya Agus Pambagio. Dia pernah kasih ide seperti ini nih. Iya Pak Jokowi enggak mau tahu, enggak mau dengar saya dan Pak Jonan kan Pak Jonan dipecat, saya dipanggil ke istana dan saya sudah jelaskan bahwa ini mahal sekali tidak bisa dibay tapi Pak Jokowi ngetut bisa karena saya tanya ini ide siapa sih Pak? Ide saya. Nah, sudah. Jadi ya, apa yang sekarang terjadi sudah saya ingatkan clear di istana juga Pak Jonan pasti juga sudah bicara sebelum dipecat. Jadi dari situ lu sudah bisa lihat bahwa ya betul enggak sih KCIT ini pasti merugi? Kita hitung aja lah gampang. Kita harus bicara berdasarkan data teman-teman tahu di tahun 2024 KCIC itu membukukan pendapatan 1,5 triliun. Ini Om Z loh, Guys. Bukan profit. No. OMZ 1,5 triliun. dari 1,5 triliun Omz itu profitnya apa? Enggak ada minus bahkan. Tapi kan Benix baik ya 1,5 triliun omzet gua katakan net profit marginnya 20% lah. Artinya 1,5 triliun kalau 20% net profit marginnya berarti KCIC ini cuan 300 miliar setiap tahun. Karena gua baik. Dia cuan 300 miliar setiap tahun karena gua baik. Nah, lu bayangin 300 miliar setiap tahun ya. Kalau perusahaan ini jalan 100 tahun, berarti penghasilan dia cuman 30 triliun, Guys. Sementara modal buat bangun ini 110 triliun. Yang artinya lu butuh 300 tahun lebih baru ini barang balik modal. Kalau profit 20%. Faktanya hari ini enggak profit, Guys. Malah minus ya. Karena BX baik dia jadi profit 367 tahun lebih tepatnya. Jadi ini penghitungan yang sangat-sangat saintifik, Guys. Kenapa bisa 1,5 triliun? Gampang aja. Di tahun 2024 KCIC itu menjual 6,06 juta tiket. Kalau rata-rata tiketnya di R250.000 per tiket, total ya jadi 1,5 triliun, Guys. Cuman ya itu enggak bakal cukup karena berdasarkan laporan keuangan ya perusahaan ini ruginya aja 4 triliun. Bayangin ruginya aja 4 triliun. Bahkan lu punya OMZ 4 triliun aja enggak cukup, Guys, buat nutup itu. Jadi, ya udahlah memang realitanya dia project rugi. Jadi, di sini lu setuju enggak sama Purbaya? Kalau seandainya aneh banget sih ini project udah rugi terus negara harus talangin lagi hari ini, lu setuju enggak sih? Mendingan enggak usah lah, enggak usah ku campur. Setuju dong. Iya, tapi lu juga harus hati-hati karena ada negara tetangga kita yang ngutang sama China juga buat bikin pelabuhan di Sri Lanka. Namanya pelabuhan internasional hamban tonta. nilai investasinya 21 triliun alias 1/5 dari KCIC. Apa yang terjadi di situ? Dia bangun itu pelabuhan, ternyata pelabuhannya sepi, Guys. Kagak laku. Akibatnya apa? Mereka enggak bisa bayar hutang. Nah, jadi ganti ruginya apa dong karena dia enggak bisa bayar utang? Ya, si Jimping kan orangnya baik sama kayak dep kolektor pinjol-pinjol lu itu lah. Lu kagak bisa bayar hutang, apa yang lu bisa kasih aset lu? Ya, dalam kasus Sri Lanka dia serahkan pelabuhannya untuk dikelola oleh pemerintah China selama 99 tahun ke depan. Kenapa? Karena si Jingping baik. Dia bisa aja bilang 100 tahun tapi dia kurangin 1 tahun biar angka cantik. Di sini lu sudah bisa lihat jiwa-jiwa penjudi si Jimping ya. Angka 99 lebih cantik daripada 100. Itu bukti dia itu murah hati, Guys. Jadi bukannya 100 tahun, tapi 99 tahun hak untuk mengelola pelabuhan di Sri Lanka. Nah, yang hebatnya si Jimping ini ketika kemudian pelabuhan itu kan namanya juga negara bikin pelabuhan buat bawa kontainer, barang-barang, ekspor impor, ya. Cuma si Jing ini kan orangnya inovatif, Guys. Begitu pelabuhannya disita sama pemerintah China, apa yang terjadi? Pelabuhannya diconfort. Tadinya pelabuhan dagang, hari ini pelabuhan Hamban tonta di Sri Lanka itu sudah berubah wujud. Tadinya cowok, sekarang jadi cewek. Hebat nih operasi kelamin. Tadinya pelabuhan dagang, hari ini Hamban tak berubah jadi pelabuhan militer dioperasikan oleh angkatan laut China. Jadi ini strategi yang hebat nih buat membuka bisnis, Guys. Buka cabang. Ya, namanya juga franchise juga boleh kan buka cabang di mana-mana. Tapi ini franchise tanpa modal. Angkatan laut Cina bisa buka cabang di Sri Lanka dengan modal kecil bisa buka cabang pangkalan lautnya. Brilian enggak? Brilian sih menurut gua. Nah, ini bisa enggak terjadi yang sama di Indonesia? Tunggu dulu, kita bahas dulu. Masih ada juga negara lain yang gagal bayar hutang namanya Laos. Nah, lu tahu Laos ini sama briliannya dengan negara Indonesia. Jadi apa yang dilakukan oleh Laos? Sudah tahu negaranya sepi kagara manusia. Apa yang dia lakukan? kayaknya bagus banget ya kalau kita bikin kereta cepat laos Planet Mars. Bikin dia juga enggak mau kalah sama Indonesia, bikin dia projject kereta cepat ngutang 6 miliar dolar juga ke Cina. Apa yang terjadi? Zong dong itu barang kagak ada yang naik. Dia ngutang 95 triliun. Gila lu bayangin negara sekecil Laos ngutang 95 triliun. Beda tipis sama Indonesia ngutangnya 110 triliun buat bikin kereta cepat. Sama-sama ke planet Mars juga. Ujung-ujungnya apa, Zong? Alhasil apa? Hilang mimpinya Laos. Tadinya Laos bercita-cita kereta ini bakal penuh karena akan menghubungkan Laos, Thailand, dan China. Tetapi cita-cita Laos pudar. Kereta cepat Laos ini ternyata cuma jadi saos, Guys. Karena enggak bawa apa-apa. Kosong melangkong. Akibatnya kereta saos ini ya siap-siap disita sama Cina. Tapi bukan cuma kereta cepat, Guys. Memang Laos ini brilian banget orang-orangnya. Ya, setelah projek itu gagal, mereka juga punya ide brilian lagi. Bikin pembangkit listrik, tenaga air, bendungan. Modalnya dari mana? Cina juga. Alhasil apa? Zong juga namanya juga penduduknya seupil di Laos ini. Apa yang terjadi sekarang? Itu pembangkit listrik udah jadi punya Cina dan jaringan listrik sampai ke bendungan-bendungannya udah jadi punya Cina juga. Kalau Indonesia konteksnya ya udah PLN ganti nama jadi PLC pembangkit listrik Cina. Itulah yang terjadi di Laos. Sekarang aset-aset strategik di Laos itu dikuasai oleh China. Wei luar biasa nih Laos nih. Nah, kalau dalam kasus Indonesia gimana nih, Pak? Kan gawat juga nih kita rugi 4 triliun terus. Kalau hitungan Pak Benix balik modal, kalau positive thinking ya 300 tahun baru balik modal ini barang. Kalau positive thinking, kalau profit maksudnya. Tapi ada kabar baiknya ya. KCIC ini kita juga enggak tahu sih sebetulnya kalau Sri Lanka kan dijaminkan negara, dijaminkan pelabuhannya. Negara lain dijaminkan kereta cepatnya, dijaminkan bendungannya, dijaminkan kabel listriknya aja juga sampai dijaminin. Nah, Indonesia gimana bedanya jenis utangnya? Kalau di Sri Lanka yang dijaminkan ya asetnya, aset negara dijaminkan langsung ke China. Nah, kalau di Indonesia setahu gua sih belum ada dokumen yang membuktikan sebaliknya. Jadi, gua berasumsi positif bahwa yang dijaminkanlah BUMN itu sendiri ke China. Jadi, in case kita gagal bayar, ya Cina bakal dapat PT KCIC. Menurut gua, it's ok. Ambil aja itu KCIC. Kenapa? Ya, kalau Indonesia enggak gagal bayar, lu ambil KCIC, lu bawa pulang dah, lu gendong itu rel keretanya tuh bawa ke Cina. Bisa gua rasa enggak, Guys. Artinya di sini pun kalau seandainya diita kita rugi enggak? Enggak rugi-rugi amat. Beda dalam kasusnya kalau di Laos gagal bayar itu soverein default. Jadi kesalahan kerugian ada di sovereign ada di negara. Tapi kalau di Indonesia ada di PT BUMN yang namanya KCIC itu. Jadi makanya di sini gua setuju dengan logika berpikirnya si Purbaya bahwa di sini yang ngutang yang bisnis KCIC. Kalau gagal bayar kalau bisnisnya zong yang bertanggung jawab ya KCIC sendiri. Kalau seandainya Indonesia gagal bayar, hopefully asumsi gua benar. Yang jadi jaminan lah ya KCIC itu silakan lu ambillah tuh KCIC itu bawa pulanglah lu gendong tuh rel sama keretanya bisa kalau enggak encok encok lu. Gua rasa itu pilihan yang lebih bagus tapi seandainya itu default ada resiko juga sih. Apa nama baik okelah bukan negara yang pasang badan jadi jaminan seperti Sri Lanka dan negara Laos itu Indonesia BUMN-nya sendiri tapi kan citra Indonesia di mata investor menjadi negara yang tidak bertanggung jawab. Bisa-bisanya lu ngambil utang dari negara lain untuk membiayai proyek buat negara lu sendiri, tetapi udah tahu proyeknya Zong, lu enggak tanggung jawab gitu dong. Lu setuju enggak? Indonesia kalau seandainya default, biarin aja default, tapi resikonya nama baik kita jadi tidak dipercaya oleh investor asing. Atau lu lebih setuju negara masuk bayarin itu subsidi itu yang artinya kok KCIC yang rugi yang bayar negara. Negara kan duitnya dari pajak, duitnya kan lu juga. Berarti lu sama gua disuruh patungan bayar kerugiannya KCIC lewat pajak kita. Padahal dulu pas bangun gua enggak dapat bagian tuh dari proyek 100 triliun, lu juga enggak dapat bagian. Kok bisa-bisanya kita giliran rugi aja kita disuruh ikutan bayar? Setuju enggak sih lu? Jadi solusinya mana nih guys? Yang bayar mendingan negara atau BUMN-nya aja dibankrutin sekalian? Menurut lu gimana? Anyway ada good news-nya. Dan antara sepertinya mau ambil alih memang kewajiban ini. Anyway, itu kan anak lu memang. So, kemarin itu kita dapat berita si Danantara baru berangkat ke China di tanggal 8 Oktober kemarin nih ya tim dari Danantara udah berangkat nih buat negosiasi dengan China ya. Semoga proses restrukturisasi utang ini ya bisa berjalan dengan baik ya. Gua sih ada harapannya begini ini sebetulnya kan masalah B2B nih bisnis to bisnis beda dengan Laos atau Sri Lanka yang B2G atau bahkan G2G. Nah, Indonesia ini kan murni bitubin konteksnya kan utang itu yang ngutang PTKCIC yang kalau menurut gua kalau mau collabs ya biarinlah collaps sepanjang bukan aset negara yang dijaminkan tapi lu berpikir ya ada orang mau ngasih utang R10 triliun masa sih enggak ada jaminan di belakang layar apa yang dijaminkan ya apa betul asumsi gua enggak ada yang dijaminkan sama sekali aset negara kita knows hopefully enggak ada lah. Nah, kalaupun seandainya enggak ada nih harapan gua sih tim negosiasi ini bisa nurunin bunga hutang itu. Pertama. Yang kedua yaitu kurs. Kalau kursnya masih dalam US dollar bisa enggak di-convert bayar pakai yuan? Karena Indonesia punya stok yuan banyak. Kalau bisa ya pakai yuan kita aja yang buat bayar utang itu. Jadi kita enggak ada resiko buat keluar biaya konversi lagi, biaya forex lagi untuk konversi dari rupiah ke dolar. Karena kalau kita bayar utangnya pakai dolar, sama aja kita menggadaikan rupiah, rupiah makin melemah, Guys. Bahaya sih. Atau solusi yang ketiga, kerugian yang terjadi di KCC ini diconvert melalui investasi China pembangunan kilang-kilang minyak di Indonesia. Karena kan Cina ini udah jago banget bikin kilang minyak, biaya juga lebih murah. Mereka punya petrol China. Undang aja mereka ke sini. Dibanding kita impor minyak dari kilang-kilang yang ada di Singapura, memperkaya mafia-mafia minyak Singapura, lebih baik kilangnya kita bangun di sini pakai biaya China. Inget enggak? Purbaya pernah bilang, "Saya pernah kasih tawaran ke mereka, kalau Anda enggak bisa bikin, ya udah ini ada investor dari Cina mau bangun kilang, Anda perlu beli 30 tahun. Setelah 30 tahun Anda dapat kilangnya gratis." Pertama, Pertamina bilang, "Kami keberatan dengan usul tersebut karena kami sudah overcapacity." Kemarin sempat ada investor dari Cina mau bangun kilang di sini. Setelah sekian tahun kilangnya bakal jadi milik Indonesia, gratis tapi ditolak sama Pertamina. Nah, ini bisa jadi momen nih, convert. Jadi, utang yang kita convert ke proyek kilang. Lu setuju enggak? Kita maju negosiasi pakai metode itu. Jadi, utang di KCIC diconvert dengan pembandungan kilang minyak skala besar bersama Petro China. Win-win nih, Indonesia jadi enggak perlu impor lagi dari Singapura. Atau lu ada solusi lain? Gimana caranya biar utangnya si Wus ini, masalah ini bisa kelar? Nih. Gua sih intinya enggak setuju tetap kalau seandainya Indonesia negara, rakyat yang disuruh bayar. Makanya gua sepaham sama Purbaya. Purbaya bilang negara jangan bantuin biar dan antara yang kelarin. Lu setuju enggak, Guys, dengan metodenya Purbaya? Dan solusi lu seperti apa sih buat menyelesaikan masalah KCC ini? Ditunggu ya komentar kalian. Segera tulis di kolom komentar di bawah ini. Jangan lupa subscribe channel Benix sekarang juga. Semoga video ini bermanfaat. Salam sehat, salam cuan. Bye bye. [Musik]
Resume
Categories