Transcript
yW0rUU5lvVg • LANSIA BISA KERJA LAGI!! GEN Z Terancam NGANGGUR di 2026?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/Bennix/.shards/text-0001.zst#text/0538_yW0rUU5lvVg.txt
Kind: captions Language: id Good News Indonesia. Sekarang Lancia udah bisa kerja kembali loh. Jadi udah banyak program-program yang bikin perusahaan di Indonesia supaya orang-orang tua itu enggak nunggu aja duduk diam di teras rumah gendong cucu. Enggak. Sekarang mereka bisa berkontribusi buat perekonomian nasional. Nah, ini salah satu perusahaan yang keren nih menurut gua adalah paper lunch. Jadi, buat teman-teman yang suka makan hot plate di mall-mall yang warna kuning tuh namanya si paper lunch itu sekarang bikin program lowongan kerja khusus buat orang-orang yang sudah lanjut usia yang umurnya udah di atas 60 tahun. Wah, ini sih keren banget sih. So, kalau penasaran gimana sih program mulia ini bekerja dan kenapa menurut Benix program ini bisa berkontribusi ribuan triliun buat perekonomian Indonesia? So, kalau lu penasaran gimana sih sukses story yang satu ini, jangan dikip video ini. Let's check this out. [musik] Jadi, Teman-teman keren banget nih ya paper lunch di Indonesia baru aja ngeluarin program khusus lowangan kerja buat lansia yang usianya di atas 60 tahun. Program ini sih sebetulnya terinspirasi dari Hongkong sama Singapura. Jadi buat teman-teman ya, kalau lu sering ke Singapura atau Malaysia, lu pasti suka penasaran ya. Gua kalau makan di Singapura, di restoran, di cafe, di food court itu kadang-kadang lu lihat ya kok di sini yang layanin gua bukan anak muda. Beda dengan di Indonesia kalau lu lihat yang layanin dulu ya di kafe-kafe, restoran pasti orang-orangnya cewek-cewek, cowok-cowok, mbak-mbak masih pada muda tuh. Banyak bahkan usianya masih 18 tahun, 22 tahun. Tapi kalau lu di Singapura lu pernah bertanya-tanya enggak sih? Kok yang ngelayanin lu kakek nenek, Guys? Umurnya 63 tahun, 70 tahun. Kok bisa? Ya, jadi ini memang salah satu hal yang unik dan netizen suka sering ngacau. Kalau gua lihat netizen pada bilang, "Wah, Singapura kejam, masa orang udah tua disuruh kerja. Waduh, itu goblok namanya." Justru ini bagus karena artinya negara membantu memfasilitasi supaya senior citizen ya orang-orang tua itu enggak diam merengut di rumah. malah dibuat orang tua itu terus bekerja supaya mereka enggak mati kebosanan, supaya mereka produktif, supaya mereka punya kebanggaan, ada kontribusi buat negaranya, buat keluarganya, dan enggak usah ngemis-ngemis sama anaknya. Jadi kalau banyak netizen-netizen yang suka menghina orang Singapura karena kesannya oh dia enggak disayang sama anaknya kakek itu. Oh, kasihan dia ditelantarkan. Oh, kasihan umurnya udah tua kok masih kerja. Enggak. Kalau gua melihat justru itu bagus. Jujur menurut gua itu bagus. Kenapa itu bagus? Sekarang kalau kita lihat data Singapura sama Hongkong ya contohnya ya itu masih banyak loh lansia di negara-negara itu masih bekerja. Lu bayangin ada 31% orang-orang lansia di Singapura yang masih bekerja dan di Hongkong sendiri ada 153.000 lansia yang masih bekerja. Jadi dari kisah inspiratif inilah sebetulnya ya Boga Group ya atau di sini Paper Lunch mereka punya ide untuk memberikan kesempatan buat orang-orang di atas 60 tahun bergabung bersama perusahaan mereka. Ya, jujur kalau menurut gua ini sih keren banget sih. Ini bukan gua promosi atau gua marketingin si Boga Grup ya. Enggak, enggak. Mereka juga gak punya duit buat bayar gua. Tapi yang gua mau bilang adalah ini program yang sangat sangat sangat bagus. Kenapa? Karena ini ada hubungannya dengan situasi makroekonomi Indonesia. Dan gua akan sangat senang kalau makin banyak perusahaan di Indonesia yang meng-copy paste paper lunch ini. Kenapa, Om Benix? Nah, ini alasannya. Makanya lu jangan skip video ini. Jadi buat teman-teman lihat ya di layar kaca ya di Indonesia ini masih banyak loh orang-orang tua lansia yang itu hidup hari-hari masih mengandalkan transferan dari anaknya untuk biaya hidupnya. Dan lebih sedih lagi di saat yang sama mereka juga harus menyediakan memp-provide kebutuhan hidup untuk anaknya sendiri. Jadi lu bayangin ini yang namanya sandwich generation. Lu tahu hamburger kan? Hamburger itu digencet dari atas ditekan juga dari bawah. Ke atas dia harus nyetor ke orang tua. Ke bawah dia harus kasih makan anaknya sendiri. Jadi, lu bayangin dia punya penghasilan enggak bahkan enggak cukup buat dirinya sendiri. Itulah sandwich generation. Nah, Teman-teman, bagaimana kalau Indonesia seperti di luar negeri? Nah, lu lihat di lahir kaca di negara Indonesia ya, orang-orang yang lanjut usia, orang-orang yang umurnya di atas 60 tahun itu lebih dari 40% mengandalkan transferan dari anaknya. Lebih ngeri lagi orang-orang yang di atas 70 tahun lebih dari 50% mengandalkan transferan dari anaknya. Lalu yang di atas 80 tahun hampir 60% mengandalkan transparan anaknya. Nah, kalau lu lihat data ini sebetulnya Indonesia cukup oke sih. Kenapa? Karena dari sini lu lihat ya masih sedikit sebetulnya orang-orang tua di Indonesia yang mengandalkan anaknya. Gua yakin sih sebetulnya masih banyak di luar sana ya orang-orang tua di Indonesia lansia ya berusaha enggak nyusahin anaknya. Itu mentalitas yang ada di Indonesia. Nah, ini akan jauh berbeda kalau teman-teman melihat data yang ada di Cina. Di Cina itu hampir 80% orang-orang yang usianya sudah tua, umur 60 sampai 80 tahun itu mengandalkan transferan dari anaknya. Makanya, Teman-teman, enggak enak banget kalau lu jadi Gen di Cina. Gen di Cina saking sedihnya bahkan ada Gen di Cina yang harus menghidupi orang tua dan kakek neneknya sekaligus. Makanya jangan heran ya, tingkat di Cina itu ya gede banget. Begitu juga di negara-negara maju seperti di Jepang dan di Korea. Karena di Korea sendiri, Teman-teman, lihat orang-orang yang umurnya di atas 60 tahun itu hampir 60% mengandalkan transferan anaknya. Padahal biaya hidup di Korea sangat mahal. Yang umurnya di atas 70 tahun, hampir 70% juga mengandalkan transferan dari anaknya. Begitu juga orang-orang yang berusia 80 tahun, 80% mengandalkan transferan dari anaknya. Nah, inilah teman-teman bahayanya kalau lu hidup tidak mempersiapkan hari tuanya. Lu hari tua lu gimana? mau nyusahin anak lu dan mau nyusahin cucu lu. Ujung-ujungnya cucu lu banyak yang itu kayak yang di Jepang, Korea, di Cina. Jangan sampai, Guys. Jangan sampai. Makanya penting buat kalian belajar investasi sedini mungkin ya. Ujung-ujungnya buat lu juga. Karena nanti ketika lu di hari tua, 60 tahun, 70 tahun, lu enggak usah nyusahin anak cucu lu. Gila, lu udah mau masuk kubu aja masih nyusahin orang. Jadi yang benar apa? Lu investasi sedini mungkin sehingga nanti ketika usia lu 60 tahun, lu bebas finansial. Nah, syukurnya ya Indonesia sebetulnya masih oke lah. Kenapa? karena ya masih di bawah 60% lansia di Indonesia yang mengandalkan duit dari anaknya. Benar atau enggak, Guys? Tapi kalau lihat dari distribusi ekonomi di Indonesia memang yang paling kaya raya di Indonesia itu adalah generasi baby boomers dan yang lebih tua lagi. Jadi memang piramida ekonomi Indonesia itu sangat-sangat menguntungkan orang-orang yang lahir sebelum generasi milenial. Artinya apa, Guys? Artinya lu yang lahir-lahir belakangan nih, generasi Z, generasi A, lu harus siap tambah nyungsep lagi, tambah berat lagi hidup lu. Udah pasti ini statistik lah, enggak ngibul statistik. Maksudnya apa, Pak? Simpel aja. Ini kan kita channel ekonomi, kita mau bahas soal ekonominya. Kenapa lansia bekerja ini bagus, Teman-teman? Tahu di Indonesia itu diperkirakan ada 33 juta orang lansia. Nah, kalau sumbangse ekonominya kita hitunglah GDP per kapita manusia Indonesia itu R juta, Guys. So, kalau 33 juta lansia di Indonesia bisa kita pekerjakan kembali mereka Rp33 juta dikali Rp80 juta per tahun loh pendapatan per kapita. Artinya kontribusi lansia ini itu bisa sampai 2.640 triliun setiap tahun 2,6 kuadriliun. That's a lot of money. Dibanding kita nunggu generasi Z nih Generasi A generasi lemper enggak bisa kerja, enggak punya mental, enggak punya nyali. Gila brengsek banget lu tahu di kantor gua tahun lalu kita itu lowongan ada 47 kursi kosong kita mau rekrut orang susah banget gua kesel banget sampai hari ini. Lu bayangin ya kita buka 200 orang ngelamar. Dari 200 orang yang ngelamar yang ikut interview udah datang jadwal interview yang nongol cuman 10 orang. Gila banget nih buang-buang waktu nih. Dari 10 orang akhirnya lolos nih satu orang. Satu orang pun akhirnya kita hire buat kerja di posisi dia. Apa yang terjadi? Enggak ada 1 bulan kabur itu orang kan gila. Enggak ada ngomong apa-apa. Gila nih kelakuan Genjak setan nih. Benar-benar nyusahin orang aja lu. Kalau gitu lu mendingan kasih ke orang lain dah. Bilang lu kalau enggak mau kerja. Bilang kalau lu lembek, lu lemah. Kesal gua sama Genzi. Benar-benar Gen nih biat nih. Jadi teman-teman di sini lu bisa lihat sepertinya ekonomi Indonesia kalau mau tumbuh lebih bagus lagi udah enggak usah ngarapin sama si Gen nih sama generation Alpha nih generasi lemper udah paling bener kayak piring kuning ini nih. Kita hire aja lansia. Gua yakin masih banyak lansia di Indonesia usia 60-an tahun yang masih punya jiwa fighter nih. Mau fight, kerja, enggak mau ngemis di jalan. Nora malu-maluin lu. Yang bener dong, lu kan manusia, kontribusilah buat negara ini. Dan lu bayangin kalau ada 33 juta lansia punya mindset yang sama seperti orang-orang yang kerja di piring kuning itu, apa yang terjadi? Ya, Indonesia bisa dapat ekonomi 2.600 triliun, Pak. Artinya Genjin banyak yang pengangguran. Mampus. Makanya lu yang benar jadi manusia lu. Nah, lu bayangkan ya. Tapi kan enggak mungkin juga 100% lansia ini kerja semua ya 33 juta orang kan. Ada yang mungkin udah rematik lah, udah stroke lah, udah bayar DP lah buat cavling di surga lah. Jadi enggak mungkin juga 100% mereka kontribusinya seperti yang gua bilang tadi 2.600 triliun dari 33 juta orang ini kita taruhlah cuman 50 orang yang bisa berkontribusi. Itu still a lot of money, guys. 50% artinya 1300 triliun loh kontribusi generasi lansia ini. Tapi memang mereka butuh untuk datang menyelamatkan bangsa kita karena Gen Z gen enggak bisa diarepin, Guys. Enggak bisa diarepin. Gila. Dan ini udah kejadian berulang-ulang loh. Gua hire orang, kita buka lowongan, ribuan orang melamar. Eh, giliran interview yang nongol cuman satu biji, dua biji. Gila ini benar-benar buang-buang waktu. Padahal udah bikin jadwal hari Senin jam 09.00 kita meeting, hari Senin jam 10.00 kita interview, enggak ada yang nongol. Gila banget. Gila, gila gila. Dan jangan anggap enteng ya kontribusi lansia ini ya. Seandain betul jadi kenyataan dan makin banyak perusahaan yang berani ya mengandalkan orang-orang lansia kita, fighter kita ini orang-orang generasi fighter loh. Lu bayangin ya kalau mereka umurnya 80 tahun generasi fighter ini berarti lahir di tahun 1945. Mereka mengalami lebih dari lima presiden sekaligus. Ini udah veteran nih guys. Makan banyak asam garam nih. Fighter nih. Ini hebat banget. Nah kenapa hebat banget? Lu tahu GDP Indonesia itu 22.000 triliun. Kalau lansia nih 33 juta orang itu semuanya kerja kontribusi Rp80 juta per tahun berarti kan 2.600 triliun. R600 triliun itu setara 12% dari GDP Indonesia loh gede loh. Katakan 50%-nya aja yang bisa kerja masuk nih ke dalam generasi kerja kita kembali menjadi usia produktif. Artinya BRIka bisa kasih kontribusi sampai 6% dari GDP Indonesia. So that's a lot of money. Dibandingkan kita ngelihat Genzi kita yang makin lama makin bego. Hobinya joget-joget goyang di TikTok enggak jelas. Gua lama-lama juga kepikiran deh posisi-posisi kita kok di kebun. Lu bayangin kita punya kebun reforestasi, kita nanam pohon pisang, kita nanam semangka buat orang-orang hutan. Makanya kalau lu datang ke kebun kita, Genzi, gua gak mau, Guys. Genzy susah harapan. Kalau lu datang ke kebun kita, mayoritas yang kerja di kebun kita usianya ya udah di atas 50 tahun. And that's ok. Kenapa? Gua suka sama mereka. Mereka mau fight. Mereka betul-betul punya niat kerja. Betul-betul punya niat kerja. Beda sama generasi-generasi sekarang ini yang makin lama makin lembek, Guys. Ini kabar baik ya buat teman-teman kita yang sudah senior, yang lansia. Dan gua happy sih kalau seandainya kita bisa kasih kontribusi seperti orang-orang lansia itu. Dan gua berharap gua pribadi gua masih bisa kerja sampai umur 90 tahun bahkan 100 tahun pun gua masih bisa kerja, masih bisa aktif seperti Warren Buffet dan Charlie Manger. So I hope more and more people ya di Indonesia itu punya mindset produktif seperti itu. Jangan usia baru 70 tahun udah golek-golek di kasur, udah nyantai-nyantai di teres rumah main burung. Janganlah lu lihatlah Presiden Prabowo umurnya udah 76 tahun, Guys. Itu aja masih kerja, kan gila. Masih olahraga, masih bangun pagi, masih bikin meeting, masih berpikir bangsa kita mau dibawa ke mana. Lu bayangin 76 tahun, Guys, umurnya. Lu bayangin banyak orang yang gua ketemu umur 63 tahun udah pensiun, udah males-malesan. Janganlah. Kecuali kaki lu hilang satu gitu ya boleh lu punya alasan atau tangan lu hilang dua. Okelah lu punya alasan. Tapi kalau badan, kaki, tangan, mata lu masih lengkap, terus lu masih mau males-malesan, sementara lu lihat orang di Singapura kalau ke sana sampai umur 65 tahun pun masih kerja, Guys. Lu mau lebih sadis lagi lu ke Jepang. Gila, gua banyak punya teman di Jepang umur 70 tahun pun masih ngantor, Guys. Gila enggak? Ya mau enggak mau karena apa? Ya itu namanya membangun negara, membangun bangsa. Lu bayar pajak. Itu dong mindsetnya. Jadi, lu bayangin begitu brutalnya ya orang-orang di negara maju itu pengin bawa perekonomian negaranya. Ya, sama-sama dong. Enggak mungkin sendirian gendong negara, kegedean, Bro. Berat. Tapi kalau ramai-ramai pasti bisa. Kenapa ini juga sebuah kode keras yang buat Genzi? Artinya, Genzi, lu harus siap, ya. Gua berkali-kali diundang ke kampus-kampus, gua bilang, "Hei, lu mahasiswa-mahasiswa di sini, lu siap-siap ya. Lu lihat kiri dan kanan lu. Mayoritas dari kalian 50% gua jamin pas lulus lu jadi pengangguran." Garansi. Kenapa? Karena kompetitor lu bukan lagi cuma kanan kiri lu. Kompetitor lu nanti di dunia kerja yang semakin sempit itu apa? Pengangguran sebelum lu, generasi lemper sebelum lu. Ada berapa hari? Ada 7 juta pengangguran di Indonesia. 7 juta pengangguran di Indonesia. Dan lu tahu apa yang terjadi? 67% dari mereka itu adalah Genzy. Gila, 67% dari mereka itu Geni. 67% dari 7 juta manusia itu artinya ada hampir 5 juta manusia nganggur adalah Geni. Gila banget. Umurnya 15 tahun sampai 29 tahun nih si Gen nih. Ini gua sedih banget gua soalnya dari umur 11 tahun udah dagang, Guys. Udah dagang gua udah jualan, udah cari duit. Ini Gen ini apa ini kerjanya nih? Sampai jadi pengangguran merusak statistik Indonesia nih. Jujur aja nih Gen mendingan pergi deh ke Papua kerjain tu program food estate cetak sawah macul-macul lu biar lu udah duit. Cuman satu lagi nih tambah nih kompetitor Gen udah lu bersaing dengan generasi lemper sebelum lu si 7 juta pengangguran itu yang mayoritas Genzy lu juga harus bersaing dengan generasi yang jauh lebih tua generasi baby boomers. Karena apa? Mereka punya spirit of iron bro. Iron wheel nih buat maju terus pantang mundur, malu minta duit sama anak cucu, malu jadi beban keluarga. Kerja kontribusi buat perekonomian bangsa negara kita. Harus begitu. Iya dong. Malu dong lu. Masa lu umur 60 tahun udah pensiun. Lihat itu si Warren Buffet umur 90 tahun masih kerja. Charlie Manger umur 99 tahun masih ikut RUPS masih kerja. Gila lu umur 60 tahun udah manja apalagi Gen ya. Gensi lu umur baru berapa 20 [tertawa] tahun? Aduh udah banyak polosnya. Banyak izinnya. Aduh, ada aja penyakit list dari 1 sampai 2.000 semua ada. Pak, izin besok batuk. Pak, izin besok keserempet motor. Pak, izin besok sakit perut. Pak, izin besok verdigo. Pak, sorry banget nih enggak bisa kebangun. Kenapa lu enggak bisa bangun? Kenapa cuman detik lu enggak bisa bangun? Kenapa lu enggak bisa bangun sampai 2000 tahun ke depan sekalian? Tapi itulah Genji. Selalu cari alasan supaya mereka tambah miskin, supaya mereka tambah bodoh, supaya mereka bisa nyala-nyalahin orang lain. Jangan jadi gitu, Guys. Ngeri. Kenapa? Khususnya buat teman-teman Genzi, ya. Gua bukan di sini mau mendiskriminasi lu yang udah memang hancur lebur itu, tapi gua di sini mau menyemangati lu juga supaya lu siap. Kenapa? Yang jadi musuh lu bukan cuma Genzi sebelum lu juga bukan orang yang jauh lebih tua dari lu generasi sebelumnya. Tapi ada ancaman yang lebih berbahaya yaitu apa? AI artificial intelligence ini yang bakal menghancurkan Geni. Jadi teman-teman lu tahu enggak sih gara-gara AI di luar negeri di Amerika nih udah banyak Gen itu yang menyerah bendera putih. Bahkan mereka lebih pilih jadi tukang ketimbang kuliah. Dan suka enggak suka memang faktanya EAI itu bikin lapangan kerja menipis. Memang sih ekonomi tumbuh, tapi itu kan pakai teknologi dunia maya, tapi pengangguran dan pekerja kantoran justru makin terancam. Dan ternyata bukan cuma pekerjaan konvensional juga yang makin terancam loh. Goldman Sex itu sudah bikin penelitian. Pekerja di sektor teknologi yang muda-muda ini juga sudah mulai merasakan efek negatif nih dari artificial intelligence. Dan dalam beberapa tahun terakhir, AI bakal merugikan prospek kerja bagi kelompok-kelompok pekerja muda di sektor teknologi. Jadi teman-teman di sini udah bisa lihat ya, lu bisa lihat bahwa Gen musuh lu tambah banyak. Musuh lu tambah banyak. Bukan cuma kiri kanan lu yang lagi ada di kampus sekarang. No. Tapi musuh lu itu udah sampai ke Terminator. Lu bayangin lu bersaing sama robot Terminator mesin lu lawan itu lawan lu. Makanya lu harus siap buat teman-teman yang Genz lu itu harus siap. Jangan lu tambah lemper, tambah cemen, tambah lembek. Enggak, lu harus fight, Bro. Lu harus fight. Karena memang faktanya, Guys, kemarin kita bikin video khusus spesial tentang masa depan batu bara di tahun 2026. Teman-teman penasaran enggak gimana kalau masa depan sektor yang lain? Apalagi kemarin Venezuela habis diculik presidennya. Harga minyak dunia kan seperti apa? termasuk harga emas, harga silver yang tahun ini aja sudah meroket lebih dari 100% dalam 1 tahun terakhir. Kita belum bicara soal sektor lain seperti pariwisata, sektor perbankan, sektor pertambangan. Apalagi kita sudah memasuki era di mana faktor geopolitik menjadi salah satu faktor yang paling penting dalam menyusun strategi ekonomi kalian. Jadi buat teman-teman para pelaku usaha, orang-orang di pemerintahan, duta besar sekalipun sampai akademisi dan investor yang ada di Indonesia, lu penasaran enggak sih gimana sudut pandang BENX tentang Outlook Ekonomi Indonesia di tahun 2026 ini? Kalau lu penasaran, yuk segera join di acara Spial Benix Economic Outlook 2026 di Titan Center Bintaro hari Sabtu tanggal 24 Januari jam .00 siang. Segera daftarkan dirimu sekarang juga kalau yang mau ikutan acara Special Benix Economic Outlook 2026. Kursinya terbatas, segera daftarkan dirimu melalui nomor WhatsApp yang ada di bawah ini atau scan kode QR code yang ada di sini. Oke, guys. Sampai ketemu di Benix Economic Outlook 2026 hanya di Titan Center Bintaro. Karena memang faktanya PHK massal itu udah terjadi di mana-mana loh, di seluruh dunia. Ini gua ngasih video ini sebagai persiapan Gen ya supaya lu menjadi mesin, supaya lu jadi fighter guys. Lu jangan cengeng. Lu lihat beritanya Amazon PHK 30.000 R orang karyawan gara-gara AI. Bukan PHK satu biji ya, bukan PHK 2 biji, PHK 30.000 orang karena AI. Karena dengan AI sekarang, zaman dulu satu orang ngerjain pekerjaan buat satu orang zaman dulu. Sekarang dengan satu AI, satu orang bisa kerjain kerjaan 20 orang. Terus buat apa ada lu Genzi? Misalnya hahahi hahi ngopi enggak jelas lu. Besok izin sakit bolos. Ada aja cerita lu. Gak yakin lu jangan heran. Kayak trip tuh tempat jalan-jalan mereka PHK 600 karyawan diganti AI. Lalu ada lagi nih dari detik HP tuh pack mau PHK lagi 6.000 karyawan mau ganti mereka pakai AI. Jadi dari sini lu bisa lihat ya PHK-nya itu bukan PHK satu biji dua biji no mereka PHK ribuan orang. So lu bayangkan kalau hari-hari ini aja orang di seluruh dunia perusahaan di seluruh dunia berlomba-lomba PHK. Lu bisa bayangin ya, life expectansi Genzy di Indonesia itu bakal jadi apa? Begitu lu lulus kuliah, lu kasih makan orang tua lu, lu kasih makan kakek lu karena umur mereka makin panjang nih. Lu harus siap tuh buat itu. Eh, di sisi lain lu mau kerja makin susah. Ada satu hal yang enggak logis kita buka lowongan kemarin buat fres graduate dari salah satu almamater gua sebetulnya gua kesal banget. Pengalaman kerja nol. Gua tanya lu minta gaji berapa? Rp juta. Setan lu. Bisa apa lu? Emangnya lu bisa enggak bedain nih COG sama CGR? Enggak bisa. malu-maluin aja terus ngapain lu ngelamar? Aneh, bodoh banget. Betul-betul bodoh. Di era gua dulu demi dapatin pengalaman, kita bahkan rela kerja itu enggak dibayar, Guys. Gue itu sempat kerja bahkan mungkin 2 atau 3 tahun itu gajinya mungkin ya hampir enggak ada L cuma cukup buat ganti uang transport. Itu pun udah bagus, enggak nombok. But that's the price we pay lah generasi-generasi fighter. Ya, gua berharap sih Genj itu bisa begitu lah. Tapi kalau gua melihat ke sini, sorry aja ya. Apalagi lulusan-lulusan kampus-kampus negeri ini banyak betul-betul yang kayak lemper. Wah, siap-siap aja teman-teman jujur deh. Tulis di kolom komentar sini. Siapa kenalan lu, saudara lu, teman lu yang lulusan Universitas Negeri ternama? IPK gede bagus, tapi sampai detik ini nganggur. Jujur aja. Tulis gua yakin banyak. Gua yakin banyak. Enggak kepakai. Banyak lulusannya enggak kepakai nih. Kenapa? Mereka enggak punya mental. Iron Wheel lu enggak punya tuh fight dong. Enggak ada. Enggak jelas. Lu harus tahu value apa yang lu bisa kasih. kontribusi lu seperti apa? Lu kan manusia dan lu kalau lu masih belum yakin dengan yang gua bilang bahwa AI bakal menghancurkan hidup loh, Gen? Ya, minimal preambul menuju full AI itu ada yang namanya perkembangan teknologi, Guys. Dan ini aja bisa mengancam Genzi. Genzy lu bayangin ya, lu ada kemungkinan semua Gen di Indonesia lu ada kemungkinan lebih dari 60% bahkan lu bakal jadi pengangguran seumur hidup. Lu bayangin pengangguran seumur hidup permanen. Jadi kalau lihat KTP lu, pekerjaan, kalau gua di KTP gua, pekerjaan gua petani by the way. Pekerjaan Gen pengangguran seumur hidup. Ini bakal jadi title nih. Kalau lu enggak dari sekarang kumpulin pengalaman lu, bangun portofolio lu. Harus dong fight. Lu tahu di Cina hari-hari ini udah muncul penggantinya. Kalau zaman dulu di Indonesia masih ada orang-orang jagain pintu tol ngetap-ngetap, bayar duit. Aduh, goblok banget. Sayang banget. Buang-buang waktu. Padahal manusia yang sama bisa kita kerjain di tempat lain supaya mereka bisa menciptakan value yang lebih tinggi lagi, lebih bagus lagi buat negara ini. Ngapain mereka harus duduk di situ berjam-jam cuma buat kasih kembalian? Ah, enggak jelas. Di Cina, di Cina lu bayangin itu udah dipikirkan sama negaranya. Pegawai toko-toko retail di sana, IndoApril di situ, itu udah punah. Sebentar lagi bakal punah total digantikan sama robot. 7-Eleven di Jepang. Bahkan bukan cuma kasir buat ngisi-ngisi rak yang ada di gudang-gudangnya mereka itu mereka udah pakai robot. buat ngepel lantai. Mereka udah pakai robot di Amazon sekalipun. Gudang-gudang di Amazon buat ngisi kirim barang. Oh ini kirim ke Washington, ini kirim ke New York, ini kirim ke Las Vegas, ini kirim ke Texas. Itu udah pakai robot, Guys. Gudangnya isinya robot, lampu mati di situ. Hemat listrik lagi. Karena robot buat apa punya mata? Mereka punya sensor. Dan saking canggihnya lagi ini perkembangan teknologi. Belum ngomongin AI loh gitu. Perkembangan teknologi di Amerika Serikat. Lu tahu kasir-kasir di Amerika Serikat mereka udah enggak mau lagi gaji manusia. Mereka buka Zoom di kasir sekarang ada monitor dikasih kamera webcam sama orang Filipina. Gajinya cuma Rp60.000 per jam. Lu lihat nih di layar kaca nih toko-toko di Amerika Serikat udah mulai pakai zoom. Lu bayangin zoom. Mereka zoom sama orang Philipin supaya apa? Gajinya lebih kecil 60.000 per jam. Kalau lu bayar orang Amerika sendiri bisa di atas R200.000 sejam. Hemat mereka. Jadi lu bayangin Gen di Amerika aja udah terkencing-kencing nih. Ya siap-siap aja mereka. Mendingan mereka dari sekarang ngelamar dah jadi tentara biar bisa sibuk bunuhin warga negara orang lain. Minimal ada kontribusi buat perekonomian bangsa lu kan. Nah, terus kalau di Indonesia gimana nih Genzi? Di Indonesia bakal terjadi perebutan lapangan kerja yang super brutal, Guys. Ya, kayak di Amerika Serikat. Lu bayangin lu mau jadi kasir di Amerika Serikat aja. Kompetitor lu apa? Orang Filipina. Harga lebih murah pakai Zoom call. Gila enggak? Enggak usah pakai visa kerja lu. Dia kerja dari rumahnya sendiri di Philipin. Gaji lebih murah orang Filipin. UMR cuman enggak nyampai Rp3 jutaan. Uh, selesai urusan. Terus Genzi, gimana nih Genzi Indonesia? Apa yang lu bisa lakukan selain jadi pupuk? Ya, jadi Genzi di Indonesia lu siap-siap, ya. Gua ada lima tips nih buat Genzi di Indonesia. Yang pertama dan yang paling penting, ya, lu tuh jangan menjadikan AI itu sebagai lawan lu, tapi lu harus jadikan itu sebagai senjata mulai dari sekarang. Karena banyak nih ketakutan terbesar ya Genji. Gua kemarin habis ngobrol sama mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang ada di Amerika. Gua disuruh harus ngasih kuliah wjangan tuh buat PPI di sana. Karena dulu gua ketua PPI di Belanda. Dan di situ gua bilang, "Lu gak usah takut kalau AI itu bakal ngambil kerjaan lu. Jangan, jangan takut, Guys. Strategi yang benar sebetulnya adalah lu bagaimana mengadaptasi diri lu untuk menggunakan EA." Ini sama yang dilakukan oleh pemerintah Singapura. Mereka mengedukasi, reedukasi lansia mereka supaya bisa pakai AI. Bukan lagi pakai Gmail, bukan lagi pakai Outlook, no pakai AI. So, Teman-teman, mulai dari sekarang lu kuasailah tools-tools AI itu. Ada chat GPT, copilot, ada mid journey, ada Perplexity, ada Excel AI dan lain sebagainya. Mulai dari sekarang lu adaptasi. Jujur aja gua gak bakal mau hire orang sekarang ya. Udah sebenarnya udah dari sejak 2 tahun lalu yang tidak ngerti menggunakan AI. Itu udah habis habis lu dimakan zaman lu ya kayak zaman sekarang. Siapa sih mau mau hire karyawan yang enggak bisa pakai email? Ya kan enggak bisa pakai Google sheet, Excel enggak bakal di-hire lu. Dan teman-teman harus siap di era kalian nanti. Kalau lu enggak bisa menguasai tools AI itu sama seperti generasi kakek nenek moyang kita, orang tua kita yang enggak ngerti email, yang enggak ngerti WhatsApp. Udah enggak laku di makin zaman, gak relevan lagi. Hati-hati buat teman-teman GenI, era lu lebih cepat, musuh lu lebih brutal, musuh lu adalah mesin. Jadi lu harus bisa nih menunjukkan bahwa lu bisa kerja lebih cepat, lebih efisien, lebih murah gara-gara lu sudah menggunakan AI. Jadi, lu bukan lagi manusia murni. Lu adalah manusia yang diperlengkapi dengan kekuatan AI. Nah, jadi dari sekarang lu bersahabatlah dengan yang namanya AI, Guys. Jadi, lu harus mulai dari sekarang punya mindset memposisikan diri lu sebagai AI assisted human. Bahwa human manusia yang diperlengkapi dengan teknologi AI. Bukan lagi manusia manual seperti manusia-manusia generasi milenial, generasi X, generasi baby boomers. Enggak. Lu harus jadi beda. Jangan mau lu disamakan dengan mereka. Karena perusahaan pasti bakal lebih memilih manusia yang bisa menggunakan AI. Ingat ya, satu orang pakai AI bisa ngerjain kerjaan 20 orang dibandingkan satu orang tanpa AI pasti udah pasti nih perusahaan mengandalkan orang yang bisa menggunakan AI. Terus yang kedua apa? Yang kedua lu harus bisa membangun skill T shape. T lu harus tahu T shape itu T. Huruf T. T itu ada palang di atas, ada satu di bawah yang nopang. T ini adalah yang di atas yang horizontal. Ini adalah skill yang universal. Lu enggak boleh punya skill yang serba nanggung. Lu punya harus skill yang horizontal ini, ilmu yang universal. Tapi lu harus juga hati-hati kalau ilmu lu terlalu umum. Lu berarti gampang diganti dengan AI. Tapi kalau ilmu lu juga terlalu spesifik, super sempit, nanti lu juga bakal susah nih cari kerja. Jadi solusinya apa? Lu bangun satu skill yang utama dan terutama. Contoh nih, coding, desain, akuntansi, itu ilmu umum tuh. Manajemen, marketing itu ilmu umum. Lu bangun nih palangnya nih, ilmu horizontal nih. Bangun nih wajib. Tapi lu jangan lupa, lu juga harus bangun skill pendukungnya nih di bawah nih. Enggak penting lu sejago apa desain, sejago apa lu coding. Kalau lu enggak punya skill komunikasi, lu enggak ke mana-mana. Ngerti enggak? Lu wajib punya skill bisnis. Lu wajib punya skill analisis. Ini wajib dikuasain. Jadi, lu bangun skill T shape ini. Jangan punya bangun skill yang singular. Satu, enggak kepakai lu. Kalah lu sama ya yang bisa ke mana-mana. Jadi, contohnya gini gampang ya, Guys. Lu desainer tapi bagus juga kalau lu bukan cuma bisa grafic desain, tapi lu juga bisa ngerti skill marketing. Jadi, lu tahu, oh sekarang kan lagi bulan Desember, kalau gua bikin browser, harusnya browser gua ada lonceng-lonceng Natal. Browur gua warnanya ada warna hijau, ada warna merah. Jadi lu masuk akal dikit lah. Jangan bego banget. Banyak grafik desainer tuh tolol enggak ngerti ini. Kesal gua. Kesal banget gua. Ada juga ada orang bikin acara acara corporate. Terus ketika gua ngelihat acaranya kok kesannya jadi kayak orang anak kampus bikin acara karena semua desainnya main-main. Pilihan font-nya kayak huruf komik, mangga. Desain warnanya juga aneh. Padahal ini acara perbankan. Bodoh. Ini karena orangnya enggak ngerti skill marketing. Bodoh. Hati-hati lu. Jangan kayak begitu. Enggak kepakai lu. Terus kalau lu jadi programmer, programmer juga wajib ngerti bisnis. Jadi ketika lu bikin sebuah project, lu bikin perkiran buat development project IT lu, misalkan lu sudah bikin analisisnya secara bisnis ini bagus atau enggak? Kalau kita gunakan operating system ini bisa membebani server kita atau enggak? Cost per kliknya jadi mahal enggak? Biaya listriknya, biaya maintenance-nya jadi mahal enggak? Jadi, lu jadi programmer juga jangan asal bikin coding. Tahu-tahu coding lu menyusahkan karena butuh bandwid gede, butuh memori gede. Padahal handphone penggunanya mayoritas masih Android cap kaki 5. Busuk bareng buu. Enggak masuk akal programmer kayak begini. Jadi programmer wajib punya skill bisnis. Tadi vertikal itu huruf T. Lu harus bangun ini. Dan sama juga kalau lu punya kalian research analisis data, lu juga harus kombinasikan dengan T ya yang vertikal ini. Ilmu apa? Misalkan storyting. Jadi lu data lu ada maknanya. Dulu kita di Gojek punya divisi namanya DMI, Data Monetization Team. Tuh, jadi gimana caranya data itu bisa dimonetisasi. Oh, jadi ketika ada orang mau buka toko burger, kita tahu di lampu merah mana yang bagus, jalan mana yang menjual. Tapi kalau jualan ayam geprek beda lagi kotanya. Kalau buka cabang beda lagi jalannya. Ini penting, Guys. Banyak orang punya data tapi sedikit orang yang bisa storyting. Membawa data itu menjadi sesuatu yang bermakna. penting, guys. Makanya penting lu punya vertikal ini. Horizontal oke, tapi everybody has it. Skill akuntansi, manajemen, coding bagus. Tapi kalau lu enggak punya vertikalnya, hati-hati lu. Lu akan gampang digantikan sama AI. Tapi kalau lu punya semuanya lengkap, horizontal palang lu punya, vertikal juga lu punya, lu bakal sulit digantikan sama AI. Nah, yang ketiga, lu jangan ketika lu nganggur pun lu ah lulus, lu jangan nunggu dapat kerja tetap, Guys. Yang ketiga, lu penting punya reputasi. Artinya apa? Dunia kerja ini kan sangat progresif terus berubah. Lu harus udah dari jauh-jauh hari sebelum lulus magang lah lu. Jangan lu ngandalin duit orang tua lu aja, duit em bapak lu. Enggak lihat lu. Mereka juga nanggung kakek neneknya. Rela banget lu. Tega banget lu jadi orang. Jadi mulai dari lu sebelum lulus pun mulai magang, mulai freelance, mulai cari project, mulai cari kerja remote, bisa. Pasti bisa. Asal lu mau, asal lu punya keyakinan, asal lu punya niat enggak nyusahin orang tua lu. Mikir lu, kesal gua asli sama Gensi nih kerupuk semua nih. Dan lu harus tahu yang lu cari itu bukan status. Ada orang tahu-tahu enggak ada pengalaman ngelamarnya manager, ngelamarnya supervisor. Idih siapa lu? Tadi gua bilang lu bedain CAGR sama COGS aja enggak bisa. Apa-apaan lu. Tapi makanya dari sekarang lu harus bangun pengalaman lu. Bikin portofolio lu yang nyata. Buktikan hasil kerja lu seperti apa. Oh, Pak, saya punya pengalaman 2 tahun kerja di perusahaan X. Setelah saya masuk di perusahaan X, saya bangun dia punya Instagram-nya, saya perbaikin website-nya, Omz dia jadi naik 300%. Jauh lebih bernilai itu portofolio itu dibandingkan apa? Lu ngelamar kerja. Iya, Pak. Saya lulusan terbaik IPK saya 4,2 di Universitas Indonesia. Oke. Pengalaman kerja lu apa? Enggak ada. Lu pernah magang? Enggak. Enggak kepakai lu sampah. Banyak yang sampah-sampah kayak begitu. Ke laut. cloud, guys. Jujur sampai detik ini gua ketika nge-hire orang gua itu udah gak lihat lagi kampusnya dari mana, IPK-nya berapa, sampah. Sampah jujur yang gua lihat apa? Portofolio. Jelaslah. Kalau gua mau hire web designer atau gua mau cari 3D animator, enggak ada gunanya sertifikat tong sampah lu, kacang goreng lu yang namanya izaza lu ke tong sampah. Enggak ada artinya IPK lu 47 sekalipun. Yang gua tanya, portofolio lu mana? Lu ngaku 3D animator mana contoh animasi yang lu buat? Kan itu yang gua tanya. Lu udah bikin berapa film sampai detik ini? Udah berapa detik? Lu pakai software apa? Lu pakai blender kah? Lu pakai After Effect kah? Mana? Gua mau lihat. Gua enggak butuh ijazah lu. Enggak ada. Dan Genzi lu udah siap ya. Makin ke depan orang itu akan beli portofolio lu. Orang tidak akan beli ijazah sampah lu. Tu enggak enggak enggak penting. Makanya teman-teman dari sekarang kumpulin pengalaman, kumpulin experience. Ini gua bicara dari sudut pandang pengusaha dan juga sebagai investor. Ketika gua hir orang, gua enggak lihat itu dia gua lulusan terbaik dari ITB. Idih. Gua lulusan IPK 3,9 dari UGM. Aduh, enggak. Mana portofolio lu. Itu yang penting. Karena jujur-jujur aja lu pakai logika pengusaha lah, lu akan lebih senang higher desainer IPK4 dari UI atau desainer yang punya pengalaman membangun usaha ayam geprek dari kota kecil. Mungkin cuma di Wonosobo, tapi karena dia ahli, bikin logo, bikin brosur, bikin sosial media, terus kemudian tokonya bisa laris, warung ayam gepreknya. Ini tadi gua bilang ya, Om Zen naik 300%. Lu akan lebih pilih ya kalau lu ada seorang pengusaha UMKM di bidang makanan dan minuman atau perusahaan besar bahkan, lu lebih pilih mana? Lulusan UI PK4 atau lulusan Wonosobo yang berhasil naikin omzet sampai 300% itu? Gua yakin manusia waras akan hir sih lulusan Wonosobo itu karena mereka dia punya pengalaman yang jauh lebih konkret. Dan lu jangan kaget ya kalau lihat video-video Benix ini menurut lu keren, editingnya bagus. Menurut lu yang bikin video kita ini lulusan S1, S2, luah tahu dong jawabannya apa? Enggak. Sekarang lu nyambung kan? Ijazah lu tuh sampah. Ijazah lu sampah. Enggak ada artinya. Enggak ada artinya. Orang butuh skill. Zaman sekarang orang butuh portofolio. Jadi teman-teman bangunlah portofolio lu sebanyak-banyaknya, sebagus-bagusnya. Kenapa? Karena di era kalian, lu akan bertarung melawan mesin. Harus siap. Duh. Bangun dari sekarang portofolio digital kalian, portofolio kalian. Bagi itu, share itu di GitHub kek, di Linkin kek, di Behandek, apapun itulah. Share itu. Jadi dunia tahu kapabilitas lu. Dunia tahu value apa yang lu bawa, bukan ijazah lu. Ya, lu bayanginlah UI setiap tahun meluruskan berapa? Puluhan ribu manusia, Guys. Terus apa kelebihan lu dibanding yang lain? Nothing. Kalau lu enggak punya portfolio, nothing. ITB berapa lulusnya? Ribuan tiap tahun. UGM ribuan tiap tahun. Terus kelebihan lu apa? Portofolio. So, lu perbanyak portofolio lu dari sekarang karena enggak penting. Bukan artinya di sini gua mau bilang lu harus males-malesan yang sudah terlanjur kuliah ya. Enggak. Tetap lu harus fight. Itu juga prioritas. Ya, jujur aja. Kalau ada dua orang yang sama tapi yang satu lebih bagus kredensialnya ya udah pastilah yang kredensialnya bagus dan portofolionya bagus yang kita pakai. Tapi kalau ditanya mana yang kita pilih, portofolio bagus atau kredensial bagus? Tentu kita pilih orang yang portofolionya sangat bagus. Itulah simpel. So, itu yang ketiga. Kalau yang keempat apa, Guys? Lu udah wajib punya mindset global. Ingat ya, lu bukan lagi bertarung melawan tetangga lu. No. Lu udah bertarung melawan lintas negara, Gen? Jadi, mindset lu bukan cuma jadi pemain lokal, lu harus jadi pemain global. Kenapa? Karena lu harus tahu dunia ini butuh talenta-talenta yang canggih, pintar, hard working, fighter, tapi wajib juga murah. Itulah kenapa orang Filipin bisa masuk ke New York tanpa pakai visa kerja. No. Kenapa? Mereka punya skill. Skill apa? Berbahasa Inggris. dia siap bertarung di level global. Jadi, Teman-teman udah harus nih wajib punya ilmu komunikasi yang baik. Belajar kalau perlu lu bahasa-bahasa Cina, Mandarin, bahasa Jepang, bahasa Inggris. Dari sekarang lu perlengkapi diri lu. Enggak cukup lu ngerti bahasa Indonesia doang. Enggak cukup. Lu wajib bisa masuk ke pasar global. Dan untuk meningkatkan peluang lu bekerja di pasar global, lu harus bisa remote working. Remote working artinya lu harus bisa pakai bahasanya mereka. L jelaslah. Masa lu pakai bahasa Mongol mau kerja di Finlandia. Enggak logis lu. Jadi di sini lu langkah konkret yang lu harus lakukan apa? Pertama lu naikin skill lu. Skill yang bisa dijual di tingkat global. Skill apa? Desain, coding, data, writing. Itu semua skill yang global. Terus yang kedua apa? Bahasa Inggris lu tingkatin. Menurut gua prioritas tetap bahasa Inggris. Bahasa Inggris yang fungsional ya. Enggak harus perfect tapi fungsional ya. Di tingkat profesional lah. Enggak usah perfect-perfect banget, enggak penting juga. Karena yang penting lu apa? Lu ngerti tadi bahasa desainnya apa, codingnya gimana, itu yang jauh lebih penting. Tapi kalau lu bisa bahasa lokalnya mereka, bahasa Belandanya atau bahasa Jermannya ya bagus. Tapi satu yang pasti ya, Guys, di generasi gua bisa bahasa asing satu aja cukup. Di era kalian tidak. Di era kalian minimal lu ngerti dua bahasa asing. Karena terakhir gua di Belanda, gua kerja di Belanda, di sana orang Belanda minimal lu ngerti tiga bahasa. Bahasa Belanda, bahasa Inggris, rata-rata bahasa Jerman. Atau bahasa Belanda, bahasa Inggris, bahasa Spanyol. Bahasa Belanda, bahasa Inggris, bahasa Itali. bahasa Belanda, bahasa Inggris, bahasa Arab. Mereka wajib karena mereka punya mindset mau jadi pemain global. Ketika gua tanya teman-teman kita waktu kuliah di sana orang Belanda, "Lu habis dari sini mau ke mana?" "Oh, gua mau kerja di Dubai. Lu bayangin mau kerja di Dubai. Kalau lu, "Oh, gua mau buka usaha di mana?" Di Afrika Selatan. Itu mindsetnya. Jadi enggak cukup cuma bisa bahasa Inggris, enggak, enggak kepakai di era lu. Lu minimal punya dua bahasa asing yang lu kuasain. Wajib, Guys. Nah, dari situ lu sudah bisa tahu ya arahnya ke mana. Ya, lu bisa masuk ke platform kerja global. Contohnya bukan lagi lu ngelamar di lolongan yang ada di portal-portal job Indonesia, tapi lu sudah bisa bawa diri lu untuk kerja di Upwork, fever, Top, remote. Oke. Jadi ada begitu banyak platform lah. Zaman dulu gua juga begitu kok. Jangan kaget lu ya. Gua juga salah satu orang yang aktif jualan di Viver pada masanya ya itu sekitar 13 tahun lalu mungkin. Tapi ya gua salah satu top seller di situ. Nah, tapi untungnya apa ya? Lu gara-gara lu kerja buat perusahaan luar, lu dapat penghasilan dalam dolar. Gaji lu gaji global internasional. Tapi karena lu tinggal di lokal, artinya daya beli lu jadi tinggi, Guys. Jadi, lu punya daya saing itu tinggi di sini. Enak, kan? Makanya, Teman-teman dari sekarang wajib punya mindset global. Wajib. Bukan lagi kalau bisa, wajib lu punya mindset global, guys. Jadi menurut kalian semua, jujur-jujuran aja, menurut lu, semakin terbukanya lapangan kerja bagi lansia ini kabar baik atau kabar buruk buat perekonomian Indonesia? Dan ini jadi ancaman enggak buat para Genzi, Guys, generasi capca ini? Ya, kalau menurut gua sih bisa jadi iya nih ancaman buat Gen nih. Apalagi GenI-Genzi yang gak mau nambah skill-nya, enggak mau upgrade dirinya ya. Makanya lu jangan lihat mayoritas pengangguran di Indonesia Geni. Nah, terus gimana nih cara supaya pemerintah Indonesia bisa mengatasi ya fenomena pengangguran GenI ini? Menurut lu negara mampu enggak nih menghadirkan solusi yang konkret bagi para Gen di Indonesia? Ya, salah satu tadi misalkan kalau lu mau kerja di luar negeri punya mindset kerja jadi vendor atau bikin program atau bikin karya buat perusahaan asing dari Indonesia, tentu lu punya akses internet dah dan punya bahasa yang cukup ya. Ya untungnya negara sudah siapin sebetulnya makanya ada program internet cepat hemat murah dan ini penting betul-betul penting buat jadi fokus pemerintahan kita sebetulnya. Kenapa? Karena Indonesia lagi dalam masuk fase bonus demografi yang betul-betul harus bisa kita manfaatkan Genzi ini sebaik mungkin. Jangan sampai mereka malah justrunya bergabung ormas-ormas enggak jelas. Lama-lama jadi ter enggak usah bahaya nih. Atau bikin pasukan demo bayaran. Jangan sampai jadi Gen ini benar-benar harus dibina nih. Terus yang kelima apa, Guys? Kalau gitu yang kelima ya kamu yang tahu. Tulis dong pandangan kalian di bawah ini. Menurut kalian apa sih yang kelima? Solusi apa sih yang paling bagus, paling penting yang harus diberikan supaya Gen ini bisa produktif, bisa kerja? Jangan sampai mereka kalah dong sama orang-orang yang umurnya udah 70-an tahun. Malu dong. Solusinya apa, Guys, menurut kalian semua? Tolong dong sharing pandangan kalian di kolom di bawah ini, ya. Karena apa, ya? Banyak pengambil kebijakan di negara ini jadi followernya Benix. Siapa tahu nasihat kalian didengar demi Indonesia yang lebih baik lagi, Guys. Oke, Guys. Semoga video kita bermanfaat. Jangan lupa like and subscribe channel Benix dan share channel kita sebanyak-banyaknya ke teman-teman kalian, keluarga kalian. Sampai ketemu lagi. Semoga video ini bermanfaat. Salam sehat, salam cuan. Bye bye. [musik]