LANSIA BISA KERJA LAGI!! GEN Z Terancam NGANGGUR di 2026?
yW0rUU5lvVg • 2026-01-10
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Good News Indonesia. Sekarang Lancia
udah bisa kerja kembali loh. Jadi udah
banyak program-program yang bikin
perusahaan di Indonesia supaya
orang-orang tua itu enggak nunggu aja
duduk diam di teras rumah gendong cucu.
Enggak. Sekarang mereka bisa
berkontribusi buat perekonomian
nasional. Nah, ini salah satu perusahaan
yang keren nih menurut gua adalah paper
lunch. Jadi, buat teman-teman yang suka
makan hot plate di mall-mall yang warna
kuning tuh namanya si paper lunch itu
sekarang bikin program lowongan kerja
khusus buat orang-orang yang sudah
lanjut usia yang umurnya udah di atas 60
tahun. Wah, ini sih keren banget sih.
So, kalau penasaran gimana sih program
mulia ini bekerja dan kenapa menurut
Benix program ini bisa berkontribusi
ribuan triliun buat perekonomian
Indonesia? So, kalau lu penasaran gimana
sih sukses story yang satu ini, jangan
dikip video ini. Let's check this out.
[musik]
Jadi, Teman-teman keren banget nih ya
paper lunch di Indonesia baru aja
ngeluarin program khusus lowangan kerja
buat lansia yang usianya di atas 60
tahun. Program ini sih sebetulnya
terinspirasi dari Hongkong sama
Singapura. Jadi buat teman-teman ya,
kalau lu sering ke Singapura atau
Malaysia, lu pasti suka penasaran ya.
Gua kalau makan di Singapura, di
restoran, di cafe, di food court itu
kadang-kadang lu lihat ya kok di sini
yang layanin gua bukan anak muda. Beda
dengan di Indonesia kalau lu lihat yang
layanin dulu ya di kafe-kafe, restoran
pasti orang-orangnya cewek-cewek,
cowok-cowok, mbak-mbak masih pada muda
tuh. Banyak bahkan usianya masih 18
tahun, 22 tahun. Tapi kalau lu di
Singapura lu pernah bertanya-tanya
enggak sih? Kok yang ngelayanin lu kakek
nenek, Guys? Umurnya 63 tahun, 70 tahun.
Kok bisa? Ya, jadi ini memang salah satu
hal yang unik dan netizen suka sering
ngacau. Kalau gua lihat netizen pada
bilang, "Wah, Singapura kejam, masa
orang udah tua disuruh kerja. Waduh, itu
goblok namanya." Justru ini bagus karena
artinya negara membantu memfasilitasi
supaya senior citizen ya orang-orang tua
itu enggak diam merengut di rumah. malah
dibuat orang tua itu terus bekerja
supaya mereka enggak mati kebosanan,
supaya mereka produktif, supaya mereka
punya kebanggaan, ada kontribusi buat
negaranya, buat keluarganya, dan enggak
usah ngemis-ngemis sama anaknya. Jadi
kalau banyak netizen-netizen yang suka
menghina orang Singapura karena kesannya
oh dia enggak disayang sama anaknya
kakek itu. Oh, kasihan dia
ditelantarkan. Oh, kasihan umurnya udah
tua kok masih kerja. Enggak. Kalau gua
melihat justru itu bagus. Jujur menurut
gua itu bagus. Kenapa itu bagus?
Sekarang kalau kita lihat data Singapura
sama Hongkong ya contohnya ya itu masih
banyak loh lansia di negara-negara itu
masih bekerja. Lu bayangin ada 31%
orang-orang lansia di Singapura yang
masih bekerja dan di Hongkong sendiri
ada 153.000
lansia yang masih bekerja. Jadi dari
kisah inspiratif inilah sebetulnya ya
Boga Group ya atau di sini Paper Lunch
mereka punya ide untuk memberikan
kesempatan buat orang-orang di atas 60
tahun bergabung bersama perusahaan
mereka. Ya, jujur kalau menurut gua ini
sih keren banget sih. Ini bukan gua
promosi atau gua marketingin si Boga
Grup ya. Enggak, enggak. Mereka juga gak
punya duit buat bayar gua. Tapi yang gua
mau bilang adalah ini program yang
sangat sangat sangat bagus. Kenapa?
Karena ini ada hubungannya dengan
situasi makroekonomi Indonesia. Dan gua
akan sangat senang kalau makin banyak
perusahaan di Indonesia yang meng-copy
paste paper lunch ini. Kenapa, Om Benix?
Nah, ini alasannya. Makanya lu jangan
skip video ini. Jadi buat teman-teman
lihat ya di layar kaca ya di Indonesia
ini masih banyak loh orang-orang tua
lansia yang itu hidup hari-hari masih
mengandalkan transferan dari anaknya
untuk biaya hidupnya. Dan lebih sedih
lagi di saat yang sama mereka juga harus
menyediakan memp-provide kebutuhan hidup
untuk anaknya sendiri. Jadi lu bayangin
ini yang namanya sandwich generation. Lu
tahu hamburger kan? Hamburger itu
digencet dari atas ditekan juga dari
bawah. Ke atas dia harus nyetor ke orang
tua. Ke bawah dia harus kasih makan
anaknya sendiri. Jadi, lu bayangin dia
punya penghasilan enggak bahkan enggak
cukup buat dirinya sendiri. Itulah
sandwich generation. Nah, Teman-teman,
bagaimana kalau Indonesia seperti di
luar negeri? Nah, lu lihat di lahir kaca
di negara Indonesia ya, orang-orang yang
lanjut usia, orang-orang yang umurnya di
atas 60 tahun itu lebih dari 40%
mengandalkan transferan dari anaknya.
Lebih ngeri lagi orang-orang yang di
atas 70 tahun lebih dari 50%
mengandalkan transferan dari anaknya.
Lalu yang di atas 80 tahun hampir 60%
mengandalkan transparan anaknya. Nah,
kalau lu lihat data ini sebetulnya
Indonesia cukup oke sih. Kenapa? Karena
dari sini lu lihat ya masih sedikit
sebetulnya orang-orang tua di Indonesia
yang mengandalkan anaknya. Gua yakin sih
sebetulnya masih banyak di luar sana ya
orang-orang tua di Indonesia lansia ya
berusaha enggak nyusahin anaknya. Itu
mentalitas yang ada di Indonesia. Nah,
ini akan jauh berbeda kalau teman-teman
melihat data yang ada di Cina. Di Cina
itu hampir 80% orang-orang yang usianya
sudah tua, umur 60 sampai 80 tahun itu
mengandalkan transferan dari anaknya.
Makanya, Teman-teman, enggak enak banget
kalau lu jadi Gen di Cina. Gen di Cina
saking sedihnya bahkan ada Gen di Cina
yang harus menghidupi orang tua dan
kakek neneknya sekaligus. Makanya jangan
heran ya, tingkat di Cina itu ya gede
banget. Begitu juga di negara-negara
maju seperti di Jepang dan di Korea.
Karena di Korea sendiri, Teman-teman,
lihat orang-orang yang umurnya di atas
60 tahun itu hampir 60% mengandalkan
transferan anaknya. Padahal biaya hidup
di Korea sangat mahal. Yang umurnya di
atas 70 tahun, hampir 70% juga
mengandalkan transferan dari anaknya.
Begitu juga orang-orang yang berusia 80
tahun, 80% mengandalkan transferan dari
anaknya. Nah, inilah teman-teman
bahayanya kalau lu hidup tidak
mempersiapkan hari tuanya. Lu hari tua
lu gimana? mau nyusahin anak lu dan mau
nyusahin cucu lu. Ujung-ujungnya cucu lu
banyak yang itu kayak yang di Jepang,
Korea, di Cina. Jangan sampai, Guys.
Jangan sampai. Makanya penting buat
kalian belajar investasi sedini mungkin
ya. Ujung-ujungnya buat lu juga. Karena
nanti ketika lu di hari tua, 60 tahun,
70 tahun, lu enggak usah nyusahin anak
cucu lu. Gila, lu udah mau masuk kubu
aja masih nyusahin orang. Jadi yang
benar apa? Lu investasi sedini mungkin
sehingga nanti ketika usia lu 60 tahun,
lu bebas finansial. Nah, syukurnya ya
Indonesia sebetulnya masih oke lah.
Kenapa? karena ya masih di bawah 60%
lansia di Indonesia yang mengandalkan
duit dari anaknya. Benar atau enggak,
Guys? Tapi kalau lihat dari distribusi
ekonomi di Indonesia memang yang paling
kaya raya di Indonesia itu adalah
generasi baby boomers dan yang lebih tua
lagi. Jadi memang piramida ekonomi
Indonesia itu sangat-sangat
menguntungkan orang-orang yang lahir
sebelum generasi milenial. Artinya apa,
Guys? Artinya lu yang lahir-lahir
belakangan nih, generasi Z, generasi A,
lu harus siap tambah nyungsep lagi,
tambah berat lagi hidup lu. Udah pasti
ini statistik lah, enggak ngibul
statistik. Maksudnya apa, Pak? Simpel
aja. Ini kan kita channel ekonomi, kita
mau bahas soal ekonominya. Kenapa lansia
bekerja ini bagus, Teman-teman? Tahu di
Indonesia itu diperkirakan ada 33 juta
orang lansia. Nah, kalau sumbangse
ekonominya kita hitunglah GDP per kapita
manusia Indonesia itu R juta, Guys. So,
kalau 33 juta lansia di Indonesia bisa
kita pekerjakan kembali mereka Rp33 juta
dikali Rp80 juta per tahun loh
pendapatan per kapita. Artinya
kontribusi lansia ini itu bisa sampai
2.640 triliun setiap tahun 2,6
kuadriliun. That's a lot of money.
Dibanding kita nunggu generasi Z nih
Generasi A generasi lemper enggak bisa
kerja, enggak punya mental, enggak punya
nyali. Gila brengsek banget lu tahu di
kantor gua tahun lalu kita itu lowongan
ada 47 kursi kosong kita mau rekrut
orang susah banget gua kesel banget
sampai hari ini. Lu bayangin ya kita
buka 200 orang ngelamar. Dari 200 orang
yang ngelamar yang ikut interview udah
datang jadwal interview yang nongol
cuman 10 orang. Gila banget nih
buang-buang waktu nih. Dari 10 orang
akhirnya lolos nih satu orang. Satu
orang pun akhirnya kita hire buat kerja
di posisi dia. Apa yang terjadi? Enggak
ada 1 bulan kabur itu orang kan gila.
Enggak ada ngomong apa-apa. Gila nih
kelakuan Genjak setan nih. Benar-benar
nyusahin orang aja lu. Kalau gitu lu
mendingan kasih ke orang lain dah.
Bilang lu kalau enggak mau kerja. Bilang
kalau lu lembek, lu lemah. Kesal gua
sama Genzi. Benar-benar Gen nih biat
nih. Jadi teman-teman di sini lu bisa
lihat sepertinya ekonomi Indonesia kalau
mau tumbuh lebih bagus lagi udah enggak
usah ngarapin sama si Gen nih sama
generation Alpha nih generasi lemper
udah paling bener kayak piring kuning
ini nih. Kita hire aja lansia. Gua yakin
masih banyak lansia di Indonesia usia
60-an tahun yang masih punya jiwa
fighter nih. Mau fight, kerja, enggak
mau ngemis di jalan. Nora malu-maluin
lu. Yang bener dong, lu kan manusia,
kontribusilah buat negara ini. Dan lu
bayangin kalau ada 33 juta lansia punya
mindset yang sama seperti orang-orang
yang kerja di piring kuning itu, apa
yang terjadi? Ya, Indonesia bisa dapat
ekonomi 2.600 triliun, Pak. Artinya
Genjin banyak yang pengangguran. Mampus.
Makanya lu yang benar jadi manusia lu.
Nah, lu bayangkan ya. Tapi kan enggak
mungkin juga 100% lansia ini kerja semua
ya 33 juta orang kan. Ada yang mungkin
udah rematik lah, udah stroke lah, udah
bayar DP lah buat cavling di surga lah.
Jadi enggak mungkin juga 100% mereka
kontribusinya seperti yang gua bilang
tadi 2.600 triliun dari 33 juta orang
ini kita taruhlah cuman 50 orang yang
bisa berkontribusi. Itu still a lot of
money, guys. 50% artinya 1300 triliun
loh kontribusi generasi lansia ini. Tapi
memang mereka butuh untuk datang
menyelamatkan bangsa kita karena Gen Z
gen enggak bisa diarepin, Guys. Enggak
bisa diarepin. Gila. Dan ini udah
kejadian berulang-ulang loh. Gua hire
orang, kita buka lowongan, ribuan orang
melamar. Eh, giliran interview yang
nongol cuman satu biji, dua biji. Gila
ini benar-benar buang-buang waktu.
Padahal udah bikin jadwal hari Senin jam
09.00 kita meeting, hari Senin jam 10.00
kita interview, enggak ada yang nongol.
Gila banget. Gila, gila gila. Dan jangan
anggap enteng ya kontribusi lansia ini
ya. Seandain betul jadi kenyataan dan
makin banyak perusahaan yang berani ya
mengandalkan orang-orang lansia kita,
fighter kita ini orang-orang generasi
fighter loh. Lu bayangin ya kalau mereka
umurnya 80 tahun generasi fighter ini
berarti lahir di tahun 1945. Mereka
mengalami lebih dari lima presiden
sekaligus. Ini udah veteran nih guys.
Makan banyak asam garam nih. Fighter
nih. Ini hebat banget. Nah kenapa hebat
banget? Lu tahu GDP Indonesia itu 22.000
triliun. Kalau lansia nih 33 juta orang
itu semuanya kerja kontribusi Rp80 juta
per tahun berarti kan 2.600 triliun.
R600 triliun itu setara 12% dari GDP
Indonesia loh gede loh. Katakan 50%-nya
aja yang bisa kerja masuk nih ke dalam
generasi kerja kita kembali menjadi usia
produktif. Artinya BRIka bisa kasih
kontribusi sampai 6% dari GDP Indonesia.
So that's a lot of money. Dibandingkan
kita ngelihat Genzi kita yang makin lama
makin bego. Hobinya joget-joget goyang
di TikTok enggak jelas. Gua
lama-lama juga kepikiran deh
posisi-posisi kita kok di kebun. Lu
bayangin kita punya kebun reforestasi,
kita nanam pohon pisang, kita nanam
semangka buat orang-orang hutan. Makanya
kalau lu datang ke kebun kita, Genzi,
gua gak mau, Guys. Genzy susah harapan.
Kalau lu datang ke kebun kita, mayoritas
yang kerja di kebun kita usianya ya udah
di atas 50 tahun. And that's ok. Kenapa?
Gua suka sama mereka. Mereka mau fight.
Mereka betul-betul punya niat kerja.
Betul-betul punya niat kerja. Beda sama
generasi-generasi sekarang ini yang
makin lama makin lembek, Guys. Ini kabar
baik ya buat teman-teman kita yang sudah
senior, yang lansia. Dan gua happy sih
kalau seandainya kita bisa kasih
kontribusi seperti orang-orang lansia
itu. Dan gua berharap gua pribadi gua
masih bisa kerja sampai umur 90 tahun
bahkan 100 tahun pun gua masih bisa
kerja, masih bisa aktif seperti Warren
Buffet dan Charlie Manger. So I hope
more and more people ya di Indonesia itu
punya mindset produktif seperti itu.
Jangan usia baru 70 tahun udah
golek-golek di kasur, udah
nyantai-nyantai di teres rumah main
burung. Janganlah lu lihatlah Presiden
Prabowo umurnya udah 76 tahun, Guys. Itu
aja masih kerja, kan gila. Masih
olahraga, masih bangun pagi, masih bikin
meeting, masih berpikir bangsa kita mau
dibawa ke mana. Lu bayangin 76 tahun,
Guys, umurnya. Lu bayangin banyak orang
yang gua ketemu umur 63 tahun udah
pensiun, udah males-malesan. Janganlah.
Kecuali kaki lu hilang satu gitu ya
boleh lu punya alasan atau tangan lu
hilang dua. Okelah lu punya alasan. Tapi
kalau badan, kaki, tangan, mata lu masih
lengkap, terus lu masih mau
males-malesan, sementara lu lihat orang
di Singapura kalau ke sana sampai umur
65 tahun pun masih kerja, Guys. Lu mau
lebih sadis lagi lu ke Jepang. Gila, gua
banyak punya teman di Jepang umur 70
tahun pun masih ngantor, Guys. Gila
enggak? Ya mau enggak mau karena apa? Ya
itu namanya membangun negara, membangun
bangsa. Lu bayar pajak. Itu dong
mindsetnya. Jadi, lu bayangin begitu
brutalnya ya orang-orang di negara maju
itu pengin bawa perekonomian negaranya.
Ya, sama-sama dong. Enggak mungkin
sendirian gendong negara, kegedean, Bro.
Berat. Tapi kalau ramai-ramai pasti
bisa. Kenapa ini juga sebuah kode keras
yang buat Genzi? Artinya, Genzi, lu
harus siap, ya. Gua berkali-kali
diundang ke kampus-kampus, gua bilang,
"Hei, lu mahasiswa-mahasiswa di sini, lu
siap-siap ya. Lu lihat kiri dan kanan
lu. Mayoritas dari kalian 50% gua jamin
pas lulus lu jadi pengangguran."
Garansi. Kenapa? Karena kompetitor lu
bukan lagi cuma kanan kiri lu.
Kompetitor lu nanti di dunia kerja yang
semakin sempit itu apa? Pengangguran
sebelum lu, generasi lemper sebelum lu.
Ada berapa hari? Ada 7 juta pengangguran
di Indonesia. 7 juta pengangguran di
Indonesia. Dan lu tahu apa yang terjadi?
67%
dari mereka itu adalah Genzy. Gila, 67%
dari mereka itu Geni. 67% dari 7 juta
manusia itu artinya ada hampir 5 juta
manusia nganggur adalah Geni. Gila
banget. Umurnya 15 tahun sampai 29 tahun
nih si Gen nih. Ini gua sedih banget gua
soalnya dari umur 11 tahun udah dagang,
Guys. Udah dagang gua udah jualan, udah
cari duit. Ini Gen ini apa ini kerjanya
nih? Sampai jadi pengangguran merusak
statistik Indonesia nih. Jujur aja nih
Gen mendingan pergi deh ke Papua kerjain
tu program food estate cetak sawah
macul-macul lu biar lu udah duit. Cuman
satu lagi nih tambah nih kompetitor Gen
udah lu bersaing dengan generasi lemper
sebelum lu si 7 juta pengangguran itu
yang mayoritas Genzy lu juga harus
bersaing dengan generasi yang jauh lebih
tua generasi baby boomers. Karena apa?
Mereka punya spirit of iron bro. Iron
wheel nih buat maju terus pantang
mundur, malu minta duit sama anak cucu,
malu jadi beban keluarga. Kerja
kontribusi buat perekonomian bangsa
negara kita. Harus begitu. Iya dong.
Malu dong lu. Masa lu umur 60 tahun udah
pensiun. Lihat itu si Warren Buffet umur
90 tahun masih kerja. Charlie Manger
umur 99 tahun masih ikut RUPS
masih kerja. Gila lu umur 60 tahun udah
manja apalagi Gen ya. Gensi lu umur baru
berapa 20 [tertawa] tahun? Aduh udah
banyak polosnya. Banyak izinnya. Aduh,
ada aja penyakit list dari 1 sampai
2.000 semua ada. Pak, izin besok batuk.
Pak, izin besok keserempet motor. Pak,
izin besok sakit perut. Pak, izin besok
verdigo. Pak, sorry banget nih enggak
bisa kebangun. Kenapa lu enggak bisa
bangun? Kenapa cuman detik lu enggak
bisa bangun? Kenapa lu enggak bisa
bangun sampai 2000 tahun ke depan
sekalian? Tapi itulah Genji. Selalu cari
alasan supaya mereka tambah miskin,
supaya mereka tambah bodoh, supaya
mereka bisa nyala-nyalahin orang lain.
Jangan jadi gitu, Guys. Ngeri. Kenapa?
Khususnya buat teman-teman Genzi, ya.
Gua bukan di sini mau mendiskriminasi lu
yang udah memang hancur lebur itu, tapi
gua di sini mau menyemangati lu juga
supaya lu siap. Kenapa? Yang jadi musuh
lu bukan cuma Genzi sebelum lu juga
bukan orang yang jauh lebih tua dari lu
generasi sebelumnya. Tapi ada ancaman
yang lebih berbahaya yaitu apa? AI
artificial intelligence ini yang bakal
menghancurkan Geni. Jadi teman-teman lu
tahu enggak sih gara-gara AI di luar
negeri di Amerika nih udah banyak Gen
itu yang menyerah bendera putih. Bahkan
mereka lebih pilih jadi tukang ketimbang
kuliah. Dan suka enggak suka memang
faktanya EAI itu bikin lapangan kerja
menipis. Memang sih ekonomi tumbuh, tapi
itu kan pakai teknologi dunia maya, tapi
pengangguran dan pekerja kantoran justru
makin terancam. Dan ternyata bukan cuma
pekerjaan konvensional juga yang makin
terancam loh. Goldman Sex itu sudah
bikin penelitian. Pekerja di sektor
teknologi yang muda-muda ini juga sudah
mulai merasakan efek negatif nih dari
artificial intelligence. Dan dalam
beberapa tahun terakhir, AI bakal
merugikan prospek kerja bagi
kelompok-kelompok pekerja muda di sektor
teknologi. Jadi teman-teman di sini udah
bisa lihat ya, lu bisa lihat bahwa Gen
musuh lu tambah banyak. Musuh lu tambah
banyak. Bukan cuma kiri kanan lu yang
lagi ada di kampus sekarang. No. Tapi
musuh lu itu udah sampai ke Terminator.
Lu bayangin lu bersaing sama robot
Terminator mesin lu lawan itu lawan lu.
Makanya lu harus siap buat teman-teman
yang Genz lu itu harus siap. Jangan lu
tambah lemper, tambah cemen, tambah
lembek. Enggak, lu harus fight, Bro. Lu
harus fight. Karena memang faktanya,
Guys, kemarin kita bikin video khusus
spesial tentang masa depan batu bara di
tahun 2026. Teman-teman penasaran enggak
gimana kalau masa depan sektor yang
lain? Apalagi kemarin Venezuela habis
diculik presidennya. Harga minyak dunia
kan seperti apa? termasuk harga emas,
harga silver yang tahun ini aja sudah
meroket lebih dari 100% dalam 1 tahun
terakhir. Kita belum bicara soal sektor
lain seperti pariwisata, sektor
perbankan, sektor pertambangan. Apalagi
kita sudah memasuki era di mana faktor
geopolitik menjadi salah satu faktor
yang paling penting dalam menyusun
strategi ekonomi kalian. Jadi buat
teman-teman para pelaku usaha,
orang-orang di pemerintahan, duta besar
sekalipun sampai akademisi dan investor
yang ada di Indonesia, lu penasaran
enggak sih gimana sudut pandang BENX
tentang Outlook Ekonomi Indonesia di
tahun 2026 ini? Kalau lu penasaran, yuk
segera join di acara Spial Benix
Economic Outlook 2026 di Titan Center
Bintaro hari Sabtu tanggal 24 Januari
jam .00 siang. Segera daftarkan dirimu
sekarang juga kalau yang mau ikutan
acara Special Benix Economic Outlook
2026. Kursinya terbatas, segera
daftarkan dirimu melalui nomor WhatsApp
yang ada di bawah ini atau scan kode QR
code yang ada di sini. Oke, guys. Sampai
ketemu di Benix Economic Outlook 2026
hanya di Titan Center Bintaro. Karena
memang faktanya PHK massal itu udah
terjadi di mana-mana loh, di seluruh
dunia. Ini gua ngasih video ini sebagai
persiapan Gen ya supaya lu menjadi
mesin, supaya lu jadi fighter guys. Lu
jangan cengeng. Lu lihat beritanya
Amazon PHK 30.000 R orang karyawan
gara-gara AI. Bukan PHK satu biji ya,
bukan PHK 2 biji, PHK 30.000 orang
karena AI. Karena dengan AI sekarang,
zaman dulu satu orang ngerjain pekerjaan
buat satu orang zaman dulu. Sekarang
dengan satu AI, satu orang bisa kerjain
kerjaan 20 orang. Terus buat apa ada lu
Genzi? Misalnya hahahi hahi ngopi enggak
jelas lu. Besok izin sakit bolos. Ada
aja cerita lu. Gak yakin lu jangan
heran. Kayak trip tuh tempat jalan-jalan
mereka PHK 600 karyawan diganti AI. Lalu
ada lagi nih dari detik HP tuh pack mau
PHK lagi 6.000 karyawan mau ganti mereka
pakai AI. Jadi dari sini lu bisa lihat
ya PHK-nya itu bukan PHK satu biji dua
biji no mereka PHK ribuan orang. So lu
bayangkan kalau hari-hari ini aja orang
di seluruh dunia perusahaan di seluruh
dunia berlomba-lomba PHK. Lu bisa
bayangin ya, life expectansi Genzy di
Indonesia itu bakal jadi apa? Begitu lu
lulus kuliah, lu kasih makan orang tua
lu, lu kasih makan kakek lu karena umur
mereka makin panjang nih. Lu harus siap
tuh buat itu. Eh, di sisi lain lu mau
kerja makin susah. Ada satu hal yang
enggak logis kita buka lowongan kemarin
buat fres graduate dari salah satu
almamater gua sebetulnya gua kesal
banget. Pengalaman kerja nol. Gua tanya
lu minta gaji berapa? Rp juta. Setan lu.
Bisa apa lu? Emangnya lu bisa enggak
bedain nih COG sama CGR? Enggak bisa.
malu-maluin aja terus ngapain lu
ngelamar? Aneh, bodoh banget.
Betul-betul bodoh. Di era gua dulu demi
dapatin pengalaman, kita bahkan rela
kerja itu enggak dibayar, Guys. Gue itu
sempat kerja bahkan mungkin 2 atau 3
tahun itu gajinya mungkin ya hampir
enggak ada L cuma cukup buat ganti uang
transport. Itu pun udah bagus, enggak
nombok. But that's the price we pay lah
generasi-generasi fighter. Ya, gua
berharap sih Genj itu bisa begitu lah.
Tapi kalau gua melihat ke sini, sorry
aja ya. Apalagi lulusan-lulusan
kampus-kampus negeri ini banyak
betul-betul yang kayak lemper. Wah,
siap-siap aja teman-teman jujur deh.
Tulis di kolom komentar sini. Siapa
kenalan lu, saudara lu, teman lu yang
lulusan Universitas Negeri ternama? IPK
gede bagus, tapi sampai detik ini
nganggur. Jujur aja. Tulis gua yakin
banyak. Gua yakin banyak. Enggak
kepakai. Banyak lulusannya enggak
kepakai nih. Kenapa? Mereka enggak punya
mental. Iron Wheel lu enggak punya tuh
fight dong. Enggak ada. Enggak jelas. Lu
harus tahu value apa yang lu bisa kasih.
kontribusi lu seperti apa? Lu kan
manusia dan lu kalau lu masih belum
yakin dengan yang gua bilang bahwa AI
bakal menghancurkan hidup loh, Gen? Ya,
minimal preambul menuju full AI itu ada
yang namanya perkembangan teknologi,
Guys. Dan ini aja bisa mengancam Genzi.
Genzy lu bayangin ya, lu ada kemungkinan
semua Gen di Indonesia lu ada
kemungkinan lebih dari 60% bahkan lu
bakal jadi pengangguran seumur hidup. Lu
bayangin pengangguran seumur hidup
permanen. Jadi kalau lihat KTP lu,
pekerjaan, kalau gua di KTP gua,
pekerjaan gua petani by the way.
Pekerjaan Gen pengangguran seumur hidup.
Ini bakal jadi title nih. Kalau lu
enggak dari sekarang kumpulin pengalaman
lu, bangun portofolio lu. Harus dong
fight. Lu tahu di Cina hari-hari ini
udah muncul penggantinya. Kalau zaman
dulu di Indonesia masih ada orang-orang
jagain pintu tol ngetap-ngetap, bayar
duit. Aduh, goblok banget. Sayang
banget. Buang-buang waktu. Padahal
manusia yang sama bisa kita kerjain di
tempat lain supaya mereka bisa
menciptakan value yang lebih tinggi
lagi, lebih bagus lagi buat negara ini.
Ngapain mereka harus duduk di situ
berjam-jam cuma buat kasih kembalian?
Ah, enggak jelas. Di Cina, di Cina lu
bayangin itu udah dipikirkan sama
negaranya. Pegawai toko-toko retail di
sana, IndoApril di situ, itu udah punah.
Sebentar lagi bakal punah total
digantikan sama robot. 7-Eleven di
Jepang. Bahkan bukan cuma kasir buat
ngisi-ngisi rak yang ada di
gudang-gudangnya mereka itu mereka udah
pakai robot. buat ngepel lantai. Mereka
udah pakai robot di Amazon sekalipun.
Gudang-gudang di Amazon buat ngisi kirim
barang. Oh ini kirim ke Washington, ini
kirim ke New York, ini kirim ke Las
Vegas, ini kirim ke Texas. Itu udah
pakai robot, Guys. Gudangnya isinya
robot, lampu mati di situ. Hemat listrik
lagi. Karena robot buat apa punya mata?
Mereka punya sensor. Dan saking
canggihnya lagi ini perkembangan
teknologi. Belum ngomongin AI loh gitu.
Perkembangan teknologi di Amerika
Serikat. Lu tahu kasir-kasir di Amerika
Serikat mereka udah enggak mau lagi gaji
manusia. Mereka buka Zoom di kasir
sekarang ada monitor dikasih kamera
webcam sama orang Filipina. Gajinya cuma
Rp60.000 per jam. Lu lihat nih di layar
kaca nih toko-toko di Amerika Serikat
udah mulai pakai zoom. Lu bayangin zoom.
Mereka zoom sama orang Philipin supaya
apa? Gajinya lebih kecil 60.000 per jam.
Kalau lu bayar orang Amerika sendiri
bisa di atas R200.000 sejam. Hemat
mereka. Jadi lu bayangin Gen di Amerika
aja udah terkencing-kencing nih. Ya
siap-siap aja mereka. Mendingan mereka
dari sekarang ngelamar dah jadi tentara
biar bisa sibuk bunuhin warga negara
orang lain. Minimal ada kontribusi buat
perekonomian bangsa lu kan. Nah, terus
kalau di Indonesia gimana nih Genzi? Di
Indonesia bakal terjadi perebutan
lapangan kerja yang super brutal, Guys.
Ya, kayak di Amerika Serikat. Lu
bayangin lu mau jadi kasir di Amerika
Serikat aja. Kompetitor lu apa? Orang
Filipina. Harga lebih murah pakai Zoom
call. Gila enggak? Enggak usah pakai
visa kerja lu. Dia kerja dari rumahnya
sendiri di Philipin. Gaji lebih murah
orang Filipin. UMR cuman enggak nyampai
Rp3 jutaan. Uh, selesai urusan. Terus
Genzi, gimana nih Genzi Indonesia? Apa
yang lu bisa lakukan selain jadi pupuk?
Ya, jadi Genzi di Indonesia lu
siap-siap, ya. Gua ada lima tips nih
buat Genzi di Indonesia. Yang pertama
dan yang paling penting, ya, lu tuh
jangan menjadikan AI itu sebagai lawan
lu, tapi lu harus jadikan itu sebagai
senjata mulai dari sekarang. Karena
banyak nih ketakutan terbesar ya Genji.
Gua kemarin habis ngobrol sama
mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang ada
di Amerika. Gua disuruh harus ngasih
kuliah wjangan tuh buat PPI di sana.
Karena dulu gua ketua PPI di Belanda.
Dan di situ gua bilang, "Lu gak usah
takut kalau AI itu bakal ngambil kerjaan
lu. Jangan, jangan takut, Guys. Strategi
yang benar sebetulnya adalah lu
bagaimana mengadaptasi diri lu untuk
menggunakan EA." Ini sama yang dilakukan
oleh pemerintah Singapura. Mereka
mengedukasi, reedukasi lansia mereka
supaya bisa pakai AI. Bukan lagi pakai
Gmail, bukan lagi pakai Outlook, no
pakai AI. So, Teman-teman, mulai dari
sekarang lu kuasailah tools-tools AI
itu. Ada chat GPT, copilot, ada mid
journey, ada Perplexity, ada Excel AI
dan lain sebagainya. Mulai dari sekarang
lu adaptasi. Jujur aja gua gak bakal mau
hire orang sekarang ya. Udah sebenarnya
udah dari sejak 2 tahun lalu yang tidak
ngerti menggunakan AI. Itu udah habis
habis lu dimakan zaman lu ya kayak zaman
sekarang. Siapa sih mau mau hire
karyawan yang enggak bisa pakai email?
Ya kan enggak bisa pakai Google sheet,
Excel enggak bakal di-hire lu. Dan
teman-teman harus siap di era kalian
nanti. Kalau lu enggak bisa menguasai
tools AI itu sama seperti generasi kakek
nenek moyang kita, orang tua kita yang
enggak ngerti email, yang enggak ngerti
WhatsApp. Udah enggak laku di makin
zaman, gak relevan lagi. Hati-hati buat
teman-teman GenI, era lu lebih cepat,
musuh lu lebih brutal, musuh lu adalah
mesin. Jadi lu harus bisa nih
menunjukkan bahwa lu bisa kerja lebih
cepat, lebih efisien, lebih murah
gara-gara lu sudah menggunakan AI. Jadi,
lu bukan lagi manusia murni. Lu adalah
manusia yang diperlengkapi dengan
kekuatan AI. Nah, jadi dari sekarang lu
bersahabatlah dengan yang namanya AI,
Guys. Jadi, lu harus mulai dari sekarang
punya mindset memposisikan diri lu
sebagai AI assisted human. Bahwa human
manusia yang diperlengkapi dengan
teknologi AI. Bukan lagi manusia manual
seperti manusia-manusia generasi
milenial, generasi X, generasi baby
boomers. Enggak. Lu harus jadi beda.
Jangan mau lu disamakan dengan mereka.
Karena perusahaan pasti bakal lebih
memilih manusia yang bisa menggunakan
AI. Ingat ya, satu orang pakai AI bisa
ngerjain kerjaan 20 orang dibandingkan
satu orang tanpa AI pasti udah pasti nih
perusahaan mengandalkan orang yang bisa
menggunakan AI. Terus yang kedua apa?
Yang kedua lu harus bisa membangun skill
T shape. T lu harus tahu T shape itu T.
Huruf T. T itu ada palang di atas, ada
satu di bawah yang nopang. T ini adalah
yang di atas yang horizontal. Ini adalah
skill yang universal. Lu enggak boleh
punya skill yang serba nanggung. Lu
punya harus skill yang horizontal ini,
ilmu yang universal. Tapi lu harus juga
hati-hati kalau ilmu lu terlalu umum. Lu
berarti gampang diganti dengan AI. Tapi
kalau ilmu lu juga terlalu spesifik,
super sempit, nanti lu juga bakal susah
nih cari kerja. Jadi solusinya apa? Lu
bangun satu skill yang utama dan
terutama. Contoh nih, coding, desain,
akuntansi, itu ilmu umum tuh. Manajemen,
marketing itu ilmu umum. Lu bangun nih
palangnya nih, ilmu horizontal nih.
Bangun nih wajib. Tapi lu jangan lupa,
lu juga harus bangun skill pendukungnya
nih di bawah nih. Enggak penting lu
sejago apa desain, sejago apa lu coding.
Kalau lu enggak punya skill komunikasi,
lu enggak ke mana-mana. Ngerti enggak?
Lu wajib punya skill bisnis. Lu wajib
punya skill analisis. Ini wajib
dikuasain. Jadi, lu bangun skill T shape
ini. Jangan punya bangun skill yang
singular. Satu, enggak kepakai lu. Kalah
lu sama ya yang bisa ke mana-mana. Jadi,
contohnya gini gampang ya, Guys. Lu
desainer tapi bagus juga kalau lu bukan
cuma bisa grafic desain, tapi lu juga
bisa ngerti skill marketing. Jadi, lu
tahu, oh sekarang kan lagi bulan
Desember, kalau gua bikin browser,
harusnya browser gua ada lonceng-lonceng
Natal. Browur gua warnanya ada warna
hijau, ada warna merah. Jadi lu masuk
akal dikit lah. Jangan bego banget.
Banyak grafik desainer tuh tolol enggak
ngerti ini. Kesal gua. Kesal banget gua.
Ada juga ada orang bikin acara acara
corporate. Terus ketika gua ngelihat
acaranya kok kesannya jadi kayak orang
anak kampus bikin acara karena semua
desainnya main-main. Pilihan font-nya
kayak huruf komik, mangga. Desain
warnanya juga aneh. Padahal ini acara
perbankan. Bodoh. Ini karena orangnya
enggak ngerti skill marketing. Bodoh.
Hati-hati lu. Jangan kayak begitu.
Enggak kepakai lu. Terus kalau lu jadi
programmer, programmer juga wajib ngerti
bisnis. Jadi ketika lu bikin sebuah
project, lu bikin perkiran buat
development project IT lu, misalkan lu
sudah bikin analisisnya secara bisnis
ini bagus atau enggak? Kalau kita
gunakan operating system ini bisa
membebani server kita atau enggak? Cost
per kliknya jadi mahal enggak? Biaya
listriknya, biaya maintenance-nya jadi
mahal enggak? Jadi, lu jadi programmer
juga jangan asal bikin coding. Tahu-tahu
coding lu menyusahkan karena butuh
bandwid gede, butuh memori gede. Padahal
handphone penggunanya mayoritas masih
Android cap kaki 5. Busuk bareng buu.
Enggak masuk akal programmer kayak
begini. Jadi programmer wajib punya
skill bisnis. Tadi vertikal itu huruf T.
Lu harus bangun ini. Dan sama juga kalau
lu punya kalian research analisis data,
lu juga harus kombinasikan dengan T ya
yang vertikal ini. Ilmu apa? Misalkan
storyting. Jadi lu data lu ada maknanya.
Dulu kita di Gojek punya divisi namanya
DMI, Data Monetization Team. Tuh, jadi
gimana caranya data itu bisa
dimonetisasi. Oh, jadi ketika ada orang
mau buka toko burger, kita tahu di lampu
merah mana yang bagus, jalan mana yang
menjual. Tapi kalau jualan ayam geprek
beda lagi kotanya. Kalau buka cabang
beda lagi jalannya. Ini penting, Guys.
Banyak orang punya data tapi sedikit
orang yang bisa storyting. Membawa data
itu menjadi sesuatu yang bermakna.
penting, guys. Makanya penting lu punya
vertikal ini. Horizontal oke, tapi
everybody has it. Skill akuntansi,
manajemen, coding bagus. Tapi kalau lu
enggak punya vertikalnya, hati-hati lu.
Lu akan gampang digantikan sama AI. Tapi
kalau lu punya semuanya lengkap,
horizontal palang lu punya, vertikal
juga lu punya, lu bakal sulit digantikan
sama AI. Nah, yang ketiga, lu jangan
ketika lu nganggur pun lu ah lulus, lu
jangan nunggu dapat kerja tetap, Guys.
Yang ketiga, lu penting punya reputasi.
Artinya apa? Dunia kerja ini kan sangat
progresif terus berubah. Lu harus udah
dari jauh-jauh hari sebelum lulus magang
lah lu. Jangan lu ngandalin duit orang
tua lu aja, duit em bapak lu. Enggak
lihat lu. Mereka juga nanggung kakek
neneknya. Rela banget lu. Tega banget lu
jadi orang. Jadi mulai dari lu sebelum
lulus pun mulai magang, mulai freelance,
mulai cari project, mulai cari kerja
remote, bisa. Pasti bisa. Asal lu mau,
asal lu punya keyakinan, asal lu punya
niat enggak nyusahin orang tua lu. Mikir
lu, kesal gua asli sama Gensi nih
kerupuk semua nih. Dan lu harus tahu
yang lu cari itu bukan status. Ada orang
tahu-tahu enggak ada pengalaman
ngelamarnya manager, ngelamarnya
supervisor. Idih siapa lu? Tadi gua
bilang lu bedain CAGR sama COGS aja
enggak bisa. Apa-apaan lu. Tapi makanya
dari sekarang lu harus bangun pengalaman
lu. Bikin portofolio lu yang nyata.
Buktikan hasil kerja lu seperti apa. Oh,
Pak, saya punya pengalaman 2 tahun kerja
di perusahaan X. Setelah saya masuk di
perusahaan X, saya bangun dia punya
Instagram-nya, saya perbaikin
website-nya, Omz dia jadi naik 300%.
Jauh lebih bernilai itu portofolio itu
dibandingkan apa? Lu ngelamar kerja.
Iya, Pak. Saya lulusan terbaik IPK saya
4,2 di Universitas Indonesia. Oke.
Pengalaman kerja lu apa? Enggak ada. Lu
pernah magang? Enggak. Enggak kepakai lu
sampah. Banyak yang sampah-sampah kayak
begitu. Ke laut. cloud, guys. Jujur
sampai detik ini gua ketika nge-hire
orang gua itu udah gak lihat lagi
kampusnya dari mana, IPK-nya berapa,
sampah. Sampah jujur yang gua lihat apa?
Portofolio. Jelaslah. Kalau gua mau hire
web designer atau gua mau cari 3D
animator, enggak ada gunanya sertifikat
tong sampah lu, kacang goreng lu yang
namanya izaza lu ke tong sampah. Enggak
ada artinya IPK lu 47 sekalipun. Yang
gua tanya, portofolio lu mana? Lu ngaku
3D animator mana contoh animasi yang lu
buat? Kan itu yang gua tanya. Lu udah
bikin berapa film sampai detik ini? Udah
berapa detik? Lu pakai software apa? Lu
pakai blender kah? Lu pakai After Effect
kah? Mana? Gua mau lihat. Gua enggak
butuh ijazah lu. Enggak ada. Dan Genzi
lu udah siap ya. Makin ke depan orang
itu akan beli portofolio lu. Orang tidak
akan beli ijazah sampah lu. Tu enggak
enggak enggak penting. Makanya
teman-teman dari sekarang kumpulin
pengalaman, kumpulin experience. Ini gua
bicara dari sudut pandang pengusaha dan
juga sebagai investor. Ketika gua hir
orang, gua enggak lihat itu dia gua
lulusan terbaik dari ITB. Idih. Gua
lulusan IPK 3,9 dari UGM. Aduh, enggak.
Mana portofolio lu. Itu yang penting.
Karena jujur-jujur aja lu pakai logika
pengusaha lah, lu akan lebih senang
higher desainer IPK4 dari UI atau
desainer yang punya pengalaman membangun
usaha ayam geprek dari kota kecil.
Mungkin cuma di Wonosobo, tapi karena
dia ahli, bikin logo, bikin brosur,
bikin sosial media, terus kemudian
tokonya bisa laris, warung ayam
gepreknya. Ini tadi gua bilang ya, Om
Zen naik 300%. Lu akan lebih pilih ya
kalau lu ada seorang pengusaha UMKM di
bidang makanan dan minuman atau
perusahaan besar bahkan, lu lebih pilih
mana? Lulusan UI PK4 atau lulusan
Wonosobo yang berhasil naikin omzet
sampai 300% itu? Gua yakin manusia waras
akan hir sih lulusan Wonosobo itu karena
mereka dia punya pengalaman yang jauh
lebih konkret. Dan lu jangan kaget ya
kalau lihat video-video Benix ini
menurut lu keren, editingnya bagus.
Menurut lu yang bikin video kita ini
lulusan S1, S2, luah tahu dong
jawabannya apa? Enggak. Sekarang lu
nyambung kan? Ijazah lu tuh sampah.
Ijazah lu sampah. Enggak ada artinya.
Enggak ada artinya. Orang butuh skill.
Zaman sekarang orang butuh portofolio.
Jadi teman-teman bangunlah portofolio lu
sebanyak-banyaknya, sebagus-bagusnya.
Kenapa? Karena di era kalian, lu akan
bertarung melawan mesin. Harus siap.
Duh. Bangun dari sekarang portofolio
digital kalian, portofolio kalian. Bagi
itu, share itu di GitHub kek, di Linkin
kek, di Behandek, apapun itulah. Share
itu. Jadi dunia tahu kapabilitas lu.
Dunia tahu value apa yang lu bawa, bukan
ijazah lu. Ya, lu bayanginlah UI setiap
tahun meluruskan berapa? Puluhan ribu
manusia, Guys. Terus apa kelebihan lu
dibanding yang lain? Nothing. Kalau lu
enggak punya portfolio, nothing. ITB
berapa lulusnya? Ribuan tiap tahun. UGM
ribuan tiap tahun. Terus kelebihan lu
apa? Portofolio. So, lu perbanyak
portofolio lu dari sekarang karena
enggak penting. Bukan artinya di sini
gua mau bilang lu harus males-malesan
yang sudah terlanjur kuliah ya. Enggak.
Tetap lu harus fight. Itu juga
prioritas. Ya, jujur aja. Kalau ada dua
orang yang sama tapi yang satu lebih
bagus kredensialnya ya udah pastilah
yang kredensialnya bagus dan
portofolionya bagus yang kita pakai.
Tapi kalau ditanya mana yang kita pilih,
portofolio bagus atau kredensial bagus?
Tentu kita pilih orang yang
portofolionya sangat bagus. Itulah
simpel. So, itu yang ketiga. Kalau yang
keempat apa, Guys? Lu udah wajib punya
mindset global. Ingat ya, lu bukan lagi
bertarung melawan tetangga lu. No. Lu
udah bertarung melawan lintas negara,
Gen? Jadi, mindset lu bukan cuma jadi
pemain lokal, lu harus jadi pemain
global. Kenapa? Karena lu harus tahu
dunia ini butuh talenta-talenta yang
canggih, pintar, hard working, fighter,
tapi wajib juga murah. Itulah kenapa
orang Filipin bisa masuk ke New York
tanpa pakai visa kerja. No. Kenapa?
Mereka punya skill. Skill apa? Berbahasa
Inggris. dia siap bertarung di level
global. Jadi, Teman-teman udah harus nih
wajib punya ilmu komunikasi yang baik.
Belajar kalau perlu lu bahasa-bahasa
Cina, Mandarin, bahasa Jepang, bahasa
Inggris. Dari sekarang lu perlengkapi
diri lu. Enggak cukup lu ngerti bahasa
Indonesia doang. Enggak cukup. Lu wajib
bisa masuk ke pasar global. Dan untuk
meningkatkan peluang lu bekerja di pasar
global, lu harus bisa remote working.
Remote working artinya lu harus bisa
pakai bahasanya mereka. L jelaslah. Masa
lu pakai bahasa Mongol mau kerja di
Finlandia. Enggak logis lu. Jadi di sini
lu langkah konkret yang lu harus lakukan
apa? Pertama lu naikin skill lu. Skill
yang bisa dijual di tingkat global.
Skill apa? Desain, coding, data,
writing. Itu semua skill yang global.
Terus yang kedua apa? Bahasa Inggris lu
tingkatin. Menurut gua prioritas tetap
bahasa Inggris. Bahasa Inggris yang
fungsional ya. Enggak harus perfect tapi
fungsional ya. Di tingkat profesional
lah. Enggak usah perfect-perfect banget,
enggak penting juga. Karena yang penting
lu apa? Lu ngerti tadi bahasa desainnya
apa, codingnya gimana, itu yang jauh
lebih penting. Tapi kalau lu bisa bahasa
lokalnya mereka, bahasa Belandanya atau
bahasa Jermannya ya bagus. Tapi satu
yang pasti ya, Guys, di generasi gua
bisa bahasa asing satu aja cukup. Di era
kalian tidak. Di era kalian minimal lu
ngerti dua bahasa asing. Karena terakhir
gua di Belanda, gua kerja di Belanda, di
sana orang Belanda minimal lu ngerti
tiga bahasa. Bahasa Belanda, bahasa
Inggris, rata-rata bahasa Jerman. Atau
bahasa Belanda, bahasa Inggris, bahasa
Spanyol. Bahasa Belanda, bahasa Inggris,
bahasa Itali. bahasa Belanda, bahasa
Inggris, bahasa Arab. Mereka wajib
karena mereka punya mindset mau jadi
pemain global. Ketika gua tanya
teman-teman kita waktu kuliah di sana
orang Belanda, "Lu habis dari sini mau
ke mana?" "Oh, gua mau kerja di Dubai.
Lu bayangin mau kerja di Dubai. Kalau
lu, "Oh, gua mau buka usaha di mana?" Di
Afrika Selatan. Itu mindsetnya. Jadi
enggak cukup cuma bisa bahasa Inggris,
enggak, enggak kepakai di era lu. Lu
minimal punya dua bahasa asing yang lu
kuasain. Wajib, Guys. Nah, dari situ lu
sudah bisa tahu ya arahnya ke mana. Ya,
lu bisa masuk ke platform kerja global.
Contohnya bukan lagi lu ngelamar di
lolongan yang ada di portal-portal job
Indonesia, tapi lu sudah bisa bawa diri
lu untuk kerja di Upwork, fever, Top,
remote. Oke. Jadi ada begitu banyak
platform lah. Zaman dulu gua juga begitu
kok. Jangan kaget lu ya. Gua juga salah
satu orang yang aktif jualan di Viver
pada masanya ya itu sekitar 13 tahun
lalu mungkin. Tapi ya gua salah satu top
seller di situ. Nah, tapi untungnya apa
ya? Lu gara-gara lu kerja buat
perusahaan luar, lu dapat penghasilan
dalam dolar. Gaji lu gaji global
internasional. Tapi karena lu tinggal di
lokal, artinya daya beli lu jadi tinggi,
Guys. Jadi, lu punya daya saing itu
tinggi di sini. Enak, kan? Makanya,
Teman-teman dari sekarang wajib punya
mindset global. Wajib. Bukan lagi kalau
bisa, wajib lu punya mindset global,
guys. Jadi menurut kalian semua,
jujur-jujuran aja, menurut lu, semakin
terbukanya lapangan kerja bagi lansia
ini kabar baik atau kabar buruk buat
perekonomian Indonesia? Dan ini jadi
ancaman enggak buat para Genzi, Guys,
generasi capca ini? Ya, kalau menurut
gua sih bisa jadi iya nih ancaman buat
Gen nih. Apalagi GenI-Genzi yang gak mau
nambah skill-nya, enggak mau upgrade
dirinya ya. Makanya lu jangan lihat
mayoritas pengangguran di Indonesia
Geni. Nah, terus gimana nih cara supaya
pemerintah Indonesia bisa mengatasi ya
fenomena pengangguran GenI ini? Menurut
lu negara mampu enggak nih menghadirkan
solusi yang konkret bagi para Gen di
Indonesia? Ya, salah satu tadi misalkan
kalau lu mau kerja di luar negeri punya
mindset kerja jadi vendor atau bikin
program atau bikin karya buat perusahaan
asing dari Indonesia, tentu lu punya
akses internet dah dan punya bahasa yang
cukup ya. Ya untungnya negara sudah
siapin sebetulnya makanya ada program
internet cepat hemat murah dan ini
penting betul-betul penting buat jadi
fokus pemerintahan kita sebetulnya.
Kenapa? Karena Indonesia lagi dalam
masuk fase bonus demografi yang
betul-betul harus bisa kita manfaatkan
Genzi ini sebaik mungkin. Jangan sampai
mereka malah justrunya bergabung
ormas-ormas enggak jelas. Lama-lama jadi
ter enggak usah bahaya nih. Atau bikin
pasukan demo bayaran. Jangan sampai jadi
Gen ini benar-benar harus dibina nih.
Terus yang kelima apa, Guys? Kalau gitu
yang kelima ya kamu yang tahu. Tulis
dong pandangan kalian di bawah ini.
Menurut kalian apa sih yang kelima?
Solusi apa sih yang paling bagus, paling
penting yang harus diberikan supaya Gen
ini bisa produktif, bisa kerja? Jangan
sampai mereka kalah dong sama
orang-orang yang umurnya udah 70-an
tahun. Malu dong. Solusinya apa, Guys,
menurut kalian semua? Tolong dong
sharing pandangan kalian di kolom di
bawah ini, ya. Karena apa, ya? Banyak
pengambil kebijakan di negara ini jadi
followernya Benix. Siapa tahu nasihat
kalian didengar demi Indonesia yang
lebih baik lagi, Guys. Oke, Guys. Semoga
video kita bermanfaat. Jangan lupa like
and subscribe channel Benix dan share
channel kita sebanyak-banyaknya ke
teman-teman kalian, keluarga kalian.
Sampai ketemu lagi. Semoga video ini
bermanfaat. Salam sehat, salam cuan. Bye
bye.
[musik]
Resume
Read
file updated 2026-02-12 02:06:44 UTC
Categories
Manage