Transcript
jqrJZZEDHB0 • Kitab Riyadush Shalihin #2-77: Keutaman Berbaur Dengan Masyarakat
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2406_jqrJZZEDHB0.txt
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi al ihsani wasyukrulahu ala taufiqihin ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuim wa asadu anna muhammadan abduhu wa rasul ridwih allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwan. Hadirin hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Pada pertemuan lalu kita telah membahas bab istihbabil uzlah, yaitu disunahkan dianjurkan untuk menyendiri a fasadinas ketika terjadi kerusakan baik ee manusia atau zaman atau khawatir terjatuh dalam fitnah atau khawatir terjerumus dalam perkara yang syubhat atau yang haram. Setelah itu, Al Imam Nawawi rahimahullah membawakan bab yang ee sebaliknya. Kalau sebelumnya bab tentang keutamaan menyendiri ya sebaliknya bab ke-70 babu fadlil ikhtilat binas bab tentang keutamaan berbaur bercampur dengan masyarakat wuduri jumahim dan menghadiri salat-salat jumat mereka wa jamaatihim dan juga menghadiri salat-salat jemaat e di masjid wa masyahidil khair dan juga ee perkumpulan-perkumpulan kebaikan wa majelis dan juga majelis-majelis zikir bersama mereka dalam rangka untuk demikian juga dalam rangka untuk menjenguk orang yang sakit di antara mereka jaizi demikian juga menghadiri melayat jenazah baik melayat menyalatkan maupun menguburkan wawasati muhtajihim demikian juga dalam rangka membantu orang-orang yang kesulitan di antara mereka wa irsyadi jahilihim demikian juga memberi ee pengarahan kepada orang-orang yang jahil di antara mereka dan yang lainnya yang terkait dengan kemaslahatan masyarakat ini berlaku bagi orang yang mampu untuk beramar makruf dan nahi mungkar waqsiil wasrin wasar alal atau q nafsahuil wasar alal dia menundukkan jiwanya mengalahkan jiwanya agar agar tidak mengganggu orang lain dan dia bersabar atas gangguan orang lain. Ee ini judul yang panjang yaitu kalau sebelumnya disunahkan menyendiri kalau takut fitnah, takut terjerumus dalam syubhat ya masyarakat sudah rusak yang yang sebaliknya dianjurkan untuk berbuat bagi yang mampu. Yang mampu tidak mengganggu orang lain, mampu untuk bersabar dengan gangguan masyarakat dan mampu untuk beramar makruf nahi mungkar. Karena dengan berkumpulnya ee seorang dengan masyarakat berbaur, dia bisa melakukan banyak kebaikan seperti menghadiri salat Jumat bersama mereka, menghadiri salat-salat berjamaah di masjid bersama mereka, menjenguk orang sakit, melayat orang ee meninggal, membantu yang membutuhkan, memberi arahan kepada yang jahil, ya beramar makruf dan bernahi mungkar dengan syarat dia tidak ganggu orang lain dan dia bersabar dari gangguan masyarakat. Maka orang seperti ini yang mampu melakukannya maka lebih baik dia berbaur. Dan sebagaimana sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Almukmin alladzi khonas alladzi yukalitas waasbir ala adzahum khairum minal mukmin alladzi la yukhalitunas wala yasbir ala adahum." Seorang mukmin yang berbaur dengan masyarakat dan bersabar atas gangguan mereka lebih afdal daripada seorang mukmin yang tidak bergaul, tidak berbaur, dan tidak sabar atas gangguan mereka. Kemudian Imam Nawawi berkata rahimahullah taalaam analilat binasi wajakartuhu mukhtar alladzi alaihi rasulullah wasallamuliya shawatullahi wasalamu alaihim. Ketahuilah bahwasanya berbaur dengan masyarakat sebagaimana yang saya sebutkan di judul tadi yaitu dengan syarat-syarat dan ketentuan yang berlaku ya. bersabar dengan gangguan mereka, bersabar mendakwahi mereka, tidak mengganggu mereka. Maka inilah pendapat yang terpilih. Karena itulah yang dilakukan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan para seluruh para nabi, yaitu nabi berbaur. Para nabi berbaur dengan masyarakat. Wakadalikal khulafaur rasyidun. Demikian juga para khulafa arrasyidun yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. baahum minhabati tabiin. Demikian juga para sahabat dan para tabiin. Mereka berbor dengan masyarakat menegakkan amar makruf nahi mungkar. Waman baahum min ulamail muslimin akar. Demikian juga setelah mereka dari kalangan kaum muslimin dan orang-orang saleh di antara mereka. Wahua mazhabu aksari tabiin. Ini adalah mazhab pendapat mayoritas tabiin dan orang-orang setelah mereka. Wabihi q Syafi'iu wa ahmadu wa aksarul fuqaha. Dan ini pendapat oleh Imam Syafi'i, Imam Ahmad dan mayoritas fuqaha para ahli fikih radhiallahu anhu ajmain. Kemudian Imam Nawawi menyebutkan dalilnya. Beliau berkata, "Qall Allahu Taala Allah berfirman, wat taawanu alal birri wat taqwa." Hendaknya kalian saling tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Wal ayatu fna maakartuhu katiratun ma'lumah. Dan ayat-ayat yang terkait dengan apa yang aku sebutkan sangat banyak telah diketahui. Ya, di sini Imam Nawawi menyebutkan inilah yang dilakukan oleh Nabi dan seluruh para nabi, seluruh yaitu para sahabat, para tabiin. Mereka berbor dengan masyarakat. Mereka menyiarkan agama, mereka berdakwah, beramal nahu nahi mungkar. Mereka tidak menyendiri. Kalaupun menyendiri karena kejadian-kejadian tertentu ada fitnah, maka mereka menyendiri. Ya, hukum asal mereka berbor dengan masyarakat dan berdakwah beramar makruf nahi mungkar. melakukan amal-amal saleh yang itu dibutuhkan berbor dengan masyarakat. Di antaranya bagaimana kita bisa mengamalkan firman Allah watawan alal birri wat taqwa. Saling tolongmenolong kali dalam kebajikan ketakwaan kalau kita tidak berbaur. Karena di sini ada taawun. Taun berarti tolong tolongmenolong. Albir maksudnya kebajikan. Takwa maksudnya meninggalkan maksiat. Jadi butuh tolong-menolong dalam melakukan kebajikan dan juga butuh tolong-menolong dalam meninggalkan kemaksiatan. Kemudian kata Imam Nawai rahimahullah, ayat-ayat terkait dengan hal ini sangat banyak. Itu ayat-ayat yang menunjukkan tentang keutamaan amar makruf nahi mungkar. Seperti firman Allah Subhanahu wa taala, takum minkum ummatun yaduna ilhair wuruna bil marufhaunil munkar waulaika humul muflihun. Hendaknya ada di dari kalian sekelompok orang yang menyeru kepada kebaikan. Beramar makruf dan bernahi mungkar. Kalau tidak berbaur, bagaimana bisa beramar makruf dan bagaimana bisa berdahi mungkar? ini ee ya harus ada interaksi dengan masyarakat ya. Kemudian juga firman Allah Subhanahu wa taala, "Kuntum khair ummatin ukhrijat linas tamuruna bil ma'ruf watanhaunail munkar wa tumminuna billah. Kalian adalah umat terbaik yang Allah keluarkan bagi manusia. Sifat kalian adalah tamuruna bil ma'ruf." Kalian beramar makruf watanhaunail munkar. Dan kalian mencegah dari kemungkaran. Ya. Watminuna billah. Dan kalian beriman kepada Allah. Allah berfirman, "Waman ahsanu mimman daaha wail shihah." Siapakah orang yang lebih baik perkataannya daripada orang yang berdakwah yang menyeru kepada Allah subhanahu wa taala dan beramal saleh? Ini semua berkonsekuensi adanya berbaur dengan masyarakat. Jadi Imam Nawawi ingin menjelaskan inilah hukum asal bahwasanya pendapat yang terpilih dan ini manhaj para nabi, manhaj para sahabat, manhaj para tabiin, para ulama, para salihin. Mereka berbor dengan dengan masyarakat karena untuk menjalankan syariat Allah Subhanahu wa taala. Ada kondisi-kondisi tertentu seorang menjauh misalnya fitnah, khawatir ya terjebak dalam fitnah, dalam syubhat maka dia menjauh. Bagi yang mampu untuk sabar beramar makruf, maka hendaknya beramar beramar makruf. Tayib kita bagaimana? Ya, kita lihat situasi kondisi ya. Ada saatnya kita mungkin berbaur, ada saatnya kita menyendiri. Kalaupun berbaur tidak bablas ya ada aturan-aturannya, bersabar ya. Jangan terbawa. Kalau ada masyarakat ee apa namanya? Melakukan kemungkaran jangan terbawa. justru berusaha menasihati. Ya, lihatlah Nabi sallallahu alaihi wasallam sebelum jadi Nabi. Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam berbaur dengan masyarakat di tengah-tengah rusaknya masyarakat ketika itu. Karena berbor dengan masyarakat mereka tahu Muhammad adalah al-Amin, orang yang terpercaya. Sehingga mereka pun menitipkan barang-barang berharga mereka kepada Nabi. Dari mana mereka tahu Nabi amin terpercaya? Karena mereka berbaur. Karena Nabi berbaur dengan apa? Dengan mereka. Nabi berdaur mereka bersama mereka. Tetapi Nabi tidak ikut-ikutan joget sama mereka. Dangdutan. Eh, dulu enggak ada dangdutan ya, Masti joget sama mereka. Enggak ikut-ikutan perbuatan mereka yang mungkar. Mereka dulu apa? Mereka zina, mereka judi, mereka khamar, minum khamar. Tapi Nabi enggak ikut-ikut. Tapi Nabi berbaur. Demikian juga ketika Nabi Yusuf Alaih Salam sebelum Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam di penjara. Nabi Yusuf menjara, dia berbaur dengan orang penjara. berbaur. Karena berbaur maka mereka tahu dia orang saleh. Makanya Allah sebutkan dalam Al-Qur'an eh wkhala maahu fatayan q ahaduhuma inni aroni khamr waq inni aroni ahmilu faqan nabili in minalin. Ketika dia masuk penjara, ada dua orang yang datang dalam penjara. Wahai Yusuf, saya bermimpi memerah anggur." Yang satunya berkata, "Saya bermimpi memikul roti di atas kepalaku. Kemudian rotinya dimakan oleh burung. Berikanlah takwil mimpi kami." Kemudian kata mereka berdua, "Inna naroka minal muhsinin." Kami melihat engkau termasuk orang yang saleh. Dari mana mereka tahu Nabi Yusuf orang saleh? Karena Nabi Yusuf Yusuf berbaur, ya. Berbaur. Jadi ini perlu berbaur pun tidak lepas. Tetap ada aturan-aturan. Jangan bablas, jangan terbawa. Kalau kita khawatir terbawa, menjauh. Masing-masing tahu tentang dirinya. Kalau dia merasa tidak terbawa, bisa memberi maslahat, maka bersabar. Sabar dari godaan yang ada, sabar jangan mengganggu mereka dan sabar dari gangguan mereka. Maka itu yang terbaik di sisi Allah Subhanahu wa taala. Ya. Tayb. Eh kemudian bab berikutnya babu attawadui wfdil janah lil mukminin. Bab tentang tawadu yaitu rendah hati, rendah diri. Wfdil jannah dan merendahkan jannah. Janah itu asalnya adalah sayap burung. Ya, burung kalau mau turun maka dia ee menurunkan sayapnya. Apalagi kalau dia ingin mengayomi anak-anaknya, maka dia menurunkan apa sayapnya. itu isyarat dari merendah di hadapan kaum mukminin. Ini di antara pembahasan penting bagi kita semua. Di antara amal saleh yang sangat mulia adalah at-tawadu. Adalah atwadu. Ee oleh karenanya ya ketika Allah subhanahu wa taala menyebutkan tentang ciri-ciri ee ciri-ciri ibadurrahman dalam surah Al-Furqan, maka di antara ciri yang pertama Allah sebutkan kata Allah Subhanahu wa taala, "Wa ibadurah yamsyuna alal ardhi hauna." Dan hamba-hamba Arrahman yaitu para penghuni surga yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa taala. Alladzina yamsyuna alal ardhi hauna. Yang berjalan di atas muka bumi dengan hauna itu mutawadiin. Dengan kondisi tawadu. Dengan kondisi tawadu. Cara berjalannya penuh tawadu. Cara berbicaranya penuh tawadu. Ee gestur tubuhnya tidak menunjukkan keangkuhan. Cara omongannya tidak menunjukkan keangkuhan. Karena keangkuhan memang asalnya dalam hati. tapi terekspresikan dengan kata-kata maupun gestur gestur tubuh. Makanya Allah melarang itu semua ya dari jangan sampai kita melakukan gerakan-gerakan yang menunjukkan kesombongan. Seperti kata Allah Subhanahu wa taala, wala tusir khoddaka linas. Jangan kau palingkan wajahmu dari manusia ketika berbicara. Bicara lihat. Jangan bicara sambil tidak memandang. Wala tamsi fil ardhi maraha. Ya. Dan jangan berjalan dengan apa? Dengan sombong. Ya. E kemudian inna ankaral aswatiul hamir. Ya, jangan juga teriak keras-keras angkat suara seperti orang angkuh ya. Sesungguhnya suara paling buruk suaranya apa? Keledai. Ya. Jadi ee di antara ciri orang bertakwa adalah tawadu Tib sini. Kemudian seperti kebiasaan Imam Nawawi rahimahullah ketika membawakan pembahasan tentang suatu bab, dia bawa beliau rahimahullah membawa ayat-ayat terlebih dahulu baru kemudian hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Di antara ayat-ayat yang menunjukkan tentang tawadu, qallahu taala, Allah berfirman, "Wakfit janahaka limanitabaaka minal mukminin." Ya, rendahkanlah dirimu wahai Rasulullah kepada orang mengikutimu dari kalangan kaum mukminin. Ya Rasulullah disuruh untuk ee merendah ya terhadap orang-orang yang yang beriman. Kalau perintah kepada Nabi, maka kita lebih utama juga untuk mengikuti Nabi sallallahu alaihi wasallam. Maka selama dia mukmin, saya mukmin, ngapain kita sombong di hadapan di hadapan dia? Toh kita tidak tahu mana yang imannya lebih tinggi antara kita dengan dia. Bukankah parameter kemuliaan di sisi Allah adalah yang paling beriman, yang paling bertakwa? Kata Allah Subhanahu wa taala, "Inna akramakumallahi atqakum." Yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa. Nah, kita kalau urusan dunia mungkin kita lebih baik daripada dia. Mobil kita lebih bagus daripada mobil dia. Ya, rumah kita lebih bagus dari rumah dia. Usaha kita lebih bagus daripada usaha dia. Follower kita lebih banyak dari follower dia. Yang ngaji di kita lebih banyak daripada ngaji di dia. Itu kan parameter duniawi. Kita enggak tahu. Tapi dari mana kita tahu kita lebih baik daripada dia? Dari mana? Enggak ada yang tahu. Kalau kita enggak tahu kita lebih baik daripada dia, terus ngapain kita kemudian merasa tinggi, tidak tawadu kepada ee kepada dia ya. Dan sesama mukmin hanya saling saling mencintai, tidak saling angkuh satu dengan ee dengan yang lainnya. Saya sering disampaikan Uwais al-Qarani. Uwais al-Qarani kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Khairut tabiin." Sebaik-baik tabiin itu lebih baik daripada tabiin-tabiin terkenal. Ada tabiin yang terkenal banyak. Hasan Al Basri ee Said ibn Musayyib terkenal ya. Tabiin-tabiin yang terkenal dengan ilmu mereka, dengan tafsir mereka ya. Ya, banyak ya. Ee Wis Al-Qarani tidak terkenal karena dia tidak menyebarkan ilmu misalnya ya. Tapi ternyata k Nabi sallallahu alaihi wasallam khairut tabiin, sebaik-baik tabiin ya. Dia tidak kenal. Bahkan di kampungnya dia dituduh macam-macam ya. Ternyata dia punya amalan-amalan hebat yang orang lain tidak tidak tahu ya. Amalan-amalan hebat. Sehingga Rasulullah mengatakan khairut tabiin. Sebaik-baik tabiin. Ya. Maka kita enggak tahu depan kita ini lebih baik daripada kita atau kita lebih baik pada dia. Kita aja kalau merasa lebih baik kita enggak boleh sombong apalagi kita enggak tahu mana yang lebih baik saya atau dia. Saya sering sampaikan kita sekarang punya pembantu. Pembantu ya secara ekonomi ya dia anak buah kita ya. Tapi secara iman belum tentu. Mungkin dia salatnya pas-pasan. Mungkin kita ngaji banyak kita salat tahajud mungkin dia tidak karena kecapekan kerja. mungkin. Tapi kalau dia dapat gaji 100% dia kirim ke ibunya. 100% dia kirim ke ibunya. Sebagian bantu apa? Tulang punggung rumah tangga, keluarganya. Ya. Terus kita bilang kita lebih baik pada dia, dia bertahun-tahun seperti itu. Kita bilang kita lebih baik dar dia tentunya enggak. Belum tentu. Oleh karenanya seorang sesama mukmin ya kita enggak usah ee sombong ya. Kita enggak usah sombong ya. Maka Rasulullah berkata, Allah berfirman, "Wit jana mukminin, rendahkanlah sayapmu bagi orang yang mengikuti engkau wahai Muhammad dari kalangan kaum mukminin." Ayat berikutnya Allah berfirman, "Ya ayuhina amanuumfatillahu biumin yuhibbuhum yuhibbunillin alal mukminin aizzatin alal kafirin." Kata kata Allah Subhanahu wa taala, "Wahai orang yang beriman, siapa yang murtad di antara kalian dari agamanya itu keluar dari Islam, silakan murtad. Akan tetapi, fasaufa yatillahu biumin yuhibbuhum yuhibbuna." Allah akan gantingkan dengan kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah. Sifat kaum tersebut yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah, adillatin alal mukminin itu rendah di hadapan orang beriman. Tidak angkut, tidak kasar. alal kafirin. Sebaliknya izah itu punya harga diri di hadapan orang-orang kafir. Seorang mukmin jangan angku, jangan sombong, merendah sama orang kafir apa? Kita tunjukkan harga harga diri harga diri kita. Bukan sebaliknya sama orang mukmin angkuh merendahkan sama orang ee kafir kemudian apa? Ee mengkerut sebaliknya. Ee makanya ee Rasulullah berkata, "La tabdaul yahuda wasara balam." Jangan mulai salam kepada Nasrani. Jangan. Kalau mereka salam, kita jawab. Kalau enggak, enggak. Ya, untuk kita apa namanya ya? Kita tak berakhlak tapi bukan merendah. Berakhlak tapi bukan apa? Merendah. Para ulama mengatakan kalau misalnya dalam satu rapat kita punya kemampuan jangan biarkan orang kafir bicara terus. Kita juga bicara, tunjukkan kita punya kemampuan. Bukan malah datang kemudian merendah, dikasih duit, mijit-mijit kakinya ya, kemudian merendah, menghinakan diri. Enggak ya, enggak. Kita tawadu sama orang beriman, sama orang kafir, kita tunjukkan ya bahwasanya kita mulia ya. Tentu tentu dengan tetap berakhlak. Tetap dengan berakhlak. Karena di sini Allah mengatakan sifat orang yang Allah cintai mereka dan mereka cintai Allah adillatin alal mukminin. Yaitu rendah hati di antara kaumin. Aizzah yaitu izah memiliki izzat nafs yaitu harga diri di hadapan orang-orang kafir. Waqala taala. Kita dapati sebagian kaum sama orang kafir sangat merendah sama orang Islam sangat kasar. Sangat kasar, sangat menghina, mentang-mentang sok. Coba direnungkan ayat ini. Coba renungkan ayat ayat ini. Tib firman Allah seb selanjutnya, yaasu inqakum minakar waalnakum waq inna akakum. Wahai manusia sekalian, sesungguhnya kami menciptakan kalian dari lelaki dan wanita. Maksudnya dari Adam dan Hawa. Kita semua berasal dari Adam dan Hawa. Wajaalnakum suuba. Kemudian dari itu kami jadikan kalian berbangsa-bangsa. Waqoba yaitu bersuku-suku. Litaarofu qabail di bawah Syab. Seperti adalah ee apa namanya? Rabiah dan Mudhar ya. Ini Sya'ab ya. Di bawah Mudar nanti ada misalnya Quraisy ya. Jadi suku-suku kabilah di atasnya Syab. Di bawah kabilah masih ada butun. Ada kabilah-kabilah kecil, suku-suku kecil. Maksudnya Allah mengatakan, "Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa, bersuku-suku." Tujuannya apa? Litaofu untuk saling mengenal. Ya, bukan untuk bangga-banggaan nasab, bukan untuk merendahkan yang lain. Ya, bukan untuk merendahkan yang lain. Inna akramakumallahi atqokum. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Ini parameter Allah Subhanahu wa taala. Ini hal yang gaib. Secara umum kita enggak tahu oleh lama yang lebih bertakwa antara kita dengan dia secara umum kita enggak tahu. Kalaupun kita tahu misalnya itu pun tidak boleh sombong apalagi kita tidak tidak tahu. Ya sudah sampaikan tadi bahwasanya bisa jadi orang depan kita kita rendahkan ternyata dia sangat ee mulia ya di sisi Allah Subhanahu wa taala. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Rub as akbar bil abwab aksama." Bisa betapa banyak orang yang madfu bil abwab kalau dia ketuk pintu tidak diterima. Maksudnya orang malas menjamu dia. Ini siapa sih? Asad Akbar. Rambutnya semeraut, kakinya penuh dengan orang miskin ketuk pintu minta dijamu. Orang tidak menjamunya enggak kenal siapa. Tetapi kata Nabi, laallah alar kalau dia bersumpat senama Allah, Allah akan kabulkan sumpahnya. Meski dia misalnya dia mengatakan, "Demi Allah kau akan berhasil," maka akan berhasil. Misalnya artinya dia memiliki kedudukan di sisi Allah padahal dia madfuun bil abwab. Ditolak orang tidak mau menjamunya ya tidak mau menjamunya. Makanya juga dalam hadis Rasul sahu alaihi wasallam mengatakan yang pertama kali melewati sirat siapa? Fuqaraul muhajirin, orang-orang fakir di kalangan Muhajirin ya. Rambut mereka penuh dengan debu, badan mereka dunusuan, baju mereka kotor ya karena mereka mungkin tinggal di suffah enggak ada ganti baju jadi sering kena tanah. Adunusaban pakaian mereka kotor kata Nabi. K enggak bisa ganti. Bukan bukannya mereka enggak mau ganti tapi enggak bisa ganti ya. As e ruusan rambut mereka penuh dengan debu, enggak sama raut, enggak disisir. Kemudian kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, laqihun mutanaimat. Mereka gak bisa menikah dengan wanita-wanita yang yang apa namanya? Mutanaim atau wanita-wanita yang maksudnya kaya. Kemudian apa namanya? Apa bahasa kita? Halus. Halus maksudnya cantik. Kalau ngelamar sama wanita-wanita kaya ditolak gimana modelnya kayak gini. Tetapi ternyata mereka yang lebih dahuluan lewat sirat. Ya. Jadi kata Nabi, mereka pakainya kotor, rambutnya semerawut. Ya. Kalau apa namanya berkhitbah ditolak ya bertamu mungkin tidak ada yang ee reken, tidak ada yang perhatian. Tapi ternyata mereka yang pertama kali lewat sirat. Ini semua menunjukkan bahwasanya tidak perlu kita memandang kita lebih hebat daripada orangorang lain. Nah, kalau kita tidak memandang orang kita lebih hebat daripada orang lain, ngapain kita ngapain kita sombong dan angkuh? Sombong dan angkuh. Makanya hadis ini juga e ayat ini juga menunjukkan bahwasanya dalam Islam ee tidak ada namanya rasisme. Enggak ada ya enggak ada rasisme. Ee apa namanya? Kata Nabi, "Laad fad lil arabi al ajami wal ajami al arabi walal abyad alal aswad al aswad al aby abyad illa bqwa." Tidak ada keutamaan orang Arab di atas non Arab. Gak ada. Dan tidak ada keutamaan orang berkulit putih di atas orang berkulit hitam atau sebaliknya. Illa bqwa. Kecuali dengan takwa. Islam tidak mengenal rasisme. Sejak awal orang-orang yang dimuliakan oleh Nabi di antaranya Bilal bin Rabah berkulit hitam. Tapi Rasulullah mendengar suara terompahnya di surga. Ada Salman al-Farisi Persia bukan Arab ya yang juga dimuliakan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. Jadi yang Allah nilai adalah ee takwa tayib. Makanya Al-Ghazali mengatakan dalam kitabnya Ihlil Ummuddin, di antara ujub adalah ujub dengan nasab. ujuban apa? Nasab. Kemudian dia contohkan di antara ujub yang dengan nasab adalah orang-orang dari yang mengatakan mereka keturunan Bani Hasyim. Kemudian mereka bangga dengan nasab nasab mereka, ujub dengan nasab mereka. Ya. Padahal kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Man bata bihi amaluhu lam yusri bihi nasabuh." Siapa yang amalnya lambat, maka dia tidak akan dipercepat oleh nasabnya. Yang paling utama adalah amal saleh. Setelah itu baru kita lihat nasab dan yang lainnya. Tib. Ayat berikutnya. Aliman membawakan ayat berikutnya. Waqala taala Allah berfirman, "Fala tuzak anfusakum hua bimanittaqo." Janganlah kalian merekomendasi diri kalian. Dia lebih tahu mana yang bertakwa. Jangan bilang, "Saya ini begini. Saya ini orang saleh, saya ini orang beriman, saya ini orang bertakwa. Saya ini ikhlas." Enggak usah bilang-bilang gitu. Allah lebih tahu dengan yang bertakwa. tidak perlu kau rekomendasikan diri dirimu. Ya gak perlu ee saya ini ikhlas, saya ini bertakwa, saya ini saleh, saya ini rajin bersedekah, ee saya lebih baik daripada dia, saya ee ini enggak usap ada kelihatan seorang memuji-muji dirinya itu berarti dia merekomendasi dirinya, dia mentazkiah dirinya. Allah larang. Kata Allah, "Tidak perlu kau merekomendasikan dirimu, mentazkiah dirimu." Hu aamu bimanqo. Dia lebih tahu, Allah lebih tahu subhanahu wa taala mana yang lebih bertakwa. Mana yang bertakwa bab berikutnya firman Allah Subhanahu wa taala, "Wanada ashabul a'ofi rijalan yaifunahum bisimahum." Maka ashabul A'raf menyeru orang-orang yang mereka kenal. bisimahum dengan ciri mereka yaitu para penghuni neraka. Al-A'raf adalah tempat yang tinggi. Ada sebagian orang ditahan di tempat tinggi tersebut yang diken dikenal dikenal dengan Ashabul A'raf. Siapakah mereka ini ashabul A'raf? Ashabul A'raf adalah man tasawat hasanatuhum sayiatihim. Yaitu orang-orang yang amal salehnya sama dengan amal maksiatnya. Sama ketika ditimbang ternyata sama. Mereka ini tidak dimasukkan di surga dan juga tidak dimasukkan di neraka. Maka ditahan suatu tempat yang tinggi namanya Al-A'raf. Dan tempat tinggi tersebut terletak di antara surga dan neraka. Bagaimana ya? Seperti apa? Wallahualam kita enggak tahu. Tapi tempat yang tinggi terletak atas surga dan neraka. Maka Ashabul A'raf ini orang yang kebaikannya dengan keburukannya sama. Mereka ditahan. Mereka melihat penghuni surga, mereka melihat penghuni neraka. Dan Allah abadikan dalam Al-Qur'an bagaimana nanti mereka akan berbicara dengan penghuni surga. Mereka bicara, mereka menyeru dan mereka juga menyeru penghuni neraka. Di ujungnya nanti mereka mau surga. Tetapi di antara keadilan Allah, Allah tidak langsungkan masuk, tidak langsung masukkan mereka surga karena kebaikan mereka sama dengan keburukan. Jadi tahan dulu penghuni surga yang kebaikannya lebih berat, masuk surga dulu. Mereka ditahan dulu. Mereka tidak berhak masuk surga dan juga tidak berhak masuk apa? Neraka. Setelah itu baru mereka dimasukkan ke surga. Di antaranya mereka menyeru kepada penghuni neraka. Allah berfirman, "Wada ashabul rijalan yaifunahum bisimahum." Maka ashabul a'raf, orang-orang di atas tempat tinggi tersebut menyeru kepada sebagian lelaki yang mereka kenal dengan ciri-ciri mereka yaitu penghuni neraka. Qanaum jamukum wtum tastakbirun. Mereka berkata, "Apakah yang kalian kumpulkan selama ini yang kalian sombong-sombongkan bermanfaat bagi kalian di akhirat?" Tentu tidak. Selama ini orang kafir tersebut ngumpulin harta, ngumpulin kedudukan, menguasai ini, menguasai anu, mereka bangga-banggakan. Apakah bermanfaat bagi kalian? Haulaadina aqsamtum la yanaluhumullahu birahmah. Udulul jann la khaufun alikum w antum tahzanun. Sementara orang-orang yang dulu kalian bersumpah terhadap orang-orang miskin, orang beriman, kalian model kalian begini tidak akan mendapatkan rahmat Allah. Ternyata mereka ini justru masuk surga. Yang kalian hinakan, yang kalian rendahkan, ternyata mereka masuk surga. Bahkan kalian bersumpah, "Ah, orang kalian seperti kalian demi Allah tidak akan mendapatkan rahmat." Yang kalian dulu kalian terlalu PD sehingga kalian bersumpah kepada kaum mukminin yang miskin, kalian tidak mendapatkan rahmat. Ternyata dikatakan kepada orang-orang miskin kaumin tersebut, udkulul jannata. Masuklah kalian ke dalam surga. Tidak ada khawatir atas kalian dan tidak ada kesediaan atas kalian. Ini dalil bahwasanya di neraka banyak orang-orang kaya yang sombong angkuh dan di di surga banyak orang apa? Miskin. Orang miskin biasanya dihina. Inilah kenapa dibahas tentang tawadu. Karena yang membuat orang lupa dengan tawadu adalah kelebihan yang dia miliki. Bisa jadi seorang sombong atau angkut tidak tawadu karena harta. Harta banyak melihat orang miskin merendahkan karena jabatan. Jabatan tinggi lihat orang di bawah tidak di indahkan, dispele ya. Mungkin karena ilmunya tinggi meremehkan yang yang lain. Ya, karena backingannya tinggi bukan dia yang tinggi tapi backingannya tinggi maka dia merendahkan orang orang lain. Banyak sebab. Di antaranya di sini disebutkan mereka dulu kaya sehingga mereka sombong. Mereka merendahkan sebagian kaumin, ternyata komunin tersebut justru masuk surga. Makanya itu menunjukkan kita harus tawadu. Gak usah kita sombong karena kita enggak tahu orang depan kita ini surga atau neraka. Lebih baik dari kita atau tidak kita enggak tahu. Yang tahu hanyalah Allah Subhanahu wa taala. Tayib. Demikian ayat-ayat yang disebutkan oleh Imam Nawawi rahimahullahu taala yang semua memberi isyarat agar seorang tawadu jangan sombong, jangan angku, jangan ujub dengan amal, jangan merekomendasikan dirinya, jangan merendahkan orang lain. Ya. Namun ingat, bukan berarti kita tidak boleh merendahkan orang lain, bukan berarti tidak boleh nasihat. Nasihat tetap jalan terus. K nasihat orang salah, kita tegur. Bukan berarti kita merasa lebih baik. Tapi ini kewajiban menegur orang yang kita anggap salah ya. Karena sekarang sebagian orang ketika menegur takut dibilang sombong. Akhirnya tidak menegur. Akhirnya orang yang salah bebas melakukan karena kalau dia ditegur dia playing victim. Ya, sombong, angkuh. Ya, kita diam aja. Padahal dia salah gak boleh. Jadi menegur tidak melazimkan apa? Kesom kesombongan. Ya, bisa jadi kita lebih rendah daripada orang tersebut tapi kita punya tugas menegur, menyampaikan kalau kamu salah ya kita diskusi menyampaikan menasihati. Ya, karena sebagian orang membuat kesan bahwasanya orang yang menegur dibilang apa? Som sombong. sehingga yang menegur enggak berani karena takut ditempel apa? Sombong ya. Angkul disembel ujub ditempel ini gak. Nasihat tetap berjalan ya. Bahkan kita boleh menasihati orang lebih mulia daripada kita. Boleh seorang murid menasihati ustaznya boleh atau tidak boleh. Enggak ada masalah. Bab kemudian Imam Nawawi rahimahullah membawakan hadis-hadis ya. Di antaranya hadis yang pertama. Wa anan Iyad bin Himar radhiallahu anhu qala q Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Sahabat namanya Iyad bin Himar. Himar artinya apa? Keledai. Ya. Dan dulu orang-orang Arab sering menamakan nama-nama dengan nama-nama hewan. Ada namanya himar, ada namanya kalb, ada namanya fahad, ada namanya namir. Namir artinya apa? Macan. Fahad macan. Ee apalagi? Hamzah atau apa namanya? Ee Haidarah singa ya. Kalp. Guguk anjing himar keledai. E disebutkan bahwasanya mereka menamakan dengan nama hewan tersebut untuk mengambil dari ee sifat-sifat baik hewan tersebut. Seperti singa menunjukkan pemberani fahat macan menunjukkan apa? Pemberani. Ee himar menunjukkan ulet sabar. Karena himar itu disuruh-suruh sabar. Pikul ini, pikulu, sabar ya. tidak cepat ngomel himar. Jadi namain himar biar kuat. Disebut anjing kalb khilab karena amanah. Karena apa? Amanah dan setia kepada tuannya. Ya. Jadi mereka kadang-kadang menamakan ee saklab serigala ya. Pokoknya ada nama-nama hewan ya. Kalau kita di tanah air enggak ada kan? Ada. Enggak. Enggak ada nama hewan, enggak ada nama tanaman. Enggak ada. [Musik] An Iad bin Himar radhiallahu anhu q Rasulullah sallallahu alaihi wasallam innallaha ilaiya anw sungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar menyampaikan kepada kalian antaw hendaknya kalian tawadu hatta lahadun ala ahad agar seorang tidak merasa sombong di atas yang lainnya w y ahadun ala ahad dan agar seorang tidak menzalimi yang lainnya hadis riwayat muslim ya hadis ini ee menjelaskan tentang pentingnya tawadu sampai Nabi sallallahu alaihi wasallam menyebutkan ada wahyu khusus dari Allah disampaikan kepada Nabi untuk menyampaikan kepada para sahabat an tawadu agar kalian tawadu. Kenapa? Karena potensi untuk sombong, untuk merasa tinggi itu banyak. Saya bilang tadi sombong itu bisa dengan harta, dengan jabatan, dengan nasab, dengan kolega ya sombong. Oh, saya ini siapa? Tetangga saya jenderal baru tetangga aja sudah sombong ya orang ya. Saya keturunan darah biru dulu mbah saya raja. Kerajaannya masih ada, sudah tidak ada. Terus siapa yang mau disombongkan? Jadi orang potensi sombong tuh ada. Kalau sudah ada kesombongan akan berlanjut pada saling merendahkan. Yafar ahadun ala ahad. Merendahkan yang sudah merendahkan berarti permusuhan. Siapa sih manusia suka direndahkan? Enggak ada yang suka direndahkan. Kalau direndahkan ya pasti jengkel. Kalau dia jengkel berarti terjadi permusuhan di antara kaum kaum muslimin. Maka supaya tidak saling bermusuhan, tidak saling jangan saling merendahkan. Kalau supaya tidak saling merendahkan hendaknya saling tawadu. Ini dampak yang buruk pertama kata Nabi sallallahu alaihi wasallam bisa saling merendahkan. Yang kedua dampak buruk yang kedua bisa saling zalim. Kalau seorang merasa tinggi dia akan zalimi yang lain. Dia menjatuhkan, dia berbuat semena-mena. Mentang-mentang dia pejabat, dia sembarang, dia ini dia. Maka siapapun diberi kelebihan hendaknya tawadu. Hendaknya apa? Tawadu. Sampai orang yang memiliki ilmu menghina yang tidak punya ilmu merendahkan, menjatuhkan. Ya. Jadi potensi sombong itu banyak. Maka di sini Rasulull Sallahu Alaihi Wasallam diwahyukan oleh Allah. Allah mewahyu secara khusus agar menyuruh para sahabat untuk tawadu. An tawadu tujuannya apa? Agar seorang tidak sombong di atas yang lainnya. W ahadun ala ahad. Dan agar seorang tidak berbuat zalim kepada yang lainnya. Tib. Saya bacakan perkataan ee ee Syekh Muhammad bin Sa Utsimin rahimahullah tentang makna tawadu. Attawadu diddut taali. Tawadu itu lawan dari merasa tinggi. Lawan dari merasa tinggi. Yakni alla yatarafaal insanu wala yatarafa ala giri. Jangan dia merasa tinggi dan jangan dia merasa lebih tinggi dari orang lain. Dia sendiri jangan merasa tinggi dan dia jangan merasa tinggi daripada orang-orang lain. Biilmin karena ilmu dia merasa tinggi. Wala nasabin atau dia merasa tinggi karena nasabnya. Wala malin merasa tinggi karena hartanya. Wala jahin karena kedudukannya. Wala imaratin karena kekuasaannya walaaratin karena dia menteri misalnya. Wala giri dalalik. Dan apapun ini semua yang disebut oleh Syekh Utsim potensi-potensi buat orang tidak tawadu. Balil wajib alal mari an yakah lil mukminin. Yang wajib bagi seorang adalah dia merendahkan dirinya di hadapan kaum mukminin.Allah rasulullah sallallahu alaihi wasallamin. Hendaknya seorang tawadu di hadapan kein yang lain sebagaimana orang termulia yaitu Rasul sahu al wasallam yang paling tinggi dudukannya di sisi Allah. tawadu terhadap yang lainnya. Ya, ini ee apa namanya? Definisi tawadu yang disebut oleh Syekh Utsimin rahimahullahu taala. Maka kita waspada. Kapan kita merasa tinggi? Ah, kita sedang tidak tawadu. Kapan kita merasa mentang-mentang? Oh, kok saya merasa tinggi, merasa hebat. Ah, ini berarti kita sedang tidak tawadu. Maka waspada. Maka waspada. TIB. Ee hadis berikutnya wa an Abi Hurair radhiallahu anhu anna rasul sahu alaih wasallam q rasul sahu alaihi wasallam bersabda ma naqat shodqatun min sedekah tidak mengurangi harta wadallahu abdan bin illa izzan tidaklah seorang memaafkan kecuali Allah tambah kemuliaannya taw Tidaklah seorang tawadu karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya. Hadis riwayat Muslim. Ini tiga hal. Dalam sebagian riwayat Rasulullah bersumpah dengan tiga hal tersebut. Bahwasanya kenapa Rasulullah bersumpah menekan dengan tiga hal ini? Karena tiga hal ini menyelisihi zahir. Zahirnya orang kalau bersedekah duitnya kurang. Zahirnya kalau orang mengalah dibilang wah lemah. Zahirnya orang yang tawadu dibilang apa? Rendah. Tetapi Rasulullah mengingatkan bahwasanya yang terjadi sebaliknya. Yang terjadi adalah sebaliknya. Maka Rasulullah bersumpah. Kemudian Rasulullah berkata maqat shodqatun mim mal. Sedekah tidak akan mengurangi harta. Bahwasanya orang bersedekah Allah akan ganti di dunia sebelum di akhirat. Ya Allah akan ganti sebelum di akhirat. Allah ganti di dunia. Bahkan jauh lebih banyak sebelum di akhirat. akhirat lebih banyak lagi. Kemudian yang kedua ee Rasulullah berkata, "Tidaklah seorang memaafkan kecuali akan semakin mulia." Yang penting dia maafkan karena Allah, bukan maafkan karena ri ya. Bilang-bilang ke orang, "Oh, saya kalau saya saya maafkan." "Oh, saya maafkan." Ini riya ya. Gak. Dia maafkan karena Allah karena dia mencari karunia Allah. Dia mencari pengampunan dari Allah. Siapa yang maafkan dimaafkan oleh Allah Subhanahu wa taala. Karena sebagian orang terkadang maafkan tapi dia ternyata ri. Kalau dia memaafkan untuk diampuni oleh Allah, maka Allah akan derajatnya meskipun ee orang mengatakan, "Ah, kalah dia." Meskipun dinilai kalah oleh orang. Ya. Yang terakhir yang disebut oleh Nabi, siapa yang tawadu ee pada karena Allah subhanahu wa taala, maka Allah akan angkat derajatnya. Di sini tawadu lillah. Dia tawadu karena Allah, bukan pencitraan. Ya, karena sebagian orang tawadu ya, merendah tetapi ingin di dipuji. Tawadu lillah ada dua makna. Sudah azan belum? Ee tawadu lillah ada dua makna. Makna pertama dia tunduk kepada Allah. Yang kedua tunduk karena Allah. Tunduk kepada Allah, tunduk kepada hukum-hukum Allah. Dia tidak sombong di atas hukum Allah. Kalau ada perintah Allah, perintah Nabi, maka dia jalankan. Dia tawadu. Ini perintah Allah, ini keputusan Nabi, maka dia tidak akan mentang-mentang. Yang kedua, dia tawadu, merendah diri karena Allah. Ikhlas bukan untuk pencitraan, bukan untuk diagung-agungkan. Siapa yang demikian, maka akan diangkat derajatnya oleh Allah Subhanahu wa taala. Demikian saja, demikian. Wabillahi taufik hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.