Transcript
jqrJZZEDHB0 • Kitab Riyadush Shalihin #2-77: Keutaman Berbaur Dengan Masyarakat
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2406_jqrJZZEDHB0.txt
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi al ihsani wasyukrulahu
ala taufiqihin ashadu alla ilahaillallah
wahdahu la
syarikalahuim wa asadu anna muhammadan
abduhu wa rasul ridwih allahumma sholli
alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa
ikhwan. Hadirin hadirat yang dirahmati
Allah subhanahu wa taala. Pada pertemuan
lalu kita telah membahas bab istihbabil
uzlah, yaitu disunahkan dianjurkan untuk
menyendiri a fasadinas ketika terjadi
kerusakan baik ee manusia atau zaman
atau khawatir terjatuh dalam fitnah atau
khawatir terjerumus dalam perkara yang
syubhat atau yang haram. Setelah itu, Al
Imam Nawawi rahimahullah membawakan bab
yang ee sebaliknya. Kalau sebelumnya bab
tentang keutamaan menyendiri ya
sebaliknya bab ke-70 babu fadlil
ikhtilat
binas bab tentang keutamaan berbaur
bercampur dengan masyarakat wuduri
jumahim dan menghadiri salat-salat jumat
mereka wa jamaatihim dan juga menghadiri
salat-salat jemaat e di masjid wa
masyahidil khair dan juga ee
perkumpulan-perkumpulan kebaikan wa
majelis
dan juga majelis-majelis zikir bersama
mereka dalam rangka untuk demikian juga
dalam rangka untuk menjenguk orang yang
sakit di antara
mereka jaizi demikian juga menghadiri
melayat jenazah baik melayat menyalatkan
maupun menguburkan wawasati muhtajihim
demikian juga dalam rangka membantu
orang-orang yang kesulitan di antara
mereka wa irsyadi jahilihim demikian
juga memberi ee pengarahan kepada
orang-orang yang jahil di antara
mereka dan yang lainnya yang terkait
dengan kemaslahatan masyarakat ini
berlaku bagi orang yang mampu untuk
beramar makruf dan nahi mungkar
waqsiil wasrin wasar alal atau q
nafsahuil wasar alal dia menundukkan
jiwanya mengalahkan jiwanya agar agar
tidak mengganggu orang lain dan dia
bersabar atas gangguan orang
lain. Ee ini judul yang panjang yaitu
kalau sebelumnya disunahkan menyendiri
kalau takut fitnah, takut terjerumus
dalam syubhat ya masyarakat sudah rusak
yang yang sebaliknya dianjurkan untuk
berbuat bagi yang mampu. Yang mampu
tidak mengganggu orang lain, mampu untuk
bersabar dengan gangguan masyarakat dan
mampu untuk beramar makruf nahi mungkar.
Karena dengan berkumpulnya ee seorang
dengan masyarakat berbaur, dia bisa
melakukan banyak kebaikan seperti
menghadiri salat Jumat bersama mereka,
menghadiri salat-salat berjamaah di
masjid bersama mereka, menjenguk orang
sakit, melayat orang ee meninggal,
membantu yang membutuhkan, memberi
arahan kepada yang jahil, ya beramar
makruf dan bernahi mungkar dengan syarat
dia tidak ganggu orang lain dan dia
bersabar dari gangguan masyarakat. Maka
orang seperti ini yang mampu
melakukannya maka lebih baik dia
berbaur. Dan sebagaimana sabda Nabi
sallallahu alaihi wasallam, "Almukmin
alladzi khonas alladzi yukalitas waasbir
ala adzahum khairum minal mukmin alladzi
la yukhalitunas wala yasbir ala adahum."
Seorang mukmin yang berbaur dengan
masyarakat dan bersabar atas gangguan
mereka lebih afdal daripada seorang
mukmin yang tidak bergaul, tidak
berbaur, dan tidak sabar atas gangguan
mereka.
Kemudian Imam Nawawi berkata
rahimahullah
taalaam analilat binasi wajakartuhu
mukhtar alladzi alaihi rasulullah
wasallamuliya shawatullahi wasalamu
alaihim. Ketahuilah bahwasanya berbaur
dengan masyarakat sebagaimana yang saya
sebutkan di judul tadi yaitu dengan
syarat-syarat dan ketentuan yang berlaku
ya. bersabar dengan gangguan mereka,
bersabar mendakwahi mereka, tidak
mengganggu mereka. Maka inilah pendapat
yang terpilih. Karena itulah yang
dilakukan oleh Rasulullah sallallahu
alaihi wasallam dan para seluruh para
nabi, yaitu nabi berbaur. Para nabi
berbaur dengan masyarakat. Wakadalikal
khulafaur rasyidun. Demikian juga para
khulafa arrasyidun yaitu Abu Bakar,
Umar, Utsman dan Ali.
baahum minhabati tabiin. Demikian juga
para sahabat dan para
tabiin. Mereka berbor dengan masyarakat
menegakkan amar makruf nahi mungkar.
Waman baahum min ulamail muslimin akar.
Demikian juga setelah mereka dari
kalangan kaum muslimin dan orang-orang
saleh di antara mereka. Wahua mazhabu
aksari tabiin. Ini adalah mazhab
pendapat mayoritas tabiin dan
orang-orang setelah mereka. Wabihi q
Syafi'iu wa ahmadu wa aksarul fuqaha.
Dan ini pendapat oleh Imam Syafi'i, Imam
Ahmad dan mayoritas fuqaha para ahli
fikih radhiallahu anhu ajmain. Kemudian
Imam Nawawi menyebutkan dalilnya. Beliau
berkata, "Qall Allahu Taala Allah
berfirman, wat taawanu alal birri wat
taqwa." Hendaknya kalian saling
tolong-menolong dalam kebajikan dan
ketakwaan. Wal ayatu fna maakartuhu
katiratun ma'lumah. Dan ayat-ayat yang
terkait dengan apa yang aku sebutkan
sangat banyak telah diketahui. Ya, di
sini Imam Nawawi menyebutkan inilah yang
dilakukan oleh Nabi dan seluruh para
nabi, seluruh yaitu para sahabat, para
tabiin. Mereka berbor dengan masyarakat.
Mereka menyiarkan agama, mereka
berdakwah, beramal nahu nahi mungkar.
Mereka tidak menyendiri. Kalaupun
menyendiri karena kejadian-kejadian
tertentu ada fitnah, maka mereka
menyendiri. Ya, hukum asal mereka berbor
dengan masyarakat dan berdakwah beramar
makruf nahi mungkar. melakukan amal-amal
saleh yang itu dibutuhkan berbor dengan
masyarakat. Di antaranya bagaimana kita
bisa mengamalkan firman Allah watawan
alal birri wat taqwa. Saling
tolongmenolong kali dalam kebajikan
ketakwaan kalau kita tidak berbaur.
Karena di sini ada taawun. Taun berarti
tolong
tolongmenolong. Albir maksudnya
kebajikan. Takwa maksudnya meninggalkan
maksiat. Jadi butuh tolong-menolong
dalam melakukan kebajikan dan juga butuh
tolong-menolong dalam meninggalkan
kemaksiatan.
Kemudian kata Imam Nawai rahimahullah,
ayat-ayat terkait dengan hal ini sangat
banyak. Itu ayat-ayat yang menunjukkan
tentang keutamaan amar makruf nahi
mungkar. Seperti firman Allah Subhanahu
wa taala, takum minkum ummatun yaduna
ilhair wuruna bil marufhaunil munkar
waulaika humul muflihun. Hendaknya ada
di dari kalian sekelompok orang yang
menyeru kepada kebaikan. Beramar makruf
dan bernahi mungkar. Kalau tidak
berbaur, bagaimana bisa beramar makruf
dan bagaimana bisa berdahi mungkar? ini
ee ya harus ada interaksi dengan
masyarakat ya. Kemudian juga firman
Allah Subhanahu wa taala, "Kuntum khair
ummatin ukhrijat linas tamuruna bil
ma'ruf watanhaunail munkar wa tumminuna
billah. Kalian adalah umat terbaik yang
Allah keluarkan bagi manusia. Sifat
kalian adalah tamuruna bil ma'ruf."
Kalian beramar makruf watanhaunail
munkar. Dan kalian mencegah dari
kemungkaran. Ya. Watminuna billah. Dan
kalian beriman kepada Allah. Allah
berfirman, "Waman ahsanu mimman daaha
wail shihah." Siapakah orang yang lebih
baik perkataannya daripada orang yang
berdakwah yang menyeru kepada Allah
subhanahu wa taala dan beramal saleh?
Ini semua berkonsekuensi adanya berbaur
dengan masyarakat. Jadi Imam Nawawi
ingin menjelaskan inilah hukum asal
bahwasanya pendapat yang terpilih dan
ini manhaj para nabi, manhaj para
sahabat, manhaj para tabiin, para ulama,
para salihin. Mereka berbor dengan
dengan masyarakat karena untuk
menjalankan syariat Allah Subhanahu wa
taala. Ada kondisi-kondisi tertentu
seorang menjauh misalnya fitnah,
khawatir ya terjebak dalam fitnah, dalam
syubhat maka dia menjauh. Bagi yang
mampu untuk sabar beramar makruf, maka
hendaknya beramar beramar
makruf. Tayib kita bagaimana? Ya, kita
lihat situasi kondisi ya. Ada saatnya
kita mungkin berbaur, ada saatnya kita
menyendiri. Kalaupun berbaur tidak
bablas ya ada aturan-aturannya, bersabar
ya. Jangan terbawa. Kalau ada masyarakat
ee apa namanya? Melakukan kemungkaran
jangan terbawa. justru berusaha
menasihati. Ya, lihatlah Nabi sallallahu
alaihi wasallam sebelum jadi Nabi. Nabi
Muhammad sallallahu alaihi wasallam
berbaur dengan
masyarakat di tengah-tengah rusaknya
masyarakat ketika itu. Karena berbor
dengan masyarakat mereka tahu Muhammad
adalah al-Amin, orang yang terpercaya.
Sehingga mereka pun menitipkan
barang-barang berharga mereka kepada
Nabi. Dari mana mereka tahu Nabi amin
terpercaya? Karena mereka berbaur.
Karena Nabi berbaur dengan apa? Dengan
mereka. Nabi berdaur mereka bersama
mereka. Tetapi Nabi tidak ikut-ikutan
joget sama mereka. Dangdutan. Eh, dulu
enggak ada dangdutan ya, Masti joget
sama mereka. Enggak
ikut-ikutan perbuatan mereka yang
mungkar. Mereka dulu apa? Mereka zina,
mereka judi, mereka khamar, minum
khamar. Tapi Nabi enggak ikut-ikut. Tapi
Nabi
berbaur. Demikian juga ketika Nabi Yusuf
Alaih Salam sebelum Nabi Muhammad
sallallahu alaihi wasallam di penjara.
Nabi Yusuf menjara, dia berbaur dengan
orang penjara. berbaur. Karena berbaur
maka mereka tahu dia orang saleh.
Makanya Allah sebutkan dalam Al-Qur'an
eh wkhala maahu fatayan q ahaduhuma inni
aroni khamr waq inni aroni ahmilu
faqan nabili in minalin. Ketika dia
masuk penjara, ada dua orang yang datang
dalam penjara. Wahai Yusuf, saya
bermimpi memerah anggur." Yang satunya
berkata, "Saya bermimpi memikul roti di
atas kepalaku. Kemudian rotinya dimakan
oleh burung. Berikanlah takwil mimpi
kami." Kemudian kata mereka berdua,
"Inna naroka minal muhsinin." Kami
melihat engkau termasuk orang yang
saleh. Dari mana mereka tahu Nabi Yusuf
orang saleh? Karena Nabi Yusuf Yusuf
berbaur, ya. Berbaur. Jadi ini perlu
berbaur pun tidak lepas. Tetap ada
aturan-aturan. Jangan bablas, jangan
terbawa. Kalau kita khawatir terbawa,
menjauh. Masing-masing tahu tentang
dirinya. Kalau dia merasa tidak terbawa,
bisa memberi maslahat, maka bersabar.
Sabar dari godaan yang ada, sabar jangan
mengganggu mereka dan sabar dari
gangguan mereka. Maka itu yang terbaik
di sisi Allah Subhanahu wa taala. Ya.
Tayb.
Eh kemudian bab
berikutnya babu attawadui wfdil janah
lil mukminin. Bab tentang tawadu yaitu
rendah hati, rendah diri. Wfdil jannah
dan merendahkan jannah. Janah itu
asalnya adalah sayap burung. Ya, burung
kalau mau turun maka dia ee menurunkan
sayapnya. Apalagi kalau dia ingin
mengayomi anak-anaknya, maka dia
menurunkan apa sayapnya. itu isyarat
dari merendah di hadapan kaum
mukminin. Ini di antara pembahasan
penting bagi kita semua. Di antara amal
saleh yang sangat mulia adalah
at-tawadu. Adalah
atwadu. Ee oleh karenanya ya ketika
Allah subhanahu wa taala menyebutkan
tentang
ciri-ciri
ee ciri-ciri ibadurrahman dalam surah
Al-Furqan, maka di antara ciri yang
pertama Allah sebutkan kata Allah
Subhanahu wa taala, "Wa ibadurah
yamsyuna alal ardhi hauna."
Dan hamba-hamba Arrahman yaitu para
penghuni surga yang dicintai oleh Allah
Subhanahu wa
taala. Alladzina yamsyuna alal ardhi
hauna. Yang berjalan di atas muka bumi
dengan hauna itu mutawadiin. Dengan
kondisi tawadu. Dengan kondisi tawadu.
Cara berjalannya penuh tawadu. Cara
berbicaranya penuh tawadu. Ee gestur
tubuhnya tidak menunjukkan keangkuhan.
Cara omongannya tidak menunjukkan
keangkuhan. Karena keangkuhan memang
asalnya dalam hati. tapi
terekspresikan dengan kata-kata maupun
gestur gestur tubuh. Makanya Allah
melarang itu semua ya dari jangan sampai
kita melakukan gerakan-gerakan yang
menunjukkan kesombongan. Seperti kata
Allah Subhanahu wa taala, wala tusir
khoddaka linas. Jangan kau palingkan
wajahmu dari manusia ketika berbicara.
Bicara lihat. Jangan bicara sambil tidak
memandang. Wala tamsi fil ardhi maraha.
Ya. Dan jangan berjalan dengan apa?
Dengan sombong.
Ya. E kemudian inna ankaral aswatiul
hamir. Ya, jangan juga teriak
keras-keras angkat suara seperti orang
angkuh ya. Sesungguhnya suara paling
buruk suaranya apa? Keledai. Ya. Jadi ee
di antara ciri orang bertakwa adalah
tawadu Tib sini. Kemudian seperti
kebiasaan Imam Nawawi rahimahullah
ketika membawakan pembahasan tentang
suatu bab, dia bawa beliau rahimahullah
membawa ayat-ayat terlebih dahulu baru
kemudian hadis-hadis Nabi sallallahu
alaihi wasallam. Di antara ayat-ayat
yang menunjukkan tentang tawadu, qallahu
taala, Allah berfirman, "Wakfit janahaka
limanitabaaka minal mukminin." Ya,
rendahkanlah dirimu wahai
Rasulullah kepada orang mengikutimu dari
kalangan kaum mukminin. Ya Rasulullah
disuruh
untuk ee merendah ya terhadap
orang-orang yang yang beriman. Kalau
perintah kepada Nabi, maka kita lebih
utama juga untuk mengikuti Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Maka selama
dia mukmin, saya mukmin, ngapain kita
sombong di hadapan di hadapan dia? Toh
kita tidak tahu mana yang imannya lebih
tinggi antara kita dengan dia. Bukankah
parameter kemuliaan di sisi Allah adalah
yang paling beriman, yang paling
bertakwa? Kata Allah Subhanahu wa taala,
"Inna akramakumallahi atqakum." Yang
paling mulia di antara kalian adalah
yang paling bertakwa. Nah, kita kalau
urusan dunia mungkin kita lebih baik
daripada dia. Mobil kita lebih bagus
daripada mobil dia. Ya, rumah kita lebih
bagus dari rumah dia. Usaha kita lebih
bagus daripada usaha dia. Follower kita
lebih banyak dari follower dia. Yang
ngaji di kita lebih banyak daripada
ngaji di dia. Itu kan parameter duniawi.
Kita enggak tahu. Tapi dari mana kita
tahu kita lebih baik daripada
dia? Dari mana? Enggak ada yang tahu.
Kalau kita enggak tahu kita lebih baik
daripada dia, terus ngapain kita
kemudian merasa tinggi, tidak tawadu
kepada ee kepada dia
ya. Dan sesama mukmin hanya saling
saling mencintai, tidak saling angkuh
satu dengan ee dengan yang lainnya. Saya
sering disampaikan Uwais al-Qarani.
Uwais al-Qarani kata Nabi sallallahu
alaihi wasallam, "Khairut tabiin."
Sebaik-baik tabiin itu lebih baik
daripada tabiin-tabiin terkenal. Ada
tabiin yang terkenal banyak. Hasan Al
Basri ee Said ibn Musayyib terkenal ya.
Tabiin-tabiin yang terkenal dengan ilmu
mereka, dengan tafsir mereka ya. Ya,
banyak ya. Ee Wis Al-Qarani tidak
terkenal karena dia tidak menyebarkan
ilmu misalnya ya. Tapi ternyata k Nabi
sallallahu alaihi wasallam khairut
tabiin, sebaik-baik tabiin ya. Dia tidak
kenal. Bahkan di kampungnya dia dituduh
macam-macam ya. Ternyata dia punya
amalan-amalan hebat yang orang lain
tidak tidak tahu ya. Amalan-amalan
hebat. Sehingga Rasulullah mengatakan
khairut tabiin. Sebaik-baik tabiin. Ya.
Maka kita enggak tahu depan kita ini
lebih baik daripada kita atau kita lebih
baik pada dia. Kita aja kalau merasa
lebih baik kita enggak boleh sombong
apalagi kita enggak tahu mana yang lebih
baik saya atau dia. Saya sering
sampaikan kita sekarang punya pembantu.
Pembantu ya secara ekonomi ya dia anak
buah kita ya. Tapi secara iman belum
tentu. Mungkin dia salatnya
pas-pasan. Mungkin kita ngaji banyak
kita salat tahajud mungkin dia tidak
karena kecapekan kerja. mungkin. Tapi
kalau dia dapat gaji 100% dia kirim ke
ibunya. 100% dia kirim ke ibunya.
Sebagian bantu apa? Tulang punggung
rumah tangga, keluarganya. Ya. Terus
kita bilang kita lebih baik pada dia,
dia bertahun-tahun seperti
itu. Kita bilang kita lebih baik dar dia
tentunya enggak. Belum tentu. Oleh
karenanya seorang sesama mukmin ya kita
enggak usah ee sombong ya. Kita enggak
usah sombong ya.
Maka Rasulullah berkata, Allah
berfirman, "Wit jana mukminin,
rendahkanlah sayapmu bagi orang yang
mengikuti engkau wahai Muhammad dari
kalangan kaum mukminin." Ayat berikutnya
Allah berfirman, "Ya ayuhina
amanuumfatillahu biumin yuhibbuhum
yuhibbunillin alal
mukminin aizzatin alal kafirin."
Kata kata Allah Subhanahu wa taala,
"Wahai orang yang beriman, siapa yang
murtad di antara kalian dari agamanya
itu keluar dari
Islam, silakan murtad. Akan tetapi,
fasaufa yatillahu biumin yuhibbuhum
yuhibbuna." Allah akan gantingkan dengan
kaum yang Allah mencintai mereka dan
mereka pun mencintai Allah. Sifat kaum
tersebut yang Allah mencintai mereka dan
mereka mencintai Allah, adillatin alal
mukminin itu rendah di hadapan orang
beriman. Tidak angkut, tidak kasar.
alal kafirin.
Sebaliknya izah itu punya harga diri di
hadapan orang-orang kafir. Seorang
mukmin jangan angku, jangan sombong,
merendah sama orang kafir apa? Kita
tunjukkan harga harga diri harga diri
kita. Bukan sebaliknya sama orang mukmin
angkuh merendahkan sama orang ee kafir
kemudian apa? Ee
mengkerut sebaliknya.
Ee makanya ee Rasulullah berkata, "La
tabdaul yahuda wasara balam." Jangan
mulai salam kepada Nasrani. Jangan.
Kalau mereka salam, kita jawab. Kalau
enggak, enggak. Ya, untuk kita apa
namanya ya? Kita tak berakhlak tapi
bukan
merendah. Berakhlak tapi bukan apa?
Merendah. Para ulama mengatakan kalau
misalnya dalam satu rapat kita punya
kemampuan jangan biarkan orang kafir
bicara terus. Kita juga bicara,
tunjukkan kita punya kemampuan.
Bukan malah datang kemudian merendah,
dikasih duit, mijit-mijit kakinya ya,
kemudian merendah, menghinakan diri.
Enggak ya, enggak. Kita tawadu sama
orang beriman, sama orang kafir, kita
tunjukkan ya bahwasanya kita mulia ya.
Tentu tentu dengan tetap berakhlak.
Tetap dengan berakhlak. Karena di sini
Allah mengatakan sifat orang yang Allah
cintai mereka dan mereka cintai
Allah adillatin alal mukminin. Yaitu
rendah hati di antara kaumin. Aizzah
yaitu izah memiliki izzat nafs yaitu
harga diri di hadapan orang-orang
kafir. Waqala
taala. Kita dapati sebagian kaum sama
orang kafir sangat merendah sama orang
Islam sangat kasar.
Sangat kasar, sangat menghina,
mentang-mentang
sok. Coba direnungkan ayat
ini. Coba renungkan ayat ayat
ini. Tib firman Allah seb selanjutnya,
yaasu inqakum minakar
waalnakum waq inna akakum. Wahai manusia
sekalian, sesungguhnya kami menciptakan
kalian dari lelaki dan wanita. Maksudnya
dari Adam dan Hawa. Kita semua berasal
dari Adam dan Hawa. Wajaalnakum suuba.
Kemudian dari itu kami jadikan kalian
berbangsa-bangsa. Waqoba yaitu
bersuku-suku. Litaarofu qabail di bawah
Syab. Seperti adalah ee apa
namanya? Rabiah dan Mudhar ya. Ini
Sya'ab ya. Di bawah Mudar nanti ada
misalnya Quraisy ya. Jadi suku-suku
kabilah di atasnya Syab. Di bawah
kabilah masih ada butun. Ada
kabilah-kabilah kecil, suku-suku kecil.
Maksudnya Allah mengatakan, "Kami
menjadikan kalian berbangsa-bangsa,
bersuku-suku." Tujuannya apa? Litaofu
untuk saling mengenal. Ya, bukan untuk
bangga-banggaan nasab, bukan untuk
merendahkan yang lain.
Ya, bukan untuk merendahkan yang lain.
Inna akramakumallahi atqokum.
Sesungguhnya yang paling mulia di antara
kalian di sisi Allah adalah yang paling
bertakwa. Ini parameter Allah Subhanahu
wa taala. Ini hal yang gaib. Secara umum
kita enggak tahu oleh lama yang lebih
bertakwa antara kita dengan dia secara
umum kita enggak
tahu. Kalaupun kita tahu misalnya itu
pun tidak boleh sombong apalagi kita
tidak tidak tahu. Ya sudah sampaikan
tadi bahwasanya bisa jadi orang depan
kita kita rendahkan ternyata dia sangat
ee mulia
ya di sisi Allah Subhanahu wa taala.
Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam,
"Rub as
akbar bil abwab
aksama." Bisa betapa banyak orang yang
madfu bil abwab kalau dia ketuk pintu
tidak diterima. Maksudnya orang malas
menjamu dia. Ini siapa sih? Asad Akbar.
Rambutnya semeraut, kakinya penuh dengan
orang miskin ketuk pintu minta dijamu.
Orang tidak menjamunya enggak kenal
siapa. Tetapi kata Nabi, laallah alar
kalau dia bersumpat senama Allah, Allah
akan kabulkan sumpahnya. Meski dia
misalnya dia mengatakan, "Demi Allah kau
akan berhasil," maka akan berhasil.
Misalnya artinya dia memiliki kedudukan
di sisi Allah padahal dia madfuun bil
abwab. Ditolak orang tidak mau
menjamunya ya tidak mau
menjamunya. Makanya juga dalam hadis
Rasul sahu alaihi wasallam mengatakan
yang pertama kali melewati sirat siapa?
Fuqaraul muhajirin, orang-orang fakir di
kalangan
Muhajirin
ya. Rambut mereka penuh dengan debu,
badan mereka dunusuan, baju mereka kotor
ya karena mereka mungkin tinggal di
suffah enggak ada ganti baju jadi sering
kena tanah. Adunusaban pakaian mereka
kotor kata Nabi. K enggak bisa ganti.
Bukan bukannya mereka enggak mau ganti
tapi enggak bisa ganti ya.
As e ruusan rambut mereka penuh dengan
debu, enggak sama raut, enggak
disisir. Kemudian kata Nabi sallallahu
alaihi wasallam, laqihun mutanaimat.
Mereka gak bisa menikah dengan
wanita-wanita yang yang apa
namanya? Mutanaim atau wanita-wanita
yang maksudnya kaya. Kemudian apa
namanya? Apa bahasa kita? Halus. Halus
maksudnya cantik. Kalau ngelamar sama
wanita-wanita kaya ditolak gimana
modelnya kayak gini. Tetapi ternyata
mereka yang lebih dahuluan lewat
sirat.
Ya. Jadi kata Nabi, mereka pakainya
kotor, rambutnya semerawut.
Ya. Kalau apa namanya berkhitbah
ditolak ya bertamu mungkin tidak ada
yang ee reken, tidak ada yang perhatian.
Tapi ternyata mereka yang pertama kali
lewat sirat. Ini semua menunjukkan
bahwasanya tidak perlu kita
memandang kita lebih hebat daripada
orangorang lain. Nah, kalau kita tidak
memandang orang kita lebih hebat
daripada orang lain, ngapain kita
ngapain kita sombong dan angkuh? Sombong
dan
angkuh. Makanya hadis ini juga e ayat
ini juga menunjukkan
bahwasanya dalam Islam ee tidak ada
namanya rasisme. Enggak ada ya enggak
ada
rasisme. Ee apa namanya? Kata Nabi,
"Laad fad lil arabi al ajami wal ajami
al arabi walal abyad alal aswad al aswad
al aby abyad illa bqwa." Tidak ada
keutamaan orang Arab di atas non Arab.
Gak
ada. Dan tidak ada keutamaan orang
berkulit putih di atas orang berkulit
hitam atau sebaliknya. Illa bqwa.
Kecuali dengan takwa. Islam tidak
mengenal rasisme. Sejak awal orang-orang
yang dimuliakan oleh Nabi di antaranya
Bilal bin Rabah berkulit hitam. Tapi
Rasulullah mendengar suara terompahnya
di
surga. Ada Salman al-Farisi Persia bukan
Arab ya yang juga dimuliakan oleh Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Jadi yang
Allah nilai adalah ee
takwa
tayib. Makanya Al-Ghazali mengatakan
dalam kitabnya Ihlil Ummuddin, di antara
ujub adalah ujub dengan nasab.
ujuban apa? Nasab. Kemudian dia
contohkan di antara ujub yang dengan
nasab adalah orang-orang dari yang
mengatakan mereka keturunan Bani Hasyim.
Kemudian mereka bangga dengan nasab
nasab mereka, ujub dengan nasab mereka.
Ya. Padahal kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam, "Man bata bihi amaluhu lam
yusri bihi nasabuh." Siapa yang amalnya
lambat, maka dia tidak akan dipercepat
oleh nasabnya.
Yang paling utama adalah amal saleh.
Setelah itu baru kita lihat nasab dan
yang lainnya. Tib. Ayat berikutnya.
Aliman membawakan ayat berikutnya.
Waqala taala Allah berfirman, "Fala
tuzak anfusakum hua bimanittaqo."
Janganlah kalian merekomendasi diri
kalian. Dia lebih tahu mana yang
bertakwa. Jangan bilang, "Saya ini
begini. Saya ini orang saleh, saya ini
orang beriman, saya ini orang bertakwa.
Saya ini ikhlas." Enggak usah
bilang-bilang gitu. Allah lebih tahu
dengan yang bertakwa. tidak perlu kau
rekomendasikan diri dirimu. Ya gak perlu
ee saya ini ikhlas, saya ini bertakwa,
saya ini saleh, saya ini rajin
bersedekah, ee saya lebih baik daripada
dia, saya ee ini enggak usap ada
kelihatan
seorang memuji-muji dirinya itu berarti
dia merekomendasi dirinya, dia
mentazkiah dirinya. Allah larang. Kata
Allah, "Tidak perlu kau merekomendasikan
dirimu, mentazkiah dirimu." Hu aamu
bimanqo. Dia lebih tahu, Allah lebih
tahu subhanahu wa taala mana yang lebih
bertakwa. Mana yang
bertakwa bab
berikutnya firman Allah Subhanahu wa
taala, "Wanada ashabul a'ofi rijalan
yaifunahum
bisimahum." Maka ashabul
A'raf menyeru orang-orang yang mereka
kenal. bisimahum dengan ciri mereka
yaitu para penghuni
neraka. Al-A'raf adalah tempat yang
tinggi. Ada sebagian orang ditahan di
tempat tinggi tersebut yang diken
dikenal dikenal dengan Ashabul A'raf.
Siapakah mereka ini ashabul A'raf?
Ashabul A'raf adalah man tasawat
hasanatuhum
sayiatihim. Yaitu orang-orang yang amal
salehnya sama dengan amal maksiatnya.
Sama ketika ditimbang ternyata sama.
Mereka ini tidak dimasukkan di
surga dan juga tidak dimasukkan di
neraka. Maka ditahan suatu tempat yang
tinggi namanya Al-A'raf. Dan tempat
tinggi tersebut terletak di antara surga
dan
neraka. Bagaimana
ya? Seperti apa? Wallahualam kita enggak
tahu. Tapi tempat yang tinggi terletak
atas surga dan neraka. Maka Ashabul
A'raf ini orang yang kebaikannya dengan
keburukannya sama. Mereka ditahan.
Mereka melihat penghuni surga, mereka
melihat penghuni neraka. Dan Allah
abadikan dalam Al-Qur'an bagaimana nanti
mereka akan berbicara dengan penghuni
surga. Mereka bicara, mereka menyeru dan
mereka juga menyeru penghuni neraka. Di
ujungnya nanti mereka mau
surga. Tetapi di antara keadilan Allah,
Allah tidak langsungkan masuk, tidak
langsung masukkan mereka surga karena
kebaikan mereka sama dengan keburukan.
Jadi tahan dulu penghuni surga yang
kebaikannya lebih berat, masuk surga
dulu. Mereka ditahan dulu. Mereka tidak
berhak masuk surga dan juga tidak berhak
masuk apa? Neraka. Setelah itu baru
mereka dimasukkan ke surga. Di antaranya
mereka menyeru kepada penghuni neraka.
Allah berfirman, "Wada ashabul rijalan
yaifunahum bisimahum." Maka ashabul
a'raf, orang-orang di atas tempat tinggi
tersebut menyeru kepada sebagian lelaki
yang mereka kenal dengan ciri-ciri
mereka yaitu penghuni neraka. Qanaum
jamukum wtum tastakbirun.
Mereka berkata, "Apakah yang kalian
kumpulkan selama ini yang kalian
sombong-sombongkan bermanfaat bagi
kalian di akhirat?" Tentu
tidak. Selama ini orang kafir tersebut
ngumpulin harta, ngumpulin kedudukan,
menguasai ini, menguasai anu, mereka
bangga-banggakan. Apakah bermanfaat bagi
kalian? Haulaadina aqsamtum la
yanaluhumullahu birahmah. Udulul jann la
khaufun alikum w antum tahzanun.
Sementara orang-orang yang dulu kalian
bersumpah terhadap orang-orang miskin,
orang beriman, kalian model kalian
begini tidak akan mendapatkan rahmat
Allah. Ternyata mereka ini justru masuk
surga. Yang kalian hinakan, yang kalian
rendahkan, ternyata mereka masuk surga.
Bahkan kalian bersumpah, "Ah, orang
kalian seperti kalian demi Allah tidak
akan mendapatkan rahmat." Yang kalian
dulu kalian terlalu PD sehingga kalian
bersumpah kepada kaum mukminin yang
miskin, kalian tidak mendapatkan rahmat.
Ternyata dikatakan kepada orang-orang
miskin kaumin tersebut, udkulul jannata.
Masuklah kalian ke dalam
surga. Tidak ada khawatir atas kalian
dan tidak ada kesediaan atas kalian. Ini
dalil
bahwasanya di neraka banyak orang-orang
kaya yang sombong angkuh dan di di surga
banyak orang apa? Miskin. Orang miskin
biasanya
dihina. Inilah kenapa dibahas tentang
tawadu. Karena yang membuat orang lupa
dengan tawadu adalah kelebihan yang dia
miliki. Bisa jadi seorang sombong atau
angkut tidak tawadu karena harta.
Harta banyak melihat orang miskin
merendahkan karena jabatan. Jabatan
tinggi lihat orang di bawah tidak di
indahkan, dispele ya. Mungkin karena
ilmunya tinggi meremehkan yang yang
lain. Ya, karena backingannya tinggi
bukan dia yang tinggi tapi backingannya
tinggi maka dia merendahkan orang orang
lain. Banyak sebab. Di antaranya di sini
disebutkan mereka dulu kaya sehingga
mereka sombong. Mereka merendahkan
sebagian kaumin, ternyata komunin
tersebut justru masuk surga. Makanya itu
menunjukkan kita harus tawadu. Gak usah
kita sombong karena kita enggak tahu
orang depan kita ini surga atau neraka.
Lebih baik dari kita atau tidak kita
enggak tahu. Yang tahu hanyalah Allah
Subhanahu wa
taala. Tayib.
Demikian ayat-ayat yang disebutkan oleh
Imam Nawawi rahimahullahu taala yang
semua memberi isyarat agar seorang
tawadu jangan sombong, jangan angku,
jangan ujub dengan amal, jangan
merekomendasikan dirinya, jangan
merendahkan orang lain. Ya. Namun ingat,
bukan berarti kita tidak boleh
merendahkan orang lain, bukan berarti
tidak boleh nasihat. Nasihat tetap jalan
terus. K nasihat orang salah, kita
tegur. Bukan berarti kita merasa lebih
baik. Tapi ini kewajiban menegur orang
yang kita anggap salah ya. Karena
sekarang sebagian orang ketika menegur
takut dibilang sombong. Akhirnya tidak
menegur. Akhirnya orang yang salah bebas
melakukan karena kalau dia ditegur dia
playing victim.
Ya, sombong, angkuh. Ya, kita diam aja.
Padahal dia salah gak boleh. Jadi
menegur tidak melazimkan apa? Kesom
kesombongan. Ya, bisa jadi kita lebih
rendah daripada orang tersebut tapi kita
punya tugas menegur, menyampaikan kalau
kamu salah ya kita diskusi menyampaikan
menasihati. Ya, karena sebagian orang
membuat kesan bahwasanya orang yang
menegur dibilang apa? Som sombong.
sehingga yang menegur enggak berani
karena takut ditempel apa? Sombong ya.
Angkul disembel ujub ditempel ini gak.
Nasihat tetap berjalan ya. Bahkan kita
boleh menasihati orang lebih mulia
daripada kita. Boleh seorang murid
menasihati ustaznya boleh atau tidak
boleh. Enggak ada
masalah. Bab kemudian Imam Nawawi
rahimahullah membawakan hadis-hadis ya.
Di antaranya hadis yang pertama. Wa anan
Iyad bin Himar radhiallahu anhu qala q
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
Sahabat namanya Iyad bin Himar. Himar
artinya apa? Keledai. Ya. Dan dulu
orang-orang Arab sering
menamakan nama-nama dengan nama-nama
hewan. Ada namanya himar, ada namanya
kalb, ada namanya fahad, ada namanya
namir. Namir artinya apa? Macan. Fahad
macan. Ee apalagi? Hamzah atau apa
namanya? Ee Haidarah singa ya. Kalp.
Guguk
anjing himar keledai. E disebutkan
bahwasanya mereka menamakan dengan nama
hewan tersebut untuk mengambil dari ee
sifat-sifat baik hewan tersebut. Seperti
singa menunjukkan pemberani fahat macan
menunjukkan apa? Pemberani. Ee himar
menunjukkan ulet sabar. Karena himar itu
disuruh-suruh sabar. Pikul ini, pikulu,
sabar ya. tidak cepat ngomel himar. Jadi
namain himar biar
kuat. Disebut anjing kalb khilab karena
amanah. Karena apa? Amanah dan setia
kepada tuannya. Ya. Jadi mereka
kadang-kadang menamakan ee saklab
serigala ya. Pokoknya ada nama-nama
hewan ya. Kalau kita di tanah air enggak
ada kan? Ada. Enggak. Enggak ada nama
hewan, enggak ada nama tanaman. Enggak
ada.
[Musik]
An Iad bin Himar radhiallahu anhu q
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
innallaha ilaiya anw sungguhnya Allah
mewahyukan
kepadaku agar menyampaikan kepada kalian
antaw hendaknya kalian tawadu hatta
lahadun ala ahad agar seorang tidak
merasa sombong di atas yang lainnya w y
ahadun ala ahad dan agar seorang tidak
menzalimi yang lainnya hadis riwayat
muslim ya hadis ini ee menjelaskan
tentang pentingnya tawadu sampai Nabi
sallallahu alaihi wasallam menyebutkan
ada wahyu khusus dari Allah disampaikan
kepada Nabi untuk menyampaikan kepada
para sahabat an tawadu agar kalian
tawadu. Kenapa? Karena potensi untuk
sombong, untuk merasa tinggi itu banyak.
Saya bilang tadi sombong itu bisa dengan
harta, dengan jabatan, dengan nasab,
dengan kolega ya sombong. Oh, saya ini
siapa? Tetangga saya jenderal baru
tetangga aja sudah sombong ya orang ya.
Saya keturunan darah biru dulu mbah saya
raja. Kerajaannya masih ada, sudah tidak
ada. Terus siapa yang mau
disombongkan? Jadi orang potensi sombong
tuh ada. Kalau sudah ada kesombongan
akan berlanjut
pada saling merendahkan. Yafar ahadun
ala ahad. Merendahkan yang sudah
merendahkan berarti permusuhan. Siapa
sih manusia suka direndahkan? Enggak ada
yang suka direndahkan. Kalau direndahkan
ya pasti jengkel. Kalau dia jengkel
berarti terjadi permusuhan di antara
kaum kaum muslimin. Maka supaya tidak
saling bermusuhan, tidak saling jangan
saling merendahkan. Kalau supaya tidak
saling merendahkan hendaknya saling
tawadu. Ini dampak yang buruk pertama
kata Nabi sallallahu alaihi wasallam
bisa saling merendahkan. Yang kedua
dampak buruk yang kedua bisa saling
zalim. Kalau seorang merasa tinggi dia
akan zalimi yang lain. Dia menjatuhkan,
dia berbuat semena-mena. Mentang-mentang
dia pejabat, dia sembarang, dia ini
dia. Maka siapapun diberi kelebihan
hendaknya tawadu. Hendaknya apa? Tawadu.
Sampai orang yang memiliki ilmu menghina
yang tidak punya ilmu merendahkan,
menjatuhkan. Ya. Jadi potensi sombong
itu banyak. Maka di sini Rasulull
Sallahu Alaihi
Wasallam diwahyukan oleh Allah. Allah
mewahyu secara khusus agar menyuruh para
sahabat untuk tawadu. An tawadu
tujuannya apa?
Agar seorang tidak sombong di atas yang
lainnya. W ahadun ala ahad. Dan agar
seorang tidak berbuat zalim kepada yang
lainnya. Tib. Saya bacakan perkataan ee
ee Syekh Muhammad bin Sa Utsimin
rahimahullah tentang makna tawadu.
Attawadu diddut taali. Tawadu itu lawan
dari merasa tinggi. Lawan dari merasa
tinggi. Yakni alla yatarafaal insanu
wala yatarafa ala giri. Jangan dia
merasa tinggi dan jangan dia merasa
lebih tinggi dari orang lain. Dia
sendiri jangan merasa tinggi dan dia
jangan merasa tinggi daripada
orang-orang lain. Biilmin karena ilmu
dia merasa tinggi. Wala nasabin atau dia
merasa tinggi karena nasabnya. Wala
malin merasa tinggi karena hartanya.
Wala jahin karena kedudukannya. Wala
imaratin karena kekuasaannya walaaratin
karena dia menteri misalnya. Wala giri
dalalik. Dan apapun ini semua yang
disebut oleh Syekh Utsim potensi-potensi
buat orang tidak tawadu. Balil wajib
alal mari an yakah lil mukminin. Yang
wajib bagi seorang adalah dia
merendahkan dirinya di hadapan kaum
mukminin.Allah rasulullah sallallahu
alaihi wasallamin. Hendaknya seorang
tawadu di hadapan kein yang lain
sebagaimana orang termulia yaitu Rasul
sahu al wasallam yang paling tinggi
dudukannya di sisi Allah. tawadu
terhadap yang
lainnya. Ya, ini ee apa namanya?
Definisi tawadu yang disebut oleh Syekh
Utsimin rahimahullahu taala. Maka kita
waspada. Kapan kita merasa tinggi? Ah,
kita sedang tidak tawadu. Kapan kita
merasa mentang-mentang? Oh, kok saya
merasa tinggi, merasa hebat. Ah, ini
berarti kita sedang tidak tawadu. Maka
waspada. Maka waspada.
TIB. Ee hadis
berikutnya wa an Abi Hurair radhiallahu
anhu anna rasul sahu alaih wasallam q
rasul sahu alaihi wasallam bersabda ma
naqat shodqatun min sedekah tidak
mengurangi harta wadallahu abdan bin
illa izzan tidaklah seorang memaafkan
kecuali Allah tambah
kemuliaannya taw
Tidaklah seorang tawadu karena Allah
kecuali Allah akan mengangkat
derajatnya. Hadis riwayat Muslim. Ini
tiga hal. Dalam sebagian riwayat
Rasulullah bersumpah dengan tiga hal
tersebut. Bahwasanya kenapa Rasulullah
bersumpah menekan dengan tiga hal ini?
Karena tiga hal ini menyelisihi zahir.
Zahirnya orang kalau bersedekah duitnya
kurang. Zahirnya kalau orang mengalah
dibilang wah lemah. Zahirnya orang yang
tawadu dibilang apa? Rendah. Tetapi
Rasulullah mengingatkan bahwasanya yang
terjadi sebaliknya. Yang terjadi adalah
sebaliknya. Maka Rasulullah bersumpah.
Kemudian Rasulullah berkata maqat
shodqatun mim mal. Sedekah tidak akan
mengurangi harta. Bahwasanya orang
bersedekah Allah akan ganti di dunia
sebelum di akhirat.
Ya Allah akan ganti sebelum di akhirat.
Allah ganti di dunia. Bahkan jauh lebih
banyak sebelum di akhirat. akhirat lebih
banyak lagi. Kemudian yang kedua ee
Rasulullah berkata, "Tidaklah seorang
memaafkan kecuali akan semakin mulia."
Yang penting dia maafkan karena Allah,
bukan maafkan karena ri ya.
Bilang-bilang ke orang, "Oh, saya kalau
saya saya maafkan." "Oh, saya maafkan."
Ini riya ya. Gak. Dia maafkan karena
Allah karena dia mencari karunia Allah.
Dia mencari pengampunan dari Allah.
Siapa yang maafkan dimaafkan oleh Allah
Subhanahu wa taala. Karena sebagian
orang terkadang maafkan tapi dia
ternyata ri. Kalau dia memaafkan untuk
diampuni oleh Allah, maka Allah akan
derajatnya meskipun ee orang mengatakan,
"Ah, kalah dia." Meskipun dinilai kalah
oleh orang. Ya. Yang terakhir yang
disebut oleh Nabi, siapa yang
tawadu ee
pada karena Allah subhanahu wa taala,
maka Allah akan angkat derajatnya. Di
sini tawadu lillah. Dia tawadu karena
Allah, bukan pencitraan.
Ya, karena sebagian orang tawadu ya,
merendah tetapi ingin di dipuji. Tawadu
lillah ada dua makna. Sudah azan
belum? Ee tawadu lillah ada dua makna.
Makna pertama dia tunduk kepada Allah.
Yang kedua tunduk karena Allah. Tunduk
kepada Allah, tunduk kepada hukum-hukum
Allah. Dia tidak sombong di atas hukum
Allah. Kalau ada perintah Allah,
perintah Nabi, maka dia jalankan. Dia
tawadu. Ini perintah Allah, ini
keputusan Nabi, maka dia tidak akan
mentang-mentang. Yang kedua, dia tawadu,
merendah diri karena Allah. Ikhlas bukan
untuk pencitraan, bukan untuk
diagung-agungkan. Siapa yang demikian,
maka akan diangkat derajatnya oleh Allah
Subhanahu wa taala. Demikian saja,
demikian. Wabillahi taufik hidayah.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.