Transcript
Cb3Z-oLPFdA • Kitab Adab #16: Namimah (Mengadu Domba) - Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A.
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2450_Cb3Z-oLPFdA.txt
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrillahu ala taufqihati wamtinani ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuim wa asadu anna muhammadan abduhuasulidw. Allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwani. Ee para dokter, hadirin dan hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Kita lanjutkan bahasan kita dari Kitabul Adab dari Sahih Al Bukhari. Bab berikutnya bab 49. Babun Anamimatu minal kabair. Bab bahwasanya namimah mengadu domba termasuk dari dosa besar. Imam Bukhari berkata, Qana Ibnu Salam Q akbarana Abidah Ibnu Humaid Abu Abdurrahman Mansur an Mujahid ibni Abbasin qari sahabat Ibnu Abbas radhiallahu anhuma kh Nabi wasam madinah Rasul sahu alaih wasallam satu hari keluar dari sebagian kebun yang ada di kota Madinah insanain yadabani quburihima maka Nabi mendengar ada suara dua orang yang sedang diazab dalam kuburan Dan mereka berdua yadabani. Mereka berdua sedang diazab. Wadabani fi kabiratin. Dan mereka berdua tidak sedang diazab pada perkara yang ee besar. Wa innahu kabir. Ya. Tapi ternyata itu adalah perkara yang besar yaitu eh kana ahaduhuma la yastatiru minal baul. Adapun yang satu karena tidak ee menutup pakaian ketika ee kencing atau dalam riwayat itu tidak bersih ketika kencing. Ee wal akamsi binimah. Adapun yang satu diazab karena melakukan namimah yaitu ke sana kemari mengadu domba. Maka beliau minta didatangkan jaridah yaitu pelepah kurma yang masih basah. Kemudian wasam belah duaan kemudian yang satunyaakkan di satu kuburan yang satunya letakkan kuburan yang kedua yukuma. Maka semoga kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, semoga Allah Subhanahu wa taala ee meringankan dosa keduanya selama kedua pelepah kurma ini masih basah. Hadis ini ee menjelaskan tentang bahwasanya di antara kekhususan Nabi sallallahu alaihi wasallam, Nabi pernah di izinkan oleh Allah untuk bisa mendengar suara orang yang diazab. Kita tahu bahwasanya hukum asal orang yang diazab di alam barzakh tidak ada yang mendengarnya kecuali hanya hewan-hewan ya. Adapun jin, jin dan manusia tidak mendengarnya. Ini perkara yang gaib karena kalau semua orang mendengarnya maka tidak ada lagi nilai ujian di dunia ini. Tidak ada tidak tidak lagi dikatakan alam gaib ya. Sementara alam kubur ya alam barzakh azab ataupun nikmat adalah alam yang gaib. Tetapi Nabi sallallahu alaihi wasallam di diperdengarkan oleh Allah subhanahu wa taala bahwasanya ada dua orang sedang diazab. Itu Nabi lagi keluar dari kebun tiba-tiba mendengar dua orang diazab. Maka Rasul sahu alaihi wasallam menghampirinya. Rasulullah berkata di hadapan para sahabat yang lain. Rasulullah bersama para sahabat yang lain, yuadabani. Mereka berdua sedang diazab. Rasul mengatakan mereka berdua diazab pada perkara yang mereka sepelekan. Bal wa innahu lakabir. Padahal itu perkara yang besar bukan perkara sepele. Adapun yang satu la yastatiru min alul. Yang satu tidak tutup diri ketika buang air. Karena ada laf beberapa lafal. Ada la yastatir minal ba. Ada laatanazahu minal baul, ada la yastabriu minal baul. Ya, tiga lafal ini maknanya dalam sebagian lafal itu dia ketika buang air kecil dia asal buang air sehingga terlihat sebagian auratnya. Kemudian juga ee dalam ee dalam yang lain la yastabriu yaitu dia tidak bersih ketika ketika cebok sehingga masih ada tersisa. La yatanazzahu yaitu dia tidak hati-hati ketika ada percikan balik. Jadi ini tiga lafal. Laatiru laabriu laanazzahu. Kalairu yaitu dia ketika buang air kecil ya mungkin kelihatan sebagian auratnya, bokongnya atau sebagian kemaluannya terlihat. Asal ngasal aja ket buang air tidak perhatian kanan kiri sehingga auratnya terlihat ya oleh ee apa namanya? Sebagian orang. Yang kedua, la yastabriu yaitu dia tidak ee ketika buang kecil dia tidak bersih ceboknya ee sehingga masih tersisa ngasal ketika cebok atau laatanazahu yaitu ketika dia buang air kecil dia tidak hati-hati sehingga dia percikannya kembali ke pakaiannya sehingga pakaiannya ternajisi atau tubuhnya ternajisi dan kita tahu kalau sudah ternajisi dia salat tidak sah. Yang kedua eh wakal akhar yamsi bin namimah. Yang satu karena dia melakukan ee namimah ya. Namimah yaitu meng domba ke sana ke mari kemudian cerita sana ke mari sehingga akhirnya membuat dua kelompok atau dua grup atau dua orang saling bermusuhan. Dan ini dosa yang sangat besar sehingga keduanya e diazab di alam barzakh ya. Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan bahwasanya sebagian ulama menyebutkan kenapa dosa ini, dua dosa ini disebutkan tentang dua orang ini ya. Satu tidak diazab karena tidak bersih dalam kencing, satu diazab karena namimah. Maka sebagian ulama menjelaskan karena yang pertama diazab oleh Allah pada hari kiamat ya awalu yuha aldu yaumalqiamah shatuhuq nabi sallahu al wasam pada hari kiamat yang pertama kali disiap adalah salat yaitu terkait antara dengan hak Allah subhanahu wa taala adapun terkaitnya dengan manusia kata Nabi sallallahu alaihi wasallam fidma yang pertama kali di sidang oleh Allah pada hari kiamat adalah ee masalah darah sebelum masalah-masalah lain, pencurian. Yang pertama kali masalah pembunuhan ya dan ee yang terkait dengan hak Allah salat, yang terkait dengan hak manusia adalah pembunuhan, masalah darah dan tidak bersih ketika kencing. Ini merupakan kunci atau ee pintu pertama sehingga salat tidak sah. Sehingga salat tidak sah. Maka dia adalah sebab utama atau sebab pertama salat tidak sah. Demikian juga namimah adalah sebab utama atau sebab pertama menjadikan orang bermusuhan bahkan bunuh-bunuhan. Dimulai dengan apa? Namimah. Makanya kedua ini diazab terlebih dahulu karena terkait dengan salat dan terkait dengan darah. Dan mereka diazab di alam barzakh. Dan itu sebagai azab mukadimah ya mukadimah tentunya azab yang diberingan daripada azab ketika di hari kiamat kelak ya. Ya. Azab sebagai mukadimah ya. Sebagaimana juga dalam alam barzh kubur. Nikmat kubur pun yang dirasakan oleh orang-orang saleh, para syuhada, para salihin, mereka juga mendapatkan mukadimah kenikmatan tidak sempurna. Dan sempurna ketika di akhirat, ketika ruh dan jasad dipersatukan. Ya. Adapun di alam barzakh yang utama adalah ruh. Jasad hukumnya mengikuti. Di dunia kita jasad roh mengikuti. Di akhirat nanti ketika di kebangkitan porsinya sama-sama 50% sehingga ruh dan jasad sebenar-benar bersatu. ee apa namanya? Sehingga mendapatkan azab atau nikmat secara sempurna. Tib di sini Nabi sallallahu alaihi wasallam kemudian mengambil dua satu pelepah kurma. Nabi belah dua, Nabi tancapkan. Kemudian Nabi berkata, "Semoga ee mereka berdua azabnya di ringankan selama masih basah." Nah, di sini bukan ee tentu ada sebagian ulama Syafi'iah mengatakan karena ee kenapa diringankan kata mereka karena ini pelepah kurma masih basah. Kalau masih basah dia bertasbih. Dia bertasbih. Ketika dia bertasbih maka akan mengurangi azab dalam kubur. Ini saya ulangi sisi pendalilannya kata mereka sebenarnya karena kelepah kurma ini masih basah. ketika masih basah dia akan bertasbih dan kalau bertasbih akan memberi berkah kepada penghuni kubur sehingga mengurangi azabnya. Kemudian mereka menggunakan kias aula. Kias aulawi. Kiasul aula atau kias aulawi. Kalau pelepa kurma saja yang basah memberi keberkahan karena dia bertasbih. Maka apalagi kalau kita baca Quran di kuburan. Kalau kita baca Quran di kuburan tentu akan beri berkah kepada penghuni kubur. Diharapkan akan mengurangi ee azabnya atau menambah kenikmatannya di kuburan. Tapi ini pendalilan tidak pas ya. Pertama karena iniusan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Nabi yang mendengar dua orang sedang diazab. Kemudian Nabi bermuamalah dengan muamalah khusus. Sementara tidak semua orang mendengar orang diazab atau tidak dan tidak ada yang bisa kecuali Nabi sallallahu alaihi wasallam. Oleh karenanya perbuatan Nabi tidak dicontohi oleh para sahabat yang lain. Ini yang pertama. tidak dic para sahabat yang lain. Ee eh seandainya adalah pelepah kurma punya pengaruh karena basahnya maka kita tanam aja pohon kurma di situ karena basah terus ya. Demikian juga saya lihat juga sebagian orang taruh kendi isi air ya karena mereka berpegang teguh kepada basah ini dan ini tidak ada dalil yang sanya sekedar istimbat sebagian ulama dan sebag ulama bisa benar bisa salah ya. Kemudian tentunya yang bertasbih kepada Allah yusabbihu lillahi ma fis samawati ma fil ard ya. Eh, semua yang di langit dan bumi bertasbih dan bertasbih tidak dibatasi sama yang basah saja. Yang kering juga bertasbih. Walak tafqah tasbihum. Ya kata Allah, tapi kalian tidak memahami tasbihnya. Bukan berarti kalau pohon kurma sudah kering, dia tidak bertasbih lagi. Tidak ada dalilnya. J suruh semua makhluk bertasbih dengan caranya. Cuma kita tidak memahami e caranya tersebut ya. Kita tidak memahami caranya tersebut ya. Oleh karenanya ee tidak benar bahwasanya kurma ini bertasbih sehingga menjadikan penghuni kubur ringan azabnya. Ya, tidak benar. Karena kalau kering pun masih bertasbih ya. Dan saya katakan tadi ini cuma khusan Nabi. Nabi yang melakukan ini cuma Nabi sallallahu alaihi wasallam. Yang benar bahwasanya dikurangi azabnya karena doa Nabi. Nabi yang berkata, "Laallallaha yukifu anhuma." Semoga Allah mengurangi meringankan ee hukuman kepada orang ini. Tapi Rasulullah mengkaitkan keringanan tersebut dengan waktu. Jadi basahnya atau ee keringnya kurma tadi hanya sekedar waktu doa Nabi. Yaitu Nabi minta diringankan selama kurma ini masih masih basah. Bukan karena basahnya pelepah kurma menjadikan menjadikan penghuni kubur tadi dikurangi azabnya. Karena tadi gara-gara masalah ini kelihatannya sepele, tapi gara-gara masalah ini akhirnya orang tanam pohon kamboja. Orang ada yang kasih saya pernah lihat sendiri kasih kendi isi air disiramin. Jadi ada kesan basah itu mengurangi ee azab. Yang benar tidak ya bukan itu. Tapi karena doa Nabi sallallahu alaihi wasallam. Buktinya tidak diikuti oleh para sahabat. Seandainya sesuatu yang basah itu mengurangi azab kubur ya mungkin kita tanam aja pohon kurma di situ. Tanam pohon mangga ya atau kita kasih keran di situ sehingga basah terus. Ya tentunya ini tidak tidak tepat karena mereka mengatakan basah yang bertasbih. Kalau kuring tidak bertasbih. Padahal yang bertasbih kepada Allah yang basah maupun yang yang kering. Wallahuam bisawab yang benar. Jadi ini hanyalah kekhususan Nabi sallallahu alaihi wasallam dan mereka berdua dikurangi azabnya karena doa Nabi sallallahu alaihi ee wasallam. Oleh karena tidak tepat juga kemudian dikiaskan bahwasanya dianjurkan untuk baca Al-Qur'an di kuburan. Karena dengan kias alula kalau kurma saja bisa mengurangi azab kubur apalagi kalau bacaan Al-Qur'an. Saya kira kiasnya tidak ee tidak tepat. ya ee karena ee pendalilannya sejak awal sudah tidak tepat. Wallahuam bisawab. Kita lanjut bab berikutnya. Jadi namima adalah seorang ke sana cerita sesuatu kemudian ke A cerita, ke B cerita dengan pembicaraan yang buat mereka saling membenci. Itu namanya namam. Mengadu domba kalau bahasa kita ya. dengan menceritakan sana kemari yang akhirnya membuat ee orang marah dan akhirnya bermusuhan dan ini bisa tidak sampai pada pertumpahan darah. Orang ini pintar membuat narasi dan memilih diksi-diksi yang bisa membuat orang apa ee marah. Dan ee sebagian orang seperti itu ya dia menyampaikan sesuatu dengan diksi yang provokatif. Padahal tidak seperti itu ceritanya. Tapi ketika dia mengantarkan dengan diksi yang dia pilih orang bisa terprovokasi. Yang berikutnya bab ma yukrahu minan namimah. Tentang eh namimah yang dilarang ya. Waquihi hammaz masyaim binamim. Dan firman Allah Subhanahu wa taala Hammaz masya yaitu orang yang ee ke sana kemari ee ke sana kemari untuk mengadu domba. Tib di sini ee Imam Al Imam Albukhari rahimahullahu taala ya menyebutkan tentang ayat yang mencela tentang namimah. Kata Allah, "Wailul likulli humazatil lumazah." Celaka bagi setiap pengumpat dan pencela. Ya. Yahmizu waalmizu yau. Ya. Eh, Imam Bukhari kemudian mengatakan yahmizu walmizu. Dua-dua ini maknanya aib. Mencela. Yaibu maksudnya mencela. Hanya saja para ulama membedakan apa bedanya antara ee yalmi eh hamaz atau humazatin lumazah ya. Jadi hamazin masam binamim yaitu suka mengumpat ke sana kemari mengadu domba. Ini dalam surat alqalam ayat 11. Kemudian juga ayat yang lain wailaz lumazah. Apa bedanya hammaz atau humazah dengan lammaz atau lumazah? Allah gabungkan keduanya. Wailul likulli humazat lumazah. Celaka bagi setiap orang yang pengumpat dan pencela. Dan dalam Al-Qur'an cuma dua surat yang dibuka dengan wailun, celaka. Surat yang pertama sebelum ini adalah surat almutfifin. Wailul lil mutfifin. Celaka bagi orang yang mengurangi takaran timbangan atau ee ee ukuran takaran ya. Baik volume atau berat ya. Kata Allah mereka melakukan tatfif. Twif itu mengurangi dengan ukuran yang sedikit. Misalnya 10 kilo dikurangi 1 ons jadi 9,9 kilo 9 ons seperti ee 10 L - 0,1 L. Jadi masih 9 L,9 ya jadi kurangi sedikit. Tetapi ini membuat kecelakaan. Allah mengatakan wailun celaka. Kenapa? Karena ini terkait dengan ee hak orang. Dan kita tahu bahwasanya kita tidak boleh melanggar hak orang. Hak orang ada tiga. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, inum inakum wa amwalakum waadakum haramun alaikum. Sesungguhnya darah haram tidak boleh kalian tumpahkan di antara kalian di ee kemudian amwalakum harta haram tidak boleh kalian ambil secara curang di antara kalian dan a'adakum harga diri kalian juga haram. Tidak boleh kalian jatuhkan di antara kalian. Kalau darah mungkin orang lebih hati-hati tidak menumpahkan orang. Tapi kalau harta orang terkadang menyepelekan apalagi harga diri. Apalagi harga diri. Dan dalam Al-Qur'an surat yang dibuka dengan wailun cuma dua. Yang satu terkait dengan mengambil harta orang tanpa hak dengan melakukan tatfif yaitu mengurangi takaran atau mengurangi timbangan. Sedikit saja enggak banyak karena dia melakukan tfif. Tatfif itu sesuatu yang sedikit ya. Tatfif. Wail wailul lil mutofifin. Celaka bagi orang-orang yang mengurangi takaran timbang. sedikit aja. Tapi karena ini mengurangi takaran terkait dengan hak harta orang. Surat yang kedua yang dibuka dengan wail adalah surah al-Humazah. Yang ini terkait dengan harga diri. Wailunul likulli humazatil lumazah. Celaka bagi setiap pencela dan pengumpat. Tib. Apa beda humazah dan lumazah? Ada yang mengatakan bahwasanya humazah yaitu dia mencela dengan gibah ya, Tid tidak di hadapan orangnya kan. ee ada orang mencela dengan humazah. Ee kemudian ee humaza itu dia mencela tidak di hadapan yang dicela yaitu gibah. Adapun lumazah, lumazah itu ee langsung di depannya mencela di depannya. Ini dua-duanya mengumpat. Mengumpat dengan di balik layar atau mengumpat di depan langsung. Humaza mengumpat di belakang, Lumazah mengumpat di depan. Ini pendapat-pendapat mengatakan humazah maksudnya mencela dengan ee bentuk tubuh dengan jari misalnya begini atau dengan lirikan mata dengan bibir merendahkan ya dengan dengan sikap. Jadi merendahkan dengan apa namanya tangan, jari ya. Sekarang orang banyak merendahkan dengan jari dengan isyarat. Ini namanya humazah. Adapun lumazah mencela dengan lisan. Mencela dengan lisan ya sekar sekarang dengan tulisan. Suka mencela, mengumpat dengan lisan atau tulisan itu namanya lumazah. Jadi intinya dua-dua ini kata Imam Bukhari maksudnya adalah yaib mencela. Cuma berbeda kalau humaza itu mencela di belakang, Lumaza mencela di depan. Atau pendapat yang kedua humaza mencela dengan isyarat. Isyarat mencibir dengan isyarat. Kalau lumazah dengan lisan atau dengan tulisan. Tib. Kemudian Al Imam Albukhari membawakan ee hadis ya. Imam Bukhari berkata, "Qasana Abu Nuaim Q hadana Sufyan an Mansur an Ibrahim an Hammam qala kunna ma Hudaifah. Kami sedang bersama Hudzaifah faqilahu." Maka ada yang maka dikatakan kepada Hudzaifah bin Yaman injulan yarfaul had. Sungguh ada seorang yang melaporkan pembicaraan kepada Utsman. Lapor kepada Utsman ketika Utsman sebagai khalifah amirul mukminin. Faqala Hudzaifah. Maka Hudzaifah berkata, "Sami Nabi sallallahu alaihi wasallam yaakul." Aku mendengar Rasul sahu alaihi wasallam berkata la yadkulul jannata qattat. La yadul jannata qattat. Bahwasanya seorang yang tukang namimah ee maka tidak akan masuk surga. Tidak akan masuk surga. Ya. Ee di sini qattad ya maknanya sama dengan annamam ya. Ada yang membedakan sebagian dikatakan oleh Ibnu Hajar saya bacakan dia datang riwayat Qattad dalam ayat disebut binamim ya namam qila kata Ibnu Hajar rahimahullahul bari alfarqu bainal qattat wanammam. Apa bedanya alqatt sama annamam? anan namamam alladzi yahdurul qissah fayanuluha annamam dia yang langsung dengar dia lihat langsung kejadian atau dia langsung dengar langsung pembicaraan kemudian dia nukil dengan diksi dia dengan ee cara penyampaian yang provokatif tentu ditambah-tambah atau yang selainnya walqattat alladzi yatasamu min haitsu la yam ylamu bihi tmau maamiah adapun qattat yaitu dia berusaha mendengar dan orang yang didengar didengarkan tidak paham ternyata dia mencuri pendengaran untuk melapor kepada pihak lain untuk mengadu domba. Jadi kalau kalau Qattad hadir langsung di depan ee kalau Namam hadir langsung depan dia lihat, dia dengar, dia bicara kemudian dia nukil bikin masalah. Kalau qotad dia kelihatannya enggak adil, tapi rupanya dia mencuri pendengaran kemudian dia sampaikan untuk mengadu domba. Ini perbedaan antara Qattad dengan Namam, tapi dua-duanya adalah tujuannya untuk memadu domba. Eh saya bacakan perkataan nasihat indah dari Al Imam Alghazali dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari yang intinya adalah yambilan humilat ilaihi namimatun alldiq manamalahu hendaknya seorang yang dinukil namimah kepadanya itu ada orang datang domba itu sana gini-gini dia ngomongin kamu dia jelek-jelekan kamu dia menjatuhkan kamu hendaknya tidak membenarkan orang tersebut wala yadunu biman namma anhu ma nuqila anh dan jangan membenarkan nukilan tersebut dari orang tadi ya. Dia bilang datang kepada si A, si A B bilang kamu gini gini gini. Ini berarti orang sedang namimah, sedang mengadu mengadu domba antara si A dan si B. Maka kata Imam Ghazali rahimahullah, hendaknya si A tidak membenarkan perkataan si B dan jangan pernah menyangka buruk kepada ee si B. Ini si C ini yang nukil. Si C ini sekarang masuk tengah antara A dan B. Dia nukil perkataan B kepada A. Maka tugas A jangan benarkan si C dan jangan menduga si B mengatakan demikian. Dan jangan cari-cari tahu tabung gak perlu kata Ibnus ini karena dia melakukan dosa. Dia sedang melomba jadi enggak perlu cek benar enggak si B ngomong begitu enggak perlu cek. Wa yanhahu wauqabbih lahu f'ahu. Dan hendaknya dia cegah. Eh si C kamu jangan begitu ini. Kamu namimah kamu melakukan perbuatan dosa besar kamu meng domba saya dengan si B. Harusnya si ngomong begituajiru. Dan hendaknya dia benci kepada si C kalau si C tidak berhenti mengadu domba dan hendaknya dia tidak rida kepada dirinya apa yang dilarang dari perbuatan namimah. Fanim al namamam fasiru namaman. Ya. Maka jangan pula kemudian dia ee melakukan namimah terhadap si C juga. sudah dia lupakan aja. Dia enggak perlu juga bilang ke B. B tadi C bilang begini sama saya. Aknya dia juga namam juga sama-sama namimah. Jadi apa yang dilakukan C? Dia ingkari dan tidak perlu dia benarkan berita dari yang dinukil si C dari si B. Dan dia tidak perlu cross check tabayun kepada si B. Enggak perlu. Dan dia tidak perlu melaporkan kepada si B bahwasanya si C beginiin kamu. Enggak perlu. Karena kalau dia laporan kepada si C nanti si B. Si B ribut sama si C. Maka dia terjatuh kepada apa yang dilarang. Ini perkataan Imam Ghazali untuk memutus mata rantai semua namimah. Mata rantai semua namimah. Tib annawawi rahimahullah mengomentari kata beliau, "Wah kulluhu idam yakun naqli maslahatun syariatun." Ya, ini semua sebagaimana perkataan al Imam Alghazali rahimahullah. Jika dalam nukilan tersebut tidak ada maslahat syariah. Wailla fahiya mustahabbatun wajibah. Tapi kalau ada maslahat syariah melaporkan kesalahan orang, maka ini dianjurkan atau diwajibkan. Kamsin annahu yuridu yaksanulman faarahu minhu. Seperti seorang tahu, dia tahu ada orang lain, si A, dia tahu si A, si A ingin mencelakakan si B. Dia tahu si A ingin mencelakkan si B. Maka dia datang kepada si B untuk menasihati. Hati-hati si A dan bukan untuk malu domba. Tapi dia memperingatkan, "Fahadar min hati-hati kamu jangan sampai dekat dengan si A. Si A demi Allah dia bilang tentang kamu begini, dia ingin buat kamu celaka." Maka hati-hati ya. Tujuan dia bukan untuk mengadu domba, tapi memberi peringatan kepada si B karena si A berbahaya. Ini tidak jadi masalah. Demikian kata Nawa rahimahullah taala, "Man akbar imama lahu wilayatun eh masalan fala mana minzalik atau fala munalik." Demikian juga kalau dia mau lapor kepada presiden, kepada penguasa ternyata menteri atau petugasnya tidak menjalan tugas dengan baik. Ini terkait dengan kemaslahatan. dilaporkan kepada atasan tidak jadi masalah karena negara harus berjalan dengan baik. Maka melaporkan bawahan yang tidak benar, wakil dari penguasa tersebut tidak benar, maka tidak jadi mas tidak dilarang karena demi kemaslahatan. Meskipun ini bentuknya melaporkan. Melaporkan. Tib. Eh kemudian ada faedah juga dari Ibnu Hajar. Beliau berkata, "Wulifa fil giba wamima." Para ulama bers tentang apa itu gibah dan apakah sama atau beda. Yang benar gibah dan mimah dua-duanya berbeda, tidak sama. Ada keuman, ada kekhususan dari sisi dari namimah ya ee di antara keistimewaannya dia menukil berita dalam rangka untuk mu domba. Al wajhil ifsad. M itu mengukul berita untuk ee mengadu domba ya, apakah di depan atau di belakang ya, apakah di depan atau belakang. Jadi tidak terlepas gibah atau tidak gibah. Adapun gibah adalah menyebutkan tanpa diketahui orang yang disebutkan dan dia tidak rida. Maka dari sini terlihat namimah itu bisa saja di belakang, bisa jadi depan, tetapi tujuannya adalah ee ifsad untuk mengalu domba. Ya. Adapun gibah adalah menyebutkan keburukan orang tidak di depannya. Ya, terkadang tidak bertujuan untuk malu domba. Sekedar untuk menceritakan keburukan orang maka itu sudah gibah. Dari sini ada kekhususan namimah dan ada kekhususan gibah yang dua-duanya adalah tercela dan dua-duanya adalah sebab azab kubur datang dalam riwayat namimah dan riwayat gibah. Jadi, namimah tidak disyaratkan harus gibah. Terkadang dia ngomong di depan, tapi dalam rangka untuk provokasi keduanya untuk bertengkar. Adapun gibah terkadang tidak tujuan untuk memprovokasi terjadi pertengkaran, tapi hanya sekedar menyebutkan keburukan di di belakang orang, tidak di depan orang tersebut. Dan terkadang perbuatan tersebut gibah plus namimah, sudah ngomong di belakang dan tujuan untuk mengal domba maka itu gibah plus namimah. Bab kita lanjutkan bab berikutnya, bab ke-51. Ee di sini tadi ya tadi saya ulangi. Jadi ketika ada seorang laporkan kepada Utsman dalam rangka jadi lapor kepada penguasa dalam rangka untuk merusak ya orang tidak apa-apa dilaporkan dengan tidak benar dalam rangka untuk menjatuhkan dalam rangka untuk merusak ini Qattar pengadu domba. Mentang-mentang dia dekat dengan penguasa, maka dia beri laporan, penguasa percaya sama dia atau dia punya pengacara lapor kemudian ini namanya meng domba dan merusak orang tersebut. Ini tidak boleh. Ini tidak tidak boleh. Maka disebut e maka Hudzaifah mengatakan samu Nabi sallallahu alaihi wasallam ya. Aku mendengar Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda laidul jannqat tidak masuk surga orang yang tukang domba. Bab berikutnya bab 51 babuillahi taala wajtanibu dan jauhilah perkataan dusta. Eh kemudian Imam Bukhari membawakan hadis Q Ahmad bin Yunus Q ibnu Abiin Maqburi Abi Hurahuahu anhu Nabiallahu alaihi wasallam ras wasam bersabda jahisaillahiatunahu siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengerjakannya konsekuensi dari kedustaan tersebut ya amal dengan amal dusta ada dusta bisa dalam bentuk perkataan ada dosa dalam bentuk perbuatan wal jahla dan melakukan hal yang bodoh ya kebodohan yaitu kemaksiatan falaisa lillahi hajatunada syarabahu maka tidak Allah tidak ada butuh kepadanya ee dia lapar dan haus ya Allah tidak butuh kepada lapar dan hausnya setelah itu Ahmad berkata, waqala Ahmad kata Ibnu Hajar maksudnya Ahmad dalam perawi ini yaitu Ahmad bin Yunus afham Maka ada seorang yang memahamkan aku tentang isnad dari hadis ini. Ini ditafsirkan dengan dua tafsir yang kata Ibnu Hajar yaitu ketika dia sedang meriwayatkan hadis dari gurunya yaitu Ibnu Abi Zi'bin atau Ibnu Abi Dib. Maka Ahmad ini Ahmad bin Yunus dia ada yang tidak ada ada yang dia kurang jelas. Maka ada teman yang hadir bersama dia menjelaskan dalam sebagian penjelasan terkait dengan isnadnya. ada yang mungkin dia kurang jelas maka dijelaskan oleh temannya untuk memperjelas karena mereka hati-hati dan ada yang mengatakan maksudnya dia kurang jelas matannya sehingga dalam sebagian riwayat yang kurang jelas kontennya sehingga kemudian diterangkan oleh temannya. Ini maksudnya di antara kehati-hatian para perawi hadis mereka jujur sehingga kalau mereka ini kan hadis ini amanah dari fulan an fulan an fulan anful. Kalau ada lafal yang mereka tidak paham mereka mengatakan saya tidak jelas. Kalau ada lafal yang dilupakan, mereka mengatakan, "Saya lupa." Kalau tadinya dia kurang jelas, kemudian ada yang menjelaskan, ya kasih tahu. Tadi ada yang menjelaskan saya sehingga saya ngerti. Karena mereka amanah dalam ee menyampaikan hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. ee tiyib di sini ee Rasulullah sallallahu alaihi wasallam atau Allah berfirman wajtanibu zur tinggalkanlah perkataan dusta. Dan di sini ee penjelasan yang sangat berat bahwasanya siapa yang dia berpuasa kemudian ternyata dia berdusta maka batal puasanya. Ya, di sini batal puasanya ada khilaf di kalangan para ulama. Pertama ada yang mengatakan puasanya benar-benar batal. Dan ini pendapat sebagian kecil ulama, puasanya benar-benar batal. Jadi kalau siapa yang sedang puasa kemudian dia bohong, dia bohong puasanya batal. Artinya dia harus ulang lagi, dia batal. Kemudian nanti bulan Syawal dia ee qada. Ini pendapat sebagian ulama. Namun sebagian besar ulama mengatakan bahwasanya batalnya maksudnya adalah pahalanya. Sehingga meskipun dia puasa, dia tidak perlu mengulangi lagi, tapi pahalanya batal. Dan ini menunjukkan dusta ketika sedang berpuasa sangat berbahaya. Dan dibawakan juga oleh para ulama terkait ini adalah gibah. Gibah. Bahkan sebagian ulama mengatakan, "Alghibatu mufattiratun lim." Bahwasanya gibah itu membatalkan puasa. Benar-benar batal. Jadi kalau ada seorang sedang berpuasa kemudian dia ceritain keburukan orang, "Itu si fulan gini gini gini, si fulanah ibu itu gini-gini." Berarti dia gibah menceritakan kejelekan ee orang lain, saudaranya. Maka puasanya batal. Ini pendapat Ibnu Hazam rahimahullahu taala. Puasanya batal. Namun jumhur ulama mengatakan tidak, bukan bukan puasanya yang batal, tapi pahalanya pahalanya yang batal. Dan ini menguatkan bahwasanya dusta ee dan juga gibah termasuk dosa besar karena membatalkan pahala yang sangat besar. Kita tahu bahwasanya pahala puas sangat besar. Karena ee Allah Subhanahu wa taala dalam hadis diskusi mengatakan, "Kullu amalin bini Adam lahu illam fainnahu li semua amal anak Adam untuk anak Adam sendiri kecuali puasa. Fainnahu li puasa untukku wa ana ajzi bihi dan aku yang akan beri ganjaran." Artinya Allah akan siapkan ganjaran yang besar. Tetapi ganjaran besar ini bisa batal ketika seorang berdusta atau ketika seorang bergibah. Maka ini mengingatkan kepada kita bahwasanya gibah dosa besar. Ini dikuatkan oleh ee Ibnu Mulaqin dalam taih. Maka seorang waspada ee tidaklah dia melakukan gibah kecuali memang darurat ada maslahat yang besar. Hukum asal gibah adalah haram. Apalagi Allah menyamakan gibah seperti memakan mayat, bangkai mayat saudara. Ya. Ya. Ayuhibbu ahadukum ya akihi maitan. Allah menyamakan gibah dengan seorang makan. Jadi ada temannya sudah mati kemudian tidak bisa berbuat apa-apa. Temannya sendiri, kawan-kawannya orang muslim kemudian dia ee robek-robek dagingnya kemudian dia dia makan. Itu seperti orang gibah. Dan dalam hadis juga rasul sahu al wasam mengatakan orang yang gibah pada hari kiamat kelak nabi melihat orang unasan lahumfar minuhinmuna bihi wujuhumurahum al wuj alurihim kata Nabi, "Aku melihat sebagian orang memiliki ee tangan yang j kuku-kukunya panjang terbuat dari ee apa namanya? logam yang terbuat dari tembaga atau dari ya dari tembaga kemudian mencakar wajah dan mencakar dada-dada mereka. Maka aku bertanya kepada Jibril, "Man haulai ya Jibril?" Siapa mereka? Kata Jibril, "Haulaadina yauna amwalan luhuman." Mereka adalah orang-orang yang memakan daging saudara-saudaranya itu. Mereka adalah orang yang bergibah. Bergibah. Oleh karenanya ee gibah hukum asalnya haram di antara ee yang menunjukkan dia dosa besar, dia bisa menggugurkan pahala puasa. Dia bisa menggugurkan pahala puasa. Maka seorang tidak boleh bergibah kecuali gibah-gibah yang diperbolehkan. Ada kemaslahatan yang di yang yang di yang dituju. Dan jika tidak ada kemaslahatan maka tidak tidak boleh. Tiib. Di sini ee Allah berfirman wajtanibu quzur. Jauhilah perkataan dusta. Ya, perkataan dusta harus di dijauhi. Tib. Berikutnya babu maqila fi dil wajhain. Ya, babu maqila fi dil wajhain. Bab tentang apa yang dikatakan terhadap orang yang memiliki dua wajah. Memiliki dua dua wajah. Yaitu ee pada ketemu sekelompok orang sikapnya begini, sekelompok yang sukapnya sikapnya lain. Itu dia punya dua sikap. Al Imam Bukhari berkata, "Qala hadasana Umar bin Hafs Q haddasana Abi Q hadana Amas Q haddasana Abu Sh Abi Hirat radhiallahu anhu q dari Abu Hurairah radhiallahu anhu beliau berkata q Nabi sallallahu alaihi wasallam wasallam bersabdau minarinasi yaumalqiamatiallah wajhain engkau akan dapati orang yang paling buruk pada hari kiamat kelak di sisi Allah adalah yang memiliki dua wajah alladzi yati haulai biwajhin wulai biwajin kalau datang ke sekelompok orang dia ngomongnya begini pada sekelompok yang lain. Orang lain ngomongnya ngomongnya begitu sehingga dikatakan dia punya wajah. Ketemu seorang wajahnya berbeda, ketemu yang lain wajahnya juga berbeda. Dan ini hukumannya sangat berat karena Rasul Sallahu Alaihi Wasallam mengatakan tajidu eh min syarrinas. Di antara orang yang paling buruk kedudukannya pada hari kiamat kelak adalah orang yang ee seperti ini. Ketemu dengan suatu kaum punya wajah tersendiri, kaum yang lain punya wajah yang yang lain. Al Imam ee Ibnu Hajar rahimahullah memberi ee tanggapan karena ada sebagian yang menafsirkan dengan umum. seakan-akan menafsirkan bahwasanya dua wajah itu seperti orang yang ri ya. Beliau berkata, ada yang menafsirkan hadis ini punya dua wajah adalah orang yang riah yaitu ketika ketemu orang dia mengesankan dia seorang yang khusyuk, tawadu, tenang sehingga mengesankan dia orang yang takut kepada Allah subhanahu wa taala sampai agar dia dimuliakan. Wahua fil batin bikilafialik. Namun kenyataannya tidak demikian. Hanya depan orang aja dia main drama seakan-akan orang khusyuk, orang zuhud, orang bertakwa tapi ketika di belakang dia tidak demikian. Seb menafsirkan inilah disebut dengan dua wajah. Di hadapan manusia seperti itu, di hadapan Allah tidak demikian. Dia punya wajah. Wajah di depan manusia kelihatannya orang saleh, orang khusyuk, zuhud, tapi ternyata di hadapan Allah dia tidak demikian. Ini pendapat. Namun dikritiki oleh Ibnu Hajar rahimahullah tidak dikatakan sebagai Zul wajha. Ini seorang riak jelas dan riak tercela. ee melakukan amal saleh untuk dipuji. Kenapa? Karena di akhir hadis ada tambahan Rasulullah bersabda tentang penafsiran pemilik dua wajah. Kata Nabi, "Alladzi yati haulai biwajhin. Yang datang ke sini dengan satu wajah dan yang lain dengan wajah yang lain." Ini dua wajah. Ee namun perlu diketahui bahwasanya seorang boleh bersandiwara demikian kalau ada maslahatnya. Dia boleh dua wajah kalau ada maslahat. Ya, seperti dalam rangka untuk mendamaikan orang yang bersengketa. Bahkan Rasul Sallahu Alaih Wasallam menganjurkan hal tersebut. Kata Rasul wasam, yahulib illa dusta tidak halal kecuali tiga perkara. Di antaranya alladzi yuslihu bainanas yang ee untuk mendamaikan dua orang. Jadi datang ke A dia ngomong baik-baik. Jadi datang ke B ngomong baik-baik sehingga A dan B yang tadinya bertengkar bisa damai lagi. Itu tidak tercela. Meskipun dia punya dua wajah tapi dalam rangka untuk mendamaikan. Dan ini tidak jadi masalah. Karena datang dalam hadis membolehkan hal tersebut. Bahkan dia berpahala. Karena dalam Islam ee damai itu sangat dianjurkan. Bahkan bohong untuk damai dibolehkan. Dan dalam Islam pertikaian itu sangat buruk. Bahkan jujur bisa menimbulkan pertikaian dilarang. Terkadang orang yang namimah itu jujur cerita, tapi bikin masalah karena tujuan dia merusak aja bukan untuk apa-apa. Tujuannya merusak. Jujur tapi bikin masalah ini dilarang. Bahkan bohong untuk mendamaikan, maka ini diperbolehkan bahkan dapat pahala. Jadi yang tidak diperbolehkan adalah ee yang e alladzi yati haulai biaditin haulai bihadin haulai yaitu datang ke sana dengan wajah, datang ke sini dengan wajah dalam rangka untuk mengadu domba, untuk cari muka di antara mereka berdua. Si A dan si B saat lagi bertengkar dia datang ke A, A ngomong B. Iya memang B begitu memang begitu. Tapi datang ke B, B ngomongin A ya A begitu. Sehingga dia punya dua kaki. Inilah pemilik dua wajah. Bukan dua wajah, dua kaki juga. Sehingga pasang dua kaki cari aman ikut mencela lawannya. Ini semua adalah pemilik dua wajah. Jat berbahaya dalam dunia politik. Pemilik dua wajah sangat berbahaya. Ee sangat berbahaya ancamannya. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Tajidu min syarinas." Engkau dapati orang paling buruk di hadapan Allah pada hari kiamat yang punya dua muka. Sana mukanya begini, ke sini mukanya begini. Depan masa seakan-akan bertengkar, di belakang berteman. Ngeri, ngeri. Maka saya ingatkan kepada kawan-kawan yang masuk dalam dunia politik, hati-hati jangan terjurumus dalam dua wajah. Dunia akan datang dan pergi. Kita dapat jabatan, dapat keuntungan. Setelah itu untuk meraih jabatan keuntungan kita punya dua wajah, bahkan tiga wajah, bahkan empat wajah. Kemudian kita binasa pada hari kiamat kelak. dikatakan termasuk orang yang paling buruk pada hari kiamat kelak. Tib terakhir yang kita bahas babu man akhbar shahibahu bima yuqolu fihi. Bab orang yang melaporkan kepada seorang tentang perkataan buruk tentang dirinya itu si A dikata-katain oleh si C atau gini-gini si B datang ke A si C ngomongin kamu. Ini kan seakan-akan namimah ngelapor perkataan kepada si A. Apa yang dikatakan C kepada A dilaporkan oleh si B. B C ngomongin kamu begini. Kan tentunya ini membuat A jengkel sama si si C. Apakah boleh hal ini? Seakan-akan dia namimah. Al Imam Bukhari berkata, qa haddasana Muhammad bin Yusuf q akhbar Sufyan anil a'mas an abi Wail an ibni Mas'udin radhiallahu anhu qama Rasulullah sahu al wasamismatan. Rasul sahu alaih wasallam pernah membagi gonimah. Faqala rajulun. Kemudian ada orang berkata minal ansar. Ada seorang dari kaum Anshar berkata, "Wallahi di belakang Nabi, tidak depan Nabi." Dia berkata, "Wallahi ma arada Muhammadun bi wajallah." Mungkin dia tidak dapat bagian. Dia bilang Muhammad ketika membagi gonima dengan cara seperti ini, dia tidak ikhlas, tidak mencari wajah Allah. Faataitu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Kata Ibnu Masud, "Aku pun datang kepada Nabi. Aku lapor, faakbartuhu." Aku lapor tadi ada seorang Anshari ngomongin kamu begini ya Rasulullah. Dia bilang, "Kau bagi engkau bagi ganonimah tidak ikhlas. waju maka wajah nabi berubah menunjukkan marah. Waqala rahimallahu Musa. Maka Nabi Musa menyabarkan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam menyebabarkan diri dengan berkata, "Semoga Allah merahmati Nabi Musa. Laq ud biak min fasar. Sungguh dia telah diganggu oleh kaumnya dengan yang lebih berat daripada namun dia ber bersabar." Tib di sini ee isyarat dari Al Imam Al Bukhari rahimahullahu taala bahwasanya terkadang melapor perkataan buruk yaitu melakukan namimah tapi namim namimah yang boleh bahkan namimah yang dianjurkan melapor bukan dalam rangka untuk merusak tapi dalam rangka agar waspada agar dalam rangka untuk ee apa namanya mengetahui kondisi lapangan ini enggak jadi masalah makanya Ibnu Mas'ud ketika melaporkan perkataan Anshari tadi kepada Nabi, Nabi tidak mencela Ibnu Mas'ud. Bahkan Nabi membenarkan, Nabi mengatakan sebelum saya, Nabi Musa pun digitukan dan beliau bersabar. Beliau diuji dengan lebih daripada ini. Beliau bersabar. Saya diuji tidak seberat Nabi Musa. Apakah Nabi Musa diuji? Ada beberapa pendapat. Namun di antara pendapat mengatakan Nabi Musa alaihi salam diuji ketika dia dituduh punya penyakit di sekitar kelaminnya. Ya. Dalam Sahih Bukhari disebutkan Nabi Musa Alaih Salam ee Bani Israil punya kebiasaan mereka mandi bareng-bareng. Mereka mandi bareng-bareng tidak berbusana. Dan Nabi Musa pemalu. Dia tidak mandi bersama mereka sehingga dia mandi di bagian sungai yang lain. Ya. Maka kemudian mereka mencela. Mereka bilang, "Musa tidak mandi." Ini murid-muridnya Musa berkata, "Musa tidak mandi sama kita karena dia punya kelainan di testisnya. Dia punya kelainan di tesisnya. Dan Nabi Musa biarin aja sampai akhirnya Allah ingin memuliakan Nabi Musa. Yaahullahu kata Allah yaina Musaahullahu wallahi waj. Wahai orang beriman, janganlah kalian eh seperti orang-orang yang mengganggu Nabi Musa Alaih Salam. Maka Allah membersihkan dia dari tuduhan tersebut. Akhirnya Allah mentakdirkan Nabi Musa suatu hari dia mandi di dia buka baju kemudian taruh bajunya di atas batu di tempat lain dari tempat murid-muridnya tiba-tiba batu tersebut bawa lari bajunya maka Nabi Musa pun dalam kondisi tidak berpakaian dia pun mengejar bajunya akhirnya dilihat oleh sekelompok lelaki ee bahwa Nabi Musa ternyata tidak punya penyakit apa-apa yang mereka tuduhkan. Ya, makanya dan kata Allah wakanaallahi wajiha dia bayangkan ada istilahnya ustaz kemudian dikatakan sama muridnya itu ustaz gini-gini sampai bicara tentang masalah kelamin itu kan hal yang buruk ya tapi Nabi Musa sabar fasobaro Nabi Musa sabar dan belum lagi ujian-ujian yang dihadapi oleh Nabi Musa dari tuduhan dari perkataan dari sikap ngeyelnya mereka tukang membangkangnya mereka maka Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam ketika diuji dengan dikatakan tidak tidak ikhlas bayangkan Rasulullah tidak ditu tuduh tidak ikhlas. Kalau kita dituduh tidak ikhlas jangan kita. Rasulullah pun pernah dituduh tidak tidak ikhlas. Tapi Rasulullah menyabarkan diri dengan mengatakan rahimallahu Musa semoga Allah merahmati Musa. Dia telah diuji dengan lebih berat daripada ini. Fasabaro. Ini intinya Imam Bukhari menyampaikan bahwasanya ada menukil berita, ada orang ngomongin kamu tapi bukan dalam rangka untuk meng domba, tapi dalam ada rangka kemaslahatan. seperti mengetahui kondisi audiens agar ustaz bisa merubah sikap atau mungkin ada kesalahan harus diperbaiki. Ini tidak jadi tidak jadi masalah bukan dalam rangka untuk mengadu domba. Wallah. Demikian saja ee para dokter, para demikian. Wabillahi taufik hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.