Aku dan Dosaku (Muhasabah) - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
X9CEm2ZTK-8 • 2026-02-14
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrul lahu ala taufiqihi wamtinani ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuiman lni wa asadu anna muhammadan abduhu waasul ridwih allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwani. Hadirin dan hadirat yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa taala. Pada kesempatan pagi hari ini kita membahas tema yang penting bagi kita semua, baik bagi para hadirin maupun bagi pembicara sendiri. Karena kita tahu tidak ada di antara kita yang luput dari dosa-dosa ya, tinggal banyak atau sedikit ya. Tetapi kalau dosa kita semua pasti berdosa. Bahkan mungkin bisa kita pastikan hampir setiap hari kita berdosa. Oleh karenanya diriwayatkan Alasan rahimahullah pernah berkata, "Kullu yaumin la yallahu fihi fahua aid." Setiap hari kalau kau tidak bermaksiat kepada Allah itu adalah hari raya bagimu. Ya. Karena siapa yang sehari tidak bermaksiat, dia pasti bahagia. Pasti. dia pasti bahagia. Kebahagiaan yang keluar dari hati yang Allah berikan sinar cahaya pada hatinya, maka dia sedang berhari raya sebenarnya. Tetapi siapakah orang tersebut yang hari-hari dia lewati tanpa tanpa dosa? Dan kalau kita renungkan orang-orang salihin ya, bagi mereka dosa adalah perkara yang kalau bahasa kita selalu menghantui. Kalau bahasa kita ya bahasa kita mungkin kurang pas, tapi selalu menjadi perhatian mereka meskipun mereka sudah bertobat. Oleh karenanya diriwayatkan dari Fudhail bin Iyad rahimahullah beliau berkata, "Waatahu minka wain afaut." Dia berkata, "Sungguh tetap malu kepada engkau ya Rabb meskipun engkau telah memaafkan." Karena kita tahu ada khilaf di kalangan para ulama tentang dosa. Jika seorang sudah bertobat darinya kemudian diampuni oleh Allah, apakah masih diperlihatkan oleh Allah atau tidak pada hari kiamat kelak? Maka dua pendapat di kalangan para ulama. Sebagian mengatakan tidak akan diperlihatkan lagi. Ini merupakan konsekuensi dari nama Allah al-Afu. Dan makna nama Allah al-Afu di antaranya dari afu. Afu artinya menghilangkan jejak. Sementara sebagian ulama berpendapat bahwasanya tetap diperlihatkan sebagai bentuk kasih sayang Allah agar semakin bersyukur Allah ingatkan dosa-dosa yang pernah di dilakukan meskipun telah diampuni. Akan tetapi orang-orang salihin mereka tidak melupakan dosa-dosa mereka. Mereka mengingat dosa-dosa mereka. Ya, oleh karenanya tadi Fudil berkata, "Way sauahu minka wain afaut." Ya, tetap malu, sungguh malu berhadapan dengan engkau ya Rabb meskipun engkau telah memaafkan. Karenanya kita baca tentang hadis syafa syafaatul uzma ketika orang-orang di hari kiamat kelak datang kepada Nabi Adam Alaih Salam untuk meminta syafaat dari beliau. Tetapi beliau menolak. Padahal manusia ketika itu telah menyebutkan keutamaan Nabi Adam. Mereka berkata, "Ya Adam, anta abul basyar khalaqakallahu biyadai wa asjada laka malaikat." Wahai Adam, engkau adalah nenek moyang manusia. Allah telah ciptakan engkau secara spesifik dengan kedua tangannya. Allah telah mengajarkan engkau segala sesuatu. Allah menyuruh malaikat untuk sujud kepadamu. Ala taro ma nahnu fih. Tidak kulihat bagaimana kondisi cucu-cucumu? Ya ala taro maq balag bina. Tidakkah kau lihat kesulitan yang kami hadapi? Maka Nabi Adam menolak. Kemudian dia mengatakan aku telah berdosa. Allah telah melarangku mendekati suatu pohon lalu aku melanggar. Padahal kita tahu bahwasanya Nabi Adam Alaihi Salam sudah bertobat dan tobatnya telah disebutkan dalam Al-Qur'an. Fataba alaih. Allah telah bertobat. Allah telah menerima tobatnya Nabi Adam. Dan Nabi Adam sering kita bermunajat kepada Allah dengan doa yang dipanjatkan oleh Nabi Adam. Rabbanaamna anfusana waillam tagfirlana watarhamna lanakunanna minal khasirin. Maka Allah ampuni Nabi Adam. Itu pun tidak membuat dia kemudian PD alaihi salam dan tetap dosa yang mungkin itu dosa kecil itu bukan dosa besar. bukan dosa besar ya, tapi itu tidak membuat beliau lupa dari dosa tersebut. Dan sebagaimana juga Nabi Musa Alaih Salam juga melakukan dosa kecil pernah membunuh seorang tanpa sengaja, maka orang-orang ketika minta syafaat dari Nabi Musa, dia mengatakan, "Inni qod qataltu nafsan lam umar biqotliha." Aku telah membunuh jiwa yang aku tidak diperintahkan untuk membunuhnya. Nafsi nafsi saya juga butuh syafaat. pergilah kepada nabi yang yang lain. Jadi maksud saya orang-orang salihin ya di antara yang mereka pikirkan kalau bahasa tadi saya kata menghantui mereka adalah dosa-dosa yang pernah mereka lakukan. dosa-dosa yang pernah mereka lakukan ya. Mereka ingat dosa-dosa mereka. Oleh karena di antara ee ibadah adalah kita ingat dosa kita. Kita ingat dosa yang pernah kita lakukan dan itu faedahnya banyak ya. Ya, kita tidak jadi sombong, kita jadi angkuh, kita mengingat kematian, kita mengingat akan hari kiamat, kita akan mengingat hari persidangan. Bagaimana kalau kita dihisab di hadapan Allah Subhanahu wa taala? Maka sungguh indah seorang duduk kemudian dia mengingat dosa-dosanya. Baik yang sudah dia bertobat darinya maupun yang dia belum bertobat darinya. Dengan mengingat dosa-dosa tersebut dia semakin takut kepada Allah Subhanahu wa taala. Tayib. Maka pada kesempatan kali ini kita akan sama-sama merenung ee ketika kita merenungkan tentang dosa-dosa kita atau kita ketika sedang berdosa hendaknya kita renungkan perkara-perkara berikut ya. Semoga membuat kita menjadi lebih baik dan membuat kita semakin semangat untuk kembali kepada Allah Subhanahu wa taala. Yang pertama ya tentunya ini perlu bagi kita semua karena sebagian orang dia pengin bertobat tetapi dia sudah tertawan oleh syahwatnya. Ya, dia sudah tertawan dia enggak bisa apa-apa. Sudah ditawan oleh syahwatnya, sudah tunduk oleh syahwatnya sehingga dia harus memenuhi keinginan syahwatnya. Marilah kita merenung bersama ya agar kita sama-sama bisa kembali kepada Allah Subhanahu wa taala. Yang pertama, ikhwan dan akhwat ya ee tentunya ketika saya bicara tentang dosa, dosa itu banyak macam ya. Dosa itu banyak macam. Ada dosa ketika seorang bersendirian, dia tidak bisa jaga pandangannya. Ada dosa seorang terjerat dengan riba, dia tidak bisa meninggalkan riba. Karena menurut dia di situlah mata pencahariannya. Ada orang terjerat dengan dosa gibah. Kalau tidak gibah dia rasanya tidak nyaman ya. Sehingga setiap hari dia harus bergibah ria. Ada yang terjalin dengan ee cinta yang tidak syari, sudah berkeluarga, masih hubungan dengan orang yang tidak syari. Kenapa? Dia tertawan oleh apa syahwatnya? Dan banyak dosa terkait dengan Allah Subhanahu wa taala, terkait dengan orang-orang sekitar kita. Ada yang mungkin durhaka kepada orang tuanya, ada yang cuek dengan anak-anaknya, ada yang tidak perhatian terhadap istrinya, ada yang membangkang suaminya. Dosa banyak. Dosa sangat banyak. Mungkin setiap kita ada yang terjebak dengan dosa sehingga dia sulit untuk meninggalkannya. Ya, sulit untuk meninggalkan. Apalagi dosa tersebut terkait dengan kemaslahatan duniawi sehingga mau ditinggalkan susah karena ada kemaslahatan apa? Duniawi. Ya. Mau ditinggalkan seakan-akan dunia akan pergi darinya. Maka dia pun bertahan dalam dosa tersebut karena ada kemaslahatan duniawi. Yang seperti ini banyak. Dan seperti ini banyak menjadikan maksiat sebagai sarana langsung mata pencaharian atau pendukung mata pencaharian. banyak sebut contohnya banyak sekali ya Tib. Maka beberapa perkara yang hendaknya kita renungkan. Yang pertama ikhwan ya ketika seorang bermaksiat sesungguhnya dia berada dalam pengawasan Allah Subhanahu wa taala. Allah sedang melihatnya dengan penilaian. Bukan sekedar melihat saja tapi melihatnya dengan penilaian. Setiap detik-detik yang dia lewati dilihat oleh Allah dengan pengawasan. yang tajam. Makanya di antara nama Allah arraqib kata Allah, "Innallaha alaikum raqiba." Sesungguhnya Allah itu maha mengawasi kalian. Dan raqib bukannya sekedar melihat, dia lebih spesifik dari melihat tetapi dia melihat dengan mengintai dengan tajam. Seperti seorang yang ketika berada di pinggir pantai kemudian dia menjaga di markap. Markap itu areal untuk mengawasi. Kalau ada kapal masuk, maka dia dengan dengan lampunya, lampu soratnya dia melihat dengan awas. Oleh karenanya ketika kita sedang meraksiat ya jangan sampai hilang dari diri kita bahwasanya Tuhan kita sedang melihat kita dengan mengawasi sambil menilai. Oleh karenanya, Nabi menasihati sahabat dengan berkata, "Ittaqillah haituma kunt. Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Karena di mana pun engkau berada, kau tidak akan luput dari pengawasan Allah Subhanahu wa taala. Makanya Rasulullah mengatakan, "Istahyu minallahi haqqal haya." Takutlah, malulah kepada Allah dengan rasa malu yang benar. Dalam sebagian riwayat dikatakan, "Sebagaimana engkau malu dengan seorang saleh dari kaummu." Kalau kita bermaksiat kemudian ada enggak usah orang saleh, anak kita lewat aja kita malu melakukan hal yang tidak pantas. Apalagi kalau ketahuan istri kita apalagi kalau ketahuan murid kita, apalagi kalau ketahuan guru kita. Kita malu. Makanya sebagian salaf mengatakan, "La tajalillaha ahwanirina ilaik." Janganlah kau menjadikan Allah adalah yang paling rendah dari orang-orang yang melihatmu. Artinya kalau kau sama orang malu harusnya sama Allah lebih malu. Tapi kenyataan yang terjadi ketika kita tahu tidak ada yang lihat dan kita tahu hanya Allah yang lihat, kita cuek. Ya, makanya sebagian salaf ketika menfikan firman Allah, maabbikal karim. Ya, apa yang buat kau terpedaya ya dengan Rabbmu yang maha baik ya, sehingga kau terus bermaksiat? Maka dia mengatakan, "Suturuka almurkhah." Ya, karena selama ini aku bermaksiat kau tutup aibku sehingga berani lagi. Ya Allah, Allah baik. Allah tutup. Tapi bukan berarti ketika Allah tutup Allah tidak lihat. Allah senantiasa mengawasi dan senantiasa menilai. Makanya Allah Subhanahu wa taala berfirman dalam surat Arraad ayat 10. Kata Allah, manhafili binhar. Kata Allah Subhanahu wa taala, "Sama saja kalian itu di sisi Allah sama saja. Apakah apakah seorang yang berbisik-bisik dengan ucapannya atau yang berbicara dengan terang-terangan? Waman hua mustagfimil atau orang yang sedang bersembunyi di malam hari. Wasaribum binahar atau terang-terangan di siang hari." Bagi Allah sama saja. Mau bermaksiat di depan umum, bermaksiat sendirian, bagi Allah, Allah melihat semuanya dan Allah menilai. Demikian juga dalam surah An-Nisa 108 Allah berfirman, "Yastakfuna minanas wala yastakfuna minallah." Mereka bersembunyi dari manusia tapi mereka tidak bakalan bisa bersembunyi dari Allah Subhanahu wa taala. Sebagian salaf menafsirkan, "Yastahyuna minannas wala yastahyuna minallah." Mereka malu kepada manusia, tapi mereka tidak malu kepada Allah Subhanahu wa taala. Dan ketika kita bermaksiat, kita tidak akan bisa lolos dari Allah, tidak akan lolos dari pengawasan Allah. Dan kapan Allah ingin melakukan sesuatu pada kita, maka akan terjadi. Makanya jin berkata dalam surat aljin, wa annaanna allan nujizallaha fil ardhi w nujizahu haraba. Dan sesungguhnya kami mengetahui. Para jin berkata, "Dan sungguhnya kami mengetahui bahwa kami sekali-kali tidak dapat melepaskan diri dari kekuasaan Allah dan sekali-sekali kami pun tidak dapat lari dari kekuasaan Allah." Itu jin yang diberi kekuatan oleh Allah. Mereka sadar mereka tidak bisa kabur dari pengawasan Allah. Tidak bisa kabur dari genggaman Allah Subhanahu wa taala. Apalagi kita manu manusia yang punya banyak keterbatasan. Maka ketika kita sedang bermaksiat, yakinlah kita sedang dilihat Allah. Maka tinggalkan, hadirkan sebentar saja. Ya Allah, Engkau melihatku dan saya yakin Engkau sedang melihatku. Ini kalau kita hadirkan sebelum bermaksiat, maka manfaatnya luar biasa. Tetapi kalau sedang bermaksiat kemudian kita hadirkan ini terkadang syahwat kita mendominasi sehingga tidak bermanfaat lagi mengingat hal tersebut. Ya, meskipun terkadang bermanfaat. Seperti diriwayatkan ada seorang lelaki mengajak berzina seorang wanita ketika mereka sudah di tengah gelap malam tidak ada yang melihat ya. Kemudian dia berkata, "Ma maana illal kawakib." Tidak ada yang bersama kita kecuali bintang-bintang. Sudah kita berzina aja, enggak ada orang lain. Yang ada cuma apa? Bintang-bintang. Bintang-bintang mau ngapain bintang-bintang? Maka sang wanita yang diajak berzina berkata, "Faina mukaukibuha." Kalau gitu mana yang ciptakan bintang-bintang tersebut? Bersama kita atau tidak? Maka kalau kita lagi maksiat ya, lagi mungkin duduk kemudian bersendirian, lagi nonton Korea, ya ingat-ingat aduh Allah lagi ngelihat nih seri berikutnya sudah satu seri aja jangan dua seri. Seri kedua Allah lihat lagi dan Allah lihat dengan awas. Allah lihat dengan awas dengan penilaian yang ketat. Malu enggak detik-detik kita lewati kemudian kita sedang bermaksiat? Ikhwan-ikhwan yang chattingan sama akhwat hati-hati lagi chatting Allah lihat enggak lagi chattingan apalagi lagi video call. Hati-hati ya. Umahat juga demikian berselancar di dunia maya kemudian lihat apa yang dilihat. Kontak dengan siapa yang dia kontakin. Ya sungguhnya Allah maha melihat. Bab ini yang pertama mungkin kita renungkan ketika kita sedang berdosa ya atau sedang melakukan dosa. Yang kedua, ketahuilah ketika engkau sedang berdosa atau kita sedang berdosa atau sebagian kita sedang berdosa kita karena kita semua pendosa. Ya, bahwasanya ketika kita berdosa, kita sedang bodoh. Sedang bodoh. Dan Allah mensifati semua orang yang berdosa adalah orang bodoh. orang bodoh. Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa taala surat Annisa ayat 17 kata Allah, "Innam tauatu alallahi lilladina ymalun bijahalatin tumma yatubuna min qorib faulaika yatubullahu alaihim wallahu aliman hakima." Sesungguhnya tobat itu Allah berikan kepada orang yang melakukan kemaksiatan bijahalatin karena kebodohan. Dengan kebodohan kemudian mereka bertobat sebelum gor-gor, sebelum nyawa di kerongkongan. Allah mensifati di sini kata Allah yalun bijahalah melakukan dosa dengan kebodohan ini dengan kebodohan ini adalah wasfun lazim wasfun lazim itu orang yang melakukan maksiat dia pasti bodoh. Kenapa dia bodoh? Di antara bentuk kebodohannya dia mendahulukan kenikmatan dunia dengan mengorbankan kenikmatan akhirat. Balirunal hayatad dunya wal akhiratu khairu wa abqo. Kalian mendahulukan kesenangan dunia padahal akhirat lebih baik dan lebih kekal. Bukankah ketika dia bermaksiat berarti bisa jadi ya dia terjerumus dalam neraka dan bisa jadi dia terluput dari kenikmatan surga yang sempurna dan abadi? Mungkin atau tidak mungkin? Maka berarti dia bodoh. Dia bodoh orang bodoh orang yang mengambil sedikit hanya sesaat kemudian mengorbankan yang banyak dan sempurna. Itu orang bodoh kita. Makanya kita semua ini kalau bermaksiat sedang bo bodoh lagi sebodoh-bodohnya. Antum tahu hidup dunia cuma sebentar. 60 70 tahun setiap detik yang kita lewati dalam ketaatan akan Allah ganti dengan dengan kenikmatan yang sempurna dan abadi. Sebagai contoh salat dua rakaat sebelum subuh. Siapa yang salat dua rakaat sebelum subuh khair minad dunya whakan diganti oleh Allah yang mungkin kita kerjakan 2 3 menit Allah akan ganti dengan kenikmatan yang lebih baik daran seisinya. Lah ini kita bukan tidak bukan hanya tidak salat dua rakaat sebelum subuh. Bahkan kita sedang bermaksiat karena ada kelezatan yang kita rasakan. Maka orang yang mendahulukan kelezatan yang sesaat sebentar yang kemudian ujungnya adalah penderitaan adalah orang bodoh dengan mengorbankan apa? Kenikmatan yang abadi. Ini bodoh yang pertama mendahulukan yang sedikit meninggalkan yang yang banyak. Bodoh yang kedua bahwasanya kenikmatan tersebut berujung pada kesengsaraan. Tidak ada maksiat kecuali ujungnya kesengsaraan. maksiat apapun. Maksiat apapun kalau seorang sebelum nonton film Korea, dia cek kebahagiaan dalam hatinya, dia cek aja, dia cek sebentar, dia rasa kemudian nonton film Korea 1 jam. Ketika nonton film Korea tersebut, mungkin dia senang, mungkin dia gembira, mungkin dia tertawa dengan saya enggak tahu, saya juga belum pernah nonton. Maksudnya dengan berbagai macam apa? Khawatir saya salah persepsi. Mungkin mungkin ada syahwatnya, ada senang-senangnya, ada ketawa-ketawanya. Mungkin dia bahagia 1 jam. Setelah coba cek hatinya pasti hatinya mengeras. Hatinya pasti mengeras. Ketika hatinya mengeras dan itu efeknya langsung tidak menunda, tidak tertunda langsung, maka saat itu kebahagiaan dia dicabut. Maka ngapain kita bodoh sekali? Kita berusaha menerjang kelezatan yang ujungnya keseng kesengsaraan. Betapa banyak orang tidak lagi hasrat sama istrinya. Dan ini nyata saya ketemu seorang cerita dari dokter. Dokter mengalami banyak pasien. Laki-laki datang tidak bisa lagi hasrat sama istrinya sehingga dia harus jajan terus. Harus jajan terus. Ngerti jajan enggak? Ngerti enggak? Ngerti. I ya. Ya. Jaj. Karena kalau dia tidak jajan, dia tidak bisa tidak bisa lezat. Coba ada Allah kasih sesuatu yang mubah, yang halal di depan dia, sudah dia tidak bisa rasakan lagi. Sehingga dia selalu dalam kesengsaraan. Habis berzina, dia mikir lagi zina berikutnya. Sengsara sebelum mendapatkan zina berikutnya. Tiib apa yang dia dapatkan? Kelezatan saat kemudian disusul dengan apa? Kesengsaraan. Berbeda ketika seorang berlezat-lezat dengan yang Allah halalkan. Setelah dia berhubungan dia bahagia, tambah cinta, tambah sayang, ngobrol lagi. Ada kebahagiaan yang Allah berikan karena dia berlezat dengan yang halal. Semua kelezatan maksiat ujungnya kesengsaraan. Itu sudah kaidah kesesatan apapun. Sehingga seorang sampai banyak datang ke dokter masalah, lihat istrinya sudah enggak ada hasad. Coba bayangkan antum tinggal di rumah sama perempuan yang antum lihat muak kira-kira jengkel atau menderita tidak menderita. Tapi inilah istri yang resmi yang status repis dia sementara ngelihat dia enggak pernah ada hasrat. Kenapa? Karena terlalu sering bermaksiat. Ada kawan pejabat telepon saya, "Ustaz, ini gimana ini? Anak buah saya cantik-cantik, Ustaz. Terus gimana, Ustaz? Saya tundukkan pandangan. Saya lihat cuma bisa ngiler tapi enggak bisa di enggak bisa dimakan. Ibarat kita lihat es krim lagi musim panas, es krim kita pengin tapi kita enggak bisa ngambil. Ternyata es krimnya dimakan sama orangor lain. Lebih menderita mana? Seorang musim panas tidak lihat air dingin atau lihat air dingin tapi tidak bisa diambil? Bingung ya? lebih sengsara ada kelezatan, kita enggak bisa cuma ngiler doang. Penasaran enggak bisa ngapa-apain. Itu sengsara. Itulah gambaran orang kalau mau mengubar pandangan, lihat suatu yang cantik, dia terus ketagihan tapi dia diliputi dengan kesengsaraan. Itu yang dilalami para pelaku maksiat. Oleh karenanya hanya orang bodoh yang bermaksiat dan kitalah orang-orang bodoh tersebut. Ketika bermaksiat kita itu hanya menimbulkan kesengsaraan. Gak usah jauh-jauh. Seorang yang sering buka medsos kemudian lihat perempuan, lihat perempuan, lihat perempuan, lihat perempuan buka aura terbuka ini hatinya dia ada kesenangan, kelezatan lihat berita. Coba cek hatinya jujur kok saya itu jadi keras. Hati keras. Kenapa? Banyak maksiat yang kita lihat di medsos. Maka orang bermaksat orang yang bodoh. Oleh karenanya Nabi Yusuf Alaih Salam ketika dia berdoa dia tidak pengin jadi orang bodoh. Ketika dia dirayu oleh ibu-ibu Mesir dia berkata, "Rabbi sijunu ahabbu ilai mimadunani ilai wafni kaidahun asbu ilaihin waakum minal jahilin." Kata Yusuf alaihi salam, "Ya Rabbku, aku lebih suka dipenjara daripada memenuhi rayuan para wanita tersebut. Kalau kau tidak palingkan aku dari rayuan mereka, asbu ilaihinna, maka aku akan condong kepada mereka. Waakum minal jahilin. Dan aku akan termasuk orang-orang yang jahil. Yaitu aku akan terjerumus dalam maksiat. Maka apapun Al-Qur'an yang antum hafal, betapun antum sering ikut pengajian, kita sering baca buku agama, bahkan kita panitia pengajian, bahkan kita ustaznya. Tapi kalau kita sedang maksiat, sesungguhnya kita sedang bo bodoh. Sepakat atau tidak? Nah, taruhlah ini saya sederhana. Antum punya istri sekarang cantik tapi relatif itu paham cantiknya khilaf. Paham? Ti ada perempuan cantik sepakat ijmak. Semua bilang dia cantik. Istri antum masih khilaf tetapi menurut antum cantik. Tapi kalau antum sering lihat yang ijma ini sepakat jadi jelek di mata antum ya. Baik. Bodoh enggak? Akhirnya ada yang halal tidak bisa antum nikmati. Sementara yang lezat tidak lebih tidak antum sengsara dua-duanya. Yang lezat tidak bisa antum nikmati, yang ada halal jadi enggak enak. Bodoh atau tidak bodoh. Goblok, bukan bodoh. Tapi coba antum rubah diri bertobat kepada Allah, tundukkan pandangan ini yang halal jadi nikmat. Allah beri kebahagiaan karena antum menempuh cara yang halal. Itu berlaku bagi laki maupun wanita. Wanita yang sering lihat yang macam-macam, kelezatan hilang, hasrat kepada suami hilang, hidup di dalam rumah tangga menjadi sengsara. Taat kepada suami dengan terpaksa, tidak ada rasa cinta, kasihan. Menyiksa diri sendiri bodoh atau tidak bodoh. Apalagi saya bilang, ibu-ibu yang suka nonton film Korea, suaminya jadi kelihatan donat gosong. Lihatnya cowok putih, bibir merah apa suami. Waduh, udah gini donat gosong pakai wijen. Repot. Siapa yang sengsara? Kita yang sengsara. Kita yang sengsara. Antum kira nonton film box office antum bahagia lezat? Iya. Setelah itu antum sengsara. Demi Allah antum sengsara. Demi Allah kita sengsara. Maka orang bermas itu goblok. Dan kitalah orang-orang goblok tersebut. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Bab ikhwan kita dosa kita. Apakah ada dosa bisa menggugurkan pahala? Ada. Sebagian dosa disepakati oleh ulama bisa menggugurkan pahala. Contohnya syirik bisa menggugurkan seluruh apa? Pahala. Contohnya misalnya ee alman wal menggugurkan pahala sedekah seperti Allah Subhanahu wa taala. Wahai orang yang beriman, janganlah kalian batalkan pahala-pahala sedekah kalian dengan mengungkit-ngungkit dan menyakiti." Berarti tadinya pahala sudah ada, sudah diterima oleh Allah, dicatat dalam amal timbangan kebajikan kita, tahu-tahu kita melakukan maksiat-maksiat tersebut berupa alman wal. Dan ini maksiat yang langsung berhubungan dengan sedekah tadi. Ketika melakukan alman wal, kita ungkit, "Eh, saya dulu yang bantu kamu kan." Nah, kita ungkit ini. Ungkit. kita menyakiti orang yang sudah kita bantu, maka ketika itu pahala kita hilang. Berarti ada maksiat yang bisa menggugurkan apa? Pahala. Ini ini ada yang disepakati, ada yang khilaf. Contoh lagi, Aisyah radhiallahu taala anha ketika dapat kabar ada seorang sahabat melakukan baiulinah yaitu riba, maka Aisyah peringatkan kata Aisyah, "Sampaikan kepada beliau"Auhibungguhnya dia telah melakukan riba dan dia telah menggugurkan dan membatalkan pahala jihadnya bersama Rasulullah kecuali dia bertobat." Bayangkan Aisyah sampaikan dengan tegas, riba. sekali riba. Apa pahala? Pahala luar biasa seorang berjihad bersama Nabi sampai para ulama dari sebagian salaf ketika ditanya, "Mana yang lebih afdal, Muawiyah atau Umar bin Abdul Aziz?" Umar bin Aziz seorang khalifah dari Bani Umayyah yang terkenal sangat adil, sangat saleh. Sehingga sebagian orang mengatakan dia lebih afdal daripada Muawiyah. Sebagian salaf membantah, saya lupa apakah Fudhail bin Iyad atau seorang salaf mengatakan Muawiyah lebih afdal karena Muawiyah sahabat. Debu yang masuk di hidungnya Muawiyah ketika berjihad lebih afdal daripada amalnya Umar bin Abdul Aziz. Sampai ada salah mengatakan demikian karena keutamaan berjihad bersama siapa? Nabi. Aisyah kemudian mengingatkan, "Kau riba. Bisa jadi ribamu membatalkan apa? Jihadmu bersama Rasulullah." Tapi kita gampang-gampangin riba. mendukung riba. Tib berarti ada dosa yang bisa menggugurkan pahala sebelumnya. Sampai dalam sebagian asar Imam Ahmad mengingatkan hati-hati mengumbar pandangan bisa jadi mengumbar pandangan pandangan yang haram menggugurkan sebagian pahalamu. Bab maka kalau kita mau bermasih, renungkan. Jangan-jangan kita maksiat ini ada pahala kita yang gu gugur, rugi. Tentu tidak semua ya, tapi ada. Kita enggak tahu yang mana. Ini head to head-nya dengan apa kita enggak tahu. Seperti man wal head to head-nya dengan sedekah. ini dilakukan sedekah gugur. Bab kalau memandang aurat wanita, apa yang gugur kita enggak tahu. Maka ketika seorang ingin bermaksiat, dia hadirkan makna ini. Jangan-jangan apa yang sudah saya kerjakan selama ini bisa hancur. Makanya saya ingat kisah tentang seorang syekh yang digoda. Saya sudah pernah ceritakan kisah ini. Ketika dia pergi ke luar negeri, kemudian dia di kamar masuk ke hotel, mungkin hotel umum, tiba-tiba ada yang ketuk pintu di malam hari, ternyata dia buka pintu perempuan yang sangat cantik jelita dengan pakaian yang sangat menggoda. Maka dia langsung kunci pintu. Sementara perempuan tersebut terus tutup ketuk pintu. Maka dia salat dan dia sujud. Saya itu cerita kepada kawan saya, kawan saya cerita kepada saya. Di antara doa dia bilang, "Ya Allah, apakah aku harus hancur malam ini? Sekian lama aku berdakwah, sekian lama aku apa? Harus hancur malam ini, harus gugur amalanku malam ini. Dia takut sambil dia berdoa, berdoa sampai ketukan itu selesai. Mungkin perempuannya ngantuk-ngantuk, ah tidur. Selamat dia. Selamat ya, Akhi. Laki-laki digoda perempuan. Kalau tidak tergoda berarti gak normal. Kalau tergoda normal, tapi jangan maju mundur. Syekh tadi wal hasil disebutkan teman saya cerita syekh itu dia cerita setelah dia selamat, dia bahagia ketika dia pulang dia di jedah dia turun dari pesawat tiba-tiba ada telepon dia angkat zaman dulu dia telepon tanya kenapa? Kata Syekh tahu-tahu ada yang bilang, "Syekh ee saya menawarkan putri saya buat antum." Allahu Akbar. Manak lillahallahuir minhu. Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah ganti dengan yang lebih baik. Tapi antum enggak ada begitu kan? Lagi digoda enggak ada gantinya. Maksudnya ini kisah jangan sampai kita melakukan sesuatu kemudian apa yang sudah kita kerjakan jadi apa? Gugur. Kita enggak bilang kita enggak tahu ini gaib. Dosa ini bisa menggugurkan apa. Wallahuam bab. Tetapi sebagian ahlusunah berpendapat bahwasanya sebagian dosa bisa menggugurkan sebagian apa? Paha pahala. Sebagian ada nasnya, sebagian mereka bilang intinya ini ada. Cuma dosa ini gugurkan apa? Wallahuam. Wallahualam. Mari kita renungkan apa yang sudah kita perjuangkan selama ini. Tadi riba bisa menggugurkan jihad. Bayangkan kata Aisyah radhiallahu taala anha. Tib. Berikutnya ikhwan yang perlu kita renungkan yang berapa ini? Empat. bahwasanya ketika kita bermaksiat dan kita berani menerjang suatu kemaksiatan, bisa jadi itu awal dari perubahan kehidupan kita menuju yang buruk. Ini bisa jadi dimulai dari seorang ujub misalnya sehingga dia berubah kehidupannya. Dari kesombongannya bisa berubah jadi kehidupannya berubah total. Ini titik awal nuktatut tahawul kata istilah orang yaitu titik perubahan drastis karena dia menerjang satu maksiat ternyata kemudian dia berubah sampai akhir hayatnya. Hati-hati. Oleh karenanya Allah berfirman dalam surah Al-An'am ayat 110 kata Allah wqallibuidatahum absahum kama yu bihi arahum. Maka kami palingkan hati dan penglihatan mereka. kami palingkan sebagaimana sebelumnya mereka pernah berpaling dari awal itu Allah sebutkan banyak orang kafir tidak bisa dapat hidayah ketika Rasulullah mendakwahkan kebenaran, mereka tahu secara logis ini benar tapi mereka paksa untuk menghindar akhirnya mereka dipalingkan selama-lamanya gara-gara titik satu titik penentu. Bisa jadi maksiat yang kita lakukan waliyadubillah titik penentu merubah seseorang ngeri. Bisa jadi dia gara-gara ada transaksi riba, dia sudah tahu riba, dia ragu-ragu, akhirnya dia terjang riba tersebut, akhirnya dia ketagihan riba sampai mati. Bisa jadi atau tidak? Bisa. Akhirnya ketika dia sudah ketagihan riba, dia cari dalil-dalil ustaz-ustaz yang membolehkan riba. Bukan cuma itu, akhirnya dia membahlul-bahlulkan orang yang keluar dari apa? Instansi ribawi. Bisa jadi bisa satu maksiat merubah kehidupan apa? Seseorang. Kalaupun tidak merubah secara total, menjadikan dia berlanjut pada maksiat-maksiat yang lain. Maka dikatakan bahwasanya maksiat tunadi bi akhawatiha. Setiap maksiat akan manggil teman-temannya yang lain. Dan itulah kebiasaan maksiat. Allah berfirman, "Falammaagu azagallahu qulubahum." Tatkala mereka menyimpang, Allah semakin simpangkan hati mereka. Maksiat menimbulkan maksiat yang lain. Hatinya sudah menyimpang, disimpangkan lagi. Kenapa Allah simpangkan lagi? Akibat dari maksiat yang pertama. Sampai Allah sebutkan sebagian sahabat ketika lari dari perang Uhud kata Allah ininawum wqahu anhum. Allah ceritakan sesungguhnya orang-orang yang kabur dari perang Uhud ketika perang sedang menyala ada isu Rasulullah meninggal sebagian bertahan sebagian kabur balik ke Madinah. Kenapa bisa kabur? Heran. Ada sebabnya. Allah inina minkum. Sesungguhnya orang-orang yang kabur dari di antara kalian ketika terjadi perang itu perang Uhud. Sungguhnya mereka digelincirkan oleh setan. Kenapa? Akibat sebagian dosa yang pernah mereka lakukan. Jadi orang kalau melakukan dosa-dosa dia semakin mudah dirgelincir oleh setan dan dosa ini akan memanggil teman-teman dosa yang lain. Ibarat kalau orang sudah misalnya suka ngelihat film, akhirnya dia mulai yang lain, mulai chattingan sama perempuan, mulai ini, mulai akhirnya zina, akhirnya apa? Berkembang berkembang. Tidak satu maksiat saja maksiat tersebut akan berkembang. Maka ketika kita bermaksiat, segera bertobat. Jangan-jangan saya mulai ini akhirnya saya berkembang yang lainnya. Berkembang yang lainnya. Dan itu banyak contohnya. Banyak contohnya. Saya kalau mau cerita gimana ya? Maksudnya antum jangan sepele saya tidak bicara. Kalau orang sudah kejebak maksiat, siapapun dia orang awam, penuntut ilmu, dai, bisa kejebak pada maksiat-maksiat beri berikutnya. Bisa. Maka karena kita pasti berdosa, maka kalau kita berdosa segera bertau bertobat. Jangan tunda-tunda. Jangan tunda tunda-tunda. Tayib. Jadi bisa jadi seorang terjerumus dalam maksiat-maksiat berikutnya karena dosa yang pertama apalagi kalau kita ada menggampangkan maka hati kita berpaling kemudian semakin dipa dipalingkan. Waliyadubillah. Resikonya bukan cuma itu, tapi resiko-resiko berikutnya. Tib. Berikutnya ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala. Ketika kita bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa taala, kita berani bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa taala, sering orang memandang bahwasanya gak ada dampaknya. Saya maksiat aman saja, jualan masih lancar, orang juga masih muliakan saya. Ee aman-aman saja. Secara ekonomi tidak ada berkurang. Justru customer semakin banyak gara-gara maksiat. Ya, buktinya saya buka pintu maksiat sedikit ternyata semakin laris. Sehingga banyak orang memandang dampak maksiat hanya dari sisi duniawi, dari sisi fisik, dari sisi ekonomi. Saya sehat-sehat saja, MCU juga kolesterol normal, aman-aman saja. Habis bermaksiat juga kolesterol normal. Tayib. Ibnu Qayyim menjelaskan bahwasanya justru dampak maksiat yang pertama adalah menyerang hati. Menyerang hati. Dan maksiat itu akan berdampak meskipun tidak langsung dia seperti racun yang masuk ke dalam tubuh sedikit demi sedikit ada saatnya dia meledak. Dampak maksiat tidak harus sekarang. Bahkan kalau sekarang pun mungkin kau tidak sadar karena dampak maksiat itu yang pertama dia serang adalah hati. Orang kalau maksiat hatinya terserang. Hatinya menjadi hitam. Semakin banyak maksiat semakin hitam. Dan ini langsung berdampak. Dia jadi malas beribadah, dia kurang khusyuk baca Quran. Ya, dia tidak terenyuh ketika mendengar nasihat-nasihat. Kenapa? Hatinya mati tapi matinya pelan-pelan, tidak langsung. Sehingga jangan antum lihat dampak maksiat hanya pada fisik. Saya aman-aman saja. Hati antum bermasalah. Hati antum ber bermasalah. Dan jika antum teruskan-teruskan suatu saat akan hancur antum. Entah yang hancur akidah antum. atau yang hancur adalah secara duniawi antum. Sampai diriwayatkan sebarang salaf mengatakan, "Man thabal hadis lihairillah mukir bihi." Siapa yang mencari ilmu hadis, mencari hadis, ilmu periwayatan karena ri maka dia akan dibuat makar oleh Allah subhanahu wa taala. Itu makar itu apa? Apa itu makna makar? Makar itu dia digiring kepada kebinasaan tanpa dia sadari seakan-akan natural. Padahal kebinasaan. Dan itu kita lihat dalam banyak kejadian dalam kehidupan ini. Ada orang yang misalnya zalim, ketika dia berbuat zalim, dia merasa Allah tidak hukum dia ketika itu. Mungkin Allah hukum dia 20 tahun lagi. Mulailah dia mengalami kesusahan. Tapi saking naturalnya sehingga dia tidak merasa itu akibat kezaliman yang dia lakukan. Itu Allah sedang berbuat makar kepada dia itu. Waliubillah mengerikan. Maka seorang harus peka dengan dosanya. Karena kalau dia tidak peka, maka dia bisa terkena dampaknya. Ya, meskipun waktu yang panjang, tapi dia akan kena. Manabal hadisirillah mukhi. Siapa yang mencari ilmu ri bukan karena Allah subhanahu wa taala, maka dia akan kena makar Allah cepat atau lambat. Tib. Dari situ coba kita renungkan hati kita. Kita dulu mungkin awal ngaji ketika semangat ngaji, kita kalau enggak salat berjamaah hati kita rasanya berat. Sedih enggak salat berjamaah. Sekarang enggak salat berjamaah sekali dua kali aman gak apa-apa. Biasalah Nabi aja ketiduran katanya. Biasa dulu kalau kita awal ngaji tundukan pandangan lihat cewek terbuka aurat mungkin kita merasa aduh dosa ini. Sudah lama ngaji malah terbiasa. Ini ini tidak terjadi sekarang. Ini dampak maksiat yang kita lakukan. Akumulasi yang mungkin tidak sadari ternyata efeknya ada. Efeknya ada sehingga kita biasa sampai kita melakukan maksiat hati kita tidak merasa tidak merasa sakit. Berarti hati kita sedang berpenyakit bermasalah sehingga kita tidak peka. Makanya Ibnu Qayyim dalam dunia berkata, "Wallahialimatun." Seandainya hati seseorang itu bersih, tentu dia akan tercabik-cabik ketika dia terhalang dari suatu kebaikan. Seorang ternyata misalnya tidak jadi melakukan tidak bangun malam ketidurunan dia sedih. Ada apa saya tidak salat malam? Kenapa saya beberapa hari terhalangi dia salat malam? Kenapa hari-hari lewat saya tidak buka Quran? Dia sedih. Tapi kalau sudah akumulasi enggak ada rasa apa-apa. Ah biasalah. Memang salat malam tiap hari kan enggak wajib. Ada aja dalilnya. Enggak salat subuh. Rasulullah juga dalam hadis ketiduran salat subuh. Iya. Rasulullah cuma sekali dua kali. Kau 1000 kali tidak salat subuh. Terus menyamakan dengan Nabi sallallahu alaihi wasallam sehingga jadi biasa. biasa kalau orang hatinya ada kesempatan dia berbakti sama orang tua tidak bisa dia menyesal kenapa saya tidak berbakti dia mau bersedekah enggak jadi dia sedih kenapa saya tidak jadi bersedekah sedih karena ada kesempatan untuk naik level di surga dia lewatkan kalau hati bersih seperti itu ya sehingga ada hal yang kebaikan yang terhalangi dia terhalangi darinya maka hatinya Artinya tercabik-cabik ini jika hati seorang apa? Bersih dan selamat. Dan di antara dampak hati tadi sudah saya sebutkan akibat maksiat ya terasa hambar ketika kita baca Quran, hadir pengajian, salat malam, kok enggak ada kebahagiaan seperti kita rasakan dahulu. Ini akumulasi. Hati-hati akumulasi. sampai kita tidak peka terhadap maksiat. Makanya saya bilang kawan-kawan yang di Makkah, saya bilang, "Ya Ikhwan, kalau ente dapat ada orang seperti Abu Jahal di Makkah, itu wajar." Kenapa? Di Makkah itu dia dilema kalau ingin di Makkah itu, kalau ingin memperbaiki hati, maka sangat cepat luar biasa. Karena engkau di Makkah, di Ka'bah, kota suci salat 100.000 kali lipat. Tapi kalau kau kurang ajar di Makkah, hatimu hitam juga cepat. Karena semua ulama sepakat bermaksiat di Makkah tidak sama bermaksiat di Jogja, di luar Mekah. Siapa yang ingin melakukan kezaliman di Mekah, kami siapkan dia azab yang pedih. Di Makkah orang baru niat buruk aja sudah dicatat dosa. Baru niat buruk, belum melakukan, belum aksi, belum eksekusi, belum aksi, sudah tercatat dosa. Gimana kalau aksi? Kemudian orang di Makkah nipu jemaah haji, zalimi jemaah haji, jual kambing kambingnya enggak ada. Jual kambing, ternyata kambingnya dijual lagi kepada warung. Jual kambing ternyata kecil seperti kucing. Ya, sampai ada jemaah tanya saya, "Ustadz, saya kemarin potong kambing tapi kecil sekali, Ustaz. Itu sebenarnya kambing atau kucing?" Ini nih pertanyaan saya enggak main-main. Dia mungkin bercanda, tapi dia bilang, "Kecil, Ustaz. Kayaknya tidak sah." Saya bilang, "Coba kau lihat kambing atau kucing itu." "Iya, Ustaz. Kecil sekali kayaknya." Kucing, Ustaz, jemah dibodohin. Saya ketemu jemajah, "Ustaz, saya disuruh potong tiga ekor kambing." Kenapa tiga ekor kambing? Orang jam haji cuma satu aja. Tiga, Ustaz. Katanya satu kambing haji, dua kambing korban, tiga kambing pelanggaran. Emang ibu melakukan pelanggaran? Enggak. Tapi katanya setiap orang pasti melanggar. Sama aja ibu. Ibu nyembelih belum melanggar. Kalau melanggar harus nyembelih lagi. Jadi dibohongin jemaah. Hati menjadi hitam cepat. Makanya orang-orang travel kalau suka nipu jemah haji di Makkah hatinya apa? Hitam. Sampai kita dengar ada sebagian bermaksiat berzina di hotel-hotel di Makkah Madinah. Kok bisa? Saya bilang bisa aja. Bisa aja. Kenapa? Karena maksiat di tanah haram. Akumulasi hitamnya cepat. Tidak seperti kita maksiat di Jogja, di Jakarta. Enggak. Jogja Jakarta itu apa? Makkah Madinah ini kota suci kok bermaksiat situ? Bret langsung cepat. sudah hitam hati bisa seperti Abu Jahal. Kita kalau dengar kok bisa di Makkah begitu? Bisa. Enggak usah heran. Karena ketika maksiat dilakukan, yang pertama diserang apa? Mati. Maka ini hati-hati akumulasi. Lihat kata Nabi sallallahu alaihi wasallam tentang orang berdusta ini maksiat dosa. Kata Rasul sahu alaihi wasallam, "Iyakum walib fainal yahdial fujur inalujah. Hati-hatilah dengan dusta. Yakum walib. Arti dengan dusta. Kenapa? Dusta mengantarkan kepada kefajiran kepada dosa-dosa dan kefajiran mengantarkan kepada neraka. Dan seorang senantiasa berdusta. Ini akumulasi. Dosa satu hitam, dosa dua hitam. Bahkan dia jago dusta. Jago dusta. Bahkan dia sengaja berdusta. Bukan dusta terpaksa aja. Bahkan yatahar itu dia benar-benar cari kesempatan untuk bisa berdusta. Kata Allah, kata Nabi, "Hatta yuktabaallahi kadzaban." Sampai distempel oleh Allah sebagai pendusta. Ketika sudah distempel oleh Allah sebagai pendusta, dia hilang kepekaan terhadap dosa. Sehingga dia dusta seperti ngomong biasa. Dusta seperti ngomong biasa. Saya pernah nasihati seorang, saya bilang, "Engkau dusta." Saya dusta di mana? Saya bilang, "Kau saking banyak dusta, kau lupa dustamu." Saya bilang, "Ini dusta dustamu ini." Saya bilang, "Saya sampai emosi." Karena dia suka berdusta. Karena saking berdusta sudah dusta, dia sudah cuek seakan-akan cuma minum air putih aja enggak ada masalah. Un munafik dia tidak pandang dosanya, dia kalau melakukan dosa seakan-akan seekor lalat lewat, dia cuma usir. Dan ada orang seperti biasa sekali. Ini contoh maksudnya sudah distempel oleh Allah. Maka hati-hati ikhwan, kalau kita bermaksiat tidak bertobat maka kepekaan terhadap maksiat akan hilang. Sehingga hati kita sudah hitam terakumulasi. Waliyadubillah. Kita mau begini mau begini kayaknya enggak ada masalah. Biasa-biasa aja. Sampai ada orang berdusta kemudian kawan bilang, "Ini ini luar biasa. Dia salah tapi seakan-akan tidak salah. Ini kalau bukan jujur atau pemain. Kalau jujur orang salah kemudian seperti tidak bersalah kan mungkin orang jujur benar-benar tidak ada dosanya atau pemain memang dia jago sehingga dia tidak peka lagi dengan namanya tidak takut mau dibilang tenang aja padahal dia berdus berdosa. Wadubillah. Maka hati-hati ikhwan maksudnya kalau kita melakukan dosa segera kita bertobat kepada Allah subhanahu wa taala bab. Tatkala kita bermaksiat yang perlu kita renungkan yang ke berapa sekarang? Keenam. Ingat kita akan dihisab waktu kita terbuang sia-sia. Karena maksiat itu butuh energi. Butuh energi, butuh duit, butuh waktu. Dan semua ini akan hilang sia-sia dan di akhirat akan menjadi malah petaka. Seorang mau berzina, dia butuh energi kumpulin duit. Dia mungkin hunting cewek di ini, telepon sana, telepon sini janji. Kemudian sembunyi-sembunyi agar istri tidak tahu. Kemudian ketemu deg-degan butuh energi, butuh waktu, sembunyi-sembunyi. Itu semua habis waktu. Dia nonton film Korea maksiat kan bukan satu seri sampai 30 seri. Episode baru lagi, judul baru lagi, nonton lagi berseri-seri waktu dia nonton film dewasa. Sehari kecanduan, sehari 1 jam, besok lagi, besok lagi, besok lagi 30 hari, 30 jam tidak terasa malaikat catat terus, tidak pernah berhenti. Ini semua akan dibongkar pada hari kiamat. Ya, dia duduk bergibah, duduk bergibah dengan kawan-kawannya setengah jam. Gibah lagi tiap hari. Tiap hari berapa waktu sudah dia lakukan. Dia makan riba tiap bulan dia terima uang riba, uang riba, uang riba sampai 12 tahun. Kamu kok tidak tobat? Nanti insyaallah saya tobat kalau pensiun. Itu namanya tobat. Terpaksa sudah pensiun. Tapi kalau ada tawaran lagi masuk lagi. Bertahun-tahun dia jalani maksiat. Dia narkoba kemudian dia terjebak kecanduan. Dan maksiat itu buat candu. Maksiat buat candu. Kata setan lauzayahum ard wahum ajmain. Setan sudah bersumpah. Iblis bersumpah di hadapan Allah dalam surat Alhijr aku akan menghiasi maksiat di atas muka bumi bagi anak-anak Adam. Kata sebagian ahli tafsir, yaitu kalau tidak dilakukan dia gelisah. Dia gelisah. Intinya menunjukkan maksiat itu memiliki sifat can candu. Makanya saya sering bilang kita ini manusia dihadapi dengan dua. Sama-sama bikin candu. Kebaikan bikin candu, maksiat juga bikin apa? Candu. Tinggal kamu pilih jadi candu candu pelit atau candu rajin bersedekah. Sama-sama kecanduan. Orang kalau suka bersedekah dia tidak bersedekah. Dia gelisah. Ini uang banyak mau ke mana? Harus saya keluarin. Sama kalau orang pelit, dia kecanduan pelit. Ngapain kasih dia? Saya capek-capek enak aja minta-minta sana kerja sendiri. Kecanduan pelit. Tinggal antum pilih mau jadi candu apa. Mau kecanduan baca Quran atau kecanduan nonton film? Masalahnya untuk bermaksiat butuh energi, butuh waktu yang panjang, butuh biaya, butuh kuota. I tidak. Ini semua dicatat oleh malaikat akan dibuka pada hari kiamat. K renungkan kembali. Setiap waktu yang kita lewati adalah nikmat yang akan Allah tanya. Di antara nikmat yang Allah tanya lan apa? Lan tazala qodama abdin ya hatta yusala arba qama abdin hatta yusala arba. Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser menuju surga atau neraka sampai ditanya tentang empat perkara. Di antaranya an umri fnah tentang umurnya ke mana dihabiskan. Umur maksudnya waktu. Sekali-sekali kita renungkan kalau kita lagi buka medsos, saya bakalan ditanya setengah jam saya nonton ini. Saya bisa enggak jawab Allah habiskan waktu nonton ini. Kalau bisa jawab lanjutkan. Kalau enggak bisa ganti. Kalau maksiat bisa jawab enggak? Enggak bisa. Enggak bisa. Kita saja suka olahraga, kita nonton acara olahraga berjam-jam. Kalau kita ditanya, "Yakin bisa jawab itu?" Padahal olahraga yang mungkin hukum asalnya mubah. Kita pun bingung jawabnya. Tapi kalau maksiat, gimana jawabnya? Maka seorang merenungkan. Apakah dia rida jika catat amal dibuka? Ternyata isinya berjam-jam bermaksiat kepada Allah subhanahu wa taala. Tib. Kemudian renungkan terakhir, umur kita semakin habis. Waktu kita semakin tubuh kita semakin dimakan oleh zaman, semakin rapuh, rambut semakin putih, pandangan semakin lemah, penyakit-penyakit mulai muncul, kekuatan tidak seperti dulu. Tiib berarti umur kita bakalan habis. Sekal kita habiskan buat maksiat. Sementara teman-teman kita umurnya dihabiskan untuk berketaatan. Sudah berapa level mereka naik tinggi? Semakin naik level, semakin level sudah ngaji semakin bagus, semakin takwa, semakin bahagia, semakin bahagia dengan keluarganya, semakin banyak sedekahnya, kita masih berkutat dalam maksiat. Sudah berapa kita rugi? Kalaupun kita bertobat, mungkin sudah 2 tahun kita maksiat, dia sudah 2 tahun entah sampai level ke mana. Rugi kalau kita persaingan tentang hari akhirat kalau kita tobat. Kalau kita enggak tobat, waliyadubillah. Jadi ini sekedar renungan bagi kita semua ketika kita bermaksiat. Dan di akhir pengajian ini saya ingin menyampaikan tentang ibadah yang agung adalah ibadah iktiraf bidambillah, yaitu mengakui dosa-dosa. Salah satu ibadah yang agung adalah ibadah mengakui dosa-dosa. Mengaku kepada Allah subhanahu wa taala. Allah memuji orang-orang yang mengaku dosa-dosa mereka. Ya, dalam Al-Qur'an dalam surat Attaubah 102 Allah mengatakan amalan asallahu alaihim inallah rahim. Dan ada sekelompok orang yang mereka mengakui dosa-dosa mereka. Mereka mencampurkan antara amal saleh dengan kemaksiatan. Mereka mengakui dosa-dosa mereka. Asallahu ayatuba alim. Semoga Allah ampuni dosa-dosa mereka. Innallaha gfur rahim. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang. Ada disebutkan seorang salaf yang bernama Al-Ahnaf bin Qais. Ketika dia ingat firman Allah, "Laq anzalnaikum kitabanikrukum." Sungguh kami telah turunkan kepada kalian suatu kitab itu Alquranikukum yang dalam Al-Qur'an ada penyebutan kalian. Ya, zahirnya seperti itu. Ada yang mengertikan, mengingatkan. Karena kalian disebut dalam Al-Qur'an maka dia langsung buka Al-Qur'an. Karena kita semua disebut dalam Al-Qur'an, saya bagian mana? Maka dia buka Al-Qur'an dari awal. Dia buka, dia baca. Ketika melewati ayat-ayat tentang orang-orang kafir, "Ah, ini bukan saya. Saya berlindung dari siksaan neraka jahanam. Saya berung dari sifat orang kafir." Ketika dia melewati orang-orang beriman, qada afal mukminun all. Ah, ini bukan saya terlalu jauh. Saya bukan seperti itu. Dia baca terus sampai pada surah at-Taubah ayat 102. Maka dia baca, "Waakaro bidunubihim khatu amalan shihan waak." Dan ada sekelompok manusia yang mereka mengakui dosa-dosa mereka. Mereka mencampurkan amal saleh dengan amal keburukan. Kata dia, "Itulah saya. Itulah saya." Maka tinggal kita mengakui dosa-dosa kita di hadapan Allah, maka Allah akan ampuni dosa-dosa dosa-dosa kita. Itu jalan yang sangat mudah. Kalau kita bicara di dunia, kita disidang oleh orang, ada salah kemudian hakim sidang kita. Kalau seorang itu atau terdakwa mengaku, itu cara paling ampuh. Dia mengaku seluruh kesalnya tidak perlu lagi datangkan saksi, tidak perlu lakukan bukti-bukti yang dia ngaku selesai. Tetapi di dunia orang tidak mau ngaku karena dia tahu kalau dia ngaku dia akan habis. Dia akan ditangkap, mungkin dibunuh akan macam-macam akan diambil hartanya sehingga orang tidak mau ngaku sehingga hakim butuh mendatangkan bukti-bukti. Tapi kalau kita ngaku depan Allah, justru sebaliknya kita ngaku dosa-dosa kita, maka kita akan selamat. Nanti kita enggak perlu malu. Kalau ngaku di depan hakim kita malu. Tapi kalau ngaku depan Allah adalah ibadah. Justru pintu keselamatan. Dan sebagian orang mereka mengakui dosa-dosa mereka. Jangan sampai kita tidak mengakui dosa, akhirnya baru mengaku di hari kiamat kelak yang di mana sudah tidak bermanfaat. Allah Subhanahu wa taala menyebutkan tentang orang-orang kafir yang mereka baru mengaku di hari kiamat kelak. Dalam surah Ghafir ayat 11 kata Allah, mereka berkata, "Faarfna bidzunubina fahal khuj minil." Ya Allah, kami ngakui dosa-dosa kami. Faarfna bidunubina. Kami ngaku sekarang ya Allah fahal khuruj minil. Adakah cara untuk bisa keluar dari neraka? Jawabannya enggak ada. Percuma mengaku di hari kiamat kelak. Demikian dalam surat almulk ayat 11 Allah berfirman, bidunubihim fasuhq lihabisir. Mereka pun mengakui dosa-dosa mereka maka celaka bagi mereka masuk dalam neraka jahanam. Maka ini ibadah yang agung yang harus sering kita lakukan. Ngaku dosa-dosa kita. Oleh karenanya ada zikir-zikir yang menginginkan kita untuk mengaku dosa. Kita ketika baca zikir tersebut nanya kita berhenti untuk kita ngaku dosa-dosa kita. Seperti zikir pagi petang. Sayidul istigfar apa? Allahumma antabi la ilahailla anta khalaqtani wa abduk wa ala ahdika waika. Auzubik minar mau. Ini di antara pengakuan. Aku berlindung dari dampak keburukan yang sudah aku lakukan. Berarti ngaku maksiat enggak? Ngaku maksiat enggak? Dan kita tahu pasti ada dampaknya. Maka kita berlindung. Ya Allah, saya pasti saya maksiat. Makanya minar mau aku berlindung dari keburukan apa yang telah aku lakukan. itu dosa-dosa. Kemudian setelah itu, abuaka binikmatika alku mengakui meskipun aku seperti ini, aku akui seluruh nikmat kau terus turunkan kepadaku. Kemudian pengakuan berikutnya, abuu bidzambi. Dalam sebagian riwayat abu laka bidzambi. Dan aku mengakui dosa-duk abuu bidambi. Maknanya ya Allah ada dosa-dosa yang aku pikul belum bisa aku tinggalkan. Aku mengakui hal tersebut. Tolonglah hambamu ini. Itu di antara doa dalam sil istigfar. Kita renungkan ini makna azubika min syarat itu pengakuan. Kemudian abuu bidzambi yaitu aku mengaku aku datang bertemu dengan engkau dengan memikul apa? Dosa-dosa. Ini salah satu zikir yang situ ada iktiraf. Di antaranya juga dalam doa eh dalam doa istiftah wajah wajah winamin aal muslimin. Kemudian Allahumma antal maliku la ilahailla anta anta rbi wa ana abduk doamtu nafsi waftu bidambirunubi jamian innahu la yagfirunuba ant wahdini akqi la yahdi anah allahumma inni laka waaik wasarisa ilaik inaka waikab ini doa istif panjang banget ya sudah hafal belum belum yang hafal yang mana ini doa ish panjang dalam Sahih Muslim dari kalau enggak salah Ali bin Abi Thalib kita ulangi doanya kepanjangannya tapi di antaranya Rasulullah dalam doa itu mengatakan Allahumma anbi wa abdukamtu nafsi. Aku telah berbuat dosa terhadap dirikuambi dan aku mengakui dosa-dosaku. Jadi iktaraf saya mengaku dosa dosa-dosa di antara kalau kita baca doa tersebut hendaknya seorang merenungkan di antara ibadah yang agung adalah mengakui dosa-dosa. Mengakui dosa-dosa. Oleh karenanya itu yang dilakukan oleh para nabi. Mereka mengakui dosa-dosa mereka. Seperti Nabi Adam ketika bertobat, dia mengatakan apa? Rabbana anfusana. Ya Rabb kami, kami telah menzalim diri kami. Ya waillam tagfirlana watarhamna lanakunanna minal khasirin. Kalau kau tidak merahmati kami dan mengampuni kami, kami termasuk orang yang merugi. Apa kata Nabi Yunus Alaihi Salam ketika dalam perut ikan paus? La ilahailla anta subhanaka inni kuntu minalimin. Ngaku. Maka di antara ibadah yang agung altiraf bidzunub. Seorang dudu
Resume
Categories