Aku dan Dosaku (Muhasabah) - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
X9CEm2ZTK-8 • 2026-02-14
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsani
wasyukrul lahu ala taufiqihi wamtinani
ashadu alla ilahaillallah wahdahu la
syarikalahuiman
lni wa asadu anna muhammadan abduhu
waasul ridwih allahumma sholli alaihi wa
ala alihi wa ashabihi wa ikhwani.
Hadirin dan hadirat yang dirahmati oleh
Allah subhanahu wa taala.
Pada kesempatan pagi hari ini kita
membahas
tema yang penting bagi kita semua, baik
bagi para hadirin maupun bagi pembicara
sendiri. Karena kita tahu
tidak ada di antara kita yang luput dari
dosa-dosa ya, tinggal banyak atau
sedikit ya.
Tetapi kalau dosa kita semua pasti
berdosa.
Bahkan mungkin bisa kita pastikan hampir
setiap hari kita berdosa.
Oleh karenanya diriwayatkan Alasan
rahimahullah pernah berkata,
"Kullu yaumin la yallahu fihi fahua
aid." Setiap hari kalau kau tidak
bermaksiat kepada Allah itu adalah hari
raya bagimu. Ya.
Karena siapa yang sehari tidak
bermaksiat, dia pasti bahagia. Pasti.
dia pasti bahagia. Kebahagiaan yang
keluar dari hati yang Allah berikan
sinar cahaya pada hatinya, maka dia
sedang berhari raya sebenarnya. Tetapi
siapakah orang tersebut yang hari-hari
dia lewati tanpa tanpa dosa?
Dan kalau kita renungkan orang-orang
salihin ya, bagi mereka
dosa adalah perkara yang kalau bahasa
kita selalu menghantui. Kalau bahasa
kita ya bahasa kita mungkin kurang pas,
tapi selalu menjadi
perhatian mereka meskipun mereka sudah
bertobat. Oleh karenanya diriwayatkan
dari Fudhail bin Iyad rahimahullah
beliau berkata, "Waatahu minka wain
afaut." Dia berkata, "Sungguh tetap malu
kepada engkau ya Rabb meskipun engkau
telah memaafkan."
Karena kita tahu ada khilaf di kalangan
para ulama tentang
dosa. Jika seorang sudah bertobat
darinya kemudian diampuni oleh Allah,
apakah masih diperlihatkan oleh Allah
atau tidak pada hari kiamat kelak? Maka
dua pendapat di kalangan para ulama.
Sebagian mengatakan tidak akan
diperlihatkan lagi. Ini merupakan
konsekuensi dari nama Allah al-Afu. Dan
makna nama Allah al-Afu di antaranya
dari afu. Afu artinya menghilangkan
jejak.
Sementara sebagian ulama berpendapat
bahwasanya
tetap diperlihatkan sebagai bentuk kasih
sayang Allah agar semakin bersyukur
Allah ingatkan dosa-dosa yang pernah di
dilakukan meskipun telah diampuni.
Akan tetapi orang-orang salihin mereka
tidak melupakan
dosa-dosa mereka. Mereka mengingat
dosa-dosa mereka. Ya,
oleh karenanya tadi Fudil berkata, "Way
sauahu minka wain afaut." Ya, tetap
malu, sungguh malu berhadapan dengan
engkau ya Rabb meskipun engkau telah
memaafkan. Karenanya kita baca tentang
hadis syafa syafaatul uzma ketika
orang-orang di hari kiamat kelak datang
kepada Nabi Adam Alaih Salam
untuk meminta syafaat dari beliau.
Tetapi beliau menolak. Padahal manusia
ketika itu telah menyebutkan keutamaan
Nabi Adam. Mereka berkata, "Ya Adam,
anta abul basyar khalaqakallahu biyadai
wa asjada laka malaikat." Wahai Adam,
engkau adalah nenek moyang manusia.
Allah telah ciptakan engkau secara
spesifik dengan kedua tangannya. Allah
telah mengajarkan engkau segala sesuatu.
Allah menyuruh malaikat untuk sujud
kepadamu. Ala taro ma nahnu fih. Tidak
kulihat bagaimana kondisi cucu-cucumu?
Ya ala taro maq balag bina. Tidakkah kau
lihat kesulitan yang kami hadapi? Maka
Nabi Adam menolak. Kemudian dia
mengatakan aku telah berdosa. Allah
telah melarangku mendekati suatu pohon
lalu aku melanggar. Padahal kita tahu
bahwasanya Nabi Adam Alaihi Salam sudah
bertobat dan tobatnya telah disebutkan
dalam Al-Qur'an. Fataba alaih. Allah
telah bertobat. Allah telah menerima
tobatnya Nabi Adam. Dan Nabi Adam sering
kita
bermunajat kepada Allah dengan doa yang
dipanjatkan oleh Nabi Adam. Rabbanaamna
anfusana waillam tagfirlana watarhamna
lanakunanna minal khasirin.
Maka Allah ampuni Nabi Adam. Itu pun
tidak membuat dia kemudian PD alaihi
salam dan tetap dosa yang mungkin itu
dosa kecil itu bukan dosa besar.
bukan dosa besar ya, tapi itu tidak
membuat beliau lupa dari dosa tersebut.
Dan sebagaimana juga Nabi Musa Alaih
Salam juga melakukan dosa kecil pernah
membunuh seorang tanpa sengaja, maka
orang-orang ketika minta syafaat dari
Nabi Musa, dia mengatakan, "Inni qod
qataltu nafsan lam umar biqotliha." Aku
telah membunuh jiwa yang aku tidak
diperintahkan untuk membunuhnya. Nafsi
nafsi saya juga butuh syafaat.
pergilah kepada nabi yang yang lain.
Jadi maksud saya
orang-orang salihin ya di antara yang
mereka pikirkan kalau bahasa tadi saya
kata menghantui mereka adalah dosa-dosa
yang pernah mereka lakukan. dosa-dosa
yang pernah mereka lakukan ya. Mereka
ingat dosa-dosa mereka. Oleh karena di
antara
ee ibadah adalah kita ingat dosa kita.
Kita ingat dosa yang pernah kita lakukan
dan itu faedahnya banyak ya. Ya, kita
tidak jadi sombong, kita jadi angkuh,
kita mengingat kematian, kita mengingat
akan hari kiamat, kita akan mengingat
hari persidangan. Bagaimana kalau kita
dihisab di hadapan Allah Subhanahu wa
taala? Maka sungguh indah seorang duduk
kemudian dia mengingat dosa-dosanya.
Baik yang sudah dia bertobat darinya
maupun yang dia belum bertobat darinya.
Dengan mengingat dosa-dosa tersebut dia
semakin takut kepada Allah Subhanahu wa
taala.
Tayib. Maka pada kesempatan kali ini
kita akan sama-sama merenung
ee ketika kita
merenungkan tentang dosa-dosa kita atau
kita ketika sedang berdosa
hendaknya kita renungkan perkara-perkara
berikut ya.
Semoga membuat kita menjadi lebih baik
dan membuat kita semakin semangat untuk
kembali kepada Allah Subhanahu wa taala.
Yang pertama ya
tentunya ini perlu bagi kita semua
karena sebagian orang dia pengin
bertobat tetapi dia sudah tertawan oleh
syahwatnya. Ya, dia sudah tertawan dia
enggak bisa apa-apa. Sudah ditawan oleh
syahwatnya, sudah tunduk oleh syahwatnya
sehingga dia harus memenuhi keinginan
syahwatnya.
Marilah kita merenung bersama ya agar
kita sama-sama bisa kembali kepada Allah
Subhanahu wa taala. Yang pertama, ikhwan
dan akhwat
ya
ee tentunya ketika saya bicara tentang
dosa, dosa itu banyak macam ya. Dosa itu
banyak macam. Ada dosa ketika seorang
bersendirian, dia tidak bisa jaga
pandangannya.
Ada dosa seorang terjerat dengan riba,
dia tidak bisa meninggalkan riba. Karena
menurut dia di situlah mata
pencahariannya.
Ada orang terjerat dengan dosa gibah.
Kalau tidak gibah dia rasanya tidak
nyaman ya. Sehingga setiap hari dia
harus bergibah ria.
Ada yang terjalin dengan
ee cinta yang tidak syari, sudah
berkeluarga, masih hubungan dengan
orang yang tidak syari. Kenapa? Dia
tertawan oleh apa syahwatnya?
Dan banyak dosa terkait dengan Allah
Subhanahu wa taala, terkait dengan
orang-orang sekitar kita. Ada yang
mungkin durhaka kepada orang tuanya, ada
yang cuek dengan anak-anaknya, ada yang
tidak perhatian terhadap istrinya, ada
yang membangkang suaminya. Dosa banyak.
Dosa sangat banyak. Mungkin setiap kita
ada yang terjebak dengan dosa sehingga
dia sulit untuk meninggalkannya. Ya,
sulit untuk meninggalkan. Apalagi dosa
tersebut terkait dengan kemaslahatan
duniawi
sehingga mau ditinggalkan susah karena
ada kemaslahatan apa? Duniawi. Ya. Mau
ditinggalkan seakan-akan dunia akan
pergi darinya. Maka dia pun bertahan
dalam dosa tersebut karena ada
kemaslahatan duniawi. Yang seperti ini
banyak. Dan seperti ini banyak
menjadikan maksiat sebagai sarana
langsung mata pencaharian atau
pendukung mata pencaharian. banyak sebut
contohnya banyak sekali ya
Tib. Maka beberapa perkara yang
hendaknya kita renungkan. Yang pertama
ikhwan ya
ketika seorang bermaksiat sesungguhnya
dia berada dalam pengawasan Allah
Subhanahu wa taala. Allah sedang
melihatnya dengan penilaian. Bukan
sekedar melihat saja tapi melihatnya
dengan penilaian. Setiap detik-detik
yang dia lewati dilihat oleh Allah
dengan pengawasan. yang tajam. Makanya
di antara nama Allah arraqib kata Allah,
"Innallaha alaikum raqiba." Sesungguhnya
Allah itu maha mengawasi kalian. Dan
raqib bukannya sekedar melihat, dia
lebih spesifik dari melihat tetapi dia
melihat dengan mengintai dengan tajam.
Seperti seorang yang ketika berada di
pinggir pantai kemudian dia menjaga di
markap. Markap itu areal untuk
mengawasi. Kalau ada kapal masuk, maka
dia dengan dengan
lampunya, lampu soratnya dia melihat
dengan awas.
Oleh karenanya ketika kita sedang
meraksiat ya jangan sampai
hilang dari diri kita bahwasanya Tuhan
kita sedang melihat kita dengan
mengawasi sambil menilai.
Oleh karenanya, Nabi menasihati sahabat
dengan berkata, "Ittaqillah haituma
kunt.
Bertakwalah kepada Allah di mana pun
engkau berada. Karena di mana pun engkau
berada, kau tidak akan luput dari
pengawasan Allah Subhanahu wa taala.
Makanya Rasulullah mengatakan, "Istahyu
minallahi haqqal haya." Takutlah,
malulah kepada Allah dengan rasa malu
yang benar. Dalam sebagian riwayat
dikatakan, "Sebagaimana engkau malu
dengan seorang saleh dari kaummu."
Kalau kita bermaksiat kemudian ada
enggak usah orang saleh, anak kita lewat
aja kita malu
melakukan hal yang tidak pantas. Apalagi
kalau ketahuan istri kita
apalagi kalau ketahuan murid kita,
apalagi kalau ketahuan guru kita. Kita
malu.
Makanya sebagian salaf mengatakan, "La
tajalillaha ahwanirina ilaik." Janganlah
kau menjadikan Allah adalah yang paling
rendah dari orang-orang yang melihatmu.
Artinya kalau kau sama orang malu
harusnya sama Allah lebih malu. Tapi
kenyataan yang terjadi ketika
kita tahu tidak ada yang lihat dan kita
tahu hanya Allah yang lihat, kita cuek.
Ya,
makanya
sebagian salaf
ketika menfikan firman Allah, maabbikal
karim. Ya, apa yang buat kau terpedaya
ya dengan Rabbmu yang maha baik ya,
sehingga kau terus bermaksiat?
Maka dia mengatakan, "Suturuka
almurkhah."
Ya, karena selama ini aku bermaksiat kau
tutup aibku sehingga berani lagi. Ya
Allah, Allah baik.
Allah tutup. Tapi bukan berarti ketika
Allah tutup Allah tidak lihat. Allah
senantiasa mengawasi dan senantiasa
menilai. Makanya Allah Subhanahu wa
taala berfirman dalam surat Arraad ayat
10. Kata Allah, manhafili
binhar. Kata Allah Subhanahu wa taala,
"Sama saja kalian itu di sisi Allah sama
saja. Apakah apakah seorang yang
berbisik-bisik dengan ucapannya atau
yang berbicara dengan terang-terangan?
Waman hua mustagfimil atau orang yang
sedang bersembunyi di malam hari.
Wasaribum binahar atau terang-terangan
di siang hari." Bagi Allah sama saja.
Mau bermaksiat di depan umum, bermaksiat
sendirian, bagi Allah, Allah melihat
semuanya dan Allah menilai.
Demikian juga dalam surah An-Nisa 108
Allah berfirman, "Yastakfuna minanas
wala yastakfuna minallah."
Mereka bersembunyi dari manusia tapi
mereka tidak bakalan bisa bersembunyi
dari Allah Subhanahu wa taala.
Sebagian salaf menafsirkan, "Yastahyuna
minannas wala yastahyuna minallah."
Mereka malu kepada manusia, tapi mereka
tidak malu kepada Allah Subhanahu wa
taala. Dan ketika kita bermaksiat, kita
tidak akan bisa lolos dari Allah, tidak
akan lolos dari pengawasan Allah. Dan
kapan Allah ingin melakukan sesuatu pada
kita, maka akan terjadi.
Makanya jin berkata dalam surat aljin,
wa annaanna allan nujizallaha fil ardhi
w nujizahu haraba. Dan sesungguhnya kami
mengetahui. Para jin berkata, "Dan
sungguhnya kami mengetahui bahwa kami
sekali-kali tidak dapat melepaskan diri
dari kekuasaan Allah
dan sekali-sekali kami pun tidak dapat
lari dari kekuasaan Allah." Itu jin yang
diberi kekuatan oleh Allah. Mereka sadar
mereka tidak bisa kabur dari pengawasan
Allah. Tidak bisa kabur dari genggaman
Allah Subhanahu wa taala. Apalagi kita
manu manusia yang punya banyak
keterbatasan. Maka ketika kita sedang
bermaksiat, yakinlah
kita sedang dilihat Allah. Maka
tinggalkan, hadirkan sebentar saja. Ya
Allah, Engkau melihatku dan saya yakin
Engkau sedang melihatku.
Ini kalau kita hadirkan
sebelum bermaksiat, maka manfaatnya luar
biasa. Tetapi kalau sedang bermaksiat
kemudian kita hadirkan ini terkadang
syahwat kita mendominasi
sehingga tidak bermanfaat lagi
mengingat hal tersebut. Ya,
meskipun terkadang bermanfaat. Seperti
diriwayatkan ada seorang lelaki mengajak
berzina seorang wanita ketika mereka
sudah di tengah gelap malam tidak ada
yang melihat ya. Kemudian dia berkata,
"Ma maana illal kawakib." Tidak ada yang
bersama kita kecuali bintang-bintang.
Sudah kita berzina aja, enggak ada orang
lain. Yang ada cuma apa?
Bintang-bintang. Bintang-bintang mau
ngapain bintang-bintang? Maka sang
wanita yang diajak berzina berkata,
"Faina mukaukibuha." Kalau gitu mana
yang ciptakan bintang-bintang tersebut?
Bersama kita atau tidak?
Maka
kalau kita lagi maksiat ya, lagi mungkin
duduk kemudian bersendirian,
lagi nonton Korea, ya ingat-ingat aduh
Allah lagi ngelihat nih
seri berikutnya sudah satu seri aja
jangan dua seri. Seri kedua Allah lihat
lagi dan Allah lihat dengan awas.
Allah lihat dengan awas dengan penilaian
yang ketat.
Malu enggak detik-detik kita lewati
kemudian kita sedang bermaksiat?
Ikhwan-ikhwan yang chattingan sama
akhwat hati-hati lagi chatting Allah
lihat enggak lagi chattingan apalagi
lagi video call.
Hati-hati ya. Umahat juga demikian
berselancar di dunia maya kemudian lihat
apa yang dilihat. Kontak dengan siapa
yang dia kontakin. Ya sungguhnya Allah
maha melihat.
Bab ini yang pertama mungkin kita
renungkan ketika kita sedang berdosa ya
atau sedang melakukan dosa. Yang kedua,
ketahuilah ketika engkau sedang berdosa
atau kita sedang berdosa atau sebagian
kita sedang berdosa kita karena kita
semua pendosa. Ya, bahwasanya ketika
kita berdosa, kita sedang bodoh. Sedang
bodoh. Dan Allah mensifati semua orang
yang berdosa adalah orang bodoh. orang
bodoh. Sebagaimana dalam firman Allah
Subhanahu wa taala surat Annisa ayat 17
kata Allah, "Innam tauatu alallahi
lilladina ymalun bijahalatin tumma
yatubuna min qorib faulaika yatubullahu
alaihim wallahu aliman hakima."
Sesungguhnya tobat itu Allah berikan
kepada orang yang melakukan kemaksiatan
bijahalatin karena kebodohan. Dengan
kebodohan kemudian mereka bertobat
sebelum gor-gor, sebelum nyawa di
kerongkongan. Allah mensifati di sini
kata Allah yalun bijahalah melakukan
dosa dengan kebodohan ini dengan
kebodohan ini adalah wasfun lazim wasfun
lazim itu orang yang melakukan maksiat
dia pasti bodoh. Kenapa dia bodoh? Di
antara bentuk kebodohannya
dia mendahulukan kenikmatan dunia dengan
mengorbankan kenikmatan akhirat.
Balirunal hayatad dunya wal akhiratu
khairu wa abqo. Kalian mendahulukan
kesenangan dunia padahal akhirat lebih
baik dan lebih kekal. Bukankah ketika
dia bermaksiat berarti bisa jadi ya dia
terjerumus dalam neraka dan bisa jadi
dia terluput dari kenikmatan surga yang
sempurna dan abadi? Mungkin atau tidak
mungkin? Maka berarti dia bodoh.
Dia bodoh
orang bodoh orang yang mengambil sedikit
hanya sesaat kemudian mengorbankan yang
banyak dan sempurna. Itu orang bodoh
kita. Makanya kita semua ini kalau
bermaksiat sedang bo bodoh lagi
sebodoh-bodohnya. Antum tahu hidup dunia
cuma sebentar. 60 70 tahun setiap detik
yang kita lewati dalam ketaatan akan
Allah ganti dengan dengan kenikmatan
yang sempurna dan abadi. Sebagai contoh
salat dua rakaat sebelum subuh. Siapa
yang salat dua rakaat sebelum subuh
khair minad dunya whakan diganti oleh
Allah yang mungkin kita kerjakan 2 3
menit Allah akan ganti dengan kenikmatan
yang lebih baik daran seisinya. Lah ini
kita bukan tidak bukan hanya tidak salat
dua rakaat sebelum subuh. Bahkan kita
sedang bermaksiat karena ada kelezatan
yang kita rasakan. Maka orang yang
mendahulukan kelezatan yang sesaat
sebentar yang kemudian ujungnya adalah
penderitaan
adalah orang bodoh dengan mengorbankan
apa? Kenikmatan yang abadi. Ini bodoh
yang pertama
mendahulukan yang sedikit meninggalkan
yang yang banyak. Bodoh yang kedua
bahwasanya kenikmatan tersebut berujung
pada kesengsaraan. Tidak ada maksiat
kecuali ujungnya kesengsaraan. maksiat
apapun. Maksiat apapun
kalau seorang sebelum nonton film Korea,
dia cek kebahagiaan dalam hatinya, dia
cek aja, dia cek sebentar, dia rasa
kemudian nonton film Korea 1 jam. Ketika
nonton film Korea tersebut, mungkin dia
senang, mungkin dia gembira, mungkin dia
tertawa dengan saya enggak tahu, saya
juga belum pernah nonton. Maksudnya
dengan berbagai macam apa? Khawatir saya
salah persepsi.
Mungkin mungkin ada syahwatnya, ada
senang-senangnya, ada ketawa-ketawanya.
Mungkin dia bahagia 1 jam. Setelah coba
cek hatinya pasti hatinya mengeras.
Hatinya pasti mengeras. Ketika hatinya
mengeras dan itu efeknya langsung tidak
menunda, tidak tertunda langsung, maka
saat itu kebahagiaan dia dicabut.
Maka ngapain kita
bodoh sekali? Kita berusaha menerjang
kelezatan yang ujungnya keseng
kesengsaraan.
Betapa banyak orang tidak lagi hasrat
sama istrinya. Dan ini nyata saya ketemu
seorang cerita dari dokter. Dokter
mengalami banyak pasien. Laki-laki
datang tidak bisa lagi hasrat sama
istrinya sehingga dia harus jajan terus.
Harus jajan terus.
Ngerti jajan enggak?
Ngerti enggak? Ngerti.
I ya. Ya. Jaj. Karena kalau dia tidak
jajan, dia tidak bisa tidak bisa lezat.
Coba ada Allah kasih sesuatu yang mubah,
yang halal di depan dia, sudah dia tidak
bisa rasakan lagi. Sehingga dia selalu
dalam kesengsaraan. Habis berzina, dia
mikir lagi zina berikutnya. Sengsara
sebelum mendapatkan zina berikutnya.
Tiib apa yang dia dapatkan? Kelezatan
saat kemudian disusul dengan apa?
Kesengsaraan. Berbeda ketika seorang
berlezat-lezat dengan yang Allah
halalkan. Setelah dia berhubungan dia
bahagia, tambah cinta, tambah sayang,
ngobrol lagi. Ada kebahagiaan yang Allah
berikan karena dia berlezat dengan yang
halal. Semua kelezatan maksiat ujungnya
kesengsaraan. Itu sudah kaidah kesesatan
apapun.
Sehingga seorang sampai banyak datang ke
dokter masalah, lihat istrinya sudah
enggak ada hasad. Coba bayangkan antum
tinggal di rumah sama perempuan yang
antum lihat muak kira-kira jengkel atau
menderita tidak menderita. Tapi inilah
istri yang resmi yang status repis dia
sementara ngelihat dia enggak pernah ada
hasrat.
Kenapa? Karena terlalu sering
bermaksiat.
Ada kawan pejabat telepon saya, "Ustaz,
ini gimana ini? Anak buah saya
cantik-cantik, Ustaz. Terus gimana,
Ustaz? Saya tundukkan pandangan. Saya
lihat cuma bisa ngiler tapi enggak bisa
di enggak bisa dimakan.
Ibarat kita lihat es krim lagi musim
panas, es krim kita pengin tapi kita
enggak bisa ngambil. Ternyata es krimnya
dimakan sama orangor lain. Lebih
menderita mana? Seorang musim panas
tidak lihat air dingin atau lihat air
dingin tapi tidak bisa diambil?
Bingung ya?
lebih sengsara ada kelezatan, kita
enggak bisa cuma ngiler doang. Penasaran
enggak bisa ngapa-apain.
Itu sengsara. Itulah gambaran orang
kalau mau mengubar pandangan, lihat
suatu yang cantik, dia terus ketagihan
tapi dia diliputi dengan kesengsaraan.
Itu yang dilalami para pelaku maksiat.
Oleh karenanya hanya orang bodoh yang
bermaksiat dan kitalah orang-orang bodoh
tersebut.
Ketika bermaksiat kita itu hanya
menimbulkan kesengsaraan.
Gak usah jauh-jauh. Seorang yang sering
buka medsos kemudian lihat perempuan,
lihat perempuan, lihat perempuan, lihat
perempuan buka aura terbuka ini hatinya
dia ada kesenangan, kelezatan lihat
berita. Coba cek hatinya jujur kok saya
itu jadi keras.
Hati keras. Kenapa? Banyak maksiat yang
kita lihat di medsos. Maka orang
bermaksat orang yang bodoh. Oleh
karenanya Nabi Yusuf Alaih Salam ketika
dia berdoa dia tidak pengin jadi orang
bodoh. Ketika dia dirayu oleh ibu-ibu
Mesir dia berkata, "Rabbi sijunu ahabbu
ilai mimadunani ilai wafni
kaidahun asbu ilaihin waakum minal
jahilin." Kata Yusuf alaihi salam, "Ya
Rabbku, aku lebih suka dipenjara
daripada memenuhi rayuan para wanita
tersebut. Kalau kau tidak palingkan aku
dari rayuan mereka, asbu ilaihinna, maka
aku akan condong kepada mereka. Waakum
minal jahilin. Dan aku akan termasuk
orang-orang yang jahil. Yaitu aku akan
terjerumus dalam maksiat.
Maka
apapun
Al-Qur'an yang antum hafal,
betapun antum sering ikut pengajian,
kita sering baca buku agama, bahkan kita
panitia pengajian, bahkan kita ustaznya.
Tapi kalau kita sedang maksiat,
sesungguhnya kita sedang bo bodoh.
Sepakat atau tidak?
Nah, taruhlah ini saya sederhana. Antum
punya istri sekarang cantik tapi relatif
itu paham
cantiknya khilaf. Paham? Ti ada
perempuan cantik sepakat ijmak. Semua
bilang dia cantik. Istri antum masih
khilaf
tetapi menurut antum cantik. Tapi kalau
antum sering lihat yang ijma
ini sepakat jadi jelek di mata antum ya.
Baik. Bodoh enggak? Akhirnya ada yang
halal tidak bisa antum nikmati.
Sementara yang lezat tidak lebih tidak
antum sengsara dua-duanya. Yang lezat
tidak bisa antum nikmati, yang ada halal
jadi enggak enak. Bodoh atau tidak
bodoh. Goblok, bukan bodoh.
Tapi coba antum rubah diri bertobat
kepada Allah, tundukkan pandangan ini
yang halal jadi nikmat.
Allah beri kebahagiaan karena antum
menempuh cara yang halal. Itu berlaku
bagi laki maupun wanita. Wanita yang
sering lihat yang macam-macam, kelezatan
hilang, hasrat kepada suami hilang,
hidup di dalam rumah tangga menjadi
sengsara.
Taat kepada suami dengan terpaksa, tidak
ada rasa cinta,
kasihan.
Menyiksa diri sendiri bodoh atau tidak
bodoh.
Apalagi saya bilang, ibu-ibu yang suka
nonton film Korea, suaminya jadi
kelihatan donat gosong.
Lihatnya cowok putih, bibir merah apa
suami. Waduh,
udah gini donat gosong pakai wijen.
Repot. Siapa yang sengsara? Kita yang
sengsara. Kita yang sengsara. Antum kira
nonton film box office antum bahagia
lezat? Iya. Setelah itu antum sengsara.
Demi Allah antum sengsara. Demi Allah
kita sengsara. Maka orang bermas itu
goblok. Dan kitalah orang-orang goblok
tersebut. Semoga Allah mengampuni
dosa-dosa kita.
Bab
ikhwan kita dosa kita.
Apakah ada dosa bisa menggugurkan
pahala?
Ada. Sebagian dosa disepakati oleh ulama
bisa menggugurkan pahala. Contohnya
syirik bisa menggugurkan seluruh apa?
Pahala.
Contohnya misalnya
ee
alman wal menggugurkan pahala sedekah
seperti Allah Subhanahu wa taala.
Wahai orang yang beriman, janganlah
kalian batalkan pahala-pahala sedekah
kalian dengan mengungkit-ngungkit dan
menyakiti." Berarti tadinya pahala sudah
ada, sudah diterima oleh Allah, dicatat
dalam amal timbangan kebajikan kita,
tahu-tahu kita melakukan maksiat-maksiat
tersebut berupa alman wal. Dan ini
maksiat yang langsung berhubungan dengan
sedekah tadi.
Ketika melakukan alman wal, kita ungkit,
"Eh, saya dulu yang bantu kamu kan."
Nah, kita ungkit ini. Ungkit.
kita menyakiti orang yang sudah kita
bantu, maka ketika itu pahala kita
hilang. Berarti ada maksiat yang bisa
menggugurkan apa? Pahala. Ini ini ada
yang disepakati, ada yang khilaf. Contoh
lagi, Aisyah radhiallahu taala anha
ketika dapat kabar ada seorang sahabat
melakukan baiulinah yaitu riba, maka
Aisyah peringatkan kata Aisyah,
"Sampaikan kepada beliau"Auhibungguhnya
dia telah melakukan riba dan dia telah
menggugurkan dan membatalkan pahala
jihadnya bersama Rasulullah kecuali dia
bertobat." Bayangkan Aisyah
sampaikan dengan tegas,
riba. sekali riba. Apa pahala? Pahala
luar biasa seorang berjihad bersama Nabi
sampai para ulama dari sebagian salaf
ketika ditanya, "Mana yang lebih afdal,
Muawiyah atau Umar bin Abdul Aziz?" Umar
bin Aziz seorang khalifah dari Bani
Umayyah yang terkenal sangat adil,
sangat saleh. Sehingga sebagian orang
mengatakan dia lebih afdal daripada
Muawiyah. Sebagian salaf membantah, saya
lupa apakah Fudhail bin Iyad atau
seorang salaf mengatakan Muawiyah lebih
afdal karena Muawiyah sahabat. Debu yang
masuk di hidungnya Muawiyah ketika
berjihad lebih afdal daripada amalnya
Umar bin Abdul Aziz. Sampai ada salah
mengatakan demikian karena keutamaan
berjihad bersama siapa? Nabi. Aisyah
kemudian mengingatkan, "Kau riba. Bisa
jadi ribamu membatalkan apa? Jihadmu
bersama Rasulullah." Tapi kita
gampang-gampangin riba.
mendukung riba.
Tib berarti ada dosa yang bisa
menggugurkan pahala sebelumnya. Sampai
dalam sebagian asar Imam Ahmad
mengingatkan hati-hati mengumbar
pandangan bisa jadi mengumbar pandangan
pandangan yang haram menggugurkan
sebagian pahalamu.
Bab maka kalau kita mau bermasih,
renungkan. Jangan-jangan kita maksiat
ini ada pahala kita yang gu gugur,
rugi. Tentu tidak semua ya, tapi ada.
Kita enggak tahu yang mana. Ini head to
head-nya dengan apa kita enggak tahu.
Seperti man wal head to head-nya dengan
sedekah. ini dilakukan sedekah gugur.
Bab kalau memandang aurat wanita, apa
yang gugur kita enggak tahu. Maka
ketika seorang ingin bermaksiat, dia
hadirkan makna ini.
Jangan-jangan apa yang sudah saya
kerjakan selama ini bisa hancur.
Makanya saya ingat kisah tentang seorang
syekh yang digoda. Saya sudah pernah
ceritakan kisah ini. Ketika dia pergi ke
luar negeri, kemudian dia di kamar masuk
ke hotel, mungkin hotel umum, tiba-tiba
ada yang ketuk pintu di malam hari,
ternyata dia buka pintu perempuan yang
sangat cantik jelita dengan pakaian yang
sangat menggoda.
Maka dia langsung kunci pintu. Sementara
perempuan tersebut terus tutup ketuk
pintu. Maka dia salat dan dia sujud.
Saya itu cerita kepada kawan saya, kawan
saya cerita kepada saya. Di antara doa
dia bilang, "Ya Allah, apakah aku harus
hancur malam ini? Sekian lama aku
berdakwah, sekian lama aku apa? Harus
hancur malam ini, harus gugur amalanku
malam ini. Dia takut sambil dia berdoa,
berdoa sampai ketukan itu selesai.
Mungkin perempuannya ngantuk-ngantuk, ah
tidur.
Selamat
dia. Selamat ya, Akhi. Laki-laki digoda
perempuan. Kalau tidak tergoda berarti
gak normal.
Kalau tergoda normal, tapi jangan maju
mundur.
Syekh tadi wal hasil disebutkan teman
saya cerita syekh itu dia cerita setelah
dia selamat, dia bahagia ketika dia
pulang dia di jedah dia turun dari
pesawat tiba-tiba ada telepon dia angkat
zaman dulu dia telepon tanya kenapa?
Kata Syekh tahu-tahu ada yang bilang,
"Syekh ee saya menawarkan putri saya
buat antum." Allahu Akbar. Manak
lillahallahuir
minhu. Siapa yang meninggalkan sesuatu
karena Allah, Allah ganti dengan yang
lebih baik. Tapi antum enggak ada begitu
kan?
Lagi digoda
enggak ada gantinya.
Maksudnya ini kisah jangan sampai kita
melakukan sesuatu kemudian apa yang
sudah kita kerjakan jadi apa? Gugur.
Kita enggak bilang kita enggak tahu ini
gaib. Dosa ini bisa menggugurkan apa.
Wallahuam bab. Tetapi sebagian ahlusunah
berpendapat bahwasanya sebagian dosa
bisa menggugurkan sebagian apa? Paha
pahala. Sebagian ada nasnya, sebagian
mereka bilang intinya ini ada. Cuma dosa
ini gugurkan apa? Wallahuam.
Wallahualam. Mari kita renungkan apa
yang sudah kita perjuangkan selama ini.
Tadi riba bisa menggugurkan jihad.
Bayangkan kata Aisyah radhiallahu taala
anha.
Tib.
Berikutnya ikhwan yang perlu kita
renungkan yang berapa ini?
Empat.
bahwasanya
ketika kita bermaksiat dan kita berani
menerjang suatu kemaksiatan,
bisa jadi itu awal dari perubahan
kehidupan kita menuju yang buruk. Ini
bisa jadi
dimulai dari seorang ujub misalnya
sehingga dia berubah kehidupannya. Dari
kesombongannya bisa berubah jadi
kehidupannya berubah total. Ini titik
awal nuktatut tahawul kata istilah orang
yaitu titik perubahan drastis
karena dia menerjang satu maksiat
ternyata kemudian dia berubah sampai
akhir hayatnya. Hati-hati.
Oleh karenanya Allah berfirman dalam
surah Al-An'am ayat 110 kata Allah
wqallibuidatahum
absahum kama yu bihi arahum.
Maka kami palingkan hati dan penglihatan
mereka. kami palingkan sebagaimana
sebelumnya mereka pernah berpaling dari
awal itu Allah sebutkan banyak orang
kafir tidak bisa dapat hidayah ketika
Rasulullah mendakwahkan kebenaran,
mereka tahu secara logis ini benar tapi
mereka paksa untuk menghindar akhirnya
mereka dipalingkan selama-lamanya
gara-gara titik satu titik
penentu.
Bisa jadi maksiat yang kita lakukan
waliyadubillah
titik penentu merubah seseorang
ngeri. Bisa jadi dia gara-gara ada
transaksi riba, dia sudah tahu riba, dia
ragu-ragu, akhirnya dia terjang riba
tersebut, akhirnya dia ketagihan riba
sampai mati. Bisa jadi atau tidak? Bisa.
Akhirnya ketika dia sudah ketagihan
riba, dia cari dalil-dalil ustaz-ustaz
yang membolehkan riba.
Bukan cuma itu, akhirnya dia
membahlul-bahlulkan orang yang keluar
dari apa? Instansi ribawi. Bisa jadi
bisa
satu maksiat merubah kehidupan apa?
Seseorang.
Kalaupun tidak merubah
secara total, menjadikan dia berlanjut
pada maksiat-maksiat yang lain. Maka
dikatakan bahwasanya maksiat tunadi bi
akhawatiha. Setiap maksiat akan manggil
teman-temannya yang lain. Dan itulah
kebiasaan maksiat. Allah berfirman,
"Falammaagu azagallahu qulubahum."
Tatkala mereka menyimpang, Allah semakin
simpangkan hati mereka. Maksiat
menimbulkan maksiat yang lain. Hatinya
sudah menyimpang, disimpangkan lagi.
Kenapa Allah simpangkan lagi? Akibat
dari maksiat yang pertama. Sampai Allah
sebutkan sebagian sahabat
ketika lari dari perang Uhud kata Allah
ininawum
wqahu
anhum. Allah ceritakan sesungguhnya
orang-orang yang kabur dari perang Uhud
ketika perang sedang menyala ada isu
Rasulullah meninggal sebagian bertahan
sebagian kabur balik ke Madinah. Kenapa
bisa kabur? Heran. Ada sebabnya.
Allah inina minkum. Sesungguhnya
orang-orang yang kabur dari di antara
kalian ketika terjadi perang itu perang
Uhud.
Sungguhnya mereka digelincirkan oleh
setan. Kenapa?
Akibat sebagian dosa yang pernah mereka
lakukan. Jadi orang kalau melakukan
dosa-dosa dia semakin mudah dirgelincir
oleh setan dan dosa ini akan memanggil
teman-teman dosa yang lain.
Ibarat kalau orang sudah misalnya suka
ngelihat film, akhirnya dia mulai yang
lain, mulai chattingan sama perempuan,
mulai ini, mulai akhirnya zina, akhirnya
apa? Berkembang berkembang. Tidak satu
maksiat saja
maksiat tersebut akan berkembang.
Maka ketika kita bermaksiat, segera
bertobat. Jangan-jangan saya mulai ini
akhirnya saya berkembang yang lainnya.
Berkembang yang lainnya.
Dan itu banyak contohnya. Banyak
contohnya.
Saya kalau mau cerita
gimana ya? Maksudnya antum jangan sepele
saya tidak bicara.
Kalau orang sudah kejebak maksiat,
siapapun dia orang awam, penuntut ilmu,
dai, bisa kejebak pada maksiat-maksiat
beri berikutnya. Bisa. Maka karena kita
pasti berdosa,
maka kalau kita berdosa segera bertau
bertobat. Jangan tunda-tunda.
Jangan tunda tunda-tunda.
Tayib.
Jadi bisa jadi seorang terjerumus dalam
maksiat-maksiat berikutnya karena dosa
yang pertama apalagi kalau kita ada
menggampangkan maka hati kita berpaling
kemudian semakin dipa dipalingkan.
Waliyadubillah.
Resikonya bukan cuma itu, tapi
resiko-resiko berikutnya.
Tib. Berikutnya ikhwan dan akhwat yang
dirahmati Allah Subhanahu wa taala.
Ketika kita bermaksiat kepada Allah
Subhanahu wa taala,
kita berani bermaksiat kepada Allah
Subhanahu wa taala, sering orang
memandang bahwasanya gak ada dampaknya.
Saya maksiat aman saja, jualan masih
lancar, orang juga masih muliakan saya.
Ee aman-aman saja. Secara ekonomi tidak
ada berkurang. Justru customer semakin
banyak gara-gara maksiat. Ya, buktinya
saya buka pintu maksiat sedikit ternyata
semakin laris. Sehingga banyak orang
memandang dampak maksiat hanya dari sisi
duniawi, dari sisi fisik, dari sisi
ekonomi. Saya sehat-sehat saja, MCU juga
kolesterol normal, aman-aman saja. Habis
bermaksiat juga kolesterol normal.
Tayib.
Ibnu Qayyim menjelaskan bahwasanya
justru dampak maksiat yang pertama
adalah menyerang hati. Menyerang hati.
Dan maksiat itu akan berdampak meskipun
tidak langsung dia seperti racun yang
masuk ke dalam tubuh sedikit demi
sedikit ada saatnya dia meledak.
Dampak maksiat tidak harus sekarang.
Bahkan kalau sekarang pun mungkin kau
tidak sadar karena dampak maksiat itu
yang pertama dia serang adalah hati.
Orang kalau maksiat
hatinya terserang. Hatinya menjadi
hitam. Semakin banyak maksiat semakin
hitam. Dan ini langsung berdampak. Dia
jadi malas beribadah, dia kurang khusyuk
baca Quran.
Ya, dia tidak terenyuh ketika mendengar
nasihat-nasihat. Kenapa? Hatinya mati
tapi matinya pelan-pelan, tidak
langsung.
Sehingga jangan antum lihat dampak
maksiat hanya pada fisik. Saya aman-aman
saja. Hati antum bermasalah. Hati antum
ber bermasalah. Dan jika antum
teruskan-teruskan suatu saat akan hancur
antum. Entah yang hancur akidah antum.
atau yang hancur adalah secara duniawi
antum.
Sampai diriwayatkan sebarang salaf
mengatakan, "Man thabal hadis
lihairillah mukir bihi." Siapa yang
mencari ilmu hadis, mencari hadis, ilmu
periwayatan karena ri maka dia akan
dibuat makar oleh Allah subhanahu wa
taala. Itu makar itu apa? Apa itu makna
makar? Makar itu dia digiring kepada
kebinasaan tanpa dia sadari seakan-akan
natural. Padahal kebinasaan.
Dan itu kita lihat dalam banyak kejadian
dalam kehidupan ini.
Ada orang yang misalnya zalim, ketika
dia berbuat zalim, dia merasa Allah
tidak hukum dia ketika itu. Mungkin
Allah hukum dia 20 tahun lagi.
Mulailah dia mengalami kesusahan. Tapi
saking naturalnya sehingga dia tidak
merasa itu akibat kezaliman yang dia
lakukan. Itu Allah sedang berbuat makar
kepada dia itu. Waliubillah mengerikan.
Maka seorang harus peka dengan dosanya.
Karena kalau dia tidak peka, maka dia
bisa terkena dampaknya. Ya, meskipun
waktu yang panjang, tapi dia akan kena.
Manabal hadisirillah mukhi. Siapa yang
mencari ilmu ri bukan karena Allah
subhanahu wa taala, maka dia akan kena
makar Allah cepat atau lambat.
Tib.
Dari situ coba kita renungkan hati kita.
Kita dulu mungkin awal ngaji ketika
semangat ngaji, kita kalau enggak salat
berjamaah hati kita rasanya berat. Sedih
enggak salat berjamaah. Sekarang enggak
salat berjamaah sekali dua kali aman gak
apa-apa. Biasalah Nabi aja ketiduran
katanya.
Biasa dulu kalau kita awal ngaji
tundukan pandangan lihat cewek terbuka
aurat mungkin kita merasa aduh dosa ini.
Sudah lama ngaji malah terbiasa. Ini ini
tidak terjadi sekarang. Ini dampak
maksiat yang kita lakukan. Akumulasi
yang mungkin tidak sadari ternyata
efeknya ada.
Efeknya ada sehingga kita biasa
sampai kita melakukan maksiat hati kita
tidak merasa tidak merasa sakit. Berarti
hati kita sedang berpenyakit bermasalah
sehingga kita tidak peka.
Makanya Ibnu Qayyim dalam dunia berkata,
"Wallahialimatun."
Seandainya hati seseorang itu bersih,
tentu dia akan tercabik-cabik ketika dia
terhalang dari suatu kebaikan.
Seorang ternyata misalnya tidak jadi
melakukan tidak bangun malam ketidurunan
dia sedih. Ada apa saya tidak salat
malam?
Kenapa saya beberapa hari terhalangi dia
salat malam? Kenapa hari-hari lewat saya
tidak buka Quran? Dia sedih. Tapi kalau
sudah akumulasi enggak ada rasa apa-apa.
Ah biasalah. Memang salat malam tiap
hari kan enggak wajib. Ada aja dalilnya.
Enggak salat subuh. Rasulullah juga
dalam hadis ketiduran salat subuh. Iya.
Rasulullah cuma sekali dua kali. Kau
1000 kali tidak salat subuh. Terus
menyamakan dengan Nabi sallallahu alaihi
wasallam sehingga jadi biasa. biasa
kalau orang hatinya ada kesempatan dia
berbakti sama orang tua tidak bisa dia
menyesal kenapa saya tidak berbakti dia
mau bersedekah enggak jadi dia sedih
kenapa saya tidak jadi bersedekah
sedih karena ada kesempatan untuk naik
level di surga dia lewatkan kalau hati
bersih seperti itu ya sehingga ada hal
yang kebaikan yang terhalangi dia
terhalangi darinya maka hatinya Artinya
tercabik-cabik ini jika hati seorang
apa? Bersih dan selamat.
Dan di antara dampak hati
tadi sudah saya sebutkan akibat maksiat
ya terasa hambar ketika
kita baca Quran, hadir pengajian, salat
malam, kok enggak ada kebahagiaan
seperti kita rasakan dahulu. Ini
akumulasi. Hati-hati akumulasi.
sampai kita tidak peka terhadap maksiat.
Makanya saya bilang kawan-kawan yang di
Makkah, saya bilang, "Ya Ikhwan, kalau
ente dapat ada orang seperti Abu Jahal
di Makkah, itu wajar."
Kenapa? Di Makkah itu
dia dilema kalau ingin di Makkah itu,
kalau ingin memperbaiki hati, maka
sangat cepat luar biasa. Karena engkau
di Makkah, di Ka'bah, kota suci salat
100.000 kali lipat. Tapi kalau kau
kurang ajar di Makkah, hatimu hitam juga
cepat.
Karena semua ulama sepakat bermaksiat di
Makkah tidak sama bermaksiat di
Jogja, di luar Mekah.
Siapa yang ingin melakukan kezaliman di
Mekah, kami siapkan dia azab yang pedih.
Di Makkah orang baru niat buruk aja
sudah dicatat dosa. Baru niat buruk,
belum melakukan, belum aksi, belum
eksekusi, belum aksi, sudah tercatat
dosa. Gimana kalau aksi? Kemudian orang
di Makkah nipu jemaah haji,
zalimi jemaah haji, jual kambing
kambingnya enggak ada. Jual kambing,
ternyata kambingnya dijual lagi kepada
warung. Jual kambing ternyata kecil
seperti kucing. Ya, sampai ada jemaah
tanya saya, "Ustadz, saya kemarin potong
kambing tapi kecil sekali, Ustaz. Itu
sebenarnya kambing atau kucing?"
Ini nih pertanyaan saya enggak
main-main. Dia mungkin bercanda, tapi
dia bilang, "Kecil, Ustaz. Kayaknya
tidak sah." Saya bilang, "Coba kau lihat
kambing atau kucing itu." "Iya, Ustaz.
Kecil sekali kayaknya." Kucing, Ustaz,
jemah dibodohin. Saya ketemu jemajah,
"Ustaz, saya disuruh potong tiga ekor
kambing." Kenapa tiga ekor kambing?
Orang jam haji cuma satu aja. Tiga,
Ustaz. Katanya satu kambing haji, dua
kambing korban, tiga kambing
pelanggaran. Emang ibu melakukan
pelanggaran? Enggak. Tapi katanya setiap
orang pasti melanggar.
Sama aja ibu. Ibu nyembelih belum
melanggar. Kalau melanggar harus
nyembelih lagi. Jadi dibohongin jemaah.
Hati menjadi hitam cepat. Makanya
orang-orang travel kalau suka nipu jemah
haji di Makkah hatinya apa? Hitam.
Sampai kita dengar ada sebagian
bermaksiat berzina di hotel-hotel di
Makkah Madinah. Kok bisa? Saya bilang
bisa aja.
Bisa aja. Kenapa? Karena maksiat di
tanah haram. Akumulasi hitamnya cepat.
Tidak seperti kita maksiat di Jogja, di
Jakarta. Enggak. Jogja Jakarta itu apa?
Makkah Madinah ini kota suci kok
bermaksiat situ? Bret langsung cepat.
sudah hitam hati bisa seperti Abu Jahal.
Kita kalau dengar kok bisa di Makkah
begitu? Bisa. Enggak usah heran. Karena
ketika maksiat dilakukan, yang pertama
diserang apa? Mati.
Maka ini hati-hati akumulasi. Lihat kata
Nabi sallallahu alaihi wasallam tentang
orang berdusta ini maksiat dosa. Kata
Rasul sahu alaihi wasallam, "Iyakum
walib fainal yahdial fujur inalujah.
Hati-hatilah dengan dusta.
Yakum walib. Arti dengan dusta. Kenapa?
Dusta mengantarkan kepada kefajiran
kepada dosa-dosa dan kefajiran
mengantarkan kepada neraka.
Dan seorang senantiasa berdusta. Ini
akumulasi. Dosa satu hitam, dosa dua
hitam.
Bahkan dia jago dusta. Jago dusta.
Bahkan dia sengaja berdusta. Bukan dusta
terpaksa aja. Bahkan yatahar itu dia
benar-benar cari kesempatan untuk bisa
berdusta. Kata Allah, kata Nabi, "Hatta
yuktabaallahi kadzaban." Sampai
distempel oleh Allah sebagai pendusta.
Ketika sudah distempel oleh Allah
sebagai pendusta,
dia hilang kepekaan terhadap dosa.
Sehingga dia dusta seperti ngomong
biasa.
Dusta seperti ngomong biasa.
Saya pernah nasihati seorang,
saya bilang, "Engkau dusta." Saya dusta
di mana? Saya bilang, "Kau saking banyak
dusta, kau lupa dustamu." Saya bilang,
"Ini dusta dustamu ini." Saya bilang,
"Saya sampai emosi." Karena dia suka
berdusta.
Karena saking berdusta sudah dusta, dia
sudah cuek seakan-akan cuma minum air
putih aja enggak ada masalah.
Un munafik dia tidak pandang dosanya,
dia kalau melakukan dosa seakan-akan
seekor lalat lewat, dia cuma usir. Dan
ada orang seperti biasa sekali. Ini
contoh maksudnya
sudah distempel oleh Allah.
Maka hati-hati ikhwan, kalau kita
bermaksiat tidak bertobat
maka kepekaan terhadap maksiat akan
hilang. Sehingga hati kita sudah hitam
terakumulasi. Waliyadubillah. Kita mau
begini mau begini kayaknya enggak ada
masalah. Biasa-biasa aja.
Sampai ada orang berdusta kemudian kawan
bilang, "Ini ini luar biasa. Dia salah
tapi seakan-akan tidak salah. Ini kalau
bukan jujur atau pemain.
Kalau jujur orang salah kemudian seperti
tidak bersalah kan mungkin orang jujur
benar-benar tidak ada dosanya atau
pemain memang dia jago sehingga dia
tidak peka lagi dengan namanya tidak
takut mau dibilang tenang aja padahal
dia berdus berdosa. Wadubillah. Maka
hati-hati ikhwan maksudnya kalau kita
melakukan dosa segera kita bertobat
kepada Allah subhanahu wa taala bab.
Tatkala kita bermaksiat yang perlu kita
renungkan yang ke berapa sekarang?
Keenam.
Ingat kita akan dihisab waktu kita
terbuang sia-sia.
Karena maksiat itu butuh energi. Butuh
energi, butuh duit, butuh waktu. Dan
semua ini akan hilang
sia-sia dan di akhirat akan menjadi
malah petaka.
Seorang mau berzina, dia butuh energi
kumpulin duit. Dia mungkin hunting cewek
di ini, telepon sana, telepon sini
janji. Kemudian sembunyi-sembunyi agar
istri tidak tahu. Kemudian ketemu
deg-degan
butuh energi, butuh waktu,
sembunyi-sembunyi. Itu semua habis
waktu. Dia nonton film Korea maksiat kan
bukan satu seri sampai 30 seri. Episode
baru lagi, judul baru lagi, nonton lagi
berseri-seri waktu dia nonton film
dewasa. Sehari kecanduan, sehari 1 jam,
besok lagi, besok lagi, besok lagi 30
hari, 30 jam tidak terasa malaikat catat
terus, tidak pernah berhenti. Ini semua
akan dibongkar pada hari kiamat.
Ya, dia duduk bergibah, duduk bergibah
dengan kawan-kawannya setengah jam.
Gibah lagi tiap hari. Tiap hari berapa
waktu sudah dia lakukan.
Dia makan riba tiap bulan dia terima
uang riba, uang riba, uang riba sampai
12 tahun. Kamu kok tidak tobat? Nanti
insyaallah saya tobat kalau pensiun. Itu
namanya tobat. Terpaksa sudah pensiun.
Tapi kalau ada tawaran lagi masuk lagi.
Bertahun-tahun dia jalani maksiat.
Dia narkoba kemudian dia terjebak
kecanduan. Dan maksiat itu buat candu.
Maksiat buat candu. Kata setan
lauzayahum ard wahum ajmain. Setan sudah
bersumpah. Iblis bersumpah di hadapan
Allah dalam surat Alhijr
aku akan menghiasi maksiat di atas muka
bumi bagi anak-anak Adam. Kata sebagian
ahli tafsir, yaitu kalau tidak dilakukan
dia gelisah. Dia gelisah.
Intinya menunjukkan maksiat itu memiliki
sifat can candu.
Makanya saya sering bilang kita ini
manusia dihadapi dengan dua. Sama-sama
bikin candu. Kebaikan bikin candu,
maksiat juga bikin apa? Candu. Tinggal
kamu pilih jadi candu candu pelit atau
candu rajin bersedekah. Sama-sama
kecanduan. Orang kalau suka bersedekah
dia tidak bersedekah. Dia gelisah. Ini
uang banyak mau ke mana? Harus saya
keluarin. Sama kalau orang pelit, dia
kecanduan pelit. Ngapain kasih dia? Saya
capek-capek enak aja minta-minta sana
kerja sendiri. Kecanduan pelit. Tinggal
antum pilih mau jadi candu apa. Mau
kecanduan baca Quran atau kecanduan
nonton film? Masalahnya untuk bermaksiat
butuh energi, butuh waktu yang panjang,
butuh biaya, butuh kuota. I tidak.
Ini semua dicatat oleh malaikat akan
dibuka pada hari kiamat. K renungkan
kembali. Setiap waktu yang kita lewati
adalah nikmat yang akan Allah tanya. Di
antara nikmat yang Allah tanya
lan
apa? Lan tazala qodama abdin ya hatta
yusala arba qama abdin hatta yusala
arba. Kedua kaki seorang hamba tidak
akan bergeser menuju surga atau neraka
sampai ditanya tentang empat perkara. Di
antaranya an umri fnah tentang umurnya
ke mana dihabiskan. Umur maksudnya
waktu.
Sekali-sekali kita renungkan kalau kita
lagi buka medsos, saya bakalan ditanya
setengah jam saya nonton ini. Saya bisa
enggak jawab Allah habiskan waktu nonton
ini. Kalau bisa jawab
lanjutkan.
Kalau enggak bisa ganti.
Kalau maksiat bisa jawab enggak? Enggak
bisa.
Enggak bisa. Kita saja suka olahraga,
kita nonton acara olahraga berjam-jam.
Kalau kita ditanya, "Yakin bisa jawab
itu?" Padahal olahraga yang mungkin
hukum asalnya mubah. Kita pun bingung
jawabnya. Tapi kalau maksiat, gimana
jawabnya?
Maka seorang merenungkan. Apakah dia
rida jika catat amal dibuka? Ternyata
isinya berjam-jam bermaksiat kepada
Allah subhanahu wa taala.
Tib. Kemudian renungkan terakhir, umur
kita semakin habis. Waktu kita semakin
tubuh kita semakin dimakan oleh zaman,
semakin rapuh, rambut semakin putih,
pandangan semakin lemah,
penyakit-penyakit mulai muncul, kekuatan
tidak seperti dulu. Tiib berarti umur
kita bakalan habis. Sekal kita habiskan
buat maksiat. Sementara teman-teman kita
umurnya dihabiskan untuk berketaatan.
Sudah berapa level mereka naik tinggi?
Semakin naik level, semakin level sudah
ngaji semakin bagus, semakin takwa,
semakin bahagia, semakin bahagia dengan
keluarganya, semakin banyak sedekahnya,
kita masih berkutat dalam maksiat. Sudah
berapa kita rugi? Kalaupun kita
bertobat, mungkin sudah 2 tahun kita
maksiat, dia sudah 2 tahun entah sampai
level ke mana. Rugi kalau kita
persaingan tentang hari akhirat
kalau kita tobat. Kalau kita enggak
tobat, waliyadubillah.
Jadi ini sekedar renungan bagi kita
semua ketika kita bermaksiat. Dan di
akhir pengajian ini saya ingin
menyampaikan tentang ibadah yang agung
adalah ibadah
iktiraf bidambillah, yaitu mengakui
dosa-dosa. Salah satu ibadah yang agung
adalah ibadah mengakui
dosa-dosa.
Mengaku kepada Allah subhanahu wa taala.
Allah memuji orang-orang yang mengaku
dosa-dosa mereka.
Ya, dalam Al-Qur'an dalam surat Attaubah
102 Allah mengatakan
amalan
asallahu alaihim inallah rahim. Dan ada
sekelompok orang yang mereka mengakui
dosa-dosa mereka.
Mereka mencampurkan antara amal saleh
dengan kemaksiatan.
Mereka mengakui dosa-dosa mereka.
Asallahu ayatuba alim. Semoga Allah
ampuni dosa-dosa mereka.
Innallaha gfur rahim. Sesungguhnya Allah
maha pengampun lagi maha penyayang. Ada
disebutkan seorang salaf
yang bernama Al-Ahnaf bin Qais.
Ketika dia ingat firman Allah, "Laq
anzalnaikum kitabanikrukum."
Sungguh kami telah turunkan kepada
kalian suatu kitab itu Alquranikukum
yang dalam Al-Qur'an ada penyebutan
kalian. Ya, zahirnya seperti itu. Ada
yang mengertikan, mengingatkan. Karena
kalian disebut dalam Al-Qur'an maka
dia langsung buka Al-Qur'an. Karena kita
semua disebut dalam Al-Qur'an, saya
bagian mana? Maka dia buka Al-Qur'an
dari awal. Dia buka, dia baca. Ketika
melewati ayat-ayat tentang orang-orang
kafir, "Ah, ini bukan saya. Saya
berlindung dari siksaan neraka jahanam.
Saya berung dari sifat orang kafir."
Ketika dia melewati orang-orang beriman,
qada afal mukminun all. Ah, ini bukan
saya terlalu jauh. Saya bukan seperti
itu. Dia baca terus sampai pada surah
at-Taubah ayat 102.
Maka dia baca, "Waakaro
bidunubihim
khatu amalan shihan waak." Dan ada
sekelompok manusia yang mereka mengakui
dosa-dosa mereka. Mereka mencampurkan
amal saleh dengan amal keburukan. Kata
dia, "Itulah saya. Itulah saya."
Maka tinggal kita mengakui dosa-dosa
kita di hadapan Allah, maka Allah akan
ampuni dosa-dosa dosa-dosa kita. Itu
jalan yang sangat mudah. Kalau kita
bicara di dunia, kita disidang oleh
orang, ada salah kemudian hakim sidang
kita. Kalau seorang itu atau terdakwa
mengaku, itu cara paling ampuh. Dia
mengaku seluruh kesalnya tidak perlu
lagi datangkan saksi, tidak perlu
lakukan bukti-bukti yang dia ngaku
selesai.
Tetapi di dunia orang tidak mau ngaku
karena dia tahu kalau dia ngaku dia akan
habis.
Dia akan ditangkap, mungkin dibunuh akan
macam-macam akan diambil hartanya
sehingga orang tidak mau ngaku sehingga
hakim butuh mendatangkan bukti-bukti.
Tapi kalau kita ngaku depan Allah,
justru sebaliknya kita ngaku dosa-dosa
kita, maka kita akan selamat. Nanti kita
enggak perlu malu. Kalau ngaku di depan
hakim kita malu. Tapi kalau ngaku depan
Allah adalah ibadah. Justru pintu
keselamatan.
Dan sebagian orang mereka mengakui
dosa-dosa mereka. Jangan sampai kita
tidak mengakui dosa, akhirnya baru
mengaku di hari kiamat kelak yang di
mana sudah tidak bermanfaat.
Allah Subhanahu wa taala menyebutkan
tentang orang-orang kafir yang mereka
baru mengaku di hari kiamat kelak. Dalam
surah Ghafir ayat 11 kata Allah, mereka
berkata, "Faarfna bidzunubina fahal khuj
minil." Ya Allah, kami ngakui dosa-dosa
kami. Faarfna bidunubina. Kami ngaku
sekarang ya Allah fahal khuruj minil.
Adakah cara untuk bisa keluar dari
neraka? Jawabannya enggak ada. Percuma
mengaku di hari kiamat kelak. Demikian
dalam surat almulk ayat 11 Allah
berfirman,
bidunubihim fasuhq lihabisir. Mereka pun
mengakui dosa-dosa mereka maka celaka
bagi mereka masuk dalam neraka jahanam.
Maka ini ibadah yang agung yang harus
sering kita lakukan. Ngaku dosa-dosa
kita.
Oleh karenanya ada zikir-zikir yang
menginginkan kita untuk mengaku dosa.
Kita ketika baca zikir tersebut nanya
kita berhenti untuk kita ngaku dosa-dosa
kita. Seperti zikir pagi petang. Sayidul
istigfar apa? Allahumma antabi la
ilahailla anta khalaqtani wa abduk wa
ala ahdika waika.
Auzubik minar mau. Ini di antara
pengakuan. Aku berlindung dari dampak
keburukan yang sudah aku lakukan.
Berarti ngaku maksiat enggak? Ngaku
maksiat enggak? Dan kita tahu pasti ada
dampaknya. Maka kita berlindung. Ya
Allah, saya pasti saya maksiat. Makanya
minar mau aku berlindung dari keburukan
apa yang telah aku lakukan. itu
dosa-dosa. Kemudian setelah itu, abuaka
binikmatika alku mengakui meskipun aku
seperti ini, aku akui seluruh nikmat kau
terus turunkan kepadaku. Kemudian
pengakuan berikutnya, abuu bidzambi.
Dalam sebagian riwayat abu laka
bidzambi. Dan aku mengakui dosa-duk abuu
bidambi. Maknanya ya Allah ada dosa-dosa
yang aku pikul belum bisa aku
tinggalkan. Aku mengakui hal tersebut.
Tolonglah hambamu ini. Itu di antara doa
dalam sil istigfar. Kita renungkan ini
makna azubika min syarat itu pengakuan.
Kemudian abuu bidzambi yaitu aku mengaku
aku datang bertemu dengan engkau dengan
memikul apa? Dosa-dosa. Ini salah satu
zikir yang situ ada iktiraf.
Di antaranya juga dalam doa
eh dalam doa istiftah wajah wajah
winamin
aal muslimin. Kemudian Allahumma antal
maliku la ilahailla anta
anta rbi wa ana abduk doamtu nafsi waftu
bidambirunubi
jamian innahu la yagfirunuba ant wahdini
akqi la yahdi anah
allahumma inni laka waaik
wasarisa ilaik
inaka waikab
ini doa istif panjang banget ya sudah
hafal belum belum yang hafal yang mana
ini doa ish panjang dalam Sahih Muslim
dari kalau enggak salah Ali bin Abi
Thalib kita ulangi doanya kepanjangannya
tapi di antaranya Rasulullah dalam doa
itu mengatakan
Allahumma anbi wa abdukamtu nafsi. Aku
telah berbuat dosa terhadap dirikuambi
dan aku mengakui dosa-dosaku.
Jadi iktaraf saya mengaku dosa dosa-dosa
di antara kalau kita baca doa tersebut
hendaknya seorang merenungkan
di antara ibadah yang agung adalah
mengakui dosa-dosa.
Mengakui dosa-dosa. Oleh karenanya itu
yang dilakukan oleh para nabi. Mereka
mengakui dosa-dosa mereka. Seperti Nabi
Adam ketika bertobat, dia mengatakan
apa? Rabbana
anfusana. Ya Rabb kami, kami telah
menzalim diri kami. Ya waillam
tagfirlana watarhamna lanakunanna minal
khasirin. Kalau kau tidak merahmati kami
dan mengampuni kami, kami termasuk orang
yang merugi. Apa kata Nabi Yunus Alaihi
Salam ketika dalam perut ikan paus? La
ilahailla anta subhanaka inni kuntu
minalimin. Ngaku.
Maka
di antara ibadah yang agung altiraf
bidzunub. Seorang dudu
Resume
Read
file updated 2026-02-16 11:25:49 UTC
Categories
Manage