Kenapa Negara Sedikit Populasi China Tionghoa Lebih Miskin? (Keanehan Ekonomi ASEAN)
t-6S3wxQlyA • 2026-02-13
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Apa benar semakin banyak populasi suku
Tionghoa di sebuah negara, maka negara
itu GDP-nya semakin tinggi, APBN-nya
semakin bagus, dan negara itu semakin
kaya. Singapura itu 74% populasi
Tiongoanya, GDP-nya 88.000. Ini data
loh. Malaysia penduduk Tiongya 22%,
GDP-nya.
Apalagi saat ini mata uang ringgit
menguat. Kita lihat Thailand, penduduk
Tionghoanya 14%, GDP-nya 7.000.
dan terakhir Indonesia yang mana
populasi tiongoanya cuma 1 sampai 3%
tapi GDP-nya paling rendah di ASEAN
5.000.
Ada satu koralisasi statistik yang
sangat sulit dibanta. Semakin besar
persentase orang Tionghoa di sebuah
negara maka GDP-nya cenderung tinggi.
Kok bisa? Kita bahas tuntas. Sahabat
entrepreneur. Salam hebat luar biasa.
Selamat datang di sisi yang lain. Saya
disklaimer dulu ya dengan video ini
bukan berarti suku yang lain
terpinggirkan, tidak. Tapi sekali lagi
ini adalah sebuah penelitian apa
hubungannya. Semakin banyaknya suku
Tionghoa di sebuah negara maka tingkat
perputaran sama GDP-nya itu semakin
tinggi. Sekali lagi saya membuat video
ini bukan untuk rasis kepada suku
tertentu atau mengenyaping suku
tertentu. Tetapi saya ingin memberikan
sebuah data dan fakta. Suku Tionghoa
yang terkenal dengan ahli berdagang,
suku Tionghoa yang juga terkenal ahli
berbisnis. Apa hubungannya dengan
banyaknya entrepreneur di sebuah negara
akhirnya bisa menciptakan GDP yang lebih
tinggi. Mengapa fenomena ini terjadi?
Ini semua itu apakah masalah DNA? Tentu
bukan. Apakah orang Tiongoha suku
Tiongha lebih pintar cari duit?
Jawabannya enggak sesimpel itu. Atau ada
sebuah sistem sejarah dan kultur ratusan
tahun yang membuat mereka menjadi mesin
ekonomi yang efisien. Suka enggak suka?
Hari ini kita akan beda tuntas. Kita
akan bicara software culture dan
hardware sejarah yang menciptakan
fenomena ini. Ini adalah semua bermula
dari software yang pertama the
compounding engine atau reinvestasi
radikal. Bukan sekedar hemat. Tibanya
budaya keuntungan bisnis seringkiali
dianggap sebagai uang jajan untuk
menaikkan gaya hidup. Tapi dalam etika
bisnis keluarga Tiongha keuntungan
adalah benih. Jadi doktrin tidak
tertulis tentang delay gratification,
menunda kesenangan. Gak. Ini bukan cuman
soal makan bubur. Orang Tionga terkenal
suka makan bubur dan simpan uang. Ini
soal reinvestasi agresif. Kita ambil
satu contoh struktur bisnis keluarga
Tiongoa. Kalau bisnisnya lagi cuan,
mereka itu kadang kalang ngambil
devidennya itu enggak semuanya. Bahkan
mereka cenderung uang yang hasil cuan
dari bisnis mereka diputar kembali ke
bisnisnya. Jadi mereka tidak deposito
semuanya atau mereka tidak beli emas
semuanya tapi diputar lagi ke bisnis
jadi stok barang. Itulah prinsip dagang
keluarga Tionghoa. Beda dengan sori saya
sebut suku-suku lain. Saya punya kakak
di Amerika. Kebetulan dia tuh bercerita
tentang habitnya teman-teman dia yang
bule. Kalau bule, Senin dan Jumat kerja,
weekend mereka ngebar, mereka enjoy the
weekend, katanya rileks. Sedangkan saat
ini kalau kita bicara tentang suku yang
lain, kalau orang hitam, sorry t orang
hitam saya enggak mau sebut yang N itu
ya. Enggak boleh ya. Kalau orang hitam
di Amerika mereka itu kealiannya cuman
dua, nyanyi sama olahraga. Jadi jangan
salah kalau orang hitam itu juara NBA,
NFL, ee mereka tuh hebat sekali dalam
masalah nyanyi. Makanya banyak
penyanyi-penyanyi hebat itu kulit hitam.
Tapi kalau soal bisnis mereka rendah,
kalau simpan uang mereka juga rendah.
Beda dengan suku Tionghoa di Amerika.
Kalau suku Tiongkba di Amerika mereka
kerja seringkiali overtime sampai
lembur-lembur dan hasil uangnya ditabung
karena mereka hidup di negeri barat.
Mereka takut ada apa-apa dengan keuangan
mereka. Itulah sebab apakah hubungannya
maksuk kerbek menikahi wanita suku
Tionghoa meskipun beliau Chinese
American.
Ya, saya enggak tahu. Tapi yang pasti
maksuk memilih istri itu tidak mudah.
Ada sebuah statement lucu lagi ya kan.
Ini lagi bukan kata-kata saya, tapi
kata-kata perdana menteri yang baru saja
Malaysia yang berusia 100 tahun, yaitu
Mahathir Muhammad. Ini yang ngomong
beliau ya, bukan kata-kata saya. Anda
search saja kata-katanya. Beliau bilang,
"Kalau orang India diberikan uang dalam
jumlah tertentu, anggaplah anggaplah 1
juta dolar lah." Apa yang akan orang
India lakukan? Mereka akan kirim anaknya
sekolah ke luar negeri, sekolah ke
negeri Eropa atau Amerika untuk belajar
dan intelektual yang sangat tinggi. Itu
orang India. Kalau mereka orang
keturunan Tionghoa, dia bilang kalau
diberikan 1 juta dolar misalkan saya
lupa ya jumlah angkanya berapa tapi ini
perumpamaan saja. Prime Minister Matir
Muhammad berkata kalau orang Tiongwa
mereka langsung akan bukakan tokonya,
bukakan bisnis untuk anaknya kelak
selain sekolah yang tinggi. Tapi yang
ketiga, Prime Minister Mahattir Muhammad
berkata, "Kalau uang 1 juta dolar
diberikan kepada," maaf ya sekali lagi
saya bukan mau berbicara soal rasis,
Melayu, maka uang itu langsung akan
diberikan Lamborghini. Katanya ini
statement Matir Muhammad. Silakan
googling kata-kata beliau yang sangat
terkenal ini. Karena beliau sebagai
seorang prime minister pasti saya yakin
beliau sangat berpengalaman untuk
mem-manage tiga suku terbesar di
Malaysia ini. Apakah ini culture? Yes.
Kita lihat juga saya sering mendapatkan
pengalaman ya kalau para orang-orang,
mohon maaf orang-orang Indonesia yang
belajar jadi TKW dan TKI di luar negeri,
kalau mereka terima gaji besar
kadang-kadang mereka tuh flexing,
belanja, shopping, uangnya habis gitu.
Mereka enggak kepikir untuk bangun
bisnis. Mereka enggak kepikir untuk
nabung. Nah, inilah kenapa adakah
hubungan erat? Nah, apalagi orang Tionga
mereka itu bisa menunda kenikmatan.
Mereka tuh cuannya ditaruh dulu di
bisnisnya diputar dulu. Dan devidennya
mungkin mereka ambil kecil untuk biaya
hidup yang secukupnya saja tapi tidak
untuk difoya-foyakan. Akhirnya ini
adalah sebuah senjata yang paling sering
disalah pahami. Orang Barat menyebutnya
bambu network di Asia Tenggara zaman
dulu. di mana hukum itu tidak jelas.
Pengadilan itu bisa disogok resmi, sulit
diakses. Kita lihat masalahnya hukum
negara kita lemah, birokrasi rumit, dan
bank resmi sulit diakses dan cukup jabat
tangan cair cepat biaya transaksi
sebesar itu. Kecil sekali. Bayangkan
skaner ini seorang pengusaha bukan Tiong
butuh modal R miliar. Dia harus ke bank
ya Volm Muril. Dia jaminkan sertifikat
tanah. Menunggu persetujuan 1 bulan di
seberang jalan, seorang pedagang
Tionghoa butuh R miliar. Dia cukup
nelepon di kerabatnya di Singapura atau
di Hongkong karena ada sulit adanya
trust dan reputasi yang dipertaruhkan.
Uang itu cair hari itu juga cukup dengan
jabat tangan. Apa artinya secara
ekonomi? Biaya transaksi mereka menjadi
nol. Mereka menjadi penggerak jauh lebih
cepat daripada korporasi besar yang
birokratis. Inilah kenapa jaringan
bisnis mereka melintasi perbatasan
negara tanpa deteksi secara terformal
sehingga aliran model yang efisien di
tengah. itu dalam bahasa Mandarin
namanya yang saya selalu sebut namanya.
Kuansi ini ini seperti yang pernah
diajarkan dosen saya dulu yaitu orang
Tionghoa itu punya kansi. Jadi mereka
itu sangat kuat karena bagi mereka jabat
tangan dan nama baik, reputasi dan
kejujuran itu melebihi daripada
kolateral aset yang ada di bank. Jadi
kalau mereka mau berjuang, yes, ayo siap
maju sama-sama berkembang. Kemudian
inilah software yang kedua tadi. Ini
software yang ketiga, the immigrant
algorithm. Nah, bakar jembatan. Kita
tahu tekanan Darwin ini menciptakan daya
adaptasi luar biasa, yaitu apa? Teori
Darwin, orang hijrah. Yaitu apa? Mereka
menjadi pendatang. Mereka betul-betul
menjadi pendatang. Yang membuat orang
Tiongha itu kuat. Saya juga pernah
diwancara Guru Gembul. Apa sih rahasia
orang Tiongha itu sukses, Pak Candra?
Karena mereka berani untuk hijrah,
mereka berani untuk transmigrasi, mereka
berani untuk tidak menjadi penguasa di
daerah, tapi mereka betul-betul berani
keluar dari daerah mereka. Dan akhirnya
bukankah banyak nenek moyang leluhur
Tionghoa yang ada di Indonesia itu kan
asalnya hijrah dari era abad 16, 17, 18,
19. Mereka tuh hijrah dari negara atau
provinsi beberapa di China Selatan.
Mereka lari ke Asia Tenggara termasuk
larinya ke orang Indonesia ini. Jadi
imigran yang terjepit. Sejarah mencatat
mayoritas lu Asia Tenggara datang
sebagai kuli atau pedagang miskin yang
enggak punya apa-apa. Mereka cuma naik
kapal berlabu ke Indonesia. Tapi
penduduk lokal punya kampung halaman,
punya tanah warisan, punya safety net.
Kalau gagal bisa pulang kampung bertani.
Sedangkan imigran Tionghoa mereka enggak
punya tanah warisan, gak punya koneksi
politik tanpa safety net. Dan pilihannya
cuman dua, yaitu go big or go home gitu
loh. Enggak ada lagi yang lain. Berhasil
atau mati kelaparan. Mentalitas tidak
ada jalan pulang ini yang menghasilkan
etos keluarga keras yang sering kita
lihat hari ini. Nah, inilah sebab
mentalitas mereka orang-orang suku
Tiongo ini berbeda. Karena mereka itu
bertransmigrasi.
Mereka berani untuk keluar dari daerah
mereka. Mereka berani untuk hijrah.
Kalau mereka, kalau enggak mereka akan
malu dan gagal. Tapi tunggu dulu,
mengandalkan jar rajin dan jaringan saja
seharusnya mereka menjadi pedagang kelas
menengah yang makmur. Tidak cukup
dijelaskan kenapa populasi Tiongho ini
bisa mengontrol posisi ekonomi yang
begitu masif. Apakah ada faktor yang
jauh lebih besar? Mari kita lihat. Ada
sebuah kecelakaan sejarah yang mau
bicara hardware, larangan memiliki
tanah, budaya enggak cukup, faktor
eksternal enggak cukup, desain kolonial
dan larangan tanah. Kita lihat di
Indonesia orang Tiongha ini sebagai
komunitas di tengah-tengah yang
terjepit. Kita tahu Indonesia ini secara
sejarah loh ya enggak tahu ini sekarang
sedang diriset ulang dijajah dalam tanda
kutip oleh Belanda selama 350 tahun.
Bayangkan Belanda ini dalam kalau
Belanda sih ngakunya kolonialisme itu
mereka ngakunya berbisnis gitu. Tapi
kalau sejarah kan mencatat Indonesia ini
dijajah gitu. Nah kolonial ini kan tang
abad 16 sampai abad 19 awal sampai 20
itu kan istilahnya menguasai Nusantara.
350 tahun mereka itu berhadapan dengan
tiga golongan ini. Eropa golongan yang
paling atas, Tionghoa di tengah sebagai
middleman, minoritas. Yang ketiga
golongan mohon maaf saya harus sebut
pribumi atau golongan manusia asli.
Padahal sebenarnya kata pribumi ini
tidak tepat. Karena di Indonesia ini kan
sebetulnya jarang ada penduduk asli ya.
Ee tapi semua itu adalah pendatang. Nah,
di sinilah plot twist-nya. Sukses
ekonomi etnis T Yongwa di Asia Tenggara
sebagian besar adalah hasil desain atau
bisa dibilang kecelakaan. Zaman penjel
Inggris masyarakat kita disegregasi,
dipisah-pisah paling atas ada di Eropa
dan ada politik adu domba. Seolah-olah
politik adu domba ini adalah rakyat
Tionghoa ini cuman memeras rakyat miskin
di Indonesia di Nusantara saat itu. Dan
dihembuskan isu bahwa penduduk ee
imigran dari Tiongkok ini tidak membayar
pajak dari adu tomba. sehingga
masyarakat bahwa yang kaum buru dan
petani dan nelayan ini ditelan
menta-menta propaganda daripada David Ed
imperanya Belanda sehingga yang menjadi
korban adalah suku Tionghoa dan suku
Tionghoa yang sudah tertekan pendatang
berdagang secara jujur baik-baik saja
tiba-tiba dihembuskan politik. Akhirnya
beberapa orang yang mohon maaf
pendidikannya rendah dimakan saja isu
Belanda saat itu. Dan paling bawah
inlander ya toh atau pribumi di tengah
penjajah butuh perantara mereka butuh
orang untuk memut pajak,
mendistribusikan barang impor,
mengelukan hasil bumi. Mereka memilih
etnis tiongwa sebagai middleman
minority. Itulah sebab kenapa di era
orde lama dan orde baru orang Tiong
jarang yang jadi polisi, jarang yang
jadi PNS, jarang juga yang menjadi
pejabat. even jarang menjadi tentara.
Istilahnya mereka tidak bekerja dengan
pemerintah. Makanya mereka satu-satunya
jalan hanya satu mereka menjadi
pedagang. Enggak ada solusi lain. Itulah
sebab kalau kita menilik sejarah di
Nusantara. Nah, hardware ini membawa
berkat resplubung larangan tanah. Yang
pertama ada aturan fatal yang justru
menjadi ee tidak menguntungkan warga
Tiongha. Tiong dilarang memiliki tanah
pertanian. Bayangkan Anda hidup di era
18. Era 18-an. Sumber kekayaan utama
saat itu adalah tanah. Sistemnya feodal.
Orang kaya adalah tuan tanah. Tapi Anda
dilarang punya tanah. Anda tidak bisa
jadi petani. Terus Anda mau makan apa?
Satu-satunya jalan adalah berdagang.
Seperti yang tadi saya sampaikan. Dan
terpaksa Anda masuk ke sektor saat itu
yang dianggap kotor tidak mulia. Jual
beli, rentenir, simpan pinjam, dan
distribusi logistik. Makanya sean Naga
Indonesia saat ini siapa yang enggak
punya bank? Simpan pinjam kan. Siapa
yang enggak punya properti? Siapa enggak
punya mall? I kan dan mereka juga jual
beli semuanya rata-rata juga punya miie
instan. Mereka rata-rata dagang. Iya
kan? Itulah sejarah yang ada di
Indonesia. Sehingga dampak langsungnya
terusir dari sektor agraris dan akhirnya
mereka masuk ke sektor kotor dagang dan
uang yang dianggap tidak tepat.
Sedangkan orang-orang pribumi mereka
tahu betul orang-orang Belanda itu
memaksa mereka menjadi buru kerja kasar
yang dinamakan kerja rodi saat itu
dipekerjakan. Tapi saya heran ya kenapa
kok orang-orang pribumi kok enggak benci
orang Belanda malah diajak selfie gitu.
Jadi Belanda sekarang kaya raya itu
karena hasil menjajah dan menjarah KKN
Nusantara selama 3,5 abad. Kemudian
kedua, pergeseran era ekonomi, nilai
dagang dan keuangan. Hasilnya ketika
masuk di dunia kapitalisme, perdagangan
dan keuangan layang nilainya melonjak
ribuan kali lipat kok ya pas dibanding
sektor pertanian. Jadi mereka menjadi
raksasa ekonomi bukan semata-mata karena
genetik tapi karena terjebak satu sistem
yang paling menguntungkan dalam sistem
ekonomi modern. Mereka menguasai jalur
disfusi dan cash flow. Ditambah lagi
kondisi negara yang hukumnya lemah
korupsi tinggi kayak Indonesia ini
kepastian hukum rendah. Di sinilah bambu
network atau jaringan bambu bekerja.
Mereka tidak bisa percaya pada hukum
negara yang korup. Mereka membuat sistem
perbankan informal sendiri. Uang
mengalir lintas negara dari Jakarta,
Singapura, Hongkong lewat jaringan
keluarga. Biaya transaksi murah,
pebisnis lain masih antri izin bank,
pebisnis Tiongwa sudah closing deal
lewat telepon melalui kekosongan
institusi. Nah, di sinilah awal terjadi.
Apakah ini adalah takdir bagi oleh
etnis? Saya rasa tidak. Mari kita
bandingkan dua raksasa lain, Salim Grup
di Indonesia dan CP Grup di Thailand.
Kita lihat apakah sama-sama suku
kelahiran suku Tionghoa sama-sama dari
daratan China. Tapi mereka semua bermula
dari imigran Tionghua dan perantauan ini
agennya sama-sama beda nasib karena
politik negara berbeda. Thailand memilih
jalaran asimilasi. Raja Thailand
mengijikan etnis Tionghoa menjadi thai.
Jadi bukan cindo gitu istilahnya atau
bukan cintai tapi satu nama Thai.
Makanya belakangan kok nama Cindo itu
populer ya. Cina, Indonesia ya Indo ya
Indo lah. Ngapain ada kata cindo segala
sensitif loh bagi Rete Tonggo apalagi
anak-anak Gensi ini di sosmet itu kok
semuanya cinda. Cindo. Kalau Anda
mendengarkan didengarkan oleh kaum-kaum
yang eranya Pak Harto mereka tersinggung
ya lebih baik disebut mungkin Tiongo
aja. Kalau ada suku Batak, suku Jawa,
suku Banjar, suku Minahasa, suku Papua
dan sebagainya, ngomong aja suku
Tionghoa. Kembali ke peraturan presiden
di eranya Pak SPY. Jadi tolong saya juga
dapat titipan banyak dari dalam tanda
kutip orang-orang Tionghoa yang tua,
tolong anak-anak Gensi, Pak Candra
tolong diajarkan jangan pakai kata cindo
tidak enak. Itu sangat ada kata cinanya
kita itu Indonesia. CP Group tumbuh
bukan karena koneksi, tapi inovasi
agriculture. Mereka menjadi jembatan
Thailand ke China. Hasilnya minim
konflik rasial ekonomi Thailand tumbuh
stabil bersama mereka. Sedangkan satu
studi kasus B Lim Shulong Om Lim Salim
Grup di era Orde Baru terciptalah beda.
Ada sistem cukong. Pengusaha tiong
seperti Omlim diberi hak monopoli,
cengkeh dan terigu. Karena dekat dengan
kekuasaan yang sudah pernah saya bahas
di sistem ini. Cek video saya
sebelumnya. Mereka kaya raya luar biasa
tapi posisinya rapuh. Mereka dijadikan
sapi perah, politik, tapi tidak
diberikan perlindungan sosial yang
setara. Akhirnya waktu jatuhnya Pak
Harto di tahun '98, suku Tionghoa
Indonesia yang dari era Salim Grup
diserang habis-habisan. Hembusan politik
yang akhirnya menjadi lemah dan tidak
ada perlindungan bagi warga negara
Tangoa. Beda sama Thailand. Sama-sama
pendatang, sama-sama merantau, tapi
alhasil hasilnya berbeda. Aset dijara di
tahun 1998 ya kan. Toko dibakar di
mana-mana. Seolah-olah kita ini warga
negara asing tidak ikut memerdekakan
bangsa Indonesia. Itulah sebab kenapa
bangsa anak-anak Gensi ini seringkiali
melupakan sejarah. Nah, saya ini titip
menyambung suara. Janganlah pakai
istilah jindo tapi istilah Tionghoa.
Maka yang benar tuh bukan jindo tapi
inti Indonesia Tionghoa. Aset dijarah,
rumah dibakar, modal dibawa kabur ke
Singapura. So, ini ada pelajaran mahal
dalam sistem politik. Kuncinya bukan
orangnya, tapi sistemnya. Di Thailand,
sistem membuat mereka menjadi aset
bangsa. Di Indonesia, sistem membuat
mereka menjadi ATM politik. Orang
Tionghoa mana, pengusaha Tionghoa mana
yang enggak dalam tanda kutip diperas,
mereka kalau omset naik dikit pajaknya
langsung dipajakin yang tinggi. Kalau
misalkan ada apa-apa, mereka dipajakin
sama oknum-oknum. Sorry to say, saya
harus menyebatkan oknum-oknum institusi
di bangsa kita. Mau mulus perizinan
pasti ada uang dingin di bawahnya atau
uang pelicin. Itulah sistem di
Indonesia. Bukan orang yang salah, tapi
sistem politiknya. Kalau Singapura kita
enggak usah bahas ya, karena 70%
penduduknya memang keturunan dari China
Selatan sehingga presidennya pun juga
keturunan Tionghoa. Nah, Indonesia
inilah yang menjadi ATM politik. Dan
bagian yang kelima, The Invisible King,
Illusy Forbes. Perhatikan baik-baik ya,
dari cerita Sudono Salim tadi. Kita
sadar bahwa silau melihat orang terkaya
itu rata-rata orang-orang Tionghoa.
Majalah FOP setiap tahun isinya melulu
Hartono lah, Wijaya lah, Salim lah, dan
deretan nama Tiongha lainnya. Sekarang
maju lagilah Prajogo, Pangestulah,
kemudian muncul lagilah keluarga
Mayapada lah. Publik sering berpikir,
"Wah, merekalah penguasa Indonesia
sebenarnya. Tapi izinkan saya meluruskan
satu perspektif lain karena ini acara
sisi yang lain. Fakta pahit realita
bahwa mereka itu penguasa atau mereka
hanya bendahara. Ini penting loh.
Persepsi publ publubik Tiongha itu
penguasa ekonomi. Tapi realita Tiongha
itu visible wealth, saham dan uang
tunai. Sedangkan yang tersembunyi adalah
elit politik, the land lords, tuan
tanah. Perhatikan baik-baik. Kekayaan
Parakungdo. Tiongho Indonesia ini
mayoritas bentuknya valuasi saham dan
uang tunai. Itu yang masuk top 10
Indonesia. Angka di atas kertas bisa
naik. terjun bebas tergantung pasar.
Kekayaan mereka kelihatannya visible
wealth. Siapa penguasa tanah di
Indonesia itu sebenarnya? Yaitu tidak
lain tidak bukan adalah elit politik dan
keluarga penguasa. Kekayaan mereka itu
kedaulatan, tanah dan konsensi tambang
dan energi. Jangan salah. Itulah di
Indonesia. Power sejati mereka adalah
tanda tangan mereka yang menentukan
situasi dan nasib wong lomrat. Jadi di
atas langit masih ada langit, ada raja
dagang, masih ada tuan tanah. Siapa
mereka? Mereka adalah elit politik dan
keluarga pengusaha yang jarang sekali
masuk forbes. Kenapa? Kekayaan mereka
bukan s publik melainkan kedaatan dan
aset tanah. Merekalah yang memegang
jutaan hektar tanah HGU hak guna usaha.
Mereka yang menguasai konsensi tambang.
Mereka yang menguasai yang mengeluarkan
IUP izin usaha penambangan, mereka yang
mengeluarkan saham sawit dan sebagainya.
Dan akhirnya energi di Rebelping ini
nama mereka tidak muncul di perusaha
tapi tanda tangan merekalah yang
menentukan nasib konglomerat itu tadi.
Itulah sebab ya mereka pandai dagang
punya valosi saham tapi tentu harus ada
porsi yang disisihkan sama si regulator
ini tadi. Jadi bukti sejarah 98 etnis
Tionghoa benar-benar berkuasa. Kenapa
sejarah mencatat mereka selalu jadi
korban? Tahun '98 siapa yang tokonya
dijarah? Siapa yang dijadikan kambing
hitam? Penguasa sebenarnya tidak akan
pernah jadi korban di negaranya sendiri,
apalagi membawa isu agama. Isu agama ini
selalu yang paling safety di negara ini.
Kalau agamanya sama, maka otomatis aman
dan tidak dijarah. Faktanya, posisi
orang Tionghoa di struktur kekuasaan
Indonesia itu lebih mirip manajer toko.
Sementara elit politik oligarki adalah
pemilik gedungnya. Manajer boleh pegang
kunci brank kas, manajer boleh terlihat
sibuk dan kaya. Tapi kalau pemilik
gedung bilang keluar, ya mereka harus
keluar. Mereka enggak punya kekuasaan
apa-apa. Mereka hanya terlihat punya
uang tapi tidak punya kuasa. Nah,
sekarang kita masuk ke bagian yang
keenam yaitu kesimpulan atau
transparansi pajak. Tidak ada satu
perbedaan fundamental dalam struktur
kekayaan mereka yang harus kita pahami.
Coba perhatikan perusahaan-perusahaan
raksasa milik pemil kita sering
bericakan BCA lah, Astra lah, Indofood
lah. Banyak dari mereka perusahaan TBK.
Artinya apa? Laporan keuangan merek
mereka telanjang, transparan, bisa
dibaca siapa saja. investor asing sampai
mahasiswa ekonomi semua bisa baca dan
karena mereka transparan, perusahaan ini
yang menjadi pembayar pajak terbesar dan
paling patuh di negeri ini. Keuntungan
mereka tercatat pajaknya masuk kas
negara lalu menjadi jalan raya, sekolah,
subsidi BPJS yang kita nikmati.
Sedangkan yang tak terlacak siapa? Yang
tidak masuk perusahaan TBK siapa? Lelord
sebenarnya siapa? Nah, itulah sebab
seperti judul saya tadi di awal, kenapa
sebuah negara kalau populasi Tionghoanya
semakin besar, GDP-nya semakin tinggi di
Indonesia jadi ATM politik. Ya. Kemudian
kita lihat yang terakhir di sinilah
ruang gelap oligarki.
Sekarang bandingkan dengan kekayaan
invisible oligarki, para tuan tanah yang
saya sebut tadi. Kekayaan mereka yang
berupa ratusan ribu hektar, konsensi
tambang seringkiali tidak tercatat di
pusaka saham. Baru-baru ini ada
tandingannya 9 haji yang sudah mulai Tbk
satu persatu
supaya kalau tidak hal ini akan terjadi.
Harta mereka tersembunyi mungkin di
perusahaan Cangkang Shell Companies
mungkin juga atas nama orang lain tidak
terlihat oleh publik. Pertanyaan
sederhana. Jika perusahaan publik milik
Ol Tiong jelas storan pajaknya triliunan
rupiah, bagaimana dengan para penguasa
lahan ini? Seberapa besar pajak yang
mereka bayar ke negara ini dibandingkan
dengan kekayaan alam yang mereka keruk
dari bumi Nusantara kita. Baruan
Desember yang lalu sudah terbuka dengan
luas. Bagaimana banjir Sumatera?
Bagaimana kayu yang hasil di tambang
berserakan di mana-mana. Dan saat ini
netizen sudah mulai sadar dan pintar
siapakah pembayar pajak yang terbesar.
Anda jangan cuman melihat dari satu sisi
orang Tionghoa yang mana mereka bekerja
keras, tapi di sisi yang lain orang yang
tidak nampak para oligarki sebenarnya
yang akhirnya mereka yang namanya aman.
Apakah cuman orang Tiongo disalahkan
atau para oligarki yang tidak mau
sebagai pembayar pajak terbesar tapi
hasilnya banjir Sumatera. Oleh sebab
itu, sahabat S30, video ini saya
disclaimer, saya cuma membahas tentang
mengapa orang Tionghoa yang besar
populasinya di sebuah negara GDP-nya
semakin tinggi. Ketika saya bahas semua
runtut lengkap dengan pembandingannya
bukan cuman DNA-nya orang Tionghoa, tapi
Indonesia bisa jauh lebih maju kalau
ruang gelap oligarki ini mulai
pelan-pelan dibatasi dan siapa yang
berkompetisi, siapa yang berjuang, dia
yang menang. Semoga video ini
mencerahkan dan agar para sahabat S30
bisa menikmati dan membuat para sahabat
SP30 bisa dengan logika dan level up eh
intelektualnya. Sukses untuk para
perantau, sukses untuk para pejuang
karena andalah pahlawan ekonomi bangsa
sebenarnya. Sukses untuk Anda. Jangan
lupa like-nya and salam hebat luar
biasa. Yeah.
Resume
Read
file updated 2026-02-15 08:46:58 UTC
Categories
Manage