Kenapa Negara Sedikit Populasi China Tionghoa Lebih Miskin? (Keanehan Ekonomi ASEAN)
t-6S3wxQlyA • 2026-02-13
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Apa benar semakin banyak populasi suku Tionghoa di sebuah negara, maka negara itu GDP-nya semakin tinggi, APBN-nya semakin bagus, dan negara itu semakin kaya. Singapura itu 74% populasi Tiongoanya, GDP-nya 88.000. Ini data loh. Malaysia penduduk Tiongya 22%, GDP-nya. Apalagi saat ini mata uang ringgit menguat. Kita lihat Thailand, penduduk Tionghoanya 14%, GDP-nya 7.000. dan terakhir Indonesia yang mana populasi tiongoanya cuma 1 sampai 3% tapi GDP-nya paling rendah di ASEAN 5.000. Ada satu koralisasi statistik yang sangat sulit dibanta. Semakin besar persentase orang Tionghoa di sebuah negara maka GDP-nya cenderung tinggi. Kok bisa? Kita bahas tuntas. Sahabat entrepreneur. Salam hebat luar biasa. Selamat datang di sisi yang lain. Saya disklaimer dulu ya dengan video ini bukan berarti suku yang lain terpinggirkan, tidak. Tapi sekali lagi ini adalah sebuah penelitian apa hubungannya. Semakin banyaknya suku Tionghoa di sebuah negara maka tingkat perputaran sama GDP-nya itu semakin tinggi. Sekali lagi saya membuat video ini bukan untuk rasis kepada suku tertentu atau mengenyaping suku tertentu. Tetapi saya ingin memberikan sebuah data dan fakta. Suku Tionghoa yang terkenal dengan ahli berdagang, suku Tionghoa yang juga terkenal ahli berbisnis. Apa hubungannya dengan banyaknya entrepreneur di sebuah negara akhirnya bisa menciptakan GDP yang lebih tinggi. Mengapa fenomena ini terjadi? Ini semua itu apakah masalah DNA? Tentu bukan. Apakah orang Tiongoha suku Tiongha lebih pintar cari duit? Jawabannya enggak sesimpel itu. Atau ada sebuah sistem sejarah dan kultur ratusan tahun yang membuat mereka menjadi mesin ekonomi yang efisien. Suka enggak suka? Hari ini kita akan beda tuntas. Kita akan bicara software culture dan hardware sejarah yang menciptakan fenomena ini. Ini adalah semua bermula dari software yang pertama the compounding engine atau reinvestasi radikal. Bukan sekedar hemat. Tibanya budaya keuntungan bisnis seringkiali dianggap sebagai uang jajan untuk menaikkan gaya hidup. Tapi dalam etika bisnis keluarga Tiongha keuntungan adalah benih. Jadi doktrin tidak tertulis tentang delay gratification, menunda kesenangan. Gak. Ini bukan cuman soal makan bubur. Orang Tionga terkenal suka makan bubur dan simpan uang. Ini soal reinvestasi agresif. Kita ambil satu contoh struktur bisnis keluarga Tiongoa. Kalau bisnisnya lagi cuan, mereka itu kadang kalang ngambil devidennya itu enggak semuanya. Bahkan mereka cenderung uang yang hasil cuan dari bisnis mereka diputar kembali ke bisnisnya. Jadi mereka tidak deposito semuanya atau mereka tidak beli emas semuanya tapi diputar lagi ke bisnis jadi stok barang. Itulah prinsip dagang keluarga Tionghoa. Beda dengan sori saya sebut suku-suku lain. Saya punya kakak di Amerika. Kebetulan dia tuh bercerita tentang habitnya teman-teman dia yang bule. Kalau bule, Senin dan Jumat kerja, weekend mereka ngebar, mereka enjoy the weekend, katanya rileks. Sedangkan saat ini kalau kita bicara tentang suku yang lain, kalau orang hitam, sorry t orang hitam saya enggak mau sebut yang N itu ya. Enggak boleh ya. Kalau orang hitam di Amerika mereka itu kealiannya cuman dua, nyanyi sama olahraga. Jadi jangan salah kalau orang hitam itu juara NBA, NFL, ee mereka tuh hebat sekali dalam masalah nyanyi. Makanya banyak penyanyi-penyanyi hebat itu kulit hitam. Tapi kalau soal bisnis mereka rendah, kalau simpan uang mereka juga rendah. Beda dengan suku Tionghoa di Amerika. Kalau suku Tiongkba di Amerika mereka kerja seringkiali overtime sampai lembur-lembur dan hasil uangnya ditabung karena mereka hidup di negeri barat. Mereka takut ada apa-apa dengan keuangan mereka. Itulah sebab apakah hubungannya maksuk kerbek menikahi wanita suku Tionghoa meskipun beliau Chinese American. Ya, saya enggak tahu. Tapi yang pasti maksuk memilih istri itu tidak mudah. Ada sebuah statement lucu lagi ya kan. Ini lagi bukan kata-kata saya, tapi kata-kata perdana menteri yang baru saja Malaysia yang berusia 100 tahun, yaitu Mahathir Muhammad. Ini yang ngomong beliau ya, bukan kata-kata saya. Anda search saja kata-katanya. Beliau bilang, "Kalau orang India diberikan uang dalam jumlah tertentu, anggaplah anggaplah 1 juta dolar lah." Apa yang akan orang India lakukan? Mereka akan kirim anaknya sekolah ke luar negeri, sekolah ke negeri Eropa atau Amerika untuk belajar dan intelektual yang sangat tinggi. Itu orang India. Kalau mereka orang keturunan Tionghoa, dia bilang kalau diberikan 1 juta dolar misalkan saya lupa ya jumlah angkanya berapa tapi ini perumpamaan saja. Prime Minister Matir Muhammad berkata kalau orang Tiongwa mereka langsung akan bukakan tokonya, bukakan bisnis untuk anaknya kelak selain sekolah yang tinggi. Tapi yang ketiga, Prime Minister Mahattir Muhammad berkata, "Kalau uang 1 juta dolar diberikan kepada," maaf ya sekali lagi saya bukan mau berbicara soal rasis, Melayu, maka uang itu langsung akan diberikan Lamborghini. Katanya ini statement Matir Muhammad. Silakan googling kata-kata beliau yang sangat terkenal ini. Karena beliau sebagai seorang prime minister pasti saya yakin beliau sangat berpengalaman untuk mem-manage tiga suku terbesar di Malaysia ini. Apakah ini culture? Yes. Kita lihat juga saya sering mendapatkan pengalaman ya kalau para orang-orang, mohon maaf orang-orang Indonesia yang belajar jadi TKW dan TKI di luar negeri, kalau mereka terima gaji besar kadang-kadang mereka tuh flexing, belanja, shopping, uangnya habis gitu. Mereka enggak kepikir untuk bangun bisnis. Mereka enggak kepikir untuk nabung. Nah, inilah kenapa adakah hubungan erat? Nah, apalagi orang Tionga mereka itu bisa menunda kenikmatan. Mereka tuh cuannya ditaruh dulu di bisnisnya diputar dulu. Dan devidennya mungkin mereka ambil kecil untuk biaya hidup yang secukupnya saja tapi tidak untuk difoya-foyakan. Akhirnya ini adalah sebuah senjata yang paling sering disalah pahami. Orang Barat menyebutnya bambu network di Asia Tenggara zaman dulu. di mana hukum itu tidak jelas. Pengadilan itu bisa disogok resmi, sulit diakses. Kita lihat masalahnya hukum negara kita lemah, birokrasi rumit, dan bank resmi sulit diakses dan cukup jabat tangan cair cepat biaya transaksi sebesar itu. Kecil sekali. Bayangkan skaner ini seorang pengusaha bukan Tiong butuh modal R miliar. Dia harus ke bank ya Volm Muril. Dia jaminkan sertifikat tanah. Menunggu persetujuan 1 bulan di seberang jalan, seorang pedagang Tionghoa butuh R miliar. Dia cukup nelepon di kerabatnya di Singapura atau di Hongkong karena ada sulit adanya trust dan reputasi yang dipertaruhkan. Uang itu cair hari itu juga cukup dengan jabat tangan. Apa artinya secara ekonomi? Biaya transaksi mereka menjadi nol. Mereka menjadi penggerak jauh lebih cepat daripada korporasi besar yang birokratis. Inilah kenapa jaringan bisnis mereka melintasi perbatasan negara tanpa deteksi secara terformal sehingga aliran model yang efisien di tengah. itu dalam bahasa Mandarin namanya yang saya selalu sebut namanya. Kuansi ini ini seperti yang pernah diajarkan dosen saya dulu yaitu orang Tionghoa itu punya kansi. Jadi mereka itu sangat kuat karena bagi mereka jabat tangan dan nama baik, reputasi dan kejujuran itu melebihi daripada kolateral aset yang ada di bank. Jadi kalau mereka mau berjuang, yes, ayo siap maju sama-sama berkembang. Kemudian inilah software yang kedua tadi. Ini software yang ketiga, the immigrant algorithm. Nah, bakar jembatan. Kita tahu tekanan Darwin ini menciptakan daya adaptasi luar biasa, yaitu apa? Teori Darwin, orang hijrah. Yaitu apa? Mereka menjadi pendatang. Mereka betul-betul menjadi pendatang. Yang membuat orang Tiongha itu kuat. Saya juga pernah diwancara Guru Gembul. Apa sih rahasia orang Tiongha itu sukses, Pak Candra? Karena mereka berani untuk hijrah, mereka berani untuk transmigrasi, mereka berani untuk tidak menjadi penguasa di daerah, tapi mereka betul-betul berani keluar dari daerah mereka. Dan akhirnya bukankah banyak nenek moyang leluhur Tionghoa yang ada di Indonesia itu kan asalnya hijrah dari era abad 16, 17, 18, 19. Mereka tuh hijrah dari negara atau provinsi beberapa di China Selatan. Mereka lari ke Asia Tenggara termasuk larinya ke orang Indonesia ini. Jadi imigran yang terjepit. Sejarah mencatat mayoritas lu Asia Tenggara datang sebagai kuli atau pedagang miskin yang enggak punya apa-apa. Mereka cuma naik kapal berlabu ke Indonesia. Tapi penduduk lokal punya kampung halaman, punya tanah warisan, punya safety net. Kalau gagal bisa pulang kampung bertani. Sedangkan imigran Tionghoa mereka enggak punya tanah warisan, gak punya koneksi politik tanpa safety net. Dan pilihannya cuman dua, yaitu go big or go home gitu loh. Enggak ada lagi yang lain. Berhasil atau mati kelaparan. Mentalitas tidak ada jalan pulang ini yang menghasilkan etos keluarga keras yang sering kita lihat hari ini. Nah, inilah sebab mentalitas mereka orang-orang suku Tiongo ini berbeda. Karena mereka itu bertransmigrasi. Mereka berani untuk keluar dari daerah mereka. Mereka berani untuk hijrah. Kalau mereka, kalau enggak mereka akan malu dan gagal. Tapi tunggu dulu, mengandalkan jar rajin dan jaringan saja seharusnya mereka menjadi pedagang kelas menengah yang makmur. Tidak cukup dijelaskan kenapa populasi Tiongho ini bisa mengontrol posisi ekonomi yang begitu masif. Apakah ada faktor yang jauh lebih besar? Mari kita lihat. Ada sebuah kecelakaan sejarah yang mau bicara hardware, larangan memiliki tanah, budaya enggak cukup, faktor eksternal enggak cukup, desain kolonial dan larangan tanah. Kita lihat di Indonesia orang Tiongha ini sebagai komunitas di tengah-tengah yang terjepit. Kita tahu Indonesia ini secara sejarah loh ya enggak tahu ini sekarang sedang diriset ulang dijajah dalam tanda kutip oleh Belanda selama 350 tahun. Bayangkan Belanda ini dalam kalau Belanda sih ngakunya kolonialisme itu mereka ngakunya berbisnis gitu. Tapi kalau sejarah kan mencatat Indonesia ini dijajah gitu. Nah kolonial ini kan tang abad 16 sampai abad 19 awal sampai 20 itu kan istilahnya menguasai Nusantara. 350 tahun mereka itu berhadapan dengan tiga golongan ini. Eropa golongan yang paling atas, Tionghoa di tengah sebagai middleman, minoritas. Yang ketiga golongan mohon maaf saya harus sebut pribumi atau golongan manusia asli. Padahal sebenarnya kata pribumi ini tidak tepat. Karena di Indonesia ini kan sebetulnya jarang ada penduduk asli ya. Ee tapi semua itu adalah pendatang. Nah, di sinilah plot twist-nya. Sukses ekonomi etnis T Yongwa di Asia Tenggara sebagian besar adalah hasil desain atau bisa dibilang kecelakaan. Zaman penjel Inggris masyarakat kita disegregasi, dipisah-pisah paling atas ada di Eropa dan ada politik adu domba. Seolah-olah politik adu domba ini adalah rakyat Tionghoa ini cuman memeras rakyat miskin di Indonesia di Nusantara saat itu. Dan dihembuskan isu bahwa penduduk ee imigran dari Tiongkok ini tidak membayar pajak dari adu tomba. sehingga masyarakat bahwa yang kaum buru dan petani dan nelayan ini ditelan menta-menta propaganda daripada David Ed imperanya Belanda sehingga yang menjadi korban adalah suku Tionghoa dan suku Tionghoa yang sudah tertekan pendatang berdagang secara jujur baik-baik saja tiba-tiba dihembuskan politik. Akhirnya beberapa orang yang mohon maaf pendidikannya rendah dimakan saja isu Belanda saat itu. Dan paling bawah inlander ya toh atau pribumi di tengah penjajah butuh perantara mereka butuh orang untuk memut pajak, mendistribusikan barang impor, mengelukan hasil bumi. Mereka memilih etnis tiongwa sebagai middleman minority. Itulah sebab kenapa di era orde lama dan orde baru orang Tiong jarang yang jadi polisi, jarang yang jadi PNS, jarang juga yang menjadi pejabat. even jarang menjadi tentara. Istilahnya mereka tidak bekerja dengan pemerintah. Makanya mereka satu-satunya jalan hanya satu mereka menjadi pedagang. Enggak ada solusi lain. Itulah sebab kalau kita menilik sejarah di Nusantara. Nah, hardware ini membawa berkat resplubung larangan tanah. Yang pertama ada aturan fatal yang justru menjadi ee tidak menguntungkan warga Tiongha. Tiong dilarang memiliki tanah pertanian. Bayangkan Anda hidup di era 18. Era 18-an. Sumber kekayaan utama saat itu adalah tanah. Sistemnya feodal. Orang kaya adalah tuan tanah. Tapi Anda dilarang punya tanah. Anda tidak bisa jadi petani. Terus Anda mau makan apa? Satu-satunya jalan adalah berdagang. Seperti yang tadi saya sampaikan. Dan terpaksa Anda masuk ke sektor saat itu yang dianggap kotor tidak mulia. Jual beli, rentenir, simpan pinjam, dan distribusi logistik. Makanya sean Naga Indonesia saat ini siapa yang enggak punya bank? Simpan pinjam kan. Siapa yang enggak punya properti? Siapa enggak punya mall? I kan dan mereka juga jual beli semuanya rata-rata juga punya miie instan. Mereka rata-rata dagang. Iya kan? Itulah sejarah yang ada di Indonesia. Sehingga dampak langsungnya terusir dari sektor agraris dan akhirnya mereka masuk ke sektor kotor dagang dan uang yang dianggap tidak tepat. Sedangkan orang-orang pribumi mereka tahu betul orang-orang Belanda itu memaksa mereka menjadi buru kerja kasar yang dinamakan kerja rodi saat itu dipekerjakan. Tapi saya heran ya kenapa kok orang-orang pribumi kok enggak benci orang Belanda malah diajak selfie gitu. Jadi Belanda sekarang kaya raya itu karena hasil menjajah dan menjarah KKN Nusantara selama 3,5 abad. Kemudian kedua, pergeseran era ekonomi, nilai dagang dan keuangan. Hasilnya ketika masuk di dunia kapitalisme, perdagangan dan keuangan layang nilainya melonjak ribuan kali lipat kok ya pas dibanding sektor pertanian. Jadi mereka menjadi raksasa ekonomi bukan semata-mata karena genetik tapi karena terjebak satu sistem yang paling menguntungkan dalam sistem ekonomi modern. Mereka menguasai jalur disfusi dan cash flow. Ditambah lagi kondisi negara yang hukumnya lemah korupsi tinggi kayak Indonesia ini kepastian hukum rendah. Di sinilah bambu network atau jaringan bambu bekerja. Mereka tidak bisa percaya pada hukum negara yang korup. Mereka membuat sistem perbankan informal sendiri. Uang mengalir lintas negara dari Jakarta, Singapura, Hongkong lewat jaringan keluarga. Biaya transaksi murah, pebisnis lain masih antri izin bank, pebisnis Tiongwa sudah closing deal lewat telepon melalui kekosongan institusi. Nah, di sinilah awal terjadi. Apakah ini adalah takdir bagi oleh etnis? Saya rasa tidak. Mari kita bandingkan dua raksasa lain, Salim Grup di Indonesia dan CP Grup di Thailand. Kita lihat apakah sama-sama suku kelahiran suku Tionghoa sama-sama dari daratan China. Tapi mereka semua bermula dari imigran Tionghua dan perantauan ini agennya sama-sama beda nasib karena politik negara berbeda. Thailand memilih jalaran asimilasi. Raja Thailand mengijikan etnis Tionghoa menjadi thai. Jadi bukan cindo gitu istilahnya atau bukan cintai tapi satu nama Thai. Makanya belakangan kok nama Cindo itu populer ya. Cina, Indonesia ya Indo ya Indo lah. Ngapain ada kata cindo segala sensitif loh bagi Rete Tonggo apalagi anak-anak Gensi ini di sosmet itu kok semuanya cinda. Cindo. Kalau Anda mendengarkan didengarkan oleh kaum-kaum yang eranya Pak Harto mereka tersinggung ya lebih baik disebut mungkin Tiongo aja. Kalau ada suku Batak, suku Jawa, suku Banjar, suku Minahasa, suku Papua dan sebagainya, ngomong aja suku Tionghoa. Kembali ke peraturan presiden di eranya Pak SPY. Jadi tolong saya juga dapat titipan banyak dari dalam tanda kutip orang-orang Tionghoa yang tua, tolong anak-anak Gensi, Pak Candra tolong diajarkan jangan pakai kata cindo tidak enak. Itu sangat ada kata cinanya kita itu Indonesia. CP Group tumbuh bukan karena koneksi, tapi inovasi agriculture. Mereka menjadi jembatan Thailand ke China. Hasilnya minim konflik rasial ekonomi Thailand tumbuh stabil bersama mereka. Sedangkan satu studi kasus B Lim Shulong Om Lim Salim Grup di era Orde Baru terciptalah beda. Ada sistem cukong. Pengusaha tiong seperti Omlim diberi hak monopoli, cengkeh dan terigu. Karena dekat dengan kekuasaan yang sudah pernah saya bahas di sistem ini. Cek video saya sebelumnya. Mereka kaya raya luar biasa tapi posisinya rapuh. Mereka dijadikan sapi perah, politik, tapi tidak diberikan perlindungan sosial yang setara. Akhirnya waktu jatuhnya Pak Harto di tahun '98, suku Tionghoa Indonesia yang dari era Salim Grup diserang habis-habisan. Hembusan politik yang akhirnya menjadi lemah dan tidak ada perlindungan bagi warga negara Tangoa. Beda sama Thailand. Sama-sama pendatang, sama-sama merantau, tapi alhasil hasilnya berbeda. Aset dijara di tahun 1998 ya kan. Toko dibakar di mana-mana. Seolah-olah kita ini warga negara asing tidak ikut memerdekakan bangsa Indonesia. Itulah sebab kenapa bangsa anak-anak Gensi ini seringkiali melupakan sejarah. Nah, saya ini titip menyambung suara. Janganlah pakai istilah jindo tapi istilah Tionghoa. Maka yang benar tuh bukan jindo tapi inti Indonesia Tionghoa. Aset dijarah, rumah dibakar, modal dibawa kabur ke Singapura. So, ini ada pelajaran mahal dalam sistem politik. Kuncinya bukan orangnya, tapi sistemnya. Di Thailand, sistem membuat mereka menjadi aset bangsa. Di Indonesia, sistem membuat mereka menjadi ATM politik. Orang Tionghoa mana, pengusaha Tionghoa mana yang enggak dalam tanda kutip diperas, mereka kalau omset naik dikit pajaknya langsung dipajakin yang tinggi. Kalau misalkan ada apa-apa, mereka dipajakin sama oknum-oknum. Sorry to say, saya harus menyebatkan oknum-oknum institusi di bangsa kita. Mau mulus perizinan pasti ada uang dingin di bawahnya atau uang pelicin. Itulah sistem di Indonesia. Bukan orang yang salah, tapi sistem politiknya. Kalau Singapura kita enggak usah bahas ya, karena 70% penduduknya memang keturunan dari China Selatan sehingga presidennya pun juga keturunan Tionghoa. Nah, Indonesia inilah yang menjadi ATM politik. Dan bagian yang kelima, The Invisible King, Illusy Forbes. Perhatikan baik-baik ya, dari cerita Sudono Salim tadi. Kita sadar bahwa silau melihat orang terkaya itu rata-rata orang-orang Tionghoa. Majalah FOP setiap tahun isinya melulu Hartono lah, Wijaya lah, Salim lah, dan deretan nama Tiongha lainnya. Sekarang maju lagilah Prajogo, Pangestulah, kemudian muncul lagilah keluarga Mayapada lah. Publik sering berpikir, "Wah, merekalah penguasa Indonesia sebenarnya. Tapi izinkan saya meluruskan satu perspektif lain karena ini acara sisi yang lain. Fakta pahit realita bahwa mereka itu penguasa atau mereka hanya bendahara. Ini penting loh. Persepsi publ publubik Tiongha itu penguasa ekonomi. Tapi realita Tiongha itu visible wealth, saham dan uang tunai. Sedangkan yang tersembunyi adalah elit politik, the land lords, tuan tanah. Perhatikan baik-baik. Kekayaan Parakungdo. Tiongho Indonesia ini mayoritas bentuknya valuasi saham dan uang tunai. Itu yang masuk top 10 Indonesia. Angka di atas kertas bisa naik. terjun bebas tergantung pasar. Kekayaan mereka kelihatannya visible wealth. Siapa penguasa tanah di Indonesia itu sebenarnya? Yaitu tidak lain tidak bukan adalah elit politik dan keluarga penguasa. Kekayaan mereka itu kedaulatan, tanah dan konsensi tambang dan energi. Jangan salah. Itulah di Indonesia. Power sejati mereka adalah tanda tangan mereka yang menentukan situasi dan nasib wong lomrat. Jadi di atas langit masih ada langit, ada raja dagang, masih ada tuan tanah. Siapa mereka? Mereka adalah elit politik dan keluarga pengusaha yang jarang sekali masuk forbes. Kenapa? Kekayaan mereka bukan s publik melainkan kedaatan dan aset tanah. Merekalah yang memegang jutaan hektar tanah HGU hak guna usaha. Mereka yang menguasai konsensi tambang. Mereka yang menguasai yang mengeluarkan IUP izin usaha penambangan, mereka yang mengeluarkan saham sawit dan sebagainya. Dan akhirnya energi di Rebelping ini nama mereka tidak muncul di perusaha tapi tanda tangan merekalah yang menentukan nasib konglomerat itu tadi. Itulah sebab ya mereka pandai dagang punya valosi saham tapi tentu harus ada porsi yang disisihkan sama si regulator ini tadi. Jadi bukti sejarah 98 etnis Tionghoa benar-benar berkuasa. Kenapa sejarah mencatat mereka selalu jadi korban? Tahun '98 siapa yang tokonya dijarah? Siapa yang dijadikan kambing hitam? Penguasa sebenarnya tidak akan pernah jadi korban di negaranya sendiri, apalagi membawa isu agama. Isu agama ini selalu yang paling safety di negara ini. Kalau agamanya sama, maka otomatis aman dan tidak dijarah. Faktanya, posisi orang Tionghoa di struktur kekuasaan Indonesia itu lebih mirip manajer toko. Sementara elit politik oligarki adalah pemilik gedungnya. Manajer boleh pegang kunci brank kas, manajer boleh terlihat sibuk dan kaya. Tapi kalau pemilik gedung bilang keluar, ya mereka harus keluar. Mereka enggak punya kekuasaan apa-apa. Mereka hanya terlihat punya uang tapi tidak punya kuasa. Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang keenam yaitu kesimpulan atau transparansi pajak. Tidak ada satu perbedaan fundamental dalam struktur kekayaan mereka yang harus kita pahami. Coba perhatikan perusahaan-perusahaan raksasa milik pemil kita sering bericakan BCA lah, Astra lah, Indofood lah. Banyak dari mereka perusahaan TBK. Artinya apa? Laporan keuangan merek mereka telanjang, transparan, bisa dibaca siapa saja. investor asing sampai mahasiswa ekonomi semua bisa baca dan karena mereka transparan, perusahaan ini yang menjadi pembayar pajak terbesar dan paling patuh di negeri ini. Keuntungan mereka tercatat pajaknya masuk kas negara lalu menjadi jalan raya, sekolah, subsidi BPJS yang kita nikmati. Sedangkan yang tak terlacak siapa? Yang tidak masuk perusahaan TBK siapa? Lelord sebenarnya siapa? Nah, itulah sebab seperti judul saya tadi di awal, kenapa sebuah negara kalau populasi Tionghoanya semakin besar, GDP-nya semakin tinggi di Indonesia jadi ATM politik. Ya. Kemudian kita lihat yang terakhir di sinilah ruang gelap oligarki. Sekarang bandingkan dengan kekayaan invisible oligarki, para tuan tanah yang saya sebut tadi. Kekayaan mereka yang berupa ratusan ribu hektar, konsensi tambang seringkiali tidak tercatat di pusaka saham. Baru-baru ini ada tandingannya 9 haji yang sudah mulai Tbk satu persatu supaya kalau tidak hal ini akan terjadi. Harta mereka tersembunyi mungkin di perusahaan Cangkang Shell Companies mungkin juga atas nama orang lain tidak terlihat oleh publik. Pertanyaan sederhana. Jika perusahaan publik milik Ol Tiong jelas storan pajaknya triliunan rupiah, bagaimana dengan para penguasa lahan ini? Seberapa besar pajak yang mereka bayar ke negara ini dibandingkan dengan kekayaan alam yang mereka keruk dari bumi Nusantara kita. Baruan Desember yang lalu sudah terbuka dengan luas. Bagaimana banjir Sumatera? Bagaimana kayu yang hasil di tambang berserakan di mana-mana. Dan saat ini netizen sudah mulai sadar dan pintar siapakah pembayar pajak yang terbesar. Anda jangan cuman melihat dari satu sisi orang Tionghoa yang mana mereka bekerja keras, tapi di sisi yang lain orang yang tidak nampak para oligarki sebenarnya yang akhirnya mereka yang namanya aman. Apakah cuman orang Tiongo disalahkan atau para oligarki yang tidak mau sebagai pembayar pajak terbesar tapi hasilnya banjir Sumatera. Oleh sebab itu, sahabat S30, video ini saya disclaimer, saya cuma membahas tentang mengapa orang Tionghoa yang besar populasinya di sebuah negara GDP-nya semakin tinggi. Ketika saya bahas semua runtut lengkap dengan pembandingannya bukan cuman DNA-nya orang Tionghoa, tapi Indonesia bisa jauh lebih maju kalau ruang gelap oligarki ini mulai pelan-pelan dibatasi dan siapa yang berkompetisi, siapa yang berjuang, dia yang menang. Semoga video ini mencerahkan dan agar para sahabat S30 bisa menikmati dan membuat para sahabat SP30 bisa dengan logika dan level up eh intelektualnya. Sukses untuk para perantau, sukses untuk para pejuang karena andalah pahlawan ekonomi bangsa sebenarnya. Sukses untuk Anda. Jangan lupa like-nya and salam hebat luar biasa. Yeah.
Resume
Categories