Transcript
Ep-dJJPuiu8 • Demam Properti di Kanada: Negara Kaya, Rakyatnya Kian Terhimpit
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/JendelaDunia-u3n/.shards/text-0001.zst#text/0069_Ep-dJJPuiu8.txt
Kind: captions
Language: id
Halo semuanya, selamat datang kembali di
channel Jendela Dunia. Jangan lupa tekan
tombol subscribe dan nyalakan
loncengnya. Mari kita buka jendela
wawasan kita hari ini. Oke, lo siap? Gue
enggak bakal nyuruh lo percaya sama gue.
Gue cuma minta lo duduk bentar, taruh
handphone jangan sambil doom scroll,
terus dengerin cerita ini kayak
loongkrong di warkop jam 11.00 malam.
Setengah ngantuk tapi kuping masih tajam
kalau bahas duit, kerjaan, dan hidup
yang katanya lebih enak di luar negeri.
Eh, soalnya gini. Kalau gua bilang
Kanada, otak lo pasti langsung
autopilot. Kebayangnya rapi, aman, adem,
udara segar, orang-orang sopan, tetangga
enggak nyetel knalpot brong jam pagi.
Kayak negara yang kalau hidup itu game,
dia sudah unlock mode easy. Pegunungan
Rocky yang estetisnya kayak wallpaper,
laptop, kantor, Danau Biru yang bikin lu
pengen jadi manusia baik-baik. Kota-kota
yang namanya aja sudah kedengaran mahal.
Toronto, Vancouver, Montreal. Ditambah
lagi pop culture, negara ini brandingnya
gila. Dari Justin Bieber sampai Drake,
The Weekend, Ryan Reynolds, pokoknya
kalau Kanada bikin tim futsal artis itu
sudah bisa main di final Piala Dunia
Entertainment. Dan di kepala banyak
orang, Kanada itu versi kakak teladan
dari Amerika Utara. Kakak yang kalem,
enggak banyak drama, enggak gampang
meledak, jarang bikin headline yang
bikin dunia tepok jidat. Di sana ada
kesehatan publik yang lebih manusiawi.
Sekolah yang kelihatannya rapi,
lingkungan yang katanya lebih dijaga,
bahkan stereotipnya aja lucu. Orang
Kanada sedikit-sedikit sorry. Lo yang
nyerempet dia, dia yang minta maaf.
Sopannya kayak NPC di game yang enggak
punya pilihan dialog lain selain maaf,
ya. Nah, sekarang gua minta lo stop
sebentar. Lu boleh tetap suka Kanada,
boleh tetap pengin jalan-jalan ke sana,
boleh tetap punya mimpi kerja di sana,
tapi tolong jangan kemakan brosur karena
cerita yang mau gua bawa ini bukan
cerita Kanada hancur total kayak kiamat.
Bukan. Ini lebih seram justru karena
halus. Ini cerita tentang negara yang
kelihatan aman tapi di bawahnya ada
retak-retak yang makin panjang, makin
dalam dan bikin banyak orang sana
ngerasa kok hidup gue jadi begini ya.
Coba bayangin lo jalan di pusat kota,
kota yang selama ini lo pikir rapi dan
lo ketemu pemandangan yang enggak
nyambung sama imajinasi lo. Tenda tenda,
tenda biru, tenda hijau, terpal-terpal
yang dipasang di taman, di pinggir
jalan, di sudut-sudut yang dulu jadi
spot foto. Rasanya kayak camping, tapi
eh camping versi patah hati. Dan itu
bukan satu dua. Ini fenomena yang makin
sering dibahas. Orang yang kerja pun
bisa jatuh ke situ. Bukan cuma yang
enggak mau kerja, bukan cuma yang malas.
Banyak yang kerja tapi biaya hidupnya
yang ngejar kayak dep collector. Terus
ada satu pemandangan lagi yang lebih
bikin dada sesak. Antrean panjang di
foodbank. Lo jangan salah. Ini bukan
antrian konser, bukan antrian iPhone,
bukan antan diskon Black Friday. Ini
antrean orang buat dapat makanan. Dan
yang ngantre bukan cuma yang kelihatan
susah, tapi juga mahasiswa, pekerja,
bahkan orang tua. Lo tahu rasanya
gimana? Kayak ngelihat orang pakai jaz
kantor tapi di tangannya pegang kupon
roti sama susu kaleng di negara anggota
klub negara kaya itu rasanya kayak ada
yang glitch di sistem. Di titik ini
biasanya orang langsung defensif. Ah
lebay itu cuma di beberapa area. Oke,
fair. Makanya gue gak mau jualan horor
doang. Kita pegang beberapa angka yang
fungsinya bukan buat pamer, tapi buat
jadi paku yang nancep di otak. Salah
satu angka yang sering dipakai buat
ngukur napas ekonomi itu pengangguran.
Dan belakangan angka pengangguran Kanada
sering dibahas naik ke kisaran 6 sampai
7%. Kedengarannya kecil, buat negara
maju itu bukan kecil. itu tanda mesin
lagi berat. Dan yang paling kerasa bukan
cuma angka totalnya, tapi di anak muda.
Lu bayangin lo lulus, lo punya utang
sekolah, lu masuk pasar kerja tapi
pasarnya lagi seret. Lowongan ada, tapi
saingannya ramai dan banyak kerjaan yang
enggak nyambung sama skill. Akhirnya
lahir generasi yang capek sebelum mulai.
Dan di atas itu semua ada satu penyakit
yang lebih diam-diam, produktivitas. Ini
kata yang sering bikin orang ngantuk,
tapi sebenarnya sederhana. Lo kerja
segitu-gitu aja, tapi hasil yang lo
ciptain enggak naik. Negara bisa
kelihatan tumbuh, tapi individu ngerasa
hidup makin sempit. Kayu lo tiap tahun
gajian, tapi kok rasanya belanja makin
enggak terbeli. Dan di banyak diskusi
kebijakan, produktivitas Kanada sering
disebut mandek. Kalau mesin
produktivitas mandek, negara itu kayak
orang yang lari di treadmill
kelihatannya gerak tapi enggak pindah ke
mana-mana. Nah, di saat dalam negeri
lagi begini, dari luar datang tekanan.
Dan di sini gua mau ngomong dengan
kepala dingin, tekanan luar itu sering
cuma pemantik. Pemantik itu bikin api
kelihatan, tapi bahan bakarnya sudah
numpuk dari dulu. Misalnya kalau negara
itu terlalu tergantung pada satu pintu
pasar begitu, pintu itu digeser sedikit
aja satu rumah langsung kedinginan.
Kanada punya hubungan dagang yang gila
dekat sama Amerika. Dekatnya bukan cuma
tetangga, tapi benar-benar nempel secara
rantai pasok, jalan darat, pipa, dan
kebiasaan bisnis. Mereka berbagi
perbatasan darat yang panjangnya hampir
9.000 km. Itu panjang banget sampai
angka itu sendiri kayak enggak
manusiawi. Dan karena segitu dekatnya,
banyak perusahaan Kanada tumbuh dengan
satu logika simpel. Ngapain jauh-jauh
cari pasar kalau pasar terbesar sudah di
sebelah rumah? Di titik ini gua mau
lempar satu angka yang sering dipakai
jadi angka kutukan dalam diskusi tentang
Kanada. Porsi ekspor Kanada ke Amerika
itu sangat besar. Sering disebut sekitar
3/4 dari total ekspor. Bahkan ada yang
nyebut mendekati 77%.
Lo enggak usah debat angka persisnya
dulu. Yang penting lo paham struktur.
Mayoritas besar uang ekspor mereka lewat
satu pintu. Dan kalau pintu itu dipasang
palang, Kanada enggak bisa sok santai.
Sekarang analoginya biar gampang, lu
punya warung, pembeli lo ramai, tapi
ternyata tujuh dari 10 transaksi lo itu
dari satu orang. Orang itu tajir belinya
banyak tiap hari. Lo senang dong. Tapi
masalahnya begitu orang itu bangun tidur
lagi bad mood atau dia tiba-tiba bilang,
"Mulai besok gue cuma mau beli kalau lu
nurut aturan gue, lu kepepet." Lu enggak
punya power buat bilang, "Ya sudah, sana
pergi." Karena kalau dia pergi, warung
lo bukan turun sedikit, tapi ambruk.
Itulah kenapa ketika ada politisi di
Amerika ngomong soal tarif, soal tekanan
dagang, soal kalau kalian enggak
ngikutin maunya gue gua kasih beban
biaya, itu berasa bukan sekadar ancaman
diplomatik. Itu kayak orang megang kerah
baju ekonomi loh. Dan lucunya banyak
orang di luar sana pikir masalahnya cuma
tarif. Padahal yang diperebutkan itu
lebih gede. Masa depan supply chain.
Dunia lagi transisi ke energi baru,
mobil listrik, baterai, teknologi
tinggi, bahan-bahan mentah yang dulu
cuma jadi berita halaman belakang,
sekarang jadi rebutan. Lithium, nikel,
cobalt, rare earth, dan kawan-kawannya.
Ini bahan yang bikin baterai bisa nyala,
bikin motor listrik bisa jalan, bikin
sistem pertahanan dan elektronik makin
canggih. Dan Kanada sebagai negara yang
tanahnya luas dan kaya sumber daya punya
banyak potensi di sini. Buat Amerika
punya tetangga yang bisa jadi lumbung
mineral strategis itu kayak jackpot.
Dekat, aman, enggak perlu lewat laut
jauh, enggak perlu pusing jalur
geopolitik. Tapi di sinilah paradoksnya
punya sumber daya banyak itu enggak
otomatis bikin lo kuat. Lo bisa jadi
kaya di tanah tapi miskin di pabrik. Lo
jadi raja bahan mentah tapi tetap jadi
babu nilai tambah. Karena kalau yang lo
lakukan cuma menggali, ngirim, dan orang
lain yang mengolah brand dan jual balik
yang paling kaya tetap yang pegang
manufaktur dan teknologi. Analogi paling
nyebelin tapi nyata. Lo jual singkong
murah, tetangga lo bikin keripik
premium, packing bagus, masuk minimarket
harganya 10 kali, terus lu beli lagi
keripik itu. Lo yang punya kebun, tapi
lo yang jadi konsumen mahal. Dan itu
bukan salah loat. Itu karena struktur
industri lo enggak dibangun buat ngolah.
Lo keburu nyaman jadi pemasok. Sekarang
kita balik ke dalam negeri Kanada karena
orang suka salah fokus. Kanada kacau
karena tekanan luar. Enggak sesimpel
itu. Di dalam ada satu arena yang bikin
ekonomi mereka jadi kayak kasino,
properti. Di banyak kota besar, rumah
berubah dari kebutuhan jadi tiket lotre.
Dan ketika rumah jadi tiket lotre, semua
orang yang punya modal bakal mikir,
ngapain bikin bisnis ribet kalau beli
apartemen aja bisa naik? Ngapain pusing
RnD kalau tanah dan tembok bisa naik
sendiri? Masalahnya ketika uang dan
talenta kebanyakan lari ke properti,
ekonomi jadi keropos. Lo punya banyak
gedung, tapi lo enggak punya banyak
inovasi. Lo punya apartemen, tapi lo
enggak punya cukup pabrik dan teknologi
baru. Dan akhirnya produktivitas lo
mandek. Ini yang bikin negara bisa
kelihatan makmur. Tapi sebenarnya itu
makmur versi kosmetik. Terus rumah mahal
itu bukan cuma bikin orang marah karena
kok mahal. Efeknya ke mana-mana. Kalau
orang muda enggak bisa beli rumah,
mereka nunda nikah, nunda punya anak,
nunda banyak keputusan hidup. Kalau sewa
mahal, gaji habis buat bertahan, bukan
buat berkembang. Dan kalau gaji habis
buat bertahan, konsumsi turun, bisnis
kecil mati pelan-pelan, dan kota jadi
tempat yang cuma ramah buat yang sudah
kaya duluan. Gue tahu di titik ini lu
pasti kepikiran, tapi kan banyak negara
juga properti mahal, betun. Bedanya
adalah di Kanada tekanan ini ketemu
barengan sama struktur ketergantungan
ekspor yang tinggi dan gelombang biaya
hidup. Jadi badai bukan badai yang
meledak sehari, tapi badai yang bikin
orang capek bertahun-tahun. Nah,
sekarang kita masuk ke satu detail yang
sering bikin orang kaget. Sistem hipotek
di sana banyak yang harus diperbarui
secara periodik. Jadi, orang yang ambil
pinjaman saat bunga rendah, beberapa
tahun kemudian bisa kena tagihan baru
ketika harus perpanjang dengan bunga
lebih tinggi. Lu bayangin lu dulu bayar
cicilan segitu, tiba-tiba naik banyak.
Bukan naik Rp100.000 kayak kena parkir
liar. Ini bisa naik sampai bikin lo
mikir gue masih hidup buat rumah atau
gue kerja buat bank. Dan ketika banyak
orang kena tekanan ini barengan, pasar
properti jadi aneh. Jual rugi sakit,
tahan sakit, dua-duanya bikin stres. Dan
di atas itu ada isu demografi dan
imigrasi. Kanada selama ini dikenal
proimigrasi.
Dan imigrasi itu punya dua wajah. Wajah
satu, tenaga kerja, energi baru, ekonomi
jalan. masyarakat makin dinamis. Wajah
dua, kalau infrastrukturnya enggak siap,
kalau housing enggak siap, kalau layanan
publik enggak siap, imigrasi jadi bahan
bakar kemarahan sosial. Orang lokal
ngerasa kok rebutan rumah, rebutan
layanan, rebutan kerjaan. Sementara
pendatang ngerasa kok mimpi yang dijual
beda sama realita. Di sini gua enggak
mau jatuh ke jebakan ngomong jahat soal
imigran. Karena imigran itu sering
justru korban paling empuk. Mereka
datang bawa harapan, bawa tabungan, bawa
keluarga, tapi ketemu biaya hidup yang
brutal. Banyak yang akhirnya kerja di
sektor upah rendah bukan karena mereka
bodoh, tapi karena sistemnya yang enggak
nyerap skill mereka dengan baik. Dan
kalau suplai tenaga kerja upah rendah
melimpah, perusahaan jadi makin santai
buat naikin gaji. Ngapain naikin gaji
kalau selalu ada orang baru yang mau
ambil kerjaan itu demi bertahan hidup?
Lalu muncul fenomena lain yang sensitif
tapi nyata dibahas pendidikan tinggi
yang makin tergantung pada mahasiswa
internasional. Karena mahasiswa
internasional biasanya bayar jauh lebih
mahal daripada lokal. 3 sampai 5 kali
lipat itu angka yang sering disebut
dalam diskusi publik. Dan ketika kampus
jadi mesin pemasukan lewat mahasiswa
asing, kebijakan pembatasan mendadak
bisa bikin kampus dan ekonomi sekitar
kampus goyang. Kafe sepi, kosong,
pekerjaan paruh waktu hilang, dosen
kontrak dipotong. Ini efek domino yang
sering orang luar enggak lihat. Jadi
kebayang kan pola besarnya? Lu punya
negara yang selama puluhan tahun nyaman
di samping pasar raksasa. Perusahaannya
enggak kepepet buat jadi petarung global
karena pembeli terbesar ada di sebelah.
Modal dan energi dalam negeri makin
banyak diparkir di properti.
Produktivitas mandek. Lalu ketika biaya
hidup naik dan sistem perumahan makin
sulit, tekanan sosial naik. Di saat
bersamaan, hubungan dagang yang terlalu
terikat satu pintu bikin negara itu
gampang dipencet dari luar. Dan ketika
dunia masuk era mineral strategis, nilai
sumber daya naik, perebutan pengaruh
naik, tekanan tambah lagi. Sekarang gua
mau ajak lo ngerasain satu hal yang
paling pahit dari cerita ini. Ilusi
hidup aman itu sering bukan karena
sistem loat, tapi karena badai belum
datang. Banyak orang Kanada juga dulu
ngerasa aman. Mereka ngerasa kita negara
baik, kita tertib, kita sopan, kita
bukan negara yang suka konflik. Tapi
dunia enggak ngasih diskon karena lo
sopan. Harga rumah enggak turun karena
lo bilang sorry. Tarif dagang enggak
batal cuma karena lo punya pemandangan
bagus. Di titik ini, lo harus ngerti
satu konsep. Ketergantungan itu bikin
ruang gerak lo sempit. Lo mau nolak
tekanan, takut. Lu mau ngalah terus,
marah. Lu mau cari pasar baru, butuh
waktu lama, investasi besar, pelabuhan,
rel, kebijakan industri, itu bukan
proyek semester depan, itu proyek
bertahun-tahun. Dan sementara lu
membangun pintu baru, pintu lama sudah
keburu digoyang. Makanya ee ketika
Kanada sekarang bicara soal
diversifikasi itu bukan karena mereka
baru kepikiran banyak orang pintar di
sana sudah ngomong itu sejak lama. Tapi
ngomong itu gampang, ngelakuinnya yang
susah. Karena diversifikasi artinya lo
harus keluar dari kebiasaan enak. Lo
harus investasi ke sektor yang hasilnya
enggak instan. Lo harus bangun industri
yang kompetitif. Lu harus nerima fakta
pahit. Selama ini lo hidup terlalu
nyaman jadi pemasok. Sekarang lo harus
belajar jadi pembuat. Dan di tengah
kekacauan itu muncul figur penyelamat
versi narasi ekonom teknokrat. Orang
dengan CV mentereng. Pengalaman krisis.
Orang yang kelihatannya bisa beresin.
Harapan publik biasanya gitu. Kalau
sopirnya lebih jago, mobil yang mogok
bisa jalan. Tapi ada satu kenyataan yang
lebih kejam. Kalau mesin mobilnya sudah
haus dan jalanannya berlubang, sopir
paling jago pun tetap bakal ngerem
terus. Ini bukan soal satu orang, ini
soal struktur. Sekarang sebelum lu
ketawa sambil bilang, "Yaelah, Kanada
negara maju juga bisa boncos, gua mau lo
tahan. Jangan jadikan ini bahan
nyinyir." Karena ini bukan cerita buat
ngejek. Ini cermin buat semua negara
yang pernah ketagihan jalan mudah. Dan
jujur aja di Asia Tenggara pun kita
sering kenal jalan mudah. Komoditas lagi
bagus, harga naik, semua senang. Lalu
kita merasa itu akan selamanya. Padahal
dunia itu siklus. Harga berubah,
teknologi berubah, politik berubah. Dan
yang paling berbahaya bukan perubahan
itu sendiri, tapi rasa aman palsu yang
bikin lu malas nyiapin pintu cadangan.
Gua enggak mau nutup ini dengan ceramah
solusinya begini-begini. Hidup bukan
trad motivasi. Yang gua mau tinggalin di
kepala lo cuma satu pertanyaan yang
ganggu sedikit tapi sehat. Kalau sebuah
negara yang kelihatan paling tertib,
paling aman, paling beres, bisa
kerepotan gara-gara terlalu tergantung
dan terlalu nyaman, berarti yang harus
lo takutin bukan negara miskin yang
kelihatan rapuh. Yang harus lu takutin
adalah ilusi stabilitas yang bikin semua
orang santai sampai fondasinya keropos.
Dan sekarang pertanyaan paling nyebelin
yang biasanya orang hindari. Kalau hidup
lo selama ini terasa aman, itu karena lo
beneran kuat atau karena badai belum
nyampai ke gang lo? Kalau lo mau, gua
bisa lanjutkan dari sini dengan versi
yang lebih daging ke beberapa titik.
Gimana jebakan properti ngerusak
produktivitas? Gimana perang mineral
bikin negara tetangga jadi rebutan. Dan
gimana kebijakan imigrasi bisa berubah
dari kebajikan. Jadi, em sumbu konflik
sosial tetap dengan gaya lue, tetap
nyambung tanpa jadi buku teks.