"USIR SEMUA POLITISI!" - Kenapa Negara Maju Seperti Prancis & Inggris Sedang 'Sakit'?
bFGAdYqHMgA • 2026-02-10
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Halo semuanya, selamat datang kembali di
channel Jendela Dunia. Jangan lupa tekan
tombol subscribe dan nyalakan
loncengnya. Mari kita buka jendela
wawasan kita hari ini. Bro, gua memulai
dari satu adegan yang kayaknya lo pernah
ngalamin, minimal pernah lihat di layar.
Lo lagi rebahan. Satu tangan pegang HP,
satu tangan pegang nasib. Scrolling
santai sambil ngomel, "Besok gue diet."
Tapi jempol lo malah nyeret ke konten
makanan. Tiba-tiba muncul video Paris.
Bukan Paris yang buat prewedding, bukan
Paris yang buat konten estetic morning
routine. Paris yang isinya asap,
teriakan, sirene, orang lari, polisi,
dan poster-poster marah. Lo pikir itu
film? Eh, caption-nya demo besar mogok
kerja kota lumpuh. Lu geser lagi muncul
London. Bukan London yang orangnya minum
teh sambil ngomong sopan. London yang
orangnya antre panjang buat ambil
makanan gratis. Mukanya bukan drama,
cuma capek. Dan otak lo nge-lag. Lah itu
Perancis sama Inggris negara maju kok
kayak gini? Ini negara G7 apa grup 7uh
orang yang lagi ribut di kos? Jujur
rasanya kayak lihat teman yang lo kira
hidupnya mapan tiba-tiba curhat gua
pusing cicilan. Bro, kita kaget bukan
karena kita sombong tapi karena ada
bayangan lama di kepala kita. Negara
maju itu harusnya tenang, rapi, dan
punya semacam tameng anti kacau. Nah,
sebelum kita keburu bilang, "Ya udah sih
urusan mereka, gue pengen lo tahan dulu
1 detik." Karena dua negara ini bukan
cuma punya sejarah panjang, tapi juga
punya satu janji yang kita sering anggap
paket lengkap negara maju. Lo kerja, lo
bayar pajak, lo ikut aturan, nanti
negara jaga lo. Ada layanan publik, ada
keamanan, ada masa tua yang tidak bikin
lo deg-degan tiap lihat kalender. Ada
politik yang minimal di kepala kita rapi
dan beradab. Jadi ketika orang di sana
mulai teriak usir aja semua politisi itu
bukan cuma marah biasa. Itu tanda kalau
janji itu mulai keropos. Dan kalau janji
di negara yang dianggap paling matang
aja bisa keropos, pertanyaan yang
nyebelin muncul. Yang lain gimana? Oke,
kita masuk ke Prancis dulu. Lu tahu
stereotip Prancis kan orang santai,
demonstrasi sudah kayak olahraga
nasional. Tapi tetap aja kita
bayanginnya hidup mereka itu enak.
Pensiun terjamin, jam kerja manusiawi,
negara peduli. Lalu 2023 datang dan
pemerintah bilang, "Umur pensiun naik ya
dari 62 jadi 64. di atas kertas buat
orang yang kerjanya duduk di kantor 2
tahun mungkin kedengarannya ya udah deh.
Tapi buat banyak pekerja yang badannya
dipakai setiap hari 2 tahun itu bukan
angka, itu rasa. Itu tambahan dua musim
dingin, 2 tahun lutut nyeri, 2 tahun
punggung pegal, 2 tahun nahan shift, 2
tahun nunda waktu bareng keluarga. Dan
yang lebih penting itu bukan cuma soal
individu. Di Prancis pensiun itu bukan
sekadar tabungan pribadi kayak gue
nabung sendiri terus bebas. Pensiun
adalah simbol kontrak sosial. Negara
bilang, "Lo ikut sistem, lo
berkontribusi, nanti sistem balikin
perlindungan." Jadi ketika negara
mengubah aturan main, orang bukan cuma
hitung duit, tapi hitung harga diri. Gue
ngomong dengan bahasa warung kopi
masalahnya bukan cuma naik 2 tahun.
Masalahnya adalah siapa yang disuruh
nambah 2 tahun. Orang yang punya kerjaan
fleksibel bisa bilang oke. Tapi orang
yang kerja fisik, kerja shift, kerja
layanan publik yang under staff itu
bakal bilang, "Lo ngacau ya." Kalau lu
pernah lihat Abang Ojol yang narik dari
pagi sampai malam, lu bayangin aja kalau
dia disuruh narik 2 tahun lebih lama pas
umurnya sudah 60 komuan. Bukan berarti
tidak mungkin, tapi beda antara mungkin
dan manusiawi. Dan di Prancis banyak
yang merasa pemerintah ngomong kayak
robot spreadsheet. Seolah semua orang
punya tubuh yang sama, punya kerjaan
yang sama, punya hidup yang sama. Di
situlah emosi mulai naik. Tapi api
beneran membesar bukan karena angka 64.
Api membesar karena cara pemerintah
ngelolosin kebijakan itu. Di Prancis ada
mekanisme konstitusi yang terkenal.
Pasal 493.
Sederhananya itu jurus kita lewat aja
tanpa voting penuh. Pemerintah bisa
memaksakan rancangan undang-undang lolos
tanpa pemungutan suara final di
parlemen. Kecuali parlemen bisa
menjatuhkan pemerintah lewat mosi tidak
percaya. Secara hukum jurus ini ada.
Secara teknis ini legal, tapi secara
rasa demokrasi ini kayak lu lagi rapat
RT, warga sudah debat, sudah capek, ada
yang emosi, terus ketua RT bilang,
"Udah, gue putusin aja, tidak usah
voting." Lu bisa bilang itu sah. Tapi
jangan kaget kalau besok warga tidak mau
bayar iuran dan mulai nyinyir tiap lihat
muka lo. Di titik itu, kemarahan publik
berubah. Ini penting karena banyak orang
di luar Prancis ngira, "Ah, orang
Prancis emang hobi demo." Tapi yang
terjadi 2023 itu bukan demo biasa. Itu
pergeseran dari gue tidak setuju
kebijakan, jadi gue tidak percaya
prosesnya. Ketika proses dianggap
manipulatif, kebijakan apapun jadi susah
diterima. Demo jadi panjang, mogok kerja
menyebar, kereta berhenti, sekolah
terganggu, layanan publik seret. Ada
momen pengangkutan sampah di Paris
kacau, sampah numpuk. Buat turis itu
mungkin cuma e, tapi buat warga itu
simbol sistem yang biasanya jalan mulai
retak. Dan ketika sistem retak, orang
jadi gampang menempelkan emosi ke
apapun. Polisi nembak gas air mata,
orang makin panas. Media meliput orang
makin yakin. Lihatkan negara tidak
dengar. Teras jatuh. Ada laporan yang
sering dikutip bahwa tingkat dukungan
kepada Macron turun tajam sampai kisaran
20-an%. Terlepas dari variasi survei,
poinnya jelas. Mandat emosionalnya
ambruk. Dan ketika mandat emosional
hilang, tiap keputusan terasa seperti
paksaan, bukan kepemimpinan. Banyak
orang nanya, "Kenapa pemerintah nekat?"
Jawabannya ada di belakang layar yang
boring tapi menentukan demografi dan
fiskal. Populasi menua, orang hidup
lebih lama, menerima pensiun bertambah,
pekerja yang membiayai sistem relatif
mengecil. Kalau lo punya warung dan
pelanggan yang minta promo makin banyak,
sementara pemasok makin mahal, lama-lama
lo pusing. Negara juga gitu. Kalau
pemasukan pajak tidak naik secepat beban
pensiun dan kesehatan, negara harus
pilih naikin pajak, potong belanja, atau
ubah aturan. Pemerintah memilih ubah
aturan pensiun secara matematis itu bisa
masuk akal. Tapi matematika yang tidak
disertai legitimasi sosial itu seperti
obat pahit tanpa penjelasan. Orang
muntah lalu menolak obat berikutnya.
Lalu datang 2024. Pemilu parlemen Eropa
menjadi pukulan. Kubu Makron terpukul.
Sementara oposisi terutama kelompok yang
dianggap lebih ekstrem menguat. Macron
lalu melakukan langkah yang bagi
sebagian orang terasa kayak all in.
Membubarkan parlemen dan memanggil
pemilu legislatif lebih cepat. Teorinya
rakyat bakal takut ekstrem kanan lalu
balik dukung blok tengah. Taktiknya
seperti pemain poker yang berharap lawan
takut dan full. Masalahnya rakyat bukan
lawan di meja poker, Bro. Rakyat itu
orang yang bayar sewa, bayar listrik,
dan merasa disuruh kerja 2 tahun lebih
lama. Mereka tidak berpikir dalam logika
strategi elit. Mereka berpikir hidup gua
gimana. Hasilnya pemilu tidak
menghasilkan mayoritas bersih. Tiga blok
besar saling mengunci. Tidak ada yang
dapat mayoritas absolut. Dan di sini lo
harus ngerti satu hal. Prancis di era
republik kelima terbiasa dengan presiden
kuat dan mayoritas jelas. Negara seperti
Jerman atau Belanda sudah biasa koalisi.
Prancis relatif kurang punya tradisi
negosiasi koalisi yang stabil di level
itu. Jadi ketika mayoritas hilang,
sistemnya seperti orang yang biasa naik
motor matic tiba-tiba disuruh bawa truk
gandeng. Bisa sih, tapi kagok dan
sedikit salah manuver langsung macet.
Hasilnya apa? Pemerintahan jadi rapuh.
Perdana menteri jadi seperti kursi
panas.
Dalam sekitar 8 bulan, Prancis mengalami
pergantian perdana menteri sampai lima
kali. Ada yang diangkat lalu mentok
karena tidak punya dukungan cukup. Ada
yang diharapkan bisa merangkul tapi
ditumbangkan saat debat anggaran. Ada
yang masa jabatannya super singkat
sampai jadi bahan bercandaan pahit.
Bayangin lo kerja, bos lo ganti-ganti
tiap 2 bulan. Tiap bos baru bawa gaya
baru, tapi masalah toko tetap. Kas
minus, pelanggan komplain, supplier
nagih. Bos baru bilang kita inovasi, bos
berikutnya bilang kita hemat. Bos
berikutnya bilang kita cari investor.
Tapi kalau struktur tokonya bocor, lo
cuma gonta-ganti poster. Dan kenapa
anggaran jadi batu sandungan terus?
Karena Prancis bukan cuma ribut
ideologi, tapi ribut matematika. Defisit
anggaran Prancis sering disebut sekitar
5,8% dari PDB. Sementara patokan Uni
Eropa 3%. utang negara sekitar 114% dari
PDB. Angka-angka ini terdengar kayak
materi kuliah, tapi gua terjemahin
negara mengeluarkan jauh lebih banyak
daripada yang masuk dan beban cicilan
utangnya besar. Ketika kondisi begini,
pemerintah pasti ngomong tentang
penghematan atau reformasi. Tapi
penghematan berarti menyentuh layanan
sosial. Reformasi berarti menyentuh
pajak atau usia pensiun. Semua menyentuh
saraf. Dan parlemen yang terpecah
membuat keputusan sulit jadi makin
sulit. Di saat yang sama rasa
ketidakadilan makin mengental. Orang
lihat harga rumah di Paris pernah naik
signifikan. Sementara upah riil pekerja
biasa terasa staknan cuma ngejar
inflasi. Orang kaya punya aset,
properti, saham. Orang biasa punya gaji.
Kalau aset naik lebih cepat daripada
gaji, gap melebar tanpa perlu ada
konspirasi. Tapi manusia bukan makhluk
Excel. Manusia makhluk perasaan. Ketika
perasaan mereka bilang, "Kok gue yang
disuruh ngalah terus, mereka akan cari
narasi." Dan narasi yang paling mudah
adalah politisi cuma melayani orang
kaya. Bahkan kebijakan pajak perusahaan
jadi bahan emosi. Macron pernah
menurunkan tarif pajak korporasi dari
sekitar 33% menjadi 25%.
Secara ekonomi, argumen pro bisa bilang
itu untuk investasi. Tapi di mata banyak
warga yang diminta kerja 2 tahun lebih
lama itu terlihat seperti perusahaan
dikasih diskon, gue disuruh tambah
shift. Lu bisa debat data, tapi persepsi
itu sudah kebentuk. Ada angka yang
sering muncul soal kepercayaan pada
anggota parlemen yang turun hingga
sekitar 22%. Sekali lagi, angka bisa
beda tergantung survei. Tapi pesannya
sama, orang tidak percaya. Dan ketika
orang tidak percaya, mereka melihat
politik sebagai teater. Mereka mulai
berkata, "Ini semua drama buat mereka
sendiri." Nah, saat publik menyimpulkan
bahwa politik adalah teater, maka
demokrasi kehilangan bahan bakar. Bahan
bakar demokrasi bukan cuma aturan, tapi
keyakinan bahwa aturan itu mewakili
mereka. Sekarang gua geser ke Inggris.
Inggris itu bukan tipe yang setiap saat
meledak di jalan seperti Perancis.
Inggris lebih sering retak pelan-pelan.
Kalau Prancis marah di Boulevard,
Inggris marah di dapur. Dan akar
besarnya Brexit 2016.
Waktu itu banyak orang merasa mereka
ingin take back control. Ada rasa bahwa
London dan elit politik terlalu jauh.
Sementara daerah-daerah industri yang
dulunya kuat merasa ditinggalkan oleh
globalisasi. Jadi, Brexit bukan cuman
soal ee pasar tunggal, itu soal
identitas dan martabat. Orang yang
merasa kalah ingin membalik meja. Orang
yang merasa menang ingin mempertahankan
permainan. Referendum jadi arena emosi,
bukan sekadar analisis. Masuk ke
beberapa tahun setelahnya, khususnya
2024 sampai 2025, isu yang paling
menekan warga Inggris adalah biaya
hidup. Ada survei yang bilang sekitar
56% orang Inggris merasakan tekanan
biaya hidup, lebih dari separuh. Dan
sebagian besar dari mereka bilang mereka
sudah mengurangi pengeluaran dan masih
harus mengurangi lagi. Ini bukan soal
ngopi kekinian. Ini soal memilih, beli
daging atau beli sayur, nyalain pemanas
atau tahan dingin pakai selimut doble.
Muncul istilah heat or eat, memilih
antara pemanas atau makan. Kedengarannya
kayak punch line, tapi itu realita.
Tekanan itu datang dari banyak arah.
Sewa rumah, cicilan hipotek, energi,
makanan. Ada angka yang sering dikutip.
Sekitar 35% warga bilang kesulitan
membayar sewa atau hipotek dan sekitar
33% pusing soal tagihan listrik. Dan
lalu ada momen yang disebut April yang
mengerikan karena tagihan air dan limbah
naik rata-rata sekitar 26,1%.
Kenaikan sebesar itu terasa brutal
karena air itu kebutuhan dasar. Lo
berhemat dengan cara berhenti mandi.
Jadi ketika kebutuhan dasar naik rasa
aman runtuh. Di atas semua itu ada
krisis layanan publik yang menggerogoti
kebanggaan nasional NHS. National Health
Service itu kebanggaan Inggris sejak
1948.
Gratis di titik layanan simbol negara
yang peduli. Tapi belakangan berita
tentang waktu tunggu panjang jadi
normal. Ada cerita orang menunggu di UGD
sampai 8 jam. Ada pemeriksaan yang harus
menunggu berbulan-bulan. Dan ketika
orang sakit, mereka paling sensitif
terhadap rasa ditinggalkan. Beda sama
beli barang. Kalau beli barang mahal, lu
bisa tunda. Tapi kalau sakit lu pengin
negara hadir sekarang. Jadi ketika NHS
macet itu bukan cuma masalah logistik,
itu luka identitas. Brexit juga
berdampak pada tenaga kerja. Banyak
tenaga kesehatan dari Uni Eropa yang
dulu bekerja di Inggris memilih pulang
atau pindah. Bukan berarti Brexit
satu-satunya penyebab, tapi dia menambah
friksi. Selain itu, perdagangan dengan
Uni Eropa jadi lebih rumit. Ada prosedur
tambahan, dokumen tambahan, inspeksi.
Buat bisnis besar mungkin bisa adaptasi,
tapi buat bisnis kecil itu bikin biaya
naik dan biaya itu ujungnya turun ke
konsumen. Ada momen rak supermarket
kosong untuk beberapa produk segar. yang
di negara maju harusnya tidak jadi
cerita. Setiap kali orang lihat rak
kosong, mereka diingatkan keputusan
politik punya harga di dapur. Inggris
juga mengalami ketidakstabilan politik
yang bikin kepercayaan publik terkikis.
Dalam beberapa tahun mereka gonta-ganti
perdana menteri berkali-kali. Simbol
paling tajam listras dengan masa jabatan
49 hari. Hampir 2 bulan tapi cukup untuk
bikin pasar panik paun melemah dan suku
bunga hipotek naik. Banyak keluarga yang
cicilannya berubah jadi lebih berat.
Bayangin lo sudah hidup hemat, lalu
kebijakan yang niatnya baik malah bikin
pembayaran rumah lo naik dalam hitungan
minggu. Di titik itu, publik merasa elit
politik bisa main-main dengan hidup
orang dan yang menanggung dampak bukan
elitnya. Yang lebih mengkhawatirkan
adalah pesimisme yang menyebar. Ada
survei yang menyebut sekitar 53% orang
percaya ekonomi Inggris tahun depan akan
lebih buruk, resesi atau stagnasi. dan
itu meningkat dibanding periode
sebelumnya. Artinya bukan cuma lagi
susah. Ini ee rasa bahwa ke depan juga
gelap dan ketika orang kehilangan
harapan, politik jadi target amarah.
Karena politik adalah tempat harapan
dulu ditaruh. Kalau politik tidak bisa
mengembalikan harapan, politik akan
dicaci. Ya, sekarang lu lihat tidak pola
yang sama antara Perancis dan Inggris.
Bentuk dramanya beda, tapi intinya
mirip. Jarak antara narasi resmi dan
pengalaman hidup melebar. Pemerintah
bisa bilang, "Kita butuh reformasi untuk
keberlanjutan." Orang jawab, "Oke, tapi
kenapa gue yang selalu bayar mahal?"
Pemerintah bisa bilang, "Kita sudah
ambil kembali kendali." Orang jawab,
"Oke, tapi kok belanja gua makin mahal?"
Jadi muncul kalimat yang terdengar
kasar, tapi jujur. Semua politisi sama
aja. itu bukan analisis ilmiah. Itu
kesimpulan emosional dari pengalaman
repetitif. Janji lalu kecewa, janji lalu
kecewa. Di balik itu ada isu distribusi
keuntungan pertumbuhan. Prancis punya
reputasi sistem sosial besar, tapi
ketika pertumbuhan terjadi manfaatnya
tidak selalu terasa merata. Inggris
punya pusat finansial super kaya, tapi
wilayah-wilayah tertentu tertinggal.
Dalam referendum Brexit, garis pembelaan
itu kelihatan kota global cenderung pro
remain. Daerah yang merasa kehilangan
pekerjaan cenderung proief. Itu bukan
soal IQ, itu soal pengalaman. Kalau
hidup lo membaik, lo cenderung memilih
stabilitas. Kalau hidup lo stagnan, lo
cenderung memilih perubahan besar.
Bahkan kalau perubahan itu berisiko.
Lalu ada konflik generasi yang menurut
gua paling mematikan buat kepercayaan
jangka panjang. Anak muda di banyak
negara maju merasa mereka main game
dengan level kesulitan lebih tinggi
daripada orang tua mereka. Mereka sering
punya pendidikan lebih tinggi, tapi
harga rumah melonjak, sewa mahal,
pekerjaan stabil berkurang, kontrak
sementara meningkat. Orang tua dulu bisa
beli rumah lebih realistis. Anak
sekarang sering merasa gua kerja keras
tapi tetap ngejar bayangan. Dan ketika
generasi muda kehilangan keyakinan bahwa
kerja keras akan dibalas, mereka
kehilangan alasan untuk mempercayai
sistem. Sistem tanpa kepercayaan
generasi muda itu kayak motor tanpa
bensin. Masih bisa didorong tapi capek
dan akhirnya berhenti. Sekarang kita
masuk ke bagian yang paling tidak enak
tapi paling penting. Benturan antara
politik jangka pendek dan masalah jangka
panjang. Politisi hidup dari pemilu
setiap 4 atau 5 tahun. Mereka butuh
menang lagi. Masalah seperti penuaan
penduduk, utang publik, transisi energi,
perubahan iklim, deindustrialisasi,
itu proyek puluhan tahun. Dan ada
paradoks yang kejam. Solusi yang benar
sering menyakitkan sekarang. Manfaatnya
nanti. Naikkan usia pensiun, potong
subsidi, reformasi pajak, investasi
besar di energi bersih, semua itu punya
biaya awal. Kalau lu jadi politisi dan
lu jujur, lu mungkin kalah pemilu. Kalau
lu bohong dengan janji manis, lu bisa
menang. Tapi bomnya meledak di periode
berikutnya. Jadi demokrasi modern
seperti terjebak dalam game. Yang jujur
kalah cepat, yang manipulatif menang
sebentar. Di Prancis, menaikkan usia
pensiun adalah salah satu cara menangani
beban sistem. Tapi cara memaksakannya
lewat 493 memotong legitimasi sosial. Di
Inggris, Brexit adalah pilihan besar
yang menjanjikan kendali tapi menambah
friksi ekonomi yang kemudian bertemu
dengan pandemi dan krisis energi.
Pandemi Covid-19 menjadi lampu sorot,
sistem kesehatan kewalahan. Pemerintah
harus belanja besar, utang naik, tenaga
kerja terbakar. Setelah pandemi, perang
Ukraina memicu lonjakan energi, inflasi
naik, biaya hidup naik. Jadi, warga
merasakan pukulan beruntun. Dan pukulan
beruntun itu membuat mereka tidak lagi
sabar mendengar ini transisi. Sabar, ya.
Sabar itu ada limitnya, Bro. Sabar itu
bukan sumber daya tak terbatas. Ada
ironi lain yang bikin publik makin
sinis. Prancis sangat bergantung pada
nuklir sekitar 70% listriknya. Tapi saat
gelombang panas, suhu air sungai naik,
reaktor perlu pembatasan untuk keamanan.
Produksi turun. Inggris mengalami panas
ekstrem, relengkung, transport
terganggu. Hal-hal yang dulu dianggap
kejadian langka jadi lebih sering. Dan
ketika krisis jadi sering, publik
berharap negara tanggap. Kalau negara
terlihat lambat, publik berkata, "Buat
apa gua percaya." Di titik ini, teriakan
usir semua politisi muncul. Tapi gua mau
ajak lu berpikir, kalau politisinya
diusir, apakah defisit Prancis otomatis
hilang? Apakah utang 114% PDB menguap?
Apakah penuaan penduduk ee berhenti?
Apakah biaya hidup Inggris turun
seketika? Tentu tidak. Jadi teriakan itu
bukan solusi teknis. Itu ekspresi putus
asa. Itu cara publik bilang, "Kami sudah
coba jalur biasa kok tidak berubah." Dan
di demokrasi ketika publik merasa voting
tidak mengubah apa-apa, itu bahaya.
Karena orang mulai mencari jalan pintas.
Mereka tergoda oleh cerita sederhana.
Kita butuh orang kuat. Kita butuh
bersih-bersih total. Kita butuh usir
semua. Cerita sederhana itu enak
didengar. Apalagi pas dompet tipis. Tapi
cerita sederhana sering tidak punya
rencana rumit yang dibutuhkan realita.
Namun itu tidak berarti publik salah.
Justru publik sedang memberi sinyal
keras aturan main harus berubah. Mereka
ingin sistem yang bisa membuat keputusan
sulit tanpa menghina rasa partisipasi.
Mereka ingin negara bekerja tapi juga
ingin dihormati. Ini paradoks modern.
Warga ingin efisiensi tapi juga ingin
demokrasi yang terasa nyata. bukan
ritual. Ada contoh negara yang mencoba
jalur lain walau tidak sempurna. Jerman
sering disebut melakukan reformasi pasar
kerja dan sosial secara bertahap lewat
kompromi panjang. Negara-negara Nordik
punya konsep yang sering dijuluki flex
security, pasar kerja fleksibel tapi
jaring pengaman kuat plus pelatihan
ulang. Intinya bukan ee mereka suci,
intinya mereka punya budaya negosiasi
sosial yang relatif lebih kuat. Prancis
dan Inggris dengan sejarah politik dan
identitasnya punya tantangan lain,
polarisasi dan rasa curiga yang tinggi.
Kalau rasa curiga tinggi, kompromi
terlihat seperti pengkhianatan. Padahal
tanpa kompromi, sistem parlementer
gampang buntu. Sekarang gua tarik ke
Indonesia, tapi gua bakal hati-hati. Gua
tidak mau jadi tukang ceramah yang
bilang kita bakal hancur. Konteks
Indonesia beda. Demografi kita masih
relatif muda dibanding Eropa. Dinamika
ekonomi kita beda, budaya politik kita
beda. Tapi pola universalnya ada ketika
biaya hidup naik, ketika layanan publik
bikin frustasi, ketika generasi muda
merasa masa depan mengecil. Ketika elit
terlihat jauh, terust bisa mulai retak.
Dan terust itu seperti kaca. Sekali
retak lo bisa pakai lem, tapi bekasnya
ada. Dan bekas itu mempengaruhi cara
orang memandang kebijakan berikutnya.
Makanya pelajaran dari Prancis dan
Inggris bukan takut sama Eropa,
melainkan paham mekanisme runtuhnya
kepercayaan. Yang bisa kita ambil dari
Perancis dan Inggris adalah konsep
kontrak sosial. Kontrak sosial itu
kesepakatan batin. Gue kerja, gue patuh,
gue bayar pajak. Negara memberi gue
keamanan, layanan, dan peluang yang
masuk akal. Ketika negara dianggap tidak
memenuhi bagian itu, warga
mempertanyakan bagian mereka. Mereka
jadi malas ikut aturan, jadi sinis
terhadap pajak, jadi tidak peduli
terhadap proses politik. Dan begitu
banyak orang berhenti merasa terikat,
politik berubah jadi arena emosi, bukan
arena solusi. Di situ yang paling rugi
biasanya bukan elit, tapi warga biasa
karena ketidakstabilan selalu memukul
yang paling lemah lebih dulu. Jadi
pelajaran paling tajam bukan jangan demo
atau jangan referendum. Pelajarannya
kebijakan besar butuh dua hal sekaligus.
Pertama, dasar ekonomi yang masuk akal.
Kedua, legitimasi sosial yang nyata. Lo
punya alasan fiskal, tapi kalau cara lo
membuat orang merasa diinjak, lo akan
kalah di medan yang lebih penting dari
angka, medan kepercayaan. Sebaliknya, lo
bisa punya proses rapi, tapi kalau
hasilnya tidak memperbaiki hidup, terust
tetap runtuh. Dan begitu teras runtuh,
setiap kebijakan jadi seperti pesan
promosi yang dianggap penipuan. Lo belum
buka, lo sudah curiga. Gua pengen lo
ingat satu kalimat ini karena ini inti
cerita kita. Negara maju bukan kebal
terhadap krisis. Mereka cuma punya cara
lebih halus untuk menyembunyikannya
sampai krisis itu meledak. Prancis
meledak di jalan. Inggris meledak di
tagihan. Dan keduanya mengajarkan satu
hal. Ketika warga merasa manfaat,
pertumbuhan tidak dibagi. Ketika mereka
merasa tidak dihormati, demokrasi
kehilangan bahan bakar. Karena bahan
bakar demokrasi bukan cuma suara di
kotak pemilu, tapi keyakinan bahwa suara
itu bermakna dan hidup mereka bisa
membaik lewat jalur yang sah. Makanya
dan yang paling berbahaya orang mulai
ngelawak soal negara mereka sendiri. Lo
tahu kan kalau orang sudah bisa
ngetawain tragedi itu tandanya mereka
sudah lama menahan. Di Prancis orang
bikin meme soal PM hari ini siapa ya?
Kayak ganti wallpaper. Di Inggris orang
bikin meme soal tagihan listrik yang
lebih tinggi daripada harga tiket
konser. Meme itu lucu, tapi lucunya
pahit kayak kopi tanpa gula yang dibikin
pakai hati yang patah. Gua kasih lu
gambaran yang lebih konkret soal Prancis
biar lu kebayang bukan cuma headline.
Bayangin lu kerja di kota satelit Paris.
Setiap pagi lo naik kereta komputer.
Kalau keretanya telat, hidup lo langsung
kacau. Telat kerja, dimarahin bos,
pulang makin malam, anak sudah tidur,
pasangan sudah capek. Nah, pas gelombang
mogok kerja terjadi, keterlambatan jadi
sering, bukan sekali dua kali. Dan
setiap kali itu terjadi, warga tidak
cuma marah sama serikat buruh. Banyak
yang justru bilang, "Ya wajar mereka
mogok, mereka juga ditekan." Di situ ada
solidaritas yang unik. Warga kesal
karena terganggu. Tapi mereka lebih
kesal pada negara yang membiarkan
layanan publik dikecilkan, lalu minta
semua orang berkorban. Dan tentang 493,
gua pengin tekankan satu nuansa yang
sering hilang kalau kita cuma dengar
ringkasan. Ee 493 itu bukan baru dipakai
sekali. Di Prancis beberapa pemerintah
pernah memakainya tapi konteks 2023 beda
karena ia dipakai pada isu yang
menyentuh hak hidup versi Prancis
pensiun. Pensiun di sana bukan sekadar
tabungan, tapi simbol kontrak sosial.
Makanya ketika prosedur skip voting
dipakai, orang merasa bukan cuma
kebijakan yang dipaksakan, tapi martabat
warga yang dipotong. Lo debat seharian
soal angka umur, tapi kalau martabat
yang luka, debat angka jadi tidak
relevan. Lalu soal Pemilu 2024 yang
bikin parlemen pecah, ada satu efek
samping yang bikin sistem makin macet.
Semua pihak merasa punya mandat, tapi
mandatnya tidak cukup untuk memerintah.
Kubu kiri bilang, "Kami terbesar,
berarti kami harus memimpin." Kubu
tengah bilang, "Tanpa kami, kalian tidak
bisa jalan." Kubu kanan bilang, "Kami
wakil kemarahan rakyat." Tiga-tiganya
benar dalam versi mereka. Tiga-tiganya
juga tidak cukup untuk menutup 289 kursi
mayoritas. Jadi, apa yang terjadi?
Setiap rancangan anggaran jadi medan
perang. Dan anggaran itu bukan dokumen
abstrak. Anggaran itu menentukan apakah
rumah sakit punya staf, apakah sekolah
punya guru, apakah subsidi jalan, apakah
pajak naik. Di Prancis ketika bicara
hemat itu sering berarti memotong
belanja sosial. Tapi belanja sosial di
sana besar dan banyak orang sudah
menganggapnya bagian dari identitas.
Jadi, pemotongan kecil pun terasa
seperti penghinaan. Sebaliknya ketika
bicara naik pajak, kubu yang pro pasar
akan bilang itu membunuh investasi dan
pekerjaan. Jadi, pemerintah manapun
berada di antara dua tembok, tembok
moral dan tembok pasar. Dan jangan lupa,
pasar juga punya cara sendiri untuk
menekan rating kredit. Ketika lembaga
pemeringkat memberi sinyal negatif,
biaya pinjaman negara bisa naik. Lalu
bunga utang naik, ruang fiskal makin
sempit, dan lingkaran setan makin
kencang. Sekarang Inggris gue kasih lo
adegan yang lebih dekat. Bayangin lu
tinggal di rumah sewa di pinggiran
Manchester. Pemanas ruangan itu bukan
kemewahan, itu kebutuhan. Musim dingin
datang, tagihan energi naik. Lu buka
surat, angka di situ bikin lu pengen
pura-pura buta. Di waktu yang sama,
belanja makanan di supermarket naik. Lo
dulu beli susu, roti, telur, selesai.
Sekarang lo jadi orang yang berdiri lama
di lorong bandingin harga per gram kayak
lagi ujian matematika. Dan ini bukan
cuman satu keluarga, ini jutaan keluarga
yang hidupnya jadi mode hemat permanen.
Mode hemat permanen itu bikin otak
lelah. Karena setiap keputusan kecil
berubah jadi pertanyaan besar. Gue mampu
tidak? NHS adalah cerita lain yang bikin
warga Inggris patah hati. Karena banyak
keluarga di sana punya kisah orang tua
diselamatkan NHS, anak lahir dibantu
NHS. Masa kecil imunisasi di NHS. Jadi,
NHs itu seperti keluarga besar. Ketika
keluarga besar itu mulai kewalahan,
antri panjang, staf kurang, ruang penuh,
warga merasa seperti ditinggalkan oleh
sesuatu yang dulu mereka percaya. Dan
rasa ditinggalkan itu bikin orang sinis
terhadap janji pemerintah siapapun yang
berkuasa. Apalagi kalau mereka lihat
politisi debat di parlemen kayak lagi
adu punchline, sementara mereka di rumah
bingung bayar tagihan. Lu juga harus
ngerti bahwa Inggris punya luka politik
pasca Brexit yang tidak cuma ekonomi,
ada luka sosial. Keluarga bisa berantem
karena pilihan referendum. Teman kantor
bisa canggung. Ada orang yang merasa
kita menang tapi kemudian bingung kenapa
hidup tidak jadi lebih mudah. Ada yang
merasa kita salah tapi juga tahu
membalik keputusan itu hampir mustahil.
Ya, jadi masyarakat hidup dengan semacam
disonansi. Mereka tahu ada konsekuensi
tapi tidak punya tombol ando. Dan ketika
tidak ada tombol ando, orang cenderung
mencari kambing hitam yang lebih dekat.
Politisi sekarang, politisi kemarin,
atau institusi. Kita juga belum ngobrol
tentang kriminalitas kecil yang sering
jadi indikator stres ekonomi. Di Inggris
ada laporan shoplifting naik dan menjadi
perhatian besar. Ketika orang mulai
mencuri barang kebutuhan, itu bukan
sekadar kriminalitas. Itu tanda bahwa
tekanan hidup sudah menembus batas moral
banyak orang. Orang yang dulu mungkin
malu, sekarang memilih survival. Dan
ketika survival jadi tema sehari-hari,
mereka tidak punya energi untuk percaya
pada cerita besar tentang masa depan.
Mereka hanya ingin besok aman. Sekarang
gua mau sambungkan dua negara ini dengan
satu konsep yang sering diomongin
akademisi tapi sebenarnya gampang.
Legitimasi. Legitimasi itu bukan sekedar
menang pemilu, tapi diterima secara
batin oleh masyarakat. Macron bisa
menang pemilu, tapi ketika ia memakai
493 pada isu sensitif, legitimasi
batinnya terkikis. Pemerintah Inggris
bisa berganti, tapi kalau biaya hidup
tetap menekan dan NHS tetap macet,
legitimasi batinnya juga menguap. Dan
tanpa legitimasi batin, negara boleh
punya polisi, boleh punya aturan, tapi
setiap kebijakan akan dianggap
permusuhan, bukan perlindungan. Di sini
gua mau ngomong tentang kenapa 5.000
kata pun bisa terasa kurang kalau
struktur salah. Karena banyak orang
menjejalkan daftar masalah. Pensiun,
Brexit, inflasi, energi, nuklir, iklim,
lalu selesai. Tapi yang bikin orang
paham bukan daftar, melainkan hubungan
sebab akibat. Jadi gua pengin lihat
hubungan itu seperti rangkaian domino di
Prancis. Domino pertama adalah reformasi
pensiun yang dipersepsikan tidak adil.
Domino kedua adalah 49,3
yang menghina rasa partisipasi. Domino
ketiga adalah pemilu yang menghasilkan
parlemen terpecah. Domino keempat adalah
ketidakmampuan membuat anggaran. Domino
kelima adalah pergantian perdana menteri
yang terlihat seperti sirkus. Domino
keenam adalah pasar dan fiskal yang
makin menekan. Domino ketujuh adalah
publik yang akhirnya mengatakan cukup.
Di Inggris, domino pertama adalah Brexit
sebagai pilihan identitas. Domino kedua
adalah friksi ekonomi yang datang pelan
dan sering tidak terlihat tapi menambah
biaya. Domino ketiga adalah pandemi yang
menambah utang dan mengganggu pasar
kerja. Domino keempat adalah krisis
energi yang memperparah inflasi. Domino
kelima adalah biaya hidup yang menggerus
kepercayaan. Domino keenam adalah
layanan publik terutama NHS yang
tertekan dan membuat orang merasa negara
tidak hadir saat mereka butuh. Dari sini
kemarahan tidak harus meledak jadi demo.
Cukup menjadi apatis dan sinis. Dan itu
sama bahayanya. Nah, sekarang lu mungkin
mikir, "Ya udah kalau gitu apa
solusinya? Sistemnya rusak." Jujur
solusinya tidak seksi. Solusinya bukan
satu orang jenius datang dan beres dalam
semalam. Solusinya adalah kombinasi,
transparansi fiskal, reformasi bertahap,
kompensasi yang adil untuk kelompok yang
paling terkena dan yang paling susah
membangun ulang budaya negosiasi. Karena
kalau masyarakat sudah polar, tiap
kompromi dianggap pengkhianatan. Padahal
tanpa kompromi, demokrasi parlementer
seperti Prancis ya macet. Tanpa
kompromi, politik berubah jadi game
siapa yang bisa bikin lawan malu, bukan
siapa yang bisa bikin negara jalan. Dan
ini kenapa banyak orang menyebut krisis
ini sebagai krisis demokrasi modern.
Bukan karena demokrasi jelek, tapi
karena masalah yang dihadapi sekarang
lebih kompleks daripada kemampuan siklus
pemilu untuk mengolahnya. Lu bisa nanya
ke diri lo sendiri, kalau lu jadi
politisi, beranikah lo bilang ke publik
kita harus kerja lebih lama atau kita
harus bayar pajak lebih tinggi atau kita
harus investasi besar untuk transisi
energi. Padahal itu menyakitkan
sekarang. Kalau lo jujur, lo mungkin
kalah pemilu. Kalau lo bohong dengan
janji manis, lo mungkin menang. Tapi lo
sedang menunda bom buat generasi
berikutnya. Jadi, publik merasa
dikerjain terus. Di sinilah muncul
nostalgia terhadap pemimpin kuat. Banyak
orang secara psikologis rindu sesuatu
yang terlihat tegas, tapi tegas tidak
selalu tepat. Dan ketika orang
menyerahkan semuanya pada pemimpin kuat
tanpa mekanisme kontrol, mereka bisa
kehilangan hak untuk memperbaiki
kesalahan. Prancis marah karena prosedur
bypass debat. Itu menunjukkan publik
masih ingin mekanisme. Mereka hanya
ingin mekanisme yang tidak terasa
pura-pura. Inggris pun begitu. Banyak
orang tidak menolak demokrasi. Mereka
menolak rasa bahwa suara mereka cuma
dipakai saat kampanye lalu dilupakan
setelahnya. Sekarang gua balik ke
Indonesia dengan satu cara yang lebih
jujur. Bukan menakut-nakuti, tapi
mengajak nyambung. Loh dengar orang
bilang, "Buat apa pilih sama aja. Di
banyak tempat itu cuma keluhan sambil
ngopi. Tapi di Prancis dan Inggris
keluhan itu sudah naik level menjadi
energi sosial. Ketika keluhan naik
level, ia bisa menjadi bahan bakar
perubahan besar, tapi juga bisa menjadi
bahan bakar kerusakan. Karena orang yang
putus asa mudah digerakkan oleh cerita
sederhana. Dan cerita sederhana bisa
membawa solusi sederhana yang gagal,
lalu kekecewaan yang lebih besar. Jadi
kalau lu tanya apa yang harus gua bawa
pulang dari cerita Prancis dan Inggris?
Bawa pulang dua hal. Pertama, kemarahan
publik sering bukan soal angka, tapi
soal rasa diperlakukan tidak adil dan
tidak dihargai. Kedua, masalah besar
tidak bisa diselesaikan hanya dengan
ganti wajah kalau struktur insentifnya
sama. Kalau sistem memaksa politisi
berpikir 4 tahun, sementara masalah
butuh 20 tahun, maka yang terjadi adalah
siklus kekecewaan. Dan kalau siklus
kekecewaan itu dibiarkan, orang akan
berhenti ikut main secara damai. Mereka
akan mencari pintu belakang. Gua mau
tutup dengan gambaran terakhir yang
mungkin terasa sederhana, tapi
sebenarnya inti bayangin negara itu
seperti gedung apartemen tua. Warganya
tinggal di dalam. Politik itu pengurus
gedung ketika lift sering rusak, air
sering mati, dan koridor gelap, warga
marah. Mereka bisa marah ke pengurus,
mereka bisa minta ganti pengurus. Tapi
kalau pipa-pipanya sudah tua, kabelnya
sudah rapuh, dan struktur gedungnya
retak, ganti pengurus saja tidak cukup.
Lu butuh renovasi? Renovasi itu berisik,
mahal, mengganggu, dan bikin orang
emosi. Tapi tanpa renovasi, gedungnya
ambruk pelan-pelan dan semua orang kena.
Kalau lo mendengar itu, jangan cuma
ketawa atau merasa jauh. Karena
pelajaran paling tajam dari negara maju
adalah mereka juga manusia dan sistem
mereka juga bisa kelelahan. Dan ketika
sistem lelah, masyarakat yang paling
menderita adalah yang paling tidak punya
bantalan. Jadi entah lu tinggal di
Jakarta, Surabaya, Medan, atau kota
kecil yang jarang masuk peta.
Pertanyaannya sama. Apakah kita masih
percaya pada kontrak sosial? Apakah kita
masih merasa didengar? Apakah
pertumbuhan terasa adil? Kalau jawaban
itu mulai goyah, jangan tunggu sampai
orang di sekitar lo teriak. Bukan cuma
di internet, tapi di jalan. Usir aja
semuanya. Karena saat kalimat itu jadi
kebiasaan yang runtuh bukan cuma
kabinet, tapi juga kesabaran sosial. Dan
begitu kesabaran sosial habis, ekonomi,
keamanan, dan masa depan ikut ke bawah.
Jadi, mending kita belajar sekarang
sebelum alarmnya berbunyi lebih kencang.
Biar kita masih punya ruang ngomong,
nego, dan benerin bareng. Yeah.
Resume
Read
file updated 2026-02-14 19:59:36 UTC
Categories
Manage