"USIR SEMUA POLITISI!" - Kenapa Negara Maju Seperti Prancis & Inggris Sedang 'Sakit'?
bFGAdYqHMgA • 2026-02-10
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Halo semuanya, selamat datang kembali di channel Jendela Dunia. Jangan lupa tekan tombol subscribe dan nyalakan loncengnya. Mari kita buka jendela wawasan kita hari ini. Bro, gua memulai dari satu adegan yang kayaknya lo pernah ngalamin, minimal pernah lihat di layar. Lo lagi rebahan. Satu tangan pegang HP, satu tangan pegang nasib. Scrolling santai sambil ngomel, "Besok gue diet." Tapi jempol lo malah nyeret ke konten makanan. Tiba-tiba muncul video Paris. Bukan Paris yang buat prewedding, bukan Paris yang buat konten estetic morning routine. Paris yang isinya asap, teriakan, sirene, orang lari, polisi, dan poster-poster marah. Lo pikir itu film? Eh, caption-nya demo besar mogok kerja kota lumpuh. Lu geser lagi muncul London. Bukan London yang orangnya minum teh sambil ngomong sopan. London yang orangnya antre panjang buat ambil makanan gratis. Mukanya bukan drama, cuma capek. Dan otak lo nge-lag. Lah itu Perancis sama Inggris negara maju kok kayak gini? Ini negara G7 apa grup 7uh orang yang lagi ribut di kos? Jujur rasanya kayak lihat teman yang lo kira hidupnya mapan tiba-tiba curhat gua pusing cicilan. Bro, kita kaget bukan karena kita sombong tapi karena ada bayangan lama di kepala kita. Negara maju itu harusnya tenang, rapi, dan punya semacam tameng anti kacau. Nah, sebelum kita keburu bilang, "Ya udah sih urusan mereka, gue pengen lo tahan dulu 1 detik." Karena dua negara ini bukan cuma punya sejarah panjang, tapi juga punya satu janji yang kita sering anggap paket lengkap negara maju. Lo kerja, lo bayar pajak, lo ikut aturan, nanti negara jaga lo. Ada layanan publik, ada keamanan, ada masa tua yang tidak bikin lo deg-degan tiap lihat kalender. Ada politik yang minimal di kepala kita rapi dan beradab. Jadi ketika orang di sana mulai teriak usir aja semua politisi itu bukan cuma marah biasa. Itu tanda kalau janji itu mulai keropos. Dan kalau janji di negara yang dianggap paling matang aja bisa keropos, pertanyaan yang nyebelin muncul. Yang lain gimana? Oke, kita masuk ke Prancis dulu. Lu tahu stereotip Prancis kan orang santai, demonstrasi sudah kayak olahraga nasional. Tapi tetap aja kita bayanginnya hidup mereka itu enak. Pensiun terjamin, jam kerja manusiawi, negara peduli. Lalu 2023 datang dan pemerintah bilang, "Umur pensiun naik ya dari 62 jadi 64. di atas kertas buat orang yang kerjanya duduk di kantor 2 tahun mungkin kedengarannya ya udah deh. Tapi buat banyak pekerja yang badannya dipakai setiap hari 2 tahun itu bukan angka, itu rasa. Itu tambahan dua musim dingin, 2 tahun lutut nyeri, 2 tahun punggung pegal, 2 tahun nahan shift, 2 tahun nunda waktu bareng keluarga. Dan yang lebih penting itu bukan cuma soal individu. Di Prancis pensiun itu bukan sekadar tabungan pribadi kayak gue nabung sendiri terus bebas. Pensiun adalah simbol kontrak sosial. Negara bilang, "Lo ikut sistem, lo berkontribusi, nanti sistem balikin perlindungan." Jadi ketika negara mengubah aturan main, orang bukan cuma hitung duit, tapi hitung harga diri. Gue ngomong dengan bahasa warung kopi masalahnya bukan cuma naik 2 tahun. Masalahnya adalah siapa yang disuruh nambah 2 tahun. Orang yang punya kerjaan fleksibel bisa bilang oke. Tapi orang yang kerja fisik, kerja shift, kerja layanan publik yang under staff itu bakal bilang, "Lo ngacau ya." Kalau lu pernah lihat Abang Ojol yang narik dari pagi sampai malam, lu bayangin aja kalau dia disuruh narik 2 tahun lebih lama pas umurnya sudah 60 komuan. Bukan berarti tidak mungkin, tapi beda antara mungkin dan manusiawi. Dan di Prancis banyak yang merasa pemerintah ngomong kayak robot spreadsheet. Seolah semua orang punya tubuh yang sama, punya kerjaan yang sama, punya hidup yang sama. Di situlah emosi mulai naik. Tapi api beneran membesar bukan karena angka 64. Api membesar karena cara pemerintah ngelolosin kebijakan itu. Di Prancis ada mekanisme konstitusi yang terkenal. Pasal 493. Sederhananya itu jurus kita lewat aja tanpa voting penuh. Pemerintah bisa memaksakan rancangan undang-undang lolos tanpa pemungutan suara final di parlemen. Kecuali parlemen bisa menjatuhkan pemerintah lewat mosi tidak percaya. Secara hukum jurus ini ada. Secara teknis ini legal, tapi secara rasa demokrasi ini kayak lu lagi rapat RT, warga sudah debat, sudah capek, ada yang emosi, terus ketua RT bilang, "Udah, gue putusin aja, tidak usah voting." Lu bisa bilang itu sah. Tapi jangan kaget kalau besok warga tidak mau bayar iuran dan mulai nyinyir tiap lihat muka lo. Di titik itu, kemarahan publik berubah. Ini penting karena banyak orang di luar Prancis ngira, "Ah, orang Prancis emang hobi demo." Tapi yang terjadi 2023 itu bukan demo biasa. Itu pergeseran dari gue tidak setuju kebijakan, jadi gue tidak percaya prosesnya. Ketika proses dianggap manipulatif, kebijakan apapun jadi susah diterima. Demo jadi panjang, mogok kerja menyebar, kereta berhenti, sekolah terganggu, layanan publik seret. Ada momen pengangkutan sampah di Paris kacau, sampah numpuk. Buat turis itu mungkin cuma e, tapi buat warga itu simbol sistem yang biasanya jalan mulai retak. Dan ketika sistem retak, orang jadi gampang menempelkan emosi ke apapun. Polisi nembak gas air mata, orang makin panas. Media meliput orang makin yakin. Lihatkan negara tidak dengar. Teras jatuh. Ada laporan yang sering dikutip bahwa tingkat dukungan kepada Macron turun tajam sampai kisaran 20-an%. Terlepas dari variasi survei, poinnya jelas. Mandat emosionalnya ambruk. Dan ketika mandat emosional hilang, tiap keputusan terasa seperti paksaan, bukan kepemimpinan. Banyak orang nanya, "Kenapa pemerintah nekat?" Jawabannya ada di belakang layar yang boring tapi menentukan demografi dan fiskal. Populasi menua, orang hidup lebih lama, menerima pensiun bertambah, pekerja yang membiayai sistem relatif mengecil. Kalau lo punya warung dan pelanggan yang minta promo makin banyak, sementara pemasok makin mahal, lama-lama lo pusing. Negara juga gitu. Kalau pemasukan pajak tidak naik secepat beban pensiun dan kesehatan, negara harus pilih naikin pajak, potong belanja, atau ubah aturan. Pemerintah memilih ubah aturan pensiun secara matematis itu bisa masuk akal. Tapi matematika yang tidak disertai legitimasi sosial itu seperti obat pahit tanpa penjelasan. Orang muntah lalu menolak obat berikutnya. Lalu datang 2024. Pemilu parlemen Eropa menjadi pukulan. Kubu Makron terpukul. Sementara oposisi terutama kelompok yang dianggap lebih ekstrem menguat. Macron lalu melakukan langkah yang bagi sebagian orang terasa kayak all in. Membubarkan parlemen dan memanggil pemilu legislatif lebih cepat. Teorinya rakyat bakal takut ekstrem kanan lalu balik dukung blok tengah. Taktiknya seperti pemain poker yang berharap lawan takut dan full. Masalahnya rakyat bukan lawan di meja poker, Bro. Rakyat itu orang yang bayar sewa, bayar listrik, dan merasa disuruh kerja 2 tahun lebih lama. Mereka tidak berpikir dalam logika strategi elit. Mereka berpikir hidup gua gimana. Hasilnya pemilu tidak menghasilkan mayoritas bersih. Tiga blok besar saling mengunci. Tidak ada yang dapat mayoritas absolut. Dan di sini lo harus ngerti satu hal. Prancis di era republik kelima terbiasa dengan presiden kuat dan mayoritas jelas. Negara seperti Jerman atau Belanda sudah biasa koalisi. Prancis relatif kurang punya tradisi negosiasi koalisi yang stabil di level itu. Jadi ketika mayoritas hilang, sistemnya seperti orang yang biasa naik motor matic tiba-tiba disuruh bawa truk gandeng. Bisa sih, tapi kagok dan sedikit salah manuver langsung macet. Hasilnya apa? Pemerintahan jadi rapuh. Perdana menteri jadi seperti kursi panas. Dalam sekitar 8 bulan, Prancis mengalami pergantian perdana menteri sampai lima kali. Ada yang diangkat lalu mentok karena tidak punya dukungan cukup. Ada yang diharapkan bisa merangkul tapi ditumbangkan saat debat anggaran. Ada yang masa jabatannya super singkat sampai jadi bahan bercandaan pahit. Bayangin lo kerja, bos lo ganti-ganti tiap 2 bulan. Tiap bos baru bawa gaya baru, tapi masalah toko tetap. Kas minus, pelanggan komplain, supplier nagih. Bos baru bilang kita inovasi, bos berikutnya bilang kita hemat. Bos berikutnya bilang kita cari investor. Tapi kalau struktur tokonya bocor, lo cuma gonta-ganti poster. Dan kenapa anggaran jadi batu sandungan terus? Karena Prancis bukan cuma ribut ideologi, tapi ribut matematika. Defisit anggaran Prancis sering disebut sekitar 5,8% dari PDB. Sementara patokan Uni Eropa 3%. utang negara sekitar 114% dari PDB. Angka-angka ini terdengar kayak materi kuliah, tapi gua terjemahin negara mengeluarkan jauh lebih banyak daripada yang masuk dan beban cicilan utangnya besar. Ketika kondisi begini, pemerintah pasti ngomong tentang penghematan atau reformasi. Tapi penghematan berarti menyentuh layanan sosial. Reformasi berarti menyentuh pajak atau usia pensiun. Semua menyentuh saraf. Dan parlemen yang terpecah membuat keputusan sulit jadi makin sulit. Di saat yang sama rasa ketidakadilan makin mengental. Orang lihat harga rumah di Paris pernah naik signifikan. Sementara upah riil pekerja biasa terasa staknan cuma ngejar inflasi. Orang kaya punya aset, properti, saham. Orang biasa punya gaji. Kalau aset naik lebih cepat daripada gaji, gap melebar tanpa perlu ada konspirasi. Tapi manusia bukan makhluk Excel. Manusia makhluk perasaan. Ketika perasaan mereka bilang, "Kok gue yang disuruh ngalah terus, mereka akan cari narasi." Dan narasi yang paling mudah adalah politisi cuma melayani orang kaya. Bahkan kebijakan pajak perusahaan jadi bahan emosi. Macron pernah menurunkan tarif pajak korporasi dari sekitar 33% menjadi 25%. Secara ekonomi, argumen pro bisa bilang itu untuk investasi. Tapi di mata banyak warga yang diminta kerja 2 tahun lebih lama itu terlihat seperti perusahaan dikasih diskon, gue disuruh tambah shift. Lu bisa debat data, tapi persepsi itu sudah kebentuk. Ada angka yang sering muncul soal kepercayaan pada anggota parlemen yang turun hingga sekitar 22%. Sekali lagi, angka bisa beda tergantung survei. Tapi pesannya sama, orang tidak percaya. Dan ketika orang tidak percaya, mereka melihat politik sebagai teater. Mereka mulai berkata, "Ini semua drama buat mereka sendiri." Nah, saat publik menyimpulkan bahwa politik adalah teater, maka demokrasi kehilangan bahan bakar. Bahan bakar demokrasi bukan cuma aturan, tapi keyakinan bahwa aturan itu mewakili mereka. Sekarang gua geser ke Inggris. Inggris itu bukan tipe yang setiap saat meledak di jalan seperti Perancis. Inggris lebih sering retak pelan-pelan. Kalau Prancis marah di Boulevard, Inggris marah di dapur. Dan akar besarnya Brexit 2016. Waktu itu banyak orang merasa mereka ingin take back control. Ada rasa bahwa London dan elit politik terlalu jauh. Sementara daerah-daerah industri yang dulunya kuat merasa ditinggalkan oleh globalisasi. Jadi, Brexit bukan cuman soal ee pasar tunggal, itu soal identitas dan martabat. Orang yang merasa kalah ingin membalik meja. Orang yang merasa menang ingin mempertahankan permainan. Referendum jadi arena emosi, bukan sekadar analisis. Masuk ke beberapa tahun setelahnya, khususnya 2024 sampai 2025, isu yang paling menekan warga Inggris adalah biaya hidup. Ada survei yang bilang sekitar 56% orang Inggris merasakan tekanan biaya hidup, lebih dari separuh. Dan sebagian besar dari mereka bilang mereka sudah mengurangi pengeluaran dan masih harus mengurangi lagi. Ini bukan soal ngopi kekinian. Ini soal memilih, beli daging atau beli sayur, nyalain pemanas atau tahan dingin pakai selimut doble. Muncul istilah heat or eat, memilih antara pemanas atau makan. Kedengarannya kayak punch line, tapi itu realita. Tekanan itu datang dari banyak arah. Sewa rumah, cicilan hipotek, energi, makanan. Ada angka yang sering dikutip. Sekitar 35% warga bilang kesulitan membayar sewa atau hipotek dan sekitar 33% pusing soal tagihan listrik. Dan lalu ada momen yang disebut April yang mengerikan karena tagihan air dan limbah naik rata-rata sekitar 26,1%. Kenaikan sebesar itu terasa brutal karena air itu kebutuhan dasar. Lo berhemat dengan cara berhenti mandi. Jadi ketika kebutuhan dasar naik rasa aman runtuh. Di atas semua itu ada krisis layanan publik yang menggerogoti kebanggaan nasional NHS. National Health Service itu kebanggaan Inggris sejak 1948. Gratis di titik layanan simbol negara yang peduli. Tapi belakangan berita tentang waktu tunggu panjang jadi normal. Ada cerita orang menunggu di UGD sampai 8 jam. Ada pemeriksaan yang harus menunggu berbulan-bulan. Dan ketika orang sakit, mereka paling sensitif terhadap rasa ditinggalkan. Beda sama beli barang. Kalau beli barang mahal, lu bisa tunda. Tapi kalau sakit lu pengin negara hadir sekarang. Jadi ketika NHS macet itu bukan cuma masalah logistik, itu luka identitas. Brexit juga berdampak pada tenaga kerja. Banyak tenaga kesehatan dari Uni Eropa yang dulu bekerja di Inggris memilih pulang atau pindah. Bukan berarti Brexit satu-satunya penyebab, tapi dia menambah friksi. Selain itu, perdagangan dengan Uni Eropa jadi lebih rumit. Ada prosedur tambahan, dokumen tambahan, inspeksi. Buat bisnis besar mungkin bisa adaptasi, tapi buat bisnis kecil itu bikin biaya naik dan biaya itu ujungnya turun ke konsumen. Ada momen rak supermarket kosong untuk beberapa produk segar. yang di negara maju harusnya tidak jadi cerita. Setiap kali orang lihat rak kosong, mereka diingatkan keputusan politik punya harga di dapur. Inggris juga mengalami ketidakstabilan politik yang bikin kepercayaan publik terkikis. Dalam beberapa tahun mereka gonta-ganti perdana menteri berkali-kali. Simbol paling tajam listras dengan masa jabatan 49 hari. Hampir 2 bulan tapi cukup untuk bikin pasar panik paun melemah dan suku bunga hipotek naik. Banyak keluarga yang cicilannya berubah jadi lebih berat. Bayangin lo sudah hidup hemat, lalu kebijakan yang niatnya baik malah bikin pembayaran rumah lo naik dalam hitungan minggu. Di titik itu, publik merasa elit politik bisa main-main dengan hidup orang dan yang menanggung dampak bukan elitnya. Yang lebih mengkhawatirkan adalah pesimisme yang menyebar. Ada survei yang menyebut sekitar 53% orang percaya ekonomi Inggris tahun depan akan lebih buruk, resesi atau stagnasi. dan itu meningkat dibanding periode sebelumnya. Artinya bukan cuma lagi susah. Ini ee rasa bahwa ke depan juga gelap dan ketika orang kehilangan harapan, politik jadi target amarah. Karena politik adalah tempat harapan dulu ditaruh. Kalau politik tidak bisa mengembalikan harapan, politik akan dicaci. Ya, sekarang lu lihat tidak pola yang sama antara Perancis dan Inggris. Bentuk dramanya beda, tapi intinya mirip. Jarak antara narasi resmi dan pengalaman hidup melebar. Pemerintah bisa bilang, "Kita butuh reformasi untuk keberlanjutan." Orang jawab, "Oke, tapi kenapa gue yang selalu bayar mahal?" Pemerintah bisa bilang, "Kita sudah ambil kembali kendali." Orang jawab, "Oke, tapi kok belanja gua makin mahal?" Jadi muncul kalimat yang terdengar kasar, tapi jujur. Semua politisi sama aja. itu bukan analisis ilmiah. Itu kesimpulan emosional dari pengalaman repetitif. Janji lalu kecewa, janji lalu kecewa. Di balik itu ada isu distribusi keuntungan pertumbuhan. Prancis punya reputasi sistem sosial besar, tapi ketika pertumbuhan terjadi manfaatnya tidak selalu terasa merata. Inggris punya pusat finansial super kaya, tapi wilayah-wilayah tertentu tertinggal. Dalam referendum Brexit, garis pembelaan itu kelihatan kota global cenderung pro remain. Daerah yang merasa kehilangan pekerjaan cenderung proief. Itu bukan soal IQ, itu soal pengalaman. Kalau hidup lo membaik, lo cenderung memilih stabilitas. Kalau hidup lo stagnan, lo cenderung memilih perubahan besar. Bahkan kalau perubahan itu berisiko. Lalu ada konflik generasi yang menurut gua paling mematikan buat kepercayaan jangka panjang. Anak muda di banyak negara maju merasa mereka main game dengan level kesulitan lebih tinggi daripada orang tua mereka. Mereka sering punya pendidikan lebih tinggi, tapi harga rumah melonjak, sewa mahal, pekerjaan stabil berkurang, kontrak sementara meningkat. Orang tua dulu bisa beli rumah lebih realistis. Anak sekarang sering merasa gua kerja keras tapi tetap ngejar bayangan. Dan ketika generasi muda kehilangan keyakinan bahwa kerja keras akan dibalas, mereka kehilangan alasan untuk mempercayai sistem. Sistem tanpa kepercayaan generasi muda itu kayak motor tanpa bensin. Masih bisa didorong tapi capek dan akhirnya berhenti. Sekarang kita masuk ke bagian yang paling tidak enak tapi paling penting. Benturan antara politik jangka pendek dan masalah jangka panjang. Politisi hidup dari pemilu setiap 4 atau 5 tahun. Mereka butuh menang lagi. Masalah seperti penuaan penduduk, utang publik, transisi energi, perubahan iklim, deindustrialisasi, itu proyek puluhan tahun. Dan ada paradoks yang kejam. Solusi yang benar sering menyakitkan sekarang. Manfaatnya nanti. Naikkan usia pensiun, potong subsidi, reformasi pajak, investasi besar di energi bersih, semua itu punya biaya awal. Kalau lu jadi politisi dan lu jujur, lu mungkin kalah pemilu. Kalau lu bohong dengan janji manis, lu bisa menang. Tapi bomnya meledak di periode berikutnya. Jadi demokrasi modern seperti terjebak dalam game. Yang jujur kalah cepat, yang manipulatif menang sebentar. Di Prancis, menaikkan usia pensiun adalah salah satu cara menangani beban sistem. Tapi cara memaksakannya lewat 493 memotong legitimasi sosial. Di Inggris, Brexit adalah pilihan besar yang menjanjikan kendali tapi menambah friksi ekonomi yang kemudian bertemu dengan pandemi dan krisis energi. Pandemi Covid-19 menjadi lampu sorot, sistem kesehatan kewalahan. Pemerintah harus belanja besar, utang naik, tenaga kerja terbakar. Setelah pandemi, perang Ukraina memicu lonjakan energi, inflasi naik, biaya hidup naik. Jadi, warga merasakan pukulan beruntun. Dan pukulan beruntun itu membuat mereka tidak lagi sabar mendengar ini transisi. Sabar, ya. Sabar itu ada limitnya, Bro. Sabar itu bukan sumber daya tak terbatas. Ada ironi lain yang bikin publik makin sinis. Prancis sangat bergantung pada nuklir sekitar 70% listriknya. Tapi saat gelombang panas, suhu air sungai naik, reaktor perlu pembatasan untuk keamanan. Produksi turun. Inggris mengalami panas ekstrem, relengkung, transport terganggu. Hal-hal yang dulu dianggap kejadian langka jadi lebih sering. Dan ketika krisis jadi sering, publik berharap negara tanggap. Kalau negara terlihat lambat, publik berkata, "Buat apa gua percaya." Di titik ini, teriakan usir semua politisi muncul. Tapi gua mau ajak lu berpikir, kalau politisinya diusir, apakah defisit Prancis otomatis hilang? Apakah utang 114% PDB menguap? Apakah penuaan penduduk ee berhenti? Apakah biaya hidup Inggris turun seketika? Tentu tidak. Jadi teriakan itu bukan solusi teknis. Itu ekspresi putus asa. Itu cara publik bilang, "Kami sudah coba jalur biasa kok tidak berubah." Dan di demokrasi ketika publik merasa voting tidak mengubah apa-apa, itu bahaya. Karena orang mulai mencari jalan pintas. Mereka tergoda oleh cerita sederhana. Kita butuh orang kuat. Kita butuh bersih-bersih total. Kita butuh usir semua. Cerita sederhana itu enak didengar. Apalagi pas dompet tipis. Tapi cerita sederhana sering tidak punya rencana rumit yang dibutuhkan realita. Namun itu tidak berarti publik salah. Justru publik sedang memberi sinyal keras aturan main harus berubah. Mereka ingin sistem yang bisa membuat keputusan sulit tanpa menghina rasa partisipasi. Mereka ingin negara bekerja tapi juga ingin dihormati. Ini paradoks modern. Warga ingin efisiensi tapi juga ingin demokrasi yang terasa nyata. bukan ritual. Ada contoh negara yang mencoba jalur lain walau tidak sempurna. Jerman sering disebut melakukan reformasi pasar kerja dan sosial secara bertahap lewat kompromi panjang. Negara-negara Nordik punya konsep yang sering dijuluki flex security, pasar kerja fleksibel tapi jaring pengaman kuat plus pelatihan ulang. Intinya bukan ee mereka suci, intinya mereka punya budaya negosiasi sosial yang relatif lebih kuat. Prancis dan Inggris dengan sejarah politik dan identitasnya punya tantangan lain, polarisasi dan rasa curiga yang tinggi. Kalau rasa curiga tinggi, kompromi terlihat seperti pengkhianatan. Padahal tanpa kompromi, sistem parlementer gampang buntu. Sekarang gua tarik ke Indonesia, tapi gua bakal hati-hati. Gua tidak mau jadi tukang ceramah yang bilang kita bakal hancur. Konteks Indonesia beda. Demografi kita masih relatif muda dibanding Eropa. Dinamika ekonomi kita beda, budaya politik kita beda. Tapi pola universalnya ada ketika biaya hidup naik, ketika layanan publik bikin frustasi, ketika generasi muda merasa masa depan mengecil. Ketika elit terlihat jauh, terust bisa mulai retak. Dan terust itu seperti kaca. Sekali retak lo bisa pakai lem, tapi bekasnya ada. Dan bekas itu mempengaruhi cara orang memandang kebijakan berikutnya. Makanya pelajaran dari Prancis dan Inggris bukan takut sama Eropa, melainkan paham mekanisme runtuhnya kepercayaan. Yang bisa kita ambil dari Perancis dan Inggris adalah konsep kontrak sosial. Kontrak sosial itu kesepakatan batin. Gue kerja, gue patuh, gue bayar pajak. Negara memberi gue keamanan, layanan, dan peluang yang masuk akal. Ketika negara dianggap tidak memenuhi bagian itu, warga mempertanyakan bagian mereka. Mereka jadi malas ikut aturan, jadi sinis terhadap pajak, jadi tidak peduli terhadap proses politik. Dan begitu banyak orang berhenti merasa terikat, politik berubah jadi arena emosi, bukan arena solusi. Di situ yang paling rugi biasanya bukan elit, tapi warga biasa karena ketidakstabilan selalu memukul yang paling lemah lebih dulu. Jadi pelajaran paling tajam bukan jangan demo atau jangan referendum. Pelajarannya kebijakan besar butuh dua hal sekaligus. Pertama, dasar ekonomi yang masuk akal. Kedua, legitimasi sosial yang nyata. Lo punya alasan fiskal, tapi kalau cara lo membuat orang merasa diinjak, lo akan kalah di medan yang lebih penting dari angka, medan kepercayaan. Sebaliknya, lo bisa punya proses rapi, tapi kalau hasilnya tidak memperbaiki hidup, terust tetap runtuh. Dan begitu teras runtuh, setiap kebijakan jadi seperti pesan promosi yang dianggap penipuan. Lo belum buka, lo sudah curiga. Gua pengen lo ingat satu kalimat ini karena ini inti cerita kita. Negara maju bukan kebal terhadap krisis. Mereka cuma punya cara lebih halus untuk menyembunyikannya sampai krisis itu meledak. Prancis meledak di jalan. Inggris meledak di tagihan. Dan keduanya mengajarkan satu hal. Ketika warga merasa manfaat, pertumbuhan tidak dibagi. Ketika mereka merasa tidak dihormati, demokrasi kehilangan bahan bakar. Karena bahan bakar demokrasi bukan cuma suara di kotak pemilu, tapi keyakinan bahwa suara itu bermakna dan hidup mereka bisa membaik lewat jalur yang sah. Makanya dan yang paling berbahaya orang mulai ngelawak soal negara mereka sendiri. Lo tahu kan kalau orang sudah bisa ngetawain tragedi itu tandanya mereka sudah lama menahan. Di Prancis orang bikin meme soal PM hari ini siapa ya? Kayak ganti wallpaper. Di Inggris orang bikin meme soal tagihan listrik yang lebih tinggi daripada harga tiket konser. Meme itu lucu, tapi lucunya pahit kayak kopi tanpa gula yang dibikin pakai hati yang patah. Gua kasih lu gambaran yang lebih konkret soal Prancis biar lu kebayang bukan cuma headline. Bayangin lu kerja di kota satelit Paris. Setiap pagi lo naik kereta komputer. Kalau keretanya telat, hidup lo langsung kacau. Telat kerja, dimarahin bos, pulang makin malam, anak sudah tidur, pasangan sudah capek. Nah, pas gelombang mogok kerja terjadi, keterlambatan jadi sering, bukan sekali dua kali. Dan setiap kali itu terjadi, warga tidak cuma marah sama serikat buruh. Banyak yang justru bilang, "Ya wajar mereka mogok, mereka juga ditekan." Di situ ada solidaritas yang unik. Warga kesal karena terganggu. Tapi mereka lebih kesal pada negara yang membiarkan layanan publik dikecilkan, lalu minta semua orang berkorban. Dan tentang 493, gua pengin tekankan satu nuansa yang sering hilang kalau kita cuma dengar ringkasan. Ee 493 itu bukan baru dipakai sekali. Di Prancis beberapa pemerintah pernah memakainya tapi konteks 2023 beda karena ia dipakai pada isu yang menyentuh hak hidup versi Prancis pensiun. Pensiun di sana bukan sekadar tabungan, tapi simbol kontrak sosial. Makanya ketika prosedur skip voting dipakai, orang merasa bukan cuma kebijakan yang dipaksakan, tapi martabat warga yang dipotong. Lo debat seharian soal angka umur, tapi kalau martabat yang luka, debat angka jadi tidak relevan. Lalu soal Pemilu 2024 yang bikin parlemen pecah, ada satu efek samping yang bikin sistem makin macet. Semua pihak merasa punya mandat, tapi mandatnya tidak cukup untuk memerintah. Kubu kiri bilang, "Kami terbesar, berarti kami harus memimpin." Kubu tengah bilang, "Tanpa kami, kalian tidak bisa jalan." Kubu kanan bilang, "Kami wakil kemarahan rakyat." Tiga-tiganya benar dalam versi mereka. Tiga-tiganya juga tidak cukup untuk menutup 289 kursi mayoritas. Jadi, apa yang terjadi? Setiap rancangan anggaran jadi medan perang. Dan anggaran itu bukan dokumen abstrak. Anggaran itu menentukan apakah rumah sakit punya staf, apakah sekolah punya guru, apakah subsidi jalan, apakah pajak naik. Di Prancis ketika bicara hemat itu sering berarti memotong belanja sosial. Tapi belanja sosial di sana besar dan banyak orang sudah menganggapnya bagian dari identitas. Jadi, pemotongan kecil pun terasa seperti penghinaan. Sebaliknya ketika bicara naik pajak, kubu yang pro pasar akan bilang itu membunuh investasi dan pekerjaan. Jadi, pemerintah manapun berada di antara dua tembok, tembok moral dan tembok pasar. Dan jangan lupa, pasar juga punya cara sendiri untuk menekan rating kredit. Ketika lembaga pemeringkat memberi sinyal negatif, biaya pinjaman negara bisa naik. Lalu bunga utang naik, ruang fiskal makin sempit, dan lingkaran setan makin kencang. Sekarang Inggris gue kasih lo adegan yang lebih dekat. Bayangin lu tinggal di rumah sewa di pinggiran Manchester. Pemanas ruangan itu bukan kemewahan, itu kebutuhan. Musim dingin datang, tagihan energi naik. Lu buka surat, angka di situ bikin lu pengen pura-pura buta. Di waktu yang sama, belanja makanan di supermarket naik. Lo dulu beli susu, roti, telur, selesai. Sekarang lo jadi orang yang berdiri lama di lorong bandingin harga per gram kayak lagi ujian matematika. Dan ini bukan cuman satu keluarga, ini jutaan keluarga yang hidupnya jadi mode hemat permanen. Mode hemat permanen itu bikin otak lelah. Karena setiap keputusan kecil berubah jadi pertanyaan besar. Gue mampu tidak? NHS adalah cerita lain yang bikin warga Inggris patah hati. Karena banyak keluarga di sana punya kisah orang tua diselamatkan NHS, anak lahir dibantu NHS. Masa kecil imunisasi di NHS. Jadi, NHs itu seperti keluarga besar. Ketika keluarga besar itu mulai kewalahan, antri panjang, staf kurang, ruang penuh, warga merasa seperti ditinggalkan oleh sesuatu yang dulu mereka percaya. Dan rasa ditinggalkan itu bikin orang sinis terhadap janji pemerintah siapapun yang berkuasa. Apalagi kalau mereka lihat politisi debat di parlemen kayak lagi adu punchline, sementara mereka di rumah bingung bayar tagihan. Lu juga harus ngerti bahwa Inggris punya luka politik pasca Brexit yang tidak cuma ekonomi, ada luka sosial. Keluarga bisa berantem karena pilihan referendum. Teman kantor bisa canggung. Ada orang yang merasa kita menang tapi kemudian bingung kenapa hidup tidak jadi lebih mudah. Ada yang merasa kita salah tapi juga tahu membalik keputusan itu hampir mustahil. Ya, jadi masyarakat hidup dengan semacam disonansi. Mereka tahu ada konsekuensi tapi tidak punya tombol ando. Dan ketika tidak ada tombol ando, orang cenderung mencari kambing hitam yang lebih dekat. Politisi sekarang, politisi kemarin, atau institusi. Kita juga belum ngobrol tentang kriminalitas kecil yang sering jadi indikator stres ekonomi. Di Inggris ada laporan shoplifting naik dan menjadi perhatian besar. Ketika orang mulai mencuri barang kebutuhan, itu bukan sekadar kriminalitas. Itu tanda bahwa tekanan hidup sudah menembus batas moral banyak orang. Orang yang dulu mungkin malu, sekarang memilih survival. Dan ketika survival jadi tema sehari-hari, mereka tidak punya energi untuk percaya pada cerita besar tentang masa depan. Mereka hanya ingin besok aman. Sekarang gua mau sambungkan dua negara ini dengan satu konsep yang sering diomongin akademisi tapi sebenarnya gampang. Legitimasi. Legitimasi itu bukan sekedar menang pemilu, tapi diterima secara batin oleh masyarakat. Macron bisa menang pemilu, tapi ketika ia memakai 493 pada isu sensitif, legitimasi batinnya terkikis. Pemerintah Inggris bisa berganti, tapi kalau biaya hidup tetap menekan dan NHS tetap macet, legitimasi batinnya juga menguap. Dan tanpa legitimasi batin, negara boleh punya polisi, boleh punya aturan, tapi setiap kebijakan akan dianggap permusuhan, bukan perlindungan. Di sini gua mau ngomong tentang kenapa 5.000 kata pun bisa terasa kurang kalau struktur salah. Karena banyak orang menjejalkan daftar masalah. Pensiun, Brexit, inflasi, energi, nuklir, iklim, lalu selesai. Tapi yang bikin orang paham bukan daftar, melainkan hubungan sebab akibat. Jadi gua pengin lihat hubungan itu seperti rangkaian domino di Prancis. Domino pertama adalah reformasi pensiun yang dipersepsikan tidak adil. Domino kedua adalah 49,3 yang menghina rasa partisipasi. Domino ketiga adalah pemilu yang menghasilkan parlemen terpecah. Domino keempat adalah ketidakmampuan membuat anggaran. Domino kelima adalah pergantian perdana menteri yang terlihat seperti sirkus. Domino keenam adalah pasar dan fiskal yang makin menekan. Domino ketujuh adalah publik yang akhirnya mengatakan cukup. Di Inggris, domino pertama adalah Brexit sebagai pilihan identitas. Domino kedua adalah friksi ekonomi yang datang pelan dan sering tidak terlihat tapi menambah biaya. Domino ketiga adalah pandemi yang menambah utang dan mengganggu pasar kerja. Domino keempat adalah krisis energi yang memperparah inflasi. Domino kelima adalah biaya hidup yang menggerus kepercayaan. Domino keenam adalah layanan publik terutama NHS yang tertekan dan membuat orang merasa negara tidak hadir saat mereka butuh. Dari sini kemarahan tidak harus meledak jadi demo. Cukup menjadi apatis dan sinis. Dan itu sama bahayanya. Nah, sekarang lu mungkin mikir, "Ya udah kalau gitu apa solusinya? Sistemnya rusak." Jujur solusinya tidak seksi. Solusinya bukan satu orang jenius datang dan beres dalam semalam. Solusinya adalah kombinasi, transparansi fiskal, reformasi bertahap, kompensasi yang adil untuk kelompok yang paling terkena dan yang paling susah membangun ulang budaya negosiasi. Karena kalau masyarakat sudah polar, tiap kompromi dianggap pengkhianatan. Padahal tanpa kompromi, demokrasi parlementer seperti Prancis ya macet. Tanpa kompromi, politik berubah jadi game siapa yang bisa bikin lawan malu, bukan siapa yang bisa bikin negara jalan. Dan ini kenapa banyak orang menyebut krisis ini sebagai krisis demokrasi modern. Bukan karena demokrasi jelek, tapi karena masalah yang dihadapi sekarang lebih kompleks daripada kemampuan siklus pemilu untuk mengolahnya. Lu bisa nanya ke diri lo sendiri, kalau lu jadi politisi, beranikah lo bilang ke publik kita harus kerja lebih lama atau kita harus bayar pajak lebih tinggi atau kita harus investasi besar untuk transisi energi. Padahal itu menyakitkan sekarang. Kalau lo jujur, lo mungkin kalah pemilu. Kalau lo bohong dengan janji manis, lo mungkin menang. Tapi lo sedang menunda bom buat generasi berikutnya. Jadi, publik merasa dikerjain terus. Di sinilah muncul nostalgia terhadap pemimpin kuat. Banyak orang secara psikologis rindu sesuatu yang terlihat tegas, tapi tegas tidak selalu tepat. Dan ketika orang menyerahkan semuanya pada pemimpin kuat tanpa mekanisme kontrol, mereka bisa kehilangan hak untuk memperbaiki kesalahan. Prancis marah karena prosedur bypass debat. Itu menunjukkan publik masih ingin mekanisme. Mereka hanya ingin mekanisme yang tidak terasa pura-pura. Inggris pun begitu. Banyak orang tidak menolak demokrasi. Mereka menolak rasa bahwa suara mereka cuma dipakai saat kampanye lalu dilupakan setelahnya. Sekarang gua balik ke Indonesia dengan satu cara yang lebih jujur. Bukan menakut-nakuti, tapi mengajak nyambung. Loh dengar orang bilang, "Buat apa pilih sama aja. Di banyak tempat itu cuma keluhan sambil ngopi. Tapi di Prancis dan Inggris keluhan itu sudah naik level menjadi energi sosial. Ketika keluhan naik level, ia bisa menjadi bahan bakar perubahan besar, tapi juga bisa menjadi bahan bakar kerusakan. Karena orang yang putus asa mudah digerakkan oleh cerita sederhana. Dan cerita sederhana bisa membawa solusi sederhana yang gagal, lalu kekecewaan yang lebih besar. Jadi kalau lu tanya apa yang harus gua bawa pulang dari cerita Prancis dan Inggris? Bawa pulang dua hal. Pertama, kemarahan publik sering bukan soal angka, tapi soal rasa diperlakukan tidak adil dan tidak dihargai. Kedua, masalah besar tidak bisa diselesaikan hanya dengan ganti wajah kalau struktur insentifnya sama. Kalau sistem memaksa politisi berpikir 4 tahun, sementara masalah butuh 20 tahun, maka yang terjadi adalah siklus kekecewaan. Dan kalau siklus kekecewaan itu dibiarkan, orang akan berhenti ikut main secara damai. Mereka akan mencari pintu belakang. Gua mau tutup dengan gambaran terakhir yang mungkin terasa sederhana, tapi sebenarnya inti bayangin negara itu seperti gedung apartemen tua. Warganya tinggal di dalam. Politik itu pengurus gedung ketika lift sering rusak, air sering mati, dan koridor gelap, warga marah. Mereka bisa marah ke pengurus, mereka bisa minta ganti pengurus. Tapi kalau pipa-pipanya sudah tua, kabelnya sudah rapuh, dan struktur gedungnya retak, ganti pengurus saja tidak cukup. Lu butuh renovasi? Renovasi itu berisik, mahal, mengganggu, dan bikin orang emosi. Tapi tanpa renovasi, gedungnya ambruk pelan-pelan dan semua orang kena. Kalau lo mendengar itu, jangan cuma ketawa atau merasa jauh. Karena pelajaran paling tajam dari negara maju adalah mereka juga manusia dan sistem mereka juga bisa kelelahan. Dan ketika sistem lelah, masyarakat yang paling menderita adalah yang paling tidak punya bantalan. Jadi entah lu tinggal di Jakarta, Surabaya, Medan, atau kota kecil yang jarang masuk peta. Pertanyaannya sama. Apakah kita masih percaya pada kontrak sosial? Apakah kita masih merasa didengar? Apakah pertumbuhan terasa adil? Kalau jawaban itu mulai goyah, jangan tunggu sampai orang di sekitar lo teriak. Bukan cuma di internet, tapi di jalan. Usir aja semuanya. Karena saat kalimat itu jadi kebiasaan yang runtuh bukan cuma kabinet, tapi juga kesabaran sosial. Dan begitu kesabaran sosial habis, ekonomi, keamanan, dan masa depan ikut ke bawah. Jadi, mending kita belajar sekarang sebelum alarmnya berbunyi lebih kencang. Biar kita masih punya ruang ngomong, nego, dan benerin bareng. Yeah.
Resume
Categories