Transcript
25oItUDPkm8 • Kenapa Jepang Sekarang “Butuh Banget” Pekerja Asing?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/JendelaDunia-u3n/.shards/text-0001.zst#text/0079_25oItUDPkm8.txt
Kind: captions
Language: id
Halo semuanya, selamat datang kembali di
channel Jendela Dunia. Jangan lupa tekan
tombol subscribe dan nyalakan
loncengnya. Mari kita buka jendela
wawasan kita hari ini, Gengs. Gua mau
mulai dari satu pemandangan yang
belakangan ini makin sering nongol di
hidup kita. Kayak iklan pinjol yang
sudah llok tapi tetap muncul lewat nomor
baru. Lo duduk di warung kopi pinggir
jalan, es teh manis sudah tinggal esnya
doang. Terus tiba-tiba ada yang
ngiletuk, "Eh, lu tahu enggak jalur
Jepang?" Yang satu langsung nyaut.
Tokute Gino, Bro. Yang lain ikut
nimbrung magang visa kerja gaji yen
gede. Bahkan yang biasanya ngobrolnya
cuma soal motor, siapa yang knalpotnya
paling nyebelin sekarang sudah ngomongin
Saitama kayak ngomongin Bekasi. Santai,
yakin. Padahal belum pernah keluar kota
juga. Grup WhatsApp keluarga lebih gila
lagi yang biasanya isinya cuma
assalamualaikum sama ini hoax apa bukan
tiba-tiba berubah jadi seminar migrasi.
Ada yang kirim link pelatihan bahasa,
ada yang share video orang kerja di
pabrik. Eh, ada yang bilang temannya
teman gua sudah berangkat kayak itu
sertifikat resmi dari kementerian. Dan
lo tahu yang paling lucu orang yang dulu
kalau disuruh mengantre di Samsat aja
langsung bad mood. Sekarang sudah punya
rencana hidup kerja shift di negeri
orang yang budayanya mengantre itu agama
kedua. Tapi gua mau bilang pelan-pelan
ya biar enggak kaget. Fenomena semua
orang pengin kerja ke Jepang ini bukan
cuma cerita perantauan yang estetik ala
feed Instagram. Bukan cuma soal foto di
depan Kbini sambil pegang onigiri terus
caption new chapter. Bukan cuma soal
pamer jaket Uniklo yang katanya lebih
murah di sana. Ini juga cerita yang
lebih gede, lebih dalam, dan lebih seram
tapi sopan tentang ekonomi Jepang yang
lagi kehabisan bensin manusia. Jepang
itu bukan lagi tempat yang santai,
bagi-bagi peluang kayak bayangan lama
orang. Jepang sekarang lagi nyari orang
biar ekonominya enggak macet. Jadi kalau
lo selama ini mikir, "Wih, Jepang keren.
Gue pengen ke sana sekarang. Coba
balik." Jepang juga mikir, "Wih, lo ada.
Gue butuh lo." Dan hubungan dua kalimat
itu, Bro, adalah bahan bakar utama
cerita kita hari ini. Ya, sekarang lu
bayangin kata krisis. Kalau kata
netizen, krisis itu pabrik tutup,
perusahaan bangkrut, orang menganggur
numpuk, kantor sepi, orang jadi pengamat
saham dadakan, tiap hari ngomong cut
losl. Padahal duitnya juga enggak ada.
Tapi krisis Jepang itu beda. Kris Jepang
itu shift malam kosong. Lu punya
minimarket yang dulu bangganya 24 jam,
tapi jam operasionalnya dipotong karena
enggak ada yang jaga kasir. Lu punya
restoran ramen yang harusnya rameai
sampai tengah malam tapi tutup jam 09.00
karena stafnya habis. Bukan habis mood
tapi habis tenaga manusia. Lo punya
proyek konstruksi yang targetnya selesai
cepat tapi molor karena tukangnya
kurang. Messi gedung ada, modal ada,
tapi yang bikin roda muter itu manusia.
Dan ketika manusia yang muter itu
kurang, ekonomi mulai bunyi ngos-ngosan.
Kayak motor tua dipaksa nanjak flyover
pas jam pulang kantor. Biar kita enggak
ngobrol cuma pakai perasaan, gua kasih
satu paku angka aja biar kepala kita ada
pegangan. Di Jepang ada indikator yang
sering dipakai buat ngelihat seberapa
ketat pasar kerja. Job to applicance
ratio. Bahasa warungnya lowongan kerja
dibanding orang yang melamar. Kalau
angka ini di atas satu artinya lowongan
lebih banyak daripada pelamarnya. Jepang
sudah lama main di wilayah itu kira-kira
sekitar 1 koma sekian dan pernah disebut
sekitar 1,26.
Artinya ada lebih banyak kursi kosong
daripada orang yang mau duduk. Dan ini
kejadian di negara yang terkenal
disiplin yang kalau lu telat 5 menit aja
bisa bikin lo merasa berdosa. Jadi kalau
di sana kursi kerja kosong itu bukan
karena orangnya malas, tapi karena
orangnya memang kurang. Nah,
pertanyaannya kok bisa segitunya? Kenapa
negara yang terkenal rapi, kaya,
teknologinya keren, tiba-tiba kelihatan
kayak lagi kekurangan staff? Jawabannya
bukan satu, tapi benang kusut yang
ujungnya sama. Suplai tenaga kerja
menyusut karena demografi. Anak muda
lebih sedikit, kelahiran turun, populasi
menua. Dan kalau lo pikir ini cuman
urusan orang Jepang, tunggu dulu. Karena
efeknya ke ekonomi itu bukan teori
doang. Kalau anak muda sedikit, yang
masuk angkatan kerja sedikit. Kalau yang
kerja sedikit, pajak yang terkumpul dari
mereka juga lebih sedikit. Sementara
itu, orang tua makin banyak dan mereka
butuh biaya kesehatan, butuh pensiun,
butuh layanan sosial. Jadi, uang negara
keluar lebih banyak. Ini kayak warung
yang pelanggan setianya makin banyak,
tapi yang jaga kasir makin sedikit dan
yang masak juga berkurang. Warungnya
tetap buka, tapi semua orang di dalamnya
makin capek. Di titik inilah jalur
Jepang yang lagi ramai itu jadi masuk
akal. Hm. Karena kalau suplai tenaga
kerja lokal menyusut, solusi tercepat
itu apa? Bukan nunggu bayi lahir terus
besar dulu, itu mah dua dekade lagi. Dan
Jepang enggak bisa nunggu dua dekade
sambil bilang sabar ya, ekonominya lagi
buffering. Solusi cepatnya ya impor
tenaga kerja. Dan Jepang memang lagi
melakukan itu, tapi dengan gaya mereka
sendiri, rapi, banyak aturan, banyak
istilah, dan kadang bikin orang merasa
lagi main game tapi tutorialnya panjang
banget. Mereka enggak bilang
terang-terangan kami negara imigran
sekarang. Mereka lebih suka bilang
program keterampilan, program magang,
program pelatihan, visa kerja spesifik,
dan segala macam label yang intinya
satu, kami butuh orang tapi kami pengin
semua tetap kelihatan terkendali. Biar
lo kebayang skalanya, gua kasih paku
angka yang penting doang. Jumlah pekerja
asing di Jepang sudah naik terus dan
pernah dilaporkan tembus sekitar 2,3
juta pada Oktober 2024, naik 2 digit
dibanding tahun sebelumnya. 2,3 juta itu
bukan angka kecil. Itu kayak lu
ngumpulin penduduk satu kota besar dan
lo taruh buat bantu ekonomi satu negara.
Dan kalau lo lihat jumlah foreign
residence total bukan cuma pekerja pada
akhir 2024 juga mencapai rekor sekitar
3,77 juta. Jadi di kota-kota tertentu lu
makin sering dengar aksen non Jepang,
makin sering lihat wajah non Jepang di
kasir, di dapur restoran, di gudang
logistik, di panti jompo. Ini bukan
film, ini real life. Dan ini adalah
respon ekonomi terhadap krisis manusia.
Ya, tapi sekarang kita masuk ke bagian
yang paling Jepang banget. Mereka butuh
orang, tapi mereka juga agak takut sama
kata imigran. Mereka pengin tenaga lo,
tapi belum tentu pengin akar lo. Jepang
itu kayak orang yang pengin sewa motor
tapi enggak mau motor itu dipakai ke
luar pulau. Dipakai boleh asal balik.
Dipakai boleh, asal jangan jadi milik.
Makanya banyak program yang sifatnya
sementara, kontrak, atau punya batasan
yang bikin orang susah benar-benar
cangkok jadi bagian permanen. Buat
sebagian orang ini enggak masalah karena
targetnya memang kerja beberapa tahun
lalu pulang. Tapi buat sebagian lain ini
jadi pertanyaan besar. Kalau gua sudah
kasih tenaga, kapan gua bisa punya
kepastian? Dan pertanyaan itu, Bro,
adalah pertanyaan ekonomi juga, bukan
cuma pertanyaan hati. Karena kepastian
tinggal itu menentukan apakah orang mau
membangun hidup di sana. Dan membangun
hidup itu yang bikin demand masa depan
tumbuh. Sekarang gua ajak lu jalan-jalan
kayak tur satu hari tapi versi ekonomi.
Kita mampir ke tiga tempat, tiga stop,
tiga lapis masalah yang beda supaya lu
paham kenapa Jepang itu kelihatan maju
tapi di dalamnya ada mesin yang mulai
kekurangan orang buat diputar. Kita
mulai dari dunia layanan, Kbini,
restoran, logistik. Lu tahu konini itu
kan yang kalau lo Jepang rasanya kayak
ini minimarket atau surga kecil? Bersih,
lengkap, ada onigiri, ada ayam goreng,
ada kopi, ada mesin bayar tagihan,
bahkan ada layanan yang bikin lo merasa
hidup lo ditolong. Tapi konbini itu bisa
jadi surga cuma kalau ada manusia yang
jaga. Begitu staff kurang, surga jadi
setengah buka. Ada yang ngurangin jam,
ada yang ngurangin layanan, ada yang
bikin aturan shift makin ketat. Di
restoran juga sama lu bisa lihat papan
rekruting ditempel gede-gede kayak
poster konser dan kadang mereka nawarin
bonus masuk, nawarin jadwal fleksibel,
nawarin makan karyawan, pokoknya segala
cara biar kursi itu ada yang duduk. Dari
sisi ekonomi, sektor layanan itu penting
karena dia nyentuh kehidupan harian.
Kalau layanan melemah, orang merasa
kualitas hidup turun dan perusahaan
kehilangan omzet yang seharusnya bisa
didapat kalau jam operasional panjang.
Ini bukan cuma soal kasir capek, ini
soal kapasitas ekonomi yang mengecil.
Bayangin mall yang lampunya terang tapi
toko-tokonya tutup lebih cepat. Secara
visual tetap keren, tapi uang yang muter
berkurang. Dan yang lebih halus lagi,
ketika layanan berkurang, orang makin
malas keluar, makin malas belanja, dan
demand jadi makin lesu. Jadi, kekurangan
tenaga kerja bisa nyeret ke masalah
demand juga karena pengalaman konsumen
menurun. Stop kedua, Kaigo, perawatan
lansia. Nah, ini bagian yang kadang
bikin ketawa kita mendadak hilang.
Jepang itu salah satu negara dengan
proporsi lansia tertinggi dan itu
berarti permintaan perawatan itu naik
terus kayak harga cabai pas mau lebaran.
Lansia butuh perawat, butuh caregiver,
butuh fasilitas, butuh kunjungan rutin,
butuh orang yang sabar, dan itu kerja
yang berat. Kaigo bukan kerja yang bisa
lo selesaikan dengan senyum doang. Lo
angkat tubuh orang, lo bantu mandi, lo
bantu makan, lo dengar keluh kesah, lo
jaga emosi, dan lo tetap harus sopan
walau punggung lo sudah minta resign.
Banyak orang Jepang sendiri juga enggak
mau kerja di sektor ini karena capeknya
bukan main dan tekanan mentalnya tinggi.
Akibatnya, sektor ini jadi salah satu
yang paling bergantung pada tenaga
asing. Dan di sini lu bisa lihat
demografi itu bukan grafik di kertas,
tapi tangan manusia yang benar-benar
dibutuhkan. Secara ekonomi Kaigo itu
unik. Demandnya sudah pasti naik karena
lansia makin banyak. Tapi suplai tenaga
kerja sulit naik karena generasi muda
sedikit dan pekerjaannya berat. Hasilnya
biaya sosial membengkak. Pemerintah
harus keluar dana besar. Sistem asuransi
sosial ditekan dan keluarga juga
terlibat. Kalau sektor ini kekurangan
orang dampaknya bukan cuman bisnis tapi
stabilitas sosial. Lo bisa punya robot
paling canggih, tapi robot belum bisa
beneran gantiin empati manusia. Robot
bisa bantu dorong kursi roda, bisa bantu
angkat, tapi nahan tangan orang yang
lagi takut di malam hari itu masih kerja
manusia. Dan di situlah Jepang sadar
teknologi bisa bantu, tapi manusia tetap
inti. Step ketiga, pabrik, daerah, dan
konstruksi. Banyak orang bayangin Jepang
itu cuma Tokyo, Shibuya, kereta cepat,
dan lampu neon. Padahal Jepang juga
punya banyak pabrik di pinggiran. Punya
industri makanan, komponen, manufaktur,
plus proyek infrastruktur dan perumahan.
Kerja pabrik itu sering butuh orang yang
tahan rutinitas dan disiplin. Konstruksi
juga sama, butuh orang yang kuat,
telaten, dan siap kerja dalam cuaca yang
kadang enggak bersahabat. Kalau tenaga
kerja kurang, proyek molor biaya naik,
kapasitas produksi enggak maksimal. Dan
kalau kapasitas produksi enggak
maksimal, Jepang kehilangan daya saing.
Padahal dunia juga enggak nungguin.
Negara lain produksi, negara lain
ekspor, negara lain nambah pasar. Jepang
bisa tetap kuat, tapi dia harus berjuang
lebih keras untuk mempertahankan output
dengan jumlah orang yang menurun. Sampai
sini orang biasanya langsung ngegas,
berarti gampang dong impor tenaga kerja
terus beres. Pights. Ini bagian twist
ekonomi yang sering orang lupa. Impor
tenaga kerja itu belum tentu impor
pertumbuhan. Kenapa? Karena banyak
pekerja asing datang dengan status
sementara. Mereka kerja keras, mereka
hemat, mereka kirim uang ke keluarga di
negara asal. Remitansi itu bagus buat
keluarga mereka, bagus buat kampung
halaman, tapi buat Jepang, efek konsumsi
domestiknya bisa lebih kecil dibanding
kalau pekerja itu menetap. Kalau lu
sementara lu mungkin enggak beli rumah,
lu mungkin enggak ambil KPR, lu mungkin
enggak nikah di sana, atau kalau nikah
pun pikirnya nanti pulang. Lu mungkin
enggak punya anak di sana. Padahal
pertumbuhan ekonomi yang sehat itu
sering butuh generasi baru konsumen.
Konsumen baru bukan cuma orang beli mie
instan, tapi orang yang bikin keputusan
hidup. Sewa rumah, beli furnitur,
sekolahin anak, bayar jasa, ikut ekonomi
lokal. Jadi, Jepang bisa impor tenaga
kerja, tapi kalau tidak berhasil impor
masa depan konsumennya, mesin tetap
muter tapi bensinnya tipis. Nah, demand
itu adalah gembok terbesar ekonomi
Jepang sekarang. Kita sering terlalu
fokus ke suplai tenaga kerja. Padahal di
balik itu ada masalah permintaan yang
lemah. Masyarakat tua cenderung lebih
hemat, lebih banyak belanja kesehatan,
lebih sedikit konsumsi gaya hidup yang
agresif. Perusahaan melihat pasar yang
stabil tapi enggak meledak. Kalau pasar
enggak meledak, perusahaan cenderung
hati-hati ekspansi. Kalau ekspansi,
hati-hati. Kenaikan gaji juga pelan.
Kalau gaji naik pelan, sementara biaya
hidup tetap, orang makin nahan diri. Dan
ketika orang nahan diri, demand makin
lemah. Ini seperti spiral pelan yang
bikin ekonomi jalan tapi santai banget.
Padahal dunia lain lari. Gua kasih satu
paku lagi. Yang penting kelahiran di
Jepang pada 2024 dilaporkan turun ke
level rekor rendah kira-kira sekitar
720.000 bayi. Buat negara besar itu
kecil banget. Buat Jepang itu masa depan
tenaga kerja yang lagi menipis. Bayangin
kalau lo punya klub bola dan setiap
tahun pemain mudanya yang masuk akademi
makin sedikit. Lu masih bisa main
beberapa musim, tapi lama-lama skuadnya
tua semua, cedera banyak dan lo bingung
regenerasi. Ekonomi juga gitu cuma versi
duit dan pajak. Dan ketika regenerasi
melemah, negara akan mencari pengganti
dari luar karena tidak ada waktu untuk
menunggu generasi baru tumbuh. Ee
sekarang lu mulai paham kenapa Jepang
itu kelihatan membuka pintu, tapi
pintunya kayak pintu rumah orang kaya.
kebuka tapi ada satpam, ada CCTV, ada
aturan lepas sepatu, dan ada batas jam
bertamu. Mereka mau orang datang, tapi
mereka juga mau kontrol ritmenya. Mereka
butuh orang di sektor tertentu, tapi
tetap selektif. Mereka kasih izin
tinggal tapi bertahap. Mereka bikin
jalur agar orang bisa kerja tapi masih
ada jarak antara boleh kerja dan boleh
jadi bagian. Ini bukan berarti mereka
jahat. Ini lebih kayak negara yang lagi
bernegosiasi dengan dirinya sendiri. Gue
butuh bantuan, tapi gue juga takut kalau
bantuan itu mengubah rumah gua. Dan di
sini lu bisa lihat ekonomi itu bukan
cuma angka, tapi juga budaya, identitas,
dan rasa aman. Sekarang kita balik
sebentar ke kita di Indo. Kenapa Jepang
menarik? Bukan cuma soal gajian, tapi
juga soal psikologi. Ada faktor gengsi,
jangan pura-pura. Lu bilang kerja di
Jepang, orang nganggap lu naik level.
Kayak game RPG, lo pindah map. Ada juga
faktor narasi. Jepang disiplin, bersih,
aman. Banyak orang mikir kalau kerja di
Jepang hidup otomatis rapi. Padahal,
Bro, hidup rapi itu bukan karena negara,
tapi karena lo enggak bisa kabur dari
aturan. Banyak orang Indo yang baru
nyampai Jepang minggu pertama langsung
syok. Bukan karena kerjaannya doang,
tapi karena hidupnya tiba-tiba terukur.
Lu buang sampah ada jadwal, lo berisik
ada konsekuensi sosial, lo telat ada
stigma. Dan awalnya tuh berat, tapi
lama-lama jadi kebiasaan yang bikin lu
berpikir, "Oh, ternyata hidup bisa
berjalan tanpa drama kalau semua orang
ikut aturan." Ada sisi lucu juga, teman
gua cerita dia baru nyampe beli makan di
Kon Bini terus bingung cara buang
bungkusnya karena tempat sampah enggak
ada di mana-mana. Di Indo tempat sampah
kadang ada kadang enggak, tapi orang
punya kreativitas nanti aja. Di Jepang
nanti aja itu bikin tas lu penuh sampah
sampai rumah. Dan dari situ lo sadar
Jepang itu rapi bukan karena warganya
malaikat, tapi karena rapi itu kerja
kolektif. Sistemnya bikin orang malu
kalau berantakan. Di Indo kita juga bisa
rapi, cuma kita suka nunggu ada event
dulu baru rapi kayak orang bersih-bersih
kamar pas mau ada tamu. Jepang itu
tamunya ada setiap hari. Jadi mereka
bersih-bersihnya tiap hari. Tapi gue
juga enggak mau sok suci. Banyak orang
Indo yang berhasil dan hidupnya berubah
lewat jalur ini. Mereka kerja, mereka
nabung, mereka bantu keluarga, mereka
pulang bawa modal. Ada yang buka usaha,
ada yang bangun rumah, ada yang bayar
sekolah adik, ada yang lepas dari
lingkaran ekonomi yang bikin napas
sesak. Itu real. Dan dari sisi Jepang,
mereka juga dapat manfaat mesin layanan
tetap jalan, Kaigo enggak kolaps total,
pabrik enggak kosong, konstruksi tetap
bergerak. Ini hubungan saling butuh,
bukan cerita satu pihak menolong pihak
lain. Jepang bukan pahlawan, pekerja
asing bukan korban otomatis. Ini lebih
mirip transaksi besar yang dibungkus
sopan. Gue butuh tenaga, lo butuh
peluang. Tapi transaksi besar selalu
punya detail kecil yang bisa menentukan
apakah ini adil atau enggak. Ee sekarang
gua mau ceritain satu adegan yang
menurut gua menggambarkan semuanya. Lo
bayangin ada satu kon bini di pinggiran
kota bukan Tokyo yang glamor, tapi kota
yang kalau orang Indo sebut orang lain
jawab, "Hah, itu di mana?" Di Konbini
itu ada satu pekerja asing yang jaga
shift malam. Dia senyum, dia sopan, dia
kerja cepat. Pelanggan datang beli kopi,
bayar keluar. Sistem jalan mesin ekonomi
kecil itu muter. Tapi setelah shift
selesai, dia pulang ke kamar kecil.
Mungkin share house, mungkin kamar
sempit yang kalau lu buka tangan dua
kali sudah nyentuh tembok. Dia buka
handphone, dia lihat berita Jepang
tentang kekurangan tenaga kerja. Dia
senyum kecil karena dia tahu, "Oh, jadi
gua bukan cuma cari duit, gua juga
bagian dari solusi negara ini." Dan di
saat yang sama dia mungkin juga mikir,
"Tapi kalau gua bagian dari solusi,
apakah negara ini juga mau jadi bagian
dari masa depan gue?"
Dari sudut pandang ekonomi ini penting
karena kalau Jepang ingin keluar dari
lingkar demand lemah, dia butuh generasi
yang tinggal dan berbelanja di sana.
Tapi untuk itu dia perlu membuat orang
merasa diterima. Bukan hanya dipakai dan
ini bukan soal baik hati tapi soal
strategi. Lo enggak bisa minta orang
menanam pohon kalau lo cuma kasih izin
menyiram sehari. Orang butuh kepastian
untuk bikin keputusan hidup. Dan
kepastian itu datang dari status, dari
akses, dari integrasi, dari rasa gue
bisa hidup di sini tanpa merasa jadi
tamu selamanya. Kalau kepastian enggak
ada, ya orang akan tetap jadi pekerja
sementara. Dan pekerja sementara itu
menyelesaikan masalah hari ini, tapi
tidak selalu membangun permintaan besok.
Sekarang sebelum ada yang salah paham,
gua enggak bilang Jepang harus buka
pintu lebar-lebar tanpa aturan. Setiap
negara punya hak mengatur. Tapi sebagai
penonton yang lagi ngopi di warung dan
lihat teman-teman pada siap-siap
berangkat, gua melihat satu paradoks.
Jepang butuh orang tapi takut berubah.
Dan kalau takut berubah terus, maka
solusi tenaga kerja hanya jadi tambal
ban, bukan ganti ban. Tambal ban bikin
lu bisa jalan, tapi lu tetap harus pelan
dan tiap kena paku lu tambal lagi. Dan
dalam ekonomi tambal ban itu mahal
karena lu harus terus rekrut, terus
latih, terus adaptasi sementara masalah
inti tetap ada. Gua mau masuk sedikit ke
sisi lain yang jarang dibahas tapi
sebenarnya lucu juga kalau lu pikirin.
Jepang itu enggak cuma kurang orang,
tapi juga butuh orang yang tepat di
tempat yang tepat. Karena kalau
masalahnya cuma kurang orang, ya semua
orang bisa pindah sektor. Tapi
kenyataannya orang enggak bisa tiba-tiba
jadi perawat lansia hanya karena ada
lowongan. Orang butuh skill, butuh
sertifikasi, butuh mental. Dan di
situlah program-program Jepang jadi
kelihatan ribet. Tapi fungsinya jelas.
Mereka mau pasang filter supaya yang
datang itu sesuai kebutuhan. Sementara
orang Indo kita kadang mentalnya yang
penting berangkat dulu. Ini mental yang
bikin kita kadang sukses karena berani,
tapi juga bisa bikin kita celaka karena
enggak siap. Jepang juga berusaha tarik
lebih banyak partisipasi kerja dari
kelompok yang dulu kurang dimaksimalkan,
misalnya perempuan dan lansia. Kalau lu
pernah ke Jepang, lu bakal lihat banyak
nenek-nenek yang masih kerja. Entah di
toko kecil, entah di restoran, entah
jadi petugas kebersihan, entah jadi
penjaga parkir. Di Indo kalau kita lihat
kakek nenek kerja, kadang hati kita
langsung lembek. Kasihan harusnya
istirahat. Di Jepang itu kadang bukan
karena kasihan, tapi karena sistem
mereka memang mendorong orang tetap
aktif. Dan banyak orang tua juga memilih
kerja karena mereka ingin punya
rutinitas dan tambahan uang. Ini
membantu suplai tenaga kerja tapi ada
batasnya. Badan manusia tetap punya
limit. Jadi pada akhirnya tenaga asing
masih dibutuhkan untuk menutup lubang
besar yang ditinggalkan demografi.
Sementara itu, perusahaan Jepang juga
main di arena produktivitas. Mereka mau
output naik walau jumlah pekerja turun.
Ini kayak lu punya warung yang
pegawainya tinggal dua, tapi lu pengin
jualan tetap rame. Solusinya ya lu
rapiin sistem, order lewat layar, menu
disederhanakan, stok ditata, proses
dipotong. Jepang punya tradisi perbaikan
kecil-kecil yang kalau diterapkan serius
bisa bikin satu orang melakukan
pekerjaan yang dulu butuh dua orang.
Tapi produktivitas juga punya batas
kalau pekerjaan itu sangat fisik atau
sangat emosional. Lu bisa bikin proses
logistik lebih efisien, tapi lu enggak
bisa memadatkan empati. Dan inilah
alasan kenapa sektor-sektor tertentu
tetap minta manusia, bukan cuma mesin.
Dan di sini lagi-lagi demografi nyambung
ke demand. Bayangin satu kota yang anak
mudanya dikit. Hmm. Siapa yang bakal
beli motor baru, beli rumah pertama,
beli perabot baru, beli baju buat
nge-date, beli barang buat bayi. Lebih
sedikit orang tua belanjanya lebih
stabil dan cenderung fokus kesehatan.
Jadi, eh perusahaan melihat masa depan
konsumen yang menipis. Kalau konsumen
menipis, mereka ogah ambil risiko besar.
Kalau risiko kecil, inovasi besar juga
lebih jarang. Ini bukan berarti Jepang
stop inovasi, tapi ritmenya bisa berubah
dan ekonomi jadi makin hati-hati. Dan
ketika ekonomi makin hati-hati, orang
makin nahan punya anak, lalu demografi
makin turun. Luap lahi. Gue sering
dengar orang bilang, "Kalau gitu Jepang
tinggal naikin gaji aja biar orang mau
kerja."
Ee secara teori iya, tapi ekonomi itu
kayak tawar-menawar di pasar. Naikin
gaji itu berarti biaya naik. Kalau biaya
naik, perusahaan harus naikkan harga
atau terima margin lebih kecil. Naikkan
harga di pasar yang demennya lemah itu
berisiko karena konsumen lebih sensitif
dan persaingan ketat. Jadi, kenaikan
gaji bisa terjadi tapi sering pelan,
bertahap, dan tidak merata. Sektor yang
kekurangan orang parah bisa naik lebih
cepat, tapi sektor lain belum tentu. Dan
di tengah kenaikan yang pelan itu,
Jepang tetap butuh tenaga untuk menutup
kekosongan sekarang, bukan kekosongan 5
tahun lagi. Sekarang gua balik lagi ke
adegan awal, warung kopi, grup WhatsApp,
semua orang ngomong Jepang. Lu tahu
kenapa ini kelihatan kayak tren masif?
Karena ini bukan tren doang. Ini
pertemuan dua arus besar. Arus pertama,
Indo punya banyak anak muda yang cari
jalan naik kelas. Arus kedua, Jepang
punya ekonomi maju yang butuh tenaga
karena populasinya turun. Ketika dua
arus ini ketemu, yang muncul ya
gelombang. Gelombang itu bisa jadi
kesempatan, bisa juga jadi ombak yang
nyeret kalau lu berenang tanpa arah. Dan
arah itu sayangnya bukan selalu
diberikan oleh agen, bukan selalu
diberikan oleh brosur, tapi harus lo
bangun sendiri dengan informasi yang
benar. Buat Jepang, gelombang ini juga
ujian identitas. Mereka harus pilih mau
jadi seperti apa di masa depan. Kalau
mereka tetap menjaga jarak terlalu
ketat, mereka mungkin berhasil menjaga
rasa kami tetap kami. Tapi mereka akan
terus hidup dengan mesin yang kekurangan
orang. Kalau mereka lebih membuka
integrasi, mereka punya peluang
memperbarui demografi dan demand. Tapi
mereka harus berani berubah. Ini pilihan
yang berat dan perubahan itu bikin
takut. Di mana-mana sama. Di Indo juga
kalau ada perubahan sosial kita suka
debat panjang, tapi ujungnya balik lagi
ke dua kubu yang pengin aman dan yang
pengin maju. Jepang juga begitu, cuma
versi lebih sopan dan lebih sunyi. Gua
juga mau bilang satu hal yang jarang
dibahas di warung. Bekerja di luar
negeri itu bukan cuma soal individu,
tapi soal keluarga dan sosial. Ketika
satu anak muda pergi, keluarga dapat
remitansi. Tapi keluarga juga kehilangan
satu tenaga di rumah. Kadang adik
kehilangan kakak yang jadi panutan,
orang tua kehilangan anak yang bantu
kerja. Jadi, keputusan ini punya biaya
sosial. Kalau keluarga siap, bagus.
Kalau keluarga rapuh, bisa jadi masalah.
Makanya keputusan berangkat itu jangan
cuma karena FOMO, jangan cuma karena
orang-orang sudah pada berangkat. Ini
keputusan yang harus lo pegang dengan
kepala dingin karena lo menghadapi
dinginnya musim juga. Tapi kalau lo
memang memilih Jepang, gue doain lo
kuat. Bukan cuma kuat badan, tapi kuat
kepala. Karena lo akan jadi bagian dari
cerita besar tadi. Eh, setiap kali lo
masuk shift, lo sebenarnya sedang
membantu satu negara mempertahankan
ritme ekonominya. Lo mungkin merasa
cuman satu orang kecil, tapi mesin
ekonomi itu tersusun dari orang kecil
yang jumlahnya jutaan. Jepang sekarang
sedang mengumpulkan orang kecil dari
banyak negara supaya mesin mereka tidak
mati. Itu bukan drama, itu realitas. Dan
realitas kadang enggak romantis, tapi
justru karena itu harus kita pahami
supaya kita enggak jadi korban ilusi.
Akhirnya gua pengen kasih satu gambaran
yang simpel. Bayangin Jepang itu seperti
kota yang lampunya terang, jalannya
mulus, teknologinya keren, tapi
baterainya mulai menipis karena sumber
dayanya bukan minyak atau listrik,
melainkan manusia. Sementara Indo itu
seperti kota yang baterainya masih penuh
karena anak mudanya banyak. Tapi kadang
kabelnya semrawut karena sistem dan
produktivitas belum maksimal. Satu kota
butuh tenaga, satu kota punya tenaga.
Mereka ketemu dan dari pertemuan itu
lahirlah peluang, lahirlah risiko,
lahirlah cerita-cerita baru yang bakal
memenuhi grup WhatsApp kita selama
bertahun-tahun. Jadi kalau besok lu
nongkrong lagi di warung dan ada yang
nanya jalur Jepang, lu bisa jawab dengan
senyum. Ada. Tapi di kepala lu juga ada
kalimat lain yang lebih dalam. Ini bukan
cuma soal gue cari kerja, ini juga soal
Jepang yang lagi cari napas. Dan kalau
lo itu, lu enggak akan gampang ke
bawaahwa hype, lu enggak akan gampang
ketipu janji manis dan lu bisa melangkah
dengan sadar. Karena di dunia ekonomi
yang bikin orang selamat itu bukan cuma
kesempatan, tapi juga pemahaman. Kalau
lo akhirnya berangkat, ingat satu hal
kecil. Hormati aturan tapi jangan
kecilin diri. Kerja keras iya, tapi jaga
kesehatan. Nabung iya, tapi tetap hidup
manusiawi. Cari teman, belajar bahasa,
dan catat semua hal penting. Di sana
disiplin itu bukan musuh, itu pegangan.
Dan kalau suatu hari lu pulang, bawa
pulang kebiasaan baiknya juga. Dan
pemahaman itu, Bro, adalah mata uang
yang nilainya tahan banting. Yen, bisa
naik turun, gaji bisa beda-beda, kontrak
bisa berubah. Tapi kalau lo ngerti cara
kerja sistem, lo punya kompas. Dan
kompas itu yang bikin lo enggak gampang
nyasar di negeri orang. Jadi kalau semua
orang lagi ngomong Jepang, gue juga
ngomong. Tapi bukan cuma gas. Gue
ngomong gas kalau siap. Karena di balik
tren ada ekonomi, di balik ekonomi ada
manusia. Dan pada akhirnya semua cerita
balik lagi ke satu hal yang sederhana.
Manusia yang dibutuhkan, manusia yang
bekerja, manusia yang pengin hidupnya
naik kelas. Semoga setelah ini ketika lo
dengar kata Jepang, lu bukan cuma
kebayang Sakura, tapi juga kebayang
mesin ekonomi yang butuh orang buat
tetap hidup. Dan kalau lu jadi salah
satu orang itu semoga lu pulang bukan
cuma bawa uang, tapi juga bawa arah.