Transcript
p3toFaKHCRQ • Hidup di Titik Terendah: Suami Di-PHK, Istri Hamil 7 Bulan, Nol Pemasukan, Bangkit Usaha Roti
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0693_p3toFaKHCRQ.txt
Kind: captions Language: id Momen terberat itu ada waktu suami saya masih kerja di finance. Saya kondisi hamil tua, Mas. Itu usia kandungan saya itu kira-kira 7 bulan. Suami saya tiba-tiba di PHK sebelum COVID, Mas. Saya kan gak kerja ya, Mas. Kita bingung mau cari pekerjaan apa gitu kan. Bingung. Terus akhirnya kita itu jualan telur gulung itu cuma bisa untuk makan tok loh, Mas. Buat lain-lain sama sekali ndak bisa. Yang namanya jualan telur gurung loh, Mas. Kadang yo dapatnya berapa ya toh? Hitung-hitung itu cuma bisa untuk makan saja. Lain-lain sudah gak bisa. Iya. Saya nyari kerja terus kebetulan ada di bangunan ya, Mas. Jadi ada [musik] kuli bangunan. Saya ikut kuli bangunan. Jadi dari bersepatu, berseragam terus saya itu karena kondisi seperti itu awalnya saya memberanikan swasta akhirnya gagal itu ya tadi ya. kita jualan gagal tadi ya. Akhirnya saya juga kerja jadi bangunan. Makanya [musik] ya karena lapar ya, karena perut ya apapun saya lakukan selama saya gak nipu orang itu satu pedoman saya. Yang penting saya ndak nipu orang, ndak ngurukan orang. It's ok. [musik] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Nama saya e Saiful, Pak. Ini istri saya, Pak, [musik] ya. namanya Ibu Weni. Kita produksi roti, Mas. Utamanya roti burger, Mas. Selain roti burger, kita juga ada roti manis. Roti-oti yang pakai topeng-topeng yang gurih-gurih itu juga sisanya burger mulai dari roti burger mini dan medium sama burger pelangi warna-warni, burger hitam sama burger putih serta isiannya ayam crispy, isiannya burger. Kalau mulai usaha roti sebenarnya sudah lama, Mas. Sudah sekitar 12 tahun dulunya di sini tapi cuma dulu rumahnya belum ini, Mas. Sempat resen karena saya hamil terus mulai burger ini kira-kira masih 4 tahun ini. Dulunya roti manis terus risen, terus mulai lagi burger ngoten loh. Maksudnya saya hamil terus produksinya berhenti ngoten loh. Tapi dulu masih saya lakukan sendiri. Ada yang bantu tapi cuma satu orang dulu. Terus akhirnya setelah anak saya 2 tahun baru mulai lagi tapi burger ngoten bukan roti manis lagi ngoten. Dulu saya itu ibu rumah tangga Mas terus punya anak satu itu anak saya itu dari kecil itu alergi makanan. Jadi kalau makan makanan gitu misalkan jajan di luar dia itu gampang batuk terus sesak. Jadi faktornya itu karena faktor makanan, bukan karena faktor debu atau faktor dingin itu mboten. Terus akhirnya kan kalau mau jajan kan bingung. Akhirnya semua yang dimakan anak saya tuh saya bikin sendiri dulunya gitu. Terus akhirnya makan-makanan yang belum saya bisa kan kira-kira roti gitu. Akhirnya saya ikut pelatihan, ikut kursus supaya saya bikin roti, bisa bikin roti untuk anak saya dulunya begitu. Awalnya gitu. Awalnya gitu karena anak saya agak sensitif kalau makan makanan di luar. Terus akhirnya anak saya kan besar terus saya kan enggak punya aktivitas akhirnya hobi disalurkan teng pekerjaan ngoten loh. Biasanya dia itu alerginya karena ciki. Terus misalkan goreng-gorengan itu kalau minyaknya jelantah gitu dia gak mau. Jadi misalkan saya goreng telur harus minyak pertama kali di itu setelahnya itu gak bisa langsung batuk terus sesek itu kayak serangkaian ngoten loh Mas. Jadi misalkan dia batuk terus pilek itu langsung sesak pasti sembuhnya gak sembuh Mas cuma berkurang aja Mas semakin dewasa gitu tingkat sesaknya itu anu berkurang-berkurang ngoten mawon tapi ndak bisa sembuh misalkan kecapekan ngeten nggih tetap sesak nggih nelongso mas nelongsone anak-anak lain bisa jajan [musik] ini dan itu anak saya ndak bisa ngoten nggih nelongsane teng pada waktu itu kan karena saya kan juga ada pekerjaan sendiri Mas ya saya kan jadi kerja Jadi finance saya. Jadi saya itu lama di finance, Mas. Saya dari marketingnya gitu. Terus akhirnya karena [musik] nyunyah itu di rumah itu kelihatannya ada apa butuh partner ya Mas ya. Saya selangin waktunya nih. Kadang saya itu ke kantor itu bawa obrok, bawa serandul itu loh absen pagi. Terus saya mah ini coba tak tawar nk warang kopi gimana? Enggak apao ya sampean enggak isin ya. Pada waktu itu karena kita itu lama bersepatu ya Mas ya, nota bene kan pasti kan ada gengsi ya Mas ya. Terus iya roti manis itu dulu masih roti manis. Roti manis awalnya ya roti manis. Terus saya bantu itu saya bantu tawarkan ke warung kopi. Biasa kalau di warung kopi ketemu teman-teman itu istilahnya kan kantor kedua mereka kan warung kopi kan. Kalau anu orang perbankan bahasa lapangan duitmu opo kerja n anu awalnya saya juga minder awalnya tapi lama-kelamaan saya enjoy aja gitu loh ya selama yang saya lakukan itu barang yang baik ya tidak memerlukan orang lain saya kirakan pas yang di atas merestui gitu loh saya hampir 13 tahun loh Mas di finance itu kalau jualan rotinya mungkin sekitar 6 tahunan lah itu juga gitu berhenti kan biasanya Mas ya ee suka-dukanya kita loper ke warung-warung seperti itu. [musik] Kadang gimana ada BS-nya banyak berhenti. Makanya nyonya itu berpikir gitu loh, gimana yo kita buat produk apa ya supaya diterima itu apa gitu. Berpikir sambil dimakan anak sendiri karena kan anak saya kan tadi [musik] ceritanya seperti itu. Akhirnya ya sekitar 3 tahun yang lalu. Iya sebenarnya sama teman-teman itu digandoli sama bos digandoli loh. Nyapo kamu kok keluar nyapo? Kamu sudah siapkah beras swasta? Ya siap gak siap saya harus berani Pak kan gitu ya. Alhamdulillah teman-teman saya itu baik-baik, Mas. Karena begini, kalau ikut orang ya sebetulah ikut orang Pak ya pasti [musik] kita tidak bebas berekspresi kalau kita berwasta. Itu satu. Untuk tekanan juga beda ya, Mas ya. Itu karena yang di rumah itu nyonyah saya kelihatannya itu semakin lama volumenya itu semakin besar. Akhirnya saya bantu [musik] gitu loh. Saya bantu untuk produksi maupun penjualannya. berjalannya waktu terus kita makama kenal orang ada partner alhamdulillah sampai sekarang seperti itu. [musik] Kalau anak saya itu anu Mas pokok dia itu ndak boleh makan makanan yang mengandung pemanis buatan terus ciki-cik gitu. Kalau di luar kan banyak toh, Mas ciki kayak potato dan lain sebagainya itu kan ada cikinya toh itu gak bisa. Terus misalkan minum-minuman gitu dia ya milih-milih paling yang berani cuma apa itu larutan itu berani Mas. Maksudnya pernah minum tapi gak apa-apa tapi lainnya dia masih batuk. Kalau bahan sih sebenarnya biasa aja [musik] bahan-bahan roti kalau misalkan bikin sendiri kan yakin toh Mas ini pakai gula gula sendiri gula sama puding tok. Kalau di luar kan gak tahu. Gak tahu gitu loh. Alasannya ya itu, Mas. Kalau roti manis itu kendalannya satu BS-nya banyak, Mas. Kalau gak habis BS kan yang nanggung saya. Kalau kita titip konsyasi tanknya seperti itu. Terus itu nitip, Mas. Jadi kita nyetor ke warung itu nitip. Nanti kita misalkan seminggu sekali ke sana gitu masih apa dak gitu. Jadi misalkan masih itu ya masuk B. Sisa sisa berapa nanti kembali gitu. Itu kalau satu warung. Kalau beberapa warung kan resiko BS-nya kan tinggi tohong Mas. Kalau burger kan beda. Iya. Karena dulu belum belum dikenal juga sih, Mas. Tuh sebenarnya itu faktor itu juga karena kompetitor kan juga banyak kalau roti manus itu banyak. Kita lihatnya sebenarnya di situ. Kalau burger itu komiternya itu paling pabrikan, Mas ya. Dari sisi hargan juga jauh kan. Makanya kita coba berpikir ke situ. Oh, kelihatannya segmen ini yang harus kita bidik gitu loh. Terus kita lihat untuk makanan jenis frozen kan semakin lama orang itu kan semakin inginnya itu praktis ya. Gak perlu ribet. Makanya kan sekarang kan semakin ke sini kan orang kan semakin inginnya [musik] seperti itu. Jadi untuk segmen produk frozen itu mulai kita bidik gitu loh, Mas. Resepnya dulu saya kan belajar roti manis ya, Mas ya. Kalau roti manis sama roti burger kan sama-sama roti tapi cuma beda tekstur ya, Mas ya. Kalau roti manis kan dia cenderung harus lembut, empuk, terus wangi gitu kan, Mas rotinya. Tapi kalau burger kan dia cuma butuh empuk tapi cari tekstur yang enggak kempes pada waktu dibakar. He. Nah, nah itu saya ngulik-ngulik sendiri, Mas. Dulu kan saya pernah kursus di beberapa tempat, tapi cuma kursusnya yaitu cuma bikin roti manis saja. Dari beberapa tempat itu saya tuh ndak bisa menemukan resep sesuai saya inginkan gitu. Akhirnya roti burger ini saya coba-coba sendiri. Misalkan kok rasane kurang pas, terus besok coba lagi, besok gagal, besok coba lagi. Semuanya saya cari sendiri, Mas, resepnya. Mulai burger, roti, tawar itu saya enggak pernah belajar, saya gak pernah kursus. Tapi saya otodidak cari-cari resep sendiri. Alhamdulillah. Itu gini, Mas. kita produk masih kadang gini nyonya itu ya aku kepengin [musik] buat ini ya toh saya buatkan gambarnya gitu loh itu saya kasih di sos itu aja sudah ada yang mau beli gitu loh kadang seperti itu mungkin e karena saking percayanya beliau-beliau ya Mas ya karena selama ini yang kita kasih juga insyaallah ee produk yang bermutu [musik] ya kita benar-benar jaga kualitasnya dari bahan sampai proses sampai kemasan itu benar-benar saya paling cerewet masalah itu memang itu ya harapan saya kan ee istilah nya orang beli itu pakai uang ya, Mas ya. Jadi sebisa mungkin kita itu bisa ngasih sesuatu yang bagus gitu loh ke customer langsung seperti itu. [musik] Jadi gini, awalnya itu memang dulu itu kan saya istilahnya kan dididik ya Mas ya, dididik, diperbarengkan itu kan memang kalau kita itu kita jualan itu pasti ada yang beli. Itu nomor satu. Saya lihat yang di pabrikan yang masuk ke frozen food itu kok harganya mahal. Mereka jualnya kok mahal? Burger dulu, Mas ya Rp14.000 awalnya segitu. Karena bannya sudah mahal, Teman-teman. E PKL, UMKM yang jualan di pingejan, jualnya kan otomatis mahal, Mas ya. Karena mahal kan akhirnya kan kurang terjangkau ya. Lah di tengah fluktuasi ekonomi yang naik turun ya, Mas ya. Akhirnya kan saya berpikir juga ini apa ya? Bisakah saya membuat produk burger yang kualitasnya bagus tapi harganya itu masih dijangkau teman-teman yang di lapangan yang PKL dan lain sebagainya tadi awalnya itu Mas jadi saya itu tenyok gitu loh kalau lihat orang pas di jalan lihat orang dagang saya beli es payu berapa porsi Bu sekian porsi Mas ya Allah sehari oleh piro gitu itu mikir saya itu awalnya itu juga nipis kalau laku untungnya tipis akhirnya saya omong sama nyong nyayi piye mas carane ben kabeh iso mlaku piye cuma g ngene ya gitu itu akhirnya nyonya usah cari resep buat nanti juga saya sendiri yang anu ngicipi Mas. Kadang saya kenal satu orang pedagang ya Mas ya yang lumayan besarlah di Tulungagung itu saya buat untuk acuan, Mas. Aku punya produk ini ya opo enak opo? Oh kurang ini, Mas. Kurang turus Mas. Kita itu enak ngomong ya. Alhamdulillah karena kita itu orangnya itu mau dikoreksi. Intinya kita itu tidak pernah merasa pintar. Jadi jangan sampai merasa pintar. Kita harus bodoh selamanya kan gitu ya. Jadi kalau ada koreksi dari teman saya suka Mas, Mas Eful ini kurang begini, Mas. Oh iya tah? Oh iya kurang ini. Akhirnya saya kasih ke istri saya dirocak-rac lagi ditemukan dikulik kulik kulik wis sampai elek [musik] pokoke. Udah akhirnya oh enak Mas. Nah itu sampai sekarang, Mas. Kadang-kadang pembeli itu karena mungkin mungkin tujuannya baik ya untuk kita. Jadi misalkan saya kirim roti ke sana terus mulai dari bentuk misalkan kurang sempurna agak lonjong gitu dikomplainkan Mas langsung di video tapi saya malah matur suwun gitu itu memang apaak ini kita untuk untuk tumbuh memang seperti itu. Harus seperti itu. Kita harus mau dikoreksi memang ya harapan kita seperti itu. Sampai sekarang pun seperti itu, [musik] Mas. Saya itu tanya ke berbagai gak satu dua alak karena sekarang istilahnya penjual sama bakul saya itu banyak ya Mas ya. Akhirnya saya tuh tanyanya banyak. Oh sudah bagus sudah bagus. ee dari merek A katakan lebih bagusan punya sampean gitu. Harganya gimana, Bu? Harganya masih kompetitif punya sampean. Alhamdulillah berarti saya punya keyakinan berarti ini masuk gitu loh. Kalau dari kita Rp10.000, Mas. Jadi kan ee spellingnya kan ee nanti teman-teman frozen food kan jualnya juga banyak kan, Mas. Ini yang yang tahu masalah masih kok, Mas. Iya sekitar 35% masih lah, Mas. Kalau orang buat roti itu ee mikir, "Oh, ini bahannya bahan yang premium gini-gini." Sebenarnya itu sama saja sebenarnya kalau menurut saya lihat sama saja sebenarnya. Bahan itu di toko juga ada semuanya semua juga berkesempatan untuk bisa membuat sebenarnya sama sebenarnya bahan sama, teknik pengolahan dan lain-lain beda kan pasti hasilnya beda istilahnya kan seperti itu ya Mas ya. sampai sekarang juga seperti itu. Selain kanvaseng kita juga online, Pak. Kita istilahnya kita pakai platform Facebook ya. Di situ ada marketplace di situ. Jadi untuk jangkau customer yang jauh dari rumah yang gak tahu kita dari situ awalnya dari situ. Karena kalau kita jagain orang datang gitu, saya kira apalagi rumah saya masuk gang ya, Mas Yata sendiri masuk gang, tempat produksinya juga di desa masuk. [musik] Jadi saya itu berpikir ini gimana supaya orang di luar itu juga tahu produk kita gitu loh. Awalnya seperti itu, Mas. Karena tanpa orang tahu gak akan mungkin dia bisa membeli. Wong kenal aja belum ya ingat. Cuman ya apa ya manusiawilah ya Mas ya. Karena saya juga di ini produk saya itu juga belum dikenal. Sudah biasa. Latihan kita dulu malah lebih parah daripada itu Mas. Gitu. Saya dulu latihan di jualan dulu diur itu saya itu sama sent saya disuruh jualan balon di depan swalayan. bayangin loh aku iki dodol montor kong dodolan balon y opo iki maksude ya opo awalnya juga malu mas tapi hal seperti itu terus setelah itu saya pakai mental-mental petarung kita di lapangan ya pada waktu kita menjual skill kita jual akhirnya terbentuk Mas biasa istilahnya pernah ya suatu sing saya ingat ya beliau itu punya warung ya warungnya itu ee ya kayak pekerjaan wame Mas saya pakai motor sret ya saya masuk itu banyak pelanggan Mas asalamualaikum Pak Waalaikumsalam masalah nopo Mas Pak kulo Bade promosi roti, Pak. Ndak ndak nak saya sudah pakai ini wis wis wis yakin enggak enak? Wis anu itu di depan orang banyak. Bayangin ya kalau berdua ya ee empat mata gitu atau ada temannya dua saya kira gak seberapa malu. Itu banyak orang Mas. Saya dan juga manusia biasa Mas ya. Sudah capek siang-siang ya panas-panas ya. Don ya. Iya saya don ya. Karena itu saya itu orangnya itu slow ya Mas ya. Saya menanggapi hal seperti itu juga enggak serius-serius amat. malah saya duduk di sampingnya ambil rokok, Pak. Ya, saya tanya, saya follow up lagi. Istilahnya orang menolak itu belum tentu produk kita jelek. Orang menolak itu belum tentu kalau orang kita ndak pengalaman itu wah iki opo wong koy ngono kok tegomen yo w koy ngono. Sebenarnya gak mah karena belum kenal aja sebenarnya saya follow up besoknya saya datangi Mas. Lah normalnya orang kalau sekali ditolak malu kan enggak akan aku enggak akan balak saya besok saya datangi lagi cuman ya saya gak ngomongan roti lagi ke situ sudah saya jalin bersahabat aja ya alhamdulillah terbuka ee dari yang maha kuasa dibukaan min rezekinya istrinya itu, "Mas aku kok kasihan sama saya sampai itu suaminya sampai ya samane nih mbok ojo nemen-nemen lah karo mas iki sak masing ngene-ngeneen akhirnya istrinya mau beli mas beli satu pek pada waktu itu." Wah, ini saya merasa berhasil karena orang e customer seperti ini harus ditaklukkan menurut saya. Jadi, jiwa petarung saya tumbuh masih saya harus bisa gitu ya. Gitu loh. Alhamdulillah dari satu pek besoknya langsung lagi lima pek dan seterusnya sampai sekarang itu juga berlaku ke sama Mas perjuangannya pasti. Ya Allah ya sabarlah istilahnya. Dulu ada yang beli 10 tak anter Mas. Tak anter tanpa ongkir Mas. Selama sak Tulung Agung. Selama satu kota itu kita dulu kan yang paling dicari [musik] kan burger yang warnawarni. Kalau warna-warni kan belum ada di Tulungagung. Itu sing paling diminati dulu burger warna-warni. Dan pada waktu itu pertama kali bikin burger kan dikemas satu-satu toh, Mas. Belum dikemas pak. Jadi ada yang beli 10 gitu ya. Wis sak terne tanpa ongkir. Besoknya pesan lagi nambah 15 dan seterusnya. Terus saya antar tanpa ongkir, Mas. Itu dulunya anu, Mas, saya bikin tuh burger warna-warni itu saya sendiri yang jualan. Jadi saya jualan burger bukan roti. Sudah racian, siap makan istilahnya. Saya jualan burger warna-warni tapi sudah racikan. Selama-kelamaan ada yang minat rotinya saja. Terus akhirnya saya punya inisiatif kayaknya enak jualan rotine tok daripada burgere. [tertawa] Terus akhirnya itu akhirnya maleh kepikiran jualan burgernya sa roti burgernya saja terus saya ndak jualan roti burger sing racikan wani kendelisan [musik] itu karena saya melihat untuk usaha istri saya akalnya mulai kuat Mas jadi mulai kondisi PO yang masuk itu molor-molor terus Mas ya kita gak bisa ngelayani. Jadi misalkan PO mintanya dikirim besok, itu gak bisa dikirim besok, Mas. Lusa produksi sehari itu dibuat PO itu kebanyakan PO daripada produksinya. Heeh. Ini sering kadang-kadang sering bolos. Saya pun di kantor juga ngomong sama pimpinan, "Pak, volume saya kerja di perusahaan sini itu persentasenya 30% loh, Pak. Jenengan apa ndak cari orang lagi pengganti saya?" Saya ngomong, "Mas saya iki pekerja kenek mau c tenan Mas istilahnya kamu sudah yakin Mas keluar dari sini? Yakin, Pak. Gak apa-apa. Akhirnya alhamdulillah beliau juga anu, Mas, aku minta tolong carikan orang pengganti sampean. Saya carikan, Mas. Saya akhirnya pulang ke rumah, pulang bantu istri gitu. E di situ ya suka dukanya. Oh, ternyata itu dari pekerja kantoran terus kita kerja di dapur ya, Mas ya. Oh, seperti ini ternyata ya. Kalau dulu kan cuma dua tiga orang toh, Mas. Kalau sekarang kan sehari bisa 1.00, Mas. 1500 terkadang kalau agak ngeri 2000 bisa 2.000 10 orang. Nah, biasanya yang sore kan ada toh sampai malam. Kadang-kadang kalau ndak memungkinkan yo pagi sampai malam. Juga bertahap kok, Mas sama bertahap. Karena kita harus tahu sendiri kalau pekerjaan untuk membuat roti itu kan lumayan butuh keterampilan lah istilahnya. Jadi itu memang tantangannya di situ memang. Jadi gak bisa kita langsung buka lowongan semua orang kitail gak bisa satu-satu kita ajari sampai bisa baru kita cari kandidat yang lain gitu Mas. Memang seperti Pak RTI harus pilih-pilih Mas soalnya faktor-faktor umur itu mempengaruhi skill Mas Kendalanya di situ, Mas. Jadi kalau kita ngerekut orang usianya di atas 40 tahun, oh diajari sampai 2 minggu ngroundingnya gak bisa, Mas. Itu yang ikut saya kan orang-orang lama, Mas. yang mulai saya bikin roti manis itu sampai sekarang itu mbaknya ada yang mulai saya bikin roti burger di sini itu mbaknya masih ikut saya tapi ya keluar masuk Mas kalau saya training 2 minggu ternyata ngronding gak bisa ya kita cari yang lain kan kalau produksi roti kan harus bisa meronding toh Mas soalnya semua roti itu hampir-hampiring gak tahu Mas yo mungkin karena belum pernah menekuni bidang it bidang itu ya itu Mas pokoknya umur itu mempengaruhi sulit Mas diajari kalau anak-anak muda gitu gampang itu mbaknya yang satu tuh sehari itu ajari bisa kecuali kalau dari muda sudah pernah berkenciung di dunia roti atau kue gitu kira-kira bisa, Mas. Tapi kalau belum pernah sama sekali sulit banget Mas diajari ngiris roti aja ndak bisa loh Mas. Iya. Jadi padahal diirisi rotinya miring-miring gak iso lurus lah. Itu kan komplain Mas tahunya itu. Mbak rotine kok miring-miring? Waduh [tertawa] iki ya itu Mas. Jadi kalau ndak bisa kan nanti pelanggan-pelanggannya kasihan. Ada nganu Mas bisa merounding saya tak tapi bentuke roti ndak isa bunder. Itu kan kalau rotinya lonceng kan kalau saya kan masuk sortir toh mas. Ndak tak pakai gak tak jual jelek sedikit sortir gitu. He soalnya ya itu tadi pelanggan tuh komplainnya sampai di video Mas. Mbak roti ini lonjong lah saya ndak mau Mas mboten langsung ke kulo mau ya itu kenapa saya itu itu kan masukan toh Mas. saya itu selalu customer itu semuanya saya pegang sendiri, Mas. Sampai sekarang pun saya itu juga gak berani. Saya pastikan dulu supaya saya itu benar-benar tahu kompil mereka. Ya, alhamdulillah saya sama semua customer saya itu dekat gitu loh. Mungkin hubungan kita gak sebatas jual beli roti aja gitu. Dalam arti ee kita itu ya istilahnya kalau ada apa-apa itu selalu sharing gitu loh, Mas. Jadi tantangan mereka, hambatan mereka, masalah produk nanti segera Mas, aku butuhku ngene Mas, Mas, kurang ngene, Mas. Itu dari situ dengan seperti itu alhamdulillah produk yang kita hasilkan semakin lama juga semakin alhamdulillah semakin bagus gitu dan diterima. Jadi kita pasar dari Tulungagung ya kasan Kediri lah Pak ya. Tulungagung Trenggalek militar. Terus kita juga ke luar kota Mas Nganjuk ke barat sampai Jawa Tengah sampai Kalimantan juga. Alhamdulillah kemarin itu ya alhamdulillah kita ada pedagang itu dari Nabiri Mas. Alhamdulillah sampai sekarang juga repeat terus ke kita gitu loh. Biasanya kalau produk bosen kita pakai mobil termo Mas. Jadi ngirimnya dari Tulungagung nanti kita ke dari Surabaya sana ya nanti di sana naik mobil teremo kan aman kalau diremo. Akhirnya kita ketemu. Saya berpikir bukan kompetitor rekan bisnis ya. Kalau saya tuh menganggap ee ini yang punya merek A merek B itu bukan komputer box saya itu rekan saya gitu itu saudara saya. Makanya mereka itu sampai ee sekarang loh Mas produkmu itu nyampai di sini masih seminggu 2 minggu tapi kok iso ngalahne brand saya itu ya opo gitu datang Mas ke sini Mas main ngopi ya gak apa-apa ya kita sharing-saring aja e namanya bisnis itu ee tidak ada lawan, tidak ada kawat semuanya kawan menurut saya gitu ya saya kira gini Mas kalau saya sendiri yang penting kalau kita itu baik jujur ya amanah frekuensi kita nanti akan menular Pak kita dikumpulkan [musik] sama orang-orang yang frekuensian sama itu aja alhamdulillah sampai sekarang alhamdulillah ya. Alhamdulillah seperti itu. Dilancarkanlah istilahnya seperti itu, Mas. Iya. Terkadang juga langsung out karena kan istilahnya kan PO dulu, Pak. Kita masuk garap itu langsung sudah ada beberapa PO gitu loh, Mas. Jadi begitu selesai langsung kirim ke ada yang ambil, ada yang kita kirim gitu loh. Tapi kalau ada yang beli retail itu bisa langsung ke sini atau langsung ke Oco Frozen. Kalau bakri untuk ukuran um kecil seperti kita ya, Mas ya. Paling ya sekitar 4 jutaan lah per putaran satu hari. Iya ya. Cuman gini loh, Mas. Kalau masalah usaha, kalau saya sama nyenyah itu memang uang itu bukan acuan kita. Betul. Acuan kita itu sebenarnya gini loh, Mas. Ee niat saya kan memang awalnya kita itu kan kem bermanfaat ya, Mas ya. Kepengin reket orang, tetangga sekitar. Jadi kan memang dasarnya UMKM seperti itu harusnya loh ya. Harusnya kan bisa menyerap tenaga kerja di sekitar. Itu aja sebenarnya dari rezeki [musik] dari yang maha kuasa titipan ke kita buat teman-teman. Sampai sekarang pun kita itu juga enggak menganggap apa bos kalian gak ada di kita. Malah saya kalau bos bos saya gak suka segitu kan karena kita itu sama tanggung jawabnya yang beda itu aja. Makanya teman-teman ini membawur dengan baik Mas. Jadi gak ada istilahnya itu atasan owner atau gak ada di sini gak ada sama gitu tapi yang memedan kita adalah tanggung jawab kita. wajah sebenarnya itu yang kita tanamkan ke mereka seperti alhamdulillah sampai sekarang kerasan semuanya [musik] ikut kita ya nomor satu kalau kita itu sebenarnya cenderung awal kita untuk intern dulu Mas dalam arti karyawan dan lain-lain. [musik] Jadi intinya itu yang ikut kita itu kita itu juga berusaha untuk bagaimana mereka bisa sastera dulu. itu kunci satu nomor satu saya gitu. Jadi sebelum saya keluar [musik] ya dalam itu harus bagus dulu gitu terutama untuk masalah apa seleri dan lain-lain itu. [musik] Jadi yang di dalam harus bagus dulu gitu. Terus untuk yang lain ya mungkin untuk kegiatan sedekah atau yang lain ya adalah kita cuman itu kan pamelik mas ya gak boleh ya itu ya nanti berkurang kadarnya kalau kita ngomong perbedaannya antara dulu di kantor sekarang ikut istri [musik] ngelola perusahaan bareng-bareng. Ya, yang seperti dikatakan tadi ya memang istilahnya rezeki adem. Iya, sebenarnya kalau rezeki itu semuanya gak ada yang halam halal gak ada semuanya halal. Kita kerja di bank atau di mana pun kita juga kita mikir juga Mas ya. Kita kehilangan waktu kan sama saja sebenarnya ya. Cuman mungkin karena di rumah atau mungkin perusahaan kita sendiri kita kan kerjanya enjoy itu sebenarnya. Terus apa-apa kita langsung ketemu sama pasangan kita kita pecahkan bareng. Mungkin itu Mas yang bikin adem itu atau mungkin yang bikin [musik] kita alhamdulillah bisa berkembang mungkin dari situ. He dari dinginnya hati kita ini omong adem gitu tadi. Soalnya kalau di rumah kan yakin yo Mas Yo. [tertawa] He bisa saling mengalah istilahnya Mas. Iya setiap hari kan ketemu. Tapi kita itu anu Mas yo konflik-konflik dikit gak apa-apa tapi itu kan ngerti maksudnya untuk baik bersama ngoten loh. Untuk kebaikan bersama itu gak apa-apa. Sering kita Mas sampai sekarang. Heeh. Misal kan ada komplain gitu kan terus kita rembugan tuh keraslah Mas ya. Tapi gak apa-apa ya bar ya bar Mas ya. Tekanan itu untuk kepentingan pekerjaan Mas. Jadi memang saya bilang ke Nyonya kalau kita kerja bareng kita itu gak boleh diam-diaman aja istilahnya gak boleh baik-baik saja. Harus ada masalah gitu loh. Jadi di sini kita nanti dididik untuk lebih dewasa ya. Ada masalah gimana kok ngene ngene ngene tapi setelah itu udah kita cuman kita bahas ini tok bahas pekerjaan gitu. Alhamdulillah dengan itu Nyonyah juga semakin lama tahu maksud saya ya yang namanya usaha itu harus memang ya seperti ini loh prosesnya kerikelnya seperti ini loh tantangannya seperti itu loh kita [musik] harus kuat sudah alhamdulillah sampai sekarang kita e apapun ya memang gitu ya iki masalahnya ya masalah lagi gak apa-apa itu kan kita dewasa ya Mas ya insyaallah seperti itulah momen terberat itu ada waktu suami saya masih kerja di finance Saya kondisi hamil tua, Mas. Hamil anak saya yang kedua itu usia kandungan saya itu kira-kira 7 bulan. Suami saya tiba-tiba di PHK. Sebelum COVID, Mas, saya kan gak kerja ya, Mas. Kondisi hamil kan gak kerja. Terus akhirnya tiba-tiba suami berhenti itu kan kita bingung, Mas, ya. Kita bingung mau cari pekerjaan apa gitu kan. Bingung. Terus akhirnya kita itu jualan kaki lima gitu loh, Mas. Telur gulung saya berhenti itu maksudnya kosong lairan. Prosol, Mas. Terus itu pas saya berhenti satu hari itu saya pas lahiran. Pas lairan. Jadi saya hamil tua itu saya jualan telur gung, Mas. Ada Mas tabungan ada tapi untuk persiapan kelahiran. Cuma itu terus akhirnya sampai lahiran itu anak saya lahirnya kan 15 Desember toh lah. [musik] Itu kan sudah masuk COVID. Covid. Nah, masuk COVID terus ya itu semuanya kan ekonomi kan hampir-hampir lumpuh ya, Mas. Saya juga ndak kerja terus suami bingung ya itu cuma sing diandel ini cuma jualan telur gulung itu cuma bisa untuk makan tok loh Mas. Lain-lain sama sekali nak bisa. Yang namanya jualan telur gulung loh, Mas. Kadang yo dapatnya berapa ya toh? Hitung-hitung itu cuma bisa untuk makan saja lain-lain sudah gak bisa. untuk kelahiran tuh sudah ada tabungan ya cuma itu tok sampai anak saya belum 1 bulan, Mas. Setelah lahiran itu 2 minggu apa pirang minggu ya? Ya. Saya sudah jualan loh, Mas. Anak saya tak titipne ke putih. Kadang-kadang lek haus itu disusulne, Mas. [tertawa] Disusulne teng warung. Posisi anak masih merah ya? Bayi merah istilahnya ya. Iya, Mas. Iya. Saya juga kerja. Iya. Saya nyari kerja terus kebetulan ada di bangunan ya, Mas. Jadi ada kuli bangunan. Iya, saya ikut kulit bangunan. Jadi, dari bersepatu, berseragam terus saya itu karena kondisi seperti itu awalnya saya memberanikan swasta akhirnya gagal itu ya tadi ya kita jualan gagal tadi ya. Akhirnya saya juga kerja kerja di [musik] bangunan. Pada waktu saya kerja bangunan terakhir ini kaki itu masih banyak mambu semen Mas. Putih-putih gaming ngoten itu loh. Ya itu ada orang ke sini kan enggak gelemu maneh. Waduh. Ya wislah karena pada waktu saya terpaksa ya Mas ya ada beberapa jiwa yang harus saya hidup ya istilahnya seperti itu ya akhirnya ya saya masuk lagi gitu. pernah anu Mas ini pada waktu jualan telur gulung kan ditawari kerja Mas yo jadi OB itu dibayar Mas terus pernah kerja lagi di koperasi gak dibayar juga pernah Mas akhirnya kita dikasih kok Mas kebetulan saya sama ownernya itu kenal gitu saudaranya itu saya kenal akhirnya minta itu pada waktu itu memang ya istilahnya uang R00000 itu besar buat kita betul makanya ya karena lapar ya karena perut ya apapun saya lakukan Selama saya gak nipu orang. Itu satu pedem saya. Yang penting saya gak nipu orang, gak ngurukkan orang. It's oke. Hidup ini ya seperti inilah ya. Hidup ini ya ada suka, ada duka ya. Haru birunya itu semua orang pasti akan melalunya dan merasakannya ya. tetap semangat ya selama kita itu [musik] bisa berpositif pikiran kita ya tentang kehidupan ini. Kita yakin bahwasanya rezeki itu istilahnya sudah tertakar tidak mungkin tertukar. Itu meang betul. Cuman rezeki yang tertakar tadi kalau kita tidak giat untuk mencarinya. Jadi ya memang ya harus action dari sekarang. Enggak usah malu. Gak ada yang perlu malu. Selama kita gak nyolong itu gak perlu malu lah. Kita tuh sebagai ibu rumah tangga itu satu harus pintar-pintar menjaga kesehatan dan waktu, Mas. Pintar bagi waktu. Karena seperti saya kan yang dikerjakan enggak cuma mikir usaha, Mas ya. Tapi kan anak harus tetap kopen, ya, Mas, ya. Saya Ibu Weni, di sebelah saya suami saya Bapak Saiful. Kami dari Tanmur Begri yang beralamat di Desa Kepuh, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.