Transcript
p3toFaKHCRQ • Hidup di Titik Terendah: Suami Di-PHK, Istri Hamil 7 Bulan, Nol Pemasukan, Bangkit Usaha Roti
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/PecahTelur/.shards/text-0001.zst#text/0693_p3toFaKHCRQ.txt
Kind: captions
Language: id
Momen terberat itu ada waktu suami saya
masih kerja di finance. Saya kondisi
hamil tua, Mas. Itu usia kandungan saya
itu kira-kira 7 bulan. Suami saya
tiba-tiba di PHK sebelum COVID, Mas.
Saya kan gak kerja ya, Mas. Kita bingung
mau cari pekerjaan apa gitu kan.
Bingung. Terus akhirnya kita itu jualan
telur gulung itu cuma bisa untuk makan
tok loh, Mas. Buat lain-lain sama sekali
ndak bisa. Yang namanya jualan telur
gurung loh, Mas. Kadang yo dapatnya
berapa ya toh? Hitung-hitung itu cuma
bisa untuk makan saja. Lain-lain sudah
gak bisa.
Iya. Saya nyari kerja terus kebetulan
ada di bangunan ya, Mas. Jadi ada
[musik] kuli bangunan.
Saya ikut kuli bangunan. Jadi dari
bersepatu, berseragam terus saya itu
karena kondisi seperti itu awalnya saya
memberanikan swasta akhirnya gagal itu
ya tadi ya. kita jualan gagal tadi ya.
Akhirnya saya juga kerja jadi bangunan.
Makanya [musik]
ya karena lapar ya, karena perut ya
apapun saya lakukan selama saya gak nipu
orang itu satu pedoman saya. Yang
penting saya ndak nipu orang, ndak
ngurukan orang. It's ok.
[musik] Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Nama saya e Saiful, Pak.
Ini istri saya, Pak, [musik] ya. namanya
Ibu Weni. Kita produksi roti, Mas.
Utamanya roti burger, Mas. Selain roti
burger, kita juga ada roti manis.
Roti-oti yang pakai topeng-topeng yang
gurih-gurih itu juga
sisanya burger mulai dari roti burger
mini dan medium sama burger pelangi
warna-warni, burger hitam sama burger
putih serta isiannya ayam crispy,
isiannya burger. Kalau mulai usaha roti
sebenarnya sudah lama, Mas. Sudah
sekitar 12 tahun dulunya di sini tapi
cuma dulu rumahnya belum ini, Mas.
Sempat resen karena saya hamil terus
mulai burger ini kira-kira masih 4 tahun
ini. Dulunya roti manis terus risen,
terus mulai lagi burger ngoten loh.
Maksudnya saya hamil terus produksinya
berhenti ngoten loh. Tapi dulu masih
saya lakukan sendiri. Ada yang bantu
tapi cuma satu orang dulu. Terus
akhirnya setelah anak saya 2 tahun baru
mulai lagi tapi burger ngoten bukan roti
manis lagi ngoten. Dulu saya itu ibu
rumah tangga Mas terus punya anak satu
itu anak saya itu dari kecil itu alergi
makanan. Jadi kalau makan makanan gitu
misalkan jajan di luar dia itu gampang
batuk terus sesak. Jadi faktornya itu
karena faktor makanan, bukan karena
faktor debu atau faktor dingin itu
mboten. Terus akhirnya kan kalau mau
jajan kan bingung. Akhirnya semua yang
dimakan anak saya tuh saya bikin sendiri
dulunya gitu. Terus akhirnya
makan-makanan yang belum saya bisa kan
kira-kira roti gitu. Akhirnya saya ikut
pelatihan, ikut kursus supaya saya bikin
roti, bisa bikin roti untuk anak saya
dulunya begitu.
Awalnya gitu. Awalnya gitu karena anak
saya agak sensitif kalau makan makanan
di luar. Terus akhirnya anak saya kan
besar terus saya kan enggak punya
aktivitas akhirnya hobi disalurkan teng
pekerjaan ngoten loh. Biasanya dia itu
alerginya karena ciki. Terus misalkan
goreng-gorengan itu kalau minyaknya
jelantah gitu dia gak mau. Jadi misalkan
saya goreng telur harus minyak pertama
kali di itu setelahnya itu gak bisa
langsung batuk terus sesek itu kayak
serangkaian ngoten loh Mas. Jadi
misalkan dia batuk terus pilek itu
langsung sesak pasti sembuhnya gak
sembuh Mas cuma berkurang aja Mas
semakin dewasa gitu tingkat sesaknya itu
anu berkurang-berkurang ngoten mawon
tapi ndak bisa sembuh
misalkan kecapekan ngeten nggih tetap
sesak nggih nelongso mas nelongsone
anak-anak lain bisa jajan [musik] ini
dan itu anak saya ndak bisa ngoten nggih
nelongsane teng
pada waktu itu kan karena saya kan juga
ada pekerjaan sendiri Mas ya saya kan
jadi kerja Jadi finance saya. Jadi saya
itu lama di finance, Mas. Saya dari
marketingnya gitu. Terus akhirnya karena
[musik] nyunyah itu di rumah itu
kelihatannya ada apa butuh partner ya
Mas ya. Saya selangin waktunya nih.
Kadang saya itu ke kantor itu bawa
obrok, bawa serandul itu loh absen pagi.
Terus saya mah ini coba tak tawar nk
warang kopi gimana? Enggak apao ya
sampean enggak isin ya. Pada waktu itu
karena kita itu lama bersepatu ya Mas
ya, nota bene kan pasti kan ada gengsi
ya Mas ya. Terus iya roti manis
itu dulu masih roti manis.
Roti manis awalnya ya roti manis. Terus
saya bantu itu saya bantu tawarkan ke
warung kopi. Biasa kalau di warung kopi
ketemu teman-teman itu istilahnya kan
kantor kedua mereka kan warung kopi kan.
Kalau anu orang perbankan bahasa
lapangan duitmu opo kerja n anu awalnya
saya juga minder awalnya tapi
lama-kelamaan saya enjoy aja gitu loh ya
selama yang saya lakukan itu barang yang
baik ya tidak memerlukan orang lain saya
kirakan pas yang di atas merestui gitu
loh saya hampir 13 tahun loh Mas di
finance itu kalau jualan rotinya mungkin
sekitar 6 tahunan lah itu juga gitu
berhenti kan biasanya Mas ya ee
suka-dukanya kita loper ke warung-warung
seperti itu. [musik] Kadang gimana ada
BS-nya banyak berhenti. Makanya nyonya
itu berpikir gitu loh, gimana yo kita
buat produk apa ya supaya diterima itu
apa gitu. Berpikir sambil dimakan anak
sendiri karena kan anak saya kan tadi
[musik] ceritanya seperti itu. Akhirnya
ya sekitar 3 tahun yang lalu. Iya
sebenarnya sama teman-teman itu
digandoli sama bos digandoli loh. Nyapo
kamu kok keluar nyapo? Kamu sudah
siapkah beras swasta? Ya siap gak siap
saya harus berani Pak kan gitu ya.
Alhamdulillah teman-teman saya itu
baik-baik, Mas. Karena begini, kalau
ikut orang ya sebetulah ikut orang Pak
ya pasti [musik] kita tidak bebas
berekspresi kalau kita berwasta. Itu
satu. Untuk tekanan juga beda ya, Mas
ya. Itu karena yang di rumah itu nyonyah
saya kelihatannya itu semakin lama
volumenya itu semakin besar. Akhirnya
saya bantu [musik] gitu loh. Saya bantu
untuk produksi maupun penjualannya.
berjalannya waktu terus kita makama
kenal orang ada partner alhamdulillah
sampai sekarang seperti itu.
[musik]
Kalau anak saya itu anu Mas pokok dia
itu ndak boleh makan makanan yang
mengandung pemanis buatan terus ciki-cik
gitu.
Kalau di luar kan banyak toh, Mas ciki
kayak potato dan lain sebagainya itu kan
ada cikinya toh itu gak bisa. Terus
misalkan minum-minuman gitu dia ya
milih-milih paling yang berani cuma apa
itu larutan itu berani Mas. Maksudnya
pernah minum tapi gak apa-apa tapi
lainnya dia masih batuk.
Kalau bahan sih sebenarnya biasa aja
[musik]
bahan-bahan roti
kalau misalkan bikin sendiri kan yakin
toh Mas ini pakai gula
gula sendiri
gula sama puding tok. Kalau di luar kan
gak tahu.
Gak tahu gitu loh.
Alasannya ya itu, Mas. Kalau roti manis
itu kendalannya satu BS-nya banyak, Mas.
Kalau gak habis BS kan yang nanggung
saya.
Kalau kita titip konsyasi tanknya
seperti itu.
Terus itu nitip, Mas. Jadi kita nyetor
ke warung itu nitip. Nanti kita
misalkan seminggu sekali ke sana gitu
masih apa dak gitu. Jadi misalkan masih
itu ya masuk B.
Sisa sisa berapa nanti kembali gitu.
Itu kalau satu warung. Kalau beberapa
warung kan resiko BS-nya kan tinggi
tohong Mas. Kalau burger kan beda.
Iya. Karena dulu belum belum dikenal
juga sih, Mas. Tuh sebenarnya itu faktor
itu juga karena kompetitor kan juga
banyak kalau roti manus itu banyak. Kita
lihatnya sebenarnya di situ. Kalau
burger itu komiternya itu paling
pabrikan, Mas ya. Dari sisi hargan juga
jauh kan.
Makanya kita coba berpikir ke situ. Oh,
kelihatannya segmen ini yang harus kita
bidik gitu loh. Terus kita lihat untuk
makanan jenis frozen kan semakin lama
orang itu kan semakin inginnya itu
praktis ya. Gak perlu ribet. Makanya kan
sekarang kan semakin ke sini kan orang
kan semakin inginnya [musik] seperti
itu. Jadi untuk segmen produk frozen itu
mulai kita bidik gitu loh, Mas.
Resepnya dulu saya kan belajar roti
manis ya, Mas ya. Kalau roti manis sama
roti burger kan sama-sama roti tapi cuma
beda tekstur ya, Mas ya. Kalau roti
manis kan dia cenderung harus lembut,
empuk, terus wangi gitu kan, Mas
rotinya. Tapi kalau burger kan dia cuma
butuh empuk tapi cari tekstur yang
enggak kempes pada waktu dibakar.
He.
Nah, nah itu saya ngulik-ngulik sendiri,
Mas. Dulu kan saya pernah kursus di
beberapa tempat, tapi cuma kursusnya
yaitu cuma bikin roti manis saja. Dari
beberapa tempat itu saya tuh ndak bisa
menemukan resep sesuai saya inginkan
gitu. Akhirnya roti burger ini saya
coba-coba sendiri. Misalkan kok rasane
kurang pas, terus besok coba lagi, besok
gagal, besok coba lagi. Semuanya saya
cari sendiri, Mas, resepnya. Mulai
burger, roti, tawar itu saya enggak
pernah belajar, saya gak pernah kursus.
Tapi saya otodidak cari-cari resep
sendiri.
Alhamdulillah. Itu gini, Mas. kita
produk masih kadang gini nyonya itu ya
aku kepengin [musik] buat ini ya toh
saya buatkan gambarnya gitu loh itu saya
kasih di sos itu aja sudah ada yang mau
beli gitu loh kadang seperti itu mungkin
e karena saking percayanya beliau-beliau
ya Mas ya karena selama ini yang kita
kasih juga insyaallah ee produk yang
bermutu [musik] ya kita benar-benar jaga
kualitasnya dari bahan sampai proses
sampai kemasan itu benar-benar saya
paling cerewet masalah itu memang itu ya
harapan saya kan ee istilah nya orang
beli itu pakai uang ya, Mas ya. Jadi
sebisa mungkin kita itu bisa ngasih
sesuatu yang bagus gitu loh ke customer
langsung seperti itu.
[musik] Jadi gini, awalnya itu memang
dulu itu kan saya istilahnya kan dididik
ya Mas ya, dididik, diperbarengkan itu
kan memang kalau kita itu kita jualan
itu pasti ada yang beli. Itu nomor satu.
Saya lihat yang di pabrikan yang masuk
ke frozen food itu kok harganya mahal.
Mereka jualnya kok mahal?
Burger dulu, Mas ya Rp14.000
awalnya segitu. Karena bannya sudah
mahal, Teman-teman. E PKL, UMKM yang
jualan di pingejan, jualnya kan otomatis
mahal, Mas ya. Karena mahal kan akhirnya
kan kurang terjangkau ya. Lah di tengah
fluktuasi ekonomi yang naik turun ya,
Mas ya. Akhirnya kan saya berpikir juga
ini apa ya? Bisakah saya membuat produk
burger yang kualitasnya bagus tapi
harganya itu masih dijangkau teman-teman
yang di lapangan yang PKL dan lain
sebagainya tadi awalnya itu Mas jadi
saya itu tenyok gitu loh kalau lihat
orang pas di jalan lihat orang dagang
saya beli es payu berapa porsi Bu sekian
porsi Mas ya Allah sehari oleh piro gitu
itu mikir saya itu awalnya itu juga
nipis kalau laku untungnya tipis
akhirnya saya omong sama nyong nyayi
piye mas carane ben kabeh iso mlaku piye
cuma g ngene ya gitu itu akhirnya nyonya
usah cari resep buat nanti juga saya
sendiri yang anu ngicipi Mas. Kadang
saya kenal satu orang pedagang ya Mas ya
yang lumayan besarlah di Tulungagung itu
saya buat untuk acuan, Mas. Aku punya
produk ini ya opo enak opo? Oh kurang
ini, Mas. Kurang turus Mas. Kita itu
enak ngomong ya. Alhamdulillah karena
kita itu orangnya itu mau dikoreksi.
Intinya kita itu tidak pernah merasa
pintar. Jadi jangan sampai merasa
pintar. Kita harus bodoh selamanya kan
gitu ya. Jadi kalau ada koreksi dari
teman saya suka Mas, Mas Eful ini kurang
begini, Mas. Oh iya tah? Oh iya kurang
ini. Akhirnya saya kasih ke istri saya
dirocak-rac lagi ditemukan dikulik kulik
kulik wis sampai elek [musik] pokoke.
Udah akhirnya oh enak Mas. Nah itu
sampai sekarang, Mas.
Kadang-kadang pembeli itu karena mungkin
mungkin tujuannya baik ya untuk kita.
Jadi misalkan saya kirim roti ke sana
terus mulai dari bentuk misalkan kurang
sempurna agak lonjong gitu dikomplainkan
Mas langsung di video
tapi saya malah matur suwun gitu itu
memang apaak ini
kita untuk untuk tumbuh memang seperti
itu. Harus seperti itu. Kita harus mau
dikoreksi memang ya harapan kita seperti
itu. Sampai sekarang pun seperti itu,
[musik] Mas. Saya itu tanya ke berbagai
gak satu dua alak karena sekarang
istilahnya penjual sama bakul saya itu
banyak ya Mas ya. Akhirnya saya tuh
tanyanya banyak. Oh sudah bagus sudah
bagus. ee dari merek A katakan lebih
bagusan punya sampean gitu. Harganya
gimana, Bu? Harganya masih kompetitif
punya sampean. Alhamdulillah berarti
saya punya keyakinan berarti ini masuk
gitu loh.
Kalau dari kita Rp10.000, Mas.
Jadi kan ee spellingnya kan ee nanti
teman-teman frozen food kan jualnya juga
banyak kan, Mas. Ini yang yang tahu
masalah masih kok, Mas.
Iya sekitar 35% masih lah, Mas. Kalau
orang buat roti itu ee mikir, "Oh, ini
bahannya bahan yang premium gini-gini."
Sebenarnya itu sama saja sebenarnya
kalau menurut saya lihat sama saja
sebenarnya. Bahan itu di toko juga ada
semuanya semua juga berkesempatan untuk
bisa membuat sebenarnya sama sebenarnya
bahan sama, teknik pengolahan dan
lain-lain beda kan pasti hasilnya beda
istilahnya kan seperti itu ya Mas ya.
sampai sekarang juga seperti itu. Selain
kanvaseng kita juga online, Pak. Kita
istilahnya kita pakai platform Facebook
ya. Di situ ada marketplace di situ.
Jadi untuk jangkau customer yang jauh
dari rumah yang gak tahu kita dari situ
awalnya dari situ. Karena kalau kita
jagain orang datang gitu, saya kira
apalagi rumah saya masuk gang ya, Mas
Yata sendiri masuk gang, tempat
produksinya juga di desa masuk. [musik]
Jadi saya itu berpikir ini gimana supaya
orang di luar itu juga tahu produk kita
gitu loh. Awalnya seperti itu, Mas.
Karena tanpa orang tahu gak akan mungkin
dia bisa membeli. Wong kenal aja belum
ya
ingat. Cuman ya apa ya manusiawilah ya
Mas ya. Karena saya juga di ini produk
saya itu juga belum dikenal. Sudah
biasa. Latihan kita dulu malah lebih
parah daripada itu Mas. Gitu. Saya dulu
latihan di jualan dulu diur itu saya itu
sama sent saya disuruh jualan balon di
depan swalayan. bayangin loh aku iki
dodol montor kong dodolan balon y opo
iki maksude ya opo awalnya juga malu mas
tapi hal seperti itu terus setelah itu
saya pakai mental-mental petarung kita
di lapangan ya pada waktu kita menjual
skill kita jual akhirnya terbentuk Mas
biasa istilahnya pernah ya suatu sing
saya ingat ya beliau itu punya warung ya
warungnya itu ee ya kayak pekerjaan wame
Mas saya pakai motor sret ya saya masuk
itu banyak pelanggan Mas asalamualaikum
Pak Waalaikumsalam masalah nopo Mas Pak
kulo Bade promosi roti, Pak. Ndak ndak
nak saya sudah pakai ini wis wis wis
yakin enggak enak? Wis anu itu di depan
orang banyak. Bayangin ya kalau berdua
ya ee empat mata gitu atau ada temannya
dua saya kira gak seberapa malu. Itu
banyak orang Mas. Saya dan juga manusia
biasa Mas ya. Sudah capek siang-siang ya
panas-panas ya. Don ya. Iya saya don ya.
Karena itu saya itu orangnya itu slow ya
Mas ya. Saya menanggapi hal seperti itu
juga enggak serius-serius amat. malah
saya duduk di sampingnya ambil rokok,
Pak. Ya, saya tanya, saya follow up
lagi. Istilahnya orang menolak itu belum
tentu produk kita jelek. Orang menolak
itu belum tentu kalau orang kita ndak
pengalaman itu wah iki opo wong koy
ngono kok tegomen yo w koy ngono.
Sebenarnya gak mah karena belum kenal
aja sebenarnya saya follow up besoknya
saya datangi Mas. Lah normalnya orang
kalau sekali ditolak malu kan enggak
akan aku enggak akan balak saya besok
saya datangi lagi cuman ya saya gak
ngomongan roti lagi ke situ sudah saya
jalin bersahabat aja ya alhamdulillah
terbuka ee dari yang maha kuasa dibukaan
min rezekinya istrinya itu, "Mas aku kok
kasihan sama saya sampai itu suaminya
sampai ya samane nih mbok ojo
nemen-nemen lah karo mas iki sak masing
ngene-ngeneen akhirnya istrinya mau beli
mas beli satu pek pada waktu itu." Wah,
ini saya merasa berhasil karena orang e
customer seperti ini harus ditaklukkan
menurut saya. Jadi, jiwa petarung saya
tumbuh masih saya harus bisa gitu ya.
Gitu loh. Alhamdulillah dari satu pek
besoknya langsung lagi lima pek dan
seterusnya sampai sekarang itu juga
berlaku ke sama Mas perjuangannya pasti.
Ya Allah ya sabarlah istilahnya.
Dulu ada yang beli 10 tak anter Mas.
Tak anter tanpa ongkir Mas.
Selama sak Tulung Agung.
Selama satu kota itu kita
dulu kan yang paling dicari [musik] kan
burger yang warnawarni. Kalau
warna-warni kan belum ada di
Tulungagung. Itu sing paling diminati
dulu burger warna-warni. Dan pada waktu
itu pertama kali bikin burger kan
dikemas satu-satu toh, Mas. Belum
dikemas pak.
Jadi ada yang beli 10 gitu ya. Wis sak
terne tanpa ongkir. Besoknya pesan lagi
nambah 15 dan seterusnya. Terus saya
antar tanpa ongkir, Mas. Itu dulunya
anu, Mas, saya bikin tuh burger
warna-warni itu saya sendiri yang
jualan. Jadi saya jualan burger bukan
roti.
Sudah racian, siap makan istilahnya.
Saya jualan burger warna-warni tapi
sudah racikan. Selama-kelamaan ada yang
minat rotinya saja.
Terus akhirnya saya punya inisiatif
kayaknya enak jualan rotine tok daripada
burgere. [tertawa]
Terus akhirnya itu akhirnya maleh
kepikiran jualan burgernya sa roti
burgernya saja terus saya ndak jualan
roti burger sing racikan
wani kendelisan [musik] itu karena saya
melihat untuk usaha istri saya akalnya
mulai kuat Mas
jadi mulai kondisi PO yang masuk itu
molor-molor terus Mas
ya kita gak bisa ngelayani. Jadi
misalkan PO mintanya dikirim besok, itu
gak bisa dikirim besok, Mas. Lusa
produksi sehari itu dibuat PO itu
kebanyakan PO daripada produksinya.
Heeh. Ini sering kadang-kadang sering
bolos.
Saya pun di kantor juga ngomong sama
pimpinan, "Pak, volume saya kerja di
perusahaan sini itu persentasenya 30%
loh, Pak. Jenengan apa ndak cari orang
lagi pengganti saya?" Saya ngomong, "Mas
saya iki pekerja kenek mau c tenan Mas
istilahnya kamu sudah yakin Mas keluar
dari sini? Yakin, Pak. Gak apa-apa.
Akhirnya alhamdulillah beliau juga anu,
Mas, aku minta tolong carikan orang
pengganti sampean. Saya carikan, Mas.
Saya akhirnya pulang ke rumah, pulang
bantu istri gitu. E di situ ya suka
dukanya. Oh, ternyata itu dari pekerja
kantoran terus kita kerja di dapur ya,
Mas ya. Oh, seperti ini ternyata ya.
Kalau dulu kan cuma dua tiga orang toh,
Mas. Kalau sekarang kan sehari bisa
1.00, Mas. 1500 terkadang kalau agak
ngeri 2000 bisa 2.000 10 orang. Nah,
biasanya yang sore kan ada toh
sampai malam. Kadang-kadang kalau
ndak memungkinkan yo pagi sampai malam.
Juga bertahap kok, Mas sama bertahap.
Karena kita harus tahu sendiri kalau
pekerjaan untuk membuat roti itu kan
lumayan butuh keterampilan lah
istilahnya. Jadi itu memang tantangannya
di situ memang. Jadi gak bisa kita
langsung buka lowongan semua orang
kitail gak bisa satu-satu kita ajari
sampai bisa baru kita cari kandidat yang
lain gitu Mas. Memang seperti Pak RTI
harus pilih-pilih Mas soalnya
faktor-faktor umur itu mempengaruhi
skill Mas Kendalanya di situ, Mas. Jadi
kalau kita ngerekut orang usianya di
atas 40 tahun, oh diajari sampai 2
minggu ngroundingnya gak bisa, Mas. Itu
yang ikut saya kan orang-orang lama,
Mas. yang mulai saya bikin roti manis
itu sampai sekarang itu mbaknya ada yang
mulai saya bikin roti burger di sini itu
mbaknya masih ikut saya tapi ya keluar
masuk Mas kalau saya training 2 minggu
ternyata ngronding gak bisa ya kita cari
yang lain kan kalau produksi roti kan
harus bisa meronding toh Mas soalnya
semua roti itu hampir-hampiring gak tahu
Mas yo mungkin karena belum pernah
menekuni
bidang it
bidang itu ya itu Mas pokoknya umur itu
mempengaruhi sulit Mas diajari kalau
anak-anak muda gitu gampang itu mbaknya
yang satu tuh sehari itu ajari bisa
kecuali kalau dari muda sudah
pernah berkenciung di dunia roti atau
kue gitu kira-kira bisa, Mas. Tapi kalau
belum pernah sama sekali sulit banget
Mas diajari ngiris roti aja ndak bisa
loh Mas. Iya. Jadi padahal diirisi
rotinya miring-miring gak iso lurus lah.
Itu kan komplain Mas tahunya itu. Mbak
rotine kok miring-miring? Waduh
[tertawa] iki ya itu Mas. Jadi kalau
ndak bisa kan nanti
pelanggan-pelanggannya kasihan. Ada
nganu Mas bisa merounding saya tak tapi
bentuke roti ndak isa bunder. Itu kan
kalau rotinya lonceng kan kalau saya kan
masuk sortir toh mas. Ndak tak pakai gak
tak jual
jelek sedikit sortir gitu.
He soalnya ya itu tadi pelanggan tuh
komplainnya sampai di video Mas. Mbak
roti ini lonjong lah saya ndak mau Mas
mboten langsung ke kulo mau
ya itu kenapa saya itu
itu kan masukan toh Mas. saya itu selalu
customer itu semuanya saya pegang
sendiri, Mas. Sampai sekarang pun saya
itu juga gak berani. Saya pastikan dulu
supaya saya itu benar-benar tahu kompil
mereka. Ya, alhamdulillah saya sama
semua customer saya itu dekat gitu loh.
Mungkin hubungan kita gak sebatas jual
beli roti aja gitu. Dalam arti ee kita
itu ya istilahnya kalau ada apa-apa itu
selalu sharing gitu loh, Mas. Jadi
tantangan mereka, hambatan mereka,
masalah produk nanti segera Mas, aku
butuhku ngene Mas, Mas, kurang ngene,
Mas. Itu dari situ dengan seperti itu
alhamdulillah produk yang kita hasilkan
semakin lama juga semakin alhamdulillah
semakin bagus gitu dan diterima.
Jadi kita pasar dari Tulungagung ya
kasan Kediri lah Pak ya. Tulungagung
Trenggalek militar. Terus kita juga ke
luar kota Mas Nganjuk ke barat sampai
Jawa Tengah sampai Kalimantan juga.
Alhamdulillah kemarin itu ya
alhamdulillah kita ada pedagang itu dari
Nabiri Mas. Alhamdulillah sampai
sekarang juga repeat terus ke kita gitu
loh. Biasanya kalau produk bosen kita
pakai mobil termo Mas. Jadi ngirimnya
dari Tulungagung nanti kita ke dari
Surabaya sana ya nanti di sana naik
mobil teremo kan aman kalau diremo.
Akhirnya kita ketemu. Saya berpikir
bukan kompetitor rekan bisnis ya. Kalau
saya tuh menganggap ee ini yang punya
merek A merek B itu bukan komputer box
saya itu rekan saya gitu itu saudara
saya. Makanya mereka itu sampai ee
sekarang loh Mas produkmu itu nyampai di
sini masih seminggu 2 minggu tapi kok
iso ngalahne brand saya itu ya opo gitu
datang Mas ke sini Mas main ngopi ya gak
apa-apa ya kita sharing-saring aja e
namanya bisnis itu ee tidak ada lawan,
tidak ada kawat semuanya kawan menurut
saya gitu ya saya kira gini Mas kalau
saya sendiri yang penting kalau kita itu
baik jujur ya amanah frekuensi kita
nanti akan menular Pak kita dikumpulkan
[musik] sama orang-orang yang
frekuensian sama itu aja alhamdulillah
sampai sekarang alhamdulillah ya.
Alhamdulillah seperti itu.
Dilancarkanlah istilahnya seperti itu,
Mas.
Iya. Terkadang juga langsung out karena
kan istilahnya kan PO dulu, Pak. Kita
masuk garap itu langsung sudah ada
beberapa PO gitu loh, Mas. Jadi begitu
selesai langsung kirim ke
ada yang ambil, ada yang kita kirim gitu
loh. Tapi kalau ada yang beli retail itu
bisa langsung ke sini atau langsung ke
Oco Frozen. Kalau bakri untuk ukuran um
kecil seperti kita ya, Mas ya. Paling ya
sekitar 4 jutaan lah per putaran satu
hari. Iya ya. Cuman gini loh, Mas. Kalau
masalah usaha, kalau saya sama nyenyah
itu memang uang itu bukan acuan kita.
Betul. Acuan kita itu sebenarnya gini
loh, Mas. Ee niat saya kan memang
awalnya kita itu kan kem bermanfaat ya,
Mas ya. Kepengin reket orang, tetangga
sekitar. Jadi kan memang dasarnya UMKM
seperti itu harusnya loh ya. Harusnya
kan bisa menyerap tenaga kerja di
sekitar. Itu aja sebenarnya dari rezeki
[musik]
dari yang maha kuasa titipan ke kita
buat teman-teman. Sampai sekarang pun
kita itu juga enggak menganggap apa bos
kalian gak ada di kita. Malah saya kalau
bos bos saya gak suka segitu kan karena
kita itu sama tanggung jawabnya yang
beda itu aja. Makanya teman-teman ini
membawur dengan baik Mas. Jadi gak ada
istilahnya itu atasan owner atau gak ada
di sini gak ada sama gitu tapi yang
memedan kita adalah tanggung jawab kita.
wajah sebenarnya itu yang kita tanamkan
ke mereka seperti alhamdulillah sampai
sekarang kerasan semuanya [musik]
ikut kita
ya nomor satu kalau kita itu sebenarnya
cenderung awal kita untuk intern dulu
Mas dalam arti karyawan dan lain-lain.
[musik] Jadi intinya itu yang ikut kita
itu kita itu juga berusaha untuk
bagaimana mereka bisa sastera dulu. itu
kunci satu nomor satu saya gitu. Jadi
sebelum saya keluar [musik] ya dalam itu
harus bagus dulu gitu terutama untuk
masalah apa seleri dan lain-lain itu.
[musik] Jadi yang di dalam harus bagus
dulu gitu. Terus untuk yang lain ya
mungkin untuk kegiatan sedekah atau yang
lain ya adalah kita cuman itu kan
pamelik mas ya gak boleh ya itu ya nanti
berkurang kadarnya kalau kita ngomong
perbedaannya antara dulu di kantor
sekarang ikut istri [musik] ngelola
perusahaan bareng-bareng. Ya, yang
seperti dikatakan tadi ya memang
istilahnya rezeki adem. Iya, sebenarnya
kalau rezeki itu semuanya gak ada yang
halam halal gak ada semuanya halal. Kita
kerja di bank atau di mana pun kita juga
kita mikir juga Mas ya. Kita kehilangan
waktu kan sama saja sebenarnya ya. Cuman
mungkin karena di rumah atau mungkin
perusahaan kita sendiri kita kan
kerjanya enjoy itu sebenarnya. Terus
apa-apa kita langsung ketemu sama
pasangan kita kita pecahkan bareng.
Mungkin itu Mas yang bikin adem itu atau
mungkin yang bikin [musik] kita
alhamdulillah bisa berkembang mungkin
dari situ.
He
dari dinginnya hati kita ini omong adem
gitu tadi.
Soalnya kalau di rumah kan yakin yo Mas
Yo. [tertawa]
He bisa saling mengalah istilahnya Mas.
Iya setiap hari kan ketemu. Tapi kita
itu anu Mas yo konflik-konflik dikit gak
apa-apa tapi itu kan ngerti maksudnya
untuk
baik bersama ngoten loh. Untuk kebaikan
bersama itu gak apa-apa. Sering kita Mas
sampai sekarang. Heeh. Misal kan ada
komplain gitu kan terus kita rembugan
tuh keraslah Mas ya.
Tapi gak apa-apa ya bar ya bar Mas
ya. Tekanan itu untuk kepentingan
pekerjaan Mas. Jadi memang saya bilang
ke Nyonya kalau kita kerja bareng kita
itu gak boleh diam-diaman aja istilahnya
gak boleh baik-baik saja. Harus ada
masalah gitu loh. Jadi di sini kita
nanti dididik untuk lebih dewasa ya. Ada
masalah gimana kok ngene ngene ngene
tapi setelah itu udah kita cuman kita
bahas ini tok bahas pekerjaan gitu.
Alhamdulillah dengan itu Nyonyah juga
semakin lama tahu maksud saya ya yang
namanya usaha itu harus memang ya
seperti ini loh prosesnya kerikelnya
seperti ini loh tantangannya seperti itu
loh kita [musik] harus kuat sudah
alhamdulillah sampai sekarang kita e
apapun ya memang gitu ya iki masalahnya
ya masalah lagi gak apa-apa itu kan kita
dewasa ya Mas ya insyaallah seperti
itulah
momen terberat itu ada waktu suami saya
masih kerja di finance Saya kondisi
hamil tua, Mas. Hamil anak saya yang
kedua itu usia kandungan saya itu
kira-kira 7 bulan. Suami saya tiba-tiba
di PHK. Sebelum COVID, Mas, saya kan gak
kerja ya, Mas. Kondisi hamil kan gak
kerja. Terus akhirnya tiba-tiba suami
berhenti itu kan kita bingung, Mas, ya.
Kita bingung mau cari pekerjaan apa gitu
kan. Bingung. Terus akhirnya kita itu
jualan
kaki lima gitu loh, Mas. Telur gulung
saya berhenti itu maksudnya kosong
lairan.
Prosol, Mas. Terus itu pas saya berhenti
satu hari itu saya pas lahiran.
Pas lairan.
Jadi saya hamil tua itu saya jualan
telur gung, Mas. Ada Mas
tabungan ada tapi untuk persiapan
kelahiran. Cuma itu terus akhirnya
sampai lahiran itu anak saya lahirnya
kan 15 Desember toh
lah. [musik] Itu kan sudah masuk COVID.
Covid.
Nah, masuk COVID terus ya itu semuanya
kan ekonomi kan hampir-hampir lumpuh ya,
Mas. Saya juga ndak kerja terus suami
bingung ya itu cuma sing diandel ini
cuma jualan telur gulung itu cuma bisa
untuk makan tok loh Mas. Lain-lain sama
sekali nak bisa. Yang namanya jualan
telur gulung loh, Mas. Kadang yo
dapatnya berapa ya toh? Hitung-hitung
itu cuma bisa untuk makan saja lain-lain
sudah gak bisa. untuk kelahiran tuh
sudah ada tabungan ya cuma itu tok
sampai anak saya belum 1 bulan, Mas.
Setelah lahiran itu 2 minggu apa pirang
minggu ya? Ya. Saya sudah jualan loh,
Mas. Anak saya tak titipne ke putih.
Kadang-kadang lek haus itu disusulne,
Mas. [tertawa]
Disusulne teng warung.
Posisi anak masih merah ya? Bayi merah
istilahnya ya.
Iya, Mas.
Iya. Saya juga kerja. Iya. Saya nyari
kerja terus kebetulan ada di bangunan
ya, Mas. Jadi ada kuli bangunan. Iya,
saya ikut kulit bangunan. Jadi, dari
bersepatu, berseragam terus saya itu
karena kondisi seperti itu awalnya saya
memberanikan swasta akhirnya gagal itu
ya tadi ya kita jualan gagal tadi ya.
Akhirnya saya juga kerja kerja di
[musik] bangunan. Pada waktu saya kerja
bangunan terakhir ini kaki itu masih
banyak mambu semen Mas. Putih-putih
gaming ngoten itu loh. Ya itu ada orang
ke sini kan enggak gelemu maneh. Waduh.
Ya wislah karena pada waktu saya
terpaksa ya Mas ya ada beberapa jiwa
yang harus saya hidup ya istilahnya
seperti itu ya akhirnya ya saya masuk
lagi gitu.
pernah anu Mas ini pada waktu jualan
telur gulung kan ditawari kerja Mas yo
jadi OB itu dibayar Mas terus pernah
kerja lagi di koperasi gak dibayar juga
pernah Mas
akhirnya kita dikasih kok Mas kebetulan
saya sama ownernya itu kenal gitu
saudaranya itu saya kenal akhirnya minta
itu pada waktu itu memang ya istilahnya
uang R00000 itu besar buat kita betul
makanya ya karena lapar ya karena perut
ya apapun saya lakukan Selama saya gak
nipu orang. Itu satu pedem saya. Yang
penting saya gak nipu orang, gak
ngurukkan orang. It's oke.
Hidup ini ya seperti inilah ya. Hidup
ini ya ada suka, ada duka ya. Haru
birunya itu semua orang pasti akan
melalunya dan merasakannya ya. tetap
semangat ya selama kita itu [musik]
bisa berpositif pikiran kita ya tentang
kehidupan ini. Kita yakin bahwasanya
rezeki itu istilahnya sudah tertakar
tidak mungkin tertukar. Itu meang betul.
Cuman rezeki yang tertakar tadi kalau
kita tidak giat untuk mencarinya. Jadi
ya memang ya harus action dari sekarang.
Enggak usah malu. Gak ada yang perlu
malu. Selama kita gak nyolong itu gak
perlu malu lah.
Kita tuh sebagai ibu rumah tangga itu
satu harus pintar-pintar menjaga
kesehatan dan waktu, Mas. Pintar bagi
waktu. Karena seperti saya kan yang
dikerjakan enggak cuma mikir usaha, Mas
ya. Tapi kan anak harus tetap kopen, ya,
Mas, ya. Saya Ibu Weni, di sebelah saya
suami saya Bapak Saiful. Kami dari
Tanmur Begri yang beralamat di Desa
Kepuh, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten
Tulungagung. Terima kasih.
Wasalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Yeah.