FULL DAGING TANPA BASA-BASI! Strategi Ekspor ke 50 Negara Dibongkar Pakar Ekspor Sejak 1997
g9KUwkapD5E • 2026-02-10
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan saya Yuli. Saya praktisi ekspor dan founder dari Madani Export Academy yang membantu teman-teman untuk bisa berlatih dan memahami prosedur-prosedur dan sluk beluk tentang perdagangan ekspor dan impor. Berapa lama saya sudah berkecimpung di dunia ekspor? Sejak tahun 1997 saya sudah memasuki dunia ekspor bekerja di perusahaan ternama yang mana komodityya 100% diekspor. bagaimana sih atau kesalahan apa yang biasanya sering ee dilakukan pertama kali ketika mau jadi eksportir biasanya karena yang pertama dia tidak memahami produk knowledge-nya sehingga dia tidak tahu value dari produk yang akan dijual. Dan yang kedua memang lebih kepada prosedur ekspor. Jadi prosedurnya adalah regulasi yang terus terupdate sampai kini. Jadi harus mengikuti regulasi pemerintah terhadap ketentuan barang ekspor. Lebih mudah mana sih ekspornya di masa lampau dan sekarang? Mungkin kalau masa lampau itu kemudahannya belum begitu banyak kompetitor ya, hanya beberapa pelaku usaha yang benar-benar mampu dan punya jaringan di luar. Tapi kalau sekarang sebenarnya lebih mudah dengan adanya digitalisasi bertemu dengan buyer, kemudahan-kemudahan untuk mempromosikan gitu. Bisa dengan website, bisa dengan grup-grup ekspor impor di beberapa media sosial. Tapi culture dari buyer juga berubah. Mungkin buyer yang dulu memang benar-benar untuk mencari barang yang mereka butuhkan. Kalau sekarang kan banyak yang untuk produk retail satu karton, dua karton aja sudah bisa dikatakan sebagai ekspor. Kalau untuk pemula, bagaimana sih kondisinya supaya bisa ekspor? Satu, kalau tidak punya barang sendiri, dia harus punya rekanan supplier yang qualified, yang bisa barangnya dibawa konsisten sebagai pelaku usahanya yang memproduksi barang, kemudian komitmennya tinggi. Nah, kalau punya barang sendiri ya memang harus membranding, harus mengetahui mutu atau kualitas barangnya sudah masuk sesuai dengan kategori spek yang dibutuhkan di produk ekspor atau tidak. Mana yang harus saya dahulukan? Apakah saya harus nyiapkan barangnya dulu ataukah saya mencari pembelinya dulu? Nah, kira-kira kalau menurut teman-teman gimana sih? Karena pasti caranya setiap orang berbeda untuk melakukan transaksinya ya. Itu tergantung dari masing-masing. Kalau saya sendiri lebih ee rekomendasi lebih baik punya barangnya dulu atau nemukan barangnya dulu sehingga product knowledge kita itu benar-benar mumpuni untuk menjual barang ke seseorang. Jadi kita tahu value barang kita, kemudian spesifikasi barang yang kita mau jual itu sangat-sangat e mempengaruhi negosiasi kita nanti. Banyak yang harus dipelajari culture dari bayar yang kita hadapi seperti apa. Kemudian integritas kita merespon pertanyaan-pertanyaan buyer seperti apa. Jadi kalau dikatakan susah atau mudah, bagi saya pribadi susah. Tapi kalau ee teman-teman ada yang dapat kemudahan itu memang berkah. dari Allah ya diberikan jalan yang paling mudah. Tidak semua produk bisa diekspor dan cocok bagi negara tujuan ekspor yang akan kita bidik. Paling susah produk makanan karena regulasinya setiap negara punya regulasi atau barrier sendiri untuk mengamankan warga negaranya. Eropa dan Amerika itu susah untuk memasuki barang-barang produk makanan sebenarnya. Kalau buat saya paling mudah yang serumpun dengan kita. Malaysia itu mudah karena tes-nya sama, culture-nya mirip dengan kita, regulasinya masih diterim lah kalau dari Indonesia untuk makan-makanan produk Indonesia gitu. Untuk teman-teman pemula ataupun UMKM biasanya kalau untuk ekspor kan antusiasnya luar biasa ya. Kepengin segera ekspor, segera kirim dengan jumlah yang besar. Padahal mungkin effort-nya perlu banyak pertimbangan. Yang pertama adalah jangan terlalu excited dengan order-order yang diiming-iming oleh buyer. Karena buyer pun pasti juga berpikir 1000 kali untuk mendapatkan produk baru atau supplier baru dari kita, gitu. Yang kedua adalah effort kita untuk bisa menyamakan sesuai keinginan buyer. Khususnya untuk makanan itu regulasinya besar sekali. Belum lagi kena masa durasi expired date. Jadi makanan yang kita kirim dipastikan sudah minimum itu 6 bulan tuh harus tahan. Kemudian makanannya sehat, tidak mengandung hal-hal yang membahayakan. Mungkin over terlalu manis minuman misalnya, tapi ada minuman pemanis yang membahayakan. Karena orang di sana pun juga awareness tentang kesehatan kan juga tinggi gitu. Kemudian lagi packaging-nya. Nah, packaging kemasan kita mungkin menarik ya, banyak produk-produk UMKM yang sudah ee catching produknya, tapi dipastikan jatuhnya harga jual di sana itu menjadi sangat mahal. Karena dari packaging yang mahal, kemudian regulasi yang harus izin edarnya, kemudian expired date-nya, kemudian ee beberapa nilai gizinya yang harus ditonjolkan gitu. Tapi bukan berarti kesulitan ini menjadi hambatan juga. Banyak eksportir keripik pisang, kemudian keripik kentang itu juga bisa tembus ke pasar luar. Keripik tempe itu juga bisa tembus gitu. Buayernya serius atau enggak? Bagaimana Bu Yuli cara mencari buer yang valid? Kadang-kadang seperti itu karena kalau masih berupa imbing-imbing quantity yang besar dengan mengirimkan letter of interest atau indemnity ya satu requirement kalau saya masih belum bisa saya percaya kalau enggak keluar PO. Jadi seorang buyer itu valid kalau dia sampai isu PO kepada kita. Nah, kalau dengan keluarnya purchase order itu sudah pasti dia akan beli. Nah, baru dia akan intense untuk mengunjungi ruang produksi kita. dia akan berinisiatif untuk memberikan down payment. Mungkin dia juga akan visit factory, dia akan mengunjungi kita sebagai partner kerjanya gitu. Itu baru valid. Jadi untuk teman-teman pelaku usaha keripik misalnya ya yang mungkin lagi tren itu caranya untuk bisa tembus ke pasar luar memang perlu effort karena harus mengirimkan sampel untuk menyamakan rasa yang diinginkan oleh buyer. Buer itu pasti akan komen tidak mau terlalu asin, tidak mau ditambahi dengan bumbu-bumbu tabur yang mungkin menurut kita sih selera kita masih masuk tapi menurut mereka suka yang original. Kemudian kandungan minyaknya. Jadi dia enggak mau terlalu berminyak. Terus ketahanan terhadap renyah. Jadi jangan sampai keripik itu mudah, tidak crispy atau tidak renyah ya dalam beberapa bulan. Mungkin karena pori-pori dari packaging-nya masuk angin kemudian membuat keripiknya tidak renyah. Nah, memang kemudian ukuran jadi tidak bisa misalnya nih keripik singkong misalnya terus ukurannya harus diameternya itu paling tidak sama serupa gitu. Jangan sampai ada yang terlalu kecil, ada yang terlalu besar gitu. Jadi memang effort-nya untuk makanan itu dicoba berkali-kali kirim. Bisa saja durasi sampai menyamakan rasa dengan bayar itu memakan waktu 6 bulan atau bahkan lebih. baru setelah itu baru goal sesuai dengan yang dimau oleh buyer. Jadi untuk pemula ada tiga fase ya, fase pra dulu yaitu persiapan bagaimana produk kita benar-benar disukai oleh buyer. Artinya sama banget dengan apa yang diinginkan buyer dari rasa, dari kemasan, labeling, dan sebagainya. Kalau sudah buernya trial order ke kita, kemudian fase keduanya apa yang harus kita lakukan? Kita harus konsisten. Konsisten dalam hal menyajikan produk itu. Kemudian kita harus punya integritas. Yang saya katakan adalah kita benar-benar melayani apapun yang menjadi pertanyaan bayar kita jawab. Selama itu tidak merugikan perusahaan kita atau tidak ada tambahan cost, kita ee lebih baik memang melayani apa yang bayar mau. Fase ketiga, mulai belajar untuk negosiasi yang lebih menguntungkan kita dalam hal misalnya pembayaran mungkin dibuka karena trust dari buyer sudah ada kepada kita sehingga kita bernegosiasi apapun apa yang kita minta biasanya buyer mulai nurutin. Karena di awal-awal kita yang ngasihin kemudahan buat buyer. Nanti buernya di fase ketiga akan memberikan kemudahan buat kita. Kalau pernah ekspor ke mana saja? Saya dari tahun '97 memang di satu perusahaan yang ekspornya hampir ke seluruh dunia. dia perusahaannya packaging. Kita tembus ke beberapa supermarket besar mulai dari Australia sampai Amerika, Eropa gitu ya, Jepang hampir seluruh superpaket-supermarket besar. Kemudian pernah juga handicraft, pengalaman di perusahaan di handicraft itu juga di beberapa Eropa pasarnya sama di Asia, ke Thailand, ke Jepang gitu. itu juga pernah dan saya sendiri praktisi sekarang main ekspor ke Malaysia. Kenapa saya pilih Malaysia? Karena memang lebih mudah dijangkau kalau terjadi sesuatu visit dan negosiasi dengan buyernya itu gampang di datangi gitu. Kalau dari pengalaman saya sejak 97 lebih dari 50 negara closing terbesar itu karena memang kita mainnya big customer. Jadi ada klasifikasi customer di tempat saya bekerja dulu. Jadi ada big customer yang mengambil kapasitas perusahaan hampir lebih dari 50% sehingga sekali order dia bisa sampai 100 kontainer 1 PO gitu ya. juga ada yang spot customer namanya. Jadi dia hanya beli satu kontainer, dua kontainer beberapa bulan sekali. Jadi sejak tahun 1997 itu saya sudah memegang marketing ekspor dan saat itu terbesar memang ekspor ke USA di mana produknya adalah packaging. Packaging untuk supermarket besar. buyer kalau naruh PO itu langsung 100 kontainer yang kita spread e kita kirim secara parsial setiap bulan mungkin lebih dari 50 kontainer. Kemudian dia akan terus continue untuk nambahkan ordernya ketika ordernya sudah terkirim semua gitu. Nah, mungkin kalau satu kontainer kita bisa bayangkan packaging waktu itu mungkin satu value-nya satu kontainer 20 feet isa R.000. R000 US dolar tergantung pas produk yang paling mahal yang diambil gitu. Plastik packaging itu masuk ke supermarket. Zaman dulu kalau kita belanja kan memerlukan plastik ya, plastik bags untuk membawa belanjaan kita. Nah, supermarket-supermarket besar di luar hampir semuanya beli di company kita. Jadi lebih enak mana lewat trader? Kalau kita lewat trader berarti kita hanya penyedia barang. Sebenarnya yang realir itu ya tradernya itu karena di dokumen nama-nama dia, nama company dia yang masuk di sebagai shipper, tapi kita hanya penyedia barang. Nah, untuk teman-teman UMKM atau pemula kan harapannya belajar menjadi eksportir mandiri. Jadi ekspor sendiri, barangnya sendiri, nemukan buyer sendiri, bangun tim untuk bisa riset di mana bisa bertemu buyer yang menyukai produknya. sering-sering mengikuti webinar atau pameran yang mempertemukan antara produk kita dengan calon buyer kita di luar sana. Jadi nanti teman-teman kalau memang mau memperdalam lagi apa sih sebenarnya yang sering terjadi komplain-komplainnya kemudian kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan mungkin bukan kita tapi tim kita yang melakukan atau bahkan buyer yang melakukan tapi kita enggak tahu itu bisa belajar dari Madani Exp Academy saya bisa bantu untuk memberikan insight lebih dalam bagaimana sih meminimalkan risiko ketika melakukan transaksi perdagangan internasional dengan ee pembeli dari luar gitu. Untuk pemula yang baru belajar tentang eksport itu yang kesalahan fatal cara menghitung harga jual. Jadi ada beberapa komponen yang mungkin tidak terpikirkan untuk dihitung dan disampaikan kepada pembeli di dalam harga jualnya. Jadi yang dipikirkan biasanya harga beli barang sama margin. Tapi teman-teman sering lupa bahwa di dalam pengiriman dari gudang kita sampai pelabuhan itu ada biaya-biaya yang timbul. Bisa pengurusan dokumen, bisa karena ada ekstra jasa dari atau di pelabuhan ada pos-pos yang harus dibayar. Nah, itu mungkin tidak terpikirkan. Tapi itu bisa diselesaikan dengan menggunakan estimasi. bisa tanya ke forwardernya, konsultasi berapa perkiraan dari gudang kita ke pelabuhan sehingga komponen-komponen yang seharusnya masuk itu tidak terlupakan. Nah, kalau sudah satu poin terlupakan itu sama seperti menghilangkan profit kita. Kadang-kadang seperti itu. Bagaimana kita bisa pintar menghindari komplain atau yang fatal lagi adalah klaim. Kalau klaim itu kan minta ganti rugi, tapi komplain mungkin hanya keluhan yang bisa kita improve untuk the next shipment misalnya. Sering sekali terjadi karena produk yang tidak sesuai. Jadi barang yang kita kirimkan ada yang menyimpang dari spek yang kita janjikan. Nah, itu potensi komplain. Kemudian jadwal pengiriman. berjanji untuk dikirimkan misalnya 2 minggu lagi, faktanya molor menjadi 4 minggu lagi atau 1 bulan lagi bahkan. Nah, itu menjadi potensi komplain. Kemudian ada lagi misalnya barang sudah terlanjur dikirimkan ke sana tapi ada quantity yang kurang karena perhitungannya enggak cermat gitu, tidak sesuai dengan yang diorder quantity-nya itu menjadi juga potensi. bisa saja human error. Kadang teman yang mempacking barangnya misalnya tiba-tiba ceroboh dia masuk ballpinnya, sisir atau produk yang tidak seharusnya terkirim terkirim ke situ atau yang bukan human error tapi karena ketidaksengajaan tiba-tiba ada binatang kecoa masuk, laron masuk gitu ya. Nah, jadi potensi komplain tuh banyak, Teman-teman. Nanti belajar tipsnya bagaimana sih itu semua bisa kita kontrol dengan e controlling atau QC yang ketat. Karena kalau sudah barang terlanjur sampai di luar negeri untuk dibawa masuk kembali ke Indonesia itu susah. Kasus berikutnya yang sering terjadi, teman-teman itu menerima negosiasi cara pembayaran. sebagai buyer tentunya dia ingin yang keuntungannya di dia. Jadi dia ingin terima barang dulu baru dibayar. Sementara kita sebagai penjual inginnya dibayar dulu baru barang dikirimkan. Tapi kebanyakan teman-teman kita ini yang pemula sering datang ke saya, dia menerima tem pembayaran dibayar setelah barang diterima oleh pembeli. Jadi itu resikonya sangat tinggi. Ketika pembeli mengatakan, kita enggak tahu apakah pembeli itu benar-benar asli mengatakan bahwa produk kita itu ee datang dengan selamat atau barang kita ternyata ada barang yang reject. kita enggak tahu dia mengatakan, "Dari barang yang kamu kirim, ternyata banyak barang yang rusak atau banyak barang yangck gitu." Akhirnya apa yang terjadi? Ketika kita menerima tem pembayaran adalah barang akan dibayar setelah diterima. Kesulitan seperti itu atau masalah seperti itu, itu pasti membuat kita tidak mendapatkan pembayaran. Nah, kita enggak tahu sebaik apa bayar kita, sejujur apa bayar kita kepada kita. Sebagai penjual tentunya kita antisipasi, anggap aja semua berusaha meminimalkan resiko. Jadi kalau bisa selama barang sudah dikirim harus dibayar dan kita juga harus memastikan bahwa barang yang kita kirim itu sesuai spek. Kita juga harus punya integritas yang bisa membuat buyernya percaya bahwa kita itu benar-benar mengirimkan barang sesuai. Jadi, dua pihak ini sama-sama harus belajar untuk menjadi pelaku usaha yang benar-benar bisa saling percaya satu sama lain. Jangan hanya menyalahkan buyernya yang rewel, buyernya yang enggak bayar, tapi kita sendiri juga tidak pernah menjanjikan sesuatu sesuai dengan apa yang kita janjikan. itu juga sering terjadi buat teman-teman. Sebenarnya kalau untuk mempelajari prosedur ekspor impor itu bisa dari mana saja. setiap informasi di beberapa internet ataupun di beberapa lembaga lain itu bisa menjelaskan dan mudah dipahami mengenai prosedur ekspor. Tapi yang berbeda adalah bagaimana sih trik-triknya di dalam menjalani usaha ekspor ini. Karena dari pengalaman saya dari sejak tahun '97 itu banyak sekali problem mulai dari komplain, klaim, kemudian negosiasinya bagaimana kalau buernya mintanya seperti ini misalnya pembayarannya terus temu titik tengahnya seperti apa gitu. Itu yang paling penting. Karena skill dari negosiasi yang pertama membangun kepercayaan bayar kepada kita. bagaimana menghindari klaim resiko-resiko. Kalau misalnya ngirimnya seperti ini resikonya kira-kira seperti apa. Nah, itu karena saya mungkin waktu itu sudah kenyang banget ya. Hampir setiap hari pasti ada fraud atau ada human error atau error apa yang menyebabkan pembelinya ee marah, komplain dan saya yang bagian menjawab itu semua dan menenangkan buyer. Mana yang resikonya fatal, mana resiko yang bisa kita benahi, mana resiko yang memang harus kita ganti. Nah, seperti itu. Baik, Teman-teman. Dari sharing-sharing saya nanti kalau Teman-teman ingin memperdalam lagi bisa menghubungi saya untuk saya ceritakan yang lebih menarik kesusahan dan e kesulitan ekspor yang benar-benar harus diketahui sebelum memulai. Itu saja dari saya. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.
Resume
Categories