Kenapa Bitcoin Ambruk Parah, Target Turunnya Bisa Sampai Berapa?
FzVvvnYLI30 • 2026-02-10
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Bitcoin baris akibatnya hyperliquid PEXG margin call PXG realiz loss mengakibatkan hyperliquid fosell bitcoin akibatnya Bitcoin tambah baris dan balik lagi muter lagi terus kayak begitu sehingga terjadilah apa yang disebut Michael Bur sebagai collateral death spiral Sahabat Akela yang saya kasihi, selama beberapa hari ini ada banyak sekali pertanyaan sehubungan dengan Bitcoin, terutama apa penyebab Bitcoin jadi beish dan target penurunannya bisa sampai berapa? Pada tanggal 29 Oktober 2025, Akela sudah memberikan warning sehubungan dengan pola cycle top RSI barish divergence yang sama pada Bitcoin Cycle Top di penghujung 2021 menjelang crypto winter 2022 sampai 2023. Anda bisa menyimak video lengkapnya di video YouTube berjudul Fix The Fed akan pangkas suku bunga emas dan Bitcoin siap-siap terbang atau terjun. Kemudian pada tanggal 7 November 2025, Akela secara terbuka kembali memberikan sinyal dimulainya crypto winter melalui video YouTube berjudul Crypto Winter Dimulai. Bitcoin dan MSTR Sedang Ulangi sejarah 2021. Kemudian juga dalam beberapa live streaming di YouTube, Akela kembali menegaskan konfirmasinya. mengenai barish view-nya pada Bitcoin karena nampak jelas adanya polar reversal pattern yang sangat terkenal head and shoulder pattern dow theory tenet yang keenam itu bunyinya trend persis until a clear reversal occurs dan yang kita lihat di bitcoin sekarang ini memang sangat jelas ini adalah head and shoulder pattern yang sudah confirm breakdown neline pada Rabu, 4 Februari 2026. Dalam video ini saya akan jawab dua pertanyaan. Satu, apa yang menyebabkan Bitcoin ini jadi beish? Dua, target penurunan Bitcoin ini bisa sampai berapa? Yuk, kita mulai dari yang pertama, ya. Apa yang menyebabkan Bitcoin ini jadi beish? Setidaknya ada lima faktor penting. Yang pertama, Clarity Act, Rancangan Undang-Undang Kripto Amerika. yang sekarang ini lagi nyangkut. Dua, disrupsi antropic cloud opus tools. Hox abstin files. Ini karman Bitcoin. Empat, bom sesungguhnya. Tokenized metals, leverage and collateral death spiral. Lima. Head and shoulder pattern. Ketika charge mengkonfirmasi semua risiko tersebut. Oke, kita bahas mulai dari yang pertama. Clarity Act, rancangan Undang-Undang Cripto Amerika yang sekarang lagi nyangkut. Sahabat Akela, Anda ingat enggak ketika bos SEC lama Gary Gensler melayangkan gugatan ke beberapa crypto exchange pasca collaps-nya FTX. Brian Armstrong, CEO Coinbase kemudian menjawab bahwa bukannya mereka yang tidak mau taat pada aturan, melainkan sejak awal mereka sudah meminta peraturan yang jelas, namun tidak pernah ada legal clarity. bagi industri kripto. Nah, di era Trump sebelum kena pecat, Gary Gensler langsung mengundurkan diri dan kini Trump Administration mengajukan rancangan Undang-Undang Clarity Act, HR number 33 yang memberikan landasan hukum bagi cryptoindustry. Rancangan Undang-Undang Clarity Actujui oleh House of Representatives pada 17 Juli 2025 dengan suara besar mayoritas sebagai kerangka federal untuk menata regulasi kripto termasuk peran CFTC versus SEC dan pendaftaran platform aset digital. Nah, lolos dari House of Representatives, rancangan undang-undang ini diteruskan ke Senat Amerika untuk dibahas di dua komite utama, Senat Banking Committee dan Senat Agriculture Committee. Dan di sinilah asal muasal masalahnya. Yang pertama, stable coin yield dibatasi keras atau bahkan mendekati dilarang. Yang kedua, penerapan anti money laundering and data defy decentralized finance. Tiga, larangan de facto terhadap tokenisasi saham atau sekuritas dan real world aset yang beredar di blockchain. RW aset itu contohnya adalah tokenized metals, tokenize gold, tokeniz silver, dan seterusnya. memberikan luasnya kewenangan kepada SEC Security As Commission yang biasanya menangani sekuritas tradisional terutama dalam memutuskan apakah suatu token itu adalah sekuritas atau bukan. Oke, saya tidak bahas semuanya. Nomor satu dulu kenapa stable coin yield dibatasi keras. Oke, sederhana sahabat Akela lihat saja tabel ini. Lihat sendiri ada CRIM Finance saat ini sudah ada total value lock sebesar USDT 1,03 juta dan menjanjikan annual percentage return sebesar 164%. Jadi, Anda setor USDT 10.000 R000 USD dalam setahun itu seolah-olah nanti dapatnya USD 164.400. Masalahnya di kolom rewards coba Anda lihat itu hanya ada logo bintang, icon bintang. Itu berarti reward tidak dibayar dalam aset yang Anda stor insentif terpisah. itu maksudnya nanti Anda tidak dibayar pakai USDT melainkan akan dibayar dalam token lain yang saat ini nilainya setara dengan USDT 164.400. Anggap saja nanti Anda dibayar pakai token KRIM atau lainnya saya enggak tahu. Dan nilainya dijaga dengan USDT 164.400 konstan kayak sekarang misalnya gitu. Pada saat jatuh tempo, semua orang kan berbondong-bondong mau jual token tersebut. Dan token tersebut kemudian enggak ada yang beli, bitnya hilang alias zong, alias rakpool. Terus gimana? Paling-paling nanti korbannya dapat wejangan. Makanya dor, do your own research. Larangan de facto terhadap tokenisasi saham dan real world asset ini ada hubungannya dengan gonjang-ganjing harga emas dan silver akhir-akhir ini. Kita akan sampai nanti pada pembahasan poin nomor 4, tokenized metals, leverage and collateral death spiral. Akibat revisi rancangan undang-undang dari Senat, Brian Armstrong, CEO Coinbase menarik dukungannya terhadap Rancangan Undang-Undang Clarity Act versi Senat. Karena di antaranya satu hampir mematikan stable coin yield, dua terlalu protektif ke bank, tiga menghambat inovasi, empat membuat tokenisasi saham dan real world aset seperti emas dan perak nyaris tidak visibel. Akibatnya Coinbase lebih memilih enggak ada clarity X sama sekali. Dia bilang, "No rules is better than a bad rules." Ya, daripada undang-undang yang salah arah. Dan ini sebabnya Coinbase menarik dukungan resmi. Sejak dahulu memang selalu terjadi siklus seperti ini. Anda enggak usah heran, regulasi dikendorkan. Kemudian terjadi kasus Teraluna, FDX collapse. Kemudian gara-gara itu regulasi langsung diperketat. Dan ketika regulasi diperketat, criptoindustri protes keras. regulasi tidak pro inovasi katanya malah mematikan inovasi. Nah, nanti regulasi dikendorkan lagi. Kemudian muncul lagi kasus berikutnya ya. FTX yang baru muncul, Teraluna yang baru nanti muncul dan setusnya siklus berulang nanti diketatin lagi kayak begitu. Dia bolak-balik selalu kayak begitu. Nah, kita lanjut ke poin yang kedua, disrupsi antropik. Cloud opus 4.5. Cloud opus 4.5 dari antropic telah muncul sebagai titik balik atau inflection point dalam evolusi artificial intelligence terutama karena kemampuannya yang tidak lagi sekedar menjawab. Jadi kalau kita pakai AI, Anda nanya ke chat GPT, Anda nanya ke GEMini itu kita bertanya dia menjawab. Ini sekarang enggak gitu ya. Ini sekarang dia bukan sekedar menjawab melainkan disuruh kerja. Nah, disrupsi terbesar dalam pengembangan perangkat lunak atau software engineering bukan lagi terletak pada kemampuan menulis cuplikan code, melainkan pada kemampuan penalaran jangka panjang. Long horizon reasoning. Cloud opus 4.5 ini mampu mempertahankan fokus dalam sesi kerja otonom yang panjang hingga lebih dari 30 jam. Jadi, dia bikin coding sendiri. Dalam hal teknologi blockchain, Cloud Opus justru menjadi katalisator utama untuk melampaui keterbatasan Bitcoin yang selama ini dianggap sebagai emas digital. Ini katanya seller kan gitu, digital gold 2.0. Namun lambat secara fungsional. Bitcoin ini secara desain sangat kaku dengan kapasitas sekitar hanya 7 transaksi per detik. 70 only. Cloud Opus dapat mendisrupsinya dengan kemampuannya merancang arsitektur rollaps atau state channels yang jauh lebih efisien untuk melakukan kompresi data transaksi sebelum diinput ke mina. AI ini bisa mensimulasikan dan mengoptimalkan pembagian beban kerja jaringan atau sharding secara dinamis agar transaksi bisa diproses secara paralel dan dengan demikian berpotensi mencapai lebih dari 100.000 TPS tanpa mengorbankan security. Cloud opus bisa membuktikan secara matematis bahwa sebuah code blockchain tidak memiliki celah logika sebelum satu baris code pun dijalankan. Ini mencegah insiden peretasan besar yang sering menimpai defy dan opus memiliki kemampuan self healing code. Bayangkan blockchain yang code sumbernya bisa mendeteksi serangan secara real time dan langsung otomatis melakukan patching otomatis terhadap dirinya sendiri dengan menggunakan penalaran tingkat tinggi cloud. Singkat cerita, Cloud Opus ini membuka potensi akan hadirnya teknologi blockchain yang baru, yang secure, namun memiliki throughput hingga lebih dari 100.000 TPS jauh melampaui batas ruputnya Bitcoin yang hanya 7 TPS. Singkat cerita, Cloud Opus ini berarti membuka adanya peluang teknologi blockchain yang mengakibatkan blockchain-nya Bitcoin ini jadi terancam kadar luarsa. By the way, sekedar info, beberapa hari lalu Antropic meluncurkan Cloud Opus 4.6. Nah, Sahabat Akela, kehadiran Cloud Opus semakin membuktikan tesis saya yang sudah saya sampaikan di workshop Akela semenjak tahun 2021. Bitcoin ini bukanlah aset untuk investasi. Bitcoin ini untuk trading, bukan investasi. Ini adalah aset spekulatif, bukan aset produktif. Karena itu gunakan strategi dan tools yang tepat untuk trading. Namun jangan gunakan strategi investasi. Contohnya DCA pada Bitcoin. Anda jadinya menggunakan strategi yang keliru. Trading tapi pakainya strategi investasi. Saya sudah tak terhitung kali menjelaskan perihal-hal ini di video-video YouTube sebelum ini. Bagi yang tidak paham bedanya trading sama investasi dan masih terjebak pada pola pemikiran yang kebanyakan orang pahami itu adalah trading itu jangka pendek, investasi itu jangka panjang. Gak kayak gitu. Trading pun juga ada yang long term trading. George Soros itu dia holdingnya bisa tahunan itu long term trading. Jadi supaya enggak keliru lagi, silakan simak video Akela yang membedakan dengan jelas apa itu investasi, apa itu trading. Sahabat Akela bisa menyimaknya di video yang ini. Bitcoin pada dasarnya adalah blockchain technology. Bitcoin is a technology. Dan ini adalah salah satu slide yang saya pakai pada workshop Akela sejak tahun 2021. Semua teknologi suatu saat akan ketinggalan zaman. Sebagai ilustrasi PowerPoint saya pakai deretan evolusi komputer IMAC. Slide ini saya tutup dengan kalimat will you invest in a certain piece of technology? Pada saat itu banyak orang yang tuduh saya anti Bitcoin, anti crypto. Sebagaimana sahabat Akela ketahui, saya tidak pernah anti Bitcoin. Saya tidak pernah anti crypto. Saya ada bahas banyak sekali krypto di channel ini. Saya hanya meletakkan Bitcoin dan crypto pada tempatnya yang pas. Ini adalah aset teknologi dan itu bukan aset produktif. sehingga cocoknya untuk trading baik long term maupun short term. Hari ini antropik melalui cloud opus mendukung tesis saya itu. Yang ketiga, abstain files. Dari semua faktor penyebab Bitcoin barries, faktor ketiga ini yang mungkin efeknya paling kecil tapi paling lucu. Loh, kok lucu? Oke, gini. Sejak lama jika Sahabat Akela amati di seluruh dunia termasuk di Indonesia, Bitcoin dan crypto ini pada umumnya hadir dengan mengumandangkan berbagai narasi teori konspirasi. Ada banyak sekali mulai The FET adalah bentukan dan kakitangan keluarga Rosill. Saya sudah dibank habis-habisan hal ini sejak tahun 2023 melalui video berjudul membongkar Dark Secret the Fat Elite Global. Sahabat Akela yang belum nonton videonya silakan menyimaknya di link yang ini. Kemudian narasi teori-teori konspirasi ini turut membangun citra Bitcoin sebagai calon pengganti uang fiat. Sedemikian kuatnya narasi ini sehingga bagi para pendukungnya sampai diimani bahkan sampai jadi semacam agama baru lengkap dengan gereja hodel crypto. Ada kitab sucinya namanya The Hodle Bible dijual di Amazon hingga Tyler Winkle Force ini memodifikasi doa Bapak Kami jadi doa hodel. Sebagian orang bilang ini hanya bercanda. Well, saya enggak. Ketika simbol iman diparodikan untuk mensakralkan aset spekulatif, itu bukan humor, itu dolus diaboli, tipu daya iblis. Iblis tidak mencipta agama baru. Ia memelintir iman lama dan mengalihkannya ke berhala baru. Dalam kasus ini, berhalanya bukan patung, tapi grafik harga. Selengkapnya, Sahabat Akela bisa nonton di video ini. Lantas apa hubungannya sama Absen Files? Sahabat Akela, saya malas bahas ini sebenarnya karena apa hubungannya sama trading dan investasi? Jeffre Epsins ini adalah seorang pemodal kaya raya asal Amerika Serikat dan terpidana kasus kejahatan seksual yang mengoperasikan jaringan perdagangan seks anak di bawah umur selama puluhan tahun kemudian ditangkap masuk ke penjara. Masalahnya adalah di tahun 2019 dia bunuh diri, gantung diri di selnya, tapi sangat misterius. Banyak sekali teori konspirasi yang bilang bahwa dia memang sengaja dibungkam karena kedekatannya dengan para elit global. Nah, absent files merujuk pada jutaan halaman, dokumen pengadilan, rekaman, dan lok penerbangan yang mengungkap hubungan sosialnya dengan tokoh-tokoh berpengaruh dunia. mulai dari politikus hingga selebritis. Dokumen ini menjadi perhatian publik karena membedah jejaring kekuasaan yang diduga melindungi aktivitas kriminalnya dan baru-baru ini dibuka secara massal oleh Department of Justice Amerika sebagai bagian dari transparansi hukum. Suatu hari salah seorang senior trader Akela, Pak Sumarna kemudian kirim WA ke saya tanya tentang pesan WhatsApp yang lagi viral. yakni screenshot email dari Jeffre Epsins ke G. Maxwell pada tanggal 31 Oktober 2008 dengan subjek project Bitcoin Funding and White Paper. Di dalam pesannya tertulis jelas, "Hi Bine, Gislin the Satosi Shudonim is working perfectly." Sejujurnya ketika lihat ini saya sampai kaget dan langsung buka komputer periksa absen files di website-nya Department of Justice. Namun ayo kita teliti lagi. Yang pertama header email ini kacau parah. Di bawah subject itu ada to atau kepada tapi isinya bukan tujuan orang tapi isinya lagi-lagi subject re project bitcoin funding and white paper yang seharusnya isi subjek bukan to atau kepada kemudian di bawahnya ada from dan di bawahnya lagi-lagi ada to tidak ada sistem email baik tahun 2008 maupun sekarang yang memiliki format sekacau itu. Ini jelas-jelas garapan Photoshop, tapi yang garap ini enggak teliti. Yang kedua, nama domain, alamat email jpsin@financial.net dan gmaxwell@teramar.org. Tampak meyakinkan memang. Namun, Teramar project milik Gislin Maxwell itu baru didirikan pada tahun 2012. Sangat mustahil dia memiliki email Teramart tersebut pada Oktober 2008. Yang ketiga, Stample Unseed header Unsealed case number 19CR00490. Ini merujuk ke United States versus Abstein kasus tahun 2019. Tapi isi screenshot-nya mengklaim tanggal email 31 Oktober 2008. Secara format dokumen pengadilan ini sangat janggal. Dokumen 2008 dibungkus seolah-olah bagian dari unsealing case 2019 tanpa jejak ECF atau nomor doket garing exhibit yang benar. Jadi dengan mudah kita simpulkan kali ini Bitcoin justru kena hantam Haw dan teori konspirasi absentin files. Memang ada beberapa fakta lain yang nampaknya mengilhami terciptanya Hoa yang mengindikasikan bahwa Satosi Nakamoto ternyata terkait Jeffre Epsin ini. Beberapa data menunjukkan keterlibatan Epsin dengan beberapa orang kunci di awal-awal kemunculan Bitcoin. Namun tidak ada satuun yang bisa membuktikan bahwa Satosi adalah Jeffrey Epstein. Ironisnya, Bitcoin selama ini sering dibangun di atas narasi teori konspirasi anti defet, anti elit global, anti sistem dan Anda lihat apa yang terjadi sekarang. Bitcoin kini dihantam balik oleh teori konspirasi juga. Bitcoin jadi korban teori konspirasi. Saya teringat satu kalimat, barang siapa menggunakan pedang akan binasa oleh pedang. Dan dalam konteks ini maknanya sederhana tapi dalam. Barang siapa mencari keuntungan dengan teori konspirasi, suatu hari akan jatuh oleh teori konspirasi itu sendiri. Oke, kita lanjut faktor yang keempat ya. Tokenized metals, leverage and collateral death spiral. Faktor yang keempat ini, ini serius banget kalau ini. Ini datangnya dari tokoh yang satu ini, Michael Bury. The big shot. Untuk menjelaskan yang satu ini, saya perlu jelaskan dulu crypto exchange yang satu ini namanya Hyperliquid. Sahabat Akela pernah enggak menyimak duel antara Michael Seller dari kubu Bitcoin versus Peter Shift dari kubu Gold? Sejak pertengahan 2025, gold itu strong bullish. Anda tahu sendiri. Namun Bitcoin beish. Nah, hyperliquid sebuah decentralized exchange hadir dengan sebuah solusi. Seorang pemilik Bitcoin, holdler Bitcoin bisa membeli pax gakni tokenized gold dan atau kontrak derivatif silver di mana mereka tidak perlu menjual bitcoin mereka. Cukup dengan menggunakan Bitcoin mereka sebagai margin kolateral. Jadi kalau Bitcoin baris enggak perlu khawatir karena selama gold dan silver bullish Anda tetap dapat coan dari gold dan silver. Bitcoin-nya tetap diholdlink. Jadi sambil holdling Bitcoin Anda dapat coan mantap dari kenaikan gold and silver. Sip kan? Nah, supaya jelas misal ada Bitcoin holdler yang open buy PXG USDC di Hyperliquid di harga 5.400 misalnya dengan leverage 50 kali marginnya menggunakan Bitcoin yang ada di account tersebut ya. Jadi margin kolateralnya adalah Bitcoin. Masalah mulai timbul ketika harga Bitcoin semakin turun, semakin turun, semakin turun mengakibatkan berarti nilai margin atau kolateral Bitcoin yang dijaminkan untuk beli PEXG dengan leverage 50 kali itu tadi nilainya kan jadi semakin turun. Akibatnya sampai satu titik terjadilah margin call pada tokenized gold PEXG atau kontrak silver atau dua-duanya. Margin call atau force liquidation mengakibatkan terjadinya gelombang penjualan besar-besaran pada gold dan silver. Proses likuidasi tersebut dijalankan 100% secara otomatis oleh kode program smart contract atau engine di dalam layer one hyperliquid. Misalnya force liquidation terjadi di harga 4.800, maka yang bersangkutan si holdler Bitcoin ini akan mengalami kerugian sebesar 600 USDC dikali leverage 50 kali 30.000 USDC. berhubung volumenya sangat besar mengakibatkan tekanan jual pada gold sangat signifikan sehingga gold pun crash. Sampai sini sahabat Akela bisa paham ya bahwa penurunan harga Bitcoin ini kini berdampak pada posisi leverage gold sehingga mengakibatkan gold turun. Hal yang sama juga terjadi pada silver. Yang lebih menarik adalah yang selanjutnya. Ingatkah Anda account Hyper Liquid ini? Ini bukan account di broker forex atau pialang berjangka. Biasanya platformnya pakai software MT5 atau MT5 Metatrader. Nah, ini di Hyperliquid isi account-nya adalah Bitcoin. Yang dijadikan margin itu adalah Bitcoin. Kalau di broker forex atau piala berjangka kan yang dijadikan margin itu adalah US dollar yang tersedia di account itu. Ini gak, ini isinya Bitcoin. Jadi marginnya Bitcoin. Ketika sistem hyper liquid force liquidation posisi PAXG ada realized loss sebesar USDC 30.000 berdasarkan contoh perhitungan kita tadi. Sementara di account tersebut itu kan enggak ada USDC sebanyak itu. Sejak semula jadikan margin itu kan adalah BTC, Bitcoin. Maka kini sistem juga melakukan force liquidation terhadap bitcoin yang dijadikan margin itu tadi sejumlah USDC R30.000. Berhubung volume liquidation-nya sangat masif, maka Bitcoin pun ikutan crash. Nah, kini terjadi force liquidation pada PXG itu juga berakibat terjadinya Bitcoin crash. Bitcoin yang crash berarti harganya turun membuat semakin banyak margin colateral account PAXG lainnya yang kena force liquidation. Karena kan marginnya dia tambah kecil, nilai jaminannya tambah kecil. mengakibatkan yang terjadi adalah force selling force liquidation lagi pada PXG. akibatnya gold tambah turun lagi sehingga terjadi realize loss dalam USDC yang harus ditutup dengan menjual sejumlah margin kolateral Bitcoin mengakibatkan Bitcoin-nya crash semakin dalam balik lagi muter-muter terus kayak begitu Bitcoin baris akibatnya hyperliquid PXG margin call PXG realizakkan hyperliquid fosell bitcoin akibatnya bitcoin tambah beish dan balik lagi muter lagi terus kayak begitu sehingga terjadilah Apa yang disebut Michael Burry sebagai collateral death spiral. Semua kejadian ini terekam sempurna pada Charts. Pada Rabu, 4 Februari untuk pertama kalinya sejak Akela mengumumkan dimulainya crypto winter di awal November 2025 charge Bitcoin breaking down horizontal neline hand and should the pattern Bitcoin yang mulai terbentuk sejak November 2024. Peringatan Akela akan dimulainya crypto winter di bulan November 2025 adalah early warning. Konfirmasinya terjadi pada Rabu, 4 Februari 2026, yakni ketika head and the pattern Bitcoin ini complete. Ketika Bitcoin break down garis neckline horizontal pada level 74.320, pada saat itu head and shoulder tersebut sempurna, komplit. Keesokan harinya, Kamis 5 Februari 2026, Bitcoin dibuka di level 72.999, namun langsung crash hingga menembus level 70.000 dan meluncur deras ke level terendahnya di level 62.182. Kendati pun kemudian ditutup pada level 62.791. Sedikit lebih tinggi. Pertanyaan selanjutnya, Bitcoin sekarang bisa turun sampai berapa? Oke, berdasarkan teori analisa technical classic, target penurunan head and shoulder pattern sesudah harga berhasil menembus ne dan ditutup di bawah neline adalah jarak dari titik puncak head ke garis horizontal line kemudian diproyeksikan ke bawah dari level breakdown tersebut. Maka ketemunya di level 43.924. Sampai sini ada dua detail yang perlu saya sampaikan. Yang pertama, target head and the pattern dalam kasus ini level 43.924 itu tidak harus tercapai. Itu hanyalah target teoritis. Yang kedua, penurunan mulai dari next line breakdown mencapai target tidak pernah satu garis lurus. Sesudah breakdown neline terjadi sangat lazim apabila ada rebound hingga bahkan mencapai line kembali. Namun harap perhatikan neline tersebut sekarang sudah berubah menjadi resistance sebelum dia lanjut kembali turun menuju ke target. Yang ketiga, apakah sesudah mencapai target Bitcoin bottom dan langsung rally? Belum tentu. Ingat prinsip Dow the te theory tenet yang keenam. Trends persis until a clear reversal occurs. Head and the pattern adalah pola analisa technical classic yang mengkonfirmasi adanya reversal. Jadi sebelumnya Bitcoin memang bullish. Betul. Kemudian di puncak bullish-nya terjadilah head and shoulder pattern ini. Dan ketika harga break down horizontal neline-nya, maka saat itulah reversal pattern komplit terjadi dan selanjutnya dimulai barish tren baru. Jadi kalau Anda tanya Bitcoin ini secara teknikal baris-nya sudah lama atau baru? Ini baru karena reversal pattern barusan terjadi. Karena itu berdasarkan teori transpersis until a clear reversal occurs, maka Bitcoin juga bearish sampai nanti muncul bottoming pattern yang baru. Nanti akan muncul reversal pattern dari berrian, ya. Dan biar enggak ketinggalan videonya, pastikan diri Anda sudah subscribe di channel ini. Klik tombol like-nya bila video ini bermanfaat untuk Anda dan silakan share ke rekan-rekan Anda yang membutuhkan dan pastikan tombol alert-nya aktif supaya YouTube memberikan notifikasi kepada Anda setiap kali Akela mengunggah video-video terbarunya. Khusus bagi subscribers channel ini, saya juga punya berita bagus buat Anda, khususnya yang ingin konsultasi mengenai trading ataupun investasinya, baik itu di saham-saham Bursa Efek Indonesia, saham-saham Bursa Amerika, berbagai komoditas seperti Gold, Crude Oil, maupun Forex hingga Bitcoin dan aset crypto lainnya. Silakan join Akela live streaming setiap Kamis petang pukul 19.30 WIB. Dalam acara itu, saya Hariswanda beserta Bapak Hendra Martono Lim, pencipta timu quantitative Trading System yang kami pakai di Akela akan hadir untuk melayani Anda semua. Semoga bermanfaat, sukses selalu dan sampai jumpa pada video-video yang akan datang. Bye bye.
Resume
Categories