Kenapa Bitcoin Ambruk Parah, Target Turunnya Bisa Sampai Berapa?
FzVvvnYLI30 • 2026-02-10
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Bitcoin baris akibatnya hyperliquid PEXG
margin call PXG realiz loss
mengakibatkan hyperliquid fosell bitcoin
akibatnya Bitcoin tambah baris dan balik
lagi muter lagi terus kayak begitu
sehingga terjadilah apa yang disebut
Michael Bur sebagai collateral death
spiral
Sahabat Akela yang saya kasihi, selama
beberapa hari ini ada banyak sekali
pertanyaan sehubungan dengan Bitcoin,
terutama apa penyebab Bitcoin jadi beish
dan target penurunannya bisa sampai
berapa? Pada tanggal 29 Oktober 2025,
Akela sudah memberikan warning
sehubungan dengan pola cycle top RSI
barish divergence yang sama pada Bitcoin
Cycle Top di penghujung 2021 menjelang
crypto winter 2022 sampai 2023. Anda
bisa menyimak video lengkapnya di video
YouTube berjudul Fix The Fed akan
pangkas suku bunga emas dan Bitcoin
siap-siap terbang atau terjun. Kemudian
pada tanggal 7 November 2025, Akela
secara terbuka kembali memberikan sinyal
dimulainya crypto winter melalui video
YouTube berjudul Crypto Winter Dimulai.
Bitcoin dan MSTR Sedang Ulangi sejarah
2021. Kemudian juga dalam beberapa live
streaming di YouTube, Akela kembali
menegaskan konfirmasinya.
mengenai barish view-nya pada Bitcoin
karena nampak jelas adanya polar
reversal pattern yang sangat terkenal
head and shoulder pattern
dow theory tenet yang keenam itu
bunyinya trend persis until a clear
reversal occurs dan yang kita lihat di
bitcoin sekarang ini memang sangat jelas
ini adalah head and shoulder pattern
yang sudah confirm breakdown neline pada
Rabu, 4 Februari 2026. Dalam video ini
saya akan jawab dua pertanyaan. Satu,
apa yang menyebabkan Bitcoin ini jadi
beish? Dua, target penurunan Bitcoin ini
bisa sampai berapa? Yuk, kita mulai dari
yang pertama, ya. Apa yang menyebabkan
Bitcoin ini jadi beish? Setidaknya ada
lima faktor penting. Yang pertama,
Clarity Act, Rancangan Undang-Undang
Kripto Amerika. yang sekarang ini lagi
nyangkut. Dua, disrupsi antropic cloud
opus tools.
Hox abstin files. Ini karman Bitcoin.
Empat, bom sesungguhnya. Tokenized
metals, leverage and collateral death
spiral. Lima. Head and shoulder pattern.
Ketika charge mengkonfirmasi semua
risiko tersebut. Oke, kita bahas mulai
dari yang pertama. Clarity Act,
rancangan Undang-Undang Cripto Amerika
yang sekarang lagi nyangkut. Sahabat
Akela, Anda ingat enggak ketika bos SEC
lama Gary Gensler melayangkan gugatan ke
beberapa crypto exchange pasca
collaps-nya FTX. Brian Armstrong, CEO
Coinbase kemudian menjawab bahwa
bukannya mereka yang tidak mau taat pada
aturan, melainkan sejak awal mereka
sudah meminta peraturan yang jelas,
namun tidak pernah ada legal clarity.
bagi industri kripto. Nah, di era Trump
sebelum kena pecat, Gary Gensler
langsung mengundurkan diri dan kini
Trump Administration mengajukan
rancangan Undang-Undang Clarity Act, HR
number 33 yang memberikan landasan hukum
bagi cryptoindustry.
Rancangan Undang-Undang Clarity Actujui
oleh House of Representatives pada 17
Juli 2025 dengan suara besar mayoritas
sebagai kerangka federal untuk menata
regulasi kripto termasuk peran CFTC
versus SEC dan pendaftaran platform aset
digital. Nah, lolos dari House of
Representatives, rancangan undang-undang
ini diteruskan ke Senat Amerika untuk
dibahas di dua komite utama, Senat
Banking Committee dan Senat Agriculture
Committee. Dan di sinilah asal muasal
masalahnya. Yang pertama, stable coin
yield dibatasi keras atau bahkan
mendekati dilarang. Yang kedua,
penerapan anti money laundering and data
defy decentralized finance. Tiga,
larangan de facto terhadap tokenisasi
saham atau sekuritas dan real world aset
yang beredar di blockchain. RW aset itu
contohnya adalah tokenized metals,
tokenize gold, tokeniz silver, dan
seterusnya.
memberikan luasnya kewenangan kepada SEC
Security As Commission yang biasanya
menangani sekuritas tradisional terutama
dalam memutuskan apakah suatu token itu
adalah sekuritas atau bukan. Oke, saya
tidak bahas semuanya. Nomor satu dulu
kenapa stable coin yield dibatasi keras.
Oke, sederhana sahabat Akela lihat saja
tabel ini. Lihat sendiri ada CRIM
Finance saat ini sudah ada total value
lock sebesar USDT 1,03
juta dan menjanjikan annual percentage
return sebesar 164%.
Jadi, Anda setor USDT 10.000 R000 USD
dalam setahun itu seolah-olah nanti
dapatnya USD 164.400.
Masalahnya di kolom rewards coba Anda
lihat itu hanya ada logo bintang, icon
bintang. Itu berarti reward tidak
dibayar dalam aset yang Anda stor
insentif terpisah. itu maksudnya nanti
Anda tidak dibayar pakai USDT melainkan
akan dibayar dalam token lain yang saat
ini nilainya setara dengan USDT 164.400.
Anggap saja nanti Anda dibayar pakai
token KRIM atau lainnya saya enggak
tahu. Dan nilainya dijaga dengan USDT
164.400 konstan kayak sekarang misalnya
gitu. Pada saat jatuh tempo, semua orang
kan berbondong-bondong mau jual token
tersebut. Dan token tersebut kemudian
enggak ada yang beli, bitnya hilang
alias zong, alias rakpool. Terus gimana?
Paling-paling nanti korbannya dapat
wejangan. Makanya dor,
do your own research. Larangan de facto
terhadap tokenisasi saham dan real world
asset ini ada hubungannya dengan
gonjang-ganjing harga emas dan silver
akhir-akhir ini. Kita akan sampai nanti
pada pembahasan poin nomor 4, tokenized
metals, leverage and collateral death
spiral. Akibat revisi rancangan
undang-undang dari Senat, Brian
Armstrong, CEO Coinbase menarik
dukungannya terhadap Rancangan
Undang-Undang Clarity Act versi Senat.
Karena di antaranya satu hampir
mematikan stable coin yield, dua terlalu
protektif ke bank, tiga menghambat
inovasi, empat membuat tokenisasi saham
dan real world aset seperti emas dan
perak nyaris tidak visibel. Akibatnya
Coinbase lebih memilih enggak ada
clarity X sama sekali. Dia bilang, "No
rules is better than a bad rules." Ya,
daripada undang-undang yang salah arah.
Dan ini sebabnya Coinbase menarik
dukungan resmi. Sejak dahulu memang
selalu terjadi siklus seperti ini. Anda
enggak usah heran, regulasi dikendorkan.
Kemudian terjadi kasus Teraluna, FDX
collapse. Kemudian gara-gara itu
regulasi langsung diperketat. Dan ketika
regulasi diperketat, criptoindustri
protes keras. regulasi tidak pro inovasi
katanya malah mematikan inovasi. Nah,
nanti regulasi dikendorkan lagi.
Kemudian muncul lagi kasus berikutnya
ya. FTX yang baru muncul, Teraluna yang
baru nanti muncul dan setusnya siklus
berulang nanti diketatin lagi kayak
begitu. Dia bolak-balik selalu kayak
begitu. Nah, kita lanjut ke poin yang
kedua, disrupsi antropik. Cloud opus
4.5. Cloud opus 4.5 dari antropic telah
muncul sebagai titik balik atau
inflection point dalam evolusi
artificial intelligence terutama karena
kemampuannya yang tidak lagi sekedar
menjawab. Jadi kalau kita pakai AI, Anda
nanya ke chat GPT, Anda nanya ke GEMini
itu kita bertanya dia menjawab. Ini
sekarang enggak gitu ya. Ini sekarang
dia bukan sekedar menjawab melainkan
disuruh kerja. Nah, disrupsi terbesar
dalam pengembangan perangkat lunak atau
software engineering bukan lagi terletak
pada kemampuan menulis cuplikan code,
melainkan pada kemampuan penalaran
jangka panjang. Long horizon reasoning.
Cloud opus 4.5 ini mampu mempertahankan
fokus dalam sesi kerja otonom yang
panjang hingga lebih dari 30 jam. Jadi,
dia bikin coding sendiri. Dalam hal
teknologi blockchain, Cloud Opus justru
menjadi katalisator utama untuk
melampaui keterbatasan Bitcoin yang
selama ini dianggap sebagai emas
digital. Ini katanya seller kan gitu,
digital gold 2.0. Namun lambat secara
fungsional. Bitcoin ini secara desain
sangat kaku dengan kapasitas sekitar
hanya 7 transaksi per detik. 70 only.
Cloud Opus dapat mendisrupsinya
dengan kemampuannya merancang arsitektur
rollaps atau state channels yang jauh
lebih efisien untuk melakukan kompresi
data transaksi sebelum diinput ke mina.
AI ini bisa mensimulasikan dan
mengoptimalkan pembagian beban kerja
jaringan atau sharding secara dinamis
agar transaksi bisa diproses secara
paralel dan dengan demikian berpotensi
mencapai lebih dari 100.000 TPS tanpa
mengorbankan
security. Cloud opus bisa membuktikan
secara matematis bahwa sebuah code
blockchain tidak memiliki celah logika
sebelum satu baris code pun dijalankan.
Ini mencegah insiden peretasan besar
yang sering menimpai defy dan opus
memiliki kemampuan self healing code.
Bayangkan blockchain yang code sumbernya
bisa mendeteksi serangan secara real
time dan langsung otomatis melakukan
patching otomatis terhadap dirinya
sendiri dengan menggunakan penalaran
tingkat tinggi cloud. Singkat cerita,
Cloud Opus ini membuka potensi akan
hadirnya teknologi blockchain yang baru,
yang secure, namun memiliki throughput
hingga lebih dari 100.000 TPS jauh
melampaui batas ruputnya Bitcoin yang
hanya 7 TPS. Singkat cerita, Cloud Opus
ini berarti membuka adanya peluang
teknologi blockchain
yang mengakibatkan blockchain-nya
Bitcoin ini jadi terancam kadar luarsa.
By the way, sekedar info, beberapa hari
lalu Antropic meluncurkan Cloud Opus
4.6.
Nah, Sahabat Akela, kehadiran Cloud Opus
semakin membuktikan tesis saya yang
sudah saya sampaikan di workshop Akela
semenjak tahun 2021.
Bitcoin ini bukanlah aset untuk
investasi.
Bitcoin ini untuk trading, bukan
investasi. Ini adalah aset spekulatif,
bukan aset produktif. Karena itu gunakan
strategi dan tools yang tepat untuk
trading.
Namun jangan gunakan strategi investasi.
Contohnya DCA pada Bitcoin. Anda jadinya
menggunakan strategi yang keliru.
Trading tapi pakainya strategi
investasi.
Saya sudah tak terhitung kali
menjelaskan perihal-hal ini di
video-video YouTube sebelum ini. Bagi
yang tidak paham bedanya trading sama
investasi dan masih terjebak pada pola
pemikiran yang kebanyakan orang pahami
itu adalah trading itu jangka pendek,
investasi itu jangka panjang. Gak kayak
gitu. Trading pun juga ada yang long
term trading. George Soros itu dia
holdingnya bisa tahunan itu long term
trading. Jadi supaya enggak keliru lagi,
silakan simak video Akela yang
membedakan dengan jelas apa itu
investasi, apa itu trading. Sahabat
Akela bisa menyimaknya di video yang
ini. Bitcoin pada dasarnya adalah
blockchain technology. Bitcoin is a
technology.
Dan ini adalah salah satu slide yang
saya pakai pada workshop Akela sejak
tahun 2021. Semua teknologi suatu saat
akan ketinggalan zaman. Sebagai
ilustrasi PowerPoint saya pakai deretan
evolusi komputer IMAC. Slide ini saya
tutup dengan kalimat will you invest in
a certain piece of technology? Pada saat
itu banyak orang yang tuduh saya anti
Bitcoin, anti crypto. Sebagaimana
sahabat Akela ketahui, saya tidak pernah
anti Bitcoin. Saya tidak pernah anti
crypto. Saya ada bahas banyak sekali
krypto di channel ini. Saya hanya
meletakkan Bitcoin dan crypto pada
tempatnya yang pas. Ini adalah aset
teknologi dan itu bukan aset produktif.
sehingga cocoknya untuk trading baik
long term maupun short term. Hari ini
antropik melalui cloud opus mendukung
tesis saya itu. Yang ketiga, abstain
files. Dari semua faktor penyebab
Bitcoin barries, faktor ketiga ini yang
mungkin efeknya paling kecil tapi paling
lucu. Loh, kok lucu? Oke, gini. Sejak
lama jika Sahabat Akela amati di seluruh
dunia termasuk di Indonesia, Bitcoin dan
crypto ini pada umumnya hadir dengan
mengumandangkan berbagai narasi teori
konspirasi. Ada banyak sekali mulai The
FET adalah bentukan dan kakitangan
keluarga Rosill. Saya sudah dibank
habis-habisan hal ini sejak tahun 2023
melalui video berjudul membongkar Dark
Secret the Fat Elite Global. Sahabat
Akela yang belum nonton videonya silakan
menyimaknya di link yang ini. Kemudian
narasi teori-teori konspirasi ini turut
membangun citra Bitcoin sebagai calon
pengganti uang fiat. Sedemikian kuatnya
narasi ini sehingga bagi para
pendukungnya sampai diimani
bahkan sampai jadi semacam agama baru
lengkap dengan gereja hodel crypto. Ada
kitab sucinya namanya The Hodle Bible
dijual di Amazon hingga Tyler Winkle
Force ini memodifikasi doa Bapak Kami
jadi doa hodel. Sebagian orang bilang
ini hanya bercanda. Well, saya enggak.
Ketika simbol iman diparodikan untuk
mensakralkan aset spekulatif, itu bukan
humor, itu dolus diaboli, tipu daya
iblis. Iblis tidak mencipta agama baru.
Ia memelintir iman lama dan
mengalihkannya ke berhala baru. Dalam
kasus ini, berhalanya bukan patung, tapi
grafik harga. Selengkapnya, Sahabat
Akela bisa nonton di video ini. Lantas
apa hubungannya sama Absen Files?
Sahabat Akela, saya malas bahas ini
sebenarnya karena apa hubungannya sama
trading dan investasi? Jeffre Epsins ini
adalah seorang pemodal kaya raya asal
Amerika Serikat dan terpidana kasus
kejahatan seksual yang mengoperasikan
jaringan perdagangan seks anak di bawah
umur selama puluhan tahun kemudian
ditangkap masuk ke penjara. Masalahnya
adalah di tahun 2019 dia bunuh diri,
gantung diri di selnya, tapi sangat
misterius.
Banyak sekali teori konspirasi yang
bilang bahwa dia memang sengaja
dibungkam karena kedekatannya dengan
para elit global.
Nah, absent files merujuk pada jutaan
halaman, dokumen pengadilan, rekaman,
dan lok penerbangan yang mengungkap
hubungan sosialnya dengan tokoh-tokoh
berpengaruh dunia. mulai dari politikus
hingga selebritis.
Dokumen ini menjadi perhatian publik
karena membedah jejaring kekuasaan yang
diduga melindungi aktivitas kriminalnya
dan baru-baru ini dibuka secara massal
oleh Department of Justice Amerika
sebagai bagian dari transparansi hukum.
Suatu hari salah seorang senior trader
Akela, Pak Sumarna kemudian kirim WA ke
saya tanya tentang pesan WhatsApp yang
lagi viral. yakni screenshot email dari
Jeffre Epsins ke G. Maxwell pada tanggal
31 Oktober 2008 dengan subjek project
Bitcoin Funding and White Paper. Di
dalam pesannya tertulis jelas, "Hi Bine,
Gislin the Satosi Shudonim is working
perfectly."
Sejujurnya ketika lihat ini saya sampai
kaget dan langsung buka komputer periksa
absen files di website-nya Department of
Justice. Namun ayo kita teliti lagi.
Yang pertama header email ini kacau
parah. Di bawah subject itu ada to atau
kepada tapi isinya bukan tujuan orang
tapi isinya lagi-lagi subject re project
bitcoin funding and white paper yang
seharusnya isi subjek bukan to atau
kepada kemudian di bawahnya ada from dan
di bawahnya lagi-lagi ada to tidak ada
sistem email baik tahun 2008 maupun
sekarang yang memiliki format sekacau
itu. Ini jelas-jelas garapan Photoshop,
tapi yang garap ini enggak teliti. Yang
kedua, nama domain, alamat email
jpsin@financial.net
dan gmaxwell@teramar.org.
Tampak meyakinkan memang. Namun, Teramar
project milik Gislin Maxwell itu baru
didirikan pada tahun 2012. Sangat
mustahil dia memiliki email Teramart
tersebut pada Oktober 2008.
Yang ketiga, Stample Unseed header
Unsealed case number 19CR00490.
Ini merujuk ke United States versus
Abstein kasus tahun 2019. Tapi isi
screenshot-nya mengklaim tanggal email
31 Oktober 2008. Secara format dokumen
pengadilan ini sangat janggal. Dokumen
2008 dibungkus seolah-olah bagian dari
unsealing case 2019 tanpa jejak ECF atau
nomor doket garing exhibit yang benar.
Jadi dengan mudah kita simpulkan kali
ini Bitcoin justru kena hantam Haw dan
teori konspirasi absentin files. Memang
ada beberapa fakta lain yang nampaknya
mengilhami terciptanya Hoa yang
mengindikasikan bahwa Satosi Nakamoto
ternyata terkait Jeffre Epsin ini.
Beberapa data menunjukkan keterlibatan
Epsin dengan beberapa orang kunci di
awal-awal kemunculan Bitcoin. Namun
tidak ada satuun yang bisa membuktikan
bahwa Satosi adalah Jeffrey Epstein.
Ironisnya, Bitcoin selama ini sering
dibangun di atas narasi teori konspirasi
anti defet, anti elit global, anti
sistem dan Anda lihat apa yang terjadi
sekarang. Bitcoin kini dihantam balik
oleh teori konspirasi juga. Bitcoin jadi
korban teori konspirasi. Saya teringat
satu kalimat, barang siapa menggunakan
pedang akan binasa oleh pedang. Dan
dalam konteks ini maknanya sederhana
tapi dalam. Barang siapa mencari
keuntungan dengan teori konspirasi,
suatu hari akan jatuh oleh teori
konspirasi itu sendiri. Oke, kita lanjut
faktor yang keempat ya. Tokenized
metals, leverage and collateral death
spiral. Faktor yang keempat ini, ini
serius banget kalau ini. Ini datangnya
dari tokoh yang satu ini, Michael Bury.
The big shot. Untuk menjelaskan yang
satu ini, saya perlu jelaskan dulu
crypto exchange yang satu ini namanya
Hyperliquid. Sahabat Akela pernah enggak
menyimak duel antara Michael Seller dari
kubu Bitcoin versus Peter Shift dari
kubu Gold? Sejak pertengahan 2025, gold
itu strong bullish. Anda tahu sendiri.
Namun Bitcoin beish. Nah, hyperliquid
sebuah decentralized exchange hadir
dengan sebuah solusi. Seorang pemilik
Bitcoin, holdler Bitcoin bisa membeli
pax gakni tokenized gold dan atau
kontrak derivatif silver di mana mereka
tidak perlu menjual bitcoin mereka.
Cukup dengan menggunakan Bitcoin mereka
sebagai margin kolateral. Jadi kalau
Bitcoin baris enggak perlu khawatir
karena selama gold dan silver bullish
Anda tetap dapat coan dari gold dan
silver. Bitcoin-nya tetap diholdlink.
Jadi sambil holdling Bitcoin Anda dapat
coan mantap dari kenaikan gold and
silver. Sip kan? Nah, supaya jelas misal
ada Bitcoin holdler yang open buy PXG
USDC di Hyperliquid di harga 5.400
misalnya dengan leverage 50 kali
marginnya menggunakan Bitcoin yang ada
di account tersebut ya. Jadi margin
kolateralnya adalah Bitcoin. Masalah
mulai timbul ketika harga Bitcoin
semakin turun, semakin turun, semakin
turun mengakibatkan berarti nilai margin
atau kolateral Bitcoin yang dijaminkan
untuk beli PEXG dengan leverage 50 kali
itu tadi nilainya kan jadi semakin
turun. Akibatnya sampai satu titik
terjadilah margin call pada tokenized
gold PEXG atau kontrak silver atau
dua-duanya. Margin call atau force
liquidation mengakibatkan terjadinya
gelombang penjualan besar-besaran pada
gold dan silver. Proses likuidasi
tersebut dijalankan 100% secara otomatis
oleh kode program smart contract atau
engine di dalam layer one hyperliquid.
Misalnya force liquidation terjadi di
harga 4.800, maka yang bersangkutan si
holdler Bitcoin ini akan mengalami
kerugian sebesar 600 USDC dikali
leverage 50 kali 30.000 USDC. berhubung
volumenya sangat besar mengakibatkan
tekanan jual pada gold sangat signifikan
sehingga gold pun crash. Sampai sini
sahabat Akela bisa paham ya bahwa
penurunan harga Bitcoin ini kini
berdampak pada posisi leverage gold
sehingga mengakibatkan gold turun. Hal
yang sama juga terjadi pada silver. Yang
lebih menarik adalah yang selanjutnya.
Ingatkah Anda account Hyper Liquid ini?
Ini bukan account di broker forex atau
pialang berjangka. Biasanya platformnya
pakai software MT5 atau MT5 Metatrader.
Nah, ini di Hyperliquid isi account-nya
adalah Bitcoin. Yang dijadikan margin
itu adalah Bitcoin. Kalau di broker
forex atau piala berjangka kan yang
dijadikan margin itu adalah US dollar
yang tersedia di account itu. Ini gak,
ini isinya Bitcoin. Jadi marginnya
Bitcoin. Ketika sistem hyper liquid
force liquidation posisi PAXG ada
realized loss sebesar USDC 30.000
berdasarkan contoh perhitungan kita
tadi. Sementara di account tersebut itu
kan enggak ada USDC sebanyak itu. Sejak
semula jadikan margin itu kan adalah
BTC, Bitcoin. Maka kini sistem juga
melakukan force liquidation terhadap
bitcoin yang dijadikan margin itu tadi
sejumlah USDC R30.000. Berhubung volume
liquidation-nya sangat masif, maka
Bitcoin pun ikutan crash. Nah, kini
terjadi force liquidation pada PXG itu
juga berakibat terjadinya Bitcoin crash.
Bitcoin yang crash berarti harganya
turun membuat semakin banyak margin
colateral account PAXG lainnya yang kena
force liquidation. Karena kan marginnya
dia tambah kecil, nilai jaminannya
tambah kecil. mengakibatkan
yang terjadi adalah force selling force
liquidation lagi pada PXG. akibatnya
gold tambah turun lagi sehingga terjadi
realize loss dalam USDC yang harus
ditutup dengan menjual sejumlah margin
kolateral Bitcoin mengakibatkan
Bitcoin-nya crash semakin dalam balik
lagi muter-muter terus kayak begitu
Bitcoin baris akibatnya hyperliquid PXG
margin call PXG realizakkan
hyperliquid fosell bitcoin akibatnya
bitcoin tambah beish dan balik lagi
muter lagi terus kayak begitu sehingga
terjadilah Apa yang disebut Michael
Burry sebagai collateral death spiral.
Semua kejadian ini terekam sempurna pada
Charts. Pada Rabu, 4 Februari untuk
pertama kalinya sejak Akela mengumumkan
dimulainya crypto winter di awal
November 2025 charge Bitcoin breaking
down horizontal neline hand and should
the pattern Bitcoin yang mulai terbentuk
sejak November 2024. Peringatan Akela
akan dimulainya crypto winter di bulan
November 2025 adalah early warning.
Konfirmasinya terjadi pada Rabu, 4
Februari 2026, yakni ketika head and the
pattern Bitcoin ini complete. Ketika
Bitcoin break down garis neckline
horizontal pada level 74.320,
pada saat itu head and shoulder tersebut
sempurna, komplit. Keesokan harinya,
Kamis 5 Februari 2026, Bitcoin dibuka di
level 72.999,
namun langsung crash hingga menembus
level 70.000 dan meluncur deras ke level
terendahnya di level 62.182.
Kendati pun kemudian ditutup pada level
62.791.
Sedikit lebih tinggi. Pertanyaan
selanjutnya, Bitcoin sekarang bisa turun
sampai berapa? Oke,
berdasarkan teori analisa technical
classic, target penurunan head and
shoulder pattern sesudah harga berhasil
menembus ne dan ditutup di bawah neline
adalah jarak dari titik puncak head ke
garis horizontal line kemudian
diproyeksikan ke bawah dari level
breakdown tersebut. Maka ketemunya di
level 43.924.
Sampai sini ada dua detail yang perlu
saya sampaikan. Yang pertama, target
head and the pattern dalam kasus ini
level 43.924
itu tidak harus tercapai. Itu hanyalah
target teoritis.
Yang kedua, penurunan mulai dari next
line breakdown mencapai target tidak
pernah satu garis lurus. Sesudah
breakdown neline terjadi sangat lazim
apabila ada rebound hingga bahkan
mencapai line kembali. Namun harap
perhatikan neline tersebut sekarang
sudah berubah menjadi resistance
sebelum dia lanjut kembali turun menuju
ke target. Yang ketiga, apakah sesudah
mencapai target Bitcoin bottom dan
langsung rally? Belum tentu. Ingat
prinsip Dow the te theory tenet yang
keenam. Trends persis until a clear
reversal occurs. Head and the pattern
adalah pola analisa technical classic
yang mengkonfirmasi
adanya reversal. Jadi sebelumnya Bitcoin
memang bullish. Betul. Kemudian di
puncak bullish-nya terjadilah head and
shoulder pattern ini. Dan ketika harga
break down horizontal neline-nya, maka
saat itulah reversal pattern komplit
terjadi dan selanjutnya dimulai
barish tren baru. Jadi kalau Anda tanya
Bitcoin ini secara teknikal baris-nya
sudah lama atau baru? Ini baru karena
reversal pattern barusan terjadi. Karena
itu berdasarkan teori transpersis until
a clear reversal occurs, maka Bitcoin
juga bearish sampai nanti muncul
bottoming pattern yang baru. Nanti akan
muncul reversal pattern dari berrian,
ya. Dan biar enggak ketinggalan
videonya, pastikan diri Anda sudah
subscribe di channel ini. Klik tombol
like-nya bila video ini bermanfaat untuk
Anda dan silakan share ke rekan-rekan
Anda yang membutuhkan dan pastikan
tombol alert-nya aktif supaya YouTube
memberikan notifikasi kepada Anda setiap
kali Akela mengunggah video-video
terbarunya.
Khusus bagi subscribers channel ini,
saya juga punya berita bagus buat Anda,
khususnya yang ingin konsultasi mengenai
trading ataupun investasinya, baik itu
di saham-saham Bursa Efek Indonesia,
saham-saham Bursa Amerika, berbagai
komoditas seperti Gold, Crude Oil,
maupun Forex hingga Bitcoin dan aset
crypto lainnya. Silakan join Akela live
streaming setiap Kamis petang pukul
19.30 WIB. Dalam acara itu, saya
Hariswanda beserta Bapak Hendra Martono
Lim, pencipta timu quantitative Trading
System yang kami pakai di Akela akan
hadir untuk melayani Anda semua. Semoga
bermanfaat, sukses selalu dan sampai
jumpa pada video-video yang akan datang.
Bye bye.
Resume
Read
file updated 2026-02-14 19:41:58 UTC
Categories
Manage