Indonesia Diserang MSCI & Moody’s Gara-Gara BlackRock Belum Kebagian HIMBARA?!
LXgsVxPWpgw • 2026-02-13
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Sahabat Akela, bayangkan ini MSCI ancam
downgrade. Moodis ubah Outlook jadi
negatif. Foodsi Russel tunda review.
Pasar goncang-ganjing. IHSG bergetar dan
di tengah semuanya itu muncul tuduhan
besar. Indonesia diserang katanya karena
Black Rock belum kebagian saham bank
plat merah atau Himbara. Kalau itu
benar, maka ini bukan lagi soal pasar
modal, ini perang finansial global. Yuk,
kita bongkar tuntas.
Sahabat Akelat, ternyata peringatan MSCI
bahwa kemungkinan penurunan status
Indonesia dari emerging market menjadi
frontier market tidak saja memicu
gelombang aksi jual di pasar modal.
Namun pasca kejadian itu ada serentetan
peristiwa heboh yang mengikutinya.
Sebagaimana kita ketahui bersama, MSCI
ini membekukan rebalancing index mereka
untuk saham-saham Indonesia. Dan media
mainstream langsung serempak mengumumkan
hal ini pada hari Rabu tanggal 28
Januari 2026. Akela sudah membahas
mengenai ini pada video MSCI membuka
borok IHSG ilusi likuiditas. Sahabat
Akela yang ketinggalan videonya bisa
menyimaknya di link yang ini. Keesokan
harinya, 29 Januari 2026, Goldman Sex
dan UBS bersama-sama menurunkan
peringkat saham Indonesia. Goldman
memperkirakan situasi ini berpotensi
membawa lebih dari 13 miliar dolar dana
asing pergi dari pasar saham. Terutama
jika MSCI menurunkan peringkat pasar
Indonesia dari emerging ke Frontier
Market dengan rincian 7,8 miliar dolar
merupakan arus dana pasif dari indeks
MSCI serta 5,6 miliar dolar jika FUTS
Russell juga ikut mengubah metodologi
perhitungan free fluit dan porsi saham
Indonesia dalam indeks mereka.
Sementara di sisi lain, UBS memangkas
peringkat saham Indonesia menjadi
neutral. Kami memperkirakan tekanan pada
pasar akan terus berlangsung hingga ada
kejelasan mengenai regulasi pasar saham
Indonesia dan penilaian ulang dari MSI,
ungkap analis UBS dalam riset mereka
yang disampaikan pada hari Rabu, 29
Januari 2026 tersebut. Pada tanggal 30
Januari 2026 pada saat kejadian di Rut
BEI Iman Rahman mengundurkan diri dan
pengunduran dirinya ini ternyata disusul
oleh sejumlah pejabat OJK. Ada Mahendra
Siregar, Ketua Dewan Komisioner OJK.
Mirza Adityaswara, Wakil Ketua Dewan
Komisioner OJK. Inarno Jayadi, Kepala
Eksekutif Pengawas Pasar Modal Keuangan
Derivatif dan Bursa Karbon OJK dan IB
Adityya Jayaantara, Deputi Komisioner
Pengawas Emiten dan Transaksi Efek Ojk.
Pada hari berikutnya, BI langsung
membekukan 38 emiten Bursa Efek
Indonesia guna menunjukkan komitmen
bursa untuk melakukan pembenahan. Minggu
depannya pada Kamis petang, 5 Februari
2026, lembaga pemeringkat Moodis rating
menurunkan outlook credit rating
Indonesia dari stable jadi negatif.
Moodies rating hari itu mengubah outlook
atas peringkat pemerintah Indonesia
menjadi negatif dari sebelumnya stable.
serta menegaskan peringkat penerbit
jangka panjang mata uang lokal dan mata
uang asing pada BAE2.
Peringkat utang senior tanpa jaminan
jangka panjang mata uang lokal dan asing
ditegaskan pada BAEA2
dan peringkat program medium termode
atau MTN senior tanpa jaminan mata uang
asing serta program sales senior tanpa
jaminan juga ditegaskan pada BA2.
Perubahan Outlook ini didorong oleh
menurunnya prediktabilitas dalam
perumusan kebijakan yang berisiko
melemahkan efektivitas kebijakan dan
mengindikasikan pelemahan tata kelola.
Jika tren ini berlanjut, maka hal
tersebut dapat mengikis kredibilitas
kebijakan Indonesia yang telah lama
terbangun yang selama ini menopang
pertumbuhan ekonomi yang solid serta
stabilitas makroekonomi, fiskal, dan
keuangan. Oke, ada perbedaan mendasar
antara peringatan downgrade MSCI dengan
peringatan downgrade mudish.
Kalau potensi downgrade MSCI saya
sebutnya potensi karena memang belum
di-downgrade. Ini baru warning-nya aja.
Sementara keputusan benerannya itu nanti
bulan Mei 2026.
Semua media sudah mengumumkan ini
sehingga mengetahui informasi potensi
downgrade di bulan Mei. Jika pihak
pemerintah dan OJK dan BI masih belum
cukup serius berbenah diri, maka ada
peluang downgrade ini benar-benar
terlaksana. Dan saya sudah jelaskan di
video sebelumnya, jika itu terjadi, BEI
terlempar dari emerging markets dan
masuk ke frontier market. Nah, sahabat
Akela, saya enggak bahas MSCI lagi.
Ancaman moodis ini jauh lebih serius dan
risikonya jauh lebih besar ketimbang
MSCI. Karena Mudis bukan menyoroti Bursa
Efek Indonesia, melainkan kredit ratings
alias surat utang pemerintah Indonesia.
Mudis menurunkannya dari stable jadi
negatif. Outlook dengan peringkat BA2
berarti masih dalam investment grade.
Jika masih diowngrade lagi jadinya BAA3
level investment grade terendah. Jika
itu masih dilawati maka credit ratings
Indonesia terlempar keluar dari
investment grade. Dan ini yang luar
biasa mengerikan. Outflow dana asing
yang keluar ini jauh lebih besar
dibandingkan downgrade MSCI. Pada
tanggal 9 Februari 2026 dalam rangka
berbenah, BEI memanggil satu sekuritas
Bursa Efek Indonesia terkait analisa
mereka yang mengatakan suatu saham yang
barusan IPO di bulan Desember 2025 pada
waktu itu langsung melonjak 5.078%
pasca IPO. di mana analis sekuritas
sebelumnya pernah menyebutkan bahwa
harga saham berpotensi melonjak 820%
lagi setelah menyentuh harga Rp8.700
per lembarnya. Hal itu didorong oleh
peluang masuknya emiten tersebut, emiten
sarang burung wallet itu ke indeks MSCI
Indonesia kategori big cap. Kemudian
pada tanggal 10 Februari 2026, Foodsi
Russell mengumumkan untuk menunda indeks
review saham Indonesia. Penyedia indeks
saham global Foodsi Russell memutuskan
menunda pelaksanaan indeks review
Indonesia yang semula dijadwalkan pada
Maret 2026. Penan dilakukan seiring
dengan proses reformasi pasar modal yang
tengah berjalan di Indonesia.
Berdasarkan masukan dari external
advisory committees Foodsi Russell,
terdapat potensi peningkatan turnover
serta ketidakpastian dalam penentuan
persentase free float saham di tengah
implementasi rencana reformasi pasar
modal Indonesia. Atas dasar itu, Foodsi
Russell memutuskan untuk menunda indeks
review Maret 2026 sesuai dengan aturan
exceptional market disruption dalam
kebijakan indeksnya. Futs Russell
menyatakan akan terus memantau
perkembangan implementasi reformasi
pasar modal Indonesia. Pembaruan
selanjutnya akan disampaikan menjelang
pengumuman FUTS Global Equity Index
Series atau GIS untuk kuartalan Juni
2026 yang dijadwalkan pada Jumat, 22 Mei
2026. Oke, saat ini ada narasi yang
mengatakan Indonesia diserang alias
dikeroyok ramai-ramai oleh lembaga riset
penyedia indeks dan lembaga pemeringkat
global. Ada MSCI, ada Goldman Sex, ada
UBS, ada Moodies, ada Futs Russell.
Kenapa kok pada keroyokan nyerang
bareng-bareng katanya gitu? Kemudian di
YouTube channel Akela ini ada yang nanya
begini, "Koach, ngomong-ngomong teori
konspirasi kemarin pas bahas MSCI eh ada
influencer saham cukup terkenal juga
menduga yang MSI lakukan ada behind the
hand, teori konspirasi. Bahkan ada
influencer yang menduga juga bahwa Black
Rock belum kejatah saham blue chip bank
plat merah Konoha. Makanya MSCI begitu
biar Black Rock bisa nyerok. Oke,
berarti pertanyaannya satu, MSCI sengaja
menyerang Bursa Efek Indonesia karena
Black Rock belum kebagian jatah saham
Blue chip Bank Plat Merah Indonesia
sehingga MSCI sengaja bikin IHSG crash
supaya Black Rock dapat kesempatan
nyerok gitu kan ya. Yang kedua dalam
kaitannya dengan yang pertama ada lagi
narasi yang mengatakan bahwa pemilik
MSCI dan pemilik The Fed itu sama yakni
Vanguard, Black Rock, State Street. Di
mana pemilik Vanguard, Black Rock dan
State Street adalah para elit global
termasuk mungkin yang dimaksud adalah
Rosil Family walaupun tidak disebutkan
ini Rosil Family. Baik, dalam video ini
ayo kita bahas satu-satu ya. Dalam semua
dugaan akan tindakan jahat, pertanyaan
paling mendasar selalu adalah niat jahat
alias mens rea motif di balik tindakan
jahat tersebut. Dalam hal ini sudah
dijelaskan bahwa dugaan mensrea MSCI
adalah karena Black Rock belum kebagian
jatah bank-bank plat merah Konoha. By
the way, yang dimaksud Konoha ini
maksudnya Indonesia ya. Ini perlu jelas
dulu nih. Karena kan yang kita bicarakan
ini konteksnya potensi downgrade MSCI
terhadap saham-saham Indonesia. Oke,
pertanyaannya apakah benar data
menunjukkan bahwa Black Rock belum
kebagian jatah saham-saham Bank Plat
Merah Indonesia seperti BBRI, BMRI,
BBNI, BBTN, dan Kendati Bank Swasta.
Saya rasa BBCA juga perlu dimasukkan
juga. Nah, kalau ini sih ngeceknya itu
super duper gampang.
Sebelumnya saya jelaskan dulu Black Rock
ini. Black Rock adalah perusahaan
manajemen aset atau aset manajemen asal
Amerika Serikat yang berdiri pada
tanggal 1 Mei 1998.
Awalnya merupakan anak perusahaan dari
The Blackstone Group. Kemudian pada
tahun 1994 spin off dan berdiri sebagai
perusahaan aset management manajemen
investasi yang independen. Black Rock
mengelola dana investasi triliunan dolar
atas nama klien mereka seperti dana
pensiun ee reksadana dan institusi
keuangan. Mereka bukanlah pemilik uang
tersebut. saya garis bawahi mereka bukan
pemilik dana tersebut melainkan mereka
adalah pengelola yang menginvestasikan
dana klien mereka ke saham obligasi dan
ETF seperti
Black Rock adalah perusahaan publik yang
sahamnya diperdagangkan di New York
Shock Exchange dengan tiker BLK dalam
video sebelumnya berjudul MSCI
membongkar borok IHSG ilusi likuiditas.
Saya sudah menjelaskan bahwa setahun
setelah krisis Suprem Mortgage 2008,
Black Rock melalui divisi Ishares
meluncurkan sebuah ETF saham Indonesia
yaitu Ishares MSCI Indonesia ETF
tikernya Eido. ETF ini dirancang untuk
melacak atau tracking kinerja MSCI
Indonesia Index dengan membeli
saham-saham Indonesia sesuai dengan
komposisi dan bobot yang ditentukan oleh
MSCI. Artinya
Eido tidak memilih saham secara aktif
melainkan dia mengikuti struktur indeks
MSCI secara pasif. Copy paste. plek
ketiplek. Dengan demikian apabila
terjadi perubahan komposisi atau bobot
dalam MSCI Indonesia Index, maka Edo
akan menyesuaikan portofolionya secara
otomatis sesuai indeks tersebut. Karena
itu jika disebutkan bahwa Black Rock
tidak kebagian saham bank plat merah
Indonesia, maka berarti di dalam MSCI
Indonesia Index juga tidak ada bank-bank
plat merah Indonesia. Karena isi MSCI
Indonesia index itu 100% copy paste sama
plek ketiplek dengan isi portfolionya
Edo. Jadi yang benar yang mana nih? si
influencer yang benar Black Rock tidak
kebagian saham Himbara atau data saya
dalam video sebelumnya yang salah bahwa
ternyata isi portfolio Black Rock Isares
MSI Indonesia ETF alias ADO
ternyata tidak plek ketiplek dengan MSCI
Indonesia Index. Black Rock ternyata
memang enggak kebagian saham Bank
Himbara. Oke. Menurut sahabat Akela,
gimana? Anda lebih percaya omongan
narasi atau seperti prinsip saya yang
selalu saya tekankan di channel ini,
jangan pernah dengarin narasi
apalagi yang disuarakan influencer di
sosm. Tapi periksa data langsung ke
sumbernya.
Tulis di kolom komentar ya. Anda pilih
opsi satu percaya narasi influencer atau
Anda cari data ke sumbernya langsung.
Ketik di kolom komentar. Nah, gimana
cara cari datanya? Oke, step satu.
Silakan buka browser internet Anda dan
masuk ke website resmi BlackRock
www.blackrock.com/us/individual/products
blackrock.com/us/individual/products
dan cari isares MSCI Indonesia ETF.
Alamat website lengkapnya ada di bawah
sini. Linknya juga saya berikan di
deskripsi atau Anda juga bisa googling
dengan keywords Black Rock Aido.
Step two. Di halaman depan muncul
tampilan seperti ini. Dan untuk lihat
isi jeroannya Eido, klik holdings.
Step three muncul tampilan kayak gini.
Dan supaya gampang, Anda klik ticker
biar urut abjat. Jadi lebih gampang
nyarinya.
Step 4, klik page two, page 2, maka Anda
akan ketemu ada BBCA, ada BBNI, ada
BBRI, ada BBTN, dan ada BMRI juga. Oke,
mau bukti lagi gini.
Sekarang di bagian paling atas klik F
sheet dan buka PDF-nya. Anda kalau ujian
WPPE, maka itu nanti pasti akan disuruh
baca FIT, maka akan tampil seperti ini
contohnya. Langsung scroll down, maka
Anda akan temukan top holdings atau
komposisi terbesar portfolio Edo itu
isinya apa aja. Maka Anda akan lihat top
holdings-nya Edo ada BBCA, ada BBRI,
BMRI, dan BNI. Bukan hanya ada, tapi
malah komposisi terbesarnya adalah
isinya Bang Himbara. Sebelum ada yang
nanya, "Bang, ini website saya coba buka
kok keluarnya internet positif khusus
bagi yang enggak bisa akses website
resmi Black Rock karena internet
positif, maka silakan masuk ke website
Yahoo Finance. Linknya juga saya berikan
di deskripsi, enggak usah khawatir. Pada
kotak pencari masukkan tiker
dan Anda akan dapatkan tampilan seperti
ini.
Lagi-lagi klik holdings, maka Anda akan
temukan tampilan yang sama persis. Jadi
terbukti bahwa komposisi terbesarnya Edo
yang punyanya Black Rock itu tadi
itu justru Bang Himbara. Nah, jadi mau
dengerin narasi teori konspirasi atau
mau berdasarkan data dan fakta solum
sekundum data veritas hanya berdasarkan
data dan fakta. Teori konspirasi itu,
sahabat Akela, itu isinya emosional.
Itu efektif untuk bikin Anda emosi. Yang
nonton ni jadi emosional karena itu
cepat viral. Sebaliknya menggali data
dan fakta itu rasional, enggak pakai
emosi. Karena itu dia pelan.
Anda tahu enggak musuh terbesar trader
maupun investor adalah apa? Jawabnya
adalah emosi kita sendiri. Oleh sebab
itu, untuk kesekian kalinya saya bilang
jangan kecanduan teori konspirasi. Itu
tidak bikin Anda tambah pintar. Justru
itu membuat rasio Anda tertutup oleh
emosi. Anda tidak lagi mengandalkan
logika.
Lantas kalau bukan black rock, ngapain
tuh MSCI? Kok downgrade downgrade saham
Indonesia? Bikin investor global jadi
panic selling dan crash dong nih market
jadinya. Kalau bukan niat ngancurin buat
apa coba? Oke, sampai saat ini saya
kasih Anda dua pilihan. Anda mau calm
down and start learning how to use your
logic atau anda mau get emotion and
become illogical. Anda tahu enggak MSCI,
Goldman Sex, Foodsi Russell, SNP, Moodis
and Fech? Ini sebenarnya mereka nih
bisnisnya apa sih? Mereka ini enggak
kelola dana, mereka bukan investor,
enggak invest, tapi kerjanya riset,
melulu. Terus mereka dapat duitnya dari
mana dong? Oke, buat ngejelasin bisnis
lembaga riset penyedia indeks dan
lembaga rating, saya kasih Anda analogi.
Misalnya gini, Anda lagi pengin ganti HP
baru dan pengin nyari HP flagship yang
kameranya keren habis deh. Pokoknya ada
pilihan iPhone 17 Pro Max harganya
hampir Rp25 juta atau Samsung S25 Ultra
ini enggak sampai Rp juta dan udah dapat
storage 1 TB lagi. Atau Xiaomi 17 Ultra.
Wah, ini malah harganya paling mahal
Rp28 juta karena pakai kamera Leka. Oke,
pilih yang mana? Biasanya Anda langsung
cek di YouTube mulai dari GajTin
contohnya entar Anda langsung disapa,
"Halo, Guys, David di sini dan
seterusnya dan seterusnya gitu kan. Nah,
atau Anda kunjungi channel Jagat Review
atau reviewer-reviewer lainnya. Di akhir
review mereka biasanya kasih skor five
star out of five, 9.5 out of 10 dan
seterusnya dan seterusnya. Dari situ
Anda bisa mengambil keputusan yang tepat
sebelum membeli.
Nah, pertanyaan saya, bagaimana kalau
Anda ini adalah seorang fan manager yang
bekerja di sebuah perusahaan aset
management? Anda ditugasi bos Anda untuk
memutuskan porsi investasi di
saham-saham berbagai sektor di berbagai
negara. Bagaimana kalau bukan saham
melainkan surat utang negara atau
obligasi pemerintah?
Kira-kira nih Anda bakal butuh
legitimasi,
Anda bakal butuh review enggak? Nah,
ketika divisi ISAAR Black Rock
meluncurkan EDO, mereka memutuskan
komposisi saham mereka harus plek
ketiplek dengan MSCI Indonesia Index.
Dan untuk itu Black Rock membayar biaya
lisensi kepada MSCI.
Karena itu menggunakan indeks MSCI
Indonesia sebagai benchmark, maka
otomatis Black Rock memang selayaknya
dan sepantasnya bayar fee lisensi indeks
kepada MSCI agar boleh menggunakan nama
dan data indeks MSCI dalam produk
ETF-nya.
Struktur ini umum di industri ETF. Lazim
manajer investasi membayar pemilih
indeks untuk boleh memakai indeksnya
dalam ETF mereka. Nah, itu tadi MSCI.
Kalau mudis gimana? Mereka kan melakukan
penilaian terhadap peringkat surat utang
negara.
Kalau David Gazetin itu pakai skor 10
out of 10, 4.5 out of 5. Kalau moodis
itu kasih rating seperti triple A,
double A plus, baa 1, baa2, baa 3 dan
seterusnya dan seterusnya. Gadgetin
dibayar sama YouTube atau mungkin juga
ada produsen yang minta gadgetin
nge-review ya. Nah, pertanyaannya kalau
moodis corps mereka ini dibayar oleh
siapa? Jawabannya dalam model industri
rating global pihak yang dinilai oleh
mudhis yakni penerbit obligasi merekalah
yang membayar biaya jasa pemeringkatan.
Untuk soverein, soverein bonds itu
berarti pemerintah negara yang
menerbitkan surat utang termasuk
Indonesia yang bayar
kepada jasa pemeringkatan. Kaget ya?
Wah, sudah bayar kok malah bisa
di-downgrade. Pemerintah kita berarti
dikadalin dong.
Enggak. Ve yang dibayarkan kepada moodis
investor service adalah biaya jasa
analisis dan pemantauan kredit bukan
biaya untuk membeli hasil rating.
Jadi
jika ada yang bilang
Indonesia diserang oleh MSCI dan Mudis,
masuk akal enggak sih pemerintah kita
bayar fee ke Mudish untuk menyerang
dirinya sendiri? Aneh ya? Nah, kenapa
bisa terjadi begitu? Analogi
sederhananya tuh begini. Gini, misalkan
ada di antara Anda yang pengin jadi
pilot dan sebagai salah satu
persyaratannya, Anda mesti medical check
up. Nah, pertanyaan saya yang bayar
medical check up ke laboratorium siapa?
Anda kan? Tapi kan bukan berarti ketika
sudah bayar terus kemudian Anda bilang
hasilnya harus bagus loh ya. Kalau
kolesterol tinggi lu bikin rendah, bikin
bagus pokoknya hasilnya. Justru kalau
lab tuh bisa dibeli kayak begitu, maka
reputasinya hancur. Besok pagi itu
enggak ada yang mau ke lab itu lagi.
Begitu juga dengan lembaga rating. Aset
utama mereka itu adalah kredibilitas.
Kalau rating bisa disesuaikan karena
tekanan atau pembayaran, investor global
akan mengabaikannya dan bisnis mereka
selesai. Clar.
Lalu pertanyaan berikutnya, kalau
ujung-ujungnya bisa di-downgrade,
ngapain pemerintah Indonesia tetap bayar
dan pakai mood? Kenapa kok enggak
analisa sendiri aja dan keluarkan rating
sendiri?
Karena rating sovereign itu bukan untuk
pemerintahnya sendiri. Pemerintah bayar
itu bukan untuk dirinya sendiri, tapi
rating itu untuk menunjukkan kepada
investor global
banyak dana pensiun, soverein well fund,
dan aset manager dunia hanya boleh
membeli obligasi dengan rating minimum
tertentu. Dengan kata lain, investment
grade tanpa rating dari lembaga
internasional seperti moodis, SNP atau
FIT, maka akses ke pasar obligasi global
itu bisa menyempit atau bahkan hilang
sama sekali. Dan biaya utang atau
bunganya ini bisa jadi jauh lebih mahal.
Jadi rating itu adalah rapor untuk
ditunjukkan kepada investor global
sekaligus paspor untuk masuk ke pasar
modal global. Dan downgrade itu bukan
hukuman, itu sinyal risiko yang dinilai
meningkat. Samalah kayak begini, Anda
habis ke lab terus kemudian keluar hasil
medical checkup itu keluar tanda
bintangnya banyak. Artinya apa?
risiko kesehatan, risiko medis itu
meningkat, kita mesti segera merubah
lifestyle kita. Oh, sekarang makannya
mesti diatur, enggak boleh sembarangan.
Kemudian, exercise regularly, harus
olahraga yang teratur tiap hari. Mesti
ada aerobik, mesti ada kardio, mesti ada
latihan beban dan sebagainya dan
sebagainya. Di dunia sovereign credit
kita mengenal tiga besar, yakni ada
Moodis, SNP, and FIT. Dan secara praktik
pada umumnya pemerintah yang menerbitkan
obligasi internasional termasuk
pemerintah Indonesia itulah yang
membayar biaya pemeringkatan kepada
masing-masing lembaga rating yang mereka
gunakan termasuk moodist investor
service, SNP Global Ratings, dan FIT
Ratings. Kemudian ada narasi begini.
Presiden Donald Trump, Presiden Amerika,
negara super power, negara nuklir tidak
bisa kendalikan The FE. The FET ini
milik siapa? Semua pemilik The FET itu
dimiliki oleh State Street, Vanguard,
dan Black Rock. di mana State Street
Funcard Black Rock dimiliki oleh para
elite global termasuk Roshield,
Illuminati, Freemations.
Saya sudah jelaskan perihal ini mulai
dari awal channel ini berdiri. Makanya
supaya enggak tersesat begini, pastikan
diri Anda sudah subscribe di channel
Akela. Bagi yang belum, klik tombol
subscribe, like, dan kalau sudah share
ke para influencer yang suka nyebarin
penyesatan-penyesatan kayak gini.
Kasihan kan? Biar mereka tuh bisa
sedikit tercerahkan gitu loh. Jangan
sesaat aja terus. Jangan lupa ingatin
mereka supaya aktifkan tombol alert-nya
juga biar YouTube ngasih notifikasi
setiap kali Akela mengunggah video-video
baru. Oke, satu-satu. Trump tidak bisa
kendalikan def karena memang sudah ada
undang-undangnya sejak lama begitu. Nama
undang-undangnya adalah Federal Reserve
Actun 1913.
Detailnya sudah saya jelaskan dalam
video berjudul membongkar Dark Secret
the Fat Elite Global. Silakan disimak.
By the way, jangankan kendalikan The
Fat, coba suruh Trump kendalikan SNP
mood and fit bisa enggak? Enggak bisa
kan? Buktinya apa? Pada bulan Mei 2025
kredit rating Amerika itu juga
diowngrade dan Trump ngamuk-ngamuk
gara-gara downgrade. Tapi emangnya dia
bisa apa? Nah, mengenai siapa elit
global pemilik State Street, Fang
Guardard, dan Black Rock ini juga sudah
pernah saya jelaskan dalam video
berjudul Mereka Memiliki Segalanya.
Silakan disimak ya, linknya saya berikan
di deskripsi juga. Nah, sahabat Akela
yang saya kasihi, semoga video ini mampu
menjernihkan pikiran Anda dari
sampah-sampah internet seperti teori
konspirasi, hoa yang diluncurkan para
influencer dan khusus bagi subscribers
channel ini, saya juga punya berita baik
buat Anda khususnya yang ingin
konsultasi mengenai trading ataupun
investasinya, baik itu di saham-saham
Bursa Efek Indonesia, saham-saham Bursa
Amerika, berbagai komoditas seperti
gold, crude oil ataupun forex sehingga
Bitcoin dan aset crypto lainnya. Silakan
join Akela live streaming setiap Kamis
petang pukul 19.30 WIB. Dalam acara ini
saya Harisanda beserta Bapak Hendra
Martono Lim, pencipta timu quantitative
Trading System yang kami pakai di Akela.
Kami akan hadir untuk melayani Anda.
Semoga bermanfaat semuanya. Sukses
selalu dan sampai jumpa pada video-video
yang akan datang.
Resume
Read
file updated 2026-02-14 19:40:08 UTC
Categories
Manage