Kota-kota di atas laut: Apakah kita nantinya akan bermukim di atas air | DW Dokumenter
hvwUVjmP-jc • 2026-02-06
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Tidak ada gunanya melawan laut. Kita justru harus bekerja sama dengannya. Masalah perubahan iklim sejalan dengan kenaikan permukaan laut. Di masa depan, 75% populasi manusia mungkin akan tinggal di sepanjang pantai. Saat ini, atol dan pulau di berbagai belahan dunia, seperti di Maladewa dan Polinesia, sudah terendam banjir hanya karena badai kecil. Bahkan di tempat yang biasanya tidak banjir, kini semakin sering kebanjiran. Lihat, Badai Sandy tahun 2012 yang menghantam kota New York. Pusat Manhattan banjir selama berminggu-minggu. Di UN-Habitat, kami meneliti semua solusi yang dapat mengatasi perubahan iklim. Dan kota terapung bisa menjadi salah satu solusi inovatif yang menjanjikan. Kenaikan permukaan laut semakin mengancam. Kita harus mencari tempat baru yang aman. Jika kota Anda terancam oleh air, maka tempat terbaik adalah di atas air, karena dengan begitu Anda dapat bergerak mengikuti fluktuasi air. Teknologinya sudah siap, biayanya lebih rendah. Kami mungkin pelopor dalam membangun struktur semacam ini dengan kondisi yang sudah siap dan ramah lingkungan. Saat ini, arsitek, perencana kota dan insinyur mengerjakan "revolusi biru". Mereka menganggapnya sebagai langkah revolusioner dalam perkembangan kehidupan manusia. Mungkinkah pembangunan habitat terapung menjadi solusi atas naiknya permukaan laut? Atau apakah kota terapung sekadar eksperimen miliarder teknologi yang mencari otonomi lebih besar? Saya sudah tinggal di rumah perahu ini selama 40 tahun. Saya sangat bahagia tinggal di atas air, karena ibarat hidup di dunia yang berbeda. Setelah saya bekerja bersama Cousteau di Kapal Calypso, saya sudah membangun beberapa rumah bawah air. Salah satunya bernama Galathée di Jepang. Ada juga Hippocampe yang dibangun bersama COMEX, sebuah perusahaan teknik bawah air, dan saya pernah tinggal di situ. Saya merasa bahagia. Hidup di atas air menjadi semakin menarik. Gagasan mengenai kota terapung bukanlah hal baru, melainkan gagasan tentang kotanya lah yang mungkin baru. Tapi konsep desa terapung, sudah ada. Ini soal skala. Berbagai suku di seluruh dunia telah meninggalkan daratan karena alasan budaya dan militer, seperti Suku Bajau. Suku Urus di Danau Titicaca hidup di wilayah yang ditumbuhi rumput air. Mereka menggunakan material lokal itu untuk membangun pulau terapung, di mana mereka membangun rumah. Mereka tidak ingin tinggal di tempat lain. Mereka menemukan cara hidup yang sesuai dengan budaya mereka dan sepenuhnya beradaptasi dengan wilayah perairan. Namun, apakah masyarakat luas siap untuk hidup di atas air? Menurut Jacques Rougerie, kini orang sudah lebih terbuka terhadap konsep ini dibanding dulu. Hubungan kita dengan laut sepenuhnya sudah berubah. Seabad yang lalu, tidak ada yang kepikiran untuk berenang, tapi sekarang antusiasme terhadap laut semakin tinggi. Saat kita memandang cakrawala, apa yang terjadi di sana, di kejauhan? Daya pikat laut selalu ada. Di sisi lain, ada juga rasa takut terhadap monster laut yang akan melahap manusia dan kapal. Dulu pelaut yang jatuh ke laut dianggap mati. Tidak ada yang mencoba menyelamatkannya. Dalam buku berjudul 20.000 Leagues Under the Sea, Jules Verne meramalkan bahwa masa depan manusia dalam 500 atau 1.000 tahun lagi ada di laut. Tapi, hanya 60 tahun kemudian, Jacques Cousteau muncul dengan kapal selam otonomnya. Dia membuat film-film fantastis yang menunjukkan bahwa ada musim di bawah laut. Perspektif kita berubah. Pada tahun 2050, 75% orang akan ingin tinggal di dekat air. Mereka ingin menyelam dan berselancar. Jadi ini seperti kembali ke akar kita. Pada tahun 1960-an, arsitek visioner Buckminster Fuller merancang Triton City, sebuah kota terapung yang dapat menampung hingga 100.000 penduduk. Bucky dianggap sebagai Leonardo da Vinci abad ke-20 pada tahun 1940-an. Dia dipandang sebagai sosok yang serba bisa. Dia terkenal karena desain kubah geodesiknya. Dia merancang mobil dan berbagai macam tempat tinggal. Bucky adalah sosok yang visioner. Dia mengantisipasi kerusakan bumi dan begitu banyak hal yang kita anggap remeh saat ini. Menurutnya, kita memiliki begitu banyak lahan di luar sana untuk mengembangkan jenis bangunan. Semuanya tentang modularitas. Dimulai dengan lingkungan perumahan untuk sekitar 5.000 orang, kemudian berkembang menjadi kota kecil, yang berkembang lagi menjadi sebuah kota besar ketika semuanya terkoneksi. Konsep Triton City adalah gagasan bahwa sebuah kota, sebuah komunitas, dapat bersifat otonom. Kota itu dapat mengolah airnya sendiri, limbahnya sendiri dan menghasilkan energinya sendiri. Dengan kata lain, kota itu dapat menjadi mandiri. Triton City rencananya ditenagai oleh tenaga nuklir. Panas yang dihasilkan dapat membantu proses desalinasi air dan semua jenis teknologi terbarukan. Tidak ada yang menyangka, pelopor gerakan ekologi mempertimbangkan tenaga nuklir sebagai opsi pada saat itu, tapi kombinasi energi alternatiflah yang menggerakkan kota ini. Tenaga angin, tenaga surya, bahkan tenaga pasang surut. Dan menurut Fuller, laut tidak dimanfaatkan. Menurut saya, alasan Triton City tidak dibangun adalah karena biayanya terlalu mahal. Jadi mereka sudah melakukan studi kelayakan, tapi materialnya belum siap untuk digunakan. Dulu dia tidak memiliki material yang kita miliki sekarang. Kini gagasan kota terapung kembali muncul. Bagaimana cara kerjanya? Seperti apa kehidupan di sana? Bisakah kota terapung menjadi solusi untuk tantangan perubahan iklim? Insinyur, peneliti, dan pendiri Blue Revolution Foundation, Rutger de Graaf, menjadi penasihat pemerintah daerah dan pusat. Bagi kami, “revolusi biru” adalah perubahan besar berikutnya bagi umat manusia, di mana sebagian besar manusia akan hidup di atas air, dengan cara yang berkelanjutan, ramah lingkungan dan selaras dengan alam. Menurut saya, sedang ada momentum besar untuk kota dan arsitektur terapung. Ketika para insinyur di Belanda memulainya 17 tahun yang lalu, orang-orang menganggap kami tidak waras. Beberapa kilometer dari sini, arsitek ternama dunia dan pelopor “revolusi biru”, Koen Olthuis, telah mendalami konsep kota terapung selama puluhan tahun. Saya ibaratnya seorang dokter untuk kota. Saya melihat kota sebagai pasien dan air adalah obatnya. Selama dua puluh tahun terakhir, kami sudah mengerjakan tiga proyek. Salah satunya vila terapung di Miami yang bisa terangkat keluar dari air. Kami juga memiliki proyek di India untuk warga miskin di zona banjir. Ada juga teater di Lyon. Jika dilihat, kota-kota saat ini cukup statis dan cara terbaik untuk mengembangkannya adalah dengan memanfaatkan ruang air di kota karena itu luas, aman dan fleksibel. Jika Anda tinggal di kota, mungkin Anda berpikir kota itu selalu sama. Tapi sebenarnya tidak, karena sebuah kota mengalami evolusi melalui serangkaian inovasi teknologi yang mengubah fungsinya. Contohnya listrik. Tadinya kota-kota gelap kemudian menjadi terang, sehingga kehidupan bisa tetap berjalan di malam hari. Kita juga memiliki mobil yang mengubah cara kita membangun kota dan di mana kita membangunnya. Tidak hanya di pusat kota, kini kita bisa membangun kota 15-25 kilometer ke wilayah pinggiran. Kemudian kita memiliki gedung-gedung tinggi. Kini kita membangun kota pintar. Ini sebenarnya tentang data, mengetahui keberadaan orang, bagaimana mereka memengaruhi penggunaan energi dan air. Menurut saya, kita berada di awal era “kota biru”, kota-kota yang mulai berada di atas air. Keuntungan pertama adalah tidak perlu lagi membangun rumah di lokasi tinggal. Anda dapat membangunnya lebih dulu, lalu dikirim dan dibawa ke area kota. Tidak ada lagi waktu konstruksi yang mengganggu di kota. Keuntungan kedua adalah seiring waktu, Anda bisa memindahkannya. Pikirkan tentang kota musiman. Menurut kami, kota dan lingkungan terapung bisa dibuka di musim panas, di mana areanya luas dan banyak perahu. Kemudian saat musim dingin, semua bangunan bisa didekatkan, mempersingkat akses dan membuatnya lebih hangat. Proyek kota terapung yang ada sekarang cukup mahal dan orang khawatir itu akan hanya untuk orang kaya. Saya sering membandingkannya dengan ponsel. Pada tahun ‘90-an, hanya ada sedikit orang yang mampu beli ponsel, yang ukurannya sangat besar! Saat itu, ponsel hanya untuk orang kaya, tapi pembelian mereka diinvestasikan untuk membuat ponsel lebih murah dan kini hampir semua orang punya ponsel. Asrama mahasiswa terapung pertama sudah berdiri di Kopenhagen. Ini seharga apartemen dua atau tiga kamar di Kopenhagen, tapi ini hanya satu kamar. Di situlah perbedaannya. Di sini lebih mudah bertemu orang, dan menurut saya, itu karena sejak awal tempat ini diiklankan sebagai tempat untuk bertemu orang. Saya juga tidak menyangka akan senyaman ini. Areanya kecil, sehingga kamu tidak butuh banyak energi untuk memanaskan ruangan, tapi kamu juga perlu berbagi dengan tetangga. Kami banyak menghabiskan waktu di sofa ini. Kami juga banyak berfoto di sini. Saya yakin wajah kami sudah ada di beberapa kartu pos dari Kopenhagen karena banyak orang di perahu melihat rumah kami dan mereka mengambil foto. Terkadang rasanya seperti berada di kebun binatang. Tapi itulah kekurangannya tinggal di tempat unik ini. Sekarang lampunya terlihat bergerak. Sempat ada badai musim gugur lalu, bikin lampu jadi bergerak terus. Kami juga menerima peringatan dari pengelola jika ada kemungkinan badai. Sungguh menyenangkan melihat apa yang terjadi dan merasakan alam. Rasanya seperti badai petir, tapi terasa nyaman. Anda lebih merasakan angin dan ombak di atap daripada di sini. Di sini selalu tenang, jadi kami selalu ke sini kalau kami mabuk laut. Urban Rigger adalah sebuah lingkungan kecil, yang terdiri dari 72 rumah, di dermaga seberang Pelabuhan Kopenhagen. Kawasan ini telah menunggu rencana induk perkotaannya selama puluhan tahun. Sering kali, ada jeda waktu 10, 20 atau 30 tahun. Dan tak satu pihak pun bisa melakukan apa pun secara permanen, karena tidak tahu apa yang terjadi. Pada situasi seperti ini, maka ada armada hunian yang dapat dipindahkan, yang menempati area kosong itu selama puluhan tahun. Dan ketika rencana induk itu akhirnya disetujui, armada ini dapat berpindah ke tempat lain. Jadi, Urban Rigger selalu mencari waktu dan tempat yang kurang dimanfaatkan dan dapat dihidupkan kembali. Pengembangan bangunan terapung cukup kecil. Bahkan di Belanda, lingkungannya hanya terdiri dari 50 hingga 100 rumah. Tetapi nantinya harus berkembang menjadi kota yang lengkap. Dan proyek kota pertama kami yang telah disetujui dan telah dimulai ada di Maladewa. Maladewa adalah kumpulan pulau di tengah Samudra Hindia, hanya 1,5 meter di atas permukaan laut. Jadi, Maladewa terancam oleh kenaikan permukaan laut. Terutama di ibu kota, Malé, di mana 250.000 orang tinggal di lokasi seluas 2 km². Dan mereka tidak bisa memperluas kota. Menurut saya, kota terapung sangat cocok karena Anda dapat membangun di atas air, memiliki ruang lebih luas, dan aman dari kondisi cuaca ekstrem apa pun. Ada komunitas yang terbuka terhadap solusi ini karena mereka sudah hidup bersama air selama ratusan tahun. Kami telah membangun blok fondasi pertama di air yang ada rumah terapungnya. Untuk membangun seluruh kota, kami perlu kira-kira 1.100 blok lagi. Tiga model bangunan telah dibangun sepanjang pantai Malé. Orang sudah bisa datang untuk melihat contoh rumah. Ketika selesai dibangun, kota ini direncanakan dapat menampung hingga 20.000 orang. Ini adalah rumah dua lantai, ada dapur dan ruang tamu. Ruang tamu ini memiliki akses ke laut lepas. Biasanya di Laguna Maladewa, lautnya tenang. Namun, laguna ini luasnya 200 hektare, jadi ada kemungkinan mengalami ombak panjang. Ketika kami menempatkan pulau-pulau ini, kami menghitung dan mengukur lokasi untuk mencegahnya terkena ombak panjang. Semua platform ini saling terhubung dan mengapung, sehingga saat pasang surut, seluruh platform akan ikut naik turun. Dalam merancang rencana induk untuk kota terapung, lokasinya harus dipertimbangkan dengan baik. Pertama, Anda harus memetakan semua koral di lokasi pembangunan. Kemudian, Anda harus memastikan bahwa pembangunan bukan hanya tidak memiliki dampak negatif, tapi bagaimana agar ada efek positif juga. Dalam berinovasi untuk kota terapung, air menghasilkan energi sendiri. Yang kami lakukan di Maladewa adalah memompa air atol dari kedalaman 700 meter, yang suhunya sekitar 5 sampai 7°C, untuk sistem pendingin udara kota. Kota terapung dirancang untuk beradaptasi dengan naiknya permukaan air laut. Namun, dapatkah kota ini menghadapi kondisi yang lebih ekstrem? Kekhawatiran tentang kota terapung adalah keamanannya. Saya juga mengkhawatirkan hal itu. Bagaimana jika terjadi tsunami? Saya sendiri menjadi saksi tsunami tahun 2004. Awalnya kami tidak menyadari apa pun karena kami berada di atas kapal. Kemudian, garis air di Malé menjadi sangat tinggi. Dan Malé terlihat seperti dikelilingi air terjun. Saat air surut, saya menyadari ada sesuatu yang salah. Kemudian, saat air kembali naik, saya melihat kapal-kapal yang tadinya di pelabuhan berpindah ke jalanan. Ketika merancang kota terapung, kami memperhitungkan semua kondisi cuaca ekstrem. Kami tahu jenis tsunami apa yang pernah melanda daerah ini, fluktuasi apa yang dapat terjadi dan seberapa tinggi air dalam seratus tahun. Semua informasi itu dimasukkan ke dalam model besar. Bersama para insinyur, kami dapat menghitung seberapa besar platform kota nantinya, seberapa cepat kota harus bergerak naik turun, dan jenis sistem jangkar apa yang dibutuhkan agar kota tidak hanyut dan bergeser. Jadi ini lebih dari sekadar arsitektur. Kota terapung di Maladewa terletak di laguna yang cukup terlindungi. Mungkinkah kota terapung dibangun di laut lepas, dalam kondisi yang lebih ekstrem? The Maritime Research Institute Netherlands mencari jawabannya. Di sini, kami membuat rekayasa skala kecil. Kami bisa membuat angin, ombak dan arus. Kami juga membuat model kecil kota terapung untuk diukur perilaku strukturnya dan apa saja dampak gerakan serta beban akibat gelombang yang datang. Kami menguji kondisi untuk bangunan terapung di Laut Tengah hingga ketinggian gelombang enam meter di kolam ini. Hasilnya, kota terapung di sana bisa diwujudkan. Merancang sistem jangkar di Laut Utara masih rumit karena gelombangnya jauh lebih tinggi daripada di Laut Tengah. Mungkin sekitar 12 meter. Untuk struktur di laut gelombang tinggi, kami akan membuat dek yang tinggi agar air yang masuk ke dek sedikit. Air dapat masuk ke dek, tapi tidak boleh ada orang di sana. Struktur yang dibangun harus mampu menahan beban akibat gelombang. Jika gelombangnya setinggi sepuluh meter, maka struktur penahan gelombang akan memantulkan gelombang hingga dua kali lipat. Dengan demikian, Anda butuh ketinggian dek setidaknya 20 meter agar tidak ada air yang masuk. Kami melakukan percobaan pertama pada tahun 2017 untuk sebuah pulau terapung yang sangat besar dengan semua segitiga yang terhubung ini. Di struktur ini, rumah-rumah akan diletakkan di bagian belakang pulau, di mana pergerakan gelombang lebih sedikit. Menurut saya, dalam situasi ini, sangat penting untuk memikirkan prosedur keselamatan yang harus dilakukan. Prosedur seperti tetap berada di dalam rumah, hingga mungkin mengevakuasi beberapa bagian pulau. Prosedur yang mirip jika ada banjir saat ini. Meskipun pembangunan kota terapung di laut lepas masih dalam tahap uji coba, tiga pulau terapung sudah dibangun di Sungai Han, Korea Selatan, yang terkenal karena sering banjir. Pulau-pulau tersebut dilengkapi teknologi yang secara otomatis dapat menstabilkan bangunan. Ini adalah arsitektur terapung terbesar di atas air yang digunakan untuk kegiatan kebudayaan dan komersial. Terdapat teknologi untuk menstabilkan pulau-pulau ini, seperti kabel di bawah untuk menambatkan ponton-ponton ini ke tepi sungai. Ada juga derek elektronik untuk menaikkan dan menurunkan pulau yang dikendalikan oleh sistem GPS dan sistem permukaan air. Pulau-pulau ini secara otomatis menyesuaikan posisinya ketika terbawa arus. Saat air pasang di musim hujan, sistem ini memastikan posisi pulau agar tetap sejajar dan berada di atas permukaan air. Dalam kondisi normal, pergerakan pulau-pulau ini hanya sekitar satu meter. Saat banjir, pergerakan dan kenaikannya bisa mencapai sepuluh meter. Jadi ini aman. Jika pembangunan pulau terapung dianggap aman dan stabil, apakah ada risiko lingkungan baru jika perluasan kota diarahkan ke lautan? Jika diperhatikan, pelaku industri yang aktif di lautan adalah mereka yang aktif di darat. Banyak aktivitas yang dilakukan di laut memiliki dampak lingkungan yang besar. Kini, manusia punya kesempatan untuk memanfaatkan laut sebagai sumber daya dan mesin pembangunan manusia di masa depan, tapi dengan cara yang berkelanjutan dan adil. Jika tidak, dampaknya akan lebih parah. Konsep kota terapung memiliki tantangan yang besar. Kota terapung akan mengganggu ekosistem yang ada. Misalnya, jika kota terapung menutupi ekosistem laut karena harus ditambatkan ke dasar laut. ini akan menyebabkan perubahan pada substrat laut, ekosistemnya dan terumbu karang. Pulau-pulau terapung ini berpotensi menyebabkan polusi lingkungan dan masalah lain, tergantung dari teknologi yang digunakan. Namun, bagaimana cara kota terapung dapat berfungsi tanpa merusak lingkungan? Apa yang harus dilakukan dengan sampah? Para penggerak “revolusi biru” telah menemukan solusinya. Jika kita membangun kota terapung dengan cara yang sama seperti kota di darat, kita tidak menyelesaikan masalah, malah memperburuknya. Menurut saya, kota di darat dan di air harus bisa saling membantu. Jadi, kita bukan meninggalkan daratan dan tinggal di lautan. Kota-kota di darat menghasilkan CO2 dan nutrisi lain melalui air limbah. Bagi kita sekarang, itu adalah limbah, tapi untuk kota terapung, itu bisa menjadi sumber daya. Di Rotterdam, sebuah kolam renang kosong diubah menjadi pusat bagi perusahaan rintisan yang ingin membangun ekonomi berkelanjutan. Tempat itu bernama BlueCity. Perempuan ini sedang meneliti penggunaan alga. Kami mengembangkan material baru untuk bangunan, yang kami namakan seawood atau kayu laut. Ini adalah material papan mirip kayu yang terbuat dari rumput laut dan limbah pertanian. Material dicampur dengan pigmen, dipindahkan ke dalam cetakan khusus dan kemudian ditekan. Inilah seawood. Material kuat yang terbuat dari serat alami. Di Rotterdam, cara lain untuk memanfaatkan limbah sudah dikembangkan: Pertanian terapung yang memproduksi makanan secara lokal. Kami mencampur makanan sapi-sapi kami dengan sisa-sisa produk dari kota. Di dekat kami, ada pabrik bir yang sisa produksinya diberikan ke sapi. Ada juga toko roti yang memberikan sisa makanannya untuk kami. Di lantai dua, kami membuat susu, yogurt, buttermilk dan juga keju. Singapura, Jepang, Korea Selatan mengimpor lebih dari 90% makanan mereka, dan negara ini dikelilingi air. Pertanian terapung akan sangat bermanfaat bagi negara-negara tersebut agar mereka dapat memproduksi lebih banyak makanan lokal. Distribusi makanan dipersingkat dan kemungkinan bahan pangan yang terbuang juga dapat berkurang. Pertanian ini memang kecil, tapi ya kita perlu mencobanya, dan itulah yang kami lakukan di sini. Di pertanian Rotterdam, makanan diproduksi di atas air di tengah kota. Di Italia, sebuah perusahaan sedang mencoba bertani di bawah laut. Nemo's Garden adalah rumah kaca bawah air pertama. Di sini kami menanam tanaman di bawah air. Kami melakukannya dalam kubah plastik ini. Di dalam kubah, terdapat banyak kelembapan yang secara alami dihasilkan oleh penguapan laut. Ini mengalami proses fisika yang sama seperti hujan, yaitu evaporasi. Meski lambat, proses ini terus berlangsung hingga saat kelembapan cukup tinggi, hujan akan turun karena kelembapan mengembun di awan. Di dalam kubah ini, prosesnya kurang lebih serupa. Airnya segar! Apakah bisa diminum? Bisa, air ini bisa disuling. Lihat, sekarang jadi hujan. Apakah mengandung nutrisi? Kami menambahkan nutrisinya. Dengan cahaya matahari, kami bisa menghasilkan air tawar sendiri. Kami memiliki tekanan udara yang meningkatkan pertumbuhan tanaman dan menyediakan suhu yang stabil. Udara dapat mendingin dan memanas dengan cepat, tapi air butuh waktu lebih lama. Dan ketika memanas, air melepaskan kehangatan secara perlahan. Sangat penting bagi tanaman untuk memiliki suhu yang stabil. Jadi rumah kaca kami tidak membutuhkan pemanas maupun pendingin udara. Kami telah menguji berbagai jenis sayuran dan buah-buahan seperti stroberi dan labu. Hasil yang sukses adalah kacang-kacangan. Di darat, tanah sangat berharga dan langka, tapi kami tidak membutuhkan tanah karena benih dapat tumbuh dengan baik pada media tanam yang berfungsi sebagai penyangga, seperti serat kelapa atau bahan lain yang dapat didaur ulang dari limbah biologis. Plastik yang kami gunakan adalah metakrilat. Ini adalah jenis material yang tidak melepaskan molekul ke dalam air dan kubah ini dapat digunakan kembali selama bertahun-tahun. Kami sadar bahwa produk kami akan lebih mahal dari produk yang ditanam di darat. Semoga alternatif ini akan berkembang hingga nantinya harganya tidak akan terlalu mahal. Jika kita dapat menemukan alternatif pertanian yang berkelanjutan dan menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab, maka itulah solusinya. Tantangan besar lainnya yang dihadapi manusia adalah kelangkaan air minum. Apakah mungkin untuk melakukan desalinasi air laut dalam skala besar dengan cara yang ramah lingkungan? Ide itu muncul saat saya di Korsika. Saat mandi, saya penasaran dari mana air ini berasal. Di sana, saya bisa melihat ombak besar menghantam pantai. Karena itu saya terpikir untuk mengubah air laut menjadi air minum dengan energi dari ombak. Pabrik desalinasi konvensional masih menggunakan listrik yang sebagian besar dihasilkan dari bahan bakar fosil. Listrik tersebut menggerakkan pompa bertekanan tinggi, yang memompa air laut melalui membran yang menyaring garam dan memisahkan air laut dari air minum. Sisa prosesnya dikembalikan ke laut dalam bentuk air garam yang sekitar 2 hingga 1,5 kali lebih asin daripada air laut. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai dampaknya bagi kehidupan laut. Jadi, untuk mengganti bahan bakar fosil sebagai sumber energi, kami menggunakan mekanisme di permukaan air yang ditambatkan ke dasar laut. Sistem ini sepenuhnya bekerja dengan memanfaatkan gelombang, yaitu melalui energi yang dihasilkan dari pergerakan pelampung di laut dan tegangan dari sambungan antara pelampung dan jangkar untuk pompa dan seluruh operasinya. Oleh karena itu, sistem ini sepenuhnya mekanis, seperti pompa sepeda. Air garam yang dihasilkan dari proses ini memiliki konsentrasi lebih rendah dan didistribusikan jauh ke lepas pantai, di mana ada gelombang kuat. Air garam jadi bisa tercampur dengan sangat baik sehingga prosesnya ramah lingkungan. Air tersebut langsung dapat diminum dan setiap unit dapat memasok sekitar 5.000 liter per hari. Sistem ini telah dioperasikan di sebuah kota pesisir di Cili. Namun, penelitian terus berlanjut karena harga air dari sistem ini lebih mahal daripada air minum biasa. Sementara itu, perusahaan bernama OCEANIX bekerja sama dengan PBB untuk membangun kota terapung di Busan, Korea Selatan. Salah satu alasan kami bekerja sama dengan OCEANIX dan Kota Busan adalah karena kami melihat potensi di bidang teknik kelautan dan ekonomi yang sangat kuat. Baik PBB maupun Kota Busan mendukung proyek ini. Tetapi apakah masyarakat umum juga menerima perkembangan ini? Manusia sudah ke bulan dan luar angkasa. Itu sekarang jadi bagian dari sejarah manusia. Saya percaya kita dapat menghadapi tantangan hidup di air atau bahkan di laut. Kota terapung memang menarik, tapi juga membuat saya takut. Konsepnya tidak akan cocok, misalnya, di tempat seperti pantai ini. Menurut saya, selalu ada hambatan dalam arsitektur dan urbanisme. Selalu ada pihak yang pendapatnya perlu dipertimbangkan. Sama halnya di Busan. Namun, menurut saya, setiap kali orang mengunjungi kota terapung, mereka dapat melihat bagaimana kota itu melengkapi kota di darat. Setelah itu, mereka akan menjadi lebih terbuka terhadap konsep ini. Saat membangun kota di daratan, pembangunan akan mengikuti lanskap alam, seperti pembangunan di sepanjang tepi sungai dan jalanan yang mengarah ke tepi laut. Namun, saat membangun kota terapung, pembangunan tidak memiliki arah. Oleh karena itu, kami memikirkan ide platform heksagon yang bisa multiarah. Ruang-ruang ini dapat dimanfaatkan untuk pengelolaan air, penyimpanan energi, penyaringan air dan bahkan pertanian. Memang terdengar seperti fiksi, tetapi salah satu kota terindah di dunia, Venesia, dibangun di atas air, di atas tiang pancang. Awalnya untuk pertahanan, tapi kemudian hal ini menjadi keuntungan. Dan karena itu, OCEANIX menganggap gagasan kota terapung ini seperti meniru kejeniusan teknik dan imajinasi manusia Venesia dulu untuk abad ke-21. Rencananya adalah memulai prototipe kota terapung di Busan, di area pelabuhan yang terlindungi secara alami. Kini OCEANIX ingin mengembangkan kerangka solusi perkotaan yang bisa diterapkan secara luas. Jika kota terapung dapat dibangun dari kerangka yang tersedia, ini berarti kota-kota pribadi dapat dibangun di laut lepas dan di luar kendali pemerintah. Konsep ini memenuhi kebutuhan mereka yang menginginkan otonomi lebih besar. Seasteading adalah konsep utopis dan libertarian baru. Proyek ini mengedepankan konsep hidup bebas di perairan. Tujuan utamanya adalah kebebasan total. Walaupun menarik, jika dipikir kembali, kebebasan ini ditujukan untuk orang-orang kaya dan mereka yang memiliki ideologi kapitalis libertarian. Ini untuk orang tertentu dan bukan untuk umum. Ini adalah visi yang memuaskan hanya segelintir orang. Dalam jarak 200 mil laut dari pantai, pemerintah masih memiliki wewenang. Tapi di luar itu, ada laut lepas yang tidak dikuasai negara. Di sana, Anda bebas dari polisi maupun militer mana pun. Anda memiliki otonomi penuh. Dan itulah yang diinginkan pengikut seasteading. Mereka menginginkan kebebasan untuk memulai masyarakat mereka sendiri, sesuai dengan aturan mereka sendiri. Badai di laut lepas sangat dahsyat. Tinggi gelombang bisa sangat luar biasa. Tidak ada struktur yang kuat melawannya. Jadi, konsep itu harus dibawa ke perairan yang lebih tenang. Dan itulah mengapa mereka mencoba membangun hubungan dengan berbagai negara. Mereka harus dekat dengan wilayah suatu negara agar mereka mendapat perairan yang tenang dan dangkal. Jadi bangunan mereka dapat bertahan lebih lama. Perairan yang tenang. Itulah yang dicari oleh Seasteading Institute di laguna Polinesia Prancis pada tahun 2017. Bagi kelompok dari Silicon Valley, tempat itu ideal untuk membangun permukiman terapung: Bebas dari aturan, tetapi dekat dengan suatu negara. Kami terlibat dalam proyek pulau terapung untuk Polinesia Prancis. Sebuah proyek yang sangat menarik karena tidak berdampak buruk pada lingkungan dan sistemnya mandiri. Sayangnya, proyek itu tidak terwujud karena tidak didukung masyarakat setempat. Bagi yang mendukung, proyek ini dianggap sebagai respons terhadap naiknya permukaan laut dan peluang mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, bagi yang menentang, proyek ini dianggap sebagai kesempatan bagi investor asing untuk memenuhi kepentingan mereka sendiri. Lihat betapa damainya tempat ini dan mereka ingin merusaknya dengan pulau-pulau terapung. Kami tidak punya apa-apa lagi. Semuanya akan tercemar setelah itu. Setiap pagi kami datang ke sini untuk memancing. Kami punya tradisi. Dan sekarang mereka ingin merampas itu? Sulit dipercaya. Kami hanya mendengar kalau perahu tidak diizinkan berlayar dalam radius tertentu. Mereka bahkan tidak tunduk pada undang-undang ketenagakerjaan kami. Lalu siapa yang akan bekerja di sini dan menikmati keindahan laguna kami? Kami bahkan tidak diizinkan untuk berlayar melewati pulau-pulau terapung. Kami di Tahiti hidup dari perikanan. Setiap orang di sini memiliki perahu sendiri untuk memancing, bahkan di malam hari. Apabila ada pulau terapung yang mengganggu semuanya, apa yang bisa ditangkap di sana? Bagi para investor miliarder Amerika ini, segalanya bisa dibeli. Pemerintah, wali kota, politisi, semuanya. Ada satu di sini, satu di sana dan satu lagi di sana. Ada tiga zona. Saya pernah membacanya di media dan melihat bahwa Monsieur Bouissou, mantan wakil presiden, telah menandatangani surat perjanjian. Kami melihat foto-foto wali kota saat berkeliling memperlihatkan laguna kepada para miliarder Amerika. Kami sadar bahwa pemerintah kami sudah bekerja sama dengan investor Amerika dari Silicon Valley yang tergabung dalam semacam sekte dan menyebut diri mereka libertarian. Kami tidak pernah didengar. Saat itu, saya adalah anggota Parlemen Polinesia dan pemerintah tidak pernah membahasnya dengan kami. Membayangkan diri Anda bangun dan melihat pulau terapung di laguna adalah suatu mimpi buruk. Kami paham, bahwa mereka ingin pergi ke tempat yang indah. Tapi mereka juga harus mengerti bahwa ini adalah rumah kami. Anda tidak datang ke rumah orang dan memaksa untuk menetap. Bagi kami, itu adalah pendekatan yang sangat kolonial. Saya tidak melihatnya sebagai komunitas terpisah yang mandiri di tengah lautan tanpa berhubungan dengan orang lain. Saya melihatnya sebagai hubungan simbiotik antara kota di air dan kota di darat. Sepanjang sejarah manusia, selalu ada orang-orang yang berani dan inovatif. Apa yang kini dianggap utopis mungkin bisa menjadi kenyataan di masa depan. Membangun kota di darat lebih ekonomis daripada di laut. Jadi mungkin kota terapung hanya akan terwujud jika manusia benar-benar membutuhkannya. Kecuali, ada yang membuktikan bahwa potensi dari eksperimen ini sepadan dengan nilai investasinya. Menurut saya, di masa depan, perkotaan tidak mungkin sepenuhnya berada di perairan terbuka. Saya selalu membayangkan kombinasinya dengan perkotaan di darat, di mana kota terapung dapat berada di kota-kota padat penduduk seperti Shanghai, Tokyo, New York dan Miami. Di mana ada ancaman air, permukaan kota tidak terlalu tinggi dan ada kebutuhan akan ruang, di sanalah menurut saya kota-kota terapung akan muncul. Saya yakin bahwa di abad mendatang lebih banyak manusia hidup di atas dan di bawah laut. Laut akan menjadi seperti benua keenam, sesuatu yang dapat dimanfaatkan semua manusia.
Resume
Categories