Transcript
oAOdXdZuNdw • 5 MONTHLY SALARY TRAPS!!! THAT MAKE YOU WORK FOR THE REST OF YOUR LIFE??
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/Bennix/.shards/text-0001.zst#text/0560_oAOdXdZuNdw.txt
Kind: captions Language: id Katanya gaji lu naik terus nih setiap tahun, Guys. Tapi setelah lu cek tabungan lu kok kayaknya segitu-segitu doang ya? Enggak nambah-nambah nih. Jangan-jangan masalahnya bukan soal gaji lu yang kecil nih, Guys. Tapi lu kena jebakan salary trap. Nah, ini jebakan yang berbahaya, Guys. Karena gua udah lihat ada begitu banyak orang, ya, ribuan orang yang gua temui dan mereka enggak pernah sadar bahwa mereka sudah masuk ke dalam jebakan yang begitu berbahaya yang bikin orang kerja seumur hidup. Tapi endingnya enggak pernah jadi orang kaya, Guys. Ini bahaya, Guys. Dan inilah yang disebut dengan lima salary trap atau lima jebakan gaji, Guys. Nah, apa sih jebakan yang pertama? Yang pertama adalah jebakan lifestyle. Jadi, banyak orang lifestyle-nya naik tapi asetnya itu nol. Ini bahaya karena begitu gaji naik, biasanya orang gaya hidupnya ikut naik dan kadang-kadang ngacau naiknya. Kenapa? Misalkan gaji cuma naik 20% tapi pengeluaran bisa naik 50%. Ini benar-benar kebelinger, Guys. Dan banyak orang di Jakarta khususnya yang gua lihat itu seperti ini. Enggak masuk akal. Gajinya tadinya R10 juta naik jadi R juta. Gaya hidupnya tadinya cuman R5 juta sebulan eh malah jadi naik R10 juta sebulan. Enggak masuk akal kok. Gajinya naik cuman 20% tapi lifesty-nya bisa naik lebih dari 50% aja udah enggak masuk akal. Bahkan ada ya orang yang gajinya Rp juta. Begitu naik jadi Rp9 juta. Apa yang terjadi? Hal yang pertama dia lakukan ganti handphone baru. Banyak nih ketika gua ketemu para junior gua ya, orang-orang yang masih muda. Begitu gajinya naik langsung gua udah ganti handphone, langsung ngopi-ngopi cantik di mall tiap hari. Bahkan ada yang sudah mulai berani ngambil cicilan mobil. Ini gila banget nih. Ngacau banget. Ujung-ujungnya ketika akhir bulan komplain, "Kok gua haji gua habis?" Ya, jadi lu di sini lu harus tahu jebakan yang pertama. Kenaikan gaji lu bisa jadi masalah, bisa jadi jebakan buat lu karena lu langsung merasa lu berhak untuk mendapatkan kenikmatan di hari yang sama. Padahal harusnya kenaikan gaji lu, lu manfaatkan untuk disimpan demi masa depan lu. Jadi cara yang benar ketika lu naik gaji, standar hidup lu naiknya setengahnya aja lah maksimal. Contoh, gaji lu tadinya Rp10 juta naik 50%. Dari R10 juta ke Rp15 juta lu naik 50%. Gaya hidup lu jangan juga jadi naik 50%. Tadinya R juta jadi R,5 juta. Jangan. Lu naik maksimal 20% lah. 25%. Jadi ketika gaji lu naik 50%, gaya hidup lu maksimal naik 20 atau 25%. Sisanya ke mana? Sisanya lu investasikan. Kan lu pengin financial freedom. Sisanya lu masukin ke dana darurat. Sisanya lu beliin aset-aset yang produktif. Jadi rumusnya simpel. Ketika naik gaji, standar hidup lu maksimal naik setengah dari kenaikan gaji lu. Jadi kalau gaji lu naik 30%, ya gaya hidup lu maksimum naik 15%, Guys. Nah, yang kedua itu orang-orang yang cuma ngandelin gaji. Jadi, dia punya single income mindset. Contoh, banyak orang mikir gini nih. Nanti gua udah kaya kalau gaji gua udah gede. Jadi santai-santai aja. Ngapain nambung sekarang? Nanti juga kaya kok. Lama-lama kan gaji gua naik terus, gaji gua naik terus. Padahal kenaikan gaji itu linear, Guys. Bukan eksponensial. Beda sama pengusaha atau investor. Kita kenaikan penghasilan gua sekarang itu bisa eksponensial. Tapi kalau sebagai seorang karyawan, kenaikan gaji lu ya linear. Dan seringkiali ini enggak seimbang dengan pengeluaran yang ada dengan inflasi yang ada di planet bumi ini. Contoh nih, lu kerja selama 20 tahun, gaji lu naik? Iya, pasti naik. Tapi kenaikan lu pasti jauh lebih pelan dibanding apa? kenaikan harga rumah, biaya sekolah, biaya hidup, biaya ngopi, wah itu udah naik kencang, Guys. Dan ini masalah utamanya adalah gaji lu adalah active income lu. Dan ketika lu berhenti bekerja, active income lu juga berhenti. Artinya pemasukan lu juga berhenti. Ini bahaya. Makanya cara yang benar apa? Lu harus bangun sumber income lain, sumber penghasilan uang yang lain dari tempat lain di luar gaji lu. Meskipun kecil, that's ok. Tapi lu udah harus mulai punya mindset. bangun another source of income. Contoh dulu kalau gua dari awal-awal saham atau kalau lu enggak ngerti lu ke reksa dana atau lu ada bisnis sampingan, lu ada skill-skill freelance atau lu bikin konten digital, apapun itu. Banyak juga loh orang yang di waktu luangnya mereka mendapatkan penghasilan dari investasi mereka juga di aset-aset yang lain seperti apa ya dari deposito lah, dari emas lah, dari silver lah, logam mulia atau apapun yang lain lah. Yang intinya apa? Ketika dia duduk manis begini, emas dia terus beranak, terus beranak, terus beranak, terus menghasilkan uang karena nilainya terus-menerus naik. Jadi orang kaya itu bisa jadi kaya bukan cuma karena kerja keras, Guys. Bukan karena kerja gila-gilaan. Memang bisa tapi mayoritas bisa jadi kaya raya karena mereka punya banyak keran duit, punya banyak source of income, bukan cuman satu. Nah, ini udah sejalan nih dengan kata Menteri Keuangan kita, Pak Purbaya. Saya dulu S1-nya teknik elektro dari ITB. Enggak ngerti duit, kerja, kerja, kerja aja. Habis itu S3 ambil ekonomi di sana, di luar negeri sana mulai ngerti duit. Kerja nabung, kerja nabung, invest, kerja, nabung, invest. Sekarang uang saya lebih banyak dibanding dulu. Jadi teman-teman kerja keras boleh, tapi jangan lupa lupa berinvestasi. Nanti kalau enggak Anda lupa, kerja terus sampai tua, enggak pernah nikmatin uangnya. Makanya ketika gua punya gaji, gua sisihkan buat beli saham. Ketika gua tidur, perusahaan itu tetap dagang. Ketika gua tidur, lu tetap minum, lu tetap makan, lu tetap pakai jasanya. Ketika gua tidur, gua tetap menghasilkan uang. Kenapa? Karena perusahaan-perusahaan yang gua invest ini ya mereka tetap bekerja. Meskipun gua lagi keluar kota, gua lagi sakit, gua lagi tidur, gua mempunyai sumber income yang beragam. Bisa dari capital gain-nya, bisa dari buah-buah sahamnya seperti dividen atau rights atau warrants yang dia kasih. Jadi, ada begitu banyak benefit yang kita bisa dapatkan dan teman-teman makanya wajib menjadi investor. Nah, yang ketiga ini salary trap yang pada umumnya terjadi pada orang-orang Gen apalagi mereka itu menganggap cicilan itu normal. Mereka menormalisasi angsuran, menormalisasi cicilan terhadap hal-hal yang sifatnya konsumtif. Contohnya, banyak orang sudah punya mindset cicilan itu adalah hal yang normal bahkan wajib. Ini udah kayak bagian dari gaya hidup, lifestyle. Jadi, ada orang gaji punya cuman R10 juta, tapi begitu terima gaji R juta udah lewat buat bayar kredit motor, R juta udah lewat buat bayar kredit iPhone. Nanti ada lagi Rp3 juta buat bayar bunga payat, terus sisa R juta ada lagi buat bayar kartu kredit. Ujung-ujungnya apa? dia cuma punya disposible income-nya itu kecil banget, tipis. Bahkan jangan kan ngomong investasi. Karena begitu nanti ketika gajinya naik dikit aja naik 2 juta aja, mindsetnya adalah R juta itu buat ngutang apaagi ya? Dan ini true story guys, orangnya ada pun masih hidup sampai saat ini. Semoga nonton video ini dan tobat lu kenapa? Karena orang ini ketika terima gaji langsung mindsetnya adalah ambil kredit baru, kredit MacBook baru, kredit motor baru, kredit handphone baru. Begitu naik gajinya sedikit, mindsetnya udah waduh gua ngambil kredit apa lagi ya? Sayang nih ada spare. Kok gila orang ini. Memang gila banget dan real. Bahkan orang ini buat ngisi rumahnya kulkas, TV, panci aja pakai kredit, guys. Ngeri gua. Gaji double digit. Tapi mindsetnya udah death normalization trap. Mindsetnya udah masuk ke jebakan normalisasi utang. Jadi, cicilan dianggap normal. Kalau lu manusia waras, lu harusnya berpikir enggak enak punya hutang, enggak enak punya cicilan, enggak enak dikejar-kejar tiap kolektor. Tapi ada manusia di Indonesia dan lu bisa share di kolom di bawah ini yang menganggap itu normal. Bahkan seolah-olah seluruh manusia warga planet bumi ini, manusia di Indonesia semua melakukan hal yang sama. Jadi, lu bayangkan ketika gua pernah ngobrol sama orang ini ya, gua hitung-hitung sama-sama. Waktu itu gaji dia sekitar R2 juta. Ternyata 95% gaji dia itu udah habis buat bayar cicilan. Gila, enggak masuk akal. Dan ketika dia naik pangkat, gajinya juga enggak naik. Apa yang terjadi? Apakah berkurang cicilannya? Enggak. Malah jadi nambah juga. Jadi 97% gajinya habis buat cicilan. Ujung-ujungnya dia pun pergi ke kantor kalau perlu isi bensin segala macam, apa yang dilakukan? Ngutang sama istrinya. Ngeri ngeri banget ini. Tinggal menunggu waktu aja lu cerai, Bro. Siap aja lu. Kenapa ini jadi masalah? Soalnya gini, artinya ya kalau lu ngambil kredit, lu banyak ngambil ngutang, lu banyak nyicil, artinya lu itu sedang menghabiskan duit lu sendiri dari masa depan. Ngerti enggak? Artinya pendapatan masa depan lu sudah lu gadaikan. Habis tuntas hari ini buat mengejar kesenangan temporer detik ini. Lu enggak pernah berpikir masa depan lu akan seperti apa. Lu akan menjadi budak gaji lu selama-lamanya. Lebih ngeri lagi, lu sebenarnya jadi budak Apple, lu jadi budaknya Steve Jobs, lu jadi budaknya pabrik-pabrik Jepang. Enggak penting. Lu harusnya tahu dong masa lu menggadaikan masa depan. Lu orang punya harapan baik buat hari depan, tapi dia punya harapan hari depan digadaikan hari ini demi kesenangan hari ini. Itu bahaya loh. Jadi mindset menormalisasi utang, normalisasi cicilan, kredit itu bahaya, Guys. So, cara yang benar gimana? Lu udah harus bisa belajar membedakan mana utang-utang yang konsumtif, mana utang-utang yang produktif. Dan kalaupun lu terpaksa ngutang, ketahuilah maksimal 30% dari gaji lu. Boleh lu ngutang, boleh buat bayar cicilan, boleh. Tapi kalau udah lebih dari itu, jangan. Karena lu artinya menjadi budak utang. Dan jadi budak utang itu enggak enak. Lu bukan lagi manusia yang normal. Ketika orang sudah menjadi budak utang, percayalah secara psikologis manusia itu sudah tidak waras, Guys. Dan gua sering ngelihat ya orang-orang yang menjadi budak utang yang artinya lebih dari 50% gaji dia setiap bulan udah hilang nih buat bayar cicilan. Apa yang udah-udah? Orang-orang seperti ini karirnya mandek, Guys. Karirnya mandek, keluarganya hancur dan tidak bisa membuat pemikiran perhitungan yang rasional. Karena udah di atas 50% ngap-ngapan nih udah kelelep nih enggak pernah rasional pola pikirnya mudah ditipu, mudah dimanipulasi, bahkan ujung-ujungnya menipu dirinya sendiri. Oh, kalau gitu biar gua tambah cuan, gua harus pergi ke Gunung Kawi. Oh, biar gua naik pangkat, gua harus punya batu cincin Ruby merah. Oh, biar gua disayang atasan, gua harus makan ekor biawak. Udah ngaco. Ada banyak, banyak yang orang kayak begini. Komen di bawah ini. Gua yakin lu pernah ketemu orang kayak begitu karena udah kelelep dari 50% gajinya buat bayar cicilan, Guys. Jadi, Teman-teman usahakan ya kalau lu mau beli apapun, usahakan belinya itu cash. Kalau lu enggak bisa beli cash, ya udah lu tunda. So what? Mungkin bukan hari ini lu harus punya MacBook baru atau motor baru atau mobil baru. Tunda 3 tahun, 5 tahun dibanding lu jadi budak utang. Yang jadi masalah lu budak utang, aset yang lu beli itu motor, mobil, seiring waktu nilainya berkurang. Lu bukan tambah kaya kayak beli saham, tapi lu tambah miskin kayak beli saham gorengan. Seiring waktu aset yang lu beli makin berkurang, makin berkurang, makin berkurang. Cicilannya tetap ganas. Tetap lu bayar, tetap lu bayar, tetap lu bayar, tapi nilainya terus berkurang. Jadi contohnya apa, Pak? Kalau tetap mau cicil tapi cara pintar, simpel. Lu nyicil emas. Kalau lu cicil emas, bayar bunga enggak? Bayar bunga sekitar 5% sampai 7% setahun. Rugi enggak? Enggak. Karena beda dengan beli mobil, lu cicil emas, lu bayar bunga, dia akan naik terus. setiap tahun naik terus, naik terus, naik terus, naik terus. At the end of the day, setelah 5 tahun utang lu lunas, valuasi barang yang lu beli seonggok emas itu udah naik tinggi. Tapi kalau lu beli motor, tapi kalau lu beli laptop, kalau lu beli sepatu, kalau lu beli handphone baru, lu cicil terus tiap tahun, tiap tahun, tiap tahun. Di akhir tahun kelima apa yang terjadi? Nilai barang lu udah minus minus 50%. Buat apa? Jangan bodoh lah. Jadi, lu harus punya mentalitas orang kaya, Guys. Jangan punya mentalitas orang miskin. Orang miskin apa duitnya buat habis? Duitnya habis untuk mencicil gaya hidup. Tapi kalau lu punya mentalitas orang kaya itu mencicil aset. Nah, beda kan ya, Guys ya. Jadi, lu belajar membedakan yang namanya utang konsumtif sama utang produktif. Kemarin gua habis ketemu pengusaha ngobrol sama gua, "Ben, gua mau buka usaha gini-gini bagus enggak?" "Bagus. Udah perah jalanin? Udah, udah jalan 2 tahun. Sekarang mau ngapain?" "Gua lagi mau ambil kredit ke bank mau ngapain? Gua mau beli billboard. Berapa harganya? Rp300 juta." Menurut lu, Ben, itu hal yang bodoh atau hal yang cerdas? Menurut lu, gua tanya balik nih, Om Z lu bakal naik enggak kalau pakai billboard itu naik? Kenapa? Makin banyak orang yang lihat kenaikannya berapa persen? Sekitar 30% lah setiap bulan. Oh, berarti billboard lu bakal bisa membayar dirinya sendiri setelah berapa bulan? Eh, setelah 4 5 bulan udah bisa balik modal. So, artinya billboard lu adalah investment. Billboard yang lu cicil buat beli itu investment. Itu bukan cicilan yang konsumtif. Jadi, Teman-teman juga harus bisa membedakan. Ada beberapa profesi tertentu. Contoh misalkan gua adalah pemain musik unggulan, saksofon gua mesin yang mahal, yang bagus, kredit enggak apa-apa itu investasi bukan liability. Jadi alat musik yang bagus itu investasi. Jadi lu harus lihat lagi profesi lu seperti apa. Mulai belajar membedakan mana pengeluaran yang produktif, mana yang konsumtif. Buat teman-teman di sini mungkin ada yang kerjanya sebagai content creator. Worth it enggak beli iPhone yang bagus? Worth it. Apalagi kalau lu sering bikin konten. Karena itu artinya investasi. Lu bayar pakai utang boleh enggak? Menurut gua boleh. Kalau lu pakai itu buat kegiatan yang produktif, menambah cuan lu, menambah omset lu, that's good. Tapi kalau lu beli itu cuma buat ha hihi Instagram, Facebook, main game, enggak usahlah. Itu artinya buat konsumtif. Jadi, Teman-teman belajar membedakan ya. Jangan jadi orang bego. Kayak orang yang gua bilang tadi, gajinya naik, pengeluarannya naik lebih tinggi lagi. Enggak masuk akal. Please don't do that, guys. Yang keempat ini namanya jebakan job security, Guys. Jadi, false job security ini artinya jebakan karena dia mereka udah nyaman dengan pekerjaan tetapnya. Banyak orang begini, padahal harusnya lu keluar dari comfort zone lu. Boleh enggak punya kenyamanan bekerja? Harus. Wajib stay di perusahaan yang lama sama. Betul boleh. Tapi lu harus hati-hati dengan mindsetnya. Mindset apa? Ngerasa aman karena pekerjaan lu akan selalu tetap bersama lu. Kenyataannya belum tentu. Kenapa banyak orang masuk jebakan ini? karena mereka merasa nyaman, merasa tenang selama bertahun-tahun sebagai karyawan tetap, situasi status kuo enak-enak aja. Betul enggak? Banyak orang begitu. Tapi lu harus tahu, apalagi ekonomi dunia ini semakin menuju ketidakpastian, teman-teman lihat PHK massal udah terjadi di mana-mana. Even di Singapura, even di Amerika, puluhan ribu orang dipecat setiap hari loh. Belum lagi masuk era AI, belum lagi soal restrukturisasi akan makin banyak. Apalagi kalau era otomasi ya, era mekanisasi makin banyak lagi. Artinya akan makin banyak bisnis-bisnis yang wajib direstructuring. Ujung-ujungnya apa? Kalau makin banyak orang melakukan penghematan, pasti akan terjadi krisis. Yang artinya ketika hari ini lu merasakan gaji lu tetap itu hal yang aman, ketahuilah belum tentu esok akan sama seperti hari ini. Masa depan belum tentu aman seperti hari ini. Contohnya nih, banyak orang yang sudah kerja 10 sampai 15 tahun lah di sebuah perusahaan dulu ya, tempat gua kerja. orang yang setingkat sama gua usianya rata-rata udah 55 tahun ke atas lah. Gua orang paling muda waktu itu mungkin umur gua cuma 32 tahun tapi pi gua yang di level gua rata-rata udah di atas 50-an tahun. 20 tahun lebih tua dari gua lu bayangin lu. Dan gua melihat mereka kok punya skill gitu-gitu aja. Skillnya itu staknan, enggak bisa upgrade berat. Ujung-ujungnya apa? Sekali kena PHK nih orang-orang begini nih pasti bakal susah buat lompat. Ya di zaman gua aja ya kita itu udah mulai banyak yang pakai Google Sheet atau pakai Google Doc. Nah, orang-orang ini boro-boro nih pakai Excel aja bikin spreadit aja bingung gimana mereka bisa update dengan perkembangan zaman. Gak bisa karena mindsetnya apa? Terlalu nyaman di sekelilingnya orang udah pada upgrade skill-nya. Dulu mungkin orang masih pakai Adobe Premiere, sekarang orang udah pakai Adobe After Effect. Dulu mungkin masih banyak orang yang pakai Blender, sekarang udah banyak orang yang pakai Dave Vinci. Yah, itulah perkembangan zaman. Banyak orang terjebak di sini karena mereka merasa mereka udah bisa menukar waktu yang panjang itu kepastian itu punya job selama 10 tahun, 20 tahun di perusahaan ini gua pasti aman. Tapi itu keamanan yang palsu. Karena at the end of the day kalau perusahaan kesulitan, kalau perusahaan enggak bisa ningkatin omset, kalau perusahaan tidak kompetitif, kalau perusahaan tidak sesuai dengan perkembangan zaman, karena orang-orang di dalamnya gagal upgrade, apa yang terjadi? Perusahaannya akan collapse. Kalau perusahaannya collaps, apa yang terjadi? ya karyawannya ya elutan colabs. Makanya wajib sebuah organisasi dari sampai tingkat yang paling tinggi CEO sampai yang paling kecil tim-tim di bawahnya wajib selalu update. Enggak boleh merasa nyaman, enggak boleh. Wajib upgrade terus sesuai perkembangan zaman. Lu harus upgrade skill lu, skill yang dibutuhkan oleh marketplace. Lu harus bangun brand lu, karakter lu, keahlian lu, dan harus wajib nih punya tabungan. Kenapa tadi yang gua bilang hari esok enggak ada yang pernah tahu seperti apa. Dunia makin tidak stabil. Yang artinya, Teman-teman, wajib nih punya tabungan. Minimal cukup nih buat membiayai hidup lu. Kalau seandainya kantor lu bangkrut, colollaps, lu enggak jadi penyakitan ngemis-ngemis di kolong jembatan. Enggak. Lu masih bisa bertahan minimal 6 sampai 12 bulan ke depan. Jadi mulai dari sekarang lu catat peluaran lu sebulan berapa ya? Bayar Netflix, makan, jalan-jalan, uang listrik, air, cicilan KPR. Lu hitung tuh sebulan berapa? Kali 6. Paling bagus nih lu kali 12. Itulah dana cadangan yang lu harus siapkan. Jadi di sini lu punya rasa aman itu bukan rasa aman yang fana. Kenapa fana? Karena lu bergantung kepada job lu. Lu punya rasa aman yang real. Kenapa? Karena lu udah punya emergency fund sampai 12 bulan ke depan. Ketika perusahaan lu bangkrut gara-gara lu gagal upgrade, at least lu masih bisa bertahan selama 12 bulan ke depan buat cari usaha lain, buat cari pekerjaan baru. Jadi, lu enggak bergantung 100% ke kantor. Lu bisa bergantung pada diri lu sendiri, Guys. Nah, yang kelima, Guys, ini namanya jebakan Tarsok. Tarsok. Tarsok, Tarsok. Banyak orang bilang, "Gua baru mau investasi kalau gaji gua udah gede." Nah, ini bahaya, Guys. Gini, ya. Ada orang gini, "U disuruh investasi dia bilang, "Enggak, ah, gaji gua masih kecil. Gua masih muda buat apa? Umur 30 nanti deh gua nikah dulu deh baru investasi. Umur 35 ngapain investasi? Anak gua masih kecil kok. Umur 45 baru ng kok enggak kekumpul-kumpul ya duit gua? [tertawa] Enggak kekumpul-kumpul ya hasil investasi gua. Colaps selesai. Sama kayak orang beli emas. Emas ini ya sebelum hari ini harganya udah di atas Rp3 juta per gram. Gua itu udah kasih tahu orang-orang buat beli waktu itu. Bahkan ya kalau lu follow gua dari zaman dulu itu harganya sekitar Rp600.000-an. Gua punya karyawan tim gua dulu. Gua pas masih tinggal di Bali, gua udah bilang sama tim gua, "Lu kalau terima gaji 50% lu tukar ke emas." Waktu itu harganya sekitar Rp600.000-an, Guys. Lu bayangin hari ini, hari ini nilaiem sudah naik jadi Rp3 juta. Bersyukur enggak orang-orang itu? Banyak sih yang hari ini SMSin gua, "Eh, Om Benix, terima kasih ya gara-gara Bapak investasi saya bertumbuh lima kali lipat." Kenapa? Ternyata mereka mendengarkan yang gua bilang. Jadi, gua sering banget ngasih bonus pun pakai emas. Gua enggak mau kasih bonus duit. Gua kasih bonusnya pakai emas. Mungkin di sini teman-teman yang di Bali masih ada yang ingat sebelum gua pergi dari Bali beberapa orang-orang yang menurut gua qualified yang oke gua kasih bonus emas. Kenapa? Karena gua bilang sama mereka juga emas itu bakal jadi Rp3 juta per gram. Hari ini jadi kenyataan ya. Dan kemarin du tahun lalu bahkan gua bilang emas itu seharusnya R5 juta per gram. Nah, teman-teman bakal lihat. Nah, sekarang sebenarnya ada lagi loh investasi yang lebih cuan dibandingkan emas. Lu setuju enggak kalau kita bahas lebih detail di next video? Kalau lu setuju segala pencet likes dong di video ini. Investasi apa yang lebih cuan dari emas tapi bukan saham? Begitu sampai 24.000 likes, dalam 24 jam kita bikin videonya. Karena udah terbukti nih ramalan Benix tahun 2026 emas jadi Rp3 juta per gram. Nah, kembali ke salary trap, Guys. Jadi, banyak orang punya mentalitas starsock padahal investasi yang benar lu mulai sedini mungkin, seawal mungkin. Justru ketika lu masih muda, ketika lu baru memulai karir lu, that's the right moment to invest. Bukan ketika lu udah tua, Guys, bau tanah, wah, udah kelar lu. Enggak. Justru seawal mungkin, sedini mungkin. Next slide. Karena investasi yang benar itu adalah investasi yang konsisten. Bukan yang modal awalnya gede, no. Tapi yang konsisten. Kecil tapi konsisten. Jauh lebih bagus. Jadi gaji lu kecil, nominalnya kecil enggak apa-apa, enggak masalah. Yang penting apa? Lu menang melawan waktu. Beda dengan orang yang hobi nyicil. Makin bertambah waktu makin miskin dia. Itu orang yang mentalitas nyicil. Makin bertambah waktu makin bertambah tua, makin miskin dia. Tapi orang yang investasi dia akan bersahabat dengan waktu. makin bertambah waktu makin kaya dia. Jadi banyak orang kalah miskin terpuruk bukan karena uang, bukan karena dia kurang duit. No. Tapi banyak orang kalah karena apa? Secara mental mereka udah kalah duluan. Kayaknya terlalu lama. Gua enggak mau nunggu. Gua pengen happy hari ini. Mereka kalah mental, Guys, dengan waktu. Padahal mereka harus belajar bersahabat dengan waktu. Contohnya lu pakailah kalkulator investasi Benix ini gratis gua bikin buat lu. Pergi ke www.sekkolasamenix.com guys. Pencet tombol kalkulator di situ. Lilah lu berbersahabat dengan waktu itu begini caranya. Tiap bulan lu invest R juta. R juta. R juta. Tulis itu modal awal lu kecil. Oke. Rp1 juta. Setiap bulan lu kontribusi Rp1 juta juga. Lalu bikin tarik garis yang panjang 20 tahun. Cuannya berapa per tahun? Pertumbuhan lu 20%. Itulah perkiraan persentase pertumbuhan. 20% setiap tahun, tapi konsisten selama 20 tahun lu invest sejuta, sejuta, sejuta, sejuta. Apa yang terjadi, Guys? Pencet tombol hitung di situ. Lu bisa lihat duit lu yang R1 juta per bulan di akhir tahun ke-20 sudah berubah jadi 2,2 miliar. Magic. Bukan sulap, bukan sihir. Yang dibutuhkan apa? Bukan modal gede, tapi konsistensi. Ini berulang kali gua ajarin ini ketika gua diminta ngajar di kampus mana pun gua bilang mau jadi orang kaya itu gampang. Mau jadi miliarder itu pasti. Yang pentingnya apa? Bukan modal besar tapi konsistensi guys. Konsistensi berpikir waras juga. Jangan begitu megang duit ikut judi online. Begitu megang duit ikut investasi apa kemarin dana DSI bunga 10% sebulan ngawur lu. Enggak bisa begitu investasi yang masuk akal. Jadi dari sini lu bisa lihat ya lima jebakan gaji ini. Moga-moga lu enggak masuk ke dalamnya, Guys. Dan kalau lu perusahaan, lu punya banyak karyawan, lu harus segera share video ini ke mereka juga ke karyawan lu supaya makin banyak orang yang normal, orang yang waras di dunia ini. Supaya mereka tahu yang jadi masalah bukan karena mereka malas. Enggak. Banyak yang kerja kok. Kerja keras tuh banyak. Bukan juga karena mereka goblok, bukan. Tapi sistem mindset gajinya bikin banyak orang Indonesia sibuk hidup buat hari ini tanpa sempat berpikir untuk membangun masa depan bahwa kita hari ini hidup untuk masa depan. Jadi, lu harus tahu gaji yang lu terima tiap hari itu alat bukan tujuan hidup lu. Oh, tujuan gua dapat gaji hari ini, tujuan gua dapat gaji lagi bulan depan tiap tanggal du. Bukan, itu bukan tujuan hidup lu. Itu cuma alat. Alat lu. Alat buat apa? alat buat membangun masa depan lu. Jadi kalau hari ini gaji lu enggak lu rubah jadi aset, mau dalam bentuk emas, mau dalam bentuk rumah, mau dalam bentuk tanah, mau dalam bentuk saham, ketahuilah artinya apa. Lu cuma kerja buat bertahan hidup dan itu ngeri, Guys. Artinya lu enggak ada beda sama sapi yang hari ini kerja di sawah. Kerja biar dikasih makan buat hari itu. Atau babi yang ada di hutan. Apa? Babi di hutan. pergi cari makan buat hidup di hari itu. Enggak nabung buat hari depan. Enggak berpikir kalau bulan depan ada taifun gimana, ada krisis air gimana, ada kemarau panjang gimana. Enggak penting, enggak penting, enggak penting. Yang penting bisa hidup sebagai babi di hutan. Makan buat hari ini, ya buat hari ini. Lu manusia apa babi, Guys? Coba lu jawab. Gua sih yakin mayoritas dari penonton Benix adalah orang-orang yang waras akalnya sehat. Tapi ingat, masih banyak loh penduduk rakyat Indonesia yang belum terbuka matanya secara finansial. Jadi, lu wajib share video ini sebanyak-banyaknya, Guys. Dan yang paling penting ini gua punya pertanyaan, Guys. Dari lima jebakan yang gua jelasin tadi, kira-kira jebakan mana nih yang saat ini masih susah buat lu hindarin dan kenapa lu susah banget hindarin itu, Guys? Share dong alasan lu kenapa jebakan itu sulit dihindarin di kolom komentar yang ada di bawah ini, ya, Guys. Oke, Guys. Ditunggu pandangan kalian seperti apa. Semoga video ini bermanfaat. Jangan lupa like and subscribe channel Benix sebanyak-banyaknya. Salam sehat, salam cuan. Bye bye. [musik]