File TXT tidak ditemukan.
Transcript
8xgrUIMi550 • Kitab Al-Kabair #31: Mengaku-ngaku Apa Yang Dia Tidak Miliki - Ust Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2507_8xgrUIMi550.txt
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu
ala taufiki
ashadu alla ilahaillallah wahdahu la
syarikalahuim lnih wa ashadu anna
muhammadan abduhu wa rasuluh daila
ridwan allahumma sholli alaihi wa ala
alihi wa ashabihi wa ikhwan.
Hadirin hadirat yang dirahmati oleh
Allah subhanahu wa taala.
Ee
kita
lanjutkan pembahasan kita dari kitab
alkabair bab yang baru. Babun maniddaa
maaisa lahu waman idza khaom fajar. Bab
tentang orang yang mengaku-ngaku apa
yang bukan miliknya atau apa yang dia
tidak miliki. Bahwasanya itu dia punya
atau dia miliki.
Waman idza khasama fajar. Dan bab
tentang orang kalau bersengketa maka dia
curang, licik. Man idza khasama fajar.
Kemudian
ee al Imam Muhammad bin Abdul Wahab
mawakan hadis-hadis di antaranya fihi
hadisu Ibni Umar radhiallahu anhuma
fahihain.
Terkait dengan bab ini ada sebuah hadis
dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dalam
asahihain.
Waruya an ibni Mas'udin
wa Umar radhiallahu anhuma. Dan
diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud dan Umar
radhiallahu anhuma
bahwasanya
mereka berkata, "Man qala ana mukmin
fahua kafir."
Siapa yang berkata,
"Saya mukmin,
maka
dia kafir."
Waman qala hua fil jannah fahua finar.
Siapa yang bilang dia di surga, maka dia
di neraka. Wamanq hua alimun fahua
jahil. Siapa yang bilang dia orang alim,
maka dia sesungguhnya jahil.
Hadis pertama yang di ee bawakan yaitu
siapa yang berkata saya mukmin maka dia
kafir. Yaitu dia berkata karena memuji
dirinya, PD saya mukmin, maka
sesungguhnya dia kafir. Siapa yang PD
bilang saya di surga, maka dia
sesungguhnya di neraka. Siapa yang
mengaku-ngaku dia alim, ya maka
sesungguhnya dia jahil. Qalah. Hadis
berikutnya an Abi Dzar radhiallahu
anhuma marfuan.
Dan juga dalam Sahih Bukhari, Sahih
Muslim dari Abu Dzar secara marfu dari
Nabi Rasul sahu alaihi wasallam
bersabda, "Laisa min rajulin idda ila
giri abihi wahua yalamuhu illa kafar."
Tidak seorang pun yang mengaku-ngaku dia
adalah keturunan seorang padahal itu
bukan bapaknya. Padahal dia tahu itu
bukan bapaknya, maka kecuali dia telah
kafir. Wamanidda maaisa lahu falaisa
minna. Siapa yang ngaku-ngaku sesuatu
yang bukan miliknya atau dia tidak punya
hal tersebut yang aku ngaku punya.
min maka bukan dari golonganku
maka siapkanlah kaplingnya tempat
duduknya di neraka
musliman bilfriqallah
wisalik illa harun alaihi atau harun
alaihi
barang siapa yang menuduh seorang muslim
menuduhnya kafir
atau berkata wahai musuh Allah dan
ternyata tidak demikian kecuali akan
kembali kepadanya
ini ada dua hadis
Ee di sini yang pertama
diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud dan juga
dari Umar, mereka berkata,
"Siapa yang mengatakan saya mukmin maka
dia kafir atau saya saya di surga maka
dia di neraka. Saya orang alim." Ini
semua perkataan-perkataan dibawakan
kepada jika dia mengaku-ngaku dirinya,
mentazkiah dirinya, ya dan dia ingin
mencari pujian manusia ya, tanpa usaha
untuk beramal saleh, tanpa untuk
berusaha untuk ikhlas.
Dan kita tahu bahwasanya berkata, "Saya
seorang mukmin dalam rangka untuk memuji
diri," ya. Maka ini adalah ee
rekomendasi terhadap diri sendiri. Ya,
kalau maksud kita kita beriman,
maksudnya kita bukan orang kafir, maka
itu enggak ada masalah. Tapi maksudnya
saya mukmin, saya bukan sekedar muslim,
saya mukmin itu namanya tazkiah. Jadi,
perkataan saya mukmin ada maksudnya.
Kalau maksudnya saya bukan orang kafir,
maka sering kita bilang kita orang
mukmin. Maksudnya kita bukan orang
kafir. Maka itu tidak jadi masalah
karena memang membedakan kita dengan
dengan mereka. kita orang beriman,
mereka orang kafir. Tapi kalau maksudnya
saya mukmin, maksudnya adalah saya ini
benar-benar beriman, bukan sekedar
Islam, benar-benar iman saya kuat di
hati, ya. Maka ini adalah rekomendasi
terhadap diri yang luar biasa.
Makanya dikatakan kepada seorang Arab
Badui, amukminun anta, kau orang
beriman. Maka dia berkata, "Uzaki nafsi.
Apakah saya mau mensucikan diriku,
merekomendasikan diriku?" Ya, kita tidak
tahu bagaimana hakikat kualitas iman
kita. Makanya ketika dalam Al-Qur'an
Allah berfirman qtilu amannaam
tminu wakin qulu aslamna. Berkata orang
Arab Badui, kami telah beriman.
Katakanlah
kalian belum beriman. Kalian baru
aslamna. Kalian baru mengucapkan kami
Islam. Jadi kita tahu tingkatan dalam
agama Islam kemudian iman, kemudian ih
ihsan. Jadi kalau Masud berkata saya,
saya orang iman, maksudnya saya
derajatnya tinggi. Maka ini kata Ibnu
Mas'ud dan Umar, dia kafir. Orang
seperti ini kafir. Maksudnya kufur,
asghar yaitu ini perbuatan buruk,
mentazkiah diri sendiri.
Ya, bagaimana lagi kalau mengaku saya
wali, saya wali. Ini wali lebih tinggi
lagi daripada sekedar beriman ya.
Mengatakan, "Saya wali.
Ya,
tentu ini ee
ngaku-ngaku seperti berbahaya. Apalagi
di balik pengakuan tersebut ternyata ada
kepentingan dunia untuk menipu
orang-orang bodoh sehingga orang-orang
pada kagum kepadanya, memberikan hadiah
kepadanya. Dia bilang, "Saya wali ya
wali murid kali mungkin
wali." Jadi ngaku-ngaku seperti ini
berbahaya. Seorang ya kata Allah, "Fala
tuzak anfusakum." Jangan kalian
merekomendasikan diri kalian. Waam
bimanitqa. Allah lebih tahu mana yang
lebih bertakwa. Allah lebih tahu mana
yang bertakwa.
Lihatlah bagaimana para salaf mereka
tidak
ee merekomendasikan diri mereka sendiri.
Lihatlah contoh Umar bin Khattab
radhiallahu anhu yang sudah dipuji habis
oleh Nabi. Luar biasa dengan pujian
setinggi langit. Nabi mengatakan, "Umar
umar fil jannah." Umar di surga. Rasul
mengatakan innallaha w al lisani Umar yu
bihi. Allah meletakkan kebenaran di
lisannya Umar dan eh menjadikan Umar
berbicara dengan kebenaran tersebut.
Rasul Rasulullah juga berkata, "Lau
kanal anbiya ba'di lakana Umar." Kalau
ada nabi setelahku, tentu nabi tersebut
adalah Umar.
Rasul wasam juga berkata
maqan
salikan fajan illa salaka fajan fajjik.
Tidak ada setan melihat kau jalan satu
jalan kecuali setan cari jalan yang yang
lain. Luar biasa. Kalau sebagian kita
jalan bukan setan jauh. Setan malah
mendekat dari depan, dari belakang,
kanan, kiri. Ya, kalau Umar jalan, setan
kabur.
Ya. Dan Umar berapa kali punya ide dalam
Al-Qur'an? Ada yang mengatakan delapan
kali dia punya ide. Turun ayat
menyepakati ide Umar radhiallahu taala
anhu. Rasulullah pernah bilang, "Saya
masuk ke surga, saya lihat ada istana
ya. Tiba-tiba ada seorang wanita di luar
kemudian masuk.
Ya,
kemudian saya bertanya, "Ini istana
milik siapa?" "Ini milik Umar." "Saya
mau masuk, saya enggak jadi karena saya
ingat kau pencemburu wahai Umar." Kata
Rasulullah, kata Umar, "Masuk aja ya
Rasulullah." Fala alaika agar. Emang
saya cemburu sama engkau ya Rasulullah?
Masuk saja kata Umar. Jadi Rasulullah
bilang Umar sudah punya surga di istana
di surga. Makudnya begitu banyak pujian
kepada Umar. Tetapi ketika ada seorang
dan dia ditikam ketika jadi imam.
Bayangkan jadi imam salat subuh ditikam
dengan tiga tikaman. Kemudian
setelah dia mau meninggal ada yang
datang memuji-mujinya. Engkau begini,
engkau begini, engkau begini, engkau
begini. Kata dia, "Kfafan la li wala
alaiya.
Saya hanya berharap impas
pujian-pujianmu itu saya berharap adalah
impas bagiku, tidak mendungku,
mendukungku dan juga tidak menjatuhkan
aku. Itu dia tidak merasa bangga. Dia
tidak merasa bangga dengan itu semua.
Ini ciri-ciri para sahabat sehingga kita
dapati mereka meskipun direkomendasi
oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam
dengan banyak rekomendasi, mereka sangat
takut dengan Allah dan mereka tidak
merasa merasa hebat ya. Tidak merasa
hebat. Bahkan ketika Rasulullah
menyebutkan nama-nama orang-orang
munafik kepada Hudzaifah ibnul Yaman,
maka Rasulullah meninggal dunia. Hanya
ada nama-nama khusus yang Rasulullah
kasih tahu kepada Hudzaifah. Maka kalau
ada orang meninggal setelah wafatnya
Nabi, Umar lihat Hudzaifah. Kalau
Hudzaifah salatkan berarti bukan orang
munafik. Kalau Hudzaifah, Hudzaifah
ibnul Yaman radhiallahu anhu tidak mau
salatkan, berarti ini orang apa?
Munafik. Sampai Umar lihat kemudian Umar
bertanya kepada Hudzaifah, "Hal
sammani?"
Ya, wahai Hudzaifah Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam ya apakah
Rasulullah pernah menyebutkan aku di
antara deretan nama-nama orang munafik?
Kata Hudzaifah, "Tentu tidak." Ya,
artinya tidak merasa PD, ya. Tidak
merasa PD, ya. Oleh karenanya orang
beriman ya
ee
memiliki sifat khasyiah, takut kepada
Allah Subhanahu wa taala.
sehingga mereka jauh dari
merekomendasikan diri mereka sendiri.
Jadi kalau ada orang suka muji diri
sendiri, saya wali, saya mukmin, saya di
surga, nanti saya ngajak kamu juga masuk
surga. Bukan saya aja, kamu juga saya
ajak. Subhanallah. Kata Umar, "Yang
bilang dia di surga berarti di mana?" Di
neraka. Karena terlalu pede. Umar aja
tidak ngaku-ngaku saya di surga. Padahal
sudah dibilang surga oleh Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Ya.
Dan siapa ngaku saya orang alim? Saya
orang alim. menunjukkan saya orang alim.
Maka kata Umar dan Ibnu Mas'ud ini orang
ja jahil.
Ee makanya Alhan Albasri berkata, "Innal
mukmin jamaa baina ihsanin wa makhafah."
Orang mukmin itu mengumpulkan antara
berbuat amal saleh dan takut dan
khawatir. Wal munafik jamain isah wa
amnin. Adapun munafik mengumpulkan
antara berbuat buruk dan merasa aman.
Dan merasa aman ya.
Bagaimana dengan orang-orang sekarang
nganggaku kita pasti masuk surga? Dan
ini adalah akidahnya orang Yahudi yang
ngaku-ngaku pasti masuk apa? surga. Waq
laadulal jannadal jann man hudan nasar.
Dan mereka berkata tidak akan mau surga
kecuali Yahudi dan apa? Nasara. Tilka
amanum. Itu hanyalah angan-angan kalian.
Waqtil yahudu nahnu abnaah.
Berkata Yahudi, Nasrani, "Kami ini
adalah anak-anak Allah dan
kekasih-kekasih Allah." Itu mereka meng
kami wali-wali Allah Subhanahu wa taala.
Waqalu lan tamasananaru illa ayyam
ma'dudah. Mereka berkata, "Kalau kami
masuk neraka cuma beberapa hari, aman.
Kalau masuk neraka cuma beberapa hari,
itu mereka pde masuk surga. Orang
beriman tidak demikian. Maka kalau ada
orang merasa dia pasti mau surga, bisa
jamin orang juga mau surga. Ini orang
terlalu PD ya, terlalu PD, tidak tahu
hakikat dirinya.
Dan mereka telah otak orang seperti ini
telah meniru-niru orang-orang Yahudi
seperti mengatakan, "Kami keturunan
begini, nasab kami begini, pasti masuk
surga." Ini dari mana? Sebar kata Umar,
"Orang yang bilang begini di nera, di
neraka."
"Kami keturunan spesial pasti masuk
apa?" Sur surga.
Kami adalah seperti ibarat emas dari
turunan emas meskipun diletakkan di
comberan tetap emas.
Maksudnya kami melakukan maksiat mau apa
tetap aja kami keturunan mu mulia. Jadi
mereka buat logika-logika seperti ini
sehingga melegalkan mereka, memudahkan
mereka untuk bermaksiatkan mereka. Emas
dilempar comberan berubah atau tidak?
Tidak. Itu emas. Kalau mukamu dirubah
lempar comberan berubah.
Kalau emas enggak, tapi kalau kamu
berubah.
Mau keturunan siapapun kalau tukang
maksiat berubah.
Bab. Kemudian
dalam hadis, laisa
min rajulin daa ila giri abihi wahua
ya'lam illa kafar. Ya,
tidak ada seorang pun yang mengaku
dia adalah keturunan selain bapaknya.
Dia dia tahu itu bukan bapaknya. Saya
keturunan dia, saya keturunan dia. Saya
dari bani ini. Padahal bukan. Padahal
dia tahu itu bukan bapaknya, itu bukan
sukunya. Maka dia telah kufur. Itu kufur
asghar.
Kemudian kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam, widama laisa lahu falaisa
minna. Siapa yang mengaku sesuatu yang
bukan miliknya maka bukan dari golongan
kami. Walatabawa maka minar. Maka
siapkan kaplingnya di neraka. Ini di
antara dosa adalah ngaku-ngaku yang
bukan miliknya.
Di antaranya ngaku-ngaku dia berasal
dari suatu suku, ternyata bukan dia
bukan dari suku tersebut. Atau
ngaku-ngaku dia punya suatu keahlian
ternyata tidak demikian.
Makanya di antara sifat orang Yahudi
juga yang Allah sebutkan dalam surat Al
Imran, wuhibbuna ayuhmadu bima lam
yaf'alu. Mereka suka dipuji dengan apa
yang tidak mereka kerjakan.
Rasul sahu alaihi wasallam bersabda,
"Almutasyabbi bimaam y kalabisur."
Seorang yang bergaya dengan apa yang
tidak dimiliki olehnya, tidak diberikan
kepadanya, maka seperti makai baju dua
kedustaan. Maksudnya apa? Dia
mengesankan dirinya alim padahal tidak
alim.
Dia mengesankan dirinya hafiz padahal
tidak hafiz misalnya bukan hafiz Quran
misalnya ya. Dia mengesankan dia telah
membaca sekian kitab padahal cuma baca
judulnya doang. Namanya mengesankan.
Sehingga dia bergaya di hadapan orang
dengan suatu yang tidak dia miliki. Maka
ini dia seperti memakai dua baju
kedustaan. Dia mendustai dirinya dan
mendustakan orang lain. Menipu orang
lain, menipu. Dia tahu dia tidak begitu
dan dia menipu orang orang lain. Dan
orang seperti ini terkadang dia ingin
pamer sehingga dia menggabungkan dua
dosa. Pertama dosa dusta, kedua dosa
riak. Dia meriakkan sesuatu yang tidak
dia miliki.
Tidak yang tidak dia lakukan.
Saya yang telah begini, saya yang telah
padahal tidak lakukan. Dia bohong. Maka
dosanya lebih parah dari sekedar riak.
RI plus bohong.
Maka seorang jangan sampai menggambarkan
kepada orang lain bahwasanya dia suatu
yang wau, dia hebat padahal dia tidak
demikian. Gak perlu seperti itu. Gak
perlu seperti itu. Seakan-akan misalnya
dia menggambarkan dirinya menghafal
suatu buku, seluruh isinya dia hafal,
halaman-halamannya dia hafal, pojok
kanan pojok kiri dia hafal, padahal cuma
seberapa halaman yang dia bisa begitu.
Tidak, tidak semuanya dia bisa begitu.
Tapi mengesankan orang kalau lihat
seakan-akan dia semuanya dia bisa
seperti itu.
Makanya saya pernah hadir kajian Syekh
Abdul Muhsin Alabbad dan muhaddis Ahlul
Madinah.
Suatu saat dia pernah menyampaikan suatu
perkataan dalam sebuah kitab. Dia
mengatakan berkata disebutkan dalam
kitab ini begini begini begini jilid
sekian halaman sekian. Setelah dia
ngomong, dia bilang, "Saya mohon maaf,
saya baru sebut, saya sebut jilid dan
halaman karena saya baru baca tadi."
Jadi bukan dia tidak mengesankan jangan
sampai orang kira bahwasanya dia
menghafal isi buku dengan jilid-jilidnya
dengan halaman-halamannya. Itu tidak,
itu kurang kerjaan kalau saya. Ngapain
kita ngfalin apa ya? Itu enggak perlu.
Yang perlu kita kontennya ngerti.
Tapi kalau saya buku ini saya hafal ini
jid sekian halaman sekian itu tidak
tidak penting ya. Artinya sesuatu yang
tidak tidak begitu faedah. Makanya
supaya tidak disangka dia seperti itu,
maka dia jelaskan saya sebutkan ini
karena saya baru baca baru aja. Kalau
baru baca kan masih ingat bukan berarti
saya hafal. Maka seorang jangan mengesan
pada orang lain bahwasanya dia lebih
daripada yang hakikatnya dia sendiri.
Akhirnya dia capek sendiri. Kalau dia
sudah mengesan orang bahwasanya dia wow,
dia harus menjaga itu. Padahal dia
selalu
dalam kondisi drama, main drama. Padahal
dia tidak begitu. Ini hanya meletihkan
dirinya sendiri dan dia tetap berusaha
untuk dipuji, disanjung dengan suatu
yang dia tidak miliki. Ini penyakit
seperti ini. Menghesankan hebat.
Kemudian Rasul alaihi wasallam bersabda,
"Man rama musliman bil kufr." Siapa yang
menuduh orang lain dengan kufuran
atau berkata, "Wahai musuh Allah,
padahal tidak demikian maka akan kembali
kepadanya." Ya, jadi hati-hati jangan
tuduh orang, "Wahai musuh Allah, padahal
tidak maka akan kembali kepadanya. Wahai
si fulan kafir, wahai si kafir, padahal
tidak, maka akan kembali kepadanya." Ini
bahaya nuduh orang dengan turun yang
tidak-tidak.
Jadi, ikhwan hati-hati
tidak usah mengesankan pada orang kita
lebih daripada hakikat kita. Misalnya
ada yang tanya sama antum, antum hafal
Quran? Enggak. Bilang aja enggak. Memang
enggak hafal.
Jangan bilang,
ada 5 juz. Saya enggak mau riak. Padahal
cuma juz 30.
Jadi orang dengar kalau antum bilang
adalah enggaklah saya enggak mau riak.
Orang ke sana ini hafalnya sudah 10 juz
ke atas padahal cuma juz 30. Bilang aja
saya cuma hafal juz 30. Apa masalahnya?
Jangan mengesankan antum lebih hebat ya.
Jangan antum lebih apa? Lebih hebat. Gak
usah ya kita sikit memang gitu ya. Gak
usah kemudian
mengasakan diri lebih hebat karena itu
dosa.
Dosa
berikutnya babud dakwah fil ilmi
iftikharan. Bab tentang ngaku-ngaku
punya ilmu karena sombong
untuk sombong untuk pamer.
An Umar radhiallahu anhu marfuan. Dari
Umar bin Khattab radhiallahu anhuma
secara marfu
Rasul sahu alaihi wasallam bersabda,
"Yadharul islamu hatta taktalifat
tujjaru filhar." Islam akan tersebar
sampai begitu tersebarnya
maka ada keamanan di mana-mana. Bukan
cuma keamanan di daratan, bahkan
keamanan di lautan sampai para pedagang
bolak-balik berdagang lewat laut.
Wa hatta takud al khailu fisabilillah.
ya. Sampai ee
kuda-kuda pun ya ya
sampai orang pada masuk Islam banyak
sehingga kuda-kuda pun banyak yang ee
berjalan di jalan Allah Subhanahu wa
taala itu terjadi jihad di sana sini.
Orang mengendarai kuda karena
fisabilillah, karena untuk berjihad itu
Islam berkembang.
Setelah itu tumma yazharu aqwamun
yaqraunal Quran. Kemudian muncul
sekelompok kaum yang mereka membaca
Al-Qur'an.
Kemudian mereka sombong dengan berkata,
"Yaquulun man aqrau minna." Siapa yang
lebih jago baca Quran daripada kita? Man
a'lamu minna. Siapa yang lebih berilmu
daripada kita? Jadi ujub dengan
qiraahnya, ujub dengan ilmunya. Man
afqahu minna? Siapa yang lebih fakih?
Karena dia belajar fikih misalnya dia
meng siapa yang lebih fakih, lebih paham
daripada kita?
Qala hal fiulaika min khair. Kemudian
Rasulullah berkata, "Apakah ada kebaikan
pada orang seperti itu?" Rasulullah
bertanya, "Qu Allah rasul alam." Para
sahabat berkata Allah dan rasulnya lebih
mengetahui.
Qa ulaika minkum minil ummah. Mereka
orang-orang ini yang baca Quran kemudian
sombong mengatakan, "Siapa yang lebih
pandai daripada kita? Siapa yang lebih
ahli baca Quran daripada kita? Siapa
yang lebih mengerti qiraat daripada
kita? Ya, mereka itu dari kalian kata
Nabi min hadil umah dari umat ini wa
ulaika waquudunar. Dan mereka adalah
bahan bakar api neraka jahanam.
Kata
Syekh Muhammad Abdul Wahab rahimahullahu
taala rawahu Albazzar bisanadin la ba
bihi.
Diriwayatkan oleh Imam Albazzar dengan
sanad yang tidak mengapa. Walit thabrani
maahu an ibni abbasin radhiallahu
anhuma. Dan juga diriwayatkan dari
Thabrani dengan maknanya mirip dari Ibnu
Abbas. Qal Munziri isnaduhu hasan.
Almundir berkata sanadnya hasan. Itu ada
riwayat yang saling menguatkan.
Ee di sini bab tentang di antara dosa
kata Syekh Muhammad Abdul Wahab
rahimahullahu taala, yaitu ngaku-ngaku
ilmu. Kami bisa begini, kami bisa kami
tahu ini, kami ngerti ilmu begini dalam
rangka sombong, merasa lebih tinggi
daripada orang lain.
Ya,
sampai pamer kalau dia punya ee
punya ilmu. Ya. Adapun jika seorang tahu
dia mengatakan saya punya ilmu tentang
ini bukan dalam rangka untuk sombong,
tapi untuk beri faedah. Ada orang
bingung tentang masalah, "Eh, saya
pernah belajar ini masalahnya begini,
pembahasannya begini dalam buku ini."
Ini enggak jadi masalah karena dia ingin
kasih apa? Faedah kepada orang lain.
Tapi K bilang, "Oh, itu masalah. Waktu
saya masih kecil saya sudah bahas. Waktu
saya masih saya sudah jadi sombong,
enggak boleh." Tapi kalau dia bilang,
"Oh, itu masalah saya tahu masalahnya
begini-begini dalam buku ini." Hukumnya
seperti ini. Dalam rangka memberi faedah
kepada orang lain, masyarakat
membutuhkannya, maka tidak jadi masalah.
Dulu para sahabat ada masalah, mereka
kumpul tanya, ada yang tahu masalah ini?
Sahabat sampai diskusi. Mungkin ada
hadis yang ada yang didengar, sebagian
tidak mendengar.
Ya,
seperti Yusuf Alaih Salam ketika dia
ditawarkan menjadi pejabat, dia bilang,
"Ini hafidun alim." Saya bisa
menjaga ee perbendaraan harta Mesir dan
saya punya ilmu tentang itu. Enggak ada
masalah. Karena dia bukan untuk sombong,
tapi untuk supaya diplotkan, diletakkan
pada posisi yang tepat.
Maka dia minta dijadikan sebagai Menteri
Keuangan karena dia punya ilmu tentang
itu dan dia pengin berbuat baik karena
dia jadi Menteri Keuangan, dia akan bisa
mengarahkan untuk sedekah. Dan benar
setelah itu dia ketika panen dia banyak
jual gandum dengan harga murah kepada
penduduk sekitar Mesir.
Jadi dia menunjukkan dia punya ilmu
karena ada keperluan yang jadi masalah
kalau sombong. Saya punya ilmi, saya
punya ini, saya belajar ini. Sampai kita
ini orang enggak bisa ilmu seperti ini.
Wah ini sudah sudah sombong.
Allah ngajarkan kau ilmu untuk kau
tawadu, bukan untuk semakin apa? Som
sombong. Ya, belajar jauh-jauh dari luar
negeri. Mentang-mentang pulang banyak
yang bahlul. Kemudian ya sombong. Ma
bahlul. Bahlul semua.
Kalau semua bahlul kok imamnya bahlul.
Imamnya para bahlul.
Ya. Oleh karenanya ilmu itu bukan untuk
kita sombongkan, tapi untuk kita
zakatkan, kita dakwahkan. Pertama kita
amalkan. Ya, ilmu ada zakatnya. Zakatnya
di antaranya diamalkan dan zakatnya
adalah ditaklimkan, diajarkan. bukan
untuk disombongkan dan diangkuhkan ya.
Makanya di sini kata Nabi sallallahu
alaihi wasallam, Islam tersebar sampai
para pedagang berdagang di lautan karena
aman. Sampai kuda-kuda bertebaran karena
jihad fisabilillah.
Maka setelah itu muncul orang-orang yang
baca Al-Qur'an itu ahli baca Quran ya.
Mutkin kalau hafalan dan baca Quran.
Ya, sampai begitu bangganya dia
mengatakan, "Siapa yang lebih ahli baca
Quran daripada kita? Siapa yang lebih
berilmu daripada kita? Siapa yang lebih
fakih daripada kita?" Sombong.
Ya,
dalam Sahih Muslim ya
ee
Rasulullah mengatakan itu orang yang ri
tiga orang yang di
diazab di neraka jahanam. Di antaranya
seorang alamal Quran ya liuqal annahu
qori. Ya qal alquran liuqal annahu qari.
Seorang yang baca Quran supaya dikatakan
dia adalah qari ahli baca Quran. Ya
man taalamal Quran wa alamahu. Padahal
seharusnya siapa yang belajar Quran dan
mengajarkannya adalah orang yang
terbaik. Tapi ketika niatnya salah,
sombong untuk dikatakan ahli baca Quran,
maka dia justru yang masuk neraka di
luar. Ya.
Bahkan Rasulullah mengatakan, "Hal fi
ulaika min khair?" Orang seperti itu ada
kebaikannya. Kata para sahabat, Allah
dan rasulnya lebih mengetahui. Kata
Nabi, "Tidak ada kebaikannya. Mereka itu
dari kalian, dari umat ini. Waulaik
waqudum waquunar." Mereka itu adalah
bahan bakar api neraka jahanam. Karena
penghuni neraka jahanam itu kalau
penghuni neraka dimasukkan di neraka
maka dia dibakar oleh api. Ketika
dibakar oleh api neraka dia juga
membakar sehingga dia terbakar sekaligus
membakar seperti kayu. Kayu kalau kita
kasih api terbakar enggak? Terbakar. Dia
juga membakar enggak? Juga membakar
juga. Dia terbakar dan dia juga
membakar. Makanya Allah mengatakan
waquduhanas wal hijarah. Neraka itu
bahan bakarnya adalah api adalah ee nas
manusia dan batu. manusia dan batu ya.
Maka siapa yang masuk neraka, dia
terbakar dan dia juga me membakar. Kata
Nabi mengerikan ini orang-orang ahli
baca Quran ini ternyata subhanallah
ternyata bahan bakar api neraka jahanam.
Maka jangan sampai salah niat ketika
seorang baca Quran, belajar tajwid, ya,
belajar hukum-hukum supaya dipanggil
qari, supaya ee sombong dan angkuh. Ya,
itu ilmu tajwid adalah ilmu untuk
memahami Al-Qur'an. Kalau sudah paham
untuk diamalkan.
Makanya berkata eh Fudhail bin Iyad,
innama unzilal Quran liyumala bihasuqat
amala. Sesungguhnya Al-Qur'an diturunkan
untuk diamalkan.
Sementara orang-orang menjadikan amal
Quran itu dengan membacanya saja. Ini
salah. Membaca Al-Qur'an dengan tajwid
itu amal yang bagus. Tapi bukan itu yang
dituntut dari Al-Qur'an. P Al-Qur'an itu
adalah kau memahaminya untuk kau
amalkan, bukan sekedar membaca. Nah,
banyak orang membatasinya hanya pada
sekedar membaca sehingga lalai dari
memahami tafsirnya apalagi
mengamalkannya.
Ya,
Hasan Albashri pernah mencela orang di
zamannya. Hasan Al Basri zaman tabiin.
Sebagian ahli baca Quran di zamannya
berkata.
Ya, ada yang berkata, "Yakulu ahaduhum"
kata Hasan Al Basri. Ada yang berkata di
antara ahli Quran, "Qorul qurana kullahu
falam usqit minhu harfan." Saya sudah
baca Quran dari awal sampai akhir. Tidak
ada satu huruf pun yang saya salah baca.
Itu semuanya sesuai dengan tajwidnya.
Dengan tajwidnya, dengan makhrajnya,
dengan hukum-hukum
apa namanya? Tajwidnya lengkap. Jadi
tidak ada tidak ada khata, tidak ada
kesalahan ya. Hafalannya dari hafalannya
tidak ada satu huruf yang salah.
Bayangkan. Jadi ada orang bangga, "Saya
sudah baca Quran dari awal sampai akhir
tidak ada satu huruf pun yang salah.
Makhrajnya benar, tajwidnya benar, tidak
dilupakan." Maka Hasan Al Bashri
kemudian mengomentari berkata, "Waqad
asqatahu wallahu wallahi kullahu."
Sungguh dia telah menjatuhkan Al-Qur'an
seluruhnya. La yur alaihil Quran la fi
khuluqin wala fi amal. Tidak nampak
padanya Quran. Tidak pada akhlak, tidak
pada amal. Cuma ngfal doang. Salat
malas, sombong, angkuh.
depan orang merendahkan tidak ada akhlak
Quran sama dia sama sekali. Sesungguhnya
dia telah menjatuhkan Al-Qur'an
seluruhnya. Sesungguhnya dia telah salah
Al-Qur'an dari A sampai Z semuanya
salah. Dari alif sampai ya semuanya
salah.
Karena S Basri e Sirin menjelaskan bukan
itu tujuan Al-Qur'an sekedar baca saja
itu sarana. Tujuan Al-Qur'an untuk kau
memahami dan menga mengamalkan.
Makanya ada apakah ada orang yang ahli
tajwid kemudian angkuh? Ada ya sombong.
Jadi mentang-mentang tinggi,
mentang-mentang ini jago qiraat,
kemudian sombong, angkuh, merendahkan
orang lain. Ya, tidak ada nampak
amalnya. Bahkan sebagian orang hafal
Quran tapi maksiat. Maksiat luar biasa.
Hafal Quran tapi
maksiat. Ya,
sudah ada di zaman Hasan Albashri dia
mengatakan orang ini hafiz Quran satu
huruf pun tidak salah tapi tidak ada
Quran sama sekali. pada dirinya tidak
ada pada amalnya tidak ada pada akhlak
akhlaknya
maka seorang berusaha ya ee kalau
belajar Quran berusaha berniat untuk
mengamalkannya. Kita lanjutkan babun
zikru juhudin nikmah. Babkari
kebaikan orang mengingkari kebaikan
orang.
Jadi ikhwan kalau
belajar sudah punya ilmu bukan untuk
bodoh-bodohin orang ya. Jangan bilang
saya ini orang alim sebagian orang gitu.
Saya ini kan alim, saya kan alim.
Subhanallah
ya. Saya jadi sombong, angkuh,
merendahkan orang. Ini percuma ini masuk
neraka di luar orang seperti begini.
Tib. Bab berikutnya bab tentang
penyebutan pengingkaran terhadap
kebaikan orang. Kebaikan ee kenikmatan
maksudnya kebaikan.
Kemudian al Imam Muhammad Abah
membawakan hadis fahih an ibni Abbasin
radhiallahu anhuma marfuan dalam sahih.
Itu sahih Bukhari
dan juga sahih muslim dari Ibnu Abbas
radhiallahu anhuma secara marfu yaitu
dari Nabi sallallahu alaihi wasallam.
Nabi sallallahu alaihi wasallam
bersabda, "Dakaltunar faroitu aksar
ahliha ahliha anisa yakfurna.
Aku masuk ke neraka dan aku melihat
kebanyakan penghuninya adalah wanita.
Mereka kufur.
Qila yakfurna billah." Apakah mereka
kufur kepada Allah? Qala la. Kata Nabi
bukan. Mereka masuk neraka bukan karena
kufur kepada Allah, tetapi yakfurnal
asyir. Tapi mereka kufur kepada suami
itu tidak menghargai kebaikan suami.
Lupa dengan kebaikan suami, mengingkari
kebaikan suami. Wakfurnal ihsan. Dan
mereka mengingkari kebaikan.
Lau ahsanta ihdahunro
tumma roat minkaan qat maitu minka
khairan. Seandainya engkau melakukan
kebaikan kepada salah seorang dari para
wanita, kepada istrimu
seumur hidupmu, kemudian dia melihat
engkau melakukan suatu keburukan di
matanya, maka dia mengatakan, "Ma roitu
minka khairan qat." Aku tidak pernah
melihat kebaikan darimu sama sekali.
Namanya ingkar. Saya tidak pernah
melihat engkau baik sama sekali. Berarti
selama ini kebaikan di diingkari,
dilupakan.
Salah satu dosa besar dan ini terkait
dengan para wanita dan ini dosa besar
yang sangat berbahaya. Karena penyebab
banyaknya wanita masuk neraka. Makanya
sering kalau kajian saya sering
ingat-ingatkan para wanita. Karena Nabi
yang bilang banyak wanita masuk neraka
gara-gara ini. Lupa dengan kebaikan apa?
Suami. Mengingkari kebaikan suami.
Seperti dalam hadis Rasulull sahu alaihi
wasallam ketika berkhotbah Rasul sahu
alaihi wasallam mengkhususkan maju ke
barisan ibu-ibu. Kemudian Rasul sahu
alaihi wasallam berkata, "Ya masyarisa
tasadaqna wahai para wanita bersedekah
kalian. Fainna kunna aksar jahannam."
Karena kalian banyak penghuni neraka
jahanam. Ada yang berkata lima. Ya
Rasulullah, kenapa kami wanita banyak
penghuni neraka jahanam? Kata Nabi
sallallahu alaihi wasallam, lianna kunna
takfurnal asyir. Karena kalian suka
ingkar kepada kebaikan apa? Suami.
Watukirna lakn. Kalian suka mengumpat
watukirna syaka, kalian suka mengeluh.
Ini dosa-dosa yang kata Nabi banyak
menyebabkan wanita masuk neraka. Kurang
nerima, lupa dengan kebaikan suami,
sering melihat yang lain. Hasad sehingga
tidak menghargai apa yang dimiliki di
rumah.
suami sudah capek-capek setengah mati
tidak dihargai. Ya,
ada seorang sopir
sudah kerja sekitar 8 tahun 7 tahun
sebagai supir. Dia mengeluh.
Dia bilang, "Istri saya, saya sudah
kerja sejak sopir sudah sekian tahun.
Tidak pernah dia bilang terima kasih
kalau saya datang bawa uang setoran. Gak
pernah bilang terima kasih suamiku." Gak
pernah.
Gak pernah
tidak pernah menghargai jerih payah
hasil keringat saya. Gak pernah. Ini dia
dia mengeluh sudah 8 tahunan seperti
itu. Dulu mungkin dia kerja apa kemudian
jatuh akhirnya jadi apa? Sopir. Dan
hasilnya tidak seperti biasa. Maka
selama 8 tahun kata dia tidak pernah
dihargai hasil jeripayahnya.
Selalu ini, selalu anu. Sampai dia
bilang istri saya itu seperti neraka
yang ada di rumah. saking apa sering
ngomel ya. Terus dia bilang, "Sebenarnya
saya mau kawin lagi, cuma enggak punya
uang."
Kasihan. Kasihan banget.
Jadi hati-hati, Ibu-ibu.
Jadi wanita yang mulia, wanita yang
patuh kepada suami, yang nerima dengan
kondisi suami, berterima kasih kepada
suami, ya.
Sebaliknya wanita yang tercela yang
tidak tahu terima kasih sama suaminya.
La yanzurullah ilroatin la taskuru
zaujaha wahiya la tastagu. Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Allah tidak
memandang kepada wanita yang tidak tahu
terima kasih sama suaminya padahal
selalu butuh kepada suaminya.
Di sini dalam lafal
dakhaltunar aku masuk ke neraka. Namun
kalau dalam riwayat yang lain dalam
lafal Bukhari, uritunar atau roaitunar,
aku diperlihatkan neraka. Bukan aku
masuk neraka bukan. Ini kelihatannya
salah salah nukil ya. Karena Rasul sahu
alaihi wasallam tidak pernah masuk apa?
Neraka. Tapi kalau surga dalam hadisnya
banyak Rasulullah surga. Surga. Kalau
neraka selalu uritu atau roaitu aku
diperlihatkan neraka atau aku melihat
apa? Neraka. Kalau kita cek dalam Sahih
Bukhari, Sahih Muslim lafalnya bukan aku
masuk neraka tapi uritunar. Aku
diperlihatkan neraka atau aku melihat
neraka. Bisa jadi di buku ini ada
kesalahan nukilan.
Maka aku melihat kebanyakan penghuninya
para wanita. Bisa jadi wallahualam ini
Rasulullah diperikkan masa depan.
Wallahualam. Karena neraka belum ada
penghuninya sekarang.
Ya Rasulullah sering diperlihatkan
penghuni neraka. Yait maksudnya di masa
depan. Seperti Rasulullah mengatakan ee
aku melihat Amr bin Luha alkhuai' yajuru
qasbahu finar. Aku melihat Amr bin
Alkuzai menggeret khususnya di neraka.
Liahu aaluwaib.
Dia orang yang pertama kali
mengkeramatkan unta-unta,
kambing-kambing. Kalau ada unta
melahirkan beberapa kali betina terus,
maka tidak boleh dimakan, tidak boleh
ditunggangi. Kambing-kambing juga
demikian. Kemudian dia yang pertama kali
mengimport berhala dari negeri Syam ke
Jazirah ke Hijaz. Akhirnya disembah.
Kata Rasulullah, "Aku melihat dia
menggetet usnya di neraka." Maka tahu
mereka belum di neraka. Ya, karena
neraka manusia dimasuk neraka ketika
hari apa? Hari kiamat. Seperti Allah
berfirman tentang Firaun. Kata Allah,
"Anaru alaihaduan waumatu
alun asadab." Sesungguhnya Firaun dan
pengikutnya sedang disiksa itu di alam
barzakh pagi dan petang.
Nanti hari kiamat kelakunab.
Masukkanlah Firaun dan bala tentaranya
kepada azab yang lebih pedih yaitu di
neraka apa? Jahanam. Jadi ini mungkin
Rasulullah diperlihatkan tentang masa
masa depan.
Tentang masa depan. Seperti Rasulullah
berkata, "Wahai Bilal, aku mendengar
suara sendalmu di surga." Bilalnya masih
di dunia yaitu Rasulullah melihat
tentang masa depan. Karena Rasulullah
tanya Bilal, "Apa amalmu yang buat
engkau di surga sampai aku mendengar
engkau berjalan di depanku?" Bilalnya
sudah masuk surga belum? Belum. Masih di
dunia. Berarti Rasulullah bercerita
tentang masa depan. di masa depan nanti
Bilal masuk surga. Sama seperti ini di
pilihat neraka ternyata banyaknya banyak
para wanita. Wallahuam. Bisa jadi kenapa
wanita paling banyak? Karena memang
wanita yang paling banyak di dunia ini.
Wanita paling apa? Banyak. Makanya di
antara hari kiamat kelak akan ada 50
wanita yang ngurusi cuma satu laki-laki.
Jadi jumlah wanita sangat banyak
menjelang hari kiamat sampai 50 banding
apa? Satu. Satu laki-laki ketika itu
sangat hebat sampai dia bisa ngurus 50
wanita. Ibunya, istrinya, adiknya,
kakaknya, mbahnya, mungkin tantenya,
bibitnya. Sampai satu orang ngurus
berapa? 50.
Sehingga ketika masuk neraka, otomatis
yang paling banyak juga yang masuk apa?
Neraka. Jadi wanita masuk neraka. Yang
kedua memang wanita ini qadarullah ya
banyak sebab terjadinya kemaksiatan.
Mereka banyak membangkang suami. Di
antaranya mereka lupa dengan kebaikan
suami. Mereka suka mengeluh. Di
antaranya mereka juga bahan
jadi godaan setan. Kata Rasul sahu alaih
wasallam, "Innal marata auratun faid
kajat istasyaran." Sesungguhnya wanita
itu aurat kalau dikeluar maka diintai
oleh setan. Buat apa? untuk dijadikan
jerat-menjerat para lelaki. Ya. Ya. Oleh
karenanya banyak wanita dijadikan
jerat bagi para lelaki. Rasulullah
mengatakan eh sinfani min ahlinar lam
arahuma. Ada dua penghuni neraka yang
sekarang saya belum lihat di zaman Nabi.
Di antaranya nisaun kasiyatun ariyatun
mailatun mumilatun. Wanita-wanita
berpakaian tapi telanjang. berjalan
berkelok-kelok,
miring-miring dan menggait hati para
para lelaki. Makanya kita lihat di
mana-mana iklan pasti ada iklan wanita.
Iklan mie wanita, iklan HP wanita, iklan
sikat gigi juga apa? Wanita. Iklan mobil
juga apa? Wanita. Iklan apa aja pasti
apa? Wanita. Ya, sikat giginya kecil,
wanitanya gede.
Iklan apa aja wanita? Karena itu yang
menarik perhatian. Jadi bahan untuk jual
beli itu apa? Wanita. Sehingga jika
mereka ternyata banyak penghuli neraka
jahanam sangat mungkin selain jumlah
mereka sangat banyak, mereka juga banyak
melakukan apa? Sebagai sebab kemaksiatan
yang menjerat para lelaki terjerumus
dalam zina, pakai parfum di luar
sehingga akhirnya menggoda para lelaki
dan yang lainnya. Wallahuam bawab.
Di antara sebab mereka banyak masuk
neraka.
Rasulullah mengatakan mereka yakfurna,
mereka kufur. Maka ditanya, "Ya
Rasulullah, mereka kufur kepada Allah?"
Kata Rasulullah, "Tidak, bukan kufur
akidah, bukan. Tetapi yakfurnal asyir,
yaitu kufur kepada suami. Yakfurnal
ihsan." Mengingkari kebaikan apa? suami.
Sampai Rasulullah memberi contoh, kalau
seandainya salah seorang dari kalian
berbuat baik seumur hidup, tiba-tiba dia
melakukan dia melihat sesuatu yang dia
tidak sukai, maka dia langsung komentar
dengan komentar yang sangat pedis. Dia
mengatakan, "Ma roitu minka khaironq."
Aku tidak pernah lihat kebaikan darimu
sama sekali.
Ada seorang suami misalnya belikan dia,
belikan dia apa namanya? Ee tiap hari
belikan makanan sehari tiga kali. Pagi
nasi uduk, siang nasi padang. Ya, sore
apa?
Pecelele
peceleleh ya. Besoknya pagi nasi kuning,
siang nasi tegal ya ee malam gorengan.
Tiap hari kasih makan tiga kali sampai
gemuk.
Terus dia minta sesuatu minta lewat di
mall lihat emas. Dia pengin beli Abi,
beli dong. Beli papi, beli, beli, beli.
Terus besok lagi papi itu modelnya
bagus, papinya enggak mau beli. Terus
dia bilang apa? Dasar bakhil.
Subhanallah.
Ini bukan pengalaman pribadi. Enggak ya.
Kemudian dia bilang suaminya bakhil.
Padahal selama ini suaminya selalu ka
kasih. Gara-gara satu enggak dibeliin,
dia bilang, "Pelit."
Pelit. Bakhil. Kalau bahasa Jawa medit.
Kalau bahasa Bugis sek.
Kalau bahasa Jakarta apa?
Koret.
Hm.
Koret.
Subhanallah. Selama ini kebaikan
dilupakan.
Coba dikelupakan.
Seorang wanita misalnya
suaminya mungkin apa bikin dia nangis.
Dia bilang, "Kamu tidak pernah sayang
sama saya?" Enggak pernah sayang.
Gimana? Anak sudah 10 enggak pernah
sayang. Dari mana datang anak-anaknya
tanpa cinta kasih?
kadang kalau ribut sama kemudian dia
cemburu sama suaminya yang berbuat baik
kepada ibunya, kamu memang selalu
mendahulukan ibumu daripada saya. Gimana
mendahulukan
ibu? Apa yang saya kasih? Kamu dibelikan
ini dibelikan lupa. Ini namanya ini
dosa-dosa seperti ini bahaya.
Kamu sama sekali kamu enggak pernah ini
kata-kata ini bahaya cepat bikin masuk
apa? Neraka.
Harusnya bilang, "Papi kok pelit
biasanya enggak gitu kan." Oke, itu kan
bagus biasanya enggak. Tapi jangan
memang pelit seakan-akan sifatnya pelit
padahal enggak. Cuma sekali itu aja
mungkin yang enggak punya duit lagi
malas lagi pelit. Ya mungkin lagi pelit
tapi yang bilang dia seakan-akan selalu
apa? Pelit. Ini makanya kau melakukan
kebaikan dia setahun penuh seumur hidup
terus dia melihat suatu yang dia tidak
suka, langsung dia kasih kata-kata
vonis. Ma roitu minka khairan. Aku tidak
pernah lihat kebaikan. darimu. Padahal
sehari dikasih makan tiga kali sampai
gemuk. Apalagi kebaikan yang kurang.
Disiapkan rumah, kerja keras suaminya
banting tulang ya sampai patah tulang
sampai dibanting orang dimaki-maki
urusan dia. Belikan dia baju, belikan
dia sendal, belikan dia sepatu. Duduk
manis di rumah. Subhanallah. Terus dia
bilang, dia ngomel sama suaminya, angkat
suara sama suaminya, tidak menghargai
kebaikan suaminya.
Ibu-ibu hati-hati ini penyakit mudah
masukkan apa? Neraka jahanam.
Ada seorang kasih tukang parkir kasih
R.000 langsung didoain. Makasih, Mana
semoga cepat naik haji. Gini giniini
pulang ke rumah kasih istri Rp100.000
cuma segini. Masyaallah.
Kalau orang wanita pandai bersyukur,
namanya bersyukur terima kasih. Terima
kasih berbuat baik atau tidak? Kita
kalau punya bos baik sama kita, kita
hormat sama dia enggak? Hormat sama dia.
Sudah kerja keras buat kita. Ini suami
sudah kerja keras, tidak dihargai, ya
dihormati, dimarah-marahin,
direndahkan. Dan itu sebab utama wanita
masuk neraka jahanam.
Apalagi kemudian dia gibain suaminya.
Suamiku begini, suamiku begini. Ya,
padahal suaminya baik. Namanya orang
kadang punya kekurangan ya. Tapi jangan
kemudian lupa dengan kebaikan suami.
Qala rahimahullahu taala.
Kemudian Syekh Abdul Lahab rahimahullah
berkata, "Wa Abi Hura radhiallahu anhu
marfuan dari Abu Hurairah secara marfu
Rasul sahu alaihi wasallam bersabda,
"Man la yaskurunas la yaskurullah."
Ya, siapa man la yasykurinasa la
yasykurillah. Siapa yang tidak bersyukur
kepada manusia itu tidak berterima kasih
kepada manusia pada hakikatnya dia tidak
berterima kasih kepada Allah. Sahu
Tirmidzi waqala hasanun garib. Hadis ini
disahkan oleh Tirmidzi dan berkata,
hadis yang hasan. Ini di antara adab
yang diajarkan dalam Islam. Kita bukan
cuma disuruh bersyukur kepada Allah,
tetapi juga berterima kasih
kepada sebab. Karena kebaikan tersebut
meskipun dari Allah melalui sebab, maka
di antara bentuk kita terima kasih
kepada sebab.
Allah berkata tentang orang tua, ankurli
waliwalidaika ilaial masir. Berterima
kasihlah kepadaku dan terima kasih
kepada kedua orang tuamu. Benar engkau
aku yang ciptakan. Allah yang ciptakan.
Tapi Allah ciptakan kita melalui kedua
orang tua. Benar. Yang kasih rezeki
kepada kita bukan orang tua. Allah yang
kasih rezeki. Tapi Allah kasih rezeki
lewat kedua orang tua. Maka di antara
yang diajarkan dalam syariat Islam kita
mensyukuri sebab juga ya sebagai bentuk
rasa terima kasih.
Meskipun yang utama yang yang tentunya
dengan bersyukur kepada Allah. Yang
dilarang itu kita terima kasih kepada
sebab lupa kepada Allah. Itu yang salah.
Seperti Rasulullah mengatakan atau di
antara syirik, Ibnu Abbas mengatakan
laula misalnya laula kalb, kalau bukan
karena anjing itu mungkin pencuri sudah
masuk seperti itu. Atau mengatakan kalau
bukan ada nahqoda yang pintar mungkin
kita sudah tenggelam. Kalau bukan
pilotnya canggih mungkin kita sudah
mati. Ini semua salah ya. Harusnya kita
bilang kalau bukan karena Allah kemudian
karena apa? Nahqoda. Kemudian karena
polisik. Kemudian karena anjing tadi
sehingga ee pencuri tidak bisa masuk.
Kalau bukan karena Allah kemudian karena
sebab dokter mungkin kita sudah mati ya.
Jadi yang tidak boleh kita ingat sebab
lupa kepada Allah subhanahu wa taala.
Lupa ya. Yang benar kita bersyukur
kepada Allah dan juga bersyukur kepada
sebab. Itu yang diajarkan. Makanya Nabi
memperingatkan kalau ada orang tidak
berterima kasih kepada sebab yang
kebaikan Allah lewat orang itu lewat
sebab tadi, maka dia sebenarnya tidak
bersyukur kepada Allah Subhanahu wa
taala.
Tib. Kemudian hadis berikutnya
waan Jabir radhiallahu anhu marfuan.
Dari Jabir radhiallahu anhu secara
marfu.
Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam,
"Man utiya atan fawajad
falyajzi bihi.
Wam yajid falyutusni bihi fanaa syukrun
fainna faqad syakarahu waman faqad
kafarahu. Dari Jabir radhiallahu anhu
secara marfu rasul sahu al wasallam
bersabda, "Siapa yang diberikan sebuah
pemberian dari orang lain kemudian dia
mendapati
ee yang bisa
membalas setimpal falyajzi bihi maka dia
balas setimpal." Seperti sabda Nabi
sallallahu alaihi wasallam.
Manikumfanakfiu.
Siapa yang berbuat baik kepadamu maka
balas setimpal. Dan ini di antara sunah.
Kalau orang kasih kita buku, kita buku.
Orang kasih kita makanan, kita kasih dia
makanan. Kita berusaha balas setimbal
selama kita mampu. Supaya apa? Supaya
kita tidak semakin kecil hutang budi
sama orang. Kalau kita mampu, maka kita
balas setimpal. Kata Nabi sallallahu
alaihi wasallam, "Fakfiuhu." Balaslah
dengan se setimpal.
Ya, kalau tidak dapatjid falyusni, kalau
tidak dapat bisa balas setimpal maka
sebut dengan kebaikan orang itu telah
berbuat baik sama saya. Faana syukrun.
Sesungguhnya pujian adalah syukur. Di
antaranya falyaduahu mendoakannya. Kita
mendoakan ini berarti kita bersyukur ya.
Fadu lahu hatta taraun annakum qod
kaf'tumuhu. Kata Nabi, "Kalau kalian
tidak bisa balas, kalian doain sampai
kalian merasa doa itu cukup sebagai
balasan baginya." Karena tidak semua
orang berbuat baik kepada kita ingin
dibalas secara materi, secara setimpal.
Misalnya ada pangeran kasih rakyatnya
sesuatu, dia tidak pengin dibalas dengan
materi yang sama. Enggak. Tapi dia ingin
dido didoakan karena dia ngapain dia
sudah kaya raya. Ada orang kaya kasih
kita suatu pemberian, dia tidak pengin
dibalas. Karena di bagi dia materi bukan
sesuatu ya. Ya berarti kita tinggal men
mendoakan. Ada yang kasih, kita perlu
kasih kembali seperti tetangga yang
levelnya sama dengan kita.
Maka seperti ini kita balas materi yang
sama sebisa mungkin. Sebisa mungkin ya.
Dan itu di antara satu contoh yang saya
lihat dari Syekh Abdur Razzaq
hafidahullahu taala. Kalau ada yang
kasih sesuatu, selama dia bisa kasih
balas, dia akan balas. Sampai kemarin
ketika saya buka puasa sama beliau, ada
orang Aljazair bawa kurma. Kata dia,
"Syekhma dari Aljazair." Dia dari
Aljazair saya buat buka puasa. Maka saya
ambil, saya tahan dia ini, ini juga
kurma dari Madinah nih. Jadi saya
langsung balas saat itu juga ya. Dan itu
sunah. Sunah ya. Kalau bisa dibalas maka
dibalas. Kalau enggak bisa baru
didoakan. Mungkin enggak ada ketika itu
enggak sempat balas maka kita doakan.
Kita doakan
fain asna. Kalau dia sebut-sebut
kebaikan orang yang telah berbaik kepada
dia, maka dia telah mensyukurinya. Itu
terima kasih. Masyaallah baik. Terima
kasih, Pak. Terima kasih. Puji dia.
Waman katamu faqad kafarahu. Siapa yang
menyembunyikan? Oh, enggak. Dia enggak
pernah bantu saya. ini ku kufur
ingkar terhadap kebaikan orang lain. Di
antara dosa besar ingkar kepada kebaikan
orang lain. Bahkan dosa besar ini juga
dimasukkan oleh Azzahabi dalam kitabnya
Alkabair itu ingkar dengan kebaikan
orang. Lupa dengan kebaikan orang lain.
Lupa merasa dia berhasil tanpa bantuan
orang orang lain. Dia lupa dengan
kebaikan orang lain.
Oleh karenanya dua hal pertama sisi
pertama hal pertama ditinjau dari orang
yang berbuat baik. Orang yang berbuat
baik jangan berharap disyukuri.
Orang yang berbuat baik jangan berharap
dibalas kebaikannya oleh manusia. Orang
yang berbuat baik jangan minta tunggu
kata terima kasih. Ini adab bagi orang
yang berbuat baik.
Allah mengatakan
wa inimajillahum.
Sesungguhnya para penghuni surga ketika
di dunia mereka itu memberikan makanan
yang mereka sukai kepada anak yatim,
kepada fakir miskin, kepada tawanan. Apa
kata mereka? Innamaillah.
Kami kasih makan kalian karena wajah
Allah. Ikhlas. La nriidu minkum jaza w
syukur. Kami tidak butuh terima kasih
dan balasan. Ini adab kita kalau berbuat
baik kita kelupakan aja. Sampai ada yang
mengatakan ibarat beratbaik seperti kita
buang hajat. Sudah jangan diingat-ingat.
Jangan berharap dia terima kasih. Jangan
berharap dia ee balas. Bahkan bisa jadi
Allah uji kita sudah kita baikin dia,
ternyata dia maki-maki kita.
Ini ditinjau dari pemberi bantuan atau
yang berbuat baik. Ditinjau dari yang
diberbuat baik kepadanya, maka dia
terima kasih. Jangan dia bilang, "Eh,
kau ikhlas ya, saya enggak mau puji
kau." Enggak boleh. Ya, dia bilang
terima kasih. Adab dia, urusan dia
diperintahkan ikhlas, Allah yang suruh.
Tidak usah kau ikut ngomong. Tugasmu
bilang apa? Terima terima kasih. Tugasmu
mengatakan syukran. Jazakal khairan.
Kalau bisa balas setimpal, balas
setimpal. Kalau tidak mau balas
setimpal, doakan. Atau mengatakan
jazakallah khairan. Adapun orang tidak
berterima kasih, terima bantuan
seakan-akan tidak punya budi, tidak
punya hutang budi. Ini orang tidak tahu
terima kasih.
Sudah diantarin, sudah dianu, cuekin
aja. Jadi dia tidak mau hutang budi lah.
Kalau kau mau tidak mau hutang budi
jangan jangan minta bantuan.
Kalau kau sudah minta bantuan, terima
bantuan, harusnya kau berhutang budi
secara oto otomatis. Ya, bilang terima
kasih, syukran, jazakal khairan.
Menyenangkan orang, orang yang bantu
juga merasa didoakan senang. Ya, oleh
karenanya jangan pelit-pelit kita bilang
apa? Jazakallahu khairan. Ini kalimat
kita dapat pahala ngomong begitu. Bahkan
kepada anak buah kita. Kita kalau punya
pembantu kerja bagus, kita enggak ada
salahnya bilang apa? Jazakillah khairan.
Kita punya sufir, dia bagus ngantar,
kita bilang, "Jazakallah khairan." Apa
susahnya?
Kita ada guru di murid, e, guru ngajar
anak kita meskipun kita bayar les, kita
sudah gaji kita bilang, "Jazakallah
khairan." Apa salahnya? Dia sudah
ngabisin waktu untuk ngurusin anak kita
misalnya. Wallahuam bisawab. Demikian
saja apa yang kita sampaikan. Wabillah
taufik hidayah. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.