Transcript
WT_0i5nWmGk • Energi Hijau Akan Menjadi Mata Uang Baru? Membedah Ekonomi Masa Depan
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/wawasan-cerdas/.shards/text-0001.zst#text/0016_WT_0i5nWmGk.txt
Kind: captions
Language: id
Selama ini kita selalu berpikir bahwa
nilai ekonomi itu harus terikat pada
sesuatu yang bisa kita pegang. Kilaunya
emas, kuatnya minyak, atau bahkan janji
dari pemerintah. Tapi gimana kalau
standar nilai berikutnya itu bukan
sesuatu yang kita gali dari perut bumi,
melainkan sesuatu yang kita panen
langsung dari langit dan alam di sekitar
kita. Pernah enggak sih Anda berhenti
sejenak dan bertanya apa sih yang
sebenarnya bikin uang di dompet kita ini
ada nilainya? Nah, pertanyaan yang
kelihatannya sederhana ini sebenarnya
adalah inti dari pergeseran raksasa yang
lagi terjadi di ekonomi global. Oke,
mari kita bedah bareng-bareng menelusuri
fondasi ekonomi global kita dalam sebuah
pencarian akan nilai. Entah itu emas,
minyak, atau uang yang kita pakai
sekarang semuanya itu berdiri di atas
satu fondasi yang sama. Kepercayaan
global. Kepercayaan kalau aset itu cukup
kuat dan stabil untuk menopang seluruh
perekonomian dunia. Yuk, kita mulai
perjalanan kita dari dua era besar
pertama di mana nilai itu terikat erat
pada komoditas fisik yang bisa kita
sentuh dan kita hitung. Jadi di bawah
standar emas, setiap lembar uang kertas
itu pada dasarnya cuma kayak sebuah
tanda terima, sebuah janji kalau Anda
bisa kapan saja menukarkannya dengan
sejumlah emas fisik yang disimpan dengan
aman di brangkas bank sentral. Simpel,
nyata, dan bisa dipegang. Di satu sisi,
sistem ini jelas bikin semuanya stabil
banget. Nilainya pasti inflasi rendah.
Tapi ada tapinya karena emas itu kan
jumlahnya terbatas. pertumbuhan ekonomi
jadi kayak terkunci. Coba bayangin
sebuah negara enggak bisa tumbuh lebih
cepat cuma gara-gara mereka gak bisa
nemuin emas baru. Nah, inilah kelemahan
fatalnya yang bikin sistem ini akhirnya
ditinggalin. Tahun 1971
itu jadi momen krusial. Begitu Amerika
Serikat memutus hubungan dolar dari
emas, seluruh dunia seakan-akan
kehilangan pegangan. Mereka butuh
jangkar baru dan dengan sangat cepat
jangkar itu ditemukan. minyak ini adalah
awal dari sebuah era yang benar-benar
baru. Langkah ini jenius banget loh.
Dengan memaksa semua transaksi minyak di
dunia harus pakai dolar AS, minyak
secara efektif jadi emas hitam yang
baru. Kekuatan dolar bukan lagi datang
dari emas di brangkas, tapi dari fakta
bahwa semua orang di dunia butuh energi.
Mau beli minyak ya harus punya dolar
dulu.
Oke, sekarang kita maju ke era yang kita
tinggali hari ini. Sebuah sistem yang
well enggak didasarkan pada sesuatu yang
bisa kita sentuh, tapi pada sesuatu yang
jauh lebih abstrak, yaitu kepercayaan.
Selamat datang di era uang viat. Nilai
uang kita sekarang enggak dijamin sama
emas atau minyak. Nilainya murni datang
dari kepercayaan kita bersama. Intinya,
selembar uang Rp100.000 itu berharga?
Ya, karena kita semua dan pemerintah
sepakat kalau itu berharga, bukan karena
nilai kertasnya itu sendiri. Tapi sistem
yang cuma modal percaya ini yah ada
rapuhnya. Kita lihat sendiri kan pas
krisis finansial 2008 terus pandemi
kemarin kepercayaan itu bisa goyah dan
inflasi bisa meroket. Makanya diam-diam
dunia sekarang lagi nyari lagi nih
sebuah jangkar nilai yang lebih nyata
dan lebih bisa diukur. Nah, di sinilah
muncul sebuah ide yang bisa dibilang
revolusioner. Gimana kalau standar nilai
global berikutnya itu bukan komoditas
yang kita gali, tapi sesuatu yang kita
hasilkan terus-menerus dari sumber yang
gratis. Coba dibayangin tanpa listrik
dunia modern itu langsung berhenti.
Pabrik, internet, ponsel kita semua
mati. Jadi energi itu bukan cuma
komoditas biasa, dia itu adalah fondasi
dari semua aktivitas ekonomi, kebutuhan
yang enggak bisa ditawar-tawar lagi. Dan
portofolio energi baru ini luar biasa
beragam. Ada tenaga air sebagai fondasi
yang stabil, tenaga surya yang biayanya
makin murah gila-gilaan, tenaga angin
buat melengkapinya, panas bumi yang
kayak detak jantung planet yang enggak
pernah berhenti. Terus ada hidrogen
hijau yang suatu hari nanti bisa jadi
diperdagangkan persis seperti satu barel
minyak. Nah, lihat angka ini 4 sen do
per kW jam. Ini bukan lagi soal energi
alternatif yang mahal buat orang-orang
yang peduli lingkungan. Bukan. Ini
adalah kekuatan ekonomi baru yang super
kompetitif. Ini adalah pengubah
permainannya. Grafik ini nunjukin
semuanya dengan jelas. Bayangin negara A
yang pakai energi hijau murah bisa bikin
barang dengan biaya produksi yang jauh
lebih rendah daripada negara B yang
masih kejebak sama bahan bakar fosil
yang mahal. Di panggung dunia,
keunggulan biaya ini adalah segalanya.
Listrik murah itu artinya ekonomi yang
perkasa. Jadi, apa arti semua ini buat
masa depan nilai ekonomi global? Yuk,
kita rangkum perjalanannya. Progresinya
sebenarnya sangat logis, kan? Dari emas
yang cuma disimpan di brangkas, pindah
ke minyak yang mengalir lewat pipa,
terus ke uang yang modalnya cuma
kepercayaan. Dan sekarang kita menuju
energi yang dipanen dari sumber daya
gratis dan tak terbatas seperti matahari
dan angin. Ini adalah evolusi
berikutnya.
Saya rasa kutipan ini benar-benar
merangkum inti dari semua ini. Emas
memberi kilau, minyak memberi kekuatan,
uang fiat memberi fleksibilitas, tapi
energi hijau memberi masa depan. Poinnya
ini bukan lagi cuma soal lingkungan. Ini
soal siapa yang akan memimpin ekonomi di
masa depan. Sebagai penutup, ada satu
hal yang perlu kita ingat. Sesuatu yang
kita kira masih jauh di masa depan
seringkiali datang jauh lebih cepat dari
yang kita perkirakan. Jadi pertanyaannya
bukan lagi apakah pergeseran ini akan
terjadi, tapi seberapa siap kita ketika
hari itu tiba?