Transcript
FrFwNaIEf_Y • ACES vs MDIY: Laba ACES Anjlok 16% Laba MDIY Stagnan 0.7%. Tapi Kenapa Impor ACES (87%) LEBIH PARAH?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/wawasan-cerdas/.shards/text-0001.zst#text/0048_FrFwNaIEf_Y.txt
Kind: captions
Language: id
Oke, hari ini kita bakal bedah tuntas
dua nama besar di dunia ritail Indonesia
yang sahamnya tuh sering banget jadi
omongan ACES dan MBY. Di satu sudut kita
punya pemain lama yang udah mapan
banget. Nah, di sudut lain ada penantang
baru yang super agresif. Yuk, kita lihat
cerita di balik angka-angka mereka.
Kalau kita lihat sekilas atau dengerin
kata orang di pasar, ceritanya kan udah
jelas banget ya. ICES itu yang premium
yang udah punya nama. Sementara MDIY itu
pendatang baru yang harganya merakyat.
Satu buat kelas atas, satu lagi buat
kita semua. Tapi apa benar sesimpel itu?
Gimana kalau narasi yang selama ini kita
dengar itu sebenarnya cuma kulitnya aja?
Gimana kalau di balik citra mereka yang
beda jauh, modal bisnis inti mereka itu
ternyata ya sama persis. Coba deh kita
intip laporan keuangan mereka. Di situ
biasanya kelihatan cerita yang
sebenarnya. Nah, ini dia intinya. Pada
dasarnya mereka itu main di kolam yang
sama. Dua-duanya sama-sama cari barang
perabotan murah dari luar negeri, terus
dibawa ke sini dan dijual dengan margin
yang lumayan tebal. Sekarang mari kita
uji seberapa benar argumen ini pakai
data. Oke, kita mulai aja langsung ya.
Ronde pertama kita mau lihat siapa yang
larinya paling kencang. Kita adu
pertumbuhan penjualan dan seberapa masif
mereka nambahin toko baru. Ini
benar-benar pertarungan soal kecepatan
dan agresi. Dan MDIY, wih langsung
tancep gas. Penjualan mereka meroket
17,3% cuma dalam 9 bulan. Ini bukan
sekedar tumbuh loh. Ini tuh kecepatan
kilat nunjukin kalau mereka benar-benar
agresif mau ngambil alih pasar. Sekarang
coba kita bandingin sama ACES.
Pertumbuhan penjualannya cuma 1,7% di
periode yang sama. Angka segini tuh udah
nyaris datar ya. Ini kayak sinyal kuat
kalau bisnis mereka mungkin udah mulai
jenuh, udah susah buat tumbuh ngebut
lagi. Dan pertumbuhan NDI ini didorong
dari mana lagi kalau [musik] bukan dari
ekspansi fisik yang gila-gilaan. Cuma
bayangin mereka buka 193 toko baru cuma
dalam setahun. Ini sih namanya strategi
serbu pasar habis-habisan. Bandingkan
lagi sama ISIS yang cuman nambah delan
toko. Wah, bedanya jauh banget kan ISIS
jadi kelihatan kayak raksasa yang
geraknya udah mulai melambat. Sementara
MDI itu kayak penantang baru yang lincah
dan gesit banget. Tumbuh cepat itu
penting, tapi percuma kan kalau enggak
menghasilkan untung. Nah, sekarang kita
masuk ke ronde kedua. Siapa yang lebih
jago mengubah penjualan jadi duit
beneran yang masuk ke kantong
perusahaan? Dan di sinilah kejutan
pertamanya. Nah, coba lihat angka-angka
ini. MDIA menang telak di semua lini.
Margin kotornya 55,5%
jauh di atas ACES. Bahkan margin
bersihnya alias laba bersih yang masuk
kantong itu hampir dua kali lipat lebih
tebal di 13,7%.
Wow, ini benar-benar mematahkan mitos
kalau si premium Aches pasti untungnya
lebih gede. Tapi tunggu dulu, ada harga
yang harus dibayar buat lari kencang
itu? Biaya operasional MDI kayak buat
sewa toko baru sama gaji karyawan itu
melonjaknya hampir 28%. Angka ini jauh
lebih tinggi dari pertumbuhan penjualan
mereka. Artinya apa? Artinya mesin
ekspansi mereka yang super cepat itu
juga ngebakar duit dengan sangat cepat.
Boros banget. Nah, sekarang kita sampai
di titik balik dari analisis ini. Coba
kita lupain dulu angka totalnya. Kita
fokus ke efisiensi. Seberapa produktif
sih setiap satu toko yang mereka punya?
Di sinilah ceritanya berbalik 180
derajat. Dan ini dia momen AH-nya. Satu
toko Ases ternyata bisa menghasilkan
pendapatan hampir lima kali lipat lebih
besar dari satu toko MDIY. Angkanya
jelas banget R24,6 miliar buat Asis.
Sementara MDIY cuma 5 miliar.
Perbedaannya luar biasa. Jadi poin
paling pentingnya tuh ini meskipun MDI
punya toko banyak banget, assis itu
menang telat kalau kita ngomongin
produktivitas pergerai. Laba bersih per
toko Asis itu Rp1,85 miliar. Sementara
MDI cuma 0,69 miliar. Jadi bisa dibilang
Asis itu mainnya kualitas sementara MDAI
mainnya kuantitas.
Oke, kita masuk ke poin perbandingan
terakhir dan ini mungkin yang paling
krusial. Kerentanan mereka berdua. Ingat
kan argumen awal kita? Keduanya ini
hidup dari barang impor. Nah, ini tuh
kayak pedang bermata dua yang bisa jadi
risiko gede banget. Data ini nunjukin
dengan jelas banget seberapa
bergantungnya sama pasokan dari luar
negeri. Gede banget. 87% dari barang
yang mereka jual itu impor. Ini bikin
mereka rentan banget kalau nilai tukar
rupiah lagi goyan. MDI juga sama sangat
bergantung sama import. Angkanya 75%.
Meskipun masih tinggi banget, tapi angka
ini kelihatan lebih rendah dibanding
ACES. Porsi barang lokal mereka lebih
besar. Tapi yang lebih penting dari
angkanya sekarang itu adalah trennya
arahnya ke mana. Ketergantungan impor
ages itu justru naik bikin mereka jadi
makin beresiko kalau rupiah melemah.
Sebaliknya MDI justru berhasil
menurunkan ketergantungan impornya. Ini
langkah strategis yang cerdas banget
dari manajemen MDA ya. Jadi setelah kita
bongkar semua datanya, kita sampai di
kesimpulan. Tapi tujuan kita di sini
bukan buat nentuin siapa pemenangnya ya,
melainkan buat ngasih gambaran yang
lebih jelas soal pilihan investasi yang
ada di depan Anda. Nah, ini
rangkumannya. Di satu sisi ada MBA si
agresif yang lagi bakar duit buat tumbuh
besar. Di sisi lain ada Asis, si raksasa
yang super produktif tapi pertumbuhannya
sudah mulai melambat dan risikonya
nambah. Dua profil investasi yang beda
banget. Pertanyaan inilah yang pada
akhirnya harus dijawab oleh setiap
investor. Anda lebih suka bertaruh pada
pelari cepat yang napasnya sudah mulai
habis-habisan atau pelari maraton yang
larinya udah melambat dari sekedar jalan
kaki. Pilihan ada di tangan Anda.