Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id [Musik] Kita jual duit enggak banyak. Setahun paling kalau saya rata-rata 40 ekor lah setahun. 40 ekor itu sebenarnya kalau saya enggak punya penghasilan nyali nih dengan 40 ekor itu udah cukup. Udah cukup untuk hidup saya setahun hanya dengan 40 ekor itu. Nah, makanya saya sempat bercanda sama istri, "Bu, Ibu bisa PD lah walaupun cuman menjual domba 40 ekor setahun punya penghasilan setingkat Kadis atau camatlah di Kota Tasi kata saya gitu kan." Karena emang benar, Pak, kalau jual bibit F2 doorper itu 3 sampai 6 bulan itu kita di angka 6 juta aja minimal sudah masuk dipotong operasional ini itu sudah masuk. Taruhlah penghasilan saya cuman yang 40 ekor itu tadi ya. Kalau itu berarti kan perkiraan 240 juta ya setahun itu. Kalau kita potong operasional selama setahun Rp0 juta berarti kan ada R10 juta ya R juta lah per bulan insyaallah lah cukup untuk hidup di Kota Tasik cukuplah insyaallah mudah-mudahan ada anak kelima kita gitu kan ya. Alhamdulillah lah. Alhamdulillah udah aman tuh dengan 40 ekor itu sebenarnya. [Musik] Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Pando Rahayu. Saya saat ini usia 35 menjelang 36. Saat ini saya bergerak usaha di bidang peternakan khususnya peternakan noma dorper dan kambing prah. Untuk petanakan doma ini sudah saya geluti dari sekitar tahun 2004 itu ketika saya akhir SMP menjelang masuk SMA. Dulu emang awalnya beternaknya itu kita fokusnya di kambing perah etawa dari satu jantan enam betina. Karena memang dulu kebetulan saya penderita asma nih. Nah, penderita asma. Jadi kalau asma itu kan butuh yang namanya susu kambing katanya gitu. Kalau mahal masih bisa dibeli tapi kalau enggak ada susah. Makanya jadi fokus di situ. Nah, kita inisiatif melihara Kambing Perahitawa. Dulu sistemnya enggak enggak pakai karyawan ya. Jadi sistemnya bagi hasil gitu. Ada di sini saudara yang mau sampai itu 6 ekor tuh bertahan bertahan sampai 2010 selama 6 tahun. Karena apa? Karena emang kita kapasitas kandang seperti itu. Jadi pokoknya setiap ada anakan pokoknya kita fokus jual anakannya aja dijual. Ya, mungkin kita hasil jualnya kita tabungin lah. Cuman mulai 2010 akhir karena kebutuhan saya untuk penelitian. Nah, mulai 2010 itu kan sudah mulai banyak kita mulainya 30 ekor karena emang harus punya penghasilan ya job entrepreneur katanya. Ya udah kita fokus di 30 ekor itu. Jadi ada dua. Jadi, jadi saya fokusnya di susu sama di kontes. Wah, kontes kita kita juara sampai 2019 kita juara terus. Bahkan di 2016 kita sampai tiga kali dapat penghargaan dari Presiden. E 2016 tuh mulai bulan Agustus, Oktober sama November. Jadi kalau Agustus yang jadi juaranya itu adalah kambingnya. Bulan Oktober yang jadi juara itu kandangnya. Peternakan ramah lingkungan. Jadi kan tidak bau katanya gitu kan. Tidak membuat bising tidak apa katanya gitu. Jadi alhamdulillah kita masuk. Nah November olahannya. Tapi sebenarnya 2014 itu kita sudah mulai nih menjajal usaha baru di bidang dagingnya. dalam bentuk kurban dan akikah. Kalau dari 2014 ke sana kan fokusnya kalau ada yang kurban ya yang ada di kandang aja gitu kan. Nah, tapi 2014 kita sudah mulai nih fokus mulai belanja ke pasar buat penyediaan akikah itu ya penghasilan masih normal lah. Penghasilan masih normal masih cukup. Karena prinsip saya peternakan itu walaupun kecil ya walaupun kecil tapi dia bisa panjang dan tahan lama gitu kan. Kalau kita nambahin populasi akomodasi bakal menambah gitu kan seperti operasional. operasional tuh bakal benar-benar nambah gitu kan. Nah, jadi kita fokus di di segitu-gitu aja lah di 30 ekor. Pernah kita banyak sampai ratusan ekor pernah 2010 sampai 2014 tuh populasi itu nambah terus nambah benar-benar nambah sampai bikin kanang sampai kita kanang tuh sampai berapa titik tapi dikelola sendiri walaupun dengan karyawan dulu karyawan sampai 6 atau delan lah gitu kan. Nah, ternyata kewalahan. Kewalahannya bukan di apa. Jadi kan ketika kan karyawan banyak tuh. Ketika karyawan ada yang izin cuti, ketika karyawan ada yang sakit atau enggak ada karyawan yang habis lebaran enggak pulang lagi. Pas lebarannya yang pulang ke sini cuma dua orang. Wah, kasihan. Nah, makanya di situ saya punya metode namanya dulu ada fermentasi katanya ya. Fermentasi 2014 itu. Nah, dari situ ternyata mulai kandang itu mulai enggak bau, mulai ramah lingungan di situ. Bisa terbuktilah sok sama di sinilah gitu. Kalau nanti ada tamu-tamu ke sini walaupun kita sungguhkan dengan kanang yang seadanya, mereka insyaallah tidak akan terganggu. Jadi gini sama kayak kita. Kita kan sering apa minum probiotik tuh kayak yakur kayak apa kan biar pencernaannya bagus tuh. Nah, sama ternak juga gitu. Jadi mereka itu kita kasih probiotik. Nah, dengan harapan bakteri baiknya yang dalam rumen mereka itu bagus. Jadi, jadi bisa mencerna mak dengan bagus. Nah, jadi kotoran yang dikeluarkan rum mereka itu benar-benar pure hampas, pure kotoran. Nah, yang bikin bau itu protein yang tidak tercerna. Jadi membusuk. Nah, itu yang menimbulkan bau itu di situ. Kalau ada mencret nih, oh kenapa nih? Kita kan mencret misalkan karena kelebihan protein. Nah, kita kurangin protein dari dia. Jadi di situ bukan disulap gitu, bukan. Terus gini, ada sanitasi pembuangan. Nah, kita bikinya sepi buat khusus buat urin. Jadi, jangan sampai si Kohe sama si urin itu nyampur selama berhari-hari. Jadi, usahakan si urin itu dia ngalilir terus. Nah, kita bikin sepi tank khusus buat air kencing dia, urin dia gitu. Jadi si kohennya kering. Itu sih yang kita lakukan itu gitu kan. Alhamdulillah berhasil terbuktilah sok karga aman ginilah kan ada kandang yang tiap kali dibersihkan tuh kita mungkin semu berapa kali yang penting kan enggak bau kita bersihkan itu bukan karena bau cuma karena menumpuk aja gitu kan. Nah 2020 ada domba domba baru nih booming namanya domba dorver. Kebetulan yang memelihara pertama itu ketua HPDKI pusat. Nah, kebetulan saya main ke kanangnya dulu kan saya fokusnya gendoma itu kan kayaknya tebal sama bulu gitu kan ya. Dengan harga yang sama lebih banyak kambing dagingnya gitu. Makanya saya perhati kambing. Nah, gara-gara si domba itu ternyata dengan usia 6 bulan 7 bulan bobotnya itu udah bagus. Nah, udah saya tertarik nih si Dorper ini mainlah saya di domba dorper itu main. Saya awalnya ke teman saya itu beli domba Garut yang bunting dengan dorper. Jadi ang nanti F1 awalnya itu lahiran lahiran. Nah, cuman saya konsep gini mungkin ada rezekilah dari Allah yang dikasih kayak gitu tring gitu kayak yureka gitu kan. Wah, Dorper itu kan identiknya kan kepala hitam ya badannya putih disebutnya black head disebutnya gitu. Berarti kalau nanti disilangkan dengan Garut yang anaknya black istilahnya gitu kan berarti itu bagus. Itu prinsip saya. Walaupun secara matematika, secara logika dorper dengan Garut itu sama dengan F1. Tapi kan F1-nya F1 seperti apa? Itu saya peluangnya di situ. Jadi saya fokus ngumpulin anakan-anakan F1 yang black head. Ternyata itu susah dari 100 ekor anak paling yang black-nya itu 15 sampai 20 ekor. Itu pun ada yang jantannya. Nah, kenapa saya fokus di F1? F1 itu jadi gini kan kalau mau mencetak F2 jadi F2 itu lebih tinggi lagi derajatnya. Jadi si pulban baru, si jantan baru kawin dengan F1 sama F2. Nah, saya mikirnya gini. Kalau F1-nya asal-asalan, anaknya juga nanti wah bakal asal-asalan prinsipnya gitu, mikirnya gitu. Kalau yang lain enggak. Kalau yang lain asal dia anaknya anak Dorfer, kawinin aja. Emang benar secara matematika F2. Cuman kan gini kan ada yang mirip Bapak, ada yang mirip Ibu. Kalau kita sembarangan ngawinin kasarnya gitu ya, nanti gin ibunya terus aja kuat sampai ke dia F10 juga gitu kasarnya gitu. Nah, cuma kalau kita sudah pilah-pilah dari awal nih, dari awal orang-orang tuh mikir, kok ternyata dari anakan F2 dari kita bagus, terkenal di Asalam Dorpernya malah mahal katanya seri app-nya mahal. Ya karena memang kita benar-benar diseleksi, benar-benar seleksi, benar-benar enggak asal-asalan lah. Dulu mah banyak F2, F2 yang benar. F2 benar secara matematika kata saya tadi benar, cuman ya hasilnya F2 kok masih mirip lokal katanya F2 gitu. Nah, dari situ ini kan kat saya dari 100 paling cuman 15 atau 20 ekor. Itu pun kalau semua betina. Tapi kalau yang jantan saya jual buat saya mengedukasi ke peternak-peternak yang baru nih yang domba. Kalau kamu mau targetnya daging bukan bibit nih udah jantannya satu aja kata saya gitu. Halah gitu saya tertarik domba 2020 itu mulailah saya di domba door ini sampai sekarang. Karena apa? Jadi si domba itu bisa dipakai kurban sama akikah tuh di usia 6 bulan. Kalau kami 1 tahun. Nah, kan kalau sapi 2 tahun tuh ee unta 4 tahun. Kalau itu kan enggak mungkin melayar unta di sini kan. Nah, sapi kita pernah juga menyarah sapi cuman aduh kayak kayak jebol terus nih beda sama kambing. Nah, kalau kambing itu tadi lama setahun. Nah, makanya sayaah domba ternyata domba itu cukup 6 bulan 6 bulan plus 1 hari lah gitu kan bisa dipakai kurban atau akikah dengan bobot yang sama dengan usia yang lokal yang 1 tahun 2 tahun. Si F1 Dorper ini dia bisa bobbotnya itu di usia 6 bulan itu bisa di antara 25 sampai 35. Bahkan ada yang 36 6 bulan itu walaupun posturnya kecil pendek ya, tapi kalau ditimbang itu masuk resek gitu. Wah, mantap. Nah, cuman ya itu yang saya jadikan pedaging itu akikah kurban itu yang apirannya istilahnya apkiran lah kata saya bilangnya gitu. Kalau yang bagus kita jual bibit ya. Kita enggak enggak banyak kita jual bibit enggak banyak setahun paling kalau saya rata-rata 40 ekor lah setahun. 40 ekor itu sebenarnya kalau saya enggak punya lagi yang lain penghasilan yang lain nih dengan 40 ekor itu sudah cukup udah cukup untuk hidup saya setahun hanya dengan 40 ekor itu. Nah, makanya saya sempat bercanda sama istri, "Bu, Ibu bisa PD lah walaupun cuman menjual domba 40 ekor setahun kat gitu, tapi bisalah gitu punya penghasilan setingkat Kadis atau camatlah di Kota Tasi kata saya gitu kan bercandanya gitu." Karena emang benar, Pak, kalau jual bibit F2 doorper itu 3 sampai 6 bulan itu kita di angka 6 juta aja minimal sudah masuk dipotong operasional ini itu sudah masuk. Jadi kita setor cuman setornya ke istri enggak tiap bulan jadi per tahun lah udah kita kalkulasikan selama setahun aja udah. Alhamdulillah. Nah, jadi enggak ribet. Kita enggak mikir pengin nambahin kadang, nambahin populasi karena segar juga udah cukuplah. Walaupun ada pride harganya mungkin ada waktu batasnya ya. Cuma sampai saat ini saya sudah dari 2021 berarti dari 2021 alhamdulillah sudah aman tuh dengan 40 ekor itu sebenarnya kalau saya dipotong operasional taruhlah penghasilan saya cuman yang 40 ekor itu tadi ya. tanpa akikah, tanpa kurban, tanpa susu, tanpa anakan kambing. Kalau itu berarti kan perkiraan 240 juta ya setahun itu. Kalau kita potong operasional selama setahun Rp0 juta berarti kan ada R0 juta ya R juta lah per bulan insyaallah lah cukup untuk hidup di Kota Tasik cukuplah insyaallah mudah-mudahan dengan anak kelima kita gitu kan ya. Alhamdulillah lah. Saya punya prinsip gini, usia 32 tahun saya harus bisa bebas finansial. Tapi bebas finansialnya bukan berarti pengin beli ini ada duitnya pengin beli itu. Bukan. Bebas finansial versi saya nih. Misal gini untuk kebutuhan keluarga sudah enggak perlu mikir. Aman beras kosong isi lagi listrik. Buat listrik aman. Buat lebaran aman, anak-anak sekolah aman, uang saku aman, uang belanja aman. Jadi kasarnya 32 tahun tuh alhamdulillah gitu kan. Domba lah udahlah katanya sini santah enggak usah banyak-banyak cuma kita mainnya benar-benar main di kelasnya gitu kalau doma lokalan ya kalau dilihat ya heeh grnya ya tetap susah gini kalau saya menap begini dengan waktu yang sama dengan pakan harga pakan yang sama tapi kita tidak bisa membandingkan gitu ini kita ngambil momennya aja nih mumpung si dorper ini masih bagus kita ngambil momennya aja gitu alhamdulillah kalau di sini kalau saya sih usah saya tahuah kita kawin nah dia kalau saya gini Nih saya 2 tahun tiga kali ya berarti sampai usia 5 tahun itu berarti en en kali lahiran nih. Nah, kita 5 tahun ya kita jual antara jual bunting usia 5 tahun nih antara jual bunting kalau enggak itu ya kita potong dan masih enak si dombo itu masih enak karena gini kita pernah beli udah agak lumayan lah walaupun dia di usia 4 tahun 5 tahun ya maksudnya kita potong dagingnya masih enak masih amanlah gitu kan enam kali beranak dengan rata-rata kan kalau domba itu kan sat du ya antara 1 du jadi rata-rata kalau kita ngambil kalau misalkan 6 kali itu 12 kita ngambil 3/4-nya aja berarti bisa del lah bisa del bisa delan anak R juta rata kalau yang F2 api kalau yang kalau yang P blat kalau yang Pbland kan sekarang masih di antara 30 35 harganya itu R30 juta. Tapi ada juga yang teman-teman yang ngejual di angka 25 angka tapi kalau itu anak sendiri R juta itu udah gede itu karena kan operasionalnya sama waktunya sama tapi dengan nilainya yang beda ya udah hasilnya juga beda. Kalau doma biasa itu kalau untuk dagingnya itu ya R2 juta 2,5 lah Rp3 juta lah paling bagus itu hampir dua kali lipat tapi dengan usia yang jauh beda. Kalau doma biasa itu R juta Rp3 juta tuh bisa 1 tahun 2 tahun. Ini saya ini ini saya saya paling ngju 6 bulan maksimal 9 bulan lah. Enggak pernah ada yang setahun. Alhamdulillah laku terus gitu kan. Nanti kita lihatlah contohnya gitu. Alhamdulillah. Jadi kita fokus ngurus si induknya itu setahun. Berarti si anaknya itu kita kasih makannya cuma 4 bulan karena selama 2 bulannya itu dia sama ibunya. Heeh. Nyusul sama makan paling makan yang punya ibunya gitu kan. Nah, pure pure dia kasih makan sama kita usia 2 bulan ke atas, 4 bulan lebih lah. Jadi maksimal 5 bulan. Jadi kalau kita ngitung per hari makan dia 5.000 misal itu ya, kalau kita ngurus maksimal 6 bulan, berarti kan usia dia 8 bulan tuh 6 bulan. 6 bulan berarti berarti 30 hari ya 150 * 6 berarti cuma R900.000 modal dia sebenarnya gitu. Makanya dorper itu mumpung masih bagus nih peluangnya nih main dorper. [Tepuk tangan] Makanya saya mah dari kambing tuh benar-benar segalanya. Saya mah enggak pernah enggak pernah dapat penghasilan dari tempat lain. Bahkan saya nikah aja mas kawinnya kambing juara. Cuma kan dua saya dulu sepasang ya sama istri saya. Jadi enggak dijual lagi dia dipakai akikah buat anak. Bahkan gini alhamdulillah gini dengan kambing itu saya bisa ada madrasah ada yayasan TK gitu kan. TK bahkan masjid nih, masjid yang di komplek sini si masjidnya itu gara-gara kami. Mudah-mudahan bermanfaat bagi masyarakat madrasah yang kita bangun. DTA ya kita bentuknya DTA. Mudah-mudahan bermanfaat. Gini perisunya gini. Bisnis itu bukan soal omset atau aset yang banyak atau omset yang banyak ya. Tapi repeat order kata saya. Saya pikirnya gitu. Repeat order bukan produksi, bukan masalah produksi yang banyak gitu kan, tapi repeat order lah. Jadi repeat order itu gini, walaupun kita punya 40 tapi ordernya terus-terusan tahun ya maksimal tiap tahun lah gitu kan. Jadi kita tenang juga enggak dikejar-kejar produksi. Minimal gini, karyawan enggak terlalu banyak gitu kan. Terus operasional kandang kandang enggak perlu ekspansi ke mana-mana gitu kan. Ya udah cukup segini dengan rumah dekat gitu kan, dengan keluarga dekat ya ngejar apa? Karena kan kata guru saya gini, laki-laki itu punya empat kebahagiaan katanya gitu. Yang pertama ketika dia mempunyai rumah yang lapang katanya. Yang kedua punya kendaraan yang nyaman baik itu motor atau mobil kalau zaman sekarang mungkin ya. Yang ketiga, istri yang salehah beserta keturunan-keturunannya gitu kan. Berarti anak yang salehah. Yang keempat tetangga yang baik. Alhamdulillah kita di sini dengan di lingkungan yang baik. Istri anak yang alhamdulillah gitu kan. Rumah juga heeh lapang gitu kan. Bukan asal rumah tapi lapang juga gitu kan. kendaraan ya bukan asal rada empat asal rada dua tapi nyaman gitu kan. Nah kayaknya itu yang membuat saya ngerasa ya udahlah gitu kan cukup gitu. Jadi ya itu ngajar apa gitu kan. Nah, jadi apalagi sebagai umat muslim kan kita tanah suci alhamdulillah pernah gitu kan walaupun penginlah nanti sama anak-anak kan sama orang tua misalkan nanti pengin tapi yang penting yang wajibnya aja dulu lah gitu tah yang wajibnya dulu kita sudah sudah terlaksana jadi apa ya ini sama istri alhamdulillah ya mungkin karena istri saya yang salehah itu mungkin kalau istri yang lain ya tuh ya lumayan ya 40 juga udah segini apalagi 50 atau 80 tapi istri saya alhamdulillah ngerti gitu gitu kan yang ngajar apa yang penting mah kita bareng-bareng aja terus mungkin itu ya yang bikin itu ya kan ya jadi benar bikin bahagia itu kalau istri sel itu bikin bahagia benar jadi ngerasa cukup kita enggak dikejar-kejar apapun ya kita ya gitu bertahannya ya karena mungkin kita enggak muluk-muluk enggak pengin ngejar mungkin kalau saya ada nafsu nih dapat penghasilan gede misalkan nih ah udah bikin kanang lege yang gede-gede ya mungkin itu yang jadi bom waktu di situ karena kita saving lah saing lamun kasarnya kan kita penghasilan kita save gitu kan apa-apa kita amannya mungkin di situ. Karena prinsipnya ya itu daripada gini saya mirisnya gini banyak teman-teman saya ya bikin kandang baru tuh sampai kapasitas 3.000 ekor jangan kan yang gitu yang ratusan ekor aja kita harus menciptakan dulu pasarnya apanya gitu kan kalau saya kan saya nyiptain pasarnya kan dari 2004 tuh walaupun dulu saya susu kita minum sendiri kadang kita bagi-bagiin ke tetangga setelah laku ya alhamdulillah setelah tahu itu. Nah, makanya yang yang bikin alhamdulillah itu ya mungkin yang bikin bertanya di situlah kita enggak ngoyo pengin jadi semakin besar enggak apa-apa mungkin di situlah kita ngerasa cukup aja gitu ya kita merawat ternak kita dengan baik lah gitu menjaga kesehatannya menjaga kebersihan lingkungannya gitu kan terus promosilah intinya lah promosi dengan kualitas yang bagus gitu kan asalam itu bukan peternakan besar enggak kita enggak gede. Cuma kebetulan kita yang pertama untuk masa crossdor ini. Jadi udah banyak nih yang repeat order, yang order satu du ekor banyak juga yang lebih gede dari kita banyak. Cuma alhamdulillah ya asal tuh ya mungkin asal yang disangka gede mungkin sama orang itu karena gitu kan mereka mikirnya gini mungkin di saya aja yang black head misalkan gitu ya ada 10 tapi kan yang kecilnya yang enggak black headnya banyak mungkin mereka gini kalau di Asalam ada 100 misalkan ada 40 ekor jangan-jangan yang yang lainnya banyak juga enggak kita mah emang benar-benar fokus yang fokus-fokus menjaga kualitas aja gitu tipsnya di situ aja lah ngejaga kualitas mau menerima kritik lah gitu kan ini domonya kayak gitu ini ya kita oh ya udah oke kita perbaiki apa-apa gitu kalau perawatannya ya sama aja pengalaman kita kan melihara coming itu kan udah hampir 10 tahun tuh bahkan dari awal lah gitu kan nah kita terapkan juga ke domba bahkan si domba itu lebih ringan kalau kambing namanya kambing itu bulunya kan jangan dicukur kita harus sisirin kalau belum kering kita hair dryer kan wah gitu kan jadi groomingnya itu groomingnya meang benar-benar wah mahal gitu kan groomingnya mahal kalau domba apa bulunya apa kotor dikit bisa dicuktur sampai botak sama kalau dorfer kan ini enggak ada tanduknya beda kalau kalau umang garut kan ada tanduknya tuh mungkin ada perawatan tanduk kalau ada umang garut kalau doorper kan enggak ada jadi kita benar-benar cuman mandiin vitamin dan makan yang full giji lah makannya harus bergiji gitu aja kalau kita sehari itu dua kali pagi sama sore rumput sama konsentrat kita rumput juga kadang pakai rumput liar karena kalau kita kan breeding nih kalau kita breeding kenapa kita pakai sebagian rumput liar jadi gini jadi si anaknya itu dia lebih cepat makan rumput dorper ini. ini umur 2 3 hari anaknya sudah mau rumput walaupun dia cuman nyincip-nyicip doang. Nah, kalau pakai rumput kan itu teksturnya kan lebih lembut tuh. Beda kan kalau saya kan ada juga tuh namanya rumput pakcong. Pakcong itu kan agak agak kasar lah gitu kan. Harus digiling, harus di coper. Nah, jadi si anak tuh telat nih makan rumputnya. Jadi dia ngelin konsentrat aja terus. Nah, kalau pakai rumput liar jadi si anaknya tuh cepat tuh adaptasi ke rumputnya. Jadi dia kita 2 bulan sudah bisa sapih 2 bulan. Tantangan terbesar itu kematian. Mungkin kematian anak sih sebenarnya kematian anak tapi walaupun itu sudah enggak mau teratasiah sempat saya juga 2014 itu tuh 2014 itu pas awal-awal fermentasi itu dalam 1 bulan 34 ekor anak mati kambing tuh waduh ah cuman itu alhamdulillah tuh ya enggak enggak bikin ngedap lah gini saya dulu itu enggak untung tapi enggak rugi kan harusharusnya untung nih tapi enggak rugi enggak ruginya kenapa yang namanya breeding enaknya breeding tuh gitu kita bisa subsidi silang jadi si anak si inuk ini ngalahirin kalau kami itu kadang tiga ekor yang ini ngalahirin satu Jadi, jadi kalau kolasi misalkan ya kita rata-ratakan kalau dengan yang mati kita rata-ratakan satu ekor satu anak lah gitu ya. Itu kata saya tadi kita istilahnya amanlah gitu tah istilahnya kan gini ya kalau untuk itu berarti kita ada lebihan dari kebutuhan keluarga gitu kan. Jadi bisa nabung buat ya buat apa cuman kalau enggak untung tapi enggak rugi keluarga aman gitu aja. Bagi saya nih kunci sukses dalam bertenang itu kan bukan hanya memelihara, bukan hanya menunggu lahiran, jual beli anak, tapi tetap tetap harus ada di pengelola keuangannya itu. Wah, pengola keuangan itu mah boro-boro dalam bisnis. Untuk kehidupan sehari sangat penting sekali semuanya harus ada lah pengolan keuangan mah gitu kan. jual terang kalau kita catatannya asal-asalah apalagi cuman di catatan di pikiran untung sih benar untung tapi kalau kita nyatatnya asal-asalan per rugilah rugi tanpa sadar itu padal tek-tek di belakangnya tuh lagiung gitu ya karena dia namanya bagus kita kasih makan bagus-bagusan padahal itu yang bisa mengurangi keuntungan tuh di situ. Tapi kita enggak sadar makanya menurut saya mah sebagai bisnis nih penting banget punya catatan keuangan yang jelas terpantau dan bisa diakses kapan saja. Untuk meng-handle semua itu, saya menggunakan aplikasi yang namanya Odu, aplikasi kelola bisnis termudah. ODU adalah bisnis software yang lengkap, all inone, uploadable, dan mudah digunakan. Bayangkan kalau semua urusan bisnis bisa dikendalikan dalam satu platform yang sangat terintegrasi. Fiturnya ada sales, kelola pesanan pelanggan dengan cepat dan otomatis. Invoicing, buat dan kirim invoice hanya dalam hitungan detik. accounting, laporan, keuangan, real time, dan enggak perlu pusing lagi. Enggak cuma itu, Odo juga punya fitur yang lainnya seperti POS, website, HR, project management, dan lain-lainnya gitu. Saatnya bisnis kamu naik kelas dengan ODU. Makanya buat teman-teman coba OD secara gratis atau ngobrol bareng pakar ODO dengan cara klik link yang ada di deskripsi. [Musik] Potensi di domba itu selalu besar. Kenapa selalu besar? Karena yang menciptakan pasarnya langsung oleh Allah. Itu prinsip saya. Dalam bentuk apa? Dalam bentuk akikah. Gini, kalau kurban ya kalau kurban masih bisa sapi atau unta kan. Tapi kalau akikah enggak ada itu kecuali domba dan kambing gitu kan. Kita gini aja kan populasi di Indonesia itu kan hampir udah hampir 300 juta lah ya. Kalau kita ngambil setengahnya ada R50 juta kata gitu kan 150 juta jiwa misalkan itu kita ambil 10%-nya berarti Rp15 juta ya 10%-nya. Kalau kita ngambil lagi 1%-nya berarti Rp1.500. Kalau kita ngambil 0,1-nya berarti kan Rp150.000. Nah, misalkan gini saya nih, saya nih harapan harapan hidup saya misalkan nih saya ingin 50 tahun lagi nih hidup misalkan gitu kan 50 tahun lagi ya saya gitu dengan ini mah dengan saya menargetkan aja akikah ini mah akikah sehari tiga ekor itu hari aja tiga ekor bukan tiga orang kalau tiga orang bisa lebih dari 3 ekor soalnya kan kalau laki-laki kan dua tuh 3 ekor ada sehari setahun itu 1.000 lah rata-rata 1000 kan kalau saya targetnya misalkan 50 tahun ke depan berarti cuman Rp50.000 Ibu dengan kondisi pasar yang tadi Rp150 juta. Jadi pelunya gede banget. Itu baru dari akikah, belum dari hotel, belum restoran gitu kan, belum katering itu akikah aja. Kenapa saya potensinya hanya di akikah? Karena gini, misalkan seluruh orang Indonesia nih sama Allah tuh ditakdirkan tidak menyukai daging domba atau kambing misalkan nih. Tapi Allah tetap paksa kita untuk membeli kambing dan domba dalam bentuk akikah gitu kan. Walaupun tadi kambingnya kita kasih ke daerah-daerah terpencil ke mana gitu, ke manalah ke luar negeri gitu kan. Tapi kita tetap harus beli nih gitu kan. Beda kalau kalau seluruh orang di Indonesia tidak suka ayam masih ada sapi gitu kan masih ada kambing. Tapi kalau kita tidak suka kambing dan doma, Allah tuh tetap pasal kita harus beli nih buat lagi itu seumur hidup sekali tapi kan tetap ada peluang gitu. Maksudnya peluang tuh ada gitu kan benar-benar tidak dinolkan gitu peluangnya gitu kan. Nah, harapannya untuk peram ini semoga semakin bisa menopang kehidupan saya dan keluarga itu intinya itu kan ya. Kedua, lebih bermanfaat lagi bagi masyarakat sekitar khususnya tetangga karena kan saya dari dulu gini, prinsip hidup saya tuh menjadi yang berguna di atas yang terbaik. Bukan walaupun asalam bukan peternakan yang paling bagus, yang paling gede, yang paling apa, tapi insyaallah kita tetap berguna nih, menjadi paling yang berguna lah gitu kan. Intinya gitulah harapannya gitu. terus karyawannya lebih sejahtera gitu kan, domba-domanya lebih di-update lagi, lebih bagus lagi. Yang mungkin kalau sekarang saya masih menjual yang domba bagus itu masih di angka R juta misal gitu kan. Kalau nanti bisa lebih murah tapi saya enggak cukup nih dengan penghidupan yang lainnya misalkan gitu. Harapannya ya intinya lebih bermanfaatlah. Lebih bermanfaat buat teman-teman yang mau apa memulai usaha ternak domba nih saya sarankan diangka minimal indukan 20 atau 40 ekor indukan. Jangan juga langsung gede yang punya modal gede misalkan langsung 1000 atau 2.000 atau jangankan 100 200 tetap bertahap aja lah minimal dari 40 ekor atau enggak berapa ekor. Nah, kalau yang modalnya kecil kita asalkan jangan memaksakan diri kecuali kita sistemnya bagi hasil dengan kayak saya dulu lah. Cuma kalau kita ingin fokus sendiri, perawatan sendiri kalau cuman modalnya aduh ada buat karena enggak ada buat domba. Ada buat domba buat karena enggak ada buat operasional. Saran saya berjamaah sama-sama cari partner temanteman kerja teman kuliah tetangga pokoknya siapapun itu yang berpotensi yang satu frekuensi ajakin insyaallah dengan kata saya tadi jadi usaha ternak itu kalau sedikit enggak masuk operasionalnya kalau banyak susah operasionalnya gitu kan lah jadi kalau jadi harus harus pas lah ada skala usahanya nah saya sarankan ini 20 atau 30 ekor indukan lah idealnya segitulah karena ya nanti bagi-baginya aman kalau dibawa itu cberat operasionalnya Karena domba itu ya gini, banyak atau sedikit maka operasional segitu. Apalagi kita pakai karyawan. Karyawan kan kita enggak mungkin. Karyawan mah kalau kita punya 10 enak, cuma kalau kita lebih banyak berat gitu kan. Jadi kita harus standar mereka. Standar mereka di 20 30 ekor. Mulai aja lah dulu. Ee semoga teman-teman yang melihat tayangan ini atau video ini bisa termotivasi atau terinspirasi lah ya. Minimal gitu kan dari apa yang saya sampaikan atau saya jalani selama ini. Saya Pandu dari Peternakan Asalam. Ini naik kelas versi saya. Temukan na kelas versi kamu. [Musik]
Resume
Categories