Transcript
_VMFZQeVL8g • Sukses Ekspor 200 Kontainer ke 15 Negara! Apa Rahasianya?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/naikkellas/.shards/text-0001.zst#text/0062__VMFZQeVL8g.txt
Kind: captions Language: id [Musik] Jadi pencapaian terbesarnya itu kalau kita nilai rata-rata aja ya 30.000 US D satu kontainernya kita kalikan 200 kontainer itu sekitar R0 miliar ya rupiah itu terbanyak dan itu 1 bulan karena saya masih ingat waktu itu ada satu buyer sekali buka LC untuk pembayaran itu satu buyer satu order R15uta US dolar seluruh produk dari Indonesia itu menjadi yang paling dicari oleh bangsa lain mulai dari rempah-rempah kayu dan turunannya kemudian kelapa turunannya banyak sekali semua yang mungkin menjadi sampah di kita itu menjadi produk potensial yang dicari oleh bangsa lain. Misi besarnya adalah bagaimana menciptakan atau melahirkan para pelaku usaha ekspor baru yang lebih banyak lagi. Dalam pelatihan ini kita sudah melakukan intense training tiap 2 bulan sekali dan pesertanya antusiasnya luar biasa. Kemarin aja lebih dari 100 ya dari Sabang sampai Merauke untuk belajar master class di tempat kita mulai dari penyiapan dokumen sampai bagaimana riset pasar. korespondensi sampai bagaimana menangani isu-isu komplain klaim dari buyer. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh buat teman-teman semuanya. Perkenalkan nama saya Yuli Andayani. Saya usia 55 tahun. Saya founder dari Madani Export Academy selaku lembaga pelatihan pengembangan SDM di bidang ekspor dan impor. Pengalaman saya lebih dari 20 tahun bekerja di perusahaan ekspor sebagai tenaga profesional. Kebetulan saya sebagai marketing ekspor sehingga saya tahu betul ee isu-isu yang terjadi di kegiatan transaksi perdagangan internasional. Saya bekerja di perusahaan dalam negeri dan di luar negeri. Ee saya menghandle beberapa customer dari seluruh dunia. Kalau pengalaman saya sih banyak ya, dari plastik packaging, dari handy craft, jadi craft ee segala macam bentuk seni, aksesoris kayak gitu. Kemudian guci-gci juga ada. Tapi kalau yang manufacturing, kalau di luar negeri itu plastik bag itu kantong untuk supermarket besar. Setiap produk pasti punya jodohnya, pasti ketemu buyernya. Hanya saja mungkin cara menemukan bayarnya kurang pas. Hampir setiap negara itu tidak lengkap sumber daya alamnya. Kalau kita kebetulan buah-buahan, aneka macam buah-buahan juga kita punya gitu ya. Kemudian dengan lautan yang banyak juga hasil lautnya berlimpah gitu. Kemudian pertanian, perkebunan, kopi dan sebagainya. Itu kan kita menjadi supplier terbesar lah. Nya Bu Yuli yang mana lebih dulu cari buyernya atau cari produknya dulu? Kalau saya memang mengajarkan yang mana lebih enak, mana yang ketemu duluan kan. Tapi alangkah baiknya kalau kita punya produknya dulu, kita pahami produk knowledge-nya seperti apa sih mutu yang diterima di pasar ekspor, kemudian bagaimana sertifikasi yang harus kita penuhi dari produk kita baru kita jual. Karena kalau menemukan buyernya lebih dulu mungkin nanti mencari supplier-nya ini yang bisa comply terhadap sertifikat yang dibutuhkan tuh susah gitu. Jadi alangkah baiknya produknya kuasai dulu kemudian kita tawarkan. Sering-sering melakukan riset karena kadang-kadang banyak pelaku atau peserta pelatihan saya ini lupa kalau riset itu sangat penting. Riset itu bisa riset pasarnya, riset produknya. Dan ini hal yang paling vital sebenarnya. Jadi untuk mengetahui bahwa produk ini disenangi di negara mana gitu. Kemudian negara mana yang membeli? Kemudian kita bidik sebagai negara tujuan ekspor kita. Baru kita pelajari ketentuan di negara tersebut persyaratannya harus bagaimana. Nah, itu yang sering dilupakan. Tiba-tiba dapat bayar, tiba-tiba enggak tahu harus mengikuti regulasinya, dia harus cari di mana. Itu yang sering sekali terjadi. Banyak platform-platform tentang perdagangan bisa pakai platform umum ya, Trade Map. Ada lagi go forward itu melihat data-data importir terbanyak dari mana. Bisa searching melalui keyword-nya aja. Misalnya produk terbanyak dari Indonesia misalnya itu akan kelihatan nanti kopi misalnya kemudian turunan kelapa seperti itu. Belum yang lain-lain yang rotan, kayu atau industri kreatif. Permintaan pembeli itu bisa bergeser tergantung melihat seni atau hasil yang dihasilkan oleh ee pelaku usaha kita. seluruh produk dari Indonesia itu menjadi produk yang paling dicari oleh bangsa lain gitu ya. Mulai dari rempah-rempah, mulai dari kayu dan turunannya, rotan gitu ya, kemudian kelapa turunannya banyak sekali. Semua yang mungkin menjadi sampah di kita itu menjadi produk potensial yang dicari oleh bangsa lain. Setiap momen adalah pelajaran yang sangat berarti buat saya. pertama ketika kita harus berjuang ya untuk memenuhi sertifikasi yang diinginkan dari produk kita. Memang itu pengalaman berharga. Kemudian perjuangan lagi adalah bagaimana menciptakan satu produk dengan kualitas. Nah, yang sering itu kan kita hampir jatuh di pada kualitas. Jadi, kualitas yang ditawarkan kepada pembeli itu benar-benar harus kita penuhi. Jangan sampai ada campuran undpek gitu. gitu. Nah, itu yang sering terjadi. Banyak produksi yang tidak memun spek tapi dipaksakan untuk dicampur sedikit demi sedikit dan itu bahaya sekali buat kita karena bisa saja nanti produknya di-reject, diop, bahkan tidak beli lagi kepada kita. Jadi bedanya orang belajar dan enggak belajar dulu ilmunya ekspor itu di sisi misalnya antisipasi terhadap klaim atau komplain dari buyer. Contoh misalnya saya pernah ada kasus di mana controlling produknya itu kita tidak begitu serius atau fokus sehingga apa yang diminta bayar itu lolos dari identifikasi kita. Apa akibatnya? satu kontainer kekirim ke luar negeri dan ada satu permintaan yang tidak dimasukkan di dalam order tersebut, di dalam pengiriman tersebut. Buayernya langsung menolak satu kontainer. Dia tidak perlu membuka satu kontainer itu, tapi dia menganggap satu kontainer ini semuanya reject dan minta namanya produk recall atau dikembalikan lagi ke Indonesia. Dan itu jauh lebih mahal daripada kita mengganti dari nilai invoice sendiri. Makanya di dalam pembelajaran itu lebih banyak kehati-hatian. Kalau permintaannya ini bagaimana mengidentifikasi permintaan buyer-nya supaya kita benar-benar penuhin itu supaya klaim atau komplain tidak terjadi. Nah, reject produk itu luar biasa mahal. Kerugiannya apa? kerugiannya bukan cuman finansial, biaya kirim, tapi putus hubungan dengan bayar itu. Karena buyer itu sudah kehilangan kepercayaan kepada kita sebagai eksportir yang bisa memenuhin apa yang mereka mau. Kalau dihitung secara finansial, yang pertama adalah nilai satu invoice itu sendiri. Katakan misalnya 50.000 US dalam satu kontainer itu sudah kerugian. Kemudian kerugian berikutnya adalah order yang sudah ditaruh di kita mungkin ada Rp50.000 R000 lagi untuk bulan berikutnya itu di-cancel sama buyernya. Itu kalau satu kontainer. Kalau tiga kontainer sudah ditaruh kemudian gara-gara satu kontainer yang sudah berangkat dan direject maka tiga kontainer totalnya 200.000 US itu sudah menjadi sebuah kerugian. Belum lagi kerugian yang lain, hubungan putus, order jadi berkurang, dan usaha kita yang produksi, menggaji karyawan tetap atau menggaji tim itu juga hilang. Itu menjadi kerugian yang fatal. Jadi ini pembelajaran juga buat teman-teman yang mau belajar ekspor ya. Paling pertama yang membuat customernya happy karena respon kita. Setiap pertanyaan WA yang masuk atau email yang masuk kita harus respon dengan cepat. Jadi saya punya border atau batasan bahwa setiap email itu maksimum kita harus jawab 1* 24 jam. Nah, itu kekuatan yang pertama kita. Kemudian karena integritas kita dalam memberikan update status terhadap segala sesuatu yang diminta oleh buyer. Jadi jangan sampai buyernya bertanya baru kita infokan. Kalau bisa setiap saat kita beritahu bayar posisi ordernya sampai di mana, kita ada kendala apa gitu. Karena komunikasi ini penting. Hampir semua kegiatan ekspor impor itu karena salah dalam komunikasinya sehingga salah menginterpretasikan akhirnya salah di dalam penyediaan barang atau penyediaan dokumennya gitu. Jadi harus nomor satu kuatkan korespondensi intens terhadap bayar. bicara apa adanya enggak perlu membohongi atau menutupi apa yang terjadi dengan produksi misalnya keuangan kita seperti itu. Saya juga ingin berkontribusi terhadap bangsa untuk memintarkan ya warga negara Indonesia untuk meningkatkan kapasitas SDM-nya khususnya ekspor. Makanya karena kompetensi saya juga di bidang ekspor, saya khususkan madani ekspor academi untuk fokus bagi orang-orang atau teman-teman yang perlu belajar banyak tentang seluk-beluk ekspor dan kendala-kendala ekspor serta bagaimana sih mematuhi aturan dan hukum serta regulasi ee terhadap kegiatan ekspor. bisa eksportir pemula, bisa perusahaan yang mungkin mau mengembangkan penetrasi pasarnya ke luar negeri atau juga bisa kepada perusahaan yang sudah berjalan ekspornya tetapi masih terkendala dengan aturan-aturan baru misalnya itu bisa kami dampingi. Misi besarnya adalah bagaimana menciptakan atau melahirkan para pelaku usaha ekspor baru yang lebih banyak lagi. Karena Indonesia ini menjadi ekspornya jadi turun sekarang. Ada banyak impactnya ya dari perang dagang dari dua negara yang sekarang lagi marak. Kemudian ada banyak isu-isu politik. Ada beberapa negara yang juga mengklaim dirinya sekarang jatuh seperti itu. Kemudian kebijakan-kebijakan, aturan-aturan baru serta mungkin kapasitas SDM kita juga tidak sejalan dengan perubahan global. Jadi bagaimana semakin banyak ekspor semakin banyak devisa yang dihasilkan oleh negara kita dan tentu saja semakin membawa nama Indonesia ke kanca internasional. Yang pertama melatih memberi bekal bagaimana melakukan kegiatan ekspor. Yang kedua membimbing mereka pun masuk ke dalam alumni kita. Jadi seluruh peserta pelatihan saya ini saya tampung satu komunitas. Bahkan ada peserta yang juga ada di luar negeri juga dari peserta seluruh Indonesia dari Medan sampai NTB kemarin juga dari Lombok kita kumpulkan mereka punya barang ada juga teman-teman diaspora yang di luar negeri cari barang jadi kita kumpulkan kita targetnya setiap peserta pelatihan ini sampai jadi eksportir supaya merasakan seperti apa sih nikmatnya ekspor gitu karena ekspor ini bermain quantity big quantity Kalau misalnya mungkin pasarnya masih domestik ya, paling tidak bayar beli ke kita kan minimum satu kontainer. Walaupun ada yang less kontainer loot juga ada kurang dari satu kontainer tapi rata-rata minimum satu kontainer dan begitu mereka cocok mereka akan repeat order ke kita itu dan rutin gitu kan karena mungkin di negaranya tidak bisa memproduksi produk itu sehingga mereka ketergantungan terhadap produk kita ya. Jadi kita hitung aja ya, misalnya satu kontainer dengan nilai basic aja yang nilainya rendah ya 25.000 nilai invoice-nya. Kalau keuntungan kita 10% aja kan 2.500 US tuh kalikan cruise katakan sekarang 16.000 something ya kalikan 16.000 itu sudah hampir Rp50 juta loh. Itu keuntungannya aja. Kalau value-nya nilainya misalnya seperti rempah itu kan nilainya tinggi ya. Jadi itu kalau ambil keuntungan 10%, kalau sampai 30% cuannya sudah Rp100 juta. Kalau di perusahaan yang lain yang saya pengalaman bekerja, sekali order itu memang kita sistemnya tender ya. Jadi sekali satu PO itu 75 kontainer sama 100 kontainer itu sekali PO dengan satu item yang sama tapi repeat order misalnya dikirim dalam waktu 4 bulan gitu. Itu memang kapasitas terbesar yang bisa kita jual kepada customer kita. Jadi pencapaian terbesarnya itu lebih dari 100 kontainer atau lebih dari 2.000 matric ton setiap bulannya yang harus kita ekspor. Kalau kita nilai rata-rata aja ya 30.000 DO satu kontainernya kita kalikan 200 kontainer itu sekitar 60.000 R000 US DO atau sekitar 60 miliar ya rupiah itu terbanyak dan itu 1 bulan bukan 1 tahun ya tapi pengiriman 1 bulan dan rutin setiap bulan harus seperti itu. Karena saya masih ingat waktu itu ada satu buyer sekali buka LC untuk pembayaran itu satu buyer satu order Rp15ut US do LC itu adalah sistem pembayaran dia depositkan uangnya kepada bank untuk bukti pembayaran kepada kita sebagai supplier. Dari pengalaman saya 20 tahun hampir seluruh benua sudah saya pernah ekspor dari Australia, kemudian Amerika, US, Afrika, kemudian Asia. Itu kalau negaranya sudah lebih dari 15 negara ya. Hampir semua pelabuhan-pelabuhan internasional sudah pernah kita kirimkan ke situ kontainer. Kalau paling berkesan saya paling suka menghandle negara Jepang karena mereka tidak nawar tapi mereka punya target kualitas yang tinggi. Jadi kalau bayar Jepang ini perlakuannya memang beda. Dia minta semuanya premium gitu itu paling berkesan. Enak enggak ditawar. Kendala-kendala yang mungkin bisa terjadi. Yang pertama yang paling basic dan selalu terjadi adalah kendala bahasa dulu. yang Batam. Sekarang sudah banyak translator ya, tapi lebih baik kita harus menunjukkan profesionalisme kita. Nulis secara resmi korespondensinya itu mungkin kurang ee apa ya? kurang kelihatan profesional seperti itu. Yang kedua adalah tidak konsistennya dalam penyiapan dokumen. Satu set dokumen itu enggak konsisten. Mungkin penulisannya kemudian di tidak tahu poin-poin yang harus masuk di dalam setiap dokumen itu seperti apa. Bahkan tidak tahu lembaga penerbit dokumennya ini harus ngurus di mana. Karena kadang-kadang mereka hanya tahu dapat bayar tapi enggak tahu ngurus dokumennya ke lembaga mana. Itu sering sekali. Kemudian kerugian lagi misalnya ketidaktahuan. Kalau tidak belajar tentang dokumen, bisa saja barang itu tidak bisa terkirim atau bisa diopuhan karena ada beberapa ee dokumen yang tidak terpenuhi. Itu menjadi kerugian. Seharusnya barang itu sudah berangkat tapi enggak bisa berangkat. Atau ada lagi kerugian yang lain yang contohnya ya yang pernah terjadi. Ini kasus-kasus yang pernah saya alami gitu. Barangnya terkirim, bayarnya di sana nerima tapi jumlahnya ada yang kurang. Nah, itu juga kita malu. Mungkin kita karena tidak tahu bagaimana harus nata di dalam kontainer. Kita janji satu kontainernya isi 2.000 karton misalnya, tapi ternyata masuk 1.00 karton. Sehingga bayar menjadi rugi karena 500 karton itu tidak bisa masuk ke dalam kontainer dan rugi di biaya fre cost-nya. Nah, ini karena ketidaktahuan cara menghitung komposisi di dalam satu kontainernya bagaimana. Jadi, pengetahuan itu memang memberikan arah kepada kita. at least kita tidak terkena kerugian-kerugian yang karena ketidaktahuan itu tadi. Kemudian produknya, produknya enggak tahu kontrol mutunya seperti apa. Yang dibutuhkan mutu yang diterima pasar luar itu seperti apa. Packaging-nya, labeling-nya ada standar khusus, ada yang diinginkan pembeli yang harus penuhi misalnya di dalam packaging itu mungkin enggak tahu. Ini belum lagi tata laksana kepabeanannya. Nah, itu belum tahu kepabeanan itu fungsinya apa. Kalau kita ekspor, kita harus izin ke mana? harus mengisi dokumen apa, cara booking kapalnya seperti apa. Nah, itu banyak sekali yang paling tidak diketahui sama teman-teman. Ketika kita mau ekspor tentunya kan harus laporan dulu ke Bea Cukai untuk ke pabeanannya. Apakah produk kita ini boleh diekspor atau tidak. Mereka mengawasi, meneliti dokumen barang-barang kita. Kalau memang lolos boleh diekspor, mereka akan memberikan satu persetujuan ekspor membawa barang itu ke pelabuhan. Tapi diingat bahwa setiap dokumen yang harus kita isi itu harus lengkap dokumen pelengkapnya. Nah, yang sering terjadi dokumen pelengkapnya ini banyak yang kurang sehingga barang tidak bisa masuk ke dalam pelabuhan atau bisa masuk tapi dokumen pelengkapnya masih diurus belakangan sehingga terjadi delay. barang itu tidak berangkat dan di dalam pelabuhan itu ada sewa partirnya. Setiap hari dihitung dalam US dollar sewa kontainernya, nimbunnya di sana berapa lama dan itu sudah menjadi biaya yang timbul menjadi kerugian dari pelaku usaha. Jadi karena ketidaktahuan ini mungkin yang dianggap untung bisa saja jadi boncos karena tidak terpikirkan bahwa dokumen pelengkap harus segera selesai atau diselesaikan lebih dahulu sebelum barang itu benar-benar bisa dikirim gitu. Kasus yang lain lagi, ketidaktahuan para pelaku eksportir baru biasanya dia terlalu percaya dengan apa yang diminta bayar atau kadang-kadang dokumennya sebelum pembayarannya dilunasi dokumennya sudah dikirim duluan kepada buyer sehingga buyernya bisa untuk mengambil barang itu. Tapi pembayarannya akhirnya bisa saja. ada beberapa kemungkinan buyernya pergi begitu saja enggak bisa dikontak lagi. Kemudian atau dia masih ada tapi delay pembayarannya karena dia dari segi buer dia sudah dapat original dokumennya gitu. Jadi hati-hati sekali pembelajaran bagaimana kita menahan original dokumen sebelum pembayaran lunas itu juga sangat penting. Terus yang paling vital adalah cara penentuan harga jual. mereka hanya memikirkan misalnya komponen-komponen lain yang mungkin timbul ketika kegiatan ekspor itu tidak terpikirkan sehingga mungkin menggerus profit yang mereka punya gitu. Nah, itu banyak sekali pembelajaran di situ. Kita ada ceklis mulai dari nanti pembelajarannya kan praktik ya, praktik bagaimana membuat dokumennya. Jangan hanya teorinya tapi mengidentifikasi setiap dokumen. Mempraktikkan membuat dokumen walaupun itu simulasi dari produknya. Kemudian ke mana dia harus membuat atau mengurus dokumen itu supaya terbit? Kemudian kesalahan apa yang sering terjadi. Nah, itu bisa dilihat dan kita ajarkan semuanya sampai benar-benar keluar sudah fasih di dalam pembuatan dokumen atau dalam mengantisipasi kendala-kendala yang mungkin bisa terjadi. Kita ajarkan akses negara tujuan ekspornya. Jadi, memilih negara tujuan ekspor itu dengan riset. Kenapa memilih di sana? Apakah banyak eksporter Indonesia yang juga melakukan di sana? Bagaimana importirnya? terbanyak komoditas apa yang diambil gitu. Nah, itu nomor satu kita ajarkan akses pasar. Nanti ada laporan-laporan dari intelijen perdagangan tentang informasi kondisi negara itu. Berapa banyak penduduknya, kekuatan membelinya seperti apa, gitu. Itu selain akses juga regulasi di negara itu dia menerapkan standar apa supaya bisa masuk ke negara tersebut gitu. setiap negara pasti punya standar atau cara untuk mengamankan warga negaranya. Nah, oleh karena itu kita harus mempelajari kalau masuk negara Amerika, negara Eropa, negara ee Timur Tengah misalnya, standarisasinya apa yang harus kita penuhi gitu. Selain regulasi dalam negeri. Contoh ya, setiap barang yang masuk ke Indonesia wajib standar nasional Indonesia itu supaya barang-barang yang masuk ke negara kita ini aman, tidak produk yang kualitasnya rendah. Jadi ada standarnya misalnya dia harus aman dari anak usia balita misalnya atau harus aman tidak mengandung potensi-potensi makanan misalnya yang berbahaya gitu. Nah, itu memang harus standar dulu. Kalau dia tidak memenuhi standar nasional Indonesia, dia enggak bisa masuk. Sama negara luar juga mempersyaratkan standarisasi tertentu untuk mengamankan warga negaranya dari serbuan barang-barang luar yang mungkin berbahaya. seperti itu sebagai kontrol, sebagai kunci keberhasilan kalau ekspolnya mau maju memang satu kita tidak pernah berhenti belajar mengenai aturan update aturan regulasi gitu ya banyak bertanya kepada mentor kemudian kita sebagai pelaku usaha harus jujur amanah integritasnya tinggi. Nah bicara tentang integritas ini kita harus komitmen terhadap apa yang kita janjikan kepada buyer. jangan sampai hanya tergi oleh uang yang besar gitu ya, tidak memenuhi apa yang sudah kita nyajikan itu sering terjadi. Jadi bangun integritas dirinya seperti itu. Saya mendirikan MEA ini apa sih yang berbeda dari lembaga pelatihan yang lain? Dan tentu saya mengadopsi dari pembelajaran yang pernah saya ajarkan dan pertanyaan-pertanyaan peserta yang sering ditanyakan kepada saya, isu-isu yang terjadi di lapangan sehingga saya menyusun satu silabus yang memang bagaimana kalau ada kendala-kendala di lapangan kita berikan solusinya dan pengalaman-pengalaman saya yang berbeda satu trainernya memang praktisi semua dengan pengalaman yang berpuluh-puluh tahun yang kedua di dalam pertemuannya tetap bertemu dengan trainernya itu berkali-kali ya bisa sampai delan kali. Kemudian kita pembelajarannya praktik. Jadi memang mereka diharuskan untuk membuat satu dokumen atau beberapa tugas-tugas sehingga mereka paham dengan sendirinya dengan praktik itu bisa dengan simulasi barangnya atau bisa dengan simulasi barang lain gitu. Itu kemudian kita banyak mengulas kasus. Biasanya dalam pelatihan saya, saya beri waktu sekitar 45 menit untuk menanyakan kendala-kendala mereka, kasus-kasus yang mereka hadapi dan kita selesaikan bersama. Hampir semuanya sih puas dengan ee cara pembelajaran seperti itu, gitu. Kemarin saya sempat mendampingi corporate yang alhamdulillah gol empat kontainer ke Vietnam. produknya itu adalah senjata ya atau ee bom latih untuk angkatan udara dan itu berhasil ekspor perdana empat kontainer. Jadi dari pelatihan peningkatan SDM itu kan sebenarnya memberikan bekal atau modal. E modal di dalam kegiatan ekspor impor itu memang ada dua. Yang pertama modal ilmunya dulu baru modal uangnya gitu ya. Yang ditanyakan kan selalu modal uang. Sebenarnya modal ilmu jauh lebih penting gitu ya. mengetahui dulu bagaimana caranya ekspor sehingga dia tahu harus melangkah bagaimana baru memikirkan modal uang. Modal uang itu bisa disiasati dengan cara minta pembayaran di muka dari buyer-nya. Jadi buyer itu kadang-kadang memodali kita untuk menemukan barangnya. Saya pernah ada cerita ni mahasiswa tidak ada modal uang tapi dia modal ilmu belajar ke saya. Kemudian saya bimbing bertemu dengan buyer dan dia sudah mulai naruh PO ee si buyernya ini. Jadi modal pertama dia dapat dari bayar 50% dari total penjualan dia transfer ke anak ini. Nah, kemudian anak ini berikan ke pabrik. Dia hanya mediator saja tapi ilmunya kan sudah tahu. Nah, langkah selanjutnya dia minta lagi tambahan dana kepada buyernya ditambah lagi 30%. Nah, kalau sudah mau dikirim pelunasan 100%. Jadi seperti itu juga bisa. Tapi ilmunya juga harus ada gitu ya. Jadi modalnya itu kalau ditanyain tanpa modal, modal ilmu dulu kalau mau tanpa modal. Modal uang bisa disiasati. Banyak juga lembaga pemerintahan yang membantu permodalan untuk eksportir baru. Makanya Madan Export Academy ini membekali modal pengetahuan dulu kepada teman-teman. Jadi belajar dulu kemudian terapkan modal uang. kita ajari lagi bagaimana tidak menggunakan uang speser jadi madani ekspor akademi yang saya dirikan ini memang dikhususkan untuk para pelaku usaha yang ingin memasarkan produknya ke luar negeri. Dan dalam pelatihan ini kita sudah melakukan in training tiap 2 bulan sekali dan pesertanya antusiasnya luar biasa. kemarin aja lebih dari 100 ya sudah peserta dari Sabang sampai Merauke untuk belajar master class di tempat kita mulai dari penyiapan dokumen sampai bagaimana riset pasar korespondensi sampai bagaimana menangani isu-isu komplain klaim dari buyer segitu nanti ada kelas offline juga yang kita adakan setahun tiga kali nah ini akan diadakan di Malang mungkin teman-teman yang pengin tahu lebih banyak lagi saya undang silakan hadir di Malang di kelas offline. Dalam waktu dekat ini antara bulan Agustus awal kita sudah start lagi untuk yang kelas offline. Kalau kelas online-nya selalu ada. Jadi pada Expot Academy silakan lihat di website kami dan di Instagram kami ya. Buat teman-teman pelaku usaha yang antusias sekali untuk mempelajari ekspor kegiatan selukbeluknya kemudian regulasinya saya berharap bisa meningkatkan kapasitasnya. Dengan mempelajari tentang prosedur regulasi. Harapan saya adalah banyak sekali nanti teman-teman yang kompeten di bidang ekspor dan bisa menembus pasar global untuk produk yang dimiliki ataupun yang tidak memiliki. Saya mohon untuk teman-teman terus belajar mencari ilmunya. Madani Expot Academy adalah tempat terbaik untuk belajar dan membimbing. Kami juga sebagai mentor bukan cuma pelatih atau training. Untuk membantu teman-teman benar-benar bisa go global. Ayo kita raih. Jangan cuma jadi penonton. Kita harus berperan sebagai pelaku pelaku ekspor yang punya kompetensi yang standar internasional. Saya Yuli Andayani ini naik kelas versi saya. Ayo temukan naik kelas versi kamu. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik]