Transcript
_VMFZQeVL8g • Sukses Ekspor 200 Kontainer ke 15 Negara! Apa Rahasianya?
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/naikkellas/.shards/text-0001.zst#text/0062__VMFZQeVL8g.txt
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Jadi pencapaian terbesarnya itu kalau
kita nilai rata-rata aja ya 30.000 US D
satu kontainernya kita kalikan 200
kontainer itu sekitar R0 miliar ya
rupiah itu terbanyak dan itu 1 bulan
karena saya masih ingat waktu itu ada
satu buyer sekali buka LC untuk
pembayaran itu satu buyer satu order
R15uta US dolar seluruh produk dari
Indonesia itu menjadi yang paling dicari
oleh bangsa lain mulai dari
rempah-rempah kayu dan turunannya
kemudian kelapa turunannya banyak sekali
semua yang mungkin menjadi sampah di
kita itu menjadi produk potensial yang
dicari oleh bangsa lain. Misi besarnya
adalah bagaimana menciptakan atau
melahirkan para pelaku usaha ekspor baru
yang lebih banyak lagi. Dalam pelatihan
ini kita sudah melakukan intense
training tiap 2 bulan sekali dan
pesertanya antusiasnya luar biasa.
Kemarin aja lebih dari 100 ya dari
Sabang sampai Merauke untuk belajar
master class di tempat kita mulai dari
penyiapan dokumen sampai bagaimana riset
pasar. korespondensi sampai bagaimana
menangani isu-isu komplain klaim dari
buyer.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh buat teman-teman semuanya.
Perkenalkan nama saya Yuli Andayani.
Saya usia 55 tahun. Saya founder dari
Madani Export Academy selaku lembaga
pelatihan pengembangan SDM di bidang
ekspor dan impor. Pengalaman saya lebih
dari 20 tahun bekerja di perusahaan
ekspor sebagai tenaga profesional.
Kebetulan saya sebagai marketing ekspor
sehingga saya tahu betul ee isu-isu yang
terjadi di kegiatan transaksi
perdagangan internasional. Saya bekerja
di perusahaan dalam negeri dan di luar
negeri. Ee saya menghandle beberapa
customer dari seluruh dunia. Kalau
pengalaman saya sih banyak ya, dari
plastik packaging, dari handy craft,
jadi craft ee segala macam bentuk seni,
aksesoris kayak gitu. Kemudian guci-gci
juga ada. Tapi kalau yang manufacturing,
kalau di luar negeri itu plastik bag itu
kantong untuk supermarket besar. Setiap
produk pasti punya jodohnya, pasti
ketemu buyernya. Hanya saja mungkin cara
menemukan bayarnya kurang pas. Hampir
setiap negara itu tidak lengkap sumber
daya alamnya. Kalau kita kebetulan
buah-buahan, aneka macam buah-buahan
juga kita punya gitu ya. Kemudian dengan
lautan yang banyak juga hasil lautnya
berlimpah gitu. Kemudian pertanian,
perkebunan, kopi dan sebagainya. Itu kan
kita menjadi supplier terbesar lah. Nya
Bu Yuli yang mana lebih dulu cari
buyernya atau cari produknya dulu? Kalau
saya memang mengajarkan yang mana lebih
enak, mana yang ketemu duluan kan. Tapi
alangkah baiknya kalau kita punya
produknya dulu, kita pahami produk
knowledge-nya seperti apa sih mutu yang
diterima di pasar ekspor, kemudian
bagaimana sertifikasi yang harus kita
penuhi dari produk kita baru kita jual.
Karena kalau menemukan buyernya lebih
dulu mungkin nanti mencari supplier-nya
ini yang bisa comply terhadap sertifikat
yang dibutuhkan tuh susah gitu. Jadi
alangkah baiknya produknya kuasai dulu
kemudian kita tawarkan. Sering-sering
melakukan riset karena kadang-kadang
banyak pelaku atau peserta pelatihan
saya ini lupa kalau riset itu sangat
penting. Riset itu bisa riset pasarnya,
riset produknya. Dan ini hal yang paling
vital sebenarnya. Jadi untuk mengetahui
bahwa produk ini disenangi di negara
mana gitu. Kemudian negara mana yang
membeli? Kemudian kita bidik sebagai
negara tujuan ekspor kita. Baru kita
pelajari ketentuan di negara tersebut
persyaratannya harus bagaimana. Nah, itu
yang sering dilupakan. Tiba-tiba dapat
bayar, tiba-tiba enggak tahu harus
mengikuti regulasinya, dia harus cari di
mana. Itu yang sering sekali terjadi.
Banyak platform-platform tentang
perdagangan bisa pakai platform umum ya,
Trade Map. Ada lagi go forward itu
melihat data-data importir terbanyak
dari mana. Bisa searching melalui
keyword-nya aja. Misalnya produk
terbanyak dari Indonesia misalnya itu
akan kelihatan nanti kopi misalnya
kemudian turunan kelapa seperti itu.
Belum yang lain-lain yang rotan, kayu
atau industri kreatif. Permintaan
pembeli itu bisa bergeser tergantung
melihat seni atau hasil yang dihasilkan
oleh ee pelaku usaha kita. seluruh
produk dari Indonesia itu menjadi produk
yang paling dicari oleh bangsa lain gitu
ya. Mulai dari rempah-rempah, mulai dari
kayu dan turunannya, rotan gitu ya,
kemudian kelapa turunannya banyak
sekali. Semua yang mungkin menjadi
sampah di kita itu menjadi produk
potensial yang dicari oleh bangsa lain.
Setiap momen adalah pelajaran yang
sangat berarti buat saya. pertama ketika
kita harus berjuang ya untuk memenuhi
sertifikasi yang diinginkan dari produk
kita. Memang itu pengalaman berharga.
Kemudian perjuangan lagi adalah
bagaimana menciptakan satu produk dengan
kualitas. Nah, yang sering itu kan kita
hampir jatuh di pada kualitas. Jadi,
kualitas yang ditawarkan kepada pembeli
itu benar-benar harus kita penuhi.
Jangan sampai ada campuran undpek gitu.
gitu. Nah, itu yang sering terjadi.
Banyak produksi yang tidak memun spek
tapi dipaksakan untuk dicampur sedikit
demi sedikit dan itu bahaya sekali buat
kita karena bisa saja nanti produknya
di-reject, diop, bahkan tidak beli lagi
kepada kita. Jadi bedanya orang belajar
dan enggak belajar dulu ilmunya ekspor
itu di sisi misalnya antisipasi terhadap
klaim atau komplain dari buyer. Contoh
misalnya saya pernah ada kasus di mana
controlling produknya itu kita tidak
begitu serius atau fokus sehingga apa
yang diminta bayar itu lolos dari
identifikasi kita. Apa akibatnya? satu
kontainer kekirim ke luar negeri dan ada
satu permintaan yang tidak dimasukkan di
dalam order tersebut, di dalam
pengiriman tersebut. Buayernya langsung
menolak satu kontainer. Dia tidak perlu
membuka satu kontainer itu, tapi dia
menganggap satu kontainer ini semuanya
reject dan minta namanya produk recall
atau dikembalikan lagi ke Indonesia. Dan
itu jauh lebih mahal daripada kita
mengganti dari nilai invoice sendiri.
Makanya di dalam pembelajaran itu lebih
banyak kehati-hatian. Kalau
permintaannya ini bagaimana
mengidentifikasi permintaan buyer-nya
supaya kita benar-benar penuhin itu
supaya klaim atau komplain tidak
terjadi. Nah, reject produk itu luar
biasa mahal. Kerugiannya apa?
kerugiannya bukan cuman finansial, biaya
kirim, tapi putus hubungan dengan bayar
itu. Karena buyer itu sudah kehilangan
kepercayaan kepada kita sebagai
eksportir yang bisa memenuhin apa yang
mereka mau. Kalau dihitung secara
finansial, yang pertama adalah nilai
satu invoice itu sendiri. Katakan
misalnya 50.000 US dalam satu kontainer
itu sudah kerugian. Kemudian kerugian
berikutnya adalah order yang sudah
ditaruh di kita mungkin ada Rp50.000
R000 lagi untuk bulan berikutnya itu
di-cancel sama buyernya. Itu kalau satu
kontainer. Kalau tiga kontainer sudah
ditaruh kemudian gara-gara satu
kontainer yang sudah berangkat dan
direject maka tiga kontainer totalnya
200.000 US itu sudah menjadi sebuah
kerugian. Belum lagi kerugian yang lain,
hubungan putus, order jadi berkurang,
dan usaha kita yang produksi, menggaji
karyawan tetap atau menggaji tim itu
juga hilang. Itu menjadi kerugian yang
fatal.
Jadi ini pembelajaran juga buat
teman-teman yang mau belajar ekspor ya.
Paling pertama yang membuat customernya
happy karena respon kita. Setiap
pertanyaan WA yang masuk atau email yang
masuk kita harus respon dengan cepat.
Jadi saya punya border atau batasan
bahwa setiap email itu maksimum kita
harus jawab 1* 24 jam. Nah, itu kekuatan
yang pertama kita. Kemudian karena
integritas kita dalam memberikan update
status terhadap segala sesuatu yang
diminta oleh buyer. Jadi jangan sampai
buyernya bertanya baru kita infokan.
Kalau bisa setiap saat kita beritahu
bayar posisi ordernya sampai di mana,
kita ada kendala apa gitu. Karena
komunikasi ini penting. Hampir semua
kegiatan ekspor impor itu karena salah
dalam komunikasinya sehingga salah
menginterpretasikan
akhirnya salah di dalam penyediaan
barang atau penyediaan dokumennya gitu.
Jadi harus nomor satu kuatkan
korespondensi intens terhadap bayar.
bicara apa adanya enggak perlu
membohongi atau menutupi apa yang
terjadi dengan produksi misalnya
keuangan kita seperti itu. Saya juga
ingin berkontribusi terhadap bangsa
untuk memintarkan ya warga negara
Indonesia untuk meningkatkan kapasitas
SDM-nya khususnya ekspor. Makanya karena
kompetensi saya juga di bidang ekspor,
saya khususkan madani ekspor academi
untuk fokus bagi orang-orang atau
teman-teman yang perlu belajar banyak
tentang seluk-beluk ekspor dan
kendala-kendala ekspor serta bagaimana
sih mematuhi aturan dan hukum serta
regulasi ee terhadap kegiatan ekspor.
bisa eksportir pemula, bisa perusahaan
yang mungkin mau mengembangkan penetrasi
pasarnya ke luar negeri atau juga bisa
kepada perusahaan yang sudah berjalan
ekspornya tetapi masih terkendala dengan
aturan-aturan baru misalnya itu bisa
kami dampingi.
Misi besarnya adalah bagaimana
menciptakan atau melahirkan para pelaku
usaha ekspor baru yang lebih banyak
lagi. Karena Indonesia ini menjadi
ekspornya jadi turun sekarang. Ada
banyak impactnya ya dari perang dagang
dari dua negara yang sekarang lagi
marak. Kemudian ada banyak isu-isu
politik. Ada beberapa negara yang juga
mengklaim dirinya sekarang jatuh seperti
itu. Kemudian kebijakan-kebijakan,
aturan-aturan baru serta mungkin
kapasitas SDM kita juga tidak sejalan
dengan perubahan global. Jadi bagaimana
semakin banyak ekspor semakin banyak
devisa yang dihasilkan oleh negara kita
dan tentu saja semakin membawa nama
Indonesia ke kanca internasional. Yang
pertama melatih memberi bekal bagaimana
melakukan kegiatan ekspor. Yang kedua
membimbing mereka pun masuk ke dalam
alumni kita. Jadi seluruh peserta
pelatihan saya ini saya tampung satu
komunitas. Bahkan ada peserta yang juga
ada di luar negeri juga dari peserta
seluruh Indonesia dari Medan sampai NTB
kemarin juga dari Lombok kita kumpulkan
mereka punya barang ada juga teman-teman
diaspora yang di luar negeri cari barang
jadi kita kumpulkan kita targetnya
setiap peserta pelatihan ini sampai jadi
eksportir supaya merasakan seperti apa
sih nikmatnya ekspor gitu karena ekspor
ini bermain quantity big quantity
Kalau misalnya mungkin pasarnya masih
domestik ya, paling tidak bayar beli ke
kita kan minimum satu kontainer.
Walaupun ada yang less kontainer loot
juga ada kurang dari satu kontainer tapi
rata-rata minimum satu kontainer dan
begitu mereka cocok mereka akan repeat
order ke kita itu dan rutin gitu kan
karena mungkin di negaranya tidak bisa
memproduksi produk itu sehingga mereka
ketergantungan terhadap produk kita ya.
Jadi kita hitung aja ya, misalnya satu
kontainer dengan nilai basic aja yang
nilainya rendah ya 25.000
nilai invoice-nya. Kalau keuntungan kita
10% aja kan 2.500 US tuh kalikan cruise
katakan sekarang 16.000 something ya
kalikan 16.000 itu sudah hampir Rp50
juta loh. Itu keuntungannya aja. Kalau
value-nya nilainya misalnya seperti
rempah itu kan nilainya tinggi ya. Jadi
itu kalau ambil keuntungan 10%, kalau
sampai 30% cuannya sudah Rp100 juta.
Kalau di perusahaan yang lain yang saya
pengalaman bekerja, sekali order itu
memang kita sistemnya tender ya. Jadi
sekali satu PO itu 75 kontainer sama 100
kontainer itu sekali PO dengan satu item
yang sama tapi repeat order misalnya
dikirim dalam waktu 4 bulan gitu. Itu
memang kapasitas terbesar yang bisa kita
jual kepada customer kita. Jadi
pencapaian terbesarnya itu lebih dari
100 kontainer atau lebih dari 2.000
matric ton setiap bulannya yang harus
kita ekspor. Kalau kita nilai rata-rata
aja ya 30.000 DO satu kontainernya kita
kalikan 200 kontainer itu sekitar 60.000
R000 US DO atau sekitar 60 miliar ya
rupiah itu terbanyak dan itu 1 bulan
bukan 1 tahun ya tapi pengiriman 1 bulan
dan rutin setiap bulan harus seperti
itu. Karena saya masih ingat waktu itu
ada satu buyer sekali buka LC untuk
pembayaran itu satu buyer satu order
Rp15ut US do LC itu adalah sistem
pembayaran dia depositkan uangnya kepada
bank untuk bukti pembayaran kepada kita
sebagai supplier. Dari pengalaman saya
20 tahun hampir seluruh benua sudah saya
pernah ekspor dari Australia, kemudian
Amerika, US, Afrika, kemudian Asia. Itu
kalau negaranya sudah lebih dari 15
negara ya. Hampir semua
pelabuhan-pelabuhan internasional sudah
pernah kita kirimkan ke situ kontainer.
Kalau paling berkesan saya paling suka
menghandle negara Jepang karena mereka
tidak nawar tapi mereka punya target
kualitas yang tinggi. Jadi kalau bayar
Jepang ini perlakuannya memang beda. Dia
minta semuanya premium gitu itu paling
berkesan. Enak enggak ditawar.
Kendala-kendala yang mungkin bisa
terjadi. Yang pertama yang paling basic
dan selalu terjadi adalah kendala bahasa
dulu. yang Batam. Sekarang sudah banyak
translator ya, tapi lebih baik kita
harus menunjukkan profesionalisme kita.
Nulis secara resmi korespondensinya itu
mungkin kurang ee apa ya? kurang
kelihatan profesional seperti itu. Yang
kedua adalah tidak konsistennya dalam
penyiapan dokumen. Satu set dokumen itu
enggak konsisten. Mungkin penulisannya
kemudian di tidak tahu poin-poin yang
harus masuk di dalam setiap dokumen itu
seperti apa. Bahkan tidak tahu lembaga
penerbit dokumennya ini harus ngurus di
mana. Karena kadang-kadang mereka hanya
tahu dapat bayar tapi enggak tahu ngurus
dokumennya ke lembaga mana. Itu sering
sekali. Kemudian kerugian lagi misalnya
ketidaktahuan. Kalau tidak belajar
tentang dokumen, bisa saja barang itu
tidak bisa terkirim atau bisa diopuhan
karena ada beberapa ee dokumen yang
tidak terpenuhi. Itu menjadi kerugian.
Seharusnya barang itu sudah berangkat
tapi enggak bisa berangkat. Atau ada
lagi kerugian yang lain yang contohnya
ya yang pernah terjadi. Ini kasus-kasus
yang pernah saya alami gitu. Barangnya
terkirim, bayarnya di sana nerima tapi
jumlahnya ada yang kurang. Nah, itu juga
kita malu. Mungkin kita karena tidak
tahu bagaimana harus nata di dalam
kontainer. Kita janji satu kontainernya
isi 2.000 karton misalnya, tapi ternyata
masuk 1.00 karton. Sehingga bayar
menjadi rugi karena 500 karton itu tidak
bisa masuk ke dalam kontainer dan rugi
di biaya fre cost-nya. Nah, ini karena
ketidaktahuan cara menghitung komposisi
di dalam satu kontainernya bagaimana.
Jadi, pengetahuan itu memang memberikan
arah kepada kita. at least kita tidak
terkena kerugian-kerugian yang karena
ketidaktahuan itu tadi. Kemudian
produknya, produknya enggak tahu kontrol
mutunya seperti apa. Yang dibutuhkan
mutu yang diterima pasar luar itu
seperti apa. Packaging-nya, labeling-nya
ada standar khusus, ada yang diinginkan
pembeli yang harus penuhi misalnya di
dalam packaging itu mungkin enggak tahu.
Ini belum lagi tata laksana
kepabeanannya. Nah, itu belum tahu
kepabeanan itu fungsinya apa. Kalau kita
ekspor, kita harus izin ke mana? harus
mengisi dokumen apa, cara booking
kapalnya seperti apa. Nah, itu banyak
sekali yang paling tidak diketahui sama
teman-teman. Ketika kita mau ekspor
tentunya kan harus laporan dulu ke Bea
Cukai untuk ke pabeanannya. Apakah
produk kita ini boleh diekspor atau
tidak. Mereka mengawasi, meneliti
dokumen barang-barang kita. Kalau memang
lolos boleh diekspor, mereka akan
memberikan satu persetujuan ekspor
membawa barang itu ke pelabuhan. Tapi
diingat bahwa setiap dokumen yang harus
kita isi itu harus lengkap dokumen
pelengkapnya. Nah, yang sering terjadi
dokumen pelengkapnya ini banyak yang
kurang sehingga barang tidak bisa masuk
ke dalam pelabuhan atau bisa masuk tapi
dokumen pelengkapnya masih diurus
belakangan sehingga terjadi delay.
barang itu tidak berangkat dan di dalam
pelabuhan itu ada sewa partirnya. Setiap
hari dihitung dalam US dollar sewa
kontainernya, nimbunnya di sana berapa
lama dan itu sudah menjadi biaya yang
timbul menjadi kerugian dari pelaku
usaha. Jadi karena ketidaktahuan ini
mungkin yang dianggap untung bisa saja
jadi boncos karena tidak terpikirkan
bahwa dokumen pelengkap harus segera
selesai atau diselesaikan lebih dahulu
sebelum barang itu benar-benar bisa
dikirim gitu. Kasus yang lain lagi,
ketidaktahuan para pelaku eksportir baru
biasanya dia terlalu percaya dengan apa
yang diminta bayar atau kadang-kadang
dokumennya sebelum pembayarannya
dilunasi dokumennya sudah dikirim duluan
kepada buyer sehingga buyernya bisa
untuk mengambil barang itu. Tapi
pembayarannya akhirnya bisa saja. ada
beberapa kemungkinan buyernya pergi
begitu saja enggak bisa dikontak lagi.
Kemudian atau dia masih ada tapi delay
pembayarannya karena dia dari segi buer
dia sudah dapat original dokumennya
gitu. Jadi hati-hati sekali pembelajaran
bagaimana kita menahan original dokumen
sebelum pembayaran lunas itu juga sangat
penting. Terus yang paling vital adalah
cara penentuan harga jual. mereka hanya
memikirkan misalnya komponen-komponen
lain yang mungkin timbul ketika kegiatan
ekspor itu tidak terpikirkan sehingga
mungkin menggerus profit yang mereka
punya gitu. Nah, itu banyak sekali
pembelajaran di situ. Kita ada ceklis
mulai dari nanti pembelajarannya kan
praktik ya, praktik bagaimana membuat
dokumennya. Jangan hanya teorinya tapi
mengidentifikasi setiap dokumen.
Mempraktikkan membuat dokumen walaupun
itu simulasi dari produknya. Kemudian ke
mana dia harus membuat atau mengurus
dokumen itu supaya terbit? Kemudian
kesalahan apa yang sering terjadi. Nah,
itu bisa dilihat dan kita ajarkan
semuanya sampai benar-benar keluar sudah
fasih di dalam pembuatan dokumen atau
dalam mengantisipasi kendala-kendala
yang mungkin bisa terjadi. Kita ajarkan
akses negara tujuan ekspornya. Jadi,
memilih negara tujuan ekspor itu dengan
riset. Kenapa memilih di sana? Apakah
banyak eksporter Indonesia yang juga
melakukan di sana? Bagaimana
importirnya? terbanyak komoditas apa
yang diambil gitu. Nah, itu nomor satu
kita ajarkan akses pasar. Nanti ada
laporan-laporan dari intelijen
perdagangan tentang informasi kondisi
negara itu. Berapa banyak penduduknya,
kekuatan membelinya seperti apa, gitu.
Itu selain akses juga regulasi di negara
itu dia menerapkan standar apa supaya
bisa masuk ke negara tersebut gitu.
setiap negara pasti punya standar atau
cara untuk mengamankan warga negaranya.
Nah, oleh karena itu kita harus
mempelajari kalau masuk negara Amerika,
negara Eropa, negara ee Timur Tengah
misalnya, standarisasinya apa yang harus
kita penuhi gitu. Selain regulasi dalam
negeri. Contoh ya, setiap barang yang
masuk ke Indonesia wajib standar
nasional Indonesia itu supaya
barang-barang yang masuk ke negara kita
ini aman, tidak produk yang kualitasnya
rendah. Jadi ada standarnya misalnya dia
harus aman dari anak usia balita
misalnya atau harus aman tidak
mengandung potensi-potensi
makanan misalnya yang berbahaya gitu.
Nah, itu memang harus standar dulu.
Kalau dia tidak memenuhi standar
nasional Indonesia, dia enggak bisa
masuk. Sama negara luar juga
mempersyaratkan standarisasi tertentu
untuk mengamankan warga negaranya dari
serbuan barang-barang luar yang mungkin
berbahaya. seperti itu sebagai kontrol,
sebagai kunci keberhasilan kalau
ekspolnya mau maju memang satu kita
tidak pernah berhenti belajar mengenai
aturan update aturan regulasi gitu ya
banyak bertanya kepada mentor kemudian
kita sebagai pelaku usaha harus jujur
amanah integritasnya tinggi. Nah bicara
tentang integritas ini kita harus
komitmen terhadap apa yang kita janjikan
kepada buyer. jangan sampai hanya tergi
oleh uang yang besar gitu ya, tidak
memenuhi apa yang sudah kita nyajikan
itu sering terjadi. Jadi bangun
integritas dirinya seperti itu.
Saya mendirikan MEA ini apa sih yang
berbeda dari lembaga pelatihan yang
lain? Dan tentu saya mengadopsi dari
pembelajaran yang pernah saya ajarkan
dan pertanyaan-pertanyaan peserta yang
sering ditanyakan kepada saya, isu-isu
yang terjadi di lapangan sehingga saya
menyusun satu silabus yang memang
bagaimana kalau ada kendala-kendala di
lapangan kita berikan solusinya dan
pengalaman-pengalaman saya yang berbeda
satu trainernya memang praktisi semua
dengan pengalaman yang berpuluh-puluh
tahun yang kedua di dalam pertemuannya
tetap bertemu dengan trainernya itu
berkali-kali ya bisa sampai delan kali.
Kemudian kita pembelajarannya praktik.
Jadi memang mereka diharuskan untuk
membuat satu dokumen atau beberapa
tugas-tugas sehingga mereka paham dengan
sendirinya dengan praktik itu bisa
dengan simulasi barangnya atau bisa
dengan simulasi barang lain gitu. Itu
kemudian kita banyak mengulas kasus.
Biasanya dalam pelatihan saya, saya beri
waktu sekitar 45 menit untuk menanyakan
kendala-kendala mereka, kasus-kasus yang
mereka hadapi dan kita selesaikan
bersama. Hampir semuanya sih puas dengan
ee cara pembelajaran seperti itu, gitu.
Kemarin saya sempat mendampingi
corporate yang alhamdulillah gol empat
kontainer ke Vietnam. produknya itu
adalah senjata ya atau ee bom latih
untuk angkatan udara dan itu berhasil
ekspor perdana empat kontainer. Jadi
dari pelatihan peningkatan SDM itu kan
sebenarnya memberikan bekal atau modal.
E modal di dalam kegiatan ekspor impor
itu memang ada dua. Yang pertama modal
ilmunya dulu baru modal uangnya gitu ya.
Yang ditanyakan kan selalu modal uang.
Sebenarnya modal ilmu jauh lebih penting
gitu ya. mengetahui dulu bagaimana
caranya ekspor sehingga dia tahu harus
melangkah bagaimana baru memikirkan
modal uang. Modal uang itu bisa
disiasati dengan cara minta pembayaran
di muka dari buyer-nya. Jadi buyer itu
kadang-kadang memodali kita untuk
menemukan barangnya. Saya pernah ada
cerita ni mahasiswa tidak ada modal uang
tapi dia modal ilmu belajar ke saya.
Kemudian saya bimbing bertemu dengan
buyer dan dia sudah mulai naruh PO ee si
buyernya ini. Jadi modal pertama dia
dapat dari bayar 50% dari total
penjualan dia transfer ke anak ini. Nah,
kemudian anak ini berikan ke pabrik. Dia
hanya mediator saja tapi ilmunya kan
sudah tahu. Nah, langkah selanjutnya dia
minta lagi tambahan dana kepada buyernya
ditambah lagi 30%. Nah, kalau sudah mau
dikirim pelunasan 100%. Jadi seperti itu
juga bisa. Tapi ilmunya juga harus ada
gitu ya. Jadi modalnya itu kalau
ditanyain tanpa modal, modal ilmu dulu
kalau mau tanpa modal. Modal uang bisa
disiasati. Banyak juga lembaga
pemerintahan yang membantu permodalan
untuk eksportir baru. Makanya Madan
Export Academy ini membekali modal
pengetahuan dulu kepada teman-teman.
Jadi belajar dulu kemudian terapkan
modal uang. kita ajari lagi bagaimana
tidak menggunakan uang speser jadi
madani ekspor akademi yang saya dirikan
ini memang dikhususkan untuk para pelaku
usaha yang ingin memasarkan produknya ke
luar negeri. Dan dalam pelatihan ini
kita sudah melakukan in training tiap 2
bulan sekali dan pesertanya antusiasnya
luar biasa. kemarin aja lebih dari 100
ya sudah peserta dari Sabang sampai
Merauke untuk belajar master class di
tempat kita mulai dari penyiapan dokumen
sampai bagaimana riset pasar
korespondensi sampai bagaimana menangani
isu-isu komplain klaim dari buyer segitu
nanti ada kelas offline juga yang kita
adakan setahun tiga kali nah ini akan
diadakan di Malang mungkin teman-teman
yang pengin tahu lebih banyak lagi saya
undang silakan hadir di Malang di kelas
offline. Dalam waktu dekat ini antara
bulan Agustus awal kita sudah start lagi
untuk yang kelas offline. Kalau kelas
online-nya selalu ada. Jadi pada Expot
Academy silakan lihat di website kami
dan di Instagram kami ya. Buat
teman-teman pelaku usaha yang antusias
sekali untuk mempelajari ekspor kegiatan
selukbeluknya kemudian regulasinya saya
berharap bisa meningkatkan kapasitasnya.
Dengan mempelajari tentang prosedur
regulasi. Harapan saya adalah banyak
sekali nanti teman-teman yang kompeten
di bidang ekspor dan bisa menembus pasar
global untuk produk yang dimiliki
ataupun yang tidak memiliki. Saya mohon
untuk teman-teman terus belajar mencari
ilmunya. Madani Expot Academy adalah
tempat terbaik untuk belajar dan
membimbing. Kami juga sebagai mentor
bukan cuma pelatih atau training. Untuk
membantu teman-teman benar-benar bisa go
global. Ayo kita raih. Jangan cuma jadi
penonton. Kita harus berperan sebagai
pelaku pelaku ekspor yang punya
kompetensi yang standar internasional.
Saya Yuli Andayani ini naik kelas versi
saya. Ayo temukan naik kelas versi kamu.
[Musik]
[Tepuk tangan]
[Musik]