Lulusan Amerika Sukses Ciptakan Bisnis Tanpa Pesaing Di Indonesia
7_gjrGOe_eI • 2025-10-24
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Memang kadang banyak hal [musik] yang
kita gak bisa kontrol. Contohnya kayak
COVID juga kita gak bisa kontrol gitu
ya. Karena gak pernah saya ketemu orang
yang bilang [musik] bahwa mulai bisnis
itu gampang. E pasti semuanya bilang
mulai bisnis itu susah. Cuma banyak
enggak yang bilang mulai bisnis [musik]
harus punya modal? Banyak. Akhirnya dia
enggak mulai-mulai. Jadi saya lebih
ngerasa lebih appreciate mereka yang
mulai untuk coba dan habis itu [musik]
enggak gampang nyala. Setiap kali kita
build a company dari 0 ke 10 ke 100 ke
1000 tantangannya beda-beda [musik]
semua. Makanya aku ngerasa yang paling
susah building company itu sebenarnya di
tahap yang [musik] namanya
nama saya Ryan Gondok Kusumo. sekarang
ini umurnya 40 dan usahanya saya itu
adalah jalanin company yang namanya 1000
di mana itu tuh adalah sebuah
marketplace yang menghubungkan antara
klien sama freelancer dan freelancer
kita itu mulai dari desain grafis,
programmer, editor, pembuat video, dan
banyak lagi. 1000 sendiri sampai hari
ini ya kita udah handle kurang lebih
50.000-an ribuan klien banyakan di
Indonesia ya dan kita punya komunitas
freelancer itu kurang lebih 1,3 juta
freelancer.
Saya itu insinyur elektro pas 2002
kuliah di luar negeri ya di Amerika dan
saya ngambil kurang lebih 4 tahun ya dan
dari sana saya sempat kerja dulu sebelum
akhirnya balik Indonesia. Lalu habis
balik dari Indonesia, saya sempat kerja
ya sekitar 4 tahun lagi sebelum akhirnya
buka 1000. Jadi dulu banget pas saya
masih di Amerika, saya sempat datang ke
satu company ya, di mana company itu
punya 15 orang tapi dia handle-nya
sampai ratusan ribu klien dan itu
company tempat kotanya itu di Chicago ya
company-nya dan dia itu tuh ternyata is
a online company yang sifat atau bisnis
modelnya itu namanya crowdsourcing.
Crowdsourcing itu artinya gimana caranya
kita bisa dapat satu ide atau satu
output tapi datangnya dari banyak orang.
Dan dari sana saya belajar juga bahwa eh
kenapa sih dia bisa cuma 15 orang tapi
bisa handle klien segitu banyak karena
dia online company. Online company itu
selama ada internet kita bisa akses ke
website-nya atau produknya mereka. Saya
banyak belajar juga ya. Ibarat kayak
sesi datang ke company gitu ya, belajar
sana di Amerikanya. berangkat dari sana
ya. Saya banyak mikir gitu bahwa oh
kalau saya pengin punya bisnis one day
itu saya pengin online company. Karena
kenapa? Kalau misalnya kita traditional
company kalau kita mau gede contohnya
kayak restoran gitu ya, maka yang kita
lakukan adalah saya mesti buka cabang.
Tiap kali buka cabang itu kan pasti
keluarin kapital atau modal lagi ya.
Sehingga itu bisnisnya untuk bisa scale
rada susah gitu. Sementara online
company ada tantangannya sendiri, tapi
kalau kita mau scale ke depannya ya yang
kita lakukan itu udah enggak perlu
nambah orang lagi. Tapi yang penting
kita gedein server kayak kita gitu. Jadi
online company seperti Crowd Spring yang
tadi saya jelasin itu kliennya itu satu
dunia. Tapi kalau kita punya restoran
misalnya di Jakarta Selatan gitu, saya
mau datangin klien dari Brazil enggak
bisa gitu.
[musik]
Jadi waktu itu tuh saya mulai ya kurang
lebih modal sekitar 30 40 juta habis
saya kerja di corporate company 45 tahun
ya. Nah, habis itu saya langsung terjun
buka 1000 ya. Nah, tentunya waktu di
awal buka itu banyak hal yang enggak
tahu ya
karena pertama kalinya jadi entrepreneur
juga gitu. Jadi buat kesalahan tuh
banyak banget dan dari sana jadi belajar
dan juga motivasinya juga nambah. Jadi
awalnya tuh penginnya sebagai insinyur
kita build sesuatu dari yang enggak ada
jadi ada dan Abi itu lanjut ke gimana
sih bisa bantu banyak orang. Nah semakin
saya masuk ke 1000 dan kita dapat nih
order masuk ke website-nya kita. Habis
itu ada freelancer yang ngambil order
itu sampai akhirnya dia dapat income
dari sana. contohnya jasa desain gitu
ya, jasa buat logo gitu. Nah, itu satu
kepuasan tersendiri ya mungkin ya. Dan
dari sana baru saya pikir gimana sih
kita bisa lipat gandakan ini. Apalagi di
Indonesia juga populasi segitu banyak
cuma jumlah pengangguran waktu itu pun
juga lumayan tinggi ya sampai 56% bahkan
sampai sekarang gitu. Mungkin itu yang
sebenarnya jadi cikalbakalnya ya untuk
enggak cuma bangun tapi mau grow ya.
Oke,
jadi sekitar 6 bulan ya, 1000
website-nya jadi ya waktu itu
website-nya masih benar-benar jadul
banget ya mungkin ya kita bilang ya
halamannya tuh paling cuma 5 en halaman.
Sekarang kita ada jutaan halaman ya di
web-nya kita gitu. Jadi di awal-awal itu
kita tuh banyak manualnya dan saya itu
pas ketemu klien, sori cara cari
kliennya di Indonesia itu misalnya kita
punya jasa tuh jasa buat kemasan ya,
desain kemasan. Klien itu ngajak kita
untuk meeting. Jadi mereka itu di 2011
itu masih enggak fasih soal online.
Online itu untuk cari info tapi belum
untuk transaksi. Jadi ya udah saya
meeting sama klien ya dia jelasin maunya
desain kemasan kayak gimana. saya yang
bantu inputin di website-nya kita. Jadi
100 klien pertama kayak gitu. 100 klien
pertama kayak gitu sampai kita
pelan-pelan ya kayak gedein kita punya
jumlah klien portfolio gitu. Nah, waktu
itu tim paling cuma ada 3 empit
89 bulan setelah itu kita dapat
pendanaan pertama. Pas dapat pendanaan
pertama di situ saya ibaratnya masih
enggak ngerti apa-apa cuma diminta untuk
oh ya udah mulai gedein tim. Pas kita
gedein tim maklum karena sendirian juga
ya. Jadi banyak melakukan kesalahan
juga. Tim seperti apa yang kita mesti
cari, tim seperti apa yang kita mesti
didik gitu. Enggak ngerti semuanya.
Jadi sempat tim kita itu ee berkembang
sampai kurang lebih 15 orang tapi habis
itu sales-nya enggak berkembang.
Notabena kayak waktu itu saya terlalu
sibuk untuk cari investor lagi yang
baru. Di dalam operation-nya tuh
berantakan banget. Akhirnya pas saya
lihat keuangannya makin parah, mau
enggak mau mesti layof kan. Layf dari 15
jadi 5 orang lagi gitu. Jadi banyak up
and down-nya ya di awal-awal even sampai
sekarang tantangan juga masih banyak
gitu. Jadi kita sampai hari ini kurang
lebih sekitar 60-an orang ya kantor kita
ini ya. Komposisinya pasti ada orang
produk, engineer ya, marketing,
operation juga gitu ya. Kita itu sampai
hari ini udah handle kurang lebih kan
50.000-an ribuan klien ya dan cater
komunitas freelancer-nya kita juga. Nah,
banyakan dari mereka itu memang lebih
banyak order di 1000 itu mulai dari jasa
kayak desain grafis, buat website,
aplikasi, maupun kayak buat video,
audio, foto gitu, ataupun kayak
jasa-jasa marketing lainnya. Nah, itu
yang kita bisa ibaratnya per bulan bisa
dapat ribuan order dari sana gitu.
Sampai hari ini pun sebenarnya dengan
banyaknya perubahan di market kita terus
munculin kategori-kategori yang baru.
Sampai hari ini di 1000 kurang lebih tuh
ada sekitar 200-an subkategorinya dan
jasa yang terpampang dari freelancer
kita kurang lebih 30.000-an jasa gitu.
Transaksi kita kurang lebih ribuan ya ee
tiap bulan gitu.
[musik]
Kita itu dari sisi company dulu mungkin
ya. company ini menarik karena dari
tahun ke tahun itu pasti goal dan apa
yang dicapainya beda. Terus jadi dulu di
2012 2013 pas kita udah mulai growing
gitu, kita mau mulai masuk ke situasi di
mana freelancer itu bisa bantu banyak
bisnis owners. Karena kalau saya lihat
waktu itu di 201213, problem nomor
satunya tuh adalah saya mau nyari
penyedia jasa ya, kayak contohnya
videografer, tapi enggak tahu musik ke
mana. Jadi yang waktu itu saya mau
achieve tuh adalah dalam 5 menit bisa
enggak cari videografernya. Dan nomor
dua ya biasanya kalau zaman dulu tuh
kita nyari videografer atau penyedia
jasa yang lain, kita tanya teman ya
mungkin butuh waktu 2 3 4 minggu baru
dia balik lagi. Nanti pas saya dealink
sama videografer tersebut saya bayar
tahu-tahu kabur. Makanya 1.000 itu ya di
2012 sampai 2015 ya kita mau fokus ke
gimana kita bisa dalam hitungan menit
klien kita langsung dapat penyedia jasa
yang cocok dan apakah bisa tanpa resiko?
Makanya kita lebih mainnya banyak ke
escro ya. Escrow itu rekening bersama.
Klien bayar dulu ke 1.000 nanti kalau
pekerjaannya udah selesai baru 1.000
bayar ke freelancer dan kita
monetize-nya dari sana. Kita ngambil fee
dari 10 sampai 30% kayak gitu. Jadi
mungkin di awal challenge-nya atau goal
yang mau dicapai kearasan. Lalu dari
2016 sampai 2020 dengan konsep yang tadi
tanpa resiko e dalam hitungan menit cari
penyedia jasa kan udah bisa di-achieve
ya di platformnya kita gitu. Klien-klien
happy gitu karena cepat mereka nyari
penyedia jasanya dan aman. Kita
challenge selanjutnya adalah gimana
ngubah supaya transaksi yang tadinya
cuma ratusan itu bisa jadi lebih gede
lagi ya. Puluhan ribu tiap bulan
misalnya kayak gitu. Nah, itu yang kita
coba kejar. Nah, cuma pastikan ada up
and down. 2020 kita kena COVID.
Pas kena COVID banyak yang bilang sama
saya, "Oh, pas COVID harusnya freelancer
naik dong." Kita itu marketplace ada
sisi demand sama supply. Supply adalah
orang yang cari kerja yaitu freelancer
itu pasti naik. Tapi sisi demand-nya itu
adalah klien-klien yang punya bisnis
kayak restoran, hotel, ya, travel agent,
fashion. Nah, itu tutup semua. Jadi
waktu itu sempat tuh dari 2020 sampai
2022 golnya tuh cuma survive aja
[tertawa]
gitu. Kita sampai kayaknya waktu itu
sales ada drop sampai 60%-an ada 6065%
gitu. Jadi kita restructure lagi
semuanya kayak gitu. Nah, per hari ini
ya ee bersyukur juga maksudnya kita
banyak lewatin ya semua tantangan itu.
Goalnya per hari ini tuh adalah saya
ngelihat ke depannya market itu banyak
berubah. Jadi kita banyak fokus ke
bagaimana sih untuk brand-nya kita
sebagai freelance marketplace itu tuh
bisa jadi nomor satu ya minimal di
Indonesia dulu baru habis itu ke Asia
Tenggara. Nah, jadi itu mungkin ya goal
yang ingin dicapainya gitu. Tapi
tentunya dengan konsep yang tadi aku
mention juga ya, yaitu bebas resiko ya.
Sama yang kedua itu adalah cepat [musik]
untuk cari penyedia jasanya dalam
hitungan kalau bisa detik.
tadi, tapi dia enggak ngomong-ngomong
lagi.
Kayaknya kalau saya bisa ya share satu
kata yang lumayan penting, kita sebagai
entrepreneur tuh persistensi ya. Kayak
aku ngerasa ada banyak momen yang di
mana tuh kita susah banget kayak udah
udah ibaratnya apa ya, mau jalan tapi
tough selalu ada cobaan. Tapi kadang
saya penasaran orangnya kayaknya masih
bisa deh, kayaknya ada jalan keluarnya
deh. Menurut saya itu hal yang setiap
entrepreneur perlu punya sih menurut
saya gitu untuk enggak gampang nyerah.
Memang kadang banyak hal yang kita
enggak bisa kontrol. Contohnya kayak
COVID juga kita enggak bisa kontrol gitu
ya. Kuncinya tuh adalah pertama ngecoba
dulu. Kalau enggak coba kan enggak
pernah tahu.
Kedua itu ada persis sih. Karena enggak
pernah saya ketemu orang yang bilang
bahwa mulai bisnis itu gampang. E pasti
semuanya bilang mulai bisnis itu susah.
Cuma banyak enggak yang bilang mulai
bisnis harus punya modal? Banyak.
Akhirnya dia enggak mulai-mulai.
[tertawa]
Jadi saya lebih ngerasa lebih appreciate
mereka yang mulai untuk coba dan habis
itu enggak gampang nyerah. Mungkin dua
kunci itu sih.
Mungkin kalau menurut saya yang zamannya
COVID itu berat ya. Membuat satu company
mau online atau offline itu susah ya
untuk ngelangkahnya. Dan waktu di
awal-awal tantangan pertamanya tuh pasti
untuk cari klien pertama ya. Karena kita
brand belum dikenal ya. Kita pasti
mulainya ke teman-teman yang kita kenal
dulu. Nanti pelan-pelan pas kita lagi
mau coba gedein company tahu-tahu
marketnya belum tentu siap ya apalagi
kalau online bisnis itu di Indonesia
baru mulai naik ya sekitar 201617 waktu
itu gitu. Nah, yang paling berat itu
adalah ketika kita udah mau naik nih
bisnisnya, tahu-tahu ada cobaan baru
kayak COVID gitu. Nah, itu lumayan tuh
hampir 1 tahun setengah atau 2 tahun ya
kita itu stagnan nih. Sempat company
juga banyak eh lay eh mau enggak mau
karena kita punya sales itu juga turun
65% gitu. Jadi, the company has to
survive ya. Dan karena keadaan seperti
itu maka kita ngambil keputusan yang
susah gitu. Dan moving forward, tiap
kali kita build a company dari 0 ke 10,
10 ke 100, 100 ke 1000, tantangannya
beda-beda semua tuh. Makanya aku ngerasa
yang paling susah building company itu
sebenarnya di tahap yang namanya
scaling. Scaling itu adalah begini,
kayak misalnya saya dari 0 ke 100 klien
ya, ada cara A gitu. Tapi dari 100 ke
1000 klien cara A ini udah enggak enggak
bisa dipakai. Kita harus pakai cara B.
Tapi cara B itu mungkin keluarin duit
banyak. kita siap enggak untuk keluarin
itu? Karena bisa jadi udah keluarin duit
belum tentu berhasil. Nanti udah dapat
nih di di scale 1.000 gitu ya. Dari
1.000 ke 10.000 beda lagi. Kita mesti
cari investor misalnya. Nah, jadi kita
harus belajar terus. Makanya menurut
saya kalau kayak kita jadi entrepreneur
ataupun profesional ya di titik di mana
kita stop belajar itu sebenarnya udah
udah susah. Nomor satu karena waktu itu
marketnya itu enggak ada iya kan turun
sales-nya. Jadi, kebutuhannya dari si
klien kita itu enggak ada tiba-tiba
semuanya ikat pinggang gitu. Jadi, mau
enggak mau kita harus restructure. Waktu
itu kita kayaknya ada dari 35 orang sisa
sekitar 13 atau 14 orang deh kalau
enggak salah. Saya coba ingat-ingat tuh
ya. Heeh. Cost cutting nomor satu. Nah,
setelah cost cutting ya kita kayak di
manajemen juga sama enggak ngambil
salary sama sekali gitu karena harus
pasang badan lah ya. Dan waktu dulu
mungkin yang paling susah itu adalah
kita enggak tahu berapa lama. Bisa cuma
1 bulan, bisa 3 bulan, atau bahkan bisa
5 tahun. Hidup di situasi yang
ketidakpastian tuh paling susah. Nah,
makanya waktu itu semuanya kan dari
rumah gitu. Pelan-pelan saya mulai
pikirin adalah oke kalau misalnya orang
pada di rumah ya mereka itu bisa du
bisnis apa? Jadi benar-benar coba untuk
understand market yang baru ini kayak
gimana pas COVID gitu sambil kan kita
tunggu berita terus kan. Tapi waktu itu
paling penting mungkin cash flow ya dari
semuanya gitu. Jadi kita mesti pastiin
bahwa itu bisa bertahan berapa lama sih
dan karena tiba-tiba sales-nya turun
kita juga mesti ngelihat stabilnya di
berapa. Nah itu juga susah banget gitu.
Itu butuh sekitar 3 sampai 6 bulan ya.
Karena kalau kita mau ngelihat sales
kita itu patokannya kayak gimana, itu
kita harus lihat tahun ke tahun kan ya.
Apalagi kalau bisnis kita tuh ada
season-nya. Contoh kalau Desember
Lebaran ya biasanya turun karena orang
pada spendingnya bukan di bisnis.
Contohnya kayak gitu lebih ke retail
gitu. Mungkin waktu itu lebih balik
persistance untuk survive tuh kayak
gimana tu. Bahkan saya sendiri juga run
through konakct database ya ngelihat ada
kebutuhan apa sih dari klien gitu. Nah,
waktu pas COVID tiba-tiba digital
marketing mulai naik, video creation
mulai naik, education video mulai naik.
Nah, kita arahin freelancer kita ke arah
sana. Jasanya mungkin selama ini 1000
grow bukan yang benar-benar fantastis
gimana. Karena kenapa? Karena
freelancing bisnis itu di Indonesia kita
juga kompetitor enggak ada
sebenarnya. Jadi kita coba edukasi
market sendiri dan edukasi market
sendiri itu enggak enak sebenarnya.
Susah. Mendingan kalau ada multiple
competitor. Jadi kita bisa sama-sama
edukasi bareng-bareng gitu ya. Nah
mungkin sekitar 2 tahunan lalu ya 2 3
tahunan lalu ya saya ada e bawa masuk
partner saya sekarang ya eh CEO kita lah
ya. Dan di sana dia banyak melakukan
perbaikan ya baru kita bisa grow cepat
gitu. Jadi 1000 sendiri sebenarnya itu
kita tuh kayak mesin ya atau engine buat
anyis mau itu baru mulai atau bisnis
udah jalan dari building sampai growing
ke depannya bisa pakai jasa yang ada di
1000 makanya ada klien ya yang tadi yang
travel umrah dia buat logonya lewat kita
habis itu dia buat merchandising
baginnya semua lewat kita habis itu dia
masuk ke website-nya juga lewat
freelancer 1000 mobile app-nya juga
lewat freelancer 1000 gitu ya nah sampai
sekarang dia jalan iklan lewat
freelancer kita juga gitu. Jadi itu yang
saya bilang dari building sampai
growing. Dan enaknya di 1000 juga
begini, kalau misalnya kita udah suka
satu freelancer ya atau cocok nih kita
bisa one to one sama dia. Tapi kalau
kita masih bingung contohnya desain gitu
ya, e maunya pilih desain yang mana, ada
sistem yang namanya kontes di 1000. Jadi
kita bayar buat kontes kayak sayembara,
kayak saya mau buat desain untuk label
gitu untuk makanan saya. Nanti saya
bayar paketnya, terus banyak desainer
pada ikut lomba ke desain label saya.
Nanti saya dapat sampai ratusan pilihan.
Yang saya suka itulah yang saya beli.
Nah, itu sistem kontes gitu.
Ujung-ujungnya ya, apapun yang kita
build di 1000 pasti ngarah ke kita punya
konsep dan unique selling di mana itu
cepat dalam hitungan menit, hitungan
bisa dapat outputnya sama kedua itu
[musik] bebas resiko gitu. Makanya kita
juga ada money back guarantey.
Heri
untuk 1000 ya. Harapan ke depannya
mungkin kita pengin tetap growing, kita
punya transaksi dan juga harapan ke
depannya itu kita pengin bantu kita
punya freelancer, komunitas freelancer
kita supaya dapat income lebih tinggi
lagi. Anggap aja misalnya per bulan
mereka dapat sekitar R juta nih per
bulan per freelancer ya. Bisa enggak
sampai R juta, bisa enggak 15 gitu.
Makanya sekarang 1000 banyakan klien di
Indonesia. ke depannya saya mau tap in
misalnya ke Asia Tenggara, ke depannya
bisa enggak tap in ke global? Dan
tentunya kita improving fiturnya kita
terus ya, apalagi sekarang zamannya AI.
Makanya kita mau embet fitur-fitur AI di
dalamnya juga. Nah, ujung-ujungnya balik
lagi ke kita punya unique selling,
mempercepat kita punya proses. Kalau
dari sisi saya mungkin buat teman-teman
mungkin yang mau start bisnis ya atau
jadi entrepreneur kayak gitu, ibaratnya
gini, enggak ada momen yang oh saya udah
umur segini makanya saya better jangan
jadi entrepreneur. Enggak kayak gitu
sih. Menurut saya kalau coba aja tuh
udah sukses gitu. Kita enggak peduli ya
hasilnya jadi atau enggak jadi gitu.
Sukses atau enggak. gitu. Tapi kalau
enggak coba sama sekali, nah nanti kita
pasti menurut saya malah suatu
kemunduran ya. Kalau misalnya kita
memang ada keinginan untuk coba,
mendingan kita coba dan itu udah
setengah dari sukses. Ya, mungkin kayak
gitu. Being entrepreneur ataupun
profesional, dua-duanya sama susahnya
ya. Tantangan selalu ada, target selalu
ada, gitu ya. Yang penting kita juga
udah berusaha semaksimal mungkin.
Belajar sih daripada situ gitu. Jadi
outcome penting. Tapi kalaupun berhasil
atau enggak berhasil yang penting kita
sudah coba. Ya,
bukan cuma enggak penasaran ya, tapi
menurut saya ketika kita coba banyak hal
yang kita bisa belajarin dan enggak cuma
ngebantu kita di bisnis tapi ke pribadi
juga gitu.
Jadi dari saya sendiri ngerasa kalau
kita mau jadi entrepreneur [musik] ya
buat teman-teman minimal tuh harus coba
sih. Coba itu udah setengah daripada
keberhasilan gitu daripada enggak coba
sama sekali. Enggak usah pusing soal
pada akhirnya sukses atau enggak [musik]
tapi saya yakin kalau kamu coba buat
bisnis jadi entrepreneur itu pasti udah
dapat banyak hal. Makanya buat saya,
[musik] saya akan encourage teman-teman
jadi entrepreneur. Tapi kita memang
mesti pikirin [musik] mau bisnisnya ke
arah apa, modelnya harus benar,
marketnya juga harus gede gitu. Mungkin
kurang lebihnya [musik] kayak gitu
closing statement dari saya. Nah, ini
naik kelas versi saya ya. Temukan juga
naik kelas versi kamu. Sisanya 1000in
aja.
Resume
Read
file updated 2026-02-13 13:26:36 UTC
Categories
Manage