Omzet Besar Tapi Gak Bisa Naik Kelas — Ini Kesalahan Banyak Pengusaha!
Tt9OSlr6c7A • 2025-10-29
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Semua masalah yang terjadi di bisnis itu
banyak. Salah satu masalah yang cukup
kompleks ketika kita memiliki
karyawan-karyawan lama biasanya untuk
diajak maju itu agak sulit. Ini yang
banyak sekali para bisnis owner di
luaran sana keluhkan. Bagaimana cara
meng-create atau mentreatment
gensi-gensi ini agar tidak sehari
daftar, hari besoknya masuk kerja, hari
ketiga sudah resign.
Perkenalkan nama saya Deni Lukman. Saya
dari Pacitan. Usia saat ini saya 35
tahun. Saya sudah berkecimpung 15 tahun
di FMigi mulai dari distribusi sampai
dengan toko offline. Saat ini saya
memiliki beberapa bisnis. Salah satunya
adalah madani distribusi yang fokus
untuk mendistribusikan FMC di area
Pacitan. Yang kedua adalah Madani Grosir
Snack lini bisnis online yang tujuannya
mengenalkan kita untuk masuk di dunia
digital. Dan yang ketiga adalah toko
tenang, yaitu toko offline yang
berlokasi di Pacitan. Dan yang terakhir
kami sedang membangun konsultan bisnis
retail yang bernama Nira. Yaitu adalah
lini bisnis yang membantu para UMKM
retail utamanya FMGI agar naik kelas dan
juga membantu bisnis mereka scale up ke
arah yang lebih baik lagi. Saya sudah
menjalankan bisnis di FMCG ini mulai
dari tahun 2019. Saya memutuskan resign
dari tempat kerja saya yang lama sebagai
seorang profesional di FMC lalu mencoba
berbisnis di Kota Pacitan. Saya memulai
dari Madani distribusi, salah satu lini
bisnis kita yang tujuannya untuk
mendistribusikan produk-produk FMCG di
ranah Pacitan. Lalu yang kedua, karena
ini sudah masuk ke rana digital, saya
masuk di digitalisasi yaitu dengan cara
mendirikan madani groser snack yaitu
lini bisnis khusus hanya untuk online.
Jadi semuanya mulai dari Instagram,
TikTok, WhatsApp, dan marketplace kita
mengulik itu semuanya. Selanjutnya yaitu
toko offline, toko tenang. Ini saya join
merger dengan kakak saya. Tujuannya
untuk menaikkan potensi kita berdua agar
bisnis ini berkembang ke arah yang lebih
baik lagi. Awal saya mendirikan madani
distribusi omsetnya masih sangat kecil.
Alhamdulillahnya sekarang hanya di kota
Pacitan saja yang notab kota kabupaten
kecil kami bisa mendapatkan omset
minimal rata-rata per bulannya di angka
1 M ke atas. Belum termasuk pi
season-nya seperti lebaran ataupun
hajatan dan lain sebagainya. bisa sampai
dua tiga kali lipat dari omset seperti
biasanya. Itu semua terjadi atas izin
Allah dan tentunya atas ikhtiar kita,
saya dan tim untuk memajukan lini bisnis
kita. Alhamdulillah seiring berjalannya
waktu tim kami saat ini sudah mencapai
21 orang dan tentunya akan bertambah
karena di tahun-tahun ini
alhamdulillahnya kita melihat
perekonomian semakin membaik dan wacana
saya di tahun depan kita bisa menambah
sekitar 10% sampai 20% penambahan tim
untuk bergabung di tahun depan. Setelah
perjalanan yang terjadi, kami memutuskan
untuk membangun nirakan salteng. Ini
dimaksudkan agar kami bisa berdakwah dan
bisa menyambung ilmu yang telah kita
dapatkan agar berguna bagi para pelaku
bisnis retail di luaran sana. Tentunya
dengan beberapa pengalaman yang sudah
saya lakukan based on true story yang
terjadi di kehidupan saya. Mulai dari
jatuh bangunnya, masalahnya, solusinya,
lalu bagaimana scale up-nya dan lain
sebagainya. Semua saya konsep dan saya
buat sedemikian rupa agar menjadi suatu
bentuk kurikulum yang mudah dipahami
bagi para pelaku bisnis di luaran sana.
Entah itu pemula, menengah, ataupun
sudah beromset miliaran.
Sejatinya semua masalah yang terjadi di
bisnis itu banyak. Salah satu masalah
yang cukup kompleks menurut saya yaitu
ketika kita memiliki karyawan toko atau
karyawan yang sudah loyal dan lama ingin
kita naikkan secara great-nya menjadi
kepala toko, menjadi leader dan lain
sebagainya. Tapi di sisi lain kita paham
potensinya belum bisa untuk ke arah situ
atau kita sudah tahu orang ini harus
sudah segera saya angkat tetapi orangnya
sendiri yang tidak mau. Nah, ini kasus
yang cukup unik karena saya yakin banyak
menimpa pengusaha retail di luaran sana.
Kita coba duduk baik-baik. Kita berikan
arahan untuk melakukan pendelegasian
kepada staf toko kita yang sudah loyal
dan lama agar menaikkan statusnya atau
posisinya saat ini, yaitu dengan cara
memberikan delegasi. Ada beberapa tahap
delegasi yang kita berikan kepada staf
tersebut. Yang pertama kita kasih
challenge si karyawan tersebut. Kita
kasih tantangan bagaimana meng-ghandle
suatu toko atau suatu pekerjaan yang
memang sebenarnya itu sudah dia
kerjakan. sebelumnya, tetapi dia harus
memakai tim teman-temannya yang lain.
Dia harus meng-create teman-temannya ini
untuk ikut bersama-sama mensukseskan
challenge yang kita berikan. Semisal
omset toko sedang turun. Ini gimana
caranya? Kita kasih arahan bagaimana
kalau omset toko sedang turun harus
melakukan promosi, pendekatan kepada
konsumen, cari konsumen baru, harus
melakukan hal-hal yang mungkin bisa
untuk menaikkan omset. Nah, itu dia
tidak melakukan sendiri, tapi harus
dengan teman-temannya. Nantinya kita
kasih bonus atau insentif tersendiri
kepada orang tersebut. Apabila dia mampu
melakukannya, berarti orang ini sudah
siap kita arahkan menjadi leader di toko
tersebut. Lalu selanjutnya kita berikan
KPI yang sesuai dengan apa yang kita
inginkan. Semisal menjadi kepala toko,
kita berikan batas minimal omset, batas
minimal margin, terus habis itu batas
minimal transaksi per hari. Bagaimana
caranya ini menanggulangi BS? Bagaimana
caranya order yang sesuai dan tidak
overstock? KPI itu kita berikan agar dia
lebih berkembang, berkembang, bertumbuh,
dan juga dia mendapatkan manfaat dari
karier yang dia dapatkan di toko
tersebut.
Sejatinya semua masalah yang terjadi di
bisnis itu banyak. Salah satu masalah
yang cukup kompleks menurut saya yaitu
adanya perpindahan generasi dari
generasi pertama didelegasikan ke
generasi kedua. Masalah ini menyangkut
keluarga. Tentunya ini bukan masalah
yang ringan dan mudah. Biasanya generasi
pertama mereka ketika membangun mereka
fokus dengan apa yang mereka miliki saat
itu. Tentunya zaman dahulu dengan zaman
sekarang berbeda. Di generasi pertama di
zaman dahulu mungkin teknologi belum
ada. Saat ini teknologi sudah masif
beredar. Teknologi sekarang menjadi
syarat wajib kita lakukan untuk di
bisnis kita. Kenapa seperti itu? Melalui
teknologi digitalisasi kita bisa
mengenalkan toko-toko kita ke khalayak
yang lebih luas dan ramai. Biasanya di
generasi pertama mereka cukup atau
mencukupkan diri seperti ini saja. Itu
yang menjadi penghambat generasi kedua.
Di sisi lain, generasi kedua ingin
men-scale up bisnisnya melalui
platform-platform media sosial yang ada,
tetapi kurang didukung oleh generasi
pertama. Ini sering saya jumpai.
Biasanya kita duduk bersama menyatukan
pikiran dan hati agar bisnis ini bisa
terkoneksi dan bisa berkelanjutan.
Tentunya generasi pertama dibutuhkan
pemahaman atau orang tua kita berikan
pemahaman. Next, nantinya bisnis yang
sudah Bapak, Ibu bangun di awal dulu
agar bisa kita kembangkan dan kita
lanjutkan menjadi lebih baik lagi.
Harapannya biar bisnis yang lalu itu
tidak sia-sia. Bisnis yang sudah
mati-matian dibangun zaman dulu tidak
hancur begitu saja di masa mendatang.
Untuk generasi pertama semuanya
rata-rata pencatatannya secara manual.
Semua mengandalkan feeling waktu itu.
Zaman sekarang tentunya tidak bisa.
semuanya harus disistemasi mulai dari
komputernya, mulai dari pencatatan
keuangannya, semua harus dimasukin oleh
teknologi. Kenapa seperti itu? Untuk
memudahkan memudahkan generasi pertama
untuk memantau. Lalu terkait dengan
karyawan, untuk karyawan-karyawan lama
biasanya untuk diajak maju itu agak
sulit. Nah, ini yang jadi PR generasi
kedua agar para karyawan ini terjaga
mulai dari gajinya, mulai dari
tunjangannya, entah itu dari sisi
materiel ataupun nonmaterial. Rata-rata
di generasi pertama itu kurang ada SOP
karena semua mengandalkan feeling saja.
Nah, di generasi kedua ini biasanya
ingin semua terstruktur dengan jelas
agar apa? Agar bisa diduplikasi ke
cabang-cabang berikutnya. Nah, ini yang
jadi PR banyak di generasi kedua untuk
meyakinkan Bapak ibunya atau owner
pertamanya agar ini bisa sinkron. Zaman
dulu seperti ini, zaman sekarang di sini
ini disinkronkan agar bisnisnya tetap
bertahan melalui pendekatan dari hati ke
hati agar struktur SDM-nya semakin
jelas, jobd yang dilakukan karyawan
jelas, sistem penggajian jelas, dan
masih banyak hal lainnya. Bagi pengusaha
rilisi
dari generasi pertama ke generasi kedua,
ingin bisnisnya dari konvensional ke
modern bisa menghubungi kami untuk
melakukan pendampingan. Silakan
konsultasikan bisnis Anda pada nomor di
bawah ini.
Banyak pertanyaan yang masuk tentang
menyikapi bagaimana ada anggota keluarga
ataupun saudara yang hadir dalam bisnis
ini biasanya kita merasa kasihan atau
mungkin karena ini sudah baik dari kecil
dan lain sebagainya ini tetap
dipertahankan. Ada beberapa tips dan
trik untuk tetap mempertahankan ataupun
membuat karyawan yang status hubungannya
masih keluarga tetap berjalan harmonis.
Karena ini menyangkut keluarga, tidak
hanya menyangkut bisnis saja, otomatis
hubungan persaudaraan harus tetap
dijaga. Beberapa hal menjadi alasan
klasik para owner tidak bisa
mendelegasikan suatu pekerjaan kepada
orang-orang yang statusnya ini memiliki
hubungan keluarga. Semisal generasi
kedua ini usianya masih muda, sedangkan
generasi kedua ini memimpin para
karyawan-karyawan dari ayah ibunya yang
statusnya masih berkeluarga atau bisa
dibilang Pakd Bude atau tante omnya lah.
Ini ada rasa sungkan atau rasa tidak
enak untuk mendelegasikan pekerjaan atau
memberikan instruksi pekerjaan kepada
anggota keluarganya ini. Nah, ini kita
harus bedakan secara posisi ketika
generasi kedua diberikan amanah untuk
memimpin suatu perusahaan yang di situ
ada hubungan keluarga. Kita harus lihat
kalau memang saudara ini usianya jauh
lebih tua, kita harus memberikan ucapan
yang arif dan bijaksana untuk memberikan
instruksi. Semisal kita tidak
menyuruhnya secara langsung, memberikan
perintah secara langsung, tetapi
menggandengnya. Kita kasih SOP baru
untuk anggota keluarga tersebut agar
apa? agar dia melaksanakan pekerjaan
sesuai jobd yang kita berikan. Dengan
seperti itu, hatinya tidak akan
tersinggung. Di sisi lain, dia bisa
memaksimalkan potensinya untuk bekerja
di situ dan tidak meracuni dalam tanda
kutip karyawan-karyawan lainnya untuk
melakukan hal yang sama seperti beliau.
Ada suatu momen si owner ini sungkan
untuk menegur keluarganya. Kita berikan
siasatnya yaitu membuat SOP. SOP ini
tidak diberikan hanya untuk si keluarga
itu, tapi semua karyawan. Ketika salah
satu anggota keluarga tadi melakukan
kesalahan yang sudah melenceng dari SOP
itu, maka kita sampaikan saja bahwasanya
SOP-nya seperti ini, seperti ini,
seperti ini. Dan ini juga dilakukan oleh
karyawan-karyawan lainnya. Nah, secara
tidak langsung kita menegur tapi dalam
bentuk format yang lebih halus lagi agar
saudara tadi bisa bekerja sesuai dengan
jobd yang telah diatur dan disepakati
sebelumnya. Bagaimana dengan pengelolaan
tim yang mayoritas gensi? Di tempat kami
untuk tim online semuanya gensi. Memang
saya sengaja menaruh Gensi di sisi
online karena saat ini saya sedang
memasuki era dia. Saat ini mereka
menguasai dunia, menguasai teknologi,
menguasai informasi. Saya harus masuk.
Saya harus menurunkan kapasitas saya dan
masuk ke dalam dunia mereka agar bisa
tahu apa yang mereka sukai, apa yang
mereka inginkan. Tim Genzi ini cukup
unik. Mereka lebih senang dengan adanya
challenging, lebih senang dengan adanya
tantangan. Mereka lebih senang ada
reward. Mereka siap menerima punishment
apabila memang dia tidak bisa memenuhi
target yang sudah kita berikan. Tim
Gensi ini kita create sedemikian rupa
agar bisa mengikuti apa yang kita
inginkan seperti pertumbuhan omset masuk
di dunia digital yang jauh lebih masif
lagi, pembuatan konten-konten yang bagus
dan bisa terjangkau oleh khalayak ramai
dan juga biar mereka loyal. Tentunya ini
bukan perkara mudah. Kita sering
membahas ini di kelas kita bagaimana
cara meng-create atau m-treatment
gen-gensi ini agar tidak sehari daftar,
hari besoknya masuk kerja, hari ketiga
sudah resign. Ini yang banyak sekali
para bisnis owner di luaran sana
keluhkan. Ini semua kita bahas dan kita
bedah di kelas kami di Nira Consulting.
Saat ini kita mengetahui terkait
perkembangan zaman yang semuanya masuk
di ranah digital. Hampir semua bisnis
sudah mulai masuk di ranah online dari
yang konvensional ke online. Semuanya
hampir mirip. Hanya saja dunianya saja
yang berbeda, tempatnya saja yang
berbeda. Untuk marketing online ini
cukup unik tentunya tidak hanya miliknya
Gensi, tetapi juga generasi-generasi
sebelumnya. Ketika kita bisa masuk di
marketing online, awalnya kita harus
menurunkan ekspektasi kita terlebih
dahulu. Karena tahun-tahun ini hampir
dalam 1 hari jutaan konten itu terupload
di media sosial. Kita harus bisa masuk
dari jutaan itu dan kita harus nampak.
Nah, cara untuk toko retail konvensional
untuk bisa masuk di marketing secara
online, kita harus melakukan riset, kita
harus melakukan survei
kompetitor-kompetitor kita seperti apa
yang sudah masuk duluan. Tinggal kita
amati, tiru, dan modifikasi seperti apa
terkait dengan marketing yang mereka
berikan. Mulai dari kontennya, mulai
dari hook-nya, mulai dari cara
penyampaian produknya, mulai dari gimana
bridging-nya masuknya dan lain
sebagainya. akhir kontennya dilihat.
Setelah dari kontennya dilihat di
Instagram atau di TikTok ini diarahkan
kepada selanjutnya yaitu di marketplace
atau mungkin di WhatsApp. Para pengusaha
bisnis retail biasanya enggan untuk
membuat konten ini. Enggan untuk masuk
di dunia digital karena dirasa ini hanya
buang-buang waktu atau sia-sia. kami
menjalankan memaksimalkan konten konten
kami bisa dicek di media sosial yang
kami miliki di @toko tenang dan juga
@madan grosir snake. Di situ kita
membuat konten-konten agar toko kita
dikenal. Alhamdulillahnya dari radius
minimal satu kabupaten saja kita dikenal
maka banyak orang yang bisa terarah
untuk masuk ke dalam toko kita dan
melakukan selling ataupun pembelian di
toko kita. Hal ini tentunya tidak mudah
dan menjadi tantangan tersendiri untuk
para bisnis owner, apalagi dengan usia
yang mungkin di atas 40 tahun. Untuk
para generasi-generasi itu seharusnya
sudah melibatkan generasi kedua atau
menurunkan pendelegasian tersebut ke
putranya, ke anaknya agar ini bisa
dilanjutkan dengan kondisi yang relate
di zaman sekarang. Marketing online ini
sifatnya banyak sekali. Bisa kita
dapatkan dari mana saja. Idenya cukup
luas. Idenya bisa digali dari mana saja.
Mulai dari pengadaan timnya seperti yang
saya lakukan untuk pengadaan timnya
semua dari Gen karena memang saya ingin
membidik pasar mereka. Lalu saya
memberikan tantangan kepada mereka
bagaimana caranya agar toko kita bisa
dikenal. Dan itu ketika itu sudah
terealisasi, selanjutnya akan diolah tim
yang di toko offline ini. Bagaimana
meng-create agar konsumen-konsumen yang
masuk dari sisi online ini bisa
terlayani dengan baik di toko kami. Bagi
pengusaha retail yang ingin transisi
dari konvensional ke modern, dari
offline ke online agar lebih bisa
meleegitkan omsetnya, hubungi kami di
Nira Consulting. Kami akan bantu untuk
mendampingi bisnis Bapak Ibu semuanya
agar lebih sustain dan juga lebih
scalable lagi. Saya Deni Lukman
konsultan bisnis ril Anda. Hubungi kami
untuk memajukan bisnis retail Bapak Ibu
sekalian untuk menjadikan bisnis retail
lebih bagus lagi dan lebih tertata lagi
di Nira Consulting. Ini naik CAS versi
saya. Temukan naik kelas versi kamu.
Resume
Read
file updated 2026-02-13 13:26:25 UTC
Categories
Manage