Pengusaha Muda 21 Tahun Punya Bisnis Miliaran
cCtf6C4WHUQ • 2025-11-16
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Ini yang bikin boom di pasar di bulan pertama penjualan kita biasa aja. Seminggu cuman 5 pie, [musik] 6 pie gitu ya. Bulan kedua, bulan ketiga itu konsisten R juta, R130 juta, Rp10 juta. Bahkan ada project revenue tambahan dari B2B dan B2G yang meningkatkan omset lagi. Yang total secara wholesales dalam 1 tahun 2024 itu sebesar R,4 miliar. Kebanyakan orang itu ngelihatnya udah dapat penghasilan nih, bisa hura-hura nih ya kan? apalagi anak muda gitu ya. Bisa aja sih saya juga gitu cuman terkadang ada rasa kegundahan gitu. Kalau misalkan saya [musik] beli ini di waktu yang singkat ini long term-nya gimana? Makanya daripada saya alokasikan [musik] untuk hal yang tidak berguna ke hal-hal yang sebenarnya bakal ningkatin kekayaan saya sendiri gitu. Perkenalkan nama saya Muhammad Arixyah, umur saya 21 tahun. Saya merupakan CEO dan founder dari Mae.cocco yang berlokasi di Cimahi. Maore sendiri merupakan suatu brand tas yang saya bangun waktu saya semester 3 di mana Maore sendiri memiliki beberapa revenue stream. ada B2C, kami fokus di beberapa platform, ada Shopee, Tokopedia, dan TikTok. Kemudian ada B2B dan juga B2G yang kami fokusnya di customize produk full dan juga customize logo. Background keluarga saya itu pertama ayah. Ayah merupakan seorang pengusaha juga. Jadi saya sangat belajar banyak dari ayah. Kemudian untuk ibu, saya juga cuma ibu rumah tangga yang setiap hari support lewat doa dan juga beberapa bantuan terkait Maware juga. Background pendidikan saya itu saya merupakan mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung. Saya sekarang di semester 7 sudah akhir juga. Saya berasal dari Fakultas Teknologi Industri yang jurusannya itu adalah Teknik Bioenergi dan Kemurgi. Ya, jujur memang hektik. Banyak waktu yang memang terpakai untuk kedua hal ini. Tapi saya cukup senang gimana cara saya membagi waktunya itu ya saya tidak main benar-benar fokus kedua hal ini. Saya membagi full 24 jam. untuk bisnis dan juga kuliah. Jadi, saya benar-benar fokus gimana caranya supaya semuanya termanage dengan baik. Berarti time management saya itu harus sangat-sangat bagus dan saya juga harus benar-benar membagi otak jadi dua gitu ya, antara kuliah. Jadi, saya harus nyambung dengan kuliah. Waktu pelajarannya saya fokus sama kuliah. Tapi waktu setelah selesai kuliah saya fokus dengan bisnis, berkomunikasi dengan rekan partner gitu ya. monitoring system terkait IRP, kemudian marketplace untuk advertising juga banyak yang saya lakukan. Jadi fun fact aku terbatas banget terkait pembelajaran bisnis karena background aku teknik jauh banget ya untuk ke bisnis gitu. Jadi gimana caranya aku dapat knowledge yang setidaknya aku paham secara fundamental dan next-nya gitu. Makanya aku tiap subuh setelah salat subuh gitu ya biasanya itu catat di tulisan dalam bentuk tulisan di tab atau di buku dari podcast. Aku senang ngelakuin hal itu. Jadi sebelum aku maore itu sebenarnya aku mulai bisnis dari SMA. SMA kelas 1 itu aku mulai jualan basreng, makanan-makanan ringan, dimsam, dari satu rumah ke rumah yang lain. Jadi benar-benar aku naik motor ke rumah teman. Kemudian aku secara marketingnya hanya di sosial media di Instagram lewat repost dari teman aku yang udah makan. Di situ aku dapat modal yang cukup banyak gitu ya dari revenue itu. Terus aku alokasiin ke bisnis keduaku. Habis itu aku langsung transisi bisnis karena aku orangnya bosenan. Jadi aku langsung transisi ke bisnis di marketplace. Aku reseller brand-brand lokal kayak Aero Street, Mempis Origin, Rukas, brand-brand lokal yang autentik lah yang bisa dijual cepat gitu. di situ modal kekumpul. Aku sempat berhenti waktu mau masuk kuliah karena orang tua bilang, "Udah fokus dulu aja lah, udah ITB gitu bakal susah gitu untuk bisnis gitu." Setelah itu ya udah fokus dua semester ternyata perasaan Gundah muncul gatal gitu pengen lanjutin bisnis semester 3 maore muncul. Experience juga ya saya jadi waktu pertama kali bas rank itu saya modal Rp100.000 setiap minggu kalau misalkan ke rumah nenek gitu ya selalu dikasih uang Rp100.000. Bu buat jajan gitu. Biasanya saya jajan sekarang saya putterin modalnya gimana caranya supaya ini jadi berkali-kali lipat. Makanya saya itu waktu itu lihat potensi basreng gitu, makanan-makanan ringan supaya bisa jadiin revenue buat saya. Dari Rp100.000 itu saya jadiin R1 juta dari bisnis basreng itu dari rumah ke rumah dan lain-lain. R juta itu saya alokasiin semuanya ke bisnis marketplace reseller. Di situ saya dapat 16 juta. Biasa ya anak muda dari 16 juta itu beberapa kepakai buat ya main dan lain-lain. Foya-foya sisa R juta. 6 juta itu saya baru kepikiran bikin bisnis lagi waktu saya kuliah di semester 3. Modal maore itu Rp6 juta. Modal awalnya benar-benar maore itu dibentuk R juta penuh keterbatasan. Attachment alat juga untuk konten juga semuanya terbatas. Dari situ sebenarnya karena butuh perputaran yang sangat cepat sehingga saya waktu itu modal di rekening itu cuma Rp100.000 padahal saya harus beli bahan-bahan lagi. Jadi Rp100.000 ini aduh gimana ini panik kan enggak ada modal yang bisa diputar lagi. Nenek tuh seperti malaikat yang tidak bersayap lah gitu. Nenek kakek tuh benar-benar support aku banget di awal. E waktu itu sempat cerita juga tentang Mae. Kemudian sekarang lagi struggling banget karena butuh modal tambahan. Alhasil waktu itu nenek dan kakek injek dana sebesar R juta ke saya waktu pertama kali pengin buat maore gitu ya. Intinya pengin ngebahagiain orang tua. Udah simpel satu itu doang. Gimana caranya saya ingin ngebahagiain orang tua? Orang tua itu bangga sama saya. Bahkan keluarga-keluarga terdekat juga bangga sama saya gitu. Jadi saya mencoba untuk menjadi diri yang lebih berbeda lagi, lebih belajar lagilah ke depannya. [musik] More sendiri tadi R juta itu benar-benar saya alokasiin hampir 70 sampai 80%-nya untuk pengembangan produk. Jadi saya benar-benar ngealokasiin semua modal itu hampir gede di besar di R&D produk gitu. Di R&D produk ini sebenarnya saya mencari unique selling point apa yang bisa dijual di market. Alhasil saya ketemu dua foldable tas yang dapat dilipat jadi sangat kecil yang benar-benar komact untuk gadget. Karena saya melihat pasar di anak muda gitu ya kan saya anak kuliah nih ya anak kuliah. Jadi ngelihat potensi pasar ternyata banyak teman saya yang memang tasnya pengin efisien. Jadi saya buat tas yang dapat dilipat jadi kecil. Yang kedua gadget organizer. Kenapa Gen sekarang banyak banget yang pakai gadget? Enggak mungkin ya mahasiswa gitu enggak pakai gadget gitu ya. ada tablet, ada handphone, ada laptop gitu ya. Dan di situ saya berpikir gimana caranya supaya saya bikin tas yang emang buat kompact untuk mereka-mereka. Jadi Mawar ini bentuk unique selling phone-nya dua, gadget organizer dan foldable concept. Ini yang bikin boom di pasar. Di bulan pertama penjualan kita biasa aja. Seminggu cuman 5 piece, 6 pie gitu ya. Tapi gimana caranya supaya ini ada penjualan tiap harinya supaya dapat organic sales sama ulasan yang organik? itu saya menawari teman-teman saya, saya enggak malu gitu untuk berani menawarkan produk saya karena saya rasa produk saya bagus. Jadi ini potensi banget gitu kalau misalkan dijualin ke keluarga saya, ke teman saya. Tapi dari situ banyak yang menolak, banyak yang apa sih, Rik? Enggak usah nawar-nawarin lagi. Kalau dari keluarga, maaf a belum gajian. Kan ada rasa tertolak dan cukup sakit di awal gitu ya. Karena ternyata sedikit yang mendukung. Ada beberapa tante UA yang ngedukung beli tiga, beli lima itu sangat wah senang gitu semakin semangat dari hari ke hari. Setelah itu more harga organic sales. Jadi di bulan pertama bahkan belum bulan pertama itu baru 15 hari kita launching di Desember di 15 Desember 2023 itu kita total omset saya ngejar benar-benar tiap hari ada penjualan total 16 juta dari 6 juta itu omset jadi Rp16 juta itu bulan pertama. di bulan kedua 2024 Januari di tanggal 2 atau 3 Januari itu ada orang yang memesan 325 pie dalam 1 hari. Itu dari Discominfo itu project dan itu customize. Tapi beliau pengin belinya di marketplace. Alhasil ya udah walaupun kepotong karena biaya admin cukup besar di Shopee ya tapi tidak apa-apa. customer itu sangat nomor satu lah di kami. Itu alhasil saya lakukan transaksi di marketplace di situ turn point-nya Maore. Jadi Maore dalam sehari mendapatkan pesanan 325 pie di situ ternyata banyak jadinya yang memesan dari awalnya tadi seminggu cuman 5 sampai 7 pie sekarang tiap harinya itu 50 sampai 70 pie per hari di bulan kedua penjualan. Total omset yang kita dapatkan di bulan kedua penjualan itu R10 juta langsung bulan kedua, bulan ketiga itu konsisten R juta, R130 juta, R10 juta. Bahkan ada project revenue tambahan dari B2B dan B2G yang meningkatkan omset lagi. Jadi total harusnya dimulaiin Rp150 juta, R10 juta gitu. Yang total secara wholes sales dalam 1 tahun 2024 itu sebesar 1,4 miliar. Sebenarnya ada beberapa poin yang saya selalu terapkan gitu ya. Yang pertama itu berani memulai, konsisten, doa, dan ikhlas. Biasanya keempat hal ini yang dijadikan acuan bagi saya untuk setiap harinya melakukan sesuatu yang luar biasa. Keempat hal ini fundamentalnya terjaga. Otomatis rasa semangat kita, rasa keinginan kita untuk menjadi lebih lagi itu selalu terbangun. Gimana caranya? Ya mungkin kalau misalkan secara teknikalnya gimana advertising itu saya rasa bakal hampir sama kayak semuanya. Cuman bagaimana cara kita bikin suatu produk unique selling point tersendiri untuk kita secara branding, secara produk itu ngena banget di market. Hanya mawarnya dari bulan ke bulan terus meningkat, konsisten, enggak pernah dibawa R juta untuk omset, selalu menerapkan empat poin itu. Berani memulai, konsisten berdoa, dan ikhlas. [musik] Kalau pencapaian yang sifatnya material cuman handphone sih. Handphone buat pribadi itu juga buat kerja. Saya tuh suka sesuatu yang saya dapatkan tuh bisa bermanfaat bagi orang juga apalagi bagi keluarga saya gitu. Yang paling saya berkesan di posisi saya sekarang, pendapatan saya, margin keuntungan saya yang saya dapatkan itu saya bisa biayain UKT saya sendiri. Jadi saya tidak perlu meminta kepada orang tua. Saya cukup bangga sih. Saya tidak terlalu memikirkan materialistik karena saya itu punya prinsip. Kalau misalkan modal atau di rekening saya itu tidak ada 10 kali lipat dari harga yang saya beli, itu saya tidak mau. Biasanya misalkan R5 juta nih, ya saya butuh misalkan Rp50 juta untuk beli yang R5 juta ini. Jadi saya beli iPhone berarti saya sudah punya 10 kali lipat. Ya, saya pengin usaha saya ini memang tidak short term karena kebanyakan orang itu ngelihatnya udah dapat penghasilan nih, oh bisa hura-hura nih ya kan apalagi anak muda gitu ya. Bisa aja sih saya juga gitu cuman terkadang ada rasa kegundahan gitu. Kalau misalkan saya beli ini di waktu yang singkat ini long term-nya gimana? Makanya untuk kesenangan saya pribadi daripada saya alokasikan untuk hal yang tidak berguna untuk keuntungan saya itu saya biasanya masukin ke saham. ke hal-hal yang sebenarnya bakal ningkatin kekayaan saya sendiri gitu. Karena pada tujuannya bisnis kan buat keuntungan diri saya sendiri ya. Tapi di saat bisnisnya masih growth dan masih awal, masa kita pengin keuntungan dari bisnis ini dialokasikan untuk hal-hal yang tidak berguna gitu. Makanya saya lebih baik meng-kip ini nabung gitu ya. Nabung bahkan memutarkan kembali untuk jadi aset seperti mesin, menambah orang juga daripada ke hal-hal yang tidak bermanfaat menurut saya. fun fact. Jadi saya tuh punya kebiasaan untuk menulis mimpi saya. Beli iPhone, beli iPad gitu ya, beli motor, beli mobil. Salah satunya tentang networking saya juga. Jadi saya ingin ketemu ini, pengin ketemu orang-orang besar pasandiaga Uno kemudian dan lain-lain gitu. Pengusaha-pengusaha besar di Indonesia. Di situ saya tidak tahu networking saya ke mana gitu. Itu Maore posisinya udah berjalan 8 bulan waktu itu saya punya mimpi simpel. Intinya saya pengin duduk di sini, keliling saya, lingkungan saya, depan, kanan, kiri, belakangnya itu ngomongin tentang bisnis intinya. Jadi, saya pengin lingkungan seperti itu. Kenapa? Karena di universitas saya di ITB itu enggak ada yang ngomongin tentang bisnis karena semuanya tentang teknik, rumus lah, ujian lah, gitu. Saya udah enggak mau gitu dengerin kayak gitu gitu. kayak pengin ada tambahan atau tentang knowledge by experience orang gitu yang saya dengar langsung gimana ya gitu komunitas yang bagus gitu. Waktu itu saya ketemu di sosial media busnis case competition DSC Diploped Success Challenge by Wismillak. Di situ saya melihat ini apa ya? Saya penasaran saya belum pernah ikut soalnya bisnis cash competition. Coba klik coba daftar gitu ya dan saya coba ikutin prosesnya. dimulai bikin pitch deck, bikin proposal bisnis, bikin video di YouTube sampai saya rasa oh saya bisa untuk setiap prosesnya saya lakuin di busnis cash competition. Awalnya kayak gitu kayak biasa-biasa ini depa sih belum tahu juga. Saya masuk ke National Selection waktu itu. Waktu National Selection itu di Jakarta itu saya ketemu si Level. Wah saya kayak excited. Rasanya excited sekali. Kenapa? Karena saya merasa oh ini tempat saya. Saya ngelihatin produk saya, saya dihargai di kuliah itu saya enggak ada yang ngelirik. Kan saya sempat cerita ya tadi di keluarga itu ada beberapa yang nolak produk saya. Teman-teman saya juga ada yang nolak. Wah, di sini tempatnya banyak yang hah kok bisa gini tas kayak gini gitu kan. Saya belajar banyak hal di situ. Saya bahkan enggak ada kepikiran untuk ke tahap selanjutnya karena saya udah senang di sini. Ternyata bisa networking sama banyak orang. Saya dari satu tempat ke tempat lain, nanya ke orang ini, nanya ke orang itu. Benar-benar komunikasi full. Bahkan ada teman saya yang sesama ITB gitu ya, dia benar-benar diam gitu karena menunggu hasil. Kalau saya udah ngacir aja ke mana aja gitu karena ingin memperluas networking di situ saya ketemu, oh ini komunitas yang terbaik gitu di DSC. Simpel kanan kiri depan belakang itu ngomongin bisnis gitu. Di DSC saya ketemu hal itu. Rangkaiannya banyak ilmu yang saya dapatkan dari mentor, dari rekan-rekan seperjuangan di DSC gitu ya. Dan memang saya dari DSC ini paham tiga hal. Intinya bisnis tuh pada akhirnya balik lagi ke sini 3 PAM, piawai sama Persona. Jadi kita sebagai bisnis owner itu paham produk kita gimana, bisnis kita gimana. Tapi bukan hanya tentang produk kita, tapi secara in general bisnis itu kayak gimana sih sebenarnya? Kita juga harus mengerti karena itu fundamental. Itu saya pelajari di DSC. Banyak mentor-mentor Jupaka, Mas Tio Bu Nilam gitu ya yang ngajarin saya tentang hal itu. Piawai secara penjelasan kita tentang bisnis kita gimana, secara product knowledge kita ngejelasinnya ke orang gimana, itu harus piawai, lancar dalam menjelaskan. Dari paham itu berarti kita harus bisa menjelaskan karena dari segi itu enggak ada komunikasi yang berjalan. Al alhasil opportunity bisnis yang akan terjalin itu kan enggak mungkin kalau misalkan enggak ada komunikasi kan. Piawahi itu yang jadi ujung tombak supaya kita berani untuk memberitahu ke semua orang. Yang terakhir itu persona. Kita sebagai bisnis owner diri kita sendiri. Persona kita terhadap orang kayak gimana? Kita bisa memberikan persona yang terbaik untuk semua orang gitu. Jadi orang percaya dan yakin potensi bisnis kita, kita sebagai person, sebagai orang itu dipercaya juga. Kayak gitu. Banyak sekali benefit yang saya dapatkan di DSC. Saya umurnya masih muda 20 tahun gitu ya. waktu ikut DS 20 tahun. Jadi, pertama kali yang saya terapkan di pola pikir saya, setiap ketemu orang itu saya jadikan mentor plus networking karena usianya udah pada di atas semua dan secara experience saya yakin itu lebih tinggi daripada saya. Jadi, yang pertama itu networking dan mentor yang bisa belajar, yang bisa memberikan ilmu ke saya by experience, by theory gitu ya. Kemudian yang kedua itu tentu saja potensi bisnis. Kadang dari networking itu ada obrolan tentang bisnis yang mendapatkan ya revenue tambahan gitu ya buat saya. Itu juga ada beberapa DSC, anak-anak DSC e rekan-rekan saya yang emang ada hubungan bisnis lagi setelah melalui proses ini semua. Yang ketiga modal ya. DC itu mendapatkan modal dana hibah langsung tanpa ya neko-neko gitu langsung ngasih dana hibah itu ke kita sebagai bentuk kepercayaan bahwa kita sebagai bisnis yang approv mereka dan mereka percaya kalau bisnis kita ini bakal jadi tinggi di masa depan. Udah dikasih modal, dikasih networking, dikasih potensi bisnis gitu ya, dikasih mentor yang omsetnya udah ratusan miliar. Ini benefit banyak banget. Jadi enggak ada salahnya gitu ya ikut kompetisi seperti ini apalagi kayak DSC sangat besar sekali nasional dari Sabang sampai Maroke gitu ya benar-benar hampir semua provinsi ikut itu ngebuat diri saya semakin berkembang jadinya saya menjadi lebih yakin ternyata bisnis saya approval by mereka berarti by market ini harusnya lebih bisa lebih tinggi lagi. Karena omset dari setiap orang yang saya temuin itu lebih tinggi daripada saya. Jadi benefit DS-nya itu sangat banyak dan saya sangat senang ternyata ada komunitas yang sebesar ini, sebaik ini, sebagus ini. Bahkan setelah itu saya mendapatkan mentoring 101 langsung sama petinggi DC-nya, langsung sama petinggi-petinggi orang yang udah punya bisnisnya mereka masing-masing yang selalu dimonitoring progresnya. bayangin seintu itu gitu ke bisnis kita masing-masing. Jadi saya sangat worth it meninggalkan kuliah gitu ya walaupun lama 1 bulan lebih mungkin ya di DSC saya meninggalkan kuliah, saya meninggalkan keluarga, sempat ke Surabaya dulu kan untuk bootcamp. Jadi saya meninggalkan banyak hal untuk potensi ini menjadi berkembang di DSC gitu. B dulu. Saya di DS itu top 7uh dari 12. Saya mendapatkan dana hibah sebesar Rp80 juta untuk pengembangan bisnis saya dan saya pakai itu semaksimal mungkin untuk meningkatkan potensi penjualan dan awareness ke depannya gitu. Secara proses seperti itu. Jadi saya waktu SMA ke kuliah itu saya enggak pernah putus soal bisnis gitu. Jadi terus mencoba hal-hal baru, terus mendapatkan revenue keuntungan yang pengin saya dapetin untuk membahagiakan kedua orang tua saya juga tidak membankan juga gitu ya. Jadi dari situ saya mendapatkan peningkatan yang luar biasa sih terkait pendapatan saya. [musik] Kalau tantangan bagi pengusaha tiap hari pasti ada ya. Pasti ada. Apalagi saya masih kuliah gitu ya, membagi waktu aja itu udah tantangan juga tersendiri buat saya. Yang paling diingat sampai selamanya itu waktu saya mulai modal Rp juta keterbatasan semua. alat juga biasa-biasa aja untuk konten. Bahkan kamera masih butek dulu pakai HP biasa Android gitu dan HP itu hilang lagi. Jadi penuh tantangan sekali di awal banyak orang yang menolak produk saya bahkan keluarga saya sendiri, teman saya sendiri walaupun saya rasa itu part of story wajar karena memang secara bisnis juga belum approv market tapi tetap rasa sangat menyayangkan, tidak ada yang terlalu mendukung. Di situ saya banyak struggling ya di awal. Modal 6 juta keterbatasan, modal yang terus diputar lagi, diputar lagi, enggak ada keuntungannya buat saya gitu. Di awal itu sih yang paling berkena saya. Titik balik sebenarnya itu pertama dikasih modal sama nenek, kakek R10 juta untuk jadiin modal tambahan. Itu sangat membantu sekali. Istilahnya ada pemasukan yang bisa saya terima juga untuk pribadi karena untuk keseharian juga gitu ya. Yang kedua itu waktu ada yang memesan langsung 325 pie dalam 1 hari. Saya kaget waktu itu. Jadi semua pada begadang nyelesaiin satu project ini. Itu turn point karena itu yang ngebuat setiap harinya Maore menjadi berkali-kali lipat. Yang awalnya 5 pie per minggu jadi 50 pie per hari. Jadi luar biasa. Ketiga itu turn point saya waktu saya ikut DSC. Jadi waktu DSC itu komunitasnya super besar. Saya mendapatkan sangat banyak mentor di sana mendapatkan ilmu. Tiga hal ini sih yang paling jadi turn point-nya gitu. Harapan saya tentunya Ma ini semakin berkembang lagi. Tidak hanya di sini saya ingin mengekspansi pasar lebih luas lagi. Intinya saya pengin di saat ada orang yang enggak kenal saya ketemu di jalan, ternyata pakai produk MORE. Di situ saya udah oh ternyata approval by market. Kedua, saya ingin MOR ini dikenal sebagai House of Innovation. Jadi produk yang bertujuan untuk mengembangkan produknya by kreativitas. Jadi Maware ini dikenal bukan hanya sebagai produk fashion tas, tapi produk yang mendedepankan kualitas dan kreativitas di seluruh Indonesia bahkan di seluruh dunia. Jadi saya ingin semua orang kenal mawarinnya seperti itu. Bagi teman-teman anak muda di luar sana gitu ya yang umurnya sama kayak saya, saya hanya memberikan beberapa masukan buat kalian semua. Yang pertama berani memulai karena waktu itu selalu berjalan. Kalian enggak bisa diam diri aja terus berkembang. Masa kalian mau diam-diam aja gitu ya. Berani mulai terus berani berkembang dan konsisten. Udah itu jangan stuck di awal doang. Prosesnya harus berjalan gitu. Jangan pernah putus dari hari ke hari. Kedua, jangan lupakan doa bagi agama kalian masing-masing. Doa itu sangat penting. Dan yang terakhir itu ikhlas. Ikhlas. setiap perjalanan proses itu kita ikhlasin karena kita udah ikhtiar, udah berusaha juga, udah berdoa juga, kita harus ikhlas. Dan yang terakhir yang paling penting restu kedua orang tua. Karena tanpa mereka saya enggak bisa seperti ini. Mereka adalah sosok yang berharga bagi saya, yang membarengi saya, yang menuntun saya sampai titik ini. Tanpa mereka saya tidak bisa apa-apa. Jadi, kalian punya waktu kalian sendiri, typeline kalian sendiri, kalian buat semaksimal mungkin, kalian buat secepat mungkin. Karena usia saya mungkin sudah dimulai dari 17 tahun. Jadi kesuksesan itu bagi masing-masing orang. Kesuksesan datang itu dengan penuh keberanian. Jadi, kalau misalkan kalian tidak memberanikan diri untuk berproses, ya kesuksesan tidak akan datang kepada kalian. Jadi kalian harus berani memulai, berani berproses dan konsisten. Doa, ikhlas, dan restu kedua orang tua. Kalian terapin lima hal ini dalam kehidupan kalian. Kalian akan menjadi orang yang sukses di masa depan. Yang ingin memulai berbisnis, temukanlah jalan kalian sendiri. Beranilah untuk memulai. Karena kesuksesan [musik] tidak akan datang pada orang yang tidak berusaha. Jadi, tergantung kepada kalian. [musik] Kalian memulai karena keadaan atau mulai karena kesempatan. Saya Arik, CEO dari Maorek. Ini naik kelas versi saya. Temukan [musik] naik kelas versi kamu. [tepuk tangan] Sip sip sip. [musik]
Resume
Categories