Proses Hijrah Justru Mengantarkannya ke Kesuksesan
glRFaYMM8b4 • 2025-11-29
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Pada saat saya mengambil keputusan untuk
mengenakan gamis atau jilbab itu, justru
penentangan pertama itu datang dari ayah
saya. Laki-laki yang sangat saya cintai.
Ya, cinta pertama seorang anak perempuan
yang sebenarnya saya sangat mengharapkan
dukungannya. Tapi ternyata pada saat itu
justru saya malah mendapatkan
petentangan. Ayah mungkin punya banyak
kekhawatiran ya. Mungkin takut enggak
lakuah gitu ya, takut sulit mendapatkan
pekerjaan. Termasuk khawatir anaknya
masuk aliran sesat. Di dalam Islam itu
semua aktivitas, semua amal, semua
perbuatan itu bisa bernilai ibadah.
Ketika alhamdulillahnya sejauh ini
penjualan online dan offline kami bisa
mencapai 1000 pie per bulan seperti itu.
Dan kalau dihitung sejak awal amanahnya
berdiri, penjualan amanahnya itu sudah
mencapai di angka 11.000 pie lebih
hingga tahun 2025 ini. Alhamdulillah.
Perkenalkan nama saya Bunga Nirwana.
Usia saat ini sudah 41 tahun.
Alhamdulillah saya adalah owner dari
Brand Fashion Muslimah Amanaya yang
lokasinya ada di Bekasi, Jawa Barat.
Aktivitas saya saat ini adalah sebagai
pembina dan ustazah tetap di beberapa
kajian muslimah. Dan aktivitas ini sudah
saya lakukan sejak tahun 2004. Terkait
dengan bisnis yang saya jalani dengan
brand amanahnya ini, kami bergerak di
fashion muslimah ya, menyediakan
berbagai kebutuhan muslimah cuma memang
lebih pada gamis gitu. Karena setelah
dijalani ternyata customer itu akhirnya
lebih mengenal kami gitu ya dengan
produk kami yang berupa fashion
muslimah, khusus muslimah seperti itu.
Ini ceritanya agak panjang ya. saya
harus kembali ke 20 tahun yang lalu di
mana pada saat tahun 2000-an itu saya
masih sekolah menengah atas dan saya
punya cita-cita menjadi wanita karir
saat itu. Punya cita-cita dari wanita
karir dengan penampilan yang cantik gitu
ya, rapi kemudian punya banyak uang
tentunya gitu. enggak terpikir bahkan
saat itu untuk yang namanya menutup
aurat tuh karena memang gambaran
perempuan yang ada di sekitar saya dulu
ya perempuan yang seperti itu dan juga
saat itu saya masih jauh dari pemahaman
Islam sampai kemudian pada saat saya
kuliah itulah titik awal saya mengenal
Islam ya melalui kajian yang
diselenggarakan oleh remaja Islam masjid
yang di dekat rumah saya dan kebetulan
pada saat itu pembina kajian itu adalah
laki-laki yang sekarang jadi suami saya
seperti itu ceritanya. Nah, di situlah
saya kemudian mendapatkan apa ya semacam
pemahaman bahwa ternyata ada pakaian
yang diwajibkan oleh Allah kepada
seorang muslimah yang sudah baligh
ketika dia keluar rumah yaitu pakaian
bagian atas yang sering disebut dengan
himar atau kerudung mungkin yang lebih
familiar saat ini. Dan pakaian bagian
bawah yang disebut dengan jilbab atau
gamis yang sering disebut orang hari
ini. Karena yang namanya pemahaman atau
persepsi seseorang itu sangat
mempengaruhi ya aktivitas dia atau
perbuatan yang dia lakukan. Maka ketika
saya memahami bahwa oh ternyata muslimah
itu kalau sudah balig ketika dia mau
keluar rumah dia harus pakai kerudung
dan jilbab, maka mulai titik itulah saya
merasa, "Oh, berarti saya harus berubah,
saya harus pakai nih." Karena ini
ternyata yang Allah wajibkan. Di situlah
saya bertekad gitu ya untuk merubah cara
berpakaian saya. Meskipun pada saat itu
kalau di kuliah itu saya sudah mulai
menutup aurat ya, cuman masih di bisa
dibilang belum sempurna lah. Setelah
kajian itulah kemudian muncul keinginan
untuk menyempurnakan ya cara berpakaian
saya. Tapi ternyata tekad saya untuk
berhijrah dalam berpakaian ini ternyata
tidak mudah gitu ya. Dan memang ya
itulah ujian dari orang-orang yang
berhijrah ya. Karena Allah pengin tahu
ini hamba saya serius apa enggak nih.
Pada saat saya mengambil keputusan untuk
mengenakan gamis atau jilbab itu, justru
penentangan pertama itu datang dari ayah
saya. Laki-laki yang sangat saya cintai.
Ya, cinta pertama seorang anak perempuan
yang sebenarnya saya sangat mengharapkan
dukungannya. Tapi ternyata pada saat itu
justru saya malah mendapatkan petangan.
Mungkin kalau orang lain ya yang
menentang saya bisa tutup mata, tutup
telinga gitu ya. Tapi ternyata itu
justru datang dari orang yang sangat
saya cintai yaitu ayah saya. Tapi saya
mencoba untuk menerima ya terhadap sikap
beliau saat itu. Mungkin karena dulu
penyebaran Islam tidak ee semasif
sekarang ya. Kalau sekarang mah orang
bisa mengakses Islam bahkan lewat sosial
media dengan mudahnya kajian terbuka di
mana-mana gitu ya. Jadi memang saya
berusaha menerim lah ya intinya dengan
sikap ya saya yang dulu sempat menentang
keputusan tersebut ya. termasuk mencoba
memposisikan yang namanya ayah mungkin
punya banyak kekhawatiran ya mulai dari
sulit mencari pekerjaan. Dulu kan di
zaman itu masih ya langka ya orang pakai
gamis gitu apalagi untuk di kalangan
anak muda masih bisa dihitung seperti
sekarang gitu. Kalau sekarang orang di
mana-mana udah pakai gamis, tua muda
gitu ya di berbagai kesempatan dan
berbagai aktivitas mereka pakai gamis
itu ah hal yang biasa. Kalau dulu tuh
masih sangat langkah. Nah itu mungkin
yang menjadi tantangan dan kekhawatiran
dari ayah saya. Mungkin takut enggak
lakuah gitu ya. takut sulit mendapatkan
pekerjaan, termasuk khawatir anaknya
masuk aliran sesat dan lain-lain. Nah,
sering waktu saya melihat bahwa ayah
saya termasuk ibu saya itu bangga dengan
perubahan saya. Mereka melihat saya
berubah ke arah yang positif ya.
Kemudian saya juga termasuk yang
berprestasi di kuliah saya saat itu.
Saya juga punya amanah yang banyak
sebagai ee aktivis dakwah kampus pada
saat itu, gitu ya. Dan mereka berdua,
kedua orang tua saya ini dulu melihat
perubahan saya yang positif itu. Di
situlah saya merasa mereka mulai
men-support saya, termasuk dalam hal
berpakaian yang awalnya itu
dilarang-larang gitu ya, enggak dikasih
uang gitu ya untuk beli gamis atau
jilbab. Di situlah saya merasakan mereka
mulai men-support saya.
Saya sebenarnya memang enggak punya sama
sekali DNA pengusaha, DNA pedagang.
Karena jujur orang tua saya itu adalah
guru di sekolah dasar di Bandar Lampung
saat itu. Awal mula saya tertarik
berjualan itu adalah ketika gamis yang
saya temukan di pasaran itu rata-rata
secara desain bukan selera saya. Selain
itu, gamis di tahun 2000-an itu
rata-rata itu cingkrang di saya gitu.
tu. Padahal tinggi saya cuma 165 ya.
Cuman ya agak sulit pada saat itu untuk
mencari gamis yang benar-benar menutup
sampai ke kaki gitu. Yang ada itu
biasanya gamis-gamis pada saat itu tuh
terbuka sekitar mungkin 10 sampai 15
cent di bagian bawahnya itu. Dan itu
kalau saya jahit itu saya akan kesulitan
untuk melangkah. Itulah yang kemudian
menjadi awal orang tua men-support saya,
yaitu dengan ayah saya pada saat itu
saya ingat banget memberikan sejumlah
uang untuk saya membeli kain. Kemudian
saya desain model gamis atau jilbab yang
saya inginkan itu. Kemudian saya bahkan
diantarkan oleh ayah saya tuh ke tukang
jahit langganan ayah saya. Padahal
seingat saya ya dulu tukang jahit
langganan ayah saya itu termasuk yang
harganya lumayan mahal di zaman itu.
Sementara kami dari keluarga yang
sederhana. Nah, saya melihat ini oh
masyaallah ini berarti bentuk dukungan
orang tua saya ya terhadap saya karena
mungkin mereka melihat perubahan saya ke
arah yang positif. Alhamdulillah dan
bisa jadi itu pastinya ya itu ad bentuk
cinta pastinya ya seorang ayah kepada
anaknya. Termasuk saya merasa itu cara
mungkin dari ayah saya itu untuk menebus
kesalahannya sebelumnya tanpa harus
meminta maaf. Kemudian di situlah saya
mulai ketagihan ya, beli kain lagi,
kemudian gambar desain lagi gitu ya ke
penjahit lagi gitu. Sampai-sampai dulu
saya ingat banget gamis saat saya kuliah
itu mayoritas itu adalah rancangan saya
sendiri yang awalnya terpaksa ya karena
gamis yang ada di pasaran enggak sesuai
selera saya gitu. Terpaksa beli kain
kemudian mendesain ke penjahit dan
seterusnya. Lama-lama keterpaksaan itu
ternyata menjadi sebuah hobi ya, menjadi
sebuah kesukaan. Bahkan saya merasa itu
menjadi passion saya. Sering berjalan
waktu saya wisuda kemudian menikah gitu
ya. Jarak antar saya wisuda ke menikah
itu sekitar cuman 2 mingguan. Kemudian
bulan depannya masyaallah alhamdulillah
Allah Maha Baik, saya langsung hamil. Di
situlah kemudian saya mulai benar-benar
melakukan aktivitas sebagaimana ibu
rumah tangga pada umumnya gitu ya. sibuk
dengan rumah gitu ya. Kemudian setelah
melahirkan sibuk dengan anak, terus
sibuk juga dengan tentu melayani suami
gitu ya. Bahkan termasuk juga sibuk
dengan aktivitas yang memang selama ini
saya jalani yaitu mengkaji Islam dan
mengisi berbagai kajian. Nah, dengan
berbagai kesibukan itulah tidak terpikir
untuk melanjutkan kembali hobi ya yang
dulu itu pernah saya tekuni gitu ya di
masa kuliah dan lebih enggak terpikir
lagi untuk menjadikan itu sebagai sumber
cuan. gitu ya. Kemudian di tahun 2022
niat untuk kembali terjun ke dunia
fashion gitu ya. Bisnis fashion itu
muncul kembali dan alhamdulillahnya saya
ketemu dengan timnya sefrekuensi yaitu
saya dan suami dan seorang teman. Pada
saat saya terjun kembali di dunia
fashion di tahun 2022 itu saya melihat
ada sebuah fenomena di tengah para
muslimah. Yang pertama itu adalah rasa
miris ya terhadap muslimah hari ini yang
sepertinya belum clear gitu ya terkait e
pakaian yang harus mereka kenakan gitu
ya ketika mereka keluar rumah. Karena
saya melihat masih ada fenomena muslimah
yang menggunakan kerudung tapi tidak
menutup dada misalnya, kemudian menutup
aurat tapi mohon maaf gitu ya, lekuk
tubuhnya di mana-mana misalnya terlihat
jelas. Kemudian ada juga yang bercadar
tapi lengannya ke mana-mana. ini tidak
mengeneralisir ya. Artinya ada fenomena
di tengah muslimah itu seperti itu. Maka
Amanaya ingin ambil bagian sebenarnya
dalam mengedukasi muslimah gitu ya. Dan
ini kami lakukan melalui konten-konten
kami juga melalui tanks card yang kami
slipkan biasanya ketika ada konsumen
yang membeli produk kami. Nah, kemudian
ee sisi miris yang kedua di kalangan
muslimah itu adalah banyak
pakaian-pakaian muslimah yang syari itu
harganya masyaallah luar biasa jut-jutan
gitu ya. Mengejutkan gitu maksudnya ya.
Sementara enggak semua kantong muslimah
itu kan bisa menjangkau angka-angka yang
tinggi itu ya. Nah, di sinilah amanahnya
berusaha untuk hadir gitu ya, memenuhi
ekspektasi muslimah yang ingin
menggunakan pakaian atau gamis yang
nyaman dengan kain yang tidak kalah
nyaman katakanlah ya dengan desain yang
juga bagus gitu dengan kualitas jahitan
yang berkualitas dan seterusnya. Dan
Amanaya ingin ambil bagian tadi seperti
yang saya katakan dalam mengedukasi
muslimah berkaitan dengan kenapa sih
harus menutup aurat? terus harus menutup
aurat itu dengan apa gitu ya, termasuk
apa batasan-batasan yang tidak boleh
dilanggar dan mana yang diberikan
keleluasaan bagi muslimah itu untuk
berkreasi misalnya. Nah, kenapa? Karena
saya sangat menyadari bahwa ketika
seseorang itu punya landasan atau alasan
yang kuat atau katakanlah strong why ya
dari setiap pilihan yang dia ambil dalam
hidupnya, maka itu menjadi sebuah
prinsip yang enggak akan yang enggak
mudah untuk digoyang, yang enggak akan
mudah untuk goyah gitu ya dengan apapun
yang terjadi mungkin di sekitar. Karena
hari ini ya ada fenomena muslimah lepas
hijab pasca cerai gitu ya. Muslimah
lepas hijab karena kecewa dengan suami.
Muslimah lepas hijab demi penghasilan
dan seterusnya. Nah, inilah hal-hal yang
sebenarnya bisa diperbaiki dan bisa
dihindari ketika seorang muslimah itu
punya strong way. Kenapa dia harus
menutup aurat secara sempurna? Dan
harusnya setiap muslimah itu clear
dengan hal-hal seperti ini. Bahwa tujuan
dari seorang muslimah itu menutup aurat
secara sempurna itu adalah dalam rangka
memenuhi seruan dari Allah. dan tentu
untuk meraih keridaan dari Allah. Nah,
harapannya ketika seorang muslimah
teredukasi ya melalui peran yang
amanahnya ambil, muslimah ini akan
kemudian menjadi orang yang membawa dan
mengenalkan syariat terkait berpakaian
ketika mereka beraktivitas ke mana-mana.
Dan inilah yang menginspirasi kami untuk
menggunakan tagline syiar your syari
gitu. Jadi syarimu itu harusnya
disyiarkan gitu loh. Jangan buat kamu
pribadi sebagai seorang muslimah, tapi
harusnya dikenalkan. Dan muslim itu kan
sebenarnya manifestasi dari Islam itu
sendiri. Ya,
bagi para muslimah dan ibu rumah tangga
yang ingin memulai bisnis dan memiliki
value yang sama dengan kami, yaitu ingin
ambil bagian dalam mengedukasi muslimah,
amanahnya sedang membuka kemitraan,
yaitu dengan menjadi agen dan
distributor amanahnya. Untuk informasi
lebih lengkapnya nanti bisa menghubungi
nomor yang ada di deskripsi. Sebelum
bicara berkaitan dengan pencapaian
bisnis, ada kondisi di tadi di mana
amanahnya itu pernah tidak ada closing
sama sekali. Pernah juga terjual itu
dalam 1 bulan di awal-awal banget itu
merintis hanya 14 pie dan itu pun dari
teman-teman saya juga yang beli gitu ya.
Dan kalau dirangkum tahun 2022 itu di
awal kali amanahnya berdiri itu
sepanjang 2022 itu hanya terjual 30 pie.
Nah, penjualan terbaik aman itu pertama
kalinya itu adalah di bazar. Jadi, kami
ikut pameran pada saat itu tahun 2023,
Ramadan tahun 2023 kami ditawari untuk
menjadi salah satu eksbitor dalam sebuah
pameran muslim. Sebenarnya takutnya luar
biasa ya sebenarnya pada saat itu karena
memang biaya bootnya ternyata lumayan
fantastis gitu ya. Kekhawatirannya itu
lumayan tinggi pada saat itu ya. Karena
kami ingin berkembang, maka kami mencoba
bismillah gitu ya. Terus berikhtiar
tentunya kami nekad untuk menerima
tawanan tersebut dan alhamdulillah luar
biasa. Ternyata Allah maha baik di bazar
itu hanya beberapa hari kami berhasil
menjual hampir 400 pie dalam waktu hanya
beberapa hari saja. Saya agak-agak lupa
itu antara 3 sampai 5 hari enggak
nyampai seminggu lah intinya. Nah,
itulah menjadi awal mula kami ketagihan
ikut berbagai event mulai dari dalam
kota hingga luar kota, hingga luar
provinsi. Bahkan kami pernah lintas
pulau juga gitu ya, demi mengenalkan
sebenarnya amanahnya ke tengah-tengah
masyarakat. Dan alhamdulillah penerimaan
customer kan sejauh ini sangat positif
ya. Mulai dari mereka yang melakukan
repeat order misalnya, kemudian mereka
yang mengenalkan amanahnya ke teman
mereka, ke keluarga mereka gitu ya. Jadi
kadang di bazar itu kami menemukan orang
yang sebelumnya belanja, besok dia bawa
temannya, besok dia bawa keluarganya,
seperti itu. Nah, termasuk amanahnya
juga menjadi pilihan dari beberapa
keluarga untuk dijadikan seragam
keluarga gitu ya, bahkan seragam dari
komunitas. Ada juga yang berkomentar,
"Kenapa ya baru ketemu amanahnya
sekarang?" seperti itu. Alhamdulillahnya
sejauh ini penjualan online dan offline
kami bisa mencapai 1000 pie per bulan
seperti itu. Dan kalau dihitung sejak
awal amanahnya berdiri, penjualan
amanahnya itu sudah mencapai di angka
11.000 pie lebih hingga tahun 2025 ini.
Alhamdulillah. Nah, karena permintaan
yang makin tinggi ya, tentu kami harus
mengimbangi produksi juga termasuk
mengimbangi kantor pastinya gitu ya.
Maka insyaallah dalam waktu dekat
amanahnya akan membuka offline store
termasuk juga akan membangun workshop
gitu nanti di mana di sana bisa dihilang
akan terpusat ya mulai dari produksinya
insyaallah juga nanti akan ada mes untuk
karyawannya ada kantornya ada gudangnya
dan seterusnya dan saat ini amanahnya
dipercaya menjadi brand aparel eksklusif
untuk jemaah salah satu travel umrah di
Indonesia untuk amanahnya sendiri saat
ini alhamdulillah sudah memiliki
beberapa tim mulai dari tim produksi
kemudian tim quality control, tim RMD,
kemudian tim marketing dan tim-tim
lainnya. Dan total kisaran 27 orang.
Alhamdulillah. Berkaitan dengan
relevansi ibadah dengan bisnis
sebenarnya sangat relevan ya. Cuman hari
ini banyak orang yang salah kaprah gitu
ya berkaitan dengan bagaimana
memposisikan antara ibadah dengan
bisnis. Jadi, seolah-olah ibadah itu
hanya sebatas salat gitu ya, ee puasa,
zakat, umrah, haji, dan seterusnya gitu.
Sementara bisnis itu bukan ibadah dan
orientasinya seolah-olah dunia banget
gitu. Nah, padahal ibadah dan bisnis ini
sebenarnya adalah satu kesatuan. Di
dalam Islam itu semua aktivitas, semua
amal, semua perbuatan itu bisa bernilai
ibadah ketika niatnya ikhlas karena
Allah dan caranya sesuai gitu ya atau
benar sebagaimana yang disyariatkan
gitu. Jadi ketika bisnis itu terikat
kepada syariah maka sebenarnya bisnis
itu tengah berjalan dalam kerangka
ibadah. Nah, artinya ini sangat relevan
dengan misi penciptaan manusia di bumi
ya. Sebagaimana Allah katakan, w
khalaqtul jinna wal insa illa lya'budun.
bahwa Allah menciptakan jin dan manusia
itu tidak lain adalah untuk beribadah
kepada Allah subhanahu wa taala.
Sehingga ketika seorang muslimah atau
katakanlah seorang ibu rumah tangga
kemudian dia memulai suatu bisnis atau
menjalankan suatu bisnis, maka
sebenarnya bukan cuman peluang
mendapatkan pundi-pundi saja yang
terbuka ya, tapi juga peluang ibadah pun
insyaallah ikut terbuka ketika
menjalankan bisnisnya tadi dalam
kerangka syariah. Nah, terkait relevansi
bisnis dengan ibu rumah tangga, inilah
emang yang terjadi dan opini yang
berkembang juga di tengah-tengah
masyarakat ya, bahwa ibu rumah tangga
itu kan biasanya melakukan sebuah
rutinitas gitu ya, mulai dari melayani
suami, kemudian ee mengurus anak ya,
kemudian mengurus rumah gitu. Padahal
sebenarnya di satu sisi mereka juga bisa
jadi butuh ruang untuk aktualisasi diri
gitu. Sehingga sebenarnya bisnis ini
bisa menjadi salah satu alternatif gitu
ya. Apalagi misalnya visi bisnisnya itu
mulia mulai dari misal membantu menopang
perekonomian rumah tangga ya. Karena
kita sama-sama tahu hari ini
perekonomian sedang tidak baik-baik saja
ya, tidak mudah untuk mencari lapangan
pekerjaan dan seterusnya. Nah, bisa jadi
ini justru menjadi bentuk sedekahnya
seorang istri kepada keluarganya, kepada
suaminya, kepada anaknya, dan
seterusnya. Bisa jadi juga untuk
menabung misalnya entah itu untuk
menabung untuk pendidikan anak-anak ya
atau untuk umrah dan haji misalnya gitu
atau bisa jadi visinya ada pada
mewariskan bisnis ya kepada anak
keturunan. Karena ada larangan dalam
Islam itu bagi orang tua untuk
meninggalkan anak keturunannya dalam
kondisi lemah, termasuk lemah secara
ekonomi. Artinya, seorang ibu rumah
tangga itu sebenarnya boleh memiliki
visi yang besar gitu ya. Yang penting
visi yang besar ini tetap dalam kerangka
syariah dan bisnis yang kita lakukan itu
bisa bersinergi. Kita bisa
mengkompromikan antara peran utama kita
sebagai ibu rumah tangga dengan segala
tanggung jawabnya gitu ya dengan bisnis
yang kita jalani. Kemudian suami juga
rida dengan apa yang kita lakukan,
dengan pilihan kita. Insyaallah bisnis
bisa menjadi wasilah ya terbukanya atau
sarana terbukanya pintu keberkahan baik
bagi diri kita, keluarga kita, bahkan
orang lain. Adapun terkait problem yang
dihadapi oleh saya gitu ya sebagai ibu
rumah tangga dan juga mungkin dihadapi
oleh ibu rumah tangga, ibu rumah tangga
lainnya dalam memulai dan menjalankan
bisnis itu biasanya yang pertama adalah
berkaitan dengan ada opini umum gitu ya,
bahwa tanggung jawab seorang ibu rumah
tangga itu seolah menutup pintu, menutup
celah bagi seorang ibu rumah tangga itu
untuk memulai bisnis atau menjalankan
bisnis. Karena ada beberapa teman saya
itu yang enggak berani terjun ke dunia
bisnis padahal sebenarnya butuh gitu ya.
Ada juga yang akhirnya menutup usahanya
karena peran ibu rumah tangga yang mulai
terganggu gitu. Itu yang pertama. Nah,
kemudian yang kedua berkaitan dengan
manajemen waktu. beberapa ibu rumah
tangga ya yang enggak berani terjun ke
dalam dunia bisnis, baik itu memulai
ataukah menjalankan bisnis karena mereka
merasa aktivitas mereka sebagai ilmu
rumah tangga aja sudah cukup padat gitu
ya, sudah cukup menyita waktu dan
pikiran gitu ya. Jadi istilahnya
boro-boro mau mikirin bisnis seperti
itu. Termasuk beberapa ibu muda gitu ya
yang mereka punya pikiran untuk mengurus
keluarga, mengurus diri dan anak aja
sudah sangat kerepotan gitu ya. apalagi
harus menambah kerjaan baru gitu ya
dengan memulai atau melanjutkan bisnis
tentu ini menjadi problem kaitannya
dengan manajemen waktu. Nah, kemudian
yang ketiga juga yang menjadi persoalan
di kalangan ibu rumah tangga yang saya
amati gitu ya, itu adalah kaitannya
dengan meyakinkan suami bahwa dengan
bisnis itu seorang ibu rumah tangga juga
bisa bermanfaat loh. Karena ada sebagian
suami itu yang merasa sudah bisa
meng-cover segala kebutuhan istrinya
terus ngapain lagi harus bisnis seperti
itu ya. Adapun solusi untuk problem yang
umumnya dialami oleh ibu rumah tangga
ketika mereka ingin memulai atau
menjalankan bisnis adalah untuk problem
yang pertama dan yang kedua berkaitan
dengan peran ibu rumah tangga dan
manajemen waktu itu sendiri. Sebenarnya
itu ada irisannya gitu ya. Artinya
muslimah tetap tidak boleh melupakan
peran mereka sebagai seorang ibu rumah
tangga yang punya kewajiban ee melayani
suami ya. Kemudian misalnya mau ngurus
anak, mengurus rumah tangga dan
seterusnya. Maka pada poin ini seorang
muslimah tentu tidak boleh lalai. Tapi
bukan berarti kemudian ketika seorang
muslimah itu punya tanggung jawab yang
utama ya yang Allah berikan tadi sebagai
istri, sebagai ibu, sebagai manajer
rumah tangga suaminya, bukan berarti
kemudian dengan aktivitas itu dia tidak
boleh melakukan aktivitas yang lain.
Boleh bagi seorang muslimah itu
melakukan aktivitas yang lain dengan
syarat manajemen waktunya tentu diatur
sebaik mungkin gitu ya agar kedua peran
ini bisa berjalan bersinergis gitu ya
dan butuh ee mengatur juga terkait
dengan skala prioritas. Eh, berkaitan
dengan problem yang ketiga yaitu izin
dari suami. Bagi seorang muslimah ketika
dia melakukan aktivitas di luar tanggung
jawabnya sebagai seorang ibu, seorang
istri gitu ya, maka izin dari seorang
suami itu mutlak dibutuhkan gitu. Karena
nanti juga berkaitan dengan banyak peran
yang dimainkan oleh seorang ibu rumah
tangga mulai dari tadi ya peran dia
sebagai ibu rumah tangga dan kemudian
dia menambah dengan memulai dan
menjalankan bisnis maka dia butuh
seorang partner tentunya dan partner ini
ee tentu harus memberikan support penuh
gitu ya. Karena kalau tidak memberikan e
support penuh ini tentu akan menjadi hal
yang menjadi bisa dibilang menambah
beban baru gitu ya bagi seorang ibu
rumah tangga ketika mereka mau memulai
atau menjalankan bisnis gitu. Maka ini
adalah izin dari suami, support dari
suami. Ini adalah sesuatu yang sangat
dibutuhkan. Suami harapannya bisa
menjadi partner tentunya. Partner dalam
hal apa? Dalam siap belajar bersama,
siap bertumbuh bersama, suami bisa
menjadi pendengar yang baik ketika
misalnya istri mengalami naik turun di
dalam dunia bisnis misalnya gitu ya. Ee
saling empati, saling melengkapi, dan
lain-lain. Intinya prinsipnya adalah
memberikan alasan yang logis. e minta
diberikan kesempatan kepada suami untuk
mencoba.
Kami melihat banyak para muslimah atau
ibu rumah tangga yang ingin memulai
bisnis atau menjalankan bisnis, tapi
ternyata mereka tidak tahu bagaimana
caranya, bingung bagaimana memulainya
karena memang tidak ada yang
mendampingi. Adapun nanti mitra amanah
baik itu agen atau distributor, maka
mereka insyaallah akan mendapatkan dua
jenis pendampingan dari kami. yang
pertama nanti insyaallah akan
mendapatkan pendampingan bisnis dari
sisi misal bagaimana cara menjual dan
memasarkan produk. Di samping itu juga
nanti akan ada pendampingan yang
sifatnya spiritual ya. Nanti insyaallah
kita akan sama-sama belajar berkaitan
dengan akad-akad misalnya yang di yang
sesuai dengan syariat agar bisnis yang
dijalankan itu tetap dalam kerangka
ibadah gitu ya dan juga bisa menjadi
wadah bagi para muslimah dan ibu rumah
tangga untuk saling menguatkan di dalam
bisnis yang dijalankan. Adapun prinsip
hidup saya, seberat apapun masalah yang
kita hadapi, setinggi atau sebesar
apapun visi dan mimpi yang kita punya
gitu ya, jangan pernah berputus asa.
Tetap lakukan ikhtiar dalam bingkai
takwa dan minta kemudahan dari Allah.
Seterpuk apapun kondisi kita, Allah
mampu membangkitkan kita dan setinggi
apapun visi dan mimpi kita, insyaallah
Allah mampu mewujudkan. Harapannya ke
depan Amanah bisa menjadi partner dalam
perjalanan hijrah para muslimah dan juga
bisa menjadi partner bisnis yang
menyenangkan. Untuk para muslimah,
semoga para muslimah yang sedang memulai
proses hijrahnya Allah berikan
kemudahan. Yang sedang meniti jalan
hijrah Allah berikan keistikamahan.
Jangan pernah ragu melangkah di jalan
kebenaran meskipun mungkin sedikit yang
meniti jalan tersebut. Jangan ragu juga
untuk memiliki visi yang besar karena
kita punya Allah yang maha besar.
Harapannya mudah-mudahan amanahnya bisa
menjadi partner perjalanan hijrah para
muslimah dan juga bisa menjadi partner
bisnis yang menyenangkan. Saya Bunga,
owner Amanaya. Ini naik kelas versi
saya. ketemukan naik kelas versi kamu.
Resume
Read
file updated 2026-02-13 13:26:51 UTC
Categories
Manage