Transcript
usOC-CBqC8Y • Motivasi Young and Success Seminar Part 2
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/sb30official/.shards/text-0001.zst#text/0010_usOC-CBqC8Y.txt
Kind: captions
Language: id
saat itu kalau diuangkan sekarang 2,5 M.
Mahasiswa enggak tahu apa-apa. Dan waktu
itu saya mulai bekerja dan saya mulai
meniti karir saya sebagai seorang
pengusaha di perusahaan saya waktu itu.
Dan waktu itu penghasilan 2,5 juta. Coba
Anda pikirkan uang 2,5 juta bisa enggak
ngelunasi R500 juta?
Kalaupun bisa berapa tahun?
Sudah Anda bingung hitungnya. Saya
hitung aja 20 tahun. Itu pun dengan
syarat kalau Anda terima gaji langsung
dibayarkan hutang. Enggak boleh dibuat
beli makan. Enggak boleh.
ya 20 tahun. Jadi artinya kalau usia 22
tahun hari ini usia saya kalau tambah 20
tahun harusnya 42 tahun ya harusnya
hutangnya belum lunas. Tapi puji syukur
kepada Tuhan dalam waktu 3 seteng tahun
hutangnya semua lunas. 3 seteng tahun.
Enggak tepuk tangan enggak apa-apa.
Tepuk tangan itu baik untuk tangan.
Mengapa? Kalau Anda enggak rajin tepuk
tangan, itu kena stroke loh nanti. Benar
ya? Sering rajin tepuk tangan itu baik.
Coba saya mau dengar tepuk tangannya.
Bayangkan kondisi saya saat itu. Ee
orang tua sudah jual semuanya. Toko
dijual, mobil dijual. Dan yang paling
parah yaitu saya harus kehilangan mama
saya yang tercinta.
Bahkan biaya bulan pertama di rumah
sakit itu 100 R juta. Karena mama saya
terkena satu penyakit yang entah namanya
apa membuat koma dan matanya hitamnya
bisa ke sini. Itu seperti kayak orang
koma. Ujung-ujungnya saya baru tahu
namanya penyakitnya enfalitis
ya. Itu penyakit yang ditimbulkan oleh
satu virus nyamuk dan merusak otak sel
otak. Dalam waktu singkat semua sel otak
rusak habis ya. Aneh. Jadi itu
sepertinya sangat-sangat memilukan ya.
Sudah uang enggak ada, aset enggak
punya, cicilan mobil. Waktu itu saya
sudah mulai mencicil mobil. Itu pun
belum lunas.
Itu pun kalau saya mau jual bayar
cicilannya aja masih rugi gitu. Gimana
dalam kondisi seperti itu aduh biaya
rumah sakit lagi besar dan biar rumah
sakit enggak apa-apa meninggal pula.
Nah, ini betul-betul kondisi yang sangat
minus dan memilukan. Saya kehilangan
uang enggak apa-apa, tapi saya enggak
boleh kehilangan orang yang saya cintai.
Ya, waktu itu saya enggak bisa terima.
Makanya tadi saya bisa bilang ikhlas.
Ibu pergi ikhlas enggak? Ikhlas. Ikhlas
di mulut tapi betul-betul masih belum
dari hati. Perasaannya masih belum bisa
terima. Nah, ini penting Bapak, Ibu,
Adik-adik yang saya cintai ya. Jadi,
waktu itu saya bertekad satu mimpi suatu
malam. Nah, itu kisah lengkapnya ada di
buku tersebut. mimpi tersebut yang
menyadarkan saya. Dari mimpi itulah
saya bertekad dan berjanji sama mama
saya, "Ma, saya harus bangkit.
Saya harus bangkit. Saya enggak boleh
terpuruk lagi. Saya harus kuat. Saya
harus menghadapi ini dengan tegar. Bukan
cuma dengan tangisan air mata. Karena
tangisan air mata tidak mengubah hutang
saya dari lunas menjadi dari ini jadi
lunas. Tidak. Air mata tidak merubah
segalanya.
Tapi hikmah di balik air mata itulah
yang akan mengubah segalanya.
Dan saya bertekad, saya berjanji sama
diri saya, saya mama sama almarhum mama
saya. Suatu hari saya buktikan saya akan
datangi satu persatu orang yang setiap
hari menagih hutang ke rumah. Setiap
hari pagi sampai malam
satu persatu saya akan datangin dan saya
akan bertekad satu persatu. Saya akan
bantu lunasin.
Saya bilang gitu sama diri saya. Saya
janji 3 seteng tahun lamanya ceritanya
saya persingkat. Kalau gimana ceritanya
terlalu lama ya 3, seteng tahun semuanya
lunas. Betul. Disingkat kayaknya lebih
bagus tuh, Pak. Semua lunas. Jangan
terlalu lama nanti stres ya. Dan usia 26
saya bertekad sama diri saya, "Pak, Ma,
rumah yang dijual saya akan beli
kembali." Saya bilang, "Kenapa saya
harus beli kembali?" Karena rumah itulah
saya dilahirkan.
Dan saya bilang sama papa saya, "Rumah
di mana saya dilahirkan tidak boleh
hilang." Saya janji sama pap saya, rumah
itu akan saya beli kembali dan usia 26
saya beli kembali untuk ayah saya. Itu
ceritanya.
Dan usia 30 bukan cuma saya bisa beli
rumah yang hilang, tapi saya mencetak 10
M pertama saya di usia ke-30. Dan ini
kisah memilukannya sudah selesai. Jangan
lama-lama nanti kalau mau detailnya ada
di buku ya. Iya, betul sekali.
Dan saya akan cerita kita tinggal
beberapa menit lagi nih, Pak Candra.
Baik, saya enggak cerita lama. Ini
kondisi bisnis saya sekarang. Jadi saya
di perusahaan saya. Kalau Mas Elang di
bidang developer, saya di bidang network
marketing. Ya, perusahaan saya bernama
KK Indonesia dan hari ini saya membawahi
5.000 manajer dan 100 orang director
yang saya pimpin dan tersebar di hampir
25 provinsi di Indonesia. Dan aset ee
network saya kurang lebih ee senilai 75
M. itu bukan saya yang menilai, ada satu
pakar yang menilai. Kurang lebih seperti
itu. Kemudian saya ee
cerita tentang badai ya. Jadi saya
bilang sama ayah saya, "Oke deh,
sekarang kita sudah hidup lebih baik.
Papa mau keliling ke dunia mana pun saya
akan kirim deh." Papa bilang, "Papa
kerja 30 tahun gak pernah ke luar
negeri. Ee kalaupun ke luar negeri tapi
enggak pernah ke China. Oke, saya kirim
ke China." Saya pulang dari China, Papa
bilang, "Pap, mau ke mana aja? Papa
pengin keliling dunia." Ya. Ya sudah,
akhirnya saya wujudkan impian orang tua
saya keliling lima benua ya. Dan saya
enggak tepuk tangan enggak apa-apa ya.
Harus ini saya kelima benua di benua
Asia saya bersama istri benua Afrika,
Australia, Amerika dan Eropa. Ee saya
singkat aja ini rumah saya dan anak saya
yang paling kiri itu mewarisi bapaknya
sifatnya ya. Oke. Terus kemudian apa
rahasia saya bisa melunasi hutang
keluarga sebesar R500 juta di usia 25?
dan mencetak 1 juta US. Ee saya akan
satu video boleh ya saya putar satu
video. Oke. Saya minta videonya
dinyalakan.
Tolong ini penting banget ya. Penting
banget.
Iya.
Saya ingin waktu yang lebih. Ini kisah
mirip kisah saya. Waktu kecil
seringkiali kita mungkin punya seorang
ayah ya.
Kondisi ibu enggak ada, ibu meninggal.
Dan karena kita beda generasi,
ayah olah kolot kuno, tapi anak pengin
sukses dan maju. Kita hobinya nge-band.
Orang tua enggak tahu dunia kita. Orang
tua cuman bisanya suruh kita sekolah,
sekolah, sekolah belajar. Tapi mungkin
kita punya idealisme kita sendiri. Kita
pengin sukses. Tidak salah. Tapi ingat,
Anda harus punya satu impian yang kuat
untuk membahagiakan kedua orang tua
Anda. Ini yang saya lakukan. Dan suatu
hari ketika dia sukses menjadi seorang
penyanyi terkenal, orang tuanya ingin
menghadiri konsernya. Tapi apa disangka?
Ayah kita harus meninggalkan kita
selama-lamanya.
terjadi suatu kecelakaan atau tragedi
kecil yang mungkin
tidak disangka oleh diri kita di saat
kita ingin menyenangkan hati orang tua
tapi terlambat. Adik-adik yang saya
cintai,
berjuanglah dari sekarang. Berjuanglah
secara dini. Jangan tunggu Anda sukses
baru senangkan orang tua. Tapi sebisa
mungkin Anda menyenangkan orang tua
Anda, sebisa mungkin, secepat mungkin
Anda bisa senangkan. Karena kita tidak
tahu kapan orang tua kita masih ada.
Ketika saya memikirkan orang tua saya,
maka luar biasa bisnis saya dilindungi
oleh Tuhan. Ingat, ada satu kutipan
bagus. Ketika Anda memikirkan orang
lain, Tuhan akan memikirkan Anda. Tapi
ketika Anda memikirkan diri sendiri,
Tuhan akan memikirkan orang lain. Ya
maksudnya apa? Jangan pikir diri
sendiri. Senangkan dulu orang-orang yang
Anda cintai, khususnya orang tua Anda.
Karena tanpa mereka tidak ada di dunia.
Ya, Anda enggak ada di dunia. Saya
percepat. Kalau Anda mau jadi miliarder,
ada lima poin ini langsung difoto aja.
Satu, punya keberanian, berjiwa besar,
smart, pejuang keras, dan kepemimpinan.
Oke. Dan yang terakhir, setelah mengenal
karakteristik tersebut, mengapa Anda
belum sukses? Karena sukses itu ada
empat. D. Doa. C. Cita-cita. B bekerja.
dan A adalah alat. Anda mungkin sudah
rajin berdoa, sudah punya cita-cita,
sudah rajin bekerja, tapi Anda salah
memilih alat. Karena semua miliarder
memiliki alat. Mas Elang alatnya adalah
sebagai developer. Saya di bidang
network marketing. Apa alat Anda? Kalau
Anda salah memilih alat, Anda juga
enggak bisa jadi miliarder. Jadi, berdoa
enggak cukup, cita-cita enggak cukup,
bekerja enggak cukup, harus pilih alat
yang tepat. Ya, tips dari saya, apa alat
Anda? 1% menjadi atlet, artis, 5%
menjadi salesman, 10% menjadi CEO, 10%
menjadi pengacara, tapi 74% jadilah
pengusaha. Itu yang paling penting.
Menurut Robert Kesaki dibagi menjadi
empat. Eh, karir pekerjaan. E itu adalah
employee, karyawan. S itu adalah self
employee atau small business owner.
Usaha yang kecil yang di kuadran kiri
artinya Anda harus bekerja dulu baru
mendapatkan uang. Tapi menurut Robert
Kisaki di kuadran kanan adalah B dan I,
bisnis owner dan investor. Yaitu saat
itu uang yang bekerja mencari Anda,
sistem yang bekerja untuk membangun
bisnis Anda, yaitu kuadran B dan I. Nah,
kebetulan saya kenapa bisa cepat
melunasi hutang? Karena saya membangun
bisnis di kuadran B sehingga membuat
bisnis saya ee dalam waktu singkat ee
semua hutang tersebut bisa lunas ya. Dan
ini sedikit saya tutup dengan kisah
hidup saya 2 menit sebagai penutup.
Mari.
[Musik]
Tadi saya sudah ceritakan, saya juga
seorang atlet bela diri ya dulunya.
Saya mantan guru les.
Saya memilih untuk menggelodi dunia
network marketing.
[Musik]
Tapi siapa sangka waktu saya usia 21
menjelang 22,
akhirnya kekhawatiran Mama terbukti.
Ini adalah pemeran figuran orang itu
betul-betul pemeran figuran untuk
menggantikan almarhum ayah e ibu saya
dia meminjam uang 500 juta.
Ternyata mama yang dituduh meminjam dia
uang. Hah?
[Musik]
Semua kita jual.
Semua dijual habis
tak tersisa. Untuk bayar hutang pun
semuanya masih habis. Ya, enggak ada
yang tersisa sama sekali. Rumah habis,
semuanya habis.
Tapi satu yang enggak habis yaitu
semangat, harapan untuk bisa bangkit.
Itu yang saya enggak pernah habis.
Semuanya bisa bangkit. Saya kehilangan
orang yang saya cintai. Itu yang paling
terpuruk. Ya,
[Tepuk tangan]
saya sempat stres, depresi, bingung
waktu itu kondisinya
cemas, sedih.
putus asa. Bahkan saya sempat hampir
bunuh diri.
Sempat ya, sempat ya.
Tapi satu malam seperti yang tadi saya
ceritakan, satu mimpi yang telah
menyadarkan diri saya untuk saya
bangkit, untuk saya jangan terpuruk,
untuk saya tetap memiliki satu semangat
untuk keluar dari keterpurukan. Dan
mimpi itulah yang e memberikan saya satu
semangat.
Inilah kisah hidup saya.
Bagaimana saya bisa mengubah hutang
tersebut bukan sebagai keterpurukan,
tetapi saya bisa mengubah itu semua
menjadi semangat inspirasi untuk saya
menjadi satu kehidupan yang lebih baik.
ya
[Musik]
Badai pasti berlalu. Terima kasih Bapak
Ibu sekalian. Sukses untuk Anda
semuanya.