Transcript
gSDIqH1yKAI • Harga MOBILNYA Saja 50 MILIAR Apalagi BISNISNYA !!! Ep. Bongkar Ajik Krisna (Part 1 of 3)
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/sb30official/.shards/text-0001.zst#text/0334_gSDIqH1yKAI.txt
Kind: captions Language: id Sahabat Prener, salam hebat luar biasa. Kali ini edisi spesial saya berada di kediaman. Eh, kalau Anda kalau jalan-jalan ke Bali, Anda pasti ingat yang namanya pusat oleh-oleh Krista. Hari ini kita ketemu sama ownernya yaitu yang kita panggil dengan sebutan Aji. [musik] Iya. Selamat datang Haji di channel kita Success. Dan pada kesempatan kali ini kita akan mendengarkan kisah-kisah beliau bagaimana sih membuat Krishna yang dari dulu belum terkenal sampai sekarang menjadi tempat yang wajib dikunjungi bagi orang yang datang ke Bali. setelah yang satu ini [musik] ee Aji ya, selamat datang di channel kita. Eh, kalau biasanya Anda sudah nonton Ajik ya di beberapa channel yang lain, Anda seperti tahu bahwa Ajik ini punya masa lalu yang cukup kelam. Ya, kalau boleh tahu, Ci, diceritakan sedikit masa kecilnya itu gimana sih, Ci? Diceritain sedikit. Masa kecilnya sudah pasti sangat berat sekali, ya. Berat ya. Heeh. Betul-betul dari keluarga yang sangat miskin. Heeh. Hidup di pedesaan dan serba keterbatasan ekonomi. Iya. Karena orang tua itu adalah petani, ibu pedagang kue di pasar ya sehari-hari eh sehari-hari membantu orang tua. Nah, jadi memang atau seperti kayak orang Bali pada umumnya di pedesaan gitu. Kalau dilihat di kampung saya ya, saya e keluarga paling miskin di kampung saya. Oh, kok ukurannya apa kok bisa dikatakan paling miskin? Semiskin-miskinnya ee di kampung saya paling gak punya tempat tinggal lah. Tempat tinggal punya tanahlah untuk untuk tempat tinggal. Nah, sedangkan orang tua saya sendiri tanah pun enggak punya, masih pinjam. [musik] Dan bangunan rumah pun pakai bata pakai mata mentah ya. Pakai bata mentah. Kalau dipegang itu goyang. Orang tua itu apa dulu kerjanya? Apa? Petani. Petani. Kalau bahasa Indonesianya di Bali itu dia orang tua enggak punya tanah. Heeh. Nyakap ya? Nyakap tanah orang di di ini sampai kayak gitu ya. Terus berapa bersaudara ji? Ee ji kebetulan bersaudara tujuh orang. Nah dari [musik] dua ibu. Heeh. Dua ibu. Saudara tiri ada cowok ee dua, cewek empat. [musik] Haji nomor berapa? Saya dari ibu nomor dua. Sendiri. Ibu nomor dua. Oh, ibu nomor dua sendiri. Paling kecil. Iya. Berarti memang kondisinya waktu itu sulit banget ya. Betul. Betul. Sangat sulit. Buat makan aja susah. Terus buat makan [musik] aja susah. Jadi Anda jangan lihat kisah Krishna sukses sekarang ya. Tapi di balik kisah sukses kita sudah tahu bahwa selalu ada kisah miris ya di balik ee kesuksesan seseorang. Nah, akhirnya gimana Ji ceritanya kok sampai bisa ee sampai Aji meniti karir sampai sekarang itu prosesnya dilanjutkan gimana kondisinya kayak gitu ya? Perjalanan apa ya e selama saya tinggal di kampung karena kebetulan saya tinggal di rumah nenek, di rumah kakek. Nah, di situ saya terpaksa setiap hari itu membantu kakek. Nah, kakek itu kan buat bata merah. Bata merah. Nah, otomatis sebelum dia proses buat bata merah jadi bata merah jadi jadi matang. Nah, pasti ada pakai kayu bakar atau apa. Kita ee jadi juru apa ya? Juru masak gak? Juru apa namanya ya? Yang memikul ya. Iya. Memikul ya. E jadi buruh lah. Jadi buruh. Iya. Jadi kuli intinya kan [musik] dari hasil kuli itu kita bisa untuk makan untuk buat beli. Itu usia berapa? Masih kecil ya? Masih dari SD. Dari SD saya sudah kerja. SD. Jadi SD itu sudah kerja. Sudah kerja. Dan itu uang sekolahnya dari mana itu? Nah, uang sekolah yang pertama kan pasti dari orang tua ya. Kalau kurang-kurangnya ya dari hasil saya jadi bodoh itu. Oh jadi I terutama untuk uang saku ya. Tapi tetap lulus ya sekolahnya ya? Ee lulus pun karena terpaksa ya. Terpaksa. Terpaksa dari pernah enggak naik kelas si ee e syukurnya naik kelas terus kelas terus terus saya dari SD dari kelas 1 sampai kelas 4 baru bisa baca. Weh karena ya gimana ya bisa baca ya otomatis enggak bisa baca ya karena untuk beli buku aja susah. Iya. I karena keadaan ekonomi. Nah teman-teman di sekolah itu masih enak ya bisa dibiayain orang tua ya? Ya rata-rata masih dibiayain orang tua. Nah kebulan. Nah, waktu itu malu enggak waktu sama teman-teman kan Aji kan kondisinya susah tuh sambil jualan sampai jadi buru sampai jadi kul sama teman-teman diolok enggak sih waktu itu? Enggak. Enggak ya. Mereka ngerti ya hampir ekonomi di sana kan hampir rata-rata sama. Nah, cuman yang paling kita sudah miskin masih ada di di bawah itu lagi di bawah garis kesar itu yang beratnya di bawah bumi ini ya ceritanya. Oke. Terus lanjutnya setelah itu setelah tamat sampai SMA ini ee saya sekolah SMP. SMP itu SMP perjalanan sekolah aja kurang lebih 2,5 kilo setiap hari ya. H setiap hari 2,5 kilo jalan kaki. Jalan kaki setiap hari. Oke. Uang saku yang diberikan orang tua Rp100. Itu pun kadang-kadang dikasih kadang-kadang kita kadang-kadang dikasih kadang-kadang tidak kan. Artinya dengan uang segitu ya kita cukup-cukupin aja terpaksa kita jalan kaki karena [musik] uang R sangat berguna buat beli jajan dan es gitu. Akhirnya singkat cerita kita sekolah tamat sampai SMP. [musik] Nah di situ ee saya punya paman. Paman itu ingin suatu ketika kamu tamat sekolah ee kamu kerja di Seu Secuad apa? Oh, jadi tukang cuci piring. [musik] Cita-cita waktu itu pengin kerja di hotel, restoran itu. Iya. Cita-citanya I cita-citanya cuma nanya kerja di hotel karena nama kalau kerja di hotel tuh nama eh dulu namanya udah gila keren. Iya. Ya. Kalau di Bali apalagi ya? Akhirnya sempat sekolah di sekolah ee Smip, Sekolah Menengah Industri pariwisata itu kurang lebih 6 bulan. Nah, itu kurang lebih 6 bulan. Uang uang saku juga Rp100 kadang-kadang dikasih kadang-kadang enggak. Nah, cuman bedanya kalau dulu ECP kan jalan 2,5 kilo [musik] itu lewat perkotaan. Nah, kalau sekarang sekolah di pariwisata itu jalannya 3 kilo lewat pedesaan. Nah, itu ada beberapa kuburan yang harus kita lewatin gitu kan. Artinya antara sekolah sama takutnya beda-beda. [tertawa] Tadi udah susah lagi ngelewatin yang sesuatu aduh gimana ya kuburan itu antara hidup dan mati itu ya. Ya udah kita sudah bosan. Udah bosan ya. Sudah bosan jadi orang miskin karena keadaan ya. Karena keadaan. Jadi mau enggak mau ya, mau enggak mau ya kita terpaksa ee paksa-paksain sekolah tapi niat sekolah sudah enggak ada karena situasinya sudah seperti itu kan karena keadaan ekonomi. Nah, di situlah orang tua karena orang tua sudah umur semakin tua, otomatis tenaga untuk kerja untuk dipertanian juga agak berat kan. Nah, di situlah orang tua saya bilang bahwa ee Bapak sudah tidak bisa membiayai sekolah lagi. Oke. Itu usia berapa, Cik? Saya enggak ingat usia mungkin kurang lebih 1617 lah. 1617 tahun. Jadi miris banget ya misalnya ya. Nah, tentunya setelah proses itu, jadi Aji itu pernah enggak sih sebagai seorang anak itu kalau lihat orang-orang kota itu kok enak banget hidupnya ya? Waktu itu kan pasti punya awang-awang kayak gitu ya, punya impian kayak gitu ya. Ya, kebetulan saya dari kecil enggak tahu kota ya. Enggak tahu kota karena kadang-kadang kepengin tahu kota aja g apa fasilitas apa atau mungkin tahunya kota dari televisi atau gimana waktu itu nonton TV juga. TV juga enggak punya. TV pun enggak [tertawa] punya. Iya. Susah ya kita ngomongin gimana itu kota gimana terus gimana itu nonton TV. Nonton TV itu kan kalau tapi Aji merasa susah enggak sih saat itu atau enggak tahu susah itu apa? Sangat sangat meras sangat sangat susah karena ngerasain makan aja susah. Iya makan sampai kapan saya harus hidup seperti ini? Tapi kan teman-teman rata-rata susah juga. Jadi susah-susahnya kan masih masih ada apa ya masih bisa minta uang saku orang orang tua artinya masih makannya masih masih nasi putih lah. Kalau saya kan makannya udah kadang-kadang nasi putih lebih seringnya apa ya? Jagung ya jagung. Jagung karena lebih dari itu pun dari hasil pertanian yang yang orang tua tanam adanya ada jagung ada ubi. Nah setiap hari saya bantuin orang tua. Nah pagi saya bantuin orang tua ke sawah. Nah sawah itu nungguin apa ya? Kalau sudah mulai padi sudah mulai menguning kan saya harusnya bantu orang tua untuk apa ya nginiin burung [musik] ya biar gak padi itu dimakan makan. Nah untuk ngisi waktu itu sambil nungguin ya kita termasa bakar-bakar ubi itu seadanya ya seadanya. Ternyata ubi itu ternyata kalau sekarang sudah sukses ternyata ubi itu sangat penting. Kalau dulu ubi itu berlebihan buat saya. Tapi jadi jangan jangan Anda mengatakan ubi itu makanan gak bergizi loh ya. Kalau dulu sangat bosan. Dulu sangat bosan. Tapi kalau sekarang pengin makanin artinya hidup itu akan kembali lagi seperti dulu. Kembali kembali pada alamnya, kembali pada akarnya gitu. Orang miskin pengin hidup kayak orang kaya, orang kaya sekarang balik [tertawa] lagiudah sudah nemu balik lagi ke makanan. Luar biasa sahabat. Jadi ini sesuatu yang mungkin di kisah yang lain Anda belum pernah dengar, tapi dari sini kita bisa tahu bahwa syukurilah ya kalau Anda itu masih bisa makan ya. I. Dan kuncinya setelah kita tadi sharing sama Aji, setelah usia Aji di 17 tahun. Nah, nanti kita saksikan di episode berikutnya setelah yang satu ini kampung. He. Memutuskan sekolah karena orang tua enggak mampu. Kita lari ke Denpasar. Nah, sampai di Denpasar kita mulai berpikir ee waktu itu naik naik naik truk. Hm. Kebetulan kan ee di keluarga itu ada yang bawa barang