Transcript
iuaLDCo9cIo • 9 CARA Orang MISKIN MEWARISKAN Kemiskinan nya ke Anaknya
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/sb30official/.shards/text-0001.zst#text/1151_iuaLDCo9cIo.txt
Kind: captions Language: id Kemiskinan itu awalnya ada yang menciptakan. Bahkan kemiskinan itu akhirnya diajarkan. Dan akhirnya kemiskinan itu diajarkan turus turuntemurun dan akhirnya menjadi sebuah warisan. Dan celakanya warisan turun-temurun ini bisa sampai puluhan generasi. Entah siapa yang mengajarkan, tetapi akhirnya dia sudah menjadi mindset yang susah sekali diubah. Video ini akan mengajarkan sembilan cara orang miskin cara mendidik anaknya. [musik] Welcome to Success P40 Business and Financial Mentoring. Sahabat entrepreneur, salam hebat luar biasa. Eh, Success before 30 selalu mengajarkan sesuatu yang gak berani dibahas di sekolah, enggak berani dibahas di kampus, atau mungkin tabu dibahas di lingkungan kalian. Tapi video kali ini saya akan meng-hacking mindset kalian. Memberikan sebuah mind hack atau cara bagaimana meng-hacking cara berpikir kalian supaya kalian itu menjadi sebuah pribadi yang berbeda. Di video kali ini saya akan membahas lebih kepada cara orang tua miskin mendidik dan mewariskan pendidikan pada anaknya. Dan Anda enggak tahu Anda sadari atau tidak. Kalau Anda merasa ya silakan tulis di kolom komen gitu. Kalau Anda enggak merasa juga Anda tulis di kolom komen. Semoga ee orang tua Anda tidak mengajarkan itu gitu. So 9 itu apa saja? Kita mulai dulu yang dari yang pertama. Tapi saya sudah pernah bahas itu buku Success W4 saya. Apa beda orang kaya dan orang sukses di halaman 45 dan mindset dan mental orang sukses di halaman 23? Ini bahasannya sangat mirip-mirip sekali. Saya sudah bahas banyak di buku ini. Mari kita bahas dulu. Yang pertama, cari kerja hanya untuk cari makan. Orang miskin selalu berkata, "Nak, yang penting kita ini dapat rezeki untuk dapat makan." Nah, kata-kata ini didoktrin ke anaknya. So, kata menabung tidak ada, kata investasi tidak ada, kata menggandakan, melipat gandakan aset yang ada tidak ada. Yang penting cuma cari makan. Rezeki hari ini habiskan hari ini. Rezeki besok dipikir besok. So, secara enggak langsung Anda itu sudah menanamkan sebuah mindset turun-temurun pada anak kalian. Rezeki sudah ada ngatur. Saya enggak kontra dengan kata rezeki sudah ngatur. Saya enggak kontra dengan kata-kata ini. Tetapi kata-kata ini kurang lengkap. Seringkiali kata-kata ini diambil sepenggal dan akhirnya kata-kata ini didoktrinkan turun-temurun. Jadi, seolah-olah Anda itu gak perlu mikirkan rezeki esok. Anda juga seolah-olah enggak perlu memikirkan 5 tahun, 10 tahun ke depan. Dan Anda seolah-olah enggak perlu mempersiapkan dana darurat dan seolah-olah Anda enggak perlu mempersiapkan asuransi dan seolah-olah Anda enggak perlu mempersiapkan food supplement untuk kesehatan Anda. Pak, bukankah mereka itu cuman untuk makan aja susah? No. Sekali lagi saya katakan mindset itu diciptakan. Mindset itu ada yang membranding. Mindset itu ada yang mendidik. Sehingga mindset itu sudah menjadi mindset. Harusnya kalau Anda orang yang paham, saya enggak bicara sampai Anda itu jadi miliarder multibillioners. Tidak. Anda itu sebagai karyawan saja, tapi kalau Anda bisa menyisihkan pendapatan Anda untuk sebagian untuk insurance, sebagian untuk dana darurat, seb. [musik] Kenapa harus ada gaji berapa, dihabiskan berapa? Enggak harus seperti itu. Dari sini kalian harus cerna baik-baik kata-kata ini. Apakah kamu pernah mengalami didikan yang pertama? Yang kedua, uang enggak dibawa mati. Well, kalau kamu ngomong uang enggak dibawa mati, pastikan yang ngomong ini punya deposito 5 miliar dulu. Menurut saya, kenapa saya bilang begitu? Ya memang dia tahu ketika dia sudah punya banyak uang, dia tahu uang tersebut dia pakai sudah cukup, dia sudah clear dengan masalah duniawi, dia sudah beres. Dan dia sadar dia sedang mempersiapkan ketika dia suatu hari meninggal, dia mau ke mana. Dia sangat qualified ngomong seperti itu. Tapi kalau yang ngomong masih uang sekolah anaknya nunggak 3 bulan, kemudian cicilan motornya kali enggak dibayar, pinjolnya itu dikejar-kejar ganti nomor HP terus dan dia [musik] ngomong, "Uang enggak dibawa mati." Saya enggak kontra dengan kata uang enggak dibawa. Memang saya tahu uang enggak dibawa mati. Enggak ada ceritanya Anda meninggal tuh Anda bisa bawa uang kembali ke surga atau neraka. Itu saya juga enggak enggak kontra. Memang ya mati cuman bawa apa? Jasad pun Anda enggak bisa bawa gitu loh. Yang saya mau tegaskan garis bawahi adalah jangan sampai Anda menggunakan kata uang tidak dibawa mati itu sebagai ungkapan kefrustasian Anda, ungkapan kemiskinan Anda. Sehingga Anda seolah-olah menjadikan itu sebagai kata pamungkas dan Anda turunkan itu kemiskinan itu pada anak Anda. Itu yang saya sangat tidak setuju. Dan kamu secara enggak langsung memberikan mental lemah, mental frustasi kepada Anda. Anda mau menciptakan generasi lemah. So, video ini saya ciptakan untuk baik anak, baik orang tua, sama-sama nonton bareng lah, sama-sama introspeksi kamu salahnya di mana gitu. Yang ketiga, kamu hanya diajari untuk berhemat tapi tidak diajari cara menambah penghasilan. Nak, hidup harus berhemat. Saya setuju dengan kata hemat. Tapi Anda tidak diajarkan menambah income sumber income kedua, sumber income ketiga. [musik] Oh, iya. Dia tuh orang kaya banget, uangnya banyak. Loh, cara dia uang banyak itu gimana? Wah, orang itu kaya ya, ibadahnya juga bagus. [musik] Loh, masjid itu yang bangun dia. Cara dia dapat uang untuk bangun masjid itu dari mana? Kamu harus tahu caranya. Bukan cuman hari ini nyinyirin orang kaya. Ya, Nak. Kita enggak level kayak gitu ya. Kita mah orang kayak kita ini yang penting ya sudah cukup makan, cukup makan, cukup tidur. Ya, kita harus bersyukurlah dengan ee hidup yang sederhana. Enggak ada yang salah dengan kata bersyukur. Tapi secara langsung kata-kata kamu itu mengajarkan kemiskinan pada anak-anak kamu. Dan akhirnya anak-anak kamu yang gak tahu apa-apa itu terserap dan masuk ke bawah sadar mereka. Dan itu mereka dijadikan pedoman. Harusnya Anda mengajarkan bagaimana cara menambah penghasilan, bagaimana menambah income kedua mungkin bikin kos-kosan kali kek. Menambah income ketiga mungkin sawahnya disewakan. Mungkin nambah income keempat kebun ini bisa dikelola. Mungkin nambah income kelima. Harusnya seperti itu, bukan cuman pasrah gitu. [musik] Yang kel keempat, orang miskin hanya diajari meminta tapi enggak pernah memberi. Yes, itu dia. [musik] Mintalah, maka kamu akan diberi. Ya, saya enggak tahu ya, itu mungkin ada ayat suci dari ajaran tapi ayat itu [musik] enggak salah. Tapi ayat itu cuma sepenggal yang didoktrin, enggak selengkapnya. Sehingga orang itu mengambil sepenggal ayat itu dan itu dijadikan mindset dan mentalnya. Setahu saya orang sukses itu banyak memberi, bukan meminta. Justru orang yang meminta-minta itu adalah pengemis. Dan Anda secara enggak langsung mendidik mental pengemis pada anak kalian. Kalian itu kalau lebih banyak memberi, memberi makan, memberi sedekah, zakat itu [musik] juga memberi sedekah gitu. Nah, itu saya percaya itu juga perlu uang, gitu. Dan mentalnya itu adalah mental selalu kelebihan uang. Ketika dia kekurangan uang, ada aja yang mengisi uangnya. Itu karena dia lebih banyak memberi. [musik] Contoh seperti air sumur. Air sumur tuh diambil airnya enggak pernah habis karena itu air sumber. Nah, harusnya mentalnya seperti itu loh, Pak. Gimana saya itu mau memberi, Pak? Saya masih miskin. Saya selalu bilang di buku saya bade pasti [musik] beralu. Jangan menunggu kaya baru mendiri, tapi memberilah kamu akan semakin kaya. [musik] Jangan nunggu kaya. Keliru. Oh, nanti kalau saya sudah punya uang, saya akan baru memberi. Salah. memberi itu bisa justru kamu enggak punya, semua harus memberi. Soal jumlah itu urusan nomor dua itu kan disertakan kemampuan ya tentu memberinya orang yang punya kekayaan triliunan sama memberi orang yang cuman gajinya UMR ya tentu [musik] berbeda. Tapi semangat memberinya tuh harus ada. Itu yang harus ditanamkan dan itu orang miskin enggak ajarkan. Yang orang miskin selalu ajarkan minta, minta dan minta. Dan yang kelima, semua orang kaya itu koruptor. Keliru. Itu lebih kepada ungkapan kefrustasian orang miskin yang selalu ngolok orang kaya. Justru menurut saya orang miskin itu yang koruptor. Korup waktu, korupt mental, korupt malas. Anda harus tahu bantuan langsung tunai BLT yang diacanakan oleh program pemerintah itu, itu dibayar dari mana? Dibayar dari duitnya orang kaya melalui pajak. Orang kaya membayar pajak dan pemerintah mengambil uang pajak itu untuk memberikan BLT. Kalau enggak gitu, bagaimana pemerintah [musik] itu bisa menyantuni orang-orang miskin dan orang miskin yang terima BLT itu dan bilang orang kaya itu korup? Kan enggak pantes. Masih mending orang kaya. Dan perlu Anda tahu 99% masalah keributan rumah tangga itu adalah masalah finansial. Dan itulah yang selalu mereka itu seperti kayak katak dalam tempurung yang enggak bisa keluar gitu cara berpikirnya. So menurut saya itu gak benar ya. Keenam, motivator itu enggak perlu. Yang penting [musik] kan cuman punya adab dan akhlak. Itu saya sudah bahas di Instagram saya kemarin. Anda enggak perlu jadi hebat. Anda enggak perlu jadi luar biasa kok. Anda hidup biasa-biasa aja itu enggak masalah. Hidup cukup UMR, rumah cukup tipe 36, enggak perlu punya mobil, cukup punya motor aja udah bahagia kok. [musik] Yang penting kan bisa tersenyum sama anak dan istri gitu loh. Tapi waktu listrik tunggakan kemudian tiba-tiba token PLN Anda habis, Anda ya jangan nyinyir gitu loh. Kenapa kok saya perlu motivator [musik] gitu? Ada motivator yang bilang hidup itu yang penting realistis aja lah. Hidup itu yang penting yang masuk-masuk akal aja lah. Ngapain sukses sebelum 30? Loh, Anda enggak perlu kok sukses sebelum 30. Ini kan cuman channel, ini kan cuman motivasi. Anda enggak bisa capek ya enggak masalah. Siapa yang menyuruh kamu harus sukses sebelum 30? Enggak ada paksaan dari saya. Enggak ada paksaan sedikit pun. Anda enggak capek ya jangan merasa bersalah. Tapi minimal kalau Anda mau kejar sebelum 30 tahun Anda mati-matian, Anda harus diapresiasi. [musik] Kalau Anda enggak capai R miliar sebelum 30 ya minimal Anda sudah berjuang di antara teman-teman kalian. Tapi kalau Anda enggak mau ngikuti juga enggak masalah. Siapa yang bilang Anda harus mengikuti sukses sebelum 30? Enggak harus. Kamu hari ini sudah punya gaji UMR. We bersyukurlah. kamu hari ini sebelum 30 tahun kamu sudah punya motor, sudah punya ee pekerjaan tetap ya bersyukurlah banyak orang enggak punya pekerjaan kok. Enggak penting motivator tuh yang penting cuman punya adab dan cuman punya akhlak [musik] gitu loh. Well, menurut saya ya jelas aja kamu enggak bisa punya mobil mewah. Ya jelas aja kamu enggak bisa punya vila [musik] mewah. Ya jelas aja liburan kamu itu cuman paling banter luar kota, enggak mungkin luar negeri gitu ya. Pantas [musik] aja kamu enggak punya dana persiapan, kamu enggak punya dana darurat. Ya, karena yang diajarkan cuma punya adab dan akhlak, gitu. Kenapa kok enggak ngomong sudah kaya raya, punya adab dan akhlak? Kenapa kok enggak ada kaya rayanya? Kenapa yang diajarkan cuman punya adab dan akhlak gitu? Tabuk kah ngomong, "Nak, kamu harus jadi orang yang kaya dan sukses." Tabuh kah? Ngajarkan kayak gitu. Nah, oke. So, paham ya maksud saya di sini ya? Itu yang diajarkan oleh orang-orang miskin pada [musik] anak-anaknya. Seolah-olah benar saya selalu bilang adab dan akhlak itu saya enggak protes. Uang enggak dibawa saya enggak diprodes. Semua itu benar tapi enggak lengkap. Itulah sebab orang miskin menggunakan kata ini diulang-ulang terus. Turun-temurun. Tujuh. Nasibmu tergantung takdir dan takdirmu tidak pernah akan kaya. Saya mau beritahu satu hal, takdir dan nasib itu dua hal yang berbeda. Saya selalu bilang, "Kamu ditakdirkan jadi laki-laki." Yes, itu takdir. Kamu enggak bisa ubah. Kalau kamu mau jadi perempuan, ya kacau. Takdirmu lahir dari keluarga ini. Itu takdir. Kamu enggak bisa mengubah, tapi nasib kamu bisa ubah. Masalahnya orang miskin mengajarkan, "Nak, kita ini udah takdir, Nak, seperti ini. Nah, dan itu turuntemurun turun ke anak Anda sehingga anak Anda menyerap mental itu. Dia mau berkembang maju, terhambat oleh kata-katamu." Delapan. [musik] Kamu tidak akan pernah bisa sukses kalau kamu enggak punya koneksi atau orang dalam, Nak. Nak, orang yang sukses tuh punya orang dalam, Nak. Bapaknya pejabat, kenalannya banyak. Kita mah orang biasa, kita mah orang [musik] miskin. Mana mau orang-orang kaya, orang bercabat yang punya kekuasaan itu mau kumpul sama kayak kita-kita [musik] ini. Nah, itu kata-kata ini didoktrin. Saya mau tanya satu pertanyaan, tolong kamu jawab dengan benar. Emang orang punya dalam itu langsung terjadi tiba-tiba. [musik] Saya pernah buat video, emang mengapa orang sukses enggak mau berteman dengan orang kayak kamu? Ya jelas orang sukses kumpul sama orang kayak kamu isinya cuma dimintai. Dimintai pro, dimintai [musik] sumbangan, dimintai sponsor, di ya pokoknya dimintain terus siapa yang maulah. Tapi kalau Anda kumpul dengan orang-orang yang mungkin status sosialnya rendah, tapi dia datang itu memberikan Anda solusi. Orang kaya pun juga punya pusingnya orang kaya. Orang sukses juga punya pusingnya orang sukses. Kamu sangka mereka tuh hidupnya enggak pernah pusing. Betul mereka enggak pusing cuman masalah duit, tapi yang lain mereka masih pusing. Anda perlu ketahui kenyataannya tidak semudah itu. Orang dalam itu dibangun paling gampang saya. Emang saya lahir saya langsung kenal pejabat? Ya enggaklah. Orang tua saya bukan pejabat. [musik] Orang tua saya waktu meninggal aja tidak meninggalkan saya warisan apa-apa. malah almarhum ibu saya sor itu saya meninggalkan warisan hutang tapi saya enggak mempermasalahkan itu. Saya harus bekerja keras untuk membayar hutangnya. Saya enggak malu itu saya sudah tulis di buku Batai Pasibralu. Emang saya bisa tiba-tiba langsung bisa punya relasi sebanyak ini? Ya tidaklah. Apa yang saya lakukan? Yang saya lakukan adalah ya saya bangun relasi itu. Keberhasilan itu tidak dibangun dalam sat du hari. Kita harus bangun relasi itu. Sehingga kedekatan kita dengan relasi dengan orang-orang hebat itu tidak terjadi dalam semalam. proses membangunnya itu kan orang enggak lihat, orang cuma tahunya matangnya. Oh, ya udah jadi gitu. Kita paling gampang mau dapat nomor WA-nya aja atau bahasa orang sekarang difback aja Instagramnya kan enggak semudah itu. Emang hari ini pejabat siapa yang mau fullback kamu? Enggak. Itulah sebuah [musik] ungkapan yang tidak diajarkan oleh orang miskin atau orang miskin selalu ajarkan pada anak-anaknya. Kekeliruannya di situ. Yang kesembilan, cari yang pasti-pasti aja. Gaji yang pasti, jam kerja [musik] yang pasti, jaminan hari tua yang pasti. sehingga ya hidupmu pasti gitu. Padahal saya mau tanya dalam hidup ini apa yang pasti? Tolong kamu jawab. Dalam hidup ini apa yang pasti? Haji belum tentu. Kamu di tengah-tengah misalkan nanti AI berkembang, jabatanmu dimutasi berkembang, hilang, terus kamu harus dirumahkan, enggak ada yang pasti. Bahkan jadi PNS pun sekarang enggak pasti. [musik] Bisa jadi kamu dirumahkan terus disuruh pensiun dini. Bisa loh negara mau memangkas anggaran karena AI lebih efektif, enggak ada yang pasti. Anda jangan anggap PNS itu atau ASN itu seperti 30 tahun yang lalu. Enggak sama. Siapapun presidennya nanti. Kamu sangka hidupmu pasti sampai usia 55? Enggak pasti loh. Yang pasti cuman satu perubahan. [musik] Siap enggak kamu terima perubahan? Nah, orang miskin selalu mengajarkan pasti-pasti aja. Cari penghasilan yang aman-aman saja. Dalam bahasanya Robert Kosaki, [musik] financial security. Mencari keamanan finansial, bukan financial freedom. Bukan mencari kebebasan finansial. Sekali lagi saya tidak kontra ya. Saya ini kan cuman menyebutkan apa yang orang miskin selalu ajarkan sama anaknya. Ya, kalau Anda tidak setuju sama saya, ya silakan. Anda boleh tulis di kolom komen ada kata-kata saya keliru di mana, ya silakan. Anda tidak harus setuju dengan pendapat saya karena sekali lagi ini kan berdasarkan riset saya. Saya juga bisa keliru. Apakah juga ada kata-kata saya yang kurang lengkap atau ada kata-kata saya yang kurang berkenan. Itu kan juga sekali lagi kan riset dari saya. Tapi saya yakin apa yang saya riset ini saya yakin 101% saya sangat yakini ini benar 100% 101 bahkan karena ini berdasarkan pengalaman hidup saya dan juga berdasarkan pengalaman dari jam terbang saya sudah di dunia pengembangan diri 30 tahun lebih kurang 9 hal ini selalu diajarkan oleh orang tuanya pada mereka dan akhirnya anaknya curhat datang ke kelas saya, datang ke seminar saya, datang ke komunitas saya, datang konsultasi ke saya. Mereka selalu terhambat ini dengan ajaran orang tuanya. Dan itulah sebab akhirnya saya menemukan jawaban-jawaban ini. Demikian video kali ini saya buat. Autarakan isi unek-unek Anda. Kalau perlu saya sarankan Anda nonton berdua sama orang tua Anda. Sukses selalu. Jangan lupa like-nya. And always salam hebat luar biasa. Saya enggak kontra dengan kata rezeki sudah ngatur. Saya enggak kontra dengan kata-kata ini. Tetapi kata-kata ini kurang lengkap. Seringkiali kata-kata ini diambil sepenggal dan akhirnya kata-kata ini didoktrinkan turun-temurun. Jadi seolah-olah Anda itu gak perlu mikirkan rezeki esok. Anda juga seolah-olah enggak perlu memikirkan 5 tahun, 10 tahun ke depan dan Anda seolah-olah enggak perlu mempersiapkan dana darurat dan seolah-olah Anda enggak perlu mempersiapkan asuransi dan seolah-olah Anda enggak perlu mempersiapkan food supplement untuk kesehatan Anda. Pak, bukankah mereka itu cuman untuk makan aja susah? No. Sekali lagi saya katakan mindset itu diciptakan. Mindset itu ada yang membranding. Mindset itu ada yang mendidik. Sehingga mindset itu sudah menjadi mindset.