Redominasi? Kenapa Rupiah Kita Lemah Dibanding Dollar? Kok Bisa Nilai Mata Uang Berbeda?
k0k61m9Watw • 2025-04-15
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Teman-teman, apa yang terjadi kalau seandainya 1 US sama dengan Rp1? Wow, keren banget. Kenapa? Karena biasanya Anda beli iPhone harganya Rp25 juta, sekarang cuman beli dengan harga R.000 sampai Rp1500 aja. Gila, kan? Nah, tapi apakah itu mungkin terjadi dan apa yang terjadi? Kenapa mata uang setiap negara tidak sama? Saya akan bahas tuntas di video ini untuk menjabarkannya kepada Anda. Welcome to success before business and financial mentoring. Halo sahabat entrepreneur, salam hebat luar biasa. Selamat datang kembali ke channel Successo 30. Di video kali ini saya akan membahas dengan topik yang sangat menarik. Lagi-lagi membuat kita sebuah wawasan. Kenapa sih 1 US Do mungkin sekarang sekitar harganya 16.500, 1 euro mungkin sekarang harganya Rp16.000, 1 pound sterling harganya mungkin Rp25.000, bla bla bla dan seterusnya. Kenapa kok sih enggak semua mata uang dunia itu harus sama nilainya? Nah, di sini saya akan mengajak Anda berpikir apa yang terjadi kalau seandainya Rp1 itu sama dengan 1 Do Amerika Serikat. Ini sesuatu yang sangat menarik ya. Jadi biasanya seperti pembukaan saya tadi, kalau Anda biasanya beli iPhone itu harganya Rp25 juta, sekarang cuma beli dengan harga Rp1.500, kayaknya enggak masuk akal gitu. Nah, terus sebetulnya kalau nilai rupiah sama dengan nilai dolar mata uang Amerika Serikat, artinya daya beli kita juga harus setara dengan mereka. Tapi kenyataannya saat ini 1 dolar Amerika Serikat sekitar 16.000. Artinya butuh lebih banyak rupiah untuk beli barang yang sama dengan di dalam negeri. Dulu nilai mata uang enggak pernah berubah seperti sekarang. Sebelum tahun '8 Indonesia menerapkan sistem nilai tukar tetap. Jadi itu semua dimulai dari Richard Nixon waktu itu Presiden Amerika Serikat tahun 1971. Semua itu didasarkan dengan e mata uang dolar itu setara dengan emas. Jadi itu based on emas. Nah, emas itu kan harganya jauh lebih stabil. Kemudian tahun 1 tersebut nilai tersebut menjadi 415/1 AS yang awalnya itu cuman 378. Nah, sementara itu Jepang juga menerapkan sistem nilai mata uang tetap pada tahun '1 nilai tukar resmi 308 yen per1. Nah, sekarang pertanyaan saya kenapa barang-barang dengan harga dolar Amerika Serikat jadi sulit dibeli? Nah, di sini sering berjeleng waktu banyak negara beralih dari sistem mata uang mengambang atau floating currency. Nah, artinya nilai mata uang tersebut tidak lagi dipatok menjadi emas, melainkan ditentukan oleh mekanisme pasar berdasarkan pemerintahan dan penawaran. Itulah sebabnya nilai mata uang ini berubah setiap saat. Sebenarnya ada alasan kuat di balik perbedaan nilai mata uang tersebut. Awalnya uang memang punya standar emas. Artinya nilai uang setara dengan jumlah emas yang dimiliki negara. Tapi sekarang banyak negara memakai sistem uang fiat berdasarkan kepercayaan masyarakat oleh permintaan pasar. Nah, inilah yang membuat nilai mata uang itu bisa floating atau naik turun. Jadi, sejak 70-an kita eh masih stabil pakai menggunakan emas, standar emas, tapi setelah 71 sudah menggunakan floating rate dan akhirnya gold standard yang awalnya di tahun 1971 berubah eh sejak 1971 menjadi floating fiat currency. Nah, itu juga sangat ditentukan oleh kondisi ekonomi sebuah negara, kondisi ee pertumbuhan ekonomi sebuah negara, kondisi inflasi sebuah negara, kondisi makroekonomi dunia. itu sangat semuanya dipengaruhi. Oleh sebab itu lebih fair menggunakan floating fiat currency. Inilah penyebab utamanya. Jadi kenapa enggak setiap mata uang negara itu nilai mata uangnya sama? Jadi nilai standar emas ke uang fiat. Jadi dulu banget semuanya based on emas. Emas emas. Emas kan nilainya stabil. Zaman dahulu kan emas itu senilai 4 sekian dirham ya. atau mungkin ee satu emas itu juga ee 4 dirham itu senilai satu ekor kambing lah contohnya begitu. Tapi kita sekarang perhatikan kan lama-lama harganya sampai sekarang juga masih tetap sama karena harga emas cenderung lebih stabil tapi ee kondisi mata uang negara enggak enggak sesabil emas. Artinya kalau suatu negara punya banyak emas maka mata uangnya juga kuat. Sistem tersebut standar emas dan sempat bikin nilai mata uang lebih stabil. Tapi masalahnya dunia makin berkembang, negara makin sulit menyimpan cukup emas dan mendukung semua uang yang mereka cetak. Apalagi saat perang atau krisis ekonomi, emas bisa jadi langka dan cukup buat nopang sistem keuangan. Akhirnya pada 70-an kebanyakan negara meninggalkan standar emas dan beralih ke sistem uang fiat. Nah, ini awalnya dari situ. Uang fiat ini nilainya enggak didukung oleh aset fisik seperti emas. Jadi backup-nya atau underlying-nya bukan em, tapi berdasarkan kepercayaan masyarakat dari kebijakan pemerintah. Dan kalau enggak ada batasan Mas lagi, pemerintah bisa cetak uang sebanyak yang mereka mau. Tapi dengan resiko tertentu kalau kebanyakan bisa jadi inflasi dan nilai mata uangnya bakal jatuh. itu sudah pernah saya bahas di video saya yang lalu. Jadi, dari standar uang emas ke uang fiat ini dari tahun '1 ke sampai saat ini saya rasa ini lebih fair. Jadi kalau keadaan ekonomi sebuah negara goncang, ya berarti mata uang negara itu yang goncang. Jangan sampai mata uang yang negaranya kuat ikut goncang juga gara-gara kalau disamaatakan dengan negara yang tidak kuat mata uangnya. Dan yang kedua, dampak inflasi. Kenapa? Bayangkan kalau kamu sekarang punya uang Rp100.000. Dulu Rp100.000 Ibu bisa beli sebelum bungkus nasi padang ke sekarang mungkin cuman 8 bungkus artinya nilai Anda turun sesuai dengan inflasi dan akhirnya jumlah uang beredar lebih banyak daripada barang atau jasa yang tersedia. Nah, kalau Anda mau tahu video ini lebih lanjut, saya sudah pernah bahas di video saya yang lalu. Bagaimana sebuah negara tiba-tiba cetak uang dalam jumlah besar tanpa diimbangi peningkatan produksi barang dan jasa. Contoh ekstremnya Simbaw di tahun 2000-an. Mereka cetak uang terlalu banyak sampai-sampai kebutuhan pokok naik gila-gilaan. Bayangkan beli sepotong roti di sana, kamu butuh uang segepok yang artinya miliaran dolar Simbabue. Kan enggak ada artinya. Masa beli roti aja sampai miliaran dolar kan enggak masuk akal. Jadi inflasi dampaknya kalau dulu 10 bungkus uang Rp100.000 sekarang cuma 8 bungkus. Karena dampak inflasi bayangkan Simbabwe itu satu troti aja sampai harus miliaran dolar Simbabwe. Aneh kan? Dan yang ketiga adalah suku bunga dan investor. Ini juga sangat mempengaruhi nilai mata uang sebuah negara. Jadi contoh misalkan kalau Anda nabung di bank dapat bunga 10% per tahun pasti lebih menarik daripada nabung di tempat bank yang cuman ngasih bunga 2%. Sebagai contoh kalau sekarang saya nabung di Singapura paling cuman banter 2%. Kalau nabung di Jepang bahkan 0%. Siapa yang mau nabung di Jepang? Nah, mending nabung di Indonesia. Sekarang nabung di Indonesia masih suku bunga masih bisa ee ya katakanlah kalau FR misalkan gitu masih bisa dapat 6% 7% ya kan. masih oke. Kita beli obligasi atau sukuk daripada sebuah negara masih oke. Jadi kalau kita pegang rupiah lebih banyak dan kita trust sama pembangunan bangsa Indonesia maka kita pegang FR tersebut. Tapi kalau kita tidak trust, kita pergi aja ke negara lain yang mana suku bunganya cuma 3% ya kita merasa lebih kuat di sana dan itu masih oke gitu loh. Nah kemudian sebaliknya kalau suku bunga rendah orang jadi enggak tertarik buat naruh uang di negara tersebut. Mereka bakal cari negara lain yang memberikan bunga lebih tinggi. Ini permintaan turun. Dan yang keempat ini juga sangat penting karena nilai mata uang kekuatan negara sebuah negara tersebut sangat dipengaruhi oleh keadaan ekonomi dan stabilitas politik negara tersebut. Kalau keadaan negara tersebut politiknya tidak stabil, stabilitas politik tidak stabil seperti kayak tahun '98, ya jelas mata uangnya gonjang-ganjing. Bagaimana keadaan ekonominya ikut tergerus oleh kebijakan politik juga. Coba kamu pikirin deh kalau kamu lebih nyaman investasi di negara ekonominya kuat atau negara yang sering ada krisis politik. Negara dengan ekonomi yang stabil, kebijakan yang jelas biasanya punya mata uang yang lebih kuat. Soalnya orang percaya bahwa uang mereka aman di sana. Misalkan dolar AS selalu jadi pilihan utama buat investasi karena dianggap sebagai mata uang yang paling stabil. Sebaliknya negara yang sering mengalami gejola politik seperti Zimbabwe contohnya mata uangnya lemah. Venezuela contohnya mengalami hyperinlasi dan krisis ekonomi parah. Itu sudah saya bahas di eh video saya yang lalu tentang bagaimana kalau negara itu mencetak uang terus gitu. Akibatnya mata uang mereka menjadi hampir enggak ada harganya dan banyak orang lebih memilih menggunakan mata uang asing seperti dolar Amerika Serikat. Contohnya negara Timor Leste. Negara Timor Leste saat ini kan ee mata uangnya menggunakan eh mata uang US Dollars. Itu salah satu contohnya. Keadaan ekonomi dan stabilitas politik jauh lebih stabil. Ya. Dan akhirnya yang kelima ini juga peran dari ekspor dan impor itu sangat-sangat tinggi. Misalkan kalau negara yang ekspornya lebih tinggi, ekspornya naik ya, maka kecenderungannya mata uang dari negara tersebut akan jauh lebih stabil. Sedangkan kalau negara uang itu mereka karena banyak orang yang menggunakan mata uang negara tersebut untuk mengekspor. Contohnya Jepang contohnya kalau banyak mengekspor mobil elektronik maka negara tersebut mau enggak mau harus tukar ke Japanese yen. Mereka permintaan yen meningkat dan nilainya menguat. Sebaliknya kalau suatu negara lebih banyak impor daripada ekspor, mereka lebih banyak butuh mata uang asing buat beli barang luar di dalam negeri. Ini bisa membuat mata uang mereka melemah karena permintaan mata uang terhadap mereka sendiri jauh lebih rendah. Nah, peran ekspor dan impor itu ada di sini. Negara ekspornya tinggi, mata uangnya lebih kuat. Contohnya Jepang, contohnya juga China sekarang ya. China lebih banyak ekspor ke negara-negara asing. Makanya sekarang mata uang UN Yen ini kuat. eh running pe ini adalah mata uangnya kuat sekali. Sedangkan impor itu juga sama, kita harus pegang mata uang asing banyak. Akhirnya mata uang di dalam negeri sendiri menjadi tidak kuat atau melemah. Dan yang keenam, negara itu biasanya mematok duitnya. Beberapa negara enggak mau ribet sama nilai naik turunnya naik mata uang. Mereka memutuskan buat menempelkan nilai mata uangnya ke mata negaranya lebih stabil. Contohnya Brunei, mata uang mereka dolar Brunei. Patokannya 1 banding 1 dengan negara dolar Singapura, dolar Brunei. Iya kan? Tapi permasalahan saya adalah apakah ekonomi Brunei sekuat Singapura? Nah, ini menjadi sebuah pertanyaan. Artinya nilai tukarnya selalu sama, enggak berubah-ubah. Ini bisa membuat transaksi dan perdagangan jauh lebih gampang. Tapi ada resikonya juga. Kalau mata uang yang jadi patokan mengalami masalah, negara yang ikut mata uang itu juga bakal kena dampaknya. Jadi mereka harus benar-benar hati-hati. Jadi ee Singapura sama Brunei dolar sama. Dan yang ketujuh, mengapa enggak setiap mata uang negara itu sama? Karena enggak pakai mata uang yang sama. Ini udah jelas dong. Makanya lebih simpel kalau semua mata uang itu bisa jadi bencana. Contohnya adalah euro. Mata uang ini memang mempermudah transaksi antar negara di Eropa, tapi juga membuat beberapa negara kehilangan kendali atas kebijanakan moneter mereka sendiri. Iya. Kalau negara-negara kuat seperti kayak Jerman, Prancis, Swiss itu oke. Tapi bagaimana dengan negara-negara yang lemah yang lebih kecil? Contohnya negara yang lebih kecil contohnya lstonstein. Anda enggak pernah dengar kan? Itu mungkin lebih kecil. Nah, sehingga itu agak kesulitan gitu loh. Atau Turki contohnya juga saat Yunani mengalami krisis keuangan, negara lain di Uni Eropa juga kena dampaknya karena mereka semua juga pakai mata uang yang sama. Itu salah satu kelemahannya. Jadi kalau satu kena seret, satu yang lain kena dampak gitu loh. Jadi penurunan nilai mata uang. Bayangkan kalau seluruh dunia pakai mata uang yang sama, kalau ada satu negara ekonomi yang hancur, seluruh dunia juga bisa ikut terpengaruh. Jadi itu kan gak bagus kan. Jadi meskipun terdengar simpel, satu mata uang untuk semua negara bisa jadi lebih berisiko. Jadi kesimpulannya ternyata punya mata uang yang super kuat juga enggak selalu bagus. Negara yang punya impor barang dari luar negeri biasanya butuh mata uang yang lebih kuat agar impornya lebih murah. Yang ketiga, negara yang banyak mengekspor justru lebih suka mata uang yang lebih lemah supaya produk mereka lebih murah dan lebih kompetitif di pasar global. Jadi, enggak semua jawaban mutlak soal uang mata uang yang terbaik itu tidak. Jadi, semua tergantung ekonomi masing-masing sebuah negara. Jadi, yang terpenting negara harus bisa menjaga stabilitas ekonominya, kebijanakan kebijakan moneternya supaya nilai mata uangnya tetap bisa diandalkan. Dan seperti biasa, terima kasih Anda menonton video ini sampai selesai. Semoga informasi saya ini bermanfaat untuk Anda. Jangan lupa like-nya and always salam hebat luar biasa.
Resume
Categories