Transcript
OD0GUpcGbMk • 10 Jurusan Kuliah Yang Tidak Berguna Dan Buang-Buang Uang DI Indonesia
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/sb30official/.shards/text-0001.zst#text/1362_OD0GUpcGbMk.txt
Kind: captions
Language: id
Kalian itu kuliah udah ngabisin duit
orang tua, orang tua udah nyiapin duit
puluhan juta, bahkan sampai lebih dari
100 200 juta. Terus kalian sudah salah
pilih jurusan lagi kuliah dan susah lagi
cari lawan kerja. Kok bisa?
Welcome to success before business and
financial mentoring.
So, sahabat entrepreneur, salam hebat
luar biasa. Kalian jangan kaget ya kalau
tadi saya sudah ngomong seperti itu di
awal. Kita tahu sendiri eh saya
disclaimer dulu membuat video ini karena
video ini memang pasti mengandung
kontroversi.
Tetapi sebelum saya membuat video ini,
saya sudah riset cukup mendalam di
Google dan saya juga sudah riset cukup
mendalam tentang ketersediaan lowongan
pekerjaan di Indonesia, khususnya Anda
yang sedang memilih jurusan yang
akhirnya lawan pekerjaannya bakal susah.
Akhirnya saya menemukan 10 jenis jurusan
yang Anda kuliah dan ini juga bisa
masukkan bagi para perguruan tinggi.
Karena perguruan tinggi jangan-jangan
jurusan Anda setelah saya bikin video
ini terjadi penurunan jumlah mahasiswa
baru untuk melamar di perguruan tinggi
Anda. Saatnya kalian harus merevisi
fakultas tersebut. Jangan sampai
fakultas itu Anda pertahankan, jumlah
mahasiswanya semakin sedikit, akhirnya
perguruan tinggi tersebut menjadi enggak
laku. Jadi, ini adalah masukan untuk
Anda, untuk para mahasiswa baru maupun
yang sudah kuliah serta bagi perguruan
tinggi. Jadi, saya disclaimer dulu video
ini saya research dari Google, kemudian
saya juga dari kajian jobstreet.com cara
mencari lowongan pekerjaan dan di situ
minatnya itu ternyata jumlahnya itu
sangat-sangat sedikit sekali. Semua
datanya saya akan lampirkan. Di
Indonesia kita tahu sendiri persaingan
dunia kerja itu semakin ketat. Setiap
tahun ribuan dari berbagai jurusan
mengalir ke pasar tenaga kerja.
Sayangnya enggak semua jurusan memiliki
kemampuan untuk menyerap jurusan dalam
jumlah yang besar. Data dari lowongan
pekerjaan seperti Job Street menunjukkan
bahwa beberapa bidang hanya membuka
lowongan yang sangat terbatas
dibandingkan dengan jumlah lulusannya.
Selain itu, banyak perusahaan lebih
mengundangkan pengalaman praktis,
portofolio, Anda pernah bekerja apa,
karyanya di mana. Kayak saya pun
sekarang mencari e karyawan juga seperti
itu. Saya enggak penting kamu lulusan
mana, tapi karyamu itu apa. Saya mau
tahu sehingga itu menentukan cocok atau
tidaknya bekerja divisi usaha saya.
Portofolio atau skill tambahan
dibandingkan dengan gelar akademi
semata. Dalam video ini kita akan
membahas 10 jurusan yang data
lowongannya relatif minim dan prospeknya
dianggap tidak cerah di Indonesia. bukan
berarti jurusannya jelek, tapi potensi
pekerjaannya sangat minim dan semakin
lama semakin sunset atau semakin menurun
ataupun kuliahnya akhirnya menjadi
jurusan yang ee sudah berlalu atau
trennya itu sudah lewat. Nah, yang
pertama adalah jurusan fotografi.
Sepertinya ini cocok kalau di era 80-an
90-an ya, di mana waktu itu fotografi
itu kan masih pakai SLR dan cucinnya itu
masih ee mesin cetaknya itu masih pakai
ee cetakan e 2R, 3R dan sebagainya. Tapi
sekarang jurusan fotografi itu lebih
kepada Anda kursus aja udah cukup. Jadi
bahkan lowongan pekerjaannya 1065 yang
dikaitkan dengan fotografi di
jobstreet.com. Cuma 165 lowongan. Namun
kebanyakan merupakan pekerjaan freelance
atau kontrak jangka pendek. Jadi mereka
tidak mencari orang lalasan lulusan
sarjana fotografi gitu. Jadi kalau Anda
lihat karya-karya keren di Instagram,
apakah mereka itu lulusan sarjana
fotografi? Saya rasa tidak. Jadi era
digital banyak orang belajar fotografi
secara otodidak lewat YouTube atau
kursus online itu justru hasilnya lebih
update dibanding mereka yang dulu harus
pakai begini, pakai angle ini, harus
kamera ini, udah ketinggalan semuanya.
Kemudian alasan prospek kurang
menjanjikan adalah skill sama gelar. Di
dunia kreatif, portofolio kemampuan
praktis lebih penting daripada gelar S1.
Persaingan ketat. Meskipun lawongan
relatif banyak, tapi persaingan sangat
ketat karena banyak individu menguasai
fotografi secara nonformal. Ribuan
lulusan setiap tahun bersaing untuk
puluhan posisi tetap. Bahkan untuk gaji
level rendah seperti fotografer itu
perjanya seringkiali terbatas pada
posisi entry level. Peran pesan utama
bagi yang terjun ke dunia fotografi,
gelar S1 fotografi tidak cukup karena
menjamin kesuksesan industri ini sangat
kompetitif. Jadi kalau nilainya 1 sampai
10, 10 paling jelek di sini nilainya 8.
Sehingga ya kalau Anda milih ke jurusan
ini kecuali kamu memang punya idealisme
tingkat tinggi ya, tapi ilmu-ilmunya
harusnya tidak relevan dan tidak update.
Yang kedua adalah jurusan
biologi. Nah, beda sama bioteknologi,
beda sama biokimia. itu mungkin masih
dibutuhkan ke depan. Tapi kalau biologi,
ah sepertinya kalian harus berpikir
ulang untuk masuk ke jurusan ini. Dunia
sains penuh dengan penemuan dan inovasi,
tapi apakah gelar S1 Biologi sudah cukup
membuka jalan karir? Estimasi lowongan
429 lowan pekerjaan yang berkaitan
dengan biologi di portal lowongan kerja.
Realita pasar, pekerjaan di bidang
biologi seringkiali membutuhkan
kualifikasi lebih tinggi seperti S2
seperti di bioteknologi, microbiologi
atau penelitian lanjutan. Jadi, S1
biologi enggak cukup. Kecuali memang
Anda ingin berkarir di dunia
bioteknologi sehingga mungkin
membutuhkan S1 Biologi. A itu masih oke.
Tapi kalau cuman ngandalkan S1-nya aja
lupakan. Dan apalagi Anda langsung
setelah S1-nya biologi banding setir
lagi S1 ekonomi, lebih enggak buang
waktu lagi. Jadi, jangan sampai Anda
buang waktu di situ. Alasan prospek
kurang menjanjikan adalah ke kualifikasi
akademis tambahan. banyak posisi
peneliti, analisis lab, dosen hanya
terbuka bagi mereka melanjutkan gelar
master atau PhD. Rendahnya gaji awal,
lulusan S1 Biologi langsung masuk ke
dunia kerja seringkiali harus menerima
posisi dengan gaji yang tidak sepanding
dengan biaya pendidikannya. Persaingan
dari lulusan lain juga sama. Jadi kalau
angka 1 sampai 10 saya berikan ini
nilainya 7. Kalau 10 paling jelek. Jadi
alisannya tidak berprospek. Jurusan
ketiga yang sebaiknya Anda harus
hati-hati, enggak ada masa depannya
adalah ilmu komunikasi. Loh, makanya
saya waktu membuat video Sucs 4, pertama
kali banyak orang bertanya sama saya,
"Pak Candra ini apakah lulusan sarjana
Ilmu Komunikasi? Kok cara komunikasinya
lancar?" "Hei, Bapak, Ibu, adik-adikku
yang saya cintai. Saya ini cuman lulusan
sarjana teknik industri S1. Enggak ada
hubungannya sama ilmu komunikasi. Ilmu
komunikasi saya belajar dari mana? dari
dunia sales, dari dunia marketing. Itu
artinya saya tidak perlu kuliah untuk
belajar ilmu sales dan ilmu komunikasi.
Dari yang kalian bermimpi menjadi public
relations, content creator atau digital
marketer, apakah ilmu komunikasi sudah
tidak cukup? Sangat tidak cukup. Bahkan
menurut Job Street 2.139 lowongan kerja
terkait ilmu komunikasi itu cuma 2.000
lebih. Walaupun lowongan cukup banyak,
tapi gelar ini populer menghasilkan
overl supply lulusan. Banyak bidang
komunikasi dibuka untuk berbagai
disiplin sehingga ilmu komunikasi saja
tidak cukup, harus bersaing. Alasan
Crosspek kurang menjanjikan karena
kurikulumnya masih konvensional. Ilmu
komunikasinya mungkin jangan-jangan
terlalu tekstual dan cocok dengan ilmu
komunikasi zaman kuno dan perkembangan
digital dan tren sosial yang dinamis.
Persaingan yang sangat ketat. Ribuan
lulusan setiap tahun banyak harus
menerima posisi entry level.
Keterampilan tambahan dibutuhkan. Untuk
bisa bersaing, lulusan cukup harus
menguasai skill seperti SEO, konten
strategi, analitik. media sosial. Tanpa
itu, gelar saja tidak cukup untuk
menunjukkan nilai tambak. Pesan utama,
gelar Imroi masih memiliki potensi,
namun harus menonjol di pasar kerja.
Kalian harus meng-upgrade keterampilan
seperti ngikuti tren digital, membangun
portofolio yang kuat, hanya mengandalkan
ijazah, enggak bisa. Jadi kalau nilai 1
sampai 10 nilainya 6 saja. Kemudian yang
keempat adalah jurusan psikologi. Hah,
kok bisa? Bukankah video-video Pak Canda
juga ada hubungannya sama psikologi
terapan? Begini, kalau Anda hari ini
ingin mengubah kehidupan seseorang
lulusan S1 Psikologi tidak layak lagi
atau tidak cukup. Karena seseorang bisa
membuka praktik psikolog itu harus
minimal kejanjaran S2 karena Anda harus
sudah master psikologi atau lisensi
profesional. Bahkan sekarang ee beberapa
sahabat saya yang juga menjadi tokoh
besar di Indonesia seperti Pak Adi W
Gunawan, dia juga punya ADW Gunawan
Institute. Bahkan sertifikasi dari
beliau itu bisa langsung dipakai ee
untuk menerima klien daripada Anda cuman
ngandalkan gelar S1 psikologi saja atau
bahkan master psikologi. Jadi, Anda
perlu sekali lagi sertifikasi lagi. Itu
yang lebih kepakai di dunia masyarakat
dibandingkan dengan Anda cuma
mengandalkan gelar S1 psikologi. Nah,
prospek kurang menjanjikan sekali lagi
karena gelar S1 banyak lulusan psikologi
berakhir dengan bekerja di bidang HR aja
atau rekrutmen saja sebagai konselor non
clinis. That's it. Jadi, itu
sangat-sangat rendah menurut saya dan
akhirnya Anda sangat terlambat untuk
pengembangan karir, over supply, dan
persaingan. Setiap tahun ribuan urusan
psikologi memasuki pasar tenaga kerja.
Namun lapangan kerjanya mengisarkan
keahlian psikologi klinis sangat
terbatas. Jadi gaji awah pekerjaan di
HR, HRD, posisi entry level menarkan
gaji yang tidak sebanding dengan biaya
pendidikan S1. Psikologi biayanya bisa
ratusan juta loh, bukan cuman puluhan
juta lagi loh. Jadi pesan utama saya
bagi kalian ingin menjadi psikolog
klinis atau profesional bidang ini harus
masuk ke S2, S3 atau bahkan ikut
sertifikasi seperti yang sahabat saya
tadi katakan itu bukan endorsement ya,
tapi itu murni sahabat saya. Jadi kalau
nilai 11 10 paling jelek nilainya 8.
Yang kelima, jurusan sosiologi.
Sosiologi atau antropologi ini adalah
ini sudah era lalu lah, sudah era 780-an
lah. Mungkin zaman sekarang sudah
ngacuk. Memahami masyarakat dan budaya
apakah gelar sosiologi atau antropologi
bisa menjamin karir stabil dunia kerja?
Saya rasa sudah tidak. Pencarian jobet
hanya cuman 100 lowongan. Lowongan untuk
posisi secara eksklusif membutuhkan
latar belakang sosiologi atau
antropologi sangat jarang. Banyak
lulusan diharuskan melamar pada polisi
umum yang tidak mensyaratkan kalian
khusus. Jadi alasan prospek kurang
menjanjikan adalah pasar tenaga kerja
terbatas, over supply lulusan.
Jangan-jangan cuman dosen sosiologi atau
guru sosiologi sama antropologi aja.
Kemudian perlunya spesialisasi tambahan.
Lulusan seringkiali harus
mengkombinasikan sosiologi dengan
keterampilan praktisya analisa data,
riset pasar. Kemudian jika Anda memiliki
jurusan sosiolog atau antropologi,
sangat penting untuk skill tambahan
membidik posisi seperti NGO,
nongovernment organizations atau sektor
CSR perusahaan. Tanpa diferensiasi
lulusan jurusan ini akan kesulitan
menembus jurusan pasar yang kompetitif.
Jadi mending Anda punya apa ya, kalau
Anda memang ingin bekerja di NGO dan
sebagainya, sebaiknya Anda memang lebih
baik mencari sertifikasi atau Anda lebih
baik magang atau di
perusahaan-perusahaan NGO. Saya rasa itu
akan jauh lebih menjanjikan dibanding
Anda cuman seorang sarjana sosiologi.
Keenam, seni sejarah. Bagi ane mencintai
seni dan budaya, gelar seni sejarah
terdengar sangat menggoda, tapi akan
benar-benar punya nilai jual di dunia
kerja Indonesia. Faktanya adalah lawan
pekerjaan ini sangat minim bahkan hampir
nihil. Hanya beberapa posisi kurator
atau peneliti seni yang muncul secara
sporadis. Realita pasar, lulusan sejarah
seni seringki harus bersaing mendapatkan
posisi di museum, galeri, atau institusi
kebudayaan yang jumlahnya semakin lama
semakin terbatas. Akhirnya harus
mengambil pekerjaan di luar bidang seni
untuk mendapatkan keahlian tambahan.
Alasan prospek kurang menjanjikan adalah
nich dan terbatas. Dunia sejarah seni
itu jadikan hobi aja. Tidak harus Anda
menjadi seorang sarjana di dunia
tersebut. Institusinya juga terbatas.
Museum, galeri, pusat seni budaya. Hanya
ada di kota besar seperti Jakarta,
Bandung, dan Jogja. Jadi kesempatan
ataupun Bali beberapa kesempatan untuk
mendapat pekerjaan tetap sangatlah
terbatas dan ketergantungan pada relasi.
Berhasil di bidang seni sangat
bergantung pada jaringan dan relasi.
Banyak lulusan sarjana seni harus
mengandalkan koneksi pribadi untuk bisa
dapat peluang kerja. Loh, sulit kan? Dan
pesan utama ini nilainya sangat jelek,
nilainya 9. Kalau 10 sangat jelek ini
nilainya alias hampir jelek sekali dan
hampir enggak punya masa depan. Jadi
sekali lagi mohon maaf Anda yang
mencintai seni dan budaya. Saya juga
punya banyak sekali teman-teman yang ee
mencintai seni dan budaya. Anda kalau
cuman benar-benar mau mencari kerja,
tidak harus Anda menjadi sarjana ee seni
dan budaya. Itu maksud saya. Tapi bukan
berarti saya hari ini mengharamkan Anda
untuk mencintai seni dan budaya. Tidak.
Jadi sekali lagi kata-kata saya jangan
diplintir ya. Ini benar-benar untuk
tujuannya Anda jadikan itu sebagai hobi.
Tapi kalau jadikan itu sebagai mata
pencarian, forget it. Yang ketujuh
adalah filsafat. Data dan lowongan.
Estimasi lowongan berjalan jumlah indit
Indonesia terdapat 4.000 lowongan yang
mencantumkan bahwa termasuk lulusan
filsafat. filsafat ini posisinya manajer
media sosial, penulis konten, analisis
data dan sebagainya. Tapi jom lalongan
ini banyak, tidak ada posisi yang
benar-benar spesifik untuk mencapai
lurusan filsafat. Kita tahu sendiri di
Indonesia ada yang inisialnya RG, itu
kan ahli filsafat bahkan mungkin
profesor filsafat. Nah, beliau harus
kontroversi seperti itu terus terus di
sosial media supaya beliau menjadi
didengarkan oleh pasar. Tetapi apakah
kalau seperti yang di luar RG itu sangat
seterkenal beliau? Tidak, karena enggak
banyak yang berani bicara seperti
beliau. Alasan prospek kurang
menjanjikan adalah minimnya lowongan
spesifik. Kemudian posisi di dunia
akademik terbatas, persaingan ketat di
dunia kerja umum juga sama, kurangnya
skill praktis di dunia kerja modern,
serta bersaing dengan lulusan jurusan
yang lebih spesifik. Jadi, filsafat ini
sungguh-sungguh tidak punya masa depan.
Kecuali Anda memang betul-betul mau
mendalami ilmu filsafat, kemudian ambil
S2-nya, kemudian ambil ee magang dengan
ahli-ahli tertentu itu silakan. Sekali
lagi saya bukan mau memadamkan impian
Anda menjadi ahli filsafat, ahli seni
dan budaya. Tapi sekali lagi ini sekali
lagi video ini saya buat tujuannya untuk
Anda langsung mau terima diterima di
pekerjaan atau sebagai loker. Sangat
berat ya. Itu poinnya di situ. Tapi
sekali lagi kalau Anda enggak ada
masalah dengan duit, orang tua Anda kaya
raya, orang tua Anda mencintai seni dan
budaya filsafat, monggo silakan ya. Anda
go ahead, lanjutkan. Tapi ini kan
ditujukan untuk orang yang benar-benar
mau langsung dapat lowongan kerja gitu
loh. S1 itu yang paling penting.
Kemudian studi ilmu perpustakaan. Dari
perpustakaan aja kita sudah tahu zaman
sekarang ini siapa sih yang masih ke
perpus gitu ya apalagi anak-anak muda
kan. Enggak mungkin Anda itu hari ini
ngelamar kan ujung-ujungnya kerja di
perpus. Sedangkan perpustakaan ini
semakin lama peminatnya semakin sedikit.
Yang keppus itu masih orang-orang tua.
Tapi kalau di luar negeri perpustakaan
itu memang masih laku ya. Tapi di
Indonesia sepertinya kalau di Asia
orang-orang itu akan cenderung untuk
lebih memilih ee mereka jadi orang yang
ya saya rasa cari di Google atau CGBT
lebih oke. Kecuali memang harus
ditugaskan benar-benar harus ada buku
fisiknya baru kita ke perpustakaan. Jadi
perpustakaan itu jumlahnya semakin lama
semakin sedikit. Ini yang jadi problem.
Oleh sebab itu, berdasarkan data terbaru
di Job Street Indonesia pada bulan Maret
2025 hanya terdapat 100 lowongan aja
untuk ilmu perpustakaan. Realita pasar
semakin besar lawangan ini adalah posisi
pustakawan, asli Paris, staf admin, atau
spesialis informasi. Jadi, posisi ini
mensyaratkan keterampilan tambahan
seperti manajemen data digital dan
sebagainya. Nah, sehingga analitik
metadata.
Nah, kemudian alasan prospek kurang
menjanjikan adalah lapangan kerja yang
sangat terbatas, lawan spesifik untuk
ilmu pengetahuan sangat minim,
digitalisasi, persaingan kotak, dan
harus bersaing dengan profesi yang lain.
Jadi keterampilan tambahan yang
dibutuhkan, minimnya penyesuaian
kurikulum dengan teknologi baru, serta
yang nomor empat, transformasi digital
membuat para pustakawan ini semakin lama
semakin menyempit. Kita lihat di
Indonesia pustakawan itu diisi cuman
orang-orang yang mohon maaf ya usia
lanjut 40, 50, 60 ke atas. Jarang sekali
pustakawan itu usianya masih sangat
muda. Kemudian perbandingan dengan
jumlah lulusan. Jumlah lulusan jauh
melebihi lowongan yang tersedia. Pilihan
karir yang menyempit di luar akademik.
Sehingga jika melanjutkan studi ke lebih
tinggi seperti S2 dan S3, ilmu
perpustakaan kesulitan bersaing di
sektor lain dengan lebih dinamis. Jadi,
oleh sebab itu pikirkan baik-baik
sebelum Anda kuliah di jurusan ini.
Studi budaya sekali lagi hampir sama
seperti penjelasan saya tadi tentang
seni dan budaya ini agak agak sangat
sulit karena Anda yang jago jago update
tren seperti film, musik pasti tertarik
dengan budaya pop. Tapi apakah gelar
studi budaya ini bisa membawa kalian ke
dunia kerja impian kalian? Saya rasa
tidak. Justru estimasi lowongan hingga
saat ini tidak ada lawan spesifik yang
mengisyaratkan gelar studi budaya pop.
Bidang ini merupakan peminatan dalam
kajian budaya atau media, bukan jurusan
itu tersendiri. Jadi, lulusan yang
memiliki ketertarikan pada budaya
pobiasanya berasal dari jurusan lain
seperti komunikasi, antropologi,
mengkhususkan diri dalam kajian budaya,
loker formal seperti sarjana budaya pop
itu kayaknya hampir enggak ada sehingga
lulusannya harus bersaing dengan posisi
yang sama dengan lulusan atau jurusan
yang lain. Jadi, keterbatasan lapangan
pekerjaan ini memang sangat sulit.
Kayaknya enggak ada sih ya, sarjana
budaya pop itu enggak ada.
Apalagi saingan dari posisi yang lain
seperti media, content creation,
research trend lebih terbuka dan lebih
umum daripada ilmu komunikasi. Jadi
kalian harus mengembangkan skill
tambahan untuk betul-betul bertahan di
ee sarjana ini. Agar bisa bersaing,
lulusan harus menguasai teknologi
digital, analisis media sosial,
kemampuan riset tren lebih aplikatif.
Dan pesan utama bagi kalian menyukai
budaya pop, jangan hanya mengandalkan
gelar akademis. Manfaatkan peluang untuk
belajar keterampilan digital dan
analitik serta bangun portofolio untuk
menunjukkan pemahaman yang mendalam
tentang tren budaya. Jadi kalau 10
paling jelek ini
angkanya. Dan yang terakhir last but not
least adalah jurusan ke-10 yaitu
manajemen kuliner. What? Kok bisa
manajemen kuliner itu enggak punya masa
depan? Begini penjelasan saya. Kalau
kalian suka makan makanan enak dan
suasana kafe yang kosi, kafe di
mana-mana, harusnya di zaman sekarang
kalian bukan dengar dari karta sarjana
manajemen kuliner, tapi pasti kalian
buka YouTube, kalian buka TikTok,
tujuannya adalah mencari makanan enak di
mana menurut reviewer-reviewer tersebut.
Kalau dari jenis makanan yang kalian
suka, kalian akan mampir kuliner di
mana-mana. Tapi apakah gelar manajemen
kuliner Indonesia benar-benar membuka
pintu untuk karir yang gemilang?
Seringkiali gini, kalau kita cek di Job
Street 410 lowongan saja terkait dengan
hospitality di jobstreet.com. Realita
pasar sektor hospitality memang besar di
Indonesia, terutama di kota-kota
pariwisata seperti Bali, Jogja, dan
Jakarta. Namun posisi manajer yang
mengisyaratkan lulusan S1 Manajemen
Restoran sangat sedikit dibandingkan
dengan posisi entry level. Dan alasan
kurang menjanjikannya adalah over supply
lulusan. Tiap tahun banyak perguruan
tinggi, vokasi, meluluskan ribuan
mahasiswa di bidang pariwisata dan
perotelan, bukan sarjana manajemen
kuliner. Banyak dari mereka lebih
memilih lebih cepat diterima di posisi
magang tanpa harus memiliki gelar S1.
Pengalaman lebih utama di industri ini.
Pengalaman praktis seperti magang, kerja
baru waktu, pelatihan langsung lebih
dihargai daripada gelar akademis. Banyak
otel dan restoran lebih memilih kandidat
yang sudah memiliki jam terbang meski
hanya lulusan SMK atau diploma. Apalagi
setelah efek pandemi meskipun sektor
pariwisata sedang mulai menuju era
pemulian, banyak perusahaan masih
berhati-hati dalam membuka posisi baru
karena ketidakpastian ekonomi. Serta
pesan utama, gelar manajemen restoran
memang berguna, tapi nilai tambahnya
sangat bergantung pada portofolio
pengalaman Anda. Kebanyakan dicari kamu
pernah kerja di resto mana, pengalamanmu
apa, kemudian kamu sendiri pernah handle
apa? Mana bukti kamu? Kamu pernah kerja,
gaji terakhir kamu seperti apa? itu
lebih dicari daripada Anda lulusan
sarjana manajemen restoran. Ya, jadi
dari sini menurut saya gelar S1 itu
kalian bisa gelar sekolah yang lain,
enggak harus manajemen kuliner dibanding
persaingannya ada. Jadi kalau nilai 1
sampai 10 dia angkanya 7. So, oleh
kesimpulannya 10 jenis jurusan ini
sekali lagi saya disclaimer bukan
berarti kalau kalian sekarang sudah
menempuh jurusan ini kecuali ini cocok
untuk orang yang benar-benar mau mencari
lawan kerja langsung diterima kerja.
Tapi kalau kalian memang sendiri itu
hobi seni, hobi budaya, hobi
antropologi, hobi sosiologi, hobi
manajemen restoran tanpa harus pusing
dengan lawan pekerjaan, ya go ahead itu
karena kalian memang betul-betul hobi di
bidang itu. Tapi video ini saya tujukan
untuk benar-benar fresh graduate,
betul-betul job seeker, betul-betul
mencari pekerjaan, betul-betul mencari
S1, betul-betul sudah enggak ada support
duit dari orang tua dan betul-betul
kalian ingin merintis karir Anda
sendiri. Nah, sepertinya 10 jurusan ini
benar-benar tidak cocok. Dan tolong
komen di bawah sekarang juga kalau saya
mau buatkan apa jurusan yang memang
paling punya masa depan. Dan kalau
seandainya Anda saat ini punya anak yang
sekarang masih SMP atau SMA, sebaiknya
jurusan kuliah apa yang Anda persiapkan
saya sedang siapkan videonya di video
berikutnya. Kalau Anda setuju, saya
tulis di bawah. Apa, Pak? Tolong buatkan
10 jurusan yang menurut Bapak punya masa
depan dan sepertinya banyak cukup banyak
di luar negeri. Jadi kabur aja dulu.
Sukses untuk Anda. Salam hebat luar
biasa. Yeah.