Transcript
OD0GUpcGbMk • 10 Jurusan Kuliah Yang Tidak Berguna Dan Buang-Buang Uang DI Indonesia
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/sb30official/.shards/text-0001.zst#text/1362_OD0GUpcGbMk.txt
Kind: captions Language: id Kalian itu kuliah udah ngabisin duit orang tua, orang tua udah nyiapin duit puluhan juta, bahkan sampai lebih dari 100 200 juta. Terus kalian sudah salah pilih jurusan lagi kuliah dan susah lagi cari lawan kerja. Kok bisa? Welcome to success before business and financial mentoring. So, sahabat entrepreneur, salam hebat luar biasa. Kalian jangan kaget ya kalau tadi saya sudah ngomong seperti itu di awal. Kita tahu sendiri eh saya disclaimer dulu membuat video ini karena video ini memang pasti mengandung kontroversi. Tetapi sebelum saya membuat video ini, saya sudah riset cukup mendalam di Google dan saya juga sudah riset cukup mendalam tentang ketersediaan lowongan pekerjaan di Indonesia, khususnya Anda yang sedang memilih jurusan yang akhirnya lawan pekerjaannya bakal susah. Akhirnya saya menemukan 10 jenis jurusan yang Anda kuliah dan ini juga bisa masukkan bagi para perguruan tinggi. Karena perguruan tinggi jangan-jangan jurusan Anda setelah saya bikin video ini terjadi penurunan jumlah mahasiswa baru untuk melamar di perguruan tinggi Anda. Saatnya kalian harus merevisi fakultas tersebut. Jangan sampai fakultas itu Anda pertahankan, jumlah mahasiswanya semakin sedikit, akhirnya perguruan tinggi tersebut menjadi enggak laku. Jadi, ini adalah masukan untuk Anda, untuk para mahasiswa baru maupun yang sudah kuliah serta bagi perguruan tinggi. Jadi, saya disclaimer dulu video ini saya research dari Google, kemudian saya juga dari kajian jobstreet.com cara mencari lowongan pekerjaan dan di situ minatnya itu ternyata jumlahnya itu sangat-sangat sedikit sekali. Semua datanya saya akan lampirkan. Di Indonesia kita tahu sendiri persaingan dunia kerja itu semakin ketat. Setiap tahun ribuan dari berbagai jurusan mengalir ke pasar tenaga kerja. Sayangnya enggak semua jurusan memiliki kemampuan untuk menyerap jurusan dalam jumlah yang besar. Data dari lowongan pekerjaan seperti Job Street menunjukkan bahwa beberapa bidang hanya membuka lowongan yang sangat terbatas dibandingkan dengan jumlah lulusannya. Selain itu, banyak perusahaan lebih mengundangkan pengalaman praktis, portofolio, Anda pernah bekerja apa, karyanya di mana. Kayak saya pun sekarang mencari e karyawan juga seperti itu. Saya enggak penting kamu lulusan mana, tapi karyamu itu apa. Saya mau tahu sehingga itu menentukan cocok atau tidaknya bekerja divisi usaha saya. Portofolio atau skill tambahan dibandingkan dengan gelar akademi semata. Dalam video ini kita akan membahas 10 jurusan yang data lowongannya relatif minim dan prospeknya dianggap tidak cerah di Indonesia. bukan berarti jurusannya jelek, tapi potensi pekerjaannya sangat minim dan semakin lama semakin sunset atau semakin menurun ataupun kuliahnya akhirnya menjadi jurusan yang ee sudah berlalu atau trennya itu sudah lewat. Nah, yang pertama adalah jurusan fotografi. Sepertinya ini cocok kalau di era 80-an 90-an ya, di mana waktu itu fotografi itu kan masih pakai SLR dan cucinnya itu masih ee mesin cetaknya itu masih pakai ee cetakan e 2R, 3R dan sebagainya. Tapi sekarang jurusan fotografi itu lebih kepada Anda kursus aja udah cukup. Jadi bahkan lowongan pekerjaannya 1065 yang dikaitkan dengan fotografi di jobstreet.com. Cuma 165 lowongan. Namun kebanyakan merupakan pekerjaan freelance atau kontrak jangka pendek. Jadi mereka tidak mencari orang lalasan lulusan sarjana fotografi gitu. Jadi kalau Anda lihat karya-karya keren di Instagram, apakah mereka itu lulusan sarjana fotografi? Saya rasa tidak. Jadi era digital banyak orang belajar fotografi secara otodidak lewat YouTube atau kursus online itu justru hasilnya lebih update dibanding mereka yang dulu harus pakai begini, pakai angle ini, harus kamera ini, udah ketinggalan semuanya. Kemudian alasan prospek kurang menjanjikan adalah skill sama gelar. Di dunia kreatif, portofolio kemampuan praktis lebih penting daripada gelar S1. Persaingan ketat. Meskipun lawongan relatif banyak, tapi persaingan sangat ketat karena banyak individu menguasai fotografi secara nonformal. Ribuan lulusan setiap tahun bersaing untuk puluhan posisi tetap. Bahkan untuk gaji level rendah seperti fotografer itu perjanya seringkiali terbatas pada posisi entry level. Peran pesan utama bagi yang terjun ke dunia fotografi, gelar S1 fotografi tidak cukup karena menjamin kesuksesan industri ini sangat kompetitif. Jadi kalau nilainya 1 sampai 10, 10 paling jelek di sini nilainya 8. Sehingga ya kalau Anda milih ke jurusan ini kecuali kamu memang punya idealisme tingkat tinggi ya, tapi ilmu-ilmunya harusnya tidak relevan dan tidak update. Yang kedua adalah jurusan biologi. Nah, beda sama bioteknologi, beda sama biokimia. itu mungkin masih dibutuhkan ke depan. Tapi kalau biologi, ah sepertinya kalian harus berpikir ulang untuk masuk ke jurusan ini. Dunia sains penuh dengan penemuan dan inovasi, tapi apakah gelar S1 Biologi sudah cukup membuka jalan karir? Estimasi lowongan 429 lowan pekerjaan yang berkaitan dengan biologi di portal lowongan kerja. Realita pasar, pekerjaan di bidang biologi seringkiali membutuhkan kualifikasi lebih tinggi seperti S2 seperti di bioteknologi, microbiologi atau penelitian lanjutan. Jadi, S1 biologi enggak cukup. Kecuali memang Anda ingin berkarir di dunia bioteknologi sehingga mungkin membutuhkan S1 Biologi. A itu masih oke. Tapi kalau cuman ngandalkan S1-nya aja lupakan. Dan apalagi Anda langsung setelah S1-nya biologi banding setir lagi S1 ekonomi, lebih enggak buang waktu lagi. Jadi, jangan sampai Anda buang waktu di situ. Alasan prospek kurang menjanjikan adalah ke kualifikasi akademis tambahan. banyak posisi peneliti, analisis lab, dosen hanya terbuka bagi mereka melanjutkan gelar master atau PhD. Rendahnya gaji awal, lulusan S1 Biologi langsung masuk ke dunia kerja seringkiali harus menerima posisi dengan gaji yang tidak sepanding dengan biaya pendidikannya. Persaingan dari lulusan lain juga sama. Jadi kalau angka 1 sampai 10 saya berikan ini nilainya 7. Kalau 10 paling jelek. Jadi alisannya tidak berprospek. Jurusan ketiga yang sebaiknya Anda harus hati-hati, enggak ada masa depannya adalah ilmu komunikasi. Loh, makanya saya waktu membuat video Sucs 4, pertama kali banyak orang bertanya sama saya, "Pak Candra ini apakah lulusan sarjana Ilmu Komunikasi? Kok cara komunikasinya lancar?" "Hei, Bapak, Ibu, adik-adikku yang saya cintai. Saya ini cuman lulusan sarjana teknik industri S1. Enggak ada hubungannya sama ilmu komunikasi. Ilmu komunikasi saya belajar dari mana? dari dunia sales, dari dunia marketing. Itu artinya saya tidak perlu kuliah untuk belajar ilmu sales dan ilmu komunikasi. Dari yang kalian bermimpi menjadi public relations, content creator atau digital marketer, apakah ilmu komunikasi sudah tidak cukup? Sangat tidak cukup. Bahkan menurut Job Street 2.139 lowongan kerja terkait ilmu komunikasi itu cuma 2.000 lebih. Walaupun lowongan cukup banyak, tapi gelar ini populer menghasilkan overl supply lulusan. Banyak bidang komunikasi dibuka untuk berbagai disiplin sehingga ilmu komunikasi saja tidak cukup, harus bersaing. Alasan Crosspek kurang menjanjikan karena kurikulumnya masih konvensional. Ilmu komunikasinya mungkin jangan-jangan terlalu tekstual dan cocok dengan ilmu komunikasi zaman kuno dan perkembangan digital dan tren sosial yang dinamis. Persaingan yang sangat ketat. Ribuan lulusan setiap tahun banyak harus menerima posisi entry level. Keterampilan tambahan dibutuhkan. Untuk bisa bersaing, lulusan cukup harus menguasai skill seperti SEO, konten strategi, analitik. media sosial. Tanpa itu, gelar saja tidak cukup untuk menunjukkan nilai tambak. Pesan utama, gelar Imroi masih memiliki potensi, namun harus menonjol di pasar kerja. Kalian harus meng-upgrade keterampilan seperti ngikuti tren digital, membangun portofolio yang kuat, hanya mengandalkan ijazah, enggak bisa. Jadi kalau nilai 1 sampai 10 nilainya 6 saja. Kemudian yang keempat adalah jurusan psikologi. Hah, kok bisa? Bukankah video-video Pak Canda juga ada hubungannya sama psikologi terapan? Begini, kalau Anda hari ini ingin mengubah kehidupan seseorang lulusan S1 Psikologi tidak layak lagi atau tidak cukup. Karena seseorang bisa membuka praktik psikolog itu harus minimal kejanjaran S2 karena Anda harus sudah master psikologi atau lisensi profesional. Bahkan sekarang ee beberapa sahabat saya yang juga menjadi tokoh besar di Indonesia seperti Pak Adi W Gunawan, dia juga punya ADW Gunawan Institute. Bahkan sertifikasi dari beliau itu bisa langsung dipakai ee untuk menerima klien daripada Anda cuman ngandalkan gelar S1 psikologi saja atau bahkan master psikologi. Jadi, Anda perlu sekali lagi sertifikasi lagi. Itu yang lebih kepakai di dunia masyarakat dibandingkan dengan Anda cuma mengandalkan gelar S1 psikologi. Nah, prospek kurang menjanjikan sekali lagi karena gelar S1 banyak lulusan psikologi berakhir dengan bekerja di bidang HR aja atau rekrutmen saja sebagai konselor non clinis. That's it. Jadi, itu sangat-sangat rendah menurut saya dan akhirnya Anda sangat terlambat untuk pengembangan karir, over supply, dan persaingan. Setiap tahun ribuan urusan psikologi memasuki pasar tenaga kerja. Namun lapangan kerjanya mengisarkan keahlian psikologi klinis sangat terbatas. Jadi gaji awah pekerjaan di HR, HRD, posisi entry level menarkan gaji yang tidak sebanding dengan biaya pendidikan S1. Psikologi biayanya bisa ratusan juta loh, bukan cuman puluhan juta lagi loh. Jadi pesan utama saya bagi kalian ingin menjadi psikolog klinis atau profesional bidang ini harus masuk ke S2, S3 atau bahkan ikut sertifikasi seperti yang sahabat saya tadi katakan itu bukan endorsement ya, tapi itu murni sahabat saya. Jadi kalau nilai 11 10 paling jelek nilainya 8. Yang kelima, jurusan sosiologi. Sosiologi atau antropologi ini adalah ini sudah era lalu lah, sudah era 780-an lah. Mungkin zaman sekarang sudah ngacuk. Memahami masyarakat dan budaya apakah gelar sosiologi atau antropologi bisa menjamin karir stabil dunia kerja? Saya rasa sudah tidak. Pencarian jobet hanya cuman 100 lowongan. Lowongan untuk posisi secara eksklusif membutuhkan latar belakang sosiologi atau antropologi sangat jarang. Banyak lulusan diharuskan melamar pada polisi umum yang tidak mensyaratkan kalian khusus. Jadi alasan prospek kurang menjanjikan adalah pasar tenaga kerja terbatas, over supply lulusan. Jangan-jangan cuman dosen sosiologi atau guru sosiologi sama antropologi aja. Kemudian perlunya spesialisasi tambahan. Lulusan seringkiali harus mengkombinasikan sosiologi dengan keterampilan praktisya analisa data, riset pasar. Kemudian jika Anda memiliki jurusan sosiolog atau antropologi, sangat penting untuk skill tambahan membidik posisi seperti NGO, nongovernment organizations atau sektor CSR perusahaan. Tanpa diferensiasi lulusan jurusan ini akan kesulitan menembus jurusan pasar yang kompetitif. Jadi mending Anda punya apa ya, kalau Anda memang ingin bekerja di NGO dan sebagainya, sebaiknya Anda memang lebih baik mencari sertifikasi atau Anda lebih baik magang atau di perusahaan-perusahaan NGO. Saya rasa itu akan jauh lebih menjanjikan dibanding Anda cuman seorang sarjana sosiologi. Keenam, seni sejarah. Bagi ane mencintai seni dan budaya, gelar seni sejarah terdengar sangat menggoda, tapi akan benar-benar punya nilai jual di dunia kerja Indonesia. Faktanya adalah lawan pekerjaan ini sangat minim bahkan hampir nihil. Hanya beberapa posisi kurator atau peneliti seni yang muncul secara sporadis. Realita pasar, lulusan sejarah seni seringki harus bersaing mendapatkan posisi di museum, galeri, atau institusi kebudayaan yang jumlahnya semakin lama semakin terbatas. Akhirnya harus mengambil pekerjaan di luar bidang seni untuk mendapatkan keahlian tambahan. Alasan prospek kurang menjanjikan adalah nich dan terbatas. Dunia sejarah seni itu jadikan hobi aja. Tidak harus Anda menjadi seorang sarjana di dunia tersebut. Institusinya juga terbatas. Museum, galeri, pusat seni budaya. Hanya ada di kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Jogja. Jadi kesempatan ataupun Bali beberapa kesempatan untuk mendapat pekerjaan tetap sangatlah terbatas dan ketergantungan pada relasi. Berhasil di bidang seni sangat bergantung pada jaringan dan relasi. Banyak lulusan sarjana seni harus mengandalkan koneksi pribadi untuk bisa dapat peluang kerja. Loh, sulit kan? Dan pesan utama ini nilainya sangat jelek, nilainya 9. Kalau 10 sangat jelek ini nilainya alias hampir jelek sekali dan hampir enggak punya masa depan. Jadi sekali lagi mohon maaf Anda yang mencintai seni dan budaya. Saya juga punya banyak sekali teman-teman yang ee mencintai seni dan budaya. Anda kalau cuman benar-benar mau mencari kerja, tidak harus Anda menjadi sarjana ee seni dan budaya. Itu maksud saya. Tapi bukan berarti saya hari ini mengharamkan Anda untuk mencintai seni dan budaya. Tidak. Jadi sekali lagi kata-kata saya jangan diplintir ya. Ini benar-benar untuk tujuannya Anda jadikan itu sebagai hobi. Tapi kalau jadikan itu sebagai mata pencarian, forget it. Yang ketujuh adalah filsafat. Data dan lowongan. Estimasi lowongan berjalan jumlah indit Indonesia terdapat 4.000 lowongan yang mencantumkan bahwa termasuk lulusan filsafat. filsafat ini posisinya manajer media sosial, penulis konten, analisis data dan sebagainya. Tapi jom lalongan ini banyak, tidak ada posisi yang benar-benar spesifik untuk mencapai lurusan filsafat. Kita tahu sendiri di Indonesia ada yang inisialnya RG, itu kan ahli filsafat bahkan mungkin profesor filsafat. Nah, beliau harus kontroversi seperti itu terus terus di sosial media supaya beliau menjadi didengarkan oleh pasar. Tetapi apakah kalau seperti yang di luar RG itu sangat seterkenal beliau? Tidak, karena enggak banyak yang berani bicara seperti beliau. Alasan prospek kurang menjanjikan adalah minimnya lowongan spesifik. Kemudian posisi di dunia akademik terbatas, persaingan ketat di dunia kerja umum juga sama, kurangnya skill praktis di dunia kerja modern, serta bersaing dengan lulusan jurusan yang lebih spesifik. Jadi, filsafat ini sungguh-sungguh tidak punya masa depan. Kecuali Anda memang betul-betul mau mendalami ilmu filsafat, kemudian ambil S2-nya, kemudian ambil ee magang dengan ahli-ahli tertentu itu silakan. Sekali lagi saya bukan mau memadamkan impian Anda menjadi ahli filsafat, ahli seni dan budaya. Tapi sekali lagi ini sekali lagi video ini saya buat tujuannya untuk Anda langsung mau terima diterima di pekerjaan atau sebagai loker. Sangat berat ya. Itu poinnya di situ. Tapi sekali lagi kalau Anda enggak ada masalah dengan duit, orang tua Anda kaya raya, orang tua Anda mencintai seni dan budaya filsafat, monggo silakan ya. Anda go ahead, lanjutkan. Tapi ini kan ditujukan untuk orang yang benar-benar mau langsung dapat lowongan kerja gitu loh. S1 itu yang paling penting. Kemudian studi ilmu perpustakaan. Dari perpustakaan aja kita sudah tahu zaman sekarang ini siapa sih yang masih ke perpus gitu ya apalagi anak-anak muda kan. Enggak mungkin Anda itu hari ini ngelamar kan ujung-ujungnya kerja di perpus. Sedangkan perpustakaan ini semakin lama peminatnya semakin sedikit. Yang keppus itu masih orang-orang tua. Tapi kalau di luar negeri perpustakaan itu memang masih laku ya. Tapi di Indonesia sepertinya kalau di Asia orang-orang itu akan cenderung untuk lebih memilih ee mereka jadi orang yang ya saya rasa cari di Google atau CGBT lebih oke. Kecuali memang harus ditugaskan benar-benar harus ada buku fisiknya baru kita ke perpustakaan. Jadi perpustakaan itu jumlahnya semakin lama semakin sedikit. Ini yang jadi problem. Oleh sebab itu, berdasarkan data terbaru di Job Street Indonesia pada bulan Maret 2025 hanya terdapat 100 lowongan aja untuk ilmu perpustakaan. Realita pasar semakin besar lawangan ini adalah posisi pustakawan, asli Paris, staf admin, atau spesialis informasi. Jadi, posisi ini mensyaratkan keterampilan tambahan seperti manajemen data digital dan sebagainya. Nah, sehingga analitik metadata. Nah, kemudian alasan prospek kurang menjanjikan adalah lapangan kerja yang sangat terbatas, lawan spesifik untuk ilmu pengetahuan sangat minim, digitalisasi, persaingan kotak, dan harus bersaing dengan profesi yang lain. Jadi keterampilan tambahan yang dibutuhkan, minimnya penyesuaian kurikulum dengan teknologi baru, serta yang nomor empat, transformasi digital membuat para pustakawan ini semakin lama semakin menyempit. Kita lihat di Indonesia pustakawan itu diisi cuman orang-orang yang mohon maaf ya usia lanjut 40, 50, 60 ke atas. Jarang sekali pustakawan itu usianya masih sangat muda. Kemudian perbandingan dengan jumlah lulusan. Jumlah lulusan jauh melebihi lowongan yang tersedia. Pilihan karir yang menyempit di luar akademik. Sehingga jika melanjutkan studi ke lebih tinggi seperti S2 dan S3, ilmu perpustakaan kesulitan bersaing di sektor lain dengan lebih dinamis. Jadi, oleh sebab itu pikirkan baik-baik sebelum Anda kuliah di jurusan ini. Studi budaya sekali lagi hampir sama seperti penjelasan saya tadi tentang seni dan budaya ini agak agak sangat sulit karena Anda yang jago jago update tren seperti film, musik pasti tertarik dengan budaya pop. Tapi apakah gelar studi budaya ini bisa membawa kalian ke dunia kerja impian kalian? Saya rasa tidak. Justru estimasi lowongan hingga saat ini tidak ada lawan spesifik yang mengisyaratkan gelar studi budaya pop. Bidang ini merupakan peminatan dalam kajian budaya atau media, bukan jurusan itu tersendiri. Jadi, lulusan yang memiliki ketertarikan pada budaya pobiasanya berasal dari jurusan lain seperti komunikasi, antropologi, mengkhususkan diri dalam kajian budaya, loker formal seperti sarjana budaya pop itu kayaknya hampir enggak ada sehingga lulusannya harus bersaing dengan posisi yang sama dengan lulusan atau jurusan yang lain. Jadi, keterbatasan lapangan pekerjaan ini memang sangat sulit. Kayaknya enggak ada sih ya, sarjana budaya pop itu enggak ada. Apalagi saingan dari posisi yang lain seperti media, content creation, research trend lebih terbuka dan lebih umum daripada ilmu komunikasi. Jadi kalian harus mengembangkan skill tambahan untuk betul-betul bertahan di ee sarjana ini. Agar bisa bersaing, lulusan harus menguasai teknologi digital, analisis media sosial, kemampuan riset tren lebih aplikatif. Dan pesan utama bagi kalian menyukai budaya pop, jangan hanya mengandalkan gelar akademis. Manfaatkan peluang untuk belajar keterampilan digital dan analitik serta bangun portofolio untuk menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang tren budaya. Jadi kalau 10 paling jelek ini angkanya. Dan yang terakhir last but not least adalah jurusan ke-10 yaitu manajemen kuliner. What? Kok bisa manajemen kuliner itu enggak punya masa depan? Begini penjelasan saya. Kalau kalian suka makan makanan enak dan suasana kafe yang kosi, kafe di mana-mana, harusnya di zaman sekarang kalian bukan dengar dari karta sarjana manajemen kuliner, tapi pasti kalian buka YouTube, kalian buka TikTok, tujuannya adalah mencari makanan enak di mana menurut reviewer-reviewer tersebut. Kalau dari jenis makanan yang kalian suka, kalian akan mampir kuliner di mana-mana. Tapi apakah gelar manajemen kuliner Indonesia benar-benar membuka pintu untuk karir yang gemilang? Seringkiali gini, kalau kita cek di Job Street 410 lowongan saja terkait dengan hospitality di jobstreet.com. Realita pasar sektor hospitality memang besar di Indonesia, terutama di kota-kota pariwisata seperti Bali, Jogja, dan Jakarta. Namun posisi manajer yang mengisyaratkan lulusan S1 Manajemen Restoran sangat sedikit dibandingkan dengan posisi entry level. Dan alasan kurang menjanjikannya adalah over supply lulusan. Tiap tahun banyak perguruan tinggi, vokasi, meluluskan ribuan mahasiswa di bidang pariwisata dan perotelan, bukan sarjana manajemen kuliner. Banyak dari mereka lebih memilih lebih cepat diterima di posisi magang tanpa harus memiliki gelar S1. Pengalaman lebih utama di industri ini. Pengalaman praktis seperti magang, kerja baru waktu, pelatihan langsung lebih dihargai daripada gelar akademis. Banyak otel dan restoran lebih memilih kandidat yang sudah memiliki jam terbang meski hanya lulusan SMK atau diploma. Apalagi setelah efek pandemi meskipun sektor pariwisata sedang mulai menuju era pemulian, banyak perusahaan masih berhati-hati dalam membuka posisi baru karena ketidakpastian ekonomi. Serta pesan utama, gelar manajemen restoran memang berguna, tapi nilai tambahnya sangat bergantung pada portofolio pengalaman Anda. Kebanyakan dicari kamu pernah kerja di resto mana, pengalamanmu apa, kemudian kamu sendiri pernah handle apa? Mana bukti kamu? Kamu pernah kerja, gaji terakhir kamu seperti apa? itu lebih dicari daripada Anda lulusan sarjana manajemen restoran. Ya, jadi dari sini menurut saya gelar S1 itu kalian bisa gelar sekolah yang lain, enggak harus manajemen kuliner dibanding persaingannya ada. Jadi kalau nilai 1 sampai 10 dia angkanya 7. So, oleh kesimpulannya 10 jenis jurusan ini sekali lagi saya disclaimer bukan berarti kalau kalian sekarang sudah menempuh jurusan ini kecuali ini cocok untuk orang yang benar-benar mau mencari lawan kerja langsung diterima kerja. Tapi kalau kalian memang sendiri itu hobi seni, hobi budaya, hobi antropologi, hobi sosiologi, hobi manajemen restoran tanpa harus pusing dengan lawan pekerjaan, ya go ahead itu karena kalian memang betul-betul hobi di bidang itu. Tapi video ini saya tujukan untuk benar-benar fresh graduate, betul-betul job seeker, betul-betul mencari pekerjaan, betul-betul mencari S1, betul-betul sudah enggak ada support duit dari orang tua dan betul-betul kalian ingin merintis karir Anda sendiri. Nah, sepertinya 10 jurusan ini benar-benar tidak cocok. Dan tolong komen di bawah sekarang juga kalau saya mau buatkan apa jurusan yang memang paling punya masa depan. Dan kalau seandainya Anda saat ini punya anak yang sekarang masih SMP atau SMA, sebaiknya jurusan kuliah apa yang Anda persiapkan saya sedang siapkan videonya di video berikutnya. Kalau Anda setuju, saya tulis di bawah. Apa, Pak? Tolong buatkan 10 jurusan yang menurut Bapak punya masa depan dan sepertinya banyak cukup banyak di luar negeri. Jadi kabur aja dulu. Sukses untuk Anda. Salam hebat luar biasa. Yeah.