Transcript
yVmkWvCvVY4 • Perang Dunia Ketiga Dimulai? Belajar PD 2 dimulai dari Perang Dagang!
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/sb30official/.shards/text-0001.zst#text/1371_yVmkWvCvVY4.txt
Kind: captions
Language: id
Kebijakan Donald Trump mirip dengan
kebijakan Presiden Amerika sebelum
Perang Dunia Kedua terjadi. Dimulai dari
perang dagang berakhir dengan perang
beneran. Penyebab awalnya dari tarif.
[Musik]
Pada tahun
1922, Amerika Serikat mengesahkan
Fortn, sebuah undang-undang perdagangan
yang menaikkan tarif impor secara
signifikan khususnya terhadap produk
dari Eropa. Tujuannya sederhana,
melindungi industri domestik dan para
petani Amerika dari banjir produk asing,
terutama setelah Perang Dunia 1 yang
membuat banyak negara Eropa mencari
pasar ekspor baru. Namun, langkah ini
juga menutup pintu bagi negara-negara
yang sedang butuh pemasukan seperti
Jerman yang sedang tercekik oleh beban
reparasi perang. Sementara itu di Jepang
negara ini mulai membangun kekuatan
industri dan ekspor mereka terutama
produk tekstil dan sutra mentah yang
banyak dikirim ke Amerika dan Eropa.
Jepang belum terlalu terdampak oleh
tarif ini. Tapi langkah proteksionis
Amerika menjadi sinyal awal bahwa dunia
akan semakin tertutup bukan terbuka.
[Musik]
Tahun 1924 menjadi titik balik bagi
Jerman yang saat itu hampir runtuh
akibat inflasi parah dan tekanan
ekonomi. Amerika Serikat melalui apa
yang dikenal sebagai Daus Plan
mengalirkan kredit dalam jumlah besar
kepada Jerman. Dana ini memungkinkan
Jerman menstabilkan ekonominya dan
memulai kembali kegiatan ekonomi
domestik. Kota-kota seperti Berlin mulai
hidup kembali. industri berjalan, seni
dan budaya berkembang, dan masyarakat
mulai merasa optimis. Masa ini dikenal
sebagai Golden Juan Jiger atau Golden
20s di Jerman. Namun, semua kemajuan itu
dibangun di atas utang jangka pendek
dari bank-bank Amerika. Dengan kata
lain, Jerman berdiri di atas fondasi
rapu yang bisa runtuh sewaktu-waktu jika
Amerika menarik dana mereka kembali. Di
saat yang sama, Amerika Serikat
menikmati masa keemasan ekonomi. Bursa
saham merket, konsumen membeli mobil dan
rumah dengan cicilan dan kepercayaan
diri publik melonjak. Semua tampak
baik-baik saja. Jepang meskipun tidak
menerima dana langsung seperti Jerman
ikut menikmati derasnya permintaan
global. Sutra Jepang menjadi barang
mewah di pasar Amerika dan Eropa. Jepang
pun mulai merasa percaya diri membangun
industri berat dan memperluas kapasitas
ekspornya. Namun di balik semua itu,
dunia sebenarnya saling tergantung
secara ekonomi. Dan seperti kartu
domino, jika satu jatuh semua akan ikut
tumbang dan waktu itu semakin
[Musik]
dekat. Tahun
1929 awalnya terlihat seperti puncak
kejayaan ekonomi global. Di Amerika
Serikat indeks saham di Wall Street
terus meroket. Orang-orang berinvestasi
dengan euforia bahkan meminjam uang
untuk membeli saham. Sementara itu,
kredit internasional tetap mengalir.
Amerika meminjamkan uang ke Jerman.
Jerman membayar reparasi ke Inggris dan
Prancis. Lalu Inggris membayar utang
perang mereka ke Amerika. Sebuah siklus
ekonomi yang terlihat stabil, namun
sangat rapuh. Hingga pada 29 Oktober
1929, pasar saham di Amerika ambruk
dalam peristiwa yang dikenal sebagai
Black Tuesday. Dalam hitungan hari,
jutaan dolar menguap dan bank mulai
gulung tikar. Investor panik dan ekonomi
Amerika masuk ke dalam spiral kehancuran
finansial. Efeknya langsung terasa di
Jerman. Karena sebagian besar dana
pembangunan Jerman berasal dari utang
bank Amerika, krisis di Wall Street
memicu penarikan dana besar-besaran.
Tanpa akses pada kredit, industri Jerman
mulai kehabisan napas. Lapangan kerja
menyusut, dan tekanan sosial meningkat
tajam. Sementara itu, di Jepang,
permintaan ekspor menurun tajam,
terutama untuk Sutra. komoditas unggulan
mereka. Amerika yang sebelumnya
merupakan pembeli terbesar Sutra Jepang,
kini tidak lagi sanggup membayar. Harga
sutra jatuh, pabrik tutup, dan
pengangguran mulai merebak. Deflasi pun
melanda ekonomi Jepang dan ketidakpuasan
terhadap sistem politik sipil mulai
tumbuh. Kelompok militer dalam
pemerintahan mulai semakin vokal dan
mendapat simpati. Depresi belum
diresmikan secara global, tapi ekonomi
dunia sudah mulai runtuh seperti kartu
domino. Dan langkah fatal berikutnya
justru datang dari Amerika
[Musik]
sendiri. Sebagai respons atas anjloknya
ekonomi domestik pada tahun
1930, Presiden Herbert Hoover
menandatangani Smooth Holy Tarif Act,
sebuah undang-undang yang menaikkan
tarif impor secara drastis terhadap
lebih dari 20.000 barang asing.
Tujuannya adalah melindungi petani dan
industri Amerika dari kompetisi luar
negeri selama krisis. Tapi yang terjadi
justru sebaliknya, dunia mulai membalas.
Negara-negara seperti Kanada, Inggris,
Prancis hingga Jerman segera menaikkan
tarif balasan menciptakan gelombang
proteksionisme global. Hasilnya, volume
perdagangan dunia menyusut lebih dari
60% hanya dalam beberapa tahun. ekonomi
internasional yang sebelumnya saling
tergantung membeku dalam
ketidakpercayaan. Di Jerman efeknya
sangat terasa. Amerika menutup pasar
bagi ekspor Jerman. Padahal Jerman
sangat bergantung pada penjualan barang
industri untuk membayar cicilan reparasi
dan menjaga perputaran ekonomi. Harga
barang-barang Jerman anjlok deflasi
makin parah dan ribuan perusahaan
kolaps. Pengangguran melonjak hingga
jutaan orang. Kemarahan dan rasa
frustrasi rakyat makin dalam membuka
ruang bagi propaganda ekstrem. Di Jepang
situasinya tak jauh berbeda. Ekspor
tekstil dan produk ringan mereka
terpukul keras akibat tarif Amerika.
Harga jatuh, daya beli masyarakat
menurun, dan kepercayaan terhadap sistem
ekonomi global mulai lenyap. Di tengah
kesulitan ekonomi ini, kelompok militer
Jepang mulai memimpin diskusi soal
kemandirian ekonomi dan ekspansi
wilayah. Retorikanya sederhana, jika
kita tidak bisa menjual barang ke dunia,
maka kita harus merebut sumber daya
sendiri. Smooth Hly bukan sekadar
kebijakan tarif, itu adalah percikan
bensin di tengah ekonomi dunia yang
sedang terbakar dan tahun-tahun
berikutnya akan menunjukkan betapa besar
api yang
[Musik]
ditimbulkannya. Tahun 1931 menjadi titik
balik dramatis. Setelah efek smooth holy
dirasakan selama setahun penuh, ekonomi
dunia mulai benar-benar runtuh. Bukan
hanya karena depresinya, tetapi juga
karena hilangnya kepercayaan antar
negara. dan dalam negeri masing-masing.
Di Jerman, ekonomi yang masih bertahan
akhirnya kolaps total ketika Danat Bank,
salah satu bank terbesar di negara itu,
ambruk pada bulan Juli. Kepanikan
melanda dan tabungan hilang. Sistem
perbankan tidak bisa lagi dipercaya.
Pemerintah Jerman mencoba menghentikan
kepanikan dengan menutup bank-bank untuk
sementara waktu. Tapi itu justru
memperparah situasi. Ekonomi berhenti,
bisnis-bisnis gagal, dan pengangguran
melonjak tajam. Ini bukan lagi sekadar
krisis finansial, ini krisis
eksistensial. Bagi jutaan rakyat Jerman,
demokrasi terlihat gagal total. Pada
saat yang sama di Jepang, para jenderal
militer memutuskan bahwa mereka tak bisa
lagi menunggu dunia puli. Mereka
melancarkan invasi ke Mancuria, wilayah
kaya sumber daya di Utara Tiongkok. Ini
bukan hanya aksi militer, tapi strategi
ekonomi. Jepang butuh batu bara, biji
besi, dan wilayah untuk pasar baru. Jika
perdagangan global mati, maka mereka
akan membangun imperium sendiri dengan
kekuatan senjata. Tindakan Jepang
dikecam oleh dunia internasional, tapi
tidak ada negara yang bertindak nyata
untuk menghentikannya. PBB hanya bisa
mengeluarkan kecaman simbolis. Jepang
keluar dari organisasi tersebut dan
semakin yakin bahwa sistem global Barat
tidak bisa diandalkan. Sementara itu di
Amerika pengangguran terus meningkat.
Kebijakan Presiden Hoover dianggap
terlalu pasif. Negara adidaya ini
menutup diri di saat dunia justru
membutuhkan pemimpin global. Ironisnya,
tindakan ini justru menguatkan politik
radikal dan kekuatan militer di luar
[Musik]
negeri. Tahun ini menjadi tahun tergelap
secara ekonomi dan politik untuk banyak
negara. Di Jerman lebih dari 6 juta
orang menganggur sekitar 30% dari
populasi pekerja. Banyak dari mereka
adalah veteran perang, buruh, atau kelas
menengah yang kehilangan segalanya.
Ketika pemilu digelar, partai nazi di
bawah Adolf Hitler muncul sebagai partai
terkuat meskipun belum mayoritas mutlak.
Retorika mereka sederhana, namun kuat.
Demokrasi gagal, komunis terlalu
radikal. Kami adalah solusi. Kami akan
bawa Jerman kembali berjaya. Masyarakat
yang frustrasi mulai menyambut janji
janji otoritarian dengan tangan terbuka.
Ekonomi yang lumpuh membuka jalan bagi
politik ekstrem. Dan ini adalah
pelajaran penting sepanjang
sejarah. Sementara itu, di Jepang invasi
Mancuria dianggap sukses besar oleh
masyarakat. Militer Jepang mulai
mendapat kekuasaan lebih luas. Para
pemimpin sipil dibungkam dan kebijakan
luar negeri sepenuhnya berada di tangan
militer. Jepang kini berjalan menuju
ekonomi perang. Mengandalkan sumber daya
dari wilayah yang direbut dan Jepang
kini tidak mempercayai perdagangan bebas
internasional. Di Amerika rakyat semakin
kehilangan harapan pada pemerintahan
Hoover. Jumlah pengangguran mencapai
lebih dari 20% dan angka bunuh diri
melonjak. Di jalanan banyak kem
tunawisme bermunculan dan disebut
Hooverfi Fiels sebagai bentuk sindiran
terhadap presiden. Negara ini masih
mencoba bertahan tanpa reformasi besar,
tapi sesuatu harus berubah dan perubahan
besar itu akan datang tahun
berikutnya. Setelah 3 tahun kekacauan
ekonomi dan politik tahun
1933 menjadi titik balik dunia. Di
Jerman, krisis yang tak kunjung usai
menjadi pembuka bagi Adolf Hitler pada
30 Januari. Ia dilantik secara resmi
sebagai kanselir bukan dengan kudeta,
tapi melalui proses demokrasi. Rakyat
yang putus asa melihatnya sebagai
harapan terakhir. Partai nasi menawarkan
jawaban sederhana. Kerja untuk semua
nasionalisme ekstrem dan penolakan total
terhadap reparasi dan pasar global. Bagi
banyak orang, Hitler bukan pilihan
politik, tapi pilihan perut. Begitu
berkuasa, ia meluncurkan proyek besar.
Jalan tol Autoban, industri militer, dan
blok dagang tertutup. Jerman tak lagi
mengandalkan pasar dunia. Mereka mulai
bersiap untuk ekonomi perang. Di Jepang,
kesuksesan di Mancuria menguatkan
militer dan pemerintahan sipil hanya
nama. Negara ini bergerak penuh ke arah
imperialisme ekonomi. Pabrik dan tambang
dibangun di tanah yang direbut. Jepang
tidak lagi percaya pada perdagangan
global. Mereka mau menguasai sumber daya
sendiri.
Amerika Serikat juga berubah. Franklin
di Roosevelt FDR dilantik pada bulan
Maret dengan new deal-nya. Ia mendorong
belanja besar-besaran untuk
infrastruktur dan bantuan sosial. Tapi
satu hal tetap, tarif tinggi masih
berlaku. Amerika belum kembali ke
panggung perdagangan dunia. Dunia kini
terpecah menjadi tiga arak. Amerika
dengan reformasi internal, Jerman dengan
diktator dan industri perang, Jepang
dengan imperium militer di Asia Timur.
4 tahun setelah invasi Mancuria, Jepang
melancarkan serangan penuh ke China
memicu perang Tiongkok Jepang kedua. Ini
bukan lagi pergulatan terbatas seperti
dulu, tapi invasi militer penuh.
Kota-kota besar seperti Beijing,
Shanghai, dan Nanjing diserbu dengan
brutal. Dan serangan ini bukan tentang
ideologi atau ekspansi
militer. Ini adalah strategi ekonomi
penuh. Jepang ingin menjadikan daratan
Cina sebagai zona coprosperitas yang
akan menjadi pasar, sumber bahan mentah,
dan lokasi pabrik bagi ekonomi mereka.
Jepang tahu jika mereka tidak bisa
berdagang bebas, maka mereka akan
menciptakan pasar mereka sendiri dengan
paksa. Sementara itu, Jerman di bawah
Hitler mulai menunjukkan wajah
sebenarnya. Setelah sukses memulihkan
sebagian ekonomi lewat proyek-proyek
kerja dan remilitarisasi terselubung,
kini mereka mulai secara terbuka
membangun kekuatan militer. Hitler juga
mulai menyasar kelompok-kelompok
minoritas, membentuk sistem kam
konsentrasi awal, dan mengabaikan
seluruh isi perjanjian versile. Amerika
Serikat walaupun sudah mulai pulih
secara ekonomi masih memegang kebijakan
isolasionis. Publik Amerika enggan
terlibat konflik asing, apalagi setelah
penderitaan yang diakibatkan oleh
depresi. Namun, pemerintah Amerika
Serikat mulai khawatir melihat agresi
Jepang di Asia dan militerisasi Jerman
di Eropa. Tahun
1937, tahun di mana perang dunia
sebenarnya sudah dimulai. Hanya saja
dunia belum menyadarinya. Dan sementara
itu, jalur ekonomi, politik, dan militer
terus mengarah ke benturan besar.
[Musik]
Tahun 1940 menjadi tahun ketika peta
kekuasaan dunia mulai terbagi secara
terang-terangan. Di Eropa, Jerman di
bawah Hitler telah menaklukkan Polandia,
Denmark, Norwegia, Belanda, Belgia, dan
bahkan Prancis. Blitz Greek membuat
dunia kaget melihat kecepatan dan
efisiensi mesin perang Jerman. Ekonomi
Jerman kini sepenuhnya diarahkan untuk
perang. Industri berat berkembang pesat.
Blok dagang eksklusif dengan
negara-negara Eropa Timur diterapkan.
Negara-negara satelit dipaksa menjual
bahan mentah dan pangan ke Jerman dengan
harga rendah. Sedangkan barang-barang
buatan Jerman tetap mahal. Di sisi lain
dunia, Jepang memperluas cengkeramannya
ke wilayah Asia Tenggara. Setelah sukses
di China, mereka kini mengincar wilayah
kolonial barat seperti IndoCina milik
Prancis, Malaya, Hindia Belanda, serta
Filipina. Kenapa? Karena wilayah-wilayah
ini kaya akan minyak, karet, timah, dan
beras. Semua yang dibutuhkan Jepang
untuk mempertahankan industrinya dan
melanjutkan ekspansi militer untuk
menyatukan kepentingan dan ideologinya
dengan Eropa, Jepang menandatangani
fakta tiga pihak pada bulan September
tahun
1940 bersama Jerman dan Italia. Mereka
membentuk poros kekuatan yang dikenal
sebagai Axis Powers. Sementara itu,
Amerika Serikat mulai bangkit secara
ekonomi berkat produksi industri yang
meningkat. Sebagian karena ekspor ke
negara-negara sekutu. Namun secara
politik Amerika masih belum terlibat
perang secara langsung. Tapi ada satu
hal yang berubah besar. Pemerintah
Amerika mulai menganggap ekspansi Jepang
sebagai ancaman langsung terhadap
kepentingan regional mereka di Pasifik.
Langkah-langkah balasan pun mulai
[Musik]
disiapkan. Tahun
1941 adalah titik di mana ketegangan
ekonomi berubah menjadi konflik
bersenjata. Pada bulan Juli setelah
Jepang menguasai Vietnam Utara, Amerika
Serikat, Inggris dan Belanda membekukan
aset Jepang di luar negeri serta
menghentikan ekspor minyak dan baja.
Dampaknya langsung terasa. Jepang
kehilangan 90% pasokan minyaknya. Tanpa
minyak, industri pesawat dan kapal
perang tak berjalan. Jepang hadapi dua
pilihan. Menyerah dan menarik pasukan
atau melawan dan rebut sumber daya
dengan paksa. Mereka pilih melawan 7
Desember. Jepang menyerang Pearl Harbor
pangkalan militer Amerika di Hawai untuk
melumpuhkan armada Pasifik agar mereka
bebas merebut wilayah Asia Tenggara
khususnya Hindia Belanda yang kaya
minyak. Keesokan harinya Amerika Serikat
menyatakan perang. Tidak lama Jerman dan
Italia juga menyatakan perang terhadap
Amerika. Dalam hitungan minggu, dunia
resmi masuk perang global. Semua bermula
dari krisis ekonomi tahun 20-an disusul
tarif proteksionis Smooth Hly di awal
30-an dan berujung pada ledakan di tahun
1. Tidak hanya itu, muncullah
undang-undang ekonomi yang membunuh
perdagangan dunia, menyebabkan
kemiskinan, membesarkan ekstremisme, dan
akhirnya menyulut perang dunia kedua.
[Musik]
Setelah Jepang menyerang Parel Harbor di
akhir tahun
1941 dan Jerman menyatakan perang
terhadap Amerika, dunia resmi terjun ke
dalam perang global total. Hampir semua
negara industri besar terlibat. Namun di
balik ledakan dan pertempuran, ekonomi
tetap menjadi nadi utama konflik ini.
Amerika Serikat yang sebelumnya
dilumpuhkan depresi tiba-tiba menjadi
publik senjata dunia dalam waktu
singkat. Mobil jadi tank, mesin cuci
jadi senjata, pabrik baja jadi pabrik
pesawat. Inilah Arsenal of Democracy.
Pengangguran hilang, perempuan masuk
industri dengan simbol Rossy
Deriveter. Ekonomi Amerika Serikat
meledak naik. Membuktikan
industrialisasi bisa terjadi lewat
belanja publik, terutama untuk perang.
Jerman mengandalkan ekonomi tertutup
berbasis penaklukan. Mereka merebut
wilayah untuk makanan, tenaga kerja, dan
bahan mentak. Namun strategi ini tak
berkelanjutan. Transportasi hancur
akibat serangan udara. Produksi sering
terganggu. Buruh paksa digunakan secara
masif. Ketika logistik kolot, mesin
perang Jerman mulai kehabisan tenaga.
Puncaknya, kekalahan di Stalingrat tahun
43. Setelah itu Jerman terus mundur.
Setelah ekspansi di Asia Tenggara,
Jepang hadapi masalah baru. Wilayah luas
tak cukup untuk membantu perang jangka
panjang. Amerika menerapkan blokade laut
dan pemboman. Hasilnya minyak sulit
masuk, rakyat kekurangan makanan, pabrik
tertunda, transportasi lumpuh. Ketika
Amerika merebut pulau demi pulau,
strategi Iceland hopping ekonomi Jepang
semakin lumpuh. Pemerintah mulai
mempertimbangkan cara untuk berhenti
dengan kehormatan. Namun, militer bersi
keras tidak mau menyerah.
[Musik]
Di Eropa, Jerman menyerah pada 8 Mei
1945 setelah Berlin direbut pasukan
sekutu dan Hitler tutup usia. Di Asia,
Jepang tetap bertahan hingga akhirnya
Amerika menjatuhkan dua bom atom di
Hiroshima dan Nagasaki pada
Agustus
1945. Akhirnya Jepang menyerah pada 15
Agustus 1945.
Dunia pun mengakhiri perang yang telah
memakan puluhan juta nyawa dan dimulai
secara tidak langsung dari
keputusan-keputusan ekonomi dua dekade
sebelumnya. Apa yang dimulai dari
ledakan ekonomi pada
1920 lalu disusul kebijakan tarif
besar-besaran pada
1930 akhirnya berakhir dalam bentuk
konflik bersenjata skala global pada
1941.
Tarif Smith Holy memang hanya
undang-undang ekonomi, tapi dampaknya
menjalar. Membunuh perdagangan dunia,
menyulut pengangguran masif, menumbuhkan
ekstremisme politik, memicu ekspansi
militer, hingga akhirnya membakar dunia
dalam perang dunia kedua. Yeah.