Transcript
u-FR8-QSDgU • Perintis vs Pewaris, Bocah ini Menyinggung Netizen Maha Benar Indonesia
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/sb30official/.shards/text-0001.zst#text/1399_u-FR8-QSDgU.txt
Kind: captions
Language: id
Ryu Kintaro, seorang anak kecil berusia
9 tahun yang menghebohkan jagad media
sosial. Ya jelas aja. Kamu kalau gagal
jadi perintis, kamu nganggap bisnis itu
asik. Kalau kamu gagal, masih ada bapak
lu. Kalau gue gagal, gue punya siapa?
[Musik]
Sahabat entrepreneur, salam hebat luar
biasa. Baru-baru ini dunia
entrepreneurship dihebohkan oleh
statement yang tadi saya bicara di
opening. Kenapa sih keributan di dunia
sosmet ini terjadi gara-gara video yang
satu ini?
Orang banyak pengen hidup yang aman,
tapi tahu enggak yang paling seru itu
justru hidup sebagai perintis. Enggak
ada yang bikin arah, enggak ada yang
ngejamin hasil, tapi justru itu letak
asyiknya.
Nah, video inilah yang bikin jagat Sosm
ini menjadi ribut satu Indonesia.
Kebetulan saya sama bapaknya, Pak Kris,
Sebastian adalah sahabat. Kami juga
bertemu beberapa tahun yang lalu. Kami
berteman dan saya yakin ee anak ini tu
tidak bermaksud menyinggung siapapun.
Namanya juga anak 9 tahun. 9 tahun itu
kan masih asyik-asyiknya bermain. Saya
aja waktu masih 9 tahun, saya juga belum
kerja loh. Saya pertama kali kerja itu
umur 12. Itu pun magang di toko paman 9
tahun ya. Saya masih namanya saya juga
ya masih suka main Gobaks sodor. Kamu
masih ngerti enggak sih Gobaks sodor
anak sekarang itu main kejar-kejaran
petak umpet di sekolah. Anak-anak seusia
saya menjalani aktivitas anak-anak pada
umumnya. Nah, tapi kalau anak-anak
sekarang 9 tahun itu pada ngapain sih?
pada meniru kata-kata pujaannya di
sosmet. Kalau pujaannya di sosmet para
mungkin para aktivis gamer itu kan suka
maki-maki ya bahasanya itu satu kebun
binatang keluar semua itu dianggap cool
dan keren. Dan makanya anak-anak
sekarang itu sukanya ngomong pokoknya
satu kebun binatang keluar semua itu
saya miris dan saya sedih. Kemudian saya
juga punya seorang anak ya saya juga
punya seorang anak yang sekarang yang
kecil usianya 12 tahun dan yang gede
sekarang udah 16 tahun. Saya pun juga
sadar bahwa dunia sosmet ini seperti
pedang bermada dua. Pedang bermada dua
ini menjadikan permasalahan yang cukup
besar, yaitu di satu sisi anak kita
menjadi cepat cerdas, cepat pintar
karena menyerap semua informasi yang
tidak kita dapatkan di usia kita. Tapi
di sisi yang lain dia kita tidak tahu
daya respon dan daya tangkapnya apakah
sudah sesuai dengan usianya. Nah, saya
yakin Ryu ini anak yang baik. Betul dia
bukan perintis, dia pewaris. Ya, saya
tahu persis itu. Tetapi waktu usia 9
tahun, kamu lagi ngapain? Saya tanya,
"Termasuk yang orang tuamu kaya raya,
termasuk orang tuamu yang bisa
nyekolahin kamu di sekolah-sekolah
mahal." Kalau misalkan orang tuamu
enggak mampu, video ini juga saya
tujukan untuk kalian supaya kalian juga
tahu bahwa menjadi pewaris itu enggak
seenak itu, gitu. Pak Canda, jangan
ngebela Riu dong. Saya enggak ngebela.
Saya hari ini mau menjelaskan pewaris
ada kesulitannya, perintis juga ada
kesulitannya. Nah, by the way saya
memang anak keluarga bukan pewaris. Saya
kebetulan lahir dari keluarga yang cukup
berada tapi bangkrut. Nah, ini kan beda
kasusnya. Kalau bangkrut saya bukan
mulai dari nol. Saya merintis usaha saya
yang pertama. Saya tidak melanjutkan
usaha orang tua karena saya tidak mau
melanjutkan usaha orang tua. Dan orang
tua saya pun juga bilang bahwa usaha
papa ini enggak bisa tahan lama.
Meskipun sudah bertahan hampir dua
generasi waktu itu. Tapi ke depannya ini
juga akan habis. Kemudian usaha saya,
usaha ayah saya waktu itu adalah hasil
bumi ya, bukan pedagang eceran tapi
pedagang partai e grosir yang cukup
besar. Nah, tetapi akhirnya tumbang juga
karena Krismon tumbang juga sehingga
ayah saya cuman bisa memberikan saya
privilege. Nah, itu menurut saya
privilege yaitu satu ilmu yang mana ilmu
itu dulu cuma diajarkan ayah ke anak.
Nah, sekarang ilmu ini sudah ada di
dunia sospet manaun. Bahkan ilmu yang
dibagikan oleh ayah saya itu sudah saya
bagikan semua di success before 30. Dan
saya yakin Ryu ini juga dibagikan ilmu
yang luar biasa dari orang tuanya. Tapi
yang baca nih anak usia 9 tahun kayaknya
lagi main game, lagi asyik-asyiknya
bikin konten, mungkin asyik-asyiknya
baca skript. Waktu dia baca skrip,
keluarlah statement itu sehingga mungkin
dikira menghina perasaan begitu banyak
orang yang sedang berjuang jadi
perintis. Hujatan netizen keluarlah
seperti kata-kata saya tadi di awal.
Tapi sekarang saya tanya balik, kamu
mikir enggak kalau kamu punya adik usia
9 tahun, kamu bully adikmu 9 tahun
seperti itu perasaannya gimana? Saya
ngerti loh arti bullying. Saya ini
pernah merasakan dibully. Saya tahu
rasanya ketika saya ini malu, takut ke
sekolah, berhadapan dengan society atau
masyarakat dan sehingga hari ini melihat
saya seperti merasa jutaan mata orang
itu sedang melihat saya. Kalian para
netizen enak aja kalian ngebully anak
kecil, tetapi kalian sadar enggak
bullyan kalian itu kalau terjadi di adik
kalian gimana? Terus kamu kapok-kapokin
adik kalian, kamu hajar adik kalian.
Makanya jangan sembarangan ngomong,
"Biar kau dihajar." Apakah seperti itu?
9 tahun. Kalau anak ini 29 tahun memang
pantas diberi pelajaran. Kalau perlu
kurang ajar, enggak mau sekolah. Kalau
perlu ikutkan Kang Dedi Mulyadi biar
dimasukkan barak militer. Saya setuju
itu. Biar mentalnya terbentuk. Kamu udah
berkeluarga 29 tahun, anak dua tapi
enggak mau kerja, enggak mau berjuang.
Masukin aja barak militer. Bapaknya
bukan anaknya. Itu saya setuju. Tapi ini
anak 9 tahun. Sorry to say. Kamu mau
expect apa dengan anak 9 tahun? Sekali
lagi loh saya bukan ngebela Ryu. Saya
ngebela anak usia 9 tahun sekarang. Apa
anak 9 tahun enggak bisa keseleot lidah?
Zaman dulu anak 9 tahun keseleot lidah
enggak ada yang rekam, enggak ada yang
punya YouTube, enggak ada yang punya
TikTok. Keseleot lidah ya paling sama
teman-temannya dibully selesai. Ini
dibully satu Indonesia.
Astaga. Toh dia ini juga bukan bicara
kasar loh. Terus anak usia 9 tahun
sekarang itu bisanya apa sih? Maki-maki.
Kamu semakin pandai memaki, semakin
polisi maki, semakin keren, semakin
ditepuk tangani temanmu. Apa prestasinya
maki-maki itu? Dan sekarang maki-maki
itu seolah-olah kayak personal branding
baru gitu kah? Sehingga e kalau
maki-maki terlihat it looks cool gitu.
Semakin maki semakin disawer orang gitu.
Apakah itu prestasi? Kok saya hari ini
melihat enggak ada ya orang yang sukses
sampai usianya 4050 itu sukses dengan
terus cara memaki-maki. Enggak ada gitu
loh. Anda cuman look school ketika Anda
remaja. Ini remaja aja bahkan belum 9
tahun. ABG aja juga belum. ABG itu
dimulai dari usia 12 sampai 18 tahun.
Ini belum, ini masih 9 tahun. Bocah ini
yang mana seperti kayak kalian main lagi
main peta umpet, lagi main sepak bola ya
kan. Enggak mungkin main pedol juga ya
usia 9 tahun. Tapi kalian tahu enggak
sih yang kalian bully ini adalah bocah
yang masih kemarin sore dan itu juga
bisa terjadi di adik kamu. Itu juga bisa
terjadi di keponakan kamu. Bahkan itu
juga bisa terjadi di siapapun. anggap
aja statement ini kalau kamu tersinggung
kamu bilang enak aja ya kalau gua ini
ada baca kolom netizen ini saya mau baca
iya kalau dia ngerintis masih ada
bapaknya iya kan yang lunasin hutangnya
lah kalau gua dikejar rentenir betul
saya paham enggak salah tapi kamu anggap
serius bocah 9 tahun ini dan dia itu
enggak ada maksud kelihatan banget gitu
loh dia cuman keseleot lidah di konten
selesai sekarang kamu bully enggak
habis-habis
Makanya saya berencana saya mau ngundang
e Bro Kristian eh sori Bro Christopher
jadinya Christopher setinya jadi
Kristian gitu jadinya sorry Bro sama Ryu
untuk saya undang podcast bareng di
level up. Nah kita mau lihat point of
view mereka kasihan loh si Rio sekarang
katanya sampai takut ke sekolah ya
pastilah. Makanya itulah sebab kenapa
saya enggak terlalu promote anak saya
untuk bermain sosmat. Karena saya tahu
jahatnya netizen Indonesia ini kalau
bicara dia tuh enggak pandang usia,
enggak pandang umur dan bulian verbal
itu bahaya loh. Itu direkam loh dan itu
menciptakan trauma. Apakah Anda mau
mengenenalisir menghapuskan generasi
sebuah bangsa yang begitu berpotensi
anak hebat seperti ini? Dan dia tuh
nadanya itu enggak menghina siapapun
loh. Itu seperti layaknya dia itu saya
ngerti point of view-nya dia itu seperti
kayak orang lagi main game. Asik kan
kalau main game kan? Kalau main game itu
misalkan ya jadi perintis, kamu hari ini
enggak mewarisi tokoh dari orang tuanya
atau karakter dari orang tuanya. Dia
lagi bangun baru kan asik. Dia punya
adventure yang liar. Dia lagi otaknya
itu lagi berkembang-berkembangnya. Dia
lagi happy-happy-nya. Dia lagi
senang-senangnya, asyik-asyiknya. Ya,
itu dia lontarkan bahasa game itu ke
bisnis. Kalau dia gagal ya itu kan cuman
duit mainan di dalam game. Salahnya di
mana? Namanya anak usia 9 tahun. Tapi
kamu anggap serius. Astaga, netizen.
Netizen. Makanya oleh sebab itu, mari
kita level up ya. Saya selalu berpesan
kita level up. Kita memaklumi anak usia
9 tahun. Jadi pesan dari saya enggak
lama lagi e video ini saya close dan
kita akan diskusi dan ngobrol dengan
mereka di Level Up Podcast. Terima kasih
sahabat SW30. Semoga para sahabat SW30
yang bijak, Anda pasti mengerti maksud
saya. Saya yakin kalau saya sih melarang
anak-anak saya untuk membuat konten dan
sebagainya. Saya larang bukan karena dia
enggak kreatif kontennya. Cukup konten
keluarga. Saya larang mereka posting
karena takut kesleot. Ya, seperti ini.
Saya tetap membiarkan anak saya
berproses seperti anak muda pada
umumnya, anak remaja pada umumnya. Itu
kalau dari point of view saya. Karena
saya juga pernah kecil, saya juga punya
mas. Nah, sekarang masa mudanya dia ini
harus menghadapi sebuah tekanan yang
saya yakin remaja pun belum tentu kuat.
Orang dewasa pun belum tentu kuat. Bisa
murung, bisa anxiety, itu bisa kena
panic attack. Itu kalau orang
orang-orang yang sudah usia 20 lebih
kayak kemarin sepak bola siapa? Hoki
Caraka dibully netizen langsung
dilaporkan polisi. Nah, ini anak
bisa-bisa aja pakai kekuatan pap yang
laporin aku tapi dia memilih tidak.
Itulah bijaknya kita. Jadi kamu
mengungkapkan kekecewaan dengan membully
anak kecil itu prestasimu apa? Mari kita
bijak bersosmap. Itu pesan daripada
saya. Mari kita level up. Kita tidak
naik dengan cara menghujat orang lain.
Mari kita didik ya adik kita untuk lebih
bijak bersosmet agar dia bertumbuh
dewasa sesuai dengan usianya. Demikian
saran dari saya. Sukses untuk Anda.
Salam hebat luar biasa. Yeah.